Anda di halaman 1dari 11

PROCEEDING , SEMINAR NASIONAL KEBUMIAN KE-10 PERAN PENELITIAN ILMU KEBUMIAN DALAM PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR DI INDONESIA 13 14 SEPTEMBER 2017; GRHA SABHA PRAMANA

ANALISIS DIAGENESIS BATUAN KARBONAT DENGAN METODE PETROGRAFI STUDI KASUS BATUGAMPING FORMASI BATURAJA DESA LUBUK DALAM KEC. LENGKITI, KAB. OGAN KOMERING ULU, SUMATERA SELATAN

Nurlita Putri Maluka 1* Muhammad Faris Hafiddin 1 Harnani, S.T, M.T 2

1 Mahasiswa Program Studi Teknik Geologi, Fakultas Teknik Universitas Sriwijaya, Palembang.

2 Pengajar, Program Studi Teknik Geologi, Fakultas Teknik, Universitas Sriwijaya, Palembang. Jl. Srijaya Negara Bukit Besar Palembang (30139) Telepon/fax (0711) 370178/352870 *corresponding author:litaputri03@gmail.com

ABSTRAK

Keberadaan litologi batuan karbonat berupa batugamping merupakan suatu fenomena yang khas dan menarik untuk dijadikan sebagai bahan penelitian. Perkembangan batugamping yang sangat sensitif terhadap perubahan keadaan geologi akan memberikan informasi yang sangat baik mengenai sejarah pembentukan batugamping, dimana penelitian ini membahas mengenai proses diagenesis yang terjadi pada batugamping Formasi Baturaja yang berlokasi di Kecamatan Lengkiti Kabupaten Ogan Komering Ulu, Sumatera Selatan. Secara umum litologi yang ditemukan berupa jenis packstone, wackstone dan mudstone. Metode yang digunakan berupa pengamatan lapangan dan pengambilan sampel serta analisa laboratorium berupa analisa petrografi dan analisa paleontologi. Hasil penelitian dari tujuh sampel diketahui proses diagenesis berupa Microbial, Pelarutan, Kompaksi, Sementasi dan Neomorfisme. Penyusun semen paling utama berupa fase Mikrobial yang terdapat pada sampel L1 dengan material penyusun organik berupa alga dan biomikrit. Fase Pelarutan terdapat pada Sampel L5 dengan terbentuknya mineral kalsit. Fase Neomorfisme terlihat di Sampel L7 dengan pembentukan blocky dan stylolite. Berdasarkan hasil analisa paleontologi Formasi Baturaja di daerah telitian berumur Miosen Awal Miosen Tengah (N5 N12) dengan lingkungan pengendapan berupa zona transisi. Kata kunci : Diagenesis, Batugamping, Formasi Baturaja, Lingkungan Pengendapan

1. Pendahuluan

Batugamping merupakan batuan karbonat yang menarik untuk dikaji, dikarenakan batuan ini memiliki ciri khas, yaitu mudah mengalami perubahan. Salah satu fokus penelitian yang dapat diamati dari batugamping yaitu proses diagenesisnya , dimana diagenesis merupakan proses perubahan yang terjadi pada sedimen secara alamiah, sejak proses pengendapan awal hingga batas dimana metamorfisme akan terbentuk (Ehlers, 1980). Secara umum lokasi penelitian ini berada di Desa Lubuk Dalam, Kecamatan Lengkiti, Kabupaten Ogan Komering Ulu, Sumatera (gambar 1). yang termasuk dalam Formasi Baturaja. Dengan mengetahui proses diagenesis batugamping ini maka dapat mengetahui perubahan keadaan geologi daerah telitian pada Formasi Baturaja dan memberikan informasi yang sangat baik mengenai sejarah pembentukan batugamping khususnya yang berada didaerah penelitian.

2. Metodologi Penelitian

Metode yang dipakai dalam penelitian ini yaitu dengan melakukan pendekatan pada metode pengamatan lapangan, analisa petrografi dan analisa paleontologi.

2.1 Pengamatan Lapangan

Tahap penelitian ini yaitu tahap pengamatan batuan karbonat serta hubungannya dengan diagenesis dan meliputi pengamatan morfologi, singkapan, pengambilan

990

PROCEEDING , SEMINAR NASIONAL KEBUMIAN KE-10 PERAN PENELITIAN ILMU KEBUMIAN DALAM PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR DI INDONESIA 13 14 SEPTEMBER 2017; GRHA SABHA PRAMANA

sampel batuan, dan dokumentasi, dengan tujuan untuk mendapatkan dan mengumpulkan data sebaran litologi, data struktur geologi, serta hubungan stratigrafi.

2.2 Analisa Petrografi

Tahap ini digunakan untuk mengetahui karateristik tekstur , struktur dan komposisi batuan berdasarkan klasifikasi Dunham (1962) (gambar 2), serta untuk mengidentifikasi diagenesis dan lingkungan penmbentukan batuan yang terjadi menurut Bogss (1998) dan longman (1980), sehingga dapat membentuk skema diagenesis daerah telitian.

2.3 Analisa Paleontologi

Tahap untuk mengetahui kandungan fosil yang terdapat pada batuan sehingga dapat menentukan lingkungan pengendapan serta umur batuan yang terkandung pada batuan karbonat khususnya batugamping.

3 Geologi Daerah Penelitian

Lokasi penelitian termasuk kedalam Cekungan Sumatera Selatan yang merupakan zona busur belakang yang terbentuk akibat pergerakan Lempeng Eurasia yang di akibatkan adanya pergerakan Lempeng India Australia di sepanjang Lempeng Eurasia. Daerah telitian berdasarkan data pengamatan di lapangan terbagi menjadi dua satuan geomorfologi, yaitu Denudasional dan Karst. Jenis pola aliran dilapangan setelah di amati , diklasifikasikan pola aliran dendritik. Dengan melakukan beberapa pengamatan maka pada daerah penelitian membagi daerah telitian dalam beberapa satuan batuan dari tua ke muda (gambar 3).

Pada lokasi telitian pengendapan di awali oleh Formasi Kikim yang merupakan basement. Formasi ini di endapkan secara tidak selaras pada daerah Baturaja yang tersusun atas litologi berupa batuandesit, batunapal dan batutuff (gambar 4). Setelah Formasi Kikim di endapkan selanjutkan di endapkan Formasi Baturaja yang terdiri dari litologi batugamping, dengan sisipan batuserpih, batupasir dan batulempung (gambar 5). Batugamping pada daerah telitian memiliki warna lapuk coklat tua keputihan , warna segar coklat keputihan, mengandung Fosil yang terkristalisasikan. Besar butir sedang , kebundaran well rounded , kemas tertutup, pemilahan well sorted, dan karbonatan, batuserpih memiliki warna lapuk coklat ke abu abuan warna segar abu abu, mengandung fosil cangkang, besar butir halus, kebundaran well rounded , kemas terbuka, pemilahan very well sourted, kontak serpih gampingan berangsur dan karbonatan, batu pasir memiliki warna lapuk pasir coklat kehitaman warna segar coklat, besar butir sedang sampai halus, kebundaran well rounded, kemas terbuka, pemilahan well sorted dan karbonatan dan lempung memiliki warna lapuk batu lempung hijau kehitaman warna segar hijau, besar butir halus, kebundaran well rounded, kemas tertutup pemilahan very well sorted dan karbonatan. Berdasarkan analisa paleontologi (LP15) terdapat fosil bentos berupa Amphistegina quoyii, Marshipela elongata norma, Elphicidium Craticulatum, Streblus becarii, Quinqueloculina seminulum, Quinqueloculina bicornis, Textularia philipinensis, Textularia aglutinans Tubinela funalis dan Cibicides pseucloiingerionus mencirikan bahwa pada formasi baturaja terendapkan pada lingkungan transisi (14,6 m ).

Kemudian yang terakhir Formasi Gumai yang merupakan formasi paling muda pada lokasi telitian dengan litologi batupasir (gambar 6). Dari kenampakan fisik, batupasir pada daerah telitian memiliki warna lapuk coklat keabu abuan , warna segar abuabu kehitaman. Besar butir kasar , kebundaran sub angular , kemas tertutup, pemilahan well sorted, dan Karbonatan. Dari analisis paleontologi pada sampel batupasir formasi gumai (LP27) fosil bentos Streblus beccari, Planobulina acervalis, Amphistegina quoyii, Planulina jovcolata, Planulina uniliersofi, Marshipela elongata dan Textularia poriecta mencirikan bahwa pada

991

PROCEEDING , SEMINAR NASIONAL KEBUMIAN KE-10 PERAN PENELITIAN ILMU KEBUMIAN DALAM PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR DI INDONESIA 13 14 SEPTEMBER 2017; GRHA SABHA PRAMANA

formasi gumai terendapkan di lingkungan Transisi (14,6 m) selama Miosen Awal Miosen Tengah dengan adanya keterdapatan Globigerinoides altiapertorus.

4 Hasil dan Pembahasan

Dari hasil penelitian bedasarkan analisis jenis litofasies, tekstur, komposisi serta kehadiran fosil pada sembilan sampel yang diambil diketahui jenis batugamping berupa Wackestone (sampel L1, L2, L7, L8, L9), Packstone (L4, L6 dan L10) dan Mudstone (sampel L5). Dari hasil analisa petrografi proses diagenesis yang terjadi berupa fase Mikritisasi mikrobial, Pelarutan, Kompaksi, Sementasi dan Neomorfisme (Tabel 1).

Hasil analisis petrografi sampel L4, L6 dan L10 merupakan jenis batugamping Packstone (Tabel 1) dimana secara mikroskopis batugamping non klastik jenis Packstone ini didominasi oleh fosil foram besar serta mineral yang hadir pada batuan yaitu kalsit (20%), Mikrit (7%), dan opaq (5%). Batugamping pada sampel L1, L2, L7, L8 dab L9 memiliki jenis Wackestone yang memiliki karateristik berwarna abu abu hingga kecoklatan, yang rata rata di dominasi oleh mineral mikrit karbonat (40%), kalsit (20%) fosil (30%) dan opaq (10%). Pada sampel L5 merupakan batugamping jenis Mudstone yang memiliki karateristik batuan berwarna coklat kehitaman dengan komposisi karbonat yang terdiri dari mineral mikrit yang mendominasi (60%) , Opaq (5%), fosil (30%) dan kalsit (5%).

Dari Analisa petrografi yang dilakukan, diagenesis batugamping yang terjadi pada Formasi Baturaja yaitu terdapat pada lingkungan diagenesis marine phreatic yang merupakan penciri dari dagenesis Mikritisasi dan sementasi, burial yang merupakan penciri diagenesis neomorfisme dan kompaksi, meteoric phreatic dan meteoric vadose merupakan penciri diagenesis pelarutan. Produk diagenesis pada daerah telitian ditandai dengan adanya mikritisasi microbial yang merupakan selaput mikrit cangkang foraminifera, dimana terjadi pengendapan satuan batuan sehingga menyebabkan batugamping memasuki lingkungan burial (gambar 7 ).

Proses tektonik yang terus berlangsung menyebabkan terjadinya perubahan pada lingkungan diagenesis menjadi meteoric phreatic yang di tandai dengan adanya semen kalsit blocky dan neomorfisme menjadi mikrosparit.

Akibat proses tektonik yang terus berlangsung menyebabkan terangkatnya batugamping Formasi Baturaja di daerah penelitian menuju lingkungan diagenesis meteotic vadose, dimana lingkungan ini terjadi kontak langsung dengan air hujan yang tak jenuh sehingga menyebabkan proses pelarutan berlangsung secara intensif.

Proses diagenesis daerah telitian meliputi 3 tahap yaitu (a) tahap eogenetik yang terjadi dekat permukaan, (b) tahap mesogenetik yang terjadi pada lingkungan burial dan (c) tahap telogenetik yang terjadi setelah pengangkatan (Chquette dan Pray, 1970 dalam Flugel, 2004).

5 Kesimpulan

Dari hasil pengamatan lokasi penelitian masuk kadalam Cekungan Sumatera Selatan yang memiliki 2 satuan geomorfik yaitu denudasional dan karst. Secara litologi stratigrafi Desa Lubuk Dalam kecamatan lengkiti terbagi menjadi 3 satuan batuan yaitu, Formasi Kikim, Formasi Baturaja dan Formasi Gumai. Pengamatan berdasarkan metode paleontologi menunjukan bahwa fosil bentos berupa Amphistegina quoyii, Marshipela elongata norma, Elphicidium Craticulatum, Streblus becarii, Quinqueloculina seminulum, Quinqueloculina bicornis, Textularia philipinensis, Textularia aglutinans Tubinela funalis dan Cibicides pseucloiingerionus mencirikan bahwa pada formasi baturaja terendapkan pada lingkungan transisi. Proses diagenesis yang terjadi berupa fase mikritisasi mikrobial, Pelarutan,

992

PROCEEDING , SEMINAR NASIONAL KEBUMIAN KE-10 PERAN PENELITIAN ILMU KEBUMIAN DALAM PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR DI INDONESIA 13 14 SEPTEMBER 2017; GRHA SABHA PRAMANA

Kompaksi, Sementasi dan Neomorfisme. Dan berdasarkan analisis litofasies jenis fasies batuan yang di temukan yaitu , Packstone, Wackestode dan Mudstone.

Acknowledgements

Pada kesempatan ini kami ucapkan terimakasih kepada Allah SWT yang memberikan kesehatan jasmani dan rohani, dan ibu Harnani, S.T, M.T selaku dosen pembimbing yang banyak memberikan saran dalam menyelesaikan penyelesaian tulisan ini. Dan terimakasi kami ucapkan kepada ibu Elisabet Dwi Mayasari, S.T, M.T selaku dosen Paleontologi dan berbagai pihak yang telah membantu penulis dalam penugasan pnelitian, perizinan, informasi, saran serta fasilitas yang diberikan.

Daftar Pustaka

related

Adiwidjaja,

P.,

and

de

Coster,

G.L.,

1973,

Pre-Teretiary

paleotopografy

and

sedimentation in

south sumatera. Proceedings 2nd Annual Convention, IPA.

Bogs, Sam., 1995. Principles of Sedimentology and Stratigraphy. Macmillan Puclishing Company.

Choquette, P. W. And Pray, L. C., 1970 Geologic Nomenclature and Classification of

Porosity and Sedimentary Carbonates: Buletin AAPG Vol. 54 hal 207-250.

Choquette, P. W. And Pray, L. C., 1970, Geologic Nomenclatureand Classification of porosity and Sedimentary Carbonates: Buletin AAPG Vol. 54 hal 207-250.

De Coster, G.L. 1974. The geology of the central and south sumatera basins. Proceedings Indonesian Petroleum Association,3.

Dunham, R. J., 1962 Classification of Carbonate Rocks According to Depositional Texture dalam Ham W. E. (editor) Classification of Carbonate Rocks: AAPG Memoir No.1.Tusla, Oklahoma.

Ehlers, E,G., Blatt,H. 1980. Pertrology. W.H. Freeman Company. San Fransisco.

Flugel, Erik.,1982, Microfacies analysis of Limestone: Springer-Verlag Berlin Heidelberg, New York.

Longman, M. W.,1980 Carbonate Diagenetic Texture from Near surface Diagenetic Enviroments. The American Association of Petroleum Geologists Bulletin volume 64 no 4, Tusla, Oklahoma.

Tucker, M. E. And Wright, V. P., 1990, Carbonate Sedimentology Blackwell Scientif Publications. Oxford, London, Edinburgh, Boston, Melbourne.

Van

Zuidam,

R

A.

1985.

Aerial

Photo

Interpretation

In

Terrain

Analysys

And

Geomorphological Mapping, Smith Publishers/ITC, The Hague.

993

PROCEEDING , SEMINAR NASIONAL KEBUMIAN KE-10 PERAN PENELITIAN ILMU KEBUMIAN DALAM PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR DI INDONESIA 13 14 SEPTEMBER 2017; GRHA SABHA PRAMANA

DI INDONESIA 13 – 14 SEPTEMBER 2017; GRHA SABHA PRAMANA Desa Lubuk Dalam, Kecamatan Lengkiti, Kabupaten

Desa Lubuk Dalam, Kecamatan Lengkiti, Kabupaten Ogan Komering Ulu, Sumatera Selatan

Gambar 1. Daerah Penelitian berada pada di Kecamatan Lengkiti Daerah Baturaja yang dapat di jangkau dengan menggunakan kendaraan bermotor roda dua, Namun ada juga beberapa daerah yang hanya dapat dijangkau dengan cara berjalan kaki

.

yang hanya dapat dijangkau dengan cara berjalan kaki . Klasifikasi batuan karbonat (1962) Gambar 2 .

Klasifikasi batuan karbonat (1962)

Gambar 2. Klasifikasi Dunham (1962) untuk menentukan karateristik berupa tekstur , struktur dan komposisi yang terdapat pada sayatan tipis petrografi.

994

PROCEEDING , SEMINAR NASIONAL KEBUMIAN KE-10 PERAN PENELITIAN ILMU KEBUMIAN DALAM PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR DI INDONESIA 13 14 SEPTEMBER 2017; GRHA SABHA PRAMANA

DI INDONESIA 13 – 14 SEPTEMBER 2017; GRHA SABHA PRAMANA Urutan Stratigrafi Desa Lubuk Dalam, Kecamatan

Urutan Stratigrafi Desa Lubuk Dalam, Kecamatan Lengkiti, Kabupaten Ogan Komering Ulu, Sumatera Selatan, Gafoer dkk (1991) modifikasi.

Gambar 3. Urutan pengendapan satuan batuan Formasi Baturaja daerah Cekungan Sumatera Selatan khususnya Desa Lubuk Dalam, Kecamatan Lengkiti, Baturaja. Formai Kikim merupakan Basement di daerah telitian yang terendapkan secara tidak selaras , kemudian diendapkan satuan Formasi Baturaja yang terakhir di endapkan Formasi Gumai yang merupakan satuan batuan termuda pada lokasi penelitian.

yang merupakan satuan batuan termuda pada lokasi penelitian. Gambar 4. Litologi satuan batuan Formasi Kikim. Gambar

Gambar 4. Litologi satuan batuan Formasi Kikim.

Gambar 4. Satuan batuan Formasi Kikim yang merupakan basement, formasi ini di endapkan secara tidak selaras pada daerah Baturaja yang tersusun atas litologi berupa batutuff (a) dan batuandesit (b).

995

PROCEEDING , SEMINAR NASIONAL KEBUMIAN KE-10 PERAN PENELITIAN ILMU KEBUMIAN DALAM PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR DI INDONESIA 13 14 SEPTEMBER 2017; GRHA SABHA PRAMANA

DI INDONESIA 13 – 14 SEPTEMBER 2017; GRHA SABHA PRAMANA Litologi satuan batuan Formasi Baturaja Gambar

Litologi satuan batuan Formasi Baturaja

Gambar 5. Satuan batuan Formasi Baturaja yang terdiri dari litologi batugamping (a), batulempung (b), batuserpih (c), dan batupasir (d).

(a), batulempung (b), batuserpih (c), dan batupasir (d). Litologi satuan batuan Formasi Gumai Gambar 6 .

Litologi satuan batuan Formasi Gumai

Gambar 6. Satuan batuan Formasi Gumai yang merupakan formasi paling muda pada lokasi telitian dengan litologi batupasir.

996

PROCEEDING , SEMINAR NASIONAL KEBUMIAN KE-10 PERAN PENELITIAN ILMU KEBUMIAN DALAM PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR DI INDONESIA 13 14 SEPTEMBER 2017; GRHA SABHA PRAMANA

DI INDONESIA 13 – 14 SEPTEMBER 2017; GRHA SABHA PRAMANA Skema Diagenesis daerah telitian, Tucker (1991)

Skema Diagenesis daerah telitian, Tucker (1991) modifikasi.

Gambar 7. Skema Perubahan Lingkungan Diagenesis batugamping Formasi Baturaja daerah telitian ditandai 3 tahap yaitu (a) tahap eogenetik yang terjadi dekat permukaan, (b) tahap mesogenetik yang terjadi pada lingkungan burial dan (c) tahap telogenetik yang terjadi setelah pengangkatan (Chquette dan Pray, 1970 dalam Flugel, 2004).

Tabel 1. Tabel analisis litofasies untuk menentukan nama batuan dan analisis produk diagenesis untuk menentukan lingkungan pembentuk diagenesis.

Tabel 1. Data pengamatan terhadap 9 sampel batugamping

No Sampel Nama Batuan Proses Foto Sayatan Diagenesis L1(LP16) Wackestone Sementasi dan Mikritisasi Mikrobial
No Sampel
Nama Batuan
Proses
Foto Sayatan
Diagenesis
L1(LP16)
Wackestone
Sementasi dan
Mikritisasi
Mikrobial

997

PROCEEDING , SEMINAR NASIONAL KEBUMIAN KE-10 PERAN PENELITIAN ILMU KEBUMIAN DALAM PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR DI INDONESIA 13 14 SEPTEMBER 2017; GRHA SABHA PRAMANA

DI INDONESIA 13 – 14 SEPTEMBER 2017; GRHA SABHA PRAMANA L 2 ( L P 4

L2 (LP4)

Wackestone

Neomorfisme

 

dan Kompaksi

L4(LP7)

Packstone

Neomorfisme

L 4 ( L P 7 ) Packstone Neomorfisme
 

dan Kompaksi

L5(LP3)

Mudstone

Sementasi dan

Pelarutan

) Packstone Neomorfisme   dan Kompaksi L 5 ( L P 3 ) Mudstone Sementasi dan

998

PROCEEDING , SEMINAR NASIONAL KEBUMIAN KE-10 PERAN PENELITIAN ILMU KEBUMIAN DALAM PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR DI INDONESIA 13 14 SEPTEMBER 2017; GRHA SABHA PRAMANA

DI INDONESIA 13 – 14 SEPTEMBER 2017; GRHA SABHA PRAMANA L 6 ( L P 2

L6(LP27)

Packstone

Neomorfisme

L7(LP6)

Wackestone

Sementasi dan

L 7 ( L P 6 ) Wackestone Sementasi dan
 

Neomorfisme

L8(LP1)

Wackestone

Sementasi dan

Kompaksi

Wackestone Sementasi dan   Neomorfisme L 8 ( L P 1 ) Wackestone Sementasi dan Kompaksi

999

PROCEEDING , SEMINAR NASIONAL KEBUMIAN KE-10 PERAN PENELITIAN ILMU KEBUMIAN DALAM PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR DI INDONESIA 13 14 SEPTEMBER 2017; GRHA SABHA PRAMANA

L9(LP21)

Wackestone

Neomorfisme

dan Kompaksi

L 9 ( L P 2 1 ) Wackestone Neomorfisme dan Kompaksi L 1 0 (

L10(LP5)

Packstone

Mikritisasi

Mikrobial dan

Kompaksi

L P 2 1 ) Wackestone Neomorfisme dan Kompaksi L 1 0 ( L P 5

1000