Anda di halaman 1dari 3

Laporan Tugas Mandiri : Observasi Lapangan

oleh Bernardus Nathanael A. H., 1606889446


Mata Kuliah : Acuan Perilaku Ekonomi dan Bisnis

Untuk memenuhi tugas mata kuliah Acuan Perilaku Ekonomi dan Bisnis, saya memilih
Pak Budi sebagai subjek yang akan saya wawancara dan melakukan observasi. Pak Budi
merupakan seorang pemilik warung makan yang terletak tidak jauh dari rumah indekos saya.
Nama warung makan yang dimiliki oleh Pak Budi adalah Warung Makan Poci.

Sebenarnya saya sudah sering mampir ke Warung Makan Poci untuk sekadar mengisi
perut di saat lapar. Tidak banyak informasi yang saya ketahui di sana karena selama ini tidak
banyak saya lakukan interaksi dengan pemilik warung makan maupun pembeli yang biasanya
makan di warung makan tersebut. Yang saya tahu, Warung Makan Poci dimiliki oleh pasangan
suami istri Pak Budi dan Bu Tati. Warung makan ini sudah berdiri cukup lama, tepatnya dari
tahun 2006, yang artinya sudah berdiri 13 tahun. Warung makan ini biasanya dijaga bergantian
oleh Pak Budi dan Bu Tati. Namun, saya sendiri lebih sering menemui Pak Budi yang menjaga
di depan untuk menyajikan makanan dan menerima pembayaran. Sementara, Bu Tati lebih
sering di dapur untuk memasak makanan. Tetapi, jika sedang tidak ada Pak Budi, Bu Tati bisa
melakukan dua pekerjaan tersebut sekaligus. Pak Budi sendiri kelihatannya sudah akrab
dengan beberapa pembeli yang sering makan di warung makannya. Beberapa pembeli
memanggilnya dengan sebutan “Babeh”. Tampaknya panggilan tersebut disematkan oleh
pembeli yang mayoritas adalah mahasiswa maupun tetangga Pak Budi yang memang sudah
akrab dan sering bertemu.

Warung Makan Poci terletak di Jalan Masjid Al-Farouq No. 24, Kukusan, Depok.
Tampak depan warung makan ini adalah bangun sederhana yang bertingkat dan dicat warna
hijau telur asin dengan tulisan Warung Makan Poci di atas pintunya. Namun pada bangunan
tersebut yang digunakan sebagai warung makan hanya bagian bawahnya. Tampaknya bagian
atas digunakan sebagai rumah tinggal. Sesaat memasuki Warung Makan Poci, pertama yang
ditemui adalah susunan dua meja panjang dan kursi-kursi yang dapat digunakan pembeli jika
makan di tempat. Di atas meja tersusun gelas-gelas dan teko tempat air putih dapat diambil
sendiri. Setelah susunan meja dan kursi tersebut, di ujung warung makan terdapat etalase
tempat makanan disajikan. Makanan ditempatkan sedemikian rupa, di mana lauk
dikelompokkan di bagian atas rak etalase, sementara sayuran dan sambal diletakan di bagian
bawah rak etalase. Lauk sendiri terdiri dari beberapa macam jenis makanan seperti perkedel
kentang, telur dadar, tahu goreng, tempe goreng, tempe mendoan, ikan teri goreng tepung,
jamur goreng tepung, ikan tuna, dan masih banyak lagi. Untuk sayur sendiri biasanya Bu Tati
akan memasak dua jenis sayur dan berubah-ubah setiap harinya. Kadang disajikan sayur sop
dan sayur sawi, kadang cap-cay dan sayur daun singkong, dan lain-lain. Sementara itu, untuk
nasi tampaknya ditanak menggunakan dua rice cooker yang terletak di dekat tumpukan piring
dan sendok. Warung Makan Poci sendiri menyediakan nasi putih dan nasi merah. Namun,
untuk nasi merah tampaknya disediakan terbatas, tidak seperti nasi putih yang tersedia terus
menerus. Selain susunan makanan dan etalase, yang menonjol pada Warung Makan Poci
adalah pajangan yang ada di dinding, yaitu foto-foto yang dipigura oleh Pak Budi. Pada foto-
foto tersebut, tampak Pak Budi dan kadang-kadang bersama istrinya, sedang berpose bersama
mahasiswa dengan menggunakan baju wisuda. Tampaknya, Pak Budi memang sangat akrab
dengan beberapa mahasiswa yang sering membeli makan di tempatnya.

Pada hari Jumat, 21 Februari 2019, saya mengunjungi Warung Makan Poci untuk
membeli makan seperti biasanya. Sebelum saya memesan makanan, ada dua pembeli yang
terlebih dahulu dilayani. Memang saat itu sedang jam makan siang, warung makan tersebut
agak lebih ramai dibanding biasanya. Pembeli pertama tampaknya adalah warga di sekitar
warung makan ini. Ibu ini menyebutkan satu-satu pesanannya. Pak Budi, seperti biasa,
melayani pembeli tersebut dengan memasukkan satu-persatu makanan tersebut ke dalam
kantung plastik. Tampaknya ibu ini memilih untuk membungkus makanannya. Setelah selesai,
Pak Budi dengan segera menghitung harga pesanan ibu tersebut. Ibu tersebut pun lalu
membayar dengan uang pas, lalu pergi sembari mengucapkan terima kasih. Selanjutnya,
pembeli kedua yang tampaknya adalah mahasiswa memilih untuk makan di tempat. Pembeli
tersebut memanggil Pak Budi dengan sebutan “Babeh” lalu berkelakar sembari memesan
makanan. Setelah selesai mengambilkan makanan dan memberikannya pada pembeli, Pak
Budi menanyakan minuman apa yang ingin dipesan pembeli. Pembeli pun menjawab es teh
manis dan Pak Budi langsung meneriakkan pesanan di dapur untuk dibuatkan oleh Bu Tati. Bu
Tati dengan sigap membuatkan pesanan lalu memberikannya ke pembeli. Pak Budi pun
menghitung harga pesanan tersebut dan mengatakan bahwa pembayaran dilakukan nanti saja
setelah pembeli selesai makan. Sekarang, giliran saya yang memesan makanan. Pak Budi
mengulangi tahapan yang dilakukannya sebelumnya kepada saya. Namun, karena saya
memesan air putih, Pak Budi hanya menunjukkan gelas yang dapat digunakan dan teko tempat
air minum bisa diambil. Saya pun akhirnya mengambi air lalu duduk dan makan di tempat.
Seperti biasa, keadaan warung makan memang cukup ramai karena tengah hari tersebut
memang merupakan jam makan siang. Terlihat sepertinya kebanyakan pembeli adalah
mahasiswa dapat dilihat dari tas dan buku yang mereka bawa.

Tampaknya banyak mahasiswa memilih Warung Makan Poci sebagai tempat untuk
membeli makanan adalah dikarenakan Warung Makan Poci letaknya memang strategis di
depan jalan dan dikelilingi baik perumahan warga maupun tempat indekos mahasiswa. Selain
itu, makanan dengan banyak variasi dan rasa yang lumayan enak dan harga yang murah dan
sesuai dengan kantung mahasiswa, membuat warung makan ini selalu ramai dikunjungi
pengunjung. Saya pun tertarik untuk menjadikan pemilik warung makan ini menjadi objek
penelitian saya dikarenakan keakraban dari Pak Budi sendiri dengan pembeli-pembeli yang
ada. Pak Budi sendiri, setelah saya tanyakan memang merupakan warga asli Kukusan, bersama
istrinya akhirnya Pak Budi membuka warung makan karena melihat potensi banyaknya
mahasiswa yang ada di daerah sekitar yang pasti membutuhkan makanan. Akhirnya, Pak Budi
yang tadinya bekerja serabutan pun memilih untuk membantu istrinya menjaga warung makan.
Pak Budi dan Bu Tati pun memiliki anak yang masih duduk di sekolah menengah pertama.
Namun, anaknya sendiri jarang terlihat di warung makan. Kata Bu Tati, hal itu dikarenakan
sang anak lebih suka bermain dengan teman-temannya yang masih merupakan tetangga.
Sebelum menjadi bangunan warung makan dan rumah tinggal, sebelumnya tanah tersebut
merupakan warisan dari orang tua Pak Budi yang memiliki banyak tanah di sekitar Kukusan.
Akhirnya perlahan-lahan dibangunlah menjadi bangunan oleh Pak Budi. Tadinya, bangunan
tersebut hanya dibangun untuk rumah tinggal, namun seiring berjalannya waktu ternyata
semakin banyak mahasiswa yang tinggal di sekitar Kukusan yang akhirnya mencetuskan ide
untuk membuat warung makan seperti yang ada sekarang ini.