Anda di halaman 1dari 29

SERI PAKET IPTEK

TEKNOLOGI PENGOLAHAN
PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN HASIL HUTAN
BADAN PENELITIAN, PENGEMBANGAN DAN INOVASI BAHAN BAKAR NABATI
KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN
BERBASIS LEMAK DAN MINYAK
DARI TANAMAN KEHUTANAN (BIODIESEL)
Djeni Hendra, Santiyo Wibowo,
Novitri Hastuti, Heru S. Wibisono

PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN HASIL HUTAN


BADAN PENELITIAN, PENGEMBANGAN DAN INOVASI
KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN
BOGOR, JULI 2015
SERI PAKET IPTEK

TEKNOLOGI PENGOLAHAN
BAHAN BAKAR NABATI
BERBASIS LEMAK DAN MINYAK
DARI TANAMAN KEHUTANAN (BIODIESEL)

Djeni Hendra, Santiyo Wibowo,


Novitri Hastuti, Heru S. Wibisono

PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN HASIL HUTAN


BADAN PENELITIAN, PENGEMBANGAN DAN INOVASI
KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN
BOGOR, JULI 2015
Judul Buku:
Seri Paket Iptek Teknologi Pengolahan Bahan Bakar Nabati Berbasis Lemak dan
Minyak dari Tanaman Kehutanan (Biodiesel)
Penulis:
Djeni Hendra, Santiyo Wibowo, Novitri Hastuti, Heru S. Wibisono
Desain Sampul dan Penata Isi:
Army Trihandi Putra
Jumlah Halaman:
26 + 4 halaman romawi
Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan
Badan Penelitian, Pengembangan dan Inovasi
Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan
Jl. Gunung Batu No. 5, Bogor
Telp/Fax: 0251 - 8633 378/8633413 E-mail: info@pustekolah.org
Website: www.pustekolah.org

ISBN: 978-979-313-273-0

Dicetak oleh IPB Press, Bogor - Indonesia


Isi di Luar Tanggung Jawab Percetakan

© 2015, HAK CIPTA DILINDUNGI OLEH UNDANG-UNDANG

Dilarang mengutip atau memperbanyak sebagian atau seluruh


isi buku tanpa izin tertulis dari penerbit
Kata
Pengantar

Untuk mendukung ketahanan energi nasional, eksplorasi mengenai


potensi sumber energi baru dan terbarukan menjadi hal yang sangat
penting. Salah satu sumber energi terbarukan adalah energi dari bahan
bakar nabati (BBN) yang dapat dijadikan sebagai energi alternatif
untuk mengurangi penggunaan bahan bakar fosil yang ketersediaannya
semakin menipis. Peraturan Pemerintah Nomor 79 Tahun 2014
tentang Kebijakan Energi Nasional menyebutkan bahwa penggunaan
BBN diarahkan untuk mengurangi penggunaan bahan bakar fosil untuk
sektor industri dan transportasi. Hutan Indonesia diketahui memiliki
potensi sebagai sumber energi yang berasal dari kayu energi ataupun
buah/biji yang dapat diolah menjadi biodiesel atau bioetanol. Buku
Seri Paket Iptek ini menyajikan potensi tanaman kehutanan dan
teknik pengolahannya menjadi bahan bakar nabati. Semoga buku
ini bermanfaat dan dapat mendukung pemanfaatan sumber energi
terbarukan dari sektor kehutanan.

Bogor, Juli 2015


Kepala Pusat,

Dr. Ir. Dwi Sudharto, M.Si


Seri Paket Iptek Teknologi Pengolahan Bahan Bakar Nabati Berbasis Lemak dan Minyak dari Tanaman Kehutanan (Biodiesel)
iv

DAFTAR ISI
Kata Pengantar...................................................................................iii
Daftar Isi............................................................................................ iv
Daftar Gambar................................................................................... iv
I PENDAHULUAN.......................................................................... 1
II PEMBUATAN BIODIESEL............................................................ 3
1. Tahapan Proses Pembuatan Biodiesel...................................3
2. Teknologi Pembuatan Biodiesel.............................................7
III KINERJA BIODIESEL................................................................ 17
1. Pembuatan Biodiesel Kemiri Sunan..................................... 17
2. Pembuatan Biodiesel Nyamplung, Malapari, dan Bintaro...... 19
IV APLIKASI BIODIESEL................................................................ 21
V REKOMENDASI.........................................................................23
DAFTAR PUSTAKA..........................................................................25

DAFTAR GAMBAR
Gambar 1. Buah dan biji kemiri sunan (Aleurites trisperma B).............7
Gambar 2. Teknik pembuatan biodiesel bintaro dan kemiri sunan........8
Gambar 3. Teknik pembuatan biodiesel malapari............................... 10
Gambar 4. Buah dan biji nyamplung (Calophyllum inophyllum L)........11
Gambar 5. Bunga, buah, dan biji malapari (Pongamia pinnata)......... 12
Gambar 6. Buah dan biji bintaro (Carbera manghas L)....................... 13
Gambar 7. Penyempurnaan proses pembuatan biodiesel................... 14
Gambar 8. Tahapan proses pembuatan minyak lemak....................... 15
Gambar 9. Aplikasi biodiesel pada berbagai peralatan.......................22
BAB I
PENDAHULUAN

Kemajuan teknologi telah banyak mengubah pola hidup manusia


dalam memenuhi kebutuhan hidupnya, baik secara individu ataupun
dalam kelompok masyarakat. Namun, dengan kemajuan teknologi
ini banyak menguras unsur-unsur lain demi kelancaran jalannya hasil
teknologi tersebut. Misalnya, penggunaan sebuah mesin motor yang
menggunakan bahan bakar. Pola hidup manusia saat ini hampir di
semua lapisan tingkatan menggunakan kendaraan bermesin motor
dalam memenuhi kebutuhannya untuk menjalankan mesin motor
tersebut sehingga diperlukan bahan bakar. Penggunaan bahan bakar
minyak selama ini mengandalkan bahan bakar minyak dari fosil yang
bersifat unrenewable.
Seri Paket Iptek Teknologi Pengolahan Bahan Bakar Nabati Berbasis Lemak dan Minyak dari Tanaman Kehutanan (Biodiesel)
2

Bahan bakar minyak yang berasal dari fosil semakin lama


persediaannya akan habis sehingga perlu adanya bahan bakar
pengganti yang bersifat terbarukan (renewable). Berdasarkan
hasil penelitian yang dilakukan Pusat Litbang Keteknikan
Kehutanan dan Pengolahan Hasil Hutan (Pustekolah) Bogor
terdapat beberapa jenis tanaman kehutanan yang dapat
dijadikan sebagai sumber untuk menghasilkan minyak nabati
(biodiesel) apabila dilakukan dengan proses pengolahan
tertentu.
Jenis-jenis pohon kehutanan yang potensial untuk dijadikan
sumber minyak nabati tersebut di antaranya buah nyamplung,
kepuh, kesambi, malapari, kemiri sunan, dan bintaro. Jenis-
jenis pohon tersebut banyak dijumpai hampir di seluruh
kepulauan di Indonesia dan tumbuh secara endemik
dengan jumlah yang sangat melimpah. Hasil penelitian telah
menginspirasi bahwa suatu saat jika bahan bakar minyak dari
fosil ini habis maka dari jenis tanaman hutan tersebut dapat
dimanfaatkan sebagai bahan untuk pembuatan minyak
nabati. Dengan proses esterifikasi dan transesterifikasi
(Estrans) dapat membuat minyak kasar menjadi minyak yang
diperlukan, mengingat bahan bakar minyak yang dihasilkan
dari biji tanaman kehutanan tersebut masih kasar/masih kental
sehingga diperlukan proses pemisahan dari getah (gum) dan
unsur yang bersifat asam dan basa.
Minyak nabati telah diujicobakan pada mesin diesel di
lapangan telah menunjukkan hasil yang baik dan tidak
memberikan perbedaan jika dibandingkan dengan mesin
yang menggunakan bahan bakar dari fosil (solar).
2

BAB II
PEMBUATAN
BIODIESEL

1. Tahapan Proses Pembuatan


Biodiesel
a. Pengupasan dan pengeringan
Biji (bintaro, kemiri sunan, malapari, dan nyamplung) yang digunakan
untuk bahan pembuatan minyak lemak nabati harus dalam keadaan
baik (tidak dimakan ulat), tua, dan masih ada tempurungnya. Untuk
menghasilkan biji (kernel) yang baik dikupas terlebih dahulu dengan
cara melepaskan tempurung atau kulitnya, kemudian biji (kernel) tanpa
tempurung dikeringkan di bawah sinar matahari sampai mencapai
Seri Paket Iptek Teknologi Pengolahan Bahan Bakar Nabati Berbasis Lemak dan Minyak dari Tanaman Kehutanan (Biodiesel)
4

kadar air 12%. Pengeringan biji tanpa tempurung bisa juga


dilakukan dengan cara digoreng tanpa minyak (sangray) atau
dengan mesin pengering biji. Pengeringan dilakukan sampai
biji berwarna cokelat kemerahan. Khusus untuk bahan baku
yang diperkirakan banyak getahnya (gum), seperti pada biji
nyamplung dan malapari dengan cara dikukus, kemudian
dicuci baru dikeringkan. Tahapan pengeringan ini sangat
penting dilakukan karena dapat menentukan besar kecilnya
rendemen yang dihasilkan.

b. Pengepresan/ekstraksi biji
Pembuatan minyak kasar (crude oil) dari biji yang telah
melalui proses pengupasan, pengukusan, dan pengeringan
(kadar air <12%), selanjutnya diekstrak dengan mengunakan
alat pengepres. Secara umum alat yang digunakan untuk
memisahkan minyak kasar menggunakan 2 tipe mesin pres
sebagai berikut.

1) Mesin pres hidraulik manual.


2) Mesin pres ekstruder atau ulir.

Tipe mesin pres hidraulik manual biasa digunakan untuk


proses skala rumah tangga atau yang bisa dilakukan oleh
masyarakat pedesaan. Sementara untuk tipe mesin pres
ekstruder digunakan untuk skala menengah ke atas.
Hasil utama dari proses pengepresan, berupa minyak kasar
(crude oil) dan limbah berupa bungkil yang terdiri atas daging
biji dan sisa minyaknya.
Seri Paket Iptek Teknologi Pengolahan Bahan Bakar Nabati Berbasis Lemak dan Minyak dari Tanaman Kehutanan (Biodiesel)
5

c. Pemisahan kotoran/getah (Degumming)


Minyak yang keluar dari mesin ekstraksi umumnya berwarna gelap
karena banyak mengandung kotoran yang berasal dari senyawa
kimia, seperti alkaloid, fosfatida, karo-tenoid, khlorofil, dan lain-
lain sehingga menimbulkan warna gelap.
Proses degumming untuk memisahkan kotoran dari minyak,
yaitu dengan melakukan pemanasan pada suhu 60oC selama 30
menit. Apabila crude oil mempunyai bilangan asam tinggi (>25
g basa/g) dapat dilakukan dengan pemanasan pada suhu 125oC,
kemudian ditahan +120 menit pada suhu konstan, setelah itu suhu
o
diturunkan sampai 60 C. Proses degumming dilakukan dengan
menambahkan asam fosfat teknis dan bentonit (untuk minyak
yang mempunyai bilangan asam tinggi) sambil diaduk dengan
kecepatan 400 rpm, selama 30 menit dan selanjutnya senyawa
fosfatida yang terbentuk mudah terpisah dari minyak. Senyawa
tersebut dipisahkan dengan cara diendapkan atau dengan
cara sentrifugal sehingga terbentuk dua lapisan yang mudah
dipisahkan yaitu senyawa fosfatida berada di bagian bawah dari
minyak bersih (refined oil).

Esterifikasi
Proses esterifikasi dilakukan dengan menambahkan metanol
teknis dalam perbandingan molar metanol terhadap berat free
fatty acid (FFA) 20:1, menggunakan katalis HCl/H2SO4 teknis 1%
(v/v), dan zeolit (untuk minyak yang mempunyai bilangan asam
tinggi), kemudian dipanaskan pada suhu 60oC selama 1 jam
disertai pengadukan dimulai dengan kecepatan rendah sampai
tinggi di dalam reaktor Estrans yang terbuat dari baja tahan karat
(stainless steel) yang dilengkapi dengan sistem pendingin metanol.
Selanjutnya setelah selesai, terhadap refined oil dilanjutkan
dengan proses transesterifikasi seperti yang diterangkan dalam
paragraf sebelumnya.
Proses ini digunakan apabila kadar FFA dari refined oil cukup tinggi
karena apabila proses yang digunakan langsung transesterifikasi
maka asam lemak bebas bukan diubah menjadi biodisel, tetapi
menjadi emulsi sabun. Prinsip proses ini adalah melakukan terlebih
dahulu proses esterifikasi sebelum proses transesterifikasi.
Seri Paket Iptek Teknologi Pengolahan Bahan Bakar Nabati Berbasis Lemak dan Minyak dari Tanaman Kehutanan (Biodiesel)
6

Transesterifikasi
Proses transesterifkasi dilakukan pada bahan baku yang
mempunyai bilangan asam rendah (≤1 mg basa/g). Prinsip
transesterifikasi adalah mereaksikan refined oil dengan metanol
teknis dalam perbandingan molar metanol terhadap berat
refined oil 10:1 dengan menggunakan katalis NaOH/KOH 0,5%
(b/v) dan dipanaskan pada suhu 60oC selama 30 menit disertai
pengadukan di dalam reaktor Estrans yang terbuat stainless steel
(baja tahan karat) yang tertutup rapat yang dilengkapi dengan
sistem pendingin metanol. Setelah proses selesai, biodiesel
yang dihasilkan diendapkan selama 3–4 jam untuk memisahkan
gliserol yang terbentuk dari pembuatan biodiesel tersebut.

Pencucian dan pemurnian


Biodiesel hasil proses transesterifikasi dilakukan pencucian
dengan menggunakan air yang mengandung asam asetat 0,01%
untuk mengikat NaOH atau KOH berlebih, kemudian dicuci
kembali dengan air hangat sampai air cucian netral (pH=7).
Selanjutnya, dilakukan pemurnian dengan cara dipanaskan
pada suhu 80oC sambil divakum atau dengan penggunaan
natrium sulfat anhidrat. Pemurnian biodiesel bertujuan untuk
menghilangkan sisa air dalam minyak biodiesel.

Filterisasi
Filterisasi dimaksudkan yaitu penyaringan dilakukan pada
minyak hasil pencucian yang apabila hasil dari minyak biodiesel
tersebut masih terdapat kotoran-kotoran yang terdapat di
dalamnya yang tidak dikehendaki dan dapat menurunkan
kualitas minyak itu sendiri.

Pengemasan
Biodiesel hasil pemurnian dikemas menggunakan kemasan
dari bahan plastik dan ditutup rapat (agar tidak terjadi reaksi
oksidasi). Untuk menghindarkan terjadinya oksidasi, dapat pula
diberikan bahan antioksidan sebanyak 0,3% (b/v), berupa BHT,
BHA, TBHQ, dan NDGA.
6

Gambar 1.
Buah dan biji kemiri sunan
(Aleurites trisperma B)

2. Teknologi Pembuatan Biodiesel


a. Teknik pembuatan biodiesel menggunakan bahan baku
bintaro sebagai berikut.
1) Pengupasan biji dari tempurungnya, pencucian,
pengeringan, dan pengempaan kernel menggunakan
sistem hidraulik manual kapasitas 10 kg/batch.
2) Proses degumming menggunakan larutan H3PO4 teknis
dengan konsentrasi 0,5% (v/v) selama 1 jam.
3) Proses esterifikasi menggunakan campuran katalis metanol
20% (v/v) dengan HCl 1% (v/v).
4) Proses transesterifikasi dengan campuran katalis metanol
10% (v/v) dengan KOH 0,5% (b/v), selama 0,5 jam.
5) Proses pencucian dan pemurnian minyak biodiesel.

b. Teknik pembuatan biodiesel menggunakan bahan baku kemiri


sunan sebagai berikut.
1) Pengupasan kernel (biji) dari tempurungnya, pengeringan,
dan pengepresan kernel menggunakan teknik pencampuran
dengan sekam padi sebanyak 5% (b/b) yang bersih dari sisa
patahan beras. Pengepresan menggunakan mesin sistem
skrew kapasitas 50 kg/jam.
2) Proses degumming dengan penambahan larutan H3PO4
dengan konsentrasi 1% (v/v).
3) Proses esterifikasi menggunakan campuran katalis metanol
10% (v/v) dengan H2SO4 0,5% (v/v) selama 1 jam.
4) Proses transesterifikasi dengan campuran katalis metanol
20% (v/v) dengan NaOH 0,6% (b/v) selama 0,5 jam.
5) Pencucian dan pemurnian minyak biodiesel.
Seri Paket Iptek Teknologi Pengolahan Bahan Bakar Nabati Berbasis Lemak dan Minyak dari Tanaman Kehutanan (Biodiesel)
8

Secara skematis, teknik pembuatan biodiesel bintaro dan kemiri sunan


ditunjukkan pada Gambar 2.

BINTARO/KEMIRI
SUNAN

PENGUPASAN
DAN PENGUKUSAN

SINAR
PENGERINGAN
MATAHARI

PENGEMPAAN
ANALISIS
BILANGAN ASAM

DEGUMMING I (H3PO4)
ANALISIS
BILANGAN ASAM

ESTERIFIKASI
ANALISIS
BILANGAN ASAM

TRANSESTERIFIKASI

- BILANGAN ASAM
- DENSITAS ANALISIS
- KADAR AIR BILANGAN
PENCUCIAN ASAM
- BILANGAN IOD
- BILANGAN
PENYABUNAN
- BILANGAN ESTER PENGHILANGAN AIR
- VISKOSITAS
- BILANGAN SETANE
- RENDEMEN BIODIESEL BIODIESEL
- UJI COBA BAHAN
BAKAR BIODIESEL

Gambar 2. Teknik pembuatan biodiesel bintaro/kemiri sunan


Seri Paket Iptek Teknologi Pengolahan Bahan Bakar Nabati Berbasis Lemak dan Minyak dari Tanaman Kehutanan (Biodiesel)
9

c. Teknik pembuatan biodiesel menggunakan bahan


baku malapari sebagai berikut.

1) Pengupasan biji dari cangkang, pengeringan, dan


pengepresan kernel menggunakan mesin skrew
kapasitas 50 kg/jam.
2) Proses degumming I menggunakan penambahan larutan
H3PO4 dengan konsentrasi 0,25% yang dilanjutkan
dengan proses degumming II menggunakan campuran
bentonit dan zeolit (0,5%:0,5%) b/v.
3) Proses esterifikasi menggunakan campuran katalis
metanol 20% (v/v) dan HCl 1% (v/v).
4) Transesterifikasi menggunakan campuran katalis
metanol 15% (v/v) dan KOH 0,4% (b/v).
5) Pencucian dan pemurnian minyak biodiesel.
Seri Paket Iptek Teknologi Pengolahan Bahan Bakar Nabati Berbasis Lemak dan Minyak dari Tanaman Kehutanan (Biodiesel)
10

Secara skematis, teknik pembuatan biodiesel malapari ditunjukkan


pada Gambar 3.

MALAPARI

PENGUPASAN
DAN PENGUKUSAN

SINAR
PENGERINGAN
MATAHARI

PENGEMPAAN
ANALISIS
BILANGAN ASAM

DEGUMMING I (H3PO4)
DAN II (bentonit+zeolit)
ANALISIS
BILANGAN ASAM

ESTERIFIKASI
ANALISIS
BILANGAN ASAM

TRANSESTERIFIKASI

- BILANGAN ASAM ANALISIS


- DENSITAS BILANGAN
PENCUCIAN ASAM
- KADAR AIR
- BILANGAN IOD
- BILANGAN
PENYABUNAN PENGHILANGAN AIR
- BILANGAN ESTER
- VISKOSITAS
- BILANGAN SETANE BIODIESEL
- RENDEMEN
- UJI COBA BAHAN BAKAR

Gambar 3. Teknik pembuatan biodiesel malapari


Seri Paket Iptek Teknologi Pengolahan Bahan Bakar Nabati Berbasis Lemak dan Minyak dari Tanaman Kehutanan (Biodiesel)
11

Gambar 4.
Buah dan biji nyamplung
(Calophyllum inophyllum L)

d. Teknik pembuatan biodiesel menggunakan bahan baku


nyamplung, malapari, dan bintaro sebagai berikut.

1) Teknik pembuatan biodiesel nyamplung

a) Proses pemisahan kernel dari tempurung, pengukusan,


pencucian, pengeringan, dan ekstraksi minyak (crude oil)
dengan cara penambahan sekam padi sebanyak 5% (b/b).
Pengepresan kernel menggunakan mesin skrew kapasitas
50 kg/jam.
b) Proses degumming, yakni minyak mentah dipanaskan pada
suhu 125oC selama 2 jam pada suhu konstan, kemudian
suhu minyak diturunkan sampai suhu 60oC, setelah itu
ditambahkan H3PO4 dengan konsentrasi 1,5% (v/v) sambil
diaduk dengan kecepatan 400 rpm, lalu selama ½ jam
dienapkan, dan dipisahkan antara minyak dan getah
(gum).
c) Minyak bersih dipanaskan pada suhu 60oC, kemudian
ditambahkan bentonit 1,5% sambil diaduk selama ½
jam, lalu diendapkan dan dipisahkan antara minyak dan
bentonitnya.
d) Proses esterifikasi menggunakan campuran katalis metanol
15% (v/v) dan HCl 1% (v/v) pada suhu 60oC sambil diaduk
dengan kecepatan 400 rpm, setelah ½ jam, kemudian
ditambahkan zeolit 1,5% (b/v), sambil diaduk dengan
kecepatan sama selama ½ jam.
e) Proses transesterifikasi mengunakan campuran katalis
metanol 15% (v/v) dan KOH 0,4% (b/v).
f) Pencucian dan pemurnian minyak biodiesel.
Seri Paket Iptek Teknologi Pengolahan Bahan Bakar Nabati Berbasis Lemak dan Minyak dari Tanaman Kehutanan (Biodiesel)
12

2) Teknik pembuatan biodiesel


malapari

a) Proses pemisahan kernel dari tempurung, pengukusan,


pencucian, pengeringan, dan ekstraksi minyak (crude oil)
dengan cara penambahan sekam padi sebanyak 5% (b/b).
Pengepresan kernel menggunakan mesin skrew kapasitas
50 kg/jam.
b) Proses degumming, yaitu minyak mentah dipanaskan pada
suhu 125oC selama 2 jam pada suhu konstan, suhu minyak
diturunkan sampai suhu 60oC, kemudian ditambahkan
H3PO4 dengan konsentrasi 1,5% (v/v) sambil diaduk
dengan kecepatan 400 rpm, lalu selama ½ jam diendapkan,
kemudian dipisahkan antara minyak dan getah (gum).
c) Minyak bersih dipanaskan pada suhu 60oC, kemudian
ditambahkan bentonit 2% sambil diaduk selama ½ jam
lalu diendapkan dan dipisahkan antara minyak dan
bentonitnya.
d) Proses esterifikasi menggunakan campuran katalis metanol
20% (v/v) dan HCl 1% (v/v) pada suhu 60oC sambil diaduk
dengan kecepatan 400 rpm, setelah ½ jam ditambahkan
zeolit 1,5% (b/v) sambil diaduk dengan kecepatan selama
½ jam.
e) Proses transesterifikasi mengunakan campuran katalis
metanol 20% (v/v) dan KOH 0,6% (b/v).
f) Pencucian dan pemurnian minyak biodiesel.

Gambar 5.
Bunga, buah, dan biji malapari
(Pongamia pinnata)
Seri Paket Iptek Teknologi Pengolahan Bahan Bakar Nabati Berbasis Lemak dan Minyak dari Tanaman Kehutanan (Biodiesel)
13

Gambar 6.
Bunga, buah, dan biji bintaro
(Carbera manghas L)

3) Teknik pembuatan biodiesel bintaro

a) Proses pemisahan kernel dari tempurung, pengukusan,


pencucian, pengeringan, dan ekstraksi minyak (crude oil)
dengan cara penambahan sekam padi sebanyak 5% (b/b).
Pengepresan kernel menggunakan mesin skrew kapasitas
50 kg/jam.
b) Proses degumming, yaitu ditambahkan H3PO4 dengan
konsentrasi 0,75% (v/v) sambil diaduk dengan kecepatan
400 rpm, selama ½ jam diendapkan, kemudian dipisahkan
antara minyak dan getah (gum).
c) Minyak bersih dipanaskan pada suhu 60oC, kemudian
ditambahkan bentonit 1,5% sambil diaduk selama ½ jam,
kemudian diendapkan serta dipisahkan antara minyak dan
bentonitnya.
d) Proses esterifikasi menggunakan campuran katalis metanol
20% (v/v) dan HCl 1% (v/v) pada suhu 60oC sambil diaduk
dengan kecepatan 400 rpm, setelah ½ jam ditambahkan
zeolit 1,5% (b/v) sambil diaduk dengan kecepatan selama ½
jam.
e) Proses transesterifikasi menggunakan campuran katalis
metanol 20% (v/v) dan KOH 0,6% (b/v).
f) Pencucian dan pemurnian minyak biodiesel.
Seri Paket Iptek Teknologi Pengolahan Bahan Bakar Nabati Berbasis Lemak dan Minyak dari Tanaman Kehutanan (Biodiesel)
14

Secara skematis, teknik pembuatan biodiesel nyamplung, malapari,


dan bintaro ditunjukkan pada Gambar 7.

BIJI NYAMPLUNG,
MALAPARI, DAN BUINTARO

PENGUPASAN
DAN PENGUKUSAN

SINAR
PENGERINGAN
MATAHARI

PENGEMPAAN
ANALISIS
BILANGAN ASAM

DEGUMMING I (H3PO4)
DAN II (bentonit)
ANALISIS
BILANGAN ASAM

ESTERIFIKASI + zeolit
ANALISIS
BILANGAN ASAM

TRANSESTERIFIKASI

- BILANGAN ASAM ANALISIS


- DENSITAS BILANGAN
PENCUCIAN ASAM
- KADAR AIR
- BILANGAN IOD
- BILANGAN
PENYABUNAN PENGHILANGAN AIR
- BILANGAN ESTER
- VISKOSITAS
- BILANGAN SETANE BIODIESEL
- RENDEMEN
- UJI COBA BAHAN BAKAR

Gambar 7. Penyempurnaan proses pembuatan biodiesel


Seri Paket Iptek Teknologi Pengolahan Bahan Bakar Nabati Berbasis Lemak dan Minyak dari Tanaman Kehutanan (Biodiesel)
15

Gambar 8. Tahapan proses pembuatan minyak lemak

1 2 3

4 5 6

Keterangan Gambar:
1. Penggilingan/pengempaan dengan mesin
kempa hidraulik manual,
2. Penggilingan/pengempaan dengan mesin
ekstruder,
3. Minyak kasar (crude oil),
4. Degumming, proses estran, pencucian, dan
pemurnian (multifungsi),
5. Penyaringan minyak biodiesel,
6. Pengemasan minyak biodiesel hasil
produksi.
BAB III
KINERJA
BIODIESEL

1. Pembuatan Biodiesel Kemiri


Sunan
a. Rendemen minyak kemiri sunan sebesar 43,33%.
Pengepresan menggunakan mesin pres sistem
screw. Teknik pengepresan dilakukan dengan
mencampurkan kernel kemiri sunan dengan sekam
padi sebanyak 5% (b/b).
b. Produksi biodiesel berbahan baku minyak
biji kemiri sunan telah memiliki mutu yang
sesuai dengan persyaratan standar biodiesel
(SNI 04-7182-2006), yaitu kadar air sebesar
0,05%, bilangan asam 0,66 mg basa/g, kadar
asam lemak bebas 0,33%, densitas 874 kg/m3,
viskositas kinematik pada suhu 40oC 4,24 mm2/s
(cSt), bilangan iodium 91,20 g I2/100 g, bilangan
setane 64, serta rendemen minyak biodiesel
yang dihasilkan sebesar 79,68%.
Seri Paket Iptek Teknologi Pengolahan Bahan Bakar Nabati Berbasis Lemak dan Minyak dari Tanaman Kehutanan (Biodiesel)
17

2. Pembuatan Biodiesel Nyamplung,


Malapari, dan Bintaro
a. Biodiesel nyamplung

1) Rendemen minyak nyamplung dengan menggunakan


mesin pres sistem skrew sebesar 42,35%. Teknik
pengepresan dilakukan dengan mencampurkan biji
nyamplung dengan sekam padi sebanyak 5% (b/b).
2) Produksi biodiesel nyamplung menghasilkan sifat fisiko
kimia yang memenuhi persyaratan SNI 04-7182-2006,
yaitu densitas sebesar 887,5 kg/m2, viksositas kinematik
pada suhu 40oC 5,64 mm2/s (cSt), kadar air dan sedimen
0,08%, abu tersulfatkan 0,05%, bilangan asam 0,76 mg
basa/g, bilangan penyabunan 145,29%, bilangan iod
56,25 g I2/100 g, bilangan setane 67,93, serta rendemen
berkisar antara 78,02–79,40%.

b. Biodiesel malapari

1) Rendemen minyak malapari dengan menggunakan mesin


pres sistem skrew sebesar 27,64%. Teknik pengepresan
dilakukan dengan mencampurkan biji nyamplung dengan
sekam padi sebanyak 5% (b/b).
2) Produksi biodiesel malapari menghasilkan sifat fisiko kimia
yang memenuhi persyaratan SNI 04-7182-2006, yaitu
densitas sebesar 894 kg/m2, viksositas kinematik pada
suhu 400C 4,81 mm2/s (cSt), kadar air dan sedimen
0,24%, abu tersulfatkan 0,08%, bilangan asam 0,73 mg
basa/g, bilangan penyabunan 219,35%, bilangan iod
53,30 g I2/100 g, bilangan setane 58,25, serta rendemen
berkisar antara 78,35–79,95%.
Seri Paket Iptek Teknologi Pengolahan Bahan Bakar Nabati Berbasis Lemak dan Minyak dari Tanaman Kehutanan (Biodiesel)
18

c. Biodiesel bintaro

1) Rendemen minyak bintaro dengan menggunakan mesin


pres sistem kempa hidraulik manual sebesar 42,35%.
2) Produksi biodiesel bintaro menghasilkan sifat fisiko kimia
yang memenuhi persyaratan SNI 04-7182-2006, yaitu
massa jenis sebesar 870 kg/m2, viksositas kinematik pada
suhu 400C 3,60 mm2/s (cSt), kadar air dan sedimen sebesar
0,22%, abu tersulfatkan 0,22%, bilangan asam 0,47 mg
basa/g, bilangan penyabunan 178,95%, bilangan iod
78,45 g I2/100 g, bilangan setanae 56,30, serta rendemen
berkisar antara 79,80–82,50%.
BAB IV
APLIKASI
BIODIESEL

Biodiesel yang diproduksi dari bahan baku biji tanaman hutan


terbukti dapat dimanfaatkan sebagai pengganti sumber bahan
bakar untuk menggerakan mesin diesel yang biasa memakai
bahan bakar minyak fosil (minyak solar). Minyak biodiesel
telah diaplikasikan pada beberapa jenis mesin diesel antara
lain kendaraan roda empat, mesin alat pertanian, mesin diesel
penggerak perahu, mesin diesel penggiling padi, dan mesin diesel
pemutar kincir air pada tambak udang (Gambar 9). Berdasarkan
hasil aplikasi, mesin-mesin tersebut tidak mengalami kendala
pada saat uji coba.
Seri Paket Iptek Teknologi Pengolahan Bahan Bakar Nabati Berbasis Lemak dan Minyak dari Tanaman Kehutanan (Biodiesel)
20

1 2

3 4

Gambar 9.
Aplikasi biodiesel
pada berbagai
peralatan
5 6

Keterangan Gambar:
1. Mobil bak terbuka merk Mitsubishi
Strada,
2. Bus angkutan karyawan kehutanan,
3. Mesin diesel untuk menggerakan kincir
air pada tambak udang,
4. Mesin penggilingan padi berjalan,
5. Mesin diesel penggerak perahu,
6. Mesin traktor pertanian.
BAB V
REKOMENDASI

Biodiesel dari biji bintaro, kemiri sunan, malapari,


dan nyamplung dapat digunakan sebagai bahan
bakar pengganti minyak fosil (solar) serta
direkomendasikan untuk mesin diesel otomotif
dengan menggunakan campuran B50 dan B100
untuk mesin pertanian dan nelayan. Teknik
pembuatan biodiesel yang dihasilkan dapat
diimplementasikan karena hasil olahannya telah
menghasilkan biodiesel yang memenuhi kualitas
standar biodiesel SNI 04-7182-2006.
DAFTAR
PUSTAKA

Anonim. (2006). Standar Nasional Indonesia SNI 04-7182-2006. BSN.


Jakarta.
_______ . (2009). Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian.
Tanaman Perkebunan Penghasil Bahan Bakar Nabati (BBN). Bogor
(ID): IPB Press.
Bajpai D, Tyagi VK. (2006). Biodiesel Source, Production, Composition,
Pro-perties and its Benefits. Journal of Oleochemical Science. 10:
487–502.
Seri Paket Iptek Teknologi Pengolahan Bahan Bakar Nabati Berbasis Lemak dan Minyak dari Tanaman Kehutanan (Biodiesel)
23

Canaki M, Gerpen JV. (2001). Biodiesel from oils and fats with hight free
fatty acids. Trans Am Soc Automotive Engine. 44: 1429–1436.
Demiebas A. (2008). Biodiesel A Realistic Fuel Alternative for Diesel Fuel.
London: Springer-Verlag.
Fessenden RJ, Fessenden JS. (1986). Kimia Organik Jilid II Edisi ke-3.
Pudjaatmaka AH, penerjemah. Pakpahan M, Harianja B (ed). Jakarta
(ID): Penerbit Erlangga. Terjemahan dari: Organic Chemistry. Trird
Edition.
Fukuda H, Kondo A, Noda H. (2001). Biodiesel Fuel Production by
Transesterification of Oil. Jou of Bios and Bioeng. 92: 405–416.
Gubitz GM, M Mittelbach, M Trabi. (1998). Exploitation of the Tropical Oil
Seed Plant Jatropha curcas, L. Bioresource Technology. 67: 73–78.
Ketaren S. (1986). Pengantar Teknologi Minyak dan Lemak Pangan. Jakarta
(ID): UI Press.
Ketaren S. (2005). Minyak dan Lemak Pangan. Jakarta (ID): UI Press.
Ketaren S. (2008). Pengantar Teknologi Minyak dan Lemak Pangan. Jakarta
(ID): UI Press.
Krause R. (2001). Bio and alternative fuels for mobility. In enhancing
biodieseldevelopment and use.Proceedings of the International
Biodiesel Workshop, Tiara Convention Center, Medan.24 Oktober
2001. Ditjen Perkebunan, Departemen Pertanian. Jakarta.
Pasae Y, Jalaluddin N, Harlim T, Pirman. (2010). Pembuatan Ester Metil
dan Ester Isopropil dari Minyak Kepoh Sebagai Produk Antara
Aditif Biodiesel. Jurnal Industri Hasil Pertanian. 5(2): 98–103.
Reksowardoyo RP. (2005). Melaju kendaraan berkat biji-bijian. Trubus,
XXXVI/ November 2005. Jakarta.
Samiarso L. (2001). Indonesian policy on renewable energy development
dalam enhancing biodiesel development and use.Proceedings of
the International Biodiesel Workshop, Tiara Convention Center,
Medan. 24 Oktober 2001. Ditjen Perkebunan, Departemen
Pertanian. Jakarta.
Soerawidjaja TH. (2002). Menjadikan biodisel sebagai bagian dari
liquor fuel mix di Indonesia. Materi presentasi pada Rapat Teknis
Penelitian Energi ke-311. Pusat Penelitian Material dan Energi. ITB.
Bandung.21 Juli 2002.
Seri Paket Iptek Teknologi Pengolahan Bahan Bakar Nabati Berbasis Lemak dan Minyak dari Tanaman Kehutanan (Biodiesel)
24

Soerawidjaja TH. (2005). Potensi Sumber Daya Hayati Indonesia Dalam


Menghasilkan Bahan Bakar Hayati BBM. Makalah Lokakarya
“Pengembangan dan Pemanfaatan Sumber Energi Alternatif
Untuk Keberlanjutan Industri Perkebunan dan Kesejahteraan
Masyarakat”. Hotel Horrison. Bandung.
Sontag Nov. (1982). Fat Splitting, Esterifiation and Interesterification. New
York: Jhon Wiley & Sons.
Sudradjat R, D Setiawan. (2003). Teknologi pengolahan biodiesel dari
minyak biji jarak pagar. Laporan Hasil Penelitian. Sumber Dana
DIK-S DR Tahun 2003. Pusat Litbang Teknologi Hasil Hutan. Bogor.
(Tidak diterbitkan).
Sudradjat R, D Setiawan. (2004). Teknologi pengolahan biodiesel dari
minyak biji jarak pagar. Laporan Hasil Penelitian. Sumber Dana
DIK-S DR Tahun 2005. Pusat Litbang Hasil Hutan. Bogor. (Tidak
diterbitkan).
Sudradjat R, Widyawati Y, Setiawan D. (2007). Optimasi Proses Esterifikasi
pada Pembuatan Biodiesel dari Biji Jarak Pagar.Jurnal Penelitian
Hasil Hutan. 25(3): 203–224.
Sudradjat R, Sahirman, Suryani A, Setiawan D. (2010). Proses
Transesterifikasi pada Pembuatan Biodiesel Menggunakan Minyak
Nyamplung (Calophyllum innophyllum L.) Yang Telah Dilakukan
Esterifikasi. Jurnal Penelitian Hasil Hutan. 28(2): 184–198.
Srivastava, Prasad P. (2000). Triglycerides base diesel fuels. Journal of
Renewable Sustainability Energy. 4: 111–133.
Tyson KS. (2004). Energy efficiency and renewable energy. U.S.
Department of Energy. http://www.osti.gov/bridge. (24 Mei
2006).