Anda di halaman 1dari 16

1.

Gambaran Umum Koperasi


Dilihat dari asal katanya, kata koperasi berasal dari bahasa latin “Coopere” dan
diserap dalam Bahasa Inggris menjadi Cooperation. Co berarti bersama dan operation berarti
bekerja, sehingga Cooperation berarti bekerja sama atau berusaha bersama-sama. Dalam hal
ini, kerjasama tersebut dilakukan oleh orang-orang yang mempunyai kepentingan yang sama
dan tujuan sama.
Koperasi adalah organisasi bisnis yang dimiliki dan dioperasikan oleh orang-seorang
demi kepentingan bersama. Koperasi melandaskan kegiatan berdasarkan prinsip gerakan
ekonomi rakyat yang berdasarkan asas kekeluargaan. Selanjutnya koperasi memiliki karakter
sebagai berikut yaitu: organisasi bisnis, dioperasikan orang-seorang, untuk kepentingan
bersama, kegiatan prinsip gerakan ekonomi rakyat dan berasaskan kekeluargaan.
Berikut beberapa definisi koperasi.
1) Definisi ILO
Definisi ILO (International Labour Organization, 1975) menyatakan sebagai berikut:
“Cooperative defined as an association of persons usually of limited means, who have
voluntarity joined together to achieve a common economic end through the formation of a
democratically controlled business organization, makin equitable contribution to the capital
required and accepting a fair share of the risk and benefits of the undertaking” yang berarti
koperasi adalah perkumpulan orang-orang, penggabungan orang-orang tersebut berdasarkan
kesukarelaan, terdapat tujuan ekonomi yang ingin dicapai, koperasi yang dibentuk adalah
suatu organisasi bisnis yang diawasi dan dikendalikan secara demokratis, terdapat kontribusi
yang adil terhadap modal yang dibutuhkan, anggota koperasi menerima risiko dan manfaat
secara seimbang.
2) Definisi Moh. Hatta
Moh. Hatta yang diberi gelar sebagai “Bapak Koperasi Indonesia” mendefinisikan
koperasi sebagai usaha bersama untuk memperbaiki nasib penghidupan ekonomi berdasarkan
tolong menolong. Semangat tolong menolong tersebut didorong oleh keinginan memberi jasa
berdasarkan seorang buat semua dan semua buat seorang.
3) Undang Undang Nomor 12 Tahun 1967
Undang-undang Nomor 12 tahun 1967 tentang pokok-pokok perkoperasian
mendefinisikan sebagai berikut: “Koperasi Indonesia adalah organisasi ekonomi rakyat yang
berwatak sosial beranggotakan orang-orang atau badan-badan hukum koperasi yang
merupakan tata susunan ekonomi sebagai usaha bersama berdasarkan atas azas kekeluargaan”
4) Undang Undang No. 25 Tahun 1992
UU No. 25 tahun 1992, Koperasi didefinisikan sebagai: “Badan usaha yang
beranggotakan orang seorang, atau badan hukum koperasi, dengan melandaskan kegiatannya

1
berdasarkan prinsip-prinsip koperasi sekaligus sebagai gerakan ekonomi rakyat yang
berdasarkan atas azas kekeluargaan”.
Berdasarkan pengertian di atas, Koperasi Indonesia mengandung 5 elemen sebagai
berikut:
(1) Koperasi adalah badan usaha
Sebagai badan usaha, maka koperasi harus memperoleh laba. Laba merupakan
elemen kunci dalam suatu sistem usaha bisnis, dimana sistem itu akan gagal bekerja
tanpa memperoleh laba.
(2) Koperasi adalah kumpulan orang-orang dan atau badan-badan hukum koperasi.
Ini berarti bahwa, koperasi Indonesia bukan kumpulan modal. Dalam hal ini,
UU No. 25 Tahun 1992 memberikan jumlah minimal orang-orang (anggota) yang
ingin membentuk organisasi koperasi (minimal 20 orang), untuk koperasi primer dan
tiga badan hukum koperasi untuk koperasi sekunder. Syarat lain yang harus dipenuhi
ialah anggota-anggota tersebut mempunyai kepentingan ekonomi yang sama.
(3) Koperasi Indonesia adalah koperasi yang bekerja berdasarkan “prinsip-prinsip
koperasi”.
(4) Koperasi Indonesia adalah “Gerakan Ekonomi Rakyat”
Ini berarti bahwa, Koperasi Indonesia merupakan bagian dari sistem
perekonomian nasional. Dengan demikian, kegiatan usaha koperasi tidak semata-mata
hanya ditujukan kepada anggota, tetapi juga masyarakat umum.
(5) Koperasi Indonesia “berazaskan kekeluargaan”
Dengan azas ini, keputusan yang berkaitan dengan usaha dan organisasi
dilandasi dengan jiwa kekeluargaan. Segala keputusan yang diambil seyogyanya
berdasarkan musyawarah dan mufakat. Inti dari azas kekeluargaan yang dimaksud
adalah adanya rasa keadilan dan cinta kasih dalam setiap aktivitas yang berkaitan
dengan kehidupan berkoperasi.

Dalam UU No. 25 tahun 1992 Pasal 3 disebutkan bahwa koperasi bertujuan


memajukan kesejahteraan anggota pada khususnya dan masyarakat pada umumnya serta ikut
membangun tatanan perekonomian nasional dalam rangka mewujudkan masyarakat yang
maju, adil dan makmur berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.
Selain tujuan koperasi, UU No. 25 tahun 1992 menyatakan juga fungsi koperasi untuk
Indonesia. Sebagaimana dituangkan dalam pasal 4, fungsi koperasi adalah sebagai berikut:
1) Membangun dan mengembangkan potensi dan kemampuan ekonomi anggota pada
khususnya dan masyarakat pada umumnya untuk meningkatkan kesejahteraan ekonomi
dan sosialnya.
2) Berperan serta secara aktif dalam upaya mempertinggi kualitas kehidupan manusia dan
masyarakat.

2
3) Memperkokoh perekonomian rakyat sebagai dasar kekuatan dan ketahanan perekonomian
nasional dengan koperasi sebagai gurunya.
4) Berusaha untuk mewujudkan dan mengembangkan perekonomian nasional yang
merupakan usaha bersama berdasar atas azas kekeluargaan dan demokrasi ekonomi.

1.1 Konsep Koperasi Sebagai Organisasi Bisnis


Pengertian Koperasi sebagai Organisasi Usaha
1) Pertama, UU No. 25 Tahun 1992 Koperasi badan usaha yang beranggotakan orang
seorang atau badan hukum koperasi, dengan berlandaskan kegiatan berdasarkan prinsip
koperasi sekaligus sebagai gerakan ekonomi rakyat yang berdasar atas asas kekeluargaan.
2) Kedua, International Cooperation Alliance (ICA) Koperasi sebagai kumpulan orang-
orang atau badan hukum yang bertujuan untuk memperbaiki sosial ekonomi anggotanya
dan memenuhi kebutuhan ekonomi anggota dengan saling membantu antar anggota serta
usaha tersebut harus didasarkan pada prinsip-prinsip koperasi.
3) Ketiga, Koperasi adalah suatu organisasi bisnis yang para pemilik/anggotanya adalah juga
pelanggan utama perusahaan tersebut.

Ropke (1985, h.24) Ropke, Jochen, 1987. “The Economic Theory of Cooperative
Enterprise in Developing Countries, With Special Reference of Indonesia”. Marbrug. Jerman
Dari buku: Hendar (2010). “Manajemen Koperasi. Erlangga: Jakarta. Hal: 19. Berdasarkan
pandangan Ropke tersebut, dikembangkan koperasi yang sesuai dengan aktivitas
angggotanya:

1) Koperasi Pemasaran (Marketing Cooperative): menjual produk dari bisnis mereka sendiri.
2) Koperasi Konsumen (Consumer Cooperation): Jika produk yang dibeli dari suatu
perusahaan adalah barang konsumsi akhir.
3) Koperasi Produsen (Productive Cooperation): para produsen secara bersama-sama
memproduksi barang tertentu, kemudian produk dijual ke pasar umum/para pelanggan.
4) Koperasi Pelayanan (Cooperative Service): menyediakan pelayanan pada para
anggotanya, seperti: asuransi, kredit, telpon, listrik, rumah sakit, fasilitas pengolahan data
dengan komputer, dan lain-lain.
5) Koperasi Pembelian dan Penjualan (Selling and Buying Cooperative): koperasi yang
menjual dan menjual produk kepada angggotanya.
6) Koperasi Simpan Pinjam: koperasi menerima tabungan dari para angggotanya
(marketing) dan menyediakan pinjaman kepada anggotanya (purchasing).
7) Koperasi Serba Usaha: kelima koperasi tipe diatas dapat dikombinasikan).

Koperasi di Indonesia didasarkan pada Undang-Undang Nomor. 25 tahun 1992


tentang Perkoperasian. Pernah mengalami perubahan dengan adanya Undang-Undang nomor

3
tahun 2013 tentang Perkoperasian. Namun setelah diajukan dan dilakukan uji materiil di
Mahkamah Konstitusi (MK) pada 2015 UU nomor tahun 2013 dinyatakan tidak sesuai
dengan prinsip-prinsip koperasi dan memberlakukan kembali UU Nomor 25 tahun 1992
tentang perkoperasian sebagai landasan hukum di Indonesia.

Dengan keputusan perkoperasian di Indonesia kembali menggunakan UU Nomor 25


tahun 1992 sebagai dasar dalam berorganisasi. Selanjutnya terbit surat keputusan sebagai
berikut:

1) Surat Keputusan Dewan Koperasi Indonesia Nomor: SKEP/03/DEKOPIN-E/I/2015


tentang Perubahan Lambang/Logo Gerakan Koperasi Indonesia.
2) Sesuai dengan Peraturan Menteri Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah Republik
Indonesia Nomor: 01/Per/M.KUKM/II/2015 tentang Perubahan Lambang/Logo Gerakan
Koperasi Indonesia.

1.2 Prinsip-Prinsip Koperasi


Prinsip-prinsip koperasi adalah penjabaran lebih operasional dari nilai-nilai koperasi
yang dijadikan sebagai pedoman dalam pelaksaanaan kegiatan koperasi baik kegiatan
organisasi maupun kegiatan usaha koperasi. Prinsip koperasi konsumsi merupakan yang
pertama kali lahir, yaitu saat berdirinya koperasi di kota Rochdale Inggris tahun 1844, yang
didirikan oleh 28 orang buruh dibawah pimpinan Charles Howart. Adapun prinsip koperasi
Rochdale adalah sebagai berikut:

1) Keanggotaan terbuka
Koperasi terbuka bagi semua orang yang sukarela ingin menjadi anggota. Tidak ada
pembatasan untuk turut serta menjadi anggota koperasi.

2) Satu anggota satu suara

Masing-masing anggota koperasi mempunyai hak suara dalam rapat pemilihan


pengurus dan dalam keputusan-keputusan mengenai kebijaksanaan koperasi. Keputusan yang
diambil, baik dalam pemilihan pengurus maupun kebijakan lainnya harus ditentukan
berdasarkan suara terbanyak.
3) Pembagian SHU sebanding dengan transaksi yang dilakukan oleh anggota
Anggota akan menerima pembagian sisa hasil usaha sesuai dengan jasa atau
kontribusi mereka di koperasi, tiap periode tertentu, biasanya setiap tahun.
4) Pembatasan bunga atas modal

4
Anggota dan pihak lain yang menanamkan modal di koperasi akan mendapatkan
imbalan, yaitu bunga. Besarnya bunga tersebut lebih rendah atau tidak melebihi suku bunga
yang berlaku.

5) Netral dalam politik dan agama


Baik pengurus ataupun anggota harus netral dalam soal politik dan agama.
Membicarakan perbedaan paham politik (partai) dan agama dalam koperasi dapat
membuyarkan kerja sama dan hal ini berdampak negatif terhadap kehidupan koperasi.

6) Penjualan secara tunai


Prinsip ini menghendaki agar transaksi yang dilakukan anggota adalah dengan tunai.
Barang-barang yang dibeli oleh anggota dari koperasinya harus dibayar secara tunai. Anggota
harus menghindari diri dari lilitan hutang.

7) Memajukan pendidikan
Koperasi bertujuan untuk meningkatkan status sosial dari anggota-anggotanya. Untuk
maksud tersebut, koperasi dapat mengambil peranan penting diantaranya melalui jalur
pendidikan. Koperasi harus memperhatikan pendidikan anggota-anggotanya.

Prinsip Raiffeisen dikemukakan oleh Freidrich William Raiffeisen (1818-1888)


walikota Flammersfelt di Jerman. Beliau memberikan perhatian terhadap keadaan
perekonomian yang buruk di Jerman ketika itu, terutama nasib para petani di daerah
pedesaan. Oleh karena itu F.W. Raiffeisen mengembangkan koperasi kredit dan bank rakyat.
Adapun prinsip Raiffeisen adalah:
1) Swadaya
Swadaya atau kekuatan atau usaha mandiri mengandung makna bahwa para petani harus
dapat mengatasi kesulitan dengan kekuatannya sendiri tanpa bantuan dari manapun
asalnya.
2) Daerah kerja terbatas
Daerah operasi dari koperasi terbatas pada daerah dimana masing-masing anggota saling
mengenal dengan baik.
3) SHU untuk cadangan
Seluruh SHU yang diperoleh koperasi dipergunakan dipergunakan dalam memperkuat
modal koperasi. Penerapan prinsip ini akan berimplikasi terhadap pemantapan swadaya
koperasi.

5
4) Tanggung jawab anggota tidak terbatas
Prinsip ini menekankan bahwa apabila koperasi menderita kerugian, maka kerugian
menjadi tanggungan anggota
5) Pengurus bekerja atas dasar kesukarelaan
pengurus tidak memperoleh gaji atau imbalan jasa dari koperasinya, sebab pengurus harus
dipilih dari anggota. Koperasi harus memperjuangkan kepentingan anggota yang berarti
juga kepentingan pengurus.
6) Usaha hanya kepada anggota
Prinsip Raiffeisen menekankan hal ini dimana koperasi hanya melayani anggotanya,
sebab tanggung jawab anggota yang tidak terbatas.
7) Keanggotaan atas dasar watak, bukan uang.
Selain F.W. Raiffeisen, seorang ahli hukum bernama Herman Schulze di kota
Delitzsch Jerman, memberikan perhatian untuk memperbaiki kehidupan para pengusaha kecil
seperti pengrajin, pedagang eceran, wirausaha industri kecil, dan jenis usaha lainnya. Upaya
yang dilakukan Schulze adalah mengembangkan gagasan koperasi bagi pengusaha kecil di
daerah pinggiran kota. Inti prinsip Schulze adalah sebagai berikut:
1) Swadaya
Swadaya atau kekuatan atau usaha mandiri mengandung makna bahwa anggota koperasi
harus dapat mengatasi kesulitan dengan kekuatannya sendiri tanpa bantuan dari manapun
asalnya.
2) Daerah kerja tak terbatas
Daerah operasi dari koperasi tak terbatas pada daerah dimana masing-masing anggota
saling belum mengenal dengan baik.
3) SHU untuk cadangan dan untuk dibagikan ke anggota
Prinsip ini dikembangkan dimana SHU dibagi selain disisihkan sebagian untuk cadangan,
sebagian lagi dibagi kepada anggotanya
4) Tanggung jawab anggota terbatas
Prinsip ini menekankan bahwa apabila koperasi menderita kerugian, maka kerugian
bukan menjadi tanggungan anggota.
5) Pengurus bekerja dengan mendapat imbalan
Makna dari prinsip ini bahwa pengurus memperoleh gaji atau imbalan jasa dari
koperasinya.
6) Usaha tidak terbatas, tidak hanya untuk anggota

6
Koperasi tidak hanya melayani anggota tetapi juga bukan anggota, sebab tanggung jawab
anggota yang tidak terbatas.
Prinsip koperasi yang dianut oleh gerakan koperasi internasional saat ini adalah
prinsip yang disepakati pada kongres ICA di Mancester, Inggris pada tanggal 23 September
1995. ICA adalah gabungan gerakan koperasi internasional yang beranggotakan 700 juta
orang lebih, berasal dari 70 negara, berpusat di Genewa, Swiss. Untuk wilayah Asia-Fasifik
berkantor di New Delhi, India. Prinsip koperasi terbaru yang dikembangkan International
Cooperative Alliance (Federasi koperasi non-pemerintah internasional) berdasarkan ICA No.
58 tahun 1995) yaitu:
1) Keanggotaan yang bersifat terbuka dan sukarela (voluntary and open membership).
Koperasi adalah organisasi yang keanggotaannya bersifat sukarela dan terbuka bagi
setiap orang yang bersedia menggunakan jasa-jasa pelayanannya, dan bersedia menerima
tanggung jawab keanggotaan, tanpa membedakan gender (jenis kelamin), latar belakang
sosial, ras, politik atau agama. Di dalam praktek, keanggotaan sukarela dan terbuka ini
tentunya dapat dijabarkan dengan persyaratan-persyaratan yang mengatur hak dan kewajiban
sebagai anggota koperasi yang lebih lanjut diatur dalam Anggaran Dasar Koperasi.

2) Pengelolaan yang demokratis (democratic member control).

Koperasi adalah organisasi terbuka yang demokratis diawasi oleh para anggotanya,
yang secara aktif menetapkan kebijakan dan membuat keputusan. Anggota baik laki-laki
maupun perempuan yang dipilih sebagai pengurus atau pengawas bertanggung jawab kepada
rapat anggota. Dalam koperasi primer anggota memiliki hak suara yang sama (satu anggota
satu suara). Pada tingkat lainnya, koperasi juga dikelola secara demokratis.

3) Partisipasi anggota dalam ekonomi (member economic participation).

Anggota menyetorkan modal mereka secara adil dan melakukan pengawasan secara
demokratis. Sebagian dari modal tersebut adalah milik bersama untuk dijadikan modal
perusahaan koperasi yang menjalankan fungsi ekonomi dalam memberikan pelayanan kepada
anggota. Pelayanan yang disediakan oleh perusahaan koperasi ini harus dimanfaatkan sebaik-
baiknya oleh anggota (partisipasi pemanfaatan pelayanan). Partisipasi pemanfaatan pelayanan
ini bila koperasi efisien akan menghasilkan surplus yang di Indonesia dikenal dengan Sisa
Hasil Usaha (SHU). Bila ada balas jasa terhadap modal, diberikan secara terbatas. Anggota
mengalokasikan SHU untuk beberapa hal seperti mengembangkan koperasi, caranya dengan

7
membentuk cadangan untuk menambah permodalan koperasi, dibagikan kepada anggotanya
secara proporsional dan adil berdasarkan jasa transaksi masing-masing anggota kepada
koperasinya dan mendukung kegiatan lainnya yang disepakati dalam rapat anggota.

4) Kebebasan dan otonomi (autonomy and independence).

Koperasi adalah organisasi otonom dan mandiri yang dimodali, dikelola, diawasi dan
dipergunakan oleh para anggotanya. Apabila koperasi membuat perjanjian dengan pihak lain,
termasuk pemerintah, atau memperoleh modal dari luar, maka hal itu harus berdasarkan
peryaratan yang tetap menjamin adanya upaya pengambilan keputusan dan pengawasan yang
demokratis oleh anggotanya dengan tetap mempertahankan otonomi koperasi.

5) Pengembangan pendidikan, pelatihan, dan informasi (education, training dan


information).

Koperasi memberikan pendidikan dan pelatihan bagi anggota, pengurus, pengawas,


manajer, dan karyawannya. Tujuannya agar mereka dapat melaksanakan tugas dengan lebih
efektif bagi perkembangan koperasi. Koperasi juga wajib memberikan informasi kepada
anggota dan masyarakat umum, khususnya kepada orang-orang muda dan tokoh-tokoh
masyarakat mengenai hakekat dan manfaat berkoperasi.

6) Kerjasama antar koperasi (cooperative among cooperatives).

Dengan bekerjasama pada tingkat lokal, nasional, regional, dan internasional, maka
gerakan koperasi diharapkan mampu melayani anggotanya dengan efektif dan dapat
memperkuat jaringan gerakan koperasi.

7) Bekerja untuk kepentingan komunitas (concern for community).

Koperasi melakukan kegiatan dituntut untuk mengembangkan masyarakat sekitarnya


secara berkelanjutan, dengan tetap memperhatikan kelestarian lingkungan ekosistem melalui
kebijakan yang diputuskan oleh rapat anggota.

Disamping prinsip-prinsip koperasi internasional yang telah diuraikan di atas,


koperasi Indonesia secara khusus memiliki prinsip-prinsip koperasi Indonesia yang
dituangkan dalam UU No. 25 tahun 1992 tentang perkoperasian yaitu:

1) Keanggotaan bersifat sukarela dan terbuka.

8
Sifat kesukarelaan dalam keanggotaan Koperasi mengandung makna bahwa menjadi
anggota koperasi tidak boleh dipaksakan oleh siapapun. Sifat kesukarelaan juga mengandung
makna bahwa seorang anggota dapat mengundurkan diri dari koperasinya sesuai dengan
syarat yang ditentukan dalam Anggaran Dasar Koperasi. Sedangkan sifat terbuka memiliki
arti bahwa dalam keanggotaan tidak dilakukan pembatasan atau diskriminasi dalam bentuk
apapun.
2) Pengelolaan dilakukan secara demokrasi.
Prinsip demokrasi menunjukkan bahwa pengelolaan koperasi dilakukan atas kehendak
dan keputusan para anggota. Para anggota itulah yang memegang dan melaksanakan
kekuasaan tertinggi dalam koperasi.
3) Pembagian sisa hasil usaha dilakukan secara adil sesuai dengan jasa usaha masing-masing
anggota.
Pembagian sisa hasil usaha kepada anggota dilakukan tidak semata-mata berdasarkan
modal yang dimiliki seseorang dalam koperasi tetapi juga berdasarkan perimbangan jasa
usaha anggota terhadap koperasi. Ketentuan yang demikian ini merupakan perwujudan nilai
kekeluargaan dan keadilan.
4) Pemberian balas jasa yang terbatas terhadap modal.
Modal dalam koperasi pada dasarnya dipergunakan untuk kemanfaatan anggota dan
bukan untuk sekedar mencari keuntungan. Oleh karena itu balas jasa terhadap modal yang
diberikan kepada para anggota juga terbatas, dan tidak didasarkan semata-mata atas besarnya
modal yang diberikan. Yang dimaksud dengan terbatas adalah wajar dalam arti tidak melebihi
suku bunga yang berlaku dipasar.
5) Kemandirian.
Kemandirian mengandung pengertian dapat berdiri sendiri, tanpa bergantung pada
pihak lain yang dilandasi oleh kepercayaan kepada pertimbangan, keputusan, kemampuan,
dan usaha sendiri. Dalam kemandirian terkandung pula pengertian kebebasan yang
bertanggung jawab, otonomi, swadaya, berani mempertanggungjawabkan perbuatannya
sendiri, dan kehendak untuk mengelola diri sendiri.
6) Pendidikan perkoperasian
Untuk meningkatkan kemampuan manajemen dan terlaksananya prinsip-prinsip
koperasi, maka penting sekali anggota, pengurus dan karyawan koperasi ditingkatkan
pemahaman, kesadaran dan keterampilannya melalui pendidikan. Besarnya biaya pendidikan
ditetapkan oleh anggota dalam rapat anggota.

9
7) Kerjasama antar koperasi.
Koperasi dapat bekerjasama dengan koperasi-koperasi lain di tingkat lokal, nasional
ataupun internasional. Di Indonesia, koperasi-koperasi primer bisa membentuk pusat dan
induk di tingkat regional dan nasional.

Menurut UU No. 17 tahun 2012 tentang perkoperasian, prinsip koperasi terdiri dari
1) Keanggotaan koperasi bersifat sukarela dan terbuka.
2) Pengawasan oleh anggota diselenggarakan secara demokratis.
3) Anggota berpartisipasi aktif dalam kegiatan ekonomi koperasi.
4) Koperasi merupakan badan usaha swadaya yang otonom dan independen.
5) Koperasi menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan bagi anggota, pengawas, pengurus,
dan karyawannya, serta memberikan informasi kepada masyarakat tentang jati diri,
kegiatan, dan kemanfaatan koperasi.
6) Koperasi melayani anggotanya secara prima dan memperkuat gerakan koperasi, dengan
bekerja sama melalui jaringan kegiatan pada tingkat lokal, nasional, regional, dan
internasional.
7) Koperasi bekerja untuk pembangunan berkelanjutan bagi lingkungan dan masyarakatnya
melalui kebijakan yang disepakati oleh anggota.

1.3 Bentuk dan Jenis Koperasi


Jenis Koperasi menurut fungsinya:

1) Koperasi pembelian/pengadaan/konsumsi adalah koperasi yang menyelenggarakan fungsi


pembelian atau pengadaan barang dan jasa untuk memenuhi kebutuhan anggota sebagai
konsumen akhir. Di sini anggota berperan sebagai pemilik dan pembeli atau konsumen
bagi koperasinya. Koperasi ini dapat mengusahakan pembelian alat-alat pertanian dan
mengusahakan pembelian kebutuhan pokok sehari-hari. Contohnya adalah koperasi
pertanian, koperasi perikanan, koperasi konsumen, dan lain-lain.

2) Koperasi penjualan/pemasaran adalah koperasi yang menyelenggarakan fungsi distribusi


barang atau jasa yang dihasilkan oleh anggotanya agar sampai di tangan konsumen. Di
sini anggota berperan sebagai pemilik dan pemasok barang atau jasa kepada koperasinya.
Tujuan utama koperasi penjualan adalah untuk mencegah persaingan di antara para
produsen. Dengan bersatu dan bekerjasama di dalam sebuah koperasi penjualan, produsen

10
dapat mempertahankan harga yang layak untuk barang-barang hasil produksi mereka.
Misalnya para pengrajin menjual produksinya kepada toko koperasi yang dibentuk.

3) Koperasi produksi adalah koperasi yang menghasilkan barang dan jasa, dimana
anggotanya bekerja sebagai pegawai atau karyawan koperasi. Di sini anggota berperan
sebagai pemilik dan pekerja koperasi. Contoh koperasi produksi yaitu koperasi tani yang
menjual bibit untuk menanam padi dan koperasi membantu menyiapkan bahan baku
untuk dibuat kerajinan.

4) Koperasi jasa adalah koperasi yang menyelenggarakan pelayanan jasa yang dibutuhkan
oleh anggota, misalnya: simpan pinjam, asuransi, angkutan, dan sebagainya. Di sini
anggota berperan sebagai pemilik dan pengguna layanan jasa koperasi.

Apabila koperasi menyelenggarakan satu fungsi disebut koperasi tunggal usaha


(single purpose cooperative), sedangkan koperasi yang menyelenggarakan lebih dari satu
fungsi disebut koperasi serba usaha (multi purpose cooperative).

Jenis koperasi berdasarkan tingkat dan luas daerah kerja:

1) Koperasi Primer adalah koperasi yang yang minimal memiliki anggota sebanyak 20 orang
perseorangan. Syarat lainnya adalah orang-orang yang membentuk koperasi tersebut
harus memenuhi persyaratan anggaran dasar koperasi primer dan memiliki tujuan yang
sama. Contoh koperasi primer adalah Koperasi Unit Desa (KUD).
2) Koperasi Sekunder adalah koperasi yang terdiri dari gabungan badan-badan koperasi serta
memiliki cakupan daerah kerja yang luas dibandingkan dengan koperasi primer. Koperasi
sekunder dapat dibagi menjadi :
(1) koperasi pusat adalah koperasi yang beranggotakan paling sedikit 5 koperasi primer.
(2) gabungan koperasi adalah koperasi yang anggotanya minimal 3 koperasi pusat.
(3) induk koperasi adalah koperasi yang minimum anggotanya adalah 3 gabungan
koperasi.
Jenis Koperasi menurut status keanggotaannya:
1) Koperasi produsen adalah koperasi yang anggotanya para produsen barang/jasa dan
memiliki rumah tangga usaha. Koperasi yang didirikan oleh industri kecil yang bekerja
untuk kepentingan bersama yaitu terdiri dari pengusaha, pemilik alat-alat produksi dan
karyawan yang mempunyai kepentingan untuk menghidarkan diri dari kaum kapitalis dan
usahanya berhubungan langsung dengan bidang industri atau kerajinan. Biasanya
11
koperasi produsen atau produksi ini bisa berupa koperasi pertanian, koperasi peternakan,
koperasi kerajinan dan lain-lain.
2) Koperasi konsumen adalah koperasi yang anggotanya para konsumen akhir atau pemakai
barang/jasa yang ditawarkan para pemasok di pasar. Beberapa barang dan kebutuhan yang
biasa dijual di koperasi konsumen ini misalnya yaitu bahan pangan, pakaian, perabotan
rumah tangga dan lain-lain.
Kedudukan anggota di dalam koperasi dapat berada dalam salah satu status atau
keduanya. Dengan demikian pengelompokkan koperasi menurut status anggotanya berkaitan
erat dengan pengelompokan koperasi menurut fungsinya.

1.4 Arti Lambang Koperasi Lama

1) Gerigi roda/ gigi roda.


Upaya keras yang ditempuh secara terus menerus.Hanya orang yang pekerja keras
yang bisa menjadi calon Anggota dengan memenuhi beberapa persyaratannya.
2) Rantai (di sebelah kiri)
Ikatan kekeluargaan, persatuan dan persahabatan yang kokoh. Bahwa anggota sebuah
Koperasi adalah Pemilik Koperasi tersebut, maka semua Anggota menjadi bersahabat, bersatu
dalam kekeluargaan, dan yang mengikat sesama anggota adalah hukum yang dirancang
sebagai Anggaran Dasar (AD) / Anggaran Rumah Tangga (ART) Koperasi. Dengan bersama-
sama bersepakat mentaati AD/ART, maka Padi dan Kapas akan mudah diperoleh.
3) Kapas dan Padi (di sebelah kanan)
Kemakmuran anggota koperasi secara khusus dan rakyat secara umum yang
diusahakan oleh koperasi. Kapas sebagai bahan dasar sandang (pakaian), dan Padi sebagai
bahan dasar pangan (makanan).Mayoritas sudah disebut makmur-sejahtera jika cukup
sandang dan pangan.
4) Timbangan
Keadilan sosial sebagai salah satu dasar koperasi. Biasanya menjadi simbol hukum.
Semua Anggota koperasi harus adil dan seimbang antara “Rantai” dan “Padi-Kapas”, antara
“Kewajiban” dan “Hak”.Dan yang menyeimbangkan itu adalah Bintang dalam Perisai.
5) Bintang dalam perisai

12
Dalam perisai yang dimaksud adalah Pancasila, merupakan landasan idiil koperasi.
Bahwa Anggota Koperasi yang baik adalah yang mengindahkan nilai-nilai keyakinan dan
kepercayaan, yang mendengarkan suara hatinya.Perisai bisa berarti “tubuh”, dan Bintang bisa
diartikan “Hati”.
6) Pohon Beringin
Simbol kehidupan, sebagaimana pohon dalam Gunungan wayang yang dirancang oleh
Sunan Kalijaga. Dahan pohon disebut kayu (dari bahasa Arab “Hayyu”/kehidupan).
Timbangan dan Bintang dalam Perisai menjadi nilai hidup yang harus dijunjung tinggi.
7) Koperasi Indonesia
Koperasi yang dimaksud adalah koperasi rakyat Indonesia, bukan Koperasi negara
lain. Tata-kelola dan tata-kuasa perkoperasian di luar negeri juga baik, namun sebagai Bangsa
Indonesia harus punya tata-nilai sendiri.
8) Warna Merah Putih
Warna merah dan putih yang menjadi background logo menggambarkan sifat nasional
Indonesia.

Arti Lambang Warna Koperasi Baru

Sesuai dengan Peraturan Menteri Negara Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah
Nomor : 02/Per/M.KUKM/IV/2012 Tanggal : 17 April 2012 Tentang : Penggunaan Lambang
Koperasi Indonesia, maka lambang Koperasi indonesia yang lama digantikan dengan
lambang dan gambar yang baru. Adapun Arti Gambar dan Penjelasan Lambang Koperasi
sebagai berikut

1) Lambang Koperasi Indonesia dalam bentuk gambar bunga yang memberi kesan akan
perkembangan dan kemajuan terhadap perkoperasian di Indonesia, mengandung makna
bahwa Koperasi Indonesia harus selalu berkembang, cemerlang, berwawasan, variatif,
inovatif sekaligus produktif dalam kegiatannya serta berwawasan dan berorientasi pada
keunggulan dan teknologi.
2) Lambang Koperasi Indonesia dalam bentuk gambar 4 (empat) sudut pandang
melambangkan arah mata angin yang mempunyai maksud Koperasi Indonesia:
(1) sebagai gerakan koperasi di Indonesia untuk menyalurkan aspirasi;
(2) sebagai dasar perekonomian nasional yang bersifat kerakyatan
13
(3) sebagai penjungjung tinggi prinsip nilai kebersamaan, kemandirian, keadilan dan
demokrasi
(4) selalu menuju pada keunggulan dalam persaingan global
3) Lambang Koperasi Indonesia dalam bentuk Teks Koperasi Indonesia memberi kesan
dinamis modern, menyiratkan kemajuan untuk terus berkembang serta mengikuti
kemajuan jaman yang bercermin pada perekonomian yang bersemangat tinggi, teks
Koperasi Indonesia yang berkesinambungan sejajar rapi mengandung makna adanya
ikatan yang kuat, baik didalam lingkungan internal Koperasi Indonesia maupun antara
Koperasi Indonesia dan para anggotanya;
4) Lambang Koperasi Indonesia yang berwarna Pastel memberi kesan kalem sekaligus
berwibawa, selain Koperasi Indonesia bergerak pada sektor perekonomian, warna pastel
melambangkan adanya suatu keinginan, ketabahan, kemauan dan kemajuan serta
mempunyai kepribadian yang kuat akan suatu hal terhadap peningkatan rasa bangga dan
percaya diri yang tinggi terhadap pelaku ekonomi lainnya;
5) Lambang Koperasi Indonesia dapat digunakan pada papan nama kantor, pataka, umbul-
umbul, atribut yang terdiri dari pin, tanda pengenal pegawai dan emblem untuk seluruh
kegiatan ketatalaksanaan administratif oleh Gerakan Koperasi di Seluruh Indonesia;
6) Lambang Koperasi Indonesia menggambarkan falsafah hidup berkoperasi yang memuat :
Tulisan : Koperasi Indonesia yang merupakan identitas lambang;
Gambar : 4 (empat) kuncup bunga yang saling bertaut dihubungkan bentuk sebuah
lingkaran yang menghubungkan satu kuncup dengan kuncup lainnya, menggambarkan
seluruh pemangku kepentingan saling bekerja sama secara terpadu dan berkoordinasi
secara harmonis dalam membangun Koperasi Indonesia;
0
2. Gambaran Umum UMKM
2.1 Pengertian UMKM, menurut Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2008 Pasal 1
1) Usaha Mikro adalah usaha produktif milik orang perorangan dan/atau badan usaha
perorangan yang memenuhi kriteria Usaha Mikro sebagaimana diatur dalam Undang-
Undang ini.
2) Usaha Kecil adalah usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri, yang dilakukan oleh
orang perorangan atau badan usaha yang bukan merupakan anak perusahaan atau bukan
cabang perusahaan yang dimiliki, dikuasai, atau menjadi bagian baik langsung maupun
tidak langsung dari Usaha Menengah atau Usaha Besar yang memenuhi kriteria Usaha
Kecil sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang ini.

14
3) Usaha Mengah adalah usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri, yang dilakukan oleh
orang perorangan atau badan usaha yang bukan merupakan anak perusahaan atau cabang
perusahaan yang dimiliki, dikuasai, atau menjadi bagian baik langsung maupun tidak
langsung dengan Usaha Kecil atau Usaha Besar dengan jumlah kekayaan bersih atau hasil
penjualan tahunan sebagaimana diatur dalam UndangUndang ini.

2.2 Asas UMKM, menurut Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2008 Pasal 2


1) Kekeluargaan
2) Demokrasi ekonomi
3) Kebersamaan
4) Efisiensi berkeadilan
5) Berkelanjutan
6) Berwawasan lingkungan
7) Kemandirian
8) Keseimbangan kemajuan
9) Kesatuan ekonomi nasional

2.3 Tujuan UMKM, menurut Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2008 Pasal 2


Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah bertujuan menumbuhkan dan mengembangkan
usahanya dalam rangka membangun perekonomian nasional berdasarkan demokrasi ekonomi
yang berkeadilan.

2.4 Kriteria UMKM, menurut Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2008 Pasal 6


1) Kriteria Usaha Mikro adalah sebagai berikut:
(1) memiliki kekayaan bersih paling banyak Rp50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah)
tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha; atau
(2) memiliki hasil penjualan tahunan paling banyak Rp300.000.000,00 (tiga ratus juta
rupiah).
2) Kriteria Usaha Kecil adalah sebagai berikut:
(1) memiliki kekayaan bersih lebih dari Rp50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah) sampai
dengan paling banyak Rp500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah) tidak termasuk tanah
dan bangunan tempat usaha; atau
(2) memiliki hasil penjualan tahunan lebih dari Rp300.000.000,00 (tiga ratus juta rupiah)
sampai dengan paling banyak Rp2.500.000.000,00 (dua milyar lima ratus juta rupiah).
3) Kriteria Usaha Menengah adalah sebagai berikut:
(1) memiliki kekayaan bersih lebih dari Rp500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah) sampai
dengan paling banyak Rp10.000.000.000,00 (sepuluh milyar rupiah) tidak termasuk
tanah dan bangunan tempat usaha; atau
(2) memiliki hasil penjualan tahunan lebih dari Rp2.500.000.000,00 (dua milyar lima
ratus juta rupiah) sampai dengan paling banyak Rp50.000.000.000,00 (lima puluh
milyar rupiah).

15
UMKM di Indonesia didasarkan pada Undang – Undang Nomor 20 Tahun 2008
tentang Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM). UMKM terdiri dari:
1) Livelihood activities, merupakan usaha kecil menengah yang digunakan sebagai
kesempatan kerja untuk mencari nafkah, yang lebih umum dikenal sebagai sector
informal. Contohnya adalah pedagang bakso, mie ayam pangsit, somai, pentol dan cilok
yang dikenal sebagai pedagang kaki lima (PKL).
2) Micro enterprise, merupakan usaha kecil menengah yang memiliki sifat pengrajin tetapi
belum memiliki sifat kewirausahaan.
3) Small dynamic enterprise, merupakan usaha kecil menengah yang telah memiliki jiwa
kewirausahaan dan mampu menerima pekerjaan subkontrak dan ekspor.
4) Fast moving enterprise, merupakan usaha kecil menengah yang telah memiliki jiwa
kewirausahaan dan akan melakukan transformasi menjadi usaha besar
(industri/perusahaan)

16