Anda di halaman 1dari 29

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DIC

undefined

undefined

I. Disseminated Intravascular Coagulation (DIC)

A. Pengertian

Disseminated Intravascular Coagulation (DIC) adalah suatu keadaan dimana bekuan- bekuan
darah kecil tersebar di seluruh aliran darah, menyebabkan penyumbatan pada pembuluh darah kecil
dan berkurangnya faktor pembekuan yang diperlukan untuk mengendalikan perdarahan.

Disseminated Intravascular Coagulation adalah gangguan dimana terjadi koagulasi atau fibrinolisis
(destruksi bekuan). DIC dapat terjadi pada sembarang malignansi, tetapi yang paling umum berkaitan
dengan malignansi hematologi seperti leukemia dan kanker prostat, traktus GI dn paru-paru. Proses
penyakit tertentu yang umumnya tampak pada pasien kanker dapat juga mencetuskan DIC termasuk
sepsis, gagal hepar dan anfilaksis. ( Brunner & Suddarth, 2002)

Keadaan ini diawali dengan pembekuan darah yang berlebihan, yang biasanya dirangsang oleh
suatu zat racun di dalam darah. Pada saat yang bersamaan, terjadi pemakaian trombosit dan protein
dari faktor-faktor pembekuan sehingga jumlah faktor pembekuan berkurang, maka terjadi perdarahan
yang berlebihan. DICDIC

B. Etiologi

Hal – hal yang dapat memyebabkan DIC :

· Fetus mati dalam kandungan

· Abortus

· Trauma Bisa ular

· Syok

· Infeksi

· Anoksemia

· Asidosis

· Perubahan suhu

· Autoimun
· Sirkulasi extrakorporeal

· Keganasan

· Hemolisis

Orang-orang yang memiliki resiko paling tinggi untuk menderita DIC:

- Wanita yang telah menjalani pembedahan kandungan atau persalinan disertai komplikasi, dimana
jaringan rahim masuk ke dalam aliran darah

- Penderita infeksi berat, dimana bakteri melepaskan endotoksin (suatu zat yang menyebabkan
terjadinya aktivasi pembekuan)

- Penderita leukemia tertentu atau penderita kanker lambung, pankreas maupun prostat.

Sedangkan orang - orang yang memiliki resiko tidak terlalu tinggi untuk menderita DIC:

- Penderita cedera kepala yang hebat

- Pria yang telah menjalani pembedahan prostate

- Terkena gigitan ular berbisa

C. Patofisiologi

Tubuh mempunyai berbagai mekanisme untuk mencegah pembekuan darah dengan terdapatnya
kecepatan aliran darah. Selain itu, aktifitas faktor pembekuan darah bisa dibawah normal hingga tidak
menyebabkan pembekuan. Peranan hati membersihkan faktor-faktor pembekuan dan mencegah
pembentukkan trombin, antara lain dengan anti trombin III. Dalam beberapa keadaan, misalnya aliran
darah yang lambat atau oleh karena syok, kegagalan hati, dan hipoksemia dapat menyebabkan DIC.

Dalam keadaan ini, terjadi fibrinolisis disebabkan plasminogen diubah menjadi plasmin dan
terjadilah penghancuran fibrinogen. Akibatnya, faktor V dan VII yang menstabilkan darah dalam
pembuluh darah tidak aktif, sehingga dapat terjadi DIC. Pada diatesis hemoragik, seluruh trombosit dan
faktor koagulasi digunakan untuk bembekuan darah, sehingga tidak terdapat faktor yang
mempertahankan integritas pembuluh darah sebagai akibatnya darah menembus keluar pembuluh
darah.

Emboli cairan amnion yang disertai KID sering mengancam jiwa dan dapat menyebabkan
kematian. Gejala KID karena emboli cairan amnion yaitu gagal nafas akut, dan renjatan. Pada sindrom
mati janin dalam uterus yang lebih dari 5 minggu yang ditemukan KID pada 50% kasus. Biasanya pada
permulaan hanya KID derajat rendah dan kemudian dapat berkembang cepat menjadi KID
fulminan.Dalam keadaan seperti ini nekrosis jaringan janin, dan enzim jaringan nekrosis tersebut akan
masuk dalam sirkulasi ibu dan mengaktifkan sistem koagulasi dan fibrinolisis,dan terjadi KID fulminan.
Pada kehamilan dengan eklamsia ditemukan KID derajat rendah dan sering pada organ khusus
seperti ginjal dan mikrosirkulasi plasenta. Namun perlu diingat bahwa 10-15% KID derajat rendah dapat
berkembang menjadi KID fulminan. Abortus yang diinduksi dengan garam hipertonik juga sering disertai
KID derajat rendah, sampai abortus komplet,namun kadang dapt menjadi fulminan.

Hemolisis karena reaksi transfusi darah dapat memicu sistem koagulasi sehingga terjadi KID.
Akibat hemolisis,sel darah merah (SDM) melepaskan adenosine difosfat (ADP) atau membrane fosfolipid
SDM yang mengaktifkan sistem koagulasi baik sendiri maupun secara bersamaan dan menyebabkan KID.

Pada septikimia KID terjasi akibat endotoksin atau mantel polisakarida bakteri memulai koagulasi
dengan cara mengaktifkan factor F XII menjadi FXIIa, menginduksi pelepasan reaksi
trombosit,menyebabkan endotel terkelupas yang dilanjutkan aktivasi F XII men F X-Xia,dan pelepasan
materi prokoagulan dari granulosit dan semuanya ini dapat mencetuskan KID.

Terakhir dilaporkan bahwa organism gram positif dapat menyebabkan KID dengan mekanisme
seperti endotoksin, yaitu mantel bakteri yang terdiri dari mukopolisakarida menginduksi KID.

D. Manifestasi Klinik

Gejala klinis bergantung pada penyakit dasar,akut atau kronik,dan proses patologis yang mana
lebih utama,apakah akibat thrombosis mikrovaskular atau diathesis hemoragik. Kedua proses patologis
ini menimbulkan gejala klinis yang berbeda dan dapat ditemukan dalam waktu yang bersamaan.

Perdarahan dapat terjadi pada semua tempat. Dapat terlihat sebagai petekie,
ekimosis,perdarahan gusi,hemoptisis,dan kesadaran yang menurun sampai koma akibat perdarahan
otak. Gejala akibat thrombosis mikrovaskular dapat berupa kesadaran menurun sampai koma,gagal
ginjal akut,gagal napas akut dan iskemia fokal,dan gangrene pada kulit

Mengatasi perdarahan pada KID sering lebih mudah daripada mengobati akibat thrombosis pada
mikrovaskular yang menyababkan gangguan aliran darah,iskemia dan berakhir dengan kerusakan organ
yang menyebabkan kematian.

E. Komplikasi

- Acute respiratory distress syndrome (ARDS)

- Penurunan fungsi ginjal

- Gangguan susunan saraf pusat

- Gangguan hati
- Ulserasi mukosa gastrointestinal : perdarahan

- Peningkatan enzyme jantung : ischemia, aritmia

- Purpura fulminan

- Insufisiensi adrenal

- Lebih dari 50% mengalami kematian

Orang-orang yang memiliki resiko paling tinggi untuk menderita DIC :

- Wanita yang telah menjalani pembedahan kandungan atau persalinan disertai komplikasi, dimana
jaringan rahim masuk ke dalam aliran darah

- Penderita infeksi berat, dimana bakteri melepaskan endotoksin (suatu zat yang menyebabkan
terjadinya aktivasi pembekuan

- Penderita leukemia tertentu atau penderita kanker lambung, pankreas maupun prostat.

Orang-orang yang memiliki resiko tidak terlalu tinggi untuk menderita DIC :

- Penderita cedera kepala yang hebat

- Pria yang telah menjalani pembedahan prostat

- Terkena gigitan ular berbisa.

F. Pemeriksaan Penunjang

DIC adalah suatu kondisi yang sangat kompleks dan sangat sulit untuk didiagnosa. Tidak ada single test
yang digunakan untuk mendiagnosa DIC. Dalam beberapa kasus, beberapa tes yang berbeda digunakan
untuk diagnose yang akurat.

Tes yang dapat digunakan untul mendiagnosa DIC termasuk:

1. D-dimer

Tes darah ini membantu menentukan proses pembekuan darah dengan mengukur fibrin yang
dilepaskan. D-dimer pada orang yang mempunyai kelainan biasanya lebih tinggi dibanding dengan
keadaan normal.

2. Prothrimbin Time (PTT)

Tes darah ini digunakan untuk mengukur berapa lama waktu yang diperlukan dalam proses pembekuan
darah. Sedikitnya ada belasan protein darah, atau factor pembekuan yang diperlukan untuk
membekukan darah dan menghentikan pendarahan. Prothrombin atau factor II adalah salah satu dari
factor pembekuan yang dihasilkan oleh hati. PTT yang memanjang dapat digunakan sebagai tanda dari
DIC.

3. Fibrinogen

Tes darah ini digunakan untuk mengukur berapa banyak fibrinogen dalam darah. Fibrinogen adalah
protein yang mempunyai peran dalam proses pemnekuan darah. Tingkant fibrinogen yang rendah dapat
menjadi tanda DIC. Hal ini terjadi ketika tubuh menggunakan fibrinogen lebih cepat dari yang
diproduksi.

4. Complete Blood Count (CBC)

CBC merupakan pengambilan sampel darah dan menghitung jumlah sel darah merah dan sel darah
putih. Hasil pemeriksaan CBC tidak dapat digunakan untuk mendiagnosa DIC, namun dapat memberikan
informasi seorang tenaga medis untuk menegakkan diagnose.

5. Hapusan Darah

Pada tes ini, tetes darah adalah di oleskan pada slide dan diwarnai dengan pewarna khusus. Slide ini
kemudian diperiksa dibawah mikroskop jumlah, ukuran dan bentuk sel darah merah, sel darah putih,dan
platelet dapat di identifikasi. Sel darah sering terlihat rusak dan tidak normal pada pasien dengan DIC.

Skor Tes Pembekuan

Scoring system untuk DIC diajukan oleh ISTH

(International Society on thrombosis and Hemostasis)

Skor atau Skala

Jumlah Platelet

(x109/L)

>100

<100

<50
PT (detik)

<3

>3 but <6

≥6

Fibrinogen(g/L)

>1

<1

Fibrin-related markers* (meningkat)

Tidak meningkat

Meningkat sedang

Peningkatan yang tajam

TOTAL

Jika ≥5, overt DIC- tes diulang setiap hari. Jika <5, non-overt DIC – tes diulang 1-2 hari setelah tes
pertama dilakukan.

*jalan pintas dari penilaian fibrin yang berhubungan dengan penanda yang ditegakkan untuk tes
spesifik.

(diadaptasi dari Franchini, et al., 2006, 6)

G. Penatalaksaan Medis

Penatalakasanaan KID yang utama adalah mengobati penyakit yang mendasari terjadinya KID. Jika hal ini
tidak dilakukan , pengobatan terhadap KID tidak akan berhasil. Kemudian pengobatan lainnya yang
bersifat suportive dapat diberikan.

1) Antikogulan
Secara teoritis pemberian antikoagulan heparin akan menghentikan proses pembekuan, baik yang
disebabkan oleh infeksi maupun oleh penyebab lain. Meski pemberian heparin juga banyak
diperdebatkan akan menimbulkan perdarahan, namun dalam penelitian klinik pada pasien KID, heparin
tidak menunjukkan komplikas perdarahan yang signifikan.

Dosis heparin yang diberikan adalah 300 – 500 u/jam dalam infus kontinu.

Indikasi :

- Penyakit dasar tak dapat diatasi dalam waktu singkat

- Terjadi perdarahan meski penyakit dasar sudah diatasi

- Terdapat tanda-tanda trombosis dalam mikrosirkulasi, gagal ginjal, gagal hati, sindroma gagal nafas

Dosis : 100iu/kgBB bolus dilanjutkan 15-25 iu/kgBB/jam (750-1250 iu/jam) kontinu, dosis selanjutnya
disesuaikan untuk mencapai aPTT 1,5-2 kali control

Low molecular weight heparin dapat menggantikan unfractionated heparin.

2) Plasma dan trombosit

Pemberian baik plasma maupun trombosit harus bersifat selektif. Trombosit diberikan hanya kepada
pasien KID dengan perdarahan atau pada prosedur invasive dengan kecenderungan perdarahan.
Pemberian plasma juga patut dipertimbangkan, karena di dalam palasma hanya berisi faktor-faktor
pembekuan tertentu saja, sementara pada pasien KID terjadi gangguan seluruh faktor pembekuan.

3) Penghambat pembekuan (AT III)

Pemberian AT III dapat bermanfaat bagi pasien KID, meski biaya pengobatan ini cukup mahal.

Direkomendasikan sebagai terapi substitusi bila AT III<70%

Dosis : Dosis awal 3000 iu (50 iu/kgBB) diikuti 1500 iu setiap 8 jam dengan infus kontinu selama 3 – 5
hari.

Rumus : 1 iu x BB (kg) x ∆ AT III, dengan target AT III > 120%

AT III x 0,6 x BB (kg), dengan target AT III > 125%

4) Obat-obat antifibrinolitik

Antifibrinolitik sangat efektif pada pasien dengan perdarahan, tetapi pada pasien KID
pemberian antifibrinolitik tidak dianjurkan. Karena obat ini akan menghambat proses fibrinolisis
sehingga fibrin yang terbentuk akan semakin bertambah, akibatnya KID yang terjadi akan semakin berat.
Tidak ada penatalaksanaan khusus untuk DIC selain mengobati penyakit yang mendasarinya,
misalnya jika karena infeksi, maka bom antibiotik diperlukan untuk fase akut, sedangkan jika karena
komplikasi obstetrik, maka janin harus dilahirkan secepatnya.

Transfusi trombosit dan komponen plasma hanya diberikan jika keadaan pasien sudah sangat
buruk dengan trombositopenia berat dengan perdarahan masif, memerlukan tindakan invasif, atau
memiliki risiko komplikasi perdarahan. Terbatasnya syarat transfusi ini berdasarkan pemikiran bahwa
menambahkan komponen darah relatif mirip menyiram bensin dalam api kebakaran, namun pendapat
ini tidak terlalu kuat, mengingat akan terjadinya hiperfibrinolisis jika koagulasi sudah maksimal. Sesudah
keadaan ini merupakan masa yang tepat untuk memberi trombosit dan komponen plasma, untuk
memperbaiki kondisi perdarahan.

Satu-satunya terapi medikamentosa yang dipakai ialah pemberian antitrombosis, yakni


heparin. Obat kuno ini tetap diberikan untuk meningkatkan aktivitas antitrombin III dan mencegah
konversi fibrinogen menjadi fibrin. Obat ini tidak bisa melisis endapan koagulasi, namun hanya bisa
mencegah terjadinya trombogenesis lebih lanjut. Heparin juga mampu mencegah reakumulasi clot
setelah terjadi fibrinolisis spontan. Dengan dosis dewasa normal heparin drip 4-5 U/kg/jam IV infus
kontinu, pemberian heparin harus dipantau minimal setiap empat jam dengan dosis yang disesuaikan.
Bolus heparin 80 U tidak terlalu sering dipakai dan tidak menjadi saran khusus pada jurnal-jurnal
hematologi. Namun pada keadaan akut pemberian bolus dapat menjadi pilihan yang bijak dan rasional.
Apalagi ancaman DIC cukup serius, yakni menyebabkan kematian hingga dua kali lipat dari risiko
penyakit tersebut tanpa DIC. Semakin parah kondisi DIC, semakin besar pula risiko kematian yang harus
dihadapi.

ASUHAN KEPERAWATAN PASIEN DENGAN DIC

1. PENGKAJIAN

1) Data Pasien :

Nama : Nn. Danias

Tempat, Tanggal Lahir : Bandung, 23 Januari 1988

Alamat : Tangerang Selatan, No 27

Umur : 24 tahun
Jenis kelamin : Perempuan

Agama : Islam

Suku : Jawa

Pekerjaan : Karyawan

Status perkawinan : Belum Nikah

Status pendidikan : SMA

2) Riwayat penyakit :

Keluhan Utama :

Nyeri pada tangan tangan dan timbul bercak-bercak merah pada kulit

Riwayat Penyakit Sekarang :

Nyeri dan demam dengan suhu tinggi >38 sehingga perlu rawat inap di RS pada tanggal 23 november
2011

Riwayat Penyakit Dahulu :

Menderita penyakit ginjal

Riwayat Kesehatan Keluarga :

3) Pemeriksaan fisik

Perdarahan abnormal pada semua system dan pada sisi prosedur invatif

a. Kulit dan mukosa membrane

- Perembesan difusi darah atau plasma

- Purpura yang teraba pada awalnya di dada dan abdomen

- Bula hemoragi

- Hemoragi subkutan

- Hematoma

- Luka bakar karena plester sianosis akral ( estrimitas berwarna agak kebiruan, abu –abu, atau ungu
gelap )
- Akrosianosis ( ketidakteraturan bentuk bercaksianosis pada lengan perifer dan kaki )

b. Sistem GI

- Mual dan muntah

- Uji guayak positif pada emesis atau aspirasi

- Nasogastrik dan feses

- Nyeri hebat pada abdomen

- Peningkatan lingkar abdomen

c. Sistem ginjal

- Hematuria

- Oliguria

- Penurunan pengeluaran urin

d. Sistem pernafasan

- Dispnea

- Takipnea

- Sputum mengandung darah

- Orthopnea

e. Sistem kardiovaskuler

- Hipotensi meningkat dan postural

- Frekuensi jantung meningkat

- Nadi perifer tidak teraba

f. Sistem saraf perifer

- Perubahan tingkat kesadaran

- Gelisah

- Ketidaksadaran vasomotor

g. Sistem muskuloskeletal
- Nyeri : otot,sendi,punggung

h. Perdarahan sampai hemoragi

- Insisi operasi

- Uterus post partum

- Fundus mata perubahan visual

- Pada sisi prosedur invasif : suntikan, IV, kateter arteral dan selang nasogastrik atau dada, dll.

- Kerusakan perfusi jaringan

I. Serebral : perubahan pada sensorium, gelisah, kacau mental, sakit kepala

DATA FOKUS

DATA SUBJEKTIF

DATA OBJEKTIF

1. Klien mengatakan pada kulitnya terlihat bercak merah

2. Klien mengatakan adanya luka pada kulit nya

3. Klien mengatakan mual dan muntah

4. Klien mengeluh nyeri pada perut nya

5. Klien mengeluh nyeri : otot,sendi,punggung

6. Klien mengatakan jika kencing nya terdapat darah

7. Klien mengeluh buang air kecil terus

8. Klien mengeluh sesak napas

9. Klien mengatakan terdapat darah dalam sputum nya

10. Klien mengeluh gelisah

11. Klien mengeluh tidak tenang dan merasa dirinya kacau

12. Klien mengeluh akral nya dingin

13. Klien mengeluh badan nya kecil


14. Klien mengatakan tidak napsu makan

15. Klien mengeluh lemah dan lemas

16. Klien mengatakan gusi nya berdarah

17. Klien mengatakan kadang mimisan

1. TTV =

Nadi : 130 X / menit

Napas : 30 x / menit

Suhu : 40oC

TD : 80 / 50 mmHg

2. Klien terlihat kurus dan terjadi penurunan berat badan : 46 kg

3. Pada klien ditemukan hipotensi meningkat dan postural

4. Klien terlihat napas cepat dan dangkal

5. Pada klien ditemukan orthopnea

6. Pada klien ditemukan frekuensi jantung meningkat

7. Pada klien ditemukan nadi perifer tidak teraba

8. Klien terlihat perembesan difusi darah atau plasma

9. Pada klien terlihat purpura

10. Pada klien ditemukan bula hemoragi

11. Pada klien ditemukan hemoragi subkutan dan hematoma

12. Klien terlihat mual dan muntah

13. Klien terlihat meringis sakit

14. Klien terlihat memegangi perut nya

15. Pada klien ditemukan akral dingin

16. Pada klien ditemukan darah dalam urin

17. Klien terlihat pucat


18. Pada klien ditemukan penurunan pengeluaran urin

19. Klien terlihat sesak napas (Dispnea)

20. Pada klien ditemukan sputum mengandung darah

21. Pada klien terlihat perubahan tingkat kesadaran

22. Klien terlihat gelisah

23. Pada klien ditemukan ketidaksadaran vasomotor

24. Pada klien ditemukan perubahan pada sensorium, kacau mental, sakit kepala

25. Pada hasil pemeriksaan diagnostik :

- Uji guayak positif pada emesis atau aspirasi

2. ANALISA DATA

DATA

PROBLEM

ETIOLOGI

DS :

- Klien mengatakan pada kulitnya terlihat bercak merah

- Klien mengatakan adanya luka pada kulit nya

- Klien mengatakan jika kencing nya terdapat darah

- Klien mengatakan gusi nya berdarah

- Klien mengatakan kadang mimisan

DO :

- TTV =

- Nadi : 130 X / menit

- Napas : 30 x / menit

- Suhu : 40oC
- TD : 80 / 50 mmHg

- Pada klien terlihat purpura

- Pada klien ditemukan bula hemoragi

- Pada klien ditemukan hemoragi subkutan dan hematoma

- Pada klien ditemukan sputum mengandung darah

- Pada klien terlihat perubahan tingkat kesadaran

Resiko terjadi perdarahan

Penurunan factor-faktor pembekuan darah (trombositopeni)

DS :

- Klien mengeluh buang air kecil terus

- Klien mengeluhkan mual dan muntah

DO :

- TTV =

- Nadi : 130 X / menit

- Napas : 30 x / menit

- Suhu : 40oC

- TD : 80 / 50 mmHg

- Pada klien ditemukan capilarry refill > 2 detik

- Pada klien ditemukan hipotensi meningkat dan postural

- Klien terlihat napas cepat dan dangkal

- Pada klien ditemukan orthopnea

- Pada klien ditemukan frekuensi jantung meningkat

- Pada klien ditemukan nadi perifer tidak teraba

Defisit volume cairan

Pindahnya cairan intravaskuler ke ekstravaskuler.


DS :

- Klien mengatakan pada kulitnya terlihat bercak merah

- Klien mengatakan adanya luka pada kulit nya

- Klien mengatakan jika kencing nya terdapat darah

- Klien mengatakan gusi nya berdarah

- Klien mengatakan kadang mimisan

DO :

- TTV =

- Nadi : 130 X / menit

- Napas : 30 x / menit

- Suhu : 40oC

- TD : 80 / 50 mmHg

- Pada klien terlihat purpura

- Pada klien ditemukan bula hemoragi

- Pada klien ditemukan hemoragi subkutan dan hematoma

- Pada klien ditemukan sputum mengandung darah

- Pada klien terlihat perubahan tingkat kesadaran

Resiko Syok hipovolemik

Perdarahan yang berlebihan, pindahnya cairan intravaskuler ke ekstravaskuler.

DS :

- Klien mengatakan badan nya kurus

- Klien mengeluh nyeri pada perut nya

- Klien mengatakan mual dan muntah

DO:

- Klien terlihat gelisah


- Klien terlihat sesak napas (Dispnea)

- Klien terlihat memegangi perut nya

- Klien terlihat mual dan muntah

- Klien terlihat kurus dan terjadi penurunan berat badan : 46 kg

- Ditemukan porsi makan nya setengah

Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh

Intake nutrisi yang tidak adekuat akibat mual dan nafsu makan yang menurun.

DS :

- Klien mengatakan tidak napsu makan

- Klien mengeluh lemah dan lemas

- Klien mengeluh tidak tenang dan merasa dirinya kacau

- Klien mengeluh gelisah

DO:

- Pada klien ditemukan frekuensi jantung meningkat

- Klien terlihat meringis sakit

- Pada klien ditemukan akral dingin

- Klien terlihat pucat

- Klien terlihat gelisah

- Pada klien ditemukan perubahan pada sensorium, kacau mental, sakit kepala

Kecemasan (ansietas)

ancaman kematian

3. DIAGNOSA

Diagnosa keperawatan yang sering muncul pada pasien dengan DIC adalah sebagai berikut :

1) Resiko terjadi perdarahan b.d Penurunan factor-faktor pembekuan darah (trombositopeni)


Ditandai dengan :

DS :

- Klien mengatakan pada kulitnya terlihat bercak merah

- Klien mengatakan adanya luka pada kulit nya

- Klien mengatakan jika kencing nya terdapat darah

DO :

- TTV =

- Nadi : 130 X / menit

- Napas : 30 x / menit

- Suhu : 40oC

- TD : 80 / 50 mmHg

- Pada klien terlihat purpura

- Pada klien ditemukan bula hemoragi

- Pada klien ditemukan hemoragi subkutan dan hematoma

- Pada klien ditemukan sputum mengandung darah

- Pada klien terlihat perubahan tingkat kesadaran

2) Defisit volume cairan b.d pindahnya cairan intravaskuler ke ekstravaskuler.

Ditandai dengan :

DS :

- Klien mengeluh buang air kecil terus

- Klien mengeluhkan mual dan muntah

DO :

- TTV =

- Nadi : 130 X / menit

- Napas : 30 x / menit
- Suhu : 40oC

- TD : 80 / 50 mmHg

- Pada klien ditemukan capilarry refill > 2 detik

- Pada klien ditemukan hipotensi meningkat dan postural

- Klien terlihat napas cepat dan dangkal

- Pada klien ditemukan orthopnea

- Pada klien ditemukan frekuensi jantung meningkat

- Pada klien ditemukan nadi perifer tidak teraba

3) Resiko Syok hipovolemik b.d Perdarahan yang berlebihan, pindahnya cairan intravaskuler ke
ekstravaskuler.

Ditandai dengan :

DS :

- Klien mengatakan pada kulitnya terlihat bercak merah

- Klien mengatakan adanya luka pada kulit nya

- Klien mengatakan jika kencing nya terdapat darah

DO :

- TTV =

- Nadi : 130 X / menit

- Napas : 30 x / menit

- Suhu : 40oC

- TD : 80 / 50 mmHg

- Pada klien terlihat purpura

- Pada klien ditemukan bula hemoragi

- Pada klien ditemukan hemoragi subkutan dan hematoma

- Pada klien ditemukan sputum mengandung darah

- Pada klien terlihat perubahan tingkat kesadaran


4) Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d Intake nutrisi yang tidak adekuat akibat mual dan
nafsu makan yang menurun.

Ditandai dengan :

DS :

- Klien mengeluh badan nya kecil

- Klien mengeluh nyeri pada perut nya

- Klien mengatakan mual dan muntah

DO:

- Klien terlihat gelisah

- Klien terlihat sesak napas (Dispnea)

- Klien terlihat memegangi perut nya

- Klien terlihat mual dan muntah

- Klien terlihat kurus dan terjadi penurunan berat badan : 46 kg

- Ditemukan porsi makan nya setengah

5) Kecemasan b.d ancaman kematian.

Ditandai dengan :

DS :

- Klien mengatakan tidak napsu makan

- Klien mengeluh lemah dan lemas

- Klien mengeluh tidak tenang dan merasa dirinya kacau

- Klien mengeluh gelisah

DO:

- Pada klien ditemukan frekuensi jantung meningkat

- Klien terlihat meringis sakit

- Pada klien ditemukan akral dingin

- Klien terlihat pucat


- Klien terlihat gelisah

- Pada klien ditemukan perubahan pada sensorium, kacau mental, sakit kepala

4. INTERVENSI KEPERAWATAN

1) Resiko terjadi perdarahan berhubungan dengan penurunan factor-faktor pembekuan darah


(trombositopeni)

Tujuan : Tidak terjadi perdarahan

Kriteria :

- TD 100/60 mmHg, N: 80-100x/menit reguler, pulsasi kuat

- Tidak ada tanda perdarahan lebih lanjut, trombosit meningkat.

Intervensi :

a. Monitor tanda-tanda penurunan trombosit yang disertai tanda klinis.

Rasional : Penurunan trombosit merupakan tanda adanya kebocoran pembuluh darah yang pada tahap
tertentu dapat menimbulkan tanda-tanda klinis seperti epistaksis, ptike.

b. Anjurkan pasien untuk banyak istirahat ( bedrest )

Rasional : Aktifitas pasien yang tidak terkontrol dapat menyebabkan terjadinya perdarahan.

c. Berikan penjelasan kepada klien dan keluarga untuk melaporkan jika ada tanda perdarahan seperti :
hematemesis, melena, epistaksis.

Rasional : Keterlibatan pasien dan keluarga dapat membantu untuk penaganan dini bila terjadi
perdarahan.

d. Antisipasi adanya perdarahan : gunakan sikat gigi yang lunak, pelihara kebersihan mulut, berikan
tekanan 5-10 menit setiap selesai ambil darah.

Rasional : Mencegah terjadinya perdarahan lebih lanjut.

e. Kolaborasi, monitor trombosit setiap hari

Rasional : Dengan trombosit yang dipantau setiap hari, dapat diketahui tingkat kebocoran pembuluh
darah dan kemungkinan perdarahan yang dialami pasien.

2) Defisit volume cairan berhubungan dengan pindahnya cairan intravaskuler ke ekstravaskuler.


Tujuan : Tidak terjadi defisit voume cairan

Kriteria :

- Input dan output seimbang

- Vital sign dalam batas normal

- Tidak ada tanda presyok

- Akral hangat

- Capilarry refill < 2 detik

Intervensi :

a. Awasi vital sign tiap 3 jam/sesuai indikasi

Rasional : Vital sign membantu mengidentifikasi fluktuasi cairan intravaskuler

b. Observasi capillary Refill

Rasional : Indikasi keadekuatan sirkulasi perifer

c. Observasi intake dan output. Catat warna urine / konsentrasi, BJ

Rasional : Penurunan haluaran urine pekat dengan peningkatan BJ diduga dehidrasi.

d. Anjurkan untuk minum 1500-2000 ml /hari ( sesuai toleransi )

Rasional : Untuk memenuhi kebutuhan cairan tubuh peroral

e. Kolaborasi : Pemberian cairan intravena

Rasional : Dapat meningkatkan jumlah cairan tubuh, untuk mencegah terjadinya hipovolemic syok.

3) Syok hipovolemik berhubungan dengan perdarahan yang berlebihan, pindahnya cairan intravaskuler
ke ekstravaskuler.

Tujuan : Tidak terjadi syok hipovolemik

Kriteria :

- Tanda Vital dalam batas normal

Intervensi :

a. Monitor keadaan umum pasien


Rasional ; Untuk memonitor kondisi pasien selama perawatan terutama saat terdi perdarahan. Perawat
segera mengetahui tanda-tanda presyok /syok.

b. Observasi vital sign setiap 3 jam atau lebih

Rasional : Perawat perlu terus mengobaservasi vital sign untuk memastikan tidak terjadi presyok / syok.

c. Jelaskan pada pasien dan keluarga tanda perdarahan, dan segera laporkan jika terjadi perdarahan

Rasional : Dengan melibatkan psien dan keluarga maka tanda-tanda perdarahan dapat segera diketahui
dan tindakan yang cepat dan tepat dapat segera diberikan.

d. Kolaborasi : Pemberian cairan intravena

Rasional : Cairan intravena diperlukan untuk mengatasi kehilangan cairan tubuh secara hebat.

e. Kolaborasi : pemeriksaan : HB, PCV, trombosit

f. Rasional : Untuk mengetahui tingkat kebocoran pembuluh darah yang dialami pasien dan untuk
acuan melakukan tindakan lebih lanjut.

4) Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake nutrisi yang tidak
adekuat akibat mual dan nafsu makan yang menurun.

Tujuan : Kebutuhan nutrisi terpenuhi

Kriteria Hasil :

Klien tidak mengeluh nyeri mulut atau lidah, kesulitan menelan

Klien tidak mengeluh mual/muntah, dyspepsia, anoreksia

Klien tidak mengeluh diare atau konstipasi.

Sudah tidak terlihat lidah merah daging/halus

Klien terjadi peningkatan berat badan

Mandiri

a. Kaji riwayat nutrisi, termasuk makanan yang disukai.

Rasional: Mengidentifikasi defisiensi, menduga kemungkinan intervensi.

b. Observasi dan catat masukan makanan pasien.

Rasional: Mengawasi masukan kalori atau kualitas konsumsi makanan.

c. Timbang BB tiap hari.


Rasional: Mengawasi penurunan BB atau efektifitas, intervensi nutrisi.

d. Berikan makanan sedikit dan frekuensi sering dan makan diantara waktu makan.

Rasional: Makan sedikit dapat menurunkan kelemahan dan meningkatkan pemasukan juga mencegah
distensi gaster.

f. Observasi dan catat kejadian mual atau muntah, flatus atau gejala lain yang berhubungan.

Rasional: Gejala GI dapat menunjukan efek anemia (hipoksia pada organ)

Kolaborasi

a. Konsul pada ahli gizi.

Rasional: Membantu dalam membuat rencana diet untuk memenuhhi kebutuhan individuual

b. Pantau pemeriksaan laboratorium misalnya Hb, Ht, Albumin, Protein, B12, Asam Folat.

Rasional: Meningkatkan efektifitas program pengobatan, termasuk sumber diet nutrisi yang dibutuhkan.

c. Berikan obat sesuai indikasi: Vitamin dan suplemen mineral misalnya Sianokobalamin (vitamin
B12), Asam folat asam askorbat, besi dekstran (IM/IV), tambahan besi oral misalnya ferol sulfat, ferol
glikonat.

Rasional: Kebutuhan penggantian tergantung pada tipe anemia dan atau adanya masukan oral yang
buruk dan defisiensi yang diidentifikasi.

5) Kecemasan (ansietas) berhubungan dengan ancaman kematian

Tujuan : ansietas berkurang/terkontrol.

Kriteria :

- klien melaporkan tidak ada manifestasi kecemasan secara fisik.

- tidak ada manifestasi perilaku akibat kecemasan.

Intervensi

a. Kaji dan dokumentasikan tingkat kecemasan pasien.

Rasional : memudahkan intervensi.

b. Kaji mekanisme koping yang digunakan pasien untuk mengatasi ansietas di masa lalu.

Rasional : mempertahankan mekanisme koping adaftif, meningkatkan kemampuan mengontrol ansietas.


c. Lakukan pendekatan dan berikan motivasi kepada pasien untuk mengungkapkan pikiran dan
perasaan.

Rasional : pendekatan dan motivasi membantu pasien untuk mengeksternalisasikan kecemasan yang
dirasakan.

d. Motivasi pasien untuk memfokuskan diri pada realita yang ada saat ini, harapan-harapan yang
positif terhadap terapy yang di jalani.

Rasional : alat untuk mengidentifikasi mekanisme koping yang dibutuhkan untuk mengurangi
kecemasan.

e. Berikan penguatan yang positif untuk meneruskan aktivitas sehari-hari meskipun dalam keadaan
cemas.

Rasional : menciptakan rasa percaya dalam diri pasien bahwa dirinya mampu mengatasi masalahnya dan
memberi keyakinan pada diri sendri yang dibuktikan dengan pengakuan orang lain atas kemampuannya.

f. Anjurkan pasien untuk menggunakan teknik relaksasi.

Rasional : menciptakan perasaan yang tenang dan nyaman.

g. Sediakan informasi factual (nyata dan benar) kepada pasien dan keluarga menyangkut diagnosis,
perawatan dan prognosis.

Rasional : meningkatkan pengetahuan, mengurangi kecemasan.

h. Kolaborasi pemberian obat anti ansietas.

Rasional : mengurangi ansietas sesuai kebutuhan.

5. IMPLEMENTASI KEPERAWATAN

Hari/ Tanggal

No.DX

Implementasi dan Hasil

Paraf

Rabu,

28 November 2012

1
a. Monitor tanda-tanda penurunan trombosit yang disertai tanda klinis.

b. Anjurkan pasien untuk banyak istirahat ( bedrest )

c. Berikan penjelasan kepada klien dan keluarga untuk melaporkan jika ada tanda perdarahan seperti :
hematemesis, melena, epistaksis.

d. Antisipasi adanya perdarahan : gunakan sikat gigi yang lunak, pelihara kebersihan mulut, berikan
tekanan 5-10 menit setiap selesai ambil darah.

e. Kolaborasi, monitor trombosit setiap hari

Kamis,

29 November 2012

a. Memonitor keadaan umum pasien

b. Mengobservasi vital sign setiap 3 jam atau lebih

c. Menjelaskan pada pasien dan keluarga tanda perdarahan, dan segera laporkan jika terjadi
perdarahan

d. Kolaborasi : Memberikan cairan intravena

e. Kolaborasi : Memeriksa : HB, PCV, trombosit

Jum’at,

30 November 2012

a. Kaji riwayat nutrisi, termasuk makanan yang disukai.

b. Observasi dan catat masukan makanan pasien.

c. Timbang BB tiap hari.

d. Berikan makanan sedikit dan frekuensi sering dan makan diantara waktu makan.

e. Observasi dan catat kejadian mual atau muntah, flatus atau gejala lain yang berhubungan.

f. Konsul pada ahli gizi.


g. Pantau pemeriksaan laboratorium misalnya Hb, Ht, Albumin, Protein, B12, Asam Folat..

h. Berikan obat sesuai indikasi: Vitamin dan suplemen mineral misalnya Sianokobalamin (vitamin B12),
Asam folat asam askorbat, besi dekstran (IM/IV), tambahan besi oral misalnya ferol sulfat, ferol glikonat.

Sabtu,

1 Desember 2012

a. Mengawasi vital sign tiap 3 jam/sesuai indikasi

b. Mengobservasi capillary Refill

c. Mengobservasi intake dan output.

d. Mencatat warna urine / konsentrasi, BJ

e. Menganjurkan untuk minum 1500-2000 ml /hari ( sesuai toleransi )

f. Kolaborasi : memberikan cairan cairan intravena

Minggu,

2 Desember 2012

a. Mengkaji dan dokumentasikan tingkat kecemasan pasien.

b. Mengkaji mekanisme koping yang digunakan pasien untuk mengatasi ansietas di masa lalu.

c. Melakukan pendekatan dan berikan motivasi kepada pasien untuk mengungkapkan pikiran dan
perasaan.

d. Memotivasi pasien untuk memfokuskan diri pada realita yang ada saat ini, harapan-harapan yang
positif terhadap terapy yang di jalani.

e. Memberikan penguatan yang positif untuk meneruskan aktivitas sehari-hari meskipun dalam
keadaan cemas.

f. Menganjurkan pasien untuk menggunakan teknik relaksasi.


g. Menyediakan informasi factual (nyata dan benar) kepada pasien dan keluarga menyangkut diagnosis,
perawatan dan prognosis.

h. Kolaborasi : memberikan obat anti ansietas.

6. EVALUASI

Hari / Tanggal

No. DX

Evaluasi

Paraf

S: Klien mengaktakan sudah tidak ada perdarahan lagi.

O: S= 36 C, N= 60x/mnt, TD= 110/80 mmHg, Pada gusi klien tidak terlihat darah lagi, dan tidak ada
tanda-tanda perdarahan

A: Masalah infeksi sudah teratasi

P: Intervensi dihentikan

S: klien mengatakan sudah tidak mual dan muntah lagi

O: pada klien mukosa bibir sudah terlihat kering dan pucat

A: Masalah defisit volume cairan

P: Intervensi dihentikan
3

S: klien mengatakan sudah tidak lemas dan terlihat lebih segar

O: Klien mampu berespon dengan baik, TTV: TD= 110/80 mmHg, RR= 24 x/mnt

S= 36 C, N= 60x/mnt, TD= 110/80

A: Masalah resiko syok hipovolemik sudah teratasi

P: Intervensi dihentikan

S: Klien mengatakan sudah tidak nyeri mulut atau lidah, klien sudah tidak kesulitan menelan, klien sudah
tidak mengeluh mual/muntah, dyspepsia, klien terlihat nafsu makan, klien sudah tidak mengeluh diare
atau konstipasi.

O: Bb= 40kg

A: Masalah kebutuhan nutrisi sudah teratasi

P: Intervensi dihentikan

S: klien mengatakan sudah tidak cemas

O: klien terlihat lebih tenang dan dapat mengontrol emosi nya

A: Masalah kecemasan sudah teratasi

P: Intervensi dihentikan
BAB III

PENUTUP

DIC adalah suatu sindrom ditandai dengan adanya perdarahan atau kelainan pembekuan darah
sehingga terjadi gangguan aliran darah yang menyebabkan kerusakan pada berbagai organ. Diagnosa
keperawatan yang dapat ditegakkan salah satunya adalah resiko tinggi terhadap perubahan perfusi
jaringan berhubungan dengan hemoragi sekunder. Dari diagnose tersebut, intervensi keperawatan yang
dapat dilakukan adalah memantau hasil pemeriksaan koagulasi, tanda-tanda vital, dan perubahan sisi
baru dan potensial.

DAFTAR PUSTAKA

Bare, Brenda G dan Smelttzer, Susanne G. 2002. Keperawatan Medikal-Bedah. Jakarta: EGC

Stitham,Sean.2008. Disseminated Intravascular

Coagulation.http://www.nlm.nih.gov/medlineplus/healthtopics.html. Diakses tanggal 26 September


10.00 WIB

Levi M. Disseminated intravascular coagulation: What's new? Crit Care Clin. 2005;21(3):449-467.

DeLoughery TG. Critical care clotting catastrophies. Crit Care Clin. 2005;21(3):531-562.

Gando S. A multicenter, prospective validation of disseminated intravascular coagulation diagnostic


criteria for critically ill patients: comparing current criteria. Crit Care Med. 2006;34(3):625-631.

Farid. 2007. Ancaman Serius Koagulasi Intravaskuler Diseminasi. http://www.majalah-


farmacia.com/rubrik/one_news.asp. Diakses tanggal 27 September 2009 pukul 17.50 WIB