Anda di halaman 1dari 9

MAKALAH IPA 2

TEKNOLOGI PANEL SURYA YANG TERINSPIRASI DARI


MEKANISME FOTOSINTESIS PADA DAUN TUMBUHAN

DISUSUN OLEH:

TIA RAHMAN ISLAMI 17312241004


DWI AGNES SETIANINGRUM 17312241022
RIDZKY ARDIANSYAH JATI 17312241057
ANGGRAITA FEBRIANA PUTRI 17312244001

PENDIDIKAN IPA I 2017

JURUSAN PENDIDIKAN IPA


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
2019
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Tubuh tumbuhan tersusun atas bagian-bagian yang memiliki struktur
tertentu dan memiliki fungsi khusus sehingga tumbuhan dapat
melangsungkan kehidupannya. Struktur tubuh tumbuhan banyak menjadi
inspirasi bagi manusia untuk mengembangkan teknologi tertentu yang
bermanfaat bagi manusia, misalnya struktur dan proses yang terjadi di daun.
Daun memiliki struktur yang lebar, tipis, dan berfungsi untuk proses
fotosintesis. Dalam proses fotosintesis ini energi cahaya yang berasal dari
cahaya matahari ditangkap oleh pigmen hijau dalam daun yang kemudian
diubah menjadi energi kimia. Energi kimia selanjutnya disimpan sementara
untuk digunakan dalam pengubahan karbon dioksida (CO2) menjadi glukosa.
Struktur yang dimiliki daun dan mekanisme fotosintesis yang terjadi pada
daun kemudian menjadi inspirasi bagi manusia untuk mengembangkan suatu
teknologi berupa panel surya (solar cell). Sel surya atau juga sering disebut
fotovoltaik adalah alat yang mampu mengkonversi langsung cahaya matahari
menjadi listrik. Sel surya bisa disebut sebagai pemeran utama untuk
memaksimalkan potensi sangat besar energi cahaya matahari yang sampai
kebumi, walaupun selain dipergunakan untuk menghasilkan listrik, energi
dari matahari juga bisa dimaksimalkan energi panasnya melalui sistem solar
thermal.

1.2 Rumusan Masalah


1. Bagaimana mekanisme fotosintesis pada tumbuhan?
2. Bagaimana latar belakang terbentuknya teknologi yang terinspirasi
struktur jaringan pada tumbuhan berupa teknologi panel surya?
3. Bagaimana mekanisme kerja panel surya yang terinspirasi dari mekanisme
fotosintesis yang terjadi pada daun tumbuhan?
4. Apa saja kekurangan dan kelebihan teknologi panel surya yang terinspirasi
dari mekanisme fotosintesis yang terjadi pada daun tumbuhan?
1.3 Tujuan
1. Mengetahui mekanisme fotosintesis pada tumbuhan.
2. Mengetahui latar belakang terbentuknya teknologi yang terinspirasi
struktur jaringan pada tumbuhan berupa teknologi panel surya.
3. Mengetahui mekanisme kerja panel surya yang terinspirasi dari
mekanisme fotosintesis yang terjadi pada daun tumbuhan.
4. Mengetahui kekurangan dan kelebihan teknologi panel surya yang
terinspirasi dari mekanisme fotosintesis yang terjadi pada daun tumbuhan.

BAB 2
PEMBAHASAN

Gambar 1. Proses fotosintesis.


(Sumber: Zakky, 2018: 4).
Tumbuhan bisa mendapatkan karbondioksida (CO2) di udara yang masuk
ke daun tumbuhan lewat stomata atau mulut daun. Sementara air (H 2O) bisa
didapatkan lewat akar tumbuhan yang kemudian disalurkan ke daun melalui
batang tumbuhan (Zakky, 2018: 4).
Saat sinar matahari jatuh ke permukaan daun, klorofil menangkap energi
dari cahaya matahari tersebut. Cahaya akan melewati lapisan epidermis tanpa
warna atau transparan, kemudian diteruskan menuju mesofil. Di mesofil
inilah sebagian besar proses fotosintesis terjadi (Zakky, 2018).
Energi tersebut kemudian digunakan untuk mengubah air menjadi
gula/glukosa (C6H12O6) dan oksigen (O2). Setelah itu dari proses fotosintesis
akan menghasilkan makanan bagi tumbuhan.
Sementara oksigen yang dihasilkan dikeluarkan oleh tumbuhan lewat
stomata. Oksigen ini kemudian berada di udara bebas untuk dihirup oleh
makhluk hidup lain yaitu manusia dan hewan.
Daun bagian dari tumbuhan hijau dapat menginspirasi pembuatan sel
surya. Klorofil pada tumbuhan hijau berfungsi untuk menangkap cahaya.
Energi cahaya oleh klorofil akan dibentuk menjadi energi kimia. Seperti
halnya klorofil, mekanisme sel surya juga dapat mengubah energi cahaya
menjadi energi listrik (Zakky, 2018: 4).
Energi surya adalah energi yang didapat dengan mengubah energi panas
surya (matahari) melalui peralatan tertentu menjadi sumber daya dalam
bentuk lain. Energi surya menjadi salah satu sumber pembangkit daya selain
air, uap, angin, biogas, batu bara, dan minyak bumi. Teknik pemanfaatan
energi surya mulai muncul pada tahun 1839, ditemukan oleh A.C. Becquerel.
Ia menggunakan kristal silikon untuk mengkonversi radiasi matahari, namun
sampai tahun 1955 metode itu belum banyak dikembangkan. Selama kurun
waktu lebih dari satu abad itu, sumber energi yang banyak digunakan adalah
minyak bumi dan batu bara. Upaya pengembangan kembali cara
memanfaatkan energi surya baru muncul lagi pada tahun 1958 (Zakky, 2018:
6).
Seperti layaknya sel tumbuhan hidup, sel surya dengan prinsip kerja
fotosintesis ini mampu memperbaiki atau mereparasi dirinya sendiri sehingga
lebih awet dan tahan lama. Sel ini dapat mengkonversi energi dari cahaya
matahari menjadi energi listrik. Hal yang berbeda dari sel surya komersial
lainnya adalah bahwa sel surya ini terbuat dari bahan karbon nanotubes dan
DNA dengan fotoreseptor suatu zat warna yang disebut kromofor
(chromophore) sebagai pengganti klorofil pada tumbuhan.
Sel fotoelektrokimia ini mengkonversi energi cahaya matahari menjadi
energi listrik menggunakan elektrolit untuk mentransfer elektron dan
menciptakan arus listrik. Sistem sel ini tersusun atas lapisan karbon nanotubes
yang dihubungkan dengan zat warna kromofor menggunakan suatu untai
molekul oligonukleotida (semacam DNA). Kromofor bertindak sebagai
penyerap energi cahaya matahari yang akan mentransfer elektronnya kepada
nanotube karbon lewat elektrolit. Karbon nanotube yang merupakan
konduktor yang baik kemudian akan menghasilkan arus listrik dari elektron
yang kemudian dapat digunakan untuk berbagai keperluan manusia.
Kromofor ini rentan terhadap cahaya dan mudah rusak, sehingga perlu untuk
diganti. Disinilah untai DNA berperan penting karena dapat mengkode
pembuatan kembali kromofor sehingga dapat digunakan kembali. Terobosan
yang sangat cemerlang ini dapat menghasilkan cara baru menuai energi
alternatif. Hal ini terinspirasi oleh sistem mekanisme konversi energi
matahari ke bentuk energi lain yang dimiliki oleh alam, seperti halnya
fotosintesis yang sangat efisien. Kemudian diaplikasikan dengan
menggabungkan teknologi biomolekul dan nanomaterial. Tidak tertutup
kemungkinan terobosan sel surya tersebut diproduksi secara massal demi
penggunaan energi yang ramah lingkungan secara global (Zakky, 2018: 6).
Panel listrik tenaga Surya terinspirasi dari organ daun. Teknologi ini dibuat
meniru prinsip daun yang memanfaatkan energi matahari untuk
.menghasilkan energi kimia. Panel pembangkit listrik tenaga Surya memiliki
bagian yang disebut photo voltaic. Photovoltac mampu mengubah secara
langsung energi cahaya menjadi energi listrik . Kerja alat ini mirip mesofil
pada daun. Karena daun memanfaatkan cahaya matahari untuk fotosintesis
yang menghasilkan glukosa dan oksigen. Prinsip itu yang digunakan panel
surya dengan memanfaatkan cahaya matahari lalu diubah menjadi energi
listrik (Zakky, 2018).
(Sumber: Nur Januarita Benu, 2012)

(Sumber: Nur Januarita Benu, 2012)

Kelebihan penggunaan teknologi panel surya, antara lain:


1. Tidak Menyebabkan Polusi, tenaga surya tidak melepaskan karbon
dioksida, sulfur dioksida, nitrogen oksida atau merkuri ke atmosfir.
2. Menghemat
Biaya. Meski
mahal, namun
untuk setelah
investasi awal,
kita akan
menggunakan lebih sedikit energi, tagihan listrik akan jauh lebih rendah
dan sering kali tidak akan ada pengeluaran sama sekali.
3. Hemat Konsumsi karena tidak memerlukan bahan bakar.
4. Sumber energy yang digunakan tidak akan habis atau berkelanjutan dan
dapat diperbaharui karena energi matahari tidak akan pernah habis
5. Panel surya tergolong sistem yang tidak menimbulkan kebisingan dan
tidak memiliki bagian yang bergerak-gerak (diam) (Nur Januarita Benu,
2012).
Kekurangan penggunaan teknologi panel surya, antara lain:
1. Terbilang Mahal karena panel dan instalasinya memiliki biaya awal yang
tinggi.
2. Meskipun panel surya dapat digunakan di berbagai iklim, namun jumlah
waktu munculnya matahari akan menentukan jumlah panel yang perlukan
dan watt yang dihasilkan.
3. Penggunaan panel surya mau tidak mau mengambil sedikit ruang atap
rumah atau bangunan. Hal ini otomatis sedikit mengganggu keindahan
arsitekturnya.
4. Panel surya hanya akan berfungsi ketika matahari bersinar. Pada malam
hari Anda akan harus bergantung pada energi yang tersimpan atau dari
sumber lain (Nur Januarita Benu, 2012).

BAB 3
PENUTUP
3.1 KESIMPULAN
1. Mekanisme fotosisntesis pada tumbuhan yaitu energi cahaya yang berasal
dari cahaya matahari ditangkap oleh pigmen hijau dalam daun yang
kemudian diubah menjadi energi kimia. Energi kimia selanjutnya disimpan
sementara untuk digunakan dalam pengubahan karbon dioksida (CO2)
menjadi glukosa. Tumbuhan mendapatkan karbondioksida (CO2) di udara
yang masuk ke daun tumbuhan lewat stomata. Sementara air (H 2O) bisa
didapatkan lewat akar tumbuhan yang kemudian disalurkan ke daun
melalui batang tumbuhan. sinar matahari ditangkap oleh klorofil kemudian
cahaya akan melewati lapisan epidermis tanpa warna atau transparan,
kemudian diteruskan menuju mesofil. Di mesofil inilah sebagian besar
proses fotosintesis terjadi. Energi tersebut kemudian digunakan untuk
mengubah air menjadi gula/glukosa (C6H12O6) dan oksigen (O2). Setelah
itu dari proses fotosintesis akan menghasilkan makanan bagi tumbuhan.

2. Latar belakang terbentuknya teknologi yang terinspirasi struktur jaringan


pada tumbuhan berupa teknologi panel surya yaitu klorofil pada tumbuhan
hijau yang berfungsi untuk menangkap cahaya dan akan dibentuk menjadi
energi kimia.

3. Mekanisme kerja panel surya yang terinspirasi dari mekanisme fotosintesis


yang terjadi pada daun tumbuhan yaitu daun yang memanfaatkan cahaya
matahari untuk fotosintesis yang menghasilkan glukosa dan oksigen
seperti photovoltac yang mampu mengubah secara langsung energi cahaya
menjadi energi listrik.

4. Kekurangan dan kelebihan teknologi panel surya yang terinspirasi dari


mekanisme fotosintesis yang terjadi pada daun tumbuhan yaitu:
Kelebihan:
a. Tidak Menyebabkan Polusi, tenaga surya tidak melepaskan karbon
dioksida, sulfur dioksida, nitrogen oksida atau merkuri ke atmosfir.
b. Menghemat Biaya. Meski mahal, namun untuk setelah investasi awal,
kita akan menggunakan lebih sedikit energi, tagihan listrik akan jauh
lebih rendah dan sering kali tidak akan ada pengeluaran sama sekali.
c. Hemat Konsumsi karena tidak memerlukan bahan bakar
d. Sumber energy yang digunakan tidak akan habis atau berkelanjutan
dan dapat diperbaharui karena energi matahari tidak akan pernah habis
e. Panel surya tergolong sistem yang tidak menimbulkan kebisingan dan
tidak memiliki bagian yang bergerak-gerak (diam)
Kekurangan:
a. Terbilang Mahal karena panel dan instalasinya memiliki biaya awal
yang tinggi.
b. Meskipun panel surya dapat digunakan di berbagai iklim, namun
jumlah waktu munculnya matahari akan menentukan jumlah panel
yang perlukan dan watt yang dihasilkan.
c. Penggunaan panel surya mau tidak mau mengambil sedikit ruang atap
rumah atau bangunan. Hal ini otomatis sedikit mengganggu keindahan
arsitekturnya.
d. Panel surya hanya akan berfungsi ketika matahari bersinar. Pada
malam hari Anda akan harus bergantung pada energi yang tersimpan
atau dari sumber lain

DAFTAR PUSTAKA
Zakky. 2018. Proses Fotosintesis pada Tumbuhan Beserta Pengertian &
Persamaan Reaksinya. Tersedia di https://www.zonareferensi.com/
proses-fotosintesis-pada-tumbuhan/ diunduh pada Hari Selasa 19 Maret
2019 pukul 12.40 WIB.
Nur Januarita Benu. 2012. Kelebihan Dan Kekurangan Panel Surya. Tersedia
di https://economy.okezone.com/read/2012/03/12/472/591393/plus-
minus-nya-penggunaan-panel-surya diunduh pada Hari Selasa 19 Maret
2019 pukul 12.45 WIB.

Anda mungkin juga menyukai