Anda di halaman 1dari 11

19

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Gagal nafas merupakan salah satu kondisi kritis yang diartikan sebagai

ketidakmampuan sistem pernafasan untuk mempertahankan homeostasis oksigen

dan karbondioksida. Fungsi jalan nafas terutama sebagai fungsi ventilasi dan

fungsi respirasi. Kasus gagal nafas akan terjadi kelainan fungsi obstruksi maupun

fungsi refriktif, akan tetapi dalam keilmuan keperawatan kritis yang menjadi

penilaian utama adalah defek pertukaran gas di dalam unit paru, antara lain

kelainan difusi dan kelainan ventilasi perfusi. Kedua kelainan ini umumnya

menimbulkan penurunan PaO2, peninggian PaCO2 dan penurunan pH yang dapat

menimbulkan komplikasi pada organ lainnya (Tabrani, 2008).

Secara teoritis tekanan oksigen di alveolus (PaO2) sama dengan tekanan

oksigen pada saat inspirasi (PiO2) dikurangi dengan tekanan CO2 dalam arteri

(PaCO2) dan dibagi dengan R (rasio pertukaran respirasi). Rentang nilai

standar PaO2 yaitu antara 80–100 mmHg sedangkan rentang nilai standar

PCO2 yaitu antara 35–45 mmHg. Kasus gagal nafas akan dijumpai tekanan

oksigen arteri kurang dari 50 mmHg (Hipoksemia) dan peningkatan tekanan

karbondioksida lebih besar dari 45 mmHg (Hiperkapnia). Umumnya penyakit ini

di tentukan oleh adanya kriteria PaO2< 60% mmHg, PaCO2> 50 mmHg, serta

Pengaruh Waktu Pengukuran..., KURNIAWAN DEDI FREDIANTO, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2016
20

adanya perubahan pada PH < 7,35 atau > 7,45. HCO3< 20, BE < -2,5 dan saturasi

osksigen < 90 % (Tabrani, 2008).

Tanda-tanda lain yang dapat ditemukan pada pasien yang mengalami

kegagalan pernafasan antara lain: Frekuensi pernafasan > 30 x/menit atau < 10

x/menit, nafas pendek/cepat dan dangkal/cuping hidung, menggunakan otot bantu

pernafasan, adanya wheezing, ronchi pada auskultasi. Batuk terdengar produktif

tetapi sekret sulit dikeluarkan, pengembangan dada tidak simetris, ekspirasi

memanjang, mudah capek, sesak nafas saat beraktifitas, takhikardi atau

bradikardi, tekanan darah dapat meningkat/menurun, pucat/dingin, sianosis pada

kedua ekstermitas (Yilldirim, 2010).

Kasus dengan gagal nafas harus dilakukan pemasangan endotracheal tube

(ETT). Intubasi endotrakeal merupakan "gold standard" untuk penanganan jalan

nafas. Prosedur ini dapat dilakukan pada sejumlah kasus pasien yang mengalami

penyumbatan jalan nafas, kehilangan reflek proteksi, menjaga paru-paru dari

sekret agar tidak terjadi aspirasi dan pada segala jenis gagal nafas (Nicholson and

O'Brien, 2007).

Intubasi endotracheal tube (ETT) dapat dilakukan melalui hidung ataupun

mulut. Masing-masing cara memberikan keuntungan tersendiri sebagai contoh

bahwa melalui hidung lebih baik dilakukan pada pasien yang masih sadar dan

kooperatif, sedangkan melalui mulut dilakukan pada pasien yang mengalami

koma, tidak kooperatif dan ketika kegawatan intubasi dibutuhkan pada pasien

yang mengalami cardic arrest (Nicholson and O'Brien, 2007).

Pengaruh Waktu Pengukuran..., KURNIAWAN DEDI FREDIANTO, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2016
21

Kebanyakan ETT untuk dewasa memiliki sistem inflasi cuff yang terdiri dari

valve, pilot balloon, inflating tube dan cuff. Valve mencegah udara keluar setelah

pengisian cuff. Pilot balloon menyediakan udara untuk pengisian cuff dan

berfungsi sebagai panduan. Inflating tube berfungsi untuk menghubungkan valve

dengan cuff dan menyatukan dengan dinding pipa. Dengan menutupi trakea, cuff

ETT memberikan tekanan positif dan dapat mengurangi aspirasi. ETT tanpa cuff

biasanya digunakan pada anak‐ anak untuk meminimalisasi resiko trauma akibat

tekanan dan batuk setelah intubasi (Seegobin dan Hasselt, 2007)

Ada dua tipe utama dari cuff ETT yaitu high pressure low volume dan low

pressure high volume. Cuff yang high pressure memiliki hubungan dengan

iskemik dan kerusakan mukosa trakea sehingga kurang cocok untuk intubasi yang

lama. Cuff low pressure kemungkinan dapat meningkatkan nyeri tenggorokan,

aspirasi, ekstubasi spontan, dan kesulitan insersi. Karena cuff low pressure kurang

menyebabkan kerusakan mukosa, maka cuff tipe ini lebih dianjurkan dalam

pemakaiannya. Tekanan cuff tergantung dari beberapa faktor antara laininflasi

volum, diameter cuff dan hubungannya dengan trakea, regangan cuff dan trakea

dan tekanan intra torakal. Pasien yang terpasang intubasi perlu perhatian khusus

dengan memantau tekanan cuff ETT yang terpasang. Penelitian yang dilakukan

oleh Seegobin dan Hasselt (2007) menganjurkan bahwa tekanan cuff harus diukur

dengan manometer dan bila perlu dikoreksi. Tekann cuff ETT diukur untuk

meminimalisasi trauma pada trakea.

Pengaruh Waktu Pengukuran..., KURNIAWAN DEDI FREDIANTO, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2016
22

Besarnya tekanan atau jumlah volume udara yang diisikan ke dalam cuff

endotracheal tube (ETT) dapat menggunakan alat khusus pengukur tekanan cuff.

Tekanan udara yang direkomendasikan yaitu sesuai dengan rentang normal antara

25-40 mmHg (Buyung, 2011). Tekanan ideal yang direkomedasikan pada

pengisian cuff endotracheal tube (ETT) adalah pada tekanan 30 mmHg (Yildirim,

2011).

Menurut Anonim (2008) pengukuran tekanan cuff endotracheal tube (ETT)

bila tidak dilakukan akan memunculkan masalah baru pada pasien yang terpasang

ventilator. Masalah yang dapat timbul antara lain malposisi cuff, trauma jalan

nafas, malfungsi cuff, VAP (Ventilator Associated Pneumonia) dan terlepasnya

selang endotracheal tube (ETT).

Penelitian dalam jurnal Medical Devices & Surgical Technology Week oleh

J.Y. Hu dan S.Q. Huang (2015) didapatkan hasil penelitian yaitu setelah induksi

anestesi umum dan intubasi endotrakeal, tekanan cuff meningkat ke 25 mmHg.

Pada 5, 15, 30, 45 dan 60 menit setelah intubasi endotrakeal, tekanan cuff dan

tekanan udara dicatat. Pasien yang menjalani laparotomi, tekanan cuff dan tekanan

udara puncak mengalami perubahan secara signifikan pada titik-titik waktu yang

berbeda setelah intubasi. Pasien yang menerima operasi laparoskopi, tekanan cuff

dan tekanan udara puncak secara signifikan meningkat dibandingkan tekanan awal

diperiksa titik waktu tersebut.

Penelitian yang dilakukan Minonishi (2012) meneliti perubahan posisi

operasi mempengaruhi tekanan cuff endotracheal tube (ETT). Sebelum operasi

Pengaruh Waktu Pengukuran..., KURNIAWAN DEDI FREDIANTO, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2016
23

pasien dipasang cuff endotracheal tube (ETT), kemudian dilakukan pengukuran

tekanan cuff ett dengan tekanan 31,7 mmHg. Setelah posisi berubah >10 mm

tekanan berubah menjadi 28,4 mmHg. Sehingga Ada korelasi yang signifikan

antara perubahan posisi atau gerakan terhadap perubahan tekanan cuff

endotracheal tube (ETT). Perubahan terjadi tergantung pada perubahan posisi

yang menjadikan tekanan cuff endotracheal tube (ETT) mengalami perubahan.

RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto merupakan Rumah Sakit

Propinsi dengan tingkat rujukan yang tinggi, mulai dari pasien trauma dan pasien

dengan berbagai kompikasi yang memerlukan perawatan intensif dengan beberapa

pasien yang menggunakan alat bantu pernafasan mekanik atau ventilator.

Perawat memiliki peranan penting dalam melakukan perawatan dan

melakukan pengukuran tekanan cuff endotracheal tube (ETT) terhadap pasien

dengan gagal nafas yang terpasang ventilator. Pemantauan pengukuran tekanan

cuff penting dilakukan agar tidak terjadi perubahan tekanan cuff endotracheal tube

(ETT) dan apabila terjadi perubahan dapat segera ditangani dengan baik oleh

perawat ICU (Intensive Care Unit) yang bertugas, berdasarkan latar belakang

diatas penelitian dengan judul “Pengaruh waktu pengukuran tekanan cuff

endotracheal tube (ETT) terhadap efektifitas waktu pengukuran pada pasien

dengan airway definitif di ICU RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto”

sangat perlu dilakukan.

Pengaruh Waktu Pengukuran..., KURNIAWAN DEDI FREDIANTO, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2016
24

B. Rumusan Masalah

Pengukuran tekanan cuff endotracheal tube (ETT) merupakan tindakan

keperawatan yang penting dilakukan pada pasien yang terpasang endotracheal

tube (ETT). Tindakan ini dilakukan untuk mencegah terjadinya penurunan tekanan

cuff pada pasien yang terpasang endotracheal tube (ETT). Pengukuran cuff secara

berkala akan mempermudah perawat dalam melakukan tindakan dengan segera

jika mengetahui tekanan cuff menurun.

Berdasarkan latar belakang di atas, maka masalah yang muncul dalam

penelitian ini adalah “Adakah pengaruh waktu pengukuran tekanan cuff

endotracheal tube (ETT) terhadap efektifitas waktu pengukuran pada pasien

dengan airway definitif di ICU RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto?”.

C. Tujuan Penelitian

1. Tujuan Umum

Tujuan umum penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh waktu

pengukuran tekanan cuff endotracheal tube (ETT) terhadap efektifitas waktu

pengukuran pada pasien dengan airway definitif di ICU RSUD Prof. Dr.

Margono Soekarjo Purwokerto.

2. Tujuan Khusus

Adapun tujuan khusus dari penelitian ini adalah untuk mengetahui:

a. Karakteristik responden yang terpasang ETT

b. Perbedaan antara jam pertama, kedua, ketiga dan keempat

Pengaruh Waktu Pengukuran..., KURNIAWAN DEDI FREDIANTO, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2016
25

c. Waktu yang efektif untuk pengukuran tekanan cuff pada pasien yang

dipasang endotracheal tube (ETT) di ICU RSUD Prof. Dr. Margono

Soekarjo.

D. Manfaat penelitian

1. Bagi Peneliti

Penelitian ini merupakan media penerapan ilmu pengetahuan

yang telah di dapatkan dalam teori. Menambah pengetahuan dan

pengalaman baru bagi peneliti khususnya pada penelitian pengaruh waktu

pengukuran tekanan cuff endotracheal tube (ETT) terhadap efektifitas

waktu pengukuran pada pasien dengan airway definitif.

2. Instansi Terkait (BidangKeperawatan)

Untuk pengembangan tindakan mandiri keperawatan, khususnya

perawat yang berkecimpung di bidang keperawatan kritis, hasil penelitian

ini diharapkan dapat diterapkan dalam pelaksanaaan tindakan perawat

sehari-hari di ruang ICU terhadap pasien dengan airway definitif yang

terpasang ventilator.

Pengaruh Waktu Pengukuran..., KURNIAWAN DEDI FREDIANTO, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2016
26

3. Bagi Ilmu Pengetahuan

Penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai penunjang dalam

referensi ilmu dan dapat menambah pustaka tentang pengaruh waktu

pengukuran tekanan cuff endotracheal tube (ETT) terhadap efektifitas

waktu pengukuran pada pasien dengan airway definitif.

E. Penelitian Terkait

Beberapa penelitian terkait dapat peneliti paparkan antara lain:

1. Penelitian yang dilakukan oleh Liu, et al. (2010) dengan judul “Corellation

between controlled endoracheal tube cuff pressure and post procedure

complication: A Multicenter study”. Hasil dari penelitian ini yaitu

didapatkan hasil menggunakan palpasi tampak injury pada mukosa trakea

dan nyeri tenggorok juga sangat tinggi di banding dengan menggunakan

alat ini menunjukan terdapat perbedaan bermakna ( P<0,05, P = 0.03 )

tekanan intra cuff menggunakan palpasi rata-rata 43±23,3 mmHg,

sedangkan menggunakan alat 20± 3,1 mmHg.

Persamaan dari penelitin di atas dengan yang dilakukan peneliti

dengan penelitian yaitu sama-sama meneliti tentang tekanan cuff

endotracheal tube (ETT).

Perbedaan dari penelitian di atas yaitu penelitian yang Liu lakukan

membandingkan pengisian cuff endotracheal tube (ETT) menggunakan

palpasi dan menggunakan alat. Sedangkan penelitian yang peneliti lakukan

Pengaruh Waktu Pengukuran..., KURNIAWAN DEDI FREDIANTO, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2016
27

yaitu mengukur waktu tekanan cuff endotracheal tube (ETT) dengan durasi

waktu per 1 jam.

2. Penelitian yang dilakukan oleh Sulistyono (2010) dengan judul “Kejadian

gejala tenggorok pascaintubasi endotrakea: perbandingan estimasi dan

pengukuran tekanan cuff menggunakan alat dengan tanpa alat di GBPT

RSUD dr. Soetomo Surabaya”. Hasil dari penelitian ini melaporkan bahwa

rata-rata tekanan udara yang diisikan menggunakan alat ke dalam cuff

adalah 29,20 ±1,15 mmHg, dimana pemberian tekanan terendah adalah 26

mmHg dan tertinggi 30 mmHg. Besarnya tekanan atau jumlah volume

udara yang diisikan ke dalam cuff pipa endotrakea dapat menggunakan alat

khusus pengukur tekanan cuff. Tekanan udara yang direkomendasikan

yaitu sesuai dengan rentang tertentu antara 25-40 mmHg. Dengan adanya

rentang tersebut, besar tekanan udara yang telah diberikan ke dalam cuff

tidaklah terlalu bervariasi, yaitu selama masih berada di dalam “rentang

aman”.

Persamaan dari penelitian yang dilakukan Sulistyono dengan

penelitian peneliti yaitu sama-sama meneliti takanan cuff endotracheal tube

(ETT).

Perbedaan penelitian di atas dengan penelitian yang akan dilakukan

oleh peneliti yaitu jika penelitian yang dilakukan Sulistyono hanya

mengukur tekanan cuff endotracheal tube (ETT) saja tidak ada waktu yang

tercatat untuk mengukur tekanan cuff endotracheal tube (ETT) dan

Pengaruh Waktu Pengukuran..., KURNIAWAN DEDI FREDIANTO, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2016
28

penelian yang akan dilakukan oleh peneliti yaitu meneliti waktu

pengukuran tekanan cuff endotracheal tube (ETT) yang efektif.

3. Penelitian yang dilakukan oleh News RX (2015) dengan judul “Pharyngeal

Diseases; Recent Findings from Fudan University Has Provided New

Information about Pharyngitis (The effect of endotracheal tube cuff

pressure change during gynecological laparoscopic surgery on

postoperative sore throat: a control study)”. Hasil penelitian ini yaitu

setelah induksi anestesi umum dan intubasi endotrakeal, tekanan cuff

berubah. Pada 5, 15, 30, 45 dan 60 menit setelah intubasi endotrakeal,

tekanan cuff dan tekanan udara dimenit 60 dapat dicatat terjadi perubahan

tekanan dari 30 mmHg menjadi 25 mmHg. Pada pasien yang menjalani

laparotomi, tekanan cuff dan tekanan udara puncak tidak berubah secara

signifikan pada titik-titik waktu yang berbeda setelah intubasi. Pada pasien

yang menerima operasi laparoskopi, tekanan cuff dan tekanan udara puncak

secara signifikan meningkat dibandingkan tekanan awal diperiksa titik

waktu tersebut.

Persamaan penelitian di atas yaitu sama-sama melakukan penelitian

mengukur tekanan cuff endotracheal tube (ETT). Perbedaan dari penelitian

di atas yaitu jika di penelitian yang dilakukan dijurnal Medical Devices &

Surgical Technology Week meneliti tekanan cuff endotracheal tube (ETT)

dan mengukur tekanan cuff endotracheal tube (ETT) pada menit ke 5, 15,

30, 45 dan 60, pada penelitian yang akan lakukan oleh peneliti yaitu

Pengaruh Waktu Pengukuran..., KURNIAWAN DEDI FREDIANTO, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2016
29

meneliti waktu pengukuran tekanan cuff endotracheal tube (ETT) per 1 jam

untuk mengetahui efektifitas waktu pengukuran.

4. Penelitian yang dilakukan oleh Gunawan et all (2015) dengan judul

“Perbandingan Ketepatan Pengukuran Tekanan Balon Pipa Endotrakeal

setelah Intubasi antara Metode Palpasi pada Pilot Balon dan Teknik

Melepas Spuit secara Pasif”. Tujuan penelitian ini adalah membandingkan

ketepatan pengukuran tekanan balon ETT antara metode palpasi pada pilot

balon (MP) dan teknik melepas spuit secara pasif (MSP). Hasil penelitian

didapatkan tekanan rata-rata pada kelompok MP 57,7±26,0 cmH2O dan

MSP 28,7±4,5 cmH2O, sedangkan untuk ketepatan pengukuran pada

kelompok MSP 56,5% dan kelompok MP 6,2% (p<0,001). Simpulan

penelitian ini menunjukkan bahwa metode palpasi merupakan teknik

pengukuran tekanan balon ETT yang tidak adekuat.

Persamaan penelitian di atas yaitu sama-sama melakukan penelitian

melakukan pengukuran tekanan cuff endotracheal tube (ETT). Perbedaan

dari penelitian di atas yaitu menggunakan metode palpasi dan teknik

melepas spuit secara pasif, pada penelitian yang akan lakukan oleh peneliti

yaitu meneliti waktu pengukuran tekanan cuff endotracheal tube (ETT) per

1 jam untuk mengetahui efektifitas waktu pengukuran.

Pengaruh Waktu Pengukuran..., KURNIAWAN DEDI FREDIANTO, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2016