Anda di halaman 1dari 67

GAMBARAN UMUM KOPERASI & UMKM

1. Gambaran Umum Koperasi


Dilihat dari asal katanya, kata koperasi berasal dari bahasa latin “Coopere” dan
diserap dalam Bahasa Inggris menjadi Cooperation. Co berarti bersama dan operation berarti
bekerja, sehingga Cooperation berarti bekerja sama atau berusaha bersama-sama. Dalam hal
ini, kerjasama tersebut dilakukan oleh orang-orang yang mempunyai kepentingan yang sama
dan tujuan sama.
Koperasi adalah organisasi bisnis yang dimiliki dan dioperasikan oleh orang-seorang
demi kepentingan bersama. Koperasi melandaskan kegiatan berdasarkan prinsip gerakan
ekonomi rakyat yang berdasarkan asas kekeluargaan. Selanjutnya koperasi memiliki karakter
sebagai berikut yaitu: organisasi bisnis, dioperasikan orang-seorang, untuk kepentingan
bersama, kegiatan prinsip gerakan ekonomi rakyat dan berasaskan kekeluargaan.
Berikut beberapa definisi koperasi.
1) Definisi ILO
Definisi ILO (International Labour Organization, 1975) menyatakan sebagai berikut:
“Cooperative defined as an association of persons usually of limited means, who have
voluntarity joined together to achieve a common economic end through the formation of a
democratically controlled business organization, makin equitable contribution to the capital
required and accepting a fair share of the risk and benefits of the undertaking” yang berarti
koperasi adalah perkumpulan orang-orang, penggabungan orang-orang tersebut berdasarkan
kesukarelaan, terdapat tujuan ekonomi yang ingin dicapai, koperasi yang dibentuk adalah
suatu organisasi bisnis yang diawasi dan dikendalikan secara demokratis, terdapat kontribusi
yang adil terhadap modal yang dibutuhkan, anggota koperasi menerima risiko dan manfaat
secara seimbang.
2) Definisi Moh. Hatta
Moh. Hatta yang diberi gelar sebagai “Bapak Koperasi Indonesia” mendefinisikan
koperasi sebagai usaha bersama untuk memperbaiki nasib penghidupan ekonomi berdasarkan
tolong menolong. Semangat tolong menolong tersebut didorong oleh keinginan memberi jasa
berdasarkan seorang buat semua dan semua buat seorang.
3) Undang Undang Nomor 12 Tahun 1967
Undang-undang Nomor 12 tahun 1967 tentang pokok-pokok perkoperasian
mendefinisikan sebagai berikut: “Koperasi Indonesia adalah organisasi ekonomi rakyat yang
berwatak sosial beranggotakan orang-orang atau badan-badan hukum koperasi yang
merupakan tata susunan ekonomi sebagai usaha bersama berdasarkan atas azas kekeluargaan”
4) Undang Undang No. 25 Tahun 1992
UU No. 25 tahun 1992, Koperasi didefinisikan sebagai: “Badan usaha yang
beranggotakan orang seorang, atau badan hukum koperasi, dengan melandaskan kegiatannya
berdasarkan prinsip-prinsip koperasi sekaligus sebagai gerakan ekonomi rakyat yang
berdasarkan atas azas kekeluargaan”.
Berdasarkan pengertian di atas, Koperasi Indonesia mengandung 5 elemen sebagai
berikut:
(1) Koperasi adalah badan usaha
Sebagai badan usaha, maka koperasi harus memperoleh laba. Laba merupakan
elemen kunci dalam suatu sistem usaha bisnis, dimana sistem itu akan gagal bekerja
tanpa memperoleh laba.

1
(2) Koperasi adalah kumpulan orang-orang dan atau badan-badan hukum koperasi.
Ini berarti bahwa, koperasi Indonesia bukan kumpulan modal. Dalam hal ini,
UU No. 25 Tahun 1992 memberikan jumlah minimal orang-orang (anggota) yang
ingin membentuk organisasi koperasi (minimal 20 orang), untuk koperasi primer dan
tiga badan hukum koperasi untuk koperasi sekunder. Syarat lain yang harus dipenuhi
ialah anggota-anggota tersebut mempunyai kepentingan ekonomi yang sama.
(3) Koperasi Indonesia adalah koperasi yang bekerja berdasarkan “prinsip-prinsip
koperasi”.
(4) Koperasi Indonesia adalah “Gerakan Ekonomi Rakyat”
Ini berarti bahwa, Koperasi Indonesia merupakan bagian dari sistem
perekonomian nasional. Dengan demikian, kegiatan usaha koperasi tidak semata-mata
hanya ditujukan kepada anggota, tetapi juga masyarakat umum.
(5) Koperasi Indonesia “berazaskan kekeluargaan”
Dengan azas ini, keputusan yang berkaitan dengan usaha dan organisasi
dilandasi dengan jiwa kekeluargaan. Segala keputusan yang diambil seyogyanya
berdasarkan musyawarah dan mufakat. Inti dari azas kekeluargaan yang dimaksud
adalah adanya rasa keadilan dan cinta kasih dalam setiap aktivitas yang berkaitan
dengan kehidupan berkoperasi.
Dalam UU No. 25 tahun 1992 Pasal 3 disebutkan bahwa koperasi bertujuan
memajukan kesejahteraan anggota pada khususnya dan masyarakat pada umumnya serta ikut
membangun tatanan perekonomian nasional dalam rangka mewujudkan masyarakat yang
maju, adil dan makmur berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.
Selain tujuan koperasi, UU No. 25 tahun 1992 menyatakan juga fungsi koperasi untuk
Indonesia. Sebagaimana dituangkan dalam pasal 4, fungsi koperasi adalah sebagai berikut:
1) Membangun dan mengembangkan potensi dan kemampuan ekonomi anggota pada
khususnya dan masyarakat pada umumnya untuk meningkatkan kesejahteraan ekonomi
dan sosialnya.
2) Berperan serta secara aktif dalam upaya mempertinggi kualitas kehidupan manusia dan
masyarakat.
3) Memperkokoh perekonomian rakyat sebagai dasar kekuatan dan ketahanan perekonomian
nasional dengan koperasi sebagai gurunya.
4) Berusaha untuk mewujudkan dan mengembangkan perekonomian nasional yang
merupakan usaha bersama berdasar atas azas kekeluargaan dan demokrasi ekonomi.
1.1 Konsep Koperasi Sebagai Organisasi Bisnis
Pengertian Koperasi sebagai Organisasi Usaha
1) Pertama, UU No. 25 Tahun 1992 Koperasi badan usaha yang beranggotakan orang
seorang atau badan hukum koperasi, dengan berlandaskan kegiatan berdasarkan prinsip
koperasi sekaligus sebagai gerakan ekonomi rakyat yang berdasar atas asas kekeluargaan.
2) Kedua, International Cooperation Alliance (ICA) Koperasi sebagai kumpulan orang-
orang atau badan hukum yang bertujuan untuk memperbaiki sosial ekonomi anggotanya
dan memenuhi kebutuhan ekonomi anggota dengan saling membantu antar anggota serta
usaha tersebut harus didasarkan pada prinsip-prinsip koperasi.
3) Ketiga, Koperasi adalah suatu organisasi bisnis yang para pemilik/anggotanya adalah juga
pelanggan utama perusahaan tersebut.

2
Ropke (1985, h.24) Ropke, Jochen, 1987. “The Economic Theory of Cooperative
Enterprise in Developing Countries, With Special Reference of Indonesia”. Marbrug. Jerman
Dari buku: Hendar (2010). “Manajemen Koperasi. Erlangga: Jakarta. Hal: 19. Berdasarkan
pandangan Ropke tersebut, dikembangkan koperasi yang sesuai dengan aktivitas
angggotanya:

1) Koperasi Pemasaran (Marketing Cooperative): menjual produk dari bisnis mereka sendiri.
2) Koperasi Konsumen (Consumer Cooperation): Jika produk yang dibeli dari suatu
perusahaan adalah barang konsumsi akhir.
3) Koperasi Produsen (Productive Cooperation): para produsen secara bersama-sama
memproduksi barang tertentu, kemudian produk dijual ke pasar umum/para pelanggan.
4) Koperasi Pelayanan (Cooperative Service): menyediakan pelayanan pada para
anggotanya, seperti: asuransi, kredit, telpon, listrik, rumah sakit, fasilitas pengolahan data
dengan komputer, dan lain-lain.
5) Koperasi Pembelian dan Penjualan (Selling and Buying Cooperative): koperasi yang
menjual dan menjual produk kepada angggotanya.
6) Koperasi Simpan Pinjam: koperasi menerima tabungan dari para angggotanya
(marketing) dan menyediakan pinjaman kepada anggotanya (purchasing).
7) Koperasi Serba Usaha: kelima koperasi tipe diatas dapat dikombinasikan).

Koperasi di Indonesia didasarkan pada Undang-Undang Nomor. 25 tahun 1992


tentang Perkoperasian. Pernah mengalami perubahan dengan adanya Undang-Undang nomor
tahun 2013 tentang Perkoperasian. Namun setelah diajukan dan dilakukan uji materiil di
Mahkamah Konstitusi (MK) pada 2015 UU nomor tahun 2013 dinyatakan tidak sesuai
dengan prinsip-prinsip koperasi dan memberlakukan kembali UU Nomor 25 tahun 1992
tentang perkoperasian sebagai landasan hukum di Indonesia.

Dengan keputusan perkoperasian di Indonesia kembali menggunakan UU Nomor 25


tahun 1992 sebagai dasar dalam berorganisasi. Selanjutnya terbit surat keputusan sebagai
berikut:

1) Surat Keputusan Dewan Koperasi Indonesia Nomor: SKEP/03/DEKOPIN-E/I/2015


tentang Perubahan Lambang/Logo Gerakan Koperasi Indonesia.
2) Sesuai dengan Peraturan Menteri Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah Republik
Indonesia Nomor: 01/Per/M.KUKM/II/2015 tentang Perubahan Lambang/Logo Gerakan
Koperasi Indonesia.

1.2 Prinsip-Prinsip Koperasi


Prinsip-prinsip koperasi adalah penjabaran lebih operasional dari nilai-nilai koperasi
yang dijadikan sebagai pedoman dalam pelaksaanaan kegiatan koperasi baik kegiatan
organisasi maupun kegiatan usaha koperasi. Prinsip koperasi konsumsi merupakan yang
pertama kali lahir, yaitu saat berdirinya koperasi di kota Rochdale Inggris tahun 1844, yang
didirikan oleh 28 orang buruh dibawah pimpinan Charles Howart. Adapun prinsip koperasi
Rochdale adalah sebagai berikut:

3
1) Keanggotaan terbuka
Koperasi terbuka bagi semua orang yang sukarela ingin menjadi anggota. Tidak ada
pembatasan untuk turut serta menjadi anggota koperasi.
2) Satu anggota satu suara
Masing-masing anggota koperasi mempunyai hak suara dalam rapat pemilihan pengurus
dan dalam keputusan-keputusan mengenai kebijaksanaan koperasi. Keputusan yang
diambil, baik dalam pemilihan pengurus maupun kebijakan lainnya harus ditentukan
berdasarkan suara terbanyak.

3) Pembagian SHU sebanding dengan transaksi yang dilakukan oleh anggota


Anggota akan menerima pembagian sisa hasil usaha sesuai dengan jasa atau kontribusi
mereka di koperasi, tiap periode tertentu, biasanya setiap tahun.
4) Pembatasan bunga atas modal
Anggota dan pihak lain yang menanamkan modal di koperasi akan mendapatkan imbalan,
yaitu bunga. Besarnya bunga tersebut lebih rendah atau tidak melebihi suku bunga yang
berlaku.
5) Netral dalam politik dan agama
Baik pengurus ataupun anggota harus netral dalam soal politik dan agama. Membicarakan
perbedaan paham politik (partai) dan agama dalam koperasi dapat membuyarkan kerja
sama dan hal ini berdampak negatif terhadap kehidupan koperasi.
6) Penjualan secara tunai
Prinsip ini menghendaki agar transaksi yang dilakukan anggota adalah dengan tunai.
Barang-barang yang dibeli oleh anggota dari koperasinya harus dibayar secara tunai.
Anggota harus menghindari diri dari lilitan hutang.
7) Memajukan pendidikan
Koperasi bertujuan untuk meningkatkan status sosial dari anggota-anggotanya. Untuk
maksud tersebut, koperasi dapat mengambil peranan penting diantaranya melalui jalur
pendidikan. Koperasi harus memperhatikan pendidikan anggota-anggotanya.
Prinsip Raiffeisen dikemukakan oleh Freidrich William Raiffeisen (1818-1888)
walikota Flammersfelt di Jerman. Beliau memberikan perhatian terhadap keadaan
perekonomian yang buruk di Jerman ketika itu, terutama nasib para petani di daerah
pedesaan. Oleh karena itu F.W. Raiffeisen mengembangkan koperasi kredit dan bank rakyat.
Adapun prinsip Raiffeisen adalah:
1) Swadaya
Swadaya atau kekuatan atau usaha mandiri mengandung makna bahwa para petani harus
dapat mengatasi kesulitan dengan kekuatannya sendiri tanpa bantuan dari manapun
asalnya.
2) Daerah kerja terbatas
Daerah operasi dari koperasi terbatas pada daerah dimana masing-masing anggota saling
mengenal dengan baik.
3) SHU untuk cadangan
Seluruh SHU yang diperoleh koperasi dipergunakan dipergunakan dalam memperkuat
modal koperasi. Penerapan prinsip ini akan berimplikasi terhadap pemantapan swadaya
koperasi.
4
4) Tanggung jawab anggota tidak terbatas
Prinsip ini menekankan bahwa apabila koperasi menderita kerugian, maka kerugian
menjadi tanggungan anggota
5) Pengurus bekerja atas dasar kesukarelaan
pengurus tidak memperoleh gaji atau imbalan jasa dari koperasinya, sebab pengurus harus
dipilih dari anggota. Koperasi harus memperjuangkan kepentingan anggota yang berarti
juga kepentingan pengurus.
6) Usaha hanya kepada anggota
Prinsip Raiffeisen menekankan hal ini dimana koperasi hanya melayani anggotanya,
sebab tanggung jawab anggota yang tidak terbatas.
7) Keanggotaan atas dasar watak, bukan uang.

Selain F.W. Raiffeisen, seorang ahli hukum bernama Herman Schulze di kota
Delitzsch Jerman, memberikan perhatian untuk memperbaiki kehidupan para pengusaha kecil
seperti pengrajin, pedagang eceran, wirausaha industri kecil, dan jenis usaha lainnya. Upaya
yang dilakukan Schulze adalah mengembangkan gagasan koperasi bagi pengusaha kecil di
daerah pinggiran kota. Inti prinsip Schulze adalah sebagai berikut:
1) Swadaya
Swadaya atau kekuatan atau usaha mandiri mengandung makna bahwa anggota koperasi
harus dapat mengatasi kesulitan dengan kekuatannya sendiri tanpa bantuan dari manapun
asalnya.
2) Daerah kerja tak terbatas
Daerah operasi dari koperasi tak terbatas pada daerah dimana masing-masing anggota
saling belum mengenal dengan baik.
3) SHU untuk cadangan dan untuk dibagikan ke anggota
Prinsip ini dikembangkan dimana SHU dibagi selain disisihkan sebagian untuk cadangan,
sebagian lagi dibagi kepada anggotanya
4) Tanggung jawab anggota terbatas
Prinsip ini menekankan bahwa apabila koperasi menderita kerugian, maka kerugian
bukan menjadi tanggungan anggota.
5) Pengurus bekerja dengan mendapat imbalan
Makna dari prinsip ini bahwa pengurus memperoleh gaji atau imbalan jasa dari
koperasinya.
6) Usaha tidak terbatas, tidak hanya untuk anggota
Koperasi tidak hanya melayani anggota tetapi juga bukan anggota, sebab tanggung jawab
anggota yang tidak terbatas.
Prinsip koperasi yang dianut oleh gerakan koperasi internasional saat ini adalah
prinsip yang disepakati pada kongres ICA di Mancester, Inggris pada tanggal 23 September
1995. ICA adalah gabungan gerakan koperasi internasional yang beranggotakan 700 juta
orang lebih, berasal dari 70 negara, berpusat di Genewa, Swiss. Untuk wilayah Asia-Fasifik
berkantor di New Delhi, India. Prinsip koperasi terbaru yang dikembangkan International
Cooperative Alliance (Federasi koperasi non-pemerintah internasional) berdasarkan ICA No.
58 tahun 1995) yaitu:

5
1) Keanggotaan yang bersifat terbuka dan sukarela (voluntary and open membership).
Koperasi adalah organisasi yang keanggotaannya bersifat sukarela dan terbuka bagi setiap
orang yang bersedia menggunakan jasa-jasa pelayanannya, dan bersedia menerima
tanggung jawab keanggotaan, tanpa membedakan gender (jenis kelamin), latar belakang
sosial, ras, politik atau agama. Di dalam praktek, keanggotaan sukarela dan terbuka ini
tentunya dapat dijabarkan dengan persyaratan-persyaratan yang mengatur hak dan
kewajiban sebagai anggota koperasi yang lebih lanjut diatur dalam Anggaran Dasar
Koperasi.
2) Pengelolaan yang demokratis (democratic member control).
Koperasi adalah organisasi terbuka yang demokratis diawasi oleh para anggotanya, yang
secara aktif menetapkan kebijakan dan membuat keputusan. Anggota baik laki-laki
maupun perempuan yang dipilih sebagai pengurus atau pengawas bertanggung jawab
kepada rapat anggota. Dalam koperasi primer anggota memiliki hak suara yang sama
(satu anggota satu suara). Pada tingkat lainnya, koperasi juga dikelola secara demokratis.

3) Partisipasi anggota dalam ekonomi (member economic participation).

Anggota menyetorkan modal mereka secara adil dan melakukan pengawasan secara
demokratis. Sebagian dari modal tersebut adalah milik bersama untuk dijadikan modal
perusahaan koperasi yang menjalankan fungsi ekonomi dalam memberikan pelayanan
kepada anggota. Pelayanan yang disediakan oleh perusahaan koperasi ini harus
dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh anggota (partisipasi pemanfaatan pelayanan).
Partisipasi pemanfaatan pelayanan ini bila koperasi efisien akan menghasilkan surplus
yang di Indonesia dikenal dengan Sisa Hasil Usaha (SHU). Bila ada balas jasa terhadap
modal, diberikan secara terbatas. Anggota mengalokasikan SHU untuk beberapa hal
seperti mengembangkan koperasi, caranya dengan membentuk cadangan untuk
menambah permodalan koperasi, dibagikan kepada anggotanya secara proporsional dan
adil berdasarkan jasa transaksi masing-masing anggota kepada koperasinya dan
mendukung kegiatan lainnya yang disepakati dalam rapat anggota.

4) Kebebasan dan otonomi (autonomy and independence).

Koperasi adalah organisasi otonom dan mandiri yang dimodali, dikelola, diawasi dan
dipergunakan oleh para anggotanya. Apabila koperasi membuat perjanjian dengan pihak
lain, termasuk pemerintah, atau memperoleh modal dari luar, maka hal itu harus
berdasarkan peryaratan yang tetap menjamin adanya upaya pengambilan keputusan dan
pengawasan yang demokratis oleh anggotanya dengan tetap mempertahankan otonomi
koperasi.

5) Pengembangan pendidikan, pelatihan, dan informasi (education, training dan


information).

Koperasi memberikan pendidikan dan pelatihan bagi anggota, pengurus, pengawas,


manajer, dan karyawannya. Tujuannya agar mereka dapat melaksanakan tugas dengan
lebih efektif bagi perkembangan koperasi. Koperasi juga wajib memberikan informasi

6
kepada anggota dan masyarakat umum, khususnya kepada orang-orang muda dan tokoh-
tokoh masyarakat mengenai hakekat dan manfaat berkoperasi.

6) Kerjasama antar koperasi (cooperative among cooperatives).

Dengan bekerjasama pada tingkat lokal, nasional, regional, dan internasional, maka
gerakan koperasi diharapkan mampu melayani anggotanya dengan efektif dan dapat
memperkuat jaringan gerakan koperasi.

7) Bekerja untuk kepentingan komunitas (concern for community).

Koperasi melakukan kegiatan dituntut untuk mengembangkan masyarakat sekitarnya


secara berkelanjutan, dengan tetap memperhatikan kelestarian lingkungan ekosistem
melalui kebijakan yang diputuskan oleh rapat anggota.

Disamping prinsip-prinsip koperasi internasional yang telah diuraikan di atas, koperasi


Indonesia secara khusus memiliki prinsip-prinsip koperasi Indonesia yang dituangkan dalam
UU No. 25 tahun 1992 tentang perkoperasian yaitu:

1) Keanggotaan bersifat sukarela dan terbuka.


Sifat kesukarelaan dalam keanggotaan Koperasi mengandung makna bahwa menjadi
anggota koperasi tidak boleh dipaksakan oleh siapapun. Sifat kesukarelaan juga mengandung
makna bahwa seorang anggota dapat mengundurkan diri dari koperasinya sesuai dengan
syarat yang ditentukan dalam Anggaran Dasar Koperasi. Sedangkan sifat terbuka memiliki
arti bahwa dalam keanggotaan tidak dilakukan pembatasan atau diskriminasi dalam bentuk
apapun.
2) Pengelolaan dilakukan secara demokrasi.
Prinsip demokrasi menunjukkan bahwa pengelolaan koperasi dilakukan atas kehendak
dan keputusan para anggota. Para anggota itulah yang memegang dan melaksanakan
kekuasaan tertinggi dalam koperasi.
3) Pembagian sisa hasil usaha dilakukan secara adil sesuai dengan jasa usaha masing-masing
anggota.
Pembagian sisa hasil usaha kepada anggota dilakukan tidak semata-mata berdasarkan
modal yang dimiliki seseorang dalam koperasi tetapi juga berdasarkan perimbangan jasa
usaha anggota terhadap koperasi. Ketentuan yang demikian ini merupakan perwujudan nilai
kekeluargaan dan keadilan.
4) Pemberian balas jasa yang terbatas terhadap modal.
Modal dalam koperasi pada dasarnya dipergunakan untuk kemanfaatan anggota dan
bukan untuk sekedar mencari keuntungan. Oleh karena itu balas jasa terhadap modal yang
diberikan kepada para anggota juga terbatas, dan tidak didasarkan semata-mata atas besarnya
modal yang diberikan. Yang dimaksud dengan terbatas adalah wajar dalam arti tidak melebihi
suku bunga yang berlaku dipasar.
5) Kemandirian.
Kemandirian mengandung pengertian dapat berdiri sendiri, tanpa bergantung pada
pihak lain yang dilandasi oleh kepercayaan kepada pertimbangan, keputusan, kemampuan,
dan usaha sendiri. Dalam kemandirian terkandung pula pengertian kebebasan yang
7
bertanggung jawab, otonomi, swadaya, berani mempertanggungjawabkan perbuatannya
sendiri, dan kehendak untuk mengelola diri sendiri.
6) Pendidikan perkoperasian
Untuk meningkatkan kemampuan manajemen dan terlaksananya prinsip-prinsip
koperasi, maka penting sekali anggota, pengurus dan karyawan koperasi ditingkatkan
pemahaman, kesadaran dan keterampilannya melalui pendidikan. Besarnya biaya pendidikan
ditetapkan oleh anggota dalam rapat anggota.
7) Kerjasama antar koperasi.
Koperasi dapat bekerjasama dengan koperasi-koperasi lain di tingkat lokal, nasional
ataupun internasional. Di Indonesia, koperasi-koperasi primer bisa membentuk pusat dan
induk di tingkat regional dan nasional.

Menurut UU No. 17 tahun 2012 tentang perkoperasian, prinsip koperasi terdiri dari
1) Keanggotaan koperasi bersifat sukarela dan terbuka.
2) Pengawasan oleh anggota diselenggarakan secara demokratis.
3) Anggota berpartisipasi aktif dalam kegiatan ekonomi koperasi.
4) Koperasi merupakan badan usaha swadaya yang otonom dan independen.
5) Koperasi menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan bagi anggota, pengawas, pengurus,
dan karyawannya, serta memberikan informasi kepada masyarakat tentang jati diri,
kegiatan, dan kemanfaatan koperasi.
6) Koperasi melayani anggotanya secara prima dan memperkuat gerakan koperasi, dengan
bekerja sama melalui jaringan kegiatan pada tingkat lokal, nasional, regional, dan
internasional.
7) Koperasi bekerja untuk pembangunan berkelanjutan bagi lingkungan dan masyarakatnya
melalui kebijakan yang disepakati oleh anggota.

1.3 Bentuk dan Jenis Koperasi


Jenis Koperasi menurut fungsinya:

1) Koperasi pembelian/pengadaan/konsumsi adalah koperasi yang menyelenggarakan fungsi


pembelian atau pengadaan barang dan jasa untuk memenuhi kebutuhan anggota sebagai
konsumen akhir. Di sini anggota berperan sebagai pemilik dan pembeli atau konsumen
bagi koperasinya. Koperasi ini dapat mengusahakan pembelian alat-alat pertanian dan
mengusahakan pembelian kebutuhan pokok sehari-hari. Contohnya adalah koperasi
pertanian, koperasi perikanan, koperasi konsumen, dan lain-lain.

2) Koperasi penjualan/pemasaran adalah koperasi yang menyelenggarakan fungsi distribusi


barang atau jasa yang dihasilkan oleh anggotanya agar sampai di tangan konsumen. Di
sini anggota berperan sebagai pemilik dan pemasok barang atau jasa kepada koperasinya.
Tujuan utama koperasi penjualan adalah untuk mencegah persaingan di antara para
produsen. Dengan bersatu dan bekerjasama di dalam sebuah koperasi penjualan, produsen
dapat mempertahankan harga yang layak untuk barang-barang hasil produksi mereka.
Misalnya para pengrajin menjual produksinya kepada toko koperasi yang dibentuk.

8
3) Koperasi produksi adalah koperasi yang menghasilkan barang dan jasa, dimana
anggotanya bekerja sebagai pegawai atau karyawan koperasi. Di sini anggota berperan
sebagai pemilik dan pekerja koperasi. Contoh koperasi produksi yaitu koperasi tani yang
menjual bibit untuk menanam padi dan koperasi membantu menyiapkan bahan baku
untuk dibuat kerajinan.

4) Koperasi jasa adalah koperasi yang menyelenggarakan pelayanan jasa yang dibutuhkan
oleh anggota, misalnya: simpan pinjam, asuransi, angkutan, dan sebagainya. Di sini
anggota berperan sebagai pemilik dan pengguna layanan jasa koperasi.

Apabila koperasi menyelenggarakan satu fungsi disebut koperasi tunggal usaha


(single purpose cooperative), sedangkan koperasi yang menyelenggarakan lebih dari satu
fungsi disebut koperasi serba usaha (multi purpose cooperative).

Jenis koperasi berdasarkan tingkat dan luas daerah kerja:

1) Koperasi Primer adalah koperasi yang yang minimal memiliki anggota sebanyak 20 orang
perseorangan. Syarat lainnya adalah orang-orang yang membentuk koperasi tersebut
harus memenuhi persyaratan anggaran dasar koperasi primer dan memiliki tujuan yang
sama. Contoh koperasi primer adalah Koperasi Unit Desa (KUD).
2) Koperasi Sekunder adalah koperasi yang terdiri dari gabungan badan-badan koperasi serta
memiliki cakupan daerah kerja yang luas dibandingkan dengan koperasi primer. Koperasi
sekunder dapat dibagi menjadi :
(1) koperasi pusat adalah koperasi yang beranggotakan paling sedikit 5 koperasi primer.
(2) gabungan koperasi adalah koperasi yang anggotanya minimal 3 koperasi pusat.
(3) induk koperasi adalah koperasi yang minimum anggotanya adalah 3 gabungan
koperasi.
Jenis Koperasi menurut status keanggotaannya:
1) Koperasi produsen adalah koperasi yang anggotanya para produsen barang/jasa dan
memiliki rumah tangga usaha. Koperasi yang didirikan oleh industri kecil yang bekerja
untuk kepentingan bersama yaitu terdiri dari pengusaha, pemilik alat-alat produksi dan
karyawan yang mempunyai kepentingan untuk menghidarkan diri dari kaum kapitalis dan
usahanya berhubungan langsung dengan bidang industri atau kerajinan. Biasanya
koperasi produsen atau produksi ini bisa berupa koperasi pertanian, koperasi peternakan,
koperasi kerajinan dan lain-lain.
2) Koperasi konsumen adalah koperasi yang anggotanya para konsumen akhir atau pemakai
barang/jasa yang ditawarkan para pemasok di pasar. Beberapa barang dan kebutuhan yang
biasa dijual di koperasi konsumen ini misalnya yaitu bahan pangan, pakaian, perabotan
rumah tangga dan lain-lain.
Kedudukan anggota di dalam koperasi dapat berada dalam salah satu status atau
keduanya. Dengan demikian pengelompokkan koperasi menurut status anggotanya berkaitan
erat dengan pengelompokan koperasi menurut fungsinya.

1.4 Arti Lambang Koperasi Lama

9
1) Gerigi roda/ gigi roda.
Upaya keras yang ditempuh secara terus menerus.Hanya orang yang pekerja keras
yang bisa menjadi calon Anggota dengan memenuhi beberapa persyaratannya.
2) Rantai (di sebelah kiri)
Ikatan kekeluargaan, persatuan dan persahabatan yang kokoh. Bahwa anggota sebuah
Koperasi adalah Pemilik Koperasi tersebut, maka semua Anggota menjadi bersahabat, bersatu
dalam kekeluargaan, dan yang mengikat sesama anggota adalah hukum yang dirancang
sebagai Anggaran Dasar (AD) / Anggaran Rumah Tangga (ART) Koperasi. Dengan bersama-
sama bersepakat mentaati AD/ART, maka Padi dan Kapas akan mudah diperoleh.
3) Kapas dan Padi (di sebelah kanan)
Kemakmuran anggota koperasi secara khusus dan rakyat secara umum yang
diusahakan oleh koperasi. Kapas sebagai bahan dasar sandang (pakaian), dan Padi sebagai
bahan dasar pangan (makanan).Mayoritas sudah disebut makmur-sejahtera jika cukup
sandang dan pangan.
4) Timbangan
Keadilan sosial sebagai salah satu dasar koperasi. Biasanya menjadi simbol hukum.
Semua Anggota koperasi harus adil dan seimbang antara “Rantai” dan “Padi-Kapas”, antara
“Kewajiban” dan “Hak”.Dan yang menyeimbangkan itu adalah Bintang dalam Perisai.
5) Bintang dalam perisai
Dalam perisai yang dimaksud adalah Pancasila, merupakan landasan idiil koperasi.
Bahwa Anggota Koperasi yang baik adalah yang mengindahkan nilai-nilai keyakinan dan
kepercayaan, yang mendengarkan suara hatinya.Perisai bisa berarti “tubuh”, dan Bintang bisa
diartikan “Hati”.
6) Pohon Beringin
Simbol kehidupan, sebagaimana pohon dalam Gunungan wayang yang dirancang oleh
Sunan Kalijaga. Dahan pohon disebut kayu (dari bahasa Arab “Hayyu”/kehidupan).
Timbangan dan Bintang dalam Perisai menjadi nilai hidup yang harus dijunjung tinggi.
7) Koperasi Indonesia
Koperasi yang dimaksud adalah koperasi rakyat Indonesia, bukan Koperasi negara
lain. Tata-kelola dan tata-kuasa perkoperasian di luar negeri juga baik, namun sebagai Bangsa
Indonesia harus punya tata-nilai sendiri.
8) Warna Merah Putih
Warna merah dan putih yang menjadi background logo menggambarkan sifat nasional
Indonesia.

Arti Lambang Warna Koperasi Baru

10
Sesuai dengan Peraturan Menteri Negara Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah
Nomor : 02/Per/M.KUKM/IV/2012 Tanggal : 17 April 2012 Tentang : Penggunaan Lambang
Koperasi Indonesia, maka lambang Koperasi indonesia yang lama digantikan dengan
lambang dan gambar yang baru. Adapun Arti Gambar dan Penjelasan Lambang Koperasi
sebagai berikut

1) Lambang Koperasi Indonesia dalam bentuk gambar bunga yang memberi kesan akan
perkembangan dan kemajuan terhadap perkoperasian di Indonesia, mengandung makna
bahwa Koperasi Indonesia harus selalu berkembang, cemerlang, berwawasan, variatif,
inovatif sekaligus produktif dalam kegiatannya serta berwawasan dan berorientasi pada
keunggulan dan teknologi.
2) Lambang Koperasi Indonesia dalam bentuk gambar 4 (empat) sudut pandang
melambangkan arah mata angin yang mempunyai maksud Koperasi Indonesia:
(1) sebagai gerakan koperasi di Indonesia untuk menyalurkan aspirasi;
(2) sebagai dasar perekonomian nasional yang bersifat kerakyatan
(3) sebagai penjungjung tinggi prinsip nilai kebersamaan, kemandirian, keadilan dan
demokrasi
(4) selalu menuju pada keunggulan dalam persaingan global
3) Lambang Koperasi Indonesia dalam bentuk Teks Koperasi Indonesia memberi kesan
dinamis modern, menyiratkan kemajuan untuk terus berkembang serta mengikuti
kemajuan jaman yang bercermin pada perekonomian yang bersemangat tinggi, teks
Koperasi Indonesia yang berkesinambungan sejajar rapi mengandung makna adanya
ikatan yang kuat, baik didalam lingkungan internal Koperasi Indonesia maupun antara
Koperasi Indonesia dan para anggotanya;
4) Lambang Koperasi Indonesia yang berwarna Pastel memberi kesan kalem sekaligus
berwibawa, selain Koperasi Indonesia bergerak pada sektor perekonomian, warna pastel
melambangkan adanya suatu keinginan, ketabahan, kemauan dan kemajuan serta
mempunyai kepribadian yang kuat akan suatu hal terhadap peningkatan rasa bangga dan
percaya diri yang tinggi terhadap pelaku ekonomi lainnya;
5) Lambang Koperasi Indonesia dapat digunakan pada papan nama kantor, pataka, umbul-
umbul, atribut yang terdiri dari pin, tanda pengenal pegawai dan emblem untuk seluruh
kegiatan ketatalaksanaan administratif oleh Gerakan Koperasi di Seluruh Indonesia;
6) Lambang Koperasi Indonesia menggambarkan falsafah hidup berkoperasi yang memuat :
Tulisan : Koperasi Indonesia yang merupakan identitas lambang;
Gambar : 4 (empat) kuncup bunga yang saling bertaut dihubungkan bentuk sebuah
lingkaran yang menghubungkan satu kuncup dengan kuncup lainnya, menggambarkan

11
seluruh pemangku kepentingan saling bekerja sama secara terpadu dan berkoordinasi
secara harmonis dalam membangun Koperasi Indonesia;
0
2. Gambaran Umum UMKM
2.1 Pengertian UMKM, menurut Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2008 Pasal 1
1) Usaha Mikro adalah usaha produktif milik orang perorangan dan/atau badan usaha
perorangan yang memenuhi kriteria Usaha Mikro sebagaimana diatur dalam Undang-
Undang ini.
2) Usaha Kecil adalah usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri, yang dilakukan oleh
orang perorangan atau badan usaha yang bukan merupakan anak perusahaan atau bukan
cabang perusahaan yang dimiliki, dikuasai, atau menjadi bagian baik langsung maupun
tidak langsung dari Usaha Menengah atau Usaha Besar yang memenuhi kriteria Usaha
Kecil sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang ini.
3) Usaha Mengah adalah usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri, yang dilakukan oleh
orang perorangan atau badan usaha yang bukan merupakan anak perusahaan atau cabang
perusahaan yang dimiliki, dikuasai, atau menjadi bagian baik langsung maupun tidak
langsung dengan Usaha Kecil atau Usaha Besar dengan jumlah kekayaan bersih atau hasil
penjualan tahunan sebagaimana diatur dalam UndangUndang ini.

2.2 Asas UMKM, menurut Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2008 Pasal 2


1) Kekeluargaan
2) Demokrasi ekonomi
3) Kebersamaan
4) Efisiensi berkeadilan
5) Berkelanjutan
6) Berwawasan lingkungan
7) Kemandirian
8) Keseimbangan kemajuan
9) Kesatuan ekonomi nasional

2.3 Tujuan UMKM, menurut Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2008 Pasal 2


Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah bertujuan menumbuhkan dan mengembangkan
usahanya dalam rangka membangun perekonomian nasional berdasarkan demokrasi ekonomi
yang berkeadilan.

2.4 Kriteria UMKM, menurut Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2008 Pasal 6


1) Kriteria Usaha Mikro adalah sebagai berikut:
(1) memiliki kekayaan bersih paling banyak Rp50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah)
tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha; atau
(2) memiliki hasil penjualan tahunan paling banyak Rp300.000.000,00 (tiga ratus juta
rupiah).
2) Kriteria Usaha Kecil adalah sebagai berikut:
(1) memiliki kekayaan bersih lebih dari Rp50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah) sampai
dengan paling banyak Rp500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah) tidak termasuk tanah
dan bangunan tempat usaha; atau
(2) memiliki hasil penjualan tahunan lebih dari Rp300.000.000,00 (tiga ratus juta rupiah)
sampai dengan paling banyak Rp2.500.000.000,00 (dua milyar lima ratus juta rupiah).
12
3) Kriteria Usaha Menengah adalah sebagai berikut:
(1) memiliki kekayaan bersih lebih dari Rp500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah) sampai
dengan paling banyak Rp10.000.000.000,00 (sepuluh milyar rupiah) tidak termasuk
tanah dan bangunan tempat usaha; atau
(2) memiliki hasil penjualan tahunan lebih dari Rp2.500.000.000,00 (dua milyar lima
ratus juta rupiah) sampai dengan paling banyak Rp50.000.000.000,00 (lima puluh
milyar rupiah).

UMKM di Indonesia didasarkan pada Undang – Undang Nomor 20 Tahun 2008


tentang Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM). UMKM terdiri dari:
1) Livelihood activities, merupakan usaha kecil menengah yang digunakan sebagai
kesempatan kerja untuk mencari nafkah, yang lebih umum dikenal sebagai sector
informal. Contohnya adalah pedagang bakso, mie ayam pangsit, somai, pentol dan cilok
yang dikenal sebagai pedagang kaki lima (PKL).
2) Micro enterprise, merupakan usaha kecil menengah yang memiliki sifat pengrajin tetapi
belum memiliki sifat kewirausahaan.
3) Small dynamic enterprise, merupakan usaha kecil menengah yang telah memiliki jiwa
kewirausahaan dan mampu menerima pekerjaan subkontrak dan ekspor.
4) Fast moving enterprise, merupakan usaha kecil menengah yang telah memiliki jiwa
kewirausahaan dan akan melakukan transformasi menjadi usaha besar
(industri/perusahaan
2.1 Penyebaran Organisasi Koperasi Modern
Organisasi koperasi terdapat hampir disemua Negara industry dan Negara
berkembang. Pada mulanya organisasi tersebut tumbuh di Negara – Negara industry di Eropa
Barat, namun kemudian setelah adanya kolonialisme di beberapa Negara Asia, Afrika, dan
Amerika Selatan, koperasi juga tumbuh di Negara – Negara jajahan. Setelah Negara – Negara
jajahan mengalami kemerdekaan, banyak Negara yang memanfaatkan koperasi sebagai salah
satu alat untuk meningkatkan kesejahteraan. Bahkan koperasi sebagai salah satu alat
pemerintah dalam melaksanakan kebijakan pembangunan.
2.2 Koperasi Modern Akhir Abad ke-18
Koperasi modern di dirikan pada akhir abad ke-18 terutama sebagai jawaban atas
masalah-masalah sosial yang timbul selama tahap awal Revolusi Industri. Perubahan-
perubahan yang berlangsung saat itu terutama disebabkan oleh perkembangan ekonomi pasar
dan penciptaan berbagai persyaratan pokok dalam ruang lingkup dimana berlangsung proses
industrialisasi serta modernisasi perdagangan dan pertanian yang cepat. Industri yang mula-
mula bercorak padat karya berubah menjadi padat modal dan produksi yang mula-mula
dilaksanakan berdasarkan pesanan berubah menjadi produksi untuk kebutuhan pasar
(produksi massa), bukan hanya pasar dalam negeri dan pasar di negara-negara Eropa tetapi
juga pasar di daerah jajahan. Perubahan ini membawa dampak terhadap berbagai kalangan
masyarakat, ada yang di untungkan tetapi ada juga yang di rugikan. Mereka yang paling
menderita selama tahap-tahap awal perubahan struktur ekonomi praindustri yang demikian
cepat , terdapat pada berbagai lapisan masyarakat , terutama di inggris dimana golongan
kaum buruh yang semakin besar di kota-kota harus menghadapi masalah pengangguran,
tingkat upah yang rendah, hubungan perburuhan dan syarat-syarat kerja yang jelek, dan tanpa
13
jaminan sosial. Para pekerja dan pengrajin kecil kalah bersaing dengan perusahaan industri
berskala besar dan petani penghasinannya hanya cukup untuk kebutuhan karena proses
pengintegrasian ke dalam ekonomi pasar yang sedang berkembang. (Hanel, 1998).
Pelopor organisasi koperasi dari Rochdale (Inggris) misalnya, telah memberikan
kontribusi yang cukup besar dalam perkembangan koperasi. Aturan-aturan yang mulanya
disusun hanya sekedar petunjuk tentang bagaimana seharusnya pokok koperasi konsumen
yang baik di organisasi dan dijalankan oleh para anggotanya sendiri kemudian menjadi
prinsip – prinsip koperasi Rochdale yang dijadikan dasar kegiatan oleh berbagai koperasi
dunia.
Selama periode 1950-1970, penyebaran dan pertambahan jumlah koperasi modern
terjadi dibanyak negara berkembang. Pemerintah dari negara-negara di Afrika yang baru
merdeka, demikian pula pemerintah di negara-negara Asia dan Amerika Selatan mulai
mendorong pembentukan organisasi koperasi dan memanfaatkannya sebagai sarana
pembangunan di bidang pertanian. Sejumlah kesimpulan dan rekomendasi telah dikeluarkan
oleh organisasi-organisasi Internasional mengenai peranan penting yang dapat dimainkan
oleh organisasi koperasi dalam pembangunan sosial ekonomi dan mengusulkan pemerintah-
pemerintah untuk mendorong perintisan dan pengembangan organisasi-organisasi swadaya.
Namun sejak awal tahun 70-an pula, organisasi-organisasi koperasi menjadi sorotan
utama dalam berbagai kritik. Kritik-kritik tersebut adalah: (Hanel,1989):
a) Dampak terhadap pembangunan yang kurang atau sangat kurang dari organisasi
koperasi, khususnya karena koperasi tidak banyak memberikan sumbangan dalam
mengatasi kemisikinan dan dalam mengubah struktur kekuasaan sosial politik setempat
bagi kepentingan golongan masyarakat yang miskin.
b) Jasa-jasa pelayanan yang diberikan oleh organisasi koperasi seringkali dinilai tidak
efisien dan tidak mengarah pada kebutuhan anggotanya, bahkan sebaliknya hanya
memberikan manfaat bagi para petani besar yang telah maju dan kelompok-kelompok
tersebut .
c) Tingkat efisiensi perusahaan-perusahaan koperasi rendah (manajemen tidak mampu,
terjadi penyelewengan , korupsi , nepotisme dll)
d) Tingkat ofisialisasi yang seringkali terlalu tinggi pada koperasi-koperasi (khususnya
koperasi pertanian), ditandai oleh adanya pengawasan dan dukungan/bantuan
pemerintah yang terlalu besar, struktur pengambilan keputusan dan komunikasi
seringkali memperlihatkan struktur yang hampir sama dengan strategi pengembangan
koperasi pada instasi-instasi pemerintah dan lembaga-lembaga semi pemerintah ,
ketimbang sebagai suatu organisasi swadaya yang otonom , parsitipasif dan berorientasi
pada anggota .
e) Terdapat kesalahan-kesalahan dalam pemberian bantuan pembangunan internasional dan
khususnya kelemahan-kelemahan pada strategi pembangunan pemerintahyang diterapkan
untuk penunjang organisasi-organisasi koperasi.
2.3 Sejarah Awal Koperasi Di Indonesia
Sejarah singkat gerakan koperasi bermula pada abad ke-20 yang pada umumnya
merupakan hasil dari usaha yang tidak spontan dan tidak dilakukan oleh orang-orang yang
sangat kaya. Koperasi tumbuh dari kalangan rakyat, ketika penderitaan dalam lapangan
ekonomi dan sosial yang ditimbulkan oleh sistem kapitalisme semakin memuncak. Beberapa
14
orang yang penghidupannya sederhana dengan kemampuan ekonomi terbatas, terdorong oleh
penderitaan dan beban ekonomi yang sama, secara spontan mempersatukan diri untuk
menolong dirinya sendiri dan manusia sesamanya. Beberapa tahap penting mengenai
perkembangan koperasi di daerah-daerah akan dikemukakan berikut ini:
1. Sekitar tahun 1896, patih purwokerto, yaitu R.Aria Wiriatmadja mendirikan
koperasi kredit seperti model Raffeisen di jerman guna membantu orang miskin
terutama pegawai negeri. Ia terdorong oleh keinginannya untuk menolong para
pegawai yang makin menderita karena terjerat oleh lintah darat yang memberikan
pinjaman dengan bunga yang tinggi. Maksud Patih tersebut untuk mendirikan
koperasi kredit model seperti di Jerman. Cita-cita semangat tersebut selanjutnya
diteruskan oleh De Wolffvan Westerrode, seorang asisten residen Belanda. De
Wolffvan Westerrode sewaktu cuti berhasil mengunjungi Jerman dan
menganjurkan akan mengubah Bank Pertolongan Tabungan yang sudah ada
menjadi Bank Pertolongan, Tabungan dan Pertanian. Selain pegawai negeri juga
para petani perlu dibantu karena mereka makin menderita karena tekanan para
pengijon. Ia juga menganjurkan mengubah Bank tersebut menjadi koperasi. Di
samping itu ia pun mendirikan lumbung-lumbung desa yang menganjurkan para
petani menyimpan pada pada musim panen dan memberikan pertolongan
pinjaman padi pada musim paceklik. Ia pun berusaha menjadikan lumbung-
lumbung itu menjadi Koperasi Kredit Padi. Tetapi Pemerintah Belanda pada
waktu itu berpendirian lain. Bank Pertolongan, Tabungan dan Pertanian dan
Lumbung Desa tidak dijadikan Koperasi tetapi Pemerintah Belanda membentuk
lumbung-lumbung desa baru, bank –bank Desa , rumah gadai dan Centrale Kas
yang kemudian menjadi Bank Rakyat Indonesia (BRI). Semua itu adalah badan
usaha Pemerntah dan dipimpin oleh orang-orang Pemerintah. Pada zaman Belanda
pembentuk koperasi belum dapat terlaksana karena:
a. Belum ada instansi pemerintah ataupun badan non pemerintah yang
memberikan penerangan dan penyuluhan tentang koperasi.
b. Belum ada Undang-Undang yang mengatur kehidupan koperasi.
c. Pemerintah jajahan sendiri masih ragu-ragu menganjurkan koperasi karena
pertimbangan politik, khawatir koperasi itu akan digunakan oleh kaum politik
untuk tujuan yang membahayakan pemerintah jajahan itu
2. Pada tahun 1908, Budi Utomo yang didirikan oleh Dr. Sutomo memberikan
peranan bagi gerakan koperasi untuk memperbaiki kehidupan rakyat, melalui
koperasi dan pendidikan dengan mendirikan koperasi rumah tangga. Hasilnya
kurang memuaskan karena kebanyakan prinsip-prinsip koperasi pada masa itu
belum dimengerti. Hal tersebut diperparah oleh kurangnya penerangan tentang
pengkoperasian.
a. Sama-sama mengembankan koperasi konsumsi untuk memenuhi kebutuhan
rumah tangga dengan cara membuka toko-toko koperasi.
b. Karena perkembangan pesat pemerintah Hindia Belanda cenderung
menghambat perkembangan koperasi dengan peraturan:
1. Akte pendirian koperasi dibuat secara notariil,
2. Akte pendirian harus dibuat dengan bahasa belanda,
3. Harus mendapat izin dari Gubernur Jenderal, dan
15
4. Dikenakan biaya materai sebesar f50.
3. Pada tahun 1915 dibuat peraturan Verordening op de Cooperatieve Vereeniging.
4. Pada tahun 1927 dibuat peraturan Regeling Inlandschhe Cooperatiev dibentuk
Serikat Dagang Islam, yang bertujuan untuk memperjuangkan kedudukan
ekonomi pengusah-pengusaha pribumi.
5. Kemudian pada tahun 1929, berdiri Partai Nasional Indonesia yang
memperjuangkan penyebarluasan semangat koperasi. Hingga saat ini kepedulian
pemerintah terhadap keberadaan koperasi nampak jelas dengan membentuk
lembaga yang secara khusus menangani pembinaan dan pengembangan koperasi.
Pada tahun 1929 menyelenggarakan kongres koperasi di Betawi. Dan Pada tahun
1929, PNI dibawah pimpinan Ir. Soekarno mengobarkan semangat berkoperasi
kepada kalangan pemuda. Pada periode ini sudah terdaftar 43 koperasi diseluruh
Indonesia
6. Pada tahun 1930, dibentuk bagian urusan koperasi pada kementerian dalam negeri
dimana tokoh yang terkenal masa itu adalah RM Margini Djojohadikusumo.
7. Pada tahun 1931 telah berdiri 172 koperasi yang disahkan pemerintah belanda
8. Pada tahun 1939 dibetuk koperasi dan perdagangan dalam negeri oleh pemerintah
9. Pada tahun 1940, di Indonesia sudah ada 574 koperasi yang sebagian besar
bergerak di pedesaan yang melayani simpan pinjam bagi anggotanya
10. Pada tahun 1942 pemerintah jepang memperkenalkan kumiyai yaitu koperasi
model jepang yang dalam kenyataannya digunakan sebagai alat untuk
mengumpulkan hasil bumi dan barang-barang kebutuhan jepang. Akibatnya
kepercayaan rakyat terhadap bagi pertumbuhan koperasi di Indonesia.
2.4 Sejarah Koperasi Setelah Indonesia Memproklamasikan Kemerdekaan
Setelah bangsa Indonesia merdeka tanggal 12 Juli 1947. Gerakan koperasi di
Indonesia mengadakan Kongres Koperasi pertama kalinya di Tasikmalaya. Hari itu kemudian
ditetapkanlah sebagai Hari Koperasi Indonesia. Kongres Koperasi pertama menghasilkan
beberapa keputusan:
1. Mendirikan sentral Organisasi Koperasi Rakyat Indonesia [SOKRI]
2. Menetapkan gotong royong sebagai asas koperasi
3. Menetapkan pada tanggal 12 Juli sebagai hari Koperasi
Pada tanggal 12 Juli 1953, mengadakan kembali Kongres Koperasi yang ke-2 di
Bandung. Kongres koperasi ke -2 mengambil putusan:
1. Membentuk Dewan Koperasi Indonesia [ Dekopin ]sebagai pengganti SOKRI
2. Menetapkan pendidikan koperasi sebagai salah satu mata pelajaran di sekolah
3. Mengangkat Moh. Hatta sebagai Bapak Koperasi Indonesia
4. Segera akan dibuat undang-undang koperasi yang baru
Pelaksanaan program perkoperasian pemerintah mengadakan kebijakan:
1. Menggiatkan pembangunan organisasi perekonomian rakyat terutam koperasi
2. Memperluas pendidikan dan penerangan koperasi
3. Memberikan kredit kepada kaum produsen, baik di lapangan industri maupun
pertanian yang bermodal kecil
1– 5 September 1956 Kongres Koperasi III di Jakarta. Hal-hal berkaitan dengan
kehidupan perkoperasian di Indonesia dan hubungan DKI dengan International Cooperative
Alliance (ICA).

16
Pada 1960 Peraturan Pemerintah No. 140 tentang penyaluran bahan pokok dan
penugasan koperasi untuk melaksanakan. Mulai ditumbuhkan koperasi-koperasi konsumsi.
Penumbuhan koperasi oleh pemerintah secara massal dan seragam tanpa memperhatikan
syarat-syarat pertumbuhan yang sehat, telah mengakibatkan pertumbuhan koperasi kurang
sehat.
1961 Musyawarah Nasional Koperasi I (Munaskop I) di Surabaya. Untuk melaksanakan
Demokrasi Terpimpin dan Ekonomi terpimpin, mempolitikan koperasi (verpolitisering) mulai
nampak. DKI diganti Kesatuan Organisasi Koperasi Seluruh Indonesia (KOKSI) bukan
semata-mata organisasi koperasi sendiri melainkan organisasi koperasi yang dipimpin oleh
pemerintah. UU Nomor 14 Tahun 1965. Musyawarah Nasional Koperasi (MUnaskop) II di
Jakarta untuk melegitimasi masuknya kekuatan-kekuatan politik dalam koperasi sebagaimana
diatur oleh UU Perkoperasian tersebut. KOKSI menyatakan keluar dari keanggotaan ICA.
Orde Baru. Pemerintah 18 Desember 1967 menyusun UU koperasi Baru dikenal UU No.
12/1967 tentang Pokok-Pokok Perkoperasian. Secara ideologi, koperasi Indonesia merupakan
satu-satunya wadah untuk menyusun perkonomian rakyat berazaskan kekeluargaan dan
kegotong-royongan yang menjadi ciri khas tata kehidupan bangsa Indonesia. Secara
organisasi, koperasi Indonesia menjamin adanya hak-hak individu serta memegang teguh
azas-azas koperasi. Rapat anggota merupakan kekuasaan tertinggi. Orba Menyusun Rencana
Pembangunan jangka Panjang tahap I (25 tahun). Pelita I Pembangunan: “koperasi ditik
beratkan pada investasi pengetahuan dan keterampilan orang-orang koperasi, baik sebagai
orang gerakan koperasi maupun pejabat-pejabat perkoperasian”. Sejak 1972 dikembangkan
penggabungan koperasi-koperasi kecil menjadi koperasi koperasi yang besar. Wilayah-
wilayah Unit Desa (WILUD) digabung menjadi organisasi yang besar dinamakan Badan
Usaha Unit Desa (BUUD) dan menjelma KUD (Koperasi Unit Desa) secara ekonomi menjadi
besar dan kuat maka mampu membiayai tenaga-tenaga yang cakap seperti manajer, juru
buku, juru mesin, juru toko, dll. Sehingga dipercaya untuk meminjam uang dari bank untuk
membeli barang- barang produksi yang lebih modern (msein gilingan padi, traktor, pompa air,
mesin penyemprot hama, dll)
Pada 1988 GBHN menetapkan bahwa koperasi dimungkinkan bergerak di berbagai
sektor ekonomi Sektor pertanian, industri, keuangan, perdagangan, angkutan, dsb. Pola
umum pelita kelima menyebutkan: “dunia usaha nasional yang terdiri dari usaha negara
koperasi dan usaha swasta perlu terus dikembangkan menjadi usaha yang sehat dan tangguh
dan diarahkan agar mampu meningkatkan kegairahan dan kegiatan ekonomi, serta
pemerataan pembangunan dan hasil-hasilnya, memperluas lapangan kerja, meningkatkan
taraf hidup hidup, kecerdasan dan kesejahteraan rakyat, serta memperkokoh persatuan &
kesatuan bangsa dan memantapkan ketahanan nasional”.
UU Koperasi No. 25 Tahun 1992 tentang Penyempurnaan UU No. 12 Tahun 1967 dan
Mengedepankan organisasi koperasi sebagai organisasi yang diberikan keleluasaan dalam
kegiatan ekonomi/bisnis.
2.5 Sejarah Perkembangan Koperasi Syariah di Indonesia
Pada tahun 1992, dimulai dengan kemunculan BMT (Baitul Maal Tamwil) Bina Insan
Kamil di Jakarta, perbincangan mengenai koperasi syariah mulai marak. Hal ini dikarenakan
suksesnya BMT Bina Insan Kamil memberikan warna baru bagi perekonomian, utamanya

17
bagi para pengusaha mikro. Sejak saat itu, wacana mengenai koperasi syariah mulai
mendapatkan perhatian yang cukup besar di dalam masyarakat. Pada awal berdirinya, BMT
ini hanya berbentuk KSM Syariah (Kelompok Swadaya Masyarakat Berlandaskan Syariah)
namun memiliki kinerja layaknya sebuah bank. Diklasifikasikannya BMT ke dalam KSM
Syariah saat itu semata-mata hanya untuk menghindari jeratan hukum sebagai bank gelap.
Hal ini terkait dengan peraturan Bank Indonesia yang memiliki program PHBK Bank
Indonesia (Pola Hubungan kerja sama antara Bank dengan Kelompok Swadaya Masyarakat).
Kemudian muncul Undang-Undang No. 7 Tahun 1992 tentang Perbankan, yang
menyebutkan bahwa segala kegiatan dalam bentuk penghimpunan dana masyarakat dalam
bentuk tabungan dan menyalurkan dalam bentuk kredit harus berbentuk bank, maka
munculah beberapa LPSM (Lembaga Pengembangan Swadaya Masyarakat) yang mencoba
memayungi KSM BMT. LPSM tersebut pada awalnya dimotori oleh P3UK, PINBUK oleh
ICMI dan FES Dompet Dhuafa oleh Republika. . LPSM ini berusaha memfasilitasi KSM
BMT untuk mendapatkan bantuan dana dari BMI (Bank Muamalat Indonesia), yang
merupakan satu-satunya Bank Umum Syariah pada waktu itu, untuk pengembangan
usahanya. BMT memiliki basis kegiatan ekonomi rakyat dengan falsafah yang sama dengan
koperasi yaitu dari anggota, oleh anggota, dan untuk anggota. Maka dari itu, berdasrkan UU
No. 25 Tahun 1992, BMT berhak menggunakan badan hukum koperasi. Berdasarkan UU
tersebut, BMT dianggap sebagai koperasi simpan pinjam atau unit simpan pinjam
konvensional, perbedaannya hanya terletak pada kegiatan operasional yag menggunakan
prinsip syariah dan etika moral dengan melihat kaidah halal dan haram dalam melakukan
usahanya. Koperasi Simpan Pinjam Syariah yang selanjunya disebut KJKS (Koperasi Jasa
Keuangan Syariah) sebagaimana Keputusan Menteri Koperasi RI
No.91/Kep/M.KUKM/IX/2004 tentang Petunjuk Pelaksanaan Kegiatan Usaha Koperasi Jasa
Keuangan Syariah. Koperasi Syariah dapat berentuk Koperasi Serba Usaha (akad jasa
persewaan, gadai, dan jual beli secara tunai (Bai‟al Musawamah). Unit Simpan Pinjam/Unit
Jasa Keuangan Syariah dari KSU Syariah tersebut.
2.6 Sejarah Departemen Koperasi dan UMKM Indonesia
Di Indonesia, ide-ide perkoperasian diperkenalkan pertama kali oleh Patih di
Purwokerto, Jawa Tengah, R. Aria Wiraatmadja yang pada tahun 1896, dengan mendirikan
sebuah Bank untuk Pegawai Negeri. Cita-cita semangat tersebut selanjutnya diteruskan oleh
De Wolffvan Westerrode. Pada tahun 1908, Budi Utomo yang didirikan oleh Dr. Sutomo
memberikan peranan bagi gerakan koperasi untuk memperbaiki kehidupan rakyat. Pada tahun
1915 dibuat peraturan Verordening op de Cooperatieve Vereeniging, dan pada tahun 1927
Regeling Inlandschhe Cooperatiev. Pada tahun 1927 dibentuk Serikat Dagang Islam, yang
bertujuan untuk memperjuangkan kedudukan ekonomi pengusah-pengusaha pribumi.
Kemudian pada tahun 1929, berdiri Partai Nasional Indonesia yang memperjuangkan
penyebarluasan semangat koperasi. Hingga saat ini kepedulian pemerintah terhadap
keberadaan koperasi nampak jelas dengan membentuk lembaga yang secara khusus
menangani pembinaan dan pengembangan koperasi.
Kronologis lembaga yang menangani pembinaan koperasi pada saat itu adalah sebagai
berikut:
1. Tahun 1930

18
Pemerintah Hindia Belanda membentuk Jawatan Koperasi yang keberadaannya dibawah
Departemen Dalam Negeri, dan diberi tugas untuk melakukan pendaftaran dan
pengesahan koperasi, tugas ini sebelumnya dilakukan oleh Notaris.
2. Tahun 1935
Jawatan Koperasi dipindahkan ke Departemen Economische Zaken, dimasukkan dalam
usaha hukum (Bafdeeling Algemeene Economische Aanglegenheden). Pimpinan Jawatan
Koperasi diangkat menjadi Penasehat.
3. Tahun 1939
Jawatan Koperasi dipisahkan dari Afdeeling Algemeene Aanglegenheden ke Departemen
Perdagangan Dalam Negeri menjadi Afdeeling Coperatie en Binnenlandsche Handel.
Tugasnya tidak hanya memberi bimbingan dan penerangan tentang koperasi tetapi
meliputi perdagangan untuk Bumi Putra.
4. Tahun 1942
Pendudukan Jepang berpengaruh pula terhadap keberadaan jawatan koperasi. Saat ini
jawatan koperasi dirubah menjadi Syomin Kumiai Tyuo Djimusyo dan Kantor di daerah
diberi nama Syomin Kumiai Djimusyo.
5. Tahun 1944
Didirikan Jumin Keizaikyo (Kantor Perekonomian Rakyat) Urusan Koperasi menjadi
bagiannya dengan nama Kumaika, tugasnya adalah mengurus segala aspek yang
bersangkutan dengan Koperasi.
6. Tahun 1945: Koperasi masuk dalam tugas Jawatan Koperasi serta Perdagangan Dalam
Negeri dibawah Kementerian Kemakmuran.
7. Tahun 1946: Urusan Perdagangan Dalam Negeri dimasukkan pada Jawatan
Perdagangan, sedangkan Jawatan Koperasi berdiri sendiri mengurus soal koperasi
8. Tahun 1947 - 1948: Jawatan Koperasi dibawah pimpinan R. Suria Atmadja, pada masa
ini ada suatu peristiwa yang cukup penting yaitu tanggal 12 Juli 1947, Gerakan Koperasi
mengadakan Kongres di Tasikmalaya dan hasil Kongres menetapkan bahwa tanggal 12
Juli dinyatakan sebagai Hari Koperasi.
9. Tahun 1949 : Pusat Jawatan Koperasi RIS berada di Yogyakarta, tugasnya adalah
mengadakan kontak dengan jawatan koperasi di beberapa daerah lainnya. Tugas pokok
yang dihasilkan telah melebur Bank dan Lumbung Desa dialihkan kepada Koperasi. Pada
tahun yang sama yang diundangkan dengan Regeling Cooperatieve 1949 Ordinasi 7 Juli
1949 (SBT. No. 179).
10. Tahun 1950: Jawatan Koperasi RI yang berkedudukan di Yogyakarta digabungkan
dengan Jawatan Koperasi RIS, bekedudukan di Jakarta.
11. Tahun 1954: Pembina Koperasi masih tetap diperlukan oleh Jawatan Koperasi dibawah
pimpinan oleh Rusli Rahim.
12. Tahun 1958: Jawatan Koperasi menjadi bagian dari Kementerian Kemakmuran.
13. Tahun 1960: Perkoperasian dikelola oleh Menteri Transmigrasi Koperasi dan
Pembangunan Masyarakat Desa (TRANSKOPEMADA), dibawah pimpinan seorang
Menteri yang dijabat oleh Achmadi.
14. Tahun 1963: TRANSKOPEMADA diubah menjadi Departemen Koperasi dan tetap
dibawah pimpinan Menteri Achmadi.
15. Tahun 1964: Departemen Koperasi diubah menjadi Departemen Transmigrasi dan
Koperasi dibawah pimpinan Menteri Achmadi kemudian diganti oleh Drs. Achadi, dan
19
Direktur Koperasi dibawah pimpinan seorang Direktur Jenderal yang bernama Chodewi
Amin.
16. Tahun 1966: Dalam tahun 1966 Departemen Koperasi kembali berdiri sendiri, dan
dipimpin oleh Pang Suparto. Pada tahun yang sama, Departemen Koperasi dirubah
menjadi Kementerian Perdagangan dan Koperasi dibawah pimpinan Prof. Dr. Sumitro
Djojohadikusumo, sedangkan Direktur Jenderal Koperasi dijabat oleh Ir. Ibnoe Soedjono
(dari tahun 1960 s/d 1966).
17. Tahun 1967: Pada tahun 1967 diberlakukan Undang-undang Nomor 12 Tahun 1967
tentang Pokok-pokok Perkoperasian tanggal 18 Desember 1967. Koperasi masuk dalam
jajaran Departemen Dalam Negeri dengan status Direktorat Jenderal. Mendagri dijabat
oleh Basuki Rachmad, dan menjabat sebagai Dirjen Koperasi adalah Ir. Ibnoe Soedjono.
18. Tahun 1968: Kedudukan Direktorat Jenderal Koperasi dilepas dari Departemen Dalam
Negeri, digabungkan kedalam jajaran Departemen Transmigrasi dan Koperasi, ditetapkan
berdasarkan :
a. Keputusan Presiden Nomor 183 Tahun 1968 tentang Susunan Organisasi
Departemen.
b. Keputusan Menteri Transmigrasi dan Koperasi Nomor 120/KTS/ Mentranskop/1969
tentang Kedudukan Tugas Pokok dan Fungsi Susunan Organisasi berserta Tata Kerja
Direktorat Jenderal Koperasi.
c. Kemudian pada tahun ini yang menjabat sebagai Menteri Transkop adalah M.
Sarbini, sedangkan Dirjen Koperasi tetap Ir. Ibnoe Soedjono
19. Tahun 1974 : Direktorat Jenderal Koperasi kembali mengalami perubahan yaitu,
digabung kedalam jajaran Departemen Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Koperasi, yang
ditetapkan berdasarkan :
1. Keputusan Presiden Nomor 45 Tahun 1974 tentang Susunan Organisasi Departemen
Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Koperasi.
2. Instruksi Menteri Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Koperasi Nomor : INS-
19/MEN/1974, tentang Susunan Organisasi Direktorat Jenderal Koperasi tidak ada
perubahan (tetap memberlakukan Keputusan Menteri Transmigrasi Nomor :
120/KPTS/Mentranskop/1969) yang berisi penetapan tentang Susunan Organisasi
Direktorat Jenderal Koperasi.
Menteri pada saat itu adalah Prof. DR. Subroto, adapun Dirjen Koperasi tetap Ir.
Ibnoe Soedjono.
20. Tahun 1978: Direktorat Jenderal Koperasi masuk dalam Departemen Perdagangan dan
Koperasi, dengan Drs. Radius Prawiro sebagai Menterinya. Untuk memperkuat
kedudukan koperasi dibentuk Menteri Muda Urusan Koperasi, yang dipimpin oleh
Bustanil Arifin, SH. Sedangkan Dirjen Koperasi dijabat oleh Prof. DR. Ir. Soedjanadi
Ronodiwiryo.
21. Tahun 1983: Dengan berkembangnya usaha koperasi dan kompleksnya masalah yang
dihadapi dan ditanggulangi, koperasi melangkah maju di berbagai bidang dengan
memperkuat kedudukan dalam pembangunan, maka pada Kabinet Pembangunan IV
Direktorat Jenderal Koperasi ditetapkan menjadi Departemen Koperasi, melalui
Keputusan Presiden Nomor 20 Tahun 1983, tanggal 23 April 1983.

20
22. Tahun 1991: Melalui Keputusan Presiden Nomor 42 Tahun 1991, tanggal 10 September
1991 terjadi perubahan susunan organisasi Departemen Koperasi yang disesuaikan
keadaan dan kebutuhan.
23. Tahun 1992: Diberlakukan Undang-undang Nomor : 25 Tahun 1992 tentang
Perkoperasian, selanjutnya mancabut dan tidak berlakunya lagi Undang-undang Nomor:
12 Tahun 1967 tentang Pokok-pokok Perkoperasian.
24. Tahun 1993: Berdasarkan Keputusan Presiden Nomor : 96 Tahun 1993, tentang Kabinet
Pembangunan VI dan Keppres Nomor 58 Tahun 1993, telah terjadi perubahan nama
Departemen Koperasi menjadi Departemen Koperasi dan Pembinaan Pengusaha Kecil.
Tugas Departemen Koperasi menjadi bertambah dengan membina Pengusaha Kecil. Hal
ini merupakan perubahan yang strategis dan mendasar, karena secara fundamental
golongan ekonomi kecil sebagai suatu kesatuan dan keseluruhandan harus ditangani
secara mendasar mengingat yang perekonomian tidak terbatas hanya pada pembinaan
perkoperasian saja.
25. Tahun 1996: Dengan adanya perkembangan dan tuntutan di lapangan, maka diadakan
peninjauan kembali susunan organisasi Departemen Koperasi dan Pembinaan Pengusaha
Kecil, khususnya pada unit operasional, yaitu Ditjen Pembinaan Koperasi Perkotaan,
Ditjen Pembinaan Koperasi Pedesaan, Ditjen Pembinaan Pengusaha Kecil. Untuk
mengantisipasi hal tersebut telah diadakan perubahan dan penyempurnaan susunan
organisasi serta menomenklaturkannya, agar secara optimal dapat menampung seluruh
kegiatan dan tugas yang belum tertampung.
26. Tahun 1998: Dengan terbentuknya Kabinet Pembangunan VII berdasarkan Keputusan
Presiden Republik Indonesia Nomor : 62 Tahun 1998, tanggal 14 Maret 1998, dan
Keppres Nomor 102 Thun 1998 telah terjadi penyempurnaan nama Departemen Koperasi
dan Pembinaan Pengusaha Kecil menjadi Departemen Koperasi dan Pengusaha Kecil,
hal ini merupakan penyempurnaan yang kritis dan strategis karenakesiapan untuk
melaksanakan reformasi ekonomi dan keuangan dalam mengatasi masa krisis saat itu
serta menyiapkan landasan yang kokoh, kuat bagi Koperasi dan Pengusaha Kecil dalam
memasuki persaingan bebas/era globalisasi yang penuh tantangan.
27. Tahun 1999: Melalui Keppres Nomor 134 Tahun 1999 tanggal 10 November 1999
tentang Kedudukan, Tugas, Fungsi, Susunan Organisasi dan Tata Kerja Menteri Negara,
maka Departemen Koperasi dan PK diubah menjadi Menteri Negara Koperasi dan
Pengusaha Kecil dan Menengah.
28. Tahun 2000:
a) Berdasarkan Keppres Nomor 51 Tahun 2000 tanggal 7 April 2000, maka
ditetapkan Badan Pengembangan Sumber Daya Koperasi dan Pengusaha Kecil
Menengah.
b) Melalui Keppres Nomor 166 Tahun 2000 tanggal 23 November 2000 tentang
Kedudukan, Tugas, Fungsi, Kewenangan, Susunan Organisasi dan Tata Kerja
Lembaga Pemerintah Non Departemen. maka dibentuk Badan Pengembangan
Sumber Daya Koperasi dan Pegusaha Kecil dan Menengah (BPS-KPKM).
c) Berdasarkan Keppres Nomor 163 Tahun 2000 tanggal 23 November 2000 tentang
Kedudukan, Tugas, Fungsi, Kewenangan, Susunan Organisasi dan Tata Kerja

21
Menteri Negara, maka Menteri Negara Koperasi dan PKM diubah menjadi
Menteri Negara Urusan Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah.
d) Melalui Keppres Nomor 175 Tahun 2000 tanggal 15 Desember 2000 tentang
Susunan Organisasi dan Tugas Menteri Negara, maka Menteri Negara Urusan
Koperasi dan UKM diubah menjadi Menteri Negara Koperasi dan Usaha Kecil
dan Menengah.
29. Tahun 2001:
a) Melalui Keppres Nomor 101 Tahun 2001 tanggal 13 September 2001 tentang
Kedudukan, Tugas, Fungsi, Kewenangan, Susunan Organisasi dan Tata Kerja
Menteri Negara, maka dikukuhkan kembali Menteri Negara Koperasi dan Usaha
Kecil dan Menengah.
b) Berdasarkan Keppres Nomor 103 Tahun 2001 tanggal 13 September 2001 tentang
Kedudukan, Tugas, Fungsi, Kewenangan, Susunan Organisasi dan Tata Kerja
Lembaga Non Pemerintah, maka Badan Pengembangan Sumber Daya Koperasi
dan Pengusaha Kecil Menengah dibubarkan.
c) Melalui Keppres Nomor 108 Tahun 2001 tanggal 10 Oktober 2001 tentang Unit
Organisasi dan Tugas Eselon I Menteri Negara, maka Menteri Negara Koperasi
dan UKM ditetapkan membawahi Setmeneg, Tujuh Deputi, dan Lima Staf Ahli.
Susunan ini berlaku hingga tahun 2004 sekarang ini
Tugas dan fungsi
Tugas dan fungsi Kementerian Koperasi dan UKM telah ditetapkan dalam Peraturan
Presiden Nomor 24 Tahun 2010 tentang Kedudukan Kementerian Negara Serta Susunan
Organisasi, Tugas, Dan Fungsi Eselon I Kementerian Negara pasal 552, 553 dan 554, yaitu:
Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah mempunyai tugas menyelenggarakan
urusan di bidang koperasi dan usaha kecil dan menengah dalam pemerintahan untuk
membantu Presiden dalam menyelenggarakan pemerintahan negara. Dalam menjalankan
tugas, Kementrian Koperasi dan UKM menyelenggarakan fungsi:
1. Perumusan dan penetapan kebijakan di bidang koperasi dan usaha mikro, kecil dan
menengah;
2. Koordinasi dan sinkronisasi pelaksanaan kebijakan di bidang koperasi dan usaha
mikro, kecil dan menengah;
3. Pengelolaan barang milik/kekayaan negara yang menjadi tanggung jawab
Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah;
4. Pengawasan atas pelaksanaan tugas di lingkungan Kementerian Koperasi dan Usaha
Kecil dan Menengah; dan
5. Penyelenggaraan fungsi teknis pelaksanaan pemberdayaan koperasi, usaha mikro,
kecil dan menengah sesuai dengan undang-undang di bidang koperasi, usaha mikro,
kecil dan menengah.
30. Tahun 2014-2019:

Sehubungan dengan telah ditetapkannya pembentukan Kementerian Kabinet Kerja tahun


2014-2019 dan untuk melaksanakan ketentuan Pasal 11 Undang-Undang Nomor 39 Tahun
2008 tentang Kementerian Negara, Presiden Joko Widodo (Jokowi) pada tanggal 18 Mei
2015 menandatangani Peraturan Presiden Nomor 62 tentang Kementerian Koperasi dan

22
Usaha Kecil dan Menengah (Kemenkop dan UKM). Dalam Perpres itu disebutkan, organisasi
Kemenkop dan UKM terdiri atas: Sekretariat Kementerian; Deputi Bidang Kelembagaan;
Deputi Bidang Pembiayaan; Deputi Bidang Produksi dan Pemasaran; Deputi Bidang
Restrukturisasi Usaha; Deputi Bidang Pengembangan Sumber Daya Manusia; Deputi Bidang
Pengawasan; Staf Ahli Bidang Ekonomi Makro; Staf Ahli Bidang Produktivitas dan Daya
Saing; dan Staf Ahli Bidang Hubungan Antar Lembaga. Dengan Anak Agung Gede Ngurah
(AAGN) Puspayoga sebagai Menteri Koperasi dan UKM. Bila dibandingkan dengan
organisasi sebelumnya, maka jumlah kedeputian di Kemenkop dan UKM mengalami
pengurangan dari 7 (tujuh) menjadi 6 (enam). Demikian juga dengan Staf Ahli yang
berkurang dari sebelumnya 5 (lima) menjadi 3 (tiga). Perpres No. 62 Tahun 2015 ini juga
menyebutkan, di lingkungan Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah dapat
dibentuk Inspektorat sebagai unsur pengawas, yang berada di bawah dan bertanggung jawab
kepada Menteri melalui Sekretaris Kementerian. Inspektorat ini dipimpin oleh Inspektur.
Selain itu, di Kemenkop dan UKM dapat ditetapkan jabatan fungsional sesuai dengan
kebutuhan yang pelaksanaannya dilakukan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-
undangan.

23
PERANAN, DUKUNGAN, FUNGSI, DAN MANAJEMEN DI BIDANG KOPERASI

1. Manajemen Koperasi dan Nilai-Nilai Dasar Gerakan Koperasi

1.1 Manajemen Koperasi

Menurut UU No. 25 tahun 1992, koperasi Indonesia didefiniskan sebagai ” badan


usaha yang beranggotakan orang seorang atau badan hukum koperasi dengan
melandaskan kegiatannya berdasarkan prinsip-prinsip koperasi sekaligus sebagai
gerakan ekonomi rakyat yang berdasar atas asas kekeluargaan”. Pengertian ini disusun
tidak hanya berdasarkan pada konsep koperasi sebagai organisasi ekonomi dan sosial tetapi
secara lengkap telah mencerminkan norma-norma dan kaidah-kaidah yang berlaku bagi
bangsa Indonesia.

Guna mencapai tujuan Koperasi, perlu diperhatikan adanya sistem manajemen yang
baik. Sedangkan ketika kita berbicara tentang manajemen koperasi, selain definisi atau
makna dari koperasi, maka kita perlu tahu arti kata manajemen. Ricky W. Griffin
mengungkapkan salah satu definisi yang lengkap tentang manajemen dalam bukunya yang
berjudul “Management (Ensiklopedia ekonomi, Bisnis dan Manajemen, 1992)”, sebagai
berikut : “Manajemen adalah proses merencanakan dan mengambil keputusan,
mengorganisasikan, memimpin, dan mengendalikan sumber daya. Mary Parker Follet
mengungkapkan bahwa manajemen adalah seni menyelesaikan pekerjaan orang lain. Ini
berarti bahwa seorang manajer bertugas mengatur dan mengarahkan orang lain untuk
mencapai tujuan organisasi.

Berikut ini adalah beberapa pengertian atau definisi manajemen dari beberapa sumber:

1. Definisi Manajemen menurut Stoner adalah suatu proses perencanaan,


pengorganisasian, pengarahan, dan pengawasan usaha-usaha para anggota organisasi
dan penggunaan sumberdaya-sumberdaya organisasi lainnya agar mencapai tujuan
organisasi yang telah ditetapkan.

2. Memperkuat pendapat Stoner, Gibson dan kawan-kawan (1996) mendefinisikan


manajemen adalah suatu proses yang dilakukan oleh satu atau lebih individu
untuk mengkoordinasikan berbagai aktivitas untuk mencapai hasil-hasil yang
lebih baik yang tidak dapat dicapai apabila individu bertindak sendiri-sendiri.

24
Lebih jauh Peter Drucker percaya bahwa pekerjaan manajemen adalah untuk
membuat manusia lebih produktif.

3. Pendapat lainnya dikemukakan oleh Harold Koontz dan Cyrill O’Donnell


mengungkapkan bahwa manajemen adalah usaha mencapai tujuan tertentu suatu
organisasi melalui kegiatan orang lain yang dilakukan oleh manajer melalui
proses perencanaan, pengorganisasian, penempatan, pengarahan dan
pengendalian.

Dari berbagai definisi manajemen diatas dapat disimpulkan bahwa manajemen


selalu berhubungan dengan institusi dan fungsi sebuah organisasi. Manajemen sebagai
suatu fungsi dan proses menyangkut sejumlah tugas-tugas yang kompleks di dalam
kerangka menjamin tercapainya suatu tujuan. Sedangkan manajemen sebagai suatu
institusi menggambarkan sejumlah orang-orang untuk mengisi tugas-tugas yang diatur
oleh organisasi tersebut.

Setelah memahami pengertian koperasi sebagai organisasi usaha yang berwatak sosial
dan konsepsi manajemen secara umum maka kita mengetahui apa itu manajemen koperasi.
Manajemen koperasi pada hakekatnya adalah penerapan ilmu manajemen di koperasi dimana
orang-orang yang diberi wewenang dan tanggung jawab melaksanakan proses perencanaan,
pengorganisasian, dan pengendalian sumber daya yang dimiliki oleh koperasi untuk
mencapai tujuan koperasi yaitu meningkatkan kesejahteraan berdasarkan nilai dan prinsip-
prinsip koperasi.

Pengertian yang sejalan dengan definisi diatas pernah disampaikan oleh Peter Davis
(1999) yaitu suatu proses manajemen yang diselenggarakan oleh orang-orang yang diberi
wewenang dan tanggung jawab untuk mengelola koperasi, nilai-nilai dan prinsip-prinsip
koperasi serta kekayaannya untuk mencapai tujuannya. Manajemen koperasi adalah kegiatan
profesional yang dilakukan oleh orang-orang yang bertanggung jawab. dengan mengerahkan
segala kemampuan kepemimpinannya dan memilih kebijakan untuk mengembangkan
koperasi mencapai tujuan-tujuannya berdasarkan nilai dan prinsip-prinsip koperasi.

1.2 Nilai-Nilai Dasar Gerakan Koperasi

Nilai-nilai koperasi adalah standar moralitas dan etika yang disepakati berdasarkan
tradisi para pendirinya yang dijadikan landasan ideologi koperasi dalam mencapai cita-
citanya. Nilai-nilai koperasi yang dimaksud meliputi: menolong diri sendiri, tanggung jawab
pribadi, demokrasi, persamaan, keadilan, kesetia kawanan, kejujuran, keterbukaan, tanggung
jawab sosial, serta kepedulian kepada orang lain.

Inti dari norma-norma atau aturan-aturan adalah nilai Koperasi, yaitu konsep-konsep
atau pengertian-pengertian yang dipahami, dihayati, dan dianggap bermanfaat serta
disepakati oleh sebagian besar anggota masyarakat Koperasi untuk dijadikan pengikat di
dalam berperilaku kelompok koperasi.

Nilai-nilai koperasi itu ada dua macam :


25
a. Ide-ide dasar dan etika dasar; falsafah dasar koperasi
b. Prinsip dasar, yaitu pedoman instrumental bagi praktek koperasi.

2. Pengertian Manajemen dan Perangkat Organisasi Koperasi

2.1 Pengertian Manajemen

Para pakar manajemen menyimpulkan bahwa sejak akhir abad kesembilan belas,
biasanya manajemen didefinisikan dalam empat fungsi spesifik dari manajer, yaitu
merencanakan (Planning), mengorganisasikan (Organizing), melaksanakan (actuating),
dan mengendalikan (Controlling), walaupun kerangka kerja ini masih terus di teliti dan
sering diperdebatkan (Stoner at al,1996 : 10). Beberapa pakar lainnya menyebutkan
bahwa fungsi manajemen terdiri dari 5 P yaitu Perencanaan, Pengorganisasian,
Pengarahan, Pengkoordinasian dan Pengendalian. Tetapi kondisi terkini, para pakar
manajemen Amerika cenderung menganut tiga fungsi utama yaitu Planning, Organizing,
dan Controlling dengan alasan yang dapat dipertanggungjawabkan bahwa Actuating
atau pelaksanaan sebenarnya masuk dalam dimensi perencanaan (Gibson, at al. 1996 :
174).

1. Perencanaan
Fungsi penting pertama yang harus dijalankan oleh pihak manajemen koperasi adalah
fungsi perencanaan. Pengurus dan manajer di koperasi harus menyusun perencanaan
penggunaan sumber daya manusia, modal, sarana fisik, dan informasi yang dimiliki koperasi
untuk mencapai tujuan koperasi yang telah disepakati oleh para anggotanya. Perencanaan
menyangkut masa depan. Bagaimana dengan kemampuan, masalah, dan potensi yang
dimiliki koperasi saat ini diarahkan untuk mencapai target-target koperasi kearah yang lebih
baik.

Apa manfaat perencanaan bagi koperasi?

Apabila pengurus dan manajer mampu menyusun perencanaan yang baik, maka akan
memberikan manfaat sebagai berikut:

• Sebagai perwujudan koordinasi diberbagai bagian untuk mencapai tujuan organisasi


koperasi.
• Dapat menghindarkan keadaan yang tidak terduga di masa yang akan datang.
• Meningkatkan efektifitas dan efisiensi dengan penggunaan metoda kerja yang sesuai
dan sistematis.
• Memperlancar pendelegasian wewenang karena adanya kebijakan, prosedur serta
jadwal yang telah ditetapkan.
• Menghindarkan tindakan coba-coba, tanpa perhitungan yang menyebabkan
pemborosan bagi koperasi.
26
• Sebagai pedoman pengawasan agar pelaksanaan kegiatan di koperasi selalu
berpedoman pada tujuan.

Pengorganisasian
Setelah perencanaan disusun, pengurus dan manajer koperasi selanjutnya harus
melakukan fungsi pengorganisasian. Pengorganisasian dapat dikatakan sebagai proses
penciptaan hubungan antara berbagai fungsi, personalia dan faktor-faktor fisik, agar
semua pekerjaan yang dilakukan dapat bermanfaat serta terarah pada suatu tujuan.
Mengorganisasikan merupakan bagian proses manajemen yang memiliki arti membagi
pekerjaan diantara para individu dan kelompok serta mengkoordinasikan aktivitas
mereka agar setiap individu dapat mengetahui dengan jelas apa yang menjadi tugasnya
sehingga mereka dapat bekerja sama dengan baik dalam suatu perusahaan guna
mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

Fungsi pengorganisasian dalam sebuah organisasi koperasi meliputi pembagian


seluruh tugas kedalam berbagai kerja individual dengan wewenang dan tanggung jawab
tertentu untuk menjalankan kerja tersebut dan selanjutnya berbagai kerja individual
tersebut dikumpulkan kedalam berbagai bagian atau unit kerja menurut dasar dan
ukuran tertentu.

Apa manfaat fungsi pengorganisasian?

Manfaat dan Tujuan fungsi pengorganisasian dalam manajemen koperasi adalah


mencapai usaha terkoordinasi melalui perancangan struktur hubungan tugas dan
wewenang baik yang menyangkut tugas pokok maupun tugas penunjang. Tugas pokok
organisasi koperasi adalah memberikan pelayanan kepada anggota melalui unit-unit
kegiatan usaha koperasi. Contohnya dalam disain struktur organisasi koperasi sekolah
tugas pokok dapat dicerminkan dengan adanya unit usaha kantin, unit usaha toko, unit
usaha foto copy, dan unit usaha simpan pinjam. Unit-unit usaha yang dimaksud adalah
tugas pokok koperasi yang mempengaruhi dan menentukan hidup matinya koperasi.
Tugas penunjang adalah unit kerja penunjang yang dapat dipakai bersama oleh unit-unit
tugas pokok koperasi seperti bagian administrasi keuangan, bagian perencanaan dan lain
sebagainya sesuai dengan kebutuhan.

Pelaksanaan
Setelah fungsi pengorganisasian dijalankan, selanjutnya pihak manajemen di
koperasi harus menjalankan fungsi pelaksanaan atau implementasi. Fungsi pelaksanaan
adalah suatu proses menggerakkan dan menjalankan organisasi agar orang-orang yang
diberi tugas, wewenang dan tanggung jawab dapat bekerja menjalankan tugas untuk
mencapai tujuan organisasi yang telah ditetapkan. Disinilah pengurus dan manajer di
koperasi dituntut harus menjalankan fungsi kepemimpinan.

Fungsi pengarahan dapat juga diartikan secara lebih luas yaitu sebagai tugas
untuk membuat organisasi tetap hidup, untuk menciptakan kondisi yang menumbuhkan
minat kerja, kekuatan untuk bertindak, pemikiran yang imajinatif dan kelompok kerja

27
yang berkelanjutkan. Tujuan ini, dapat dicapai dengan mutu kepemimpinan yang
ditunjukkan oleh pengurus atau manajer koperasi.

Pengendalian
Fungsi terakhir manajemen yang harus dilaksanakan oleh pihak manajemen
adalah fungsi pengendalian. Pengendalian merupakan aktivitas untuk menemukan,
mengoreksi adanya penyimpangan-penyimpangan dari hasil yang telah dicapai,
dibandingkan dengan rencana kerja yang telah ditetapkan sebelumnya.

Pada setiap tahapan kegiatan perlu dilakukan pengendalian, agar lebih cepat
dilakukan koreksi bila terjadi penyimpangan. Proses pengendalian mencatat setiap
perkembangan kearah tujuan pokok perusahaan, juga sasaran serta metoda
pencapaiannya yang memungkinkan manajer mengetahui lebih awal terdapat
penyimpangan. Karenanya, pengendalian berkaitan erat dengan perencanaan.

2.2 Perangkat Organisasi Koperasi

Menurut Prof. Ewell Paul Roy, Ph.D mengatakan bahwa manajemen koperasi melibatkan 4
unsur (perangkat) yaitu:

a) Anggota

b) Pengurus

c) Manajer

d) Karyawan merupakan penghubung antara manajemen dan anggota pelanggan

Sedangkan menurut UU No. 25/1992 yang termasuk Perangkat Organisasi Koperasi adalah:

a) Rapat anggota

b) Pengurus

c) Pengawas

Rapat Anggota

(1) Rapat Anggota merupakan pemegang kekuasaan tertinggi dalam Koperasi.


(2) Rapat Anggota dihadiri oleh anggota yang pelaksanaannya diatur dalam Anggaran
Dasar.
Rapat Anggota menetapkan:
a. Anggaran Dasar;
b. kebijaksanaan umum dibidang organisasi manajemen, dan usaha Koperasi;
c. pemilihan, pengangkatan, pemberhentian Pengurus dan Pengawas;
d. rencana kerja, rencana anggaran pendapatan dan belanja Koperasi, serta pengesahan
laporan keuangan;

28
e. pengesahan pertanggungjawaban Pengurus dalam pelaksanaan tugasnya;
f. pembagian sisa hasil usaha;
g. penggabungan, peleburan, pembagian, dan pembubaran Koperasi.
Keputusan Rapat Anggota diambil berdasarkan musyawarah untuk mencapai mufakat.
Apabila tidak diperoleh keputusan dengan cara musyawarah, maka pengambilan keputusan
dilakukan berdasarkan suara terbanyak. Dalam hal dilakukan pemungutan suara, setiap
anggota mempunyai hak satu suara. Hak suara dalam Koperasi Sekunder dapat diatur dalam
Anggaran Dasar dengan mempertimbangkan jumlah anggota dan jasa usaha Koperasi-
anggota secara berimbang.
Rapat Anggota berhak meminta keterangan dan pertanggungjawaban pengurus dan
pengawas mengenai pengelolaan Koperasi. Rapat Anggota dilakukan paling sedikit sekali
dalam 1 (satu) tahun. Rapat Anggota untuk mengesahkan pertanggungjawaban Pengurus
diselenggarakan paling lambat 6 (enam) bulan setelah tahun buku lampau.
Koperasi dapat melakukan Rapat Anggota Luar Biasa apabila keadaan mengharuskan
adanya keputusan segera yang wewenangnya ada pada Rapat Anggota. Rapat Anggota Luar
Biasa dapat diadakan atas permintaan sejumlah anggota Koperasi atau atas keputusan
Pengurus yang pelaksanaannya diatur dalam Anggaran Dasar dan mempunyai wewenang
yang sama dengan wewenang Rapat Anggota. Persyaratan, tata cara, dan tempat
penyelenggaraan Rapat Anggota dan Rapat Anggota Luar Biasa diatur dalam Anggaran
Dasar.
Setiap anggota koperasi mempunyai hak dan kewajiban yang sama. Seorang anggota
berhak menghadiri rapat anggota dan memberikan suara dalam rapat anggota serta
mengemukakan pendapat dan saran kepada pengurus baaik di luar maupun di dalam rapat
anggota. Anggota juga harus ikut serta mengadakan pengawasan atas jalannya organisasi dan
usaha koperasi.

Pengurus Koperasi

(1) Pengurus dipilih dari dan oleh anggota Koperasi dalam Rapat Anggota.
(2) Pengurus merupakan pemegang kuasa Rapat Anggota.
(3) Untuk pertama kali, susunan dan nama anggota Pengurus dicantumkan dalam akta
pendirian.
(4) Masa jabatan pengurus paling lama lima tahun.
(5) Persyaratan untuk dapat dipilih dan diangkat menjadi anggota Pengurus ditetapkan
dalam Anggaran Dasar.
Pengurus bertugas :
a. mengelola Koperasi dan usahanya.
b. mengajukan rancangan rencana kerja serta rancangan rencana anggaran pendapatan
dan belanja Koperasi.
c. menyelenggarakan Rapat Anggota.
d. mengajukan laporan keuangan dan pertanggungjawaban pelaksanaan tugas.
e. menyelenggarakan pembukuan keuangan dan inventaris secara tertib
f. memelihara daftar buku anggota dan pengurus.
29
Pengurus berwenang :
a. mewakili Koperasi di dalam dan di luar pengadilan.
b. memutuskan penerimaan dan penolakan anggota baru serta pemberhentian anggota
sesuai dengan ketentuan dalam Anggaran Dasar.
c. melakukan tindakan dan upaya bagi kepentingan dan kemanfaatan Koperasi sesuai
dengan tanggung jawabnya dan keputusan Rapat Anggota.
Pengurus bertanggung jawab mengenai segala kegiatan pengelolaan Koperasi dan
usahanya kepada Rapat Anggota atau Rapat Anggota Luar Biasa. Pengurus Koperasi dalam
mengangkat pengelola yang diberi wewenang dan kuasa untuk mengelola usaha. Dalam hal
Pengurus Koperasi bermaksud untuk mengangkat Pengelola, maka rencana pengangkatan
tersebut diajukan kepada Rapat Anggota untuk mendapat persetujuan. Pengelola bertanggung
jawab kepada Pengurus. Pengelolaan usaha oleh Pengelola tidak mengurangi tanggung
jawab Pengurus. Hubungan antara Pengelola usaha dengan Pengurus Koperasi merupakan
hubungan kerja atas dasar perikatan.
Pengurus baik bersama-sama maupun sendiri-sendiri menanggung kerugian yang
diderita koperasi, karena tindakan yang dilakukan dengan kesengajaan atau kelalaiannya.
Disamping penggantian kerugian tersebut, apabila tindakan itu dilakukan dengan kesengajaan
maka tidak menutup kemungkinan bagi penuntut umum untuk melakukan penuntutan.
Setelah tahun buku Koperasi ditutup, paling lambat 1 (satu) bulan sebelum diselenggarakan
rapat anggota tahunan, Pengurus menyusun laporan tahunan yang memuat sekurang-
kurangnya:
a. perhitungan tahunan yang terdiri dari neraca akhir tahun buku yang baru lampau dan
perhitungan hasil usaha dari tahun yang bersangkutan serta penjelasan atas dokumen
tersebut.
b. keadaan dan usaha Koperasi serta hasil usaha yang dapat dicapai.
Laporan tahunan sebagaimana ditandatangani oleh semua anggota pengurus. Apabila
salah seorang anggota Pengurus tidak menandatangani laporan tahunan tersebut, anggota
yang bersangkutan menjelaskan alasannya secara tertulis. Persetujuan terhadap laporan
tahunan, termasuk pengesahan perhitungan tahunan, merupakan penerimaan
pertanggungjawaban Pengurus oleh Rapat Anggota.
Jumlah Pengurus sekurang-kurangnya tiga orang yang terdiri dari :

1. Unsur Ketua
2. Unsur Sekretaris
3. Unsur Bendahara
Secara Perorangan, tugas pengurus adalah :
a) Ketua :
- Bertugas mengkoordinasikan kegiatan seluruh anggota pengurus dan menangani tugas
pengurus yang berhalangan, memimpin rapat dan mewakili koperasi didalam dan diluar
pengadilan,
- Berfungsi sebagai pengurus, selaku pimpinan.
- Berwenang melakukan segala kegiatan sesuai dengan keputusan Rapat Anggota, Rapat
Gabungan dan Rapat Pengurus dalam mengambil keputusan tentang hal-hal yang
30
prinsip, serta menandatangani surat-surat bersama Sekretaris, serta surat-surat berharga
bersama bendahara
- Bertanggungjawab pada Rapat Anggota
b) Sekretaris :
- Bertugas melakukan pembinaan dan pengembangan dibidang kesekretariatan,
keanggotaan dan pendidikan.
- Berfungsi sebagai Pengurus selaku Sekretaris.
- Berwenang menentukan kebijaksanaan dan melakukan segala perbuatan yang
berhubungan dengan bidangnya sesuai keputusan rapat pengurus, serta menandatangani
surat bersama unsur Ketua.
c) Bendahara :
- Bertugas mengelolan keuangan (menerima, menyimpan dan melakukan pembayaran),
membina administrasi keuangan dan pembukuan.
- Berfungsi sebagai Pengurus, selaku Bendhara.
- Berwenang menentukan kebijakan dan melakukan segala perbuatan yang berhubungan
dengan bidangnya, serta menandatangani surat-surat berharga bersama unsur Ketua.
- Bertanggungjawab kepada rapat pengurus lengkap melalui ketua.

Menurut Leon Garayon dan Paul O. Mohn dalam bukunya “The Board of Directions
of Cooperatives” fungsi pengurus adalah:

• Pusat pengambil keputusan tertinggi

• Pemberi nasihat

• Pengawas atau orang yang dapat dipercaya

• Penjaga berkesinambungannya organisasi

• Simbol

Pengawas

(1) Pengawas dipilih dari dan oleh anggota Koperasi dalam Rapat Anggota.
(2) Pengawas bertanggung jawab kepada Rapat Anggota.
(3) Persyaratan untuk dapat dipilih dan diangkat sebagai anggota Pengawas ditetapkan
dalam Anggaran Dasar.
Jumlah Pengawas sekurang-kurangnya tiga orang atau sesuai dengan AD Koperasi. Unsur
Pengawas terdiri dari :
- Ketua merangkap anggota,
- Sekretaris merangkap anggota dan
- Anggota
Pengawas bertugas:
a. melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan kebijaksanaan dan pengelolaan
Koperasi.
31
b. membuat laporan tertulis tentang hasil pengawasannya.
Pengawas berwenang:
a. meneliti catatan yang ada pada Koperasi.
b. mendapatkan segala keterangan yang diperlukan.
Pengawas harus merahasiakan hasil pengawasannya terhadap pihak ketiga.

Tugas, fungsi, wewenang dan tanggungjawab pengawas :


(a) Secara Kolektif

- Bertugas melakukan Pengawasan dan Pemeriksaan sekurang-kurangnya tiga bulan


sekali atas tata kehidupan Koperasi termasuk organisasi, manajemen, usaha-usaha
dan pelaksanaan kebijakan pengurus, serta membuat laporan tertulis tentang
pemeriksaaan.
- Pengawas berfungsi sebagai Pengawas dan Pemeriksa.
Pengawas bertindak sebagai orang-orang kepercayaan anggota dalam menjaga harta
kekayaan anggota dalam koperasi.
- Bertanggungjawab kepada Rapat Anggota.
Syarat-syarat menjadi pengawas yaitu:

- mempunyai kemampuan berusaha

- mempunyai sifat sebagai pemimpin, yang disegani anggota koperasi dan masyarakat
sekelilingnya. Dihargai pendapatnya, diperhatikan saran-sarannya dan diindahkan
nasihat nasihatnya.

Dasar-dasar Kegiatan Pengurus dan Pengawas

a) Dalam melaksanakan kegiatan, berpedoman pada:


1. Undang –Undang No. 25 tahun 1992.
2. Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga.
3. Keputusan Rapat Anggota.
b) Pelaksanaan kegiatan dilaksanakan secara kolektif berdasarkan azas kekeluargaam dan
masing-masing melaksanakan tugas dengan disiplin, inisiatif, kreatif sesuai dengan
pembagian tugas yang ditetapkan.
c) Pengurus dan Pengawas bekerja secara terbutka.
d) Pengurus adalah menyusun kebijaksanaan untuk dilaksanakan oleh Pengelola (manajer)
sesuai dengan perjanjian kerja yang telah ditentukan.
e) Pengawas melaksanakan pengawasan atas pelaksanaan kebijaksanaan Pengurus sesuai
dengan Keputusan Rapat Anggota.
f) Pertanggungjawaban Pengurus maupun Pengawas disajikan tertulis.
g) Pertanggungjawaban Pengurus maupun Pengawas secara perorangan yang telah diterima,
baik dalam Rapat Pengurus maupun Rapat Pengawas menjadi tanggungjawab Pengurus
atau pengawas.

32
Manajer

• Peranan manajer adalah membuat rencana ke depan sesuai dengan ruang lingkup dan
wewenangnya mengelola sumberdaya secara efisien, memberikan perintah, bertindak
sebagai pemimpin dan mampu melaksanakan kerjasama dengan orang lain untuk
mencapai tujuan organisasi (to get things done by working with and through people)

Contoh tentang Koperasi :

Koperasi adalah badan usaha yang mengorganisir pemanfaatan atau pendayagunaan sumber
daya ekonomi para anggotanya, atas dasar prinsip-prinsip koperasi dan kaidah usaha ekonomi
untuk meningkatkan taraf hidup anggota pada khususnya dan masyarakat daerah kerja pada
umumnya, dengan demikian koperasi merupakan gerakan ekonomi rakyat dan soko guru
perekonomian nasional. Sedangkan pengertian koperasi Sesuai dengan UU No:25 tahun 1992
adalah badan usaha yang beranggotakan orang-orang atau badan hukum koperasi dengan
melandaskan kegiatannya berdasarkan prinsip-prinsip koperasi sekaligus sebagai gerakan
ekonomi rakyat yang berdasarkan atas asas kekeluargaan. Berdasarkan permasalahan di atas,
maka fokus penelitian ini adalah kepada bagiamana pelaksanaan fungsi-fungsi manajemen
dalam pengembangan usaha di koperasi wanita SU “Setia Budi Wanita” Jawa Timur, dan
pengembangan usaha apa saja yang di lakukan oleh koperasi wanita SU “Setia Budi Wanita”
Jawa Timur. Dan berdasar pada latar belakang dan rumusan masalah di atas maka tujuan dari
penelitian adalah untuk mendeskripsikan penjelasan tentang bagaimana pelaksanaan fungsi-
fungsi manajemen dalam pengembangan usaha di koperasi wanita SU “Setia Budi Wanita”
Jawa Timur, dan untuk mendeskripsikan tentang pengembangan usaha apa saja yang
dilakukan oleh Koperasi Wanita SU “Setia Budi Wanita” Jawa Timur. Dan Jenis penelitian ini
menggunakan penelitian yang bersifat deskriptif yaitu data yang dikumpulkan berupa kata-
kata, gambar, dan bukan angka-angka.Hal itu disebabkan oleh adanya penerapan metode
kualitatif. Selain itu, semua yang dikumpulkan berkemungkinan menjadi kunci terhadap apa
yang sudah diteliti, dengan demikian, laporan penelitian akan berisi kutipan-kutipan data
untuk memberi gambaran penyajian laporan tersebut. Data bersumber dari data primer dan
data skunder.Teknik pengumpulan data menggunakan observasi, wawancara, dan
dokumentasi.Analisis data dengan mereduksi data, penyajian/display data kemudian
penarikan kesimpulan. Pengecekan keabsahan data dilakukan dengan triangulasi sumber.
Penelitian ini menghasilkan yaitu tentang bagiamana pelaksanaan fungsi-fungsi manajemen
dalam pengembangan usaha di koperasi SU “Setia Budi Wanita” Jawa Timur, dalam hal ini
dari aspek fungsi perencanaannya koperasi setia budi wanita Malang juga mempunyai
rancangan atau program usaha lain yang di lakukannya selain usaha utama (Waserda dan
Simpan Pinjam) dalam koperasi tersebut diantaranya rental mobil, dan koperasi ini pun juga
terdapat program atau pelatihan oleh anggota, pengurus dan pengawas diantaranya untuk
anggota yaitu SHU dan fasilitas kredit ( Pinjaman berupa uang dan belanja kredit ),
Ketrampilan ( Tata Boga, Tata Rias Wajah–Manten, Menjahit, Daur Ulang, Membatik, dan
lain-lain) sesuai kebutuhan untuk pengembangan usaha anggota, sedangkan untuk pengurus
dan pengawas juga terdapat pelatihan manajemen, kewirausahaan, leadership, dan lain-lain
dari aspek fungsi organisasi di koperasi ini yang mana dalam organisasi tersebut tentunya

33
terdapat peraturan di dalam pembagian tugas serta kewenangannya dan di koperasi ini
terdapat unsur kebersamaan, karena keputusan tidak hanya di ambil di satu orang tetapi
bersama, selanjutnya dari aspek pelaksanaannya di dalam setiap manajemen di koperasi ini
sudah mempunyai tugas-tugasnya, yaitu berdasarkan pengurus yang menentukan job
description dan juga ADART nya, dalam aspek pelaksanaan ini tentunya yang terpenting
dalam pelaksanaan rencana-rencana koperasi ini tidak hanya pengurus saja, tetapi setiap
anggota juga memiliki peranan penting dalam proses penerapan rencana-rencana koperasi
tersebut. Kemudian dari aspek pengawasan Di dalam koperasi ini pengurus melakukan
pengawasan terhadap anggotanya melalui PPL. Dan dalam pengembangan usaha apa saja
yang di lakukan oleh koperasi wanita SU “Setia Budi Wanita” Jawa Timur. Koperasi ini
dalam pengembangan usahanya menjalankan usaha Simpan pinjam dan Waserda yang mana
kedua usaha tersebut yakni waserda dan simpan pinjam telah menjadi usaha utama, selain
usaha sampingannya yaitu rental mobil. Di samping itu seorang anggota juga dapat berperan
langsung dalam dalam mengembangkan usahanya.

PERANGKAT ORGANISASI KOPERASI INDONESIA

Organisasi koperasi sebagai suatu badan usaha yang berstatus badan hukum (rechts
person), maka keberadaan koperasi diakui seperti manusia/orang (person) atau subyek

34
hukum yang memiliki kecakapan bertindak, memiliki wewenang untuk mempunyai dan
mencari harta kekayaan, serta dapat melakukan perbuatan-perbuatan hukum seperti membuat
perjanjian – perjanjian apapun.

Di dalam UU No.25 Tahun 1992, ketentuan mengenai perangkat organisasi koperasi diatur
dalam Pasal 21 beserta penjelasannya, terdiri dari :

1. Rapat Anggota
Rapat anggota merupakan pemegang kekuasaan tertinggi di dalam struktur kehidupan
koperasi, dan merupakan perwujudan kehendak dari para anggota koperasi untuk
membiarakan segala sesuatu menyangkut kehidupan serta pelaksanaan koperasi.
Kegiatan di dalam rapat anggota ini harus dicatat dan dibuat suatu Notulen Rapat oleh
Sekretaris. Notulen rapat ini umumnya memuat tentang:
a. Daftar hadir
b. Tanggal dan tempat rapat diadakan

c. Acara rapat

d. Inti pembicaraan rapat

e. Kesimpulan dan / atau keputusan yang diambil oleh rapat anggota.

Notulen rapat tersebut ditandatangani oleh Ketua Pengurus atau Pimpinan sidang dan
sekretaris (Notulis).

2. Pengurus Koperasi
Pengurus adalah perangkat organisasi setingkat di bawah kekuasaan rapat anggota.
Dialah yang mempunyai kewenangan untuk mewakili koperasi sebagai Badan
Hukum, baik di muka pengadilan maupun di luar pengadilan. Dalam UU No.25 tahun
1992, tentang Pengurus Koperasi Indonesia ini, diatur di dalam Pasal 37.

3. Pengawas Koperasi Indonesia


Pengawas koperasi ini juga merupakan perangkat organisasi koperasi Indonesia, yang
dipilih dari dan oleh anggota koperasi dalam rapat anggoa, serta bertanggungjawab
kepada rapat anggota. Dalam anggaran dasar setiap koperasi Indonesia, biasanya
memuat tentang jumlah anggota pengawas, masa jabatannya, dan persyaratan untuk
dipilih dan diangkat sebagai anggota pengawas. Sebagai anggota pengawas, tidak
dapat merangkap sebagai pengurus, sebab kedudukan dan tugas pengawas ini adalah
mengawasi pelaksanaan tugas kepengurusan yang dilakukan oleh pengurus.
Mengenai tugas dan wewenang pengawas di dalam UU No.25 tahun 1992 diatur
dalam Pasal 39, antara lain sebagai berikut:
a. melakukan pengawasan terhadap pelaksana kebijakan dan pengelola koperasi
b. Membuat laporan tertulis tentang hasil pengawasannya

c. Meneliti catatan yang ada pada koperasi

d. Mendapatkan segala keterangan yang diperlukan


35
Apabila di dalam meneliti segala catatan tentang seluruh harta kekayaan koperasi dan
kebenaran dari pembukuannya yang tercermin dalam neraca dan perhitungan laba rugi
menemui kesulitan, maka pengawas koperasi dapat meminta jasa bantuan audit
kepada Akuntan Publik. Yang dimaksudkan dengan jasa bantuan audit adalah audit
terhadap laporan keuangan maupun audit lainnya, sesuai dengan keperluan koperasi
tersebut. Jika seorang akuntan publik diminta jasanya untuk mengaudit laporan
keuangan/pelaksanaan pembukuan, maka dalam laporan akhir pemeriksaannya,
akuntan publik tersebut akan memberikan pendapatnya atas pelaksanaan pembukuan
yang telah dikerjakan. Mengenai isi laporan dari pengawas koperasi ini, paling sedikit
harus menyangkut perihal seperti berikut:

1. Uraian perkembangan usaha selama satu tahun


2. Perkembangan keuangan

3. Perkembangan harta kekayaan baik bergerak maupun tetap

4. Uraian tentang pelaksanaan keputusan – keputusan rapat anggota oleh pengurus

5. Uraian perkembangan keadaan serta hubungan kerja antara pengurus

6. Kesimpulan pemeriksaan dan saran yang dirasakan perlu.

Apabila laporan yang dipertanggungjawabkan oleh Pengawas kepada Rapat Anggota tidak
diterima oleh Pengurus Koperasi, atau Pengurus Koperasi mempunyai pendapat lain, maka
untuk penyelesaiannya pengurus tidak diperkenankan mempengaruhi opini anggota
pengawas. Dia berhak dan wajib memberi keterangan tersendiri kepada rapat anggota dan
tembusannya diberikan kepada pengawas. Jika ternyata tidak ada titik temu antara pendapat
pengawas dengan pendapat pengurus tersebut, maka putusan akhir diserahkan kapada rapat
anggota untuk menilai dan memberi keputusan. Dalam kondisi yang demikian ini, sangat
diperlukan saran, pandangan, pendapat dari Pejabat Koperasi selaku Pembina, sebagai acuan
untuk menyelesaikan perselisihan pendapat tersebut.

ASAS, PRINSIP DAN TUJUAN KOPERASI


Asas Koperasi
Koperasi memiliki 2 asas utama, yaitu :
1. Asas Kekeluargaan
36
Artinya setiap anggota koperasi memiliki kesadaran untuk melakukan yang terbaik di
setiap kegiatan koperasi dan dalam segala hal yang dianggap berguna untuk semua
anggota koperasi.
2. Asas Gotong Royong
Artinya setiap anggota koperasi memiliki toleransi, tidak egois (tidak mementingkan
kepentingan individu), dan bersedia menjalin kerjasama dengan anggota lainnya.

Prinsip-Prinsip Koperasi
Prinsip-prinsip koperasi adalah penjabaran lebih operasional dari nilai-nilai koperasi yang
dijadikan sebagai pedoman dalam pelaksaanaan kegiatan koperasi baik kegiatan organisasi
maupun kegiatan usaha koperasi.
Prinsip koperasi yang dianut oleh gerakan koperasi internasional saat ini adalah prinsip yang
disepakati pada kongres ICA di Mancester, Inggris pada tanggal 23 September 1995. ICA
adalah gabungan gerakan koperasi internasional yang beranggotakan 700 juta orang lebih,
berasal dari 70 negara, berpusat di Genewa, Swiss. Untuk wilayah Asia-Fasifik berkantor di
New Delhi, India. Prinsip-prinsip koperasi yang dimaksud meliputi:
1. Keanggotaan sukarela dan terbuka. Koperasi adalah organisasi yang
keanggotaannya bersifat sukarela dan terbuka bagi setiap orang yang bersedia
menggunakan jasa-jasa pelayanannya, dan bersedia menerima tanggung jawab
keanggotaan, tanpa membedakan gender (jenis kelamin), latar belakang sosial, ras,
politik atau agama. Di dalam praktek, keanggotaan sukarela dan terbuka ini tentunya
dapat dijabarkan dengan persyaratan-peryaratan yang mengatur hak dan kewajiban
sebagai anggota koperasi yang lebih lanjut diatur dalam Anggaran Dasar Koperasi.
2. Pengawasan oleh anggota secara demokratis. Koperasi adalah organisasi terbuka
yang demokratis diawasi oleh para anggotanya, yang secara aktif menetapkan
kebijakan dan membuat keputusan. Anggota baik laki-laki maupun perempuan yang
dipilih sebagai pengurus atau pengawas bertanggung jawab kepada Rapat Anggota.
Dalam koperasi primer anggota memiliki hak suara yang sama (satu anggota satu
suara). Pada tingkat lainnya, koperasi juga dikelola secara demokratis.
3. Partisipasi anggota dalam kegiatan ekonomi. Anggota menyetorkan modal mereka
secara adil dan melakukan pengawasan secara demokratis. Sebagian dari modal
tersebut adalah milik bersama untuk dijadikan modal perusahaan koperasi yang
menjalankan fungsi ekonomi dalam memberikan pelayanan kepada anggota.
Pelayanan yang disediakan oleh perusahaan koperasi ini harus dimanfaatkan sebaik-
baiknya oleh anggota (partisipasi pemanfaatan pelayanan). Partisipasi pemanfaatan
pelayanan ini bila koperasi efisien akan menghasilkan surplus yang di Indonesia
dikenal dengan Sisa Hasil Usaha (SHU). Bila ada balas jasa terhadap modal,
diberikan secara terbatas. An ggota mengalokasikan SHU untuk beberapa atau semua
dari tujuan seperti di bawah ini:
a. Mengembangkan koperasi, caranya dengan membentuk cadangan untuk
menambah permodalan koperasi.
b. Dibagikan kepada anggotanya secara proporsional dan adil berdasarkan jasa
transaksi masing-masing anggota kepada koperasinya.
c. Mendukung kegiatan lainnya yang disepakati dalam Rapat Anggota.
37
4. Otonomi dan kemandirian. Koperasi adalah organisasi otonom dan mandiri yang
dimodali, dikelola, diawasi dan dipergunakan oleh para anggotanya. Apabila koperasi
membuat perjanjian dengan pihak lain, termasuk pemerintah, atau memperoleh modal
dari luar, maka hal itu harus berdasarkan peryaratan yang tetap menjamin adanya
upaya: pengambilan keputusan dan pengawasan yang demokratis oleh anggotanya
dengan tetap mempertahankan otonomi koperasi.
5. Pendidikan, pelatihan, dan informasi. Koperasi memberikan pendidikan dan
pelatihan bagi anggota, pengurus, pengawas, manajer, dan karyawannya.. Tujuannya
agar mereka dapat melaksanakan tugas dengan lebih efektif bagi perkembangan
koperasi. Koperasi juga wajib memberikan informasi kepada anggota dan masyarakat
umum, khususnya kepada orang-orang muda dan tokoh-tokoh masyarakat mengenai
hakekat dan manfaat berkoperasi.
6. Kerjasama antar koperasi. Dengan bekerjasama pada tingkat lokal, nasional ,
regional, dan internasional, maka gerakan koperasi diharapkan mampu melaayani
anggotanya dengan efektif dan dapat memperkuat jaringan gerakan koperasi.
7. Kepedulian terhadap masyarakat. Koperasi melakukan kegiatan dituntut untuk
mengembangkan masyarakat sekitarnya secara berkelanjutan, dengan tetap
memperhatikan kelestarian lingkungan ekosistem melalui kebijakan yang diputuskan
oleh Rapat Anggota.

Tujuan Koperasi
Dituangkan dalam pasal 3 (UU Perkoperasian No. 25 tahun 1992), yaitu : “Koperasi
bertujuan memajukan kesejahteraan anggota pada khususnya dan masyarakat pada
umumnya serta ikut membangun tatanan perekonomian nasional dalam rangka
mewujudkan masyarakat yang maju, adil dan makmur berdasarkan Pancasila dan UUD
1945”.

KRITERIA-KRITERIA KOPERASI
a. Peningkatan anggota perorangan.
Pada dasarnya lebih penting jumlah anggota perorangan daripada
jumlah koperasi, karena sebagai kumpulan orang kekuatan ekonomi
bersumber dari anggota perorangan. Ada dua faktor keanggotaan yang perlu
diperhatikan, yaitu kemampuan ekonomi dan tingkat kecerdasan anggota.
Kemampuan ekonomi anggota penting karena dapat digerakkan untuk
menyusun investasi, sedangkan kecerdasan anggota sangat menentukan
mutu manajemen yang sifatnya partisipasi dalam rapat anggota sebagai
kekuasaan tertinggi dengan satu anggota satu suara.
b. Peningkatan modal
Jumlah modal dari dalam dapat digunakan sebagai salah satu indikator utama
dari kemandirian koperasi. Semakin besar modal dari dalam berarti
kemandirian koperasi tersebut semakin tinggi. Indikator kemandirian yang
lain adalah keberanian manajemen untuk mengambil keputusan sendiri.
c. Peningkatan volume usaha

38
Volume usaha berkaitan dengan skala ekonomi, semakin besar volume usaha
suatu koperasi berarti semakin besar potensinya sebagai perusahaan, sehingga
dapat memberikan pelayanan dan jasa yang lebih baik kepada para anggota.
Sejalan dengan identitas koperasi yang menyatakan bahwa anggota dan
pelanggan adalahorang yang sama, maka volume usaha terutama harus berasal
dari jasa anggota. Loyalitas dan partisipasi aktif anggota sangat menentukan
besarnya volume usaha koperasi khususnya yang berasal dari anggota.
d. Peningkatan pelayanan kepada anggota dan masyarakat
Berbeda dengan unsur yang lain, pelayanan ini sukar dihitung secara
kuantitatif. Anggota dapat merasakan efeknya dengan membandingkan
sebelum dan sesudah ada koperasi. Bentuk pelayanan dapat bermacam-
macam, misalnya: pendidikan, kesehatan, beasiswa, sumbangan, pelayanan
usaha yang cepat dan efisien, dan sebagainya.

ASPEK-ASPEK DALAM KOPERASI


e. Aspek kelembagaan koperasi
Aspek kelembagaan koperasi meliputi legalitas badan hukum aktif
keanggotaan, kepengurusan, program kerja, standar operasional prosedur,
standar operasional manajemen, peraturan khusus, rapat anggota dan
karyawan, rasio peningkatan jumlah anggota serta persentase kehadiran dalam
rapat anggota.
f. Aspek usaha koperasi
Aspek usaha koperasi ditunjukkan dengan membaiknya keterikatan anggota
terhadap anggota lain maupun terhadap organisasi, dalam hal rasa tanggung
renteng atau kemauan untuk berbagi resiko (risk sharing), tingkat pemanfaatan
pelayanan koperasi, penambahan aset, peningkatan volume usaha, peningkatan
kapasitas produksi, dan peningkatan keuntungan.
g. Aspek keuangan koperasi
Aspek keuangan koperasi ditunjukkan dengan struktur permodalan, kondisi
kemampuan penyediaan dana, serta ukuran-ukuran kuantitatif lainnya, seperti
prosentasi pelunasan simpanan wajib, dan prosentasi besaran simpanan
sukarela
h. Aspek manfaat koperasi terhadap anggota
Aspek manfaat koperasi terhadap anggota ditunjukkan dengan meningkatkan
penghasilan anggota, menawarkan barang dan jasa yang lebih murah,
menumbuhkan motif berusaha yang berperikemanusiaan, menumbuhkan sikap
jujur dan terbuka
i. Aspek manfaat koperasi terhadap masyarakat
Aspek manfaat koperasi terhadap masyarakat ditunjukkan dengan seberapa
jauh usaha yang dijalankan koperasi dapat menyerap tenaga kerja setempat
serta seberapa banyak jumlah layanan koperasi yang dapat dinikmati oleh
masyarakat umum termasuk peran koperasi ikut mereduksi kemiskinan
masyarakat setempat.
BEBERAPA POKOK PIKIRAN MENGENAI ORGANISASI KOPERASI
1) Sejumlah individu yang bersatu dalam suatu Kelompok atas dasar satu
kepentingan atau tujuan yang sama (kelompok koperasi).
39
2) Anggota-anggota kelompok koperasi secara individual bertekad mewujudkan
tujuannya, yaitu memperbaiki situasi ekonomi dan sosial mereka, melalui
usaha-usaha (aksi-aksi) bersama dan saling membantu (swadaya dari
kelompok koperasi).
3) Sebagai instrumen (wahana) untuk mewujudkannya adalah suatu perusahaan
yang dimiliki dan dibina secara bersama (perusahaan koperasi).
4) Perusahaan koperasi ditugaskan untuk menunjang kepentingan para anggota
kelompok koperasi, dengan menyediakan/menawarkan barang dan jasa yang
dibutuhkan para anggota dalam kegiatan ekonominya (dalam
perusahaan/usaha (usaha tani, satuan usaha) dan/atau rumah-tangganya
masing-masing (tujuan/tugas atau prinsip promosi anggota)
Karakteristik Unsur Pokok dan Tatanan Manajemen Koperasi
 Anggota-anggota perseorangan.
 Kegiatan-kegiatan ekonomi para anggota.
 Kelompok koperasi.
 Perusahaan koperasi.
 Hubungan-hubungan usaha yang tercermin oleh keterkaitan antara kegiatan-
kegiatan ekonomi para anggota dan kegiatan perusahan koperasi, ataukah.
 Organisasi koperasi, sebagai suatu sistem sosial-ekonomi secara keseluruhan.

KONSEP KOPERASI SEBAGAI ORGANISASI BISNIS


Pengertian Koperasi sebagai Organisasi Usaha
 Pertama, UU No. 25 Tahun 1992 Koperasi badan usaha yang beranggotakan
orang seorang atau badan hukum koperasi, dengan berlandaskan kegiatan
berdasarkan prinsip koperasi sekaligus sebagai gerakan ekonomi rakyat yang
berdasar atas asas kekeluargaan.
 Kedua, International Cooperation Alliance (ICA) Koperasi sebagai kumpulan
orangorang atau badan hukum yang bertujuan untuk memperbaiki sosial
ekonomi anggotanya dan memenuhi kebutuhan ekonomi anggota dengan
saling membantu antaranggota, membatasi keuntungan, serta usaha tersebut
harus didasarkan pada prinsip-prinsip koperasi.
 Ketiga, Ropke (1985) Koperasi adalah suatu organisasi bisnis yang para
pemilik/anggotanya adalah juga pelanggan utama perusahaan tersebut.
Berdasarkan pandangan Ropke tersebut, dikembangkan koperasi yang sesuai
dengan aktivitas angggotanya:
1) Koperasi Pemasaran (Marketing Cooperative): menjual produk dari
bisnis mereka sendiri.
2) Koperasi Konsumen (Consumer Cooperation): Jika produk yang dibeli
dari suatu perusahaan adalah barang konsumsi akhir.
3) Koperasi Produsen (Productive Cooperation): para produsen secara
bersama-sama memproduksi barang tertentu, kemudian produk dijual
ke pasar umum/para pelanggan.
4) Koperasi Pelayanan (Cooperative Service): menyediakan pelayanan
pada para anggotanya, seperti: asuransi, kredit, telpon, listrik, rumah
sakit, fasilitas pengolahan data dengan komputer, dll.
40
5) Koperasi Pembelian dan Penjualan (Selling and Buying Cooperative):
koperasi yang menjual dan membeli produk kepada angggotanya.
6) Koperasi Simpan Pinjam: koperasi menerima tabungan dari para
angggotanya (marketing) dan menyediakan pinjaman kepada
anggotanya (purchasing).
7) Koperasi Serba Usaha: kelima koperasi tipe diatas dapat
dikombinasikan).

5.6 PRINSIP, DAN TUJUAN PEMBERDAYAAN UMKM

5.6.1 Prinsip UMKM

1) Penumbuhan kemandirian, kebersamaan, dan kewirausahaan UMKM untuk


berkaryadengan prakarsa sendiri.
2) Mewujudkan kebijakan publik yang transparan, akuntabel, dan berkeadilan.
3) Pengembangan usaha berbasis potensi daerah dan berorientasi pasar sesuai
dengankompetensi UMKM.
4) Peningkatan daya saing UMKM.
5) Penyelenggaraan perencanaan, pelaksanaan, dan pengendalian secara terpadu.

5.6.2 Tujuan Pemberdayaan UMKM

41
1) Mewujudkan struktur perekonomian nasional yang seimbang, berkembang,
dan berkeadilan.
2) Menumbuhkan dan mengembangkan kemampuan UMKM menjadi usaha
yangtangguh dan mandiri, dan
3) Meningkatkan peran UMKM dalam pembangunan daerah, penciptaan lapangankerja,
pemerataan pendapatan, pertumbuhan ekonomi, dan pengentasan rakyat
dankemiskinan.

5.7 KRITERIA-KRITERIA UMKM

1. Pasal 6 UU Nomor 20 Tahun 2008 tentang UMKM:


1) Kriteria Usaha Mikro
Kriteria Usaha Mikro adalah yang memiliki kekayaan bersih paling banyak Rp.
50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah) tidak termasuk tanah dan bangunan tempat
usaha; atau memiliki hasil penjualan tahunan paling banyak Rp. 300.000.000,00 (tiga
ratus juta rupiah).
2) Kriteria Usaha Kecil
Kriteria Usaha Kecil adalah yang memiliki kekayaan bersih lebih dari Rp.
50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah) sampai dengan paling banyak Rp. 500.
000.000,00 (lima ratus juta rupiah) tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha ;
atau yang memiliki hasil penjualan tahunan lebih dari Rp. 300.000.000,00 (tiga ratus
juta rupiah) sampai dengan paling banyak Rp. 2.500.000.000,00 (dua milyar lima
ratus juta rupiah).
3) Kriteri Usaha Menengah
Kriteria Usaha Menengah adalah yang memiliki kekayaan bersih lebih dari Rp.
500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah) sampai dengan paling banyak Rp.
10.000.000.000,00 (sepuluh milyar rupiah) tidak termasuk tanah dan bangunan tempat
usaha; atau memiliki hasil penjualan tahunan lebih dari Rp. 2.500.000.000,00 (dua
milyar lima ratus juta rupiah sampai dengan paling banyak Rp. 50.000.000.000,00
(lima puluh milyar rupiah).

2. Kekayaan Bersih: hasil pengurangan total nilai kekayaan usaha (aset) dengan total nilai
kewajiban tidak termasuk tanah & bangunan tempat usaha. Hasil penjualan tahunan:
hasil penjualan bersih (netto) yang berasal dari penjualan barang & atau jasa usahanya
dalam 1 tahun buku.

42
Secara lebih terperinci, Anogara dan Sudantoko (2002:225-6) menggambarkan
karakterisik UKM secara umum yang lebih banyak merupakan kelemahan yaitu :
1) Sistem pembukuan yang relatif sederhana dan cenderung tidak mengikuti kaidah
administratif pembukuan standar. Kadangkala pembukuan tidak di up to date
sehingga sulit untuk menilai kinerjanya.
2) Margin usaha yang cenderung tipis mengingat persaingan yang sangat tinggi.
3) Modal terbatas.
4) Pengalaman manajerial dan mengelola perusahaan masih sangat terbatas.
5) Skala ekonomi yang terlalu kecil, sehingga sulit mengharapkan untuk mampu
menekan biaya mencapai titik efisiensi jangka panjang.
6) Kemampuan pemasaran dan negosiasi serta diversivikasi pasar sangat terbatas.
Kemampuan untuk memperoleh sumber dana dari pasar modal rendah, mengingat
keterbatasan dalam sistem administrasinya. Untuk mendapatkan dana di pasar modal, sebuah
perusahaan harus mengikuti sistem administrasi standar dan harus tranparan.
5.8 ASPEK – ASPEK PENDUKUNG NON FINANSIAL KEMAJUAN UMKM DI
INDONESIA
1. Aspek Pendanaan dan Pembiayaan UMKM.
2. Aspek Sarana dan Prasarana UMKM.
3. Aspek Perizinan UMKM.
4. Aspek Kesempatan Berusaha UMKM.
5. Aspek Promosi Dagang dan Pemasaran UMKM.
6. Aspek Dukungan dan Kelembagaan UMKM.
7. Aspek Pengembangan UMKM.
8. Aspek Pengembangan SDM UMKM.
9. Aspek Perjanjian, Kemitraan, dan Pola Kemitraan.
5.8.1 Aspek-Aspek yang berpengaruh pada UMKM
1. Kepribadian, dipengaruhi: sikap & tingkah laku, Latar belakang pendidikan, Kondisi
lingkungan, Bakat & bawaan, iman sesorang, dll.
2. Motivasi, dipengaruhi: tingkat pendidikan, tingkat kemampuan ekonomi, gaya hidup
& niai-nilai yang dianut, tekanan dari pihak-pihak eksternal, persepsi individu, dll.
3. Fasilitas dan Pertumbuhan ditunjang oleh: tingkat kemajuan kehidupan, trend
kebutuhan yang ada, peluang & keterbatasan sumber, kepercayaan pihak ekternal,
subsidi pemerintah, faktor lain.

5.9 PERAN, PROSPEK, KEKUATAN DAN KELEMAHAN UMKM

5.9.1 Peran UMKM Usaha Mikro Kecil Menengah :

Usaha mikro mempunyai peran yang penting dalam pembangunan ekonomi, karena
intensitas tenaga kerja yang relatif lebih tinggi dan investasi yang lebih kecil, sehingga usaha
mikro lebih fleksibel dalam menghadapi dan beradaptasi dengan perubahan pasar. Hal ini
menyebabkan usaha mikro tidak terlalu terpengaruh oleh tekanan eksternal, karena dapat
mengurangi impor dan memiliki kandungan lokal yang tinggi. Oleh karena itu pengembangan
usaha mikro dapat memberikan kontribusi pada diversifikasi ekonomi dan perubahan struktur
sebagai prakondisi pertumbuhan ekonomi jangka panjang yang stabil dan berkesinambungan.
Disamping itu tingkat penciptaan lapangan kerja lebih tinggi pada usaha mikro dari pada
yang terjadi di perusahaan besar.

43
Dalam UU No.20/2008 tentang UMKM, didefinisikan bahwa pemberdayaan adalah
upaya yang dilakukan Pemerintah, Pemerintah Daerah, Dunia Usaha, dan Masyarakat secara
sinergis dalam bentuk penumbuhan iklim dan pengembangan usaha terhadap UMKM
sehingga mampu tumbuh dan berkembang menjadi usaha yang tangguh dan mandiri.

Sedangkan Iklim Usaha adalah kondisi yang diupayakan Pemerintah dan Pemerintah
Daerah untuk memberdayakan UMKM secara sinergis melalui penetapan berbagai peraturan
perundang-undangan dan kebijakan di berbagai aspek kehidupan ekonomi upaya ini
dilakukan agar UMKM memperoleh pemihakan, kepastian, kesempatan, perlindungan, dan
dukungan berusaha yang seluas-luasnya.

Menurut survey BPS tahun 2004, di Indonesia ada 141,36 juta UMKM (99,9% dari
total unit usaha). Dengan jumlahnya yang begitu banyak, serta kemampuannya dalam
menyerap tenaga kerja (76,55 juta atau 99,5% dari total angkatan kerja yang bekerja), dengan
total kontribusi yang sangat signifikan yaitu sebesar 55,3% dari total PDB, maka potensi
yang dimiliki oleh UMKM untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional sangatlah besar.
Itulah alasan mengapa pemerintah begitu gencar dalam usahanya mengembangkan UMKM,
selain dengan pembuktian empiris dimana saat periode krisis ekonomi kemarin, ketika begitu
banyak perusahaan-perusahaan besar yang tumbang dan melakukan PHK dalam jumlah
besar, UMKM dengan fleksibilitasnya mampu survive dari kondisi tersebut

Laju pertumbuhan ekonomi yang baik dengan ditandai oleh PDB (Produk domestik
Bruto) tinggi di negara-negara Asia Timur dan Asia Tenggara dengan sebutan Newly
Industrialized Countries (NICs) seperti Korea Selatan, Singapura dan Taiwan yang
disebabkan oleh kinerrja UMKM yang efisien, produktif serta mempunyai daya saing global
yang tinggi. Demikian juga di negara-negara yang sedang berkembang dengan tingkat
pendapatan menengah dan rendah, peranan UMKM sangat penting. (Tambunan, 2002 :19).

Melihat peran UMKM dalam menciptakan lapangan kerja, pengentasan kemiskinan


bahkan meningkatkan pendapatan nasional tersebut maka dukungan terhadap pertumbuhan
UMKM berarti mengatasi kemiskinan, dan menciptakan lapangan kerja atau pro-job, pro-
poor dan pro-growth.

Permasalahan yang paling sering timbul dalam usaha pengembangan ini berhubungan
dengan karakteristik yang dimiliki oleh UMKM yang sedikit menyulitkan. Beberapa
karakteristik yang paling melekat pada sebagian besar UMKM antara lain: 1) Rendahnya
produktivitas pekerja yang menyebabkan pengusaha mikro kecil kesulitan memenuhi kuota
UMR (Upah Kerja Regional), 2) Rendahnya produktivitas antara lain karena pendidikan, etos
kerja, disiplin, tanggung jawab dan loyalitas karyawan. 3) Keterbatasan akses pengusaha
mikro kecil terhadap modal. 4) Kemampuan manajerial dan pemasaran yang masih rendah. 5)
Kurangnya infrastuktur di Indonesia. 6) Tingginya biaya impor bahan baku dan suku cadang
yang mengakibatkan melonjaknya biaya produksi. 7) Turunnya daya beli masyarakat.

Pada umumnya ada tiga institusi yang berperan dalam pembinaan UMKM, yaitu:

44
1. Lembaga teknis yang bertugas mengembangkan produk, utilitas, kualitas SDM dan
optimalisasi.
2. Lembaga keuangan yang bertugas menyediakan dana secara profesional
(microfinance). Keprofesionalan ini sering kali dikaitkan dengan pemberian dana
kepada UMKM yang bankable, namun fakta di lapangan menyebutkan bahwa
hampir 99% UMKM di Indonesia tidak memenuhi syarat bankable tersebut,
sehingga analisis kredit dapat dilakukan dengan metode kualitatif.
3. Lembaga pemasaran yang bertugas membantu memberi assitensi kepada UMKM
dalam akses pasar dan pemasaran (market and marketing).
4. Pendidikan, LSM.

Sebenarnya di Indonesia, sebelum isu UMKM merebak, telah dilakukan berbagai macam
strategi dalam usaha mengembangkan UMKM ini yang sebagian besar fokus pada
pemberdayaan tenaga kerja melalui output expansion dan innovation adoption, yang berarti
adanya peran lembaga teknis yang lebih besar dibandingkan dengan lembaga lainnya. Hampir
semua bentuk intervensi yang diketahui pernah diaplikasikan, antara lain program-program
pelatihan technical skills dan kewirausahaan, konsultasi pemberdayaan karyawan, subsidi
input, peningkatan infrastruktur, pembangunan fasilitas public, pembangunan sentra-sentra
industri, kredit subsidi dan lainnya. Review menunjukkan ada lebih dari 30 program-program
pendampingan teknis UMKM di Indonesia yang tersebar di beberapa departemen. Pelatihan
teknis yang dilakukan lebih difokuskan pada pelatihan kepada produsen dalam hal
pembukuan, manajemen, technical skills, kewirausahaan dan marketing. Kesimpulan umum
yang diperoleh adalah bahwa sebagian besar program tersebut memberikan pengaruh yang
sedikit sekali terhadap pengembangan UMKM. Sebagian besar disebabkan oleh terbatasnya
dana yang dialokasikan untuk begitu banyaknya program dan dengan jumlah UMKM yang
begitu besar.

5.9.2 Kekuatan dan Kelemahan UMKM

Secara teoritis Hoselitz (1959) sebagai orang pertama yang membahas relasi antara
tingkat pendapatan dan tingkat dominasi UKM, mengemukakan bahwa dari hasil studinya
dengan menggunakann data dari sejumlah negara-negara di Eropa, menyimpulkan bahwa
dalam proses pembangunan di suatu wilayah tercerminkan dalam laju pertumbuhan PDB atau
peningkatan pendapatan perkapita, kontribusi UKM di wilayah tersebut mengalami
perubahan.

Beberapa aspek yang sangat menentukan prospek perkembangan UKM adalah


kemampuan UKM itu sendiri untuk mendiagnosis keuatan yang kemudian dioptimalkan dan
kelemahan yang kemudian harus diminimalisir dalam menjawab tantangan internal maupun
eksternal. Aspek-aspek yang menjadi kekuatan dan kelemahan tersebut adalah faktor
manusia.

5.9.3 Kekuatan Dan Kelemahan UMKM

1. Dari aspek manusia

45
Kekuatan UKM adalah :

1) Motivasi yang kuat untuk mempertahankan usahanya serta


2) Supply tenaga kerja yang melimpah dengan upah yang murah.

Sedangkan kelemahannya adalah :

1) Kualitas SDM rendah baik dilihat dari tingkat pendidikan formal maupun ditinjau dari
kemampuan untuk melihat peluang bisnis,
2) Tingkat produktivitas rendah,
3) Penggunaan tenaga kerja cenderung eksploitatif dengan tujuan untuk mengejar target,
4) Sering mengandalkan anggota keluarga sebagai pekerja tidak dibayar.

2. Faktor Ekonomi (Bisnis)

Kekuatan UKM apabila dilihar dari faktor ekonomi (bisnis) adalah :

1) Mengandalkan sumber keuangan informal yang mudah diperolah.


2) Mengandalkan bahan-bahan baku lokal (tergantung pada jenis produk yang dibuat),
3) Melayani segmen pasar bawah yang tinggi permintaan (proposi dari populasi paling
besar).

Sedangkan kelemahan UKM dari faktor ekonomi (bisnis) adalah :

1) Nilai tambah yang diperoleh rencah, dan akumulasinya sulit terjadi. Dan
2) Manajemen keuangan yang buruk.

Kekuatan dari kedua faktor tersebut harus dioptimalkan dalam upaya menjaga survivalitas
UKM maupun untuk meningkatkan dan mengembangkan UKM itu sendiri, sedangkan
kelemahan dari kedua faktor tersebut harus secara terus menerus diminimalisir dan
dihilangkan sama sekali.

Beberapa keunggulan UKM dibandingkan usaha besar adalah :

1) UKM biasanya memenuhi permintaan (aggregate demand) yang terjadi di wilayah


regionalnya sehinggi UKM menyebar di seluruh pelosok dengan ragam bidang usaha.
2) Mempunyai keleluasaan atau kebebasan untuk masuk atau keluar dari pasar
mengingat modal sebagaian besar terserap pada modal kerja dan sangat kecil yang
dimasukan dalam aktiva tetap sehingga yang dipertaruhkan juga kecil. Dampak dari
hal ini adalah kemudahan untuk meng up to date produknya sehingga mempunyai
derajat imunitas yang tinggi terhadap gejolak perekonomian internasional.
3) Sebagian besar UKM adalah padat karya (Labour intensive) megingat teknologi yang
digunakan UKM relatif sederhana. Persentase distribusi nilai tambah sangat besar
sehingga distribusi pendapatan bisa lebih tercapai. Hubungan erat antara pemilik
dengan karyawan menyebabkan sulitnya terjadi PHK (Pemutusan Hubungan Kerja).
Keadaaan ini menunjukan betapa usaha kecil memiliki fungsi sosial ekonomi.

5.10 POLA PEMBERDAYAAN

46
Pola Pendekatan Pemberdayaan UMKM dapat dilakukan dengan tiga pendekatan,
yaitu pola kemitraan, pola BDSP dan pola Klaster. Adapun pola pendekatan pemberdayaan
UMKM tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut :
5.10.1 Pola Kemitraan
Kemitraan menurut Peraturan Pemerintah N.o 44 Tahun 1997, adalah kerjasama
usaha antara Usaha Kecil dengan Usaha Menengah dan atau dengan Usaha Besar disertai
pembinaan dan pengembangan oleh Usaha Menengah dan atau Usaha Besar dengan
memperhatikan prinsip saling memerlukan, saling memperkuat dan saling
menguntungkan.Kemitraan dalam rangka keterkaitan usaha diselenggarakan melalui pola-
pola yang sesuai dengan sifat dan tujuan usaha yang dimitrakan dengan diberikan peluang
kemitraan seluas-luasnya kepada Usaha Kecil, oleh Pemerintah dan dunia usaha. Pola-pola
kemitraan yang umum dijumpai antara lain Kemitraan Inti Plasma dan Pola Bapak Angkat.
1) Kemitraan (Inti Plasma)
Dalam pola inti plasma, Usaha Besar dan atau Usaha Menengah sebagai inti membina
dan mengembangkan Usaha Kecil yang menjadi plasmanya antara lain meliputi :
a. Penyediaan dan penyiapan lahan;
b. Penyediaan sarana produksi;
c. Pemberian bimbingan teknis manajemen usaha dan produksi;
d. Perolehan, penguasaan dan peningkatan teknologi yang diperlukan;pembiayaan;
e. Pemberian bantuan lainnya yang diperlukan bagi peningkatan efisiensi dan
produktivitas usaha.

Dalam hal kemitraan Usaha Besar dan atau Usaha Menengah dengan Usaha Kecil
berlangsung dalam rangka sub kontrak untuk memproduksi barang dan atau jasa, Usaha
Besar atau Usaha Menengah memberikan bantuan antara lain berupa :

a. Kesempatan untuk mengerjakan sebagian produksi dan atau komponen;


b. Kesempatan yang seluas-luasnya dalam memperoleh bahan baku yang diproduksinya
secara berkesinambungan dengan jumlah dan harga yang wajar;
c. Bimbingan dan kemampuan teknis produksi atau manajemen;
d. Perolehan, penguasaan dan peningkatan teknologi yang diperlukan;
e. Pembiayaan.
Dalam kegiatan perdagangan pada umumnya, kemitraan antara Usaha Besar dan atau
Usaha Menengah dengan Usaha Kecil dapat berlangsung dalam bentuk kerjasama
pemasaran, penyediaan lokasi usaha, atau penerimaan pasokan dari Usaha Kecil mitra
usahanya untuk memenuhi kebutuhan yang diperlukan oleh Usaha Besar dan atau Usaha
Menengah yang bersangkutan.

Usaha Besar dan Usaha Menengah yang melaksanakan kemitraan mempunyai hak
untuk mengetahui kinerja kemitraan Usaha Kecil mitra binaannya. Sementara Usaha
Kecil yang bermitra mempunyai hak untuk memperoleh pembinaan dan pengembangan
dari Usaha Besar dan atau Usaha Menengah mitranya dalam satu aspek atau lebih tentang
pemasaran, sumber daya manusia, permodalan, manajemen dan teknologi.

Usaha Besar dan atau Usaha Menengah yang melaksanakan kemitraan dengan Usaha
Kecil /Mikrober kewajiban untuk melakukan pembinaan kepada mitra binaannya dalam
satu atau lebih aspek :
47
a. Pemasaran, dengan :
a) Membantu akses pasar;
b) Memberikan bantuan informasi pasar;
c) Memberikan bantuan promosi;
d) Mengembangkan jaringan usaha;
e) Membantu melakukan identifikasi pasar dan perilaku konsumen;
f) Membantu peningkatan mutu produk dan nilai tambah kemasan.
b. Pembinaan dan pengembangan sumber daya manusia, dengan :
a) Pendidikan dan pelatihan;
b) Magang;
c) Studi banding;
d) Konsultasi.
c. Permodalan, dengan :
a) Pemberian informasi sumber-sumber kredit;
b) Tata cara pengajuan penjaminan dari berbagai sumber lembaga penjaminan;
c) Mediator terhadap sumber-sumber pembiayaan;
d) Informasi dan tata cara penyertaan modal;
e) Membantu akses permodalan.
d. Manajemen, dengan :
a) Bantuan penyusunan studi kelayakan;
b) Sistem dan prosedur organisasi dan manajemen;
c) Menyediakan tenaga konsultan dan advisor.
e. Teknologi, dengan :
a) Membantu perbaikan, inovasi dan alih teknologi;
b) Membantu pengadaan sarana dan prasarana produksi sebagai unit percontohan;
c) Membantu perbaikan sistem produksi dan kontrol kualitas;
d) Membantu pengembangan disain dan rekayasa produk;
e) Membantu meningkatkan efisiensi pengadaan bahan baku.

Usaha kecil / mikro yang bermitra berkewajiban untuk

a. Meningkatkan kemampuan manajemen dan kinerja usahanya secara berkelanjutan,


sehingga lebih mampu melaksanakan kemitraan dengan Usaha Besar atau Usaha
Menengah; dan
b. Memanfaatkan dengan sebaik-baiknya berbagai bentuk pembinaan dan bantuan yang
diberikan oleh Usaha Besar dan atau Usaha Menengah.

2) Pola Bapak Angkat


Pada dasarnya pola bapak angkat adalah refleksi kesediaan pihak yang mampu
(besar) untuk membantu pihak lain yang kurang mampu (kecil) pihak yang memang
memerlukan pembinaan. Oleh karena itu, pada hakikatnya pola pendekatan tersebut
adalah cermin atau wujud rasa kepedulian pihak yang besar terhadap yang kecil. Pola
Bapak angkat dalam pengembangan UMK umumnya banyak dilakukan BUMN dengan
usaha mikro dan kecil.
5.10.2 Pola BDSP
Sampai saat ini pengertian Business Development Services (BDS) yang
diterjemahkan sebagai "Jasa Pengembangan Usaha (JPU) begitu pula Business Development
Services Provider (BDSP) masih bervariasi sehingga perlu diarahkan agar semua pihak dapat

48
menerimanya dan menggunakannya. BDS adalah suatu kegiatan dalam bentuk jasa dalam
berbagai bidang yang dilakukan oleh individu dan atau lembaga untuk tujuan pengembangan
usaha, dalam hal ini UMKM.
Sedangkan BDSP adalah suatu lembaga yang memberi/menyediakan pelayanan jasa
untuk pengembangan usaha UMKM dalam berbagai bidang antara lain teknis, sosial-
ekonomi, keuangan, dll.Selain pengertian yang dikemukakan di atas, Committee of Donor
Agencies for SmallEnterpriseDevelopment mendefinisikan BDS sebagai berikut "jasa non-
finansial yang meningkatkan kinerja suatu perusahaan, akses ke pasar, dan kemampuannya
untuk bersaing". Sedangkan Organisation for Economic Cooperation and Development
(OECD) menyebutkan sebagai" jasa-jasa bisnis strategis yang meliputi perangkat lunak
komputer dan jasa proses informasi, riset dan jasa pengembangan dan teknis, jasa marketing,
jasa pengelolaan organisasi bisnis dan jasa pengembangan sumber daya manusia".
Sementara ini telah tercapai konsensus internasional bahwa jasa-jasa perdagangan,
hiburan, akomodasi, transportasi dan keuangan dalam hubungannya dengan penyediaan
modal, tidak akan dipertimbangkan sebagai BDS atau jasa bisnis strategis.Kementerian
Koperasi dan UKM mendefinisikan BDSP sebagai lembaga atau bagian dari lembaga yang
memberikan layanan pengembangan bisnis dalam rangka meningkatkan kinerjaUMKM.
Lembaga tersebut berbadan hukum, bukan lembaga keuangan, serta dapat memperoleh fee
dari jasa layanannya. Definisi BDSP dari Swisscontact, suatu lembaga yang aktif dalam
pengembangan BDS di Indonesia, menyebutkan bahwa BDS merupakan bentuk jasa non
keuangan yang disediakan oleh lembaga eksternal (Pemerintah atau Swasta) yang bertugas
memecahkan masalah yang dihadapi UMKM serta memberikan jasa pengembangan bisnis
yang diperlukan.

Dalam hubungan dengan pemberdayaan BDSP, maka jasa yang diberikan oleh BDSP adalah
konsultansi/pendampingan dalam hal manajemen/analisis keuangan agar terjadi kemitraan
dengan bank atau terjadinya penyaluran dana bank kepada UMKM tersebut disertai dengan
pembinaannya.

49
PENDAHULUAN

Koperasi sebagai bentuk badan usaha tentunya dalam melakukan kegiatan usahanya
tidak terlepas dari masalah permodalan. Mengapa modal koperasi penting, karena tanpa
modal maka suatu organisasi atau perusahaan tidak akan bisa berjalan sebagaimana mestinya.
Pada umumnya modal koperasi berasal dari iuran dari para anggotanya. Namun dalam
perkembangannya modal koperasi bisa juga berasal dari pinjaman, baik dari anggota sendiri,
di luar anggota seperti perbankan. Bahkan sekarang koperasi dimungkinkan untuk
menerbitkan sertifikat obligasi.

Modal koperasi penting karena dengan adanya modal yang cukup maka koperasi akan
mampu untuk bersaing dengan usaha-usaha lain di luar koperasi. Sumber permodalan dan
dana cadangan koperasi diatur dalam UU Nomor 25 Tahun 1992 tentang Perkoperasian.

Modal koperasi dibutuhkan untuk membiyai usaha dan organisasi koperasi. Modal
usaha terdiri dari modal investasi dan modal kerja. Adapun pengertian kedua istilah ini adalah
sebagai berikut.

1. Modal investasi adalah sejumlah uang yang ditanam atau dipergunakan untuk
pengadaan sarana operasional suatu perusahaan, yang bersifat tidak mudah diuangkan
(unliquid) seperti tanah, mesin, bangunan, peralatan kantor, dan lain-lain.
2. Modal kerja adalah sejumlah uang yang tertanam dalam aktiva lancar perusahaan atau
yang dipergunakan untuk membiayai operasional jangka pendek perusahaan, seperti
pengadaan bahan baku, tenaga kena, pajak, biaya listrik, dan lain-lain. Ditinjau dari
sudut neraca, modal kerja adalah aktiva lancar dikurangi kewajiban lancar. Aktiva
lancar adalah harta perusahaan yang dalam jangka paling lama setahun dapat
dicairkan menjadi uang kas, seperti deposito jangka pendek, piutang-piutang dagang,
persediaan barang, dan uang kas.
Ditinjau dari perspektif manajemen, modal kerja (working capital) selalu dibutuhkan
selama usaha berjalan. Oleh sebab itu, para pengelola usaha pada umumnya menaruh
perhatian khusus pada penanganan modal kerja ini. Dilihat dari sifatnya, modal kerja akan
berputar terus-menerus di dalam perusahaan. Pengeluaran-pengeluaran yang dipergunakan
untuk pembelian bahan baku, pembayaran gaji atau upah karyawan, dan lain-lainnya akan
kembali lagi menjadi uang kas melalui hasil penjualan dan selanjutnya dipergunakan lagi

50
untuk biaya operasional perusahaan. Siklus yang demikian disebut perputaran modal kerha
sebagaimana yang ditunjukan gambar dibawah ini

Modal Kerja

Penjualan Operasi Perusahaan

Barang / Jasa

Gambar : Perputaran modal kerja

Selanjutnya perlu diketahui bahwa, modal kerja merupakan alat untuk mengukur
likuiditas suatu perusahaan. Likuiditas adalah alat untuk mengetahui kemampuan perusahaan
dalam memenuhi kewajiban-kewajiban finansialnya dalam jangka pendek.

I. SUMBER PENDANAAN KOPERASI DAN UMKM


1.1 Sumber Pendanaan Koperasi

Menurut UU No. 25 Tahun 1992 tentang Perkoperasian pasal 41 bahwa modal


koperasi terdiri dari modal sendiri dan modal pinjaman. Modal sendiri dapat berasal dari
simpanan pokok, simpanan wajib, dana cadangan, hibah dari anggota maupun dari
masyarakat. Sedangkan modal pinjaman dapat berasal dan anggota koperasi, koperasi lainnya
dan/atau anggotanya, bank dan lembaga keuangan lainnya, penerbitan obligasi dan surat
utang lainnya, serta sumber lain yang sah.

I.1.1 Modal Sendiri


Yang dimaksud dengan modal sendiri dalam penjelasan pasal 1 ayat (2) UU nomor
25/1992 adalah modal yang menanggung resiko atau disebut modal ekuiti.

a. Simpanan pokok

51
Simpanan pokok adalah sejumlah uang yang sama banyaknya yang wajib dibayarkan
oleh anggota kepada koperasi pada saat masuk menjadi anggota. Simpanan pokok
tidak dapat diambil kembali selama yang bersangkutan masih menjadi anggota.
Mengenai cara penyerahan/penyetoran simpanan pokok dan anggota kepada koperasi
dapat diatur di dalam setiap AD/ART koperasi, apakah dilakukan sekaligus atau
dengan cara diangsur.
b. Simpanan Wajib
Simpanan wajib adalah sejumlah simpanan tertentu yang tidak harus sama yang wajib
dibayar oleh anggota kepada koperasi dalam waktu dan kesempatan tertentu.
Simpanan wajib tidak dapat diambil kembali selama yang bersangkutan masih
menjadi anggota.
c. Simpanan Sukarela
Simpanan sukarela adalah simpanan yang besarnya tidak ditentuka, tetapi bergantung
pada kemampuan anggota. Simpanan sukarela disetorakan setiap saat. Terhadap
simpanan sukarela ini koperasi menentapkan tingkat suku bunga tertentu yang
disepakati anggota.
d. Dana Cadangan
Dana cadangan adalah sejumlah uang yang diperoleh dari penyisihan sisa hasil usaha,
yang dimaksudkan untuk memupuk modal sendiri dan untuk menutup kerugian
koperasi bila diperlukan.
Dana cadangan koperasi tidak boleh dibagikan kepada anggota, meskipun terjadi
pembubaran koperasi. Dana ini, pada masa pembubaran oleh penyelesai pembubaran
dipakai untuk menyelesaikan utang-utang koperasi, kerugian-kerugian koperasi,
biaya-biaya penyelesaian, dan sebagainya.
e. Hibah atau Donasi
Hibah atau donasi adalah suatu pemberian atau hadiah dari seseorang semasa
hidupnya. Hibah ini dapat berbentuk wasiat, jika pemberian tersebut diucapkan/ditulis
oleh seseorang sebagai wasiat atau pesan atau kehendak terakhir sebelum meninggal
dunia dan baru berlaku setelah dia meninggal dunia.
Modal koperasi yang merupakan pemberian (hibah) ini adalah pemberian harta
kekayaan dari seseorang (baik sebagai anggota koperasi maupun bukan anggota) yang
berupa kebendaan, baik benda bergerak atau benda tetap. Untuk pemindahan hak
milik harta kekayaan yang berupa benda bergerak dari pemberi hibah dapat dilakukan
seketika, karena penyerahan hak milik atas benda bergerak dilakukan langsung dari
tangan ke tangan (hand to hand). Untuk penyerahan benda tetap dilakukan melalui
penyerahan yuridis, yaitu suatu penyerahan yang harus memenuhi syarat - syarat
hukum tertentu untuk sahnya suatu pemindahan hak milik atas benda tetap.

I.1.2 Modal Pinjaman


Pengembangan kegiatan usahanya, koperasi dapat menggunakan modal pinjaman
dengan memperhatikan kelayakan dan kelangsungan usahanya. Modal pinjaman dapat
berasal dari:

a. Anggota

52
Suatu pinjaman yang diperoleh dari anggota, termasuk calon anggota yang memenuhi
syarat,
b. Koperasi lain atau anggota
Pinjaman dari koperasi lain dari atau anggotanya didasari dengan perjanjian kerja
sama antarkoperasi,
c. Bank dan lembaga keuangan lainnya
Pinjaman dari bank dan lembaga keuangan lainnya dilakukan berdasarkan ketentuan
peraturan perundang-undangan yang berlaku. Jika tidak terdapat ketentuan khusus,
koperasi sebagai debitur dari bank atau lembaga keuangan lainnya diperlakukan sama
dengan debitur lain, baik mengenai persyaratan pemberian dan pengembalian kredit
maupun prosedur kredit,
d. Penerbitan obligasi dan surat utang lainnya
Dalam rangka mencari tambahan modal, koperasi dapat mengeluarkan obligasi (surat
pernyataan utang) yang dapat dijual ke masyarakat. Sebagai konsekuensinya, maka
koperasi diharuskan membayar bunga atas pinjaman yang diterima (nilai dari obligasi
yan dijual) secara tetap, baik besar maupun waktunya. Penerbitan obligasi dan surat
utang lainnya dilakukan berdasarkan ketentuan perundang - undangan yang berlaku.

e. Sumber lain yang sah


Sumber lain yang sah adalah pinjaman dari bukan anggota yang dilakukan tidak
melalui penawaran secara hukum. Contoh: pemberian saham kepada koperasi oleh
perusahaan berbadan hukum PT, sebagai wujud himbauan Presiden Suharto beberapa
waktu yang lalu di petemakan Tapos Bogor. Pemberian ini pada praktiknya bukan
hibah karena koperasi menerima saham tersebut tetapi harus membayar nilai saham
yang diterima. Hanya saja pembayaran nilai saham yang diterima tidak secara tunai,
tetapi dibayar dari deviden yang seharusnya diterima koperasi tersebut. Hal ini terjadi
sampai nilai saham yang diterima koperasi tersebut terpenuhi.

Modal Sendiri :
Modal
1. Simpanan Pokok Kerja
2. Simpanan Wajib
3. Simpanan Sukarela
4. Dana Cadangan Sisa Hasil
Modal Usaha
5. Luar
Modal Donasi/Hibah
/ Pinjaman :
Koperasi
1. Anggota
2. Koperasi Modal
3. Bank dan Lembaga Investasi
Keuangan lainnya
4. Penerbitan Obligasi
5. Sumber lain
Gambar : Mekanisme Permodalan Koperasi di Indonesia

Kemungkinan menghimpun modal koperasi melalui penerbitan obligasi tampaknya


masih sulit untuk dapat dilakukan mengingat kondisi koperasi dewasa ini. Banyak

53
persyaratan yang masih sulit untuk dipenuhi oleh koperasi. Beberapa persyaratan yang harus
dipenuhi di antaranya:

1) Emiten harus mempunyai modal telah di setor penuh minimal Rp 200 juta,
2) Dalam dua tahun buku terakhir secara berturut-turut memperoleh laba,
3) Laporan keuangan telah diperiksa oleh akuntan publik/negara untuk dua tahun
terakhir secara berturut-turut dengan pernyataan wajar tanpa syarat untuk tahun
terakhir,
4) Memiliki rekomendasi dari Bank Indonesia mengenai jumlah obligasi yang dapat
diterbitkan, jika perusahaan tersebut berupa bank.
Selain persyaratan tersebut, dalam proses obligasi perlu dilibatkan beberapa unsur
berikut ini.

1) Pemodal, yaitu perorangan dan/atau lembaga yang akan menanamkan modalnya.


2) Penerbitan prospektus yang memuat keterangan lengkap dan jujur mengenai keadaan
perusahaan dan bagaimana prospeknya.
3) Penjamin emisi efek (underwriter) yaitu lembaga perantara emisi yang menjamin
penjualan efek (obligasi).
4) Wali amanat (trustee) yaitu lembaga yang di tunjuk emiten yang diberi kepercayaan
untuk mewakili kepentingan para pemegang obligasi.
5) Penanggung (garantor), lembaga yang menanggung pelunasan kembali pinjaman
pokok obligasi dan pembayaran bunga bila emiten cedera janji.
Dalam sejarah perkoperasian di Indonesia, baru satu buah koperasi yang pernah
mengeluarkan obligasi yaitu koperasi Bank BUKOPIN yang dilakukan tahun 1989 yang
bernilai Rp. 30 Milyar, di mana IKPN (sekarang IKPRI) termasuk salah satu pembelinya.

Berdasarkan hal-hal tersebut di atas, maka tampaknya sulit bagi koperasi untuk
memupuk permodalannya dengan cara penjualan obligasi, tetapi tidak menutup kemungkinan
dikembangkan untuk jangka panjang. Selain modal sendiri dan modal pinjaman, koperasi
dapat pula melakukan pemupukan modal yang berasal dari modal penyertaan. Modal
penyertaan adalah sejumlah uang atau barang modal yang dapat dinilai dengan uang yang
ditanamkan oleh pemodal untuk menambah dan memperkuat struktur permodalan koperasi
dalam meningkatkan kegiatan usahanya. Pemupukan modal dari modal penyertaan, baik yang
bersumber dari pemerintah maupun dari masyarakat dilaksanakan dalam rangka memperkuat
kegiatan usaha koperasi terutama yang berbentuk investasi. Pemilik modal penyertaan ikut
menanggung resiko. Pemilik modal penyertaan tidak mempunyai hak suara dalam rapat
anggota dan dalam menentukan kebijaksanaan koperasi secara keseluruhan. Namun
demikian, pemilik modal penyertaan dapat diikutsertakan dalam pengelolaan dan pengawasan
usaha investasi yan didukung oleh modal penyertaannya sesuai dengan perjanjian.

Untuk dapat memupuk modal penyertaan, koperasi sekurang-kurangnya dapat


memenuhi persyaratan:

1) Telah memperoleh status badan hukum,

54
2) Membuat rencana kegiatan dari usaha yang akan dibiayai modal penyertaan,
dan
3) Mendapat persetujuan Rapat Anggota.
Dalam hubungan ini, modal ventura merupakan cara yang terbaik bagi pemupukan
modal koperasi. Modal ventura adalah merupakan salah satu bentuk dari penyertaan modal di
mana setelah selang waktu yang telah ditentukan, modal harus ditarik kembali oleh pemilik
modal penyertaan. Pembatasan waktu yang diberikan kepada modal ventura untuk di
Indonesia adalah 10 tahun.

Penyertaan modal dalam suatu perusahaan atau koperasi pada dasarnya merupakan
suatu investasi untuk mana kepada pemiliknya harus diberikan bukti keikutsertaannya dalam
bentuk saham. Dengan memperhatikan pasal 42 beserta penjelasannya kiranya bentuk non
voting preferred stock (saham preferen yang tidak diberikan hak suara) bagi modal ventura
adalah yang paling tepat. Ini berarti bahwa pemilik modal ventura sebagai anggota yang tidak
mempunyai hak suara, sehingga tidak bisa ikut menentukan kebijaksanaan koperasi. Di sudut
yang lain, pada pemegang saham preferen tersebut diberi keistimewaan, berupa hak
menerima deviden terlebih dahulu dan jika koperasi dibubarkan, pemilik saham preferen
berhak didahulukan untuk menerima kembali nilai sahamnya.

Meskipun UU No. 25 Tahun 1992 telah memberikan keleluasaan pengembangan


modal kepada koperasi, namun dalam pelaksanaannya perlu diwaspadai agar pengelolaan dan
pengawasannya tetap berada di tangan para anggota koperasi sesuai dengan demokrasi
kooperatif. Pemberian keleluasaan tanpa batas kepada modal penyertaan bisa membahayakan
eksistensi koperasi itu sendiri. Tetapi di lain pihak, memberi batasan - batasan terlalu ketat
bagi masuknya modal penyertaan akan tidak menarik bagi pemilik modal. Oleh karena, itu
perlu dicantumkan pola kerja sama antara koperasi dengan pemilik modal penyertaan yang
saling menguntungkan kedua belah pihak. Pemilik modal ingin agar uang yang ditanam
dalam koperasi sebagai modal penyertaan tersebut aman, dalam am tidak akan hilang dan
untuk itu wajar kalau pemilik modal ingin mengawasinya.

Dengan memperhatikan pasal 42 beserta penjelasannya dan keinginan para pemilik


modal penyertaan, yang menginginkan keamanan dari modal yang ditanamkannya di satu
pihak dan asas demokrasi kooperatif di lain pihak, maka sebaiknya modal penyertaan tersebut
digunakan untuk membiayai proyek-proyek - koperasi, sehingga penyertaan pemilik modal
ventura dalam pengelolaan dan pengawasan kegiatan-kegiatan koperasi dibatasi pada proyek
saja, tidak menyangkut kebijaksanaan koperasi secara keselumhan. Dengan demikian,
pemberian non voting preferred stack kepada modal ventura tersebut tidak menyimpang dari
asas-asas koperasi.

Sumber permodalan yang lain bagi koperasi adalah dana penyisihan 1% - 5% dari
laba BUMN/BUMD. Per 1 November 1989 Menteri Keuangan telah mengeluarkan SK
Nomor 1232/KMK/613/989 tentang "pedoman pembinaan pengusaha ekonomi lemah dan
koperasi melalui BUMN", di mana di antaranya diputuskan bahwa pembiayaan yang
diperlukan untuk melaksanakan pembinaan tersebut disediakan dan bagian laba BUMN yang

55
besarnya 1-5% dapat berupa peningkatan kemampuan modal kerja, antara lain pengadaan
bahan baku dan modal usaha.

Pada tanggal 27 Juni 1994 dikeluarkan SK Menkeu No. 316/KHK, 816/1994 tentang
Pedoman Pembinaan Usaha Kecil dan Koperasi melalui Pemanfaatan Dana dan Bagian laba
BUMN, di mana dalam SK tersebut (pasal 4) dikatakan bahwa bantuan BUMN tersebut dapat
berupa:

1) Pendidikan, pelatihan, penelitian dan pemagangan untuk meningka kemampuan


kewirausahaan, manajemen serta keterampilan tekni. produksi.
2) Pinjaman modal kerja dan invastasi dengan tingkat bunga Yang disesuaikan
dengan kemampuan mitra binaan untuk meninglmkan produksi dan
penjualan/ornzet yang ditetapkan oleh direksi BUMN,
3) Pemasaran dan promosi hasil produksi,
4) Pemberian jaminan dalam rangka memperoleh kredit perbankan dan atau transaksi
dengan pihak ketiga,
5) Penyertaan pada perusahaan modal ventura di daerah tingkat I membantu
permodalan dan pinjaman kepada usaha kecil dan koperasi,
Agar pengelolaan dana benar - benar efektif dan efisien serta menyalurkannya kepada
koperasi dan pengusaha kecil, maka dikeluarkanlah keputusan bersama tanggal 14 Oktober
1994 antara Direktur Jenderal Pembinaan BUMN (Departmen Keuangan) dan Direktur
Jendral Pembinaan Pengusaha Kecil (Departemen Koperasi dan PPK), yang isinya antara lain
memuat ketentuan - ketentuan tentang dibentuknya forum koordinasi.

1.2 Sumber Pendanaan UMKM

Berdasarkan peraturan dalam UMKM yang terkait dengan pendanaannya Menurut


Pasal 1 butir 11 Undang-Undang No. 20 Tahun 2008 tentang usaha mikro, kecil, menengah
yang dimaksud pembiayaan adalah penyediaan dana oleh Pemerintah, Pemerintah Daerah,
Dunia Usaha, dan masyarakat melalui bank, koperasi, dan lembaga keuangan bukan bank,
untuk mengembangkan dan memperkuat permodalan usaha mikro, kecil, dan menengah.

Membahas mengenai sumber pembiayaan dalam UMKM, Undang-Undang No. 20


Tahun 2008 pada Pasal 21 disebutkan bahwa:

1) Pemerintah dan Pemerintahan Daerah menyediakan pembiayaan bagi Usaha Mikro


dan Kecil
2) Badan Usaha Milik Negara dapat menyediakan pembiayaan dari penyisihan bagian
laba tahunan yang dialokasikan kepada Usaha Mikro dan Kecil dalam bentuk
pemberian pinjaman, penjaminan, hibah, dan pembiayaan lainnya
3) Usaha Besar nasional dan asing dapat menyediakan pembiayaan kepada Usaha
Mikro dan Kecil dalam bentuk pemberian pinjaman, penjaminan, hibah, dan
pembiayaan lainnya.

56
4) Pemerintah, Pemerintah Daerah, dan Dunia Usaha dapat memberikan hibah,
mengusahakan bantuan luar negeri, dan mengusahakan sumber pembiayaan lain yang
sah serta tidak mengikat untuk Usaha Mikro dan Kecil.
5) Pemerintah dan Pemerintah Daerah dapat memberikan insentif dalam bentuk
kemudahan persyaratan perizinan, keringanan tarif sarana dan prasarana, dan
bentuk insentif lainnya yang sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan
kepada dunia usaha yang menyediakan pembiayaan bagi Usaha Mikro dan
Kecil.
Dari ketentuan tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa pembiayaan terhadap UMKM
dapat diperoleh melalui Pemerintah, Pemerintah Daerah, BUMN, Usaha Besar Nasional dan
Asing, pendanaan yang tercantum dalam peraturan UU No.20 tahun 2008 pada pasal 21
tersebut termasuk dari fasiliatas yang diberikan oleh pemerintah dalam rangka meningkatkan
atau menciptakan usaha-usaha baru dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat
banyak melalui pemberdayaan UMKM.

Membahas mengenai sumber pembiayaan dalam UMKM, Undang-Undang No. 20


Tahun 2008 pada Pasal 22 disebutkan bahwa dalam rangka meningkatkan sumber
pembiayaan Usaha Mikro dan Usaha Kecil, Pemerintah melakukan upaya:

1) Pengembangan sumber pembiayaan dari kredit perbankan dan lembaga keuangan


bukan bank;
2) Pengembangan lembaga modal ventura;
3) Pelembagaan terhadap transaksi anjak piutang;
4) Peningkatan kerjasama antara Usaha Mikro dan Usaha Kecil melalui koperasi
simpan pinjam dan koperasi jasa keuangan konvensional dan syariah; dan
5) Pengembangan sumber pembiayaan lain sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan
Selain pengembangan pembiayaan sebagaimana diuraikan diatas masih ada beberapa
sistem pembiayaan (multifinance) yang dapat dimanfaatkan UMKM, antara lain: modal
ventura, anjak piutang (factoring), penyewaan (leasing), pegadaian, dana dan sebagainya.
Pemilihannya tergantung UMKM sendiri, berdasarkan kesesuaian, kemampuan pemenuhan
persyaratan dan prosedur yang ditetapkan masing-masing lembaga pembiayaan tersebut.
Modal ventura merupakan salah satu program Kementerian Negara Koperasi dan UKM
dan telah berkembang di daerah-daerah, hampir disetiap propinsi/daerah istimewa telah
berdiri Perusahaan Modal Ventura Daerah (LMVD) yang menyediakan modal produktif
bagi UMKM.

II. DUKUNGAN KEBIJAKAN PEMERINTAH DIBIDANG PENDANAAN


KOPERASI DAN UMKM

Undang – Undang No 20 tahun 2008 pasal 7 menyebutkan pemerintah dan


pemerintah daerah menumbuhkan iklim usaha dengan menetapkan peraturan perundang-
undangan dan kebijakan yang meliputi aspek: (a) pendanaan, (b) sarana dan prasarana, (c)
informasi usaha, (d) kemitraan, (e) perizinan usaha, (f) kesempatan berusaha, (g) promosi
57
dagang dan (h) dukungan kelembagaan. Pasal 8, aspek pendanaan sebagaimana dimaksud
dalam pasal 7 ayat (1) huruf a ditujukan untuk:

(a) memperluas sumber pendanaan dan memfasilitasi usaha mikro,kecil dan


menengah untuk dapat mengakses kredit perbankan dan lembaga keuangan bukan bank,

(b) memperbanyak lembaga pembiayaan dan memperluas jaringannya sehingga dapat


diakses oleh usaha mikro, kecil dan menengah.

Untuk meningkatkan akses Usaha Mikro dan Kecil terhadap sumber pembiayaan,
Pemerintah dan Pemerintah Daerah menumbuhkan, mengembangkan, dan memperluas
jaringan lembaga keuangan bukan bank, menumbuhkan, mengembangkan, dan memperluas
jangkauan lembaga penjamin kredit, serta memberikan kemudahan dan fasilitasi dalam
memenuhi persyaratan untuk memperoleh pembiayaan.

Kementerian Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah (KUKM) menekankan


pemerintah selalu memberikan keberpihakan kepada para pelaku usaha mikro, kecil dan
menengah (UMKM). Deputi Bidang Kelembagaan Kementerian KUKM Rully Indrawan
mengungkapkan dalam empat tahun terakhir, ada banyak terobosan kebijakan yang
dimunculkan demi mengangkat kinerja para pelaku usaha di level tersebut, mulai dari
pemangkasan suku bunga Kredit Usaha Rakyat (KUR), penambahan dana bergulir,
penurunan pajak UMKM dan pemberian dana penguatan modal.

1) Penurunan suku bunga kredit


Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) masih merupakan salah satu sektor
unggulan yang dapat menopang perekonomian Indonesia. Hal ini terbukti dari kontribusi
UMKM terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) dan penyerapan tenaga kerja serta ekspor
yang cukup besar. Tercatat pada tahun 2013, kontribusi sektor UMKM terhadap PDB yang
terus meningkat menjadi sebesar 60,34%. Kontribusi sektor UMKM terhadap penyerapan
total tenaga kerja juga tinggi, yaitu sebesar 96,99%. Selain itu, kontribusi sektor UMKM
terhadap total ekspor non migas mencapai 15,68%

Pelaku usaha skala mikro, kecil, menengah dan koperasi menempati bagian terbesar
dari seluruh aktivitas ekonomi rakyat Indonesia mulai dari petani, nelayan, peternak,
petambang, pengrajin, pedagang, dan penyedia berbagai jasa. Jumlah UMKM pada tahun
2013 tercatat mencapai 57,9 juta unit usaha, meningkat dari 52,8 juta unit pada tahun 2009.
Jumlah tenaga kerja yang terlibat dalam UMKM mencapai 114,1 juta orang pada tahun 2013
meningkat dari 96,2 juta orang pada tahun 2009.

Selain sumbangsih yang besar terhadap perekonomian Indonesia, UMKM juga


merupakan salah satu solusi untuk mengurangi ketimpangan maupun kesenjangan
pendapatan masyarakat Indonesia, karena sektor ini mempunyai ketahanan ekonomi yang
tinggi. Hal ini yang mendorong pemerintah untuk terus menciptakan dan mendukung
program pemberdayaan ekonomi berbasis kerakyatan.

58
Salah satu program pemerintah dalam meningkatkan akses pembiayaan UMKM
kepada lembaga keuangan dengan pola penjaminan adalah Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang
diluncurkan pada November 2007. Dalam perkembangannya, KUR skema subsidi Imbal Jasa
Penjaminan (IJP) sejak November 2007 sampai dengan 31 Desember 2014 telah disalurkan
sebesar Rp. 178,85 triliun. Sedangkan kebijakan KUR baru yaitu dengan skema subsidi
bunga yang diluncurkan sejak 14 Agustus 2015 sampai dengan 31 Desember 2017 telah
tersalurkan sebesar 213,88 triliun. Untuk tahun 2017 saja, jumlah kredit yang disalurkan
adalah sebesar Rp 96,7 triliun kepada 4 juta debitur, dengan tingkat Non Performing Loan
(NPL) sangat kecil, yaitu 0,3%.

Arah kebijakan di bidang UMKM dan koperasi dalam periode 2015-2019 adalah
meningkatkan daya saing UMKM dan koperasi sehingga mampu tumbuh menjadi usaha yang
berkelanjutan dengan skala yang lebih besar (“naik kelas”) dalam rangka mendukung
kemandirian perekonomian nasional. Strategi pembangunan yang akan dilaksanakan adalah
sebagai berikut: 1) Peningkatan kualitas sumber daya manusia, 2) Peningkatan akses
pembiayaan dan perluasan skema pembiayaan, 3) Peningkatan nilai tambah produk dan
jangkauan pemasaran, 4) Penguatan kelembagaan usaha, 5) Peningkatan kemudahan,
kepastian dan perlindungan usaha.

Memperhatikan arah kebijakan peningkatan daya saing UMKM tersebut, Presiden


telah menetapkan Keputusan Presiden Nomor 14 Tahun 2015 tentang Komite Kebijakan
Pembiayaan bagi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah sebagaimana diubah terakhir dengan
Keputusan Presiden Nomor 19 Tahun 2015. Komite Kebijakan Pembiayaan Bagi UMKM
diketuai oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian dan beranggotakan para
menteri/kepala lembaga terkait dengan tugas untuk merumuskan dan menetapkan kebijakan
pembiayaan bagi UMKM termasuk penetapan prioritas bidang usaha, melakukan monitoring
dan evaluasi atas pelaksanaan kebijakan pembiayaan bagi UMKM, dan mengambil langkah-
langkah penyelesaian hambatan dan permasalahan dalam pelaksanaan kebijakan pembiayaan
bagi UMKM.

Pada akhir tahun 2017, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian menetapkan


Peraturan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Nomor 11 Tahun 2017 tentang
Pedoman Pelaksanaan Kredit Usaha Rakyat yang mulai berlaku efektif sejak 1 Januari 2018.
Penurunan suku bunga KUR (Kredit Usaha Rakyat) sebanyak 2 kali. Mulai Juli 2015 tingkat
suku bunga Kredit Usaha Rakyat (KUR) turun dari 22 persen per tahun menjadi 12 persen.
Dan pada Januari 2018 turun kembali dari 9 persen per tahun jadi 7 persen. Penurunan bunga
KUR tersebut bertujuan mendukung pembiayaan bagi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah
(UMKM). Dalam peraturan tersebut, terdapat 12 ketentuan baru yaitu terkait penurunan suku
bunga, kelompok usaha sebagai penerima KUR, skema KUR Khusus, pengaturan minimum
porsi penyaluran KUR ke sektor produksi, skema KUR multisektor, mekanisme pembayaran
yarnen, perubahan istilah KUR Ritel menjadi KUR Kecil, jumlah plafon KUR Mikro untuk
sektor produksi, penyaluran KUR bersamaan dengan kredit lain yang dibolehkan, struktur
biaya KUR Penempatan TKI, KUR untuk masyarakat perbatasan, dan KUR untuk
optimalisasi KUBE. Dengan penetapan plafon maksimal KUR pada tahun 2018 sebesar Rp
120 triliun, diharapkan dapat memberikan kemudahan pemberian kredit kepada UMKM
59
khususnya di sektor pertanian, kelautan dan perikanan, industri pengolahan, kontruksi dan
sektor jasa produksi, serta penempatan Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di luar negeri.

2) Penambahan Dana Bergulir

Selain penurunan bunga KUR, pemerintah juga menyertainya dengan menambah


modal bergulir untuk UMKM. Pasal 1 Peraturan Menteri Keuangan Nomor 99/PMK.05/2008
tentang Pedoman Pengelolaan Dana Bergulir pada Kementerian Negara/Lembaga
menyebutkan dana bergulir adalah dana yang dialokasikan oleh Kementerian
Negara/Lembaga/Satuan Kerja Badan Layanan Umum untuk kegiatan perkuatan modal usaha
bagi koperasi, usaha mikro, kecil, menengah, dan usaha lainnya yang berada di bawah
pembinaan Kementerian Negara/Lembaga. Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati
mengatakan, pemerintah meningkatkan dana bergulir untuk penguatan usaha mikro kecil dan
menengah (UMKM) pada 2018 menjadi Rp2,5 triliun dari sebelumnya Rp1,5 triliun. Adapun
realisasi kredit usaha rakyat (KUR), volumenya mencapai Rp100 triliun bagi pinjaman di atas
Rp50 juta. Sedangkan dana untuk UMKM yang sudah digulirkan sejak 2017 sebesar Rp1,5
triliun. Dana itu disalurkan melalui lembaga penyalur di seluruh Indonesia baik koperasi dan
nonkoperasi.

Dalam rangka mengoptimalkan pengelolaan dana bergulir, Kementerian Koperasi dan


UKM membentuk Lembaga Pengelola Dana Bergulir Koperasi, Usaha Mikro, Kecil dan
Menengah (LPDB-KUMKM) yang bertugas melaksanakan pengelolaan dana bergulir untuk
pembiayaan KUMKM antara lain berupa pinjaman dan bentuk pembiayaan lainnya yang
sesuai dengan kebutuhan KUMKM, dimana ketentuan mengenai kriteria KUMKM di
tetapkan oleh LPDB-KUMKM.

LPDB-KUMKM dibentuk dengan Surat Keputusan Menteri Negara Koperasi dan


UKM Republik Indonesia Nomor 19.4/Per/M.KUMKM/VIII/2006 tanggal 18 Agustus 2006
sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Negara Koperasi dan UKM Republik
Indonesia Nomor 11/Per/M.KUKM/VI/2008 tanggal 26 Juni 2008 tentang Organisasi dan
Tata Kerja Lembaga Pengelola Dana Bergulir Koperasi dan Usaha Mikro, Kecil dan
Menegah. Sesuai dengan Keputusan Menteri Keuangan Nomor KEP-292/MK.5/2006
Tanggal 28 Desember 2006 LPDB-KUMKM ditetapkan sebagai instasi pemerintah yang
menerapkan Pola Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum (PPK-BLU). Dengan
dibentuknya LPDB-KUMKM diharapkan pengelolaan dana bergulir dapat dilaksanakan
dengan sebaik-baiknya untuk mencapai tujuan dan menghasilkan manfaat berkelanjutan atas
penyaluran dana bergulir kepada Koperasi dan UMKM.

3) Penurunan Tarif Pajak UMKM

Ketiga, penurunan tarif pajak UMKM dengan mengeluarkan Peraturan Pemerintah


(PP) Nomor 23 Tahun 2018 yang menetapkan penurunan pajak penghasilan (PPh) final bagi
pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) dari 1% menjadi 0,5%. Kebijakan ini
mulai berlaku efektif untuk peredaran usaha UMKM yang dimulai 1 Juli 2018. PP tersebut
mengatur pengenaan PPh Final bagi wajib pajak yang peredaran bruto (omzet) sampai
dengan Rp 4,8 miliar dalam satu tahun, yang merupakan perubahan atas ketentuan pengenaan
60
PPh Final sebelumnya (PP 46 Tahun 2013). Pemberlakuan aturan baru ini dimaksudkan untuk
mendorong masyarakat berperan serta dalam kegiatan ekonomi dengan memberikan
kemudahan dan kesederhanaan kepada pelaku UMKM dalam melaksanakan kewajiban
perpajakannya. Dengan penerapan tarif baru ini maka beban pajak yang ditanggung oleh
pelaku UMKM menjadi lebih kecil, sehingga pelaku UMKM memiliki kemampuan ekonomi
yang lebih besar untuk mengembangkan usaha dan melakukan investasi.

4) Dana Penguatan Modal


Dana Penguatan Modal merupakan fasilitas kredit yang diberikan kepada Koperasi
dan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) yang bersumber dari Anggaran
Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Provinsi bekerjasama dengan PT. Bank
Pembangunan Daerah Bali.

Pemerintah Provinsi Bali dalam Peraturan Daerah Provinsi Bali nomor 3 tahun 2012
tentang Perlindungan, Pemberdayaan dan Pembinaan Koperasi, Usaha Mikro, Kecil dan
Menengah dalam Pasal 10 mengatur :

(1) Gubernur membantu penguatan permodalan UMKM


(2) Penguatan permodalan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dalam
bentuk penyediaan dana penguatan modal
Dana penguatan modal sebagaimana dimaksud pada ayat (2) disalurkan melalui bank
atau lembaga keuangan bukan bank atau koperasi yang ditunjuk.
Setiap Usaha Mikro dan Usaha Kecil dapat mengikuti program pemberdayaan, untuk
dapat mengikuti program pemberdayaan Usaha Mikro dan Usaha Kecil harus menyerahkan:
salinan Surat Keterangan Domisili/Tempat Usaha, Surat Keterangan Domisili/Tempat Usaha
yang diterbitkan oleh Kepala Desa/Lurah setempat.
Setiap Usaha Menengah dapat mengikuti program pemberdayaan, untuk dapat
mengikuti program pemberdayaan Usaha Menengah harus menyerahkan salinan: Akta
Pendirian, Ijin Usaha, Tanda Daftar Perusahaan dan atau Tanda Daftar Industri, Nomor Pokok
Wajib Pajak (NPWP), Laporan Keuangan dua tahun terakhir; dan Rencana Penggunaan Dana.
Dalam hal pemberdayaan penguatan permodalan, Usaha Menengah harus menyerahkan
agunan dan dilarang menggunakan dana tidak sesuai dengan peruntukannya.

1. TEORI KEPEMIMPINAN
Kepemimpinan adalah salah satu fungsi manajemen untuk mempengaruhi,
mengarahkan, memotivasi, dan mengawasi orang lain agar dapat melakukan tugas-tugas yang
61
telah direncanakan sehingga mencapai sasaran dan tujuan organisasinya. Kemampuan
kepemimpinan seorang manajer akan sangat mempengaruhi kinerja organisasi terutama
dalam hal pencapaian tujuan organisasinya. Ada banyak ahli manajemen yang merumuskan
definisi-definisi tentang kepemimpinan, diantaranya adalah definisi kepemimpinan menurut
Stephen P. Robbins (2003:40), kepemimpinan adalah kemampuan untuk mempengaruhi suatu
kelompok kearah tercapainya tujuan. Kedua definisi Kepemimpinan menurut Gareth Jones
and Jennifer George (2003:440) menurutnya, kepemimpinan adalah proses dimana seorang
individu mempunyai pengaruh terhadap orang lain dan mengilhami, memberi semangat,
memotivasi dan mengarahkan kegiatan-kegiatan mereka guna membantu tercapai tujuan
kelompok atau organisasi. Sedangkan definisi Kepemimpinan menurut Richard L. Daft
(2003:50) adalah Kemampuan mempengaruhi orang yang mengarah kepada pencapaian
tujuan. Dari beberapa definisi tersebut, sangat jelas dikatakan bahwa kepemimpinan adalah
fungsi manajemen yang erat keterkaitannya dengan pencapaian tujuan organisasi.
Orang yang melakukan fungsi kepemimpinan ini biasanya disebut dengan
“pemimpin” atau dalam bahasa Inggris disebut dengan “Leader”. Berdasarkan definisi dari
Ricky W. Griffin (2003:68), Pemimpin adalah individu yang mampun mempengaruhi
perilaku orang lain tanpa harus mengandalkan kekerasan; pemimpin adalah individu yang
diterima oleh orang laim sebagai pemimpin. Untuk menjalankan organisasinya dengan
optimal, seorang manajer harus memiliki sifat kepemimpinan. Pada dasarnya Kepemimpinan
dan Manajemen merupakan dua hal yang berbeda, namun kedua-duanya memiliki juga
persamaan dan keterkaitan yang tidak dapat dipisahkan. untuk mencapai tujuan organisasi
yang direncanakan, Seorang Manajer yang menjalankan Manajemen harus dapat bertindak
sebagai Pemimpin juga.
Selain definisi mengenai kepemimpinan yang dikemukakan oleh para ahli, terdapat
juga beberapa teori kepemimpinan yang menjadi dasar dari kepemimpinan itu sendiri.
Berikut adalah beberapa teori kepemimpinan yang dimaksud.
1) Teori Great Man
Teori Orang Hebat ini berasumsi bahwa sifat kepemimpinan dan bakat-bakat
kepemimpinan ini dibawa dari sejak orang tersebut dilahirkan. Great Man Theory ini
berkembang sejak abad ke-19. Meskipun tidak dapat diidentifikasikan dengan
kepastian ilmiah tentang karakteristik dan kombinasi manusia seperti apa yang dapat
dikatakan sebagai pemimpin hebat, namun semua orang mengakui bahwa hanya satu
orang diantara mereka yang memiliki ciri khas sebagai pemimpin hebat.
Great Man Theory ini menyatakan bahwa pemimpin hebat itu ditakdirkan lahir untuk
menjadi pemimpin. Teori tersebut juga menganggap seorang pemimpin hebat akan
muncul saat dalam menghadapi situasi tertentu. Teori tersebut dipopulerkan oleh
Thomas Carlyle dalam bukunya yang berjudul “On Heroes, Hero-Worship, and the
Heroic in History”.

2) Teori Sifat Kepribadian


Teori sifat kepribadian ini mempercayai bahwa orang yang dilatih dengan kepribadian
tertentu akan menjadikan mereka unggul dalam peran kepemimpinan. Artinya,
kualitas kepribadian tertentu seperti keberanian, kecerdasan, pengetahuan, kecakapan,

62
daya tanggap, imajinasi, fisik, kreativitas, rasa tanggung jawab, disiplin, dan nilai-
nilai lainnya dapat membuat seseorang menjadi pemimpin yang baik. Teori
kepemimpinan ini berfokus pada analisis karakteristik mental, fisik dan sosial untuk
mendapatkan lebih banyak pemahaman tentang karakteristik dan kombinasi
karakteristik yang umum diantara para pemimpin. Keberhasilan seseorang dalam
kepemimpinan sangat tergantung pada sifat kepribadiannya bukan saja bersumber dari
bakat namun juga berasal dari pengalaman dan hasil belajarnya.
Menurut penelitian dari McCall dan Lombardo (1983), terdapat empat sifat
kepribadian utama yang menjadi penentu keberhasilan atau kegagalan seorang
pemimpin.

 Stabilitas dan ketenangan emosional : Tenang, percaya diri dan dapat diprediksi
terutama pada saat mengalami tekanan.
 Mengakui Kesalahan : Tidak menutupi kesalahan yang telah dibuat tetapi
mengakui kesalahan tersebut.
 Keterampilan Interpersonal yang baik : mampu berkomunikasi dan
menyakinkan orang lain tanpa menggunakan taktik yang negatif dan paksaan.
 Pengetahuan yang luas (Intelektual) : Mampu memahami berbagai bidang
daripada hanya memahami bidang-bidang tertentu ataupun pengetahuan tertentu
saja.
3) Teori Perilaku
Sebagai reaksi dari Teori Sifat Kepribadian, Teori Perilaku atau Behavioural
Theories ini memberikan perspektif baru tentang kepemimpinan. Teori ini berfokus
pada perilaku para pemimpin daripada karakteristik mental, fisik dan sosial mereka.
Teori perilaku ini menganggap bahwa kepemimpinan yang sukses adalah didasarkan
pada perilaku yang dapat dipelajari atau dilatih. Keberhasilan seorang pemimpin
dalam mengefektifkan organisasinya sangat tergantung pada perilakunya dalam
melaksanakan tugasnya tampak dari cara melakukan pengambilan keputusan, cara
memerintah, cara memberikan tugas, cara berkomunikasi, cara mendorong semangat
bawahan, cara membimbing dan mengarahkan, cara menegakkan disiplin, cara
mengendalikan dan mengawasi pekeraan bawahannya, cara memimpin rapat, cara
menegur dan memberikan hukuman (Nawawai, 2003). Teori Perilaku ini bertolak
belakang dengan Teori Great Man (Teori Orang Hebat) yang mengatakan seorang
pemimpin adalah dibawa dari lahir dan tidak dapat dipelajari. Teori Perilaku ini
menganggap bahwa kepemimpinan yang sukses adalah didasarkan pada perilaku yang
dapat dipelajari dan bukan hanya dari bawaan sejak lahir.
4) Teori Kontingensi
Teori ini menyatakan bahwa tidak ada cara yang paling baik untuk memimpin dan
mnyatakan bahwa setiap gaya kepemimpinan harus didasarkan pada situasi dan
kondisi tertentu. Kondisi tersebut dari lingkungan yang dihadapi, dan tidak bisa satu
teori digunakan untuk semua keadaan. Berdasarkan teori ini, seseorang mungkin
berhasil tampil dan memimpin sangat efektif di kondisi, situasi dan tempat tertentu,
namun kinerja kepemimpinannya akan menurun apabila dipindahkan ke situasi dan

63
kondisi lain atau ketika faktor di sekitarnya telah berubah. Teori kontingensi ini juga
sering disebut dengan teori situasional.
Beberapa Model Teori Kontingensi atau Situasional yang terkenal diantaranya adalah
Teori Kepemimpinan Kontigensi Fiedler, Teori Kepemimpinan Situasional Hersey-
Blanchard, Teori Kepemimpinan Kontigensi Vroom-Yetten, Teori Kontingensi Path-
Goal Robert House dan Teori Kontigensi Strategis.

2. GAYA KEPEMIMPINAN
1) Gaya Kepemimpinan Otoriter
Yaitu gaya kepemimpinan dimana pengambilan keputusan dalam segala hal terpusat
pada seorang pimpinan. Para bawahan hanya berhak menjalankan tugas-tugas yang
diatur oleh pemimpin.
2) Gaya Kepemimpinan Demokratis
Yaitu suatu gaya kepemimpinan dimana dalam pengambilan keputusan untuk
kepentingan organisasi, seorang pimpinan mengikut sertakan atau bersama-sama
dengan bawahannya, baik diwakili oleh orang-orang tertentu ataupun berpartisipasi
secara langsung.
3) Gaya Kepemimpinan Delegatif
Yaitu gaya kepemimpinan dimana pimpinan mendelegasikan wewenang kepada
bawahan untuk mengambil keputusan secara penuh dalam mencapai tujuan yang
diinginkan perusahaan. Pimpinan sangat percaya kepada bawahannya, bahwa
bawahannya mampu melaksanakan tugas untuk mencapai tujuan dengan baik.
4) Gaya Kepemimpinan Bebas
Yaitu gaya kepemimpinan yang lebih banya digunkan pada keputusan kelompok,
dalam hal ini pimpinan akan menyerahkan keputusan kepada keinginan kelompok
serta tanggung jawab atas pelaksanaan pekerjaan tersebut kepada bawahannya.

3. Effective Leadership
a. Keberhasilan seorang pemimpin tidak kalah pentingnya juga dipengaruhi oleh
kompetensi sang pemimpin mengenal tipe kepribadiannya dan tipe para
pendukungnya (staf). Untuk itu para manajer koperasi kredit agar bisa berhasil
hendaknya mengetahui, memahami dan menerapkan tipe-tipe kepribadian.
b. Menjadi pemimpin yang unggul dalam lingkungan kerja.
c. Memiliki kualitas kepemimpinan yang sejati yang mampu memotivasi team.
d. Mampu melakukan fungsi manager atau supervisor secara maksimal.
e. Menjadi pemimpin yang mampu melakukan Coaching terhadap bawahan.
f. Mampu menciptakan unsur FUN dalam kepemimpinan.
g. Menguasai 6 Emotional Needs yang mampu memberdayakan orang yang dipimpin.
h. Menguasai berbagai tools memimpin secara efektif dan membawa pengaruh positif.
i. Menjadi mahir dalam membina hubungan dalam lingkungan kerja.
j. Mampu mengembangkan jaringan yang luas.
k. Menguasai teknik-teknik komunikasi yang efektif sebagai seorang pemimpin.
l. Memiliki kepribadian yang menarik agar disukai banyak orang.
m. Kemampuan mengenali tipe kepribadian diri sendiri dan orang lain.
n. Mengerti cara melakukan pendekatan yang tepat ke berbagai macam orang.
o. Mengetahui cara memimpin dan mengatasi orang yang sulit diatur.
p. Membangun kerjasama dan performance team yang solid.

64
4. Cerita Sukses Kepemimpinan
Eleanor Roosevelt pernah berkata, “seorang pemimpin yang baik meginspirasi orang-
orang untuk memiliki kepercayaan diri dalam diri mereka”.
Kisah Mc’Donald
Tahun 1937-an, masyarakat Amerika mulai gandrung dengan mobil, kakak beradik Dik
& Mor berinovasi dengan membuka kedai khusus yang bisa memesan dari mobil. Bisnis
meraih sukses besar. Menu andalan adalah hot-dog, gorengan (french fries), burger, roti
sandwich, coca cola dan aneka salad. Bisnis ini meledak, bahkan antrian semakin
panjang hingga keluar pintu. Inovasi dilakukan yaitu dengan menghapus pesanan dari
mobil, fokus pada walk-up customer, mengurangi daftar menu, fokus pada hamburger.
Perubahan menjadi berita di media, dan mereka mendapatkan iklan gratis.
Tahun 1955, usaha mereka stagnant, omsetnya tetap, dan banyak pendatang-pendatang
baru yang meniru. Akhirnya usaha itu mengalami kemunduran. Adanya Ray Kroc yan
menungkan semua konsep yang ada di kedua kepala kakak beradik itu ke dalam sebuah
manual tertulis McDonald’s system. Manual itu dibeli dan ia pun mendapat hak untuk
memperluas bisnis McDonald’s dengan konsep franchise. Dalam tempo 4 tahun, Ray
Kroc berhasil membuka 100 cabang McDonald’s tanpa modal sama sekali. Semuanya
dibiayai oleh para franchise. Bekerja dengan leadership bukan semata-mata
entrepreneurship, diawali dengan melakukan pendelegasian dan mulai menggunakan
orang lain sebagai staf.
Karakteristik kepemimpinan Ray Kroc:
1. Memiliki visi besar
Ketika Ray Kroc pertama kali melihat multi-mixer di restoran McDonald Bruder, ia
membayangkan 8 dari restoran berputar keluar dari burger yang segera
menghasilkan aliran uang tunai. Pemimpin adalah orang yang punya visi dan ketika
mereka melihat sebuah situasi tertentu, mereka melihat potensinya. Mereka melihat
apa hal-hal bisa terjadi. Anda harus memiliki visi sebagai seorang pemimpin juga;
untuk berpikir tentang berbagai kemungkinan.

2. Komitmen untuk Keunggulan

Ray Kroc memiliki obsesi untuk kebersihan di restoran dan dia tahu setiap detail
sudut di restoran tersebut. Dia mengharapkan bahwa setiap karyawan melakukan
yang terbaik setiap selama berkarya.

Ciri pemimpin besar adalah: berkomitmen untuk setiap detail rencana dan kegiatan
Anda dan seterusnya. Komitmen Anda untuk hal ini adalah komitmen Anda pada
keunggulan dan itu akan membuat Anda memiliki takik di atas pesaing Anda.

Terlebih lagi, memiliki komitmen untuk keunggulan juga akan memaksa pengikut
Anda untuk hidup dengan standar yang sama seperti Anda. Bila Anda menetapkan
standar dengan contoh pribadi Anda, Anda dapat mengharapkan untuk membangun
sebuah organisasi yang besar.

65
Perilaku Pemimpin yang Efektif:
1. Memberikan contoh kepada para karyawan
2. Menciptakan suatu tatanan nilai dan keyakinan bagi para karyawan dan dengan
bergairah mengejarnya.
3. Memfokuskan upaya para karyawan terhadap tujuan yang menantang dan terus
mengarahkan mereka kepada tujuan tersebut.
4. Menyediakan sumberdaya yang dibutuhkan karyawan untuk mencapai tujuan
mereka.
5. Menghargai dan mendukung para karyawan.
6. Berkomunikasi dengan para karyawan.
7. Menghargai keragaman para pekerja.
8. Merayakan keberhasilan para pekerja.
9. Mendorong kreativitas di antara para pekerja.
10. Mempertahankan selera humor.
11. Menatap terus masa depan.
5. Langkah-langkah dalam Pengambilan Keputusan
a. Mendefinisikan masalah (mengenal persoalan) yaitu menetapkan apa yang menjadi
persoalan terjadinya penyimpangan.
Persoalan (problem) adalah sesuatu yang terjadi tidak sesuai dengan yang diinginkan/
diharapkan. Kita harus berusaha mencari pemecahan yang baik bagi suatu persoalan
yang tepat (benar). Maka dari itu, dalam membuat keputusan untuk memecahkan
persoalan harus bisa menemukan persoalan apa yang perlu dipecahkan/diselesaikan.
b. Menentukan pedoman pemecahan masalah seperti mencari rambu-rambu yang tepat
untuk memecahkan penyebab masalah.
Memecahkan persoalan berarti suatu keputusan atau tindakan untuk menghilangkan
faktor-faktor yang menyebabkan timbulnya persoalan tersebut. Perlu dikumpulkan
data atau informasi yang relevan artinya faktor-faktor yang mungkin terjadi penyebab
timbulnya persoalan tersebut.
c. Mengidentifikasi alternatif di mana pilihan pemecahan sedapat mungkin harus
dimunculkan.
Tahap berikutnya adalah membuat solusi alternatif yang akan menjawab kebutuhan
yang ada dan memperbaiki sebab-sebab yang mendasarinya. Alternatif-alternatif
66
keputusan dapat dianggap sebagai alat untuk mengurangi perbedaan antara kinerja
organisasi saat ini dan kinerja organisasi yang diharapkan.
d. Mengadakan penilaian terhadap baik buruknya alternatif dengan cara atau model
tertentu.
Setiap alternatif harus dianalisis, harus dievaluasi baik berdasarkan suatu kriteria
tertentu atau prioritas. Hasil analis memudahkan pengambil keputusan di dalam
memilih alternatif yang baik.
e. Menilai alternatif yang terbaik dengan standar ukuran tertentu.
Di dalam pengambilan keputusan, pengambil keputusan harus memilih salah satu
alternatif di antara banyak alternatif. Pemilihan dapat dilakukan berdasarkan pada
kriteria tertentu, kompromi, atau tekanan. Memang harus diakui ada hasil keputusan
yang memuaskan semua pihak tetapi ada juga yang merugikan pihak lain.
f. Mengimplementasikan alternatif yang dipilih, yaitu penerapan keputusan beserta
resiko dan konsekuensinya agar dipertimbangkan.
Tahap penerapan adalah tahap dimana kemampuan manajerial, administratif, dan
persuasif yang dimiliki manajer akan digunakan untuk menjamin bahwa alternatif
terpilih akan dijalankan. Penerapan dapat menuntut adanya diskusi dengan orang-
orang yang akan terkena dampak dari keputusan yang bersangkutan. Keahlian dalam
berkomunikasi, memotivasi dan memimpin harus digunakan untuk mewujudkan
keputusan ini.
g. Evaluasi dan umpan balik
Pada tahap evaluasi, para pengambil keputusan akan mendapatkan informasi tentang
seberapa baiknya mereka menerapkan keputusan yang telah mereak ambil dan apakah
penerapan ini efektif dalam mencapai tujuan mereka. Umpan balik adalah hal yang
penting karna pengambilan keputusan adalah proses yang berkelanjutan dan tidak
pernah berakhir. Umpan balik adalah bagian dari pengawasan yang menilai apakah
manajer perlu mengambil keputusan baru atau tidak.
Keputusan stategis selalu dari risiko, tetapi umpan balik dan tindakan lanjutan dapat
membantu suatu perusahaan kembali ke jalannya. Dengan belajar dari kesalahan
mereka dapat mengambil keputusan, para manajer dapat mengubah masalah menjadi
peluang.

67