Anda di halaman 1dari 10

KLASIFIKASI DAERAH KABUPATEN/KOTA DI PROVINSI

SUMATERA SELATAN MENGGUNAKAN ANALISIS


TIPOLOGI KLASSEN
Dian Apriyani
Seksi Neraca Wilayah dan Analisis Statistik BPS Kabupaten Empat Lawang
dian.apriyani@bps.go.id

Abstrak
Pertumbuhan ekonomi yang terjadi di masing-masing daerah bisa berbeda
atau bervariasi satu sama lain. Hal ini membuat beberapa daerah dapat dikenal
sebagai wilayah yang tumbuh cepat, daerah yang tumbuh lamban, atau daerah
dengan pertumbuhan stagnan. Provinsi Sumatera Selatan termasuk dalam klasifikasi
daerah berkembang cepat (Sarnowo, 2017). Artinya pertumbuhan ekonomi di
Provinsi Sumatera Selatan tinggi namun pendapatan per kapitanya rendah.
Pertumbuhan ekonomi dan pendapatan per kapita Provinsi Sumatera Selatan ini
merupakan kontribusi dari 17 kabupaten/kota penyusunnya. Namun, karakteristik
ekonomi dari masing-masing kabupaten/kota di Provinsi Sumatera Selatan belum
diketahui. Untuk mengetahui karakteristik ekonomi dari masing-masing daerah
kabupaten/kota ini digunakan analisis Tipologi Klassen. Hasil analisis menggunakan
Tipologi Klassen menunjukkan bahwa kabupaten/kota yang termasuk dalam
klasifikasi daerah cepat maju dan cepat tumbuh adalah Kabupaten Muara Enim dan
Kota Palembang. Kabupaten/kota yang termasuk dalam klasifikasi daerah maju tapi
tertekan adalah Kabupaten Lahat dan Kabupaten Musi Banyu Asin. Kabupaten/kota
yang termasuk dalam klasifikasi daerah berkembang cepat adalah Kabupaten Musi
Rawas, Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir, dan Kota Prabumulih. Sedangkan
sepuluh kabupaten/kota yang lainnya termasuk dalam klasifikasi daerah relatif
tertinggal.
Kata Kunci : PDRB, Klasifikasi Daerah, Pertumbuhan Ekonomi, Tipologi Klassen

1. Pendahuluan
Konsep otonomi daerah menuntut setiap daerah untuk mengatur sendiri
urusan kepemerintahan dan kepentingan masyarakat daerah sesuai dengan peraturan
perundang-undangan yang telah ditetapkan. Dalam Undang-undang nomor 32
Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, kewenangan pemerintah daerah adalah
menyelenggarakan seluruh fungsi pemerintahan, kecuali bidang politik luar negeri,
pertahanan, keamanan, yustisi, moneter dan fiskal nasional, dan agama, dengan
tujuan meningkatkan kesejahteraan masyarakat, pelayanan umum, dan daya saing
daerah.
Penyelenggaraan pemerintahan di daerah dilaksanakan berdasarkan pada
asas desentralisasi, dekonsentrasi, dan tugas pembantuan. Pemerintahan daerah yang
dimaksud adalah pemerintahan daerah Provinsi dan pemerintahan daerah
kabupaten/kota. Otonomi daerah dan desentralisasi fiskal berarti adanya keleluasaan
untuk menyusun daftar prioritas pembangunan sehingga dapat mendorong
percepatan pembangunan daerah.
Dari otonomi daerah diharapkan masing-masing daerah mampu
meningkatkan perekonomian dan tingkat kesejahteraan masyarakatnya melalui
pembangunan regional khususnya di bidang ekonomi. Pada hakekatnya,
pembangunan ekonomi adalah serangkaian usaha dan kebijakan yang bertujuan
untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat, memperluas lapangan kerja, memerata-
kan distribusi pendapatan masyarakat, meningkatkan hubungan ekonomi regional
dan melalui pergeseran kegiatan ekonomi dari sektor primer ke sektor sekunder dan
tersier. Dengan perkataan lain arah dari pembangunan ekonomi adalah
mengusahakan agar pendapatan masyarakat naik, disertai dengan tingkat pemerataan
yang sebaik mungkin.
Adanya kebijakan desentralisasi memudahkan bagi pemerintah daerah dalam
menyesuaikan prioritas dan potensi masing-masing daerah. Pemerintah daerah juga
harus mengupayakan pengembangan yang lebih berimbang. Apalagi, pertumbuhan
ekonomi yang terjadi di masing-masing daerah bisa berbeda atau bervariasi satu
sama lain. Hal ini membuat beberapa daerah dapat dikenal sebagai wilayah yang
tumbuh cepat, daerah yang tumbuh lamban, atau daerah dengan pertumbuhan
stagnan. Analisis Tipologi Klassen, membagi wilayah yang diamati menjadi empat
klasifikasi, yaitu daerah dengan pertumbuhan tinggi dan pendapatan tinggi,
pendapatan tinggi namun daerah dengan pertumbuhan rendah, pertumbuhan tinggi
namun daerah berpendapatan rendah, dan daerah dengan pertumbuhan rendah dan
pendapatan rendah (Aswandi and Kuncoro, 2002).
Hasil penelitian menggunakan analisis Tipologi Klassen pada provinsi Jawa
Tengah menunjukkan hasil sebagai berikut. Pertama, daerah yang termasuk dalam
klasifikasi daerah cepat maju dan cepat tumbuh sebanyak 4 kabupaten dan 2 kota.
Kedua, daerah yang termasuk dalam klasifikasi daerah berkembang cepat sebanyak
6 kabupaten dan 2 kota. Ketiga, daerah yang termasuk dalam klasifikasi daerah maju
tapi tertekan sebanyak 2 kabupaten dan 2 kota. Keempat, daerah yang termasuk
dalam klasifikasi daerah relatif tertinggal sebanyak 17 kabupaten (Sarnowo, 2010).
Analisis Tipologi Klassen pada kabupaten/kota di Propinsi Sulawesi Selatan
dapat diklasifikasikan sebagai berikut. Pertama, daerah cepat maju dan cepat tumbuh
terdiri atas Kabupaten Luwu Timur, Kota Makassar, dan Kota Pare-Pare. Kedua,
yang termasuk dalam klasifikasi daerah maju tetapi tertekan yaitu Kabupaten
Pangkep dan Kabupaten Pinrang. Ketiga, daerah berkembang cepat terdiri atas
Kabupaten Luwu dan Kota Palopo. Keempat, daerah relatif tertinggal terdiri atas
enam belas daerah lainnya (Fattah and Rahman, 2013).
Berdasarkan hasil penelitian menggunakan analisis Tipologi Klassen pada 33
(tiga puluh tiga) provinsi di Indonesia dapat disimpulkan sebagai berikut. Pertama,
sebagian besar provinsi di Indonesia pada periode 2011-2013 termasuk dalam
klasifikasi daerah berkembang cepat, yaitu sebanyak 18 provinsi yang tersebar di
wilayah Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, dan Maluku. Kedua, klasifikasi
daerah berikutnya adalah daerah relatif tertinggal, yaitu sebanyak 10 provinsi yang
tersebar di wilayah Sumatera, Jawa, Nusa Tenggara, Kalimantan, dan Papua. Ketiga,
klasifikasi daerah cepat maju dan cepat tumbuh sebanyak 3 provinsi, yaitu
Kepulauan Riau, DKI Jakarta, dan Papua Barat. Keempat, klasifikasi daerah maju
tapi tertekan sebanyak 2 provinsi, yaitu Riau dan Kalimantan Timur (Sarnowo,
2017).
Provinsi Sumatera Selatan termasuk dalam klasifikasi daerah berkembang
cepat (Sarnowo, 2017). Artinya pertumbuhan ekonomi di Provinsi Sumatera Selatan
tinggi namun pendapatan per kapitanya rendah. Pertumbuhan ekonomi dan
pendapatan per kapita Provinsi Sumatera Selatan ini merupakan kontribusi dari 17
kabupaten/kota penyusunnya. Namun, karakteristik ekonomi dari masing-masing
kabupaten/kota di Provinsi Sumatera Selatan belum diketahui. Oleh karena itu,
paper ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik ekonomi daerah di setiap
kabupaten/kota di Provinsi Sumatera Selatan.

2. Landasan Teori

Pembangunan daerah dapat dianggap sebagai bagian integral dari upaya


pembangunan nasional. Arsyad (2005) menyatakan bahwa pembangunan ekonomi
daerah sebagai proses pengelolaan sumber daya daerah oleh pemerintah daerah dan
masyarakat. Selanjutnya, Arsyad (2005) mengemukakan pembentukan kemitraan
antara pemerintah daerah dan sektor swasta untuk menciptakan lapangan kerja baru
dan merangsang pengembangan kegiatan ekonomi (economic growth) di kawasan
sebagai bagian dari proses pembangunan ekonomi daerah.

Masalah pokok dalam pembangunan daerah berada pada penekanan terhadap


kebijakan-kebijakan pembangunan yang berdasarkan pada kekhasan daerah yang
bersangkutan dengan menggunakan potensi sumberdaya manusia, kelembagaan, dan
sumberdaya fisik secara lokal (daerah). Sehingga kita peru melakukan pengambilan
inisiatif-inisiatif yang berasal dari daerah tersebut dalam proses pembangunan untuk
menciptakan kesempatan kerja baru dan merangsang kegiatan ekonomi (Fattah and
Rahman, 2013).

Setiap upaya pembangunan ekonomi daerah mempunyai tujuan utama untuk


meningkatkan jumlah dan jenis peluang kerja untuk masyarakat daerah. Untuk
mencapai tujuan tesebut, pemerintah daerah dan masyarakat harus secara bersama-
sama mengambil inisiatif pembangunan daerah. Oleh karena itu, pemerintah daerah
beserta partisipasi masyarakatnya dan dengan menggunakan sumberdaya yang ada
harus memperkirakan potensi sumberdaya yang diperlukan untuk merancang dan
membangun perekonomian daerah (Arsyad, 2005).

Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) dapat menjadi salah satu indikator
untuk mengukur tingkat keberhasilan pembangunan ekonomi daerah. Hal ini karena
dalam PDRB dapat diketahui laju pertumbuhan ekonomi suatu daerah dan juga
pendapatan daerah tersebut. PDRB atas dasar harga berlaku atau dikenal dengan
PDRB nominal disusun berdasarkan harga yang berlaku pada periode penghitungan,
dan bertujuan untuk melihat struktur perekonomian. Sedangkan PDRB atas dasar
harga konstan disusun berdasarkan harga pada tahun dasar dan bertujuan untuk
mengukur pertumbuhan ekonomi (Husna and Nailatul, 2013).

3. Data

Data yang digunakan dalam penulisan paper ini adalah data sekunder tahun
2011-2016 yang diperoleh dari Badan Pusat Statistik. Data ini merupakan data di
tingkat Provinsi Sumatera Selatan dan juga data di tingkat kabupaten/kota di
Provinsi Sumatera Selatan, yang sesuai dengan variabel yang digunakan dalam
paper ini. Sedangkan variabel yang digunakan dalam penulisan paper ini adalah
sebagai berikut:
a. Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) menurut Kabupaten/Kota di Provinsi
Sumatera Selatan tahun 2011-2016;
b. Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) per kapita Atas Dasar Harga Konstan
2010 menurut Kabupaten/Kota di Provinsi Sumatera Selatan tahun 2011-2016
c. Laju Pertumbuhan PDRB Atas Dasar Harga Konstan 2010 menurut
Kabupaten/Kota di Provinsi Sumatera Selatan tahun 2011-2016
d. Data jumlah penduduk masing-masing kabupaten/kota

4. Hasil dan Pembahasan

Analisis Tipologi Klassen digunakan untuk mengetahui perbedaan


karakteristik daerah di setiap kabupaten/kota di Provinsi Sumatera Selatan dalam
mengkaji tingkat pertumbuhan dan pendapatan masing-masing. Tipologi Klassen
pada dasarnya membagi daerah berdasarkan dua indikator utama, yaitu pertumbuhan
ekonomi daerah dan pendapatan per kapita daerah. Menurut Tipologi Klassen,
wilayah yang diamati dapat dibagi menjadi empat klasifikasi sebagai berikut
(Aswandi and Kuncoro, 2002):
a. daerah cepat maju dan cepat tumbuh (high growth and high income) adalah
daerah kabupaten/kota yang memiliki tingkat pertumbuhan ekonomi dan
pendapatan per kapita yang lebih tinggi dibandingkan dengan daerah provinsi;
b. daerah maju tapi tertekan (high income but low growth) adalah daerah
kabupaten/kota yang memiliki pendapatan per kapita lebih tinggi, tetapi
memiliki tingkat pertumbuhan ekonomi yang lebih rendah dibandingkan dengan
daerah provinsi;
c. daerah berkembang cepat (high growth but low income) adalah daerah
kabupaten/kota yang memiliki tingkat pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi,
tetapi memiliki tingkat pendapatan per kapita yang lebih rendah dibandingkan
dengan daerah provinsi;
d. daerah relatif tertinggal (low growth and low income) adalah daerah kabupaten/
kota yang memiliki tingkat pertumbuhan ekonomi dan pendapat per kapita yang
lebih rendah dibandingkan dengan daerah provinsi.

Dikatakan “tinggi” apabila indikator di suatu kabupaten/kota lebih tinggi


dibandingkan dengan indikator di provinsi, dan dikatakan “rendah” apabila indikator
di suatu kabupaten/kota lebih rendah dibandingkan dengan indikator di provinsi.

Data PDRB yang digunakan pada analisis ini menggunakan PDRB atas dasar
harga konstan 2010 untuk seluruh kabupaten/kota di Provinsi Sumatera Selatan
selama periode 2011-2016. Sedangkan untuk jumlah penduduk masing-masing
kabupaten/kota menggunakan jumlah penduduk pertengahan tahun hasil proyeksi
atas data Sensus Penduduk 2010 yang dipublikasikan oleh BPS Provinsi Sumatera
Selatan.

Untuk memperoleh keterbandingan antar wilayah yang lebih fair maka pada
analisis ini, sektor migas dikeluarkan dari total PDRB. Hal ini dilakukan karena
tidak semua kabupaten/kota memiliki kekayaan alam berupa minyak dan gas. Oleh
karena itu, untuk memenuhi tujuan penulisan paper ini, masing-masing daerah telah
diklasifikasikan berdasarkan empat klasifikasi. Pertama, daerah dengan
pertumbuhan tinggi dan pendapatan per kapita lebih tinggi dibandingkan Provinsi
Sumatera Selatan. Kedua, daerah dengan pendapatan per kapita lebih tinggi
dibandingkan Provinsi Sumatera Selatan namun pertumbuhan ekonominya lebih
rendah. Ketiga, daerah dengan pertumbuhan ekonomi lebih tinggi dibanding
Provinsi Sumatera selatan namun pendapatan per kapitanya lebih rendah. Keempat,
daerah dengan pertumbuhan ekonomi dan pendapatan per kapita yang lebih rendah
dibanding Provinsi Sumatera Selatan.

Perkembangan PDRB Provinsi Sumatera Selatan dan PDRB setiap


kabupaten/kota di Provinsi Sumatera Selatan selama tahun 2011-2016 dapat dilihat
pada tabel 1 dan 2. Berdasarkan data dari tabel tersebut, kita dapat membagi
kabupaten/kota di Provinsi Sumatera Selatan menjadi empat klasifikasi menurut
Tipologi Klassen seperti yang ditujukan pada tabel 3.

Kuadran I: Daerah dengan Pertumbuhan Ekonomi Tinggi dan Pendapatan Per


Kapita Tinggi

Muara Enim dan Palembang merupakan wilayah yang dapat diklasifikasikan


sebagai daerah yang memiliki pertumbuhan yang tinggi dan pendapatan per kapita
lebih tinggi dibandingkan dengan Provinsi Sumatera Selatan. Pada periode 2011-
2016, tingkat pertumbuhan rata-rata Muara Enim sebesar 8,28%, dan Palembang
sebesar 6,96%, sedangkan tingkat pertumbuhan ekonomi rata-rata Sumatera Selatan
pada periode 2011- 2016 adalah sebesar 6,54%. Pendapatan rata-rata di Muara Enim
dalam periode 2011-2016 adalah sebesar Rp.38.576.332 dan Palembang adalah
sebesar Rp.38.793.919, sedangkan Provinsi Sumatera Selatan sebesar
Rp.23.140.480.

Kuadran II: Daerah dengan Pendapatan Per Kapita Rendah namun Pertumbuhan
Ekonomi Tinggi
Musi Rawas, Penukal Abab Lematang Ilir, dan Prabumulih merupakan
daerah yang memiliki pendapatan per kapita rendah, tetapi pertumbuhan ekonomi
tinggi. Pada periode 2011-2016, rata-rata pertumbuhan ekonomi di Musi Rawas
adalah sebesar 6,72%, Penukal Abab Lematang Ilir sebesar 6,72%, dan Prabumulih
sebesar 6,79%, sedangkan Provinsi Sumatera Selatan sebesar 6,54%. Pendapatan
rata-rata pada periode 2011-2016 untuk Musi Rawas adalah sebesar Rp.18.867.747,
Penukal Abab Lematang Ilir sebesar Rp.13.584.764, dan Prabumulih sebesar
Rp.18.716.087, sedangkan Provinsi Sumatera Selatan berada di angka
Rp.23.140.480.
Kuadran III: Daerah dengan Pendapatan Per Kapita Tinggi tetapi Pertumbuhan
Ekonomi Rendah
Lahat dan Musi Banyu Asin dapat diklasifikasikan sebagai daerah dengan
pertumbuhan ekonomi rendah tetapi pendapatan per kapitanya tinggi. Kedua
kabupaten ini memiliki rata-rata pertumbuhan ekonomi yang lebih rendah dibanding
rata-rata pertumbuhan Provinsi Sumatera Selatan. Namun, rata-rata pendapatan per
kapita kedua kabupaten ini lebih tinggi dibanding rata-rata pendapatan per kapita
Provinsi Sumatera Selatan. Pada periode 2011-2016, rata-rata pertumbuhan ekonomi
di Lahat adalah sebesar 4,97% dan Musi Banyu Asin sebesar 6,39%, sedangkan
Provinsi Sumatera Selatan adalah sebesar 6,54%. Rata-rata pendapatan per kapita
pada periode 2011-2016 di Lahat adalah sebesar Rp.23.651.032, dan Musi Banyu
Asin mencapai Rp.30.752.691, sedangkan rata-rata pendapatan per kapita Provinsi
Sumatera Selatan sebesar Rp.23.140.480.
Kuadran IV: Daerah dengan Pertumbuhan Ekonomi Rendah dan Pendapatan Per
Kapita Rendah
Sepuluh daerah lainnya, yaitu Ogan Komering Ulu, Ogan Komering Ilir,
Banyu Asin, Ogan Komering Ulu Selatan, Ogan Komering Ulu Timur, Ogan Ilir,
Empat Lawang, Musi Rawas Utara, Pagar Alam, dan Lubuklinggau diklasifikasikan
sebagai daerah dengan pertumbuhan ekonomi rendah dan pendapatan per kapita
rendah. Hal ini karena sepuluh daerah tersebut memiliki tingkat pertumbuhan
ekonomi dan pendapatan per kapita yang lebih rendah dibanding Provinsi Sumatera
Selatan.

5. Kesimpulan dan Implikasi Kebijakan

Berdasarkan hasil analisis menggunakan Tipologi Klassen dapat disimpulkan


beberapa hal sebagai berikut: (1) Daerah yang termasuk dalam klasifikasi daerah
cepat maju dan cepat tumbuh terdiri atas 1 kabupaten dan 1 kota; (2) Daerah yang
termasuk dalam klasifikasi daerah maju tapi tertekan terdiri atas 2 kabupaten; (3)
Daerah yang termasuk dalam klasifikasi daerah berkembang cepat terdiri atas 2
kabupaten dan 1 kota; (4) Daerah yang termasuk dalam klasifikasi daerah relatif
tertinggal terdiri atas 8 kabupaten dan 2 kota.

Berdasarkan hasil-hasil analisis dapat ditarik implikasi kebijakan sebagai


berikut: (1) Kebijakan pengeluaran pembangunan daerah hendaknya lebih ditujukan
kepada kabupaten-kabupaten yang termasuk dalam klasifikasi daerah relatif
tertinggal, mengingat jumlahnya yang masih cukup banyak. Meskipun demikian
kabupaten/kota lainnya tetap mendapatkan perhatian sesuai dengan potensi dan
peluang pengembangannya, terutama yang termasuk dalam klasifikasi daerah maju
tapi tertekan, dan daerah berkembang cepat; (2) Untuk meningkatkan perekonomian
kabupaten yang termasuk dalam klasifikasi daerah relatif tertinggal, diperlukan
kebijakan yang memberikan insentif bagi investasi di daerah tersebut. Insentif dapat
berupa perbaikan prasarana maupun lingkungan yang kondusif untuk berinvestasi di
daerah tersebut; (3) Perlu penelitian lebih lanjut terhadap beberapa kabupaten/kota
yang termasuk dalam klasifikasi daerah relatif tertinggal.

Daftar Pustaka
Arsyad, L. (2005). Pengantar Perencanaan dan Pembangunan Ekonomi Daerah.
Edisi Kedua).Yogyakarta, Indonesia: BPFE.

Aswandi, H. and Kuncoro, M. (2002) ‘Evaluasi Penetapan Kawasan Andalan: Studi


Empris di Kalimantan Selatan 1993-1999’, Jurnal Ekonomi dan Bisnis Indonesia,
17(1), pp. 27–45. Available at: https://journal.ugm.ac.id/jieb/article/view/6703/5263.

Fattah, S. and Rahman, A. (2013) ‘Analysis of Regional Economic Development in


the Regency / Municipality at South Sulawesi Province In Indonesia’, Journal of
Economics and Sustaonable Development, 4(1), pp. 1–10.
Husna and Nailatul (2013) ‘Analisis Pengembangan Potensi Ekonomi Lokal Untuk
Menguatkan Daya Saing Daerah Di Kabupaten Gresik’, Jurnal Administrasi Publik,
1(1), pp. 188–196.

Sarnowo, H. (2010) ‘KLasifikasi DAERAH KABUPATEN / KOTA di PROPINSI


jawa tengah dengan pendekatan tipologi klassen’, I(2), pp. 169–178.

Sarnowo, H. (2017) ‘KLASIFIKASI WILAYAH PROVINSI DI INDONESIA’,


7(1), pp. 45–57.
Tabel 1. PDRB Per Kapita Harga Konstan 2010 Tanpa Migas
Kabupaten/Kota di Provinsi Sumatera Selatan, Tahun 2011 – 2016

Kabupaten/Kota 2011 2012 2013 2014 2015 2016 Rata-rata

Ogan Komering
17.853.707,45 19.148.267,35 20.135.924,91 20.956.117,73 21.537.736,68 22.170.998,17 18.812.709,72
Ulu
Ogan Komering
18.014.979,75 18.890.745,91 19.788.506,82 20.486.374,98 21.164.156,66 21.854.541,62 18.578.072,85
Ilir
Muara Enim 36.928.413,21 39.253.776,49 41.212.809,43 42.718.318,88 45.776.949,96 47.705.639,04 38.576.331,66

Lahat 22.790.872,57 23.987.539,69 25.015.405,33 25.933.320,22 26.389.251,47 26.927.555,96 23.651.032,00

Musi Rawas 17.780.607,98 18.831.936,29 19.904.532,83 20.937.874,12 22.052.035,60 22.761.180,41 18.867.747,13

Musi Banyu Asin 29.543.922,88 31.231.476,63 32.827.283,25 34.382.160,60 35.531.280,64 36.774.877,32 30.752.691,31

Banyu Asin 14.195.715,42 14.958.813,38 15.700.897,76 16.215.751,04 17.047.348,19 17.959.340,49 14.849.436,10


Ogan Komering
11.870.204,89 12.305.685,46 12.751.237,94 13.266.842,95 13.681.484,22 14.204.326,77 12.145.324,07
Ulu Selatan
Ogan Komering
10.470.183,94 11.086.014,04 11.715.366,45 12.179.674,12 12.773.246,13 13.410.719,68 11.172.939,63
Ulu Timur
Ogan Ilir 11.577.243,11 12.206.428,16 12.877.954,43 13.474.506,23 13.958.815,51 14.558.422,84 12.181.271,78

Empat Lawang 10.810.474,10 11.303.980,06 11.742.773,72 12.074.752,51 12.446.786,28 12.837.950,10 11.068.553,24


Penukal Abab
12.930.077,82 13.701.504,25 14.482.458,78 14.987.138,85 15.639.356,32 16.514.443,61 13.584.763,95
Lematang Ilir
Musi Rawas
18.214.890,51 19.132.689,04 20.048.029,47 21.681.818,53 22.220.262,21 22.617.402,80 19.170.662,72
Utara
Palembang 36.365.581,22 39.193.528,98 41.283.593,33 43.084.317,68 44.779.073,94 47.115.913,09 38.793.918,64

Prabumulih 17.702.415,34 18.780.827,77 19.867.475,15 20.845.071,84 21.649.532,41 22.809.586,05 18.716.087,04

Pagar Alam 12.070.408,92 12.666.671,30 13.233.486,89 13.693.796,13 14.140.754,66 14.591.321,83 12.620.795,31

Lubuk Linggau 13.408.930,38 14.044.827,36 14.285.075,44 14.956.643,55 15.622.133,68 16.356.983,44 13.697.352,80

Sumatera Selatan 21.941.306,06 23.491.441,93 24.643.020,06 25.626.979,66 26.596.800,83 27.691.564,90 23.140.479,61


Sumber : Badan Pusat Statistik, 2017(diolah)
Tabel 2. Pertumbuhan PDRB Harga Konstan 2010 Tanpa Migas
Kabupaten/Kota di Provinsi Sumatera Selatan, Tahun 2011 – 2016 (%)

Kabupaten/Kota 2011 2012 2013 2014 2015 2016 Rata-rata

Ogan Komerin Ulu 6,88 8,90 6,69 5,59 4,22 4,32 6,10
Ogan Komering Ilir 6,90 6,56 6,36 5,07 4,81 4,70 5,73
Muara Enim 14,84 8,11 6,75 5,33 8,87 5,81 8,28
Lahat 6,96 6,52 5,52 4,86 2,86 3,13 4,97
Musi Rawas 7,46 7,52 7,30 6,68 6,81 4,53 6,72
Musi Banyu Asin 7,48 7,52 6,86 6,43 4,97 5,06 6,39
Banyu Asin 6,06 7,03 6,57 4,81 6,64 6,79 6,32
Ogan Komering Ulu 5,20 5,26 5,20 5,51 4,54 5,18 5,15
Selatan
Ogan Komering Ulu Timur 6,37 7,20 6,96 5,20 6,05 6,15 6,32
Ogan Ilir 6,93 6,91 6,95 6,09 4,96 5,65 6,25
Empat Lawang 6,04 6,11 5,39 4,23 4,50 4,54 5,13
Penukal Abab Lematang 7,05 7,72 7,35 5,12 5,88 7,18 6,72
Ilir
Musi Rawas Utara 6,42 6,66 6,30 9,64 3,94 3,17 6,02
Palembang 7,49 9,43 6,90 5,89 5,40 6,65 6,96
Prabumulih 6,62 7,87 7,47 6,55 5,41 6,84 6,79
Pagar Alam 5,42 6,27 5,70 4,57 4,33 4,32 5,10
Lubuk Linggau 6,21 6,35 3,37 6,30 6,00 6,33 5,76
Sumatera Selatan 7,86 8,70 6,46 5,49 5,23 5,52 6,54

Sumber : Badan Pusat Statistik, 2017(diolah)


Tabel 3. Klasifikasi Kabupaten/Kota di Provinsi Sumatera Selatan
Menurut Analisis Tipologi Klassen, Tahun 2011 – 2016

Laju Pertumbuhan PDRB Per Kapita


yi ≥ y yi < y
ri ≥ r Daerah cepat maju dan Daerah berkembang cepat
cepat tumbuh - Musi Rawas
- Muara Enim - Penukal Abab Lematang
- Palembang Ilir
- Prabumulih
ri < r Daerah maju tapi tertekan Daerah relatif tertinggal
- Lahat - Ogan Komering Ulu
- Musi Banyu Asin - Ogan Komering Ilir
- Banyu Asin
- Ogan Komering Ulu
Selatan
- Ogan Komering Ulu Timur
- Ogan Ilir
- Empat Lawang
- Musi Rawas Utara
- Pagar Alam
- Lubuk Linggau
Sumber : Badan Pusat Statistik, 2017 (diolah)