Anda di halaman 1dari 16

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Tujuan Percobaan


Tujuan dari percobaan ini adalah untuk ditentukan dan dibandingkannya level energi
radiasi alpha pada unsur Radium yang terdeteksi dengan energi radiasi unsur tersebut
sesuai literatur yang sudah ada, serta ditentukannya besar energi radiasi alpha yang
dipancarkan oleh unsur Ameresium sesuai perbandingan level energi radiasi alpha.

1.2 Tinjauan Pustaka


Rentang energi kinetik pada peluruhan alpha adalah 1,8 sampai 11,6 MeV. Hanya
beberapa peluruhan alpha yang melebihi 8 MeV. Selain itu peluruhan alpha memiliki
rentang kecepatan dari 9 x 108 sampai 2 x 109 cm/s (kecepatan rambat cahaya dalam ruang
hampa adalah 3 x 1010 cm/s. Karena massa dan luasnya besar besar maka radiasi alpha
memiliki kemampuan menembus yang lemah dan dapat dihentikan dengan selembar
kertas. Ketika Eα < 7,5 MeV maka radiasi alpha tidak dapat menembus permukaan kulit
(0,07 nm). Selama peluruhan, biasanya peluruhan alpha disertai dengan pemancaran
radiasi gmma yang merupakan bagian eksternalnya. Ketika partikel alpha berinteraksi
dengan suatu medium, maka menyebabkan ionisasi dan eksitasi elektron. Ionisasi terjadi
ketika adanya tarik menarik elektrostatik antara partikel alpha dengan sebuah orbital
elektron dan menyebabkan elektron keluar dari atom. Hasil eksitasi ketika gaya
eletrostatik antara partikel alpha dan orbital elektron menaikkan posisi elektron ke tingkat
energi yang lebih tinggi tanpa ionisasi (Hallenbeck, 1994).
Terdapat beberapa macam peluruhan radiasi, salah satunya adalah peluruhan alpha.
Bentuk peluruhan ini terjadi pada unsur berat yaitu unsur yang memiliki nomor massa
yang besar. Unsur tersebut memiliki tenaga ikat yang rendah dan umumnya diikuti pula
dengan peluruhan gamma. Radioisotop yang memancarkan radiasi alpha maka nomor
massanya berkurang 4 dan nomor atomnya berkurang 2 sehingga radiasi alpha disamakan
dengan pembentukan inti Helium yang bermuatan +2. Radiasi alpha, contohnya terjadi
pada peluruhan Plutonium :

… (1.1)
Partikel alpha adalah inti atom Helium . Peluruhan alpha terjadi jika inti
menjadi tidak stabil karena besarnya jumlah nucleon A, serta inti melepaskan partikel
alpha sehingga nomor atom Z berkurang 2 dan nomor massa A berkurang 4. Reaksi
peluruhan alpha dapat ditulis sebagai

… (1.2)
di mana Q adalah energi yang dilepaskan pada reaksi tersebut, yang nilainya sebesar

… (1.3)
Nilai Q positif menunjukkan bahwa reaksi tersebut menghasilkan energi, sedangkan nilai
Q negatif menunjukkan reaksi yang membutuhkan energi. Suatu reaksi hanya bisa
berlangsung secara spontan jika Q ≥ 0. Nilai Q yang positif juga menunjukkan bahwa
massa total inti hasil reaksi harus lebih kecil sama dengan massa inti sebelum reaksi.
Peluruhan alpha merupakan satu-satunya reaksi yang menghasilkan Q bernilai positif
(Abdurrouf, 2015).
Partikel alpha digunakan untuk memborbardir bebagai sasaran. Salah satu
eksperimen yang terkenal dilakukan oleh Earnest Rutherford pada 1917 yang mengarah
pada penemuan struktur atom. Partikel alpha terdiri atas dua proton dan dua neutron.
Besarnya partikel alpha dipancarkan dari peluruhan nucleus radioaktif yang berat, seperti
Uranium, Actinium, dan Radium. Meskipun memiliki energi yang cukup besar, memiliki
sifat pengion yang tinggi, ukuran dan berat partikel alpha membuatnya cepat kehabisan
energi dalam jarak tempuh yang relatif pendek, maka dari itu partikel alpha akan mudah
terhenti saat mengenai kertas atau kulit manusia sehingga partikel alpha memiliki resiko
kesehatan yang rendah (Donya et all, 2014).
BAB II
METODOLOGI

2.1 Alat dan Bahan


Alat dan bahan yang digunakan dalam percobaan ini antara lain, sebuah bahan
radioaktif Am-241, sebuah bahan radioaktif Ra-226, sebuah digital counter, sebuah
detektor sintilator, sebuah high voltage power supply, sebuah penyangga, sebuah
oscilloscope, sebuah single channel analyser, dan beberapa buah kabel penghubung.

2.2 Tata Laksana Percobaan


Peralatan dirangkai seperti pada video panduan yang digunakan untuk simulasi.
Kabel detektor semikonduktor disambungkan ke single channel analyser dan ke channel
I dan II pada oscilloscope. Kabel digital counter disambungkan ke single channel analyser
dan ke digital counter itu sendiri. Bahan radioaktif berupa Radium dipasangkan pada
gagang penyangga dan dimasukkan ke detektor semikonduktor. Single channel dan
oscilloscope dinyalakan. Digital counter dinyalakan dan dilakukan perhitungan. Hal yang
sama dilakukan untuk percobaan bahan radioaktif Ameresium.
BAB III
ANALISIS DAN PEMBAHASAN

3.1 Data Hasil Pecobaan


3.1.1 Data Praktikum

Radium Ameresium - 241


level
energi N
N1 N2 N3 N4 N5 N1 N2 N3 N4 N5 N ratarata
ratarata
0 92 100 100 95 96 96,6 102 98 94 90 86 94

0,5 96 92 90 90 85 90,6 83 83 84 72 70 78,4

1 94 90 90 78 92 88,8 82 75 78 72 99 81,2

1,5 84 80 82 87 92 85 80 74 94 57 67 74,4

2 90 98 100 94 96 95,6 84 82 96 75 98 87

2,5 78 92 95 84 85 86,8 75 76 74 68 82 75

3 92 89 90 77 77 85 65 59 70 60 60 62,8

3,5 92 92 94 81 74 86,6 64 66 65 65 73 66,6

4 89 96 98 100 91 94,8 73 65 64 65 69 67,2

4,5 94 98 96 99 96 96,6 86 75 79 79 84 80,6

5 100 89 86 79 90 88,8 80 83 84 84 82 82,6

5,5 82 95 94 90 95 91,2 78 80 77 85 89 81,8

6 77 82 88 82 81 82 94 94 100 92 90 94

6,5 82 85 92 78 75 82,4 111 104 101 102 116 106,8

7 88 92 94 82 92 89,6 131 120 135 137 137 132

7,5 94 85 92 100 80 91,4 137 147 139 157 155 147

8 80 77 78 73 78 77,2 158 159 162 168 172 163,8

8,5 80 77 82 90 88 83,4 164 173 170 176 177 172

9 94 88 80 84 75 84,2 200 196 201 208 223 205,6

9,5 77 86 78 80 69 77 210 211 203 199 192 203

10 72 62 68 92 84 75,6 220 216 226 232 227 224,2


3.1.2 Data Simulasi

Radium Ameresium - 241


level
energi N
N1 N2 N3 N4 N5 N1 N2 N3 N4 N5 N ratarata
ratarata
0 84 96 89 80 93 88,4 104 101 98 101 88 98,4

0,5 93 92 81 83 77 85,2 108 85 82 101 77 90,6

1 89 83 75 85 88 84 100 100 104 88 91 96,6

1,5 96 88 84 75 95 87,6 94 96 104 84 86 92,8

2 92 81 87 80 79 83,8 88 92 90 88 88 89,2

2,5 85 101 91 84 93 90,8 108 86 105 85 106 98

3 99 97 96 87 99 95,6 95 92 93 105 93 95,6

3,5 74 95 80 75 97 84,2 104 97 84 103 106 98,8

4 85 92 84 86 88 87 89 91 88 83 106 91,4

4,5 96 120 117 114 133 116 111 95 96 105 96 100,6

5 104 154 153 147 109 133,4 95 90 79 98 97 91,8

5,5 196 185 180 168 177 181,2 322 336 327 334 326 329

6 144 140 156 156 159 151 154 146 157 180 168 161

6,5 83 84 97 93 86 88,6 82 88 91 98 90 89,8

7 96 77 86 84 84 85,4 75 87 106 91 93 90,4

7,5 131 125 137 120 117 126 94 93 95 105 85 94,4

8 119 101 106 113 104 108,6 107 90 86 101 95 95,8

8,5 86 81 78 94 83 84,4 96 108 90 78 92 92,8

9 87 90 85 86 94 88,4 102 97 99 98 93 97,8

9,5 92 86 86 76 98 87,6 113 94 89 85 96 95,4

10 98 84 91 84 87 88,8 94 98 96 86 92 93,2
3.2 Grafik
3.2.1 Grafik Praktikum
3.2.1.1 Radium - 266

Percobaan Radium - 226


100
4.5, 96.6
2, 95.6
Impuls Ratarata (Hz) 95
5.5, 91.2

90

85

80

75
0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4 4.5 5 5.5 6 6.5 7 7.5 8 8.5 9 9.5 10 10.5 11
Level Energi

3.2.1.2 Ameresium - 241

Percobaan Ameresium - 241

300
Impuls Ratarata (Hz)

250
9, 205.6
200

150

100

50
0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4 4.5 5 5.5 6 6.5 7 7.5 8 8.5 9 9.5 10
Level Energi
3.2.2 Grafik Simulasi
3.2.2.1 Radium - 226

Simulasi Radium - 226


193 181.2

173

Impuls Ratarata (Hz) 153

133 7.5, 126

113
3, 95.6
93

73
0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4 4.5 5 5.5 6 6.5 7 7.5 8 8.5 9 9.5 10
Level energi

3.2.2.2 Ameresium - 241

Simulasi Ameresium - 241


350 5.5, 329

300
impuls Ratarata (Hz)

250

200

150

100

50
0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4 4.5 5 5.5 6 6.5 7 7.5 8 8.5 9 9.5 10
Level Energi

3.3 Perhitungan
3.3.1 Percobaan
Diketahui : a max = 7,68 MeV
a min = 4,78 MeV
b max= 5,5
b min = 2
b =9
𝑎 max − 𝑎 𝑚𝑖𝑛 7,68−4,78 2,9
Kα = 𝑏 max − 𝑏 𝑚𝑖𝑛 = = 3,5 = 0,83
5,5−2

𝛼−𝑎 𝑚𝑖𝑛 𝛼−4,78


K𝛼 = 𝑏−𝑏 𝑚𝑖𝑛 0,83 = 9−2
(7)(0,83) = α – 4,78
5,81 = α – 4,78 α = 10,59 MeV
3.3.2 Simulasi
Diketahui : a max = 7,68 MeV
a min = 4,78 MeV
b max= 7,5
b min = 3
b = 5,5
𝑎 max − 𝑎 𝑚𝑖𝑛 7,68−4,78 2,9
Kα = 𝑏 max − 𝑏 𝑚𝑖𝑛 = = 4,5 = 0,64
7,5−3

𝛼−𝑎 𝑚𝑖𝑛 𝛼−4,78


K𝛼 = 𝑏−𝑏 𝑚𝑖𝑛 0,64 = 5,5−3
(2,5)(0,64) = α – 4,78
1,6 = α – 4,78 α = 6,38 MeV

3.4 Pembahasan
3.4.1 Analisis Prosedur
3.4.1.1 Fungsi Alat
Beberapa alat dan bahan yang digunakan dalam percobaan ini, antara lain
sebuah bahan radioaktif Ameresium–241, sebuah bahan radioaktif Radium-226,
sebuah digital counter, sebuah detektor sintilator, sebuah power supply, sebuah
penyangga, sebuah oscilloscope, sebuah single channel analyser, dan beberapa
kabel penghubung. Bahan radioaktif Ameresium–241 dan Radium-226 digunakan
sebagai bahan yang akan diamati jumlah impulsnya, di mana Radium-226
digunakan sebagai level energi acuan, sedangkan Ameresium-241 digunakan
sebagai bahan yang dicari besar energi radiasi gamma berdasarkan perbandingan
level energi Ameresium-241 terhadap literatur. Digital counter digunakan sebagai
alat penghitung jumlah impuls. Sintilator digunakan sebagai alat pendeteksi
adanya radiasi atau impuls radiasi gamma yang dipancarkan oleh bahan radioaktif
yang digunakan. Power supply digunakan sebagai pemberi atau sumber tegangan
pada rangkaian percobaan. Penyangga digunakan sebagai penyangga
sintilator.Oscilloscope digunakan sebagai penampil gelombang dari radiasi
gamma. Single channel analyser digunakan sebagai alat penentu level energi yang
digunakan pada percobaan. Kabel penghubung digunakan sebagai penghubung
antara alat yang satu dengan alat yang lain.

3.4.1.2 Fungsi Perlakuan


Sebelum percobaan dimulai, semua peralatan yang digunakan dirangkai
sesuai dengan ketentuan yang ada agar terhindar dari kerusakan alat. Setelah itu
sumber listrik dinyalakan agar peralatan yang telah dirangkai mendapatkan arus
listrik sehingga dapat berfungsi sebagaimana mestinya. Bahan radioaktif berupa
Radium-226 dimasukkan ke lubang penyangga dan dimasukkan pada detektor
agar dapat terdeteksi adanya radiasi alpha dari bahan tersebut. Jangan ada
praktikan yang berada di arah yang sama dengan bahan radioaktif tersebut karena
sangat berbahaya. Single channel analyser diset pada level energi 0 dan dilihat
angka yang keluar pada digital counter sebagai besarnya impuls atau intensitas
radiasi alpha yang terpancar. Dilakukan hal yang serupa pada level energi 0
sampai 10 dengan range pengambilan data sebesar 0,5. Frekuensi atau angka yang
muncul pada digital counter dicatat dan dilakukan pengulangan sebanyak 5 kali
untuk setiap level energi yang digunakan. Dilakukan pengulangan dalam
pengambilan data tersebut agar didapatkan variasi data percobaan berupa
gelombang yang terlihat pada oscilloscope. Langkah yang sama dilakukan untuk
bahan radioaktif Ameresium-241.

3.4.2 Analisis Hasil


Berdasarkan percobaan radiasi Alpha yang telah dilakukan didapatkan hasil data
di antaranya level energi, impuls radiasi yang kemudian dilakukan perata-rataan
sehingga menghasilkan impuls radiasi rata-rata. Pada percobaan praktikum, untuk
Radium-226 didapatkan jumlah impuls tertinggi pada level energi 2 dan 5,5 (puncak
sebelum dan sesudah puncak tertinggi utama), sedangkan untuk unsur Ameresium-241
semakin meningkatnya level energi yang digunakan maka impuls radiasi yang
terdeteksi akan semakin banyak. Data yang telah diperoleh kemudian dibuat suatu
grafik, di mana impuls rata-rata sebagai sumbu y dan level energi sebagai sumbu x,
baik untuk grafik unsur Radium-226 maupun unsur Ameresium-241. Berdasarkan
grafik yang telah dibuat tersebut dapat digunakan untuk menentukan energi kinetik
dari unsur Ameresium-241 dengan unsur Radium-226 sebagai faktor pembanding.
Besarnya energi kinetik yang diperoleh setelah dilakukan perhitungan yaitu 10,59
MeV, di mana hasil tersebut tidak sesuai dengan literatur yang memiliki nilai sebesar
5,5 MeV. Sedangkan untuk grafik simulasi didapatkan puncak tertinggi sebelum dan
sesudah puncak tertinggi utama berada pada level energi 3 dan 7,5 untuk unsur
Radium-226 dan puncak tertinggi untuk unsur Ameresium-241 pada level energi 5,5
MeV. Besarnya energi kinetik yang diperoleh setelah dilakukan perhitungan yaitu 6,38
MeV, dengan energi kinetik pada literatur sebesar 5,5 MeV untuk unsur Ameresium-
241. Ketidaksesuaian antara hasil percobaan dengan nilai literatur ini dapat disebabkan
oleh beberapa faktor yang salah satunya dapat disebabkan oleh kurang fokusnya
praktikan dalam melakukan percobaan atau kurang berfungsinya dengan baik alat atau
bahan yang digunakan untuk percobaan. Jika dibandingkan besarnya energi kinetik
antara praktikum dengan simulasi, pada praktikum terjadi perbedaan yang cukup jauh
antara nilai literatur dengan nilai yang telah diperoleh pada saat percobaan dilakukan
secara langsung daripada pada saat simulasi. Hal ini dapat dipengaruhi oleh beberapa
faktor, antara lain faktor alat maupun faktor keadaan, di mana pada percobaan
praktikum menggunakan alat maupun bahan yang sudah tua sehingga mengurangi
fungsi dari bahan atau alat yang digunakan yang berpengaruh terhadap impuls yang
terdeteksi pada detektor semikonduktor.
Radiasi adalah cara energi dikeluarkan oleh atom dalam bentuk sinar-X, sinar
gamma, neutron, atau partikel listrik. Kebanyakan atom yang stabil tidak bersifat
radioaktif, sedangkan atom yang tidak stabil bersifat radioaktif dan cennderung
melepaskan radiasi gamma atau praktikel ketika mencapai kestabilannya. Sinar alpha
merupakan radiasi partikel yang bermuatan positif. Partikel sinar alpha sama dengan
inti Helium -4, bermuatan +2e dan bermassa 4 sma. Partikel alpha adalah partikel
terberat yang dihasilkan oleh zat radioaktif. Sinar alpha dipancarkan dari inti dengan
kecepatan sekitar 1:10 kecepatan cahaya. Karena memiliki massa yang besar maka
sinar alpha memiliki daya tembus paling lemah diantara sinar-sinar radioaktif lainnya.
Di udara hanya dapat menembus beberapa cm saja dan tidak dapat menembus kulit.
Sinar alpha dapat dihentikan oleh selembar bertas basa. Sinar alpha segera kehilangan
energinya ketika bertabrakan dengan molekul media yang dilaluinya. Tabrakan
tersebut menyebabkan media yang dilaluinya mengalami ionisasi. Akhirnya partikel
alpha akan menangkap 2 elektron dan berubah menjadi atom Helium. Reaksi
peluruhan alpha sesuai dengan persamaan (1.2). nilai Q pada persamaan (1.2)
merupaka energi yang dilepaskan pada reaksi tersebut, di mana jika Q bernilai positif
menunjukkan bahwa reaksi tersebut menghasilkan energi, dan jika Q bernilai negatif
menunjukkan bahwa reaksi tersebut membutuhkan energi. Suatu reaksi akan
berlangsung secara spontan jika Q » 0. Nilai Q yang positif juga menunjukkan bahwa
massa letal inti hasil reaksi harus lebih kecil atau sama dengan massa inti sebelum
reaksi.

Pada prinsipnya detektor semikonduktor bekerja melalui konsep konduktivitas


suatu bahan yang disebabkan oleh adanya radiasi ionisasi. Energi radiasi yang
memasuki bahan semikonduktor akan diserap oleh bahan sehingga memberikan energi
yang cukup besar. Pada suhu ruang, beberapa elektron tereksitasi ke pita konduksi dan
ada lubang di pita valensi. Lubang ini dapat diisi elektron dari atom sebelahnya maka
seakan lubang ini dapat bergerak (tentu mmuatan positif inti atom tak berpindah).
Untuk mengontrol konduksi di semikonduktor, sejumlah kecil bahan dari golongan III
atau V yang dikenal sebagai doping diberikan pada bahan semikonduktor ini. Dengan
adanya bahan doping gol. V maka ada atom dari doping ini yang kelebihan elektron
(tak berpasangan). Elektron ini mudah terksitasi ke pita konduksi. Bahan ini menjadi
semikonduktor tipe n. Sebaliknya kalau doping dari golongan III maka atom doping
hanya bervalensi 3 maka ada sebuah lubang yang mudah diisi oleh elektron dari pita
valensi. Bahan ini menjadi semikonduktor tipe p). Sambungan semikonduktor dibuat
dengan menyambungkan semikonduktor tipe N dengan tipe P (P-N junction). Kutub
positif dari tegangan listrik eksternal dihubungkan ke tipe N sedangkan kutub
negatifnya ke tipe P. Jika semikonduktor tipe n dan tipe p disambungkan maka elektron
dari tipe n akan menyeberang sambungan menuju tipe p menyebabkan terjadinya
daerah deplesi. Di sekitar sambungan ini pembawa muatan bebas ternetralisasi.
Akibatnya terjadi medan listrik di sekitar sambungan yang mencegah penyeberangan
selanjutnya. Bila partikel radioaktif memasuki daerah deplesi dan menimbulkan
ionisasi (pasangan elektron dan hole) maka elektron dan hole akan bergerak dalam
arah berlawanan di bawah medan listrik yang ada sehingga tercipta pulsa elektronik
yang sebanding dengan energi partikel radioaktif tersebut. Hal tersebut menyebabkan
pembawa muatan positif akan tertarik ke atas (kutub negatif) sedangkan pembawa
muatan negatif akan tertarik ke bawah (kutub positif), sehingga terbentuk (depletion
layer) lapisan kosong muatan pada sambungan PN. Dengan adanya lapisan kosong
muatan ini maka tidak akan terjadi arus listrik. Bila ada radiasi pengion yang
memasuki lapisan kosong muatan ini maka akan terbentuk ion-ion baru, elektron dan
hole, yang akan bergerak ke kutub-kutub positif dan negatif. Tambahan elektron dan
hole inilah yang akan menyebabkan terbentuknya pulsa atau arus listrik. Sambungan
semikonduktor jenis n dan p yang bertindak sebagai detektor semikonduktor.
Partikel alpha ini dapat menghasilkan ionisasi, di mana ionisasi ini dapat
digunakan dalam bidang biologi yaitu dapat menggantikan sel-sel yang rusak secara
total. Partikel alpha tersebut ditembakkan pada inti atom maka akan menghasilkan
radioisotop (yang lebih sering digunakan untuk menembak adalah neutron). Muatan
positif partikel alpha sangat berguna dalam bidang industry, antara lain Radium-226
dapat digunakan untuk pengobatan kanker yakni dengan memisahkan jumlah kecil
Radium ke daerah yang terkena tumor, Polonium-210 berfungsi sebagai alat statit
eliminator dari paper mills di pabrik kertas dan industry lainnya, serta beberapa
detector asap memanfaatkan emisi alpha dari Ameresium-241 untuk membantu
menghasilkan arus listrik sehingga mampu menghasilkan alm saat terjadi kebakaran.
BAB IV
PENUTUP

4.4.1.1 Kesimpulan
Setelah dilakukan percobaan mengenai radiasi alpha, dapat diperoleh data berupa
jumlah impuls rata-rata, faktor perbandingan level energi radiasi alpha pada unsur
Radium dan Ameresium, serta level energi radiasi alpha Ameresium yang terdeteksi
berdasarkan faktor perbandingan tersebut. Data hasil percobaan praktikum diperoleh
level energi tertinggi pada 4,5 untuk Radium-226 dan 9 untuk Ameresium-241 dengan
energi kinetik sebesar 10,59 MeV. Sedangkan pada simulasi diperoleh level energi
tertinggi pada 5,5 untuk Radium-226 dan Ameresium-241 dengan energi kinetik sebesar
6,38.

4.2 Saran
Praktikan harus teliti dan berhati-hati terhadap bahan radioaktif yang digunakan pada
saat percobaan dilakukan.
DAFTAR PUSTAKA

Abdurrouf. 2015. Fisika Inti : Teori dan Penerapannya. Malang : Universitas Brawijaya.
Donya, Mohamed., M.Radford., A.Elgoindy., D.Firmin., M.H.Yacoub. 2014. Radiation in
Medicine : Origins, Risks, and Aspriration. Global Cardiology Science & Practice (A
Qatar Foundation Academic Journal). 57, 437-448.
Hallenbeck, William.H. 1994. Radiation Protection. New York : CLC Press LLC.
Wardhana. 1994. Teknik Analisis Radioaktivitas Lingkungan. Yogyakarta : Andi Offset.
LAMPIRAN

Hallenbeck, William H. 1994. Radiation Protection. New York.: CLC Press LLC.

Wardhana. 1994. Teknik Analisis Radioaktivitas Lingkungan. Yogyakarta: Andi Offset.


Abdurrouf. 2015. Fisika Inti : Teori dan Penerapannya. Malang : Universitas Brawijaya.
Donya, Mohamed., M. Radford., A. Elguindy., D. Firmin., M. H. Yacoub. 2014. Radiation in
Medicine : Origins, Risks, and Aspirations. Global Cardiology Science and Practice.
Aswan : Aswan Healt Centre.