Anda di halaman 1dari 14

RMK SAP 7 MANAJEMEN KOPERASI DAN UMKM

KEPEMIMPINAN DAN PENGAMBILAN KEPUTUSAN DALAM KOPERASI DAN


UMKM

Oleh:

Kelompok 8

1. Ni Made Ambar Diantari 1607532015 / 13


2. Ni Wayan Yantiari 1607532029 / 26
3. Kadek Gita Amdika Putri 1607532038 / 31

PROGRAM STUDI AKUNTANSI


FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS UDAYANA
2018/2019
I Konsep dan Teori Kepemimpinan
Konsep Kepemimpinan
Kepemimpinan berasal dari kata pimpin yang memuat dua hal pokok yaitu: pemimpin
sebagai subjek dan yang dipimpin sebagai objek. Kata pimpin mengandung pengertian
mengarahkan, membina atau mengatur, menuntun dan juga menunjukkan ataupun
mempengaruhi. Pemimpin mempunyai tanggung jawab baik secara fisik maupun spiritual
terhadap keberhasilan aktivitas kerja dari yang dipimpin, sehingga menjadi pemimpin itu tidak
mudah dan tidak akan setiap orang mempunyai kesamaan di dalam menjalankan ke-
pemimpinannya.
Kepemimpinan hanya dapat dilaksanakan oleh seorang pemimpin. Seorang pemimpin
adalah seseorang yang mempunyai keahlian memimpin, mempunyai kemampuan
mempengaruhi pendirian/pendapat orang atau sekelompok orang tanpa menanyakan alasan-
alasannya. Seorang pemimpin adalah seseorang yang aktif membuat rencana-rencana,
mengkoordinasi, melakukan percobaan dan memimpin pekerjaan untuk mencapai tujuan
bersama-sama. Namun ada beberapa pengertian kepemimpinan, antara lain:
 Kepemimpinan adalah pengaruh antar pribadi, dalam situasi tertentu dan langsung
melalui proses komunikasi untuk mencapai satu atau beberapa tujuan tertentu
(Tannebaum, Weschler and Nassarik, 1961, 24).
 Kepemimpinan adalah sikap pribadi, yang memimpin pelaksanaan aktivitas untuk
mencapai tujuan yang diinginkan. (Shared Goal, Hemhiel & Coons, 1957, 7).
Kepemimpinan adalah suatu proses yang mempengaruhi aktifitas kelompok yang diatur
untuk mencapai tujuan bersama (Rauch & Behling, 1984, 46).
 Kepemimpinan adalah kemampuan seni atau tehnik untuk membuat sebuah kelompok
atau orang mengikuti dan menaati segala keinginannya.
 Kepemimpinan adalah suatu proses yang memberi arti (penuh arti kepemimpinan) pada
kerjasama dan dihasilkan dengan kemauan untuk memimpin dalam mencapai tujuan
(Jacobs & Jacques, 1990, 281).
Teori Kepemimpinan
Kegiatan manusia secara bersama-sama selalu membutuhkan kepemimpinan. Untuk
berbagai usaha dan kegiatannya diperlukan upaya yang terencana dan sistematis dalam melatih
dan mempersiapkan pemimpin baru. Oleh karena itu, banyak studi dan penelitian dilakukan
orang untuk mempelajari masalah pemimpin dan kepemimpinan yang menghasilkan berbagai
teori tentang kepemimpinan. Teori kepemimpinan merupakan penggeneralisasian suatu seri
perilaku pemimpin dan konsep-konsep kepemimpinannya, dengan menonjolkan latar belakang
historis, sebab-sebab timbulnya kepemimpinan, persyaratan pemimpin, sifat utama pemimpin,
tugas pokok dan fungsinya serta etika profesi kepemimpinan (Kartini Kartono, 1994: 27).
Teori kepemimpinan pada umumnya berusaha untuk memberikan penjelasan dan
interpretasi mengenai pemimpin dan kepemimpinan dengan mengemukakan beberapa segi
antara lain : Latar belakang sejarah pemimpin dan kepemimpinan Kepemimpinan muncul
sejalan dengan peradaban manusia. Pemimpin dan kepemimpinan selalu diperlukan dalam
setiap masa. Sebab-sebab munculnya pemimpin Ada beberapa sebab seseorang menjadi
pemimpin, antara lain:
a Seseorang ditakdirkan lahir untuk menjadi pemimpin. Seseorang menjadi pemimpin
melalui usaha penyiapan dan pendidikan serta didorong oleh kemauan sendiri.
b Seseorang menjadi pemimpin bila sejak lahir ia memiliki bakat kepemimpinan
kemudian dikembangkan melalui pendidikan dan pengalaman serta sesuai dengan
tuntutan lingkungan. Untuk mengenai persyaratan kepemimpinan selalu dikaitkan
dengan kekuasaan, kewibawaan, dan kemampuan.
Teori-teori dalam Kepemimpinan
 Teori Sifat
Teori ini bertolak dari dasar pemikiran bahwa keberhasilan seorang pemimpin
ditentukan oleh sifat-sifat, perangai atau ciri-ciri yang dimiliki pemimpin itu. Atas dasar
pemikiran tersebut timbul anggapan bahwa untuk menjadi seorang pemimpin yang
berhasil, sangat ditentukan oleh kemampuan pribadi pemimpin. Dan kemampuan
pribadi yang dimaksud adalah kualitas seseorang dengan berbagai sifat, perangai atau
ciri-ciri di dalamnya.
Ciri-ciri ideal yang perlu dimiliki pemimpin menurut Sondang P Siagian (1994:75-76)
adalah: – pengetahuan umum yang luas, daya ingat yang kuat, rasionalitas, obyektivitas,
pragmatisme, fleksibilitas, adaptabilitas, orientasi masa depan; – sifat inkuisitif, rasa
tepat waktu, rasa kohesi yang tinggi, naluri relevansi, keteladanan, ketegasan,
keberanian, sikap yang antisipatif, kesediaan menjadi pendengar yang baik, kapasitas
integratif; – kemampuan untuk bertumbuh dan berkembang, analitik, menentukan skala
prioritas, membedakan yang urgen dan yang penting, keterampilan mendidik, dan
berkomunikasi secara efektif. Walaupun teori sifat memiliki berbagai kelemahan
(antara lain : terlalu bersifat deskriptif, tidak selalu ada relevansi antara sifat yang
dianggap unggul dengan efektivitas kepemimpinan) dan dianggap sebagai teori yang
sudah kuno, namun apabila kita renungkan nilai-nilai moral dan akhlak yang
terkandung didalamnya mengenai berbagai rumusan sifat, ciri atau perangai pemimpin;
justru sangat diperlukan oleh kepemimpinan yang menerapkan prinsip keteladanan.
 Teori Perilaku
Dasar pemikiran teori ini adalah kepemimpinan merupakan perilaku seorang individu
ketika melakukan kegiatan pengarahan suatu kelompok ke arah pencapaian tujuan.
Dalam hal ini, pemimpin mempunyai deskripsi perilaku:
Perilaku seorang pemimpin yang cenderung mementingkan bawahan memiliki
ciri ramah tamah,mau berkonsultasi, mendukung, membela, mendengarkan,
menerima usul dan memikirkan kesejahteraan bawahan serta
memperlakukannya setingkat dirinya. Di samping itu terdapat pula
kecenderungan perilaku pemimpin yang lebih mementingkan tugas organisasi.
Berorientasi kepada bawahan dan produksi perilaku pemimpin yang
berorientasi kepada bawahan ditandai oleh penekanan pada hubungan atasan-
bawahan, perhatian pribadi pemimpin pada pemuasan kebutuhan bawahan serta
menerima perbedaan kepribadian, kemampuan dan perilaku bawahan.
Sedangkan perilaku pemimpin yang berorientasi pada produksi memiliki
kecenderungan penekanan pada segi teknis pekerjaan, pengutamaan
penyelenggaraan dan penyelesaian tugas serta pencapaian tujuan. Pada sisi lain,
perilaku pemimpin menurut model leadership continuum pada dasarnya ada dua
yaitu berorientasi kepada pemimpin dan bawahan. Sedangkan berdasarkan
model grafik kepemimpinan, perilaku setiap pemimpin dapat diukur melalui dua
dimensi yaitu perhatiannya terhadap hasil/tugas dan terhadap
bawahan/hubungan kerja. Kecenderungan perilaku pemimpin pada hakikatnya
tidak dapat dilepaskan dari masalah fungsi dan gaya kepemimpinan
(JAF.Stoner, 1978:442-443)
 Teori Situasional
Keberhasilan seorang pemimpin menurut teori situasional ditentukan oleh ciri
kepemimpinan dengan perilaku tertentu yang disesuaikan dengan tuntutan situasi
kepemimpinan dan situasi organisasional yang dihadapi dengan memperhitungkan
faktor waktu dan ruang. Faktor situasional yang berpengaruh terhadap gaya
kepemimpinan tertentu menurut Sondang P. Siagian (1994:129) adalah:
 Jenis pekerjaan dan kompleksitas tugas;
 Bentuk dan sifat teknologi yang digunakan;
 Persepsi, sikap dan gaya kepemimpinan;
 Norma yang dianut kelompok;
 Rentang kendali;
 Ancaman dari luar organisasi;
 Tingkat stress;
 Iklim yang terdapat dalam organisasi.
Efektivitas kepemimpinan seseorang ditentukan oleh kemampuan “membaca” situasi
yang dihadapi dan menyesuaikan gaya kepemimpinannya agar cocok dengan dan
mampu memenuhi tuntutan situasi tersebut. Penyesuaian gaya kepemimpinan
dimaksud adalah kemampuan menentukan ciri kepemimpinan dan perilaku tertentu
karena tuntutan situasi tertentu. Sehubungan dengan hal tersebut berkembanglah
model-model kepemimpinan berikut:
a Model kontinuum Otokratik-Demokratik. Gaya dan perilaku kepemimpinan
tertentu selain berhubungan dengan situasi dan kondisi yang dihadapi, juga
berkaitan dengan fungsi kepemimpinan tertentu yang harus diselenggarakan.
Contoh: dalam hal pengambilan keputusan, pemimpin bergaya otokratik akan
mengambil keputusan sendiri, ciri kepemimpinan yang menonjol ketegasan
disertai perilaku yang berorientasi pada penyelesaian tugas.Sedangkan
pemimpin bergaya demokratik akan mengajak bawahannya untuk
berpartisipasi. Ciri kepemimpinan yang menonjol di sini adalah menjadi
pendengar yang baik disertai perilaku memberikan perhatian pada kepentingan
dan kebutuhan bawahan.
b Model ” Interaksi Atasan-Bawahan”. Menurut model ini, efektivitas
kepemimpinan seseorang tergantung pada interaksi yang terjadi antara
pemimpin dan bawahannya dan sejauhmana interaksi tersebut mempengaruhi
perilaku pemimpin yang bersangkutan. Seorang akan menjadi pemimpin yang
efektif, apabila: * Hubungan atasan dan bawahan dikategorikan baik; * Tugas
yang harus dikerjakan bawahan disusun pada tingkat struktur yang tinggi; *
Posisi kewenangan pemimpin tergolong kuat.
c Model Situasional. Model ini menekankan bahwa efektivitas kepemimpinan
seseorang tergantung pada pemilihan gaya kepemimpinan yang tepat untuk
menghadapi situasi tertentu dan tingkat kematangan jiwa bawahan. Dimensi
kepemimpinan yang digunakan dalam model ini adalah perilaku pemimpin yang
berkaitan dengan tugas kepemimpinannya dan hubungan atasan-bawahan.
Berdasarkan dimensi tersebut, gaya kepemimpinan yang dapat digunakan
adalah Memberitahukan; Menjual; Mengajak bawahan berperan serta;
Melakukan pendelegasian.
d Model ” Jalan- Tujuan ”. Seorang pemimpin yang efektif menurut model ini
adalah pemimpin yang mampu menunjukkan jalan yang dapat ditempuh
bawahan. Salah satu mekanisme untuk mewujudkan hal tersebut yaitu kejelasan
tugas yang harus dilakukan bawahan dan perhatian pemimpin kepada
kepentingan dan kebutuhan bawahannya. Perilaku pemimpin berkaitan dengan
hal tersebut harus merupakan faktor motivasional bagi bawahannya.
e Model “Pimpinan-Peran serta Bawahan” : Perhatian utama model ini adalah
perilaku pemimpin dikaitkan dengan proses pengambilan keputusan. Perilaku
pemimpin perlu disesuaikan dengan struktur tugas yang harus diselesaikan oleh
bawahannya. Salah satu syarat penting untuk paradigma tersebut adalah adanya
serangkaian ketentuan yang harus ditaati oleh bawahan dalam menentukan
bentuk dan tingkat peran serta bawahan dalam pengambilan keputusan. Bentuk
dan tingkat peran serta bawahan tersebut “didiktekan” oleh situasi yang
dihadapi dan masalah yang ingin dipecahkan melalui proses pengambilan
keputusan.
II Tipe dan gaya Kepemimpinan
Gaya artinya sikap, gerakan, tingkah laku, sikap yang elok, gerak-gerik yang bagus,
kekuatan, kesanggupan untuk berbuat baik. Sedangkan gaya kepemimpinan adalah
sekumpulan ciri yang digunakan pimpinan untuk mempengaruhi bawahan agar sasaran
organisasi tercapai. Dalam pengertian lain gaya kepemimpinan adalah pola prilaku dan strategi
yang sering disukai dan sering diterapkan oleh seorang pemimpin.
Gaya kepemimpinan yang menunjukkan, secara langsung dan tidak langsung, tentang
keyakinan seorang pemimpin terhadap kemampuan bawahannya. Artinya, gaya kepemimpinan
adalah prilaku dan strategi, sebagai hasil kombinasi dari falsafah, keterampilan, sifat, sikap,
yang sering diterapkan seorang pemimpin ketika ia mencoba mempengaruhi kinerja
bawahannya.
Terdapat beberapa gaya kepemimpinan atau sering juga disebut dengan tipe kepemimpinan
yaitu:
 Tipe Kepemimpinan Karismatik
Dalam kepemimpinan karismatik memiliki energi, daya tarik dan wibawa yang luar
biasa untuk mempengaruhi orang lain, sehingga ia mempunyai pengikut yang sangat besar
jumlahnya dan pengawal-pengawal yang bisa dipercaya. Sampai sekarang pun orang tidak
mengetahui benar sebab-sebabnya mengapa seseorang itu memiliki karisma besar. Dia
dianggap mempunyai kekuatan ghaib(supernatural power) dan kemampuan-kemampuan
yang superhuman, yang diperolehnya sebagai karunia Yang Maha Kuasa. Dia banyak memiliki
inspirasi, keberanian, dan berkeyakinan teguh pada pendirian sendiri. Totalitas kepribadian
pemimpin itu memancarkan pengaruh dan daya tarik yang teramat besar. Tokoh-tokoh besar
semacam ini antara lain: Jengis Khan, Hitler, Gandhi, John F. Kennedy, Soekarno, Margaret
Tacher, dan Gorbachev.
 Tipe Paternalistis
Yaitu tipe kepemimpinan kebapakan, dengan sifat-sifat antara lain sebagai berikut:
a Menganggap bawahannya sebagai manusia yang tidak/belum dewasa, atau anak-anak
sendiri yang perlu dikembangkan.
b Bersikap terlalu melindungi (overly protective).
c Jarang memberikan kesempatan kepada bawahan untuk mengambil keputusan sendiri.
d Hampir-hampir tidak pernah memberikan kesempatan kepada bawahan untuk
berinisiatif.
e Tidak memberikan atau hampir-hampir tidak pernah memberikan kesempatan kepada
pengikut dan bawahan untuk mengembangkan imajinasi dan daya kreativitas mereka
sendiri.
f Selalu bersikap maha-tahu dan maha benar.
 Tipe Militeristis
Tipe ini bersifat kemiliteran, namun hanya gaya luaran saja yang mencontoh militer.
Tetapi jika dilihat lebih seksama, tipe ini mirip sekali dengan tipe kepemimpinan otoriter. Tipe
kepemimpinan ini berbeda sekali dengan kepemimpinan organisasi militer. Sifat-sifat
pemimpin yang militeristis antara lain ialah:
a Lebih banyak menggunakan sistem perintah/komando, terhadap bawahannya sangat
keras, otoriter, kaku, dan seringkali kurang bijaksana.
b Menghendaki kepatuhan mutlak dari bawahan.
c Sangat menyenangi formalitas, upacara-upacara ritual dan tanda-tanda kebesaran
berlebihan.
d Tidak menghendaki saran, usulan, sugesti, dan kritikan-kritikan dari bawahannya.
e Komunikasi hanya berlangsung searah.
 Tipe Otokratis
Kepemimpinan ini mendasarkan diri pada kekuasaan dan paksaan yang mutlak dan
harus dipenuhi. Pemimpin selalu mau berperan sebagai pemain tunggal. Pada a one man show,
dia sangat berambisi untuk merajai situasi. Setiap perintah dan kebijakan ditetapkan tanpa
berkonsultasi dengan bawahannya. Anak buah tidak pernah diberi informasi mendetail
mengenai rencana dan tindakan yang harus dilakukan. Semua pujian dan kritik terhadap
segenap anak buah diberikan atas pertimbangan pribadi pemimpin sendiri.
 Tipe Laissez Faire
Pada tipe kepemimpinan laissez faire ini sang pemimpin praktis tidak memimpin, dia
membiarkan kelompoknya dan setiap orang berbuat semau sendiri. Pemimpin tidak
berpartisipasi sedikit pun dalam kegiatan kelompoknya. Semua pekerjaan dan tanggung jawab
harus dilakukan oleh bawahan sendiri. Dia merupakan pemimpin simbol, dan biasanya tidak
memiliki keterampilan teknis sebab duduknya sebagai direktur atau pemimpin ketua dewan,
komandan, atau kepala biasanya diperoleh melalui penyogokan, suapan atau sistem nepotisme.
 Tipe Populistis
Profesor Peter Worsley dalam bukunya the third world mendefiniskan kepemimpinan
populistis sebagai kepemimpinan yang dapat membangunkan solidaritas rakyat misalnya
Soekarno dengan ideologi marhaenismenya, yang menekankan masalah kesatuan nasional,
nasionalisme, dan sikap yang berhati-hati terhadap kolonialisme dan penindasan-penindasan
serta penguasaan oleh kekuatan-kekuatan asing (luar negeri). Kepemimpinan populistis ini
berpegang teguh kepada nilai-nilai masyarakat tradisional. Juga kurang mempercayai
dukungan kekuatan serta bantuan hutang-hutang luar negeri (asing). Kepemimpinan jenis ini
mengutamakan penghidupan (kembali) nasionalisme. Dan oleh Profesor S.N Einsentadt,
populisme erat dikaitkan dengan modernitas-tradisional.
 Tipe Administratif atau Eksekutif
Kepemimpinan tipe administratif ialah kepemimpinan yang mampu menyelenggarakan
tugas-tugas administrasi secara efektif. Sedangkan para pemimpinnya terdiri dari teknokrat dan
administratur yang mampu menggerakan dinamika modernisasi dan pembangunan. Dengan
demikian, dapat dibangun sistem administrasi dan birokrasi yang efisien untuk memerintah,
yaitu untuk memantapkan integritas bangsa pada khususnya, dan usaha pembangunan pada
umumnya. Dengan kepemimpinan administratif ini diharapkan adanya perkembangan teknis,
yaitu teknologi, industri, manajemen modern dan perkembangan sosial di tengah masyarakat.
 Tipe Demokratis
Kepemimpinan demokratis berorientasi pada manusia, dan memberikan bimbingan
yang efisien kepada para pengikutnya. Terdapat koordinasi pekerjaan pada semua bawahan,
dengan penekanan pada rasa tanggung jawab internal (pada diri sendiri) dan kerja sama yang
baik. Kekuatan kepemimpinan demokratis ini bukan terletak pada “person atau individu
pemimpin”, tetapi kekuatan justru terletak pada partisipasi aktif dari setiap kelompok.
Kepemimpinan demokratis menghargai potensi setiap individu dan mendengarkan nasihat dan
sugesti bawahan. Juga bersedia mengakui keahlian para spesialis dengan bidangnya masing-
masing, mampu memanfaatkan kapasitas setiap anggota seefektif mungkin pada saat-saat dan
kondisi yang tepat. Kepemimpinan demokratis sering disebut sebagai kepemimpinan group
developer.
Selanjutnya, setiap pemimpin mempunyai sifat, kebiasaan, tempramen, watak,
kepribadian sendiri yang unik dan khas, sehingga tingkah laku dan gayanya-lah yang
membedakan dirinya dengan orang lain. Gaya atau style hidupnya ini pasti akan mewarnai
prilaku kepemimpinannya.
Berbeda dengan pembagian gaya kepemimpinan di atas, Sudarwan Danim membagi
tipe/gaya kepemimpinan, yaitu:
 Pemimpin otokratik yaitu prilaku atau sikap yang ditampilkan pemimpin ingin menang
sendiri dimana ia berasumsi bahwa maju mundurnya organisasi hanya tergantung pada
dirinya, di samping mempunyai sikap tertutup terhadap ide dari luar, dan menganggap
idenya yang dianggap akurat.
 Pemimpin demokratis yaitu pemimpin yang mempunyai sikap/prilaku keterbukaan dan
berkeinginan memosisikan pekerjaan dari, oleh, dan untuk bersama. Tipe ini bertolak
dari asumsi bahwa hanya dengan kekuatan kelompok, tujuan yang bermutu dapat
dicapai oleh organisasi.
 Kepemimpinan permisif, yaitu sikap pemimpin yang tidak mempunyai pendirian kuat,
dimana sikapnya serba membolehkan, serba mengiyakan, tidak ambil pusing, tidak
bersikap dalam makna sesungguhnya, dan cenderung apatis.
 Kepemimpinan transformasional, yaitu setiap tindakan yang dilakukan oleh individu
atau kelompok untuk mengkoordinasi dan memberi arah kepada individu atau
kelompok lain yang tergabung dalam wadah tertentu untuk mencapai tujuan-tujuan
yang telah ditetapkan.
Sementara itu, Lukman Saksono membagi tipe kepemimpinan ke dalam beberapa tipe:
Kepemimpinan yang memberi arahan, termasuk penentuan tujuan/sasaran, pemecahan
persoalan, pengambilan keputusan, dan perencanaan
Kepemimpinan yang bersifat pengamalan/pelaksanaan, termasuk berkomunikasi,
berkoordinasi, supervisi, dan evaluasi. Di mana ia semua diarahkan untuk mencapai
tujuan.
Kepemimpinan yang memberi motivasi, termasuk menerapkan prinsip motivasi serta
menghargai tingkah laku yang mengarah pada pencapaian tujuan organisasi, termasuk
memberikan pelajaran dan bimbingan.
III Effective Leadership
Keadilan yang efektif adalah keadilan yang mampu menggerakkan orang lain ke dalam
suatu arah yang betul-betul paling diinginkan. Pembahasan efektivitas pada dasarnya
membahas tentang visi dan arah. Efektivitas ada hubungannya dengan memfokuskan energi
organisasi ke suatu arah tertentu. Namun, apabila membahas mengenai efisiensi, maka
pembahasannya adalah sistem dan prosedur - cara pekerjaan dilakukan.
Menurut James L. Gibson et.al.,
"The term effectiveness derives from the term effect and we use the term in the context of
cause-and-effect relationship."
Istilah efektivitas berasal dari pengaruh hubungan dan kita menggunakannya pada konteks
hubungan sebab-akibat.
Maksud dari pemahaman di atas, istilah efektivitas berasal dari adanya pengaruh
hubungan. Pengaruh hubungan yang dimaksud adalah adanya hubungan sebab-akibat. Ada
beberapa faktor yang dapat mempengaruhi hubungan tersebut, misalnya faktor motivasi
seseorang, kemampuan, keterampilan, pengetahuan, sikap, dan tingkat stress yang dapat
menyebabkan efektivitas pada masing-masing individu.
Menurut George B. Northcraft dan Margaret A. Neale,
“Effectiveness is ability of an organization to accomplish an important goal, purpose,
or mission.,J (Efektivitas adalah kemampuan sebuah organisasi untuk mencapai sasaran yang
penting, tujuan, ataupun misi.).
Dengan demikian, maka dengan adanya efektivitas, maka organisasi dapat berusaha
keras menyatukan talenta masing-masing individu di dalam organisasi. Hal tersebut bertujuan
untuk meraih tujuan yang kemungkinan dapat dicapai oleh masing-masing individu dalam
organisasi sesuai dengan sasaran, tujuan, ataupun misi yang ingin dicapai oleh organisasi.
Berbagai pemikiran menegaskan bahwa efektivitas keadilan tidak tercipta dengan
sendirinya, perlu beberapa kondisi yang mengantarkan seorang pemimpin ke arah efektivitas
itu. Hughes dkk menyebutkan ada tiga kondisi yang dapat mewarnai keadilan itu. Yaitu:
pimpinan (leader), bawahan (follower), dan keadaan (situation)
Faktor penting lainnya yang menentukan efektif tidaknya keadilan adalah peran serta
dari anggota organisasi tersebut atau para bawahan dan keadaan. Peran serta menjadi faktor
penting yang menentukan keadilan. Sehebat apapun seorang pemimpin tanpa peran serta
anggotanya tidak akan ada artinya.
Selain itu, situasi/keadaan juga akan menentukan efektif tidaknya seorang pimpinan.
Dalam mengelola Institusi, pimpinan memiliki peran yang sangat besar. Pimpinan merupakan
motor penggerak, penentu arah kebijakan menuju Institusi dan pendidikan secara luas. Sebagai
pengelola institusi satuan pendidikan, pimpinan dituntut untuk selalu meningkatkan efektifitas
kinerjanya. Untuk mencapai mutu Institusi yang efektif, pimpinan dan seluruh stakeholders
harus bahu membahu kerjasama dengan penuh kekompakan dalam segala hal.
Oleh karenanya, modal pimpinan yang utama adalah perlunya pimpinan memiliki
pengetahuan keadilan baik perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan pengawasan
suatu program Institusi dan pendidikan secara luas. Selain itu pimpinan harus menunjukkan
sikap kepedulian, semangat bekerja, disiplin tinggi, keteladanan dan hubungan manusiawi
dalam rangka perwujudan iklim kerja yang sejuk dan kondusif.
Pemimpin yang efektif merupakan orang-orang dengan motivasi tinggi dalam
memimpin dan mengendalikan organisasi, para pemimpin yang efektif dengan sukarela akan
berusaha mencapai sasaran dan target yang tinggi dengan menetapkan standar-standar prestasi
yang tinggi bagi mereka sendiri. Pemimpin efektif mempunyai sifat energik, menykai segala
sesuatu yang sifatnya menantang dan menykai permasalahan-permasalahan sulit dan tidak
terpecahkan yang muncul di lingkungan organisasi. Seorang pemimpin efektif akan berusaha
mengubah keinginan seseorang untuk melakukan sesuatu hal dengan menunjukkan arah yang
harus ditempuh dan membina anggota kelompok kearah penyelesaian hasil pekerjaan
kelompok.
Didalam suatu organisasi terdapat dua pengaruh yang timbul dari hubungan antara
pimpinan dan anggota organisasi, maksudnya terdapat interaksi dan reaksi timbal balik dari
orang-orang yang ada dalam suatu organisasi. Seorang pemimpin mempunyai misi atau tujuan
yang ingin dicapainya, pemimpin akan berusaha menter jemahkan misi tersebut dengan
mendorong para pengikutnya hingga mencapai tingkat prestasi yang cukup memuaskan (misi
organisasi). Efektif jika dikaitakan dengan keadilan (leadership) berkaitan dengan hal-hal apa
yang harus dilakukan (what are the things to be accomplished), sedang efisien dikaitkan dengan
manajemen, yang mengukur bagaimana sesuatu dapat dilakukan dengan sebaik-baiknya (how
can certain things be best accomplished).
Kepeminpinan efektif berkaitan dengan masalah pimpinan dalam meningkatkan
kesempatan untuk mengadakan pertemuan secara efektif dengan para Dosen dalam situasi
kondusif. Perilaku pimpinan harus dapat mendorong kinerja para Dosen dengan menunjukkan
rasa bersahabat, dekat dan penuh pertimbangan terhadap Dosen, baik sebagai individu maupun
sebagai kelompok.
IV Cerita Sukses Kepemimpinan
Eleanor Roosevelt pernah berkata, “seorang pemimpin yang baik menginspirasi
orang-orang untuk memiliki kepercayaan diri dalam diri mereka.”
“Anda bekerja keras untuk mengembangkan produk Anda, Anda berjuang untuk
menyelesaikan masalah finansial di perusahaan Anda, Anda mempromosikan bisnis
Anda, tapi Anda tidak mempertimbangkan masalah kepemimpinan dan bagaimana
mencari staff-staff terbaik.” Kata John Maxwell, penulis buku kepemimpinan handal.

Kisah Mc’Donald
Tahun 1937-an, masyarakat Amerika mulai gandrung dengan mobil, kakak beradik Dik &
Mor berinovasi dengan membuka kedai khusus yang bisa memesan dari mobil. Bisnis meraih
sukses besar. Menu andalan adalah hot-dog, gorengan (french fries), burger, roti sandwich,
coca cola dan aneka salad. Bisnis ini meledak, bahkan antrian semakin panjang hingga keluar
pintu. Inovasi dilakukan yaitu dengan menghapus pesanan dari mobill, fokus pada walk-up
customer, mengurangi daftar menu, fokus pada hamburger. Perubahan menjadi berita di media,
dan mereka mendapatkan iklan gratis. Tahun 1955, usaha mereka stuck, omsetnya tetap, dan
banyak pendatang-pendatang baru yang meniru. Akhirnya usaha itu mengalami kemunduran.
Adalah Ray Kroc yan menuangkan semua konsep yang ada di kedua kepala kakak beradik itu
ke dalam sebuah manual tertulis McDonald‟s system. Manual itu dibeli dan ia pun mendapat
hak untuk memperluas bisnis McDonald‟s dengan konsep franchise! Dalam tempo 4 tahun,
Ray Kroc berhasil membuka 100 cabang Mc Donald‟s tanpa modal sama sekali. Semuanya
dibiayai oleh para franchise.

V Langkah-Langkah dalam Pengambilan Keputusan


Langkah-langkah dalam pengambilan keputusan manajemen
Rumuskan persoalan keputusan. Persoalan (problem) adalah sesuatu yang terjadi tidak
sesuai dengan yang diinginkan/ diharapkan. Kita harus berusaha mencari pemecahan
yang baik bagi suatu persoalan yang tepat (benar) sebab pemecahan yang terbaik bagi
persoalan yang salah tak ada gunanya. Maka dari itu, dalam membuat keputusan untuk
memecahkan persoalan harus bisa menemukan persoalan apa yang perlu dipecahkan/
diselesaikan.
Kumpulkan informasi yang relevan. Memecahkan persoalan berarti suatu keputusan
atau tindakan untuk menghilangkan faktor-faktor yang menyebabkan timbulnya
persoalan tersebut. Perlu dikumpulkan data atau informasi yang relevan artinya faktor-
faktor yang mungkin terjadi penyebab timbulnya persoalan tersebut.
Cari alternatif tindakan. Memutuskan berati memilih salah satu dari beberapa alternatif
tindakan yang tersedia berdasarkan kriteria tertentu. Singkatnya, buatlah alternatif
tindakan yang fisibel sebanyak mungkin.
Analisis alternatif yang fisibel. Setiap alternatif harus dianalisis, harus dievaluasi baik
berdasarkan suatu kriteria tertentu atau prioritas. Hasil analis memudahkan pengambil
keputusan di dalam memilih alternatif yang baik.
Memilih alternatif terbaik. Di dalam pengambilan keputusan, pengambil keputusan
harus memilih salah satu alternatif di antara banyak alternatif. Pemilihan dapat
dilakukan berdasarkan pada kriteria tertentu, kompromi, atau tekanan. Memang harus
diakui ada hasil keputusan yang memuaskan semua pihak tetapi ada juga yang
merugikan pihak lain.
Laksanakan keputusan dan evaluasi hasilnya. Pengambilan keputusan berarti
mengambil tindakan tertentu (taking certain action). Pelaksanaan suatu rencana
tindakan, merupakan tahap akhir dari proses pengambilan keputusan. Perlu dilakukan
evaluasi terhadap pelaksanaan keputusan yang telah diambil. Evaluasi sangat berguna
untuk memperbaiki suatu keputusan untuk mengubah tujuan semula karena terjadi
perubahan.
DAFTAR PUSTAKA

Sumantri, Bambang Agus dan Permana, Erwin Putera.2017.Manajemen Koperasi dan Usaha
Mikro Kecil dan Menengah (UMKM).Kediri:Fakultas Ekonomi Universitas Nusantara PGRI
Kediri.
Eko.2017.Teori Kepemimpinan. https://ekoif.weebly.com/teori-kepemimpinan.html.diakses pada
tanggal 9 Maret 2019
Pleno.2016.Tipe dan Gaya Kepemimpinan. http://plenoinfo.blogspot.com/2016/08/tipe-dan-gaya-
gaya-kepemimpinan-lengkap.html?m=1.diakses pada tanggal 9 Maret 2019
Syaf.2016.Kepemimpinan Efektiv. http://materi-paksyaf.blogspot.com/2016/01/kepemimpinan-
efektif-leadership.html?m=1.diakses pada tanggal 9 Maret 2019
Mega.2018.Langkah-langkah dalam Pengambilan Keputusan Manajemen.
http://megasuryonop.blogspot.com/2012/04/langkah-langkah-dalam
pengambilan.html?m=1.diakses pada tanggal 9 Maret 2019