Anda di halaman 1dari 9

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Konstipasi adalah suatu kondisi medis yang ditandai dengan kesulitan buang

air besar sebagai akibat dari feses yang mengeras.Konstipasi dapat diartikan

terhambatnya defekasi (buang air besar) dari kebiasaan normal. Menurut North

American Society for Pediatric Gastroenterology Hepatology and Nutrition (NAPSGAN) 2006,

menyebutkan konstipasi adalah kelambatan atau kesulitan dalam defekasi yang terjadi

dalam 2 minggu atau lebih dan cukup membuat pasien menderita. Petunjuk paktis

pada World Gastroenterology Organization (WGO) menjelaskan sebagian besar

pasien menyebutkan konstipasi sebagai defekasi keras (52%), tinja seperti pil atau

butir obat (44%), ketidakmampuan defekasi saat diinginkan (34%), atau defekasi yang

jarang (33%).

Konstipasi biasa terjadi pada anak 40% diantaranya diawali sejak anakberusia

1 - 4 tahun, pada anak usia 7 - 8 tahun angka kejadiannya menurun hingga sebesar 1,5

% dan usia 10 - 12 tahun menjadi sekitar 0,8 % saja. Frekuensi buang air besar pada

anak dialami setiap hari kedua dan ketiga, tanpa kesulitan. Anak-anak yang sering

makan makanan cepat saji seperti burger, kentang goreng, milkshake, permen, kue,

minuman ringan manis biasanya lebih sering konstipasi.. Pada bayi, konstipasi dapat

terjadi akibat transisi dari ASI ke susu formula bayi, atau dari makanan bayi ke

makanan padat (Kamm, 2003).

Van den Berg MM, dalam Yusri Dianne (2012), menyebutkan prevalensi

konstipasi 0,7% sampai 26,9%. Pada studi retrospektif oleh Loening-Baucke tahun

2005 didapatkan prevalensi konstipasi pada anak sampai usia 1 tahun mencapai 2,9%

1
2

dan meningkat pada tahun kedua, yaitu sekitar 10,1%. Sejumlah 97% kasus konstipasi

anakdisebabkan oleh konstipasi fungsional dengankejadian yang sama antara laki-laki

dan perempuan. Berdasarkan International Database US Census Bureaupada tahun

2003 prevalensi konstipasi di Indonesia sebesar 3.857.327 jiwa. Angka kejadian

konstipasi di dunia maupun di indonesia cukup tinggi, sekitar 12% dari populasi

penduduk di seluruh dunia mengalami konstipasi. Angka kejadian konstipasi di eropa

bervariasi antara 3%-20%.(Wiki, 2007).

Data Dinas Kesehatan Pemerintahan Aceh menurut data Sistim Pencatatan

Dan Pelaporan Terpadu Puskesmas (SP2TP) dalam tahun 2012 terdapat 21.654

kasus anak sakit, 13.234 kasus dengan keluhan konstipasi, sedangkan data dari

Dinas Kesehatan Kabupaten Pidie tahun 2012 jumlah kasus dengan keluhan

konstipasi sebanyak 691 kasus konstipasi pada anak (Data SP2TP Dinkes Kab

Pidie, 2012).

Penyebab konstipasi pada anak dapat dibagi menjadi organik dan fungsional.

Hampir 95% konstipasi pada anak disebabkan kelainan fungsional dan hanya 5%

oleh kelainan organic. Konstipasi fungsional pada umumnya terkait dengan

kurangnya asupan serat, kurangnya minum, kurang aktivitas isik, stress dan

perubahan aktivitas rutin, ketersediaan toilet dan masalah psikososial. Sebagian besar

(90%-95%) konstipasi pada anak merupakan konstipasi fungsional, hanya 5%-10%

yang mempunyai penyebab organik. Pada 137 anak India (tahun 2001-2006), 85%

konstipasi disebabkan oleh fungsional dan 15% disebabkan oleh kelainan organik.

Jumlah penderita konstipasi di Amerika berkisar antara 2%-15%, hampir sekitar

3%dari anak yang datang ke klinik dokter dan lebih dari 25% dirujuk ke ahli

gastroenterologi anak karena konstipasi yang disebabkan oleh kurang latihan dan

stress (Norma, 2010; Dianne, 2012).


3

Penelitian yang dilakukan Yorva Sayoeti, (2012) berdasarkan hasil

dimasyarakat sekitar 2-30% masih banyak ditemukan konstipasi khususnya pada

anak-anak. Konstipasi pada anak dapat menghawatirkan bagi seorang ibu. Pada

kondisi ini apabila tidak dapat penanganan yang tepat makan akan mengakibatkan

masalah serius pada kesehatan anak. Nyeri perut atau rektum, nyeri saat defekasi,

muntah, penurunan nafsu makan, dan enkoporesis merupakan komplikasi primer

konstipasi pada anak. Eneuresis dilaporkan terjadi pada lebih dari 40% anak dengan

enkopresis. Pada beberapa kasus, eneuresis menghilang bila massa tinja dievakuasi

sehingga memungkinkan kandung kemih mengembang. Komplikasi urologis penting

lainnya adalah dilatasi kolon distal, sehingga berperan dalam meningkatkan frekuensi

infeksi saluran kemih, obstruksi ureter kiri, dan hipertensi arterial (Darmawan, 2008).

Penanganan konstipasi pada anak yang terjadi di masyarakat sangat bervariasi

mulai dari penanganan secara farmakologi dan non-farmakologi. Cara penanganan

non-farmakologi dapat dilakukan dengan cara peningkatan konsumsi makanan yang

mengandung serat dan terapi perilaku seperti “biofeedback” (Kamm, 2003). Selain itu

juga dapat dengan memberikan pendidikan kepada anak untuk melakukan BAB

secara rutin dan tidak menahan BAB (Bharucha, 2007). Cara penanganan

farmakologi dengan melakukan terapi obat-obatan.

Pengetahuan ibu tentang cara merawat anak dan pengetahuan ibu tentang

suatu penyakit yang sering menyerang bayi dan anak sangat dibutuhkan untuk

menghindari terjadinya penyakit pada anak, pemahaman tentang tanda dan gejala

suatu penyakit akan memberikan pengaruh untuk secepatnya penatalaksanaan dan

penanganan penyakit tersebut, pengetahuan tentang penyebab akan memberikan

perlindungan kepada anak dan pengetahuan tentang penatalaksanaan atau


4

penanganan awal akan menghindari semakin parahnya panyakit yang diderita anak

(Muth, 2012).

Pengetahuan merupakan salah satu komponen faktor predisposisi yang

penting. Peningkatan pengetahuan tidak selalu menyebabkan terjadinya perubahan

perilaku tetapi mempunyai hubungan yang positif, yakni dengan peningkatan

pengetahuan maka terjadinya perubahan perilaku akan cepat. Penerimaan perilaku

baru atau adopsi perilaku melalui proses seperti (Awareness, Interest, Evaluation, Trial,

Adoption) didasari oleh pengetahuan dan kesadaran, maka perilaku tersebut akan

bersifat langgeng (long lasting) (Notoatmodjo, 2007).

Kemampuan penanganan konstipasi yang optimal diperlukan pengetahuan

dan perilaku ibu terhadap penanganan konstipasi, seperti meningkatkan konsumsi

makanan mengandung serat dan memberikan pendidikan kepada anak untuk

melakukan BAB secara rutin dan tidak menahan BAB. Sejauh ini perilaku keluarga

dalam upaya pencegahan dan penanganan konstipasi belum dapat di laksanakan

secara optimal. Menurut Soetjiningsih (1998, dalam Lestari2011), menjelaskan bahwa

keluarga mempunyai peranan yang sangat penting dalam perkembangan fisik dan

mental anak karena dengan orang tua anak pertama kali berinteraksi.

Hasil studi pendahuluan yang telah dilakukan di lingkungan RW 3 sumbersari

sudah terdapat tim kader posyandu dan sudah dilakukan penyuluhan tentang

konstipasi yang sudah lama terbentuk. Secara keseluruhan program posyandu ini

sudah berjalan cukup baik. Masalah yang perlu diperhatikan yaitu, masih banyak

ditemukan anak dengan keluhan susah makan dan konstipasi, baik laki-laki maupun

perempuan, namun dari hasil wawancara ibu mengetahui tentang penyebab

konstipasi, gejala dan penanganan konstipasi, tetapi dalam perilaku penanganan


5

orangtua atau ibu masih kurang baik karena anak mempunyai kebiasaan yang tidak

menyukai makanan berserat seperti buah dan sayuran.

Perilaku orangtua atau ibu kurang baik karena pada saat anak mengeluh susah

buang air besar orangtua biasanya membeli lasegar di warung dan diberikan air

minum yang banyak, serta mengkonsumsi buah dan sayuran. Perilaku penanganan

yang diberikan ibu dengan memberikan anak lasegar tidak tepat pada anak yang

mengalami konstipasi, dapat diketahui manfaat dari lasegar sebagai pengobatan panas

dalam bukan sebagai pengobatan dari konstipasi atau sembelit. Pemberian makanan

berserat seperti buah dan sayuran juga tidak diberikan secara rutin setiap hari oleh

ibu, dikarenakan anak lebih menyukai makanan cepat saji dari pada buah dan sayuran.

Peran tenaga medis atau perawat disini sebagai pendidik, perawat

memberikan pendidikan kesehatan dan pengetahuan kepada orangtua tentang

bagaimana orangtua mengajarkan dan membantu anak dalam proses pembelajaran

mengenai kemampuan penanganan konstipasi. Berdasarkan hal diatas dan mengingat

pentingnya peran perawat sebagai pendidik, maka peneliti tertarik untuk melakukan

penelitian mengenai hubungan hubungan pengetahuan ibu tentang konstipasi dengan

perilaku penanganan konstipasi pada anak usia 1-3 tahun untuk tercapainya

pengetahuan dan perilaku kepada ibu atau orang tua terhadap penanganan konstipasi

yang optimal.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian dalam latar belakang diatas maka dirumusakan

permasalahan penelitian, Adakah hubungan antara pengetahuan ibu tentang

konstipasi dengan perilaku penanganan konstipasi pada anak usia 1-3 tahun diwilayah

Sumbersari?
6

1.3 Tujuan Penelitian

1.3.1 Tujuan Umum

Membuktikan hubungan antara tingkat pengetahuan ibu tentang konstipasi

dengan perilaku penanganan konstipasi pada anak.

1.3.2 Tujuan Khusus

1. Mendeskripsikan gambaran pengetahuan ibu tentang konstipasi pada anak di

wilayah sumbersari.

2 Mendeskripsikan gambaran perilaku penanganan yang dilakukan ibu terhadap

anak yang menderita konstipasi di wilayah Sumbersari.

3 Menganalisis hubungan antara pengetahuan ibu tentang konstipasi dengan

perilaku penanganan pada anak di wilayah Sumbersari.

1.4 Manfaat Penelitian

1.4.1 Bagi Tenaga Keperawatan

Dapat digunakan sebagai informasi untuk melakukan intervensi dalam

mengatasi anak yang mengalami konstipasi.

1.4.2 Bagi Masyarakat

Sebagai sarana pembelajaran untuk menambah wawasan pengetahuan

sehingga dapat merubah perilaku sebelumnya dalam pencegahan dan penanganan

konstipasi.

1.4.3 Bagi Peneliti

Sebagai pengalaman proses belajar mengajar khususnya dalam melakukan

penelitian mengenai hubungan pengetahuan ibu tentang konstipasi dengan perilaku

penanganan pada anak.


7

1.4.4 Institusi Terkait

Sebagai sumbangan referensi mengenai pembahsan hubungan pengetahuan

ibu tentang konstipasi dengan perilaku penanganan konstipasi pada anak.

1.5 Keaslian Penelitian

Penelitian terkait yang pernah dilakukan sebelumnya oleh peneliti lain yaitu :

1. Juffrie, M, (2001) meneliti tentang faktor resiko pada anak, menggunakan

rancangan penelitian blat kuesioner yang diisi oleh peneliti dan dibantu petugas

dengan cara wawancara secara langsung kepada orangtua. Selama penelitian

didapatkan 86 anak yang terdiri dari 43 anak dengan konstipasi dan 43 anak tanpa

gejala konstipasi yang dipakai sebagai control. Nyeri perut, nyeri saat defekasi,

muntah, penurunan nafsu makan, enkopresis merupakan gejala konstipasi yang

secara bermakna terdapat perbedaan (p 0,01 I. Adanya gangguan toilet training,

jumlah cairan yang masuk per hari, menu sehari-hari seperti sayur, buah (pisang,

jeruk. Makanan/minuman yang manis, terdapat perbedaan bermakna (p 0,01)

dibandingkan control. Resiko relative terjadinya konstipasi pada anak yang

disebabkan adanya gangguan toilet traning, RR: 0,14 IK 0,06 – 0,381. Toilet

training, jumlah cairan yang masuk per hari, menu sehari-hari dengan sayur, buah,

makanan/minuman yang manis merupakan faktor resiko terjadinya konstipasi

pada anak.

2. Wahyu Damayanti, Pradini, Zamrina, M. Juffrie (2009) perbandingan tatalaksana

konstipasi kronis antara disimpaksi per oral dengan per raktal di instalasi kesehtan

anak RS DR Sardjito Yogyakarta, menggunakan rancangan penelitian uji klinis

acak terkendali, pengambilan sampel 20 responden yaitu, anak konstipasi

fungsional yang berobat jalan dan dirawat di Instalasi Kesehatan Anak RS Dr.
8

Sardjito Yogyakarta dan memenuhi kriteria inklusi dan kriteria eksklusi, usia antara

<6 bulan – 14 tahun. Hasil penelitian adalah konsistensi keras terbanyak

ditemukan pada anak usia lebih dari 4 tahun, angka kesembuhan pada kelompok

terapi per oral lebih sedikit dibanding per rektal, kelompok terapi per oral

memiliki angka kesembuhan lebih sedikit dari kelompok terapi per rektal dengan

p=0,162, penerimaan terhadap obat yang diberikan pada anak p=1,000, pada

orang tua p=0,317.

Perbedaan antara penelitian diatas dengan penelitian yang saya lakukan adalah

variabel yang digunakan, tempat dan waktu penelitian.Variabel yang saya gunakan

dalam penelitian ini adalah hubungan pengetahuan ibu tentang konstipasi sebagai

variabel independent dan perilaku pertolongan pertama sebagai variabel

dependent.Tempat dan waktu yang saya gunakan adalah di wilayah Sumber

Sari.Metode pengaambilan sampel pada penelitian ini menggunakan purposive

samplingyaitu sampel yang digunakan sesuai dengan keinginan peneliti dan

memenuhi kriteria inklusi. Penelitian ini menggunakan metode case control yang

bersifat retrospektif.

1.6 Batasan Penelitian

Dalam penelitian ini, peneliti memberi batasan pada

1. Pengetahuan ibu tentang konstipasi pada anak

Pengetahuan terhadap konstipasi adalah suatu kognitif yang dimiliki orangtua

atau ibu tidak hanya pada tahap mengetahui tentang konstipasi tetapi lebih lanjut

dapat menjelaskan, menginterpretasi, dan meramalkan secara benar tentang aspek

konstipasi apa saja penyebabnya, gejala-gejala, cara pengobatan, dan cara

pencegahan (Anurmalasari, 2010).


9

2. Perilaku penanganan yang diberikan pada anak dengan konstipasi.

Penanganan konstipasi pada anak merupakan salah satu bentuk perilaku

pemulihan kesehatan terhadap anak yang mengalami konstipasi. Penanganan

cyang dilakukan secara non-farmakologi dan farmakologi (Kamm,2005).