Anda di halaman 1dari 22

Laporan Kasus

MIOMA UTERI

Disusun Oleh:
Clara Mutiara Edem
H1AP14012

Pembimbing:
dr. Taufiq Ramadhan, SpOG

DEPARTEMEN OBSTETRI DAN GINEKOLOGI


FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS BENGKULU
RUMAH SAKIT UMUM DAERAH Dr. M. YUNUS BENGKULU
2018
BAB I
LAPORAN KASUS

A. REKAM MEDIS
1.Anamnesis
Autoanamnesis
a. Identitas
Nama : Ny. LII
Umur : 53 tahun
Jenis Kelamin : Perempuan
Agama : Islam
Pendidikan : SD
Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga
Suku bangsa : Indonesia
Alamat : Jln Salak I
MRS : 8 Oktober 2018, pukul 10.30 WIB
Med.Rec : 782551

b. Riwayat Perkawinan
Menikah 1 kali, lamanya 32 tahun

c. Riwayat Reproduksi
Menarche :13 tahun
Siklus haid : Teratur, 28 hari
Lamanya haid : 7 hari
Banyaknya : 2x ganti pembalut

1
d. Riwayat Kontrasepsi
Menggunakan kontrasepsi dengan cara Implant selama 5 tahun. Tidak ada
masalah selama menggunakan kontrasepsi.

e. Riwayat Kehamilan/Melahirkan
1. Laki-laki, aterm, persalinan normal, 2500 gram, dukun, umur sekarang 33
tahun.
2. Perempuan, aterm, persalinan normal, 2500 gram, dukun, (+) usia 3 bulan.
3. Perempuan, aterm, persalinan normal, 2600 gram, dukun, (+) usia 5 bulan.
4. Laki-laki, aterm, persalinan normal, 2400 gram, dukum, umur sekarang 22
tahun.

f. Riwayat Gizi/Sosial Ekonomi


Baik.

g. Riwayat Penyakit Dahulu


- Riwayat asma : Tidak ada.
- Riwayat hipertensi : Tidak ada.
- Riwayat penyakit jantung : Tidak ada.
- Riwayat diabetes mellitus : Tidak ada.
- Riwayat menjalani operasi : Tidak ada.
- Riwayat Hepatitis : Tidak ada.

h. Anamnesis Khusus
Keluhan utama : Benjolan di perut bawah + 3 bulan SMRS
Riwayat perjalanan penyakit :
Os datang dengan keluhan nyeri perut bawah yang dirasakan sejak ± 3
bulan SMRS. Nyeri dirasakan sekali-sekali dan tidak mengganggu aktifitas.

2
Os juga mengeluh adanya benjolan di perut bawah berukuran kecil. Keluhan
tidak diobati. BAK (+) normal, BAB (+) normal.
± 1 minggu SMRS, keluhan nyeri semakin bertambah. Nyeri dirasakan
sampai mengganggu aktifitas. Benjolan di perut bagian bawah semakin
membesar. Riwayat diurut-urut (-). Riwayat keputihan. BAK (+) normal,
BAB (+) normal.
Os memeriksakan keluhannya ke RS Kota Bengkulu, dari hasil
pemeriksaan USG didapatkan uterus membesar dengan ukuran 10 x 7 cm dan
didiagnosa susp mioma uteri. Os dirujuk ke RSUD M Yunus.
Os MRS melalui poli kandungan dan direncanakan untuk operasi
elektif histerektomi.

2. Pemeriksaan Fisik
a) Status Present
1) Keadaan umum : Tampak sakit sedang
Kesadaran : Compos mentis
Berat badan : 51 kg
Tinggi badan : 150 cm
Tekanan darah : 100/70 mmHg
Nadi : 82x/menit, isi dan tegangan cukup
Pernafasan : 22/menit
Suhu : 36,5°C

2) Keadaan khusus
 Kepala
Bentuk : Normochepali, tidak ada deformitas.
Rambut : Warna hitam, tersebar merata
 Wajah

3
Inspeksi : Bentuk simetris, tidak ada deformitas, tidak pucat,
tidak oedema
 Mata
Konjungtiva : Tidak anemis
Sclera : Tidak ikterik
 Telinga
Bentuk : Normal, tidak terdapat deformitas
 Hidung
Bagian luar : Normal, tidak terdapat deformitas
Septum : Terletak di tengah dan simetris
 Mulut dan Tenggorokan
Bibir : Normal, tidak pucat, tidak sianosis
Mukosa mulut : Normal, tidak hiperemis
Tenggorokan : Nyeri menelan (-)
 Leher
Bendungan vena : Tidak terdapat bendungan vena
Kelenjar tiroid :Tidak membesar, mengikuti gerakan menelan,
simetris
KGB : Tidak terdapat pembesaran, tidak ada massa
 Kulit
Warna :Kuning langsat
 Thoraks
Jantung
Inspeksi : Iktus kordis tidak terlihat
Palpasi : Iktus kordis tidak teraba
Perkusi : Batas jantung normal
Auskultasi : BJ I & II reguler, Gallop (-), Murmur (-)

4
Paru
Inspeksi : Gerakan dada simetris saat statis dan dinamis
Palpasi : Stem fremitus simetris kanan=kiri normal
Perkusi : Sonor
Auskultasi : Vesikuler +/+ normal, ronkhi -/-, wheezing -/-
 Ekstremitas
Inspeksi : Tidak tampak deformitas
Palpasi : Akral hangat pada keempat ekstremitas

Status Ginekologi:
Pemeriksaan luar: Abdomen datar lemas, simetris, ½ pusat-simfisis, massa (+), nyeri
tekan (+), TCB (-)

Pemeriksaan dalam
Inspekulo : portio tak livide, OUE tertutup, flour (-), fluxus (+) darah tak aktif,
E/L/P (-) sondase uterus
VT : Portio kenyal, OUE tertutup, nyeri goyang (-), AP kanan/kiri lemas, CD
tak menonjol

c) Pemeriksaan Penunjang
- Laboratorium
Jenis Pemeriksaan Hasil Nilai Rujukan
Hb : 13,2 gr/dl 12,0-16,0 gr/dl
Hematokrit : 39% 37-47%
Leukosit : 5.900 mm3 4.000-10.000 mm3
Trombosit : 277.000 sel/ mm3 150.000-400.000)
Gula Darah Sewaktu : 104 mg/dl 70-120 mg/dl
Ureum : 27 mg/dl 20-40 mg/dl
Creatinin : 0,7 mg/dl 0,5-1,2 mg/dl

5
SGOT : 20 U/L <40 U/L
SGPT : 13 U/L <41 U/L
Clothing time : 6’ 6-15 menit
Blooding time : 3’ 2-7 menit
HbsAg : Non Reaktif
HIV : Non Reaktif

- Urinalisis
Jenis Pemeriksaan Hasil
Makroskopis
Warna : Kuning
Jernih : Keruh
Kimiawi
Protein : Negatif
Reduksi : Negatif
Urobilin : Negatif
Bilirubin Indirect : 0,4 mg/dl
Bilirubin Direct : 0,3 mg/dl
Bilirubin Total : 0,7 mg/dl
Benda keton : -
Mikroskopis
Epitel : +
Leukosit : 2-4/Lpb
Eritrosit : 0-1/Lpb
Silinder : -
Kristal : -
Bakteri : -

6
- USG

 Dist = 10,47 cm x 7,67 cm


Kesan : susp. Mioma Uteri

d) Diagnosis Kerja
Mioma Uteri

e) Terapi
 Observasi TTV
 IVFD RL XX gtt/menit
 Inj. Ceftriaxone 2 x 1 gr IV

R/ laparotomi tanggal 9-10-2018

f) Follow Up
Tanggal 09 Oktober 2018, pukul 08.40 WIB
S/ nyeri perut bawah (+) P/
 Observasi TVI
O/  IVFD RL XX
Status Present gtt/menit
KU : Sedang  Inj. Ceftriaxone 2 x 1
Sens : CM gr
TD : 100/80 mmHg
Nadi : 80 x/min R/
RR : 18x/min
- Laparotomi

7
T : 36,8 C

Status Ginekologi

Pemeriksaan luar :
abdomen datar lemas, simetris, ½ pusat-simfisis, massa
(+), nyeri tekan (+), TCB (-)

VT: portio kenyal, OUE tertutup, nyeri goyang (-), AP


kanan/kiri lemas, CD tak menonjol

A/ Mioma uteri
Pukul 10.20 WIB Dilakukan operasi
histerektomi salpingo-
ooforektomi bilateral
Pukul 10.30 WIB Didapatkan mioma
berukuran 10 x 7 cm
dengan jenis mioma
intramural
Pukul 11.30 WIB Operasi selesai
Tanggal 09 Oktober 2018, Pukul 12.30 WIB
S/ post laparatomi + histerektomi p/
- IVFD RL gtt
O/
XX/menit
Status present:
- Ceftriaxone inj
KU : Sedang
2x1 amp
Sens : CM
- Transamin inj
TD : 115/75 mmHg
3x1 amp
Nadi : 95 x/min
RR : 20x/min

8
T : 36,4 C

Status Obstetri:
Pemeriksaan Luar: abdomen datar, lemas, simestris,
perdarahan aktif (-), luka operasi tertutup verban.

A/ post histerektomi salpingo-ooforektomi bilateral a.i


mioma uteri

Tanggal 10 Oktober 2018 Pukul 07.00 WIB


S/ Post laparatomi + histerektomi H+1 P/
- Lepas Infus
O/ - Lepas Kateter
Status present: - Cefixime 3x100
KU : Sedang mg p.o
Sens : CM - Ranitidin 3 x5o
TD : 120/70 mmHg mg p.o
Nadi : 80 x/min - Neurodex 1x1 p.o
RR : 22x/min - Meloxicam 2x1
T : 36,6 C p.o

Status Obstetri:
Pemeriksaan Luar: abdomen datar, lemas, simestris,
perdarahan aktif (-), luka operasi tertutup verban.

Laboratorium
HB post OP: 11,8 gr/dl

A/ post histerektomi salpingo-ooforektomi bilateral a.i


mioma uteri

9
Tanggal 11 Oktober 2018, pukul 07.00 WIB
S/ Post laparatomi + histerektomi H+2 P/
- Cefixime 3x100
O/ mg p.o
Status present: - Meloxicam 2x1
KU : Sedang p.o
Sens : CM - Neurodex 2x1 tab
TD : 120/80 mmHg po
Nadi : 92 x/min
RR : 24x/min
T : 36,6 C Keadaan umum ibu baik,
Ibu boleh pulang
Status Obstetri:
Pemeriksaan Luar: abdomen datar, lemas, simestris,
perdarahan aktif (-), luka operasi tertutup verban.

A/ post histerektomi salpingo-ooforektomi bilateral a.i


mioma uteri

10
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1.Anatomi Uterus
Uterus merupakan organ berongga yang berbentuk buah pir dan berdinding tebal.
Pada orang dewasa muda nullipara, panjang uterus 3 inci (8 cm), lebar 2 inci (5 cm),
dan tebal 1 inci (2,5 cm).

Gambar 1. Anatomi Uterus

Uterus dibagi atas fundus, corpus, dan cervix uteri. Fundus uteri merupakan
bagian uterus yang terletak diatas muara tuba uterina. Corpus uteri merupakan bagian
uterus yang terletak dibawah muara tuba uterina. Ke arah bawah corpus akan
menyempit, yang berlanjut sebagai cervix uteri. Cavum uteri berbentuk segitiga pada
penampang bidang coronal, tetapi pada penampang sagital hanya berbentuk celah.
Normalnya, corpus uterus menghadap ke arah anterior dan superior di atas kandung
kemih yang disebut antefleksi uterus.1
Dinding uterus memiiliki 3 lapisan utama , yaitu : 2

11
a. Endometrium, lapisan dalam yaitu suatu mukosa yang dilapisi oleh epitel
kolumnar selapis
b. Miometrium, lapisan tengah yaitu lapisan tebal otot polos yang memiliki banyak
pembuluh darah
c. Perimetrium, lapisan terluar yaitu suatu lapisan jaringan ikat terluar yang
bersambungan dengan ligamen , yang berupa lapisan adventisia di sejumlah area,
tetapi kebanyakan serosa yang dilapisi mesotel.
Arteri utama yang mendarahi uterus adalah arteri uterina, cabang dari arteri iliaca
interna. Arteri uterina menyilang diatas ureter tegak lurus dan mencapai cervix
setinggi ostium internum cervicis. Arteri kemudian berjalan ke atas sepanjang pinggir
lateral uterus didalam ligamnetum latum dan akhirnya beranastomosis dengan arteria
ovarica, yang juga mendarahi uterus. Vena pada uterus adalah vena uterina yang
bermuara ke dalam vena iliaca interna. Persyarafan simpatis dan parasimpatis uterus
berasal dari plexus hypogastricus inferior. 1

2.2.Definisi
Mioma uteri merupakan neoplasma jinak yang berasal dari otot uterus dan
jaringan ikat yang menumpangnya. Mioma uteri juga dikenal dengan istilah
fibromioma, leimioma dan fibroid. 3

2.3.Epidemiologi
Mioma uteri didiagnosis pada 20-25% wanita usia reproduksi, dan 30-40% wanita
yang lebih tua dari 40 tahun. Mioma tidak terjadi sebelum pubertas dan frekuensinya
menurun dengan menopause. Insidens 3-9 kali lebih banyak pada ras kulit berwarna
(African-american women) dibandingkan dengan ras kulit putih (kaukasian-asian
4
women). Di Indonesia mioma ditemukan 2,39% - 11,7% pada semua penderita
ginekologi yang dirawat. Wanita yang sering melahirkan, sedikit kemungkinannya
untuk perkembangan mioma ini dibandingkan dengan wanita yang tak pernah hamil
atau hanya satu kali hamil. Statistik menunjukkan 60% mioma uteri berkembang pada

12
wanita yang tidak pernah hamil atau hanya hamil satu kali. Prevalensi meningkat
apabila ditemukan riwayat keluarga, ras, kegemukan dan nullipara,5

2.4.Etiologi
Etiologi yang pasti terjadinya mioma uteri sampai saat ini belum diketahui.
Faktor-faktor yang bertanggung jawab untuk inisiasi perubahan genetik yang didapat
pada mioma termasuk kelainan intrinsik dari themyometrium, reseptor estrogen yang
meningkat secara kongenital pada miometrium, perubahan hormonal, atau respon
terhadap cedera iskemik pada saat menstruasi. 6

2.5.Klasifikasi
Klasifikasi mioma dapat berdasarkan lokasi dan letak pada lapisan uterus,
berdasarkan lokasinya terbagi menjadi 3, yaitu :
1. Cervical (2,6%), umumnya tumbuh ke arah vagina menyebabkan infeksi.
2. Isthmica (7,2%), lebih sering menyebabkan nyeri dan gangguan traktus urinarius.
3. Corporal (91%), merupakan lokasi paling lazim, dan seringkali tanpa gejala
Menurut letaknya, mioma dapat dibagi : 7
 Mioma submukosa
Mioma yang berada dibawah endometrium dan menonjol kedalam rongga uterus.
Mioma submukosa dapat tumbuh bertangkai menjadi polip, kemudian dilahirkan
melalui saluran serviks (myom gebut). Dari sudut klinik mioma uteri submukosa
mempunyai arti yang lebih penting dibandingkan dengan jenis yang lain. Mioma
submukosa walaupun hanya kecil selalu memberikan keluhan
perdarahan melalui vagina. Pada mioma uteri subserosa ataupun intramural walaupun
ditemukan cukup besar tetapi sering kali memberikan keluhan yang tidak berarti.
 Mioma subserosa
Mioma subserosa tumbuh ke luar dinding uterus sehingga menonjol pada
permukaan uterus, diliputi oleh serosa. Mioma jenis ini dikenal sebagai jenis parasitik

13
 Mioma intramural
Disebut juga sebagai mioma intraepitelial Mioma terdapat di dinding uterus
diantara serabut miometrium. Biasanya multipel apabila masih kecil tidak merubah
bentuk uterus, tetapi bila besar akan menyebabkan uterus berbenjol-benjol, uterus
bertambah besar dan berubah bentuknya. Mioma sering tidak memberikan gejala
klinis yang berarti kecuali rasa tidak enak karena adanya massa tumor didaerah perut
sebelah bawah.

Gambar 2. Jenis-jenis mioma uteri

2.6. Patofisiologi
Mioma uterus adalah tumor monoklonal yang muncul dari jaringan otot polos
uterus (yaitu miometrium). Neoplasma jinak yang terdiri dari "myofibroblasts" yang
tidak teratur yang terkubur dalam jumlah yang banyak sekali dari matriks
ekstraseluler yang menyumbang sebagian besar volume tumor. Sel-sel berkembang
biak pada tingkat sedang dan pertumbuhan mereka tergantung pada estrogen steroid
ovarium dan progesteron dan oleh karena itu sebagian besar mengecil setelah
menopause. Estradiol estrogen yang berpotensi biologis menginduksi produksi PR
melalui ER-α. PR sangat penting untuk respon jaringan fibroid terhadap progesteron

14
yang disekresikan oleh indung telur. Progesteron dan PR sangat diperlukan untuk
pertumbuhan tumor, meningkatkan proliferasi sel dan kelangsungan hidup dan
meningkatkan pembentukan matriks ekstraseluler. Dengan tidak adanya progesteron
dan PR, estrogen dan ER-α tidak cukup untuk pertumbuhan fibroid. 8

2.7. Tanda Dan Gejala


Hampir separuh kasus mioma uteri ditemukan secara kebetulan pada pemeriksaan
ginekologik karena tumor ini tidak mengganggu. Gejala yang timbul sangat
tergantung padat tempat sarang mioma ini berada serviks, intramural, submukus,
subserus, besarnya tumor, perubahan dan komplikasi yang terjadi. Gejala tersebut
dapat digolongkan sebagai berikut : 7
1) Perdarahan abnormal
Gangguan perdarahan yang umum terjadi adalah hipermenore, menoragia dan
dapat juga terjadi metroragia. Beberapa faktor yang menjadi penyebab perdarahan ini,
antara lain adalah :
- Pengaruh ovarium sehingga terjadilah hyperplasia endometrium sampai
adenokarsinoma endometrium.
- Permukaan endometrium yang lebih luas daripada biasa.
- Atrofi endometrium di atas mioma submukosum.
- Miometrium tidak dapat berkontraksi optimal karena adanya sarang mioma di
antara serabut miometrium, sehingga tidak dapat menjepit pembuluh darah
yang melaluinya dengan baik.
2) Rasa nyeri
Rasa nyeri bukanlah gejala yang khas tetapi dapat timbul karena gangguan
sirkulasi darah pada sarang mioma, yang disertai nekrosis setempat dan peradangan.
Pada pengeluaran mioma submukosum yang akan dilahirkan, pula pertumbuhannya
yang menyempitkan kanalis servikalis dapat menyebabkan juga dismenore.
3) Gejala dan tanda penekanan

15
Gangguan ini tergantung dari besar dan tempat mioma uteri. Penekanan pada
kandung kemih akan menyebabkan poliuri, pada uretra dapat menyebabkan retensio
urine, pada ureter dapat menyebabkan hidroureter dan hidronefrosis, pada rektum
dapat menyebabkan obstipasi dan tenesmia.
4) Infertilitas dan abortus
Infertilitas dapat terjadi apabila sarang mioma menutup atau menekan pars
intertisialistuba, sedangkan mioma submukosum juga memudahkan terjadi abortus
oleh karena distorsi rongga uterus.

2.8.Diagnosis
1. Anamnesis
Dalam anamnesis dicari keluhan utama serta gejala klinis mioma lainnya, faktor
resiko serta kemungkinan komplikasi yang terjadi.
2. Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan status lokalis dengan palpasi abdomen. Mioma uteri dapat diduga
dengan pemeriksaan luar sebagai tumor yang keras, bentuk yang tidak teratur,
gerakan bebas, tidak sakit.
3. Pemeriksaan penunjang

2.9.Diagnosis Banding
1. Adenomiosis
2. Neoplasma ovarium
3. Kehamilan

2.10. Pemeriksaan Penunjang


1. Pemeriksaan laboratorium
Akibat yang terjadi pada mioma uteri adalah anemia akibat perdarahan uterus
yang berlebih dan kekurangan zat besi. Pemeriksaan laboratorium yang perlu

16
dilakukan adalah pemeriksaan darah lengkap terutama untuk mencari kadar Hb.
Pemeriksaan lab lain disesuaikan dengan keluhan pasien
2. Imaging
 USG , didapatkan massa padat dan homogen pada uterus. Mioma uteri berukuran
besar terlihat sebagai massa pada abdomen bawah dan pelvis dan kadang terlihat
tumor dengan kalsifikasi.
 Histerosalfingografi digunakan untuk mendeteksi mioma uteri yang tumbuh ke
arah kavum uteri pada pasien infertile
 MRI lebih akurat untuk menentukan lokasi, ukuran, jumlah mioma uteri.

2.10 Penatalaksanaan
Penanganan mioma uteri tergatung pada umur, status fertilitas, paritas, lokasi dan
ukuran tumor, sehingga biasanya mioma yang ditangani yaitu yang membesar secara
cepat dan bergejala serta mioma yang diduga menyebabkan fertilitas. Penanganan
mioma terbagi menjadi penanganan konservatif dan operatif : 8
1. Penanganan konservatif bila mioma berukuran kecil pada para dan post
menopause tanpa gejala. Terapi konservatif dilakukan dengan cara observasi
dengan pemeriksaan pelvis secara periodik setiap 3-6 bulan, pantau hb.
2. Terapi obat-obatan, terapi hormonal juga dapat diberikan untuk mengurangi
ukuran mioma, nyeri (OAINS), Androgen (danazol, gestrinone), GnRH
(Triptorelin).
3. Penanganan operatif meliputi miomektomi dan histerektomi. Miomektomi adalah
pengambilan sarang mioma saja tanpa pengangkatan uterus. Tindakan ini dapat
dikerjakan misalnya pada mioma submukosa pada myoma geburt. Histerektomi
adalah tindakan pembedahan untuk mengangkat uterus dapat dilakukan dengan 3
cara yaitu : dengan pendekatan abdominal (laparotomi), vaginal dan beberapa
kasus dengan laparoskopi. Tindakan histerektomi pada pasien dengan myoma uteri
merupakan indikasi bila didapati keluhan menorrhagia, metrorrhagia, keluhan

17
obstruksi pada traktus urinarius dan ukuran uterus sebesar usia kehamilan 12-14
minggu.

2.11 Komplikasi
Komplikasi yang terjadi pada mioma uteri : 7
1. Degenerasi ganas
Mioma uteri menjadi leiomiosarkoma ditemukan hanya 0,32-0,6% dari seluruh
mioma, serta merupakan 50-75% dari semua sarkoma uterus. Keganasan umumnya
baru ditemukan pada pemeriksaan histologi uterus yang telah diangkat. Kecurigaan
akan keganasan uterus apabila mioma uteri cepat membesar dan apabila terjadi
pembesaran sarang mioma dalam menopause.
2. Torsi (putaran tangkai)
Sarang mioma yang bertangkai dapat mengalami torsi, timbul gangguan sirkulasi
akut sehingga mengalami nekrosis. Dengan demikian terjadilah sindrom abdomen
akut. Jika torsi terjadi perlahan-lahan, gangguan akut tidak terjadi.
3. Nekrosis dan infeksi
Sarang mioma dapat mengalami nekrosis dan infeksi yang diperkirakan karena
gangguan sirkulasi darah padanya.

2.12 Prognosis
Histerektomi dengan mengangkat seluruh mioma adalah kuratif. Myoma yang
kambuh kembali (rekurens) setelah myomectomi terjadi pada 15-40% pasien dan
2/3nya memerlukan tindakan lebih lanjut. Myomectomi yang extensif dan secara
significant melibatkan miometrium atau menembus endometrium, maka diharuskan
SC (Sectio caesaria) pada persalinan berikutnya.

18
BAB III
PEMBAHASAN
3.1 Apakah diagnosis sudah tepat?
Pada kasus ini penegakan diagnosis penyakit mioma uteri ditegakan berdasarkan
anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang. Pada hasil anamnesis,
pasien datang dengan keluhan nyeri perut bawah yang dirasakan sejak ± 3 bulan
SMRS. Nyeri dirasakan sekali-sekali dan tidak mengganggu aktifitas. Os juga
mengeluh adanya benjolan di perut bawah berukuran kecil. Keluhan tidak diobati.
BAK (+) normal, BAB (+) normal. ± 1 minggu SMRS, keluhan nyeri semakin
bertambah. Nyeri dirasakan sampai mengganggu aktifitas. Benjolan di perut bagian
bawah semakin membesar. Riwayat diurut-urut (-). Riwayat keputihan (+).Nafsu
makan (+) normal. BAK (+) normal, BAB (+) normal.
Selain itu, pada pemeriksaan fisik didapatkan terdapat benjolan di abdomen
bawah, abdomen datar lemas, teraba massa dan terdapat nyeri tekan. Pada
pemeriksaan penunjang yaitu USG didapatkan massa padat dan homogen pada uterus
dengan ukuran 10 cm x 7 cm. Jadi, diagnosis pada kasus ini sudah tepat karena hasil
anamnesis dan pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang sesuai dengan teori dari
mioma uteri.

3.2 Apakah penatalaksanaan pasien sudah tepat?


Penatalaksanaan pada kasus ini sudah tepat karena sesuai dengan indikasi
penyakitnya yaitu dimulai dari observasi keadaan umum dan TVI, resusitasi cairan
dengan IVFD RL xx gtt/menit, antibiotik 2x1gr, serta cek darah rutin dan urin rutin
dan juga dilakukan tindakan laparotomi untuk pengangkatan mioma uteri. Setelah
tindakan operasi pasien diberikan injeksi ceftriaxone dan asam tranexamat yang
merupakan obat golongan anti fibrinolitik, yang mengandung bahan aktif berupa
asam traneksamat yang merupakan turunan sitetik dari asam amino lisin. Asam
traneksamat umum digunakan untuk mencegah, menghentikan, ataupun mengurangi
pendarahan yang masif saat menjalani prosedur pembedahan, epistaksis atau

19
mimisan, pendarahan menstruasi yang berat, angioedema herediter, dan beberapa
kondisi medis lainnya.
Kemudian dilanjutkan dengan terapi cefixime,yang merupakan golongan
sefalosporin, adalah obat anti-biotik berspektrum luas, untuk mengatasi infeksi yang
terjadi pada bagian ginekologi/sistem reproduksi wanita dan kulit serta jaringan lunak
yang sangat rentan terjadi. Pemberian antibiotik pada kondisi yang sesuai dan tepat,
yaitu antibiotik tunggal dianggap cukup efektif untuk mengendalikan dan
menghilangkan mikroorganisme penyebab infeksi, apabila jenis dan tingkat resistensi
mikroorganisme penyebab belum diketahui, umumnya digunakan antibiotik tunggal
yang mempunyai spektrum luas.
Neurodex, merupakan salah satu jenis suplemen vitamin B kompleks yang
mengandung vitamin B1, B6 dam B12. Neurodex dapat diminum dengan dosis satu
tablet setiap harinya dan dapat dikonsumsi kapanpun termasuk pada saat sakit, dalam
proses penyembuhan dan dalam keadaan sehat. Dapat dikonsumsi sebelum atau
sesudah makan.

20
DAFTAR PUSTAKA
1. Snell, Richard S. Anatomi klinis Berdasarkan System. Jakarta : EGC. 2015
2. Mescher, Anthony L. Teks dan Atlas Histologi Dasar Junqueira, Edisi 12. Jakarta :
EGC. 2012.
3. Wiknjosastro, Hanifa, dkk. Ilmu Kandungan, Edisi 2. Jakarta : Yayasan Bina
Pustaka Sarwono Prawirohardjo. 2005
4. Sparic, R, Mirkovic, L, Malyasi, A, Tinelli, A. Epidemiology of Uterine Myomas.
J fertil Steril. 2016 jan-mar; 9(4): 424-435.
5. Andriani, P. Analisis Regresi Faktor Resiko Kejadian Mioma Uteri di RSUD dr .
R. Goeteng Tarunadibrata Purbalingga. Indonesian jornal of Nursing Research.
2018 mei; Vol 1
6. Parker, WH. Etiology, symptomatology, and diagnosis of uterine myomas. J fertil
Steril. 2007 Apr; 87(4); 725-36.
7. Sutoto J. M. S. Tumor Jinak pada Alat-alat Genital dalam Buku Ilmu Kandungan
Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo. 2005
8. Vilos, G.A, Alaire, C, Laberge, P, Leyland, N. The Management of Uterine
Leiomyomas. Society of Obstetricians and Gynaecologists of Canada. 2015 Feb;
No 318.

21