Anda di halaman 1dari 7

PENGAUDITAN II

SIKLUS INVESTASI ASET TETAP

Petunjuk Pengerjaan
a. Tuliskan nama dan NIM serta kelas
b. Dikerjakan pada kertas folio bergaris dan ditulis tangan
c. Kerjakanlah secara berurutan
d. Apabila diketahui dalam lembar jawaban ada indikasi menyalin atau
mencontek maka dianggap tidak mengumpulkan
e. Dikumpulkan pada hari jumat tanggal 15 Maret 2019 paling lambat pukul
15.00 WIB di ruang tax center

SOAL

1. Deskripsikan tujuan audit siklus investasi (asset tetap).


2. Berikan 5 (lima) contoh potensi salah saji asersi manajemen yang berhubungan
dengan investasi aset tetap.
3. Apa saja dokumen transaksi dan dokumen pembukuan yang berhubungan
dengan investasi aset tetap ?
4. Sebutkan dan Jelaskan prosedur pendahuluan audit investasi aset tetap.
5. Sebutkan dan Jelaskan prosedur pengujian detail transaksi pada audit investasi
aset tetap.
6. Sebutkan dan Jelaskan prosedur pengujian detil saldo akun dan estimasi
akuntansi pada audit siklus investasi aset tetap.
7. Sebutkan dan Jelaskan prosedur pengujian penyajian dan pengungkapan pada
audit siklus investasi aset tetap
8. Buatlah audit program pengujian subtantif untuk memeriksa investasi aset tetap
?
9. Buatlah bentuk atau contoh laporan pemeriksaan atau supporting schedule pada
setiap pengujian yang ada pada audit program pengujian subtantif aset tetap ?
.

Menu

Search

Pengujian Substantif dalam Program Pemeriksaan

Oleh : Nurfita Kusuma Dewi

Pengujian substantif merupakan langkah ketiga dari tahap pelaksanaan


pemeriksaan. Pengujian substantif dalam tahap ini meliputi pengujian
substantif atas transaksi (Substantive Test of Transaction – SToT) dan
pengujian substantif tes atas saldo akun/perkiraan serta pengungkapannya
dalam laporan keuangan (Test of Detail Balances – ToDB) . Pengujian
substantif juga menguji kesesuaian laporan keuangan dengan standar
akuntansi pemerintahan, kecukupan pengungkapan, efektivitas sistem
pengendalian internal, dan kepatuhan terhadap peraturan perundang-
undangan.

Pelaksanaan pemeriksaan merupakan realisasi atas perencanaan


pemeriksaan yang telah ditetapkan sebelumnya. Tahap perencanaan
pemeriksaan bertujuan untuk memahami pengendalian internal entitas pada
masing-masing siklus transaksi. Dalam laporan keuangan pemerintah, ada 3
(tiga) siklus yang terkait di dalamnya yakni : (1) penerimaan, (2) pengeluaran,
dan (3) pembiayaan. Pengendalian internal masing-masing siklus transaksi ini
kemudian dinilai (assess) untuk ditentukan tingkat risiko pengendaliannya
(control risk – CR). Apakah masuk dalam kategori tinggi (high), sedang
(medium), atau rendah (low)?

Matriks diatas hanyalah ilustrasi atas hasil penetapan risiko dalam tahap
perencanaan pemeriksaan. Pada kenyataannya, matriks seperti ini hampir
tidak akan ditemui dalam setiap Kertas Kerja Pemeriksaan (KKP). Penetapan
risiko, terutama CR dan IR, biasanya akan digabung dalam worksheet
penetapan tolerable error (TE).

Risiko pengendalian (CR) berkaitan erat dengan pengujian pengendalian


Sistem Pengendalian Intern (Test of Control – ToC). ToC hanya akan
dilakukan pada siklus yang memiliki CR rendah (L- low). Maka berdasarkan
matriks di atas, hanya siklus pembiayaan yang akan diuji pengendalian
internalnya. Hal ini dilakukan agar pemeriksa memiliki keyakinan bahwa
pengendalian pada siklus pembiyaan memang benar-benar efektif.

Untuk siklus penerimaan dan pendapatan, pemeriksa dapat langsung loncat


ke pengujian substantif (SToT dan ToDB). ToC tidak perlu dilakukan pada
siklus dengan CR sedang (M – medium) dan tinggi (H – high) demi efektifitas
dan efisiensi pemeriksaan. Pemeriksa tidak perlu mengumpulkan bukti dari
ToC atas siklus keuangan yang jelas-jelas menunjukkan penerapan SPI yang
buruk berdasarkan tahap perencanaan pemeriksaan.

Tujuan utama ToC adalah untuk meyakinkan pemeriksa bahwa pengendalian


intern yang ada benar-benar berjalan efektif.

Namun demikian, ToC dapat pula tidak dilakukan meski CR dalam siklus
tersebut terdeteksi rendah. Pemeriksa dapat langsung melakukan SToT dan
ToDB pada siklus tersebut jika perbandingan biaya dan hasil yang didapatkan
tidak relevan (Cost Benefit Analysis – CBA).
.

Program Pemeriksaan

Ketika pemeriksa telah memutuskan untuk melakukan ToC, SToT, atau ToDB
untuk masing-masing siklus, maka langkah selanjutnya yang perlu dilakukan
adalah menyusun program pemeriksaan (audit programme). Program
pemeriksaan berisi langkah-langkah yang akan dilakukan pemeriksa untuk
mengumpulkan bukti pemeriksaan yang akan dituangkan dalam KKP. Berikut
ini adalah beberapa hal yang harus termuat dalam program pemeriksaan yang
disusun oleh Ketua Tim Pemeriksa :

1. Jenis Pengujian

Ketua Tim harus menentukan terlebih dahulu jenis pengujian yang akan dimuat
dalam program pemeriksaan untuk masing-masing siklus. Apakah program
pemeriksaan ToC untuk siklus pembiayaan, SToT untuk siklus pendapatan,
atau ToDB untuk siklus penerimaan. Hal ini penting dilakukan agar anggota
tim dapat mengetahui dengan jelas maksud dari pengumpulan bukti yang akan
dilakukan.

2. Tujuan Pemeriksaan

Dalam tujuan pemeriksaan, Ketua Tim harus menentukan terlebih dahulu


atribut untuk masing-masing asersi pengujian. Misal dalam ToC siklus
pembiayaan, untuk asersi kelengkapan (completeness) maka atribut yang
harus diuji adalah prenumbered document, otorisasi, pemisahan fungsi, dan
lain-lain. Hal ini harus dilakukan agar semua asersi yang terkait dengan tujuan
pemeriksaan dalam masing-masing pengujian (ToC, SToT, dan ToDB) dapat
terpenuhi dalam tahap pelaksanaan pemeriksaan.

3. Prosedur Pemeriksaan

Prosedur pemeriksaan berisi langkah-langkah spesifik yang akan dilakukan


anggota tim dalam pengumpulan bukti. Prosedur pemeriksaan disini tidak
bersifat kaku. Ketua Tim dapat mengubah isi prosedur pemeriksaan ketika
fakta di lapangan memang tidak memungkinkan untuk melakukan prosedur
audit yang dimaksud sepanjang tetap melakukan konsultasi dengan
Supervisor. Hal ini dilakukan sesuai dengan prinsip auditor yakni : “Do what
you write and write what you do!”

Misal untuk prosedur pemeriksaan hitung jumlah kendaraan dinas yang ada di
kantor Pemerintah Daerah “XYZ”. Jika kenyataan di lapangan menunjukkan
bahwa tidak ada satu kendaraan dinas pun yang ada di kantor ketika
pelaksanaan pemeriksaan dilakukan, maka pemeriksa tentu saja tidak dapat
melakukan “penghitungan” atas kendaraan dinas yang ada. Prosedur audit
dapat diubah dengan “observasi” atau “wawancara” untuk mengetahui alasan
dibalik tidak adanya kendaraan dinas di kantor tersebut.

Selain itu, prosedur pemeriksaan harus mengandung kata kerja spesifik.


Spesified what you done! Langkah-langkah dalam prosedur pemeriksaan
harus memuat teknik-teknik audit. Teknik-teknik audit merupakan cara
memperoleh bahan bukti yang berkaitan erat dengan jenis bukti audit yang
akan diperoleh. Ada 8 (delapan) jenis bukti audit yang terdapat dalam buku
Auditing dan Jasa Assurance (Arens, 2006) yakni :

a. Pemeriksaan fisik (physical examination)


b. Konfirmasi (Confirmation)
c. Dokumentasi (Documentation)
d. Prosedur Analitis (Analytical Procedures)
e. Wawancara dengan klien (Inquiries of The Client)
f. Rekalkulasi (Recalculation)
g. Pelaksanaan ulang (Reperformance)
h. Observasi (Observation).

Untuk mendapatkan bukti-bukti seperti disebutkan di atas, maka program


pemeriksaan harus memuat perintah-perintah yang spesifik. Hindari kata kerja
seperti “Periksa”, “Yakinkan”, “Teliti” dan kata-kata kerja umum lainnya.
Sebaliknya gunakan kata kerja spesifik seperti “Examine“, “Vouching”,
“Calculate”, dan lain sebagainya. Hal ini perlu dilakukan untuk memudahkan
anggota tim melakukan pengumpulan bukti sesuai dengan tujuan dan asersi
pemeriksaan yang ditulis dalam program pemeriksaan.

4. Ukuran sampel

Tidak semua program pemeriksaan dapat dilakukan dengan mengumpulkan


sampel. Untuk teknik pemeriksaan yang berkaitan dengan “observasi” tentu
saja sampling tidak dapat dilakukan. Untuk kategori program pemeriksaan
seperti ini, pemeriksa dapat membubuhkan kata “N/A” (not applicable) di dalam
KKP.

Untuk program audit yang membutuhkan sampel, maka pencantuman ukuran


sampel dalam program pemeriksaan menjadi penting. Seberapa besar dan
seberapa jauh pemeriksaan yang seharusnya dilakukan akan sangat
membantu anggota tim dalam menentukan batas jumlah sampel yang
diperlukan guna mendukung penerbitan opini di akhir pemeriksaan (reliable).

5. Cara Sampling

Selain ukuran sampel, cara sampling pun penting untuk dicantumkan dalam
program pemeriksaan. Pemilihan sampel dapat dilakukan secara probabilistik
dan nonprobabilistik, kemudian statistik dan nonstatistik. Masing-masing cara
memiliki jenis sampling yang berbeda-beda pula, misalnya directed sample
selection, block sample selection, random sample, systematic sample
selection, dan sebagainya. Ketika metode sampling ini telah ditentukan dan
dicantumkan dalam program pemeriksaan oleh Ketua Tim, maka anggota tim
pun akan dapat melakukan sampling dengan mudah.

6. Timeline

Penetapan waktu pengumpulan bukti pun dicantumkan dalam program


pemeriksaan. Kita mengenal ada 2 (dua) jenis pelaporan keuangan yakni
before balancing date dan after balancing date. Dalam audit bisnis, sebuah
perusahaan dimungkinkan untuk menerbitkan in-house report, yakni laporan
keuangan (biasannya Neraca dan Laporan Laba Rugi) yang terbit dua minggu
setelah tanggal 1 Januari. Bahkan ada pula laporan audit yang terbit
bersamaan dengan terbitnya laporan keuangan. Kejadian yang terakhir ini
sering disebut dengan hard-close audit. Hal-hal seperti inilah yang membuat
timeline menjadi hal penting dalam pelaksanaan pemeriksaan. Apakah
anggota tim dimungkinkan untuk mengumpulkan bukti sebelum tanggal tutup
buku ataukah setelah tanggal tutup buku (ketika laporan keuangan diterima
oleh pemeriksa).

Ada dua jenis format penyusunan program audit, yakni Design Format dan
Performace Format. Design Format memungkinkan program pemeriksaan
disusun berdasarkan asersi pemeriksaan, sedangkan Performance Format
memungkinkan program pemeriksaan disusun berdasarkan tujuan
pemeriksaan. Pemilihan format ini tidak mempengaruhi isi program audit
karena pada dasarnya langkah pemeriksaan yang satu berkaitan dengan
langkah pemeriksaan yang lain. Sehingga tidak menutup kemungkinan dalam
satu langkah pemeriksaan bisa digunakan untuk menguji dua atau tiga asersi
sekaligus.

Untuk program audit berdasarkan Performance Format dapat dilihat pada


gambar di bawah ini.

Namun sayangnya, tidak semua Tim Pemeriksa menggunakan tabel Program


Pemeriksaan seperti tersaji di atas. Program Pemeriksaan dalam KKP yang
ada selama ini, mayoritas hanya menyajikan tujuan dan prosedur pemeriksaan
tanpa menyinggung ukuran sampel, cara sampling, dan penetapan waktu
pengumpulan bukti. Prosedur pemeriksaan pun hanya dituangkan dalam
Cover Sheet pemeriksa yang tidak memuat langkah-langkah spesifik terkait
dengan jenis bukti pemeriksaan yang akan didapatkan.
Praktik seperti ini seharusnya bertentangan dengan Petunjuk Teknis
Pemeriksaan LKPD 2008. Di dalam lampiran 3.12 yang memuat matriks
pengujian substantif, tampak bahwa ada lima asersi yang seharusnya mampu
dibuktika oleh pemeriksa melalui program pemeriksaan yang disusun.
Memang di dalam Petunjuk Pelaksanaan Pemeriksaan 2008 pun, tahap
Pengujian Substantif atas Transaksi dan Saldo dilaksanakan dalam satu tahap.
Namun jika dicermati lebih jauh, maka akan tampak bahwa Juknisnya sendiri
menghendaki dua tahap pengujian substantif ini dipisah berdasarkan asersi
masing-masing.

Jika saja setiap pemeriksa mau peduli dan melakukan inovasi dalam
penyusunan program pemeriksaan, maka opini yang diterbitkan atas laporan
keuangan pemerintah pun akan lebih reliable. (blog.akusukamenulis)

::: Aksi COPYPASTE tanpa menyebutkan sumber adalah sebuah PLAGIASI!


:::

Sumber :

Arens, A. Alvin, dkk. Auditing dan Jasa Assurance. Penerbit Erlangga. Jakarta
: 2006.

Loading...
April 26, 20112 Replies
Next »
Leave a Reply
Your email address will not be published. Required fields are marked *
Comment
Name *
Email *
Website
Post Comment
Notify me of new comments via email.

chimanx on May 18, 2011 at 5:33 pm


permisi, numpang bookmark ya :3

Reply
baabamz on January 9, 2012 at 10:25 pm
thx share nya 🙂

Reply
The Shining Moon

Archives

February 2012 (3)


November 2011 (1)
October 2011 (7)
September 2011 (1)
August 2011 (2)
July 2011 (6)
May 2011 (17)
April 2011 (3)
The Owner

Arisa Fukushima

Buat Lencana Anda


blog_chan

akusukamenulis
Quotes of The Day

Visitors

212,648 People
View Full Site

:)