Anda di halaman 1dari 3

Dilema Kebudayaan dan Nasionalisme*

MK Ridwan
Penerima Maarif Award Fellowship (MAF) 2017
Email: mkridwan13@gmail.com Hp: 08562764926

http://i1.wp.com/piox.org.br/site/wp-
content/uploads/2014/08/caminho.jpg?fit=1280%2C853

Pertanyaan mendasar dari tulisan ini adalah “apakah ada yang namanya kebudayaan
Indonesia?” Pertanyaan sederhana yang semakin membuat kita bertanya-tanya. Karena
jawabannya tentu tidak sekadar “ada atau tidak ada”, sesempurna apapun jawabannya
tetap akan melahirkan pertanyaan selanjutnya. Kita membutuhkan ruang-ruang untuk
mendiskusikannya, karena masalah kebudayaan di Indonesia, masih kerap
dipertentangkan dengan semangat nasionalisme.
Meski bukan masalah yang benar-benar baru, kebudayaan Indonesia menjadi salah
satu isu perbincangan yang menzaman. Apalagi dengan menguatnya wacana tentang
kesadaran nasional. Kompleksitas hubungan antara kebudayaan dan nasionalisme
menjadi relevan ketika diperhadapkan pada permasalahan globalisasi dan arus
keterbukaan yang sedemikian pesat.
Sejarah politik Indonesia mencatat bahwa, nasionalisme pernah dianggap
bertentangan dengan kebudayaan. Secara sederhana, apa yang disebut sebagai sentimen
primordial adalah perasaan yang erat hubungannya dengan kebudayaan, khususnya
dengan faktor-faktor yang dianggap given dalam kebudayaan, seperti bahasa ibu, warna
kulit, hubungan darah, etnis, suku, kesamaan daerah maupun asal usul.
Dalam istilah sosiologi, kebudayaan dianggap memberikan segala yang ascribed,
yaitu apa saja yang menjadi atribut seseorang atau tempat seseorang diperanggotakan,
tanpa pilihan yang aktif, kritis dan sadar dari yang bersangkutan. Seseorang menjadi
Jawa, Sunda, Bugis maupun Minang, bukan karena pilihannya, tetapi semata-mata
karena faktor keturunan.
Sebaliknya, nasionalisme lebih diekspresikan sebagai tuntutan politik.
Nasionalisme (integrasi nasional) adalah buah pemikiran, perasaan dan perjuangan yang
penuh kesadaran dan pilihan, yang menuntut usaha sungguh-sungguh dan harus

*Tulisan ini telah dimuat di kolom opini Geotimes pada tanggal 23 April 2018 dengan judul
yan sama. Kunjungi: https://geotimes.co.id/opini/dilema-kebudayaan-dan-nasionalisme/
dikelompokkan ke dalam apa yang disebut sebagai achievement (sebagai lawan dari
ascription). Artinya, keterlibatan individu atau kelompok dalam integrasi nasional
(nasionalisme) dianggap mengharuskan adanya pengorbanan terhadap hal-hal yang
bersifat kultural dan primordial (keturunan).
Sebagai contoh, bahasa daerah dianggap kurang penting dibandingkan dengan
bahasa nasional, dan hal itu tercermin dengan jelas dalam pengajaran bahasa di sekolah-
sekolah, di mana (dengan beberapa pengecualian) bahasa daerah tidak diajarkan lagi atau
sekadar sampai pendidikan dasar saja. Demikian pun rasa ke daerahan yang berlebih-
lebihan dianggap membahayakan persatuan nasional. Bahkan sifat provinsialisme
dianggap sebagai ancaman dan bukan unsur yang menguatkan nasionalisme, meski telah
ditetapkan adanya otonomi daerah.
Setidaknya terdapat tiga varian hubungan antara kebudayaan dengan
nasionalisme; pertama, terbentuknya kebudayaan ataupun kesatuan bangsa mendahului
kesatuan negara; kedua, kesatuan negara mendahului kesatuan bangsa, dan; ketiga,
kesatuan budaya di suatu negara jauh lebih dahulu tetapi baru kemudian mendapatkan
ekspresi politiknya. Varian kedua dan ketiga ini dianggap sebagai model yang berhasil
dalam kerangka membangun kebudayaan nasional, dengan tidak menyisakan masalah.
Berbeda halnya dengan varian pertama, yang masih menyisakan ambiguitas dan dilema.
Indonesia berada pada varian yang pertama, di mana kesatuan budaya jauh
mendahului kesatuan politik negaranya. Alternatifnya, melakukan sintesa antara
kebudayaan dan nasionalisme dengan menyatakan “kebudayaan nasional”. Istilah ini
bukan tidak menimbulkan permasalahan, tapi juga telah menyisakan dilema. Misalnya,
apakah ada jenis makanan nasional? Apakah ada pakaian nasional? Apakah ada jenis
rumah nasional? Atau bahkan hal yang fundamental sekalipun, apakah ada upacara
perkawinan nasional? Hal-hal semacam ini lebih mudah diidentifikasikan sebagai produk
budaya suatu daerah atau suatu kelompok etnik tertentu. Dalam konteks inilah, istilah
kebudayaan nasional menjadi sesuatu yang penuh kontroversi dan ketidakjelasan. Kita
diperhadapkan pada sebuah dilema akut tentang pemaknaan nasionalisme dan
kebudayaan. Sulit bagi kita menunjukkan secara empiris apa saja yang menjadi unsur-
unsur kebudayaan nasional.
Berdasarkan pengalaman selama ini, kebudayaan nasional lebih merupakan
gagasan (atau bahasa retorika) politik, daripada suatu konsep yang dapat diuraikan secara
ilmiah. Sehingga wajar ketika kita temukan berbagai macam kelompok masyarakat
seperti, golongan nasionalis, golongan tradisionalis, golongan ideologis, dan seterusnya.
Ini lebih merupakan ekspresi politik yang berusaha mengaktualisasikan dirinya dalam
bentuk kebudayaan nasional. Pertarungan kelompok-kelompok tersebut melahirkan
perdebatan tentang ciri dan model negara. Maka lahirlah semboyan “Bhinneka Tunggal
Ika” yang menjadi ide dominan, yang telah terlebih dahulu muncul dari semangat
nasionalisme yang bersifat anti kolonial.
Sadar maupun tidak, bahwa ide tentang negara kesatuan dan persatuan bangsa ini
telah menggiring pemikiran ke arah kebudayaan nasional, yang dalam bentuk konkretnya
berarti kebudayaan persatuan. Tetapi, persatuan secara budaya bukanlah tanpa soal, kita
akan dihadapkan pada proses dilema, yaitu mengapa kebudayaan-kebudayaan harus
dipersatukan, dan kalau dipersatukan, maka persatuan kebudayaan itu mengikuti pola
yang mana? Dalam konteks inilah terlihat secara jelas sikap yang serba mendua dalam
kebudayaan nasional di Indonesia, yang tentu saja telah muncul dari desakan politik yang
ada, yang kemudian harus dijawab secara pragmatis belaka, tanpa mempertimbangkan
implikasi budayanya.
Persoalan asimilasi bukanlah persoalan kebudayaan, tetapi persoalan politik
semata-mata. Karena suatu negara hakikatnya adalah komunitas terbayang. Anggota dari
suatu bangsa kecil pun tidak akan tahu dan tidak mengenal sebagian besar anggota lain,
tidak bertatap muka, tidak pernah mendengar tentang keberadaan dan kehidupan
mereka atau bahkan mungkin tidak pernah terpikirkan sedikitpun. Padahal, hal
terpenting untuk tetap berdirinya suatu negara adalah adanya perasaan kebersamaan dan
persaudaraan sebagai anggota komunitas bangsa itu. Dan hal ini dapat dibangun melalui
penciptaan narasi dalam sistem politik.
Maka, ketika Indonesia tidak memiliki identitas budaya yang tunggal bukan berarti
tidak memiliki jati diri (budaya nasional), namun dengan keanekaragaman budaya, justru
membuktikan bahwa masyarakat kita memiliki kualitas produksi budaya yang luar biasa.
Meskipun jawaban semacam ini hanyalah jawaban apologis dan klaim terhadap realitas,
yang tentunya belum memberikan kepuasan.