Anda di halaman 1dari 7

LINGKUNGAN INTERNAL

Menurut Porter (1998) analisa internal yang dikenal dengan rantai nilai atau value
chain yang memposisikan perusahaan pada matriks strategi generik dan menemukan
keunggulan bersaing perusahaan, melalui analisa kompetensi inti. Rantai nilai menunjukkan
bahwa untuk mencapai suatu margin,perusahaan harus didukung oleh kegiatan utama dan
penunjang. Sedangkan menurut Jauch dan Glueck (2003) analisa lingkungan adalah suatu
proses yang digunakan perencana strategis untuk memantau sektor lingkungan dalam
menentukan peluang atau ancaman terhadap perusahaan. Lingkungan internal dibagi
menjadi lima faktor menurut Jauch dan Glueck (2003), faktor-faktor tersebut antara lain :
1. Faktor Pemasaran dan distribusi
2. Faktor Penelitian dan pengembangan suatu fungsi rekayasa
3. Faktor manajemen produksi dan operasi
4. Faktor sumber daya dan karyawan perusahaan
5. Faktor keuangan dan akuntansi

Analisa lingkungan internal dilakukan untuk mengetahui tingkat daya saing perusahaan
berdasarkan kondisi internal perusahaan berdasarkan kondisi internal perusahaan. Faktor
internal perusahaan sepenuhnya dapat dikendalikan sehingga kelemahan yang diketahuinya
dapat diperbaiki. Analisa internal yang dikenal dengan rantai nilai yang memposisikan
perusahaan pada matriks strategi generik dan menemukan keunggulan bersaing perusahaan
melalui analisa kompetensi inti. Rantai nilai ini mensyaratkan bahwa untuk mencapai suatu
margin, perusahaan harus didukung oleh kegiatan utama dan penunjang. (Porter, 1998)

Dengan demikian analisis lingkungan internal akan meliputi analisis mengenai sumber daya
manusia, kapabilitas dan kompetensi inti yang dimiliki oleh perusahaan. Masing-masing
komponen dari analisis lingkungan internal sebagai berikut:

1. Sumber Daya (Resources)


a. Tangible, merupakan sumber daya yang terlihat atau berwujud dalam data keuangan dan
mudah sekali diidentifikasi dan dievaluasi. Contohnya: Sumber daya Finansial : Kapasitas
kredit perusahaan. Kemampuan menghasilkan dana internal, dan sebagainya.Sumber daya
Fisik : Kecanggihan mesin pabrik. Lokasi pabrik atau lokasi usaha, dan sebagainya.Sumber
daya Manusia : Pengalaman, loyalitas, pelatihan, komitmen, dan sebagainya.Sumber daya
Organisasional : Sistem perencanaan, koordinasi, pengendalian, dan sebagainya
b. Intangible, merupakan sumber daya yang tidak terlihat pada neraca keuangan
perusahaan misalnya teknologi, inovasi dan reputasi (performance). Contohnya:Sumber
daya Teknologi: Persediaan teknologi: paten, merek dagang, hak cipta, dan sebagainya,
Sumber daya untuk Inovasi: Kegiatan riset, kreativitas, dan sebagainya,Reputasi
(performance): Merek, persepsi kualitas, hubungan baik dengan pemasok, dan sebagainya
c. Human Resources Perusahaan menilai sumber daya manusia atau karyawannya
berdasarkan pengetahuan, keterampilan, sikap dan perilaku yang untuk selanjutnya
dikembangkan juga penilaian terhadap kemampuan para karyawan untuk bekerja sama
secara lebih efektif.

2. Kapabilitas (Capability)
a. Pendekatan Fungsional, merupakan penentu kapabilitas perusahaan secara relative
terhadap fungsi-fungsi utama perusahaan antara lain: pemasaran, penjualan dan distribusi,
keuangan dan akuntansi, sumber daya manusia, produksi serta organisasi secara umum.
b. Pendekatan Rantai Nilai (Value Chain), kapabilitas yang didasarkan pada serangkaian
kegiatan yang berurutan yang merupakan sekumpulan aktivitas nilai (value activities) yang
dilakukan untuk mendesain, memproduksi, memasarkan, mengirim dan mendukung produk
dan jasa.

3. Kompetensi Inti (Core Competence)


Ada dua pengertian mengenai kompetensi, yakni kompetensi individual dan kompetensi
organisasi. Kompetensi individu meliputi pengetahuan (knowledge), keterampilan (skills)
dan kemampuan (abilities) yang dimiliki seseorang dalam suatu organisasi. Sedangkan
kompetensi organisasi merupakan tindakan kolektif dari karakteristik kompetensi individu
dalam tingkatan organisasi. Olson dan Bolton (2002) mengilustrasikan cakupan konsep
kompetensi dalam literature organisasi yang diadaptasi oleh Green (1999). Dikemukakan
bahwa kompetensi merujuk pada individu maupun organisasi. Karateristik individu meliputi
pengetahuan teknis dan keterampilan (technical knowledge and skills) dan keterampilan
kinerja, serta kompetensi penyumbang individu (performance skills and competencies of
individual contributors).

Lebih lanjut kompetensi inti diperkenalkan oleh Hamel dan Prahalad (1999).
Kompetensi inti merupakan sekumpulan keterampilan dan teknologi yang memungkinkan
suatu perusahaan menyediakan manfaat tertentu kepada pelanggan agar bersaing lebih
efektif. Ada tiga parameter yang dapat diterapkan untuk mengidentifikasi kompetensi inti
dalam perusahaan sebagai berikut:

Pertama, apakah kompetensi inti memberikan akses potensial kepada berbagai


macam pasar. Sebagai contoh, perusahaan yang memiliki kompetensi ini dalam sistem layar
monitor memungkinkan perusahaan tersebut menekuni berbagai bisnis seperti: TV mini,
kalkulator, monitor untuk komputer dan laptop, dashboard mobil, dan sebagainya.
Kedua, apakah kompetensi inti dapat memberikan kontribusi signifikan pada kegunaan yang
diterima pelanggan. Sebagai contoh, kompetensi Honda dalam mendesain dan membuat
mesin yang irit bahan bakar dan tahan uji memberikan nilai yang tinggi bagi pelanggannya
yang implikasinya membuat pelanggan enggan beralih kepada produsen lain.
Ketiga, apakah kompetensi inti yang dimiliki perusahaan membuat pesaing mengalami
kesulitan untuk meniru (imitasi). Jika dihubungkan dengan kapabilitas, maka seluruh
kompetensi inti merupakan kapabilitas dan sebaliknya tidak semua kapabilitas merupakan
kompetensi inti. Hanya kapabilitas yang mempunyai kriteria tertentu yang dapat
dikategorikan sebagian komptensi inti. Kemampuan atau kapabilitas merupakan kompetensi
inti jika memenuhi empat kriteria, yakni:

a. Kemampuan yang Bernilai (Valuable Capabilities), yakni kemampuan yang memungkinkan


perusahaan dapat memanfaatkan peluang dan meminimalkan ancaman eksternal.
b. Kemampuan yang Langka (Rare Capabilities), yakni kemampuan yang hanya dimiliki oleh
sangat sedikit pesaing, baik pesaing saat ini maupun pesaing yang akan datang.
c. Kemampuan yang Tidak Dapat Ditiru Secara Sempurna (Imperfectly Imitable Capabilities),
yakni kemampuan yang tidak mudah dikembangkan oleh perusahaan lain.
d. Kemampuan yang Tidak Dapat Diganti (Nonsubstitutable Capabilities), yakni kemampuan
yang sukar untuk digantikan.
Hal terpenting yang perlu dipahami bahwa kompetensi tidak harus dan tidak boleh
dijadikan penghambat untuk berubah apabila perusahaan memang memerlukannya. Jika
kompetensi inti yang lama berubah sejalan dengan globalisasi, perusahaan pun harus
menemukan kompetensi yang baru. Karena jika tidak melakukan perubahan, dikuatirkan
perusahaan tersebut akan mengalami kemunduran (competitive disadvantage). Hal ini
dilakukan dengan mempertahankan dan menopang kompetensi inti yang telah ada dan
secara simultan mengembangkan dan membentangkan apresiasi ke depan untuk
menemukan dan menghasilkan kompetensi inti yang baru.

Dalam perusahaan diperlukan juga analisa terhadap rantai nilai atau value chain.
Analisis value chain merupakan alat analisis yang berguna untuk memahami aktivitas-
aktivitas yang membentuk nilai suatu produk atau jasa dan digunakan untuk menciptakan
nilai bagi pelanggannya dalam mencapai suatu keunggulan yang kompetitif. Tujuan analisis
value-chain adalah untuk mengidentifikasi tahap-tahap value chain di mana perusahaan
dapat meningkatkan value untuk pelanggan atau untuk menurunkan biaya. Penurunan biaya
atau peningkatan nilai tambah dapat membuat perusahaan lebih kompetitif. Analisis value
chain membantu perusahaan dalam mengidentifikasi posisi perusahaan dan menganalisis
aktivitas-aktivitas yang ada dalam rantai nilai serta mengurangkan atau mengeliminasi
aktivitas yang tidak menciptakan nilai tambah pada produk atau jasa.

Istilah rantai nilai (value chain) menggambarkan cara untuk memandang suatu
perusahaan sebagai rantai aktivitas yang mengubah input menjadi output yang bernilai bagi
pelanggan. Nilai bagi pelanggan berasal dari tiga sumber dasar: aktivitas yang membedakan
produk, aktivitas yang menurunkan biaya produk dan aktivitas yang dapat segera memenuhi
kebutuhan pelanggan. Analisis rantai nilai (value chain analysis—VCA) berupaya memahami
bagaimana suatu bisnis menciptakan nilai bagi pelanggan dengan memeriksa kontribusi dari
aktivitas-aktivitas yang berbeda dalam bisnis terhadap nilai tersebut (Pears and Robinson,
2009). Sedangkan menurut Shank dan Govindarajan (2000), mendefinisikan Value Chain
Analyisis, merupakan alat untuk memahami rantai nilai yang membentuk suatu produk.
Rantai nilai ini berasal dari aktifitas-aktifitas yang dilakukan, mulai dari bahan baku sampai
ke tangan konsumen, termasuk juga pelayanan purna jual. Selanjutnya Porter (1985)
menjelaskan, Analisis value-chain merupakan alat analisis stratejik yang digunakan untuk
memahami secara lebih baik terhadap keunggulan kompetitif. Value chain dapat
mengidentifikasi dimana value pelanggan dapat ditingkatkan atau penurunan biaya, dan
untuk memahami secara lebih baik hubungan perusahaan dengan pemasok/supplier,
pelanggan, dan perusahaan lain dalam industri (Blocher/Chen/Lin, 1999 diterjemahkan oleh
A. Susty Ambarriani, 2000). Value Chain mengidentifikasikan dan menghubungkan berbagai
aktivitas stratejik diperusahaan (Hansen, Mowen, 2000). Sehingga dapat disimpulkan bahwa
analisis rantai nilai merupakan suatu alat yang digunakan untuk menciptakan nilai bagi
pelanggannya untuk mencapai suatu keunggulan yang kompetitif.

Sifat Value Chain tergantung pada sifat industri dan berbeda-beda untuk perusahaan
manufaktur, perusahaan jasa dan organisasi yang tidak berorientasi pada laba. Tujuan dari
analisis value-chain adalah untuk mengidentifikasi tahap-tahap value chain di mana
perusahaan dapat meningkatkan value untuk pelanggan atau untuk menurunkan biaya.
Penurunan biaya atau peningkatan nilai tambah dapat membuat perusahaan lebih
kompetitif.

 Langkah 1: Identifikasi faktor-faktor Strategik Internal

Apa saja faktor-faktor strategik itu, dimana dan dari mana berasal, mana yang perlu
dievaluasi secara teliti, karena merupakan kekuatan dan kelemahan dan sebagai landasan
bagi strategi y.a.d.

Faktor-faktor kekuatan dan kelemahan potensial itu menurut Robinson(1997:238-230),


mencakup:
a. Pemasaran
b. Keuangan dan Akunting
c. Produksi, Operasi dan Teknik
d. Personalia
e. Manajemen Mutu
f. Sistem Informasi
g. Organisasi dan Manajemen Umum
h. Layanan
i. Pengembangan Teknologi
j. Manajemen Sumberdaya Manusia
k. Logistik kedalam

 Langkah 2-3 : Evaluasi Faktor-faktor Strategik Internal


1. Membandingkan kinerja dengan masa lalu
2. Perubahan dalam tahap-tahap evolusi organisaisi/perusahaan
3. Perbandingan dengan pesaing
4. Perbandingan dengan fakgtor-faktor kunci sukses dalam industri

Menganalisis dan Memilih Strategi (Strateg Analysis and Choice) ST strategi yaitu
menggunakan kekuatan untuk mengatasi tantangan eksternal. WT strategi merupakan
taktik defensip yang langsung dimaksudkan untuk mengurangi kelemahan dan menghindari
tantangan lingkungan. Untuk menentukan dan memilih setrategi yang paling tepat perlu
dilakukan analisis situasi sebagai beriktut:

Internal Situation Analisys

Internal Strategic Factors Weighted Rating Weighted Score Comments


STRENGHT
1.
2.
3.
4.
Dst.
WEAKNESS
1.
2.
3.
4.
Dst.

DAFTAR PUSTAKA

Glueck, William F, dan Lawrence R, Jauch. 1998. Manajemen Strategis dan Kebijakan
Perusahaan. Jakarta : Erlangga.

Porter, Michael E. Competetive Strategy. 1st. 1998.

Prahalad, C. K. 1996 Competing For the Future. Harvard Business Review Press