Anda di halaman 1dari 28

SKENARIO 3

Why Did It Move?

A mother and her 5 years old son come to the primary health care with a chief
complain of red and itchy on his lower leg moving from one side to the other.
This complaint have existed one months ago since he was staying in the fruit farm
for holiday in Subang. Initially, there is a red spot with little stain and growing
bigger from day to day eventhough his mother has put on some topical drugs.
From what the mother says, his son likes to play with his favorite cat. Physical
examination from the sinistra lateral inferior extremity found linier and
serpiginosa papule eritema. Some area are found pustule and vesicle.

1
STEP 1

KLARIFIKASI ISTILAH

1.1 Serpiginosa
Proses yang menjalar satu jurusan yang diikuti oleh penyembuhan pada
bagian yang ditinggalkan (Dorland, 2012).

1.2 Papula eritem


Penonjolan superficial pada prmukaan kulit dengan massa padat, berbatas
tegas berdiameter < 0,5 cm dan berwarna kemerahan (Dorland, 2012).

2
STEP 2
IDENTIFIKASI MASALAH

2.1 Mengapa pasien mengeluhkan kemerahan dan gatal pada kaki bagian bawah
yang berpindah dari 1 sisi ke sisi lain?
2.2 Mengapa pasien mengeluhkan bintik merah disertai bercak kecil semakin hari
semakin banyak meski diberi obat topikal?
2.3 Bagaimana hubungan berlibur ke kebun buah dan kebiasaan bermain dengan
kucing dengan keluhan pasien?
2.4 Bagaimana interpretasi hasil pemeriksaan fisik?

3
STEP 3

CURAH PENDAPAT

3.1 Mengapa pasien mengeluhkan kemerahan dan gatal pada kaki bagian
bawah yang berpindah dari 1 sisi ke sisi lain?
Kemerahan terjadi karena adanya proses inflamasi yang melibatkan respon
imun kemudian IgE meningkat dan menyebabkan aktivasi eosinofil. Histamin
akan keluar kemudian menyebabkan vasodilatasi sehingga terjadi peningkatan
permeabilitas kapiler yang akan menimbulkan bercak kemerahan (Djuanda,
2007)
Adanya eritema dan rasa gatal yang bergerak-gerak dapat menjadi indikasi
adanya larva yang penetrasi kedalam kulit. Larva dapat menembus stratum
korneum epidermis lalu mengeluarkan enzim protease dan hialuronidase agar
dapat bermigrasi di kulit manusia. (Heukelbach, 2008) Kemudian bermigrasi
di dermoepidermal junction dengan membentuk suatu terowongan yang
menjalar dari satu tempat ke tempat lainnya (Palgunadi, 2010).

3.2 Mengapa pasien mengeluhkan bintik merah disertai bercak kecil semakin
hari semakin banyak meski diberi obat topikal?
Hal ini dikarenakan obat yang diberikan oleh ibu pasien tidak sesuai
dengan etiologi. Ibu pasien hanya memberikan obat untuk gejalanya saja atau
hanya simptomatik berupa obat gatal untuk mengurangi rasa gatal. Sehingga
tidak membunuh larva di dalamnya. Oleh karena itu, perlu diperhatikan hasil
dari anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang agar dapat
menentukan pengobatan yang tepat etiologi. (Djuanda, 2009).

3.3 Bagaimana hubungan berlibur ke kebun buah dan kebiasaan bermain


dengan kucing dengan keluhan pasien?
Adanya riwayat pasien sebelumnya pergi ke kebun buah dan suka bermain
dengan kucing dapat menjadi faktor resiko terjadinya keluhan. Karena bisa
saja ketika bermain di kebun pasien tidak mengenakan alas kaki, maka
memungkinkan adanya parasit ataupun mikroorganisme yang masuk
menembus kulit. Salah satu penyebab yang mungkin adalah larva cacing
tambang. Sebab larva cacing tambang biasanya berasal dari cacing tambang
yang hidup di usus kucing. Telur cacing di ekskresikan ke dalam feses,
kemudian larvanya menetas di tanah. Kemungkinan pasien bermain di kebun
tanpa menggunakan alas kaki kemudian kakinya berhubungan langsung
dengan tanah atau pasir yang mengandung larva cacing tambang tersebut. Hal
ini juga diperkuat dengan predileksi keluhan pasien yang ada pada tungkai
bawah, yang berarti keluhan pasien pada tungkai bawah merupakan yang

4
berhubungan langsung dengan tanah yang mengandung larva cacing tambang.
Sehingga dapat menimbulkan keluhan (Aisah, 2016).

3.4 Bagaimana interpretasi hasil pemeriksaan fisik?


Anamnesis
Gejala singkat penyakit
Perjalanan penyakit termasuk keluhan utama dan keluhan
tambahan : Larva menembus kulit tetapi tidak mencapai pembuluh darah
dan menyebar di subkutis. Pada tempat masuk larva tampak papula yang
selanjutnya menjalar berkelok-kelok, polisiklik sehingga tampak
merupakan garis liniar atau berkelok-kelok di kulit. Penderita akan merasa
gatal dan nyeri (Siregar, 2005).
Pemeriksaan fisik
Lokalisasi : Terutama punggung tangan, kaki, anus, bokong, paha dan
telapak kaki. Efloresensi dan sifat-sifntnya: Garis merah berkelok-kelok,
merupakan kumpulan papula atau vesikel (Siregar, 2005).
Pemeriksaan pembantu/ laboratorium
Mencari larva dari ujung ruam yang menjalar.
Diagnosis Kerja : Cutaneus Larva Migran
Diagnosis Banding : Scabies, Dermatofitosis dan Insect Bite (Siregar,
2005).

5
STEP 4

ANALISIS MASALAH

6
STEP 5

LEARNING OBJECTIVE

5.1 Jelaskan definisi Cutaneus Larva Migran


5.2 Jelaskan epidemiologi Cutaneus Larva Migran
5.3 Jelaskan faktor resiko Cutaneus Larva Migran
5.4 Jelaskan patogenesis Cutaneus Larva Migran
5.5 Jelaskan penatalaksanaan Cutanues Larva Migran
5.6 Jelaskan prognosis Cutaneus Larva Migran
5.7 Jelaskan morfologi dan siklus hidup cacing Ancylostoma sp
5.8 Jelaskan mengenai definisi Insect bite
5.9 Jelaskan epidemiologi Insect bite
5.10 Jelaskan etiologi Insect bite
5.11 Jelaskan patogenesis Insect bite
5.12 Jelaskan gambaran klinis Insect bite
5.13 Jelaskan pemeriksaan penunjang Insect bite
5.14 Jelaskan penatalaksanaan Insect bite
5.15 Jelaskan komplikasi Insect bite
5.16 Jelaskan prognosis Insect bite
5.17 Jelaskan definisi scabies
5.18 Jelaskan manifestasi scabies
5.19 Jelaskan penegakkan diagnosis scabies
5.20 Jelaskan mengenai definisi Dermatofitosis
5.21 Jelaskan epidemiologi Dermatofitosis
5.22 Jelaskan etiologi Dermatofitosis
5.23 Jelaskan patogenesis Dermatofitosis
5.24 Jelaskan gambaran klinis Dermatofitosis
5.25 Jelaskan pemeriksaan penunjang Dermatofitosis
5.26 Jelaskan penatalaksanaan Dermatofitosis
5.27 Jelaskan komplikasi Dermatofitosis
5.28 Jelaskan prognosis Dermatofitosis

7
STEP 6

BELAJAR MANDIRI

8
STEP 7

REPORTING
7.1 Jelaskan definisi Cutaneus Larva Migran
Cutaneous larva migrans (CLM) merupakan kelainan kulit yang
merupakan peradangan yang berbentuk linear atau berkelok-kelok,
menimbul dan progresif, disebabkan oleh invasi cacing tambang yang
berasal dari kucing dan anjing, yaitu Ancylostoma braziliense, Ancylostoma
caninum, dan Ancylostoma ceylanicum (Aisah, 2010).
7.2 Jelaskan epidemiologi Cutaneus Larva Migran
CLM terjadi di seluruh daerah tropis dan subtropis di dunia, terutama di
daerah yang lembab dan terdapat pesisir pasir. Di Amerika Serikat, penyakit
ini sebagian besar terjadi di negara bagian tenggara, terutama Florida, tetapi
dapat juga ditemukan secara sporadik di negara bagian lain. Kasus CLM
telah dilaporkan di Jerman, Prancis, Inggris, Selandia Baru, dan Amerika
Serikat(Aisah, 2010).
CLM endemik di masyarakat kurang mampu di negara berkembang,
seperti Brazil, India, dan Hindia Barat. Sebuah studi di Manaus, Brazil,
menunjukkan prevalensi CLM pada anak-anak selama musim hujan berkisar
9,4%. Di daerah perkumuhan di Timur Laut Brazil, didapati lebih dari 4%
dari keseluruhan populasi dan 15% pada anak-anak menderita CLM (Aisah,
2010).
Secara geografis, distribusi CLM mencerminkan distribusi geografi
Ancylostoma braziliense. Sebagian besar kasus yang dilaporkan adalah
wisatawan yang sering berkunjung ke daerah pantai. Ancylostoma
braziliense endemik pada anjing dan kucing, sering ditemukan di sepanjang
Pantai Atlantik Amerika Utara bagian tenggara, Teluk Meksiko, Laut
Karibia, Uruguay, Afrika (Afrika Selatan, Somalia, Republik Kongo, Sierra
Leone), Australia, dan Asia. Penyakit ini tidak muncul setelah terpapar
pantai yang tidak terdapat Ancylostoma braziliense, misalnya Pantai Pasifik
Amerika Serikat dan Meksiko(Aisah, 2010).

9
7.3 Jelaskan faktor resiko Cutaneus Larva Migran
A. Faktor prilaku
a. Kebiasaan tidak menggunakan alas kaki, Adanya bagian tubuh yang
berkontak langsung dengan tanah yang terkontaminasi akan
mengakibatkan larva dapat melakukan penetrasi ke kulit sehingga
menyebabkan CLM (Aisah. 2010).
b. Pengobatan teratur terhadap anjing dan kucing, Penyebab utama CLM
adalah larva cacing tambang yang berasal dari anjing dan
kucing.Perawatan rutin anjing dan kucing, termasuk de-worming
secara teratur dapat mengurangi pencemaran lingkungan oleh telur dan
larva cacing tambang (Aisah. 2010).
c. Berlibur ke daerah tropis atau pesisir pantai, Kondisi biogeografis yang
hangat dan lembab menyebabkan banyak terdapat larva penyebab
penyakit ini di daerah tropis. Selain itu, kebiasaan wisatawan untuk
berjalan di pesisirpantai tanpa menggunakan sandal dan berjemur di
pasir tanpa menggunakan alas menyebabkan banyaknya laporan
kejadian CLM dari wisatawan yang baru berlibur ke pantai. Sebuah
penelitian pada wisatawan international yang baru meninggalkan
Brazil bagian Timur Laut di bandara menunjukkan bahwa semua
wisatawan yang menderita CLM telah mengunjungi pantai selama
liburannya (Aisah. 2010).
B. Faktor lingkungan
a. Keberadaan anjing dan kucing, Anjing dan kucing merupakan hospes
definitif dari cacing Ancylostoma braziliense, Ancylostoma
ceylanicum, dan Ancylostoma caninum. Tinja anjing dan kucing yang
terinfeksi dapat mengandungtelur cacing Ancylostoma braziliense,
Ancylostoma ceylanicum dan caninum. Telur tersebut dapat
berkembang menjadi stadium larva yang infektif (filariform) pada tanah
dan pasir yang terkontaminasi. Larva filariform dari cacing tersebut
apabila kontak dengan kulit manusia, dapat menembus kulit dan
menyebabkan CLM (CDC, 2012).

10
b. Cuaca atau iklim lingkungan, Ada variasi musiman yang berbeda pada
kejadian CLM, dengan puncak kejadian selama musim hujan. Telur dan
larva bertahan lebih lama di tanah yang basah dibandingkan di tanah
yang kering dan dapat tersebar secara luas oleh hujan yang deras. Selain
itu, iklim yang lembab juga mengakibatkan peningkatan infeksi cacing
tambang di anjing dan kucing sehingga pada akhirnya meningkatkan
jumlah tinja yang terkontaminasi dan risiko infeksi pada manusia
(CDC, 2012).
c. Tinggal di daerah dengan keadaan pasir atau tanah yang lembab Telur
Ancylostoma braziliense, Ancylostoma ceylanicum, dan Ancylostoma
caninum dikeluarkan bersama tinja anjing dan kucing. Pada keadaan
lingkungan yang lembab dan hangat, telur akan menetas menjadi larva
rabditiform dan kemudian menjadi larva filariform yang infektif. Larva
filariform inilah yang akan melakukan penetrasi ke kulit dan
menyebabkan CLM (CDC, 2012).
C. Faktor demografis
a. Usia, CLM paling sering terkena pada anak berusia ≤4 tahun. Hal ini
disebabkan karena anak pada usia tersebut masih jarang menggunakan
alas kaki saat keluar rumah. Pada penelitian tersebut juga didapatkan
bahwa usia merupakan faktor demografis yang hubungannya paling
signifikan dengan kejadian CLM (Aisah, 2010).
b. Pekerjaan, Larva infektif penyebab CLM terdapat pada tanah atau pasir
yang lembab. Orang yang pekerjaannya sering kontak dengan tanah
atau pasir tersebut dapat meningkatkan risiko terinfeksi larva CLM.
Pekerjaan yang memiliki risiko teinfeksi larva penyebab CLM
diantaranya petani, nelayan, tukang kebun, pemburu, penambang pasir
dan pekerjaan lain yang sering kontak dengan tanah atau pasir (Aisah,
2010).
c. Tingkat pendidikan, Suatu penelitian tentang prevalensi dan faktor
risiko CLM di Brazil menunjukkan, dari 1114 penduduk pedesaan,
didapati 23 dari 354 (6,5%) penduduk dengan tingkat pendidikan
rendah menderita CLM, sedangkan pada penduduk dengan tingkat

11
pendidikan tinggi, didapati 34 dari 760 (4,5%) orang menderita CLM
(Aisah, 2010).
7.4 Jelaskan patogenesis Cutaneus Larva Migran
Telur pada tinja menetas di permukaan tanah dalam waktu 1 hari dan
berkembang menjadi larva infektif tahap ketiga setelah sekitar 1 minggu.
Larva dapat bertahan hidup selama beberapa bulan jika tidak terkena
matahari langsung dan berada dalam lingkungan yang hangat dan lembab.
Kemudian jika terjadi kenaikan suhu, maka larva akan mencari pejamunya.
Setelah menempel pada manusia, larva merayap di sekitar kulit untuk
tempat penetrasi yang sesuai. Akhirnya, larva menembus ke lapisan
korneum epidermis. Larva infektif mengeluarkan protease dan hialuronidase
agar dapat bermigrasi di kulilt manusia. Selanjutnya, larva bermigrasi
melalui jaringan subkutan membentuk terowongan yang menjalar dari satu
tempat ke tempat lainnya (Aisah, 2010).
Pada hewan, larva mampu menembus dermis dan melengkapi siklus
hidupnya dengan berkembang biak di organ dalam. Pada manusia, larva
tidak memiliki enzim kolagenase yang cukup untuk menembus membran
basal dan menyerang dermis, sehingga larva tersebut tidak dapat
melanjutkan perkembangan siklus hidupnya. Akibatnya, selamanya larva
terjebak di jaringan kulit penderita hingga masa hidup dari cacing ini
berakhir (Aisah, 2010).
7.5 Jelaskan penatalaksanaan Cutanues Larva Migran
a. Farmakologi
Obat pilihan utama pada CLM adalah ivermectin. Dosis tunggal
(200 μg/kg berat badan) dapat membunuh larva secara efektif dan
menghilangkan rasa gatal dengan cepat. Angka kesembuhan dengan
dosis tunggal berkisar 77% sampai 100%. Dalam hal kegagalan
pengobatan, dosis kedua biasanya dapat memberikan kesembuhan.
Ivermectin kontradiksi pada anak-anak dengan berat kurang dari 15 kg
atau berumur kurang dari 5 tahun dan pada ibu hamil atau wanita
menyusui. Namun, pengobatan offlabel pada anak-anak dan ibu hamil

12
sudah pernah dilakukan dengan tanpa adanya laporan kejadian
merugikan yang signifikan (Aisah, 2010).
Dosis tunggal ivermectin lebih efektif daripada dosis tunggal
albendazol, tetapi pengobatan berulang dengan albendazol dapat
dilakukan sebagai alternatif yang baik di negara-negara dimana
ivermectin tidak tersedia. Oral albendazol (400 mg setiap hari) yang
diberikan selama 5-7 hari menunjukkan tingkat kesembuhan yang
sangat baik, dengan angka kesembuhan mencapai 92-100%. Karena
dosis tunggal albendazol memiliki efikasi yang rendah, albendazol
dengan regimen tiga hari biasanya lebih direkomendasikan. Jika
diperlukan, dapat dilakukan pendekatan alternatif dengan dosis awal
albendazol dan mengulangi pengobatan (Aisah, 2010).
Tiabendazol (50 mg per kg berat badan selama 2-4 hari) telah
digunakan secara luas sejak laporan mengenai efikasinya pada tahun
1963. Namun, yang diberikan secara oral memiliki toleransi yang
buruk. Selain itu, penggunaan tiabendazol secara oral sering menimbul
efek samping berupa pusing, mual muntah, dan keram usus. Karena
penggunaan ivermectin dan albendazol secara oral menunjukkan hasil
yang baik, penggunaan tiabendazol secara oral tidak direkomendasikan.
Penggunaan tiabendazol secara topikal pada lesi dengan
konsentrasi 10- 15% tiga kali sehari selama 5-7 hari terbukti memiliki
efektivitas yang sama dengan pengguaan ivermectin secara oral.
Penggunaan secara topikal didapati tidak memiliki efek samping, tetapi
memerlukan kepatuhan pasien yang baik. Tiabendazol topikal terbatas
pada lesi multipel yang luas dan tidak dapat digunakan pada folikulitis.
Ivermectin dan albendazol adalah gabungan yang menjanjikan untuk
penggunaan topikal, terutama untuk anak-anak, namun data efikasi
untuk penggunaan ini masih terbatas. Infeksi sekunder harus ditangani
dengan antiobiotik topikal (Aisah, 2010).
Cara terapi lain ialah dengan cryotherapy yakni menggunakan CO2
snow dry ice) dengan penekanan selama 45 detik sampai 1 menit, dua
hari berturutturut. Selain itu, dapat juga dilakukan dengan

13
menggunakan nitrogen liquid dan penyemprotan kloretil sepanjang lesi.
Akan tetapi, ketiga cara tersebut sulit karena sulit untuk mengetahui
secara pasti dimana larva berada. Di samping itu, cara ini dapat
menimbulkan nyeri dan ulkus. Pengobatan dengan cara ini sudah lama
ditinggalkan (Aisah, 2010).
b. Nonfarmakologi
 Mencegah bagian tubuh untuk berkontak langsung dengan tanah
atau pasir yang terkontaminasi.
 Saat menjemur pastikan handuk atau pakaian tidak menyentuh
tanah.
 Melakukan pengobatan secara teratur terhadap anjing dan
kucing dengan antihelmintik.
 Hewan dilarang untuk berada di wilayah pantai ataupun taman
bermain.
 Menutup lubang-lubang pasir dengan plastik dan mencegah
binatang defekasi di lubang tersebut.
 Wisatawan disarankan untuk menggunakan alas kaki saat
berjalan di pantai dan menggunakan kursi saat berjemur.
Akan tetapi, pada masyarakat yang kurang mampu, keterbatasan
finansial mengakibatkan sulitnya masyarakat untuk memberikan
pengobatan yang teratur terhadap anjing dan kucing. Sehingga
pada akhirnya, pemberantasan cacing tambang pada binatang
hanya bisa dilakukan dengan cara melakukan pengontrolan yang
terintegrasi antara pihak kesehatan masyarakat, antropologis
medis, dokter hewan, dan masyarakat. (CDC, 2012).
7.6 Jelaskan prognosis Cutaneus Larva Migran
CLM termasuk ke dalam golongan penyakit self-limiting. Pada akhirnya,
larva akan mati di epidermis setelah beberapa minggu atau bulan. Hal ini
disebabkan karena larva tidak dapat menyelesaikan siklus hidupnya pada
manusia. Lesi tanpa komplikasi yang tidak diobati akan sembuh dalam 4-8
minggu, tetapi pengobatan farmakologi dapat memperpendek perjalanan
penyakit (Aisah, 2010).

14
7.7 Jelaskan morfologi dan siklus hidup cacing Ancylostoma sp
Morfologi Ancylostoma sp
Ancylostoma caninum mempunyai tiga pasang gigi. Panjang cacing jantan
dewasa Ancylostoma caninum berukuran 11-13 mm dengan bursa
kopulatriks dan cacing betina dewasa berukuran 14-21 mm. Cacing betina
meletakkan rata-rata 16.000 telur setiap harinya (Aisah, 2010).
Morfologi Ancylostoma braziliense mirip dengan Ancylostoma caninum,
tetapi kapsul bukalnya memanjang dan berisi dua pasang gigi sentral. Gigi
sebelah lateral lebih besar, sedangkan gigi sebelah medial sangat kecil.
Selain itu, pada Ancylostoma braziliense juga terdapat sepasang gigi
segitiga di dasar bukal kapsul. Cacing betina berukuran 6-9 mm dan cacing
jantan berukuran 5-8 mm. Cacing betina dapat mengeluarkan telur 4.000
butir setiap hari. Morfologi Ancylostoma ceylanicum juga hampir sama
dengan A. braziliense dan A. caninum, hanya saja pada rongga mulut A.
ceylanicum terdapat terdapat dua pasang gigi yang tidak sama besarnya
(Aisah, 2010).

Gambar 1 : bagian kepala ancylostoma caninum

15
Gambar 2 : larva filaryform

Siklus hidup Ancylostoma sp

Telur keluar bersama tinja pada kondisi yang menguntungkan (lembab,


hangat, dan tempat yang teduh). Setelah itu, larva menetas dalam 1-2 hari.
Larva rabditiform tumbuh di tinja dan/atau tanah, dan menjadi larva
filariform (larva stadium tiga) yang infektif setelah 5 sampai 10 hari.
Larva infektif ini dapat bertahan selama 3 sampai 4 minggu di kondisi
lingkungan yang sesuai. Pada kontak dengan pejamu hewan (anjing dan
kucing), larva menembus kulit dan dibawa melalui pembuluh darah
menuju jantung dan paru-paru. Larva kemudian menembus alveoli, naik
ke bronkiolus menuju ke faring dan tertelan. Larva mencapai usus kecil,
kemudian tinggal dan tumbuh menjadi dewasa. Cacing dewasa hidup
dalam lumen usus kecil dan menempel di dinding usus. Beberapa larva
ditemukan di jaringan dan menjadi sumber infeksi bagi anak anjing
melalui transmammary atau transplasenta. Manusia juga dapat terinfeksi
dengan cara larva filariform menembus kulit. Pada sebagian besar spesies,
larva tidak dapat berkembang lebih lanjut di tubuh manusia dan bermigrasi
tanpa tujuan di epidermis. Beberapa larva dapat bertahan pada jaringan
yang lebih dalam setelah bermigrasi di kulit (CDC, 2012).

16
7.8 Jelaskan mengenai definisi Insect bite
Insect bite (gigitan serangga) adalah kelainan akibat dari gigitan atau
sengatan serangga yang disebabkan oleh reaksi terhadap toksin atau alergen
yang dikeluarkan artropoda penyerang. Serangga penggigit tersebut
menyebabkan efek negatif pada makhluk hidup yang terkena sengatnya.
(Karmen, 2006)
7.9 Jelaskan epidemiologi Insect bite
Inisidens pada gigitan serangga dapat mengenai semua umur, tetapi bayi
dan anak-anak lebih rentan terkena gigitan serangga dibandingkan dengan
orang dewasa dan frekuensi yang sama pada pria dan wanita. Dari literatur
juga menunjukkan bahwa lingkungan menjadi salah satu faktor, seperti
perkebunan, persawahan, dll. (Elston DM, 2007)
7.10 Jelaskan etiologi Insect bite
Insekta termasuk bagian dari artropoda. Dimana insekta terdiri dari :
a. Anoplura (misal : Lice/kutu), ada 2 spesies yaitu Phthirius pubis dan
Pediculus humanus,
b. Coleoptera (terdapat 5 famili yang memproduksi bahan kimia yang dapat
menyebabkan inflamasi, yaitu : Meloidae (misal : kumbang),
Staphylinidae, Coccinellidae, and edemeridae)
c. Diptera (misal : lalat)
d. Hemiptera ( hama )
e. Hymenoptera ( lebah dan tawon )

17
f. Lepidoptera ( kupu-kupu dan ngangat )
g. Siphonaptera ( kutu/fleas ). (Elston DM, 2007)
7.11 Jelaskan patogenesis Insect bite
Gigitan atau sengatan serangga menyebabkan luka kecil. Kemudian, lesi
yang terjadi menyebabkan sistem imun tubuh bekerja sebagai respon
terhadap benda asing yang masuk (dalam hal ini gigitan atau sengatan
serangga) dengan mengeluarkan antibodi. Hipersensitivitas yang terjadi
pada lesi terhadap kulit akibat gigitan atau sengatan serangga melalui
mediatornya yang disebut immunoglobulin E (IgE). Akibat reaksi tersebut
bisa memberikan rasa gatal dan effloresensi berupa papul, nodul dan vesikel
biasanya timbul +48 jam setelah gigitan atau sengatan tersebut. Manifestasi
tersebut merupakan suatu reaksi delayed hypersensitivity (type IV cell-
mediated immunity) melalui antigen selama gigitan tersebut. (Elston DM,
2007).
Sebuah gigitan atau sengatan dapat menyuntikkan racun (bisa) yang
tersusun dari protein dan substansi lain yang mungkin memicu reaksi alergi
kepada penderita. Gigitan serangga juga mengakibatkan kemerahan dan
bengkak dilokasi yang tersengat. (Wilson Dcet al, 1999)
Sengatan dan saliva adalah suatu komponen yang kompleks dari gigitan
serangga yang menyebabkan luka kecil. Reaksi awal yang berperan pada
reaksi adalah histamin, serotonin, formic acid atau kinin. Selanjutnya terjadi
perlambatan reaksi yang merupakan manifestasi tipikal dari respon imun
dari host terhadap alergen protein-aceous. (Elston DM. Bites and Stings.,
2003)
Misalnya gigitan dari lebah, tawon, penyengat, dan semut api adalah
bagian dari Hymenoptera. Gigitan atau sengatan dari mereka dapat
menyebabkan reaksi yang cukup serius pada orang yang alergi terhadap
mereka. Kematian yang diakibatkan oleh serangga 3-4 kali lebih sering dari
pada kematian yang diakibatkan oleh sengatan ular. Lebah, tawon, dan
semut api berbeda-beda dalam menyengat. (Rohmi N, 2006)
Ketika lebah menyengat, dan melepaskan seluruh alat sengatnya, pada saat
menyengat, lebah tersebut mati ketika proses menyengat itu terjadi. Seekor

18
tawon dapat menyengat berkali-kali karena tawon tidak melepaskan seluruh
alat sengatnya setelah ia menyengat. Sedangkan semut api menyengatkan
racunnya (bisanya) dengan menggunakan rahangnya dan memutar
tubuhnya. Mereka dapat menyengatkan racun (bisa) berkali-kali. (Rohmi N,
2006).
7.12 Jelaskan gambaran klinis Insect bite
Gejala dari gigitan serangga bermacam-macam dan tergantung dari
berbagai macam faktor yang mempengaruhi. Gejala sangat tergantung pada
jenis serangga dan individu. Kebanyakan gigitan serangga menyebabkan
kemerahan, bengkak, nyeri, dan gatal-gatal di sekitar area yang terkena
gigitan atau sengatan serangga tersebut. (Moschella SL et al, 2008)

Eritematous akibat gigitan serangga

Kulit yang terkena gigitan bisa rusak dan terinfeksi jika daerah yang terkena
gigitan tersebut terluka. Urtikaria papular juga bisa terjadi sementara. Gatal
sebagai petanda, dan lesi 1-4 mm urtikaria papul eritemaatous. Lesi sering
terasa gatal dan terdapat ekskoriasi papul karena garukan akibat gatal. Jika
luka tersebut tidak dirawat, maka akan mengakibatkan peradangan akut
(Rohmi N, 2006).

Rasa gatal dengan bintik-bintik merah dan bengkak, sesak napas, dan
pingsan merupakan gejala dari reaksi yang disebut anafilaksis. Ini juga
diakibatkan karena alergi pada gigitan serangga. Gigitan serangga juga
mengakibatkan bengkak pada tenggorokan dan kematian karena gangguan
pernafasan. (Rohmi N, 2006)

19
7.13 Jelaskan pemeriksaan penunjang Insect bite
A. Pemeriksaan Laboratorium
Pemeriksaan darah lengkap untuk melihat eosinofil, khususnya jika pasien
demam dan dicurigai terjadi infeksi bakteri sekunder. Juga dapat dilakukan
tes tusuk dengan alergen tersangka. Tes serologi dapat membantu untuk
diagnosis arthropod-borne disease. ((Elston DM, 2007)
B. Pemeriksaan Histologi
Biopsi untuk preparat histologi dapat memberikan informasi gigitan dan
sengatan artropoda yang memproduksi a wedge-shape infiltrat perivaskular
yang banyak terdapat limfosit dan eosinofil. Reaksi gigitan bulla sebagai
inflamasi subepidermal.8 Pada urtikaria papular, terdapat edema pada
dermis papilar yang prominen dan infiltrat eosinofil pada inflamasi kronik
perivaskular.( Burns DA., 1998)
Diagnosis awal gigitan serangga selain anamnesa juga dilakukan
pemeriksaan fisis yaitu inspeksi, palpasi pada kulit. Serta adanya riwayat
gigitan serangga sebelumnya penting untuk diketahui. Adanya gambaran
klinis, seperti gatal, bengkak ataupun rasa terbakar, dan lesi 1-4 mm
urtikaria papul eritematous. Lesi sering terasa gatal dan terdapat ekskoriasi
papul karena garukan akibat gatal. (Elston DM., 2003)
7.14 Jelaskan penatalaksanaan Insect bite
Keberhasilan pengobatan tergantung pada hubungan faktor etiologi pada
setiap individu walaupun secara umum mengikuti standar pengobatan.
Terapi langsung yang sering digunakan untuk mengatasi gatal dan infeksi

20
sekunder. Gatal adalah keluhan primer dari gigitan serangga. (Rohmi N,
2006).
Terapi topikal yang terdiri dari mentol, phenol, atau camphor mungkin
diberikan untuk penanganan awal, dapat juga diberikan antihistamin oral
seperti diphenyhidramin 25-50 mg untuk mengurangi rasa gatal. Histamin
meningkatkan permaebilitas kapiler dan ini merupakan efek sekunder
terhadap pembuluh darah kecil. Akibatnya protein dan cairan plasma keluar
ke ruangan ekstrasel dan menimbulkan udem. Efek ini jelas disebabkan oleh
peranan histamin reseptor H1. Antihistamin bermanfaat untuk mengobati
reaksi hipersensitivitas atau keadaan lain yang disertai penglepasan histamin
endogen berlebihan. (Sjamsudin U, Dewoto HR., 1998)
Topikal steroid mungkin juga sangat membatu untuk reaksi yang sensitif
terhadap gigitan tersebut. Pasien dengan gigitan yang banyak dan reaksi
berat dapat dianjurkan istirahat total dan diberikan steroid sistemik dosis
sedang. Infeksi sekunder dapat dikontrol dengan pemberian terapi topikal
dan antibiotik oral. ((Moschella SL, Hurley HJ, eds., 1992)
Pencegahan pada gigitan serangga juga dibutuhkan yaitu penangkal
insekta (insect repellents). Dimana penangkal insekta ini berbeda dengan
insektisida, penangkal ini tidak membunuh insekta, tapi mencegah gigitan
ataupun sentuhan pada kulit. Efektifnya penangkal ini karena nontoksik,
nonalergen, noniritan, tidak merusak pakaian, mudah digunakan dan murah.
(Moschella SL, Hurley HJ, eds., 1992)
Iinsect repellents yang sangat efektif adalah diethyltoluamide (DEET).
Selain dari itu, juga terdapat dimethyl phthalate, dymethylcarbate, ethyl
hexanediol, butopyronoxyl (indalone) dan benzyl benzoate. Kombinasi 2
atau 3 dari penangkal insekta dapat lebih efektif dibandingkan hanya satu.
(Moschella SL, Hurley HJ, eds., 1992)
7.15 Jelaskan komplikasi Insect bite
Gigitan serangga adalah variable tergantung pada faktor. Akibat dari
sengat atau gigitan serangga adalah bengkak, merah, dan rasa gatal pada
area yang digigit. Bahkan dapat terjadi gangguan pernafasan, pingsan dan
bahkan kematian, tergantung dari racun (bisa) akibat sengatan. Kulit akan

21
terinfeksi apabila daerah yang tersengat serangga di garuk berkali-kali maka
akan terjadi peradangan gigitan yang mengakibatkan suatu kondisi yang
disebut selulitis. (Karmen, 2006)
7.16 Jelaskan prognosis Insect bite
Prognosis dari gigitan serangga tergantung vektor insekta, lokasi dan
kuantitas gigitan.( Karmen, 2006)
7.17 Jelaskan definisi scabies
Skabies adalah penyakit kulit yang disebabkan oleh infestasi dan
sensitisasi terhadap tungau Sarcoptes scabiei varian hominis beserta
produknya (Aisah dan Handoko, 2016).
7.18 Jelaskan manifestasi scabies
Diketahui ada 4 tanda utama atau tanda kardinal pada infestasi skabies,
antara lain:

1. Pruritus nokturnal
Pruritus nokturnal adalah rasa gatal terasa lebih hebat pada malam hari
karena meningkatnya aktivitas tungau akibat suhu yang lebih lembab dan
panas. Sensasi gatal yang hebat seringkali mengganggu tidur dan penderita
menjadi gelisah. Pada infeksi inisial, gatal timbul setelah 3 sampai 4
minggu, tetapi paparan ulang menimbulkan rasa gatal hanya dalam waktu
beberapa jam (Aisah dan Handoko, 2016).
2. Sekelompok orang
Penyakit ini menyerang manusia secara kelompok, sehingga biasanya
mengenai seluruh anggota keluarga. Begitu pula dalam sebuah pemukiman
yang padat penduduknya, skabies dapat menular hampir ke seluruh
penduduk. Di dalam kelompok mungkin akan ditemukan individu yang
hiposensitisasi, walaupun terinfestasi oleh parasit sehingga tidak
menimbulkan keluhan klinis akan tetapi menjadi pembawa (carier) bagi
individu lain (Aisah dan Handoko, 2016).
3. Adanya terowongan (kunikulus)
Lesi yang patognomonik adalah terowongan yang tipis dan kecil seperti
benang, berstruktur linear kurang lebih 1-10 mm, berwarna putih abu-abu,
pada ujung terowongan ditemukan papul atau vesikel yang merupakan

22
hasil dari pergerakan tungau di dalam stratum korneum. Terowongan ini
terlihat jelas kelihatan di sela-sela jari, pergelangan tangan, dan daerah
siku. Akan tetapi, terowongan tersebut sukar ditemukan di awal infeksi
karena aktivitas menggaruk pasien yang hebat. Kelangsungan hidup
Sarcoptes scabiei sangat bergantung kepada kemampuannya meletakkan
telur, larva, dan nimfa di dalam stratum korneum. Oleh karena itu, tungau
ini sangat menyukai bagian kulit yang memiliki stratum korneum yang
relatif lebih tipis, seperti sela-sela jari tangan, telapak tangan bagian
lateral, pergelangan tangan bagian volar, siku bagian luar, lipat ketiak
bagian depan, areola mammae (wanita), umbilicus, bokong, genitalia
eksterna (pria). Lesi yang timbul berupa eritema, krusta, ekskoriasi, papul,
dan nodul. Erupsi eritematous dapat tersebar di bagian badan sebagai
reaksi hipersensitivitas terhadap antigen tungau. Bila ada infeksi sekunder
ruam kulitnya menjadi polimorf (pustul, ekskoriasi, dan lain-lain) (Aisah
dan Handoko, 2016).

23
Tempat predileksi skabies

4. Menemukan Sarcoptes scabiei


Apabila kita dapat menemukan terowongan yang masih utuh kemungkinan
besar kita dapat menemukan tungau dewasa, larva, nimfa, maupun skibala
(fecal pellet) yang merupakan poin diagnosis pasti. Akan tetapi, kriteria
yang keempat ini agak susah ditemukan karena hampir sebagian besar
penderita pada umumnya datang dengan lesi yang sangat variatif dan tidak
spesifik. Pada kasus skabies yang klasik, jumlah tungau sedikit sehingga
diperlukan beberapa lokasi kerokan kulit. Teknik pemeriksaan ini sangat
tergantung pada operator pemeriksaan, sehingga kegagalan menemukan
tungau sering terjadi namun tidak menyingkirkan diagnosis scabies (Aisah
dan Handoko, 2016).
7.19 Jelaskan penegakkan diagnosis scabies
Diagnosis klinis ditetapkan berdasarkan anamnesis yaitu adanya dua dari
empat tanda kardinal yaitu pruritus nokturna dan erupsi kulit berupa papul,
vesikel, dan pustul di tempat predileksi, distribusi lesi yang khas,
terowongan-terowongan pada predileksi, adanya penyakit yang sama pada
orang-orang sekitar. Terowongan terkadang sulit ditemukan, dan petunjuk
yang lazim adalah penyebaran yang khas. Infestasi skabies sering disertai

24
infeksi sekunder sehingga erupsi kulit tidak khas lagi dan menyulitkan
pemeriksaan (Aisah dan Handoko, 2016).
Diagnosis skabies disingkirkan dari diagnosis banding Cutaneous Larva
Migrans, sebab terowongan pada scabies tidak sepanjang pada Cutaneous
Larva Migrans. Tempat predileksinya juga berbeda. Pada skabies
predileksinya sering pada bagian kulit yang memiliki stratum korneum yang
relatif lebih tipis, seperti sela-sela jari tangan, telapak tangan bagian lateral,
pergelangan tangan bagian volar, siku bagian luar, lipat ketiak bagian depan,
areola mammae (wanita), umbilicus, bokong, genitalia eksterna (pria). Lesi
yang timbul berupa eritema, krusta, ekskoriasi, papul, dan nodul. Sedangkan
pada Cutaneous Larva Migrans tempat predileksi sering yaitu pada tempat
yang mengalami kontak langsung dengan tanah yang mengandung larva,
lesi yang timbul juga biasanya terlihat seperti benang lurus atau berkelok-
kelok, serpiginosa, menimbul, membentuk terowongan dan terdapat papul
atau vesikel diatasnya (Aisah, 2016).
7.20 Jelaskan mengenai definisi Dermatofitosis
Dermatofitosis adalah infeksi jamur superfisial disebabkan oleh
dermatofita yang memiliki kemampuan untuk melekat pada keratin dan
menggunakannya sebagai sumber nutrisi, dengan menyerang jaringan
berkeratin, seperti stratum korneum pada epidermis, rambut, dan kuku
(Verma, 2008).
Dermatofita merupakan kelompok taksonomi jamur kulit superfisial. Yang
terdiri dari 3 genus, yaitu Microsporum, Trichophyton, dan Epidermophyton
(Djuanda, 2010).
Kemampuannya untuk membentuk ikatan molekuler terhadap keratin dan
menggunakannya sebagai sumber makanan menyebabkan mereka mampu
berkolonisasi pada jaringan keratin. Dermatofitosis tersebar diseluruh dunia
dengan prevalensi berbedabeda pada tiap negara (Abbas, 2012).
Penelitian World HealthOrganization (WHO) terhadap insiden dari infeksi
dermatofit menyatakan 20% orang dari seluruh dunia mengalami infeksi
kutaneus dengan infeksi tinea korporis merupakan tipe yang paling dominan
dan diikuti dengan tinea kruris, pedis, dan onychomycosis (Abbas, 2012).

25
7.21 Jelaskan klasifikasi Dermatofitosis
7.22 Jelaskan etiologi Dermatofitosis
7.23 Jelaskan patogenesis Dermatofitosis
7.24 Jelaskan gambaran klinis Dermatofitosis
7.25 Jelaskan pemeriksaan penunjang Dermatofitosis
7.26 Jelaskan penatalaksanaan Dermatofitosis
7.27 Jelaskan komplikasi Dermatofitosis
7.28 Jelaskan prognosis Dermatofitosis

26
STEP 8

PENUTUP

8.1 Kesimpulan

8.2 Saran

27
DAFTAR PUSTAKA

1. Burns DA. Diseases Caused by Arthropoda and Other Noxious Animals.


in: Burns T, Breathnach S, Cox N, Griffiths C, eds. Rook’s Textbook of
Dermatology 7th Volume II. London: Blackwell Science; 1998.p.33.3
2. Elston DM. Bites and Stings. in: Bolognia JL, Jorizzo JL, Rapini RP, eds.
Dermatology 1st ed. London: Mosby; 2003.p.1333-4
3. Elston DM. Bites and Stings. in: Bolognia JL, Jorizzo JL, Rapini RP, eds.
Dermatology 1st ed. London: Mosby; 2003.p.1333-4
4. Elston DM. Insect Bite. [online]. 2007 [cited 2008 June 15]: [13 sreens].
Avalaible from: URL: http://www.emedicine.com/derm/topic467.htm
5. Johnson and Johnson Consumer Companies, Inc. Insect Bites. [online].
2008 [cited 2008 June 15]: [2 screens]. Available from: URL:
http://www.johnson&johnson.com/itch_insect_bite.jsp.htm
6. Karmen. Insect Bites. [online]. 2006 [cited 2008 June 13]: [3 screens].
Available from: URL: http://www.fkuii.insectbites7
7. Moschella SL, Hurley HJ, eds. Dermatology 3rd ed. Philadelphia: WB.
Saunders Company; 1992.p.1971
8. Moschella SL, Hurley HJ, eds. Dermatology 3rd ed. Philadelphia: WB.
Saunders Company; 1992.p.1971
9. Rohmi N. Insect Bites. [online]. 2006 [cited 2008 June 13]: [4 screens].
Available from: URL: http://www.fkuii.insectbites7
10. Sjamsudin U, Dewoto HR. Histamin dan Antialergi. in: Ganiswarna SG,
Setiabudy R, Suyatna FD, Purwantyastuti, Nafrialdi, eds. Farmakologi dan
Terapi. Indonesia: Bagian Farmakologi FK UI; 1998.p.249-52
11. Wilson DC, King LE. Arthropod Bites and Stings. in: Freedberg IM, Eisen
AZ, Wolff K, Austen KF, Goldsmith LA, Katz SI, Fitzpatrick TB, eds.
Dermatology in General Medicine 5th Volume II. New york: McGraw-
Hill; 1999.p.2685-91

28