Anda di halaman 1dari 15

BAB III

IDENTIFIKASI MASALAH

3.1 Identifikasi Permasalahan pada Unit Penelitian

Pelabuhan laut dan udara merupakan pintu gerbang lalu lintas barang,

orang dan alat angkut, baik dari dalam negeri maupun luar negeri. Kantor

Kesehatan Pelabuhan (KKP) mempunyai tanggung jawab untuk melakukan

pengawasan dan pengendalian vektor di pelabuhan. Daerah-daerah yang harus

bebas dari infensi nyamuk Aedes aegypti adalah:

1) Bandar Udara

Daerah di dalam lingkungan perimeter pelabuhan udara yaitu

daerah pelabuhan di dalam suatu lingkungan dimana terdapat bangunan-

bangunan untuk kegiatan penerbangan (gedung-gedung terminal dan

transit, hangar, serta gudang) dan tempat-tempat parker pesawat terbang.

2) Pelabuhan Laut

Tempat-tempat kapal berlabuh dan sekitarnya dimana bangunan-

bangunan untuk kegiatan kepelabuhan. Untuk mempertahankan agar

daerah di dalam perimeter bebas Aedes aegypti, perlu diadakan usaha-

usaha pengendalian secara aktif di daerah perimeter dan di daerah buffer

(protective area) sejauh sekurang-kurangnya 400 meter. Di daerah buffer,

indeks Aedes aegypti (House Indeks) harus dipertahankan hingga kurang

dari 1%.
POHON MASALAH

(Pernyataan Negatif)

Tingginya Kasus DBD di Buffer Area


Pelabuhan Tanjung Emas Semarang
4 4
AKIBAT

Tingginya House Indeks (HI) Nyamuk Aedes aegypti di Buffer Area


Pelabuhan Tanjung Emas Semarang 1

SEBAB

a b c

Kurangnya
a Kurangnyab Rendahnyac
Pengetahuan, Partisipasi Kondisi Sanitasi
Sikap dan Perilaku Masyarakat dalam Lingkungan di
Masyarakat Melaksanakan Buffer Area
Terhadap Kegiatan Pelabuhan Tanjung 2
Pemberantasan Pemberantasan Emas Semarang
Sarang Nyamuk Sarang Nyamuk
2
Demam Berdarah Demam Berdarah
Dengue (PSN Dengue (PSN DBD)
DBD)
a b c

Kurangnya Kurangnya Kurangnya


Penyuluhan dan Pengawasan Kerjasama Lintas
Sosialisasi tentang Vektor Nyamuk Sektoral Dalam
Penyakit Demam Aedes aegypti di Pengawasan 3
Buffer Area
Berdarah Dengue Vektor Nyamuk
Pelabuhan
(DDB) dan Cara Tanjung Emas Aedes aegypti di
Pencegahannya Semarang Buffer Area
Pelabuhan
Tanjung Emas
Semarang
Keterangan:

 Masalah yang dihadapi adalah No. 1

 Penyebab masalah No. 1 adalah masalah No. 2b

 Penyebab masalah No. 2b adalah masalah No. 3c

 Akibat masalah No. 1 adalah masalah No. 4

3.2 Penentuan Prioritas Masalah

Berdasarkan bagan pohon masalah dapat dilihat adanya tiga penyebab

masalah pokok yaitu:

a. Kurangnya Pengetahuan, Sikap dan Perilaku Masyarakat Terhadap

Pemberantasan Sarang Nyamuk Demam Berdarah Dengue (PSN DBD)

b. Kurangnya Partisipasi Masyarakat dalam Melaksanakan Kegiatan

Pemberantasan Sarang Nyamuk Demam Berdarah Dengue (PSN DBD)

c. Rendahnya Kondisi Sanitasi Lingkungan di Buffer Area Pelabuhan

Tanjung Emas Semarang

Banyaknya masalah kesehatan tersebut, belum tentu semua masalah sama

pentingnya. Oleh karena itu, perlu dilakukan proses penentuan urutan prioritas

terhadap masalah-masalah kesehatan. Metode yang digunakan untuk

menentukan prioritas masalah di buffer area Kantor Kesehatan Pelabuhan

Kelas II Semarang yaitu metode Hanlon Kuantitatif. Metode Hanlon

Kuantitatif merupakan salah satu cara mendapatkan urutan prioritas masalah

dengan memperhatikan 4 kelompok kriteria yang terdiri dari:


1. Kelompok kriteria A

Yaitu berisi besarnya masalah artinya penetapan besarnya masalah

kesehatan diukur dari besarnya penduduk yang terkena efek secara

langsung (insidensi dan prevalensi). Pemberian skor diberikan antara 1

sampai dengan 5 dari yang terkecil sampai yang terbesar.

5= sangat kuat

4= kuat

3= cukup kuat

2= kurang kuat

1= sangat kurang kuat

2. Kelompok kroteria B

Menurut tingkat kegawatan masalah, yaitu perhitungan tingginya

angka kesakitan dan kematian serta kecenderungan dari waktu ke

waktu. Pemberian skor diberikan 1 sampai 5 dari yang terkecil sampai

yang terbesar.

5= sangat gawat

4= gawat

3= cukup gawat

2= kurang gawat

1= sangat kurang gawat

3. Kelompok kriteria C

Menurut kemudahan pengulangan masalah, yaitu penetapan

kemudahan dalam penanggulangan dengan memperhatikan


perbandingan atau perkiraan hasil/manfaat dengan sumber daya yang

ada (5M: man, material, method, money, dan machine). Pemberian

skor diberikan antara 1 sampai dengan 5 dari yang terkecil sampai

yang terbesar.

5= sangat mudah

4= mudah

3= cukup mudah

2= kurang mudah

1= sangat kurang mudah

4. Kelompok kriteria D

PEARL Factor yaitu berbagai pertimbangan yang harus dipikirkan

dalam kemungkinan pelaksanaannya. Skor yang digunakan adalah 0

untuk “Tidak” dan 1 untuk “Ya” (kriteria yang dilaksanakan masing-

masing faktor). PEARL Factor terdiri dari:

P (Proportional), yaitu kesesuaian masalah dengan prioritas kebijakan

program pemerintah atau kegiatan instansi yang terkait.

E (Ekonomic Feasbility), yaitu kelayakan dari segi pembiayaan, dalam

hal ini ada tidaknya biaya yang tersedia.

A (Accetability), yaitu situasi penerimaan masyarakat dan instansi

terkait atau kesesuaian dengan tata nilai yang ada di lingkungan.

R (Resources Avaibility), yaitu ketersediaan sumber daya untuk

memecahkan masalah, meliputi tenaga, sarana dan prasarana, peralatan

dan waktu.
L (Legality), yaitu dukungan aspek hukum dan perundangan yang

berlaku dan terkait atau kesesuaian dengan berbagai peraturan dan

kebijakan yang telah ditetapkan .

Setelah berbagai kriteria tersebut diisi dan diberikan skoring, maka

langkah berikutnya adalah menghitung nilai NPD dan NPT-nya dengan

rumus sebagai berikut :

Nilai Prioritas Dasar (NPD) = (A+B)xC,

Nilai Prioritas Total (NPT) = (A+B)xCxD.

Prioritas utama adalah alternatif permasalahan yang memiliki nilai NPT

tertinggi.

Dari identifikasi masalah di atas dapat dilihat hasil perhitungan dengan

menggunakan metode Hanlon Kuantitatif sebagai berikut:

Tabel 3.1 Penentuan Prioritas Masalah Berdasarkan Metode Hanlon

Kuantitatif

Inventarisasi Skor
Skor D (PEARL) Prio-
No Masalah Kriteria NPD NPT
ritas
Kesehatan A B C P E A R L

1. Kurangnya 4 3 3 1 1 1 1 1 21 21 III
Pengetahuan,
Sikap dan
Perilaku
Masyarakat
Terhadap
Pemberantasan
Sarang Nyamuk
Demam
Berdarah
Dengue (PSN
DBD)

2. Kurangnya 5 4 3 1 1 1 1 1 27 27 I
Partisipasi
Masyarakat
dalam
Melaksanakan
Kegiatan
Pemberanta-
san Sarang
Nyamuk
Demam
Berdarah
Dengue (PSN
DBD)

3. Rendahnya 5 3 3 1 1 1 1 1 24 24 II
Kondisi
Sanitasi
Lingkungan di
Buffer Area
Pelabuhan
Tanjung Emas
Semarang
Pada tabel di atas terlihat jelas bahwa prioritas masalah di Kantor

Kesehatan Pelabuhan Kelas II Semarang, yaitu Kurangnya partisipasi masyarakat

dalam melaksanakan Kegiatan Pemberantasan Sarang Nyamuk Demam Berdarah

Dengue (PSN DBD). Yang kedua yaitu Rendahnya Kondisi Sanitasi Lingkungan

di Buffer Area Pelabuhan Tanjung Emas Semarang. Yang ketiga yaitu Kurangnya

Pengetahuan, Sikap dan Perilaku Masyarakat Terhadap Pemberantasan Sarang

Nyamuk Demam Berdarah Dengue (PSN DBD).

3.3 Pembahasan Prioritas Masalah

3.3.1 Kurangnya Partisipasi Masyarakat dalam Melaksanakan Kegiatan

Pemberantasan Sarang Nyamuk Demam Berdarah Dengue (PSN DBD)

Pengelolaan lingkungan meliputi berbagai kegiatan untuk

mengkondisikan lingkungan menyangkut upaya pencegahan dengan

mengurangi perkembang biakan vektor sehingga mengurangi kontak antar

vektor dengan manusia. Metode pengelolaan lingkungan mengendalikan

Aedes aegypti dan Aedes albopictus serta mengurangi kontak vektor

dengan manusia adalah dengan melakukan Pemberantasan Sarang

Nyamuk Demam Berdarah Dengue (PSN DBD).

PSN DBD adalah kegiatan memberantas telur, jentik dan

kepompong nyamuk penular DBD (Aedes aegypti) di tempat-tempat

perkembangbiakannya baik dilakukan secara fisik, kimia maupun biologi.

Cara yang dianggap paling tepat untuk memberantas vektor (nyamuk

Aedes aegypti) adalah dengan PSN DBD. Apabila kegiatan PSN DBD
dilakukan oleh seluruh masyarakat secara terus-menerus dan

berkesinambungan maka keberadaan jentik Aedes aegypti dapat dibasmi,

sehingga resiko penularan DBD dapat dikurangi. Namun PSN DBD

masyarakat yang rendah akan menyebabkan meningkatnya angka

kepadatan jentik sehingga risiko penularan DBD meningkat.

Pemberantasan terhadap jentik nyamuk Aedes aegypti yang dikenal

dengan istilah Pemberantasan Sarang Nyamuk Demam Berdarah Dengue

(PSN DBD) dilakukan dengan cara:

a. Fisik: cara ini dikenal dengan kegiatan 3-M yaitu menguras (dan

menyikat) bak mandi, bak wc, dan lain-lain. Menutup tempat

penampungan air rumah tangga (tempayan, drum, dan lain-lain).

Mengubur, menyingkirkan atau memusnahkan barang-barang bekas

(seperti kaleng, ban, dan lain-lain).

b. Kimia: cara memberantas jentik Aedes aegypti dengan menggunakan

insektisida pembasmi jentik (larvasida) ini antara lain dikenal dengan

istilah larvasidasi. Larvasida yang biasa digunakan adalah granules

(sand granules). Dosis yang digunakan 10 gram (± 1 sendok makan

rata) untuk tiap 100 liter air. Larvasidasi dengan temephos ini

mempunyai efek residu 3 bulan.

c. Biologi: cara ini dengan memelihara ikan pemakan jentik (ikan kepala

timah, ikan gupi, ikan cupang dan lain-lain). Dapat juga dengan

menggunakan Bacillus thuringiensis H-14.


3.3.2 Rendahnya Kondisi Sanitasi Lingkungan di Buffer Area Pelabuhan

Tanjung Emas Semarang.

Kepadatan dan mobilitas penduduk dapat menyebabkan suatu

daerah menjadi lingkungan kumuh yang berdampak pada sanitasi

kesehatan dalam keluarga menjadi buruk. Hal ini merupakan faktor

pendukung penyebaran vektor nyamuk Aedes aegypti.

3.3.3 Kurangnya Pengetahuan, Sikap dan Perilaku Masyarakat Terhadap

Pemberantasan Sarang Nyamuk Demam Berdarah Dengue (PSN DBD).

Pengetahuan merupakan faktor penting yang mempengaruhi sikap

dan perilaku sesorang. Kurangnya pengetahuan dapat berpengaruh pada

tindakan yang dilakukan karena pengetahuan merupakan salah satu faktor

predisposisi untuk terjadinya perilaku. Oleh karena itu untuk mendidik

masyarakat agar mempunyai perilaku yang baik, warga perlu diberikan

pengetahuan (Sahela Sungkar, 2010). Pengetahuan yang diberikan adalah

mengenai Penyakit Demam Berdarah Dengue (DDB) dan cara

pencegahannnya yaitu melalui Pemberantasan Sarang Nyamuk Demam

Berdarah Dengue (PSN DBD). Dengan pengetahuan tersebut diharapkan

warga dapat memahami PSN DBD sehingga dapat melakukan pencegahan

DBD dengan benar.

Sikap adalah suatu pola perilaku atau tendensi atau kesiapan

antisipatif, predisposisi untuk menyesuaikan diri dalam situasi sosial.

Semakin kurang baik sikap seseorang atau masyarakat terhadap


penanggulangan dan pencegahan penyakit DBD maka akan semakin besar

kemungkinan risiko penyakit DBD.

Kurangnya perhatian sebagian masyarakat terhadap kebersihan

lingkungan tempat tinggal, sehingga terjadi genangan air yang

menyebabkan berkembangnya nyamuk. Kurang baik perilaku

masyarakat terhadap PSN (mengubur, menutup penampungan air),

urbanisasi yang cepat, transportasi yang makin baik, mobilitas manusia

antar daerah, kurangnya kesadaran masyarakat akan kebersihan

lingkungan, dan kebiasaan berada di dalam rumah pada waktu siang

hari akan memberbesar risiko penyebaran vektor nyamuk Aedes aegypti.

3.4 Analisis Penyebab Masalah

Dalam menganalisis penyebab suatu masalah yang harus dilakukan adalah

mencari masalah yang bersifat spesifik. Kemudian dikaji lagi terhadap akibat

yang akan ditimbulkan karena pada prinsipnya bahwa analisis merupakan

langkah pemecahan masalah dengan mencari sebab akibat.

Dari tabel 3.1 telah diketahui masalah pokoknya adalah Kurangnya

Partisipasi Dari Masyarakat dalam Melaksanakan Kegiatan Pemberantasan

Sarang Nyamuk Demam Berdarah Dengue (PSN DBD). Selanjutnya

dilakukan pemilihan masalah spesifik berdasarkan Metode Hanlon Kuantitatif.


Tabel 3.2 Pemilihan Masalah Spesifik Berdasarkan

Metode Hanlon Kuantitatif

Inventarisasi Skor
Skor D (PEARL) Prio-
No Masalah Kriteria NPD NPT
ritas
Kesehatan A B C P E A R L

1. Kurangnya 5 3 4 1 1 1 1 1 32 32 II
Penyuluhan dan
Sosialisasi
tentang Penyakit
Demam
Berdarah
Dengue (DDB)
dan Cara
Pencegahannya

2. Kurangnya 5 4 4 1 1 1 1 1 36 36 I
pengawasan
vektor nyamuk
Aedes aegypti
di buffer area
Pelabuhan
Tanjung Emas
Semarang

3. Kurangnya 4 3 4 1 1 1 1 1 24 24 III
Kerjasama
Lintas Sektoral
Dalam
Pengawasan
Vektor Nyamuk
Aedes aegypti
di buffer area
Pelabuhan
Tanjung Emas
Semarang

Pada tabel di atas terlihat jelas bahwa yang menjadi pokok masalah atas

masalah utama di Kantor Kesehatan Pelabuhan Kelas II Semarang untuk

selanjutnya segera ditangani dan dicari alternatif pemecahan masalahnya, yaitu

Kurangnya pengawasan vektor nyamuk Aedes aegypti di buffer area Pelabuhan

Tanjung Emas Semarang. Yang kedua yaitu kurangnya penyuluhan dan sosialisasi

tentang Penyakit Demam Berdarah Dengue (DDB) dan cara pencegahannya.

Yang ketiga yaitu Kurangnya Kerjasama Lintas Sektoral Dalam Pengawasan

Vektor Nyamuk Aedes aegypti di buffer area Pelabuhan Tanjung Emas

Semarang.
POHON SASARAN

(Pernyataan Positif)

Menurunnya Kasus DBD di Buffer Area


Pelabuhan Tanjung Emas Semarang
4 4
AKIBAT

Tercapainya House Indeks (HI) Nyamuk Aedes aegypti <1% di Buffer


Area Pelabuhan Tanjung Emas Semarang 1

SEBAB

a b c

Meningkatnya
a Terwujudnya
b Terwujudnya
c
Pengetahuan, Sikap Partisipasi Dari Kondisi Sanitasi
dan Perilaku Masyarakat dalam Lingkungan
Masyarakat Melaksanakan yang Baik di
Terhadap Kegiatan Buffer Area 2
Pemberantasan Pemberantasan Pelabuhan
Sarang Nyamuk Sarang Nyamuk Tanjung Emas
2
Demam Berdarah Demam Berdarah Semarang
Dengue (PSN DBD) Dengue (PSN DBD)

a b c

Terwujudnya Terwujudnya Terwujudnya


Pelaksanaan Pengawasan Kerjasama Lintas
Penyuluhan dan Vektor Nyamuk Sektoral Dalam
Sosialisasi tentang Aedes aegypti di Pengawasan 3
Buffer Area
Penyakit Demam Vektor Nyamuk
Pelabuhan
Berdarah Dengue Tanjung Emas Aedes aegypti di
(DDB) dan Cara Semarang Buffer Area
Pencegahannya Pelabuhan
Tanjung Emas
Semarang
Dari analisis tersebut di atas dapat ditentukan sasaran-sasaran

sebagai berikut:

1. Terwujudnya Pelaksanaan Penyuluhan dan Sosialisasi tentang

Penyakit Demam Berdarah Dengue (DDB) dan Cara Pencegahannya

2. Terwujudnya Pengawasan Vektor Nyamuk Aedes aegypti di Buffer

Area Pelabuhan Tanjung Emas Semarang

3. Terwujudnya Kerjasama Lintas Sektoral Dalam Pengawasan Vektor


Nyamuk Aedes aegypti di buffer area Pelabuhan Tanjung Emas
Semarang