Anda di halaman 1dari 39

MAKALAH

EVALUATION DALAM PROGRAM PLANNING FOR HEALTH


EDUCATION AND PROMOTION

Disusun untuk memenuhi tugas Mata Kuliah Perencanaan dan Evaluasi P2KM

OLEH :

RIZKI FAJRIANI 101814153008


MARTHA SRI ASTUTI 101814153022

PROGRAM STUDI MAGISTER KESEHATAN MASYARAKAT


FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT
UNIVERSITAIRLANGGA
SURABAYA
2019

1
KATA PENGANTAR

Puji syukur kita panjatkan atas kehadirat Allah SWT, karena dengan izin-
Nyalah sehingga penyusunan makalah yang berjudul “Evaluation dalam Program
Planning for Health Education and Promotion” dapat terselesaikan tepat pada
waktunya. Penyusunan makalah ini guna untuk memenuhi tugas mata kuliah
Perencanaan dan Evaluasi Program Promosi Kesehatan.
Kami menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini belum mencapai
kesempurnaan, dengan segala kerendahan hati juga berharap adanya kritik dan
saran yang membangun dari pembaca untuk perbaikan makalah ini sehingga dapat
bermanfaat bagi penulis dan orang lain.

Surabaya, 02 Maret 2019

Penulis

2
DAFTAR ISI

Halaman Judul
Kata Pengantar.................................................................................................. i
Daftar Isi ............................................................................................................ ii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang ...................................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah ................................................................................. 2
1.3 Tujuan ................................................................................................... 2
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Definisi Kerja Evaluasi ......................................................................... 4
2.2 Ruang Lingkup Evaluasi ....................................................................... 5
2.3 Fokus Evaluasi Program ....................................................................... 10
2.4 Sumber Evaluasi ................................................................................... 11
2.5 Kriteria Evaluasi ................................................................................... 13
2.6 Pengukuran Evaluasi ............................................................................. 16
2.7 Desain Evaluasi ..................................................................................... 19
2.8 Evaluasi Kuantitatif .............................................................................. 22
2.9 Evaluasi Kualitatif ................................................................................ 26
2.10 Kombinasi Metode Kuantitatif dan Kualitatif ...................................... 27
2.11 Perencanaan Evaluasi............................................................................ 28
2.12 Akuntabilitas dan Evaluasi Program ..................................................... 31
2.13 Contoh Evaluasi Program Pemberian Tablet Fe pada Ibu Hamil ......... 34
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan ........................................................................................... 35
3.2 Saran ..................................................................................................... 35
DAFTAR PUSTAKA

3
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Perencanaan promosi kesehatan adalah suatu proses diagnosis
penyebab masalah, penetapan prioritas masalah dan alokasi sumber daya
yang ada untuk mencapai suatu tujuan. Oleh sebab itu, dalam membuat
perencanaan promosi kesehatan, perencanaan harus tediri dari masyarakat,
professional kesehatan dan promotor kesehatan. Kelompok ini harus bekerja
bersama-sama dalam proses peencanaan promosi kesehatan, sehingga
dihasilkan program yang sesuai, efektif dalam biaya (cost effective) dan
berkesinambungan. Perencanaan merupakan bagian dari sirkulasi administrasi
yang terdiri dari 3 fase yakni : perencanaan, implementasi, dan evaluasi.
Berbeda dengan teori Dignan dan Carr (1992) tentang perencanaan program
promosi dan pendidikan kesehatan yang menekankan pentingnya menentukan
komunitas sasaran untuk mengembangkan program agar berjalan sesuai
harapan. Proses perencanaan terdiri dari 5 (lima) tahapan dan salah satu
tahapannya adalah evaluasi (evaluation) yang juga merupakan tahap terakhir
dari proses ini
Perencanaan dan evaluasi promosi dan pengembangan adalah suatu
fase dimana secara rinci direncanakan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan
yang muncul, sedangkan implementasi adalah suatu waktu dimana
perencanaan dilaksanakan. Evaluasi adalah mengukur sejauh mana tingkat
keberhasilan program tersebut berdasarkan perencanaan yang sudah
ditetapkan di awal kegiatan. Proses evaluasi merupakan salah satu bagian
terpenting dalam pelaksanaan program dan evaluasi dilaksanakan karena
adanya dorongan untuk mengukur pencapaian hasil kerja/ program terhadap
tujuan yang telah ditetapkan. Pada tahap ini juga dilihat apakah perencanaan
dan implementasi yang telah dilakukan dapat dilanjutkan. Selain itu, evaluasi
diperlukan untuk pemantauan efficacy dan promosi kesehatan dan sebagai alat
bantu untuk membuat perencanaan selanjutnya. Tanpa adanya evaluasi, sulit
rasanya untuk mengetahui sejauh mana tujuan-tujuan yang sudah

4
direncanakan telah tercapai atau belum . Oleh karena itu, dalam makalah ini
akan dijelaskan lebih lanjut tentang apa yang dimaksud dengan evauasi
(evaluation) dan bagaimana tahapannya dalam perencanaan program promosi
dan pendidikan kesehatan menurut teori Dignan dan Carr (1992).
1.2 Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dalam makalah ini adalah sebagai berikut :
1. Apa yang dimaksud dengan evaluasi (evaluation) menurut Teori Dignan
dan Carr dalam perencanaan program promosi dan pendidikan kesehatan ?
2. Bagaimana tahapan evaluasi (evaluation) menurut Teori Dignan dan Carr
dalam perencanaan program promosi dan pendidikan kesehatan?
1.3 Tujuan
Adapun tujuan dari pembuatan makalah ini adalah sebagai berikut :
1. Untuk memahami dan mengkaji yang dimaksud dengan Evaluasi
(evaluation) dalam Teori Dignan dan Carr dalam perencanaan program
promosi dan pendidikan kesehatan.
2. Untuk memhami dan mengkaji tahapan evaluasi (evaluation) menurut
Teori Dignan dan Carr dalam perencanaan program promosi dan
pendidikan kesehatan.

5
BAB II
PEMBAHASAN

Evaluasi adalah bagian ahir sebuah program. Meskipin bagian akhir, namun
evaluasi adalah hal yang cukup penting. Evaluasi kemudian dianggap penting
ketika diperlukan untuk melihat keberhasilan sebuah program, dan menjadi
kompleks karena tidak mudah menilai keberhasilan sebuah program. Digman dan
Car (1992) mencoba merusmuskan evaluasi sebagai sebuah proses dalam
kelengkapan sebuah program. Sesudah dilakukan analisis (community analysis)
termasuk didalamnya kondisi pendidikan, ekonomi, sosial, budaya, geografis dan
berbagai masalah kesehatan di masyarakat, dirumuskan penilaian target (targeted
assessment) yang akan menjadi sasaran program, sehingga bisa disusun
pengembangan rencana program (Programme plan development) sehingga sebuah
program benar-benar memberikan manfaat sesuai kebutuhan masyarakat.
Implementasi merupakan pelaksanaan program sesuai dengan perencanaan yang
sudah dibuat, dan sebuah program diakhiri dengan evaluasi (Evaluation) yang
akan menilai keberhasilannya.

Community Analysis

. Target Assessment

Evaluation Program Plan


Development

Implementation
Gambar 2.1. Model Perencanaan Program Promosi dan
Pendidikan Kesehatan (Dignan dan Carr, 1992)

Rangkaian tahapan tersebut merupakan proses yang berkesinambungan dan


dilakukan secara terus – menerus agar program yang dilaksanakan akan menjadi
lebih baik dari waktu ke waktu

6
2.1 Definisi Kerja Evaluasi
Kerangka kerja Evaluasi adalah proses penilaian terhadap kinerja
suatu program. Dignan dan Carr (1992) mempunyai 3 (tiga) definisi konsep
dasar dalam memahami evaluasi, yaitu konsep prosesnya, fokusnya dan
penerapannya. Konsep pertama membahas evaluasi adalah suatu proses
penilaian bukan suatu ketetapan yang diatur oleh peraturan yang kaku.
Pengalaman dilapanganyang didapatkan para profesional, fleksibilitas
adalah kunci yang diperlukan sebuah evaluasi agar menghasilkan
pertanyaan yang penting yang ditujukan pada sebuah program. Fleksibilitas
pada evaluasi bukan berarti tidak ada prosedur bakunya. Diperlukan prinsip
dasar yang bisa digunakan menjadi petunjuk pengembangan rencana
evaluasi.
Konsep kedua merumuskan fokus Evaluasi adalah mengkaji kinerja
suatu program. Kinerja dapat didefinikan dalam berbagai cara, tergantung
pada program dan tujuan evaluasi. Seperti yang digambarkan pada gambar
2.2, evaluasi merupakan suatu siklus, informasi yang didapat dari evaluasi
bukan hanya digunakan untuk memastikan keberhasilan tetapi dapat
digunakan kembali untuk pengembangan program tersebut.
Konsep ketiga, evaluasi biasanya didasarkan pada perbandingan
dengan sebuah standar. Menerapkan konsep ini ke dalam tindakan adalah
hal yang paling menantang untuk melakukan perencanaan evaluasi, karena
supaya efektif, evaluasi harus berfokus pada indikator keberhasilan atau
kegagalan program yang jelas. Indikator dikembangkan dari pertanyaan
evaluasi yang paling mendasar yaitu: Apa yang diharapkan bisa diamati bila
sebuah program berjalan sesuai maksud dan tujuannya? Jawabannya bisa
berupa pada hasil seperti peningkatan pengetahuan, akses layanan yang
lebih baik, gaya hidup yang lebih sehat, atau banyak perubahan lainnya,
tergantung pada tujuan dan sasaran suatu program.
Secara singkat pengembangan dan pengimplementasian sebuah
program dimulai dari sebuah tujuan yang jelas. Proses evaluasi dirancang
sebagai pemantauan yang terstruktur agar informasi yang didapatkan dapat

7
digunakan untuk perbaikan perogram selama berlangsung. Hasil evaluasi
mengkaji keefektifan sebuah program ditinjau dari tujuan dan penyesuaian
program. Masukan terus diberikan agar implementasi yang berlangsung
dapat disesuaikan untuk mencapai hasil sesuai tujuan.

Gambar 2.2. Hubungan antara evaluasi dan pengembangan progam.

2.2 Ruang Lingkup Evaluasi

Evaluasi mencakup berbagai konsep dan aktivitas yang sangat luas


Berikut akan dibahas tujuan, manfaat, dan tingkat evaluasi.

2.2.1 Tujuan evaluasi


Suatu program dapat dievaluasi untuk berbagai alasan. Alasan
yang paling sering adalah menilai capaian dan untuk mengidentifikasi
keterbatasan program. Evaluasi bukanlah hal yang tidak bisa diubah,
atau tidak dipengarui lingkungan, meskipun bisa juga digunakan
sebagai metode untuk mengubah program satu institusi. Sebagai
tambahan evaluasi yang perlu beberapa lama, bisa dipergunakan untuk

8
berbagai hal lain, misalnya menambah untuk perencanaan. Tambahan
waktu juga bisa dipergunakan bila hampir belum ada program yang
mirip sebelumnya, sehingga perlu staf perlu mempelajarinya sambil
melakukan. Evaluasi juga dapat digunakan untuk mempelajari
keputusan kontroversial dan untuk menghindari menyalahkan
seseorang atau institusi. Tujuan evaluasi yang ini biasanya dilakukan
dengan pengumpulan, analisis, dan interpretasi dengan cermat agar
data dapat membantu membuat keputusan menjadi jelas.
Evaluasi sering merupakan bagian penting dari hubungan
masyarakat. Terutama ketika dana publik digunakan, evaluasi berkala
dapat membantu sebuah program untuk mempertahankan citra yang
baik dari publik guna memastikan pendanaan berikutnya. Evaluasi
juga merupakan item tetap dari hibah. Hampir semua hibah baik dari
sumber publik maupun swasta, memerlukan beberapa bentuk evaluasi
terstruktur.
Evaluasi program dapat digunakan sebagai kegiatan
pengembangan staf. Jika staf melakukan evaluasi, mereka akan lebih
memahami program tersebut. Hasil dari proses ini dapat memotivasi
kembali kemauan karyawan dalam menyelesaikan masalah. Jika
sebuah program dilaksanakan tanpa kesepakatan pencapaian yang
jelas, atau jika ada ketidaksepakatan tujuan program individu bisa
melakukan sesuai pemikiran mereka masing-masing, maka evaluasi
menjadi tidak bermanfaat. Bila sebuah program tidak mempunyai
pertanyaan untuk dijawab, atau keputusan sebuah program sudah
dibuat, maka tidak perlu dibuat evaluasi. Beberapa program
pendidikan kesehatan strukturnya sangat fleksible, sebagian besar
aktivitasnya adalah improvisasi dan hanya dipandu tujuan secara
samar. Dalam hal ini evaluasi tidak perlu dipaksakan.
2.2.2 Manfaat Evaluasi
Tujuan dan manfaat evaluasi keberhasilan atau kegagalan
program tergantung pada sudut pandang seseorang. Tujuan utama

9
evaluasi adalah untuk menilai apa yang telah terjadi sebagai hasil
pelaksanaan perencanaan suatu program. Seorang pimpinan proyek
dapat menggunakan evaluasi sebagai indikator kinerja karyawan atau
untuk menguji kualitas proses perencanaan. Dari sudut pandang
keuntungan evaluator eksternal (audit eksternal), evaluasi dapat
digunakan untuk menunjukkan kualitas investasi yang dilakukan oleh
penanam modal baik pribadi atau publik. Bagi teknisi, produsen/
pemberi layanan, dan konsumen/ pengguna layanan, evaluasi lebih
bersifat pribadi. Evaluasi dapat bermakna kehilangan pekerjaan,
promosi, atau keluar dari program yang tidak produktif. Pada tingkat
ini, evaluasi bisa dianggap sebagai ancaman.
Terlepas dari berbagai sudut pandang yang diambil, berikut
beberapa pertanyaan dasar untuk evaluasi suatu program:
1. Haruskah program dilanjutkan sesuai dengan bentuk program
berjalan saat ini?
2. Bagaimana pelaksanaan dan prosedur dapat ditingkatkan?
3. Metode atau aktivitas apa yang dapat memberikan hasil terbaik?
4. Efektifkah program ini di tempat lain?
5. Berapa besar anggaran diperlukan untuk program ini?
6. Apakah hasil evaluasi mendukung atau menolak teori yang
mendasari upaya program untuk mempengaruhi perubahan
populasi sasaran?
Karena bisa menimbulkan ancaman maka seringkali dijumpai
penolakan terhadap kegiatan evaluasi. Penolakan terhadap evaluasi
sering disamarkan dengan ungkapan seperti “saya ingin menjelaskan
bagaimana program ini berjalan, tapi sangat rumit” atau “kita harus
banyak berimprovisasi karena menyesuaikan dengan berbagai masalah
klien kita". Bila pernyataan seperti ini disampaikan maka pemberi
pernyataan mungkin sedang mencoba untuk menghindar dari evaluasi.
Sebagian besar tidak ingin tampak takut dengan evaluasi program,
namun ingin menghindari evaluasi. Sebagian seni evaluator program

10
adalah meredakan perasaan khawatir tentang evaluasi.

2.2.3 Level Evaluasi


Evaluasi biasanya dianggap mengukur kualitas produk dengan
membandingkannya dengan standar: namun dengan bergantung pada
sudut pandang seseorang evaluasi dapat didefinisikan dengan cara
yang berbeda. Blum mengutip enam tingkat evaluasi. Tingkat evaluasi
ini disusun berdasarkan tingkat kesulitan, dan juga dalam urutan
kedalaman penilaian pencapaian program (Gambar 2.3). Level
evaluasi dapat mencakup area sederhana sampai yang kompleks, dari
pertimbangan elemen pelaksanaan yang paling dasar sampai pada
implikasi abstrak. Pada level evaluasi yang lebih kompleks maka
semakin besar kebutuhan sumber daya yang diperlukan.

Gambar 2.3. Level evaluasi

1. Level 1 Activity
Tingkat pertama mencakup pengumpulan bukti yang
menunjukkan apakah program sedang berlangsung. Pada level ini,
evaluasi difokuskan pada apakah petugas melaksanakan
programnya dan apakah kegiatan yang diperlukan untuk
menunjang keberhasilan pencapaian tujuan program sedang
dilakukan. Tingkat evaluasi ini sering digunakan dalam menilai
apakah suatu program sedang dilaksanakan sesuai jadwal dan

11
diikuti oleh pengawasan kegiatan program yang lebih ekstensif.

2. Level 2 Meeting Minimum Standard


Pada level ini evaluasi berupaya untuk mengukur apakah
program berfungsi sebagaimana standar yang telah ditetapkan.
Standar yang digunakan dalam penilaian pada level evaluasi ini
biasanya mengarah pada pertimbangan aksesibilitas program pada
populasi sasaran, pengendalian atas biaya, dan kriteria lain yang
mengukur pemberian layanan.
3. Level 3 Efficiency of Operation
Level ketiga adalah penilaian terhadap efisiensi program.
Efisiensi adalah penukuran biaya yang dibutuhkan untuk setiap unit
produk. Dalam program pendidikan kesehatan, efisiensi tercermin
oleh peraturan penyediaan layanan pendidikan. Pertanyaan dasar
untuk dijawab adalah apakah kita sudah mendapatkan sesuai
dengan yang kita bayar. Apakah semua personal sudah
mendapatkan keuntungan? Bagaimana efisiensi bisa ditingkatkan?

4. Level 4 Effectiveness
Keefektifan program dinilai pada level ke empat yaitu bila
program dapat mengubah populasi sasaran. Dikatakan pada level 4
bila sesudah evaluai dilakukan semua, hasil evaluasi dapat
dipertimbangkan. Evaluasi level 4 menilai seberapa sesuai hasil
program tersebut dibandingkan yang diinginkan. Secara sederhana
level 4 dicapai bila hasilo program dapat dilihat dengan nyata
sesuai dengan yang direncanakan. Ada kriteri evaluasi untuk
menentukan nilai hasil

5. Level 5 Outcome Validity


Level kelima melibatkan validitas pengukuran hasilnya
yaitu sejauh mana program yang dirancancang tersebut berhasil
menyelesaikan masalah kesehatan masyarakat. Tingkat evaluasi ini
benar-benar merupakan mencerminkan pemahaman masalah di

12
masyarakat dan apakah program tersebut menghasilkan apa yang
diharapkan.

6. Level 6 Overall Appropriatness


Level keenam membahas kesesuaian program dalam
keseluruhan sistem perawatan kesehatan. Tingkat 6 adalah untuk
menilai seberapa baik suatu program dilihat dari kesesuaian dengan
program lain yang memiliki tujuan yang sama, kesesuaian dengan
sistem program kesehatan di masyarakat, dan sejauh mana tujuan
program "baik untuk masyarakat".
Area dari level evaluasi ini mulai dari kemudahan pencapaian
hasil dari yang sederhana sampai yang kompleks, mulai dari
penekanan pada kegiatan program yang bersifat spesifik hingga umum
dan dari yang tidak ketat hingga ketat dalam menilai kegiatan
program. Level evaluasi tidak dimaksudkan untuk digunakan secara
ekslusif satu sama lain, sebagian besar program pendidikan. kesehatan
masyarakat dievaluasi secara informal di semua level, bahkan fokus
evaluasi formal hanya pada satu atau dua tingkat.
2.3 Fokus Evaluasi Program
Terlepas dari tujuan atau tingkat evaluasi, evaluasi suatu program
harus difokuskan dalam hal (1) jenis informasi yang akan diterima sebagai
bukti dari suatu dampak program (2) peran yang dapat dievaluasi dari hasil
pelaksanaan program, (3) sejauh mana kebutuhan untuk melindungi evaluasi
dari bias, dan (4) jenis kriteria yang akan digunakan dalam evaluasi.
1. Jenis Informasi
Informasi yang digunakan untuk mengevaluasi program
umumnya merupakan kombinasi dari dua jenis yaitu kuantitatif dan
kualitatif. Informasi kuantitatif adalah numerik, misalnya jumlah
peserta program, penilaian sikap dan nilai tes. Informasi kualitatif
tidak terbatas pada pengukuran tradisional, dan termasuk foto
wawancara formal dan informal, pengamatan proses kelompok,
riwayat hidup observasi partisipan, dan kasus historis.

13
Evaluasi kuantitatif adalah pendekatan tradisional untuk
penilaian kinerja sebuah program. Hal ini didasarkan pada prinsip-
prinsip desain eksperimental dan biasanya memiliki penekanan pada
penilaian kinerja berdasarkan kriteria yang dapat diukur dengan tingkat
presisi tertentu. Tujuan evaluasi kuantitatif adalah untuk dapat
membuat pernyataan tentang probabilitas hasil capaian program pada
populasi sasaran.
Evaluasi kualitatif didasarkan pada beberapa prinsip yang sama
seperti kuantitatif namun penekanannya berbeda. Evaluasi kualitatif
berusaha menghasilkan pernyataan yang menggambarkan proses dan
pengalaman yang dihasilkan dari partisipasi dalam program.
2. Peran Evaluasi
Peran evaluasi dalam keberlangsungan suatu program dapat
bervariasi, namun dua peran dasar tersirat dalam istilah formatif dan
sumatif. Evaluasi formatif dimaksudkan untuk menghasilkan umpan
balik bagi pengembangan sebuah program. Evaluasi sumatif
dimaksudkan untuk menilai kinerja sebuah program yang telah
dikembangkan dan diimplementasikan. Tumpang tindih dapat terjadi
antara evaluasi formatif dan sumatif dalam beberapa kasus, perbedaan
antara keduanya terletak pada motivasi dalam melakukan evaluasi.
2.4 Sumber Evaluasi
Beberapa pertimbangan mungkin akan muncul saat membuat
keputusan apakah evaluasi akan dilakukan oleh internal organisasi atau
pihak eksternal organisasi. Kepercayaan diri administrator program
terhadap validitas hasil evaluasi program lebih besar bila evaluasi dilakukan
oleh pihak eksternal. Di sisi lain, bila evaluasi dilakukan dari luar, hasilnya
lebih tidak dapat diprediksi dapat mengancam program karena akan
mengungkap kelemahan program. Isu penting yang perlu dipertimbangkan
dalam menentukan apakah suatu evaluasi dilakukan dari dalam atau dari
luar organisasi meliputi hal-hal berikut:
1. Apa tujuan dan kegunaan evaluasi?

14
2. Apakah ada orang di dalam organisasi atau program yang memiliki
keahlian untuk mengevaluasi sebuah program tujuan dan manfaat
program yang telah ditetapkan?
3. Apakah ada dana yang cukup dalam program untuk membiayai
kegiatan evaluasi?
4. Adakah aturan secara hukum mengenai evaluasi dari pihak pemberi
dana untuk program ini?

2.4.1 Evaluasi yang dilakukan oleh evaluator internal organisasi


Bila evaluasi dilakukan di dalam organisasi/ instansi, ada
cukup banyak perdebatan tentang siapa yang akan mengawasi dan
melakukan evaluasi dalam organisasi. Bagi organisasi yang memiliki
divisi penelitian, evaluasi biasanya merupakan salah satu tanggung
jawab mereka. Bila divisi penelitian terpisah atau tidak ada di dalam
organisasi, evaluasi program biasanya didelegasikan ke beberapa
bagian administrasi dalam organisasi. Dalam kasus lain, departemen
yang benar-benar melakukan kegiatan program diberi beban untuk
melakukan evaluasi sendiri. Dalam contoh diatas, yang menjadi
masalah adalah konflik kepentingan. Jadi yang penting adalah
keterbukaan dan obyektivitas.
Di lain pihak akan sulit bagi orang yang tidak mengenal
organisasi untuk mengerti programnya. Khususnya untuk program
yang unik, alasan ini bisa dipertimbangkan ketika harus memilih
evaluasi internal. Salah satu keluhan yang paling umum didengar dari
administrator tentang evaluasi adalah bahwa proses evaluasi tidak
memperhitungkan kekhasan program, dan jika evaluator hanya bisa
memahami kesulitan yang ada maka evaluasi akan tampak banyak
berbeda.
Jika evaluasi program benar-benar digunakan untuk perubahan
fungsi instansi, maka evaluasi harus dapat dipertahankan. Sangat sulit
untuk mempertahankan evaluasi internal terhadap tuduhan kurangnya

15
objektivitas. Untuk alasan ini, evaluasi yang dirancang untuk
membuat perubahan dalam fungsi evaluasi internal yang dirancang
untuk menghapuskan program atau untuk merestrukturisasi instansi
secara radikal hampir selalu dilakukan oleh evaluator eksternal.
2.4.2 Evaluasi oleh evaluator eksternal
Objektivitas adalah alasan yang paling umum disampaikan
untuk menggunakan evaluator eksternal. Tim evaluasi dari luar
lembaga yang dievaluasi biasanya akan tampak lebih objektif dalam
melakukan evaluasi daripada evaluator dari dalam organisasi itu
sendiri. Terutama ketika evaluasi dilakukan secara longgar dan
dihadirkan para ahli untuk melakukan evaluasi, objektivitasnya
mungkin akan diperdebatkan. Seorang evaluator eksternal seharusnya
bukan orang yang berkepnetingan dengan hasil evaluasi, sehingga
biasanya akan melakukan penilaian program daripada berdasarkan
standard daripada memahami cara kerja internal.
Beberapa organisasi ada yang memiliki program evaluasi
sebagai fungsi tunggal mereka. Organisasi-organisasi ini bertahan
melalui kontrak layanan mereka dan melakukan evaluasi terhadap
berbagai program. Jenis evaluasi eksternal lainnya dilakukan melalui
pembentukan panel ahli yang akan mengunjungi program dan
melakukan evaluasi. Sebagian besar institusi pendidikan tinggi
masyarakat profesional dan kelompok profesional lainnya
menggunakan evaluasi eksternal.
2.5 Kriteria Evaluasi
Kriteria evaluasi adalah suatu standar atau tolok ukur yang digunakan
untuk mengukur kinerja suatu program. Standar bisa direncanakan di di
dalam program sebagai salah satu tujuan; bisa juga diperkenalkan sebagai
hasil bantuan dari sumber luar; atau diperlihatkan secara administratif
berdasarkan agensi yang diharapkan. elemen yang penting dalam proses
evaluasi. Secara umum, terdapat dua macam kriteria evaluasi yaitu kriteria
efek program terhadap sasaran dan kriteria efek program terhadap lembaga

16
itu sendiri.
1. Efek Program terhadap sasaran
Jenis kriteria evaluasi yang paling umum adalah yang
berhubungan denan pengaruh program terhadap sasaran (kien). Dalam
pendidikan kesehatan, kriteria evaluasi harus difokuskan kepada
pengaruhnya terhadap sasaran termasuk perubahan perilaku yang terjadi.
Kriteria evaluasi dalam program pendidikan kesehatan dirancang untuk
merangsang perubahan perilaku harus dijelaskan secara eksplisit dan
khusus untuk perubahan perilaku sasaran (klien). Salah satu contohnya
adalah suatu program pendidikan kesehatan terkait penggunaan alat
pengaman anak-anak di dalam mobil. Maka kriteria evaluasi yang
digunakan yaitu cara penggunaan alat pengaman anak di dalam mobil
yang tepat, pengetahuan terkait kesalahan penggunaan alat yang sering
terjadi dan akhirnya penggunaan alat pengaman pada anak-anak di mobil
yang tepat.
2. Efek program terhadap lembaga
Jenis kriteria evaluasi ini berhubungan dengan perubahan
lembaga sebagai hasil dari suatu program. Jenis kriteria ini berorientasi
pada hubungan lembaga dan anggotanya dengan klien. Secara umum,
indeks yang digunakan dalam kriteria ini adalah perubahan anggaran dan
waktu. Sebagai contoh adalah rata-rata waktu tunggu pasien dalam
puskesmas setelah para pegawainya mengikuti pelatihan. Perubahan
waktu adalah perubahan besarnya waktu yang luangkan staf dalam
berbagai aktivitas kerjanya.
Dalam suatu kriteria evaluasi tidak hanya melihat pengaruh
program terhadap sasaran ataupun lembaga, melainkan juga harus di lihat
dari aspek proses, dampak, dan/atau hasil. Proses (process) adalah
penjelasan terkait aktivitas suatu program yang dirancang untuk
mengubah perilaku sasaran. Dampak (impact) adalah efek spesifik
terhadap klien yang merupakan hasil dari suatu program. Hasil
(Outcome) adalah efek dari dampak program yang mungkin terjadi pada

17
sasaran dari waktu ke waktu. Evaluasi dapat dirancang untuk menilai
proses, dampak, dan hasil. Namun, pada faktanya banyak pemangku
kebijakan yang memilih untuk menggunakan evaluasi proses karena
evaluasi tersebut lebih mudah dibandingkan dengan evaluasi dampak dan
hasil.
3. Proses, dampak dan hasil
Siapapun sasaran kriteria evaluasinya, baik pada masyarakat
ataupun pada lembaga, evaluasi seharusnya jelas dengan proses, dampak
dan hasil. Proses adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan
aktivitas program yang dirancang untuk menghasilkan perubahan
perilaku pada klien. Dampak adalah akibat tertentu/ khas yang terjadi
pada klien sebagai akibat dari program. Hasil adalah efek yang
berdampak pada program yang mungkin akan menepel pada klien dalam
waktu lama. Contohnya adalah pemberian adukasi prenatal. Prosesnya
adalah semua aktivitas yang dilakuan dalam rangka program, misalnya
interaksi guru klien dalam edukasi, reaksi klien terhadap metode yang
digunakan, serta semua aktivitas yang mengarah pada edukasi prenatal.
Dampaknya dalah pengetahuan prenatal yang dimiliki klien sekarang dan
beberapa fakta perawatan prenatal. Hasilnya adalah perubahan perilaku
pada klien sesudah program selesai, dan seharusnya sesuai dengan
informasi yang diberikan.
Evaluasi bida dirancang untuk menilai proses, dampak atau hasil.
Bila evaluasi dibuat merujuk pada proses, maka asumsinya adalah ketika
proses dirancang maka hasilnya dapat diperkirakan. Evaluasi berdasarkan
pada dampak dirancang untuk menunjukkan apakah metode dan aktivitas
yang dilakukan oleh program akan memberikan hasil langsung yang
diharapkan. Evaluasi dampak (impact) merupakan jenis evaluasi yang
paling penting dalam tahap perkembangan dalam pendidikan dan
promosi kesehatan dan seharusnya menjadi fokus utama bagi evaluator
program.
Evaluasi hasil (outcome) merupakan evaluasi yang paling sulit

18
dilakukan dibandingkan dengan yang lain karena melibatkan konsultasi
tindak lanjut kepada sasaran dan penilaian penerapannya terhadap
program. Evaluasi yang dilakukan di klinik lebih mudah dilakukan
dibandingkan bila dilakukan dalam komunitas.
Penentuan kriteria evaluasi yang fokus terhadap proses, dampak,
dan hasil dalam mengukur dampak program terhadap sasaran tercermin
dalam tujuan sebuah program. Perencanaan evaluasi sebagai bagian dari
perencanaan program mendorong formula yang objektif. Bila
objektivitas selalu dipikirkan sepanjang pengembangannya, evaluasi
akan muncul. Tujuan program seharusnya tertentu dan dapat menjawab
pernyataan “kamu akan mengenal sesuatu bila kamu melihatnya’.
Maksud pernyataan tersebut adalah objektivitas adalah bila evaluator bisa
mengukur dampak program pada personal ataupun kelompok. Objektive
harus spesifik, perilaku yang khas yang harus dinilai, dan bagaimana
perilaku atau pencapaian diukur.
2.6 Pengukuran dan Evaluasi
Proses evaluasi adalah proses pengukuran terhadap efektivitas suatu
program/kegiatan. Pengukuran adalah pemberian nilai terhadap objek
berdasarkan standar yang ada. Objek dapat berupa objek fisik, hubungan
spasial atau abstraksi. Peraturannya bisa objektif atau subjektif, yang
penting harus konsisten. Tipe pengukuran yang dipilih bergantung pada
kriteria evaluasi yang dipilih, kebutuhan untuk keakuratan/ ketepatan, dan
peluang dalam pengumpulan informasi. Karakteristik/ ciri-ciri pengukuran
yang efektif yaitu pengambilan sampel harus representatif,
mengkomunikasikan informasi yang mudah dimengerti terkait dengan
pengukuran, memiliki validitas tinggi dan reliabilitas.

19
Tabel 2.1. Karakteristik Pengukuran yang Baik
Sampling mewakili luas dan dalamnya hal yang harus diukur,
termasuk data dari semua populasi yang diukur,
keseimbangan kesulitan dan kerumitan informasi
Communication mengunakan unit pengukuran yang meringkas pengukuran
secara efektif dan istilahnya dikenal
Validity Mengukur yang seharusnya. Objeknya digambarkan melalui
proses pengukuran
Reliability Pengukuran konsisten. Pengukuran yang memerlukan
sedikit interpretasi dan memberikan reliabilitas terbesar

2.6.1 Sasaran pengukuran


Hal yang terpenting dalam proses evaluasi adalah standar/ tolak
ukur yang digunakan dalam mengukur efektivitas suatu program harus
sistematis. Sasaran yang paling umum digunakan dalam proses
pengukuran evaluasi implementasi program meliputi proses (process),
dampak (impact), dan hasil (outcome) yang berhubungan dengan
aktivitas program serta perubahan pengetahuan, sikap, dan perilaku
sasaran sebagai hasil program.
1. Proses, dampak dan hasil
Program pendidikan dan promosi kesehatan mempengaruhi
populasi sasaran melalui aktivitas yang sudah direncanakan
(proses) yang mampu memberikan efek langsung (dampak) serta
efek jangka panjang (hasil). Contohnya, program pembelajaran
terhadap orang tua terkait keselamatan anak dan tindakan
pencegahan bahaya di dalam rumah. Interaksi dalam diskusi
kelompok orang tua terkait masalah keselamatan anak merupakan
suatu proses dalam program. Kemudian, peningkatan kewaspadaan
orang tua terhadap kondisi berbahaya di dalam rumah merupakan
dampak suatu program. Dan tindakan (aksi) orang tua untuk
mengubah kondisi rumah menjadi lebih aman sebagai bentuk
pencegahan kecelakaan dan peningkatan keselamatan di dalam
rumah merupakan hasil dari suatu program.

20
2. Pengetahuan, sikap dan perilaku
Program pendidikan dan promosi kesehatan merupakan
program yang memuat informasi spesifik, sudut pandang, dan
rekomendsi untuk perubahan perilaku yang merupakan bagian dari
tujuan yang sudah direncanakan. Perubahan perilaku sangat sulit
diukur untuk mengetahui efek dari suatu program sehingga
pengukuran pengetahuan dan sikap bisa menjadi alternatif untuk
melakukan pengukuran tersebut.

2.6.2 Ketelitian pengukuran


Terlepas dari proses dan target pengukuran, hal penting lainnya
dalah merancang suatu pengukuran seteliti/ setepat mungkin.
Ketepatan/ ketelitian suatu pengukuran dinyatakan hal validitas dan
reliabilitas.

1. Validitas
Validitas adalah suatu istilah yang digunakan untuk
mengetahui sejauh mana ketepatan alat untuk mengukur suatu
objek. Sejauh mana suatu pengukuran berlaku untuk kondisi
sekarang dinyatakan dalam validitas konkuren. Sedangkan sejauh
mana sebuah pengukuran mampu memprediksi perkembangan di
masa yang akan datang dinyatakan dalam validitas prediktif.
Tedapat tiga tipe umum validitas yaitu :
a. Validitas konten, dimana pengukuran didasarkan pada informasi
tertentu dan keabsahan pengukuran dapat dilihat dari sejauh
mana informasi yang ditunjukkan dari pengukuran. Sebagai
contoh, tes untuk mengukur hasil program promosi kesehatan
terkait mengurangi risiko cedera punggung dalam bekerja akan
memiliki validitas konten yang bagus jika informasi diambil dari
sampel dengan cara yang tepat.
b. Validitas berbasis kriteria, pengukuran dapat didasarkan pada
kriteria yang telah ditetapkan seperti hukum dan pedoman
profesional.

21
c. Validitas konstruk, merupakan validtas yang paling abstrak
dibandingkan dengan tipe validitas yang lain. Jenis validitas ini
mengukur atau menggambarkan orang lain dalam hal konsep
diri sehingga didasarkan pada kesan secara umum dibandingkan
dengan perilaku yang spesifik. Jenis validitas ini lebih ke
masalah diskusi dan persuasi dibandingkan dengan fakta.
2. Reliabilitas
Reliabilitas pengukuran lebih kepada masalah konsistensi.
Konsistensi pengukuran yaitu menggunakan proses dan tipe
informasi yang sama pada setiap waktu pengukuran tersebut
digunakan. Ketika pengukuran kurang reliabel, maka kita tidak
dapat menentukan perbedaan hasil dari sebelum dan sesudah
proses. Konsep reliabilitas didasarkan kepada keyakinan bahwa
semua pengukuran juga mencakupi beberapa kesalahan (error).

Observed Measurement = True measurement + Error

2.7 Desain Evaluasi


2.7.1 Desain validitas
Tujuan dari proses evaluasi adalah mengumpulkan data yang
akurat dalam menggambarkan kinerja suatu program. Untuk
merancang sebuah evaluasi, maka kebutuhan akan proses validitas
internal dan ekternal harus tetap diutamakan. Validasi internal adalah
sejauh mana suatu aktivitas program bertanggung jawab atas
perubahan yang diukur, sedangkan validasi eksternal adalah perluasan
dimana program diharapkan mengasilkan efek/dampak yang sama
pada populasi sasaran yang berbeda. Validitas proses evaluasi selalu
menjadi perdebatan sehingga sudah menjadi tugas perancang evaluasi
dalam mengenali kemungkinan ancaman terhadap integritas desain
evaluasi dan merencanakan cara untuk meminimalisasi dampaknya.
2.7.2 Ancaman terhadap validitas internal
1. History (sejarah) yaitu ketika sasaran atau partisipan menerima

22
informasi dari luar program yang sedang berjalan, maka sulit untuk
membedakan dampak dari program dan dampak dari informasi dari
luar program
2. Maturation (maturasi) yaitu ketika pengetahuan dan pengalaman
seseorang meningkat dengan sendirinya seiring berjalannya waktu
sehingga dalam kasus ini perubahan alami tersebut dapat
membingungkan proses evaluasi untuk mengetahui dampak dari
suatu program.
3. Testing (uji coba) yaitu ketika informasi terkait proses evaluasi
dikumpulkan berulang-kali dari individu yang sama, tentunya
proses pengukuran sebelumnya akan mempengaruhi proses
pengukuran selanjutnya.
4. Instrumentation (instrumentasi), yaitu jika prosedur pengukuran
atau instrumen pengukuran berubah selama program berlangsung,
maka perbedaan prosedur lama dan baru dapat mengubah hasil
evaluasi.
5. Regression (regresi) merupakan ancaman yang paling penting
dalam proses evaluasi dimana data yang dikumpulkan berupa tes
pengetahuan, skala sikap, dan sejenisnya. Pada saat pengukuran,
setiap individu cenderung memiliki hasil yang ekstrem (baik atau
buruk) dan menyimpang jauh dari rata-rata kelompok. Ketika dikaji
ulang, orang yang sama kemungkinan akan membuat hasil
pengukurannya mendekati rata-rata hasil kelompok dan
akanmenghasilkan skor yang lebih mencerminkan keadaan
sebenarnya pada saat pengujian.
6. Selection (seleksi) yaitu, ancaman yang terjadi terhadap validitas
internal karena adanya perbedaan antar kelompok yang disebabkan
oleh ciri khas individu dalam kelompok.
7. Attrition (pengurangan) yaitu ketika individu-individu yang sering
keluar (drop out) dari program dan tidak mengikuti keseluruhan
proses evaluasi dan hal ini bisa menjadi ancaman terhadap validitas
internal.

23
2.7.3 Ancaman terhadap validitas eksternal
Efek generalisasi suatu program bergantung pada kemampuan
menyalurkan/ mentransfer akivitas program ke dalam keadaaan/
kondisi yang baru. Tentunya, semakin banyak program yang
disesuaikan dengan kebutuhan populasi target tertentu, maka semakin
kecil kemungkinan transfer program akan berhasil dan semakin
banyak metode yang digunakan disesuaikan dengan karakteristik
kelompok tertentu, semakin banyak juga ancaman terhadap validitas
ekternal.
2.7.4 Menentukan desain evaluasi
Menentukan desain evaluasi meliputi 2 rangkaian tugas dasar.
Pertama, mampu membantu untuk meninjau ulang program yang akan
dievaluasi dan dapat diselesaikan pada semua pendekatan yang
meliputi kuantitatif, kualitatif, dan kombinasi dari keduanya (Gambar
2.4). Kedua, mampu menjawab beberapa pertanyaan yang membantu
mencocokkan kebutuhan proses evaluasi dengan desain yang tepat.
1. Berapa tingkat perkembangan program saat ini?
2. Kapan waktu yang memungkinkan untuk proses pengumpulan
informasi evaluasi?
3. Apa jenis informasi yang dapat dikumpulkan dan dari siapa?
Dapatkah peserta/partisipan ditanyakan terkait programnya secara
langsung?
4. Berapa banyak waktu yang tersedia untuk proses pengumpulan
data?
5. Bisakah informasi dikumpulkan dari individu-individu yang
tidak mengikuti program?

24
Gambar 2.4 Menentukan Pendekatan Untuk Desain Evaluasi :
Kuantitatif, Kualitatif, dan Kombinasi

2.8 Evaluasi Kuantitaif


Mengembangkan desain evaluasi pada program pendidikan dan
promosi kesehatan bisa menjadi rumit, apalalgi jika hasil evaluasi
digunakan untuk pengambilan keputusan terkait alokasi atau pendanaan
sumber daya. Dalam proses evaluasi program pendidikan kesehatan sering
kali melihat perubahan yang terjadi pada sasaran dari waktu ke waktu dan
perbedaan atau kemunculan pengetahuan yang baru setelah terkena suatu
program. Evaluasi kuantitatif digunakan untuk menilai perubahan yang
terjadi setelah mengikuti suatu program.
1. Desain Untuk menilai Perubahan Sebelum-Sesudah
Desain evaluasi ini digunakan untuk menilai perubahan yang
telah terjadi selama program dan desain ini merupakan desain yang
sering digunakan dalam mengevaluasi program. Penggunaan kelompok
kontrol merupakan ciri dari desain evaluasi ini untuk dibandingkan
dengan kelompok eksperimen. Berikut ini adalah beberapa jenis desain

25
perubahan sebelum-sesudah :

a. Non-equivalent Control Group, Pretest-Post test


Jenis desain ini menggunakan dua kelompok yaitu kelompok
yaitu kelompok yang mengikuti program (kelompok eksperimen) dan
kelompok yang tidak mengikuti program (kontrol). Dalam
menentukan kelompok kontrol diambil dari kelompok lain yang
memiliki karakteristik yang serupa dengan kelompok eksperimen.
Berikut tahapan dalam menggunakan jenis desain ini :
1) Mengidentifikasi klien/ sasaran yang akan menerima perlakuan dari
program untuk di evaluasi.
2) Mengidentifikasi kelompok yang tidak menerima perlakukan dari
program namun memiliki karakteristik yang sama dengan
kelompok perlakuan.
3) Mengumpulkan informasi terkait perbedaan dua kelompok tersebut
4) Memberikan pre test terkait pengetahuan, sikap, dan perilaku
tentang dari program pada kedua kelompok tersebut
5) Memberikan treatment/ perlakuan pada kelompok eksperimen dan
kelompok kontrol tidak diberikan perlakuan.
6) Memberikan post-test terkait pengetahuan, sikap, dan perilaku pada
kedua kelompok.

Before After
Implementation Implementation
Clients in
program A B
Clients NOT in
program C D
Gambar 2.5. Desain Nonequivalent Control Group, Pretest-Post
test
Pada umumnya suatu program seharusnya menghasilkan suatu
perubahan yang bisa dilihat dari gambar diatas dimana perbedaan
seharusnya terlihat jika kelompok klien/ sasaran yang menerima
perlakuan dalam program, maka sel A dan B harus terdapat perbedaan

26
dan sel C dan D diharapkan tetap dan tidak mengalami perubahan.
Untuk menentukan perbedaan tersebut dapat menggunakan statistik
yang telah ada. Pada jenis desain ini terdapat jenis desain quasi
eksperimental, namun jenis desain ini tidak menggunakan proses
random/ acak dalam menentukan kelompok eksperimen dan kelompok
kontrol.
b. Design Pretest- Post test Only
Jenis desain ini digunakan ketika kelompok kontrol tidak bisa
digunakan, sehingga jenis desain ini hanya memberikan pretest dan
post-test pada kelompok/ sasaran yang mengikuti suatu program.
Pendekatan evaluasi ini sangat lemah dan tidak bisa digunakan kecuali
tidak ada alternatif lain. Jenis desain ini akan memberikan informasi
terkait perubahan yang terjadi pada sasaran selama mengikuti
program, namun tidak bisa menjelaskan apakah perubahan ini berbeda
dari orang-orang yang mungkin terjadi pada populasi umum.
Before After
Implementation Implementation
Clients in
program A B
Gambar 2.6. Desain Pretest- Post test Only
c. Design Post-test Only
Disaat pre-test tidak mudah untuk dilakukan dan pengalaman pre-
test akan menyebabkan masalah dalam suatu program maka desain ini
mampu digunakan dalam mengumpulkan informasi untuk proses
evaluasi. Namun, kelemahan dari jenis pendekatan ini tentunya
kurangnya informasi tentang perbedaan antara kelompok-kelompok
yang ada sebelum program. Kelebihannya jika kelompok diambil secara
acak, maka desain ini sangat kuat.

Before After
Implementation Implementation
Clients in
program ------- B
Clients NOT in
program ------- D

27
Gambar 2.7. Desain Post-Test Only

2. Design to Access Changes through Time (Desain Penilaian Perubahan


Menurut Waktu)
Pengukuran suatu perubahan yang terjadi menurut waktu yang
paling mudah dapat menggunakan desain time series. Time series adalah
sebuah desain untuk mengevaluasi program dengan melihat perubahan
kriteria evaluasi dari waktu ke waktu. Berikut ini lima langkah dasar
dalam desain time series :
a. Merancang dan menetukan kriteria evaluasi yang akan digunakan.
b. Memutuskan kepada siapa (sasaran) kriteria evaluasi akan
diterapkan.
c. Mengumpulkan setidaknya tiga kriteria pengukuran evaluasi
sebelum program dimulai dan pastikan data dikumpulkan secara
berkala dengan rentang waktu yang sama.
d. Memastikan program telah dilaksanakan.
e. Mengumpulkan data pengukuran kriteria evaluasi secara berkala
setalah program dilaksanakan.
Data time series merupakan jenis data yang sangat sulit untuk
dianalisis tetapi bisa diperiksa. Alat yang digunakan untuk membuat
keputusan dengan menggunakan data time series adalah time series plot.
Langkah-langkah proses pembuatan time series plot sebagai berikut :
a. Pada setiap kali pengukuran dilakukan, kembangkan rangkuman
statistik atau bisa membuat rata-rata pada setia interval pengukuran.
b. Membuat grafik dengan sumbu vertikal untuk mewakili statistik
yang telah dikembangkan pada langkah pertama dan sumbu
horizontal untuk mewakili waktu.

c. Kemudian cocokkan data yang telah dikumpulkan berdasarkan


sumbu vertikal dan horizontal berdasarkan waktu ke waktu.

28
Gambar 2.8. Contoh Time Series Plot

Efek dari suatu program pada ktiteria evaluasi dapat dilihat pada
grafik. Jika perubahan kriteria evaluasi terjadi setelah program
dilaksanakan, maka pada grafik tersebut seharusnya menampilan
perubahan pola data sebelum dan sesudah pelaksanaan program.
2.9 Evaluasi Kualitatif
Pada evaluasi kuantitatif terdapat kecenderungan untuk
mengabaikan dampak program yang tidak dapat diukur dengan validitas dan
realibilitas. Secara alami, program pendidikan dan promosi kesehatan harus
memiliki tingkat fleksibilitas tertentu untuk memenuhi kebutuhan klien. Di
sisi lain, jika efek program tidak diukur dengan tingkat validitas dan
reliabilitas yang dapat diterima, dan jika pengaruh yang mengacaukan
dampak program tidak dikendalikan secara sistematik, informasi yang
dikumpulkan pasti akan menjadi bias bagi pengamat, sehingga fleksibilitas
yan baik sangat dibutuhkan.
Evaluasi kualitatif didasarkan pada kebutuhan untuk menemukan
daripada menguji dampak program. Tujuannya adalah untuk
mengembangkan pemahaman tentang proses dimana program dapat
menjangkau khalayak yang dituju, dampak yang dihasilkan, dan perubahan
yang mungkin terjadi setelahnya. Yang hasilnya pendekatan kualitatif ini
memiliki perspektif yang lebih luas daripada pendekatan kuantitatif.

Evaluasi kualitatif bergantung pada peserta dan orang lain untuk


mendapatkan informasi tentang program. Beberapa metode yang biasa

29
digunakan seperti wawancara dengan orang-orang yang terlibat dengan
program ini, pengamatan kegiatan program dan pengamatan partisipan.
Wawancara yang dilakukan dalam evaluasi kualitatif didasarkan
pada pertanyaan umum tentang program ini. Pertanyaan-pertanyaan ini
biasanya didasarkan pada tujuan dan sasaran program, namun juga
mencakup eksplorasi tentang "bagaimana" dan "mengapa" aktivitas
program berdampak pada peserta. Wawancara dapat dilakukan dengan
peserta program, staf atau pihak lain.
Kegiatan program juga dapat diamati dengan tujuan menemukan
aspek reaksi peserta yang berada di luar jangkauan pengukuran standar.
Pengamatan peserta dapat diperoleh dari berbagai bagian. Pemimpin
proyek, fasilitator kelompok, atau peserta program dapat menjadi pengamat.
Metode ini digunakan untuk mengembangkan pemahaman yang luas
tentang program ini dari pandangan peserta..
2.10 Kombinasi Metode Kuantitatif dan Kualitatif
Metode kuantitatif dan kualitatif dapat digunakan bersamaan dalam
evaluasi, dapat memungkinkan pengumpulan informasi yang
menggambarkan program secara lebih mendalam daripada yang mungkin
dilakukan melalui penggunaan satu metode saja. Pada evaluasi kuantitatif
menekankan pengukuran, biasanya mengorbankan informasi yang tidak
mudah diukur, sedangkan pada evaluasi kualitatif sebagian besar
mengabaikan pengukuran tradisional yang mendukung penjelajahan makna
kegiatan program.
Pada program evaluasi terdapat dua fase utama, perencanaan dan
pengumpulan data, peran evaluasi kuantitatif dan kualitatif dapat bertautan
pada sebuah cara yang masuk akal. Pada fase perencanaan, cara untuk
mengumpulkan informasi yang penting sebuah program harus ditentukan.
Pada evaluasi kuantitatif penentuannya dibatasi oleh aturan pengukuran.
Pengukuran harus memiliki validitas dan reliabilitas yang tinggi dan harus
selaras dengan target populasi. Mencapai persyaratan tersebut, ditambah
persyaratan bahwa jumlah pengambilan ukuran dibutuhkan untuk evaluasi
program, ini sangat sulit. Evaluasi kualitatif, di sisi lain, memungkinkan

30
fleksibilitas dalam metode pengumpulandata. Oleh karena itu, penggunaan
metode kualitatif untuk memastikan bahwa dimensi penting program
disadap melalui proses pengumpulan data dan metode kuantitatif untuk
memastikan prosedur pengumpulan data yang benar sehingga dapat
menghasilkan evaluasi yang superior.
Apabila informasi kualitatif dapat diterima untuk evaluasi,
sayangnya tidak umum terjadi, informasi kuantitatif dapat digunakan
sebagai dukungan terhadap deskripsi kualitatif dari pengalaman peserta
program. Akan lebih baik lagi, informasi kuantitatif yang akan digunakan
untuk membuat pernyataan utama tentang keefektifan program, dengan
informasi kualitatif digunakan untuk menjelaskan mengapa efek tersebut
akurat.
Catatan pentingnya, penerimaan informasi kuantitatif dan kualitatif
dapat di lihat dari segi pandang seseorang. Informasi kualitatif dipandang
“lunak/lemah” dan tidak meyakinkan pengamat yang berorientasi teknis
sedangkan informasi kuantitatif terkadang tidak dipahami oleh pembaca
awam. Sehingga evaluasi program dapat dipertanggungjawabkan pada salah
satu atau kedua jenis peserta. Untuk memastikan komunikasi yang efektif,
perancangan evaluasi harus mencerminkan kebutuhan dan kepentingan
peserta yang dituju serta tujuan suatu program
2.11 Perencanaan Evaluasi
Setelah memahami dasar informasi tentang evaluasi, selanjutnya
harus dipahami beberapa pertanyaan tentang program dan evaluasinya.
Pertanyaan-pertanyaan tersebut mengarahkan penysusnan rencana evaluasi.

31
Beberapa isu dan pertanyaan dasar yang diajukan pada saat
melakukan pendekatan evaluasi seperti tercantum pada tabel berikut:
Tabel 2.2 Beberapa Isu & Pertanyaan Dasar Pengorganisasian Evaluasi
Issue Sumber data
1. Bagaimana mengidentifikasi
2. Berapa banyak yang diperlukan
3. Bagaimana data akan dikumpulkan?
Observasi? daftar pertanyaan?
Issue Tugas Personalia and Penjadwalan
1. Apa tugas penting?
2. Apakah kualifikasi/pelatihan yang akan diperlukan?
3. Kapan tugas akan selesai?
4. Bagaimana mengontrol penyelesaian tugas ?
Issue Analisis dan Laporan
1. Apa analisis yang akan digunakan?
2. Kepada siapa laporan akan diberikan?
3. Apakah staf tambahan diperlukan untuk menyelesaikan
analisis atau pealporan?

Terdapat lima langkah dasar dan esensial yang diperlukan untuk


evaluasi program dan berhubungan antara satu dengan yang lainnya:

Tabel 2.3. Planning for evaluation: Steps and Product


Steps in planning evaluation Producs
1. Clarify goals and objectives Targets for evaluation
2. Determinant evaluation criteria Standards for comparasion
3. Select appropriate design Approach for evaluation
4. Plan for data collection Procedures for collection
5. Plan data analysis and reporting Analysis resource needs

1. Mendeskripsikan program, tujuan dan sasaran spesifik.


Langkah pertama dalam melakukan evaluasi program, apakah
sebagai evaluator luar atau sebagai anggota organisasi yang mensponsori
program, adalah menghasilkan deskripsi program secara detail seperti
yang ada. Kata “Seperti yang ada” sengaja digunakan karena sepanjang
waktu program pendidikan kesehatan cenderung berkembang. Ketika
evaluasi dilakukan, program yang berlaku hanya mirip sedikit dengan apa
yang direncanakan semula. Karena itu, jika evaluasi merupakan penentuan
kualitas program, memahami program aktual yang berlaku merupakan
persyaratan dasar.
Karena evaluasi selalu meramalkan tentang sasaran program,

32
sasaran tersebut harus harus dispesifikasi sebelum dilanjutkan dengan
aktivitas evaluasi lainnya. Pada point ini, menjadi jelas bahwa evaluasi tidak
akan menjadi bermanfaat karena tidak ada tujuan dan sasaran yang jelas
2. Menentukan kriteria yang akan digunkakan pada evaluasi
Ketika tujuan ditetapkan dan program telah dijelaskan dengan cukup
rinci untuk dipahami secara menyeluruh, kriteria evaluasi dapat ditentukan.
Jika rencana program telah disusun dan ditulis dengan teliti langkah
evaluasi akan lebih mudah. Jika sasaran program adalah kriteria dari
referensi ilmiah maka kriteria evaluasi dapat ditetapkan. Jika sasaran untuk
evaluasi kriteria tidak ditulis secara gamblang, maka kriteria harus
dikembangkan. Kunci untuk mengembangkan kriteria evalusi bermanfaat
untuk mendesain sehingga tidak ada kebingungan tentang pengukuran atau
pengumpulan data, dan interpretasinya jelas.

3. Memilih desain evaluasi


Setelah kriteria ditentukan, prosedur untuk evaluasi dapat
dikembangkan. Seperti disebutkan sebelumnya banyak desain yang berbeda
dapat diterapkan pada evaluasi program pendidikan kesehatan. Dalam
mengembangkan prosedur evaluasi, desain evaluasi harus dipilih, dan
semua tugas dan isu terkait pelaksanaan evaluasi harus ditangani.
Seleksi desain evaluasi dimaksudkan untuk meramal banyak tugas
yang berhubungan dengan prosedur yang digunakan. Selain itu, banyak
pertanyaan dan isu yang muncul dengan prospek evaluasi akan dijawab
melalui desain yang diseleksi.
4. Merencanakan pengumpulan data
Langkah keempat dalam evaluasi program adalah mengumpulkan data
untuk menilai perkembangan program berkaitan dengan kriteria evaluasi
dan desain evaluasi yang telah ditetapkan. Kunci keberhasilan dalam
menyelesaikan fase evaluasi ini adalah adanya kumpulan data yang jujur,
sistematis, dan sesuai evaluasi keperluan. Penyimpangan dalam cara
pengumpulan data atau pada cara penetapan kriteria untuk evaluasi, bisa
merusak seluruh usaha evaluasi, jadi konsistensi adalah penting.

33
5. Merencanakan analisis dan laporan
Ketika data dikumpulkan, prosedur yang ditentukan pada langkah 3
untuk analisis dapat digunakan. Analisis terhadap data yang dikumpulkan
dibandingkan dengan kriteria evaluasi. Dapat dilakukan analisis deskriptif
atau analisis inferensial sesuai maksud dan tujuan serta desain evaluasinya.
Analisis harus menunjukan dimana program yang memenuhi kriteria untuk
keberhasilan, dan harus juga mengidentifikasikan komponen yang butuh
peningkatan.
Laporan hasil harus dibuat untuk menjelaskan bagaimana program
dievaluasi, apa pertanyaan yang ditunjukan, dan apakah hasil akhir. Ketika
menulis laporan, apa yang sekirannya dipikirkan dan diharapkan yang
berkaitan dengan tujuan dan sasaran program oleh pembaca laporan harus
dipertimbangkan. Penggunaan jargon teknis mungkin sulit bagi beberapa
pembaca, namun laporan yang tidak bisa dimengerti akan menimbulkan
pertanyaan bagi pembaca yang lain. Sebagai contoh, laporan yang
menekankan pada satu aspek program seperti performa personel mungkin
bisa jadi penting untuk beberapa pembaca, namun sementara pembaca
lainnya masih mencari isi laporan tentang hasil akhir adanya perubahan
perilaku (outcome). Umumnya penting untuk membahas efek program yang
mempunyai target populasi dan rencana kelanjutannya, berkaitan dengan
pencapaian tujuan dan sasaran program.
2.12 Akuntabilitas dan Evaluasi Program
Evaluasi itu seperti Umbai cacing : Sesuatu yang melekat pada
sistem yang tampaknya berfungsi dengan baik tanpa itu; namun sepertinya
tidak ada yang tahu mengapa hal itu telah ditambahkan. Hal ini hanya
diperhatikan saat hal itu menyebabkan rasa sakit dan mengancam akan
merusak pekerjaan. Ketika itu terjadi, kemungkinan akan dipotong!
Akuntabilitas menyampaikan gagasan untuk bertanggung jawab atas
tindakan seseorang, atau “tunduk pada pemberian tanggungan”. Konsep
akuntabilitas mencakup empat area yang luas.
1. Semua atau sebagian besar tujuan pendidikan seharusnya
dinyatakan pada perilaku.

34
2. Evaluasi harus didasarkan pada kompetensi atau kinerja
3. Evaluasi harus dibatasi pada hal yang dapat diamati dan diukur
4. Teknik pengendalian perilaku harus digunakan untuk
menghasilkan perubahan yang ditetapkan oleh tujuan
perilaku.
Akuntabilitas publik menuntut agar program sosial dievaluasi untuk
mengetahui apa yang berhasil dan yang tidak sesuai, dan untuk menemukan
kecocokan terbaik antara evaluasi program, yang dapat digunakan sebagai
sumber daya dan program yang memiliki manfaat besar. Evaluasi program
dapat digunakan sebagai alat manajemen untuk meningkatkan manajemen
yang efektif dan alokasi sumber daya yang terbatas, serta sarana untuk
mempromosikan akuntabilitas..
2.12.1 Hubungan sebab dan akibat
Inti hubungan antara evaluasi program dan akuntabilitas
adalah konsep kausalitas. Kegiatan program diasumsikan terkait
secara sebab akibat dengan hasil. Jika teori ini diterima, maka
melalui evaluasi kita dapat menunjukkan efisiensi dan efektivitas
kegiatan program, dan dengan demikian dapat
dipertanggungjawabkan kepada klien, sumber pendanaan, dan diri
kita sendiri.
Semakin jelas dan rinci tujuannya, semakin kompleks
menunjukkan akuntabilitas. Tujuan yang ditunjukkan secara
gamblang memenuhi persyaratan yang akuntabilitas
Inti dari akuntabilitas program adalah bahwa ada tanggung
jawab oleh penyedia jasa untuk menjawab konstituensi mereka.
Evaluasi program membantu menyediakan sarana untuk bertanggung
jawab.
2.12.2 Akuntabilitas dan pendidikan kesehatan masyarakat
Dasar permintaan akuntabilitas adalah gagasan bahwa
kegiatan yang direncanakan akan menghasilkan hasil yang dapat
diprediksi. Akuntabilitas program yang menuntut tersebut
mengasumsikan bahwa ada hubungan kausal antara kegiatan

35
program dan hasil program. Asumsi ini adalah satu-satunya elemen
yang paling merepotkan untuk menunjukkan akuntabilitas program
promosi kesehatan masyarakat dan promosi kesehatan. Dalam
pendidikan kesehatan, seperti dalam kebanyakan disiplin ilmu, kita
tidak dapat dengan mudah menunjukkan hubungan kausal antara
hasil pendidikan pengajaran dan kesehatan, faktor lainnya: kita tidak
dapat menjamin bahwa layanan yang kita berikan akan selalu
menghasilkan hasil kesehatan yang diinginkan. Oleh karena itu
untuk menunjukkan akuntabilitas program pendidikan dan promosi
kesehatan adalah tugas yang sulit.
Untuk dapat dipertanggung jawabkan dalam program
pendidikan dan promosi kesehatan masyarakat adalah bersikap
tanggap terhadap kebutuhan klien. Evaluasi program memberikan
data yang tidak hanya memungkinkan profesional kesehatan
bersikap responsif, namun juga menunjukkan responsivitas terhadap
kebutuhan populasi sasaran. Inti dari pertanggungjawaban,
bagaimanapun, adalah kemauan untuk memodifikasi praktik dalam
menghadapi hasil evaluasi. Oleh karena itu, keberanian diperlukan
untuk merancang evaluasi yang mungkin kritis terhadap usaha
seseorang. Esensi pertanggungjawaban bukan untuk dipandang
sebagai “umbai cacing” yang tidak memiliki fungsi nyata dalam
program pendidikan dan promosi kesehatan masyarakat, namun
sebagai sarana agar layanan optimal bagi populasi sasaran yang
dapat dipertahankan.

36
2.13 Contoh Evaluasi Program Pada Kegiatan Pemberian Tablet Fe pada Ibu Hamil
Tabel 2.4. Evaluasi Program Pada Kegiatan Pemberian Tablet Fe pada Ibu Hamil

No. Program/ Deskripsi Program Tujuan Kriteria Evaluasi Desain Evaluasi


Kegiatan Program Evaluasi
1. Pemberian Kegiatan pemberian Mencegah Efek dampak pada Kualitatif dan Input :
Tablet Fe tablet Fe (penambah terjadinya sasaran dari aspek Kuantitaif -Tenaga pengelola Program
darah) dengan sasaran anemia pada input, proses dan -Ketersediaan jumlah tablet
pada ibu hamil. Ibu ibu hamil outcome Fe
hamil diharapkan -ketersediaan alat
mengkonsumsi 90 pemeriksaan Hb
tablet Fe selama masa - Besarnya anggaran
kehamilan. -SOP distribusi pemberian
tablet Fe
Proses :
-Pelaksanaan pemberian
tablet Fe
Outcome :
- Menurunkan angka kejadian
(prevalensi) anemia pada ibu
hamil

37
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Berdasarkan penjelasan diatas maka dapat ditarik kesimpulan adalah
sebagai berikut :
1. Evaluasi adalah suatu proses penilaian yang difokuskan pada penilaian kinerja
suatu program. Evaluasi memiliki tujuan utama untuk menilai apa yang telah
terjadi sebagai hasil pelaksanaan perencanaan suatu program. Terdapat 6
(enam) tingkatan evaluasi yaitu activity, meeting minimum standards,
efficiency of operation, effectiveness, outcome validity, dan overall
appropiateness.
2. Proses evaluasi suatu program harus difokuskan pada jenis informasi yang
diterima, peran yang dapat dievaluasi, sejauh mana kebutuhan untuk
menghindarkan evaluasi dari bias, dan jenis kriteria evaluasi yang akan
digunakan. Kriteria evaluasi adalah suatu standar atau tolak ukur yang
digunakan untuk mengukur kinerja suatu program. Beberapa langkah dasar
dalam proses evaluasi program yaitu, mendeskripsikan program, tujuan, dan
sasaran spesifik, menentukan kriteria evaluasi dan desain evaluasi, kemudian
merencanakan pengumpulan data serta merencanakan analisis dan laporan.
3.2 Saran
Adapun saran yang dapat diberikan yaitu sebaiknya dalam evaluasi
perlu diperhatikan langkah-langkah apa saja yang harus dilakukan serta
menentukan dengan jelas indikator yang akan dievaluasi.

38
DAFTAR PUSTAKA

Dignan, Mark B. 1992. Program Planning for Health Education and Promotion
second edition. Pennsylvania : Chester Field Parkway Malvern.

39