Anda di halaman 1dari 19

BAB I

PENDAHULUAN

Kanker payudara adalah tumor maligna yang paling sering dijumpai pada wanita di seluruh
dunia (Kim, 2009). Pada tahun 2009, sekitar 192.370 wanita Amerika didiagnosis dengan kanker
payudara dan diperkirakan sebanyak 40.170 orang meninggal karena penyakit ini (Khan, 2010).
Di Indonesia, kanker payudara merupakan kanker dengan insidens tertinggi no.2 dan terdapat
kecenderungan jumlah kasusnya meningkat dari tahun ke tahun. Diperkirakan di Indonesia
mempunyai insidens minimal 20.000 kasus baru pertahun (Peraboi, 2003).
Kanker payudara dikenal sebagai penyakit yang heterogen, dengan karakteristik
morfologi dan klinis yang bervariasi (Rakha et al, 2007). Dari pemeriksaan imunohistokimia
dapat diketahui bahwa kanker payudara memiliki beberapa jenis reseptor, yaitu reseptor estrogen
(ER), reseptor progesteron (PR), dan, human epidermal growth factor receptor-2 (HER2).
Triple-Negative Breast Cancer kurang memiliki ekspresi dari reseptor estrogen (ER), reseptor
progesteron (PR), dan tidak kelebihan ekspresi dari protein human epidermal growth factor
receptor-2 (HER2) (Khan, 2010).
Triple-Negative Breast Cancer bertanggung jawab atas 15% dari semua karsinoma
mamma (Stead, 2009). Kanker ini lebih sering ditemukan pada wanita keturunan Afrika-
Amerika dibandingkan dengan wanita kulit putih (Stead, 2009), dan wanita-wanita usia lebih
muda (< 50 tahun) (Dolle, 2009). Pada kanker ini juga ditemukan pasien-pasien dengan mutasi
BRCA1 (Zhou, 2010).
Triple-Negative Breast Cancer diketahui memiliki sifat yang lebih agresif (Dolle, 2009),
kecenderungan untuk kambuh lebih besar (Zhou, 2010), kurangnya pilihan terapi (Khan, 2010),
dan prognosis yang lebih buruk (Zhou, 2010). Para peneliti saat ini sedang gencar melakukan
penelitian tentang faktor prognostik dan strategi terapi untuk Triple-Negative Breast Cancer.

BAB II

1
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Kanker Payudara


2.1.1. Klasifikasi Histologi WHO
Untuk kanker payudara dipakai klasifikasi histologi berdasarkan :
- WHO Histological Classification on Breast Tumors
Malignant (Carcinoma)
- Non invasive carcinoma
o Non invasive ductal carcinoma
o Lobular carcinoma in situ
- Invasive carcinoma
o Invasive ductal carcinoma
 Papillobular carcinoma
 Solid-tubular carcinoma
 Scirrhous carcinoma
o Special types
 Mucinous carcinoma
 Medullary carcinoma
 Invasive lobular carcinoma
 Adenoid cystic carcinoma
 Squamous cell carcinoma
 Spindle cell carcinoma
 Apocrine carcinoma
 Carcinoma with cartillagenous and or osseous metaplasia
 Tubular carcinoma
 Secretory carcinoma
 Others
o Paget’s Disease

2
Seluruh kanker payudara kecuali tipe medulare harus dibuat gradasi histologisnya. Sistem
gradasi histologist yang direkomendasikan adalah menurut “The Nottingham combined
histologic grade”. Gradasinya adalah menurut sebagai berikut:
Gx : grading tidak dapat dinilai
G1 : low grade (rendah)
G2 : intermediate grade (sedang)
G3 : high grade (tinggi)

2.1.2. Klasifikasi Stadium TNM (UICC/AJCC) 2006


Stadium kanker payudara ditentukan berdasarkan TNM sistem dari UICC/AJCC
tahun 2006 adalah sebagai berikut:
T = ukuran tumor primer
TX : tumor primer tidak bisa diperiksa
T0 : tidak ada bukti tumor primer
Tis : Karsinoma in situ
Tis (DCIS) : Ductal carcinoma in situ
Tis (LCIS) : Lobular carcinoma in situ
Tis (Paget) : Penyakit Paget pada puting susu tanpa disertai massa tumor
T1 : tumor ukuran 2cm (3/4 inchi) atau kurang
T1mic : mikroinvasi 0,1 cm atau kurang
T1a : tumor ukuran > 0,1 cm tapi kurang dari 0,5 cm
T1b : tumor ukuran > 0,5 cm tapi kurang dari 1 cm
T1c : tumor ukuran >1 cm tapi kurang dari 2 cm
T2 : tumor ukuran lebih dari 2 cm tapi kurang dari 5 cm (2 inchi)
T3 : tumor ukuran lebih dari 5 cm
T4 : tumor dengan ukuran berapapun yang tumbuh di dalam dinding
dada atau kulit.
T4a : ekstensi ke dinding dada, tanpa mengikutsertakan otot pektoralis
T4b : edema (termasuk peau d’orange) atau ulserasi kulit payudara,
atau nodul satelit pada kulit payudara.
T4c : T4a ditambah T4b

3
T4d : Inflamatory breast cancer

N = Kelenjar getah bening regional


NX : KGB regional tidak bisa diperiksa (telah diambil sebelumnya)
N0 : kanker tidak menyebar ke kelenjar getah bening terdekat
N1 : kanker telah menyebar 1 sampai 3 kelenjar getah bening axillary
atau sebagian kecil kanker ditemukan pada kelenjar getah bening
internal mammary pada biopsi kelenjar getah bening sentinel
N2 : kanker telah menyebar 4 sampai 9 kelenjar getah bening axillary
atau kanker telah membesar pada kelenjar getah bening internal
mammary
N3 : salah satu dari kriteria dibawah ini:
o Kanker telah menyebar 10 atau lebih kelenjar getah bening axillary
o Kanker telah menyebar ke kelenjar getah bening di bawah klavikula
(tulang collar)
o Kanker telah menyebar ke kelenjar getah bening di atas klavikula
o Kanker telah melibatkan kelenjar getah bening axillary dan membesar
pada kelenjar getah bening internal mammary
o Kanker telah melibatkan 4 atau lebih kelenjar getah bening axillary atau
sebagian kecil kanker ditemukan pada kelenjar getah bening internal
mammary pada biopsi sentinel.

Metastasis (M)
MX : adanya penyebaran jauh tidak bisa diperiksa
M0 : tidak ada penyebaran jarak jauh
M1 : penyebaran ke organ jauh ada

Setelah kategori T, N dan M ditentukan maka informasi ini akan digabung untuk proses
dinamakan pengelompokan stadium (stage grouping). Kanker dengan stadium yang sama
cenderung memiliki prognosis sama dan sering diterapi sama. Stadium ditulis dengan angka
romawi dari I sampai IV. Kanker non invasif ditulis stadium 0.
4
Tabel 2.1 Pengelompokkan stadium kanker payudara
Sumber: UICC/AJCC, 2006
Stadium Tumor primer (T) Kelenjar getah bening (N) Metastasis (M)

0 Tis N0 M0

I T1 N0 M0

IIa T0 N1 M0

IIa T1 N1 M0

IIa T2 N0 M0

IIb T2 N1 M0

IIb T3 N0 M0

IIIa T0 N2 M0

IIIa T1 N2 M0

IIIa T2 N2 M0

IIIa T3 N1 M0

IIIa T3 N2 M0

IIIb T4 N0 M0

IIIb T4 N1 M0

IIIb T4 N2 M0

IIIc Salah satu dari T N3 M0

IV Salah satu dari T Salah satu dari N M1

2.1.3. Prosedur Diagnostik


2.1.3.1. Pemeriksaan Klinis
Anamnesis:
a. Keluhan di payudara atau ketiak dan riwayat penyakitnya
a. Benjolan
b. Kecepatan tumbuh
5
c. Rasa sakit
d. Nipple discharge
e. Nipple retraksi dan sejak kapan
f. Krusta pada areola
g. Kelainan kulit: dimpling, peau d’orange, ulserasi, venektasi
h. Perubahan warna kulit
i. Benjolan ketiak
j. Edema lengan
b. Keluhan di tempat lain berhubungan dengan metastatis, al:
a. Nyeri tulang (vertebra, femur)
b. Rasa penuh di ulu hati
c. Batuk
d. Sesak
e. Sakit kepala hebat, dll
c. Faktor-faktor risiko:
a. Usia penderita
b. Usia melahirkan anak pertama
c. Punya anak atau tidak
d. Riwayat menyusui
e. Riwayat menstruasi
i. Menstruasi pertama pada usia berapa
ii. Keteraturan siklus menstruasi
iii. Menopause pada usia berapa
f. Riwayat pemakaian obat hormonal
g. Riwayat keluarga sehubungan dengan kanker payudara atau
kanker lain
h. Riwayat pernah operasi tumor payudara atau tumor
ginekologik
i. Riwayat radiasi dinding dada
Pemeriksaan Fisik
a. Status generalis, cantumkan performance status

6
b. Status lokalis :
a. Payudara kanan dan kiri harus diperiksa
b. Massa tumor :
i. Lokasi
ii. Ukuran
iii. Konsistensi
iv. Permukaan
v. Bentuk dan batas tumor
vi. Jumlah tumor
vii. Terfiksasi atau tidak ke jaringan sekitar payudara, kulit,
m.pektoralis dan dinding dada
c. Perubahan kulit
i. Kemerahan, dimpling, edema, nodul satelit
ii. Peau d’orange, ulserasi
d. Nipple
i. Tertarik
ii. Erosi
iii. Krusta
iv. Discharge
e. Status kelenjar getah bening
i. KGB aksila : jumlah, ukuran, konsistensi, terfiksir satu
sama lain atau jaringan sekitar
ii. KGB infra klavikula : idem
iii. KGB supraklavikula : idem
f. Pemeriksaan pada daerah yang dicurigai metastasis
i. Lokasi organ (paru, tulang, hepar, otak)

2.1.3.2. Pemeriksaan Radiodiagnostik/pencitraan


a. Diharuskan (disarankan)
a. USG payudara dan mamografi untuk tumor Φ 3 cm
b. Foto toraks

7
c. USG abdomen (hepar)
b. Atas indikasi
a. Bone scanning atau dan bone survey (bilamana sitologi dan atau
klinis sangat mencurigai pada lesi › 5 cm.
b. CT scan

2.1.3.3. Pemeriksaan Biopsi Aspirasi Jarum Halus – sitologi


Dilakukan pada lesi yang secara klinis dan radiologis curiga ganas.
Namun sebagai catatan, pemeriksaan ini belum merupakan Gold Standard.
Bila mampu, dianjurkan untuk diperiksa triple diagnostic.

2.1.3.4. Pemeriksaan Histopatologi (Gold Standard Diagnostic)


Pemeriksaan histopatologi dilakukan dengan potong beku dan/atau
parafin. Bahan pemeriksaan histopatologi diambil melalui:
a. Core biopsy
b. Biopsi eksisional untuk tumor ukuran ‹ 3 cm
c. Biopsi insisional untuk tumor :
a. Operabel ukuran › 3 cm sebelum operasi definitif
b. Inoperabel
d. Spesimen mastektomi disertai dengan pemeriksaan KGB
e. Pemeriksaan imunohistokimia : ER, PR, HER2, cathepsin-D, p53.

2.1.3.5. Laboratorium
Pemeriksaan laboratorium rutin dan pemeriksaan kimia darah sesuai
dengan perkiraan metastasis.

2.1.4. Skrining
Metoda :
- Perika payudara sendiri (SADARI) : dilaksanakan pada wanita usia subur, setiap
1 minggu setelah hari pertama menstruasi terakhir
- Pemeriksaan fisik

8
- Mamografi :
o Pada wanita diatas 35 tahun – 50 tahun : setiap 2 tahun
o Pada wanita diatas 50 tahun : setiap 1 tahun
Kelebihan mamografi;
o Dapat mendeteksi dini kanker payudara
Kekurangan mamografi:
o Tidak efektif digunakan pada wanita dengan payudara yang padat; usia
muda dan wanita yang menggunakan terapi pengganti hormon.

2.1.5. Prosedur terapi


- Modalitas terapi
o Operasi
 BCS (Breast Conserving Therapy)
 Simpel mastektomi
 Radikal mastektomi modifikasi
 Radikal mastektomi

o Radiasi
 Primer
 Adjuvan
 Paliatif
o Kemoterapi
 Harus kombinasi
 Kombinasi yang dipakai
• CMF
• CAF, CEF
• Taxane + Doxorubicin
• Capecetabin
o Hormonal
 Ablative : bilateral ovarektomi
9
 Additive : Tamoxifen
 Atas indikasi :
• Aromatase inhibitor
• GnRH (Gonadotropin Releasing Hormone), dsb.
- Terapi
Ad. 1 Kanker payudara stadium 0
Dilakukan : -BCS
-Mastektomi simpel
Terapi definitif pada T0 tergantung pada pemeriksaan blok parafin, lokasi
didasarkan pada hasil pemeriksaan pencitraan.
Indikasi BCS
o T : 3 cm
o Pasien menginginkan mempertahankan payudaranya
Syarat BCS
o Keinginan penderita setelah dilakukan informed consent
o Penderita dapat melakukan control rutin setelah pengobatan
o Tumor tidak terletak sentral
o Perbandingan ukuran tumor dan volume payudara cukup baik untuk
kosmetik pasca BCS
o Mamografi tidak memperlihatkan mikrokalsifikasi/tanda keganasan lain
yang difus (luas)
o Tumor tidak multipel
o Belum pernah terapi radiasi di dada
o Tidak menderita penyakit LE atau penyakit kolagen
o Terdapat sarana radioterapi yang memadai

Ad. 2 Kanker payudara stadium dini / operabel


Dilakukan : -BCS (harus memenuhi syarat di atas)
-mastektomi radikal
-mastektomi radikal modifikasi

10
Terapi adjuvan :
- Dibedakan pada keadaan : node (-) atau node (+)
- Pemberiannya tergantung dari:
o Node (-) / (+)
o ER / PR
o Usia pre menopause atau post menopause
- Dapat berupa :
o Radiasi
o Kemoterapi
o Hormonal terapi
Terapi adjuvant:
- Radiasi
Diberikan apabila ditemukan keadaan sbb :
o Setelah tindakan operasi terbatas (BCS)
o Tepi sayatan dekat (T ≥ T2)/ tidak bebas tumor
o Tumor sentral/medial
o KGB (+) dengan ekstensi ekstra kapsuler

Acuan pemberian radiasi sbb:


o Pada dasarnya diberikan radiasi lokoregional (payudara dan aksila
beserta supraklavikula, kecuali:
 Pada keadaan T ≤ T2 bila cN = 0 dan pN, maka tidak dilakukan
radiasi pada KGB aksila supraklavikula
 Pada keadaan tumor di medial/sentral diberikan tambahan radiasi
pada mamaria interna
o Dosis lokoregional profilaksis adalah 50Gy, booster dilakukan sbb:
 Pada potensial terjadi residif ditambahkan 10Gy (misalnya tepi
sayatan dekat tumor atau post BCS)

11
 Pada terdapat massa tumor atau residu post op (mikroskopik atau
makroskopik) maka diberikan boster dengan dosis 20Gy kecuali
pada aksila 15Gy.

- Kemoterapi
Kemoterapi : Kombinasi CAF (CEF), CMF, AC
Kemoterapi adjuvant : 6 siklus
Kemoterapi paliatif : 12 siklus
Kemoterapi neoadjuvan : -3 siklus pra terapi primer ditambah
-3 siklus pasca terapi primer
o Kombinasi CAF
 Dosis C : Cyclosphosfamide 500 mg/m2 hari 1
 Dosis A : Adriamycin = Doxorubicin 50 mg/m2 hari 1
 Dosis F : 5 Fluoro Uracil 500 mg/m2 hari 1
Interval : 3 minggu

o Kombinasi CEF
 Dosis C : Cyclosphosfamide 500 mg/m2 hari 1
 Dosis E : Epirubicin 50 mg/m2 hari 1
 Dosis F : 5 Fluoro Uracil 500 mg/m2 hari 1
Interval : 3 minggu

o Kombinasi CMF
 Dosis C : Cyclosphosfamide 100 mg/m2 hari 1 s/d 14
 Dosis M : Metotrexate 40 mg/m2 iv hari 1 & 8
 Dosis F : 5 Fluoro Uracil 500 mg/m2 iv hari 1
&8
Interval : 4 minggu

o Kombinasi AC

12
 Dosis A : Adriamicin
 Dosis C : Cyclosphosfamide

o Optional
 Kombinasi Taxane + Doxorubicin
 Capecitabine
 Gemcitabine

- Hormonal terapi
Macam terapi hormonal:
o Additive : pemberian tamoxifen
o Ablative : bilateral oophorectomi (ovarektomi bilateral)
Dasar pemberian : 1.pemeriksaan reseptor (ER,PR)
2.status hormonal
Additive : apabila ER (-) PR (+), ER (+) PR (-) (menopause tanpa pemeriksaan
ER dan PR)
Ablative : apabila:
o Tanpa pemeriksaan reseptor
o Premenopause
o Menopause 1-5 tahun dengan efek estrogen (+)
o Perjalanan penyakit slow growing & intermediated growing
Ad.3 Kanker payudara locally advanced (lokal lanjut)
Ad.3.1 Operable Locally advanced
Simple mastektomi/mrm + radiasi kuratif + kemoterapi adjuvant + hormonal
terapi
Ad.3.2 Inoperable Locally advanced
o Radiasi kuratif + kemoterapi + hormonal terapi
o Radiasi + operasi + kemoterapi + hormonal terapi
o Kemoterapi neo adj + operasi + kemoterapi + radiasi + hormonal terapi

13
Ad.4 Kanker payudara lanjut metastase jauh
Prinsip :
- Sifat terapi paliatif
- Terapi sistemik merupakan terapi primer (kemoterapi dan hormonal terapi)
- Terapi lokoregional (radiasi & bedah) apabila diperlukan

2.1.6. Rehabilitasi dan Follow Up


- Rehabilitasi
o Pra operatif
 Latihan pernapasan
 Latihan batuk efektif
o Pasca operatif
 Hari 1-2
• Latihan lingkup gerak sendi untuk siku dan pergelangan
tangan dan jari lengan yang dioperasi
• Untuk sisi yang sehat latihan lingkup gerak sendi lengan
secara penuh
• Untuk lengan atas bagian operasi latihan isometric
• Latihan relaksasi otot leher dan toraks
• Aktif mobilisasi

 Hari 3-5
• Latihan lingkup gerak sendi untuk bahu sisi operasi
(bertahap)
• Latihan relaksasi
• Aktif dalam sehari-hari dimana sisi operasi tidak dibebani
 Hari 6 dan seterusnya
• Bebas gerakan

14
• Edukasi untuk mempertahankan lingkup gerak sendi dan
usaha untuk mencegah/menghilangkan timbulnya
lymphedema.
- Follow up
o Tahun 1 dan 2 : kontrol tiap 2 bulan
o Tahun 3 s/d 5 : kontrol tiap 3 bulan
o Setelah tahun 5 : kontrol tiap 6 bulan
o Pemeriksaan fisik : tiap kali kontrol
o Thorax foto : tiap 6 bulan
o Lab, marker : tiap 2-3 bulan
o Mamografi kontra lateral : tiap tahun atau ada indikasi
o USG abdomen/lever : tiap 6 bulan atau ada indikasi
o Bone scanning : tiap 2 tahun atau ada indikasi

2.2. Triple-Negative Breast Cancer


2.2.1. Definisi
Triple-Negative Breast Cancer adalah kanker payudara yang kurang memiliki ekspresi
reseptor untuk estrogen, progesteron, dan human epidermal growth factor (HER2) (Khan,
2010).

2.2.2. Reseptor pada kanker payudara


Reseptor adalah struktur yang terdapat pada permukaan sel. Ketika substansi tertentu
dalam tubuh seseorang berikatan dengan reseptor tertentu, hal itu akan mencetuskan
reaksi dalam sel tersebut. Pada kanker payudara, ketika dicetuskan, reseptor estrogen,
reseptor progesteron, dan reseptor HER2, semuanya akan membuat kanker payudara
bertumbuh. Estrogen berikatan dengan reseptor estrogen. Progesteron berikatan dengan
reseptor progesteron. HER2 berikatan dengan reseptor HER2. Kanker payudara memiliki
1 atau lebih reseptor-reseptor ini. Triple-Negative Breast Cancer kurang memiliki
ketiganya.

15
2.2.3. Faktor Prognosis
Beberapa penelitian menyebutkan bahwa basal-like breast cancer memiliki beberapa
marker yang diharapkan memiliki makna klinis yang signifikan terhadap prognosis dari
Triple-Negative Breast Cancer. Jun Mo Kim, et al, meneliti ekspresi basal marker
(CK5/6, EGFR, vimentin, c-kit, p63, dan P-cadherin), dan menemukan bahwa EGFR dan
c-Kit berhubungan dengan rendahnya overall survival (OS) dan disease-free survival
(DFS). Namun, penelitian lebih lanjut masih diperlukan untuk mengetahui hubungan
antara marker dengan prognosis kanker payudara (Kim, 2009).

2.2.4. Epidemiologi
Sekitar satu juta kasus kanker payudara didiagnosis tiap tahunnya di seluruh dunia, dan
kira-kira 170.000 kasus merupakan triple-negative breast cancer. Dari seluruh kasus
triple-negative ini, 75% merupakan subtipe “basal-like” (Khan, 2010).
Sebuah studi di Amerika tahun 2006 menemukan bahwa Triple-Negative Breast
Cancer lebih sering terjadi pada wanita Afrika-Amerika daripada wanita Amerika kulit
putih, dengan perbandingan 39%:15% secara berurutan (Khan, 2010). Para peneliti
belum tahu pasti penyebabnya. Secara keseluruhan, kanker payudara sebenarnya jarang
terjadi pada wanita Afrika-Amerika dibandingkan dengan wanita kulit putih (Stead,
2009). Perbedaan ini mungkin disebabkan karena wanita Afrika-Amerika memiliki gaya
hidup yang serupa, atau ada hubungannya dengan genetik. Atau mungkin keduanya.
Kanker ini juga ditemukan pada pasien-pasien premenopause (< 50 tahun) (Dolle,
2009). Pada kanker ini juga ditemukan pasien-pasien dengan mutasi BRCA1 (Zhou,
2010).

2.2.5. Gambaran Klinis dan Prognosis


Xin Zhou, et al, melakukan sebuah penelitian pada tahun 2009 mengenai karakteristik
patologi klinik dari Triple-Negative Breast Cancer, dan didapatkan hasil sebagai berikut:
Ada 69 kasus Triple-Negative Breast Cancer dari 629 pasien kanker payudara. Pasien
premenopause, ditemukan sebanyak 49/69 pada Triple-Negative Breast Cancer, memiliki
angka yang lebih banyak daripada Non Triple-Negative Breast Cancer (p<0,05).

16
Diameter tumor pada Triple-Negative Breast Cancer rata-rata adalah 4,1 cm, lebih besar
daripada Non Triple-Negative Breast Cancer (p<0,05). Triple-Negative Breast Cancer
dengan metastasis ke limfe nodi ada sebanyak 21 kasus, dan angka kejadian metastasis ke
limfe nodi lebih rendah daripada Non Triple-Negative Breast Cancer (p<0,05). Triple-
Negative Breast Cancer dengan marker p53 positif ada sebanyak 44,9%, dan respon
keseluruhan (complete remission + partial remission) adalah 72,9%. Tidak ada
perbedaan statistik yang ditemukan antara ekspresi p53 positif dan respon keseluruhan
diantara Triple-Negative Breast Cancer dan Non Triple-Negative Breast Cancer (Zhou,
2010).
Dari sudut pandang seorang patologis, sifat agresif Triple-Negative Breast
Cancer dapat diperkirakan dari absennya reseptor hormon, ukuran tumor lebih besar dan
grading lebih tinggi. Pasien dengan Triple-Negative Breast Cancer menunjukkan waktu
bertahan hidup lebih singkat daripada pasien dengan non-TNBC (Kim, 2009). Prognosis
yang buruk tersebut penyebabnya masih belum jelas apakah hal ini karena sifat
agresifnya atau karena resistensi terhadap terapi sistemik (Dolle, 2009).
Triple-negative breast cancer memiliki sifat yang agresif; walaupun ada beberapa
laporan yang menyatakan bahwa kanker ini memiliki respon yang baik terhadap
kemoterapi, namun prognosisnya tetap buruk (Khan, 2010).

2.2.6. Penatalaksanaan
Seperti kanker payudara jenis lain, penatalaksanaan Triple-Negative Breast Cancer
adalah operasi, radiasi, dan atau kemoterapi (Winer, 2008). Tatalaksana kemoterapi
utama untuk Triple-Negative Breast Cancer biasanya adalah kombinasi dari obat-obat
kemoterapi. Kombinasi ini harus mengikutsertakan tipe obat kemoterapi yang disebut
anthracycline (doxorubicin atau epirubicin) dan cyclophosphamide (Khan, 2010).
Belum ada kombinasi kemoterapi tertentu yang dapat direkomendasikan karena
Triple-Negative Breast Cancer adalah sebuah penemuan baru, para peneliti masih
mencari kombinasi kemoterapi yang terbaik.
The Triple Negative Trial (TNT) dibuat untuk para wanita dengan Triple-
Negative Breast Cancer yang sudah menyebar ke bagian lain dari tubuh. Percobaan ini

17
membandingkan obat kemoterapi carboplatin dan docetaxel. Percobaan ini akan
berlangsung selama 6 tahun, jadi butuh waktu lama untuk mengetahui obat mana yang
bekerja lebih baik (CancerHelp, 2009).

Terapi Adjuvan Lain


Pilihan terapi kanker payudara baru-baru ini tergantung pada karakterisasi dari reseptor
hormon estrogen, progesteron, dan protein human epidermal growth factor (HER2)
(Dolle, 2009). Beberapa terapi yang sering digunakan pada kanker payudara seperti terapi
hormon atau herceptin tidak dapat bekerja pada Triple-Negative Breast Cancer. Terapi
jenis ini perlu menempel pada reseptor tertentu, dan Triple-Negative Breast Cancer tidak
punya reseptor yang benar.
Peneliti saat ini sedang mencoba terapi biologis untuk Triple-Negative Breast
Cancer. Pada sebuah studi, monoclonal antibody bevacizumab (Avastin) dan kemoterapi
paclitaxel (Taxol) tampaknya dapat mengontrol kanker payudara lanjut selama beberapa
waktu pada beberapa wanita dengan Triple-Negative Breast Cancer (Khan, 2010).

BAB III
KESIMPULAN

Kanker payudara adalah tumor maligna yang paling sering dijumpai pada wanita di
seluruh dunia. Kanker payudara dikenal sebagai penyakit yang heterogen, dengan
karakteristik morfologi dan klinis yang bervariasi. Triple-Negative Breast Cancer adalah
kanker payudara yang kurang memiliki ekspresi reseptor untuk estrogen, progesteron,
dan human epidermal growth factor (HER2). Triple-Negative Breast Cancer bertanggung
jawab atas 15% dari semua karsinoma mamma invasif. Kanker ini kebanyakan ditemukan
pada wanita keturunan Afrika-Amerika, dan wanita-wanita usia lebih muda
(premenopause). Kanker jenis ini diketahui memiliki sifat yang lebih agresif,
kecenderungan untuk kambuh lebih besar, kurangnya pilihan terapi, dan prognosis yang

18
lebih buruk. Telah ditemukan bahwa kanker yang memiliki marker EGFR dan c-Kit
positif berhubungan dengan rendahnya overall survival (OS) dan disease-free survival
(DFS). Penatalaksanaan Triple-Negative Breast Cancer adalah operasi, radiasi, dan atau
kemoterapi. Penelitian terbaru menyatakan bahwa Triple-Negative Breast Cancer
mungkin lebih sensitif terhadap kemoterapi tipe tertentu daripada kanker payudara jenis
lain. Belum ada kombinasi kemoterapi tertentu yang dapat direkomendasikan karena
Triple-Negative Breast Cancer adalah sebuah penemuan baru, para peneliti masih
mencari kombinasi kemoterapi yang terbaik.

19