Anda di halaman 1dari 14

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 BIODIESEL
Biodiesel adalah bahan bakar yang diproduksi dari minyak nabati seperti
minyak sawit, minyak bunga matahari, minyak kedelai, minyak jarak, dan lain-lain
atau minyak hewani melalui proses transesterifikasi dengan pereaksi metanol atau
etanol dan katalisator basa atau asam [14]. Kualitas dari biodiesel beragam-ragam
tergantung pada kualitas dari bahan baku, komposisi asam lemak dari minyak nabati
atau lemak hewan, dan proses produksi [15]. Biodiesel memiliki sifat sesuai dengan
mesin diesel yaitu biodegradable yang ramah lingkungan, dapat diperbaharui [16].
Proses produksi biodiesel komersial yang ada pada dasarnya merupakan
proses metanolisis dengan katalis basa homogen dari minyak yang dapat dikonsumsi
[17]. Produksi biodiesel yang dikembangkan saat ini umumnya dibuat dari minyak
tumbuhan (minyak kedelai, canolla oil, rapseed oil, crude palm oil), lemak hewani
(beef talow, lard, lemak ayam, lemak babi) dan bahkan dari minyak goreng bekas
[9].
Sifat fisika dan kimia biodiesel mendekati sifat-sifat bahan bakar diesel.
Angka setan biodiesel, nilai energi, dan viskositas serupa dengan yang dimiliki bahan
bakar diesel berbasis petroleum. Biodiesel pada umumnya bebas sulfur [18].
Walaupun biodiesel tidak dapat menggantikan minyak petroleum sepenuhnya,
terdapat beberapa alasan di mana diperlukan pengembangan biodiesel.
1. Menyediakan pasar bagi produksi minyak nabati dan lemak hewan yang berlebih
[3].
2. Menurunkan namun tidak menghilangkan ketergantungan terhadap minyak
petroleum impor [3].
3. Biodiesel merupakan energi yang terbarukan dan tidak menyebabkan pemanasan
global [3].

5
Universitas Sumatera Utara
4. Mengurangi emisi gas buang berupa CO2, SOx, dan hidrokarbon yang tidak
terbakar sempurna [19].
5. Ketika ditambahkan ke dalam minyak diesel sebanyak 1 – 2 % dapat mengubah
minyak dengan sifat pelumas rendah seperti bahan bakar diesel bersulfur rendah,
menjadi bahan bakar yang dapat diterima [3].
6. Biodiesel dapat digunakan tanpa adanya modifikasi mesin dan memberikan
performa mesin yang baik [20].
7. Biodiesel dapat dibiodegradasi [20].
Tabel 2.1 menunjukkan standar dan mutu biodiesel sesuai dengan SNI
biodiesel.
Tabel 2.1 Standar dan Mutu (Spesifikasi) Bahan Bakar (Biofuel) Jenis Biodiesel [21]
Satuan, Min/
No. Parameter Uji Persyaratan
Max
o 3
1 Densitas (40 C) 850 - 890 Kg/m
2 Viskositas (40oC) 2,3 – 6,0 Mm2/s (cSt)
3 Angka Setan 51 Min
o
4 Titik nyala 100 C, min
o
5 Titik kabut 18 C, maks
6 Air dan sedimen 0,05 %vol, maks
7 Kandungan sulfur 100 mg/kg, maks
Mg KOH/g,
8 Bilangan asam 0,6
maks
Korosi lempeng tembaga
9 Nomor 1
(3 jam pada 50 oC)
Residu karbon dalam 0,05
10 percontoh asli atau dalam % massa, maks
10 % ampas distilasi 0,3
o
11 Temperatur destilasi 90% 360 C, maks
12 Abu tersulfatkan 0,02 % massa, maks
13 Fosfor 10 mg/kg, maks
14 Gliserol bebas 0,02 % massa, maks
15 Gliserol total 0,24 % massa, maks
16 Kandungan ester 96,5 % massa, min
% massa (g I2/
17 Angka iodium 115
100g), maks
Kestabilan oksidasi
Periode induksi metode 360
18 rancimat Menit
Periode induksi metode 27
petro oksi

6
Universitas Sumatera Utara
2.2 BAHAN
2.2.1 Lemak Ayam
Ayam broiler (pedaging) merupakan salah satu hewan ternak yang dapat
diproduksi dalam waktu singkat (35-45 hari) dan peternakan ayam broiler dapat
dijumpai hampir di semua daerah di Indonesia [22]. Ayam broiler memiliki berat
sekitar 1,5 kg per ekor [23]. Tabel 2.2 menunjukkan populasi unggas di Indonesia
dari tahun 2008 hingga 2012.

Tabel 2.2 Populasi Unggas 2008 – 2012 di Indonesia (dalam ribu ekor) [24]
Tahun
No. Jenis
2008 2009 2010 2011 2012
1 Ayam Buras 243.423 249.963 257.544 264.340 285.227
2 Ayam Ras Petelur 107.955 111.418 105.210 124.636 130.539
3 Ayam Ras Pedaging 902.052 1.026.379 986.872 1.177.991 1.266.903
4 Itik 39.840 40.676 44.302 43.488 46.990
5 Puyuh 6.683 7.543 7.054 7.357 7.841
6 Merpati 1.499 1.815 490 1.209 1.334

Lemak merupakan sumber makanan kaya energi kedua bagi manusia.


Konsumsi lemak dunia berkisar antara 10-45% dari total energi [25]. Kandungan
lemak ayam dari daging ayam relatif tinggi yaitu sebesar 10,9 % basis berat [26].
Bilangan asam dari lemak ayam umumnya di bawah 2 % [27]. Pada lemak ayam
segar, kadar FFA umumnya sebesar 0,4 % [28]. Lemak ayam pedaging merupakan
lemak buangan yang dapat dimanfaatkan untuk bahan pembuatan biodiesel dari
lemak hewani, hanya saja pasokan bahan ini terbatas namun dapat menanggulangi
pencemaran lingkungan dan lebih bernilai ekonomis [22]. Komposisi lemak ayam
dengan analisis GCMS dapat dilihat pada tabel 2.3.

Tabel 2.3 Komposisi asam lemak ayam hasil analisis GCMS [4]
Jenis asam lemak Jumlah relatif asam lemak (%)
Asam Kaproat (C6:0) Tak terdeteksi
Asam Kaprrilat (C8:0) Tak terdeteksi
Asam Kaprat (C10:0) Tak terdeteksi
Asam Laurat (C12:0) Tak terdeteksi
Asam Miristat (C14:0) 0,74
Asam Palmitoleat (C16:1) 7,01

7
Universitas Sumatera Utara
Asam Palmitat (C16:0) 27,24
Asam Margarat (C17:0) Tak terdeteksi
Asam Linolenat (C18:3) 1,2
Jenis asam lemak Jumlah relatif asam lemak (%)
Asam Linoleat (C18:2) 16,36
Asam Oleat (C18:1) 38,35
Asam Stearat (C18:0) 5,56
Asam Arakidonat (C20:4) 0,87
Asam Arakidat (C20:1) 0,41
Asam Arakhat (C20:0) Tak terdeteksi
Asam Behenat (C24:0) Tak terdeteksi
Jumlah asam lemak jenuh (SPA) 33,54
Jumlah asam lemak tak jenuh tunggal 45,77
(MUFA)
Jumlah asam lemak tak jenuh ganda 18,43
(PUFA)
Total MUFA + PUFA 64,20
Perbandingan asam lemak tak jenuh / 1,91
jenuh

2.2.2 Metanol
Alkohol yang dapat digunakan dalam reaksi transesterifikasi antara lain
etanol, propanol, isopropanol, butanol, dan pentanol [3]. Etanol tidak biasa
digunakan karena memerlukan biaya tinggi dalam penghilangan 4 % air yang
terbentuk pada akhir reaksi [29].
Di antara alkohol-alkohol monohidrik yang menjadi kandidat sumber/
pemasok gugus alkil, metanol yang paling umum digunakan, karena harganya murah
dan reaktifitasnya paling tinggi [30]. Selain itu, metanol merupakan senyawa polar
dan alkohol dengan rantai terpendek. Hal tersebut menyebabkan metanol cepat
bereaksi dengan trigliserida dan NaOH mudah larut dalam metanol [31]. Reaksi
transesterifikasi dengan menggunakan metanol memerlukan suhu sebesar 60 oC,
sedangkan alkohol lain (etanol dan butanol) memerlukan suhu yang lebih tinggi (75
dan 114 oC) untuk memperoleh konversi optimum [32]. Sifat fisika metanol dapat
dilihat pada tabel 2.4.

Tabel 2.4 Sifat Fisika Metanol [33]


Sifat Fisika
Berwujud cair
Berat Molekul : 32,04 g/mol
Titik didih : 64,5 oC
Titik leleh : -97,8 oC

8
Universitas Sumatera Utara
Tekanan uap : 12,3 kPa (20 oC)

2.2.3 Katalis Homogen NaOH


Katalis merupakan bahan yang ditambahkan untuk mempercepat laju reaksi
tanpa mempengaruhi produk dari reaksi, mengarahkan jalannya reaksi sesuai dengan
jalur reaksi tertentu dan mengurangi terbentuknya produk samping untuk
meningkatkan kemurnian produk yang dihasilkan [34].
Reaksi transesterifikasi dapat dikatalis dengan katalis homogen ataupun
heterogen [35]. Katalis homogen cukup sensitif dengan kadar asam lemak bebas
(FFA) dan air dalam bahan baku minyak dan alkohol [36].
Ada dua jenis katalis, katalis basa dan katalis asam. Katalis basa lebih efektif
[37]. Walaupun asam sulfat dapat mengkatalis reaksi transesterifikasi,
transesterifikasi dengan katalis asam sangat lambat bila dibandingkan dengan
transesterifikasi katalis basa [38]. Katalis basa homogen memiliki beberapa
kelebihan seperti aktivitas katalis yang tinggi (konversi sempurna dalam waktu 1
jam), dan kondisi reaksi ringan (65 oC dan 1 atm) [39].
Transesterifikasi dengan katalis basa biasanya menggunakan logam alkali
alkoksida, NaOH, KOH, dan NaHCO3 sebagai katalis [40]. Laju reaksi
transesterifikasi dengan katalis basa lebih cepat jika dibandingkan dengan katalis
asam. Karena dalam larutan basa, suatu karbonil dapat diserang langsung oleh
nukleofilik tanpa protonasi sebelumnya [41].
Katalis berbasis kalium memberikan yield yang lebih tinggi daripada katalis
berbasis natrium, dan katalis metoksida memberikan yield yang lebih tinggi dari
katalis hidroksida [29]. Logam alkali metoksida merupakan katalis yang paling aktif,
karena memberikan yield tertinggi dan waktu reaksi yang singkat. Namun, katalis
metoksida memerlukan reaksi bebas air yang menyebabkannya kurang sesuai
digunakan dalam proses industri [42]. Selain itu, harga dari katalis metoksida lima
hingga enam kali lebih mahal daripada harga katalis hidroksida [29]. Mekanisme
reaksi katalis basa homogen dapat dilihat pada gambar 2.1.

9
Universitas Sumatera Utara
ROH + B RO- + BH+

B : katalis basa
R1, R2, R3 : rantai karbon dari asam lemak
R : gugus alkil dari alkohol

Gambar 2.1 Mekanisme Reaksi Katalis Basa Homogen pada Transesterifikasi


Trigliserida : (1) Produksi sistem aktif, RO-; (2) Serangan nukleofilik dari RO- ke
gugus karbonil pada trigliserida, membentuk intermediat tetrahedral; (3) Pemecahan
intermediat; (4) Regenerasi dari sistem aktif RO-. Proses ini diulangi dua kali.
[43]

Logam alkali hidroksida (KOH dan NaOH) lebih diminati sebagai katalis
basa [44]. Namun, katalis berbasis kalium memungkinkan terbentuknya sabun lebih
banyak daripada katalis berbasis natrium [29]. Biaya yang rendah dan kinetika reaksi
yang baik menjadikan NaOH sebagai katalis yang paling diminati dalam industri
[45]. Jumlah NaOH yang diperlukan lebih sedikit daripada jumlah CH3ONa atau
KOH untuk konversi asam lemak metil ester yang sama karena NaOH memiliki
massa molar yang lebih rendah (40 g/mol), dibandingkan dengan CH3Ona (54 g/mol)
dan KOH (56 g/mol) [46].

2.2.4 Co-solvent Dietil Eter


Proses transesterifikasi memiliki banyak masalah seperti reaktan (minyak dan
alkohol) yang tidak saling larut yang disebabkan struktur kimia mereka. Dispersi
minyak dalam medium metanol, sehingga kemungkinan terjadinya benturan antara

10
Universitas Sumatera Utara
molekul gliserida dan metoksida (campuran metanol dan katalis alkali KOH atau
NaOH) semakin sedikit. Hal ini menurunkan laju benturan antar molekul dan juga
laju reaksi sehingga menyebabkan lamanya waktu reaksi [47].
Untuk meningkatkan efisiensi transesterifikasi, sangat penting untuk
menemukan cara mencampur reaktan cair dengan baik, terutama minyak dan
alkohol, dimana minyak dan alkohol sangat berbeda dalam polaritas dan densitas [7].
Penambahan pelarut lain dalam sistem reaksi dapat membantu pencampuran reaktan
yang tidak saling melarut tersebut. Ada tujuh kelompok pelarut hidrofilik dan
hidrofobik, yaitu alkana dan sikloalkana, keton, eter, ester, alkohol, nitril dan
derivatif [48]. Co–solvent, misalnya dari golongan eter, seperti tetrahidrofuran
(THF), dietil eter, diisopropil eter, metil tetiari butil eter, dapat digunakan sebagai
cara untuk membuat reaksi menjadi satu fasa [7].
Co-solvent yang dipilih sebaiknya memiliki titik didih dekat dengan alkohol
yang digunakan, agar setelah reaksi selesai, alkohol dan co-solvent dapat didaur-
ulang untuk digunakan kembali. Hal paling utama yang harus diperhatikan dalam
pemilihan co-solvent adalah pemulihan sempurna co-solvent di akhir reaksi dan
penggunaan kembali co-solvent, yang dapat dilakukan dengan pemilihan co-solvent
bertitik didih dekat dengan alkohol yang digunakan. Hal lain yang harus diperhatikan
adalah mengenai tingkat bahaya co-solvent [47]. Co-solvent yang lebih diutamakan
adalah yang berasal dari golongan cyclic ether seperti tetrahidrofuran (THF), dietil
eter, metiltertiaributileter, diisopropil eter, dan 1,4-dioxane. Co-solvent yang dipakai
hendaknya anhidrat [6].
Eter merupakan nonhidrosiklik dan tidak dapat membentuk ikatan hidrogen
dalam keadaan murninya. Eter juga biasanya tidak reaktif terhadap basa kuat. Eter
siklik dengan berat molekul rendah saling larut dengan air dalam banyak
perbandingan dan menjadikannya sebagai co-solvent dalam sistem metanl/minyak.
Metanol seperti air yang memiliki sifat polar dan hidrofilik. Contoh eter siklik adalah
tetrahidrofuran (THF) dan 1,4-dioxan. THF lebih dipilih sebab memiliki titik didih
dekat dengan titik didih metanol dan dapat di ko-destilasi sehingga dapat diperoleh
kembali di akhir reaksi [41].
Dietil eter termasuk dalam jenis co-solvent asiklik. Dietil eter sangat tidak
larut dalam air dalam semua perbandingan, tetapi saling larut dengan metanol. Dalam
eter siklik pasangan elektron bebas lebih mampu untuk berikatan hidrogen dibanding

11
Universitas Sumatera Utara
asiklik. Hal ini menjadi alasan bahwa ruangan gugus alkil dalam eter siklik
menghalangi pembentukan ikatan hidrogen dengan molekul air yang memiliki sifat
saling larut yang rendah [41].
Lin dan Hsiao menambahkan pengaruh penggunaan microwave dengan daya
300 W pada produksi biodiesel dari minyak jelantah dengan proses transesterifikasi
dua tahap dengan penambahan co-solvent memberikan hasil yang baik. Co-solvent
yang digunakan adalah tetrahidrofuran (THF). Penambahan THF meningkatkan
efisiensi reaksi. Reaksi pertama bertujuan untuk menurunkan kadar asam lemak
bebas, sedangkan reaksi kedua bertujuan untuk mengubah minyak menjadi metil
ester. Percobaan Lin dan Hsiao menghasilkan biodiesel dengan yield 97,4 % pada
perbandingan alkohol : minyak pada reaksi pertama 9 : 1, perbandingan alkohol :
minyak pada reaksi kedua 12 : 1, jumlah katalis basa 1 % berat, dan temperatur 333
K [7].
Setyopratomo, dkk. menggunakan dietil eter sebagai co-solvent dan
memvariasikan suhu reaksi serta perbandingan CPO : Metanol dalam menguji
karakteristik biodiesel turunan CPO. Dari berbagai alternatif metode pembuatan
biodiesel dari CPO, transesterifikasi satu fasa adalah salah satu alternatif yang dapat
dipilih. Beberapa keberhasilan dari metode ini telah ditunjukkan dari keunggulan
produk biodiesel yang dihasilkan pada perbandingan dietil eter : metanol (2 : 1),
waktu reaksi 1 jam, dan penggunaan katalis sebanyak 0,5 % berat [5].
Rachmaniah, dkk. menambahkan THF sebagai co-solvent pada produksi
biodiesel dari CPO dengan proses satu fasa. Dengan penambahan co-solvent THF
memberi perolehan kadar metil ester lebih tinggi daripada metode konvensional
dengan persentase kenaikan sebesar 5 %. Kadar metil ester tertinggi yang diperoleh
adala 98,42 %, dicapai pada perbandingan THF : Metanol (2 : 1), perbandingan
molar minyak : metanol (1 : 6), dan penggunaan katalis NaOH sebanyak 0,5 % berat
[9].
Encinar, dkk. menguji kinerja berbagai co-solvent dalam pembuatan biodiesel
dari rapeseed oil. Co-solvent yang digunakan antara lain tetrahidrofuran (THF), dietil
eter (DEE), dibutil eter (diBE), tersier butil metil eter (tBME), diisopropil eter
(diIPE), dan aseton. Pada kondisi reaksi yang sama yaitu pada perbandingan metanol
: minyak (9 : 1), perbandingan metanol : co-solvent (1 : 1), temperatur reaksi 303 K,
jumlah katalis 0,7 % berat, dan laju pengadukan 700 rpm, dietil eter dan THF

12
Universitas Sumatera Utara
memberikan yield tertinggi yaitu 97,6 % dan 98,3 %. Namun, di antara berbagai co-
solvent yang digunakan, dietil eter adalah yang paling efektif. THF memberikan hasil
yield yang serupa, namun pemulihannya lebih sulit [10]. Tabel 2.5 menunjukkan sifat
fisika dietil eter.

Tabel 2.5 Sifat Fisika Dietil Eter [49]


Sifat Fisika
Berwujud cair
Tak berwarna
Titik didih : 34 oC
Titik leleh : -116 oC
Tekanan uap : 400 mmHg
Titik nyala : -45 oC

2.3 TRANSESTERIFIKASI
Ada beberapa proses yang dapat digunakan untuk memproduksi biodiesel
[20].
1. Transesterifikasi dengan katalis basa.
2. Transesterifikasi dengan katalis asam.
3. Pre-esterifikasi terhadap FFA dengan katalis asam terintegrasi dan
transesterifikasi dengan katalis basa.
4. Transesterifikasi dengan katalis enzim.
5. Hidrolisis dan esterifikasi dengan katalis asam.
6. Pirolisis.
7. Transesterifikasi dengan alkohol superkritik.
Biodiesel pada umumnya disentesis melalui transesterifikasi dengan alkohol
ringan menggunakan katalis basa konvensional [50]. Transesterifikasi (biasa disebut
dengan alkoholisis) adalah tahap konversi dari trigliserida menjadi alkil ester,
melalui reaksi dengan alkohol, dan menghasilkan produk samping berupa gliserol
[30]. Reaksi transesterifikasi ditunjukkan oleh gambar 2.2.

13
Universitas Sumatera Utara
H2C – O – CO – R1 R1COOR H2C - OH
katalis
HC – O – CO – R2 + 3ROH R2COOR + HC – OH

H2C – O – CO – R3 R3COOR H2C – OH


(Trigliserida) (Alkohol) (Alkil Ester) (Gliserol)
Gambar 2.2 Reaksi Transesterifikasi
[32]

Reaksi transesterifikasi terdiri dari tiga tahap. Trigliserida bereaksi dengan


alkohol membentuk digliserida, dan kemudian digliserida bereaksi membentuk
monogliserida. Monogliserida bereaksi dengan alkohol menghasilkan gliserol
sebagai produk samping [51]. Monogliserida (MG) dan Digliserida (DG) merupakan
zat intermediat yang terbentuk dalam reaksi transesterifikasi [52]. Tahapan-tahapan
reaksinya adalah sebagai berikut [51].
1. TG + ROH DG (digliserida) + RCO2R
2. DG + ROH MG (monogliserida) + RCO2R
3. MG + ROH RCO2R + Gliserol
Faktor kritik untuk menunjang produksi biodiesel dengan reaksi
transesterifikasi yang baik sebagai berikut :
1. Kualitas Bahan Baku
Kualitas bahan baku termasuk dalam faktor internal reaksi transesterifikasi.
Sedangkan kondisi reaksi dan tipe katalis termasuk faktor eksternal reaksi
transesterifikasi [53]. Minyak nabati ataupun lemak hewani dapat digunakan untuk
produksi biodiesel. Bahan baku minyak yang digunakan harus memenuhi dua hal :
harga (biaya bahan baku dan produksi rendah) dan ketersediaan (volume produksi
besar dan konstan) (Sivasamy, dkk., 2009).
Lemak hewan bersifat lebih kompleks daripada minyak nabati murni. Kadar
asam lemak bebas (FFA) terkandung dalam minyak buangan dapat bereaksi dengan
katalis alkali yang menyebabkan terjadinya reaksi penyabunan. Oleh karena itu,
teknologi transesterifikasi konvensional menggunakan reagen yang bebas air dan
kadar FFA bahan baku tidak melebihi 0,1 – 0,5 % berat [29].

14
Universitas Sumatera Utara
2. Kondisi Reaksi
- Suhu optimum yang digunakan pada reaksi didasarkan pada suhu yang paling
mendekati titik didih alkohol yang digunakan untuk reaksi transesterifikasi
tanpa co-solvent [54]. Reaksi transesterifikasi dengan penambahan co-solvent
dilakukan di bawah titik didih dari pelarut (metanol) dan co-solvent (dietil eter)
[6]. Encinar, dkk. pada tahun 2010 membuktikan bahwa suhu optimum
transesterifikasi minyak dengan menggunakan co-solvent dietil eter adalah
sebesar 300 – 303 K (23 – 30 oC) [10].
- Secara teoritis, (dari stokiometri reaksi transesterifikasi), diperlukan
perbandingan metanol-minyak sebesar 3 : 1 untuk reaksi transesterifikasi [47].
Digunakan alkohol yang berlebih untuk memperoleh konversi reaksi yang baik
[54]. Penggunaan perbandingan metanol-minyak yang terlalu besar tidak akan
meningkatkan yield, tetapi menambah biaya pemulihan metanol dan
menyebabkan kesulitan pemisahan gliserol yang menyebabkan penurunan yield
[47]. Tanpa adanya co-solvent, reaksi transesterifikasi dapat dilakukan dengan
kisaran perbandingan molar metanol : minyak antara 6 : 1 hingga 12 : 1 [55].
Menurut Todorovic, dkk. pada tahun 2012, metanolisis minyak berkatalis basa
homogen dan heterogen dengan kehadiran co-solvent menggunakan
perbandingan molar metanol : minyak sebesar 6 : 1 [17].
- Kecepatan pengadukan setinggi mungkin untuk membantu pencampuran
reaktan. Hal ini disebabkan sistem dua fasa yaitu antara minyak dengan alkohol
(di mana katalis terlarut dalam alkohol) [54]. Pengadukan yang kuat
memperbesar perpindahan massa dengan mendispersikan alkohol sebagai
butir-butir dalam fasa trigliserida, dengan demikian akan menambah luas
kontak antara dua zat yang tidak melarut satu dengan lainnya. Produksi metil
ester bertambah ketika kecepatan impeller ditingkatkan dari 300 hingga 600
rpm [56]. Pengadukan sebenarnya hanya diperlukan untuk menghasilkan reaksi
satu fasa, ketika hal ini telah dapat diwujudkan, pengadukan tidak lagi
diperlukan. Dalam transesterifikasi menggunakan co-solvent, co-solvent
digunakan untuk mengatasi laju reaksi yang lambat dan karena itu, pengadukan
menjadi tidak penting. Kecepatan pengadukan sebesar 100 – 200 rpm untuk
beberapa menit pertama telah cukup [47].

15
Universitas Sumatera Utara
- Waktu reaksi transesterifikasi selama ini cukup lama, yaitu sekitar 1 jam untuk
reaksi tanpa co-solvent [5]. Sedangkan dengan adanya penambahan co-solvent
waktu reaksi yang diperlukan sangat singkat, sekitar 10 menit untuk
mendapatkan konversi reaksi yang hampir sempurna [47].
- Semakin meningkatnya perbandingan metanol : minyak, maka penggunaan co-
solvent akan semakin sedikit. Perbandingan volume co-solvent : metanol yang
diperlukan untuk beberapa variasi perbandingan netabol : minyak seperti
berikut ini 0,8 pada 6 : 1, 0,91 pada 9 : 1, 0,94 pada 12 : 1, 0,98 pada 13 : 1,
1,02 pada 14 : 1, 1,03 pada 15 : 1, dan 1,06 pada 18 : 1 [57]. Dari hasil
penelitian Encinar, dkk. (2010) banyaknya co-solvent yang diperlukan dengan
adanya penambahan 0,7 % berat katalis adalah 1 : 1 perbandingan molar
metanol : co-solvent untuk mendapatkan konversi reaksi yang hampir
sempurna [10].

3. Konsentrasi Katalis
Biasanya produksi biodiesel konvensional melalui reaksi transesterifikasi dari
minyak dengan katalis basa kuat yang homogen [58]. Katalis asam seperti asam
sulfat juga dapat digunakan untuk reaksi transesterifikasi namun berlangsung lambat
[44]. Reaksi dengan menggunakan katalis basa homogen relatif cepat dan
memberikan konversi reaksi yang tinggi [59]. Banyaknya jumlah katalis yang
digunakan dalam reaksi transesterifikasi tanpa adanya co-solvent berkisar antara 0,2
hingga 2 % berat [54]. Dengan adanya penambahan co-solvent, jumlah katalis yang
diperlukan menjadi lebih sedikit. Dari penelitian Dabo, dkk. (2012) yang
memvariasikan konsentrasi katalis (0,5 sampai 2 %), diperoleh yield tertinggi pada
penggunaan konsentrasi katalis 0,5 % [47].

2.4 POTENSI EKONOMI BIODIESEL DARI LEMAK AYAM


Indonesia memiliki populasi ayam pedaging (broiler) yang cukup besar yaitu
sekitar 1,3 milyar ekor pada tahun 2012 yang terus meningkat setiap tahunnya [24].
Ayam pedaging memiliki berat sekitar 1,5 kg per ekornya dengan kandungan lemak
10,9 % basis berat ([23] dan [26]). Dengan demikian, jumlah lemak ayam yang dapat
diperoleh adalah sekitar 212.550 ton yang akan terus meningkat setiap tahunnya.
Lemak ayam dapat diperoleh dengan mudah dari tempat pemotongan ayam maupun

16
Universitas Sumatera Utara
dari restoran-restoran yang memiliki menu berbahan dasar ayam. Lemak ayam
memiliki potensi yang cukup besar dalam pembuatan biodiesel. Lemak ayam
diharapkan dapat menjadi bahan baku utama pembuatan biodiesel. Hal ini dapat
meningkatkan nilai ekonomi lemak ayam dan menangani masalah limbah yang
ditimbulkan lemak ayam.
Oleh karena itu, perlu dilakukan kajian potensi ekonomi biodiesel dari lemak
ayam. Namun, dalam tulisan ini hanya akan dikaji potensi ekonomi secara sederhana.
Sebelum dilakukan kajian tersebut, perlu diketahui harga bahan baku yang digunakan
dalam produksi dan harga jual biodiesel. Dalam hal ini, harga biodiesel mengacu
pada harga komersial lemak ayam, biodiesel, dan co-solvent dietil eter.
Harga Lemak Ayam = Rp 5.000/ kg
Harga Penjualan Biodiesel = Rp 7.895/ liter [60]
Untuk menghasilkan 1 liter biodiesel dengan yield 95%, diperlukan 1 liter
lemak ayam, 8 gram NaOH, 0,284 liter metanol, dan 0,142 liter dietil eter. Dietil eter
sebagai co-solvent yang digunakan dalam penelitian ini dapat digunakan kembali
setelah melalui proses distilasi sehingga menghemat biaya produksi. Sehingga
diperkirakan biaya memproduksi 1 liter biodiesel adalah :
Lemak ayam padat yang dikonversi menjadi lemak cair sekitar 90% sehingga untuk
memperoleh 1 liter lemak cair diperkirakan seharga Rp 5.500
Metanol = 0,284L/ 1L x Rp 15.000 [61]
= Rp 4.260
NaOH = 8 gr x Rp 1.000/ gr [61]

= Rp 8.000
Dietil Eter = 0,142 L x Rp 350.000/L
= Rp 49.700 [62]

Biaya Listrik [63]


Transesterifikasi = 0,5 kWh x Rp 1.352 kWh x 20menit x 1 jam/60 menit
= Rp 230
Maka total biaya pembuatan 1 liter biodiesel adalah Rp 67.190.
Dapat dilihat bahwa harga lemak ayam sebagai bahan baku masih di bawah
harga baha baku pembuatan biodiesel lain, seperti CPO (Rp. 7.500), canola oil (Rp.

17
Universitas Sumatera Utara
90.000), dan minyak jarak (Rp. 180.000) [64]. Hal ini membawa nilai ekonomis
dalam pembuatan biodiesel dari lemak ayam. Adanya kebijakan dari pemerintah
mengenai penggunaan biodiesel sebagai bahan bakar yaitu pemberlakuan Peraturan
Menteri ESDM Nomor 25/2013 sejak Agustus 2013 di mana memberikan dampak
yang signifikan terhadap konsumsi biodiesel dalam negeri. Kementerian ESDM
mengungkapkan bahwa konsumsi biodiesel dalam negeri meningkat hingga 101%.
Pada Agustus 2013 lalu, konsumsi nabati (fatty acid methyl ester/ FAME) yang
dicampurkan ke dalam solar sehingga menjadi biodiesel, masih 57.871 kiloliter
sedangkan pada bulan Oktober 2013, konsumsi telah mencapai 116.261 kiloliter.
Mulai September 2013, perusahaan di sekitar sektor transportasi, industri, komersial,
dan pembangkit listrik diwajibkan memakai FAME minimal 10% dalam campuran
solar. Hal ini sesuai yang tercantum dalam Peraturan Menteri ESDM Nomor 25/2013
tentang Penyediaan, Pemanfaatan, dan Tata Niaga Bahan Bakar Nabati (Biofuel)
sebagai Bahan Bakar Lain. Biodiesel yang digunakan dalam campuran solar juga
diwajibkan merupakan produk lokal, bukan produk impor.
Dengan adanya kebijakan pemerintah yang ditetapkan oleh peraturan menteri
ESDM, penetapan harga jual biodiesel sendiri bisa fleksibel mengikuti harga bahan
baku serta biaya produksi saat ini yang ditutupi dengan subsidi, sehingga produksi
biodiesel menggunakan bahan baku lemak ayam dapat menguntungkan dan
berpotensi menjadi industri yang berkembang dan menjadikan Indonesia sebagai
produsen terbesar biodiesel dan pelaku ekspor biodiesel di dunia.

18
Universitas Sumatera Utara