Anda di halaman 1dari 3

2/19/2019 Persamaan dan Perbedaan Arbitrase dengan Mediasi - hukumonline.

com

Memahami Hukum Persaingan Usaha dan Kemitraan pada Era Digital dan Data Raksasa: Regulasi dan Praktik Beracara (Angkatan V)
1.2k
Shares

1.2k

Hukumonline.com Human Resources Day 2019: Tantangan Perubahan Hubungan Industrial dalam Revolusi Industri 4.0
PRODUK & JASA

KLINIK
Jumat, 25 Januari 2019

Pertanyaan :

Persamaan dan Perbedaan Arbitrase dengan Mediasi


Apa 3 persamaan dan 3 perbedaan antara arbitrase dan mediasi?

Punya pertanyaan lain ?


Silakan Login, atau Daftar ID anda.

Jawaban :
Intisari :

Persamaannya, keduanya sama-sama merupakan alternatif penyelesaian sengketa, yaitu sebuah


cara penyelesaian masalah di luar persidangan.

Perbedaannya, pada mediasi, pihak ketiga adalah Mediator yang bertugas sebagai penengah,
memfasilitasi proses negosiasi dan sebatas memberi masukan. Sedangkan pada arbitrase, pihak
ketiga adalah Arbriter yang dapat memberikan putusan atas permasalahan.

Penjelasan lebih lanjut mengenai perbedaan lainnya dapat Anda simak dalam ulasan di bawah
ini.

Ingin Masalah Anda Segera Tuntas?


Konsultasikan Masalah Anda 
Percayakan masalah hukum Anda ke
ahlinya. Hubungi konsultan hukum Powered by:
a company of

profesional, hanya Rp299.000,- per 30


menit.

Ulasan :

https://www.hukumonline.com/klinik/detail/lt5bc7526e7755c/persamaan-dan-perbedaan-arbitrase-dengan-mediasi 5/11
2/19/2019 Persamaan dan Perbedaan Arbitrase dengan Mediasi - hukumonline.com
Terima kasih atas pertanyaan Anda

Arbitrase dan mediasi merupakan bagian dari alternative dispute resolution (alternatif penyelesaian sengketa). Di mana mengenai alternatif
penyelesaian sengketa ini diatur dalam Undang-Undang Nomor 30 Tahun 1999 tentang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian
Sengketa (“UU 30/1999”). Dalam Pasal 1 angka 10 UU 30/1999, alternatif penyelesaian sengketa adalah lembaga penyelesaian sengketa
atau beda pendapat melalui prosedur yang disepakati para pihak, yakni penyelesaian di luar pengadilan dengan cara konsultasi, negosiasi,
mediasi, konsiliasi, atau penilaian ahli.

Menurut Pasal 1 Peraturan Mahkamah Agung Nomor 1 Tahun 2016 tentang Prosedur Mediasi di Pengadilan (“Peraturan MA
1/2016”), mediasi adalah cara penyelesaian sengketa melalui proses perundingan untuk memperoleh kesepakatan para pihak dengan dibantu
oleh
1.2k
Mediator. Mediator disini adalah Hakim atau pihak lain yang memiliki Sertifikat Mediator sebagai pihak netral yang membatu para
pihak dalam proses perundingan guna mencari berbagai kemungkinan penyelesaian sengketa tanpa menggunakan cara memutus atau
Shares
memaksakan sebuah penyelesaian.[1]

Mediasi
1.2k
secara etimologi berasal dari bahasa latin, yaitu “mediare” yang memiliki pengertian “berada di tengah”. Pihak ketiga / Mediator ini
berada di tengah sebab dipilih berdasarkan kenetralan dan kedua belah pihak harus saling bersepakat dalam hal menunjuk pihak ketiga.
Sehingga pihak ketiga dapat bersikap netral dalam hal memberi solusi, masukan, atau jalan keluar dari persengketaan tersbut.

Mediator selaku pihak ketiga yang menengahi harus mengerti permasalahan kedua pihak tersebut, di mana Mediator akan memperoleh
informasi secara lengkap dari masing-masing pihak guna memahami permasalahan dan juga mencarikan solusi. Setelah itu, mediator selaku
pihak ketiga akan memberikan solusi, di mana masing-masing pihak harus mendengar segala bentuk masukan dari Mediator, guna
mempercepat penyelesaian permasalahan sehingga dapat mengurangi penumpukan berkas perkara.

Dalam hal mediasi, Mediator tidak mempunyai kewenangan untuk memutuskan dan menentukan siapa yang benar dan siapa yang salah,
sebab tugas Mediator di sini hanyalah menengahi sekaligus memberi masukan guna memperoleh jalan keluar dari permasalahan atau
persengketaan yang terjadi.

Arbitrase menurut Pasal 1 angka 1 UU 30/1999 adalah cara penyelesaian sengketa perdata di luar peradilan umum yang didasarkan pada
perjanjian arbitrase yang dibuat secara tertulis oleh para pihak yang bersengketa.

Sengketa arbitrase diawali dengan adanya sebuah kontrak kerjasama antara kedua belah pihak, apabila diantara kedua belah pihak tidak
dapat menyelesaikan tugasnya sesuai dengan perjanjian / kontrak yang telah disepakati, pihak yang dirugikan dapat melakukan arbitrase
untuk menyelesaikan permasalahan yang terjadi.[2] Proses awal arbitrase dilakukan dengan cara kedua belah pihak menentukan bersama
Arbiter yang akan menjadi eksekutor atau pengambil keputusan dalam permasalahan yang terjadi. Arbiter adalah seorang atau lebih yang
dipilih oleh para pihak yang bersengketa atau yang ditunjuk oleh Pengadilan Negeri atau oleh lembaga arbitrase, untuk memberikan
putusan mengenai sengketa tertentu yang diserahkan penyelesaiannya melalui arbitrase.[3] Pemilihan Arbiter berdasarkan kesepakatan
dilakukan agar Arbiter yang dipilih independen.

Peran Arbiter selaku pihak ketiga dalam arbitrase tidak seperti Mediator yang hanya memberi masukan atau solusi saja, akan tetapi Arbriter
juga memiliki kebijaksanaan dalam memberikan putusan mengenai permasalahan yang dihadapi oleh kedua belah pihak yang bersengketa.
Sehingga dapat dikatakan peran Arbiter dalam proses Arbitrase memiliki kewenangan yang lebih dari Mediator dalam proses mediasi.
Peran Arbriter di sini bertujuan agar proses penyelesaian sengketa dapat segera diselesaikan dan tidak berlarut-larut.

Persamaan dan Perbedaan antara Mediasi dan Arbitrase

1. Persamaan

a. Keduanya sama-sama merupakan alternatif penyelesaian sengketa, yaitu sebuah cara penyelesaian masalah di luar persidangan;
b. Keduanya sama-sama menunjuk dan menggunakan pihak ketiga sebagai pihak netral yang menengahi;
c. Keduanya bertujuan untuk mempersingkat proses penyelesaian masalah / sengketa.

2. Perbedaan

a. Pada mediasi, pihak ketiga adalah Mediator yang bertugas sebagai penengah, memfasilitasi proses negosiasi dan sebatas
memberi masukan. Sedangkan pada arbitrase, pihak ketiga adalah Arbriter yang dapat memberikan putusan atas permasalahan.
b. Pada mediasi hasil bersifat Win-Win Solution, sedangkan arbitrase hasilnya bersifat Win-Lose Judgement;
c. Pada mediasi, saran Mediator bersifat tidak mengikat, sehingga para pihak yang menentukan. Sedangkan pada arbitrase, bersifat
mengikat karena Arbriter yang membuat putusan dan mempunyai kekuatan eksekutorial.

Dasar Hukum:

1. Undang-Undang Nomor 30 Tahun 1999 tentang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa;
2. Peraturan Mahkamah Agung Nomor 1 Tahun 2016 tentang Prosedur Mediasi di Pengadilan.

[1] Pasal 1 angka 2 Peraturan MA 1/2016


[2] Pasal 4 ayat (2) UU 30/1999
[3] Pasal 1 angka 7 UU 30/1999

https://www.hukumonline.com/klinik/detail/lt5bc7526e7755c/persamaan-dan-perbedaan-arbitrase-dengan-mediasi 6/11
2/19/2019 Persamaan dan Perbedaan Arbitrase dengan Mediasi - hukumonline.com

Perjuangan Anda Jangan Berhenti di Artikel Ini

Konsultan hukum profesional siap membantu Anda. Konsultasikan


masalah Anda, hanya Rp299.000,- per 30 menit.

Jadwalkan Konsultasi Hukum 

1.2k Powered by:


Shares a company of

KLINIK TERKAIT
1.2k
Jika Ada Klausula Domisili Hukum dan Klausula Arbitrase Dalam . .
Keuntungan Memilih Arbitrase Daripada Pengadilan dalam . .
Dapatkah Perkara PMH Diselesaikan Melalui Arbitrase?
Pelayanan Informasi Putusan Pengadilan Bagi Masyarakat Umum
Jika Mengubah Lembaga Arbitrase yang Sudah Disepakati dalam . .

BERITA TERKAIT

Otto Ungkap Efek Buruk Perpecahan Peradi


Dari Soal Bertanya “Kapan Nikah?”, . .
Libatkan Pemangku Kepentingan, BPHN Susun Standar Layanan . .
Alasan MK Tolak Konstitusionalitas Profesi Likuidator dalam UU . .
M. Hatta Ali: Hakim Harus Lebih Pintar dari Jaksa dan Pengacara

Berita lainnya ++

Setiap artikel jawaban Klinik Hukum dapat Anda simak juga melalui twitter @klinikhukum, atau facebook Klinik Hukumonline.

MESIN PENCARIAN
Cari Jawaban

---Semua Kategori---

Rubrik ini disediakan bagi anda untuk mengajukan persoalan hukum yang anda hadapi. Rubrik ini diperuntukkan hanya kepada member
hukumonline.com
Jika anda member Hukumonline,
silakan Login, atau Daftar ID anda.

KLINIK POPULER

Arti Notoire Feiten Notorious dalam Hukum Acara Pidana


Kepemilikan Modal Perusahaan Distributor yang Terafiliasi dengan Produksi
Bisakah Pertimbangan Hakim MK yang Dissenting Opinion Dijadikan Rujukan Hukum?
Cara Menghindari ‘Persamaan Pada Pokoknya’ dalam Merek
Tips Agar Anak Terhindar dari Kejahatan di Internet
Seluk Beluk Pembatalan Lelang
Larangan Hakim Berkomentar di Medsos tentang Pilihan Politiknya
Wajibkah Importir Mendaftarkan Merek Dagangannya?
Prosedur Penanganan Kasus Penyebaran Video Bermuatan Asusila
Bolehkah Hakim Menggunakan Hukum Tidak Tertulis sebagai Dasar Mengadili?

PENJAWAB : Alfin Sulaiman, S.H., M.H.

https://www.hukumonline.com/klinik/detail/lt5bc7526e7755c/persamaan-dan-perbedaan-arbitrase-dengan-mediasi 7/11