Anda di halaman 1dari 6

E-LEARNING

PERTEMUAN 14

Tugas: Lengkapilah materi berikut ini (minimal 3 halaman) dan sebutkan suber-suber materi yang Anda tuliskan (sumber tidak boleh dari blog, wordpress, dan sumber lain yang dilarang dalam penulisan ilmiah). Ukuran kertas “Legal” dengan margin kanan, kiri, atas, dan bawah adalah 3.

PROPERTI INVESTASI

1. Definisi Menurut SAK 13, Properti investasi adalah properti (tanah atau bangunan atau bagian dari suatu bangunan atau kedua-duanya) yang dikuasai (oleh pemilik atau lessee/penyewa melalui sewa pembiayaan) untuk menghasilkan rental atau untuk kenaikan nilai atau kedua-duanya, dan tidak untuk:

tujuan

digunakan

dalam

produksi

atau

penyediaan

barang

atau

jasa

atau

untuk

administratif; atau

dijual dalam kegiatan sehari-hari.

Properti investasi ini merupakan aset tetap yang dimiliki oleh pemilik atau aset tetap yang disewa melalui perjanjian sewa beli (leasing) atau sewa operasi. Properti investasi berupa:

a) tanah

b) bangunan

c) tanah dan bangunan

d) bagian dari bangunan (ruangan-ruangan dalam bangunan)

Aset berikut tidak pernah dimasukkan dalam kelompok properti investasi:

properti yang dimaksudkan untuk dijual dalam operasi normal entitas

properti yang dibangun atau dikembangkan sebagian oleh pihak ketiga

properti yang digunakan dalam operasi normal entitas (owner-occupied property)

properti yang sedang dibangun atau dibangun untuk dimanfaatkan sebagai properti investasi di masa yang akan datang.

Properti yang disewakan kepada pihak lain dengan persyaratan sewa pembiayaan.

Karakter aset yang dikelompokkan dalam properti investasi adalah:

a) Menghasilkan kas secara mandiri, tanpa tergantung pada aset lain. Properti investasi dapat menghasilkan kas secara mandiri dengan cara disewakan kepada pihak lain. Sedangkan aset tetap (PPE) menghasilkan kas dengan bersinergi dengan aset lain. Contoh pada entitas perusahaan dagang, tanah dan bangunan bersama-sama dengan peralatan dan persediaan akan menghasilkan kas melalui penjualan persediaan barang dagang.

b) Jika dalam transaksi penyewaan aset, entitas menawarkan tambahan jasa (ancillary service), nilai tambahan jasa tidak signifikan dibandingkan pendapatan sewa yang

2017 AKM I BAB 13: PROPERTI INVESTASI

diterima. Tambahan jasa berupa jasa kebersihan, jasa keamanan, katering ataupun laundry kepada para penyewa ruangan. Jika tambahan jasa (ancillary service) lebih besar atau signifikan dibandingkan dengan pendapatan sewa, maka aset tersebut dikelompokkan sebagai aset tetap (PPE).

Entitas yang memiliki bangunan gedung kantor atau apartemen, menggunakan salah satu bagian dari bangunan tersebut sebagai tempat produksi atau penyediaan jasa atau untuk tujuan administratif, dan menyewakan bagian yang lain kepada pihak luar, maka entitas akan mengakui bangunan tersebut sebagai:

a.

Properti investasi

1)

Jika entitas tidak dapat memisahkan dan menentukan nilai bagian yang digunakan sendiri maupun yang disewakan; dan

2)

Bagian yang digunakan dalam proses produksi atau persediaan barang-barang atau jasa atau untuk tujuan administratif jumlahnya tidak signifikan.

3)

Jika entitas menyediakan tambahan jasa (ancillary service) kepada para penghuni properti dan jasa tersebut tidak signifikan terhadap keseluruhan perjanjian.

b.

Aset tetap (PPE)

1)

Jika entitas tidak dapat memisahkan dan menentukan nilai bagian yang digunakan sendiri maupun yang disewakan; dan

2)

Bagian yang digunakan dalam proses produksi atau persediaan barang-barang atau jasa atau untuk tujuan administratif jumlahnya signifikan.

3)

Jika entitas menyediakan tambahan jasa (ancillary service) kepada para penghuni properti dan jasa tersebut signifikan terhadap keseluruhan perjanjian.

c.

Properti investasi dan PPE Jika bagian yang digunakan sendiri oleh entitas maupun bagian yang disewakan dapat ditentukan nilainya dengan cara dapat dijual secara terpisah atau disewakan secara terpisah. Maka aset tersebut akan diakui sebagai properti investasi sekaligus aset tetap dengan proporsi maisng-masing.

2.

Metode Perolehan Properti Investasi

Entitas memperoleh properti investasi dengan cara:

a) Pembelian dari pihak luar Entitas membeli aset yang sejak awal perolehannya dimaksudkan untuk disewakan kepada pihak lain atau untuk mengapresiasi kenaikan nilai. Biaya-biaya yang dikapitalisasi sebagai properti investasi mencakup harga beli ditambah biaya-biaya yang dapat diatribusikan secara langsung dalam perolehan properti investasi.

b) Membangun sendiri Entitas dapat membangun sendiri gedung atau bangunan yang hendak disewakan kepada pihak lain. Harga perolehan dari properti investasi ini adalah total dari biaya pembangunan yang meliputi biaya bahan baku, tenaga kerja dan biaya overhead. Pada masa konstruksi, aset yang sedang dibangun diakui sebagai Konstruksi dalam Pengerjaan, dan ketika selesai masa konstruksinya direklasifikasi sebagai properti investasi.

c) Alih fungsi atau reklasifikasi dari aset tetap

2017 AKM I BAB 13: PROPERTI INVESTASI

Entitas juga dapat mengalihfungsikan aset tetap yang pada awalnya digunakan sendiri sebagai properti investasi, ketika aset tetap tersebut mulai disewakan kepada pihak lain. Harga perolehan properti investasi adalah nilai wajar dari aset tetap pada tanggal reklas (transfer).

3. Pengakuan Properti Investasi

Kriteria pengakuan properti investasi sama halnya dengan properti, pabrik dan peralatan yang diatur dalam SAK 16. Properti investasi diakui sebagai aset jika:

Terdapat kemungkinan manfaat ekonomi di masa mendatang yang melekat pada properti akan mengalir ke entitas; dan

Biaya perolehan properti dapat diukur secara akurat.

Pertama kali properti investasi diakui (dicatat) sebesar biaya perolehan plus biaya-biaya transaksi yang dikeluarkan untuk mendapatkan properti investasi.

Setelah pengakuan awal, entitas dapat memilih kebijakan akuntansi dengan:

Model Nilai Wajar (Fair Value Method); atau

Model Biaya

Kebijakan akuntansi yang telah dipilih harus diterapkan ke semua properti investasi yang dimiliki entitas. Sekali kebijakan akuntansi dipilih, maka kebijakan tersebut tidak akan berubah kecuali perubahan kebijakan tersebut menghasilkan penyajian yang lebih memadai. SAK 13 menyebutkan bahwa perubahan metode dari model nilai wajar ke model biaya tidak menghasilkan presentasi yang lebih memadai.

Kriteria pengakuan properti investasi sama halnya dengan properti, pabrik dan peralatan yang diatur dalam SAK 16. Properti investasi diakui sebagai aset jika:

Terdapat kemungkinan manfaat ekonomi di masa mendatang yang melekat pada properti akan mengalir ke entitas; dan

Biaya perolehan properti dapat diukur secara akurat.

Pertama kali properti investasi diakui (dicatat) sebesar biaya perolehan plus biaya-biaya transaksi yang dikeluarkan untuk mendapatkan properti investasi.

Setelah pengakuan awal, entitas dapat memilih kebijakan akuntansi dengan:

Model Nilai Wajar (Fair Value Method); atau

Model Biaya

Kebijakan akuntansi yang telah dipilih harus diterapkan ke semua properti investasi yang dimiliki entitas. Sekali kebijakan akuntansi dipilih, maka kebijakan tersebut tidak akan berubah kecuali perubahan kebijakan tersebut menghasilkan penyajian yang lebih memadai. SAK 13

2017 AKM I BAB 13: PROPERTI INVESTASI

menyebutkan bahwa perubahan metode dari model nilai wajar ke model biaya tidak menghasilkan presentasi yang lebih memadai.

4. Kriteria Pengakuan Properti Investasi Saham

Kriteria pengakuan properti investasi sama halnya dengan properti, pabrik dan peralatan yang diatur dalam SAK 16. Properti investasi diakui sebagai aset jika:

Terdapat kemungkinan manfaat ekonomi di masa mendatang yang melekat pada properti akan mengalir ke entitas; dan

Biaya perolehan properti dapat diukur secara akurat.

Pertama kali properti investasi diakui (dicatat) sebesar biaya perolehan plus biaya-biaya transaksi yang dikeluarkan untuk mendapatkan properti investasi.

Setelah pengakuan awal, entitas dapat memilih kebijakan akuntansi dengan :

Model Nilai Wajar (Fair Value Method); atau

Model Biaya

Kebijakan akuntansi yang telah dipilih harus diterapkan ke semua properti investasi yang dimiliki entitas. Sekali kebijakan akuntansi dipilih, maka kebijakan tersebut tidak akan berubah kecuali perubahan kebijakan tersebut menghasilkan penyajian yang lebih memadai. SAK 13 menyebutkan bahwa perubahan metode dari model nilai wajar ke model biaya tidak menghasilkan presentasi yang lebih memadai.

5. Pengukuran Properti Investasi

a. Model Nilai Wajar Dengan menerapkan model nilai wajar, entitas seharusnya :

Merevaluasi semua properti investasinya ke nilai wajar (harga pasar) setiap akhir periode akuntansi.

Mengakui perubahan nilai wajar sebagai keuntungan atau kerugian yang disajikan dalam laporan laba rugi komprehensif.

Tidak melakukan penyusutan atas properti investasi.

Model nilai wajar ini berbeda dengan model revaluasi yang diatur menurut SAK 16, dimana

a) Model Revaluasi Bila terjadi kenaikan nilai wajar akan dilaporkan di laba komprehensif lainnya (tidak masuk dalam keuntungan/kerugian) dan dikreditkan ke Cadangan Revaluasi atau Revaluation Surplus. Bila terjadi penurunan nilai wajar, akan diperlakukan sebagai pengurang Cadangan Revaluasi atau diakui sebagai rugi penurunan nilai dalam laporan laba rugi komprehensif.

b) Model Nilai Wajar Bila terjadi kenaikan nilai wajar akan dilaporkan sebagai keuntungan dalam laporan laba rugi komprehensif. Bila terjadi penurunan akan dilaporkan sebagai kerugian dalam laporan laba rugi komprehensif.

2017 AKM I BAB 13: PROPERTI INVESTASI

Karena alasan perbedaan tersebut membuat perlakuan terhadap property investasi disajikan konsisten menurut SAK 13. Nilai Wajar didefinisikan sebagai jumlah dimana aset dapat dipertukarkan dengan pengetahuan yang memadai, antara pihak-pihak yang berkeinginan melakukan transaksi yang wajar (arm length transaction). Jika tidak mungkin mendapatkan nilai wajar yang andal, maka entitas dapat mengadopsi Model Nilai Wajar. Pengecualian ini berlaku untuk semua properti investasi dengan menggunakan salah satu model di atas.

b. Model Biaya

Model biaya mengikuti ketentuan menurut SAK 16. Properti investasi dinilai sebesar harga

perolehan dan selain tanah elemen properti investasi disusutkan.

Contoh:

Pada tanggal 1 Januari 2010, entitas D membeli gedung yang diniatkan untuk investasi. Harga

perolehan gedung Rp1 Milyar dengan biaya transaksi Rp10 juta. Jumlah yang dapat disusutkan sampai tanggal ini sebesar Rp300 juta. Properti tersebut memiliki umur manfaat 50 tahun. Pada akhir tahun pertama nilai wajar dari properti investasi tersebut naik menjadi Rp1,3 Milyar. Diminta:

Tunjukkan jumlah yang seharusnya dimasukkan dalam laporan keuangan entitas D pada tanggal 31 Desember 2010, dengan menggunakan:

a. Model biaya

b. Model Nilai Wajar

Jawab :

a) Model Biaya Dalam laporan posisi keuangan, properti ini akan disajikan sebagai berikut:

Properti investasi Akumulasi penyusutan (Rp300 jt/50th) = Nilai tercatat

Dalam laporan laba rugi komprehensif akan dicantumkan beban penyusutan Rp6.000.000,-.

Rp1.010.000.000,-

(Rp 6.000.000,-)

Rp1.004.000.000,-

b) Model Nilai Wajar Dalam laporan posisi keuangan, properti investasi akan disajikan sebesar Rp1.300.000.000,- Menurut model nilai wajar, properti investasi ini tidak disusutkan dan perubahan nilai wajar akan dilaporkan dengan jurnal:

31 Des 2010 Properti Investasi Rp290.000.000,-

Keuntungan atas kenaikan nilai wajar

Rp290.000.000,-

*(Rp1.300.000.000 Rp1.010.000.000)

Keuntungan atas kenaikan nilai wajar akan dilaporkan di laporan laba komprehensif sebesar

Rp290.000.000,-.

2017 AKM I BAB 13: PROPERTI INVESTASI

2017 AKM I BAB 13: PROPERTI INVESTASI