Anda di halaman 1dari 12

PRINSIP UMUM PENGELOLAAN KERACUNAN

Amitesh Aggarwalaa, Ankur Chikarabb


a Department of Medicine, University College of Medical Sciences (University of Delhi) & GTB
Hospital, Delhi, India
b Department of Medicine, VMMC & Safdarjung Hospital, New Delhi, India

ABSTRAK
Keracunan adalah hal yang sedikit unik karena memiliki implikasi pada medicolegal. Untuk
dapat mendiagnosis dan mengelola kasus keracunan yang tepat di butuhkan riwayat kasus,
temuan pemeriksaan, serta informasi dan pengetahuan tentang toksin juga memainkan peran
penting. Gejala-gejala keracunan dibagi menjadi enam toksidrom yang membantu kita untuk
mengidentifikasi sifat racun dan menuntun kita dalam pengelolaannya. Pengelollan pada kasus
keracunan meliputi pengelolaan jalan napas, pernapasan dan sirkulasi, dekontaminasi topikal dan
lambung, antidotum spesifik. Jika tersedia, terapi khelasi, hemodialisis untuk toksin yang dapat
di dialisis dan terapi suportif.

1. Pengantar
Keracunan dengan cara menelan atau menghirup atau bersentuhan dengan zat kimia
yang merusak tubuh kita. Keracunan terkait dengan dosis. Hampir setiap substansi yang
berkontak dengan tubuh, baik inhalasi, kontak kulit atau tertelan, dapat menghasilkan gejala
toksik dalam jumlah yang tidak tepat. Dosis toksik dapat ditentukan oleh konsentrasi dari
waktu ke waktu. Gejala keracunan bervariasi dari satu zat ke zat lainnya. Diagnosis kasus
keracunan terutama klinis dan terapi suportif dengan menggunakan antidotum spesifik jika
tersedia. Keracunan, reaksi hipersensitivitas, reaksi idiosinkrasi dan intoleransi semuanya
adalah istilah yang berbeda. Reaksi hipersensitivitas dan idiosinkrasi tidak bergantung pada
jumlah zat dan tidak dapat diprediksi. Sedangkan, intoleransi terjadi karena sensitivitas
abnormal atau reaksi racun alergi terhadap jumlah zat yang biasanya tidak beracun. Pada
tahun 1998, Gupta dkk. [1] menyimpulkan bahwa minyak tanah dapat menyebabkan
keracunan pada masa kanak-kanak (52,8% pada 1990-an) diikuti oleh insektisida dan
pestisida. Gupta dkk. [2] pada tahun 2004 dalam studinya menyimpulkan fakta bahwa di
India, 51% dari komoditas pangan terkontaminasi dengan residu pestisida dan dari ini, 20%
memiliki residu pestisida di atas tingkat residu maksimum (Maxiumum Residue Level /
MRL) dari nilai seluruh residu di seluruh dunia. Komisi Eropa memperbaiki MRL untuk
semua makanan dan pakan ternak. MRL untuk semua tanaman dan semua pestisida dapat
ditemukan di database MRL di situs web Komisi. (http://ec.europa.eu/food/plant/pesti-
database / public /? event = homepage & language = EN). Pada tahun 2005, Rao dkk. [3]
melaporkan data keracunan dalam 6 tahun sebanyak 8040 kasus keracunan pestisida dari
Andhra Pradesh. Dia melaporkan bahwa tingkat kematian keseluruhan kasus adalah 22,6%.
Kanchan et al. [4] pada 2007 melaporkan bahwa penelitian retrospektif yang dilakukan
selama 5 tahun terhadap 137 kasus keracunan bunuh diri yang diotopsi. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa di India Selatan, dekade ke-3, usia yang paling rentan untuk bunuh diri
rata-rata berusia 40,5 tahun untuk laki-laki dan 34,4 tahun untuk permpuan. Penelitian yang
dilakukan Kanchan, dkk [5] terdapat 198 kasus keracunan di mana 68,7% kematian dari
total 92,9% kasus bunuh diri dengan senyawa organofosfat. Vaidya et al. [6] pada tahun
2018 mempublikasikan data dari 1003 kasus dan penelitian mereka mendukung data yang
dikutip oleh Kanchan et al. Pada tahun 2003 Gupta dkk. [7] mempublikasikan sebuah studi
tentang keracunan masa kanak-kanak yang menunjukkan bahwa 79,7% kasus keracunan
adalah kecelakaan dan 20,2% kasus memiliki upaya yang disengaja pada kelompok usia>
12-16 tahun dan> 16-18 tahun. Rute pemberian zat beracun adalah oral (96,8%) dan paparan
kulit (3,2%). Sebuah penelitian retrospektif yang dilaporkan oleh Srivastav, dkk [8] pada
tahun 2005 menyebutkan bahwa bunuh diri (53%) dan ketidaksengajaan (47%) sebagai dua
modus keracunan umum di India. Penelitian ini juga menyebutkan tentang rute pemberian
toksin yang bersifat oral (88%), dermal (5%), inhalasi dan okular (7%). Banyak zat-zat non-
makanan yang umumnya dikonsumsi umumnya tidak beracun seperti perekat, kapur, lilin,
karet, bedak, dll.

2. Gambaran Klinis

Gejala-gejala keracunan dapat secara luas dikelompokkan menjadi enam jenis


sindrom toksik (toksidrome) yang dapat menunjukkan kelas zat tertentu (Tabel 1).

Tabel 1
Sindrom Toksik (Toksidrom).

Sindrom Penyebab Gejala Tanda

Kemerahan pada kulit, Sinus takikardia,


 Atropin
membran mukosa kering, penurunan bising usus,
 Datura midriasis dengan hilangnya ileus fungsional, retensi
 Jahar akomodasi, perubahan urin, hipertensi, kejang
Antikolinergik  Khurani, status mental, retensi urin, mioklonik, ataksia,
 Skopolamin demam, psikosis. kehilangan ingatan
jangka pendek,
 Antidepresan
halusinasi
trisiklik

 Muskostinin Salivasi, lakrimasi, diare, Miosis, bradikardia,


 Karbamat (aldicarb, gangguan gastrointestinal, bronkospasme,
Kolinergik, karbofuran, carbaryl, muntah, diaforesis, bronkorrhea, hipotensi
Muskarinik ethienocarb, dan rhinorrhea, cemas,
fenobucarb), kebingungan, ataksia,
 Organofosfat tremor, psikosis
 Piridostigmin

 Karbamat(aldicarb, Kram, kelemahan, Fasikulasi otot,


karbofuran, carbaryl, kecemasan, ataksia, tremor, Kerusakan diafragma,
ethienocarb, dan kejang, psikosis hipertensi, takikardia,
fenobucarb) midriasis, pucat
Kolinergik,  Nikotin
Nikotink
 Racun gigitan laba-
laba black widow

Opioid - morfin, Penurunan kesadaran, Pruritus, flushing,


heroin kekakuan otot, sputum urtikaria, euforia,
Opioid berbusa paranoia, bronkospasme,
bradipnea, hipopnea,
pupil pinpoint

 Ephedrine Sulit bernapas, nyeri dada, Bronkospasme,


 Marijuana demam, sakit kepala, mengi, aritmia,
ensefalopati hipertensi, hipertermia,
 Ecstasy
perdarahan intrakranial, hipertensi, midriasis,
Simpatomimetik  Theophylline kejang takikardia, diaforesis,
 Amphetamines psikosis akut,
 Caffeine paranoia , delirium,
bruxism

 Ganja Flu seperti gejala, mual Mydriasis, dysphoria,


 Opioid muntah, diare, arthralgia, piloerection
Withdrawal  Barbiturat mialgia, perut dan kram
kaki

Sedatif-hipnotik : Delirium tremens, Hiperrefleksia, tre


 Benzodiazepin tremulousness, psikomotor mor, tachycardia,
 Alkohol dan disfungsi otonom. hiperventilasi,
Withdrawal hipertermia,
diaphoresis, takipnea

 Amphetamin Dysphoria, tidur Tanda-tanda vital normal


Withdrawal
 Cocaine berlebihan, retardasi
psikomotor berat, mimpi
hidup dan tidak
menyenangkan,
kecenderungan bunuh diri

Antidepresan: Agitasi, kecemasan, mimpi Kurangnya


buruk, pusing, diare, konsentrasi,
 Monoamine oxidase muntah, gejala seperti flu, parestesi, mati rasa,
inhibitor (MAOIs) sensasi seperti tersengat ataksia, vertigo
 Serotonin selektif listrik
Withdrawal
reuptake inhibitor
(SSRI)
 antidepresan trisiklik

3. Diagnosis

Kecurigaan keracunan kapan saja bisa terjadi dilihat dari tanda dan gejala pasienyang
tidak dapat dijelaskan, terutama sensorium yang berubah-ubah. Bahkan jika seorang pasien
diketahui diracuni, penyebab lain dari penurunan kesadaran bisa disebabkan seperti infeksi
sistem saraf pusat (SSP), cedera kepala, hipoglikemia, kecelakaan kardiovaskular, penyebab
ensefalopati yang berbeda seperti hati, hipoksik,Wernicke, dll juga harus dipertimbangkan.
Pasien bunuh diri membutuhkan perhatian khusus. Bunuh diri secara sengaja pada orang
dewasa biasanya melibatkan beberapa racun.

Dalam diagnosis keracunan, riwayat pasien merupakan sumber yang paling penting.
Untuk memulainya, pertama-tama menilai status keseluruhan pasien. Informasi mengenai
pekerjaan pasien, hubungan pasien dengan anggota keluarga dan tetangga lainnya, dan
kepribadian pasien secara keseluruhan harus dicari. Informasi ini memberikan petunjuk
mengenai kasus bunuh diri atau pembunuhan dan memberikan petunjuk mengenai
keterlibatan satu atau lebih dari satu zat beracun.

Pemeriksaan fisik membantu dalam mendeteksi tanda-tanda yang menunjukkan jenis


zat tertentu, bau nafas, tusukan jarum, bekas luka, jejak yang menunjukkan penggunaan
narkoba suntikan, tanda-tanda penyalahgunaan obat kronis seperti alkohol dll. Riwayat dan
pemeriksaan terperinci memberikan petunjuk untuk menyingkirkan penyebab lain dari
perubahan sensorium.
4. Pemeriksaan Penunjang
Uji laboratorium pada sebagian besar kasus tidak terlalu signifikan. Tes layar toksik
standar kualitatif, bukan kuantitatif untuk mengidentifikasi racun umum. Skrining obat dalam
urin mendeteksi metabolit obat. Konsentrasi zat di dalam darah. Theophilin, fenitoin,
fenobarbital, metanol, lithium, besi, etilen glikol, digoksin, karbon monoksida, aspirin dan
asetaminofen, membantu dalam pengobatan sementara untuk zat beracun utama lainnya,
estimasi kadar darah tidak banyak berguna. Pemeriksaan rutin yang meliputi hitung darah
lengkap, tes fungsi hati dan ginjal, elektrolit serum, osmolalitas serum dan urine, gula darah
sewaktu, profil koagulasi darah, dan gas darah arteri harus dilakukan pada semua kasus
keracunan. Tes spesifik lainnya (misalnya uji potasium sianida, studi enzim spesifik, kadar
laktat dehidrogenase serum, Brain Computed Tophography) diindikasikan untuk racun
tertentu yang dicurigai. Elektrokardiogram (EKG) dan pemantauan jantung harus dilakukan
jika ada dugaan keracunan yang tidak diketahui dengan efek kardiovaskular. Racun tertentu
jika tertelan dapat dideteksi dengan foto polos abdomen yaitu arsenik, besi, timah, logam lain,
paket kokain atau obat-obatan terlarang lainnya.

5. Treatment
Manajemen kasus yang dicurigai dari konsumsi zat yang tidak diketahui, meliputi :
- Menjaga saluran napas, pernapasan, dan sirkulasi
- Pemantauan jantung yang ketat, tanda-tanda vital, monitoring cairan yang keluar dan
masuk, pemantauan gula darah
- Perawatan suportif dan cairan intravena
- Pengosongan lambung
- Penggunaan obat penawar atau dialisis khusus atau terapi khelasi

6. Stabilisasi Awal
Pasien pada ruang gawat darurat rumah sakit dengan kecurigaan menelan zat yang tidak
diketahui harus terlebih dahulu distabilkan. Untuk stabilisasi awal, jalan napas pasien yang
terganggu karena sebab apapun seperti penurunan reflek muntah atau benda asing di
oropharynx, harus diamankan dengan intubasi endotrakeal dengan diameter terbesar. Pasien
dengan apneu atau depresi pernafasan berat harus diberikan nalokson intravena segera dalam
dosis 2 mg / dosis pada orang dewasa dan 0,1 mg / kg pada anak-anak. Nalokson dapat
mempercepat penarikan pada pecandu opioid. Pasien harus dilakukan intubasi endotrakeal,
jika depresi pernafasan tetap ada meskipun menggunakan nalokson.

Dalam kasus pasien dengan perubahan sensorium atau depresi sistem saraf pusat, segera
hilangkan hipoglikemia dengan memeriksa kadar gula darah kapiler. Jika sumber daya
terbatas dan estimasi kadar gula darah dalam ambang batas minimal segera, berikan dextrose
intravena (50 ml larutan 50% pada orang dewasa; 2-4 ml / kg larutan 25% pada anak-anak).
Dalam kasus konsumen alkohol kronis dan berat, individu yang kekurangan gizi, pasien
dengan asidosis laktat atau gagal jantung dengan curah jantung yang tinggi, berikan 100 mg
thiamin intravena harus diberikan dengan atau sebelum pemberian glukosa. Jika pasien tanpa
denyut nadi segera lakukan resusitasi cardiopulmonary. Jika tekanan darah menurun dan
pasien berada dalam hipotensi, berikan cairan intravena harus diberikan. Pemantauan tekanan
darah terus menerus perlu diperlukan. Dalam kasus hipotensi tidak responsif terhadap cairan
intravena dan berikan terapi vasopressor. Dua vasopresor yang disarankan untuk sebagian
besar hipotensi yang diinduksi racun adalah norepinefrin (0,5-1 mg / menit) dan dopamin
(dosis awal 1-3 mg / kg / menit sampai maksimum hingga 15-30 mg / kg / menit). Namun,
norepinefrin ditemukan lebih efektif dalam kasus hipotensi refrakter, termasuk pasien yang
gagal merespon dopamin pada dosis tinggi [9]. Pemantauan jantung yang ketat, gula darah,
tanda-tanda vital dan pemantauan input dan output cairan harus dilakukan dalam setiap kasus
keracunan. Keracunan secara topikal dari kasus keracunan zat yang tidak diketahui harus
dilakukan dengan memerah permukaan tubuh dengan air mengalir atau garam dan membuang
pakaian yang terbuka, sepatu, perhiasan, dll. Juga harus dicari gigitan, luka dan tanda injeksi
pada pasien.

7. Pengosongan Lambung
Penggunaan rutin pengosongan lambung tidak dianjurkan. Data yang tersedia
menunjukkan bahwa pengosongan lambung tidak membantu dalam mengurangi
mortalitas atau morbiditas secara keseluruhan [10]. Jika pasien datang dalam keadaan
darurat setelah menelan racun dalam waktu 1 jam, maka pengosongan lambung harus
dipertimbangkan dengan menggunakan arang aktif, arang aktif multi dosis, bilas lambung
menggunakan saline dan agen spesifik dan irigasi usus keseluruhan. Untuk dosis racun
non-fatal, konsumsi dan kondisi zat non-toksin ketika toksin tidak mungkin berada di
perut (misalnya sudah muntah, lebih dari 1 jam sejak konsumsi, zat yang cepat diserap di
dalam perut), pengosongan lambung tidak disarankan.
Bilas lambung diindikasikan dalam konsumsi zat yang tidak diketahui dalam
jumlah beracun. Juga disarankan dalam keracunan besi, lithium, hidrokarbon, dan
keracunan alkohol karena zat-zat ini tidak terikat dengan arang aktif. Ini memiliki
manfaat dari 33% (13-70%) pemulihan toksin yang tertelan ketika ia memiliki risiko
aspirasi, epistaksis, trauma pada saluran napas pernapasan bagian atas, esofagus dan
perforasi lambung, pneumotoraks & aritmia [10-12].

8. Arang Aktif

Untuk bahan yang tidak diketahui, Arang biasanya diberikan untuk pengosongan
lambung. Arang aktif mengikat dengan obat dan mencegah penyerapannya melalui mukosa
lambung. Ini membantu dalam dialisis gastrointestinal dengan membantu dalam menarik
obat yang sudah diserap dari aliran darah ke usus dan dengan demikian sebagai hasilnya,
membantu dalam eliminasi obat dari tubuh. Beberapa zat menjalani resirkulasi enterohepatik.
Zat-zat ini adalah fenobarbital, theophylline, digoxin, carbamazepine, nadolol dan phenytoin.
Untuk zat-zat ini dan persiapan pelepasan berkelanjutan, beberapa dosis arang aktif mungkin
efektif jika diberikan pada interval 4 jam sampai 6 jam kecuali auskultasi didapatkan
hiperperistaltik usus. Beberapa zat seperti besi, sianida, lithium dan logam lainnya tidak
mengikat dengan arang dan karenanya penggunaannya tidak disarankan. Dosis yang
dianjurkan secara rutin dari arang aktif adalah 5–10 kali dari jumlah racun yang dicurigai.
Karena biasanya tidak mungkin menghitung jumlah toksin yang dicerna, dosis arang aktif
yang dianjurkan biasanya 1-2 g / kg setara dengan 10-25 g untuk anak-anak yang kurang dari
5 tahun dan 50-100 g untuk anak-anak yang lebih tua dan orang dewasa [13,14]. Risiko
muntah dan aspirasi dalam kasus harus diingat.

Aspirasi arang dapat menyebabkan komplikasi yang mengancam jiwa seperti


pneumonia aspirasi, sindrom gangguan pernapasan akut (ARDS), bronchiolitis obliterans dan
kematian. Dengan demikian penggunaannya tidak dianjurkan dalam kasus stupor, koma, atau
kejang pasien. Pada pasien-pasien ini sebelum pemberian arang aktif, pertahankan jalan
napas dengan tabung endotrakeal dan tabung Ryle nasogastrik harus dipasang.

9. Irigasi usus keseluruhan


Dilakukan untuk mengevakuasi/ mengeluarkan tablet dan kapsul yang tidak diabsopsi
oleh usus, zat yang tidak diabsobbsi oleh arang aktif, obat yang dilepaskan secara
berkelanjutan atau obat obatan terlarang dari saluran cerna. Prosedur ini dibuat dengan larutan
polietilen glikol yang diberikan dengan rasio 1-2 L/jam atau 25-40 ml/kg/jam untuk anak
sampai cairan yang keluar dari rectum bersih. Hal ini dapat menyebabkan diare. Prosedur ini
memiliki kontraindikasi pada kasus obstruksi usus, perforasi atau perdarahan saluran cerna.
Komplikasi dalam prosedur ini melipuri muntah, kebung, iritasi rectum.

10. Alkali Diuresis


Alkali diuresis meningkatkan eliminasi asam lemah (misalnya salisilat,
fenobarbital). Untuk diuresis alkali, 5% dextrose dalam setengah normal salin yang
mengandung 20–35 mEq / L bikarbonat diberikan pada tingkat tertentu sehingga
menghasilkan output urine 3-6 ml / kg / jam. Diuretik ditambahkan untuk mempertahankan
diuresis tetap tinggi [15-17]. PH urin dipertahnkan lebih dari 8, dan potasium harus
terpenuhi. Komplikasi yang tidak serius dari prosedur ini adalah hipernatremia, alkalemia
dan kelebihan cairan. Prosedur ini dikontraindikasikan pada kasus-kasus insufisiensi ginjal,
gagal jantung kongestif dan pada kondisi lain yang cenderung mempertahankan cairan.

11. Hemodialiasis
Hemodialisis membantu dalam menghilangkan obat-obatan dari darah yang biasanya
dihilangkan melalui ginjal dalam keadaan normal. Disarankan untuk racun berukuran kecil
yang larut dalam air, yang tidak terikat protein, dan memiliki volume distribusi kecil. Hal
ini diindikasikan ketika ada gagal ginjal, asidosis metabolik refrakter, hiperkalemia
refrakter, kelebihan cairan dan kerusakan organ berat. Racun yang bisa didialisis yang
umum adalah asam asetilsalisilat, etilen glikol, litium, metanol, dan teofilin.

12. Antidotum Spesifik


Beberapa toksin memiliki antidotum spesifik yang tersedia. Kapan pun sifat substansi
yang tidak diketahui diketahui atau dapat dicurigai sesuai petunjuk klinis. Antidotum
spesifik harus digunakan sedini mungkin untuk manajemen jika tersedia (Tabel 2, 3).

Tabel 2

Toksin Antidotum
Acetaminophen N-acetylcysteine

Antikolinergik Physostigmine

Benzodiazepin Flumazenil

Gigitan laba laba black widow Lactrodectusantivenom

Botulisme Botulinum toxin

Beta-Blockers - Glukagon
- Emulsi Lemak intravena

Calcium channel blockers - Kalsium klorida


- insulin intravena dalam dosis tinggi dengan glukosa
intravena
- Emulsi lemak intravena
Carbamates - Atropin
- Pralidoksim klorida

Sianida Antidotum Sianida kit (termasuk


Hidroksokobalamin, amil nitrat, natrium nitrit,
natrium tiosulfat)
Glikosida digitalis (misalnya Fraksinasi antibodi spesifik Digoxin
digoxin, digitoxin, oleander,
foxglove)

Dabigatranetexilate Idarucizumab
Etilena glikol - Fomepizole
- Etanol
Logam berat Chelating drugs
Radiasi ion Kalium iodida

Besi Deferoxamine

Isoniazid Pyridoxine (vitamin B6)

Metanol - Fomepizole
- Etanol

Agen pembentuk Methemoglobin - Metilen biru


(misalnya, pewarna aniline, nitrat, - Leucovorin (asam)
nitrit, phenacetin, sulfonamides)

Methotrexate Glucarpidase (c arboxypeptidase-G2)

Opioid - Nalokson hidroklorida


- Atropin

Organophosphates Pralidoxime

Sulfonylurea Octreotide

Thallium Prussian Blue

Antidepresan trisiklikRusia Sodium bikarbonat

heparin UnfractionatedProtamine

Asam valproat L-Carnitine

Warfarin - Vitamin K
- Fresh frozen plasma
- Prothrombin complex concentrate

Datura physostigmine

Tabel 3

Chelating drug Logam Dosis


Deferoxamine Iron - Jika pasien tidak dalam syok  1 gm
intramuscular awalnya dan kemudian 500
mg q4h untuk 2 dosis
- Jika pasien mengalami shock  1 gm
infus lambat intravena. Tingkat infus tidak
boleh melebihi 15 mg / kg / jam untuk
dosis pertama
Dosis maksimum 6 g dalam 24 jam

Dimercaprol, 10% Antimony Untuk arsenik dan emas (intamuskular)


dalam minyak Arsenic - Hari 1–2: 10–12 mg / kg / hari dibagi
Bismuth dalam q6hr intramuskular mendalam
Garam tembaga - Hari 3: 5–6 mg / kg / hari terbagi dalam
Gold 12 jam
Lead - Hari ke 4-14: 2,5–3 mg / kg
Mercury intramuskular dalam sekali sehari
Thallium -
Untuk merkuri
- Hari 1: 5 mg / kg dalam intramuskular
OD
- Hari 2-11: 2,5 mg / kg dalam
intramuskular q12-24h

Edetate Ca disodium Cobalt - Untuk chelation timbal : asimtomatik,


(Ca disodium Timbal kadar timbal dalam darah 20-70 mcg / dl
edathamil) terdilusi Seng Dosis: 1 gm / meter persegi intravena /
menjadi ≤ 3% Seng garam intramuskular
- Gejala ensefalopati dan / atau kadar timbal
dala darah > 70 mcg / dl
Penggunaan dengan dimercaprol selama 5
hari.
Intravena: 50 mg / kg / hari diinfuskan
selama 24 jam
Intramuscular: 250 mg / sq meter / dosis q 4
jam
Setelah 5 hari tunggu minimal 2 hari
sebelum mengulangi regimen

Penicillamine Arsenic - Untuk arsenik


Copper salt 100 mg / kg / hari Per Oral dibagi q 6j
Gold selama 5 hari
Lead
- Untuk timbal
1–1,5 gq Hari Per Oral atau dibagi BD / TDS
untuk 1-6 bulan

Succimer  Arsenic - Untuk Timbal


(paparan kerja 10 mg / kg Per oral q8hr selama 5 hari diikuti
pada orang oleh 10 mg / kg 12 jam selama 14 hari. Tidak
dewasa) melebihi 500 mg / dosis
 Garam
Kadmium - Untuk Arsenik
 Timbal jika 300 mg Per Oral q6hr selama 3 hari
anak-anak Titik akhir: arsenik urin <50 mcg / L
memiliki kadar
timbal dalam
darah > 45 mg /
dl (> 2 , 15
mmol / L)
 Timbal (paparan
kerja pada orang
dewasa)
 Merkuri
(paparan kerja
pada orang
dewasa)

13. Terapi Suportif


Pada keracunan, tindakan suportif penting untuk menenangkan pasien yang
gelisah. Untuk hal yang sama, menggunakan benzodiazepin dosis tinggi, yang memiliki
kegunaan seperti propofol. Dalam situasi ekstrim, obat relaksasi otot dan ventilasi
mekanis juga diperlukan. Antiepilepsi ditambahkan untuk mencegah kejang. Hipertermia
bisa menjadi komplikasi pada pasien yang gelisah. Sedasi agresif dan pendinginan fisik
akan membantu dalam mengendalikan hipertermia pada pasien seperti itu. Penggunaan
antipiretik tidak dianjurkan. Kondisi medis lainnya seperti hipertensi, disritmia, gagal
ginjal dan jantung, hipoglikemia, edema otak dan kebingungan, harus ditangani dengan
tepat. Hipotensi perlu dikoreksi dengan cairan infus dan dukungan vasopressor. Langkah-
langkah lain untuk hipotensi refrakter adalah pompa balon intra-aorta dan dukungan
sirkulasi extracorporeal. Pacu jantung diperlukan untuk aritmia refrakter. Intravena 2–4 g
Magnesium sulfat digunakan untuk memperbaiki Torsade de pointes. Dalam kasus
refraktori, pacu dan isoproterenol digunakan. Transplantasi organ dapat dipertimbangkan
dalam kasus kerusakan organ berat yang parah dan irreversibel.
14. Perawatan Di Rumah Sakit
Tidak semua kasus keracunan membutuhkan perawatan rumah sakit. Kasus-kasus
yang tidak rumit dengan konsumsi zat beracun yang sedikit dapat dikeluarkan setelah
melakukan observasi pasien selama beberapa jam di UGD. Meskipun dokter harus
memastikan formalitas medikolegal yang harus dibuat sebelum memulangkan pasien atau
mengelurkan pasien. Indikasi untuk dirawat rumah sakit melipuri penurunan kesadran
termasuk agitas – koma, depresi pernapasan, kegagalan sirkulasi dan kecurigaan toksisitas
yang tertunda. Evaluasi psikiatrik yang detail diperlukan dalam kasus percobaan bunuh
diri.

15. Kesimpulan

Setiap zat dalam jumlah berlebih dapat menyebabkan keracunan. Pasien harus segera
dibawa ke UGD setelah terpapar behan beracun. Anamnesis dan pemeriksaan yang teliti
mengarahkan dokter untuk mendiagnosis dan mengidentifikasi dari peristiwa keracunan.
Penatalaksanaan suportif harus dimulai segera dan pemberian antidotum spesifik jika
tersedia melawan racun yang digunakan untuk mengobati pasien. Bilas lambung bisa
dilakukan pada satu jam setelah mengkonsumsi racun yang mengancam kehidupan.
Tergantung pada racun yang terlibat, terapi khelasi, antidotum dan dialisis adalah modalitas
terapeutik untuk mengelola kasus keracunan.