Anda di halaman 1dari 16

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan ke hadirat Allah SWT, shalawat serta
salam senantiasa tercurah kepada Rasulullah SAW beserta keluarga dan
sahabatnya. Berkat kudrat dan iradat-Nya akhirnya kami dapat menyelesaikan
makalah “Dampak Polusi Udara, Air, Tanah Terhadap Kesehatan Manusia.

Dalam kesempatan ini kami menyampaikan rasa terima kasih dan


penghargaan yang setinggi-tingginya kepada semua pihak yang telah memberikan
bantuan, dorongan, bimbingan dan arahan kepada penyusun.

Dalam makalah ini kami menyadari masih jauh dari kesempurnaan, untuk
itu segala saran dan kritik guna perbaikan dan kesempurnaan sangat kami
nantikan. Semoga makalah ini dapat bermanfaat khususnya bagi penyusun dan
para pembaca pada umumnya.

Kundur, Januari 2018

Penyusun

i
DAFTAR ISI
Kata Pengantar ........................................................................................... i

Daftar isi ..................................................................................................... ii

BAB I PENDAHULUAN ......................................................................... 1

1.1 Latar Belakang .................................................................................. 1

1.2 Rumusan masalah .............................................................................. 2

1.3 Tujuan ............................................................................................... 2

BAB II PEMBAHASAN .......................................................................... 3

2.1 Pengolahan limbah padat .................................................................. 3

2.2 Penanganan limbah padat ................................................................. 7

BAB III PENUTUP .................................................................................. 14

3.1 Kesimpulan ......................................................................................... 14

3.2 Saran .................................................................................................... 14

ii
BAB I
PRNDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Limbah merupakan hal yang lumrah dalam kehidupan manusia. Taukan
anda berasal dari manakah limbah disekita kita? Limbah berasal dari berbagai
sumber, contohnya : rumah tangga dan industry atau pabrik. Limbah bisa berupa
padatan, cairan ataupun gas. Ketiga limbah tersebut sama-sama berbahaya.
Tidak hanya isinya namun juga wadah atau kemasannya juga menjadi limbah,
seperti : plastic, kertas atau pun kaleng.
Seiring dengan berjalannya waktu, limbah semakin hari semakin
meningkat jumlahnya. Limbah sangatlah berbahaya bagi kehidupan manusia atau
makhluk hidup lainnya. Banyak orang membuang, menimbun, bahkan
menyimpan limbah dengan jumlah yang banyak serta tidak dikelola dengan baik.
Ternyata limbah-limbah tersebut termasuk limbah B3 (Bahan Berbahaya dan
Beracun). Pada penulisan makalah ini, akan mengupas semua tentang limbah B3
dan bagaimana system pembuangannya yang baik.
Limbah padat adalah hasil buangan industri yang berupa padatan, lumpur
atau bubur yang berasal dari suatu proses pengolahan. Limbah padat berasal dari
kegiatan industri dandomestik. Limbah domestik pada umumnya berbentuk
limbah padat rumah tangga, limbah padat kegiatan perdagangan, perkantoran,
peternakan, pertanian serta dari tempat-tempatumum. Jenis-jenis limbah padat:
kertas, kayu, kain, karet/kulit tiruan, plastik, metal, gelas/kaca,organik, bakteri,
kulit telur, dllSumber-sumber dari limbah padat sendiri meliputi seperti pabrik
gula, pulp,kertas, rayon, plywood, limbah nuklir, pengawetan buah, ikan, atau
daging. Secaragaris besar limbah padat terdiri dari :1) Limbah padat yang mudah
terbakar.2) Limbah padat yang sukar terbakar.3) Limbah padat yang mudah
membusuk.4) Limbah yang dapat di daur ulang.5) Limbah radioaktif.6)
Bongkaran bangunan.7) Lumpur.
Limbah adalah zat atau bahan buangan yang dihasilkan dari proses
kegiatan manusia (Ign Suharto, 2011 :226). Limbah dapat berupa tumpukan
barang bekas, sisa kotoran hewan, tanaman, atau sayuran. Keseimbangan

1
lingkungan menjadi terganggu jika jumlah hasil buangan tersebut melebihi
ambang batas toleransi lingkungan. Apabila konsentrasi dan kuantitas melibihi
ambang batas, keberadaan limbah dapat berdampak negatif terhadap lingkungan
terutama bagi kesehatan manusia sehingga perlu dilakukan penanganan terhadap
limbah. Tingkat bahaya keracunan yang ditimbulkan oleh limbah bergantung pada
jenis dan karakteristik limbah.

1.2 Rumusan Masalah


1. Bagaimana cara pengolaan limbah padat?
2. Bagaimana cara penanganan limbah padat?

1.3 Tujuan
Untuk mengetahui bagaimana cara pengolaan limbah padat dan cara
penanganan limbah padat.

2
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengolahan Limbah Padat


Pengelolaan lingkungan hidup merupakan kewajiban bersama berbagai
pihak baik pemerintah, pelaku industri, dan masyarakat luas. Hal ini menjadi lebih
penting lagi mengingat Indonesia sebagai negara yang perkembangan industrinya
cukup tinggi dan saat ini dapat dikategorikan sebagai negara semi industri (semi
industrialized country).
Sebagaimana lazimnya negara yang masih berstatus semi industri, target
yang lebih diutamakan adalah peningkatan pertumbuhan output, sementara
perhatian terhadap eksternalitas negatif dari pertumbuhan industri tersebut sangat
kurang. Beberapa kasus pencemaran terhadap lingkungan telah menjadi topik
hangat di berbagai media masa, misalnya pencemaran Teluk Buyat di Sulawesi
Utara yang berdampak terhadap timbulnya bermacam penyakit yang menyerang
penduduk yang tinggal di sekitar teluk tersebut.
Para pelaku industri kadang mengesampingkan pengelolaan lingkungan
yang menghasilkan berbagai jenis-jenis limbah dan sampah. Limbah bagi
lingkungan hidup sangatlah tidak baik untuk kesehatan maupun kelangsungan
kehidupan bagi masyarakat umum, limbah padat yang di hasilkan oleh industri-
industri sangat merugikan bagi lingkungan umum jika limbah padat hasil dari
industri tersebut tidak diolah dengan baik untuk menjadikannya bermanfaat.
Menurut sifatnya pengolahan limbah padat dibagi menjadi 2 cara, yaitu :

1. Limbah padat tanpa pengolahan


Limbah padat yang tidak mengandung unsur kimia yang beracun & biasa
langsung dibuang ke tempat tertentu sebagai TPA berbahaya.

2. Limbah padat dengan pengolahan


Limbah padat yang mengandung unsur kimia beracun & harus berbahaya
diolah sebelum dibuang ke tempat tertentu.
Secara umum penanganan air limbah dapat dikelompokkan menjadi :

3
1. Pengolahan Awal/Pendahuluan (Preliminary Treatment)
Tujuan utama dari tahap ini adalah usaha untuk melindungi alat-alat yang
ada pada instalasi pengolahan air limbah. Pada tahap ini dilakukan penyaringan,
penghancuran atau pemisahan air dari partikel-partikel yang dapat merusak alat-
alat pengolahan air limbah , seperti pasir , kayu , sampah , plastik dan lain-lain.

2. Pengolahan Primer (Primary Treatment)


Tujuan pengolahan yang dilakukan pada tahap ini adalah menghilangkan
partikel-artikel padat organik dan organik melalui proses fisika , yakni
sedimentasi dan flotasi. Sehingga partikel padat akan mengendap (disebut sludge)
sedangkan partikel lemak dan minyak akan berada di atas / permukaan (disebut
grease).

3. Pengolahan Sekunder (Secondary Treatment)


Pada tahap ini air limbah diberi mikroorganisme dengan tujuan untuk
menghancurkan atau menghilangkan material organik yang masih ada pada air
limbah. Tiga buah pendekatan yang umum digunakan pada tahap ini adalah fixed
film, suspended film dan lagoon system.

4. Pengolahan Akhir (Final Treatment)


Fokus dari pengolahan akhir (Final Treatment) adalah menghilangkan
organisme penyebab penyakit yang ada pada air. Hal ini dapat dilakukan dengan
cara menambahkan khlorin ataupun dengan menggunakan sinar ultraviolet.

5. Pengolahan Lanjutan (Advanced Treatment)


Pengolahan lanjutan diperlukan untuk membuat komposisi air limbah sesuai
dengan yang dikehendaki. Misalnya untuk menghilangkan kandungan fosfor
ataupun amonia dari air limbah.

Ada beberapa faktor-faktor yang perlu diperhatikan sebelum mengolah limbah


padat :

4
Jumlah limbah
• Sedikit : mudah ditangani sendiri.
• Banyak : membutuhkan penanganan khusus.

Sifat fisik dan kimia limbah


Sifat fisik : mempengaruhi pilihan tempat pembuangan, sarana pengangkutan
& pilihan pengolahan.
Sifat kimia : sifat kimia dari limbah padat akan merusak dan mencemari
lingkungan dengan cara membentuk senyawa-senyawa baru.
Kemungkinan pencemaran dan kerusakan lingkungan. Karena lingkungan ada
yang peka/tidak peka terhadap pencemaran perlu di perhatikan :
1. Tempat Pembuangan Akhir (TPA)
2. Unsur yang akan terkena
3. Tingkat pencemaran yang akan timbul
4. Tujuan akhir dari pengolahan. Adapun tujuan akhirnya , yang terdiri atas
dua yaitu : Bersifat ekonomi & Bersifat non-ekonomis

Tujuan pengelolaan yang bersifat ekonomis adalah : Meningkatkan efisiensi


pabrik secara menyeluruh dan mengambil kembali bahan yang masih berguna
untuk di daur ulang/dimanfaatkan lain.
Tujuan pengelolaan yang bersifat non-ekonomis adalah : Untuk mencegah
pencemaran dan kerusakan lingkungan mekanisme pengelolaan limbah.
Ada empat proses pengelolaan Limbah Padat yaitu :

1. Pemisahan
Karena limbah padat terdiri dari : ukuran yang berbeda-beda dan kandungan
bahan yang berbeda maka harus dipisahkan dahulu supaya peralatan pengolahan
menjadi awet. Pemisahan ada 3 sistem , yaitu:
System Balistik adalah system pemisahan untuk mendapatkan keserangan
ukuran/berat/volume.

5
System Gravitasi adalah system pemisahan berdasarkan gaya berat. Misalnya :
– Barang yang ringan/terapung
– Barang yang berat/tenggelam
System Magnetis adalah system pemisahan berdasarkan sifat magnet. Yang
bersifat magnet , akan langsung menempel. Misalnya , untuk memisahkan
campuran logam dan non logam.

2. Penyusutan Ukuran
Penyusutan ukuran dilakukan untuk memperoleh ukuran yang lebih kecil ,
supaya pengelolahannya menjadi mudah.

3. Pengomposan
Pengomposan dilakukan terhadap buangan/limbah yang mudah membusuk
, sampah kota , buangan atau kotoran hewan ataupun juga pada lumpur pabrik.
Limbah padat harus dipisah dan disamakan ukurannya/volumenya supaya hasil
pengomposan baik.

4. Pembuangan Limbah
Proses akhir dari pengolahan limbah padat adalah pembuangan limbah
yang terbagi menjadi dua , yaitu :
1. Pembuangan di laut
Pembuangan limbah padat di laut , tidak boleh dilakukan sembarangan
tempat dan perlu diingat bahwa tidak semua limbah padat dibuang ke laut. Hal ini
di sebabkan oleh :

1.) Laut sebagai tempat mencari ikan bagi nelayan


2.) Laut sebagai tempat rekreasi & lalu lintas kapal
3.) Laut menjadi dangkal
4.) Limbah padat yang mengandung senyawa kimia beracun dan berbahaya yang
dapat membunuh biota laut. (Misal : Limbah B3/ Limbah Radioaktif).

6
2. Pembuangan di darat (Canitary Landfill)
Untuk pembuangan limbah di darat , perlu dilakukan pemilihan lokasi
yang harus dipertimbangkan sebagai berikut :
1.) Pengaruh iklim , temperature dan angin
2.) Struktur tanah
3.) Jaraknya jauh dari pemungkiman
4.) Pengaruh terhadap sumber air, perkebunan, perikanan, peternakan, flora atau
fauna.
Jadi, pilih lokasi yang benar-benar tidak ekonomis lagi untuk kepentingan
apapun.
Pembuangan di darat/tanah Pembuangan limbah di darat/tanah di bagi menjadi 3,
yaitu :
1.) Penebaran diatas tanah.
2.) Penimbunan/penumpukan.
3.) Pengisian tanah yang cekung (Landfill).
Sampah yang dihasilkan manusia begitu banyak sehingga bila tidak
ditangani akan menimbulkan banyak masalah pencemaran. Beberapa metode
pengolahan sampah telah diterapkan manusia untuk menangani permasalahan
sampah. Masing-masing metode tersebut memiliki kekurangan dan kelebihan.
Belum ada satupun dari metode yang telah diterapkan manusia yang dapat
menyelesaikan permasalahan sampah dengan sempurna. Oleh karena itu, masih
perlu terus dikembangkan berbagai metode baru atau modifikasi yang dapat
menyempurnakan metode yang telah ada. Berikut akan kamu pelajari beberapa
metode pengolahan limbah padat (sampah) yang telah umum diterapkan.

2.2 Penanganan Limbah Padat


1. Penimbunan
Terdapat dua cara penimbunan sampah yang umum dikenal, yaitu metode
penimbunan terbuka (open dumping) dan metode sanitary landfill. Pada metode
penimbunan terbuka, sampah dikumpulkan dan ditimbun begitu saja dalam lubang
yang dibuat pada suatu lahan, biasanya di lokasi tempat pembuangan akhir (TPA).
Metode ini merupakan metode kuno yang sebenarnya tidak memberikan banyak

7
keuntungan. Di lahan penimbunan terbuka, berbagai hama dan kurnan penyebab
penyakit dapat berkembang biak. Gas metan yang dihasilkan oleh pembusukan
sampah organik dapat menyebar ke udara sekitar dan menimbulkan bau busuk
serta mudah terbakar. Cairan yang tercampur dengan sampah dapat merembes ke
tanah dan mencemari tanah serta air. Bersama rembesan cairan tersebut, dapat
terbawa zat-zat yang berbahaya bagi lingkungan dan kesehatan.
Berbagai permasalahan yang ditimbulkan oleh metode open dumping
menyebabkan dikembangkan metode penimbunan sampah yang lebih balk, yaitu
sanitary landfill. Pada metode sanitary landfill, sampah ditimbun dalam lubang
yang dialasi lapisan lempung dan lembaran plastik untuk mencegah perembesan
limbah ke tanah. Sampah yang ditimbun dipadatkan, kemudian ditutupi dengan
lapisan tanah tipis setiap hari. Hal ini akan mencegah tersebarnya gas metan yang
dapat mencemari udara dan berkembangbiaknya berbagai agen penyebab
penyakit.
Pada landfill yang lebih modern lagi, biasanya dibuat sistem lapisan ganda
(plastik – lempung – plastik – lempung) dan pipa-pipa saluran untuk
mengumpulkan cairan serta gas metan yang terbentuk dari proses pembusukan
sampah. Gas tersebut kemudian dapat digunakan untuk menghasilkan listrik.
Di sebagian besar negara maju, penimbunan sampah dengan metode open
dumping telah banyak digantikan oleh metode sanitary landfill. Namun, di
Indonesia, tempat penimbunan sampah yang menggunakan metode sanitary
landfill masih jauh lebih sedikit jumlahnya dibandingkan dengan yang melakukan
penimbunan terbuka (open dumping).
Kelemahan utama penanganan sampah dengan cara penimbunan adalah
cara ini menghabiskan lahan. Sampah akan terus terproduksi sementara lahan
untuk penimbunan akan semakin berkurang. Sampah yang ditimbun sebagian
besar sulit terdegradasi sehingga akan tetap berada di area penimbunan untuk
waktu yang sangat lama. Selain itu, meskipun telah menggunakan sanitary
landfill, masih ada kemungkinan terjadi kebocoran lapisan sehingga zat-zat
berbahaya dapat erembes dan mencemari tanah serta air. Gas metan yang
terbentuk dalam timbunan mungkin saja mengalami akumulasi dan beresiko
meledak.

8
2. Inseinerasi
Insinerasi adalah pembakaran sampah/Iimbah padat menggunakan suatu
alat yang disebut insinerator. Kelebihan dari proses insinerasi adalah volume
sampah berkurang sangat banyak (bisa mencapai 90 %). Selain itu, proses
insinerasi menghasilkan panas yang dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan
listrik atau untuk pemanas ruangan. Meski demikian, tidak semua jenis limbah
padat dapat dibakar dalaminsinerator. Jenis limbah padat yang cocok untuk
insinerasi di antaranya adalah kertas, plastik, dan karet, sedangkan contoh jenis
limbah padat yang kurang sesuai untuk insinerasi adalah kaca, sampah makanan,
dan baterai.
Kelemahan utama metode insinerasi adalaah biayanya yang mahal, selain
itu insinerasi menghasilkan asap buangan yang dapat menjadi pencemar udara
serta abu /ashes pembakaran yang kemungkinan mengandung senyawa yang
berbahaya.
Kelemahan utama metode insinerasi adalah biaya operasi . yang mahal.
Selain itu, insinerasi menghasiIkan asap buangan yang dapat menjadi pencemar
udara serta abu ashpembakaranyangkemungkinan mengandung senyawa
berbahaya.

3. Pembuatan Kompos
Kompos adalah pupuk yang dibuat dari sampah organik, seperti sayuran,
daun dan ranting, serta kotoran hewan, melalui proses degradasi/penguraian oleh
mikroorganisme tertentu. Kompos berguna untuk memperbaiki struktur tanah dan
menyediakan zat makanan yang diperlukan tumbuhan, sementara mikroba yang
ada dalam kompos dapat membantu penyerapan zat makanan yang dibutuhkan
tanaman.
Pembuatan kompos merupakan saIah sate cara terbaik untuk mengurangi
timbunan sampah organik. Cara ini sangat cocok diterapkan di Indonesia, karena
cara pembuatannya relatif mudah dan tidak membutuhkan biaya yang besar.
Selain itu, kompos dapat dijual sehingga dapat memberikan pemasukan tambahan
atau bahkan menjadi alternatif mata pencaharian.

9
Berdasarkan bentuknya, kompos ada yang berbentuk padat dan cair.
Pembuatan kompos dapat dilakukan dengan menggunakan kompos yang telah
jadi, kultur mikroorganisme, atau cacing tanah. Contoh kultur mikroorganisme
yang telah banyak dijual di pasaran dan dapat digunakan untuk membuat kompos
adalah EM4 (Effective Microorganism 4). EM4 merupakan kultur campuran
mikroorganisme yang dapat meningkatkan degradasi limbah/sampah organik,
menguntungkan dan bermanfaat bagi kesuburan tanah maupun pertumbuhan dan
produksi tanaman, serta ramah lingkungan. EM4 mengandung mikroorganisme
yang terdiri dari beberapa jenis bakteri, di antaranya Lactobacillus sp.,
Rhodopseudomonas sp., Actinomyces sp., dan Streptomyces sp., dan khamir
(ragi), yaitu Saccaharomyces cerevisiae. Kompos yang dibuat menggunakan EM4
yang dikenal juga dengan bokashi.
Kompos dapat juga dibuat dengan bantuan cacing tanah karena cacing
tanah mampu menguraikan bahan organik. Kompos yang dibuat dengan bantuan
cacing tanah dikenal juga dengan sebutan kascing. Cacing tanah yang dapat
digunakan adalah cacing dari spesies Lumbricus terrestis, Lumbricus rebellus,
Pheretima defingens, dan Eisenia foetida. Cacing tanah akan menguraikan bahan-
bahan kompos yang sebelumnya sudah diuraikan oleh mikroorganisme.
Keterlibatan cacing tanah dan mikroorganisme dalam pembuatan kompos
menyebabkan pembentukan kompos menjadi lebih efektif dan cepat.

4. Membuat Biogas
Biogas dari kotoran sapi diperoleh dari dekomposisi anaerobik dengan
bantuan mikroorganisme. Pembuatan biogas dari kotoran sapi harus dalam
keadaan anaerobik (tertutup dari udara bebas) untuk menghasilkan gas yang
sebagian besar adalah berupa gas metan (yang memiliki sifat mudah terbakar) dan
karbon dioksida, gas inilah yang disebut biogas.
Proses fermentasi untuk pembentukan biogas maksimal pada suhu 30-55
C, dimana pada suhu tersebut mikroorganisme mampu merombak bahan bahan
organik secara optimal. Hasil perombakan bahan bahan organik oleh bakteri
adalah gas metan seperti yang terlihat pada tabel dibawah ini:

10
Berikut adalah komposisi biogas (%) kotoran sapi dan campuran kotoran ternak
dengan Peralatan Pembuatan Biogas Kotoran Sapi :
a. Bak Penampungan sementara
Terbuat dari kotak dengan ukuran 0,5 m x 0,5 m x 0,5 m berguna sebagai
tempat mengencerkan kotoran sapi.
b. Digester
Bangunan utama dari instalasi biogas adalah digester. Digester berfungsi
untuk menampung gas metan hasil perombakan bahan bahan organik oleh bakteri.
Jenis digester yang paling banyak digunakan adalah model continuous feeding
dimana pengisian bahan organiknya dilakukan secara kontinu setiap hari. Besar
kecilnya digester tergantung pada kotoran ternak yamg dihasilkan dan banyaknya
biogas yang diinginkan. Lahan yang diperlukan sekitar 16 m2. Untuk membuat
digester diperlukan bahan bangunan seperti pasir, semen, batu kali, batu koral,
bata merah, besi konstruksi, cat dan pipa prolon.
c. Plastik Penampungan Gas
Terbuat dari bahan plastik tebal berbentuk tabung yang berguna untuk
menampung gas methane yang dihasilkan dari digester. Gas metan kemudian
disalurkan ke kompor gas.
d. Kompor Gas
Berfungsi sebagai alat untuk membakar gas metan untuk menghasilkan
api. Api inilah yang digunakan untuk memasak.
e. Bak penampungan Kompos
Bak ini dapat dibuat dengan cara mengali lobang ukuran 2 m x 3 m dengan
kedalaman 1 m sebagai tempat penampungan kompos yang dihasilkan dari
digester.

Tahapan Pembuatan Biogas Kotoran Sapi.


Setelah peralatan digester selesai dipasang maka selanjutnya adalah tahapan
pembuatan biogas dari kotoran sampi dengan cara sebagai berikut :
a) Kotoran sapi dicampur dengan air hingga terbentuk lumpur dengan
perbandingan 1:1 pada bak penampung sementara. Pada saat pengadukan

11
sampah di buang dari bak penampungan. Pengadukan dilakukan hingga
terbentuk lumpur dari kotoran sapi.
b) Lumpur dari bak penampungan sementara kemudian di alirkan ke digester.
Pada pengisian pertama digester harus di isi sampai penuh.
c) Melakukan penambahan starter (banyak dijual dipasaran) sebanyak 1 liter
dan isi rumen segar dari rumah potong hewan (RPH) sebanyak 5 karung
untuk kapasitas digester 3,5 - 5,0 m2. Setelah digester penuh, kran gas
ditutup supaya terjadi proses fermentasi.
d) Gas metan sudah mulai di hasilkan pada hari 10 sedangkan pada hari ke -1
sampai ke - 8 gas yang terbentuk adalah CO2. Pada komposisi CH4 54%
dan CO2 27% maka biogas akan menyala.
e) Pada hari ke -14 gas yang terbentuk dapat digunakan untuk menyalakan
api pada kompor gas atau kebutuhan lainnya. Mulai hari ke-14 ini kita
sudah bisa menghasilkan energi biogas yang selalu terbarukan. Biogas ini
tidak berbau seperti bau kotoran sapi.
f) Digester terus diisi lumpur kotoran sapi secara kontinu sehingga dihasilkan
biogas yang optimal.
g) Kompos yang keluar dari digester di tampung di bak penampungan
kompos. Kompos cair di kemas ke dalam deregent sedangkan jika ingin di
kemas dalam karung maka kompos harus di keringkan.

5. Daur Ulang
Berbagai jenis limbah padat dapat mengalami proses daur ulang menjadi
produk baru. Proses daur ulang sangat berguna untuk mengurangi timbunan
sampah karena bahan buangan diolah menjadi bahan yang dapat digunakan
kembali. Contoh beberapa jenis limbah padat yang dapat didaur ulang adalah
kertas, kaca, logam (seperti besi, baja, dan alumunium), plastik, dan karet.
Bahan-bahan yang didaur ulang dapat dijadikan produk baru yang jenisnya
sama atau produk jenis lain. Contohnya, limbah kertas bisa didaur ulang menjadi
kertas kembali. Limbah kaca dalam bentuk botol atau wadah bisa didaur ulang
menjadi botol atau wadah kaca kembali atau dicampur dengan aspal untuk
menjadi bahan pembuat jalan. Kaleng alumunium bekas bisa didaur ulang menjadi

12
kaleng alumunium lagi. Botol plastik bekas yang terbuat dari plastik jenis
polyetilen terftalat (PET) bisa didaur ulang menjadi berbagai produk lain, seperti
baju poliyester, karpet, dan suku cadang mobil. Gelas dan peralatan plastik.

13
BAB III
PENUTUP
3.1. Kesimpulan
Sampah yang dihasilkan manusia begitu banyak sehingga bila tidak
ditangani akan menimbulkan banyak masalah pencemaran. Beberapa metode
pengolahan sampah telah diterapkan manusia untuk menangani permasalahan
sampah. Masing-masing metode tersebut memiliki kekurangan dan kelebihan.
Limbah Cair dapat dikelolah dengan lima (5) cara yaitu,
a) Pengolahan Primer (Primary Treatment)
b) Pengolahan Sekunder (Secondary Treatment)
c) Pengolahan Tersier (Tertiary Treatment)
d) Desinfeksi (Desinfection)
e) Pengolahan Lumpur (Slude Treatment)
Limbah Padat dapat dikelolah dengan lima (5) cara yaitu
a) Penimbunan Terbuka
b) Sanitary Landfill
c) insinerasi
d) Pembuatan kompos padat dan cair
e) Daur Ulang
Limbah Padat Gas dikelolah dengan Dua (2) cara yaitu
a) Mengontrol Emisi Gas Buang
b) Menghilangkan Materi Partikulat Dari Udara Pembuangan
Limbah Padat Gas dikelolah dengan Dua (2) cara yaitu
a. Metode pengolahan secara kimia, fisik dan biologi
b. Metode Pembuangan Limbah B3.

3.2. Saran
Bagi semua masyarakat pengelolahan limbah sejak dini merupakan
tindakan yang amat baik untuk masa depan. Lingkungan sehat kita juga sehat
lingkungan tercemar kita juga yang menderita. Bersama-sama kita wujudkan
lingkungan yang bersih dan sehat.

14

Anda mungkin juga menyukai