Anda di halaman 1dari 12

LAPORAN AKHIR

PRAKTIKUM FARMASI FISIK


DISOLUSI

NAMA ANGGOTA :

1. Irsan Andriansyah (11171016)


2. Isti Mulfiyana (11171017)
3. Maya Rosdiana (11171020)
4. Nanang Sujadi (11171021)
5. Ria Lestari (11171042)

Kelompok 4

2 Fa 1

LABORATORIUM FARMASI FISIK

SEKOLAH TINGGI FARMASI BANDUNG


2019
PERCOBAAN III
Disolusi
I. TUJUAN PRAKTIKUM

 Menjelaskan kecepatan disolusi suatu obat


 Menjelaskan pengaruh pengadukan terhadap disolusi

II. PRINSIP

 Menentukan konsentrasi zat yang terlarut per satuan waktu ( persentasi kadar per
satuan waktu )

III. DASAR TEORI

Disolusi obat adalah suatu proses pelarutan senyawa aktif dari bentuk sediaan padat ke
dalam media pelarut. Pelarut suatu zat aktif sangat penting artinya bagi ketersediaan suatu
obat sangat tergantung dari kemampuan zat tersebut melarut ke dalam media pelarut
sebelum diserap ke dalam tubuh. Sediaan obat yang harus diuji disolusinya adalah bentuk
padat atau semi padat, seperti kapsul, tablet atau salep (Ansel, 1985).

Agar suatu obat diabsorbsi, mula-mula obat tersebut harus larutan dalam cairan pada
tempat absorbsi. Sebagai contoh, suatu obat yang diberikan secara oral dalam bentuk tablet
atau kapsul tidak dapat diabsorbsi sampai partikel-partikel obat larut dalam cairan pada
suatu tempat dalam saluran lambung-usus. Dalam hal dimana kelarutan suatu obat
tergantung dari apakah medium asam atau medium basa, obat tersebut akan dilarutkan
berturut-turut dalam lambung dan dalam usus halus. Proses melarutnya suatu obat disebut
disolusi (Ansel, 1985).

Bila suatu tablet atau sediaan obat lainnya dimasukkan dalam saluran cerna, obat tersebut
mulai masuk ke dalam larutan dari bentuk padatnya. Kalau tablet tersebut tidak dilapisi
polimer, matriks padat juga mengalami disintegrasi menjadi granul-granul, dan granul-
granul ini mengalami pemecahan menjadi partikel-partikel halus. Disintegrasi, deagregasi
dan disolusi bisa berlangsung secara serentak dengan melepasnya suatu obat dari bentuk
dimana obat tersebut diberikan (Martin, 1993).

Kecepatan disolusi adalah suatu ukuran yang menyatakan banyaknya suatu zat terlarut
dalam pelarut tertentu setiap satuan waktu. Persamaan kecepatan menurut Noyes dan
Whitney sebagai berikut (Ansel, 1993):

dM.dt-1 : Kecepatan disolusi


D : Koefisien difusi

Cs : Kelarutan zat padat

C : Konsentrasi zat dalam larutan pada waktu

H : Tebal lapisan difusi

Faktor-faktor yang mempengaruhi kecepatan disolusi yaitu (Martin, 1993):

1. Suhu

Meningginya suhu umumnya memperbesar kelarutan (Cs) suatu zat yang bersifat
endotermik serta memperbesar harga koefisien difusi zat. Menurut Einstein,koefisien difusi
dapat dinyatakan melalui persamaan berikut (Martin, 1993):

D : koefisien difusi

r : jari-jari molekul

k : konstanta Boltzman

ή : viskositas pelarut

T : suhu

2. Viskositas

Turunnya viskositas pelarut akan memperbesar kecepatan disolusi suatu zat sesuai dengan
persamaan Einstein. Meningginya suhu juga menurunkan viskositas dan memperbesar
kecepatan disolusi.

3. pH pelarut

pH pelarut sangat berpengaruh terhadap kelarutan zat-zat yang bersifat asam atau basa
lemah.

Untuk asam lemah:

Jika (H+) kecil atau pH besar maka kelarutan zat akan meningkat. Dengan demikian,
kecepatan disolusi zat juga meningkat.

Untuk basa lemah:

Jika (H+) besar atau pH kecil maka kelarutan zat akan meningkat. Dengan demikian,
kecepatan disolusi juga meningkat.
4. Pengadukan

Kecepatan pengadukan akan mempengaruhi tebal lapisan difusi (h). jika pengadukan
berlangsung cepat, maka tebal lapisan difusi akan cepat berkurang.

5. Ukuran Partikel

Jika partikel zat berukuran kecil maka luas permukaan efektif menjadi besar sehingga
kecepatan disolusi meningkat.

6. Polimorfisme

Kelarutan suatu zat dipengaruhi pula oleh adanya polimorfisme. Struktur internal zat yang
berlainan dapat memberikan tingkat kelarutan yang berbeda juga. Kristal meta stabil
umumnya lebih mudah larut daripada bentuk stabilnya, sehingga kecepatan disolusinya
besar.

7. Sifat Permukaan Zat

Pada umumnya zat-zat yang digunakan sebagai bahan obat bersifat hidrofob. Dengan
adanya surfaktan di dalam pelarut, tegangan permukaan antar partikel zat dengan pelarut
akan menurun sehingga zat mudah terbasahi dan kecepatan disolusinya bertambah.

IV. ALAT DAN BAHAN


Data Pengamatan

Kecepatan 100 rpm

1. Persamaan regersi linear

Konsentrasi ( ppm) Absorbansi


100 0,159
150 0,219
200 0,301
250 0,470
300 0,584
350 0,628
400 0,781

Absorbansi y = 0.0021x - 0.081


R² = 0.983
0.9
0.8
0.7
0.6
0.5
Absorbansi
0.4
Linear (Absorbansi)
0.3
0.2
0.1
0
0 100 200 300 400 500

2. kecepatan 100rpm

waktu abs Konsentrasi Faktor Konsentrasi Fakyor Konsentrasi Jumlah %


terhitung pengenceran terhitung koreksi terkoreksi ibuprofen Terdisolusi
(ppm) (1) (ppm) (2) (ppm) (mg)

15 0,735 386,6824 - - 0 386,6824 348,0141 87%


20 0,742 390 - - 2,14823 392,1482 352,9333 88,24%
25 0,753 395,2132 - - 2,1666 397,3789 357,9333 89,41%
30 0,769 402,7962 - - 2,1956 404,9918 364,4926 91,12%
88,94%
Konsentrasi Terhitung

Y = 0,00211X– 0,0809

𝒚+𝟎,𝟎𝟖𝟎𝟗
X=
𝟎,𝟎𝟎𝟐𝟏𝟏

Konsentrasi Terhitung
0,735+0,0809
 X15 = = 386,6824 ppm
0,00211
0,742+0,0809
 X20 = = 390 ppm
0,00211
0,753+0,0809
 X25 = = 395,2132 ppm
0,00211
0,769+0,0809
 X30 = = 402,7962 ppm
0,00211

Faktor Koreksi
5
 Faktor koreksi 20 = x 386,6824 = 2,14823
900
5
 Faktor koreksi 25 = x 390 = 2,1666
900
5
 Faktor koreksi 30 = x 395,2132 = 2,1956
900

Konsentrasi Terkoreksi

Konsentrasi Terkoreksi = konsentrasi terhitung + faktor koreksi

 Konsentrasi terkoreksi 15 = 386,6824 + 0 = 386,6824 ppm


 Konsentrasi terkoreksi 20 = 390 + 2,1482 = 392,1482 ppm
 Konsentrasi terkoreksi 25 = 395,2132 + 2,1666 = 397,3789 ppm
 Konsentrasi terkoreksi 30 = 402,7962 + 2,1956 = 404,9918 ppm

Jumlah ibuprofem
𝒌𝒐𝒏𝒔𝒆𝒏𝒕𝒓𝒂𝒔𝒊 𝒕𝒆𝒓𝒌𝒐𝒓𝒆𝒌𝒔𝒊 𝒙 𝟗𝟎𝟎𝒎𝒍
Jumlah ibuprofen = = ..............mg
𝟏𝟎𝟎𝟎

386,6824 𝑥 900
 Jumlah ibuprofen 15 = = 348,0141 mg
1000
392,1482𝑥 900
 Jumlah ibuprofen 20 = = 352,9333 mg
1000
397,3789 𝑥 900
 Jumlah ibuprofen 25 = = 357,6410 mg
1000
404,9918 𝑥 900
 Jumlah ibuprofen 30 = = 364,4926 mg
1000

Persen Terdisolusi
𝒋𝒖𝒎𝒍𝒂𝒉 𝒊𝒃𝒖𝒑𝒓𝒐𝒇𝒆𝒏
Persen terdisolusi = x 100% = ........ %
𝟒𝟎𝟎 𝒎𝒈

348,0141
 Persen terdisolusi 15 = 𝑥 100% = 87%
400
352,933
 Persen terdisolusi 20 = 𝑥 100% = 88,23%
400
357,6410
 Persen terdisolusi 25 = 𝑥 100% = 89,41%
400
357,6410
 Persen terdisolusi 30 = 𝑥 100% = 91,12%
400

3. hubungan waktu dan % terdisolusi

100
90
80
70
60
50
%terdisolusi
40
30
20
10
0
0 15 20 25 30 waktu ( menit)

100
90
80
70
60
50
%terdisolusi
40
30
20
10
0
0 15 20 25 30
 Efisiensi Disolusi 15 menit
Diketahui : bentuk daerah segitiga
Alas = 15 cm
Tinggi = 87cm
1 1
Jwb = axt= 15 x 87 = 652,5 𝑐𝑚2
2 2

 Efisiensi Disolusi 20 menit


Diketahui : bentuk daerah persegi panjang
Panjang = 88,23 cm
Lebar = 5 cm
Jwb = p x l = 88,23 x 5 = 441,15 𝑐𝑚2

 Efisiensi Disolusi 25 menit


Diketahui : bentuk daerah persegi panjang
Panjang = 89,41 cm
Lebar = 5 cm
Jwb = p x l = 89,41 x 5 = 447,05 𝑐𝑚2

 Efisiensi Disolusi 30 menit


Diketahui : bentuk daerah persegi panjang
Panjang = 91,12 cm
Lebar = 5 cm
Jwb = p x l = 91,12 x 5 = 455,6 𝑐𝑚2

Efisiensi disolusi
𝒋𝒖𝒎𝒍𝒂𝒉 𝒍𝒖𝒂𝒔 𝒅𝒂𝒆𝒓𝒂𝒉
Efisiensi disolusi = =
𝒍𝒖𝒂𝒔 𝒅𝒂𝒆𝒓𝒂𝒉 𝒌𝒆𝒔𝒆𝒍𝒖𝒓𝒖𝒉𝒂𝒏

𝑗𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑙𝑢𝑎𝑠 𝑑𝑎𝑒𝑟𝑎ℎ 652,5+441,15+447,15+455,6


Efisiensi disolusi = = = 5,2413
𝑙𝑢𝑎𝑠 𝑑𝑎𝑒𝑟𝑎ℎ 𝑘𝑒𝑠𝑒𝑙𝑢𝑟𝑢ℎ𝑎𝑛 30 𝑥 100
4. Perbandingan disolusi 50rpm dan 100 rpm

rpm Efisiensi disolusi


50 rpm

100 rpm
Pembahasan
Kecepatan disolusi adalah suatu ukuran yang menyatakan banyaknya suatu zat yang dapat
terlarut tertentu setiap satuan waktu.
Pada percobaan ini ditentukan tetapan disolusi dari tablet ibuprofen 400mg dalam media
larutan dapar fosfat pH 7,2 dimana besarnya tetapan tersebut menunjukkan cepat lambatnya
disolusi atau kelarutan dari tablet ibuprofen tersebut. Disini digunakan larutan dapar fosfat
sebagai media disolusi karena menyesuaikan dengan pH cairan dalam tubuh manusia. Jadi,
diumpamakan obat berdisolusi di dalam tubuh dengan pH normal yang sesuai. Selain itu juga
karena ibuprofen kelarutannya dalam air agak sukar larut sehingga digunakan larutan dapar
fosfat.
Pada percobaan ini dilakukan pemanasan yang dipertahankan pada suhu 27-32°C, pada
waktu larutan diambil, harus diusahakan pada bagian yang sama dari cairan, yaitu tepat di
samping keranjang sampel, sebab pada bagian tersebut zat aktif langsung keluar dari keranjang
dan dapat dipipet dengan tepat. Pemipetan yang dilakukan pada tempat yang berbeda dapat
mengakibatkan perbedaan kadar zat aktif yang sangat besar. Pemipetan dilakukan pada waktu
yang berbeda-beda untuk melihat kapan ibuprofen akan terdisolusi dengan optimal pada media
pelarut. Dari hasil yang diperoleh, dapat dijelaskan bahwa mula-mula ibuprofen akan terdisolusi
dengan lambat dan lama kelamaan akan bertambah cepat. Setelah terdisolusi sempurna zat aktif
akan diabsorbsi, dimetabolisme, dan kemudian akan memberikan efek terapi jika obat berada
dalam tubuh.
Uji disolusi digunakan untuk menetukan kesesuaian dengan persyaratan disolusi yang
tertera dalam masing-masing monografi, untuk sediaan tablet dan kapsul, kecuali pada etiket
dinyatakan bahwa tablet harus dikunyah. Persyaratan disolusi tidak berlaku untuk kapsul gelatin
lunak kecuali bila dinyatakan bahwa sediaan bersalut enterik, sedangkan dalam masing-masing
monografi, uji disolusi atau uji waktu hancur tidak secara khusus dinyatakan untuk sediaan
bersalut enteric, maka digunakan cara pengujian untuk sediaan lepas lambat seperti yang tertera
pada uji pelepasan obat, kecuali dinyatakan lain dalam masing-masing monografi.

Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan, maka diperoleh hasil, yaitu nilai efisiensi
disolusi tablet ibuprofen 400mg pada perputaran 100rpm adalah 5,2413. kecepatan disolusi
tablet Ibuprofen adalah 0,00092 mg/menit, waktu paruh tablet Ibuprofen adalah 75,326 menit,
dan efisiensi disolusi tablet Ibuprofen adalah 74,028 %. Sedangkan menurut Farmakope
Indonesia edisi IV, dalam waktu 30 menit harus larut tidak kurang dari 70 % dari jumlah yang
tertera pada etiket. Jadi, hasil dari praktikum sesuai dengan literatur.

Adapun faktor yang mempengaruhi kecepatan disolusi suatu zat, yaitu; suhu, medium,
kecepatan perputaran, kecepatan letak vertikel poros, goyangnya poros, vibrasi, gangguan pola
aliran, posisi pengambil cuplikan, formulasi bentuk sediaan, dan kalibrasi alat disolusi.
VIII. KESIMPULAN

 Disolusi suatu obat adalah kecepatan perubahan dari bentuk padat mejadi terlarut
dalam medianya setiap waktu tertentu. Jadi disolusi menggambarkan kecepatan
obat larut dalam media disulosi
 Kecepatan pengadukan akan mempengaruhi tebal lapisan difusi (h). jika pengadukan
berlangsung cepat, maka tebal lapisan difusi akan cepat berkurang.

IX. DAFTAR PUSTAKA

 Ansel. 1989. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi. UI Press: Jakarta


 Ansel. 1985. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi. UI Press: Jakarta
 Martin, Alfred, 1993. Farmasi Fisik. Universitas Indonesia Press: Jakarta
 Ditjen POM, (1995), “ Farmakope Indonesia”, Edisi III, Departemen Kesehatan RI,
Jakarta, 90, 96, 412, 675.