Anda di halaman 1dari 48

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Angka Kematian Ibu (AKI) merupakan indikator utama derajat
kesehatan masyarakat dan ditetapkan sebagai salah satu tujuan Millenium
Development Goals (MDGs). AKI Indonesia diperkirakan tidak akan dapat
mencapai target MDG yang ditetapkan yaitu 102 per 100 000 kelahiran hidup
pada tahun 2015. Kematian ibu akibat kehamilan, persalinan dan nifas
sebenarnya sudah banyak dikupas dan dibahas penyebab serta langkah‐
langkah untuk mengatasinya. Meski demikian tampaknya berbagai upaya
yang sudah dilakukan pemerintah masih belum mampu mempercepat
penurunan AKI seperti diharapkan. Pada Oktober yang lalu kita dikejutkan
dengan hasil perhitungan AKI menurut SDKI 2012 yang menunjukkan
peningkatan (dari 228 per 100 000 kelahiran hidup menjadi 359 per 100 000
kelahiran hidup). Diskusi sudah banyak dilakukan dalam rangka membahas
mengenai sulitnya menghitung AKI dan sulitnya menginterpretasi data AKI
yang berbeda‐beda dan fluktuasinya kadang drastis. (Depkes, 2013)
Masa nifas (puerpurium) adalah dimulai setelah plasenta lahir dan
berakhir ketika alat-alat kandungan kembali seperti keadaan sebelum hamil.
Masa nifas berlangsung kira-kira 6 minggu. (Prawirohardjo, 2002).
Masa nifas adalah masa segera setelah kelahiran sampai 6 minggu.
Selama masa ini, saluran reproduktif anatomi kembali ke keadaan tidak hamil
yang normal. (Obstetri William).
Masa nifas (puerpurium) adalah masa pulih kembali, mulai dari
persalinan selesai sampai alat-alat kandungan kembali seperti pra hamil.
Lama masa nifas 6-8 minggu. (Sinopsis Obstetri).
Masa nifas merupakan masa yang rawan bagi ibu, sekitar 60%
kematian ibu terjadi setelah melahirkan dan hampir 50% dari kematian pada
masa nifas terjadi pada 24 jam pertama setelah melahirkan, diantaranya
disebabkan oleh adanya komplikasi masa nifas. Selama ini perdarahan pasca
persalinan merupakan penyebab kematian ibu, namun dengan meningkatnya

1
persediaan darah dan system rujukan, maka infeksi menjadi lebih menonjol
sebagai penyebab kematian dan morbiditas ibu.
Infeksi nifas adalah infeksi pada dan melalui traktus genetalis setelah
persalinan. Suhu 38 °C atau lebih yang terjadi antara hari ke 2-10 postpartum
dan diukur peroral sedikitnya empat kali sehari. Istilah infeksi nifas mencakup
semua peradangan yangdisebabkan oleh mesuknya kuman-kuman kedalam
alat genetalia pada waktu persalinan dan nifas. Infeksi nifas pada awalnya
adalah penyebab kematian maternal yang paling banyak,namun dengan
kemajuan ilmu kebidanan terutama pengetahuan tentang sebab-sebab infeksi
nifas, pencegahan dan penemuan obat-obat baru dari itulah dapat
diminimalisir terjdinya infeksi nifas.
Dari itulah seorang bidan perlu mengetahui tentang infeksi nifas,
mulai dari apa itu infeksi nifas, bagaimana penyebab terjadinya infeksinya,
pencegahanya dan pengobatan dari infeksi nifas tersebut. Hal ini ditujukan
untuk terwujudnya persalinan yang aman asuhan nifas yang higienis sehingga
komplikasi pada masa nifas tidak lagi terjadi.

1.2 Tujuan Penulisan


Mengetahui berbagai komplikasi dan penyulit dalam masa nifas serta
penanganan yang dapat dilakukan untuk mengurangi angka kematian ibu dan
bayi dalam masa nifas.

1.3 Manfaat Penulisan


a. Bagi Pendidikan
1. Pendidikan mampu mengembangkan ilmu pengetahuan terutama pada
asuhan kebidanan kegawatdaruratan maternal dan neonatal mengenai
komplikasi dan penyakit dalam masa nifas serta penanganannya
dengan teori yang terbaru dan penatalaksanaan sesuai teori.
2. Pendidikan mampu menjadi bahan acuan untuk penulisan selanjutnya
yang berkaitan dengan asuhan kebidanan kegawatdaruratan maternal
dan neonatal mengenai komplikasi dan penyakit dalam masa nifas
serta penanganannya dengan teori yang terbaru dan penatalaksanaan
sesuai teori.
b. Bagi Klien/Masyarakat
1. Memberikan asuhan kebidanan kegawatdaruratan maternal dan
neonatal mengenai komplikasi dan penyakit dalam masa nifas sesuai
kebutuhan ibu dan bayi.
2. Menghindari pencegahan yang memicu terjadinya komplikasi dan
penyakit yang berkaitan dengan masa nifas pada ibu dan bayi.
BAB II
PEMBAHASA
N

2.1 Infeksi
Infeksi nifas adalah keadaan yang mencakup semua peradangan alat-
alat genitalia dalam masa nifas. Masuknya kuman-kuman dapat terjadi dalam
kehamilan, waktu persalinan, dan nifas. Demam nifas adalah demam dalam
masa nifas oleh sebab apapun. (Rustam Mochtar, 1998)
Morbiditas puerpuralis adalah kenaikan suhu badan sampai 38 oC atau
lebih selama 2 hari dalam 10 hari pertama postpartum, kecuali pada hari
pertama. Suhu diukur 4 kali secara oral. (Rustam Mochtar, 1998)

2.2 Etiologi
Bermacam-macam jalan kuman masuk ke dalam alat kandungan,
seperti eksogen (kuman datang dari luar), autogen ( kuman masuk dari tempat
lain dalam tubuh), dan endogen ( dari jalan lahir sendiri). Penyebab yang
terbanyak dari 50% adalah streptococcus anaerob yang sebenarnya tidak
patogen sebagai penghuni normal jalan lahir.
Kuman-kuman yang sering menyebabkan infeksi antaralain adalah:
1) Streptococcus Haemoliticus Aerobik
Masuk secara eksogen dan menyebabkan infeksi berat yang
ditularkan dari penderita lain, alat-alat yang tidak suci hama, tangan
penolong, dan sebagainya.
2) Staphylococcus Aureus
Masuk secara eksogen, infeksi sedang, banyak ditemukan
sebagai penyebab infeksi di Rumah Sakit.
3) Escherichia Coli
Sering berasal dari kandung kemih dan rectum, menyebabkan
infeksi terbatas.
4) Clostridium Welchii
Kuman anaerobik yang sangat berbahaya , sering ditemukan
pada abortus kriminalis dan partus yang ditolong dukun dari luar
Rumah Sakit.
Cara terjadinya infeksi:
a) Manipulasi penolong yang tidak suci hama, atau pemeriksaan
dalam yang berulang-ulang dapat membawa bakteri yang sudah
ada ke dalam rongga rahim.
b) Alat-alat yang tidak suci hama.
c) Infeksi droplet, sarung tangan dan alat-alata terkena infeksi
kontaminasi yang berasal dari hidung, tenggorokan, dari penolong
dan pembantunya atau orang lain.

2.3 Predisposisi
a. Partus lama, partus terlantar, dan ketuban pecah lama.
b. Tindakan obstetri operatif baik pervaginam maupun perabdominal.
c. Tertinggalnya sisa-sisa uri, selaput ketuban, dan bekuan darah dalam
rongga rahim.
d. Keadaan-keadaan yang menurunkan daya tahan seperti perdarahan,
kelelahan, malnutrisi, pre-eklamsi, eklamsi, dan penyakit ibu lainnya
(penyakit jantung, TBC paru, pneumonia, dll).

2.4 Klasifikasi
1) Infeksi terbatas lokalisasinya pada perineum, vulva, serviks, dan
endometrium.
2) Infeksi yang menyebar ke tempat lain melalui: pembuluh darah vena,
pembuluh limfe dan endometrium.
2.5 Macam-Macam Infeksi Nifas
2.5.1 Endometritis
a. Pengertian
1. Endometritis adalah suatu peradangan endometrium yang
biasanya disebabkan oleh infeksi bakteri pada jaringan (Ben-
zion Tuber, 1994).
2. Endometritis adalah infeksi pada endometrium atau yang
disebut lapisan dalam dari rahim. ( Prof.dr.Ida Bagus,).
3. Endometritis adalah infeksi pada endometrium (lapisan dalam
dari rahim). (Manuaba, I.B. G., 1998).- Endometritis adalah
suatu infeksi yag terjadi di endometrium, merupakan
komplikasi pascapartum, biasanya terjadi 48 sampai 72 jam
setelah melahirkan.
4. Endometritis secara umum adalah infeksi atau desidua
endometrium, dengan ekstensi ke miometrium dan jaringan
parametrial. Endometritis dibagi menjadi kebidanan dan
nonobstetric endometritis. Penyakit radang panggul (PID)
adalah sebuah Common nonobstetric pendahulunya dalam
populasi.
5. Endometritis dapat juga terjadi karena kelanjutan dari
kelahiran yang tidak normal, seperti abortus, retensi
sekundinarum, kelahiran premature, kelahiran kembar,
keahiran yang sukar (distokia), perlukaan yang disebabkan
oleh alat-alat yang dipergunakan untuk pertolongan pada
kelahiran yang sukar.
b. Tipe Endometritis
1. Endometritis post partum (radang dinding rahim sesudah
melahirkan)
2. Endometritis sinsitial (peradangan dinding rahim akibat tumor
jinak disertai sel sintitial dan trofoblas yang banyak)
3. Endometritis tuberkulosa (peradangan pada dinding rahim
endometrium dan tuba fallopi, biasanya akibat Mycobacterium
tuberculosis.)
c. Etiologi
Macam jalan kuman masuk ke dalam alat kandungan
seperti eksogen (kuman datang dari luar), autogen (kuman masuk
dari tempat lain dalam tubuh) dan endogen (dari jalan lahir
sendiri). Penyebab yang terbanyak dan lebih dari 50% adalah
streptococcus anaerob yang sebenarnya tidak patogen sebagai
penghuni normal jalan lahir. Kuman-kuman yang sering
menyebabkan infeksi antara lain adalah :
1) Streptococcus haemoliticus anaerobic
Masuknya secara eksogen dan menyebabkan infeksi
berat. Infeksi ini biasanya eksogen (ditularkan dari penderita
lain, alat-alat yang tidak suci hama, tangan penolong, infeksi
tenggorokan orang lain).
2) Staphylococcus aureus
Masuknya secara eksogen, infeksinya sedang, banyak
ditemukan sebagai penyebab infeksi di rumah sakit dan dalam
tenggorokan orang-orang yang nampaknya sehat. Kuman ini
biasanya menyebabkan infeksi terbatas, walaupun kadang-
kadang menjadi sebab infeksi umum.
3) Escherichia Coli
Sering berasal dari kandung kemih dan rektum,
menyebabkan infeksi terbatas pada perineum, vulva, dan
endometrium. Kuman inimerupakan sebab penting dari
infeksi traktus urinarius.
4) Clostridium Welchii
Kuman ini bersifat anaerob, jarang ditemukan akan
tetapi sangat berbahaya. Infeksi ini lebih sering terjadi pada
abortus kriminalis dan partus yang ditolong oleh dukun dari
luar rumah sakit.
Endometritis sering ditemukan pada wanita setelah seksio
sesarea terutama bila sebelumnya ada riwayat koriomnionitis,
partus lama, pecah ketuban yang lama. Penyebab lainnya dari
endometritis adalah adanya tanda jaringan plasenta yang tertahan
setelah abortus dan melahirkan.
Menurut Varney, H. (2001), hal-hal yang dapat
menyebabkan infeksi pada wanita adalah:
1. Waktu persalinan lama, terutama disertai pecahnya ketuban.
2. Pecahnya ketuban berlangsung lama.
3. Adanya pemeriksaan vagina selama persalinan dan disertai
pecahnya ketuban.
4. Teknik aseptik tidak dipatuhi.
5. Manipulasi intrauterus (pengangkatan plasenta secara
manual).
6. Trauma jaringan yang luas/luka terbuka.
7. Kelahiran secara bedah.
8. Retensi fragmen plasenta/membran amnion.
Miroorganisme yang menyebabkan endometritis
diantaranya Campylobacter foetus, Brucella sp., Vibrio sp., dan
trikomoniasis foetus. Endometritis juga dapat diakibatkan oleh
bakteri oportunistik spesifik seperti Corynebacterium pyogenes,
Eschericia coli dan Fusobacterium necrophorum .Endometritis
biasa terjadi setelah kejadian aborsi , kelahiran kembar , serta
kerusakan jalan kelahiran sesudah melahirkan.
d. Faktor Predisposisi
1. Aborsi
2. Kelahiran kembar
3. Kerusakan jalan lahir
4. Kelanjutan retensio plasenta yang mengakibatkan involusi
pasca persalinan menjadi menurun
5. Adanya korpus luteun persisten.
6. Persalinan Pervaginam
Jika dibandingkan dengan persalinan
perabdominan/sc, maka timbulnya endometritis pada
tersalinan pervaginam relatif jarang.Bila persalinan
pervaginam disertai penyulit yaitu pada ketuban pecah
prematur yang lama, partus yang lama dan pemeriksaan dalam
berulang, maka kejadian endometritis akan meningkat sampai
mendekati 6%. Bila terjadi korioamniotis intrapartum, maka
kejadian endometritis akan lebih tinggi yaitu mencapai 13%.
7. Persalinan SC
SC merupakan faktor predisposisi utama timbulnya
endometritis dan erat kaitannya dengan status sosial ekonomi
penderita. Faktor resiko penting untuk timbulnya infeksi
adalah lamanya proses persalinan dan ketuban pecah,
pemeriksaan dalam berulang dan pemakaian alat monitoring
janin internal. Karena adanya faktor resiko tersebut america
college of obsetricians andgynekologists menganjurkan
pemberian antibiotika profilaksis pada tindakan secsio
caesarea.
e. Tanda dan Gejala Endometritis
Tanda dan gejala endometritis antara lain :
1. Peningkatan demam secara persisten hingga 40 derajat
celcius. Tergantung pada keparahan infeksi.
2. Takikardia
3. Menggigil dengan infeksi berat
4. Nyeri tekan uteri menyebar secara lateral
5. Nyeri panggul dengan pemeriksaan bimanual
6. Subinvolusi
7. Lokhia sedikit, tidak berbau atau berbau tidak sedap, lokhia
seropurulenta
8. Hitung sel darah putih mungkin meningkat di luar leukositisis
puerperium fisiologis
9. Perdarahan pervaginam
10. Shock sepsis maupun hemoragik
11. Abdomen distensi atau pembengkakan.
12. Abnormal pendarahan vagina
13. Discomfort dengan buang air besar (sembelit mungkin terjadi)
14. Terjadi ketidaknyamanan, kegelisahan, atau perasaan sakit
(malaise)
f. Klasifikasi Endometritis
Menurut Wiknjosastro (2002),
1. Endometritis akut
Terutama terjadi pada masa post partum / post
abortum. Pada endometritis post partum regenerasi
endometrium selesai pada hari ke-9, sehingga endometritis
post partum pada umumnya terjadi sebelum hari ke-9.
Endometritis post abortum terutama terjadi pada abortus
provokatus.
Pada endometritis akuta, endometrium mengalami
edema dan hiperemi, dan pada pemeriksaan mikroskopik
terdapat hiperemi, edema dan infiltrasi leukosit berinti
polimorf yang banyak, serta perdarahan-perdarahan
interstisial. Sebab yang paling penting ialah infeksi gonorea
dan infeksi pada abortus dan partus.
Infeksi gonorea mulai sebagai servisitis akut, dan
radang menjalar ke atas dan menyebabkan endometritis akut.
Infeksi gonorea akan dibahas secara khusus.
Pada abortus septik dan sepsis puerperalis infeksi
cepat meluas ke miometrium dan melalui pembuluh-
pembuluh darah limfe dapat menjalar ke parametrium,
ketuban dan ovarium, dan ke peritoneum sekitarnya. Gejala-
gejala endometritis akut dalam hal ini diselubungi oleh gejala-
gejala penyakit dalam keseluruhannya. Penderita panas tinggi,
kelihatan sakit keras, keluar leukorea yang bernanah, dan
uterus serta daerah sekitarnya nyeri pada perabaan.
Sebab lain endometritis akut ialah tindakan yang
dilakukan dalam uterus di luar partus atau abortus, seperti
kerokan, memasukan radium ke dalam uterus, memasukan
IUD (intra uterine device) ke dalam uterus, dan sebagainya.
Tergantung dari virulensi kuman yang dimasukkan
dalam uterus, apakah endometritis akut tetap berbatas pada
endometrium, atau menjalar ke jaringan di sekitarnya.
Endometritis akut yang disebabkan oleh kuman-
kuman yang tidak seberapa patogen pada umumnya dapat
diatasi atas kekuatan jaringan sendiri, dibantu dengan
pelepasan lapisan fungsional dari endometrium pada waktu
haid. Dalam pengobatan endometritis akuta yang paling
penting adalah berusaha mencegah, agar infeksi tidak
menjalar.
Gejalanya :
a. Demam
b. Lochea berbau : pada endometritis post abortum
kadang-kadang keluar lochea yang purulent.
c. Lochea lama berdarah malahan terjadi metrorrhagi.
d. Kalau radang tidak menjalar ke parametrium atau
parametrium tidak nyeri.

Penatalaksanaan :
a. Dalam pengobatan endometritis akut yang paling
penting adalah berusaha mencegah agar infeksi tidak
menjalar.

Terapi :
a. Uterotonika.
b. Istirahat, letak fowler.
c. Antibiotika.
d. Endometritis senilis perlu dikuret untuk
menyampingkan corpus carsinoma. Dapat diberi
estrogen.

2. Endometritis kronik
Radang ini jarang dijumpai , namun biasanya terjadi
pada wanita yang masih menstruasi. Dimana radang dapat
terjadi pada lapisan basalis yang tidak terbuang pada waktu
menstruasi. Endometritis kronik primaria dapat terjadi
sesudah menopauase, dimana radang tetap tinggal dan meluas
sampai ke bagian endometrium lain. Endometritis kronik
ditandai oleh adanya sel-sel plasma pada stroma. Penyebab
yang paling umum adalah Penyakit Radang Panggul (PID),
TBC, dan klamidia. Pasien yang menderita endometritis
kronis sebelumnya mereka telah memiliki riwayat kanker
leher rahim atau kanker endrometrium. Gejala endometritis
kronis berupa noda darah yang kotor dan keluhan sakit perut
bagian bawah, leukorea serta kelainan haid seperti
menorhagia dan metrorhagia. Pengobatan tergantung dari
penyebabnya.

Endometritis kronis ditemukan:


a. Pada tuberkulosis.
b. Jika tertinggal sisa-sisa abortus atau partus.
c. Jika terdapat korpus alineum di kavum uteri.
d. Pada polip uterus dengan infeksi.
e. Pada tumor ganas uterus.
f. Pada salpingo – oofaritis dan selulitis pelvik.
Endometritis tuberkulosa terdapat pada hampir
setengah kasus-kasus TB genital. Pada pemeriksaan
mikroskopik ditemukan tuberkel pada tengah-tengah
endometrium yang meradang menahun.
Pada abortus inkomplitus dengan sisa-sisa tertinggal
dalam uterus terdapat desidua dan vili korealis di tengah-
tengah radang menahun endometrium.
Pada partus dengan sisa plasenta masih tertinggal
dalam uterus, terdapat peradangan dan organisasi dari jaringan
tersebut disertai gumpalan darah, dan terbentuklah apa yang
dinamakan polip plasenta.
Endometritis kronika yang lain umumnya akibat ineksi
terus-menerus karena adanya benda asing atau polip/tumor
dengan infeksi di dalam kavum uteri.
Gejalanya :
a. Flour albus yang keluar dari ostium.
b. Kelainan haid seperti metrorrhagi dan menorrhagi.
Terapi :
a. Perlu dilakukan kuretase.
g. Patogenesis
Rahim merupakan organ yang steril sedangkan di vagina
terdapat banyak mikroorganisme oportunistik. Mikroorganisme
dari vagina ini dapat secara asenden masuk ke rahim terutama
pada saat perkawinan atau melahirkan. Bila jumlah
mikroorganisme terlalu banyak dan kondisi rahim mengalami
gangguan maka dapat terjadi endometritis. Kejadian endometritis
kemungkinan besar terjadi pada saat kawin suntik atau
penanganan kelahiran yang kurang higienis, sehingga banyak
bakteri yang masuk, seperti bakteri non spesifik (E. coli,
Staphilylococcus, Streptococcus dan Salmonella), maupun bakteri
spesifik (Brucella sp, Vibrio foetus dan Trichomonas foetus).
Infeksi uterus pada persalinan pervaginam terutama terjadi
pada tempat implantasi plesenta, desidua, dan miometrium yang
berdekatan.bakteri yang berkoloni diserviks akan dan vagina akan
menginvasi tempat implantasi plasenta saat itu biasanya
merupakan sebuah luka dengan diameter kurang lebih 4 cm
dengan permukaan luka berbenjol–benjol karena banyaknya vena
yang ditutupi trombus. Daerah ini merupakan tempat yang baik
untuk tumbuhnya kuman-kuman patogen
Infeksi uterus pasca operasi sesar umumnya akibat infeksi
pada luka operasi selain infeksi yang terjadi pada tempat
implantasi plasenta.
h. Gambaran Klinis
Gambaran klinis dari endometritis tergantung pada jenis
dan virulensi kuman, daya tahan penderita dan derajat trauma pada
jalan lahir. Kadang-kadang lokhea tertahan oleh darah, sisa-sisa
plasenta dan selaput ketuban. Keadaan ini dinamakan lokiometra
dan dapat menyebabkan kenaikan suhu yang segera hilang setelah
rintangan dibatasi. Uterus pada endometrium agak membesar,
serta nyeri pada perabaan, dan lembek.
Pada endometritis yang tidak meluas penderita pada hari-
hari pertama merasa kurang sehat dan perut nyeri, mulai hari ke 3
suhu meningkat, nadi menjadi cepat, akan tetapi dalam beberapa
hari suhu dan nadi menurun, dan dalam kurang lebih satu minggu
keadaan sudah normal kembali, lokhea pada endometritis,
biasanya bertambah dan kadang-kadang berbau. Hal yang terakhir
ini tidak boleh menimbulkan anggapan bahwa infeksinya berat.
Malahan infeksi berat kadang-kadang disertai oleh lokhea yang
sedikit dan tidak berbau.
Gambaran klinik dari endometritis:
1. Nyeri abdomen bagian bawah.
2. Mengeluarkan keputihan (leukorea).
3. Kadang terjadi pendarahan.
4. Dapat terjadi penyebaran :
a. Miometritis
b. Parametritis
c. Salpingitis
d. Ooforitis
e. Pembentukan penahanan sehingga terjadi abses.
(Manuaba, I. B. G., 1998)

Menurut Varney, H (2001), tanda dan gejala endometritis


meliputi:
1. Takikardi 100-140 bpm.
2. Suhu 30 – 40ᵒ celcius.
3. Menggigil.
4. Nyeri tekan uterus yang meluas secara lateral.
5. Peningkatan nyeri setelah melahirkan.
6. Sub involusi.
7. Distensi abdomen.
8. Lokea sedikit dan tidak berbau/banyak, berbau busuk,
mengandung darah seropurulen.
9. Awitan 3-5 hari pasca partum, kecuali jika disertai infeksi
streptococcus.
10. Jumlah sel darah putih meningkat.
i. Diagnosis
Endometritis dapat terjadi secara klinis dan subklinis.
Diagnosis endometritis dapat didasarkan pada riwayat kesehatan,
pemeriksaan rektal, pemeriksaan vaginal dan biopsi. Keluhan
kasus endometritis biasanya beberapa kali dikawinkan tetapi tidak
bunting, siklus birahi diperpanjang kecuali pada endometritis yang
sangat ringan. Pemeriksaan vaginal dapat dilakukan dengan
menggunakan vaginoskop dengan melihat adanya lendir, lubang
leher rahim (serviks) agak terbuka dan kemerahan di daerah
vagina dan leher rahim. Pada palpasi per rektal akan teraba
dinding rahim agak kaku dan di dalam rahim ada cairan tetapi
tidak dirasakan sebagai fluktuasi (tergantung derajat infeksi).
Secara klinis karakteristik endometritis dengan adanya
pengeluaran mucopurulen pada vagina, dihubungkan dengan
ditundanya involusi uterus. Diagnosa endometritis tidak
didasarkan pada pemeriksaan histologis dari biopsy endometrial.
Tetapi pada kondisi lapangan pemeriksaan vagina dan palpasi
traktus genital per rectum adalah teknik yang sangat bermanfaat
untuk diagnosa endometritis. Pemeriksaan visual atau manual pada
vagina untuk abnormalitas pengeluaran uterus adalah penting
untuk diagnosa endometritis, meski isi vagina tidak selalu
mencerminkan isi dari uterus. Flek dari pus pada vagina dapat
berasal dari uterus, cervik atau vagina dan mukus tipis berawan
sering dianggap normal. Sejumlah sistem penilaian telah
digunakan untuk menilai tingkat involusi uterus dan cervik,
pengeluaran dari vagina alami. Sistem utama yang digunakan
adalah kombinasi dari diameter uterus dan cervik, penilaian isi
dari vagina.
Sangat penting untuk dilakukan diagnosa dan memberi
perlakuan pada kasus endometritis di awal periode post partum.
Setiap ibu harus mengalami pemeriksaan postpartum dengan
segera pada saat laktasi sebagai bagian dari program kesehatan
yang rutin. Kejadian endometritis dapat didiagnosa dengan adanya
purulen dari vagina yang diketahui lewat palpasi rektal. Diagnosa
lebih lanjut seperti pemeriksaan vaginal dan biopsi mungkin
diperlukan. Yang harus diperhatikan pada saat palpasi dan
pemeriksaan vaginal meliputi ukuran uterus, ketebalan dinding
uterus dan keberadaan cairan beserta warna, bau dan
konsistensinya. Sejarah tentang trauma kelahiran, distosia, retensi
plasenta atau vagina purulenta saat periode postpartum dapat
membantu diagnosa endometritis. Pengamatan oleh inseminator
untuk memastikan adanya pus, mengindikasikan keradangan pada
uterus. Sejumlah kecil pus yang terdapat pada pipet inseminasi
dan berwarna keputihan bukanlah suatu gejala yang mangarah
pada endometritis.
Keradangan pada cervix (cervisitis) dan vagina (vaginitis)
juga mempunyai abnormalitas seperti itu. Bila terdapat sedikit
cairan pada saat palpasi uterus, penting untuk melakukan
pemeriksaan selanjutnya yaitu dengan menggunakan spekulum.
Untuk beberapa kasus endometritis klinis atau subklinis, diagnosa
diperkuat dengan biopsy uterin. Pemeriksaan mikroskopis dari
jaringan biopsy akan tampak adanya peradangan akut atau kronik
pada dinding uterus. Pemeriksaan biopsi uterin dapat untuk
memastikan terjadinya endometritis dan adanya organisme di
dalam uterus. Tampak daerah keradangan menunjukkan terutama
neutrofil granulocyte dan dikelilingi jaringan nekrosis dengan
koloni coccus.
Cara sederhana juga adalah dengan melakukan
pemeriksaan manual pada vagina dan mengambil mukus untuk di
inspeksi. Keuntungan teknik ini adalah murah, cepat, menyediakan
informasi sensory tambahan seperti deteksi laserasi vagina dan
deteksi bau dari mukus pada vagina. Satu prosedur adalah
pembersihan vulva menggunakan paper towel kering dan bersih,
sarung tangan berlubrican melalui vulva ke dalam vagina. Pinggir,
atas dan bawah dinding vagina dan os cervik eksterna dipalpasi
dan isi mukus vagina diambil untuk diperiksa. Tangan biasanya
tetap di vagina untuk sekurangnya 30 detik. Pemeriksaan vagina
manual telah sah dan tidak menyebabkan kontaminasi bakteri
uterus, menimbulkan phase respon protein akut atau menunda
involusi uterus. Tetapi operator sadar bahwa vaginitis dan
cervicitis mungkin memberikan hasil yang salah. Vaginoscopy
dapat dilakukan dengan menggunakan autoclavable plastik, metal
atau disposable foil- lined cardboard vaginoscope, yang diperoleh
adalah inspeksi dari isi vagina. Tetapi mungkin ada beberapa
resistensi menggunakan vaginoscop karena dirasa tidak mudah,
potensial untuk transmisi penyakit dan harganya. Alat baru untuk
pemeriksaan mukus vagina terdiri dari batang stainless steel
dengan hemisphere karet yang digunakan untuk mengeluarkan isi
vagina.
j. Komplikasi
Komplikasi yang potensial dari endometritis adalah
sebagai berikut:
1. Luka infeksi
Infeksi luka biasanya terjadi pada hari kelima pasca
operasi sebagai demam menetap meskipun pasien mendapat
terapi antimikroba yang adekuat. Biasanya dijumpai eritema,
indurasi, dan drainase insisi
2. Karena peritonitis
Peritonitis pasca sesar mirip dengan peritonitis bedah,
kecuali rigiditas abdomen biasanya tidak terlalu mencolok
karena peregangan abdomen yang berkaitan dengan
kehamilan. Nyeri mungkin hebat. Jika infeksi berawal di
uterus dan meluas hanya ke peritonium di dekatnya
(peritonitis panggul),terapi biasanya medis. Sebaliknya
peritonitis abdomen generalisata akibat cedera usus atau
nekrosis insisi uterus, sebaiknya diterapi secara bedah .
3. Parametrial phlegmon
Pada sebagian wanita yang mengalami metritis setelah
sesar, terjadi selulitis parametrium yang intensif. Hal ini
menyebabkan terbentuknya daerah indursi yang disebut
flegmon, di dalam lembar-lembar ligamentum latum
(parametria)atau dibawah lipatan kandung kemih yang berada
di atas insisi uterus. Selulitis ini umumnya unilateral dan
dapat meluas ke lateral ke dinding samping panggul. Infeksi
ini harus dipertimbangkan jika demam menetap setelah 72
jam meskipun pasien sudah mendapat terapi untuk
endomiometritis pasca sesar.
4. Panggul abses
Flegmon parametrium dapat mengalami supurasi,
membentuk abses ligamentum latum yang fluktuatif. Jika
abses ini pecah, dapat timbul peritonitis yang mengancam
nyawa. Dapat dilakukan drainase abses dengan menggunakan
tuntunan computed tomography, kolpotami, atau melalui
abdomen, bergantung pada lokasi abses.
5. Abses subfasia dan Terbukanya jaringan parut uterus
Kompilkasi serius endometritis pada wanita yang
melahirkan sesar adalah terbukanya insisi akibat infeksi
nekrosis disertai perluasan ke dalam ruang subfasia di sekitar
dan akhirnya pemisahan insisi fasia . Hal ini bermanifestasi
sebagai drainase subfasia pada wanita dengan demam lama.
Di perlukan eksplorasi bedah dan pengangkatan uterus yang
terinfeksi.
6. Septik panggul thrombophlebitis
Di dahului oleh infeksi bakteri di tempat implantasi
plasenta atau insisi uterus. Infeksi dapat meluas di sepanjang
rute vena dan mungkin mengenai vena-vena di ovarium.
k. Penatalaksanaan
1. Antibiotika ditambah drainase yang memadai merupakan
pojok sasaran terapi. Evaluasi klinis dari organisme yang
terlihat pada pewarnaan gram, seperti juga pengetahuan
bakteri yang diisolasi dari infeksi serupa sebelumnya,
memberikan petunjuk untuk terapi antibiotik.
2. Cairan intravena dan elektrolit merupakan terapi pengganti
untuk dehidrasi ditambah terapi pemeliharaan untuk pasien-
pasien yang tidak mampu mentoleransi makanan lewat mulut.
Secepat mungkin pasien diberikan diit per oral untuk
memberikan nutrisi yang memadai.
3. Pengganti darah dapat diindikasikan untuk anemia berat
dengan post abortus atau post partum.
4. Tirah baring dan analgesia merupakan terapi pendukung yang
banyak manfaatnya.
5. Tindakan bedah: endometritis post partum sering disertai
dengan jaringan plasenta yang tertahan atau obstruksi serviks.
Drainase lokia yang memadai sangat penting. Jaringan
plasenta yang tertinggal dikeluarkan dengan kuretase
perlahan-lahan dan hati-hati. Histerektomi dan salpingo –
oofaringektomi bilateral mungkin ditemukan bila klostridia
telah meluas melampaui endometrium dan ditemukan bukti
adanya sepsis sistemik klostridia (syok, hemolisis, gagal
ginjal)

2.5.2 Bendungan ASI


1. Pengertian
Peningkatan aliran vena dan limfe pada payudara dalam
rangka mempersiapkan diri untuk laktasi. Hal ini bukan
disebabkan overdistensi dari saluran sistem laktasi.
Bendungan terjadi akibat bendungan berlebihan pada
limfatik dan vena sebelum laktasi. Payudara bengkak disebabkan
karena menyusui yang tidak kontinyu, sehingga sisa ASI
terkumpul pada daerah duktus. Hal ini dapat terjadi pada hari ke
tiga setelah melahirkan. Selain itu, penggunaan bra yang ketat
serta keadaan puting susu yang tidak bersih dapat menyebabkan
sumbatan pada duktus.
2. Gejala umum
Perlu dibedakan antara payudara bengkak dengan payudara
penuh. Pada payudara bengkak: payudara odem, sakit, puting susu
kencang, kulit mengkilat walau tidak merah, dan ASI tidak keluar
kemudian badan menjadi demam setelah 24 jam. Sedangkan pada
payudara penuh: payudara terasa berat, panas dan keras. Bila ASI
dikeluarkan tidak ada demam.
3. Tanda gejala selalu ada
a. Buah dada nyeri dan bengkak.
b. 3-5 hari nifas.
4. Tanda gejala kadang-kadang ada :
a. Buah dada bengkak
b. Kedua buah dada terkena
5. Pencegahan
a. Menyusui bayi segera setelah lahir dengan posisi dan
perlekatan yang benar.
b. Menyusui bayi tanpa jadwal (nir jadwal dan on demand).
c. Keluarkan ASI dengan tangan/pompa bila produksi melebihi
kebutuhan bayi.
d. Jangan memberikan minuman lain pada bayi.
e. Lakukan perawatan payudara pasca persalinan (masase, dan
sebagainya).
6. Penanganan:
Bila ibu menyusui bayinya:
a. Susukan sesering mungkin
b. Kedua payudara disusukan
c. Kompres hangat payudara sebelum disusukan
d. Keluarkan sedikit ASI sebelum menyusui agar payudara
lebih lembek, sehingga lebih mudah memasukkannya ke
dalam mulut bayi.
e. Bila bayi belum dapat menyusu, ASI dikeluarkan dengan
tangan atau pompa dan diberikan pada bayi dengan
cangkir/sendok.
f. Tetap mengeluarkan ASI sesering yang diperlukan sampai
bendungan teratasi.
g. Untuk mengurangi rasa sakit dapat diberi kompres hangat
dan dingin.
h. Bila ibu demam dapat diberikan obat penurun demam dan
pengurang sakit.
i. Lakukan pemijatan pada daerah payudara yang bengkak,
bermanfaat untuk membantu memperlancar pengeluaran
ASI.
j. Pada saat menyusui, sebaiknya ibu tetap rileks.
k. Makan makanan bergizi untuk meningkatkan daya tahan
tubuh dan perbanyak minum.
l. Bila diperlukan berikan parasetamol 500 mg per oral
setiap 4 jam
m. Lakukan evaluasi setelah 3 hari untuk mengevaluasi
hasilnya.
Bila ibu tidak menyusui:
a. Sangga payudara
b. Kompres dingin pada payudara untuk
mengurangi pembengkakan dan rasa sakit
c. Bila diperlukan berikan paracetamol 500 mg per oral setiap 4
jam
d. Jangan dipijat atau memakai kompres hangat pada payudara.

2.5.3 Infeksi Payudara


1. Pengertian
Mastitis termasuk salah satu infeksi payudara. Mastitis
adalah peradangan pada payudara yang dapat disertai infeksi atau
tidak, yang disebabkan oleh kuman terutama Staphylococcus
aureus melalui luka pada puting susu atau melalui peredaran
darah. Penyakit ini biasanya menyertai laktasi, sehingga disebut
juga mastitis laktasional atau mastitis puerperalis. Infeksi terjadi
melalui luka pada puting susu, tetapi mungkin juga melalui
peredaran darah. Kadang-kadang keadaan ini bisa menjadi fatal
bila tidak diberi tindakan yang adekuat. Abses payudara,
penggumpalan nanah lokal di dalam payudara, merupakan
komplikasi berat dari mastitis.
2. Faktor Risiko
Beberapa faktor yang diduga dapat meningkatkan risiko
mastitis, yaitu :
a. Umur
Wanita berumur 21-35 tahun lebih sering menderita mastitis
dari pada wanita di bawah usia 21 tahun atau di atas 35 tahun.
b. Paritas
Mastitis lebih banyak diderita oleh primipara.
Serangan sebelumnya.
Serangan mastitis pertama cenderung berulang, hal ini
merupakan akibat teknik menyusui yang buruk yang tidak
diperbaiki.
a. Melahirkan
Komplikasi melahirkan dapat meningkatkan risiko
mastitis, walupun penggunaan oksitosin tidak meningkatkan
resiko.
b. Gizi
Asupan garam dan lemak tinggi serta anemia menjadi
faktor predisposisi terjadinya mastitis. Antioksidan dari
vitamin E, vitamin A dan selenium dapat mengurangi resiko
mastitis.
c. Faktor kekebalan dalam ASI
3. Etiologi
Penyebab utama mastitis adalah statis ASI dan infeksi.
Statis ASI biasanya merupakan penyebab primer yang dapat
disertai atau menyebabkan infeksi.

a. Statis ASI

Statis ASI terjadi jika ASI tidak dikeluarkan dengan


efisien dari payudara. Hal ini terjadi jika payudara terbendung
segera setelah melahirkan, atau setiap saat jika bayi tidak
mengisap ASI, kenyutan bayi yang buruk pada payudara,
pengisapan yang tidak efektif, pembatasan frekuensi/durasi
menyusui, sumbatan pada saluran ASI, suplai ASI yang sangat
berlebihan dan menyusui untuk kembar dua/lebih.

b. Infeksi

Organismen yang paling sering ditemukan pada


mastitis dan abses payudara adalah organisme koagulase-
positif Staphylococcus aureus dan Staphylococcus albus.
Escherichia coli dan Streptococcus kadang-kadang juga
ditemukan. Mastitis jarang ditemukan sebagai komplikasi
demam tifoid.

4. Patofisiologi
Stasis ASI peningkatan tekanan duktus jika ASI tidak
segera dikeluarkanàpeningkatan tegangan alveoli yang
berlebihanàsel epitel yang memproduksi ASI menjadi datar dan
tertekanàpermeabilitas jaringan ikat meningkatàbeberapa
komponen(terutama protein dan kekebalan tubuh dan natrium)
dari plasma masuk ke dalam ASI dan jaringan sekitar selàmemicu
rrespon imunàrespon inflmasiàkerusakan jaringanàmempermudah
terjadinya infeksi (Staohylococcus aureus dan Sterptococcus) dari
port d’ entry yaitu: duktus laktiferus ke lobus sekresi dan putting
yang retak ke kelenjar limfe sekitar duktus/ periduktal dan secara
hematogen.

5. Manifestasi Klinis
1) Gejala mastitis infeksiosa
a. Lemah, mialgia, nyeri kepala seperti gejala flu dan ada juga
yang di sertai takikardia
b. Demam suhu > 38,5 derajat celcius
c. Ada luka pada puting payudara
d. Kulit payudara kemerahan atau mengkilat
e. Terasa keras dan tegang
f. Payudara membengkak, mengeras, lebih hangat, kemerahan
yang berbatas tegas
g. Peningkatan kadar natrium sehingga bayi tidak mau
menyusu karena ASI yang terasa asin
2) Gejala mastitis non infeksiosa
a. Adanya bercak panas/nyeri tekan yang akut
b. Bercak kecil keras yang nyeri tekan
c. Tidak ada demam dan ibu masih merasa naik-baik saja.
6. Diagnosis
Diagnosis ditegakkan berdasarkan kumpulan gejala klinis
yang diperoleh dari anamesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan
penunjang

7. Diagnosis Banding
a. Mastitis infeksiosa
b. Mastitis non infeksiosa
8. Pemeriksaan Penunjang
a. Lab darah
b. Kultur kuman
c. Uji sensitifitas
d. Mammografi
e. USG payudara
9. Tatalaksana
Pencegahan
1) Perbaikan pemahaman penatalaksanaan menyusui
a. Menyusui sidini mungkin setelah melahirkan
b. Menyusui dengan posisi yang benar
c. Memberikan ASI On Demand dan memberikan ASI
eklusif
d. Makan dengan gizi yang seimbang
2) Hal-hal yang menganggu proses menyusui, membatasi,
mengurangi isapan proses menyusui dan meningkatkan statis
ASI antara lain:
a. Penggunaan dot
b. Pemberian minuman lain pada bayi pada bulan-bulan
pertama
c. Tindakan melepaskan mulut bayi dari payudara pertama
sebelum ia siap untuk menghisap payudara yang lain.
d. Beban kerja yang berat atau penuh tekanan
e. Kealpaan menyusui bila bayi mulai tidur sepanjang malam
f. Trauma payudara karena tindakan kekerasan atau
penyebab lain.2. Penatalaksaan yang efektif pada payudara
yang penuh dan kencang
3) Hal-hal yang harus dilakukan yaitu :
a. Ibu harus dibantu untuk memperbaiki kenyutan pada
payudara oleh bayinya untuk memperbaiki pengeluaran
ASI serta mencegah luka pada punting susu.
b. Ibu harus didorong untuk menyusui sesering mungkin
dan selama bayi menghendaki tanpa batas.
c. Perawatan payudara dengan dikompres dengan air
hangat dan pemerasan ASI3. Perhatian dini terhadap
semua tanda statis ASI
4) Ibu harus memeriksa payudaranya untuk melihat adanya
benjolan, nyeri/panas/kemerahan :
a. Bila ibu mempunyai salah satu faktor resiko, seperti
kealpaan menyusui.
b. Bila ibu mengalami demam/merasa sakit, seperti sakit
kepala.
5) Bila ibu mempunyai satu dari tanda-tanda tersebut, maka ibu
perlu untuk :
a. Beristirahat, di tempat tidur bila mungkin.
b. Sering menyusui pada payudara yang terkena.
c. Mengompres panas pada payudara yang terkena,
berendam dengan air hangat/pancuran.
d. Memijat dengan lembut setiap daerah benjolan saat bayi
menyusui untuk membantu ASI mengalir dari daerah
tersebut.
e. Mencari pertolongan dari nakes bila ibu merasa lebih
baik pada keesokan harinya.

Perhatian dini pada kesulitan menyusui lain

6) Ibu membutuhkan bantuan terlatih dalam menyusui setiap saat


ibu mengalami kesulitan yang dapat menyebabkan statis ASI,
seperti :
a. Nyeri/puting pecah-pecah
b. Ketidaknyaman payudara setelah menyusui
c. Kompresi puting susu (garis putih melintasi ujung
puting ketika bayi melepaskan payudara)
d. Bayi yang tidak puas, menyusu sangat sering, jarang
atau lama
e. Kehilangan percaya diri pada suplay ASInya,
menganggap ASInya tidak cukup
f. Pengenalan makanan lain secara dini
g. Menggunakan dot
7) Pengendalian infeksi

Petugas kesehatan dan ibu perlu mencuci tangan


secara menyeluruh dan sering sebelum dan setelah kontak
dengan bayi. Kontak kulit dini, diikuti dengan rawat gabung
bayi dengan ibu merupakan jalan penting untuk mengurangi
infeksi rumah sakit.

10. Penanganan
Prinsip-prinsip utama penanganan mastitis adalah :
a. Konseling suportif
Mastitis merupakan pengalaman yang paling nyeri
dan membuat frustasi, dan membuat banyak wanita merasa
sakit. Selain dalam penanganan yang efektif dan
pengendalian nyeri, wanita membutuhkan dukungan
emosional. Ibu harus dinyakinkan kembali tentang nilai
menyusui, yang aman untuk diteruskan, bahwa ASI dari
payudara yang terkena tidak akan membahayakan bayinya
dan bahwa payudaranya akan pulih baik bentuk maupun
fungsinya.
Ia membutuhkan bimbingan yang jelas tentang semua
tindakan yang dibutuhkan untuk penanganan, dan bagaimana
meneruskan menyusui/memeras ASI dari payudara yang
terkena. Ia akan membutuhkan tindak lanjut untuk mendapat
dukungan terus menerus dan bimbingan sampai ia benar-
benar pulih.

b. Pengeluaran ASI dengan efektif


Hal ini merupakan bagian terapi terpenting, antara
lain :

a) Bantu ibu memperbaiki kenyutan bayi pada payudaranya


b) Dorong untuk sering menyusui, sesering dan selama bayi
menghendaki, tanpa pembatasan
c) Bila perlu peras ASI dengan tangan/pompa/botol panas,
sampai menyusui dapat dimulai lagi
c. Terapi antibiotik.
Terapi antibiotik diindikasikan pada :
a) Hitung sel dan koloni bakteri dan biakan yang ada serta
menunjukkan infeksi
b) Gejala berat sejak awal
c) Terlihat puting pecah-pecah
d) Gejala tidak membaik setelah 12-24 jam setelah
pengeluaran ASI diperbaiki

Antibiotik laktamase harus ditambahkan agar efektif


terhadap Staphylococcusb aureus. Untuk organisme gram
negatif, sefaleksin/amoksisillin mungkin paling tepat. Jika
mungkin, ASI dari payudara yang sakit sebaiknya dikultur
dan sensivitas bakteri antibiotik ditentukan.

Antibiotik Dosis
1. Eritromisin 250-500 mg setiap 6 jam
2. Flukloksasilin 250 mg setiap 6 jam
3. Dikloksasilin 125-250 mg setiap 6 jam per oral
4. Amoksasilin (sic) 250-500 mg setiap 8 jam
5. Sefaleksin 250-500 mg setiap 6 jam

Pada kasus infeksi mastitis, penanganannya antara


lain :
Berikan antibiotik
Kloksasilin 500 mg per oral 4 kali sehari setiap 6 jam
selama 10 hari atau eritromisin 250 mg per oral 3 kali sehari
selama 10 hari. Bantulah ibu agar tetap menyusui,
bebat/sangga payudara, kompres dingin sebelum meneteki
untuk mengurangi bengkan dan nyeri, berikan parasetamol
500 mg per oral setiap 4 jam, Evaluasi 3 hari
d. Terapi simtomatik
Nyeri sebaiknya diterapi dengan analgesic. Ibuprofen
dipertimbangkan sebagai obat yang paling efektif dan dapat
membantu mengurangi inflamasi dan nyeri. Parasetamol
merupakan alternatif yang paling tepat. Istirahat sangat
penting, karena tirah baring dengan bayinya dapat
meningkatkan frekuensi menyusui, sehingga dapat
memperbaiki pengeluaran susu.
Tindakan lain yang dianjurkan adalah penggunaan
kompres hangat pada payudara yang akan menghilangkan
nyeri dan membantu aliran ASI, dan yakinkan bahwa ibu
cukup minum cairan.
11. Komplikasi
Abses payudara, pengumpulan nanah di payudara, dan
sepsis

2.5.4 Tromboplebitis
1. Pengertian
Tromboflebitis merupakan trombosis yang diawali dengan
peradangan.
Definisi Tromboflebitis secara umum
Tromboflebitis adalah kondisi dimana terbentuk bekuan
dalam vena sekunder akibat inflamasi/trauma dinding vena atau
karena obstruksi vena sebagian.
Definisi Tromboflebitis menurut Adele Pillitteri, 2007
Tromboflebitis merupakan inflamasi permukaan
pembuluh darah disertai pembentukan pembekuan darah.
Tomboflebitis cenderung terjadi pada periode pasca partum pada
saat kemampuan penggumpalan darah meningkat akibat
peningkatan fibrinogen; dilatasi vena ekstremitas bagian bawah
disebabkan oleh tekanan kepala janin kerena kehamilan dan
persalinan; dan aktifitas pada periode tersebut yang menyebabkan
penimbunan, statis dan membekukan darah pada ekstremitas
bagian bawah.
Definisi Tromboflebitis menurut Pelayanan Kesehatan Maternal
Dan Neonatal, 2002
Tromboflebitis adalah perluasan atau invasi
mikroorganisme patogen yang mengikuti aliran darah di
sepanjang vena dan cabang-cabangnya
Jadi, Tromboflebitis adalah radang vena yang
berhubungan dengan pembentukan trombus. Tromboflebitis
merupakan inflamasi permukaan pembuluh darah disertai
pembentukan pembekuan darah. Tromboflebitis cenderung terjadi
pada periode pasca partum pada saat kemampuan penggumpalan
darah meningkat akibat peningkatan fibrinogen .
2. Klasifikasi
a. Tromboflebitis Femoralis
Yaitu suatu tromboflebitis yang mengenai satu atau
kedua vena femoralis. Hal ini disebabkan oleh adanya
trombosis atau embosis yang disebabkan karena adanya
perubahan atau kerusakan pada intima pembuluh darah,
perubahan pada susunan darah, laju peredaran darah, atau
karena pengaruh infeksi atau venaseksi.
b. Tromboflebitis Pelvik
Mengenai vena-vena dinding uterus dan ligamentum
latum, yaitu vena ovarika, vena uterina dan vena hipogastrika.
Vena yang paling sering terkena adalah vena ovarika dektra
karena infeksi pada tempat implantasi plasenta terletak di
bagian atas uterus. Perluasan infeksi dari vena ovarika sinistra
ialah ke vena renalis, sedang perluasan infeksi dari vena
ovarika dekstra ialah ke vena kava inferior.Perluasan infeksi
dari vena uterina ialah ke vena iliaka komunis.
Bakteri yang biasanya berkaitan dengan tromboflebitis
streptokokus anaerob dan bakteriodes
3. Etiologi
Secara umum etiologi tromboflebitis adalah sebagai berikut:
a. perluasan infeksi endometrium
b. mempunyai varises pada vena
c. obesitas
4. Faktor Predisposisi Tromboflebitis
a. Pertambahan usia, semakin tua maka semakin beresiko terjadi
tromboflebitis.
b. Episode tromboflebitis sebelumnya
c. Pembedahan obstetric
d. Kelahiran
e. Obesitas
f. Imobilisasi
g. Trauma vaskula
h. Varises
i. Multiparietas
j. Supresi laktasi dengan esterogen
k. Infeksi nifas
5. Patofisiologi
Patofisiologi Tromboflebitis
Terjadinya thrombus :
a. Abnormalitas dinding pembuluh darah
Formasi trombus merupakan akibat dari statis vena,
gangguan koagubilitas darah atau kerusakan pembuluh
maupun endotelial. Stasis vena lazim dialami oleh orang-
orang yang imobilisasi maupun yang istirahat di tempat tidur
dengan gerakan otot yang tidak memadai untuk mendorong
aliran darah. Stasis vena juga mudah terjadi pada orang yang
berdiri terlalu lama, duduk dengan lutut dan paha ditekuk,
berpakaian ketat, obesitas, tumor maupun wanita hamil.
b. Perubahan komposisi darah (hyperkoagulabilitas)
Hyperkoagulabilitas darah yang menyertai trauma,
kelahiran dan IMA juga mempermudah terjadinya trombosis.
Infus intravena, banyak faktor telah dianggap terlibat dalam
patogenesis flebitis karena infus intravena, antara lain:
(1) Faktor-faktor kimia seperti obat atau cairan yang iritan
(flebitis kimia)
a. pH dan osmolaritas cairan infus yang ekstrem
selalu diikuti risiko flebitis tinggi. Obat suntik
yang bisa menyebabkan peradangan vena yang
hebat, antara lain kalium klorida, vancomycin,
amphotrecin B, cephalosporins, diazepam,
midazolam dan banyak obat khemoterapi.
b. Mikropartikel yang terbentuk bila partikel obat
tidak larut sempurna selama pencampuran.
c. Penempatan kanula pada vena proksimal (kubiti
atau lengan bawah) sangat dianjurkan untuk
larutan infus dengan osmolaritas > 500 mOsm/L.
Hindarkan vena pada punggung tangan jika
mungkin, terutama pada pasien usia lanjut
d. Kateter yang terbuat dari silikon dan poliuretan
kurang bersifat iritasi dibanding
politetrafluoroetilen (teflon) karena permukaan
lebih halus, lebih thermoplastik dan lentur. Risiko
tertinggi untuk flebitis dimiliki kateter yang
terbuat dari polivinil klorida atau polietilen.
(2) Faktor-faktor mekanis seperti bahan, ukuran kateter,
lokasi dan lama kanulasi. (Kanula yang dimasukkan
ada daerah lekukan sering menghasilkan flebitis
mekanis. Ukuran kanula harus dipilih sesuai dengan
ukuran vena dan difiksasi dengan baik).
(3) Agen infeksius.
Faktor-faktor yang berkontribusi terhadap
flebitis bakteri meliputi:
a. Teknik pencucian tangan yang buruk
b. Kegagalan memeriksa peralatan yang rusak.
c. Pembungkus yang bocor atau robek mengundang
bakteri.
d. Teknik aseptik tidak baik
e. Teknik pemasangan kanula yang buruk
f. Kanula dipasang terlalu lama
g. Tempat suntik jarang diinspeksi visual
h. Gangguan aliran darah
6. Manifestasi klinis
Penderita-penderita umumnya mengeluh spontan
terjadinya nyeri di daerah vena (nyeri yang terlokalisasi), yang
nyeri tekan, kulit di sekitarnya kemerahan (timbul dengan cepat
diatas vena) dan terasa hangat sampai panas. Juga dinyatakan
adanya oedema atau pembengkakan agak luas, nyeri bila terjadi
atau menggerakkan lengan, juga pada gerakan-gerakan otot
tertentu. Pada perabaan, selain nyeri tekan, diraba pula
pengerasan dari jalur vena tersebut, pada tempat-tempat dimana
terdapat katup vena, kadang-kadang diraba fluktuasi, sebagai
tanda adanya hambatan aliran vena dan menggembungnya vena di
daerah katup. Fluktuasi ini dapat pula terjadi karena pembentukan
abses. Febris dapat terjadi pada penderita-penderita ini, tetapi
biasanya pada orang dewasa hanya dirasakan sebagai malaise.
1) Pelvio tromboflebitis
a. Nyeri yang terdapat pada perut bagian bawah dan atau
perut bagian samping, timbul pada hari ke-2-3 masa nifas
dengan atau tanpa panas.
b. Penderita tampak sakit berat dengan gambaran
karakteristik sebagai berikut:
a) Menggigil berulang kali, menggil inisial terjadi sangat
berat (30-40 menit) dengan interval hanya beberapa
jam saja dan kadang-kadang 3 hari pada waktu
menggigil penderita hampir tidak panas.
b) Suhu badan naik turun secara tajam (36oC menjadi
40oC) yang diikuti penurunan suhu dalam 1 jam
(biasanya subfebris seperti pada endometritis).
c) Penyakit dapat langsung selama 1-3 bulan.
c. Abses pada pelvis
d. Gambaran darah
a) Terdapat leukositosis (meskipun setelah endotoksin
menyebar ke sirkulasi, dapat segera terjadi
leukopenia).
b) Untuk membuat kultur darah, darah diambil pada saat
tepat sebelum mulainya menggigil, kultur darah
sangat sukar dibuat karena bakterinya adalah anaerob.
e. Pada periksa dalam hampir tidak diketemukan apa-apa
karena yang paling banyak terkena adalah vena ovarika;
yang sukar dicapai dalam pemeriksaan dalam.
f. Komplikasi yang dapat terjadi antara lain pada paru- paru
(infark, abses, pneumonia), pada ginjal sinistra yang
diiikuti proteinurina, hematuria, pada persedian.
2) Tromboflebitis femoralis
a. Keadaan umum tetap baik, suhu badan subfebris selama
7-10 hari, kemudian suhu mendadak naik kira-kira pada
hari ke-10-20 yang disertai dengan menggigil dan nyeri
sekali.
b. Pada salah satu kaki yang terkena, biasanya kaki kiri akan
memberikan tanda-tanda sebagai berikut:
1) Kaki sedikit dalam keadaan fleksi dan rotasi keluar
serta sukar bergerak, lebih panas dibandingkan
dengan kaki lainnya.
2) Seluruh bagian dari salah satu vena pada kaki terasa
tegang dan keras pada paha bagian atas.
3) Nyeri hebat pada lipat paha dan daerah paha.
4) Reflektorik akan terjadi spasmus arteria sehingga kaki
menjadi bengkak, tegang, putih, nyeri, dan dingin dan
pulsasi menurun.
5) Edema kadang-kadang terjadi sebelum atau sesudah
nyeri dan pada umumnya terdapat pada paha bagian
atas, teatapi lebih sering dimulai dari jari-jari kaki dan
pergelangan kaki kemudian melus dari bawah ke atas.
6) Nyeri pada betis, yang terjadi spontan atau dengan
memijat betis atau dengan meregangkan tendo akhiles
(tanda homan positif).

7. Penatalaksanaan Tromboflebitis
1) Pelvio tromboflebitis
a. Lakukan pencegahan terhadap endometritis dan
tromboflebitis dengan menggunakan teknik aseptik yang
baik
b. Rawat inap : penderita tirah baring untuk pemantauan
gejala penyakit dan mencegah terjadinya emboli
pulmonum
c. Terapi medik: pemberian antibiotika, heparin terdapat
tanda-tanda atau dugaan adanya emboli pulmonum
d. Terapi operatif : pengikatan vena kava inferior dan vena
ovarika jika emboli septik terus berlangsung sampai
mencapai paru-paru; meskipun sedang dilakukan
hipernisasi, siapkan untuk menjalani pembedahan.
2) Tromboflebitis femoralis
a. Terapi medik : Pemberian analgesik dan antibiotik.
b. Anjurkan ambulasi dini untuk meningkatkan sirkulasi
pada ekstremitas bawah dan menurunkan kemungkinan
pembentukan pembekuan darah. Jauhkan tekanan dari
daerah untuk mengurangi rasa sakit dan mengurangi
risiko kerusakan lebih lanjut.
c. Tinggikan daerah yang terkena untuk mengurangi
pembengkakan. Pastikan Pasien untuk tidak berada pada
posisi litotomi dan menggantung kaki lebih dari 1 jam,
dan pastikan untuk memberikan alas pada penyokong
kaki guna mencegah adanya tekanan yaang kuat pada
betis.
d. Sediakan stocking pendukung kepada Pasien pasca
partum yang memiliki varises vena untuk meningkatkan
sirkulasi vena dan membantu mencegah kondisi stasis.
e. Instruksikan kepada Pasien untuk memakai stocking
pendukung sebelum bangun pagi dan melepaskannya 2x
sehari untuk mengkaji keadaan kulit dibawahnya.
f. Anjurkan tirah baring dan mengangkat bagian kaki yang
terkena.
g. Dapatkan nilai pembekuan darah perhari sebelum obat
anti koagulan diberikan.
h. Berikan anti koagulan, analgesik, dan anti biotik sesuai
dengan resep.
i. Berikan alat pamanas seperti lampu. Atau kompres
hangat basah sesuai instruksi, pastikan bahwa berat dari
kompres panas tersebut tidak menekan kaki Pasien
sehingga aliran darah tidak terhambat.
j. Sediakan bed cradle untuk mencegah selimut menekan
kaki yang terkena.
k. Ukur diameter kaki pada bagian paha dan betis dan
kemudian bandingkan pengukuran tersebut dalam
beberapa hari kemudian untuk melihat adanya
peningkatan atau penurunan ukuran.
l. Dapatkan laporan mengenai lokea dan timbang berat
pembalut perineal untuk mengkaji pendarahan jika
Pasien dalam terapi antikoagulan.
m. Adanya kemungkinan tanda pendarahan lain, misalnya:
pendarahan pada gusi, bercak ekimosis, pada kulit atau
darah yang keluar dari jahitan episiotomi.
n. Yakinkan Pasien bahwa heparin yang diterimanya dapat
dilanjutkan pada masa menyusui karena obat ini tidak
akan berada didalam air susu.
o. Siapkan pemberian protamin sulfat sebagai antagonis
heparin.
p. Jelaskan pada Pasien mengenai pemberian heparin yang
harus dilakukan melalui terapi sub kutan Jelaskan kepada
Pasien bahwa untuk kehamilan selanjutnya ia harus
memberitahukan tenaga kesehatan yang dia hadapi untuk
memastikan bahwa pencegahan trombofrebitis yang tepat
telah dilakukan.
8. Pemeriksaan Penunjang
a. Ultrasonograf Doppler
Tehnik dopler memungkinkan penilaian kualitatif
terhadap kemampuan katub pada vena profunda,vena
penghubung dan vena yang mengalami pervorasi
b. Pemeriksaan hematokrit
Mengidentifikasi Hemokonsentrasi
c. Pemeriksaan Koagulasi
Menunjukkan hiperkoagulabilitas
d. Biakan darah
Pemeriksaan Baik aerob maupun anaerob dapat
membantu. Organisme yang penting untuk di antisipasi
meliputi Streptokokus aerob dan anaerob. Staphilokokus
aureus ,Eschercia coli dan Bakteriodes
e. Pemindai ultrasuond dupleks
dengan tehnik ini obstruksi vena dan refleks katub
dapat dideteksi dan dilokalisasi dan dapat dilihat diagram
vena-vena penghubung yang tidak kompeten
f. Venografi
Bahan kontras disuntikkan kedalam sistem vena untuk
memberikan gambaran pada vena-vena di ekstrimitas bawah
dan pelvis.
9. Komplikasi
a. Tromboflebitis pelvica
Komplikasi potensial dari tromboflebitis pelvica
antara lain adalah:
a) emboli paru septik
b) septikemia
c) emfisema
b. Tromboflebitis femoralis
Komplikasi potensial dari tromboflebitis femoralis
yang paling serius adalah emboli paru.

2.5.5 Peritonitis
1. Pengertian
Adalah Peritonitis adalah peradangan pada peritonium
yang merupakan pembungkus visera dalam rongga perut.
Peritoneum adalah selaput tipis dan jernih yang membungkus
organ perut dan dinding perut sebelah dalam. Peritonitis yang
terlokalisir hanya dalam rongga pelvis disebut pelvioperitonitis.
Peritonitis berasal dari penyebaran melalui pembuluh limfe
uterus, parametritis yang meluas ke peritoneum, salpingo-ooforitis
meluas ke periyoneum, atau langsung sewaktu tindakan
perabdominal.
Peritoritis yang terlokalisir hanya dalam rongga pelvis
disebut pelvioperitonitis, bila meluas keseluruh rongga perineum
disebut peritonitis umum, dan ini sangat berbahaya yang
menyebabkan kematian 33% dari selurih kematian karena infeksi.
2. Tanda dan Gejala
Tanda-tanda peritonitis relative sama dengan infeksi berat
yaitu demam tinggi atau pasien yang sepsis bisa menjadi
hipotermia, tatikardi, dehidrasi hingga menjadi hipotensi. Nyeri
abdomen yang hebat biasanya memiliki punctum maximum
ditempat tertentu sebagai sumber infeksi. Dinding perut akan
terasa tegang karena mekanisme antisipasi penderita secara tidak
sadar untuk menghindari palpasinya yang menyakinkan atau
tegang karena iritasi peritoneum. Pada wanita dilakukan
pemeriksaan vagina bimanual untuk membedakan nyeri akibat
pelvic inflammatoru disease. Pemeriksaan-pemeriksaan klinis ini
bisa jadi positif palsu pada penderita dalam keadaan imunosupresi
(misalnya diabetes berat, penggunaan steroid, pascatransplantasi,
atau HIV), penderita dengan penurunan kesadaran (misalnya
trauma cranial, ensefalopati toksik, syok sepsis, atau penggunaan
analgesic), penderita dengan paraplegia dan penderita geriatric.
Tanda gejala yang lain juga terjadi:
a) Nyeri seluruh perut spontan maupun pada palpasi
b) Demam menggigil
c) Pols tinggi, kecil
d) Perut gembung tapi kadang-kadang ada diarrhea
e) Muntah
f) Pasien gelisah, mata cekung
g) Pembengkakan dan nyeri di perut
h) Demam dan menggigil
i) Kehilangan nafsu makan
j) Haus
k) Mual dan muntah
l) Urin terbatas
m) Bisa terdapat pembentukan abses.
n) Sebelum mati ada delirium dan coma
3. Komplikasi
Menurut Chushieri komplikasi dapat terjadi pada
peritonitis bakterial akut sekunder, dimana komplikasi tersebut
dapat dibagi menjadi komplikasi dini dan lanjut, yaitu:
Komplikasi dini
a. Septikemia dan syok septic
b. Syok hipovolemik
c. Sepsis intra abdomen rekuren yang tidak dapat dikontrol
dengan kegagalan multi system
d. Abses residual intraperitoneal
e. Portal Pyemia (misal abses hepar)
Komplikasi lanjut
a. Adhesi
b. Obstruksi intestinal rekuren
4. Penatalaksanaan dan Pengobatan
Menurut Netina (2001), penatalaksanaan pada peritonitis
adalah sebagai berikut :
a) Penggantian cairan, koloid dan elektrolit merupakan focus
utama dari penatalaksanaan medik.
b) Analgesik untuk nyeri, antiemetik untuk mual dan muntah.
c) Intubasi dan penghisap usus untuk menghilangkan distensi
abdomen.
d) Terapi oksigen dengan nasal kanul atau masker untuk
memperbaiki fungsi ventilasi.
e) Kadang dilakukan intubasi jalan napas dan bantuan ventilator
juga diperlukan.
f) Therapi antibiotik masif (sepsis merupakan
penyebab kematian utama).
g) Tujuan utama tindakan bedah adalah untuk membuang materi
penginfeksi dan diarahkan pada eksisi, reseksi, perbaikan,
dan drainase.
h) Pada sepsis yang luas perlu dibuat diversi fekal.
5. Pengobatan
Antibiotika memegang peranan yang sangat penting dalam
pengobatan infeksi nifas. Adanya antibiotika sangat merubah
prognosa infeksi puerperalis dan pengobatan dengan obat-obat lain
merupakan usaha yang terpenting.
Dalam memilih satu antibiotik untuk mengobati infeksi,
terutama infeksi yang berat harus menyandarkan diri atas hasil test
sensitivitas dari kuman penyebab. Tapi sambil menunggu hasil test
tersebut sebaiknya segera memberi dulu salah satu antibiotik
supaya tidak membuang waktu dalam keadaan yang begitu gawat.
Pada saat yang sekarang peniciline G atau peniciline
setengah syntesis (ampisilin) merupakan pilihan yang paling tepat
karena peniciline bersifat baktericide (bukan bakteriostatis) dan
bersifat atoxis. Sebaiknya diberikan peniciline G sebanyak 5 juta S
tiap 4 jam jadi 20 juta S setiap hari. Dapat diberikan sebagai iv
atau infus pendek selama 5-10 menit.
Dapat juga diberikan ampiciilin 3-4 gr mula-mula iv atau
im. Staphylococ yang peniciline resisten, tahan terhadap penicilin
karena mengeluarkan penicilinase ialah oxacilin, dicloxacilin dan
melbiciline.
Di samping pemberian antibiotic dalam pengobatannya
masih diperlukan tindakan khusus untuk mempercepat
penyembuhan infeksi tersebut. Karena peritonitis berpotensi
mengancam kehidupan. Penderita disarankan mendapat perawatan
di rumah sakit.

2.5.6 Infeksi Luka Perineum


1. Pengertian
Infeksi luka perineum dan luka abdominal adalah
peradangan karena masuknya kuman-kuman ke dalam luka
episotomi atau abdomen pada waktu persalinan dan nifas, dengan
tanda-tanda infeksi jaringan sekitar. Disebabkan oleh keadaan
yang kurang bersih dan tindakan pencegahan infeksi yang kurang
baik.
2. Tanda dan Gejala
Tanda gejala selalu ada yaitu luka, keluar cairan atau darah.
Tanda gejala kadang-kadang ada yaitu eitema ringan diluar insisi.
3. Penanganan.
a) Bila didapat pus dan cairan pada luka, buka dan lakukan
pengeluaran
b) Daerah jaitan yang terinfeksi dihilangkan dan lakukan
debridement
c) Bila infeksi sedikit tidak perlu di antibiotika
d) Bila infeksi relative superficial berikan ampisilin 500 mg per
oral setiap 6 jam dan metronidazol 500 mg per oral 3 kali/hari
selama 5 hari
e) Bila infeksi dalam dan melibatkan otot dan menyebabkan
nekrosis, beri penisilin G 2 juta IV setiap 4 jam ( atau ampisilin
inj 1 g 4 x/hari) ditambah dengan gentamisin 5 mg/kg berat
badan perhariIV sekali ditambah dengan metronidazol 500 mg
IV setiap 8 jam, sampai bebas panas selama 24 jam.
f) Berikan nasehat kebersihan dan pemakaian pembalutyang
bersih dan sering diganti.

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan

Infeksi nifas adalah keadaan yang mencakup semua peradangan alat-


alat genitalia dalam masa nifas. Masuknya kuman-kuman dapat terjadi dalam
kehamilan, waktu persalinan, dan nifas. (Rustam Mochtar, 1998)
Bermacam-macam jalan kuman masuk ke dalam alat kandungan,
seperti eksogen (kuman datang dari luar), autogen ( kuman masuk dari tempat
lain dalam tubuh), dan endogen (dari jalan lahir sendiri). Yang termasuk ke
dalam infeksi masa nifas yaitu metritis, bendungan payudara, infeksi
payudara, abses payudara, abses pelvis, peritonitis, dan infeksi luka perineum
dan luka abdominal.
3.2 Saran
3.2.1 Bagi Pendidikan
1. Diharapkan pendidikan mampu mengembangkan ilmu
pengetahuan terutama pada asuhan kebidanan kegawatdaruratan
maternal dan neonatal mengenai komplikasi dan penyakit dalam
masa nifas serta penanganannya dengan teori yang terbaru dan
penatalaksanaan sesuai teori.
2. Diharapkan pendidikan mampu menjadi bahan acuan untuk
penulisan selanjutnya yang berkaitan dengan asuhan kebidanan
kegawatdaruratan maternal dan neonatal mengenai komplikasi
dan penyakit dalam masa nifas serta penanganannya dengan teori
yang terbaru dan penatalaksanaan sesuai teori.
3.2.2 Bagi Klien/Masyarakat
1. Diharapkan masyarakat mampu memberikan asuhan kebidanan
kegawatdaruratan maternal dan neonatal mengenai komplikasi
dan penyakit dalam masa nifas sesuai kebutuhan ibu dan bayi.
2. Diharapkan masyarakat menghindari pencegahan yang memicu
terjadinya komplikasi dan penyakit yang berkaitan dengan masa
nifas pada ibu dan bayi.
DAFTAR PUSTAKA

Maternal Dan Neonatal. Jakarta: PT Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo


Manuaba Gde Ida Bagus.1999. Memahami Kesehatan Reproduksi Wanita.
Jakarta: Arcan
Saleha, 2009. Asuhan Kebidanan Pada Masa Nifas. Jakarta: Salemba Medika.
(hlm: 109-110)
Suherni, 2007. Perawatan Masa Nifas. Yogyakarta: Fitramaya. (hlm: 56-57).
Prawirohardjo Sarwono. 2009. Ilmu Kebidanan. Jakarta:PT Bina Pustaka
Sarwono Prawirohardjo
Prawirohardjo Sarwono. 2008. Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan

45
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR..............................................................................................i
DAFTAR ISI...........................................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang.......................................................................................... 1
1.2 Tujuan Penulisan....................................................................................... 2
1.3 Manfaat Penulisan..................................................................................... 2
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Infeksi........................................................................................................4
2.2 Etiologi...................................................................................................... 4
2.3 Predisposisi................................................................................................5
2.4 Klasifikasi..................................................................................................5
2.5 Macam-Macam Infeksi Nifas....................................................................6
2.5.1 Endometritis................................................................................... 6
2.5.2 Bendungan ASI............................................................................ 20
2.5.3 Infeksi Payudara...........................................................................22
2.5.4 Tromboplebitis............................................................................. 30
2.5.5 Peritonitis..................................................................................... 39
2.5.6 Infeksi Luka Perineum................................................................. 42
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan..............................................................................................44
3.2 Saran........................................................................................................44
3.2.1 Bagi Pendidikan........................................................................... 44
3.2.2 Bagi Klien/Masyarakat.................................................................44
DAFTAR PUSTAKA

ii
46
MAKALAH
ASKEB IV

KOMPLIKASI DAN PENYAKIT DALAM MASA NIFAS SERTA


PENANGANANNYA

OLEH KELOMPOK IV:


Winda Febrialita
Rida Fatmala
Sari Fitri
Anggraini Eka
Putri Amelia Rika
Klarisa Sopia
Anggraini
Erlinda Yanti
Ilma Susanti
Maya Afrita Putri
Yuliani Sapasih Putri

Dosen Pembimbing :
Elmis Pendriya Gusna, S.SiT

PROGRAM STUDI DIII KEBIDANAN


STIKES PIALA SAKTI
PARIAMAN
2014

47
KATA PENGANTAR

Dengan kebesaran Allah SWT. yang maha pengasih lagi maha penyayang,
penulis panjatkan rasa puji syukur atas hidayah-Nya, yang telah melimpahkan
rahmat, nikmat, dan inayah-Nya kepada penulis, sehingga penulis dapat
menyelesaikan makalah "Komplikasi dan Penyakit dalam Masa Nifas serta
Penanganannya".

Adapun makalah "Komplikasi dan Penyakit dalam Masa Nifas serta


Penanganannya" ini telah penulis usahakan dapat disusun dengan sebaik mungkin
dengan mendapat bantuan dari berbagai pihak, sehingga penyusunan makalah ini
dapat diselesaikan secara tepat waktu. Untuk itu penulis tidak lupa untuk
menyampaikan banyak terimakasih kepada semua pihak yang telah membantu
penulis dalam penulisan makalah ini.

Terlepas dari upaya penulis untuk menyusun makalah ini dengan sebaik-
baiknya, penulis tetap menyadari bahwa tentunya selalu ada kekurangan, baik dari
segi penggunaan kosa-kata, tata bahasa maupun kekurangan-kekurangan lainnya.
Oleh karena itu, dengan lapang dada penulis membuka selebar-lebarnya bagi
pembaca yang bermaksud untuk memberikan kritik dan saran kepada penulis agar
penulis dapat memperbaiki kualitas makalah ini.

Penulis berharap semoga makalah "Komplikasi dan Penyakit dalam Masa


Nifas serta Penanganannya" ini bermanfaat, dan pelajaran-pelajaran yang tertuang
dalam makalah ini dapat diambil hikmah dan manfaatnya oleh para pembaca.

Pariaman, September 2014

Penulis

48
i