Anda di halaman 1dari 31

PERATURAN WALI KOTA TASIKMALAYA

NOMOR................

TENTANG

RENCANA TATA BANGUNAN DAN LINGKUNGAN


KAWASAN DADAHA
KOTA TASIKMALAYA

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

WALI KOTA TASIKMALAYA,

Menimbang a. bahwa berdasarkan Peraturan Daerah Kota Tasikmalaya


Nomor 4 Tahun 2012 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah
(RTRW) Kota Tasikmalaya 2011-2031, Kawasan Dadaha
ditetapkan sebagai salah satu Kawasan Strategis Kota (KSK)
yang mempunyai nilai strategis dari sudut kepentingan
ekonomi, sosial, budaya dan atau lingkungan;
b. bahwa untuk menciptakan kualitas lingkungan Kawasan
Dadaha yang lebih baik dan berkelanjutan melalui
pembentukan pola pemanfaatan ruang kawasan yang baik
dan tertata, diperlukan dokumen penataan ruang yang lebih
rinci yang sekaligus menjadi acuan bagi Pemerintah Kota,
masyarakat, maupun investor;
c. bahwa sesuai dengan ketentuan Peraturan Menteri Pekerjaan
Umum Nomor 06/PRT/2007 tentang Pedoman Umum
Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan, Dokumen RTBL
ditetapkan dengan Peraturan Wali kota;
d. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud
dalam huruf a dan huruf b, perlu menetapkan Peraturan Wali
kota tentang Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan
Kawasan DadahaKota di Kecamatan Cihideung dan
Kecamatan Tawang Kota Tasikmalaya;

Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1950 tentang Pembentukan


Daerah-daerah Kabupaten dalam Lingkungan Propinsi Djawa
Barat (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 1950) dengan
Mengubah Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1950 tentang
Pembentukan Daerah-daerah Kabupaten dalam Lingkungan
Propinsi Djawa Barat (Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 1968 Nomor 31, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 2851);
2. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan
Dasar Pokok-Pokok Agraria (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 1960 Nomor 104, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 2043);
3. Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2002 tentang Bangunan
Gedung (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2002
Nomor 134, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor 4247);
4. Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumberdaya
Air (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor
32, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor
4377);

1
2

5. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem


Perencanaan Pembangunan Nasional (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 104, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4421);
6. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan
Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004
Nomor 125, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor 4437) sebagaimana telah diubah beberapa kali
terakhir dengan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2008
tentang Perubahan Kedua atas Undang- Undang Nomor 32
Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 59, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4844);
7. Undang-Undang Nomor 38 Tahun 2004 tentang Jalan
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor
132, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor
4444);
8. Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan
Ruang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007
Nomor 68, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor 4725);
9. Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas
Angkutan Jalan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun
2009 Nomor 96, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 502);
10. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan
dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 140, Tambahan
Lembar Negara Republik Indonesia Nomor 5059);
11. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2011 tentang Perumahan
dan Kawasan Permukiman (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2011 Nomor 7, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 5188);
12. Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2012 tentang Pengadaan
Tanah Bagi Pembangunan Untuk Kepentingan Umum
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2012 Nomor 22,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor
5280);
13. Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 2000 tentang Tingkat
Ketelitian Peta untuk Penataan Ruang Wilayah;
14. Peraturan Pemerintah Nomor 16 Tahun 2004 tentang
Penatagunaan Tanah;
15. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 36 tahun
2005 tentang Peraturan Pelaksanaan Undang-Undang Nomor
28 Tahun 2002 tentang Bangunan Gedung
16. Peraturan Pemerintah Nomor 65 Tahun 2005 tentang Standar
Pelayanan Minimal (Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 2005 Nomor 150, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 4585);
17. Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang
Pembagian Urusan Pemerintahan antara Pemerintah,
Pemerintahan Daerah Provinsi, dan Pemerintahan Daerah
Kabupaten/Kota (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun
2007 Nomor 82, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 4737);
18. Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 2008 tentang
Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 48, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4833);
3

19. Peraturan Pemerintah Nomor 34 Tahun 2009 tentang


Pedoman Pengelolaan Kawasan Perkotaan (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 68, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5004);
20. Peraturan Pemerintah Nomor 15 Tahun 2010 tentang
Penyelenggaraan Penataan Ruang;
21. Peraturan Pemerintah Nomor 68 Tahun 2010 tentang Bentuk
dan Tata Cara Peran Serta Masyarakat dalam Penataan
Ruang;
22. Peraturan Presiden Nomor 71 Tahun 2012 tentang
Penyelenggaraan Pengadaan Tanah Bagi Pembangunan Untuk
Kepentingan Umum sebagaimana diubah oleh Peraturan
Presiden Nomor 40 Tahun 2014 tentang Perubahan Atas
Peraturan Presiden Nomor 71 Tahun 2012 tentang
Penyelenggaraan Pengadaan Tanah Bagi Pembangunan Untuk
Kepentingan Umum;
23. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 29/PRT/2006
tentang Pedoman Persyaratan Teknis Bangunan Gedung;
24. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 30/PRT/M/2006
tentang Persyaratan Teknis Fasilitas dan Aksesibilitas pada
Bangunan Umum dan Lingkungan;
25. Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 1 Tahun 2007 ten-
tang Penataan Ruang Terbuka Hiaju Kawasan Perkotaan;
26. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 06/PRT/M/2007
tentang Pedoman Umum Rencana Tata Bangunan dan
Lingkungan;
27. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor. 05 Tahun 2008
tentang Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang
Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan
28. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 29 Tahun 2008
tentang Pengembangan Kawasan Strategis dan Cepat Tumbuh
di Daerah
29. Peraturan Kepala Badan Pertanahan Nasional Republik
Indonesia Nomor 5 Tahun 2012 tentang Petunjuk Teknis
Pelaksanaan Pengadaan Tanah;
30. Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat Nomor 22 Tahun 2010
tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Jawa Barat
Tahun 2009-2029 (Lembaran Daerah Tahun 2010 Nomor 22
Seri E, Tambahan Lembaran Daerah Nomor 88);
31. Peraturan Daerah Kota Tasikmalaya Nomor 29 Tahun 2003
tentang Kebersihan, Keindahan dan Kelestarian Lingkungan;
32. Peraturan Daerah Kota Tasikmalaya Nomor 15 Tahun 2004
tentang Penataan Bangunan;
33. Peraturan Daerah Kota Tasikmalaya Nomor 4 Tahun 2012
tentang Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kota
Tasikmalaya 2011-2031;
34. Peraturan Daerah Kota Tasikmalaya Nomor 3 Tahun 2013
tentang Bangunan Gedung;

MEMUTUSKAN

Menetapkan : PERATURAN WALI KOTA TENTANG RENCANA TATA BANGUNAN


DAN LINGKUNGAN KAWASAN DADAHA KOTA TASIKMALYA

BAB I
KETENTUAN UMUM
4

Bagian Kesatu
Pengertian
Pasal 1

Dalam Peraturan Wali kota ini yang dimaksud dengan :


1. Daerah adalah Kota Tasikmalaya.
2. Pemerintah Daerah adalah Wali kota dan perangkat daerah
sebagai penyelenggara Pemerintahan Kota Tasikmalaya.
3. Wali kota adalah Wali kota Tasikmalaya.
4. Ruang adalah wadah yang meliputi ruang daratan, ruang
lautan, dan ruang udara sebagai satu kesatuan wilayah, tempat
manusia dan makhluk lainnya hidup dan melakukan kegiatan
serta memelihara kelangsungan hidupnya.
5. Tata Ruang adalah wujud dari struktur dan pola
pemanfaatan ruang, baik direncanakan maupun tidak
direncanakan.
6. Penataan Ruang adalah proses perencanaan tata ruang,
pemanfaatan ruang, dan pengendalian ruang.
7. Rencana Tata Ruang adalah hasil perencanaan struktur dan
pola pemanfaatan ruang.
8. Struktur Pemanfaatan Ruang adalah susunan unsur-unsur
pembentuk lingkungan secara hierarkis dan saling
berhubungan satu dengan lainnya.
9. Pola Pemanfaatan Ruang adalah tata guna tanah, air, udara,
dan sumber daya alam lainnya dalam wujud penguasaan,
penggunaan, dan pemanfaatan tanah, air, udara, dan sumber
daya alam lainnya.
10. Rencana Tata Ruang Wilayah yang selanjutnya disingkat
RTRW adalah Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Tasikmalaya.
11. Wilayah adalah ruang yang merupakan kesatuan geografis
beserta segenap unsur terkait padanya yang batas dan
sistemnya ditentukan berdasarkan aspek administratif dan atau
aspek fungsional.
12. Kawasan adalah satuan ruang wilayah yang batas dan
sistemnya ditentukan berdasarkan aspek fungsional serta
memiliki ciri tertentu.
13. Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan (RTBL) adalah
panduan rancang bangun suatu kawasan/lingkungan yang
dimaksudkan untuk mengendalikan pemanfaatan ruang,
penataan bangunan dan lingkungan, serta memuat materi
pokok ketentuan program bangunan dan lingkungan, rencana
umum dan panduan rancangan, rencana investasi, ketentuan
pengendalian rencana, dan pedoman pengendalian rencana,
dan pedoman pengendalian pelaksanaan pengembangan
lingkungan/kawasan.
14. Program Bangunan dan Lingkungan adalah penjabaran lebih
lanjut dari perencanaan dan peruntukan lahan yang telah
ditetapkan untuk kurun waktu tertentu yang memuat jenis,
jumlah, besaran, dan luasan bangunan gedung serta
kebutuhan ruang terbuka hijau, fasilitas umum, fasilitas sosial,
prasarana aksesibilitas, sarana pencahayaan dan sarana
penyehatan lingkungan, baik berupa penataan prasarana dan
sarana yang sudah ada maupun baru.
15. Rencana Umum dan Panduan Rancangan adalah ketentuan-
ketentuan tata bangunan dan lingkungan pada suatu
lingkungan/kawasan yang memuat rencana peruntukan lahan
makro dan mikro, rencana perpetakan, rencana tapak, rencana
sistem pergerakan, rencana aksesibilitas lingkungan, rencana
prasarana dan sarana lingkungan, rencana wujud visual
5

bangunan, dan ruang terbuka hijau.


16. Rencana Investasi adalah rujukan bagi para pemangku
kepentingan untuk menghitung kelayakan investasi dan
pembiayaan suatu penataan, sehingga terjadi kesinambungan
pentahapan pelaksanaan pembangunan.
17. Ketentuan Pengendalian Rencana adalah ketentuan-
ketentuan yang bertujuan untuk mengendalikan berbagai
rencana kerja, program kerja maupun kelembagaan kerja pada
masa pemberlakuan aturan dalam RTBL dan pelaksanaan
penataan suatu kawasan.
18. Pedoman Pengendalian Pelaksanaan adalah pedoman yang
dimaksudkan untuk mengarahkan perwujudan pelaksanaan
penataan bangunan dan kawasan yang berdasarkan dokumen
RTBL, dan memandu pengelolaan kawasan agar dapat
berkualitas, meningkat, dan berkelanjutan.
19. Struktur peruntukan lahan merupakan komponen rancang
kawasan yang berperan penting dalam alokasi penggunaan dan
penguasaan lahan/tata guna lahan yang telah ditetapkan dalam
suatu kawasan perencanaan tertentu berdasarkan ketentuan
dalam rencana tata ruang wilayah.
20. Intensitas Pemanfaatan Lahan adalah tingkat alokasi dan
distribusi luas lantai maksimum bangunan terhadap
lahan/tapak peruntukannya.
21. Koefisien Dasar Bangunan (KDB) adalah angka presentase
perbandingan antara luas seluruh lantai dasar bangunan
gedung yang dapat dibangun dan luas lahan/tanah
perpetakan/daerah perencanaan yang dikuasai.
22. Tata Bangunan adalah produk dari penyelenggaraan
bangunan gedung beserta lingkungan sebagai wujud
pemanfaatan ruang, meliputi berbagai aspek termasuk
pembentukan citra/karakter fisik lingkungan, besaran, dan
konfigurasi dari elemen-elemen: blok, kapling/petak lahan,
bangunan, serta ketinggian dan elevasi lantai bangunan yang
dapat menciptakan dan mendefinisikan berbagai kualitas ruang
kota yang akomodatif terhadap keragaman kegiatan yang ada,
terutama yang berlangsung dalam ruang-ruang publik.
23. Garis Sempadan Bangunan (GSB) adalah garis pada
halaman pekarangan bangunan yang ditarik sejajar dari garis
kepemilikan lahan, tepi sungai atau as pagar dan merupakan
batas antara kapling/pekarangan yang boleh dibangun dan
yang tidak boleh dibangun.
24. Tinggi Bangunan adalah jarak yang diukur dari permukaan
tanah, dimana bangunan tersebut didirikan, sampai dengan
titik puncak bangunan.
25. Sistem Jaringan Jalan dan Pergerakan adalah rancangan
pergerakan yang terkait antara jenis-jenis hierarki/kelas jalan
yang tersebar pada kawasan perencanaan (jalan
lokal/lingkungan) dan jenis pergerakan yang melalui, baik
masuk dan keluar kawasan, maupun masuk dan keluar
kapling.
26. Perabot jalan merupakan objek atau perlengkapan yang
dipasang di tepi jalan untuk mendukung aktivitas pengguna
jalan, baik kendaraan maupun pejalan kaki, yakni antara lain:
Penerangan Jalan Umum (PJU); stand/kios PKL; halte angkutan
kota; tempat sampah; dan bangku.
27. Fasilitas perlengkapan jalan merupakan objek yang dipasang
di tepi jalan dengan tujuan meningkatkan keselamatan jalan
dan menyediakan pergerakan yang teratur terhadap pengguna
jalan, yakni berupa Alat Pemberi Isyarat Lalu Lintas (APILL).
6

28. Selubung bangunan adalah bidang permukaan yang


menutupi semua sisi bangunan dan memisahkan antara ruang
dalam dengan luar bangunan.
29. Signage atau tata penanda merupakan pemberi informasi
baik berupa kata, kalimat maupun simbol yang berfungsi
sebagai penunjuk arah, rambu, reklame maupun identitas
bangunan.
30. Sistem Sirkulasi Kendaraan Umum adalah rancangan sistem
arus pergerakan kendaraan formal, yang dipetakan pada
hierarki/kelas jalan yang ada pada kawasan perencanaan.
31. Sistem Sirkulasi Kendaraan Pribadi adalah rancangan
sistem arus pergerakan bagi kendaraan pribadi sesuai dengan
hierarki/kelas jalan yang ada pada kawasan perencanaan.
32. Fasilitas Umum adalah peruntukan pasar, masjid, gereja,
fasilitas pendidikan dan fungsi lain yang dipergunakan untuk
kepentingan publik.
33. Sistem Ruang Terbuka dan Tata Hijau adalah komponen
rancangan kawasan, yang tidak sekedar terbentuk sebagai
elemen tambahan ataupun elemen sisa setelah proses rancang
arsitektural diselesaikan, melainkan juga diciptakan sebagai
bagian integral dari suatu lingkungan yang lebih luas.
34. Tata Kualitas Lingkungan adalah rekayasa elemen-elemen
kawasan yang sedemikian rupa, sehingga tercipta suatu
kawasan atau sub area dengan sistem lingkungan yang
informatif, berkarakter khas, dan memiliki orientasi tertentu.
35. Sistem Prasarana dan Utilitas Lingkungan adalah
kelengkapan dasar fisik suatu lingkungan yang pengadaannya
memungkinkan suatu lingkungan dapat beroperasi dan
berfungsi sebagai mana mestinya.
36. Peran Serta Masyarakat adalah keterlibatan masyarakat
secara sukarela di dalam perumusan kebijakan dan
pelaksanaan keputusan dan/atau kebijakan yang berdampak
langsung terhadap kehidupan masyarakat pada setiap tahap
kegiatan pembangunan (perencanaan, desain, implementasi dan
evaluasi).

Bagian Kedua
Maksud dan Tujuan
Pasal 2

(1) Maksud RTBL Kawasan Dadaha Kota Tasikmalaya adalah


sebagai upaya perbaikan kawasan yang sedang berkembang
dan belum tertata dengan baik untuk meningkatkan kualitas
lingkungan, yang dapat digunakan sebagai sarana
mengendalikan, mengoptimalkan dan panduan pengelolaan
bagi pemerintah kota dalam membangun dan mengembangkan
kawasan dengan memberikan batasan dan aturan secara
berkelanjutan di kawasan perencanaan.
(2) Tujuan RTBL Kawasan Dadaha Kota Tasikmalaya adalah:
a. Memberikan usulan dalam menciptakan lingkungan yang
tertata, teratur, terintegrasi dan komprehensif sehingga
rencana pengembangan kawasan kota memiliki elemen
kontrol yang lebih bermakna.
b. Mengintegrasikan antara fungsi permukiman, ruang terbuka
hijau dan perdagangan jasa dan aktivitas yang dapat
menjembatani berbagai kegiatan komersial, fasilitas umum
dan fasilitas sosial.
c. Mengendalikan perubahan fungsi lahan, perubahan
peruntukan, serta perubahan lingkungan akibat
7

perkembangan kegiatan perdagangan dan jasa.


d. Mewujudkan keunikan kawasan yang sesuai dengan
karakter dan kondisi lingkungan serta mempertimbangkan
asas perencanaan yang berkelanjutan.
e. Mewujudkan lingkungan dan bangunan yang manusiawi
melalui konsep penataan yang disusun berdasarkan
prosedur baku perancangan kota urban design, landscaping
serta perancangan arsitektural desain teknis yang sesuai
dengan peraturan dan perundangan yang ada.
f. Menata kembali aspek visual estetika kota, sehingga
menimbulkan keserasian antara unsur-unsur binaan dengan
komponen-komponen lingkungan alami.

BAB II
BATASAN LOKASI KAWASAN
Pasal 3
(1) Lokasi Perencanaan RTBL Kawasan Dadaha Kota
Tasikmalaya berada di Kecamatan Cihideung dan Kecamatan
Tawang Kota Tasikmalaya Provinsi Jawa Barat.
(2) Luas Kawasan perencanaan RTBL Kawasan Dadaha Kota
Tasikmalaya adalah ± 60 Ha, yang merupakan Ruang Terbuka
Publik dan Koridor Jalan Utama dengan batas kawasan
perencanaan sebagai berikut:
a. Sebelah Utara : berbatasan dengan Sungai Cimulu
b. Sebelah Selatan : berbatasan dengan Jalan Siliwangi.
c. Sebelah Barat : berbatasan dengan Jalan KH. M. Mustofa
d. Sebelah Timur : berbatasan dengan Saluran Irigasi Cimulu.
BAB III
MATERI POKOK RENCANA TATA BANGUNAN DAN
LINGKUNGAN
(RTBL)
Pasal 4

(1) RTBL Kawasan Dadaha Kota Tasikmalaya disusun dengan


sistematika sebagai berikut:
a. Program bangunan dan lingkungan
b. Rencana umum dan panduan rancangan
c. Ketentuan pengendalian rencana
d. Rencana investasi
e. Pedoman pengendalian pelaksanaan
(2) RTBL sebagaimana dijelaskan pada ayat (1) diatas dilengkapi
dengan buku album peta, album gambar, dan lain-lain yang
merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Wali kota
ini.

BAB IV
PROGRAM BANGUNAN DAN LINGKUNGAN
Bagian Kesatu
Visi Misi
Pasal 5

(1) Visi pengembangan Kawasan Dadaha Kota Tasikmalaya adalah


Menciptakan Kawasan Dadaha Sebagai Taman Kota Destinasi
Wisata Baru Kota Tasikmalaya yang berkarakter budaya lokal
dan berkelanjutan, dan, mewujudkan Tasikmalaya green city &
clean city.
(2) Misi pengembangan Kawasan DadahaKota Tasikmalaya adalah
sebagai berikut:
a. Optimalisasi kualitas ruang terbuka hijau dan ruang
8

terbuka non hijau di kawasan


b. Penghijauan koridor jalan dan mempertahankan ruang
terbuka hijau kawasan
c. Pengembangan atraksi-atraksi di ruang publik
d. Pelibatan komunitas paguyuban PKL dalam pengembangan
kawasan
e. Penataan PKL sesuai dengan kelompok jenis dan
aktivitasnya, sebagai bagian dari keunikan kawasan, dan
penataan kios PKL dengan tema.
f. Pengembangan taman kota tematik di Kawasan Dadaha
g. Penataan koridor jalan dengan pengembangan jalur pejalan
kaki pada seluruh kawasan
h. Pelebaran Jalan BKR untuk menciptakan aksesibilitas
kawasan yang lebih memadai
i. Pengaturan GSB (Garis Sempadan Bangunan) pada koridor
jalan pada seluruh kawasan
j. Pengembangan Taman Kota Dadaha sebagai area evakuasi
bencana
k. Pengaturan tata informasi yang baik, bebas dari sampah
visual dan reklame teratur
l. Pengaturan sirkulasi kendaraan pribadi, sirkulasi kendaraan
angkutan umum dan penataan shelter angkutan umum.
m. Pengembangan identitas kawasan melalui penggunaan
ornamen tradisional pada fasade bangunan dan penataan
street furniture
n. Peningkatan kualitas fasilitas sarana pelayanan umum pada
kawasan.

Bagian Kedua
Konsep
Pasal 6

(1) Konsep dasar perancangan bangunan dan lingkungan


diarahkan pada visi sebagai kawasan Dadaha sebagai destinasi
wisata yang berkarakter budaya lokal dan berkelanjutan.
Sasaran yang ingin dicapai:
a. Meningkatkan kualitas hidup masyarakat di Kota
Tasikmalaya.
b. Mewujudkan terciptanya ruang terbuka hijau publik yang
representatif bagi masyarakat di Kota Tasikmalaya.

c. Mewujudkan kawasan dengan ciri dan karakter budaya lokal


dengan memunculkan ornamen tradisional pada bangunan
dan street furniture pada kordor jalan;
d. Mewujudkan aksesibilitas kawasan yang baik dan
pengembangan koridor jalan yang ramah pejalan kaki,
ramah penyandang cacat dan manula.
(2) Konsep komponen perancangan Kawasan Dadaha Kota
Tasikmalaya meliputi upaya untuk:
a. Meningkatkan kualitas fisik lingkungan yang telah ada, dan
menciptakan pengembangan yang terencana dengan
keragaman komposisi penggunaan lahan.
b. Melestarikan ruang terbuka hijau dan ruang terbuka publik.
c. Meningkatkan kualitas ruang terbuka sehingga tercapai
ruang yang berkelanjutan dan terciptanya jejaring hijau.
d. Mengembangkan aksesibilitas kawasan dengan
pengembangan jalur kendaraan yang memadai
e. Mengembangkan kawasan yang nyaman, aman dan ramah
pejalan kaki, penyandang cacat serta manula.
9

f. Mewujudkan penataan bangunan yang selaras terhadap ciri


dan karakter budaya lokal dan mengembangkan bangunan
yang ramah lingkungan;
g. Meningkatkan tata kualitas koridor jalan dan ruang-ruang
publik yang ada.
h. Meningkatkan aktivitas ekonomi di kawasan perencanaan di
sektor formal maupun informal untuk keberlanjutan
kawasan.

Bagian Ketiga
Struktur Kawasan Perencanaan
Pasal 7

(1) Penataan Kawasan Perencanaan RTBL Kawasan Dadaha Kota


Tasikmalaya diarahkan pada penataan:
a. Penataan koridor jalan utama kawasan yang merupakan
akses menuju Kawasan Dadaha; dan
b. Penataan ruang terbuka hijau publik dan ruang terbuka non
hijau Kawasan Dadaha.
(2) Penataan Koridor sebagaimana yang dimaksud pada ayat (1)
huruf a dibagi menjadi :
a. Penataan kawasan koridor Jl.BKR diarahkan sebagai fungsi
penggunaan lahan Perdagangan dan jasa linier.
b. Penataan Kawasan koridor Jl. Ibu Apipah diarahkan sebagai
fungsi penggunaan lahan Permukiman kepadatan tinggi.
c. Penataan Kawasan koridor Jl. Dadaha diarahkan sebagai
fungsi penggunaan lahan (Permukiman kepadatan tinggi)
dan sarana pelayanan umum pendidikan perguruan tinggi.
d. Penataan Kawasan koridor Jl. Cikalang Girang diarahkan
sebagai fungsi penggunaan lahan Permukiman kepadatan
sedang.
e. Kawasan koridor Jl. KHZ Mustofa diarahkan sebagai fungsi
penggunaan lahan perdagangan dan jasa linier.
.
(3) Penataan ruang terbuka hijau publik dan ruang terbuka non
hijau Kawasan Dadaha sebagaimana yang dimaksud pada ayat
(1) huruf b adalah penataan kawasan Dadaha meliputi :
a. Penataan ruang terbuka hijau publik Taman Kota Dadaha
melanjutkan program P2KH;
b. Penataan ruang terbuka non hijau berupa penataan plaza
pejalan kaki, penataan lapangan upacara dadaha dan
sekitarnya.

BAB V
RENCANA UMUM DAN PANDUAN RANCANGAN
Pasal 8

(1) Rencana Umum Kawasan meliputi:


a. Tata guna lahan;
b. Intensitas Pemanfaatan Lahan;
c. Tata Bangunan;
d. Sistem Sirkulasi dan Jalur Penghubung;
e. Ruang Terbuka Hijau dan Tata Hijau;
f. Tata Kualitas Lingkungan;
g. Prasarana dan Sistem Utilitas Lingkungan;
10

h. Rencana Pengendalian PKL.


(2) Panduan rancangan kawasan meliputi ketentuan dasar
implementasi rancangan dan prinsip-prinsip pengembangan
rancangan, terdiri dari :
a. Panduan perancangan penggunaan lahan mikro;
b. Panduan perancangan bentuk dan tata massa bangunan;
c. Panduan perancangan garis sempadan bangunan dan jarak
bebas
d. Panduan perancangan orientasi bangunan
e. Panduan perancangan pengolahan fasad bangunan
f. Panduan perancangan sirkulasi pejalan kaki
g. Panduan perancangan parkir
h. Panduan perancangan ruang terbuka hijau
i. Panduan perancangan utilitas bangunan dan lingkungan
j. Panduan perancangan tata informasi dan perabot jalan/
street furniture.

Bagian Kesatu
Rencana Umum

Paragraf 1
Tata Guna Lahan
Pasal 9

(1) Fungsi guna lahan pada kawasan perencanaan meliputi:


a. Sarana pelayanan umum;
b. Perdagangan dan jasa linier;
c. Permukiman kepadatan sedang;
d. Permukiman kepadatan tinggi;
e. Ruang terbuka hijau publik; dan
f. Ruang terbuka non hijau publik.
g. Ruang untuk kegiatan informal milik PKL (pedagang kaki
lima) dengan fungsi pedagang kuliner/ fashion/hewan
peliharaan/ asesoris
(2) Fungsi sarana pelayanan umum sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) huruf a meliputi:
a. Sarana pelayanan umum pendidikan;
b. Sarana pelayanan umum olahraga;
c. Sarana pelayanan perguruan tinggi; dan
d. Sarana pelayanan umum peribadatan.
(3) Fungsi perdagangan dan jasa linier sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) huruf b meliputi:
a. Koridor perdagangan dan jasa linier Jl. BKR;
b. Koridor perdagangan dan jasa linier Jl. Lingkar Dadaha
Stadion – Lingkar Dadaha Belakang GOR GGM;
(4) Fungsi permukiman kepadatan sedang sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) huruf c meliputi;
a. Permukiman kepadatan sedang Koridor Jl. Cikalang Girang;
b. Permukiman kepadatan sedang Koridor Jl. Dadaha;
(5) Fungsi permukiman kepadatan tinggi sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) huruf d meliputi: Permukiman kepadatan tinggi
Koridor Jl. Ibu Apipah;
(6) Fungsi ruang terbuka hijau publik sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) huruf e meliputi:
a. Ruang terbuka hijau Taman Dadaha;
b. Ruang terbuka hijau Taman P2KH;
c. Ruang terbuka hijau Taman Hutan Kota;
d. Ruang terbuka hijau sempadan sungai/ irigasi Cimulu;
11

(7) Fungsi ruang terbuka hijau non publik sebagaimana dimaksud


pada ayat (1) huruf f meliputi:
a. Ruang terbuka non hijau plaza pejalan kaki di depan GOR
Sukapura – GOR GGM;
b. Ruang terbuka non hijau plaza pejalan kaki di sekitar
lapangan upacara dadaha;
c. Ruang terbuka non hijau lapangan upacara dadaha;
(8) Fungsi ruang infornmal sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
huruf g meliputi:
a. Ruang informnal Taman JAGAYA dan Pasar Kojengkang;
b. Ruang informal pada sempadan sungai/ irigasi Cimulu;

Paragraf 2
Intensitas Pemanfaatan Lahan
Pasal 10

Arahan intensitas pemanfaatan lahan Kawasan Dadaha yang


dimaksud adalah arahan intensitas pemanfaatan lahan untuk
penggunaan lahan sesuai pasal 9 ayat 1 yang terdiri dari:
(1) Fungsi permukiman kepadan tinggi pada jalan lokal sekunder
dengan arahan intensitas pemanfaatan lahan KDB 40%, KLB
1,6 dan KDH 20%, Dengan ketinggian maksimal 4 lantai,
dengan syarat bangunan memiliki parkir yang memadai dan set
back bangunan dari RUMIJA / sempadan bangunan minimal 10
meter.
(2) Fungsi permukiman kepadan sedang pada jalan lokal sekunder
dengan arahan intensitas pemanfaatan lahan KDB 60%, KLB
1,2 dan KDH 20%. Dengan ketinggian maksimal 2 lantai.
(3) Fungsi perdagangan linier pada jalan lokal sekunder Jl. BKR
yaitu : Tipologi bangunan deret dengan arahan intensitas
pemanfaatan lahan KDB 60%, KLB 2,4 dan KDH 30% dan
Tipologi bangunan tunggal dengan arahan intensitas
pemanfaatan lahan KDB 60% KLB 2,4 KDH 30%.
Ketentuan ketinggian :
a) Ketentuan ketinggian bangunan tunggal dan deret maksimal
2 lantai, dengan syarat bangunan memiliki parkir yang
memadai dan set back bangunan dari RUMIJA / sempadan
bangunan minimal 5 meter.
b) Ketentuan ketinggian bangunan tunggal dan deret maksimal
4 lantai, dengan syarat bangunan memiliki parkir yang
memadai dan set back bangunan dari RUMIJA / sempadan
bangunan minimal 10 meter.
c) Ketentuan ketinggian bangunan tunggal dan deret maksimal
6 lantai, dengan syarat bangunan memiliki parkir yang
memadai dan set back bangunan dari RUMIJA / sempadan
bangunan minimal 15 meter.
(4) Fungsi sarana pelayanan umum pendidikan perguruan tinggi
pada jalan lokal sekunder dengan arahan intensitas
pemanfaatan lahan KDB 40% KLB 2,4 KDH 30%, Dengan
ketinggian maksimal 6 lantai, dengan syarat bangunan memiliki
parkir yang memadai dan set back bangunan dari RUMIJA /
sempadan bangunan minimal 15 meter.
(5) Fungsi sarana pelayanan umum pendidikan pada jalan lokal
sekunder dengan arahan intensitas pemanfaatan lahan KDB
40% KLB 1,6 KDH 30%, Dengan ketinggian maksimal 4 lantai,
dengan syarat bangunan memiliki parkir yang memadai dan set
back bangunan dari RUMIJA / sempadan bangunan minimal 10
meter.
(6) Fungsi sarana pelayanan umum olahraga lainnya pada jalan
12

lokal sekunder dengan arahan intensitas pemanfaatan lahan


KDB 40% KLB 1,8 KDH 30%, Dengan ketinggian maksimal 5
lantai dengan syarat bangunan memiliki parkir yang memadai
dan set back bangunan dari RUMIJA / sempadan bangunan
minimal 15 meter.

Pasal 11

(7) Koefisien Dasar Bangunan (KDB) pada Kawasan Perencanaan


diatur dengan melihat klasifikasi jenis atau fungsi
peruntukannya:
a. Fungsi permukiman kepadan tinggi pada jalan lokal
sekunder dengan arahan intensitas pemanfaatan lahan KDB
40%
b. Fungsi permukiman kepadan sedang pada jalan lokal
sekunder dengan arahan intensitas pemanfaatan lahan KDB
60%,
c. Fungsi perdagangan linier pada jalan lokal sekunder Jl. BKR
yaitu : Tipologi bangunan deret dengan arahan intensitas
pemanfaatan lahan KDB 60%
d. Fungsi perdagangan linier pada jalan lokal sekunder Jl. BKR
yaitu : Tipologi bangunan tunggal dengan arahan intensitas
pemanfaatan lahan KDB 60%
e. Fungsi sarana pelayanan umum pendidikan perguruan tinggi
pada jalan lokal sekunder dengan arahan intensitas
pemanfaatan lahan KDB 40%
f. Fungsi sarana pelayanan umum pendidikan pada jalan lokal
sekunder dengan arahan intensitas pemanfaatan lahan KDB
40%
g. Fungsi sarana pelayanan umum olahraga lainnya pada jalan
lokal sekunder dengan arahan intensitas pemanfaatan lahan
KDB 40%

Pasal 12

(8) Koefisien Lantai Bangunan (KLB) pada Kawasan Perencanaan


diatur dengan melihat klasifikasi jenis atau fungsi
peruntukannya:
a. Fungsi permukiman kepadan tinggi pada jalan lokal
sekunder dengan arahan intensitas pemanfaatan lahan KLB
1,6
b. Fungsi permukiman kepadan sedang pada jalan lokal
sekunder dengan arahan intensitas pemanfaatan lahan KLB
1,2
c. Fungsi perdagangan linier pada jalan lokal sekunder Jl. BKR
yaitu : Tipologi bangunan deret dengan arahan intensitas
pemanfaatan lahan KLB 2,4
d. Fungsi perdagangan linier pada jalan lokal sekunder Jl. BKR
yaitu Tipologi bangunan tunggal dengan arahan intensitas
pemanfaatan lahan KLB 2,4
e. Fungsi sarana pelayanan umum pendidikan perguruan
tinggi pada jalan lokal sekunder dengan arahan intensitas
pemanfaatan lahan KLB 2,4
f. Fungsi sarana pelayanan umum pendidikan pada jalan lokal
sekunder dengan arahan intensitas pemanfaatan lahan KLB
1,6
g. Fungsi sarana pelayanan umum olahraga lainnya pada jalan
lokal sekunder dengan arahan intensitas pemanfaatan lahan
13

KLB 1,8

Pasal 13

(9) Koefisien Dasar Hijau (KDH) pada Kawasan Perencanaan diatur


dengan melihat klasifikasi jenis atau fungsi peruntukannya:
a. Fungsi permukiman kepadan tinggi pada jalan lokal
sekunder dengan arahan intensitas pemanfaatan lahan KDH
20%
b. Fungsi permukiman kepadan sedang pada jalan lokal
sekunder dengan arahan intensitas pemanfaatan lahan KDH
20%.
c. Fungsi perdagangan linier pada jalan lokal sekunder Jl. BKR
yaitu : Tipologi bangunan deret dengan arahan intensitas
pemanfaatan lahan KDH 30%
d. Fungsi perdagangan linier pada jalan lokal sekunder Jl. BKR
yaitu : Tipologi bangunan tunggal dengan arahan intensitas
pemanfaatan lahan KDH 30%.
e. Fungsi sarana pelayanan umum pendidikan perguruan
tinggi pada jalan lokal sekunder dengan arahan intensitas
pemanfaatan lahan KDH 30%,
f. Fungsi sarana pelayanan umum pendidikan pada jalan lokal
sekunder dengan arahan intensitas pemanfaatan lahan KDH
30%,
g. Fungsi sarana pelayanan umum olahraga lainnya pada jalan
lokal sekunder dengan arahan intensitas pemanfaatan lahan
KDH 30%,

Pasal 14

(10) Ketinggian Bangunan pada Kawasan Perencanaan diatur


dengan melihat klasifikasi jenis atau fungsi peruntukannya:
a. Fungsi permukiman kepadan tinggi pada jalan lokal
sekunder dengan arahan ketinggian maksimal 4 lantai,
dengan syarat bangunan memiliki parkir yang memadai dan
set back bangunan dari RUMIJA / sempadan bangunan
minimal 10 meter
b. Fungsi permukiman kepadan sedang pada jalan lokal
sekunder dengan arahan ketinggian maksimal 2 lantai
c. Fungsi perdagangan linier pada jalan lokal sekunder Jl. BKR
Ketentuan ketinggian :
i. Ketentuan ketinggian bangunan tunggal dan deret
maksimal 2 lantai, dengan syarat bangunan memiliki
parkir yang memadai dan set back bangunan dari
RUMIJA / sempadan bangunan minimal 5 meter.
ii. Ketentuan ketinggian bangunan tunggal dan deret
maksimal 4 lantai, dengan syarat bangunan memiliki
parkir yang memadai dan set back bangunan dari
RUMIJA / sempadan bangunan minimal 10 meter.
iii. Ketentuan ketinggian bangunan tunggal dan deret
maksimal 6 lantai, dengan syarat bangunan memiliki
parkir yang memadai dan set back bangunan dari
RUMIJA / sempadan bangunan minimal 15 meter.
d. Fungsi sarana pelayanan umum pendidikan perguruan
tinggi pada jalan lokal sekunder dengan arahan ketinggian
14

maksimal 6 lantai, dengan syarat bangunan memiliki parkir


yang memadai dan set back bangunan dari RUMIJA /
sempadan bangunan minimal 15 meter
e. Fungsi sarana pelayanan umum pendidikan pada jalan lokal
sekunder dengan arahan ketinggian maksimal 4 lantai,
dengan syarat bangunan memiliki parkir yang memadai dan
set back bangunan dari RUMIJA / sempadan bangunan
minimal 10 meter.
f. Fungsi sarana pelayanan umum olahraga lainnya pada jalan
lokal sekunder dengan arahan ketinggian maksimal 5 lantai
dengan syarat bangunan memiliki parkir yang memadai dan
set back bangunan dari RUMIJA / sempadan bangunan
minimal 15 meter

Paragraf 3
Tata Bangunan
Pasal 15

(1) Perencanaan Tata Bangunan disesuaikan dengan fungsi atau


peruntukan kawasan;
(2) Orientasi bangunan di seluruh kawasan perencanaan
ditetapkan ke arah muka, atau tegak lurus menghadap ke jalan;
(3) Bangunan yang terletak pada sudut jalan harus memiliki 2
muka yang menghadap kedua jalan tersebut;
(4) Bangunan yang terletak pada sempadan sungai ditetapkan ke
arah muka, atau tegak lurus menghadap ke sungai;
(5) Rencana atau penataan arsitektur bangunan dirancang untuk
mengembangkan langgam arsitektur Khas Tasikmalaya,
khususnya tipologi atap dan ornamennya;
(6) Tipologi bangunan dengan fungsi perdagangan dan jasa linier
pada koridor jalan, diarahkan berupa bangunan tunggal atau
deret yang menyediakan ruang terbuka hijau sesuai arahan
KDH pada pasal 13 dan lahan parkir di dalam persil;
(7) Tipologi bangunan dengan fungsi sarana pelayanan umum,
diarahkan berupa bangunan tunggal dengan menyediakan
ruang terbuka hijau sesuai arahan KDH pada pasal 13 dan
lahan parkir di dalam persil.
(8) Tipologi bangunan informal milik PKL (pedagang kaki lima)
dengan fungsi pedagang kuliner/ fashion/hewan peliharaan/
asesoris, diarahkan berupa bangunan tidak permanen, dapat
dipindah tempatkan, memiliki ciri khas Tasikmalaya, memiliki
corak/warna yang serasi dan bangunan di letakan pada ruang
yang dijelaskan pada pasal 9 ayat 8.

Paragraf 4
Sistem Sirkulasi dan Jalur Penghubung
Pasal 16

(1) Sistem sirkulasi dan jalur penghubung meliputi:


a. Sistem sirkulasi kendaraan;
b. Sistem sirkulasi pejalan kaki;dan
c. Sistem parkir.

Pasal 17

(2) Sistem sirkulasi kendaraan sebagaimana dimaksud dalam ayat


(1) huruf a diatur sebagai berikut:
a. Penataan koridor jalan lokal sekunder Jalan Jl. Lingkar
15

dadaha – belakang GOR


b. Penataan koridor jalan lokal sekunder Jalan Jl. Lingkar
dadaha – Stadion
c. Penataan koridor jalan lokal sekunder Jalan Jl. Dadaha
d. Penataan koridor jalan lokal sekunder Jalan Jl. Cikalang
Girang
e. Penataan koridor jalan lokal sekunder Jalan Jl. Ibu Apipah
f. Penataan koridor jalan lokal sekunder Jalan Jl. BKR

(3) Rencana pemanfaatan ruang jalan sebagaimana dimaksud


dalam ayat (2) huruf a adalah meliputi:
a. Penataan koridor jalan lokal sekunder Jalan Jl. Lingkar
dadaha – belakang GOR, dengan arahan pemanfaatan ruang
jalan adalah sebagai berikut:
i. Rencana ruang manfaat jalan (rumaja) minimal 8 m yang
terdiri dari jalur pergerakan kendaraan bermotor 1 jalur,
1 lajur satu arah dengan perkerasan aspal selebar 8 m
dengan lebar setiap jalur 8 m;
ii. Rencana ruang milik jalan (rumija) 11 m yang terdiri dari
rumaja 8 m, titik hijau sempadan jalan 0,5 m pada
kanan dan kiri jalan setiap 5 meter, pengembangan jalur
pejalan kaki dan ruang utilitas selebar 1,5 m pada kanan
dan kiri jalan yang dilengkapi dengan saluran drainase
tertutup.
iii. Rencana ruang pengawasan jalan (ruwasja) 21 m yang
terdiri dari rumija 11 m dan garis sempadan bangunan
pada kanan dan kiri jalan minimal 5 m.

b. Penataan koridor jalan lokal sekunder Jalan Jl. Lingkar


dadaha – Stadion, dengan arahan pemanfaatan ruang jalan
adalah sebagai berikut:
i. Rencana ruang manfaat jalan (rumaja) minimal 10 m
yang terdiri dari jalur pergerakan kendaraan bermotor 1
jalur, 1 lajur satu arah dengan perkerasan aspal selebar
10 m dengan lebar setiap jalur 10 m;
ii. Rencana ruang milik jalan (rumija) 13 m yang terdiri dari
rumaja 10 m, titik hijau sempadan jalan 0,5 m pada
kanan dan kiri jalan setiap 5 meter, pengembangan jalur
pejalan kaki dan ruang utilitas selebar 1,5 m pada kanan
dan kiri jalan yang dilengkapi dengan saluran drainase
tertutup.
iii. Rencana ruang pengawasan jalan (ruwasja) 23 m yang
terdiri dari rumija 13 m dan garis sempadan bangunan
pada kanan dan kiri jalan minimal 5 m untuk bangunan
dengan jumlah lantai 2 lantai..
iv. Rencana ruang pengawasan jalan (ruwasja) 33 m yang
terdiri dari rumija 13 m dan garis sempadan bangunan
pada kanan dan kiri jalan minimal 10 m untuk
bangunan dengan jumlah lantai 4 lantai..
v. Rencana ruang pengawasan jalan (ruwasja) 43 m yang
terdiri dari rumija 13 m dan garis sempadan bangunan
pada kanan dan kiri jalan minimal 15 m untuk
bangunan dengan jumlah lantai 6-8 lantai.

c. Penataan koridor jalan lokal sekunder Jalan Jl. Dadaha,


dengan arahan pemanfaatan ruang jalan adalah sebagai
berikut:
i. Rencana ruang manfaat jalan (rumaja) minimal 5 m yang
terdiri dari jalur pergerakan kendaraan bermotor 2 jalur,
16

2 lajur satu arah dengan perkerasan aspal selebar 5 m


dengan lebar setiap jalur 2,5 m;
ii. Rencana ruang milik jalan (rumija) 7 m yang terdiri dari
rumaja 5 m terdiri dari, pengembangan jalur pejalan kaki
dan ruang utilitas selebar 1 m pada kanan dan kiri jalan
yang dilengkapi dengan saluran drainase tertutup.
iii. Rencana ruang pengawasan jalan (ruwasja) 11 m yang
terdiri dari rumija 7 m dan garis sempadan bangunan
pada kanan dan kiri jalan minimal 2 m.

d. Penataan koridor jalan lokal sekunder Jalan Jl. Cikalang


Girang, dengan arahan pemanfaatan ruang jalan adalah
sebagai berikut:
i. Rencana ruang manfaat jalan (rumaja) minimal 5 m yang
terdiri dari jalur pergerakan kendaraan bermotor 2 jalur,
2 lajur satu arah dengan perkerasan aspal selebar 5 m
dengan lebar setiap jalur 2,5 m;
ii. Rencana ruang milik jalan (rumija) 7 m yang terdiri dari
rumaja 5 m terdiri dari, pengembangan jalur pejalan kaki
dan ruang utilitas selebar 1 m pada kanan dan kiri jalan
yang dilengkapi dengan saluran drainase tertutup.
iii. Rencana ruang pengawasan jalan (ruwasja) 11 m yang
terdiri dari rumija 7 m dan garis sempadan bangunan
pada kanan dan kiri jalan minimal 2 m.
e. Penataan koridor jalan lokal sekunder Jalan Jl. Ibu Apipah,
dengan arahan pemanfaatan ruang jalan adalah sebagai
berikut:
i. Rencana ruang manfaat jalan (rumaja) minimal 8 m yang
terdiri dari jalur pergerakan kendaraan bermotor 2 jalur,
2 lajur satu arah dengan perkerasan aspal selebar 8 m
dengan lebar setiap jalur 4 m;
ii. Rencana ruang milik jalan (rumija) 12 m yang terdiri dari
rumaja 8 m, titik hijau sempadan jalan 0,5 m pada
kanan dan kiri jalan setiap 5 meter, pengembangan jalur
pejalan kaki dan ruang utilitas selebar 2 m pada kanan
dan kiri jalan yang dilengkapi dengan saluran drainase
tertutup.
iii. Rencana ruang pengawasan jalan (ruwasja) 22 m yang
terdiri dari rumija 12 m dan garis sempadan bangunan
pada kanan dan kiri jalan minimal 5 m untuk bangunan
dengan jumlah lantai 2 lantai.
iv. Rencana ruang pengawasan jalan (ruwasja) 34 m yang
terdiri dari rumija 12 m dan garis sempadan bangunan
pada kanan dan kiri jalan minimal 10 m untuk
bangunan dengan jumlah lantai 4 lantai..
v. Rencana ruang pengawasan jalan (ruwasja) 42 m yang
terdiri dari rumija 12 m dan garis sempadan bangunan
pada kanan dan kiri jalan minimal 15 m untuk
bangunan dengan jumlah lantai 6 lantai.
f. Penataan koridor jalan lokal sekunder Jalan Jl. BKR,
dengan arahan pemanfaatan ruang jalan adalah sebagai
berikut:
i. Rencana ruang manfaat jalan (rumaja) minimal 9 m yang
terdiri dari jalur pergerakan kendaraan bermotor 2 jalur,
2 lajur satu arah dengan perkerasan aspal selebar 9 m
dengan lebar setiap jalur 4,5 m;
ii. Rencana ruang milik jalan (rumija) 12 m yang terdiri dari
rumaja 9 m, titik hijau sempadan jalan 0,5 m pada
kanan dan kiri jalan setiap 5 meter, pengembangan jalur
17

pejalan kaki dan ruang utilitas selebar 1,5 m pada kanan


dan kiri jalan yang dilengkapi dengan saluran drainase
tertutup.
iii. Rencana ruang pengawasan jalan (ruwasja) 22 m yang
terdiri dari rumija 12 m dan garis sempadan bangunan
pada kanan dan kiri jalan minimal 5 m.

Pasal 18

(5) Sistem sirkulasi pejalan kaki sebagaimana dimaksud dalam


ayat (1) huruf b adalah pengembangan jalur pejalan kaki
sebagai berikut:
a. Mengembangkan plaza pejalan kaki dengan menutup jalan
kendaraan di depan GOR Sukapura – GOR GGM membentuk
koridor pejalan kaki yang menarik.
b. Mengembangkan jalur pejalan kaki menerus sepanjang Jl.
BKR menuju Jl. Siliwangi, sehingga tercipta suatu koridor
tematik yang menarik mendukung fungsi kuliner;
c. Mengembangkan jalur pejalan kaki menerus sepanjang Jl.
Ibu apipah menuju Jl. KHZ Mustofa sehingga tercipta suatu
koridor tematik yang menarik mendukung fungsi kuliner;
d. Mengembangkan jalur pejalan kaki menerus sepanjang Jl.
Cikalang Girang menuju Jl. Dadaha, mendukung fungsi
sirkulasi lingkungan dan penghubung menuju PTN UPI.
(6) Sistem sirkulasi pejalan kaki sebagaimana dimaksud dalam
ayat (5) harus memenuhi ketentuan sebagai berikut:
(7) Sistem sirkulasi pejalan kaki sebagaimana dimaksud dalam
ayat (1) huruf b diatur dengan ketentuan sebagai berikut:
a. Lebar jalur pejalan kaki minimal jalur pejalan kaki adalah
1,5 m
b. Bahan material perkerasan jalur pejalan kaki yang dapat
menyerap air (tidak licin)
c. Permukaan jalur pejalan kaki harus rata / tidak naik turun
d. Permukaan trotoar teratur rapi
e. Permukaan jalur pejalan kaki harus tidak licin, tidak terjal,
tidak bertingkat, tidak retak, tidak becek, tidak berlubang,
tidak timbul
f. Permukaan perkerasan dapat dibuat dari blok beton,
perkerasan aspal atau plesteran
g. Permukaan jalur pejalan kaki harus memiliki tingkat
kelandaian tidak melebihi dari 8,33% (tinggi maksimum 15
Cm)
h. Permukaan Ramp jalur pejalan kaki memiliki tekstur yang
tidak licin dan kemiringan Ramp < 5%
i. Tekstur permukaan jalur pejalan kaki diberikan alat bantu
guiding block bagi tuna netra
j. Penempatan pohon peneduh setiap 5 meter pada jalur
pejalan kaki dengan lebar 2 meter, sedangkan untuk jalur
pejalan kaki dengan lebar 1,5 meter diletakan titik hijau per
10 meter dan pot tanaman perdu.

Pasal 19

(8) Sistem parkir sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf c


diatur dengan ketentuan sebagai berikut:
a. Penataan sistem parkir di kawasan perencanaan
direncanakan dengan sistem off-street parking di dalam
halaman kapling, serta on-street parking di beberapa ruas
jalan lokal dengan lebar minimal 8 meter;
18

b. Pelataran parkir dapat disediakan baik di halaman depan


bangunan, di samping dan di belakang bangunan dengan
menggunakan penerangan yang cukup.
c. Sistem parkir dapat dilakukan dengan menyediakan
kantong-kantong parkir dengan aksesibilitas ke segala arah
dan dapat mengakses langsung ke jalur pejalan kakisetiap
maksimal 400 meter.
d. Zona parkir on street pada jalan lokal/ lingkungan
diperbolehkan dan tidak menggaggu sirkulasi kendaraan
e. Pada parkir on street sebaiknya sejajar dengan ruas jalan
(tanpa sudut kemiringan)
f. Lebar Rumaja minimum jalan lokal untuk parkir pada badan
jalan adalah 8 m pada koridor jalan 2(dua) jalur dan 6 m
pada koridor jalan 1(satu) jalur, ketentuan ini berlaku setiap
1 arah, maka bila ada 2 arah maka lebar minimum dikali
2(dua)
g. Pola parkir parallel dengan arahan parkir on street
h. Sepanjang tidak menimbulkan kemacetan dan menimbulkan
bahaya
i. Setiap bangunan dengan fungsi perdagangan, perkantoran,
pendidikan, sarana pelayanan umum, wajib memiliki lahan
parkir yang memadai
j. Pada fungsi perdagangan, perkantoran pada jalan lokal
dengan minimum GSB 5 m dianjurkan memiliki parkir
kendaraan dalam area persil atau dengan pengembangan
lantai pertama sebagai area parkir;
k. Dengan ketentuan KDH minimal 10% maka area parkir wajib
memiliki pohon peneduh minimal 1 buah pohon ukuran
besar, sesuai luasan kavling.
l. Pada fungsi perdagangan, perkantoran pada jalan lokal
dengan minimum GSB 10 – 15 m dianjurkan memiliki parkir
kendaraan dalam area persil dan pengembangan basement
terutama untuk bangunan dengan jumlah lantai 6 lantai.
m. Material yang digunakan pada lahan parkir merupakan
material yang memiliki koefisien daya serap air yang besar.
Karena lahan parkir yang cukup luas, sebaiknya sistem
drainase yang digunakan juga dapat menyerap dan
mengalirkan air limpasan permukaan dengan cepat.
n. Material yang digunakan pada lahan parkir pada kawasan
Kawaluyaan diarahkan dan dianjurkan untuk menggunakan
Paving Block (a), Grass Block (b), dan Grass Matte (c)

(9) Larangan Parkir on street pada kawasan adalah pada ruang


dengan ketentuan sebagai berikut;
a. Sepanjang 6 meter sebelum dan sesudah tempat
penyeberangan pejalan kaki atau tempat penyeberangan
sepeda yang telah ditentukan
b. Sepanjang 50 meter sebelum dan sesudah jembatan
c. Sepanjang 25 meter sebelum dan sesudah tikungan tajam
dengan radius kurang dari 500 m
d. Sepanjang 25 meter sebelum dan sesudah persimpangan
e. Sepanjang 6 meter sebelum dan sesudah akses bangunan
gedung
f. Sepanjang 6 meter sebelum dan sesudah keran pemadam
kebakaran atau sumber air sejenis

Paragraf 5
Ruang Terbuka
Pasal 20
19

(1) Ruang terbuka meliputi:


a. Ruang terbuka publik; dan
b. Ruang terbuka privat

Pasal 21

(1) Ruang terbuka publik sebagaimana dimaksud dalam ayat (1)


huruf a diatur sebagai berikut:
a. Mempertahankan ruang terbuka hijau blok inti
(Sekitar Lapangan Dadaha/ GOR Sukapura/ Stadion
Dadaha), dengan mempertahankan kawasan sebagai taman
kota dan pengembangan ruang terbuka hijau Publik tematik;
b. Mempertahankan ruang terbuka non hijau pada blok
inti (Sekitar Lapangan Dadaha/ GOR Sukapura/ Stadion
Dadaha), dengan pengembangan RTNH yang menarik dan
menjadi tujuan wisata warga kota.
c. Mengarahkan fungsi perdagangan dan jasa linier, serta
permukiman pada Koridor Jl. BKR, dan Jl. Lingkar dadaha,
dengan arahan KDH 20% untuk pembangunan bangunan
baru, sedangkan untuk bangunan yang sudah ada saat ini
diarahkan untuk mengembangkan penanaman pohon
peneduh, penggunaan material perkerasan lahan parkir yang
mampu meresapkan air dengan penggunaan grass block,
pembuatan sumur resapan.
d. Penertiban ruang terbuka hijau Sempadan Sungai
Cimulu dan konsolidasi lahan pada sempadan sungai untuk
kemudian mengembalikan ruang terbuka hijau Sempadan
Sungai Cimulu menjadi fungsi ruang terbuka hijau taman
kota yang rekreatif dan pengembangan ruang plaza pejalan
kaki/ promenade yang dapat berfungsi temporer sebagai
ruang kuliner;
e. Pengembangan jalur hijau jalan dengan penanaman
pohon peneduh pada koridor setiap 5-10 meter.
f. Pengembangan lokasi resapan air hujan dan bio swale
titik-titik genangan dan banjir, sehingga run off tidak
dialirkan namun diresapkan menjadi cadangan air tanah.
g. Pengemabangan fasilitas rain water harvesting
(penampungan air hujan) sebagai reservoir air Kawasan
Dadaha untuk kegiatan menyiram tanaman dan cadangan
air kawasan.
h. Pengembangan RTH peneduh sempadan jalan juga
dapat berkontribusi sebesar rata-rata 3% dari kebutuhan
RTH kawasan, penanaman pohon peneduh dapat berguna
untuk menurunkan suhu kawasan, serta meningkatkan
kenyamanan iklim mikro.
i. Penetapan ruang terbuka hijau sempadan sungai dan
irigasi selebar 5 meter dari tepi sungai/ titik pasang tertinggi
atau selebar 5 meter dari dinding sungai/ irigasi yang
diperkeras.

Pasal 22

(1) Ruang terbuka privat sebagaimana dimaksud dalam ayat (1)


huruf b diatur sebagai berikut:
a. Ruang terbuka privat merupakan ruang terbuka hijau yang
dimiliki dan dikelola oleh perseorangan, seperti kebun,
20

halaman rumah/gedung miliki perseorangan, atau


koorporasi yang ditanami tumbuhan.
b. Ruang terbuka privat yang berada di kawasan permukiman
direncanakan untuk di gunakan sebagai lahan parkir
kendaraan pribadi atau sebagai halaman yang ditanami
pohon peneduh sebagai pembentuk iklim mikro depan
bangunan dan peneduh area parkir kendaraan.

Paragraf 6
Ruang Terbuka Hijau dan Tata Hijau
Pasal 23

(1) Pola tata vegetasi dan penciptaan iklim mikro merupakan unsur
penting dalam penciptaan ruang terbuka pada iklim tropis.
(2) Penanaman pohon peneduh, terutama pada ruang terbuka
umum yaitu pada jalur hijau sisi jalur pejalan kaki dengan
jarak penanaman setiap 5-10 meter.
(3) Selain sebagai peneduh, pola tata hijau dilakukan sebagai
pengarah, terutama pada jalur pejalan kaki sisi jalan.
(4) Vegetasi eksisting yang sudah memberikan karakter pada
koridor tetap dipertahankan.

Paragraf 7
Tata Kualitas Lingkungan
Pasal 24

(1) Tata kualitas lingkungan meliputi:


a. Identitas Lingkungan, yang diwujudkan melalui pengaturan
dan perancangan elemen fisik dan non fisik lingkungan;
b. Orientasi Lingkungan, yang merupakan perancangan elemen
fisik dan non fisik guna membentuk lingkungan yang
informatif sehingga memudahkan pemakai untuk
berorientasi dan bersirkulasi; dan
c. Wajah jalan, yang merupakan perancangan elemen fisik dan
non fisik guna membentuk lingkungan berskala manusia
sebagai pemakainya pada suatu ruang publik ataupun pada
jalur pejalan kaki.
d. Perabot jalan/ street furniture, yang merupakan elemen fisik
yang akan mempengaruhi karakter ruang dan pada akhirnya
akan mempengaruhi citra kota;

Pasal 25

(2) Identitas lingkungan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1)


huruf a meliputi :
a. Penataan signage yang terintegrasi dengan perabot jalan dan
tidak mengganggu aksesibilitas pejalan kaki maupun
kendaraan;
b. Desain signage mengacu pada konteks karakter koridor jalan
atau mengacu pada ketentuan yang berlaku, jelas,
informative dan mudah dibaca;
c. Penataan tata informasi nama bangunan pada kawasan
perencanaan harus terbaca jelas dan sebaiknya terdesain
dengan baik dan menjadi bagian dari komposisi desain
bangunan;
(3) Orientasi lingkungan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1)
huruf b meliputi :
21

a. Penataan tata informasi penunjuk arah dan rambu pada


kawasan perencanaan harus terbaca jelas, baik bagi
kendaraan maupun manusia skala pedestrian; dan
b. Penataan reklame pada kawasan perencanaan, baik itu skala
bangunan maupun skala pejalan kakiharus mengupayakan
keseimbangan, keterkaitan dan keterpaduan dengan semua
jenis elemen pembentuk wajah jalan atau perabot jalan lain
dalam hal fungsi, estetis dan sosial
(4) Wajah jalan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf c
meliputi :
a. Penataan vegetasi pada jalur pejalan kaki dan dalam kapling
privat;
b. Penataan pencahayaan buatan, harus disesuaikan dengan
kebutuhan jenis ruang terbuka hijau dan sempadan jalan;
dan
c. Penataan perabot jalan di kawasan perencanaan diletakkan
pada jalur pedestrian, ruang terbuka publik, dan ruang
terbuka hijau.
(5) Perabot jalan sebagaimana dimaksud dalam ayat (4) huruf d
meliputi :
a. Penataan tempat sampah antara lain:
i. Peletakan tempat sampah umum ditetapkan pada tiap
jarak 25m;
ii. Peletakan tempat sampah umum tidak boleh
menggangu sirkulasi pejalan kaki;
iii. Penataan tempat duduk antara lain:
iv. Peletakan bangku jalan ditetapkan pada tiap jarak 25 m
diberi jarak 5 m dengan tempat sampah umum;
v. Peletakan bangku jalan tidak boleh menggangu
sirkulasi pejalan kaki;
b. Penataan lampu Penerangan Jalan Umum (PJU) dan pejalan
kaki antara lain:
i. Peletakan lampu Penerangan Jalan Umum (PJU)
ditempatkan pada jalur pejalan kaki dengan jarak
maksimum setiap 50 meter;
ii. Peletakan lampu penerangan pejalan kaki adalah setiap
jarak 10 meter;
iii. Desain lampu Penerangan Jalan Umum (PJU) dan
pejalan kaki harus bercirikan dan mencitrakan nuansa
khas lokal yang ditetapkan pada masing-masing blokl;
iv. Lampu yang ditempatkan berselang seling dengan
pepohonan perlu menghindari pemilihan pohon yang
bermahkota lebar agar kerimbunannya tidak
menghalangi sinar lampu;
v. Sumber tenaga lampu Penerangan Jalan Umum (PJU)
agar dipisahkan dengan kapling sekitarnya, sehingga
pada saat terjadi pemadaman listrik lokal, lampu
penerangan jalan masih tetap menyala.
c. Penataan papan informasi antara lain:
i. Peletakan papan informasi ditempatkan berdekatan
dengan halte;
ii. Peletakan papan informasi tidak boleh menggangu
sirkulasi pejalan kaki;
iii. Bentuk papan informasi harus bercirikan dan
mencitrakan nuansa khas lokal.
d. Desain elemen pelengkap jalan/street furniture disediakan
space untuk sponsor sebagai media promosi.
e. Penataan halte angkutan umum lain:
i. Peletakan halte angkutan umum setiap 400 m dan
22

lokasi dengan pengguna angkutan umum dengan


intensitas tinggi seperti sekolah;
ii. Peletakan papan informasi penanda halte angkutan
tidak boleh menggangu sirkulasi pejalan kaki;
iii. Peletakan papan informasi menandakan halte angkutan
diletakan pada jalan yang lebarnya terbatas, dengan
lebar jalan < 8 m.
iv. Peletakan halte angkutan diletakan pada jalan yang
lebarnya minimal 8 m;
v. Shelter becak di arahkan pada titik-titik yang
diperbolehkan yaitu : Shelter Becak GOR Sukapura,
Shelter Becak Pasar Kojengkang, Shelter Becak Taman
JAGAYA.

f. Penataan penamaan jalan antara lain:


i. Peletakan penamaan jalan setiap memasuki nama jalan
yang berbeda;
ii. Peletakan penamaan jalan tidak boleh menggangu
sirkulasi pejalan kaki;
iii. Peletakan penamaan jalan diletakan pada bahu jalan
dan jalur pejalan kaki dengan tinggi minimal 2,5 meter
dari permukaan jalur pejalan kaki;
iv. Penamaan jalan harus mudah terbaca oleh pengendara
kendaraan;
g. Penataan penamaan toko dan bangunan retail antara lain:
v. Peletakan penamaan toko/ bangunan perdagangan
dianjurkan dengan tipe signage (wall sign), free standing
signage di dalam persil bangunan, free standing sign
dapat berupa neon box, papan informasi (plat)
vi. Bangunan toko/ retail/ perdagangan kuliner
dianjurkan memiliki kantilever pada bangunan sebagai
kanopi dan dapat berfungsi sebagai elemen ornamen
bangunan, serta tempat peletakan penamaan toko.

Paragraf 8
Sistem Prasarana dan Utilitas Lingkungan
Pasal 26
(1) Sistem utilitas pada rencana umum RTBL Dadaha Kota
Tasikmalaya meliputi:
a. Sistem pengelolaan sampah;
b. Sistem penyediaan air bersih dan atau minum;
c. Sistem pengelolaan air limbah;
d. Sistem drainase;
e. Listrik; dan
f. Telekomunikasi.
Sistem Pengolahan Sampah
Pasal 27

(1) Pengelolaan sampah dipermukiman dilaksanakan dengan cara:


a. Menyediakan wadah sampah minimal 2 (dua) buah per
rumah untuk wadah sampah organik dan anorganik;
b. Menempatkan wadah sampah anorganik di halaman
bangunan;
c. Memilah sampah sesuai jenis yaitu sampah organik dan
anorganik masukan langsung ke masing-masing wadahnya;
(2) Pengumpulan sampah dilaksanakan dengan cara:
a. Menggunakan gerobak atau motor dengan bak terbuka atau
mobil bak terbuka bersekat;
b. Menggunakan gerobak atau motor dengan bak terbuka atau
23

mobil bak terbuka tanpa sekat; dan


c. Mengangkut sampah dari tempat pembuangan sampah
terpadu (tps).
(3) Pengangkutan sampah dari TPS atau TPS terpadu dilaksanakan
dengan cara:
a. Diangkut ke TPA;
b. Penyediaan fasilitas kebersihan di setiap kawasan sesuai
kebutuhan masng-masing kawasan;

Sistem Penyediaan Air Bersih


Pasal 28

(1) Layanan air bersih diberikan oleh PDAM atau Sumur Bor tanah
dangkal.
(2) Guna menjaga dan meminimalkan gangguan pengembangan
jaringan pipa mengikuti ruas jalan agar mudah dalam
pemeriksaan dan pemeliharaan, dengan menggunakan pipa
primer berdiameter 150-300 mm, pipa sekunder berdiameter
100-150 mm, dan pipa tersier berdiameter 75-100 mm, yang
ditanam dengan kedalaman 1 m dan lebar (kotak utilitas/box
utility)1,5 m.
(3) Jaringan pipa air terintegrasi dengan jaringan utilitas lain yang
berada di bawah tanah.

Sistem Pengelolaan Air Limbah


Pasal 29

Sistem pengelolaan air limbah menggunakan sistem pengelolaan


limbah cair yang setempat dengan menggunakan tangki septik dan
IPAL.

Sistem Drainase
Pasal 30

(1) Penataan Drainase diarahkan sebagai berikut :


a. Sistem drainase terintegrasikan dengan sistem penyediaan
air bersih dan terpisah dari saluran limbah cair.
b. Saluran tertutup diarahkan dengan tinggi saluran drainase
minimal 0.5 m dan lebar minimal sebesar 1 m dan dilengkapi
dengan bak kontrol atau bukaan yang sewaktu-waktu dapat
dibuka dengan jarak setiap 50 m;
c. Terdapat saluran penghubung saluran drainase lingkungan
dari badan jalan menuju saluran drainase kota;
d. Badan Jalan diarahkan memiliki kemiringan 1% s.d 1.5 %
yang menurun ke sisi saluran kota yang terhubung dengan
inlet saluran drainase setiap 10 meter;
e. Aliran air drainase diarahkan pada sungai di sekitar
kawasan.
Listrik
Pasal 31

(1) Pelayanan listrik berasal dari PLN menggunakan jaringan out


bow dengan tiang-tiang yang disesuaikan jaraknya;
24

(2) Jaringan kabel listrik pada kawasan padat bangunan idealnya


menggunakan jaringan kabel bawah tanah (box utility).

Telekomunikasi
Pasal 32

(1) Pelayanan telekomunikasi disesuaikan dengan ketersediaan


satuan sambungan telepon PT. Telkom dan provider selular
yang tersedia.
(2) Jaringan kabel telepon idealnya menggunakan jaringan kabel
bawah tanah (box utility).
(3) Jaringan kabel telepon bawah tanah sebagaimana dimaksud
pada ayat (2) direncanakan mengikuti rute sisi jalan guna
mencapai pelanggan yang ditempatkan secara terpadu
bersamaan dengan kabel listrik di dalam pipa PVC berdiameter
8” dengan manhole setiap 25 m.

Paragraf 9
Rencana Pengendalian PKL
Pasal 33

Rencana pengendalian pedagang kaki lima (PKL) dilaksanakan


dengan cara:
a. membatasi dan mengendalikan pertumbuhan PKL terutama
pada koridor utama kawasan, seperti Koridor KH. ZAenal
Mustofa, Koridor BKR, Koridor Ibu Apipah, Koridor
Sempadan Sungai Cimulu dan Koridor Dadaha-Cikalang
Girang;
b. PKL di berikan tempat khusus sesuai pasal 9 ayat 8, yaitu
pada ;
i. Ruang informnal Taman JAGAYA dan Pasar Kojengkang;
ii. Ruang informal pada sempadan sungai/ irigasi Cimulu;
iii. PKL diarahkan berada pada lahan publik maupun lahan
privat dengan bersyarat;
c. PKL tidak diperkenankan mengakusisi ruang terbuka hijau
maupun jalur hijau yang telah ditetapkan; dan
d. menetapkan titik-titik lokasi PKL yang sesuai (PKL yang
bersifat permanen maupun sementara dan tidak sesuai
dengan peruntukannya (tidak diperkenankan sebagai tempat
usaha).

Bagian Kedua
Panduan Peraancangan

Pasal 34
(1) Panduan rancangan kawasan meliputi ketentuan dasar
implementasi rancangan dan prinsip-prinsip pengembangan
rancangan, terdiri dari :
a. Panduan perancangan penggunaan lahan mikro;
b. Panduan perancangan bentuk dan tata massa bangunan;
c. Panduan perancangan garis sempadan bangunan dan jarak
bebas
d. Panduan perancangan orientasi bangunan
e. Panduan perancangan pengolahan fasad bangunan
f. Panduan perancangan sirkulasi pejalan kaki
g. Panduan perancangan parkir
h. Panduan perancangan ruang terbuka hijau
25

i. Panduan perancangan utilitas bangunan dan lingkungan


j. Panduan perancangan tata informasi dan perabot jalan/
street furniture.

(2) Panduan rancangan kawasan dijelaskan pada lapiran peraturan


wali kota berupa dokumen RTBL Kawasan Dadaha;

BAB VI
RENCANA INVESTASI
Pasal 35

(1) Kegiatan pelaksanaan Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan


(RTBL) Kawasan Dadaha Kota Tasikmalaya dilakukan oleh
pemerintah Kota Tasikmalaya, pihak swasta, dan masyarakat
penghuni;
(2) Kegiatan pembangunan sebagaimana dimaksudkan pada ayat
(1), harus mengacu kepada panduan regulasi yang lebih tinggi
yang ditetapkan oleh Pemerintah Pusat dan Propinsi; dan
(3) Kegiatan pembangunan oleh masyarakat sebagaimana
dimaksudkan pada ayat (1), dilaksanakan melalui
pembangunan fisik bangunan di dalam lahan yang dikuasainya,
termasuk pembangunan ruang terbuka hijau, pengaturan
pagar, dan mengerjasamakan halaman depannya sebagai lahan
parkir di halaman (off-street parking) yang terintegrasi dengan
persil-persil disebelahnya dengan tetap mengacu pada syarat
dan ketentuan berlaku.

Pasal 36

(1) Skenario rencana investasi yang akan dilakukan kawasan


perencanaan mencangkup 3 tahapan:
a. Tahap I – jangka pendek: Penataan blok inti sekitar
Lapangan Upacara dan Stadion Dadaha, dan penataan RTH
Publik dan RTNH Publik sekitar Lapangan Dadaha , yang
direncanakan dalam 1 s.d 2 tahun seperti:
1. Penataan plaza pejalan kaki di depan GOR GGM- GOR
Sukapura
2. Penataan jalur pejalan kaki sekitar Lapangan Upacara
Dadaha
3. Pengembangan Ampiteahter Kawasan Dadaha.
4. Penataan Pasar Kojengkang dengan pembangunan RTNH
Publik sebagai tempat PKL
5. Penataan PKL dan taman JAGAYA dengan pembangunan
RTNH Publik sebagai tempat PKL
6. Revitalisasi Bangunan GOR Sukapura, GOR GGM dan
GOR Susisusanti
7. Pengembangan atraksi pada ruang publik di Kawasan
Dadaha dengan melibatkan komunitas kreatif kota
26

8. Pembangunan saluran drainase tertutup dan jalur pejalan


kaki sepanjang koridor jalan JL. Lingkar Dadaha –
Stadion – Belakang GOR GGM dan Jl. Dadaha hingga Jl.
Cikalang Girang
9. Penghijauan dengan penanaman pohon peneduh dan
tanaman gantung pada koridor Jl. Dadaha hingga Jl.
Cikalang Girang
b. Tahap – 2 jangka menengah : Penataan koridor jalan utama
kawasan untuk meningkatkan aksesibilitas kawasan dadaha
, yang direncanakan dalam 2 s.d 3 tahun seperti:
1. Penataan koridor Jl. BKR dengan pelebaran jalan melalui
proses konsolidasi lahan
2. Pembangunan jalur pejalan kaki dan pembuatan drainase
penutup sepanjang koridor Jl. BKR dan Jl. Ibu Apipah
3. Pembangunan saluran drainase tertutup dan jalur pejalan
kaki sepanjang koridor Jl. BKR dan Jl. Ibu Apipah
4. Pembangunan sempadan jalan untuk tempat duduk-
duduk dan aktif frontage dengan material ramah
lingkungan sepanjang koridor Jl. BKR dan Jl. Ibu Apipah
5. Penempatan street furniture koridor sepanjang koridor Jl.
BKR dan Jl. Ibu Apipah
6. Penataan koridor Jl. Dadaha dengan penertiban
Sempadan Irigasi Cimulu dan pengembangan spot kuliner
pada sempadan sungai;
c. Tahap III – jangka panjang: pengendalian pembangunan
kawasan dan implementasi RTBL Kawasan Dadaha.
BAB VII
KETENTUAN PENGENDALIAN RENCANA
Bagian Satu
Pengendalian Pemanfaatan Ruang
Pasal 37

(1) Pengendalian pemanfaatan ruang dilakukan melalui beberapa


tahapan kegiatan diantaranya:
a. penetapan pemanfaatan lahan;dan
b. perizinan;
c. pemberian insentif dan disinsentif;
d. pengenaan sanksi.
(2) Pemanfaatan lahan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf
a, merupakan ketentuan yang mengatur persyaratan
pemanfaatan ruang dan ketentuan pengendalian yang disusun
pada koridor perancangan peruntukan.
(3) Perizinan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b dalam
pemanfaatan ruang diatur sesuai ketentuan dalam undang-
undang penataan ruang berdasarkan kewenangan yang
dimiliki pemerintah Kota Tasikmalaya.
(4) Izin pemanfaatan ruang harus dilakukan melalui prosedur yang
benar, apabila terbukti tidak sesuai dengan Rencana Tata
Ruang Wilayah, Pemerintah Kota Tasikmalaya sesuai dengan
kewenangannya dapat membatalkan perizinan.
(5) Perizinan pemanfaatan ruang dimaksudkan sebagai upaya
penertiban pemanfaatan ruang diatur dan diterbitkan oleh
Pemerintah Kota Tasikmalaya sesuai dengan kewenangan dan
rencana tata ruang yang berlaku.
(6) Dalam hal pemanfaatan ruang yang tidak sesuai dengan
rencana tata ruang, baik yang dilengkapi dengan izin maupun
yang tidak memiliki izin, dikenai sanksi sesuai ketentuan
peraturan perundang-undangan.
(7) Pemberian insentif dan disinsentif dalam pengendalian
27

pemanfaatan ruang dilakukan supaya pemanfaatan ruang yang


dilakukan sesuai dengan rencana tata ruang yang sudah di
tetapkan.
(8) Insentif merupakan perangkat atau upaya untuk memberikan
imbalan terhadap pelaksanaan kegiatan yang sejalan dengan
rencana tata ruang, berupa:
a. Keringanan pajak, pemberian kompensasi, subsidi silang,
imbalan, sewa ruang, dan urun saham;
b. Pembangunan serta pengadaan infrastruktur;
c. Kemudahan prosedur perizinan; dan/atau
d. Pemberian penghargaan kepada masyarakat,
e. Swasta dan/atau pemerintah daerah.
(9) Disinsentif merupakan perangkat untuk mencegah, membatasi
pertumbuhan, atau mengurangi kegiatan yang tidak sejalan
dengan rencana tata ruang, berupa:
a. Pengenaan pajak yang tinggi yang disesuaikan dengan
besarnya biaya yang dibutuhkan untuk mengatasi dampak
yang ditimbulkan akibat pemanfaatan ruang; dan/atau
b. Pembatasan penyediaan infrastruktur, pengenaan
kompensasi, dan penalti;
(10) Insentif dan disinsentif dalam penataan bangunan dan
lingkungan diberikan dengan tetap menghormati hak
masyarakat.

(11)Pemberian sanksi sebagaimana dalam dimaksud Pasal 37 ayat


(1) huruf d bahwa setiap orang atau badan hukum yang dalam
pemanfaatan ruang melanggar rencana tata bangun
lingkungan dikenai sanksi administratif terdiri atas:
a. Peringatan tertulis;penghentian sementara kegiatan;
b. Penghentian sementara pelayanan umum;
c. Penutupan lokasi;
d. Pencabutan izin;
e. Pembatalan izin;
f. Pembongkaran bangunan;
g. Pemulihan fungsi ruang; dan/atau
h. Denda administrasi.

Bagian Kedua
Kajian Analisis Mengenai Dampak Lingkungan
Pasal 38

(1) Setiap penyelenggaraan pembangunan gedung atau


pengembangan sub kawasan yang berada pada koridor RTBL
harus memenuhi kriteria penyusunan AMDAL yang diatur
dalam ketentuan Peraturan Wali kota.
(2) Setiap penyelenggaraan pembangunan gedung atau
pengembangan sub kawasan yang berada pada koridor RTBL
harus memenuhi kriteria penyusunan AMDAL dan harus
dilakukan penyusunan AMDAL/UKL/UPL sesuai peraturan
perundang-undangan.
28

Bagian Ketiga
Partisipasi Masyarakat
Pasal 39

(1) Partisipasi Masyarakat dalam pemanfaatan ruang meliputi:


a. pemanfaatan ruang daratan dan ruang udara berdasarkan
peraturan perundang-undangan, agama, adat, atau
kebiasaan berlaku;
b. bantuan pemikiran dan pertimbangan berkenaan dengan
pelaksanaan pemanfaatan ruang kawasan;
c. penyelenggaraan kegiatan pembangunan berdasarkan
rencana;
d. konsolidasi pemanfaatan tanah, air, udara, dan sumber daya
alam lain untuk tercapainya pemanfaatan kawasan yang
berkualitas; pemanfaatan ruang sesuai dengan rencana;
e. perubahan atau konversi pemanfaatan ruang sesuai dengan
rencana;
f. pemberian usulan dalam penentuan lokasi dan bantuan
teknik dalam pemanfaatan ruang; dan
g. kegiatan menjaga, memelihara dan meningkatkan
kelestarian fungsi lingkungan kawasan.
(2) Partisipasi masyarakat dalam pengendalian pemanfaatan ruang
meliputi:
a. pengawasan terhadap pemanfaatan ruang kawasan,
termaksud pemberian informasi atau laporan pelaksanaan
pemanfaatan ruang kawasan; dan
b. bantuan pemikiran atau pertimbangan untuk penertiban
dalam kegiatan pemanfaatan ruang kawasan dan
peningkatan kualitas pemanfaatan ruang kawasan.

BAB VIII
PEDOMAN PENGENDALIAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN
KAWASAN
Bagian Kesatu
Pengelola Kawasan
Pasal 40

(1) Pedoman Pengendalian Pengelolaan kawasan dilaksanakan oleh


pemerintah Kota Tasikmalaya.
(2) Ketentuan pedoman pengendalian pelaksanaan pengelolaan
kawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri atas:
a. Ketentuan umum peraturan sesuai RTRW Kota Tasikmalaya,
RDTR dan RTBL;
b. Ketentuan perizinan;
c. Ketentuan pemberian insentif dan disinsentif; dan
d. Arahan pengenaan sanksi.
(3) Bagian yang mengatur mekanisme kerja, fungsi, dan tata peran
pengelola dilaksanakan oleh Dinas Tata Ruang dan Cipta
Karya Kota Tasikmalaya.
(4) Ketentuan pedoman pengendalian pelaksanaan pengelolaan
kawasan digunakan sebagai acuan dalam pelaksanaan
pengendalian pemanfaatan ruang di Kawasan Dadaha Kota
Tasikmalaya.

Bagian Kedua
29

Prosedur/Mekanisme/Tata Cara
Pengelolaan, Pemanfaatan, Pengembangan dan Perubahan
Rencana Kawasan
Pasal 41

(1) Prosedur/Mekanisme/Tata Cara Pengelolaan, Pemanfaatan,


Pengembangan dan Perubahan Rencana Kawasan, ditentukan
sebagai berikut:
a. Ketentuan umum peraturan zonasi sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 37 ayat (1) huruf a digunakan sebagai
pedoman bagi Pemerintah Kota Tasikmalaya dalam
menyusun peraturan peruntukan berdasarkan RTRW Kota
Tasikmalaya dan RTBL Kawasan Dadaha Kota Tasikmalaya
yang memuat :
1. Ketinggian bangunan;
2. peruntukan yang diperbolehkan; dan
3. pengaturan tata bangunan.
b. Ketentuan perizinan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 37
ayat (1) huruf b berupa proses administrasi dan teknis yang
harus dipenuhi sebelum kegiatan pemanfaatan ruang
dilaksanakan, untuk menjamin kesesuaian pemanfaatan
ruang dengan rencana tata bangun lingkungan yang
memuat :
a. Izin prinsip;
b. Izin lokasi;
c. Izin penggunaan pemanfaatan tanah (ippt);
d. Izin mendirikan bangunan; dan
e. Izin lainnya sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan.
c. Pemberian Insentif dan disinsentif sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 37 ayat (1) huruf c diberikan oleh pemerintah
daerah sesuai kewenangannya dengan tetap menghormati
hak masyarakat sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan;
(2) Prosedur dan tata cara pengelolaan, pemanfaatan,
pengembangan dan perubahan rencana kawasan dilalui melalui
beberapa tahapan, mulai dari tahapan pemantauan, pelaporan,
evaluasi.
(3) Apabila ditemukan tidak kesesuaian dengan rencana yang telah
ditetapkan maka perlu diadakan review untuk melakukan
perubahan atas rencana kawasan dengan melibatkan SKPD
terkait.
BAB IX
RENCANA RTBL KAWASAN DADAHA KOTA TASIKMALAYA
Pasal 42

Ketentuan rencana RTBL Kawasan Dadaha Kota Tasikmalaya yang


tertuang dalam pasal 3 dan pasal 8 diatas, Ketentuan tersebut
tercantum di dalam Lampiran peta skala 1:1000 dan Laporan
Dokuken RTBL Kawasan Dadaha Kota Tasikmalaya, yang
merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Peraturan Wali
kota ini.

BAB X
PENUTUP
Pasal 43
30

Peraturan Wali kota ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.


Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan
Peraturan Wali kota ini dengan penempatannya dalam Berita
Daerah Kota Tasikmalaya.

Diundangkan di Tasikmalaya Ditetapkan di Tasikmalaya


pada tanggal ........................ pada tanggal ......................................
SEKRETARIS DAERAH
KOTA TASIKMALAYA,

WALI KOTA TASIKMALAYA,

BERITA DAERAH

KOTA TASIKMALAYA

TAHUN NOMOR
31