Anda di halaman 1dari 31

REFERAT

“Optical Coherence Tomography (OCT)”

Pembimbing:

dr. Agah Gadjali, Sp.M

dr. Gartati Ismail, Sp.M

dr. Henry A Wibowo, Sp.M (K)

dr. H. Hermansyah, Sp.M

dr. Mustafa K Shahab, Sp.M

dr. Susan S. Anggraeni, Sp.M

Disusun oleh :

Desi Tahari (1102014068)

Nisa Nabiilah (1102014195)

Nisrina Nurul Insani (1102014196)

KEPANITERAAN KLINIK ILMU MATA

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS YARSI

RUMAH SAKIT BHAYANGKARA TK. I R. SAID SUKANTO

PERIODE 28 JANUARI 2019 – 02 MARET 2019


KATA PENGANTAR

Alhamdu Lillahi Rabbil ’Alamin, puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah Swt,
karena atas rahmat dan karunia-Nya, shalawat serta salam kepada Rasulullah dan keluarga,
sahabat-sahabat serta para pengikutnya. Sehingga penulis dapat menyelesaikan referat yang
berjudul “Optical Coherence Tomography (OCT)”.
Referat ini disusun dalam rangka memenuhi salah satu syarat untuk mengikuti
Kepaniteraan Mata di RS Bhayangkara TK. I Raden Said Sukanto. Pada kesempatan ini,
penulis ingin menyampaikan ungkapan terima kasih yang sedalam-dalamnya atas bimbingan
yang telah diberikan selama pembuatan referat ini kepada dr. Agah Gadjali, SpM; dr. Gartati
Ismail, SpM; dr. Henry A. Wibowo. SpM (K); dr. H. Hermansyah, SpM; dr. Mustafa K.
Shahab, SpM dan dr. Susan S. Anggraeni, Sp.M.
Dalam menyelesaikan penulisan referat ini, penulis menyadari bahwa tidak luput dari
kesalahan dan kekurangan baik dari segi materi dan bahasa yang disajikan. Untuk itu penulis
memohon maaf atas segala kehilafan, serta dengan tangan terbuka mengharapkan kritik dan
saran demi kesempurnaan referat ini.

Akhirnya, penulis berharap semoga referat ini dapat bermanfaat bagi penulis pada
khususnya, serta semua pihak yang membutuhkan.

Jakarta, 15 Februari 2019

Penulis
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ............................................................................................................... 2

DAFTAR ISI.............................................................................................................................. 3

BAB I ......................................................................................................................................... 4

BAB II........................................................................................................................................ 6

BAB III ....................................................................................................................................20

DAFTAR PUSTAKA .............................................................................................................. 21


BAB I

PENDAHULUAN

Optical Coherence Tomography (OCT) adalah suatu alat pemeriksaan diagnosa


jaringan tubuh in vivo secara tidak invasif. OCT pertama kali dipakai untuk aplikasi klinik pada
tahun 1997. Beberapa tahun belakangan ini penggunaannya meningkat pesat dalam
oftalmologi terutama untuk pemeriksaan retina. Selain itu OCT dapat dipakai juga untuk
kelainan glaukoma. Informasi kelainan retina dapat diterangkan oleh OCT seperti edema
makula, RPE detachment, perubahan neovaskular intra-retinal dan sub-retinal, serta traksi
vitreoretina. Selain itu OCT dapat dipakai juga sebagai alat bantu tambahan pemeriksaan
angiografi.1,2

Optical coherence tomography (OCT) merupakan suatu alat pemeriksaan imaging


dengan prinsip kerja mirip dengan pemeriksaan ultrasonografi B-mode, namun OCT lebih
sensitif dan akurat. Ultrasonografi dengan resolusi 150 mikron, sedangkan OCT 10 mikron
untuk timedomain OCT (TD-OCT) dan 1-6 mikron untuk spectral-domain OCT (SD-OCT).
Alat ini memakai gelombang cahaya, berbeda dengan ultrasonogafi yang memakai gelombang
suara, sehingga OCT tidak memerlukan kontak dengan mata. Pemeriksaan OCT ini hanya
memerlukan waktu beberapa detik, OCT mudah dilakukan dan mudah interpretasinya, cepat,
reliabel, sensitif, reproducible, dan non-kontak. Optical Coherence Tomography (OCT) dapat
memberikan gambaran dan informasi yang detil mengenai struktur mata; papil, retina nerve
fiber layer, makula, pembuluh darah secara langsung dan analisis OCT memungkinkan untuk
mendeteksi perubahan anatomi pada struktur mikro bola mata sebelum terjadinya kerusakan
fungsional pada mata.1,2

Interpretasi pemeriksaan OCT untuk mendeteksi kelainan di retina dapat dibagi


menjadi 3 yaitu pengukuran morfologi, reflektiviti dan ketebalan retina. Secara gambaran
morfologi, OCT dapat mendeteksi kelainan dari profil retina, permukaan retina dan perubahan
struktur retina posterior, seperti menghilangnya depresi fovea pada edema makula dan
gambaran seperti kista pada edema makula kistoid.1,2

Dengan berbagai keunggulannya OCT dapat sangat berguna pada diagnosis kelainan
mata pada anak karena tidak berbahaya, tidak radioaktif, dilakukan dalam waktu singkat dan
informasi yang didapatkan sangat mendukung dalam pengelolaan dan evaluasi kelainan saraf
optik, kelainan retina, kelainan papil optik. Namun hingga saat ini alat OCT tidak disertai
dengan data referensi angka normal untuk bayi dan anak dibawah 18 tahun.1,2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi
Optical coherence tomography (OCT) adalah analog optik pencitraan ultrasound yang
menggunakan interferometri koherensi rendah untuk menghasilkan gambar penampang
retina. Perkembangan teknologi pencitraan semakin cepat sesuai dengan tuntutan kemajuan
jaman. Optical Coherence Tomography (OCT) teknologi pencitraan yang menampilkan
gambaran resolusi mikron, cross sectional, pada jaringan in vivo termasuk mikrostruktur
okuli. Seperti pada CT-scan noninvasive yang menggunakan sinar X, MRI yang
menggunakan resonansi elektron, OCT dapat dianalogikan dengan ultrasonografi, tetapi
bukan menggunakan gelombang suara melainkan menggunakan cahaya dekat infra merah
untuk memperoleh gambaran cross sectional. OCT dapat digunakan sebagai pemeriksaan
penunjang untuk menegakkan diagnosa karena kemudahannya untuk pemeriksaan mata
baik segmen anterior maupun segmen posterior.1

2.2 Fungsi dan Jenis

OCT digunakan sebagai alat diagnostik berbasis gambar (imaging-based diagnostic) dan
sebagai pemandu prosedur operasi karena memiliki beberapa fitur yang menarik.1,2

1. OCT mampu menghasilkan resolusi gambar yang mendekati histopatologi


konvensional
2. OCT dapat digunakan secara in situ dan in real time, yang dapat digunakan sebagai alat
pemandu untuk prosedur operasi dan investigasi respon dinamik sampai agen terapeutik
3. OCT dapat dilakukan dengan menggunakan alat yang noninvasif atau minimal invasif
4. OCT dapat digunakan untuk pencitraan fungsional, seperti pencitraan jaringan dengan
spektroskopi, pengukuran aliran darah, dan jumlah darah teroksigenasi dengan doppler.
5. Mengevaluasi hasil dari pengobatan dari waktu ke waktu.
6. Mengukur ketebalan dan volume lesi.
7. Mengetahui progresivitas penyakit.
8. Mengevaluasi keadaan setelah operasi.
Akhirnya, dengan teknik memproses pencitraan dan algoritma dapat digunakan untuk
menilai gambar hasil OCT secara kuantitatif dan mendapatkan informasi diagnostik.

Terdapat 2 jenis OCT yaitu time-domain OCT (TDOCT) dan spectral-domain OCT
(SDOCT). Pada TDOCT, sinar dengan koherensi rendah mirip sinar infra merah dari dioda
sumber cahaya dipancarkan ke retina dan kaca sebagai perbandingan. Setelah itu sinar hasil
pantulan dari kaca dan mata akan membentuk pola gabungan yang akan ditangkap dan
dianalisis oleh detektor sinar sehingga terbentuk gambaran potong lintang. Untuk
melihat kedalaman, kaca digerakkan dan perubahan pola pantulan diamati dan diambil
gambarnya secara sekuensial. 2

SDOCT menggunakan mekanisme yang sama dengan TDOCT. Perbedaannya


adalah untuk menentukan kedalaman, kaca berada dalam posisi statis dan terdapat kamera
yang menggambil gambar secara simultan. SDOCT memiliki resolusi lebih baik dan lebih
sensitif serta dapat digunakan untuk merekonstruksi gambaran 3D.2

2.3 Dasar dan Prinsip Kerja


OCT berkembang diawali penelitian profesor Carmen Puliafito dari Universitas Tufts
di Boston bekerjasama dan New England Eye Center yang berkolaborasi dengan tim fisika
dan matematika yang dipimpin oleh James Fujimoto, Ph.D dari Institut Massachusetts pada
tahun 1991. Pada tahun 1993 dibuat prototype pertama di New England dan didapatkan
gambaran retina manusia in vivo kemudian diikuti dengan penelitian yang dilakukan di New
England Eye Center dan pusat medis yang lainnya. Tahun 1995, gambaran klinis retina
pertama ditemukan dan tahun 1996 mulai dikomersilkan yaitu Zeiss OCT. Sejalan dengan
pesatnya tehnik pencitraan, kebutuhan data standar dan pengalaman klinis menjadi lebih
berharga, generasi pertama yaitu OCT 2 dan Stratus OCT telah sukses mengawalinya.
Stratus OCT sekarang telah diterima sebagai pemeriksaan standar di bagian mata, dengan
6000 unit yang telah terjual di tahun 2006.Generasi kedua dari OCT, OCT-3, diperkenalkan
tahun 2001 dimana didapatkan gambaran cross sectional retina dengan resolusi kurang dari
10 mikron aksial.1,2,3
OCT generasi pertama seperti OCT1, OCT2, Carl Zeiss Meditec Inc., Dublin, Calif
mempunyai resolusi 1215 μm. Sedangkan Stratus OCT(Carl Zeiss Meditec, Inc)
mempunyai resolusi 810 μm dan UHR OCT mempunyai axial resolusi 2 -3 μm. Dengan
semakin pesatnya teknologi muncul beberapa generasi OCT terbaru.yang mempunyai
kemempuan lebih tinggi, seperti : Ultrahigh resolution OCT, Combined OCT/ SLO,
Doppler-OCT, High Speed UHR-OCT, CAS OCT- Visante, Polarization sensitive OCT,
Combined and en-face OCT, Intraoperative OCT.2,3
Sistem OCT merupakan sumber koherensi broadband nirkabel. Lampu yang
dipancarkan dimasukkan ke dalam interferometer. Kemudian cahaya dibagi menjadi dua
lengan: lengan referensi dan lengan sampel. Lengan referensi mentransmisikan cahaya ke
cermin referensi. Lengan sampel mengirimkan cahaya ke jaringan sampel. Lengan sampel
juga mengandung lensa objektif yang memfokuskan cahaya pada jaringan sampel
(misalnya, otak, retina, dan arteri karotis). Cahaya yang tersebar dari struktur jaringan
rekombinasi dengan cahaya referensi yang dipantulkan dari cermin referensi bergerak
sangat reflektif (> 95%), menghasilkan pola interferensi yang terdeteksi oleh detektor
cahaya. Untuk merekonstruksi objek penampang dua dimensi (2D) dan tiga dimensi (3D),
berkas dipindai di seluruh permukaan sampel.2,3
Sejak inisialisasi OCT, dua jenis implementasi OCT telah diperkenalkan: time domain
OCT (TDOCT) dan Fourier domain OCT (FD-OCT). Selain itu, FDOCT memiliki dua
versi: swept source OCT (SS-OCT) dan domain spektral OCT (SD-OCT). Skema SD-OCT
atipikal sangat mirip dengan skema TD-OCT atipikal (Gambar 1). Perbedaannya adalah
bahwa mirror reference yang bergerak pada Gambar 1 diimobilisasi, dan detektor pada
Gambar 1 digantikan oleh spektrometer kehilangan-rendah dalam skema SD-OCT.
Perbandingan antara kedua versi ini, SD-OCT memberikan struktur mikro otak yang lebih
rinci secara signifikan. jaringan daripada TD-OCT konvensional. SD-OCT memiliki
tingkat akuisisi pemindaian OCT yang lebih tinggi, sensitivitas yang lebih baik, rasio
signal-to-noise (SNR) yang ditingkatkan, dan penetrasi kedalaman yang unggul atau
meningkatkan sensitivitas berbagai metode OCT fungsional. Ada beberapa ekstensi OCT
fungsional juga seperti multi contrast OCT (MC-OCT), polarization-sensitive OCT
(PSOCT), Doppler OCT (D-OCT), kontras dinamis OCT (Dyc-OCT), OCT harmonik
kedua, dan yang paling baru pencitraan molekuler spektroskopi warna murni OCT
(METRiCS OCT) . Optical coherence microscopy (OCM), optical microangiography
(OMAG), dan sebagainya adalah beberapa versi kompleks lainnya berdasarkan prinsip
OCT. Gambar 2 merupakan deskripsi singkat tentang prinsip-prinsip dasar dari beberapa
teknik OCT yang digunakan dalam penelitian neuroscience sejauh ini.2,3,4
Gambar 1 : Sistematika OCT

Gambar 2 : Prinsip dasar teknik OCT

Prinsip kerja OCT dimulai dari adanya cahaya koheren rendah yang berasal dari dioda
superlµminan (SLD) digabungkan dengan interferometer fiber, kemudian dipisahkan oleh
serabut splitter pada suatu coupler menjadi ke dalam 6 jalur acuan (reference) dan sampel
(measurement). Sinar dikombinasikan dalam coupler dengan cahaya pantulan
(backscattered) dari mata penderita. Kemudian kembali melalui sample arm (retina) dan
mencapai detektor. Sinar yang terkirim ke reference arm (mirror) dipancarkan dengan
sejajar oleh lensa pada keluaran reference arm, direfleksikan dari cermin, dan ditangkap
kembali oleh lensa dan dikombinasi dengan sinar sampel arm. Sinyal yang terbentuk
diamati hanya bila panjang lintasan optik sesuai dengan panjang koheren dari sumber
cahaya foto dioda yang kemudian diproses. Didapatkan gambaran serupa dengan
ultrasound A-scan.4
Pencitraan oftlamia merupakan contoh situasi klinis dimana tidak dimungkinkan
dilakukan eksisi biopsi konvensional, OCT mampu memberikan informasi patologi retina
in vivo yang tidak dapat dilakukan oleh metode lain. OCT pertama kali dikembangkan dan
didemonstrasikan di departemen ilmu penyakit mata sebagai alat pencitraan tomografik
resolusi tinggi untuk melihat retina dan bola mata bagian depan. Hal ini dikarenakan bola
mata merupakan bangunan transparan dan sangat mudah untuk dinilai menggunakan teknik
dan instrumen optik. Walaupun retina hampir transparan, sensitivitas tinggi yang dimiliki
OCT memungkinkan signal yang sangat lemah sekalipun dapat dideteksi. OCT
memampukan morfologi arsitektur internal retina divisualisasikan secara noninvasif dan
in real time. Lapisan serat saraf retina terlihat sebagai lapisan menyebar yang berasal dari
diskus optikus dan menipis dalam perjalanannya dari perifer ke fovea. Lapisan-lapisan
pleksiform terlihat menyebar luas dimana lapisan-lapisan nuklear menyebar sempit.3,4

2.4 Prosedur
Pada pemeriksaan ini diperlukan diameter pupil minimum 3 mm untuk mendapatkan
gambar OCT yang baik. Protokol pemindaian yang tepat dipilih untuk memindai area retina
yang diinginkan dan gambaran OCT dapat langsung terlihat. Disaat melakukan
pemeriksaan pasien dengan menggunakan OCT sebaiknya pasien dan keluarga diberi
penjelasan tentang prosedur yang akan dilakukan. Pasien diberi gambaran tentang alat yang
akan digunakan. Bila perlu dengan menggunakan kaset video atau poster, hal ini
dimaksudkan untuk memberikan pengertian kepada pasien dengan demikian mengurangi
stres sebelum waktu prosedur dilakukan. Dilakukan pemantauan melalui komputer dan
pengambilan gambar dari beberapa sudut yang dicurigai adanya kelainan.4,5
Berikut prosedur yang dilakukan dalam pemeriksaan OCT:
a. Selama prosedur berlangsung pasien harus diam selama 10-15 menit.
b. Pengambilan gambar dilakukan dari dagu meempel pada OCT dan mata tidak
berkedip beeberapa detik
c. Selama prosedur berlangsung pasien didampingi oleh petugas medis.
d. Pasien diinstruksikan untuk melihat target internal di pusat (untuk pemindaian
makula) atau target eksternal yang sesuai.
e. Setelah gambar fundus pada monitor terfokus, gambar OCT muncul pada monitor,
fokus diaktifkan dengan memperbaiki kesalahan bias. Pastikan gambar OCT tegak
dan lurus dan pola pemindaian referensi terpusat pada fovea atau bidang yang
diinginkan.
f. Sesuaikan titik masuk cahaya melintasi pupil untuk mendapatkan kekuatan sinyal
terbaik.
g. Ulangi prosedur ini dengan protokol pemindaian lain jika perlu.
h. Sesudah pengambilan gambar pasien dirapikan
Pemindaian OCT dianalisis secara kualitatif dan kuantitatif. Area atau jendela tampilan
OCT terdiri dari gambar OCT yang dianalisis dengan gambar fundus yang sesuai yang
menunjukkan orientasi pemindaian OCT. Laporan analisis bervariasi dengan sistem OCT
yang berbeda. Secara umum, semua mesin memiliki peta ketebalan yang menampilkan nilai
ketebalan retina rata-rata dalam lingkaran berdiameter 1 mm, 3 mm, dan 6 mm yang dibagi
menjadi sektor-sektor dengan peta warna. Warna-warna warm menunjukkan area retina
yang lebih tebal dan warna cold menunjukkan area retina yang lebih tipis (gambar 3)

Gambar 3. Peta ketebalan retina: Gambar atas menunjukkan peta ketebalan makula berkode
warna yang menunjukkan penebalan pada daerah makula dan nilai ketebalan makula terlihat
dalam 1 mm, 3 mm, dan 6 mm lingkaran di gambar kanan atas. Gambar bawah menunjukkan
citra tomografi koherensi optik domain spektral yang sesuai.1,4

2.5 Indikasi dan Kontraindikasi


OCT adalah pemeriksaan standar untuk sejumlah penyakit retina yang semakin banyak
digunakan untuk diagnosis, pemantauan dan kontrol pengobatan traksi vitreoretinal dan
lubang makula, degenerasi makula terkait usia, glaucoma dan retinopati diabetic.1 OCT
memberikan analisis kualitatif (morfologi dan reflektifitas) dan kuantitatif (ketebalan,
pemetaan dan volume) dari jaringan yang diperiksa. Sehingga dapat dijadikan alat bantu
diagnostik penyakit mata seperti: 8
 Cystoid macular edema (CME)
 Retinopati diabetic
 Retinal vascular disease dan edema macula
 Myopia degenerative
 Ruptur koroid
 Distrofi makula dan retina

Kontraindikasi untuk dilakukannya pemeriksaan OCT adalah :2

1. Media pengelihatan yang buruk (kontra indikasi relatif)


2. Pasien yang kurang kooperatif (kontra indikasi relatif)

2.6 Interpretasi
2.6.1 Analisa Kualitatif
Studi morfologgi yang mengukur variasi morfologi: 1
 Deformasi retina, yaitu konkaf, misalnya pada kasus miopia dan stafiloma posterior,
serta konveks pada RPE dan kista subretina.
 Deformasi profil retina, yaitu hilangnya depresi dari fovea pada edema makula,
macula pucker, macular pseudoholes, lamellar holes,membran epiretina yang
terpisah atau melekat pada retina, mengetahui diameter dan dalamnya macular hole.
 Perubahan struktur intraretina, misalnya pada pada edema makula sistoid,cotton
wool spot yang terdiri dari nodul retina hiperefleksi yang melekat di lapisan serabut
saraf, hard exudate yang terjadi di batas antara area edema dan normal.
 Perubahan struktur posterior, yaitu terlepasnya Retinal pigment epithelium (RPE)
yang membentuk sudut dengan kariopkapiler, ablasio retina serosa yang
membentuk sudut yang sempit dengan RPE.1
 Studi reflektivitas, yaitu hiperefleksi, hiporefleksi, dan area bayangan. Saat
didapatkan kelainan, akan terjadi perubahan reflektivitas, Area bayangan adalah
area densitas, jaringan hiperrefleksi menghasilkan area bayangan pada gambaran
OCT. Bayangan di anterior, misalnya perdarahan, eksudat, dan pembuluh darah
Bayangan di posterior, misalnya jaringan parut pada retina, hipertropi atau
hiperplasia epitel pigmen.1

2.6.2 Analisa Kuantitatif


Program software OCT dapat mengukur ketebalan retina beserta volumenya.
Analisa kuantitatif terdiri dari pengukuran ketebalan atau volume retina, dengan
tampilan ketebalan retina pada bagian atas berwarna, disertai skalanya. Ketebalan
retina dapat diukur secara otomatis oleh software OCT, jarak antara permukaan
vireoretina dan permukaan anterior dari pigmen epitelium rata-rata berukuran 250-
275 mikron. Cekungan fovea rata-rata berukuran 170-190 mikron. Dengan
menentukan permukaan anterior dan posterior retina, maka dapat diketahui
ketebalan retina.1

Gambar 4.Ophtical Coherence Tomography pada mata normal. 10

11
Gambar 5. Gambaran OCT pada segmen anterior11

Gambar 6. Gambaran OCT pada sumbu papillomaacular yang menghubungkan dengan Optic nerve10

Gambar 7. Gambaran makula normal.11


Gambar 8. A. Pembuluh darah retina normal. B. Gambaran pembuluh darah normal pada garis hitam.10

Gambar 9. Data statistik ketebalan makula normal.10

2.6.3 Interpretasi OCT pada Segmen Anterior

Resolusi yang tinggi dari OCT memungkinkan untuk melakukan penilaian dan
visualisasi struktur-struktur anatomi yang sangat kecil sekalipun. Untuk mencapai gambar
yang bagus maka pencitraan harus melalui proses dan cara pengambilan yang tepat. Dan
yang harus dipahami bahwa karakteristik refleksi dari masing- masing struktur dimata
sangat berkaitan dengan sudut sinar OCT (incidence angle) yang mengenai struktur.1,2
Gambar OCT yang belum diproses mengalami distorsi pembiasan oleh udara-cornea
dan aqueous-cornea yang disebabkan oleh perbedaan kecepatan cahaya melalui udara,
cornea, dan media aqueous. Distorsi ini dapat dihilangkan dengan memproses gambar
dengan komputer menggunakan prinsip Fermat.5,6,7,9
Indeks udara ( 1.000 ), kornea ( 1.389 ± 0.004 ) dan humor aqueous (1.343 ± 0.001
), indeks tiap struktur sangat penting dalam proses dewarping. Teori dewarping sendiri
membutuhkan pengetahuan tentang 3 dimensi dari seluruh permukaan transisi index. Pada
prinsipnya, jika yang diperiksa adalah kornea ( misalnya untuk mengukur ketebalan
kornea), maka indeks kornea harus digunakan dalam proses dewarping. Jika pemeriksaan
melibatkan dimensi bilik mata depan ( kedalaman, lebar, sudut dari bilik mata depan ),
maka indeks aqueous harus di gunakan.3,6,7,9
Batas dari suatu jaringan pada gambar OCT dapat dengan mudah dikenali tergantung
pada perbedaan antara kekuatan sinyal yang direfleksikan ataupun yang mengalami
bakcscattered. Seperti yang di tunjukkan pada tabel berikut :
Tabel 1. Karakteristik model pantulan struktur pada sudut insiden perpendikular dan oblik. 9
Perbedaan ini bervariasi sesuai dengan sudut yang terbentuk antara sinar OCT dan
jaringan yang dikenai. Sebagai contoh gambaran OCT kornea pasca LASIK, memperlihatkan
gambaran kornea sentral dengan perifer yang sangat berbeda.

Gambar 8. Gambar OCT pasca LASIK 9


Gambar diatas menunjukkan, pada bagian sentral, tampak dominasi refleksi spekular
yang sangat kuat yang berasal dari udara-air mata, bagian atas dan bawah memberikan
gambaran putih dan membentuk garis vertikal dari puncak hingga dasar dari gambar yang
berasal dari flare. Sedikit bergeser dari sentral, stroma kornea memberikan refleksi yang kuat,
menjadikan flap LASIK sangat susah dikenali. Lapisan epitel tampak relatif lebih gelap
dibandingkan dengan lapisan stroma. Lebih jauh dari bagian sentral, refleksi yang berasal dari
stroma melemah dan flap LASIK dan lapisan epitel tampak lebih terang. Variasi kontras dari
sentral ke perifer disebabkan oleh variasi sudut insiden. Hal ini dapat dimengerti dengan
menganalisa hubungan antara struktur dan distribusi dari cahaya yang disebarkan kembali 7,9
Gambar 9 . Menunjukkan 3 bentuk pantulan yang dihasilkan dari struktur.9

Batas Udara-air mata memberikan refleksi spekular menyerupai cermin, yang


memproses jenis arah dari cahaya insiden. Karena sinar OCT biasanya memiliki sudut yang
berbentuk kerucut dengan lengkungan hanya beberapa derajat, maka refleksi spekular ini
sangat kuat pada puncak ( teori insiden perpendikular) tetapi menurun dengan cepat ketika
sudut yang terbentuk jauh dari sentral beberapa derajat. Stroma kornea adalah kumpulan
serabut- serabut kolagen yang bentuknya silinder. Reflektor yang berbentuk silinder akan
menyebarkan kembali cahaya dalam bentuk seperti kipas, dengan dimensi yang sempit. Karena
serabut kolagen yang tersusun di stroma tersusun menjadi lamella- lamella, penyebaran cahaya
secara bersamaan agak menyerupai cermin. Sedangkan kolagen yang terdapat di sklera tidak
tersusun dengan baik, karena itu proses backscatteringnya kurang bisa dipahami arahnya.
Kornea lebih transparan daripada sklera dan backscatter lebih kurang karena disebabkan jarak
yang teratur antar lamella.12
Pigmen epitel iris dan epitel kornea bentuknya mirip kumpulan partikel-partikel kecil,
sehingga backscatter nya membentuk sudut yang jaraknya sangat besar sehingga dengan
demikian level kekuatan sinyalnya pada gambaran OCT selalu sama tanpa dipengaruhi oleh
sudut insiden. Granula pigmen, sel nukleus dan lainnya yang berskala kecil merupakan titik
pusat penyebaran cahaya yang berfluktuasi dalam refraktif indeksnya. Beberapa struktur
bekerja bersamaan dalam proses backscatter. Contohnya pada interface kornea-aqueous antara
lain transisi spekular indeks, selain itu backscatter dari sel- sel endotel ( partikel ) dan membran
descemet’s ( serabut kolagen bentuk silinder ). 6,8

2.6.4 Gambaran OCT Normal dan Patologis Segmen Anterior


A. Kornea
OCT yang dimodifikasi menjadi slitlamp dapat membagi kornea menjadi 3 bagian,
lapisan Bowman dan lapisan descemet-endotel yaitu yang memiliki kekuatan refleksi yang
tertinggi, sedangkan lapisan stroma yaitu yang kemampuan refleksi nya sangat rendah.
Bagian korneo-sklera memiliki serabut- serabut kolagen yang berbeda dengan serabut
kolagen yang terdapat pada kornea dan sklera, hal ini bertanggung jawab pada perbedaan
sifat optik pada 2 tempat tersebut , hal ini menyebabkan perubahan refleksi yang sangat
jelas. 7,8,9,

Gambar 10 . Menunjukkan gambar OCT kornea sehat, tampak perbedaan pantulan


sinar antara epitel, stroma dan endotel kornea

B. Iris
Secara anatomi, iris dapat dibagi menjadi lima lapisan, yaitu : Lapisan superfisial,
stroma, muskulus iris, dan lapisan epitel pigmen anterior dan posterior. Pigmentasi iris
tergantung pada struktur jaringan stroma, epitel pigmen, dan kandungan pigmen yang
terdapat pada granula melanin dalam melanosit stroma, dan lapisan superfisial. Gambar
OCT sangat dipengaruhi oleh warna iris. OCT bisa menggambarkan iris menjadi tiga
lapisan yang berbeda, lapisan superfisial dapat terlihat pada gambar OCT ditentukan oleh
derajat pigmentasinya, memiliki kemampuan reflektif yang tinggi pada iris berpigmen dan
hampir tidak terlihat pada iris berwarna biru. Penampakan kripte iris pada gambar sangat
tergantung pada pigmentasi lapisan superfisial. Lapisan stroma merupakan zona iris yang
memiliki kemampuan reflektif yang sedang. Otot sphincter terlihat daerah dekat margin
pupil. Otot dilatator tidak terlihat sebagai daerah yang berbeda pada OCT. Sinyal tertinggi
berasal dari pigmen iris bagian posterior. Walaupun sangat tergantung pada pigmentasi
dan ketebalan dari lapisan anterior yang berada diatasnya, yang akan menyebabkan
attenuasi dari sinyal. 6,7,8,9
Gambar 11. Gambar OCT Horizontal menunjukkan kripte iris. 9

Jika terjadi perubahan pada konfigurasi iris seperti pada pasien sinekia anterior, dimana
terjadi inkarserata iris dengan kornea, pada kasus ini OCT dapat memberikan informasi
tambahan dengan memvisualisasikan lapisan iris secara terpisah, yang tidak dapat
diidentifikasi dengan hanya menggunakan slitlamp, seperti ditunjukkan pada gambar
berikut :

Gambar 12. OCT pasien pasca trauma okuli perforans dengan sinekia anterior dan
lapisan iris yang terpisah 8

OCT juga dapat digunakan untuk melihat adanya tumor pada iris seperti pada
Melanoma iris, OCT juga dapat menilai ketebalan, luas, dan jarak tumor dengan sudut,
menggunakan kaliper komputer. Pertumbuhan yang sangat cepat menandakan keganasan
suatu tumor. Sedangkan nevus iris dibedakan dengan iris normal dengan melihat adanya
peningkatan pigmnetasi dan ketebalan dari lapisan superfisial. Dapat dilihat pada gambar
OCT dengan gray scale dan false color scale. 7,8,9
Gambar 13. Gray scale. Menunjukkan penebalan stroma iris anterior 9

Gambar 14. False color scale. Gambar OCT dengan resolusi tinggi menunjukkan
peningkatan pigmentasi (warna merah) dan penebalan bagian anterior iris. Kaliper
menunjukkan jarak antara tepi tumor dengan angle recess 8,9,10

C. Sudut bilik mata depan


Seperti telah diketahui sebelumnya,bahwa sudut bilik mata depan adalah struktur yang
sangat penting pada mata. Sudut yang sempit meningkatkan resiko terjadinya glaukoma
akut sudut tertutup. Perubahan struktur yang terjadi pada area tersebut seperti terbentunya
sikatriks atau pembuluh darah baru, dapat menyebabkan peninggian tekanan intraokular
hal ini dapat dideteksi awal menggunakan OCT. 9

Gambar 15. Menunjukkan gambar OCT sudut bilik mata depan normal 7,8
Pemeriksaan rutin sudut bilik mata dilakukan dengan lensa gonioskopi. Klasifikasi
sesuai dengan Shaffer atau Becker yang paling sering digunakan tetapi sangat tergantung
dari pengalaman dan penilaian yang subyektif dari pemeriksa. Oleh karena itu
pemeriksaan pasien glukoma harus di bandingkan secara quantitatif, maka dibutuhkan
metode objektif untuk menilai dan mendokumentasikan sudut bilik mata pasien,
contohnya pada pasien yang akan dilakukan iridotomi,maka gambar OCT diambil sebelum
dan sesudah dilakukan iridotomi Nd:YAG laser. 8

Gambar 16. Sudut sempit bilik mata depan 8 Gambar 17. Setelah dilakukan YAG iridotomi 8

Dengan menggunakan OCT-slitlamp, sudut bilik mata dapat divisualisasikan tanpa


meggunakan lensa gonioskopi dan menghasilkan gambar cross sectional dengan resolusi
tinggi. Sistem pada OCT ini merupakan alat yang sangat ideal untuk morfometri sudut
bilik mata secara in vivo, hasil yang didapatkan sangat mirip dengan pemeriksaan histologi
tetapi tanpa memberikan membuat suatu perubahan pada struktur aslinya. Gambar OCT
dapat di buat pada posisi yang diinginkan, dan sangat memungkinkan untuk menilai sudut
pada posisi arah jam 3, 6, 9, dan 12. 9
Sebagai tambahan, sudut bilik mata depan dapat digambar pada resolusi rendah
maupun tinggi dengan OCT komersil yang dirancang khusus dengan hasil yang lebih baik
untuk pemeriksaan segmen anterior salah satunya yaitu : Visante (Carl Zeiss Meditec Inc,
Dublin, Calif). Pada pencitraan dengan resolusi rendah dapat menunjukkan seluruh bagian
bilik mata depan (BMD), dapat digunakan untuk menilai kedalaman BMD, luas sudut-ke
sudut, profil iris, dan ketebalan iris. Dengan melakukan pencitraan ini, maka
memungkinkan dokter untuk mendapatkan pengetahuan tentang keadaan mata pasien
dengan sehingga memudahkan menentukan etiologi pada pasien dengan sudut sempit .
Skleral spur juga terlihat pada scan dengan resolusi rendah. 9,10
Gambar 18. Pencitraan sudut dengan resolusi rendah, ACD: Anterior chamber depth, AAW : Angle
to angle width, PD : Diameter pupil, IP : Iris profile, SS : Scleral spur 10

Sedangkan pencitraan dengan resolusi tinggi sangat dibutuhkan dalam penilaian


objektif dari sudut. Dengan pencitraan dengan resolusi tinggi, maka struktur sudut dapat dilihat
lebih jelas. Identifikasi skleral spur juga dapat dilakukan dengan pencitraan resolusi tinggi,
selain itu bagian- bagian penting lain yang dapat diidentifikasi seperti, adanya peripheral
anterior synechiae (PAS) ataupun untuk identifikasi badan siliar. 9

Gambar 19. Pencitraan sudut dengan resolusi tinggi. SS : scleral spur, CB : ciliary body. Sudut
tertutup. Pasien dengan sindrom iris plateau 9

Lensa normal dan katarak


OCT imaging pada lensa, kapsul lensa, dan vitreus anterior dapat dilakukan dengan
pupil yang dilebarkan. Lensa pada usia muda menampakkan kemampuan refleksi yang
meningkat pada bagian nukleus dan kapsul lensa. Pada pasien dengan katarak nuklear,
kemampuan refleksi nukleus lebih tinggi daripada korteks. 9,10
Gambar 20. Gambar slit lamp katarak hipermatur10 Gambar 21. Gambar OCT katarak hipermatur 10

Gambar 22 . Pembesaran gambar OCT dapat memperlihatkan celah berisi air (water cleft) pada
katarak hipermatur 10

2.6.5 OCT SEGMEN POSTERIOR BOLA MATA


Tipe OCT yang paling umum digunakan adalah tipe OCT yang digunakan untuk
membuat gambar segmen posterior dari mata atau retina. Dalam hal ini OCT komersil yang
ditujukan untuk menggambarkan segmen posterior adalah OCT Stratus (Carl Zeiss) yang
memiliki panjang gelombang 820 nm, pola pencitraan : radial,sagital,sirkular. Pada
aplikasinya, OCT segmen posterior ini bekerja analog dengan kamera fundus. OCT ini
menggunakan lensa yang akan mengirimkan gambar retina ke plane yang merupakan salah satu
alat dari OCT ini, kemudian plane memantulkan bayangan kembali retina untuk
memungkinkan operator melihat bagian retina yang diinginkan. Pengukuran sinar OCT
dilakukan dengan merangkai jalur optik didalamnya menggunakan cermin reflektif parsial
atau beamsplitter. Pembesaran gambar retina diatur oleh kekuatan refraksi dari lensa dan
pembesaran dari okular sendiri. Posisi transversa dari sinar OCT dikontrol oleh cermin
scanning mekanik yang terdapat pada OCT, dengan pembesaran yang terendah dengan
lapangan pandang hanya sekitar 30°. Gambar fundus dapat dilihat langsung atau melalui
kamera video. Ketika sinar di scan, maka akan menghasilkan pola scan pada retina yang
nantinya dapat dilihat oleh operator. Alat untuk membesarkan gambar yang terdapat pada OCT
dapat diatur sesuai dengan pemeriksaan yang diinginkan. 12
Gambar 23.. Diagram skematik menunjukkan optik imaging yang digunakan untuk segmen
posterior 12,13

2.6.6 Gambaran OCT Retina Normal


A. Papillomacular Axis

Gambar 24. Daerah yang luas yang diperlihatkan pada tomogram OCT dari retina normal termasuk
makula dan daerah peripapil.9

Anatomi struktur- struktur dalam skala besar seperti fovea, diskus optik, dan retina
sangat jelas dan mudah diidentifikasi dengan melihat karakteristik morfologinya. Batas
vitreoretinal membentuk demarkasi oleh karena adanya perbedaan antara vitreus yang
non reflektif dan permukaan kornea bersifat backscattering. Fovea berada pada bagian
kiri seperti yang terlihat di tomogram merupakan daerah tipis pada retina ditunjukkan
pada gambar 24. Diskus optik tampak di daerah kanan tomogram, memperlihatkan
bentuk papil nervus optik dan cupping normal. 8,9
Pada tomogram, lapisan berwarna merah memiliki kekuatan refleksi yang
tinggi, menunjukkan tepi posterior retina dan struktur ini adalah epitel pigmen retina
(RPE) and koriokapillaris. Lapisan posterior berakhir pada margin diskus optik
bersamaan dengan berakhirnya sirkulasi koroidal pada lamina cribosa. Dibawah
koriokapilaris,kemudian koroid dan sklera memiliki scattering relatif lemah, disebabkan
karena menurunnya sinyal setelah melewati lapisan neurosensori retina, RPE, dan
koriokapilaris. Lapisan gelap mengindikasikan kemampuan reflektif yang minimal,
tampak pada anterior lapisan koriokapilaris, lapisan tersebut adalah segmen luar
fotoreseptor retina. Batas bagian dalam retina menunjukkan backscattering yang sangat
terang, Lapisan berwarna merah merupakan lapisan serabut saraf (NFL). Seperti yang
terlihat di tomogram, NFL semakin tebal dari makula menuju diskus optik, menunjukkan
anatomi yang normal pada daerah tersebut. 11

B. Fovea
RPE pada daerah fovea memiliki lebih banyak pigmen dibandingkan daerah
lainnya, oleh karena itu, daerah ini tampak berbeda dengan koriokapilaris. Lapisan
fleksiform luar dan dalam, (IPL, OPL), sama dengan NFL memiliki kemampuan
backscattering sedang,karena strukturnya terdiri dari jaringan fibrous menyebabkan sinar
yang mengenainya berbentuk perpendikular. Pembuluh darah retina diidentifikasi karena
kemampuan backscatter yang meningkat dan pembentukan bayangan dari refleksi yang
berasal dari RPE dan koriokapilaris. Pembuluh darah koroid yang terbesar juga tampak
pada gambar dan memiliki reflektif yang minimal serta luman yang gelap10

Gambar 25.Tomogram OCT dengan pembesaran yang tinggi, ,menunjukkan fovea normal dan lapisan
retina dibawahnya 10,11

2.6.7 Gambaran OCT Segmen Posterior Dalam Berbagai Potongan


A. Tomogram Makula Potongan sagital
Analog dengan X-ray computed tomography (CT) atau magnetic resonance
imaging (MRI), kemampuan OCT membagi gambar optik menjadi beberapa potongan
yang berurutan dari retina. Sebagai contoh, enam tomogram potongan sagital
didapatkan berturut- turut dari makula manusia dengan jarak 225 µm masing- masing
gambar. Lokasi dari masing- masing tomogram retina di beri label sesuai dengan foto
fundus. Karakteristik retina ditunjukkan dalam beberapa seri gambar OCT dalam
beberapa potongan.8 Permukaan retina anterior dan posterior ditandai dengan
backscattering di NFL dan daerah vitreoretinal dan backscattering yang tinggi
ditunjukkan dengan lapisan merah pada daerah RPE dan koriokapilaris
Rentetan tomogram menunjukkan perkembangan dan resolusi dari cekungan
fovea, yang memiliki kedalaman maksimum pada fovea sentralis.

Gambar 26 . Tomogram OCT potongan


sagital pada makula normal 10
B. Tomogram Diskus Optik potongan Radial
Pada tomogram dengan 90° ( diambil perpendikular pada axis papillomakular
backscattering yang tinggi (merah ) dapat terlihat dari NFL dan dari batas posterior dari
neurosensori retina, juga RPE dan koriokapilaris. Dibandingkan tomogram dengan 0°
(diambil pararel pada axis papillomakular) memperlihatkan penipisan NFL,
berhubungan dengan sarabut saraf yang lebih sedekit pada daerah tersebut. Kontur
permukaan dan cupping yang normal dari diskus divisualisasikan pada seluruh
tomogram.11

Gambar 27. Menunjukkan gambar OCT potongan radial melalui diskus optik dan daerah
peripapil. Kontur diskus, termasuk cupping sangat jelas terlihat. 11

C. Tomogram daerah peripapil potongan Sirkular


Ketebalan NFL dan degenerasi peripapil sangat penting dalam diagnosis dan
pengobatan glaukoma dan penyakit neurodegeneratif lainnya. Cara yang sangat tepat
untuk menilai NFL pada daerah ini adalah dengan menggambar bagian bagian jaringan
dengan bentuk silinder mengelilingi diskus optik. Lapisan anterior dan posterior
memiliki kemampuan backscattering tinggi mewakili NFL dan koriokapilaris/RPE
secara berurutan. Kumpulan serabut saraf di inferotemporan dan superotemporal sangat
jelas terlihat di tomogram NFL dan retina, tampak sebagai daerah yang menebal, dan
bertambah difus pada saat jauh dari papil.8,11
Gambar 28. Tomogram OCT sirkular peripapil11

2.6.8 INTERPRETASI GAMBAR OCT SEGMEN POSTERIOR


Evaluasi tomogram OCT tergantung dari kemampuan pengamat untuk
mengidentifikasi perbedaan kemampuan struktur jaringan yang berbeda dalam memantulkan
cahaya. Pada beberapa kasus, disebabkan oleh resolusi aksial dari gambar OCT, perubahan
yang kecil pada morfologi pun mungkin menyulitkan bagi pengamat untuk menilai gambar
OCT yang dihasilkan, bila hal ini terjadi maka alat memproses foto secara otomatis yang
merupakan bagian dari OCT digunakan untuk memilihcara pengukuran kuantitatif yang tepat
untuk gambar OCT tersebut. 7,10
A. Ketebalan Retina
Ketebalan retina merupakan pertimbangan yang sangat penting untuk
menegakkan diagnosis banyak penyakit pada makula. Resolusi tinggi aksial pada OCT
dikombinasikan dengan adanya perbedaan kemampuan dari struktur anterior dengan
posterior retina dalam memantulkan cahaya. Ketebalan retina meningkat dengan adanya
udem. Akumulasi cairan intraretinal akan mengakibatkan peningkatan ketebalan retina dan
juga menyebabkan perubahan sifat backscattering dari jaringan yang terlibat. Lokasi yang
penting dalam menilai terjadinya perubahan pada ketebalan retina adalah pada fovea,
udem pada daerah ini akan menyebabkan gangguan yang bermakna pada visus. OCT juga
dapat digunakan untuk melihat adanya udem makula pada pasien retinopati diabetik atau
untuk screening pasien pasca bedah katarak terhadap kemungkinan mengalami cystoid
macular edema. Udem retina dibedakan dengan traksi pada retina dengan mengidentifikasi
terbentuknya ruang kistik atau celah pada retina yang mengindikasikan terjadinya cystoid
macular edema, atau dengan mengamati adanya hyaloid posterior atau membran epiretinal
yang kemungkinan menjadi penyebab terjadinya traksi retina. Penurunan ketebalan retina
disebabkan karena atrofi atau sikatriks yang lokasinya bisa fokal ataupun difus juga dapat
terlihat pada gambar OCT.1,10

Gambar 29. OCT tomogram pada pasien cystoid macular edema 10


BAB III
KESIMPULAN
OCT adalah investigasi noninvasif, cepat, dan dapat direproduksi yang telah merevolusi
pencitraan segmen posterior lesi. Korelasi masing-masing lapisan yang terlibat pada OCT
dengan histopatologi telah membawa kita lebih dekat ke diagnosis jaringan yang akurat
daripada sebelumnya. Berbagai kombinasi temuan tentang OCT dan perbandingan dengan
biomarker berbasis-OCT yang diketahui telah membuat identifikasi dan prognostikasi
penyakit menjadi lebih sederhana. Analisis gambar otomatis dari biomarker OCT diketahui
untuk AMD bertujuan menyederhanakan kuantifikasi biomarker ini, sehingga membantu
dalam penilaian data besar
DAFTAR PUSTAKA

1. Referano Agustiawan. 2011. Retina dari Pediatrik hingga Geriatrik, 3D OCT vs 2D OCT.
Jakarta Eye Center: Jakarta
2. Bouma E. Brett, Tearney J. Guillermo. 2002. Handbook of Optical Coherence
Tomography. Marcel Dekker: New York
3. Lumbaroso B, Rispoli M. 2009. Guide to Interpretation Spectral Domain Optical
Coherence Tomography. Innovation-News Communication: Dublin.
4. Arevalo J. Fernando, Krivoy D, Fernandez F.C. 2009. Retina angiografi and Optical
Coherence Tomography. Springer Science: New York
5. Pierro L, Bracanto R. 2010. Retinal and Vitreoretinal Diseases and Surgery in
Introduction to Optical Coherence Tomography. Jaypee - Highlights Medical Publishers:
Panama
6. Skuta L.Gregory. Cantor B.Louis. Weiss S.Jayne. 2011-2012. Retina and vitreus.
Diagnostic approach to retinal disease. Section 2, AAO: San Fransisco
7. Lihteh Wu, Evans Teodoros. 2010 Medical Retina Focus Retinal on imaging,.Springer-
Verlag Berlin Heidelberg: Berlin
8. MS Li Yan. 2006. Corneal Pachymetry Mapping with OCT. J Ophthalmology. 113:792-
799.
9. RH Michael. 2002. Theory of OCT. Hand book of Optical Coherence Tomography.
Massachusetts Institute of Technology: Cambridge
10. Steinert Roger. Huang David. 2008. Interpretation of Anterior Segment Optical
Coherence Tomography. Anterior Segment Optical Coherence. SLACK incorporate:
America
11. Irawan H, Penggunaan Optical Coherence Tomography Pada Glaukoma, Jurnal
Kedokteran Indonesia MEDIKA. 2014, no.9 edisi XI: 775-778

Anda mungkin juga menyukai