Anda di halaman 1dari 10

REFLEKSI KASUS

ABSES SEREBRI e.c MASTOIDITIS KRONIS SINISTRA

Penyusun :

Tiffany Saqfilia Prameswari, S.Ked

(0918011099)

Pembimbing :

dr. Handayani Dwi Utami, M.Kes, Sp.F

KEPANITERAAN KLINIK KEDOKTERAN FORENSIK DAN MEDIKOLEGAL


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS LAMPUNG
RSUD dr. H. ABDUL MOELOEK PROPINSI LAMPUNG
2014

REFLEKSI KASUS ABSES SEREBRI e.c MASTOIDITIS KRONIS SINISTRA 1


Stase Kedokteran Forensik dan Medikolegal RSUD dr. H.Abdoel Moeloek 2014
REFLEKSI KASUS
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS LAMPUNG

Nama Dokter Muda / NPM : Tiffany Saqfilia Prameswari / 0918011099


Stase : Kedokteran Forensik dan Medikolegal

Identitas Pasien
Nama / Inisial : An. Rizki No. Regristrasi :-
Umur : 16 tahun Jenis kelamin : Laki-laki
Diagnosis/ kasus : Abses Serebri e.c Mastoiditis Kronis Sinistra

Aspek pengkajian :
a. Etika
b. Hukum
c. Sosial Humaniora

Form Uraian
1. Resume kasus yang diambil (yang menceritakan kondisi lengkap pasien/kasus yang
diambil).
Atas permintaan tertulis dari Kepolisian Resor Bandar Lampung Sektor Tanjung Karang
Timur melalui suratnya tanggal 25 Januari 2014 Nomor Polisi: 24/I /2014 /LPG /RESTA
BALAM yang ditanda tangani oleh Heri Marwadi pangkat AIPTU, NRP 67080396 dan
diterima tanggal 25 Januari 2014, di Ruang Delima RSUD dr. H. Abdul Moeloek
Provinsi Lampung telah dilakukan pemeriksaan korban dengan nomor register 850666,
yang berdasarkan surat permintaan tersebut di atas bernama IW, umur enam belas tahun,
jenis kelamin perempuan, yang beralamat Jalan Raden Fatah gang Tirtayasa LK II
Kaliawi Bandar Lampung diduga mengalami kejahatan seksual pada remaja.

Kronologis :

Korban datang ke RSAM bersama dengan ibu dan kakak sepupunya dengan membawa
surat permintaan visum dalam keadaan sadar, keadaan umum baik. Korban memakai
kemeja berwarna merah bergaris putih kebiruan, celana pensil berwarna hitam pudar,
jilbab berwarna merah dan sepatu biru transparan. Korban mengaku telah melakukan
hubungan seksual dengan pelaku yang bernama Tn.R (22 tahun). Pelaku merupakan

REFLEKSI KASUS ABSES SEREBRI e.c MASTOIDITIS KRONIS SINISTRA 2


Stase Kedokteran Forensik dan Medikolegal RSUD dr. H.Abdoel Moeloek 2014
pacar korban yang bekerja sebagai supir angkot. Korban mengenal pelaku sejak 2
minggu yang lalu. Menurut pengakuan korban kejadian terjadi pada tanggal 23 Januari
2014. Awalnya korban kabur dari rumah setelah dimarahi oleh ayahnya karena sering
pulang terlambat. Kemudian korban bertemu dengan Tn.R bersama kedua orang
temannya Tn.J dan Nn.F di gang bukit Ratulangi. Kemudian korban diajak berkeliling
dengan mengendarai angkot dan dibawa ke sebuah losmen di dekat cucian mobil Jalan
Pramuka, Bandar Lampung.

Korban dan pelaku masuk ke dalam kamar losmen sekira pukul 23.00 WIB. Awalnya
pelaku mengajak ngobrol dengan korban, kemudian pelaku membuka baju korban.
Korban sempat menolak, namun pelaku mengancam akan memukul korban dan
memutuskan hubungan asmara mereka Korban diciumi pelaku dan digerayangi
tubuhnya, kemudian alat kelamin pelaku dimasukkan kedalam kelamin korban, cairan
mani pelaku dikeluarkan di luar.

Korban dan pelaku tertidur, kemudian terbangun pada pukul 05.00 WIB, pelaku kembali
memasukan alat kelaminnya ke kemaluan korban sebanyak 2 kali, air mani pelaku
dikeluarkan di luar. Pukul 07.00 WIB korban diantar oleh pelaku ke rumah teman
korban. Korban kemudian bertemu dengan kakaknya dan diajak pulang ke rumah.

2. Latar belakang/alasan ketertarikan pemilihan kasus


Saya memilih kasus dikarenakan kasus kejahatan seksual pada remaja semakin
meningkat. Hal ini dikarenakan nilai-nilai moral baik dari segi agama maupun kesusilaan
pada remaja semakin rendah. Latar belakang keluarga yang tidak harmonis, sosial
ekonomi yang rendah, kurangnya perhatian dari orang tua membuat seseorang anak
melakukan hal-hal negatif. Pendidikan moral agama, kesusilaan, pendidikan
kewarganegaraan dan Pancasila di sekolah sudah berkurang, berbeda dengan zaman-
zaman tahun 1990-an. Ditambah tekhnologi semakin canggih, akses dunia maya
sekarang semakin mudah, sehingga tidak menutup kemungkinan untuk mengakses hal-
hal negatif semakin mudah. Beberapa hal ini lah yang mengakibatkan kasus kejahatan
seksual pada remaja semakin meningkat.

Hal ini menjadi sesuatu yang menarik untuk diangkat sebagai refleksi kasus dan
mengkajinya dari berbagai aspek, baik dari aspek etika/moral, medikolegal maupun
sosial humaniora.

3. Refleksi dari aspek etika moral beserta penjelasan evidence / referensi yang sesuai
REFLEKSI KASUS ABSES SEREBRI e.c MASTOIDITIS KRONIS SINISTRA 3
Stase Kedokteran Forensik dan Medikolegal RSUD dr. H.Abdoel Moeloek 2014
Etika berasal dari bahasa Yunani, yaitu
 Ethos ( tunggal ) : Adat, akhlak, watak perasaan, sikap dan cara berfikir;
 Etha ( jamak ) : Kebiasaan

Menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia :


a. Kumpulan tentang apa yang baik dan buruk dan tentang hak dan kewajiban moral;
b. Kumpulan azas atau nilai yang berkenaan dengan akhlak;
c. Nilai mengenai benar dan salah yang dianut golongan atau masyarakat.
Jadi Etika adalah ilmu tentang adat kebiasaan yang mencakup nilai – nilai dan norma –
norma sebagai pegangan dalam melaksanakan tingkah laku.

Kaidah dasar (prinsip) Etika / Bioetik adalah landasan pertimbangan dalam mengambil
keputusan dokter dalam bekerja. Prinsip yang dimaksud ada 4 yaitu berbuat baik
(beneficience), tidak berbuat merugikan (non-maleficence), menghormati martabat
manusia (respect for person/autonomy) dan keadilan (justice). Prinsip-prinsip ini harus
dimiliki dan dipahami oleh setiap dokter dan dijadikan panduan dalam melaksanakan
tugasnya. Pada hakikatnya, keempat prinsip ini harus ada. Tetapi dalam beberapa kasus,
karena kondisi tertentu, satu prinsip dapat menjadi lebih penting dan sah untuk
digunakan dengan mengorbankan prinsip yang lain. Keadaan seperti ini disebut dengan
prima facie.

Berikut ini kajian antara 4 aspek prinsip bioetik dengan kasus yang diangkat:
a. Berbuat baik (beneficence).
Pengertian ”berbuat baik” disini diartikan sebagai bersikap ramah, menolong, sopan,
memperlakukan pasien seperti dokter sendiri ingin diperlakukan, lebih dari sekedar
memenuhi kewajiban sehingga seorang dokter dapat mengupayakan pasiennya tetap
terjaga keadaan kesehatannya (patient welfare).

Pada kasus ini dikarenakan pasien/korban sedang dalam keadaan terpukul, sebaiknya
dokter juga memperhatikan psikologis dari korban. Menenangkan korban terlebih
dahulu sehingga korban nyaman sebelum mengajukan pertanyaan. Tidak mencecar
korban dengan pertanyaan. Selain itu mendengarkan dan bersikap empati terhadap
keluhan korban serta mencatat semua keluhan korban dan membuktikannya dengan
pemeriksaan yang baik. Dokter juga harus menenangkan kepada keluarga korban,
sehingga ketika korban pulang, korban tidak diasingkan/disalahkan oleh keluarganya
dan meminta keluarga korban ikut menguatkan/memotivasi korban sehingga korban

REFLEKSI KASUS ABSES SEREBRI e.c MASTOIDITIS KRONIS SINISTRA 4


Stase Kedokteran Forensik dan Medikolegal RSUD dr. H.Abdoel Moeloek 2014
tidak jatuh dalam keterpurukan lebih dalam.

b. Tidak berbuat merugikan (non-maleficence)


Dalam praktik kedokteran haruslah memilih pengobatan yang paling kecil risikonya
dan paling besar manfaatnya. Pernyataan kuno: first, do no harm, tetap berlaku dan
harus diikuti.

Pada kasus ini, dokter tidak boleh segala sesuatu yang dapat merugikan pasien.
Sebagai contoh dokter tidak boleh mengurangi/lalai dalam mencatat segala temuan
luka-luka atau tanda-tanda kekerasan yang ada pada korban sehingga dapat
merugikan korban itu sendiri. Melakukan pemeriksaan pada korban tidak sesuai
dengan indikasinya.

c. Menghormati martabat manusia (respect for person/autonomy)


Menghormati martabat manusia. Pertama, setiap individu (pasien) harus diperlakukan
sebagai manusia yang memiliki otonomi (hak untuk menentukan nasib diri sendiri),
dan kedua, setiap manusia yang otonominya berkurang atau hilang perlu
mendapatkan perlindungan.

Berikan informasi yang sebenarnya tentang keadaan pasien (tell the truth).
Hormatilah hak privasi, mintalah persetujuan pasien dalam melakukan setiap
tindakan, bila ditanya, bantulah membuat keputusan penting.

Pada kasus ini, sebelum dokter memeriksa pasien korban asusila, terlebih dahulu
menjelaskan prosedur pemeriksaannya secara mendetail dan sebutkan kegunaan dari
setiap pemeriksaan kepada pasien beserta keluarga sehingga terhindar dari hal-hal
yang tidak diinginkan. Selain itu, dokter juga harus meminta persetujuannya sebelum
dilakukan pemeriksaan baik kepada pasien maupun keluarganya. Jagalah kerahasiaan
kondisi pasien baik itu dari orang lain maupun keluarga pasien sendiri.

d. Justice ( Keadilan )
Perbedaan kedudukan sosial, tingkat ekonomi, pandangan politik, agama dan faham
kepercayaan, kebangsaan dan kewarganegaraan, status perkawinan, serta perbedaan
jender tidak boleh dan tidak dapat mengubah sikap dokter terhadap pasiennya. Tidak
ada pertimbangan lain selain kesehatan pasien yang menjadi perhatian utama dokter.

Pada kasus ini, seorang dokter harus tetap melakukan pelayanan secara optimal

REFLEKSI KASUS ABSES SEREBRI e.c MASTOIDITIS KRONIS SINISTRA 5


Stase Kedokteran Forensik dan Medikolegal RSUD dr. H.Abdoel Moeloek 2014
terhadap pasien tanpa melihat usia pasien, tingkat ekonomi dan lain-lain.

4. Refleksi dari aspek hukum beserta penjelasan evidence / referensi yang sesuai
Perkosaan berasal dari kata dasar perkosa yang berarti paksa. Pemerkosaan adalah proses
cara perbuatan memerkosa dengan kekerasan. Dengan demikian dalam Kamus Besar
Bahasa Indonesia perkosaan memiliki unsur-unsur pria memaksa dengan kekerasan serta
bersetubuh dengan seorang wanita.

Perkosaan tidak hanya sering terjadi pada wanita yang dewasa, tetapi sering pula terjadi
pada anak-anak dan remaja. Definisi perkosaan menurut yuridis adalah perbuatan
memaksa seseorang wanita yang bukan istrinya untuk bersetubuh dengan dia dengan
kekerasan atau ancaman kekerasan.

Berdasarkan perbuatan secara paksaan sebagaimana yang telah diuraikan sebelumnya,


maka dapat ditarik kesimpulan bahwasanya ada 4 unsur yang dominan pada perbuatan
kekerasan, yaitu:
a. Orang yang melakukan paksaan;
b. Orang yang dipaksa;
c. Ancaman yang diberikan dari orang yang memaksa kepada yang dipaksa;
d. Ucapan atau perbuatan yang dilarang oleh syara’.

Berkaitan dengan kasus ini, dilihat dari aspek hukum terdapat adanya pelanggaran yang
melibatkan pelaku pemerkosaan terhadap Sdr. IW yang masih berumur 16 tahun.
Berdasarkan pengertian pemerkosaan adalah tindakan menyetubuhi seorang wanita yang
bukan istrinya dengan kekerasan atau ancaman kekerasan. Korban mengaku telah
dipaksa oleh pelaku untuk berhubungan badan, padahal status pelaku dan korban bukan
suami-istri. Pasal berlapis juga dapat dikenakan terhadap pelaku karena melakukan
pemerkosaan terhadap anak dan persetubuhan dibawah umur. Dimana dalam KUHP
memberikan batasan anak di bawah umur adalah lima belas tahun, sedangkan dalam
KHA memberikan batasan anak di bawah umur adalah delapan belas tahun. Jadi dalam
kasus ini pelaku dapat dikenakan sanksi berupa pemerkosaan, pemerkosaan terhadap
anak berdasarkan pasal 285 KUHP dan persetubuhan dibawah umur berdasarkan pasal
287 KUHP.

Menurut UU RI. No. 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak


Pasal 81

REFLEKSI KASUS ABSES SEREBRI e.c MASTOIDITIS KRONIS SINISTRA 6


Stase Kedokteran Forensik dan Medikolegal RSUD dr. H.Abdoel Moeloek 2014
(1) Setiap orang yang dengan sengaja melakukan kekerasan atau ancaman kekerasan
memaksa anak melakukan persetubuhan dengannya atau dengan orang lain, dipidana
dengan pidana penjara paling lama 15 ( lima belas ) tahun dan paling singkat 3 ( tiga )
tahun dan denda paling sedikit Rp. 60.000.000,00 (enam puluh juta rupiah).
(2) Ketentuan pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berlaku pula bagi setiap
orang yang dengan sengaja melakukan tipu muslihat, serangkaian kebohongan, atau
membujuk anak melakukan persetubuhan dengannya atau dengan orang lain.

Pasal 82
Setiap orang yang dengan sengaja melakukan kekerasan atau ancaman kekerasan,
memaksa, melakukan tipu muslihat, serangkaian kebohongan, atau membujuk anak
untuk melakukan atau membiarkan dilakukan perbuatan cabul, dipidana dengan pidana
penjara paling lama 15 (lima belas) tahun dan paling singkat 3 ( tiga ) tahun dan denda
paling banyak Rp. 300.000.000,00 (tiga ratus juta rupiah) dan paling sedikit Rp.
60.000.000,00 (enam puluh juta rupiah).

Pada undang - undang ini menegaskan bahwa pertanggung jawaban orangtua, keluarga,
masyarakat, dan negara merupakan rangkaian kegiatan yang dilaksanakan secara terus –
menerus demi terlindungi hak – hak anak. Upaya perlindungan anak perlu dilaksanakan
sedini mungkin yakni sejak janin dalam kandungan sampai anak berumur 18 tahun.

Dan menurut KUHP ( Kitab Undang – Undang Hukum Pidana )


Pasal 285
Barang siapa dengan kekerasan atau ancaman kekerasan memaksa perempuan yang
bukan istrinya bersetubuh dengan dia, dihukum, karena memperkosa, dengan hukuman
penjara selama – lamanya 12 tahun.

Pasal 287
(1) Barang siapa bersetubuh dengan seorang wanita di luar pernikahan, padahal
diketahui atau sepatutnya harus diduga, bahwa umurnya belum 15 tahun, atau bila
umurnya tidak ternyata, bahwa belum mampu dikawin, diancam dengan pidana penjara
paling lama 9 tahun.
(2) Penuntutan hanya dilakukan atas pengaduan, kecuali jika umurnya wanita belum
sampai 12 tahun atau jika ada salah satu hal tersebut pasal 291 dan pasal 294.

Selain itu terdapat dalam pasal 290 KUHP yang menyatakan diancam dengan pidana

REFLEKSI KASUS ABSES SEREBRI e.c MASTOIDITIS KRONIS SINISTRA 7


Stase Kedokteran Forensik dan Medikolegal RSUD dr. H.Abdoel Moeloek 2014
penjara paling lama 7 tahun.
Pasal 290
(1) Barang siapa melakukan perbuatan cabul dengan seorang padahal diketahui bahwa
orang itu pingsan atau tidak berdaya
(2) Barang siapa melakukan perbuatan cabul dengan seorang padahal diketahui atau
sepatutnya harus diduga bahwa umurnya belum 15 tahun atau bila umurnya tidak
ternyata, bahwa belum mampu dikawin
(3) Barang siapa membujuk seseorang yang diketahui atau sepatutnya harus diduga
bahwa umurnya belum 15 tahun atau bila umurnya tidak ternyata, bahwa belum mampu
dikawin, untuk melakukan atau membiarkan dilakukan perbuatan cabul, atau
persetubuhan diluar pernikahan dengan orang lain

5. Refleksi dari aspek sosial humaniora beserta penjelasan evidence / referensi yang sesuai
Kejahatan asusila dapat terjadi disebabkan adanya pergeseran norma-norma susila yang
dianut oleh masyarakat, serta semakin menipisnya kontrol sosial yang ada dalam
masyarakat. Faktor-faktor ini antara lain, lemahnya iman dan pengendalian hawa nafsu
serta kian banyaknya stimulasi seksual.

Faktor interaksi dapat terjadi melalui hubungan dan komunikasi lebih dekat dan terbuka,
sperti sering tidur bersama dalam satu kamar dengan orang yang bukan muhrimnya.
Faktor situasi biasanya terjadi dikarenakan ada kesempatan yang membuat pelaku untuk
berbuat kejahatan tersebut, seperti jauh dari keramaian, suasana sepi dan ruangan yang
tertutup yang memungkinkan pelaku leluasa untuk melakukan perbuatannya.

Kemajuan IPTEK dan berkembangnya budaya yang tidak diimbangi dengan peningkatan
keimanan dan ketaqwaan dalam masyarakat akan menimbulkan berbagai konflik dan
kehancuran moral dalam masyarakat tersebut.

Umpan balik dari pembimbing

REFLEKSI KASUS ABSES SEREBRI e.c MASTOIDITIS KRONIS SINISTRA 8


Stase Kedokteran Forensik dan Medikolegal RSUD dr. H.Abdoel Moeloek 2014
Bandar Lampung, 4 Februari 2014
Dokter Pembimbing Dokter Muda

dr. Handayani Dwi Utami, M.Kes, Sp.F Dyah Gaby Kesuma

DAFTAR PUSTAKA

Atmadja, DS. Aspek medikolegal pemeriksaan korban perlukaan dan keracunan di rumash
sakit. In: Prosiding Simposium Tata laksana Visum et Repertum Korban Hidup pada
Kasus Perlukaan dan Keracunan di Rumah Sakit; 2004 Jun 23; Jakarta; 2004. p. 1-5.)

Bemelen, Van. 1984 Hukum Pidana 1. Bandung : Binacipta

REFLEKSI KASUS ABSES SEREBRI e.c MASTOIDITIS KRONIS SINISTRA 9


Stase Kedokteran Forensik dan Medikolegal RSUD dr. H.Abdoel Moeloek 2014
KUHP dan KUHAP. Jakarta : Sinar Grafika

Luhulima, Achie Sudiarti. 2000. Pemahaman Bentuk-bentuk Tindak Kekerasan terhadap


Perempuan dan Alternatif Pemecahannya. Jakarta : UI Press.

Prodjodikono, Wirdjono. Tindak-tindak Pidana Tertentu di Indonesia. Bandung : Eresco

Soemitro, dkk. 1996. Hukum Pidana. Surakarta : UNS Press.

Undang-undang Nomor 23 Tahun 2002. Tentang Perlindungan Anak

Wahid, Abdul dan Irfan, Muhammad. 2001. Perlindungan terhadap Korban Kekerasan
Seksual Advokasi atas Hak Asasi Perempuan. Bandung : Refika Aditama

REFLEKSI KASUS ABSES SEREBRI e.c MASTOIDITIS KRONIS SINISTRA 10


Stase Kedokteran Forensik dan Medikolegal RSUD dr. H.Abdoel Moeloek 2014