Anda di halaman 1dari 17

MAKALAH

RUANG LINGKUP K3 DALAM KEPERAWATAN


Dosen : Melisa Frisilia, S.Kep., M.Kes

DISUSUN OLEH :
KELOMPOK 3

DANTINI 2018.C.10a.0963
DHEA PERMATASARI ISKANDAR 2018.C.10a.0964
LOREN 2018.C.10a.0976
SAPTA 2018.C.10a.0984

YAYASAN EKA HARAP PALANGKA RAYA


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN
TAHUN AJARAN 2018/2019
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala
rahmat-Nya makalah ini dapat diselesaikan tepat waktu walaupun ada beberapa
halangan yang mengganggu proses pembuatan makalah ini, namun penulis dapat
mengatasinya tentu atas campur tangan Tuhan Yang Maha Esa.

Penulis berharap makalah ini akan berguna bagi para mahasiswa terutama yang
berada di STIKes Eka Harap materi tentang “Ruang Lingkup K3 Dalam
Keperawatan” sehingga diharapkan dengan mempelajari makalah ini mahasiswa
maupun pembaca lainnya untuk mendapatkan tambahan pengetahuan.

Penulis menyadari bahwa makalah ini jauh dari kata sempurna, penulis
berharap adanya kritik dan saran dari berbagai pihak untuk perbaikan makalah ini
pada masa yang akan datang. Akhir kata dari penulis berterimakasih kepada semua
pihak yang telah membantu dalam proses penyusunan makalah ini sehingga
menjadi bermanfaat bagi kita semua.

Palangka Raya, 18 Maret 2019

Penulis

ii
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ....................................................................................................... ii
DAFTAR ISI..................................................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN .................................................................................................. 1
1.1 LATAR BELAKANG ........................................................................................ 1
1.2 RUMUSAN MASALAH .................................................................................... 2
1.3 TUJUAN PENULISAN ...................................................................................... 2
1.3.1 Tujuan Umum ............................................................................................... 2
1.3.2 Tujuan Khusus .............................................................................................. 2
BAB II PEMBAHASAN ................................................................................................... 3
2.1 RUANG LINGKUP K3 ...................................................................................... 3
2.2 RUANG LINGKUP K3 DALAM KEPERAWATAN ....................................... 7
2.2.1 Sistem Manajemen K3-RS ........................................................................ 10
2.2.2 Tujuan SM-K3RS ..................................................................................... 11
2.2.3 Ruang lingkup K3 di Rumah Sakit ........................................................... 11
BAB III PENUTUP ......................................................................................................... 13
3.1 KESIMPULAN ................................................................................................. 13
3.2 SARAN ............................................................................................................. 13
DAFTAR PUSTAKA ...................................................................................................... 14

iii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG


Pelaksanaan Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) yaitu salah satu
bentuk usaha untuk membuat tempat kerja yang aman, sehat, bebas dari
pencemaran lingkungan, hingga dapat kurangi dan atau bebas dari
kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja yang selanjutnya dapat
tingkatkan efisiensi dan produktivitas kerja. Kecelakaan kerja tidak saja
menyebabkan korban jiwa ataupun kerugian materi untuk pekerja dan
entrepreneur, namun dapat juga mengganggu sistem produksi secara detail,
mengakibatkan kerusakan lingkungan yang selanjutnya akan beresiko pada
orang-orang luas.
Penyakit Akibat Kerja (PAK) dan Kecelakaan Kerja (KK) di
kelompok petugas kesehatan dan non kesehatan kesehatan di Indonesia
belum terekam dengan baik. Bila kita tekuni angka kecelakaan dan penyakit
akibat kerja di beberapa negara maju (dari beberapa penilaian) memberikan
kecenderungan penambahan prevalensi. Sebagai aspek penyebabnya, sering
terjadi karena kurangnya kesadaran pekerja dan kwalitas dan ketrampilan
pekerja yang kurang mencukupi. Banyak pekerja yang menyepelekan resiko
kerja, hingga tidak memakai alat-alat pengaman meskipun telah ada.
Dalam Undang-Undang Nomor 23 Th. 2003 mengenai Kesehatan,
Pasal 23 dinyatakan kalau usaha Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3)
harus diadakan di semua tempat kerja, terutama tempat kerja yang memiliki
resiko bahaya kesehatan, mudah terjangkit penyakit atau memiliki
karyawan paling sedikit 10 orang. Bila memerhatikan isi dari pasal diatas
maka jelaslah kalau Tempat tinggal Sakit (RS) termasuk kedalam
persyaratan tempat kerja dengan beragam ancaman bahaya yang bisa
menyebabkan efek kesehatan, bukan sekedar pada beberapa pelaku segera
yang bekerja di RS, namun juga pada pasien ataupun pengunjung RS.

1
Hingga telah semestinya pihak pengelola RS mengaplikasikan bebrapa
usaha K3 di RS.
Potensi bahaya di RS, selain penyakit-penyakit infeksi ada juga
potensi bahaya-bahaya lain yang memengaruhi kondisi dan keadaan di RS,
yakni kecelakaan (peledakan, kebakaran, kecelakaan yang berhubungan
dengan instalasi listrik, dan sumber-sumber cidera yang lain), radiasi,
beberapa bahan kimia yang beresiko, gas-gas anastesi, masalah psikososial
dan ergonomi. Semua potensi bahaya itu diatas, terang meneror jiwa dan
kehidupan untuk beberapa karyawan di RS, beberapa pasien ataupun
beberapa pengunjung yang ada di lingkungan RS.

1.2 RUMUSAN MASALAH


1. Apa yang dimaksud dengan Ruang Lingkup K3 Dalam Keperawatan.
2. Apa saja Ruang Lingkuop K3RS Dalam Keperawatan?
3. Bagaimana sistem manajemen K3RS serta langkah-langkah nya?

1.3 TUJUAN PENULISAN


1.3.1 Tujuan Umum
Untuk mengetahui Ruang Lingkup K3 Dalam Keperawatan.
1.3.2 Tujuan Khusus
a. Untuk memenuhi tugas Keselamatan Pasien dan Kesalamatan
Kesehatan Kerja (K3) tentang Ruang Lingkup K3 Dalam
Keperawatan.

b. Untuk menambah wawasan pengetahuan bagi mahasiswa(i)


Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Eka Harap Palangka Raya.

2
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 RUANG LINGKUP K3


Ruang lingkup tindakan K3 dilakukan di setiap pekerjaan, kapanpun
dan di manapun. Tindakan keselamata kerja dilakukan di tempat kerja, di
lingkungan keluarga /rumah tangga, lingkungan masyarakat. Adapun
syarat-syarat pelaksanaan K3 diperuntukan untuk:
1) Mencegah dan mengurangi kecelakaan
2) Membuat jalan penyelamatan (emergency exit)
3) Memberi pertolongan pertama (first aids/PPPK)
4) Memberi peralatan pelindung pada pekerja dan alat kerja
5) mempertimbangkan faktor-faktor kenyamanan kerja
6) Mencegah dan mengendalikan timbulnya penyakit fisik
7) Memelihara ketertiban dan kebersihan kerja
8) Mengusahakan keserasian antar pekerja, perkakas, lingkungan dan proses
kerja.
Adapun aspek keselamatan kerja jika dilakukan di bengkel perlu ada
tanggung jawab moral dan komitmen, adanya kemampuan sumber daya
manusia, dan tindakan pencegahan. Tujuan utama kesehatan kerja antara
lain meliputi : Pencegahan dan pemberantasan penyakit-penyakit dan
kecelakaan akibat kerja; Pemeliharaan dan peningkatan kesehatan dan gizi
tenaga kerja; Perawatan, efisiensi dan produktifitas tenaga kerja;
Pemberantasan kelelahan tenaga kerja dan meningkatkan kegairahan serta
kenikmatan kerja; Perlindungan masyarakat luas dari bahaya-bahaya yang
mungkin ditimbulkan oleh produk-produk kesehatan.
Ada dua hal dalam penanganan resiko keselamatan kerja, yaitu
resiko fisik tempat kerja, dan resiko kesehatan kerja. Resiko keselamatan
kerja meliputi aspek-aspek dari lingkungan kerja yang dapat menyebabkan
kerusakan fisik tempat kerja, alat dan manusia. Resiko kesehatan kerja
meliputi aspek-aspek lingkungan kerja yang dapat menyebabkan kondisi

3
tidak sehat pada pekerja yang dapat menimbulkan kerusakan atau kerugian
baik fisik maupun psikis dalam jangka waktu tertentu.
Di samping itu, tujuan Keselamatan Kerja meliputi : Melindungi
tenaga kerja atas hak keselamatan dalam melakukan pekerjaan; untuk
kesejahteraan hidup dan meningkatkan produksi serta produktifitas
nasional; Menjamin keselamatan setiap orang lain yang berada di tempat
kerja; Sumber produksi dipelihara dan dipergunakan secara aman dan
efisien; dan Sasaran utama keselamatan kerja adalah tempat kerja.
Syarat Keselamatan Kerja harus mengarah pada mencegah dan
mengurangi terjadinya kecelakaan; mencegah, mengurangi, dan
memadamkan kebakaran; mencegah dan mengurangi bahaya peledakan;
memberi kesempatan atau jalan menyelamatkan diri pada waktu kebakaran;
memberi pertolongan pada kecelakaan; membeli alat-alat pelindung diri
pada para pekerja. Dengan terjaminnya tercapainya tujuan dan persyaratan
keselamatan kerja akan mempengaruhi pekerja atau siapa saja yang terkait
dengan pekerjaan tersebut. Tidak hanya orang yang terkait di dalamnya,
akan tetapi juga lingkungan dan benda kerja yang diproses. Pengaruh yang
akan muncul di antaranya bahwa lingkungan kerja menjadi lebih aman,
pekerja termotivasi untuk bekerja secara lebih baik, dan termotivasi. Proses
kegiatan menjadi lebih produktif, nyaman, dan kegairaahan dalam
melakukan pekerjaan. Kemungkinan terjadinya kecelakaan dapat
diminimalkan, ergonomy, dan tingkat kesehatan membaik. Peralatan/alat
relatif terpelihara, juga jauh dari kemungkinan terjadinya kebakaran.
Untuk itu, perlu dilakukan tindakan preventif, dengan cara setiap
pekerjaan harus dilakukan secara benar sesuai dengan SOP, ada alur kerja
yang jelas; menyiapkan dokter kesehatan; dilakukaknya pelatihan PPPK
bagi semua SDM yang terlibat dalam pekerjaan, pembentukan seksi dan
pasukan khusus, perencanaan gedung, ruang, bengkel tempat kerja sesuai
standar, pemahaman terhadap UU K3; kedisiplinan, ketaatan dan
kepatuhan; kontrol, evaluasi dan pengembangan preplacement;
pemeriksaan priodic; perencanan jangka pendek dan panjang.

4
 Pengawasan Keselamatan Kerja
 Pengawasan secara langsung dilakukan pegawai pengawas dan
ahli keselamatan kerja.
 Pengawasan secara tidak langsung termasuk oleh manajemen
puncak yang hanya melakukan audit terhadap usaha perbaikan dari
hasil pelaporan pegawai pengawas dan ahli keselamatan kerja.

 Peraturan dan Perundangan K3


 Undang-undang nomor 23 tahun 1992 tentang Kesehatan.
Undang- Undang ini menyatakan bahwa secara khusus
perusahaan berkewajiban memeriksakan kesehatan badan, kondisi
mental dan kemampuan fisik pekerja yang baru maupun yang akan
dipindahkan ke tempat kerja baru, sesuai dengan sifat-sifat
pekerjaan yang diberikan kepada pekerja, serta pemeriksaan
kesehatan secara berkala. Sebaliknya para pekerja juga
berkewajiban memakai alat pelindung diri (APD) dengan tepat dan
benar serta mematuhi semua syarat keselamatan dan kesehatan kerja
yang diwajibkan. Undang-undang nomor 23 tahun 1992, pasal 23
Tentang Kesehatan Kerja juga menekankan pentingnya kesehatan
kerja agar setiap pekerja dapat bekerja secara sehat tanpa
membahayakan diri sendiri dan masyarakat sekelilingnya hingga
diperoleh produktifitas kerja yang optimal. Karena itu, kesehatan
kerja meliputi pelayanan kesehatan kerja, pencegahan penyakit
akibat kerja dan syarat kesehatan kerja.

 Undang-undang No. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan


Undang-Undang ini mengatur mengenai segala hal yang
berhubungan dengan ketenagakerjaan mulai dari upah kerja, jam
kerja, hak maternal, cuti sampai dengan keselamatan dan kesehatan
kerja.
Sebagai penjabaran dan kelengkapan Undang-undang
tersebut, Pemerintah juga mengeluarkan Peraturan Pemerintah (PP)

5
dan Keputusan Presiden terkait penyelenggaraan Keselamatan dan
Kesehatan Kerja (K3), diantaranya adalah :
1. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 11 Tahun
1979 tentang Keselamatan Kerja Pada Pemurnian dan
Pengolahan Minyak dan Gas Bumi.
2. Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1973 tentang
Pengawasan Atas Peredaran, Penyimpanan dan Penggunaan
Pestisida.
3. Peraturan Pemerintah Nomor 13 Tahun 1973 tentang
Pengaturan dan Pengawasan Keselamatan Kerja di Bidang
Pertambangan.
4. Keputusan Presiden Nomor 22 Tahun 1993 tentang Penyakit
Yang Timbul Akibat Hubungan Kerja.

6
2.2 RUANG LINGKUP K3 DALAM KEPERAWATAN
Keselamatan dan Kesehatan Kerja Untuk Perawat di Rumah Sakit;
Dalam dunia kesehatan, tentunya petugas kesehatan menjaga dan
meningkatkan kesehatan klien namun juga menjaga dan meningkatkan
kesehatan dan terlebih keselamatan kerja dari petugas kesehatan tersebut
(dalam hal ini perawat). Menurut Occupational Safety and Health
Administration (OSHA, 2004) yang merupakan agen federal dalam bidang
kesehatan mengatakan misinya untuk merancang dan menjamin
keselamatan dan kesehatan kerja dari pekerja dengan menegakan sesuai
standard, memberi pelatihan, penyuluhan, dan pendidikan ; dan mendirikan
kemitraan dan mendorong terus menerus peningkatan keselamatan dan
kesehatan kerja.
Perawat telah menyatakan keprihatinan mengenai keamanan di
lingkungan kerja selama bertahun-tahun. Sebagai perawat atau karyawan,
berhak memperoleh lingkungan kerja yang aman. Beberapa rumah sakit
mungkin memperkerjakan perawat untuk memeriksa keamanan lingkungan
dan memgunakan praktik kerja untuk menigkatkan keselamatan kerja.
Ada beberapa hal tentang keselamatan kerja perawat di rumah sakit :
A. Nurse Staffing Levels
Penyetaraan kerja dalam bagian kesehatan, khususnya ruang
lingkup k3 dalam keperawatan di rumah sakit telah menjadi perhatian
yang menonjol. Pembagian tenaga kerja atau staff yg tidak memadai
menyebabkan terjadinya kelelahan pada perawat yang menyebabkan
cenderung terjadi keselaahan yang dapat membahayakan pasien
ataupun perawat tersebut. American Nurse Association (ANA) telah
melakukan kampanye besar-besaran bertema “Staffing Saves Lives”
hal tersebut memberi gambaran kalau penyetaraan tenaga kerja sangat
besar hubungannya dengan Kesehatan dan Keselamatan kerja untuk
perawat.

7
B. Infection as an Occupational Hazard
Penularan infeksi yaitu perhatian utama ketika perawat merawat
pasien infeksi. Dengan adanya infeksi maka penaganan dan perlu
perahtian ekstra dari petugas kesehatan untuk menangani pasien ini.
Biasanya, disetiap rumah sakit memiliki petugas kesehatan khusus yang
menangani permasalahan infeksi ini. Kewaspadaan universal telah
diamanatkan oleh Keselamatan dan Kesehatan Kerja Administration
(OSHA) kalau harus melindungi perawat dari pathogen darah. Karena
darah dapat menularkan penyakit HIV, Hepatitis B dan lainnya yang
dapat menyebar melalui darah. Salah satu tindakan utama dalam
menjaga agar tidak tejadi infeksi maka harus ada pengaturan khusus
tentang limbah jarum bekas, selain itu RS harus menyediakan sarung
tangan (glove) atau kaca mata pelindung dalam melakukan kontak
denganpasien infeksi. American Nurse Association (ANA) telah aktif
dalam advokasi tempat kerja berkaitan dengan luka jarum suntik dan
mensupport melaui situs website ditujukan untuk tema ini.
Selain jarum suntik, RS harus menyediakan masker untuk para
pekerja atau staff dalam rangka mencegah dan pengendalian
penyebaran infeksi pernapasan, contoh kasus TB. Selain itu, jangan
lupa tangan adalah media penyebaran mikroorganisme yang seringkali
digunakan maka dari itu rajinlah membersihkan tangan sebelum dan
sesudah melakukan tindakan.

C. Hazardous Chemical Agents


Bicara tentang zat kimia beresiko yang ada di rumah sakit maka
perlu juga perhatian khusunya untuk perawat anastesi atau para perawat
fisiotherapy. Contohnya gas anastesi bisa membuat malformasi janin
yang membuat bisa keguguran spontan pada wanita hamil yang terpapar
secara terus menerus. Diperlukan protocol khusus dalam pengolahan
penggunaan ataupun pemrosesan limbah zat beracun ini. RS
bertanggungjawab dalam menyediakan perlengkapan yang di butuhkan
untuk menjaga keselamatan perawat dalam memakai beberapa zat ini.

8
D. Ergonomic Hazards in the Workplace
Ergonomic dalam bahasa inggris “Ergonomics is the science of
fitting a task to one’s physical characteristics in order to enhance
safety, efficiency, and well-being”, jadi hal tersebut berhubungan
dengan efisiensi keamanan dan kesehjateraan atau seseorang itu merasa
nyaman dalam melakukan suatu pekerjaan. Sering dalam dunia
keperawatan terutama dalam sistem perpindahan pasien, perawat sering
salah dalam prosedur mengangkat pasien ataupun mengangkat benda
yang jatuh di lantai. Perawat sering membungkukan tubuhnya daripada
duduk jongkok untuk mengambil benda yang jatuh. Hal tersebut
mungkin menimbulkan permasalahan pada tulang belakang ; penyakit
LBP (Lower back pain) atau juaga menurut NIOSH (2009)
musculoskeletal disorders (MSD). Jadi pola kebiasaan yang buruk dari
perawat dapat mengganggu kesehatan dan keselamatan kerja dari
perawat tersebut.

E. Violence in the Workplace


Biasanya mahasiswa keperawatan menganggap rumah sakit jadi
tempat dimana korban kekerasan dibantu. Jarang mereka menganggap
diri mereka jadi calon korban kekerasan ditempat kerja mereka sendiri.
Belakangan ini banyak terjadi serangan pada perawat dan petugas
kesehatan lainnya dilayanan kesehatan dan sosial. Sebagian besar
kekerasan ditempat kerja terjadi dibagian Kesehatan Kejiwaan dan
Gawat Darurat. Bisanya pengunjung dari luar yang mengakibatkan
kekerasan dalam kerja di Ruang Darurat. Untuk kejiwaan sendiri kita
semua sendiri tahu bersama bila di kejiwaan terdapat jenis dari
kejiwaan ini, biasanya pasien dengan perilaku kekerasan yang biasanya
mengakibatkan kekerasan di lingkungan kerja. OSHA sudah membuat
dasar untuk membangun sarana dan lingkungan kerja yang aman. Hal
tersebut dilakukan dengan memberi pelatihan dan pengelolaan dalam
kekerasan. Selain itu bisa pula melalui pengguanaan detector logam,

9
tombol panik, dan kaca anti peluru, sesuai dengan keperluan dari RS.
Selain itu instansi kesehatn haru bekerja sama dengan penegak hokum
agar dengan cepat dan mudah memberikan laporan isiden perilaku
kekerasan di RS.

2.2.1 Sistem Manajemen K3-RS


Sistem manajemen K3-RS adalah bagian dari sistem
manajemen RS keseluruhannya yang mencakup susunan organisasi,
rencana, tanggung jawab, proses, prosedur, sistem, dan sumber daya
yang diperlukan untuk pengembangan, aplikasi, pencapaian, dan
pemeliharaan kebijakan kesehatan dan keselamatan kerja dalam
rencana ingindalian kemungkinan yang terkait dengan aktivitas
kerja manfaat terwujudnya tempat kerja yang sehat, aman, efektif,
dan produktif.
Adapun Step mengaplikasi K3-RS adalah :
 Step persiapan
Prinsip manajemen : kebijakan, penyediaan dana, fasilitas dan
prasarana untuk mensupport aktivitas K3 RS, membuat Unit
Organisasi K3 di RS yang terlihat dalam susunan organisasi RS

Susunan/Organisasi K3-RS
Susunan Unit K3-RS terbagi dalam :
 Bagian I : Bagian pengamanan perlengkapan medik,
pengamanan radiasi dan limbah radioaktif
 Bagian II : Bagian pengamanan perlengkapan nonmedik,
pengamanan dan keselamatan bangunan
 Bagian III : Bagian pengembangan sanitasi fasilitas
kesehatan
 Bagian IV : Bagian service kesehatan kerja dan mencegah
penyakit akibat kerja
 Bagian V : Bagian mencegah dan penanggulangan bencana

10
 Step pelaksanaan
Program K3-RS
1. Proses kesehatan kerja untuk karyawanb (prakerja, berkala,
khusus)
2. Usaha pengamanan pasien, pengunjung dan petugas
3. Penambahan kesehatan lingkungan
4. Sanitasi lingkungan RS
5. Pengelolaan dan pemrosesan limbah padat, cair, gas
6. Mencegah dan penanggulangan bencana (Disaster program)
7. Pengelolaan layanan, bahan dan barang berbahaya
8. Pendidikan dan kursus K3
9. Sertifikasi dan kalibrasi fasilitas, prasarana, dan
perlengkapan RS
10. Pengumpulan, pemrosesan dan pelaporan K3

 Step Pemantauan dan evluasi


1. Inspeksi dan audit program K3
2. Perbaikan dan pengendalian K3 yang didasarkan berdasar
hasil temuan dari audit dan inspeksi
3. Referensi dan tindak lanjut hasil pelajari program K3

2.2.2 Tujuan SM-K3RS


Membuat suatu system kesehatan dan keselamatan kerja
dirumah sakit dengan melibatkan unsur manajemen, karyawan,
keadaan dan lingkungan kerja yang terintegrasi dalam rencana
menghindar dan kurangi kecelakaan dan penyakit akibat kerja.

2.2.3 Ruang lingkup K3 di Rumah Sakit


1. Fasilitas higene yang memonitor dampak lingkungan kerja
pada tenaga kerja diantaranya pencahayaan, bising, suhu/iklim
kerja.

11
2. Fasilitas Keselamatan kerja yang mencakup pengamanan pada
perlengkapan kerja, penggunaan alat pelindung diri dan
sinyal/rambu-rambu peringatan dan alat pemadam kebakaran.
3. Fasilitas Kesehatan Kerja yang mencakup kontrol awal,
berkala dan khusus, gizi kerja, kebersihan diri dan lingkungan.
4. Ergonomi yakni kesehatan pada alat kerja dengan tenaga kerja

a. Sumber Stres Di Tempat tinggal Sakit


 Beban kerja terlalu berat
 Perseteruan dan ketidakjelasan peran
 Kurang supervisi dan pengarahan
 Bekerja di daerah yang asing
 Nada gaduh
 Kurang bertindak - kenikmatan kerja rendah
 Kurang penghargaan
 Kerja bergilir
 Pajanan terhadapa toksikan, pasien infeksius
 Ketidakpastian (politik, kerja kontrak)

b. Kondisi Darurat di RS
Kondisi darurat yaitu setiap peristiwa yang bisa
menyebabkan masalah pada kelancaran operasi/aktivitas di
lingkungan RS Macamnya :
 Kebakaran
 Kecelakaan, contoh : terpeleset dan tertusuk benda tajam
 Masalah tenaga, contoh : masalah listrik, air, dll
 Gangguan keamanan, contoh : huru-hara, demonstrasi,
pencurian
 Bencana alam, contoh : gempa bumi, angin topan, banjir,
dll
 Kondisi darurat di ruangan, ruang bedah, ICCU contoh :
tidak berhasil jantung, tidak berhasil napas.

12
BAB III
PENUTUP

3.1 KESIMPULAN
Keselamatan dan Kesehatan Kerja Untuk Perawat di Rumah Sakit;
Dalam dunia kesehatan, tentunya petugas kesehatan menjaga dan
meningkatkan kesehatan klien namun juga menjaga dan meningkatkan
kesehatan dan terlebih keselamatan kerja dari petugas kesehatan tersebut
(dalam hal ini perawat).
Keselamatan pasien merupakan pencegahan cidera terhadap pasien.
Pencegahan cidera didefinisikan sebagai bebas dari bahaya yang terjadi
dengan tidak sengaja atau dapat dicegah sebagai hasil perawatan medis.
Sedangkan praktek keselamatan pasien diartikan sebagai menurunkan risiko
kejadian yang tidak diinginkan yang berhubungan dengan paparan terhadap
lingkup diagnosis atau kondisi perawatan medis. Ada beberapa hal tentang
keselamatan kerja perawat di rumah sakit yaitu Nurse Staffing Levels,
Infection as an Occupational Hazard, Hazardous Chemical Agents,
Ergonomic Hazards in the Workplace, Violence in the Workplace.

3.2 SARAN
Adapun saran yang ingin penulis sampaikan adalah keinginan
penulis atas partisipasi para pembaca, agar kiranya mau memberikan kritik
dan saran yang sehat dan bersifat membangun demi kemajuan penulisan
makalah ini. Dengan adanya kritik dan saran dari pembaca, penulis bisa
mengkoreksi diri agar lebih baik lagi dan dapat memberikan manfaat yang
lebih bagi kita semua. Perawat diharapkan lebih meningkatkan pengetahuan
tentang konsep.

13
DAFTAR PUSTAKA

Staff, Safetynet. Keselamatan dan Kesehatan Kerja untuk Perawat di


Rumah sakit.
(online) https://safetynet.asia/keselamatan-dan-kesehatan-kerja-
untuk-perawat/

Putri, Syifa.2017. Peranan K3 dalam Keperawatan di Rumah sakit.


(online) https://sumbermaju.weebly.com/home/peranan-k3-
kesehatan-dan-keselamatan-kerja-di-rumah-sakit

Anggeria, Elis.2017. Ruang Lingkup dan Kebijakan K3 dalam


Keperawatan
(online) https://www.scribd.com/presentation/362816417/3-Ruang-
Lingkup-Dan-Kebijakan-k3-Dalam-Keperawatan

14

Anda mungkin juga menyukai