Anda di halaman 1dari 19

MAKALAH SISTEM PEREKONOMIAN PANCASILA

USAHA MIKRO, KECIL DAN MENENGAH

Disusun oleh :

Fatimah Nurjanah 16302241036

Indriani Eka Nurjanah 16302241037

JURUSAN PENDIDIKAN FISIKA

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA

2017
BAB I

PENDAHULUAN

A.Latar belakang

Sistem Ekonomi merupakan tatanan perekonomian yang termasuk didalamnya


pandangan, teori dan asas-asas yang digunakan manusia dalam menata pemenuhan
kebutuhan hidup. Dalam UU No.20 Tahun 2008, “Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah
bertujuan menumbuhkan dan mengembangkan usahanya dalam rangka membangun
perekonomian nasional berdasarkan demokrasi ekonomi yang berkeadilan.” Tujuan
ini mencerminkan norma-norma yang berlaku bagi bangsa Indonesia yakni keadilan.
Dalam konstitusi negara Indonesia pun telah dijelaskan bahwa badan usaha yang
sesuai dengan idelogi bangsa dan terdapat dalam Sistem Ekonomi Pancasila adalah
koperasi dan UMKM, karena nilai-nilai luhur Pancasila dirasa terkandung pula dalam
prinsip-prisip yang dimiliki koperasi dan UMKM.
Usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) merupakan salah satu bagian
penting dari perekonomian suatu negara ataupun daerah. Peran penting tersebut telah
mendorong banyak negara termasuk Indonesia untuk terus berupaya mengembangkan
UMKM. Walaupun kecil dalam skala jumlah pekerja, aset dan omzet, namun karena
jumlahnya cukup besar, maka peranan UMKM cukup penting dalam menunjang
perekonomian. Dalam perjalanannya, UMKM mengalami banyak hambatan, baik
hambatan internal maupun eksternal. Akan tetapi, melalui berbagai strategi dan
program dari pemerintah hambatan-hambatan tersebut dapat ditekan.

B. Rumusan Masalah

1. Apa definsi Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM)?


2. Apa asas, tujuan dan prinsip UMKM?
3. Apa saja peluang dan kendala UMKM?
4. Bagaimana strategi dan peran pemerintah dalam pemberdayaan UMKM ?

C.Tujuan Penulisan

1. Mengetahui definsi Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM)


2. Mengetahui asas, tujuan dan prinsip UMKM
3. Mengetahui peluang dan kendala UMKM
4. Mengetahui strategi dan peran pemerintah dalam pemberdayaan UMKM di
Indonesia
BAB II

PEMBAHASAN

A. Deskripsi UMKM

Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) memiliki definisi yang berbeda
pada setiap literatur menurut beberapa instansi atau lembaga bahkan undang-undang.
Sesuai dengan Undang-Undang nomor 20 tahun 2008 tentang Usaha Mikro, Kecil,
dan Menengah, UMKM didefinisikan sebagai berikut:

1. Usaha mikro adalah usaha produktif milik orang perorangan dan/atau badan usaha
perorangan yang memenuhi kriteria Usaha Mikro sebagaimana diatur dalam
Undang-Undang ini.

2. Usaha Kecil adalah usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri, yang dilakukan
oleh orang perorangan atau badan usaha yang bukan merupakan anak perusahaan
atau bukan cabang perusahaan yang dimiliki, dikuasai, atau menjadi bagian baik
langsung maupun tidak langsung dari Usaha Menengah atau Usaha Besar yang
memenuhi kriteria Usaha Kecil sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang ini.

3. Usaha Menengah adalah usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri, yang
dilakukan oleh orang perorangan atau badan usaha yang bukan merupakan anak
perusahaan atau cabang perusahaan yang dimiliki, dikuasai, atau menjadi bagian
baik langsung maupun tidak langsung dengan Usaha Kecil atau Usaha Besar
dengan jumlah kekayaan bersih atau hasil penjualan tahunan sebagaimana diatur
dalam Undang-Undang ini.

Berdasarkan kekayaan dan hasil penjualan, menurut Undang-Undang Nomor


20 tahun 2008 pasal 6, kriteria usaha mikro yaitu:

1. Memiliki kekayaan bersih paling banyak Rp 50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah)
tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha; atau

2. Memiliki hasil penjualan tahunan paling banyak Rp 300.000.000,00 (tiga ratus juta
rupiah).

Kriteria usaha kecil adalah sebagai berikut:

1. Memiliki kekayaan bersih lebih dari Rp 50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah)
sampai dengan paling banyak Rp 500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah) tidak
termasuk tanah dan bangunan tempat usaha; atau
2. Memiliki hasil penjualan tahunan lebih dari Rp 300.000.000,00 (tiga ratus juta
rupiah) sampai dengan paling banyak Rp 2.500.000.000,00 (dua milyar lima ratus
juta rupiah).

Sedangkan kriteria usaha menengah adalah sebagai berikut:

1. Memiliki kekayaan bersih lebih dari Rp 500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah)
sampai dengan paling banyak Rp 10.000.000.000,00 (sepuluh milyar rupiah) tidak
termasuk tanah dan bangunan tempat usaha; atau

2. Memiliki hasil penjualan tahunan lebih dari Rp 2.500.000.000,00 (dua milyar lima
ratus juta rupiah) sampai dengan paling banyak Rp 50.000.000.000,00 (lima puluh
milyar rupiah).

Badan Pusat Statistik (BPS) memberikan batasan definisi UKM berdasarkan


kuantitas tenaga kerja, yaitu untuk industri rumah tangga memiliki jumlah tenaga
kerja 1 sampai 4 orang, usaha kecil memiliki jumlah tenaga kerja 5 sampai dengan 19
orang, sedangkan usaha menengah memiliki tenaga kerja 20 sampai dengan 99 orang
(Susanti, 2009) Nurhayati (2011) menyebutkan definisi UMKM memiliki beragam
variasi yang sesuai menurut karakteristik masing-masing negara yaitu:

1. World Bank : UKM adalah usaha dengan jumlah tenaga kerja •} 30 orang,
pendapatan per tahun US$ 3 juta dan jumlah aset tidak melebihi
US$ 3 juta.

2. Di Amerika : UKM adalah industri yang tidak dominan di sektornya dan


mempunyai pekerja kurang dari 500 orang.

3. Di Eropa : UKM adalah usaha dengan jumlah tenaga kerja 10-40 orang
dan pendapatan per tahun 1-2 juta Euro, atau jika kurang dari
10 orang, dikategorikan usaha rumah tangga.

4. Di Jepang : UKM adalah industri yang bergerak di bidang manufakturing


dan retail/ service dengan jumlah tenaga kerja 54-300 orang
dan modal \ 50 juta . 300 juta.

5. Di Korea Selatan : UKM adalah usaha dengan jumlah tenaga kerja . 300 orang
dan aset . US$ 60 juta.
6. Di beberapa Asia Tenggara : UKM adalah usaha dengan jumlah tenaga kerja 10-15
orang (Thailand), atau 5 . 10 orang (Malaysia), atau 10 -99
orang (Singapura), dengan modal •} US$ 6 juta.

Karakteristik UMKM merupakan sifat atau kondisi faktual yang melekat pada
aktifitas usaha maupun perilaku pengusaha yang bersangkutan dalam menjalankan
bisnisnya. Karakteristik ini yang menjadi ciri pembeda antar pelaku usaha sesuai
dengan skala usahanya. Menurut Bank Dunia, UMKM dapat dikelompokkan dalam
tiga jenis, yaitu: 1. Usaha Mikro (jumlah karyawan 10 orang); 2. Usaha Kecil (jumlah
karyawan 30 orang); dan 3. Usaha Menengah (jumlah karyawan hingga 300 orang).

Sulistyastuti (2004) menyebutkan ada empat alasan yang menjelaskan posisi


strategis UMKM di Indonesia. Pertama, UMKM tidak memerlukan modal yang besar
sebagaimana perusahaan besar sehingga pembentukan usaha ini tidak sesulit usaha
besar. Kedua, tenaga kerja yang diperlukan tidak menuntut pendidikan formal
tertentu. Ketiga, sebagian besar berlokasi di pedesaan dan tidak memerlukan
infrastruktur sebagaimana perusahaan besar. Keempat, UMKM terbukti memiliki
ketahanan yang kuat ketika Indonesia dilanda krisis

Dalam perspektif usaha, UMKM diklasifikasikan dalam empat kelompok,


yaitu:

1. UMKM sektor informal, contohnya pedagang kaki lima.


2. UMKM Mikro adalah para UMKM dengan kemampuan sifat pengrajin namun
kurang memiliki jiwa kewirausahaan untuk mengembangkan usahanya.
3. Usaha Kecil Dinamis adalah kelompok UMKM yang mampu berwirausaha
dengan menjalin kerjasama (menerima pekerjaan sub kontrak) dan ekspor.
4. Fast Moving Enterprise adalah UMKM yang mempunyai kewirausahaan yang
cakap dan telah siap bertransformasi menjadi usaha besar.

Berikut adalah tabel karakteristik UMKM dan usaha besar:

Ukuran Usaha Karakteristik

Usaha Mikro  Jenis barang/komoditi tidak selalu tetap; sewaktu-waktu


dapat berganti.
 Tempat usahanya tidak selalu menetap; sewaktu-waktu
dapat pindah tempat.
 Belum melakukan administrasi keuangan yang sederhana
sekalipun.
 Tidak memisahkan keuangan keluarga dengan keuangan
usaha.
 Sumber daya manusia (pengusaha) belum memiliki jiwa
wirausaha yang memadai.
 Tingkat pendidikan rata-rata relatif sangat rendah
 Umumnya belum akses kepada perbankan, namun
sebagian sudah akses ke lembaga keuangan non bank.
 Umumnya tidak memiliki izin usaha atau persyaratan
legalitas lainnya termasuk NPWP.
 Contoh: Usaha perdagangan seperti kaki lima serta
pedagang di pasar.

Usaha Kecil  Jenis barang/komoditi yang diusahakan umumnya sudah


tetap tidak gampang berubah.
 Lokasi/tempat usaha umumnya sudah menetap tidak
berpindah-pindah.
 Pada umumnya sudah melakukan administrasi keuangan
walau masih sederhana.
 Keuangan perusahaan sudah mulai dipisahkan dengan
keuangan keluarga.
 Sudah membuat neraca usaha.
 Sudah memiliki izin usaha dan persyaratan legalitas
lainnya termasuk NPWP.
 Sumberdaya manusia (pengusaha) memiliki pengalaman
dalam berwira usaha.
 Sebagian sudah akses ke perbankan dalam keperluan
modal.
 Sebagian besar belum dapat membuat manajemen usaha
dengan baik seperti business planning.
 Contoh: Pedagang di pasar grosir (agen) dan pedagang
pengumpul lainnya.
Usaha  Memiliki manajemen dan organisasi yang lebih baik,
Menengah dengan pembagian tugas yang jelas antara lain, bagian
keuangan, bagian pemasaran dan bagian produksi.
 Telah melakukan manajemen keuangan dengan
menerapkan sistem akuntansi dengan teratur sehingga
memudahkan untuk auditing dan penilaian atau
pemeriksaan termasuk oleh perbankan.
 Telah melakukan aturan atau pengelolaan dan organisasi
perburuhan.
 Sudah memiliki persyaratan legalitas antara lain izin
tetangga.
 Sudah memiliki akses kepada sumber-sumber pendanaan
perbankan.
 Pada umumnya telah memiliki sumber daya manusia
yang terlatih dan terdidik.
 Contoh: Usaha pertambangan batu gunung untuk
kontruksi dan marmer buatan.

Usaha besar  Usaha ekonomi produktif yang dilakukan oleh badan


usaha dengan jumlah kekayaan bersih atau hasil
penjualan tahunan lebih besar dari Usaha Menengah,
yang meliputi usaha nasional milik negara atau swasta,
usaha patungan, dan usaha asing yang melakukan
kegiatan ekonomi di Indonesia.

B. Asas, Tujuan dan Prinsip UMKM

Pada Bab II pasal 2 UU No 20 tahun 2008 tentang Usaha Mikro, Kecil dan
Menengah (UMKM) berasaskan:

a. Kekeluargaan;
Asas kekeluargaan adalah asas yang melandasi upaya pemberdayaan Usaha
Mikro, Kecil, dan Menengah sebagai bagian dari perekonomian nasional yang
diselenggarakan berdasar atas demokrasi ekonomi dengan prinsip kebersamaan,
efisiensi berkeadilan, berkelanjutan, berwawasan
lingkungan, kemandirian, keseimbangan kemajuan, dan kesatuan ekonomi
nasional untuk kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia.
b. Demokrasi ekonomi;
Asas demokrasi ekonomi adalah pemberdayaan Usaha Mikro, Kecil, dan
Menengah diselenggarakan sebagai kesatuan dari pembangunan
perekonomian nasional untuk mewujudkan kemakmuran rakyat.

c. Kebersamaan

Asas kebersamaan adalah asas yang mendorong peran seluruh Usaha Mikro,
Kecil, dan Menengah dan Dunia Usaha secara bersama-sama dalam kegiatannya
untuk mewujudkan kesejahteraan rakyat.

d. Efisiensi berkeadilan

Asas Efisiensi adalah asas yang mendasari pelaksanaan pemberdayaan Usaha


Mikro, Kecil, dan Menengah dengan mengedepankan efisiensi berkeadilan dalam
usaha untuk mewujudkan iklim usaha yang adil, kondusif, dan berdaya saing.

e. Berkelanjutan

Asas Berkelanjutan adalah asas yang secara terencana mengupayakan berjalannya


proses pembangunan melalui pemberdayaan UMKM yang dilakukan secara
berkesinambungan sehingga terbentuk perekonomian yang tangguh dan mandiri.

f. Berwawasan lingkungan

Asas Berwawasan Lingkungan adalah asas pemberdayaan UMKM yang


dilakukan dengan tetap memperhatikan dan mengutamakan perlindungan dan
pemeliharaan lingkungan hidup.

g. Kemandirian

Kemandirian adalah usaha pemberdayaan UMKM yang dilakukan dengan tetap


menjaga dan mengedepankan potensi, kemampuan, dan kemandirian UMKM.

h. Keseimbangan kemajuan

Asas keseimbangan kemajuan adalah asas pemberdayaan Usaha Mikro, Kecil,


dan Menengah yang berupaya menjaga keseimbangan kemajuan ekonomi
wilayah dalam kesatuan ekonomi nasional.
i. Kesatuan ekonomi nasional

Asas kesatuan ekonomi nasional adalah asas pemberdayaan Usaha Mikro, Kecil,
dan Menengah yang merupakan bagian dari pembangunan kesatuan ekonomi
nasional.

Tujuan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah tercantum dalam pasal 3 UU No


20 tahun 2008 yaitu bertujuan menumbuhkan dan mengembangkan usahanya dalam
rangka membangun perekonomian nasional berdasarkan demokrasi ekonomi yang
berkeadilan.

Prinsip Pemberdayaan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UU No. 20 tahun
2008) adalah:

a. Penumbuhan kemandirian, kebersamaan, dan kewirausahaan Usaha Mikro, Kecil,


dan Menengah untuk berkarya dengan prakarsa sendiri;
b. Perwujudan kebijakan publik yang transparan, akuntabel, dan berkeadilan;
c. Pengembangan usaha berbasis potensi daerah dan berorientasi pasar sesuai dengan
kompetensi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah;
d. Peningkatan daya saing Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah; dan
e. Penyelenggaraan perencanaan, pelaksanaan, dan pengendalian secara terpadu.

Sesuai dengan UU No.20 tahun 2008, pemberdayaan UMKM bertujuan:

a. Mewujudkan struktur perekonomian nasional yang seimbang, berkembang, dan


berkeadilan;
b. Menumbuhkan dan mengembangkan kemampuan Usaha Mikro, Kecil, dan
Menengah menjadi usaha yang tangguh dan mandiri; dan
c. Meningkatkan peran Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah dalam pembangunan
daerah, penciptaan lapangan kerja, pemerataan pendapatan, pertumbuhan ekonomi,
dan pengentasan rakyat dari kemiskinan.
C. Peluang dan Kendala Bisnis UMKM

Peluang

Peran penting UMKM tidak hanya berarti bagi pertumbuhan di kota-kota


besar tetapi berarti juga bagi pertumbuhan ekonomi di pedesaan. Berikut beberapa
peran penting UMKM:

 UMKM berperan dalam memberikan pelayanan ekonomi secara luas kepada


masyarakat, proses pemerataan dan peningkatan pendapatan masyarakat,
mendorong pertumbuhan ekonomi, serta mewujudkan stabilitas nasional.
 Krisis moneter 1998 -> Krisis 2008-2009 -> 96% UMKM tetap bertahan dari
goncangan krisis.
 UMKM juga sangat membantu negara/pemerintah dalam hal penciptaan lapangan
kerja baru dan lewat UMKM juga banyak tercipta unit-unit kerja baru yang
menggunakan tenaga-tenaga baru yang dapat mendukung pendapatan rumah
tangga.
 UMKM memiliki fleksibilitas yang tinggi jika dibandingkan dengan usaha yang
berkapasitas lebih besar, sehingga UMKM perlu perhatian khusus yang didukung
oleh informasi akurat, agar terjadi link bisnis yang terarah antara pelaku usaha
kecil dan menengah dengan elemen daya saing usaha, yaitu jaringan pasar.

UMKM di Indonesia, sering dikaitkan dengan masalah-masalah ekonomi dan


sosial dalam negeri seperti tingginya tingkat kemiskinan, ketimpangan distribusi
pendapatan, proses pembangunan yang tidak merata antara daerah perkotaan dan
perdesaan, serta masalah urbanisasi. Perkembangan UMKM diharapkan dapat
memberikan kontribusi positif yang signifikan terhadap upaya-upaya penanggulangan
masalah-masalah tersebut di atas.

Selain itu, beberapa kontribusi postif UMKM yang tidak dapat dipandang
sebelah mata, yaitu:

 Tulang punggung perekonomian nasional karena merupakan populasi pelaku


usaha dominan (99,9%);
 Menghasilkan PDB sebesar 59,08% (Rp4.869,57 Triliun), dengan laju
pertumbuhan sebesar 6,4% pertahun;
 Menyumbang volume ekspor mencapai 14,06% (Rp166,63 triliun) dari total
ekspor nasional;
 Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) nasional sebesar 52,33% (Rp830,9
triliun);
 Secara geografis tersebar di seluruh tanah air, di semua sektor, memberikan
layanan kebutuhan pokok yang dibutuhkan masyarakat. Multiplier effect-nya
tinggi. Merupakan instrumen pemerataan pendapatan dan mengurangi ketimpangan
kesejahteraan masyarakat;
 Wadah untuk penciptaan wirausaha baru;
 Ketergantungan pada komponen impor yang minimal. Memanfaatkan bahan baku
dan sumber daya lokal yang mudah ditemukan dan tersedia di sekitar sehingga
menghemat devisa.
Dengan demikian, bisnis UMKM mempunyai peran strategis dalam
perekonomian Indonesia, karena:
 Kedudukanya sebagai pemain utama dalam kegiatan ekonomi di berbagai sektor;
 Penyedia lapangan kerja yang terbesar;
 Pemain penting dalam pengembangan kegiatan ekonomi lokal dan pemberdayaan
masyarakat;
 Pencipta pasar baru dan sumber inovasi;
 Sumbanganya dalam menjaga neraca pembayaran melalui kegiatan ekspor.

Data-data yang disebutkan sebelumnya telah membuktikan begitu besarnya


peran UMKM terhadap perekonomian Indonesia, meskipun demikian bisnis UMKM
tidak selalu berjalan mulus, masih banyak dan kendala, baik yang bersifat internal
maupun eksternal yang harus dihadapi para pelaku UMKM.

Diantara penyebabnya, hambatan geografis. Belum banyak perbankan mampu


menjangkau hingga ke daerah pelosok dan terpencil. Kemudian kendala administratif,
manajemen bisnis UMKM masih dikelola secara manual dan tradisional, terutama
manajemen keuangan. Pengelola belum dapat memisahkan antara uang untuk
operasional rumah tangga dan usaha.

Hambatan

a. Internal
1. Modal
Sekitar 60-70% UMKM belum mendapat akses atau pembiayaan perbankan.
2. Sumber Daya Manusia (SDM)
 Kurangnya pengetahuan mengenai teknologi produksi terbaru dan cara
menjalankan quality control terhadap produk.
 Kemampuan membaca kebutuhan pasar masih belum tajam, sehingga
belum mampu menangkap dengan cermat kebutuhan yang diinginkan pasar.
 Pemasaran produk masih mengandalkan cara sederhana mouth to mouth
marketing (pemasaran dari mulut ke mulut). Belum menjadikan media
sosial atau jaringan internet sebagai alat pemasaran.
 Dari sisi kuantitas, belum dapat melibatkan lebih banyak tenaga kerja
karena keterbatasan kemampuan menggaji.
 Karena pemilik UMKM masih sering terlibat dalam persoalan teknis,
sehingga kurang memikirkan tujuan atau rencana strategis jangka panjang
usahanya.
3. Hukum
Pada umumnya pelaku usaha UMKM masih berbadan hukum perorangan
mempunyai sistem administrasi keuangan dan manajemen yang baik.
b. Eksternal
1. Iklim usaha masih belum kondusif.
 Koordinasi antar stakeholder UMKM masih belum padu. Lembaga
pemerintah, institusi pendidikan, lembaga keuangan, dan asosiasi usaha
lebih sering berjalan masing-masing.
 Belum tuntasnya penanganan aspek legalitas badan usaha dan kelancaran
prosedur perizinan, penataan lokasi usaha, biaya transaksi/usaha tinggi,
infrastruktur, kebijakan dalam aspek pendanaan untuk UMKM.
2. Infrastruktur
 Terbatasnya sarana dan prasarana usaha terutama berhubungan dengan
alat-alat teknologi.
 Kebanyakan UMKM menggunakan teknologi yang masih sederhana.
3. Akses
 Keterbatasan akses terhadap bahan baku, sehingga seringkali UMKM
mendapatkan bahan baku yang berkualitas rendah.
 Akses terhadap teknologi, terutama bila pasar dikuasai oleh perusahaan/
grup bisnis tertentu.
 Belum mampu mengimbangi selera konsumen yang cepat berubah,
terutama bagi UMKM yang sudah mampu menembus pasar ekspor,
sehingga sering terlibas dengan perusahaan yang bermodal lebih besar
D. Strategi dan Peran Pemerintah dalam Pemberdayaan UMKM
Dalam UU No.20/2008 tentang UMKM, didefinisikan bahwa pemberdayaan
adalah upaya yang dilakukan Pemerintah, Pemerintah Daerah, Dunia Usaha, dan
Masyarakat secara sinergis dalam bentuk penumbuhan iklim dan pengembangan
usaha terhadap UMKM sehingga mampu tumbuh dan berkembang menjadi usaha
yang tangguh dan mandiri.
Sedangkan Iklim Usaha adalah kondisi yang diupayakan Pemerintah dan
Pemerintah Daerah untuk memberdayakan UMKM secara sinergis melalui penetapan
berbagai peraturan perundang-undangan dan kebijakan di berbagai aspek kehidupan
ekonomi upaya ini dilakukan agar UMKM memperoleh pemihakan, kepastian,
kesempatan, perlindungan, dan dukungan berusaha yang seluas-luasnya.
Langkah-langkah yang harus ditempuh untuk mempercepat pemberdayaan
UMKM menurut Baseline Report antara lain;
1. Tersedianya SDM yang berkualitas dan professional
Untuk dapat tersedianya SDM berkualitas dapat diperoleh melalui peningkatan
pendidikan formal dan nonformal, serta peningkatan kompetensi sumberdaya
manusianya. Pendidikan merupakan salah satu pilar dalam pembangunan manusia
berkualitas. Pendidikan yang baik direfleksikan antara lain dengan indikator
kesetaraan pendidikan, demokratis dalam penyelenggaraan pendidikan, populis
tidak elitis, dan disesuaikan dengan pemberdayaan masyarakat yang relevan
(Suryono, 2008).
2. Tersedianya dukungan regulasi yang kondusif
Pemberdayaan UMKM dapat dilakukan salah satunya dengan cara rakyat dan
pemerintah saling mematuhi Undang-Undang No.20 Tahun 2008 tentang UMKM.
3. Tersedianya pengawasan yang efektif
Pengawasan dan bimbingan dalam pembentukan dan pengembangan UMKM
merupakan prioritas penting, termasuk memberikan kemudahan kelengkapan
perijinan dan dokumen legal usaha. Bimbingan pada UMKM hendaknya bukan
hanya pada tahap penyebaran brosur dan buku juklak saja, tapi secara konkrit
membantu satu per satu kelembagaan usaha kecil dan menengah yang belum
berjalan maupun yang sudah berjalan.
Peningkatan kompetensi dapat diperoleh antara lain melalui kompetensi dalam
membentuk jaringan, kompetensi teknologi informasi, kompetensi kerjasama tim,
dan kompetensi mengkomunikasikan ide-idenya. Disamping itu juga diperlukan
kemampuan memadukan beberapa faktor yang dimiliki SDM tersebut, seperti latar
belakang pendidikan, pengalaman, kecerdasan, intuisi, dan selalu belajar dari
kesalahan sebelumnya (Baron, 2000).
4. Tersedianya teknologi informasi yang murah

Pemanfaatan teknologi informasi sangat diperlukan oleh UMKM, antara lain untuk
tercapainya pemasaran yang lebih luas ke berbagai konsumen perorangan maupun
konsumen korporat. Disamping itu juga diperlukan tercapainya efektifitas internal
dalam administrasi pembukuan yang rapi, misalnya menggunakan paket perangkat
lunak teknologi informasi yang terbaru. Pemanfaatan teknologi informasi ini juga
dapat mengurangi biaya komunikasi karena menggunakan sarana email atau
internet dibanding percakapan melalui telepon yang memiliki kelemahan tidak
dapat menunjukkan gambar-gambar maupun brosur-brosur yang penting.

5. Tersedianya pembiayaan modal yang mudah diakses

Demikian pula bantuan permodalan yang mudah diakses, juga sangat penting
karena sangat membantu usaha kecil dan menengah dalam memperoleh kredit
perbankan. Selama ini hanya 20% saja UMKM yang dapat memperoleh kredit
perbankan.

Pemerintah sebagai regulator, pada dasarnya telah banyak mengeluarkan


program atau skim yang telah disediakan untuk memberdayakan UMKM. Program ini
hendaknya terus dioptimalisasikan. Program-program tersebut antara lain.

1. Kredit Usaha Rakyat (KUR)


KUR adalah Kredit atau pembiayaan kepada UMKM dan Koperasi yang tidak
sedang menerima Kredit atau Pembiayaan dari Perbankan dan/atau yang tidak
sedang menerima Kredit Program dari Pemerintah pada saat permohonan
Kredit/Pembiayaan diajukan. Tujuan akhir diluncurkan Program KUR adalah
meningkatkan perekonomian, pengentasan kemiskinan dan penyerapan tenaga
kerja.
KUR merupakan kredit yang diberikan oleh bank kepada UMKM dalam bentuk
pemberian modal kerja dan investasi untuk usaha produktif yang feasible namun
belum bankable. Tujuannya adalah tercapainya percepatan pengembangan sektor
riil (terutama sektor pertanian, kehutanan, kelautan dan perikanan serta industri).
2. Kredit Ketahanan Pangan dan Energi (KKPE)
KKPE adalah kredit investasi atau modal kerja yang diberikan dalam rangka
mendukung program ketahanan pangan, dan diberikan melalui kelompok tani atau
koperasi.
3. Program Usaha Agrobisnis Pertanian (PUAP)
PUAP merupakan fasilitasi bantuan modal usaha untuk petani anggota, baik petani
pemilik, petani penggarap, buruh tani maupun rumah tangga tani yang
dikoordinasikan oleh gabungan kelompok tani (Gapoktan).
4. Kredit Usaha Pembibitan Sapi (KUPS)
5. Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri (PNPM)
BAB III

PENUTUP

A. KESIMPULAN
1. Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) memiliki definisi yang berbeda
pada setiap literatur menurut beberapa instansi atau lembaga bahkan undang-
undang. Sesuai dengan Undang-Undang nomor 20 tahun 2008 tentang Usaha
Mikro, Kecil, dan Menengah, UMKM didefinisikan sebagai berikut:
a. Usaha mikro adalah usaha produktif milik orang perorangan dan/atau badan
usaha perorangan yang memenuhi kriteria Usaha Mikro sebagaimana diatur
dalam Undang-Undang ini.
b. Usaha Kecil adalah usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri, yang
dilakukan oleh orang perorangan atau badan usaha yang bukan merupakan
anak perusahaan atau bukan cabang perusahaan yang dimiliki, dikuasai, atau
menjadi bagian baik langsung maupun tidak langsung dari Usaha Menengah
atau Usaha Besar yang memenuhi kriteria Usaha Kecil sebagaimana dimaksud
dalam Undang-Undang ini.
c. Usaha Menengah adalah usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri, yang
dilakukan oleh orang perorangan atau badan usaha yang bukan merupakan
anak perusahaan atau cabang perusahaan yang dimiliki, dikuasai, atau menjadi
bagian baik langsung maupun tidak langsung dengan Usaha Kecil atau Usaha
Besar dengan jumlah kekayaan bersih atau hasil penjualan tahunan
sebagaimana diatur dalam Undang-Undang ini.
2. Pada Bab II pasal 2 UU No 20 tahun 2008 tentang Usaha Mikro, Kecil dan
Menengah (UMKM) berasaskan:
a. Kekeluargaan;
b. Demokrasi ekonomi;
c. Kebersamaan
d. Efisiensi berkeadilan
e. Berkelanjutan
f. Berwawasan lingkungan
g. Kemandirian
h. Keseimbangan kemajuan
i. Kesatuan ekonomi nasional
3. Tujuan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah tercantum dalam pasal 3 UU No 20
tahun 2008 yaitu bertujuan menumbuhkan dan mengembangkan usahanya dalam
rangka membangun perekonomian nasional berdasarkan demokrasi ekonomi
yang berkeadilan.
4. Prinsip Pemberdayaan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UU No. 20 tahun
2008) adalah:
a. Penumbuhan kemandirian, kebersamaan, dan kewirausahaan Usaha Mikro,
Kecil, dan Menengah untuk berkarya dengan prakarsa sendiri;
b. Perwujudan kebijakan publik yang transparan, akuntabel, dan berkeadilan;
c. Pengembangan usaha berbasis potensi daerah dan berorientasi pasar sesuai
dengan kompetensi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah;
d. Peningkatan daya saing Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah; dan
e. Penyelenggaraan perencanaan, pelaksanaan, dan pengendalian secara terpadu.
5. Bisnis UMKM mempunyai peran strategis dalam perekonomian Indonesia,
karena:
a. Kedudukanya sebagai pemain utama dalam kegiatan ekonomi di berbagai
sektor;
b. Penyedia lapangan kerja yang terbesar;
c. Pemain penting dalam pengembangan kegiatan ekonomi lokal dan
pemberdayaan masyarakat;
d. Pencipta pasar baru dan sumber inovasi;
e. Sumbanganya dalam menjaga neraca pembayaran melalui kegiatan ekspor.
6. Hambatan dalam penyelenggaraan dan pengembangan UKMK ada dua aspek,
yaitu:
a. Internal
 Modal
 Sumber Daya Manusia (SDM)
 Hukum
b. Eksternal
 Iklim usaha masih belum kondusif.
 Infrastruktur
 Akses
7. Langkah-langkah yang harus ditempuh untuk mempercepat pemberdayaan
UMKM menurut Baseline Report antara lain;
a. Tersedianya SDM yang berkualitas dan professional
b. Tersedianya dukungan regulasi yang kondusif
c. Tersedianya pengawasan yang efektif
d. Tersedianya teknologi informasi yang murah
e. Tersedianya pembiayaan modal yang mudah diakses
8. Pemerintah sebagai regulator, pada dasarnya telah banyak mengeluarkan program
atau skim yang telah disediakan untuk memberdayakan UMKM. Program ini
hendaknya terus dioptimalisasikan. Program-program tersebut antara lain.
a. Kredit Usaha Rakyat (KUR)
b. Kredit Ketahanan Pangan dan Energi (KKPE)
c. Program Usaha Agrobisnis Pertanian (PUAP)
d. Kredit Usaha Pembibitan Sapi (KUPS)
e. Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri (PNPM)

B. SARAN
Sebaiknya program UMKM ini tetap berjalan untuk dapat memebantu perekonomian
rakyat Indonesia terutama dalam era globalisasi dan persaingan pasar bebas lingkup
ASEAN maupun dunia.
DAFTAR PUSTAKA

Bank Indonesia. 2015. Profil Bisnis Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM).
http://www.bi.go.id/id/umkm/penelitian/nasional/kajian/Documents/Profil%20Bisnis
%20UMKM.pdf dikutip pada 20/5/2017 pukul 08.00 WIB
Bappenas. 2010. Pemberdayaan Koperasi serta Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah.
www.bappenas.go.id/files/5613/5229/.../bab-20__20091007094529__2158__21.pdf.
dikutip pada 20/5/2017 pukul 08.13 WIB

UI. 2016. Undang- Undang No. 20 Tahun 2008 tentang UMKM.


https://staff.blog.ui.ac.id/martani/files/2016/12/UU-20-Tahun-2008-UMKM.pdf.
dikutip pada 20/5/2017 pukul 08.44 WIB

Kementrian Keuangan. 2009. Peran Usaha Mikro, Kecil dan Menengah dalam
Pembangunan Ekonomi Nasional.
www.kemenkeu.go.id/sites/default/files/Strategi%20Pemberdayaan%20UMKM.pdf.
dikutip pada 20/5/2017 pukul 08.53 WIB

Assery S. 2009. Pemberdayaan UMKM.


https://globalmanagement.wordpress.com/2009/05/29/strategi-mempercepat-
pemberdayaan-umkm/. dikutip pada 20/5/2017 pukul 09.07 WIB

Yohkandjok. 2014. Peranan Pemerintah dalam Pemberdayaan MKM di Indonesia.


http://yohkandjoek.blogspot.co.id/. dikutip pada 20/5/2017 pukul 09.15 WIB