Anda di halaman 1dari 6

TUGAS 7 GNSS

Imroatul Malikah (15116028)

1. Peranan Kombinasi linear data fase gps dalam proses resolusi ambiguitas fase
Pengkombinasian-linieran umumnya dilakukan terhadap data fase, ini terutama berguna
dalam proses penentuan resolusi ambiguitas fase dari hasil pengamatan fase sinyal-sinyal
GPS. Untuk keperluan penentuan ambiguitas fase sinyal GPS, ada beberapa karakteristik
yang diharapkan dipunyai oleh sinyal kombinasi linier, yaitu :
 Ambigutinya tetap bilangan bulat (integer)

 Panjang gelombangnya relatif panjang

 Efek dari refraksi ionosfir relatif kecil

 Noise dari pengamatan relatif tetap kecil

Seandainya data pengamatan fase dari sinyal L1 dan L2 dinyatakan sebagai φ1 dan φ2
(dinyatakan dalam satuan jumlah gelombang atau cycle) maka fase dari sinyal kombinasi
yang ambiguitasnya tetap merupakan bilangan bulat (integer) dapat diformulasikan sebagai
berikut:

Φn,m = n. φ1 + n. Φ2

Dimana n dan m adalah bilangan bulat. Ambiguitas fase dari sinyal kombinasi linier linier
Nn,m terkait dengan ambiguitas fase dari sinyal L1 dan L2, N1 dan N2 sebagai berikut:

Nn,m= n.N1 + m.N2

Frekuensi dan panjang gelombang dari sinyal kombinasi linier, fn,m dan λn,m dapat juga
dinyatakan sebagai fungsi dari frekuensi dan panjang gelombang sinyal-sinyal L1 dan L2
sebagai berikut:
Fase sinyal kombinasi linier tersebut di atas juga dapat diekspresikan dalam unit jarak sesuai
dengan formulasi:

Dilihat dari rumus di atas dapat dicatat bahwa proses kombinasi linier hanya mengubah besar
efek dari kesalahan dan bias yang besarnya bergantung frekuensi sinyal, contohnya:
 Bias karena refraksi ionosfir

 Noise dari pengamatan

 Multipath

Sedangkan efek dari kesalahan dan bias yang besarnya tidak bergantung frekuensi sinyal,
dengan kata lain akan tetap sama baik untuk sinyal kombinasi linier maupun untuk sinyal-
sinyal L1 dan L2, seperti:
 Kesalahan ephemeris

 Kesalahan dan offset jam GPS receiver maupun satelit

 Bias karena refraksi troposfir

Dalam kaitannya dengan efek dari refraksi ionosfer, jika besarnya bias ionosfer, baik
perlambatan maupun percepatan, pada sinyal L1 dan L2 (pengamatan fase maupun waktu
tempuh sinyal) dinyatakan sebagai dion1 dan dion2, maka besarnya bias ionosfer pada sinyal
kombinasi linier dionn,m, dapat dirumuskan berdasarkan persamaan berikut:

Dengan mempertimbangkan hanya orde pertama dari efek refraksi ionosfer, maka dion1 dan
dion2 dapat diformulasikan dalam unit jarak sebagai berikut:

Dimana C adalah parameter yang besarnya bergantung pada konsentrasi elektron yang
dihadapi oleh sinyal dalam perjalanannya dari satelit ke pengamat. Jika 2 persamaan terakhir
disubtitusikan, maka untuk sinyal kombinasi linier dapat diturunkan:
Formulasi di atas bergantung pada bilangan bulat n dan m, besarnya bias ionosfer pada sinyal
kombinasi linier dionn,m akan berbeda. Harganya bisa positif atau negatif, yang berarti sinyal
kombinasi linier dapat dipercepat atau diperlambat oleh ionosfer, bergantung pada harga n
dan m.
Proses kombinasi linier juga akan mengubah level noise dari sinyal kombinasi linier yang
diperoleh. Jika level noise dari data pengamatan fase sinyal-sinyal L1 dan L2 dikarakterisasi
dengan standar deviasi yang sama yaitu σΦ (dalam unit panjang gelombang), maka
formulasinya adalah:

2. Keuntungan adanya 3 sinyal GPS yaitu L1, L2, dan L5 dalam proses resolusi
ambiguitas fase maupun dalam penentuan posisi dengan GPS
Setiap satelit GPS mentransmisikan dua sinyal yaitu L1 (1575.42 MHz) dan L2 (1227.60
MHz). Sinyal L1 dimodulasikan dengan dua sinyal pseudo-random yaitu kode P (Protected)
dan kode C/A (coarse/aquisition). Sinyal L2 hanya membawa kode P.
Setiap satelit mentransmisikan kode yang unik sehingga penerima (perangkat GPS) dapat
mengidentifikasi sinyal dari setiap satelit. Pada saat fitur ”Anti-Spoofing” diaktifkan, maka
kode P akan dienkripsi dan selanjutnya dikenal sebagai kode P(Y) atau kode Y.

Perangkat GPS yang dikhususkan buat sipil hanya menerima kode C/A pada sinyal L1
(meskipun pada perangkat GPS yang canggih dapat memanfaatkan sinyal L2 untuk
memperoleh pengukuran yang lebih teliti.Perangkat GPS menerima sinyal yang
ditransmisikan oleh satelit GPS. Dalam menentukan posisi, kita membutuhkan paling sedikit
3 satelit untuk penentuan posisi 2 dimensi (lintang dan bujur) dan 4 satelit untuk penentuan
posisi 3 dimensi (lintang, bujur, dan ketinggian).
Semakin banyak satelit yang diperoleh maka akurasi posisi kita akan semakin tinggi. Untuk
mendapatkan sinyal tersebut, perangkat GPS harus berada di ruang terbuka. Apabila
perangkat GPS kita berada dalam ruangan atau kanopi yang lebat dan daerah kita dikelilingi
oleh gedung tinggi maka sinyal yang diperoleh akan semakin berkurang sehingga akan sukar
untuk menentukan posisi dengan tepat atau bahkan tidak dapat menentukan posisi.
Sinyal GPS juga digunakan untuk memberi tahu si pengamat sinyal tentang posisi satelit
tersebut serta jarak pengamat beserta informasi waktunya, mengonformasikan kesehatan
satelit kepada si pengamat, serta informasi pendukung lainnya seperti parameter untuk
perhitungan koreksi jam satelit, parameter model ionosfer atau frekuensi, transformasi waktu
GPS ke UTC dan satatus konstelasi pesawat.
Selain sinyal L1, Pemerintah Amerika serikat sudah memutuskan untuk menambah 2 sinyal
baru, yang petama pada frekuensi L2 yang sekarang dan yang kedua pada frekuensi 1176
MHz. sinyal sipil baru pada frekuensi L2 akan mulai diimplementasikan mulai satelit Blok-
IIR yang ke-14 samapai 21 (Blok IIR-M), dan sinyal sipil L5 pada frekuensi pada frekuensi
1176 MHz (115x10.23 MHz) direncanakan mulai satelit Blok IIF.
Penambahan sinyal-sinyal baru pada dasarnya akan meningkatkan kualitas ketelitian dari
posisi, kecepatan maupun parameter-parameter lainnya yang ditentukan dengan
menggunakan data pengamatan GPS. Selain itu penambahan sinyal GPS akan meningkatkan
juga integritas sistem GPS serta kontinuitas pelayanan GPS baik secara spasial maupun
temporal.
Pada prinsipnya sinyal-sinyal GPS merupakan gelombang pembawa, gelombang pembawa
ini akan ditumpangi oleh beberapa komponen, yaitu :

 Data kode yaitu kode P(Y) dan C/A


 Navigation messages

Komponen-komponen di ataslah yang nantinya akan digunakan untuk menentukan jarak dari
receiver ke satelit dan pesan navigasi yang berguna untuk memberikan secara tidak langsung
informasi posisi satelit beserta parameter-parameter lainnya dalam broadcast ephemeris.
Sinyal GPS itu berfungsi sebagai pembawa “sesuatu yang berharga” dimana “sesuatu” itu
berfungsi untuk bisa menentukan posisi dimana receiver berada. Tentu saja mengingat itu
semua maka sinyal yang berfungsi sebagai gelombang pembawa itu akan sangat berguna
sekali, apalagi jika sinyal itu ditambah lagi, karena dengan melakukan kombinasi linear akan
dihasilkan posisi yang lebih teliti.
Berikut ini adalah kelebihan dari sinyal L5 yaitu :
 Bisa meningkatkan kualitas dan spectrum dari aplikasi yang bermanfaat untuk
penjagaan keselamatan hidup (safety-of-life use)

 Memberikan tingkat ketelitian yang lebih tinggi bagi pemakai ketika digunakan, yaitu
:

o Ketelitian yang sama seperti ketelitian untuk keperluan militer

o Lebih tangguh dibandingkan kode L1 C/A

o Lebih tahan terhadap interferensi

o 4 kali lebih kuat dalam daya (power)

o Data message yang lebih baik

o Lebih tahan terhadap pengaruh multipath, karena data kode dimodulasikan


pada banyak frekuensi.

 Frekuensi L5 ini berada di Aeronautical Radio Navigation Service (ARNS) band


dengan struktur desain sinyal yang digunakan untuk perbaikan ketelitian posisi pada
aplikasi penerbangan.
Dengan adanya sinyal tambahan yaitu L5 maka ketelitian posisi yang kita inginkan akan
lebih tinggi lagi. Sederhananya yaitu ketika sinyal semakin banyak itu artinya akan banyak
pula gelombang pembawa yang bisa ditumpangi oleh data kode dan pesan navigasi, sehingga
data pseudorange akan semakin banyak, juga data fase yang digunakan akan lebih baik dan
lebih hebat pula sehingga ketelitian posisi yang diharapkan akan semakin baik.

Ketika kita berbicara tentang resolusi ambiguitas fase maka kita berbicara tentang
pengukuran jarak dari satelit ke receiver dengan menggunakan data fase. Ambiguitas yang
terjadi saat pengukuran fase tergantung pada receiver dan satelit. Tidak terjadi
ketergantungan terhadap waktu selama pengamatan. Begitu ambiguitas dapat ditentukan
sebagai bilangan bulat dapat dikatakan ambiguitasnya terpecahkan (resolved).
Agar kita dapat memperoleh hasil dengan akurasi tinggi dengan menggunakan pengamatan
fase, cylcle ambiguity harus dapat dipecahkan apa nilai bulatnya secara tepat. Cycle
ambiguity memiliki sifat bahwa selama tidak terjadi cycle slip, maka bilangan N pada satelit
yang sama akan tetap. Cycle slip adalah ketidak kontinuan dalam jumlah gelombang penuh
dari fase gelombang pembawa yang diamati receiver atau sinyal terputus saat pengamatan.
Solusi terbaik dan tersederhana dari resolusi ambiguitas adalah penggunaan frekuensi
tambahan seperti dalam kasus pengukuran EDM.
Setelah adanya frekuensi baru yaitu L5 tentu saja dengan karakteristik dan kelebihannya
maka ia akan memberikan berbagai keuntungan apalagi jika dilakukan kombinasi liniear fase
antara L1 dengan L5 ataupun L2 dengan L5 maka resolusi ambiguitas fase pun akan
meningkat dan bisa diselesaikan (resolved).
Dengan adanya 3 sinyal GPS, akan didapatkan 3 kemungkinan kombinasi sinyal, yaitu L1-
L2, L2-L5, dan L1-L5, yang masing-masing dari kombinasi tersebut memiliki nilai
kombinasi linier yang berbeda. Ini mencakup perbedaan nilai parameter-parameter yang
merupakan fungsi dari kombinasi linier, seperti: Panjang gelombang, Efek ionosfer dan
Faktor skala noise.
Dalam hal ini kita mendapatkan ukuran lebih untuk menentukan resolusi ambiguitas fase.
Dan seperti yang sudah saya pelajari di matakuliah Hitung Perataan, bahwa ukuran lebih itu
berguna untuk mengontrol hitungan, sekaligus meningkatkan ketelitian dan tingkat
kepercayaan parameter, dalam hal ini resolusi ambiguitas fase.
Dengan kata lain, keuntungan 3 sinyal GPS ini dalam kaitannya dalam proses resolusi
ambiguitas fase adalah mengontrol hitungan, sekaligus meningkatkan ketelitian dan tingkat
kepercayaan resolusi ambiguitas fase.
Ketika kita menentukan koordinat suatu titik dengan GPS dengan memakai data fase, yang
memang lebih teliti dibandingkan data kode, kita wajib mengetahui besarnya nilai ambiguitas
fase, yang terdapat pada suatu proses pengukuran.

Untuk menentukan besarnya nilai ambiguitas fase ini bukan hal yang mudah. Terdapat
langkah-langkah yang tepat untuk menentukan nilai ini. Seperti yang dijelaskan pada poin
sebelumnya, bahwa dengan memakai 3 sinyal GPS dapat meningkatkan ketelitian resolusi
ambiguitas fase. Maka dengan meningkatnya ketelitian resolusi ambiguitas fase, maka
otomatis ketelitian posisi yang dihitung oleh GPS akan meningkat.