Anda di halaman 1dari 12

METODE PENELITIAN

HISTORIS
METODE PENELITIAN ARSITEKTUR C

ANGGOTA :
1. RISYA NUR FILAWATI SALAM D51116014
2. EKA WAHYUNI ABDU RAHMAN D51116026
3. NUR KARTIKA WARDANI D51116312
4. AMALIYAH MUSTAFA KAMAL D51116518

TEKNIK ARSITEKTUR
UNIVERSITAS HASANUDDIN
PENGERTIAN PENELITIAN HISTORIS, CIRI-CIRI,
SUMBER DATA, & CONTOHNYA

Penelitian historis di dalam pendidikan merupakan penelitian yang sangat penting atas
dasar beberapa alasan. Penelitian historis bermaksud membuat rekontruksi masa latihan secara
sistematis dan objektif, dengan cara mengumpulkan, mengevaluasi, mengverifikasikan serta
mensintesiskan bukti-bukti untuk mendukung bukti-bukti untuk mendukung fakta memperoleh
kesimpulan yang kuat. Penelitian historis adalah pengumpulan data yang sistematis dan evaluasi
data untuk menjelaskan, menguraikan dan dengan cara demikian mengerti tindakan-tindakan
atau kejadian-kejadian yang muncul beberapa waktu di masa lalu.

PENGERTIAN PENELITIAN HISTORIS


Penelitian historis adalah penelaahan serta sumber-sumber lain yang berisi informasi
mengenai masa lampau dan dilaksanakan secara sistematis. Dengan kata lain yaitu penelitian yang
bertugas mendeskripsikan gejala, tetapi bukan yang terjadi pada waktu penelitian dilakukan.

Sejarah adalah pengetahuan yang tepat terhadap apa yang telah terjadi. Sejarah adalah
deskripsi yang terpadu dari keadaan-keadaan atau fakta-fakta masa lampau yang ditulis
berdasarkan penelitian serta studi yang kritis untuk mencari kebenaran.
Penelitian sejarah adalah penelitian yang secara eksklusif memfokuskan kepada masa lalu.
Penelitian ini mencoba merenkonstruksi apa yang terjadi pada masa yang lalu selengkap dan
seakurat mungkin, dan biasanya menjelaskan mengapa hal itu terjadi. Dalam mencari data
dilakukan secara sistematis agar mampu menggambarkan, menjelaskan, dan memahami kegiatan
atau peristiwa yang terjadi beberapa waktu lalu.

Penelitian historis juga merupakan cara menetapkan fakta dan mencapai simpulan
mengenai hal-hal yang telah lalu, yang dilakukan secara sistematis dan objektif oleh ahli sejarah
dalam mencari, mengvaluasi dan menafsirkan bukti-bukti untuk mempelajari masalah baru
tersebut.

Berdasarkan pendangan yang disampaikan, dapat disimpulkan bahwa pengertian penelitian sejarah
mengandung beberapa unsur pokok, yaitu:

1. Adanya proses pengkajian peristiwa atau kejadian masa lalu (berorientasi pada masa
lalu);
2. Usaha dilakukan secara sistematis dan objektif;
3. Merupakan serentetan gambaran masa lalu yang integrative anatar manusia, peristiwa,
ruang dan waktu;
4. Dilakukan secara interktif dengan gagasan, gerakan dan intuiasi yang hidup pada
zamannya (tidak dapat dilakukan secara parsial).

TUJUAN PENELITIAN HISTORIS


Tujuan penelitian sejarah atau historis adalah untuk memahami masa lalu, dan mencoba
memahami masa kini atas dasar persitiwa atau perkembangan di masa lampau. Penelitian historis
juga untuk memperkaya pengetahuan peneliti tentang bagaimana dan mengapa suatu kejadian masa
lalu dapat terjadi serta proses bagaimana masa lalu itu menjadi masa kini, pada akhirnya,
diharapkan meningkatnya pemahaman tentang kejadian masa kini serta memperolehnya dasar yang
lebih rasional untuk melakukan pilihan-pilihan di masa kini.

Jack R. Fraenkel dan Norman E. Wellen (1990) menyatakan bahwa para peneliti
pendidikan sejarah melakukukan penelitian sejarah dengan tujuan untuk :

1. Membuat orang menyadari apa yang terjadi pada masa lalu sehingga mereka mungkin
mempelajari dari kegagalan dan keberhasilan masa lampau;
2. Mempelajari bagaiman sesuatu telah dilakukan pada masa lalu, untuk melihat jika
mereka dapat mengaplikasikan maslahnya pada masa sekarang;
3. Membantu memprediksi sesuatu yang akan terjadi pada masa mendatang;
4. Membantu menguji hipotesis yang berkenaan dengan hubungan atau kecendrungan.
Misalnya :
a. Pada awal 1900an, kebanyakan guru wanita datang dari kelas menengah ke atas,
tapi guru laki-laki tidak.
b. Perubahan kurikulum yang tidak melibatkan perencanaan luas dan tidak
melibatkan guru biasanya gagal.
c. Teksbook ilmu social abad ke 19 menunjukkan referensi mengenai kontribusi
wanita terhadap budaya Amerika dari tahun 1800 sampai 1900, meningkat.
d. Guru sekolah menengah memperoleh prestise lebih daripada guru sekolah dasar
sejak tahun 1940.
Banyak hipotesis lainnya yang memungkinkan tentunya; hipotesis di atas
dimaksudkan untuk menggambarkan bahwa penelitian historis bisa meminjam dari
studi pengujian hipotesis.
5. Memahami praktik dan politik pendidikan sekarang secara lebih lengkap.
Dengan demikian, tujuan penelitian sejarah tidak ldapat dilepaskan dengan kepentingan
masa kini dan masa mendatang.

CIRI-CIRI PENELITIAN HISTORIS


Beberapa ciri-ciri khas dari metode sejarah adalah sebagai berikut :

A. Metode sejarah lebih banyak menggantungkan diri pada data yang diamati orang
lain di masa-masa lampau.
B. Data yang digunakan lebih banyak bergantung pada data primer dibandingkan
dengan data sekunder. Bobot data harus dikritik, baik secara internal maupun
eksternal.
C. Metode sejarah mencari data secara lebih tuntas serta mengganti informasi yang
lebih tua yang tidak tidak diterbitkan ataupun yang tidak dikutip dalam bahan acuan
yang standar.
D. Sumber data harus dinyatakan secara defenitif, baik nama pengarang, tempat dan
waktu. Sumber tersebut harus diuji kebenaran dan ketulenannya. Fakta harus
dibenarkan oleh sekurang- kurangnya dua saksi yang tidak pernah berhubungan.
LANGKAH-LANGKAH DALAM PENELITIAN HISTORIS
Menurut M. Subana dkk. (2005: 88), kerangka penelitian adalah sebagai berikut:

1. Pendefinisian Masalah
Dalam bahasa paling sederhana, tujuan dari studi historis dalam
pendidikan adalah menjelaskan dengan jelas dan akurat beberapa aspek dari
masa lalu berkaitan dengan pendidikan dan atau sekolah. Seperti yang telah
disebutkan di atas, para peneliti historis bermaksud lebih dari sekedar
menjelaskan; mereka ingin lebih dari mengklarifikasi dan menjelaskan dan
terkadang mengoreksi.
2. Perumusan Masalah
Meskipun penelitian histories focus pada masa lalu, jenis pertanyaan cukup
bervariasi. Beberapa contoh:
 Bagaimana siswa di bagian Selatan belajar selama Perang Saudara?
 Berapa banyak rancangan undang-undang pendidikan dikeluarkan
selama kepemimpinan Lyndon B. Johnson, dan apa tujuan utama dari
RUU tersebut?
 Instruksi bagi kelas empat SD 100 tahun yang lalu seperti apa?
 Bagaimana kondisi kerja guru berubah sejak 1900?
 Apa masalah utama di sekolah pada tahun 1940 dibandingkan hari ini?
3. Pengumpulan data
Setelah peneliti memutuskan masalah atau pertanyaan yang ingin
diteliti, pencarian sumber dimulai. Segala sesuatu yang pernah ditulis dalam
dokumen atau lainnya, dan sebenarnya setiap objek yang dikumpulkan
merupakan sumber potensial bagi penelitian historis. Namun secara umum,
materi sumber historis dapat dikelompokkan ke dalam empat kategori dasar:
dokumen, catatan numeric, pernyataan oral serta barang peninggalan.
1. Dokumen : Dokumen adalah bahan tertulis atau tercetak yang telah
dihasilkan dalam suatu bentuk –catatan tahunan, kerja seni, undang-undang,
buku, kartun, surat edaran, catatan harian, diploma, catatan legal, surat
kabar, majalah, catatan buku, buku almamater sekolah, memo, tes dan lain-
lain. Mreka bisa tulis tangan, cetak, ketik, gambar atau sketsa; bisa
terpublikasikan atau tidak; bisa ditujukan untuk konsumsi public atau
pribadi; bisa orisinal atau kopian. Singkatnya, dokumen merujuk pada setiap
informasi yang ada baik tertulis atau cetak.
2. Catatan Numerik: Catatan numerik atau quantitative bisa dianggap baik
sebaik jenis sumber terpisah di dalam atau pada dirinya sendiri atau sebagai
subkategori dari dokumen. Catatan seperti ini termasuk setiap jenis data
numeric dalam bentuk tercetak: nilai tes, gambaran kehadiran, catatan
sensus, pengeluaran sekolah, dan semacamnya. Pada tahun-tahun
belakangan ini, terjadi peningkatan pemanfaatan computer oleh para
peneliti historis untuk menganalisis sejumlah data numeric yang sangat
banyak.
3. Pernyataan lisan : informasi berharga lainnya bagi peneliti historis ada pada
orang-orang yang memberikan pernyataan secara lisan. Cerita, mitos,
legenda, dongeng, nyanyian, lagu dan bentuk ekspresi lisan lainnya telah
digunakan bertahun-tahun sebagai catatan bagi generasi selanjutnya. Tapi
sejarawan juga bisa mengadakan wawancara lisan dengan orang-orang yang
saksi dari kejadian-kejadian di masa lalu. Ini adalah bentuk khusus dari
penelitian historis, yang disebut sejarah lisan, yang baru-baru ini sedikit
mengalami renaisans.
4. Barang-barang peninggalan: Jenis keempat dari sumber historis adalah
barang pustaka. Barang pustaka adalah setiap objek dimana karakteristik
fisika atau visualnya bisa menyediakan beberapa informasi tentang masa
lalu. Contohnya mebel, kerja seni, pakaian, bangunan, monument, atau
peralatan.

4. Analisis data
Peneliti historis harus mengadopsi sikap kritis terhadap setiap dan
semua sumber yang dia review. Peneliti tidak akan pernah yakin tentang
keaslian dan keakuratan sumber-sumber historis. Suatu catatan mungkin saja
ditulis oleh seseorang yang berbeda dengan orang yang menandatangani catatan
tersebut. Suatu surat mungkin saja merujuk pada kejadian yang tidak terjadi,
atau terjadi pada waktu dan tempat yang berbeda. Suatu dokumen mungkin
telah dipalsukan atau informasi dengan sengaja dipalsukan.
Pertanyaan kunci bagi setiap peneliti historis adalah :

 Apakah dokumen ini benar-benar ditulis oleh penulis sebenarnya?


(apakah dokumen ini asli?)
 Apakah informasi yang terdapat dalam dokumen ini benar ? (apakah
dokumen ini akurat?)
Pertanyaan pertama merujuk pada apa yang disebut kritik eksternal;
yang kedua disebut kritik internal.
Kritik Eksternal. Kritik eksternal merujuk pada keaslian setiap dan
semua dokumen yang digunakan peneliti. Para peneliti yang terikat pada
penelitian historis ingin mengetahui apakah dokumen yang mereka temukan
benar-benar dipersiapkan oleh penulisnya yang asli. Jelas sekali, dokumen palsu
dapat (dan kadang-kadang ya) mengarah pada kesimpulan yang keliru.
Beberapa pertanyaan muncul dalam mengevaluasi keaslian sumber historis:
 Siapa yang menulis dokumen ini? Apakah penulis hidup pada masa
tersebut? Beberapa dokumen historis telah terbukti dipalsukan. Sebuah
artikel yang ditulis oleh Martin Luther King, Jr. sebenarnya mungkin saja
dibuat oleh seseorang yang berusaha untuk menodai reputasi Martin Luther
King Jr.
 Apa tujuan penulisan dokumen? Untuk siapa dokumen ditujukan? Dan
mengapa?
 Kapan dokumen ditulis? Apakah tanggal yang tertera pada dokumen itu
akurat? Apakah detil yang dijelaskan sebenarnya benar-benar terjadi pada
saat itu?
 Dimana dokumen ditulis? Apakah detil yang dijelaskan terjadi di tempat
tersebut?
 Di bawah kondisi apa dokumen ditulis? Apakah ada kemungkinan yang
ditulis itu suatu paksaan?
 Apakah ada bentuk atau versi dokumen yang lain?

Hal yang penting untuk diingat berkaitan dengan kritik eksternal adalah
peneliti sebaiknya memastikan bahwa mereka menggunakan dokumen asli.
Pertanyaan-pertanyaan di atas diarahkan sampai disini.
Kritik Internal. Sekali peneliti merasa puas bahwa dokumen sumbernya
asli, mereka perlu menentukan apakah isi dari dokumen tersebut akurat. Hal ini
melibatkan apa yang disebut kritik internal. Baik keakuratan informasi yang
terkandung dalam dokumen maupun kebenaran penulis perlu dievaluasi. Kritik
eksternal berkaitan dengan sifat atau keotentikan dari dokumen itu sendiri,
sedangkan kritik internal berkaitan dengan isi dari dokumen. Apakah yang
ditulis penulis benar-benar terjadi? Apakah orang-orang yang hidup pada masa
itu berperilaku seperti yang penulis gambarkan? Benarkah peristiwa terjadi
dengan cara cara seperti yang tertulis pada dokumen? Apakah data yang
ditampilkan masuk akal? Namun, harus dicatat, bahwa peneliti sebaiknya tidak
menolak pernyataan dalam dokumen itu kurang akurat hanya karena dia tidak
mempercayainya—tidak mempercayai bahwa peristiwa itu terjadi. Peneliti
harus menentukan apakah kejadian tertentu itu mungkin terjadi, bahkan jika
peristiwa itu tidak dipercayai. Seperti kritik eksternal, beberapa pertanyaan
perlu dikemukakan dalam upaya mengevaluasi keakuratan suatu dokumen dan
kebenaran penulis dokumen tersebut.
Dengan rasa hormat pada penulis dokumen :
1. Apakah penulis ada pada saat kejadian yang dia jelaskan? Dengan kata lain,
apakah dokumennya merupakan sumber primer atau sekunder? Seperti yang
telah dikemukakan sebelumnya, sumber-sumber primer lebih dipilih
daripada sumber sekunder karena dianggap lebih akurat.
2. Apakah penulis merupakan partisipan di dalamnya atau sebagai pengamat
dari kejadian? Secara umum, kita mungkin berharap pengamat
menghadirkan pandangan yang terpisah dan komprehensif tentang suatu
kejadian. Saksi mata jelas berbeda laporannya mengenai kejadian yang sama,
sebab itu pernyataan pengamat tidak lebih akurat dibandingkan pernyataan
partisipan.
3. Apakah penulis berkompeten menjelaskan kejadian? Hal ini merujuk pada
kualifikasi penulis. Apakah penulis merupakan ahlinya? Seorang pengamat
yang tertarik? Atau hanya “orang yang lewat saja?”
4. Apakah penulis terlibat secara emosional dalam kejadian? Isteri seorang guru
yang dipecat, misalnya mungkin dapat memberikan pandangan yang
menyimpang mengenai kontribusi guru terhadap profesinya
5. Apakah penulis memiliki interes pribadi pada hasil dari kejadian? Seorang
siswa yang selalu berbeda pendapat dengan gurunya, cenderung
menggambarkan gurunya secara negative daripada kolega guru tersebut.
Dengan rasa hormat terhadap isi dokumen :
1. Apakah isi dokumen masuk akal (sifat dari kejadian yang dijelaskan, apakah
tampak masuk akal sehingga kejadian terjadi seperti yang digambarkan)?
2. Apakah kejadian yang dijelaskan telah muncul pada saat itu? Contohnya,
seorang peneliti mencurigai dokumen Perang Dunia ke II pada tahun 1946
3. Mungkinkah orang berperilaku seperti yang dijelaskan? Bahaya utama
dalam hal ini disebut presentisme—menganggap tulisan itu berasal dari
kepercayaan saat ini, nilai dan ide orang-orang yang hidup pada waktu yang
berbeda. Masalah yang agak berhubungan adalah historical hindsight.
Hanya karena kita mengetahui bagaimana suatu peristiwa terjadi, bukan
berarti orang-orang yang hidup sebelum atau selama peristiwa tersebut
percaya bahwa hasilnya seperti yang tertulis.
4. Apakah bahasa dokumen memberi kesan bias? Apakah secara emosional
merupakan melampaui batas atau sebaliknya cenderung miring?
Mungkinkah etnis, gender, agama, partai politik, status social ekonomi atau
posisi penulis memberi kesan orientasi tertentu? Contohnya, suatu laporan
guru tentang pertemuan dewan sekolah mengenai pemilihan kenaikan gaji
berbeda laporannya dengan salah satu anggota dewan sekolah.
5. Apakah ada versi lain mengenai peristiwa tersebut? Apakah isi dokumen
menghadirkan deksripsi atau interpretasi berbeda mengenai apa yang
terjadi? Namun ingat bahwa hanya karena mayoritas pengamat peristiwa
menyetujui apa yang terjadi, bukan berarti isi dokumen tersebut selalu
benar. Pada lebih dari satu peristiwa, pandangan minoritas terbukti benar.
5. Kesimpulan
Dapatkah peneliti-peneliti historis menggeneralisasikan penemuan-
penemuannya? Tergantung. Mungkin tampak jelas bagi anda, peneliti historis
jarang (kalaupun ada),mampu mengkaji keseluruhan populasi individu atau
keseluruhan populasi peristiwa. Para peneliti selalu memiliki sedikit pilihan
kecuali dalam mengkaji suatu sampel tentang fenomena minat (phenomena of
interest). Dan sampel yang dikaji ditentukan oleh sumber-sumber historis yang
tersisa dari masa lampau. Berikut ini merupakan masalah tertentu bagi
sejarawan, ketika dokumen-dokumen nyata, peninggalan-peninggalan
bersejarah, dan sumber-sumber lainnya hampir selalu hilang, telah dihilangkan,
atau dengan cara-cara lainnya tidak dapat ditemukan. Sumber-sumber yang
tersedia ini barangkali tidak mewakili seluruh sumber yang mungkin saja ada.
Perkiraan, contohnya, seorang peneliti tertarik dalam memahami bagaimana
studi sosial diajarkan di sekolah menengah pada akhir tahun 1800. peneliti
dibatasi untuk mengkaji sumber-sumber apa saja yang tersisa pada saat. Peneliti
dapat menggunakan beberapa buku teks yang ada pada waktu itu, ditambah
buku-buku tugas, rencana-rencana pelajaran, tes-tes, surat-surat, dan
korespondensi yang ditulis oleh guru-guru dan catatan harian guru-guru selama
periode tersebut. berdasarkan pada review yang seksama terhadap sumber
materi, peneliti menggambarkan beberapa kesimpulan tentang sifat pengajaran
studi sosial pada saat itu. Peneliti perlu mengingat bahwa seluruhnya
merupakan sumber-sumber tulisan dan sumber-sumber tulisan tersebut
mungkin merefleksikan suatu pandangan yang berbeda dari orang-orang yang
cenderung tidak menuliskan pemikiran-pemikiran, ide-ide, atau tugas-tugas
mereka. Apa yang mungkin dilakukan oleh peneliti? Seperti semua penelitian,
validitas setiap generalisasi yang digambarkan dapat diperkuat dengan
menambah ukuran dan diversitas sampel data dimana generalisasi didasarkan.
Untuk studi-studi yang melibatkan catatan studi kuantitatif, komputer membuat
generalisasi mungkin terjadi, contohnya, bagi seorang peneliti dapat
menggambarkan sampel data yang representatif dari kelompok-kelompok besar
siswa, guru, dan elemen-elemen lain dapat diwakili oleh dokumen-dokumen
sekolah, skor tes, laporan sensus, dan dokumen lainnya.

Contoh :

Judul:
Penelurusan komunisme di Indonesia Tahun 1945 hingga tahun 1965.

Perumusan masalah :
Apakah komunisme yang ada di masyarakat Indonesia merupakan warisan penjajah atau
kebudayaan asli ?

Pengumpulan data :
Analisis dokumen, wawancara dari sumber primer dan sumber sekunder
Analisis data :
Cenderung melibatkan analisis yang logis, bukan analisis statistika, kalau pun perlu
statistika hanya sebatas statistic deskriptif.

Kesimpulan :

Misalnya, tidak benar bahwa komunisme merupakan budaya warisan penjajah yang
menular pada bangsa kita.

SUMBER DATA PENELITIAN HISTORIS


Sumber dari sejarah yang merupakan data yang digunakan dalam penelitian dengan
metode sejarah dapat diklasifikasikan secara bermacam-macam. Antara lain: remain, dokumen,
sumber primer, sumber sekunder, materi fisik, materi tertulis dan sebagainya.
1. Remain dan Dokumen

Jika sumber sejarah ditinjau dari segi sengaja atau tidak sengajanya bahan atau sumber data
tersebut ditinggalkan, maka sumber sejarah dapat dibagi dua, yaitu :

a. Remain atau Relics, yaitu bahan-bahan fisis atau tulisan yang mempunyai nilai-nilai
sejarah yang terdapat tanpa suatu kesadaran menghasilkannya untuk suatu keperluan pembuktian
sejarah. Peninggalan materi termasuk: alat perkakas, perhiasan-perhiasan kuno, bangunan seperti
piramida, candi, senjata-senjata, sendok benda budaya dan sebagainya.

b. Dokumen, yaitu laporan dari kejadian-kejadian yang berisi pandangan serta pemikiran-
pemikiran manusia dimasa yang lalu. Dokumen tersebut, secara sadar ditulis untuk tujuan
komunikasi dan transmisi keterangan. Contoh dari dokumen antara lain buku harian, batu tertulis,
daun-daun lontar dan sebagainya.

2. Sumber Primer dan Sekunder

a. Sumber primer adalah tempat atau gudang penyimpan yang orisinil dari data sejarah.
Data primer merupakan sumber-sumber dasar yang merupakan bukti atau saksi utama dari kejadian
yang lalu. Contoh dari data atau sumber primer adalah catatan resmi yang dibuat pada suatu acara
atau upacara, keputusan-keputusan rapat, foto-foto dan sebagainya.

b. Sumber sekunder adalah catatan tentang adanya suatu peristiwa, atau catatan-catatan
yang “jaraknya” telah jauh dari sumber orisinil. Misalnya keputusan rapat suatu perkumpulan
bukan didasarkan dari keputusan (minutes) dari rapat itu sendiri, tetapi dari sumber berita di surat
kabar.
KEUNTUNGAN DAN KERUGIAN METODE PENELITIAN
HISTORIS
Keuntungan metode penelitian historis

a. Penelitian ini mengijinkan penyelidikan tentang topik-topik dan pernyataan- pernyataan


yang tidak dapat di kaji oleh penelitian lain.
b. Penelitian historis merupakan satu-satunya penelitian yang dapat mengkaji bukti-bukti dari
masa lampau dalam hubungannya dengan pertanyaan-pertanyaan yang dikemukakan pada
saat ini.
c. Sebagai tambahan,penelitian historis menggunakan bermacam bukti yang berbeda
dibandingkan metode penelitian lainnya ( dengan pengecualian penelitian studi kasus dan
etnografi ).
d. Penelitian historis menyediakan suatu alternatife dan mungkin sumber informasi yanglebih
kaya tentang topik-topik nyata yang juga dapat di kaji melalui metodologi lainnya.

Kerugian metode penelitian historis

a. Tidak adanya kontrol yang mengendalikangangguan terhadap validitas internal.


b. Pembahasan di lakukan oleh sampel dokumen dan proses instrumentasi ( analisis dokumen )
barang kali begitu ketat.
c. Peneliti peneliti tidak dapat menjamin keterwakilan sampel (representativeness of the
sample),ataupun apakah mereka dapat memeriksa realibittas dan validitas terhadap penafsiran

yang dibuat dari data yang tersedia.