Anda di halaman 1dari 15

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Sebagai kegiatan sosial, bisnis dengan banyak cara terjalin dengan
kompleksitas masyarakat modern. Dalam kegiatan berbisnis, mengejar
keuntungan adalah hal yang wajar, asalkan dalam mencapai keuntungan
tersebut tidak merugikan banyak pihak. Jadi, dalam mencapai tujuan dalam
kegiatan berbisnis ada batasnya. Kepentingan dan hak-hak orang lain perlu
diperhatikan.
Perilaku etis dalam kegiatan berbisnis adalah sesuatu yang penting demi
kelangsungan hidup bisnis itu sendiri. Bisnis yang baik bukan saja bisnis yang
menguntungkan, tetapi bisnis yang baik adalah selain bisnis tersebut
menguntungkan juga bisnis yang baik secara moral. Perilaku yang baik, juga
dalam konteks bisnis, merupakan perilaku yang sesuai dengan nilai-nilai moral.
Bisnis juga terikat dengan hukum. Dalam praktek hukum, banyak masalah
timbul dalam hubungan dengan bisnis, baik pada taraf nasional maupun taraf
internasional. Walaupun terdapat hubungan erat antara norma hukum dan
norma etika, namun dua macam hal itu tidak sama. Ketinggalan hukum,
dibandingkan dengan etika, tidak terbatas pada masalah-masalah baru,
misalnya, disebabkan perkembangan teknologi.
Tanpa disadari, kasus pelanggaran etika bisnis merupakan hal yang biasa
dan wajar pada masa kini. Secara tidak sadar, kita sebenarnya menyaksikan
banyak pelanggaran etika bisnis dalam kegiatan berbisnis. Banyak hal yang
berhubungan dengan pelanggaran etika bisnis yang sering dilakukan oleh para
pebisnis yang tidak bertanggung jawab. Berbagai hal tersebut merupakan
bentuk dari persaingan yang tidak sehat oleh para pebisnis yang ingin
menguasai pasar. Selain untuk menguasai pasar, terdapat faktor lain yang juga
mempengaruhi para pebisnis untuk melakukan pelanggaran etika bisnis, antara
lain untuk memperluas pangsa pasar, serta mendapatkan banyak keuntungan.
Ketiga faktor tersebut merupakan alasan yang umum untuk para pebisnis
melakukan pelanggaran etika dengan berbagai cara.

1
1.2 Rumusan Masalah
Dari latar belakang diatas, maka dibuat beberapa rumusan masalah yaitu :
1.2.1 Apa saja contoh-contoh kasus dalam etika bisnis ?
1.2.2 Bagaimana pembahasan terhadap kasus-kasus tersebut ?

1.3 Tujuan Penulisan


Adapun tujuan dari penulisan ini yaitu :
 Untuk mengetahui contoh kasus dalam etika bisnis
 Untuk mengetahui pembahasan dalam kasus etika bisnis

1.4 Manfaat Penulisan


Adapun manfaat penulisan dapat dibagi menjadi 2 yaitu:
1.4.1 Manfaat Akademis
Manfaat akademis dari penulisan ini adalah sebagai sumbangan ilmu
pengetahuan dan referensi bagi pembaca yang membutuhkan informasi
mengenai etika bisnis.
1.4.2 Manfaat Praktis
Secara praktis diharapkan dapat menyumbangkan pemikiran terhadap
pemecahan masalah yang berkaitan dengan kasus etika bisnis dan
penerapannya sesuai dengan konsep etika bisnis.

2
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Contoh-Contoh Kasus dalam Etika Bisnis


 KASUS 1 (Asbestos Company)
Perusahaan Amerika “Kansas Asbestos Company” bergerak di bidang
produk asbes. Ketika pada tahun 1970-an semakin banyak peraturan
mempersulit produksi dan mengakibatkan biaya produksi naik, direksi
perusahaan memutuskan untuk memindahkan pabriknya ke suatu negara
Afrika Barat. Jika dihirup dalam kuantitas cukup besar, serat asbes diketahui
mengakibatkan penyakit asbestosis (dalam jangka pendek) dan juga kanker
paru (dalam jangka panjang). Di Afrika tidak ada peraturan yang melindungi
pekerja terhadap occupational diseases ini. Tambahan pula, dibanding
dengan Amerika Serikat, tenaga kerja di Afrika jauh lebih murah.
Pertanyaan :
a. Jelaskan beberapa kemungkinan yang melatarbelakangi munculnya
peraturan-peraturan yang mempersulit produksi suatu produk !
b. Jelaskan risiko-risiko yang dihadapi Kansas Asbestos Company apabila
membiarkan pabriknya tetap di Amerika!
c. Jelaskan dampak positif dan negatif keputusan pemindahan pabrik
tersebut bagi warga Amerika dan Afrika Barat!
d. Apakah pemindahan pabrik tersebut merupakan keputusan yang dapat
dipertanggungjawabkan secara moral ? Jelaskan!
e. Apakah Kansas Asbestos Company menggunakan etika utilitarianisme
dalam pengambilan keputusan ?

 KASUS 2 (Eksportir Kopi)


Pada tahun 1950-an seorang eksportir kopi Indonesia menyetujui
menjadi pemasok tetap bagi suatu parik kopi di Belanda. Kopinya dijadikan
suatu komponen dari campuran kopi yang diproduksi perusahaan Belanda
itu. Beberapa tahun kemudian eksportir tersebut memutuskan untuk
mengirim kopinya ke lelang kopi di London, karena harga lebih tinggi di

3
situ. Tetapi tahun berikutnya harga kopi terpuruk sama sekali, seperti biasa
setelah panen berlimpah. Eksportir itu menawarkan lagi kopinya ke
produsen Belanda. Suratnya dikirim kembali dalam keadaan tidak terbuka.
Pertanyaan :
a. Sebutkan ciri-ciri professional pelaku bisnis!
b. Apakah eksportir kopi tersebut merupakan salah satu contoh pebisnis
yang professional ?
c. Bagaimana cara pandang eksportir kopi tersebut terhadap pelanggan ?
d. Mengapa perusahaan Belanda itu mengembalikan surat dalam keadaan
tidak terbuka ?
e. Apakah kelakuan eksportir kopi itu dapat merusak reputasi eksportir
Indonesia secara keseluruhan ?

 KASUS 3 (Merc & Company)


Perusahaan farmasi Merc & Company telah berhasil
mengembangkan obat (meetizan) yang membantu mencegah “river
blindness” (onchoceciasis), sebuah penyakit yang menimpa jutaan orang
di Afrika. Namun, setelah Merc mengembangkan jenis obat ini, mereka
yang membutuhkannya tidak mempunyai uang untuk membelinya. Merc
berhrap agar salah satu instansi atau organisasi internasional akan
menyediakan dana untuk membiayai obat itu. Tetapi, harapan itu tidak
terpenuhi. Karena itu Merc memutuskan akan menyediakan obat ini
dengan gratis. Tetapi, hal itu tidak mudah juga, karena tidak ada sistem
distribusi yang efektif yang dapat mengantar obat ini sampai ke daerah
terpencil Afrika di mana penduduk membutuhkannya. Karena itu, Merc
memutuskan mengadakan sistem distribusi yang diperlukan atas biayanya
sendiri dan memastikan bahwa obat akan mencapai para penderita.
Akhirnya, Merc melibatkan diri untuk terus mendistribusikan obat ini
dengan gratis pada masa depan selaman dibutuhkan. ( Sumber: De George
dalam Bertens,2000:82)

4
Pertanyaan :

a. Apakah Merc & Company sebuah organisasi yang profit atau nonprofit
oriented?
b. Mengapa Merc mau mendistribusikan obat secara gratis? Adakah
Manfaatnya bagi Merc?
c. Dengan keputusan yang telah diambilnya untuk mendistribusikan obat
secara gratis, mungkinkah Merc & Company akan dapat bertahan
dalam jangka panjang?
d. Apakah ini suatu bentuk tanggungjawab moral dan sosial perusahaan?
Jelaskan!
e. Adakah hubungan yang sinergis antara etika dan keuntungan?

2.2 Pembahasan Kasus Etika Bisnis

 Pembahasan Kasus 1
a. Jelaskan beberapa kemungkinan yang melatarbelakangi munculnya
peraturan-peraturan yang mempersulit produksi suatu produk!

Peraturan yang mempersulit produksi suatu produk saat perusahaan


ada di Amerika, yaitu karena di Amerik Serikat terdapat peraturan
occupational diseases. Penyakit akibat kerja (occupational diseases)
adalah penyakit yang mempunyai penyebab yang spesifik atau asosiasi
kuat dengan pekerjaan, yang pada umumnnya terdri dari satu agen
penyebab yang sudah diakui. Peraturan berikutnya yaitu munculnya
undang-undang Keselamatan dan Kesehatan Kerja (1970).

b. Jelaskan risiko-risiko yang dihadapi Kansas Asbestos Company apabila


membiarkan pabriknya tetap di Amerika!

Risiko yang dapat dihadapi oleh Kansas Asbestos Company yaitu,


Kansas Asbestos Company akan mendapatkan hukuman tentang
perlindungan pekerja yang berhubungan dengan Etika Bisnis, karena

5
telah melanggar Teori Etika yaiu teori deontologi yang mengatakan
bahwa kewajiban manusia untuk bertindak secara baik. Yang dimana
menurut teori ini, suatu tindakan itu bernilai moral karena tindakan itu
bernilai moral karena tindakan itu dilaksanakan berdasarkan kewajiban
yang memang harus dilaksanakan terlepas dari tujuan atau akibat dari
tindakan itu. Dalam kasus ini Kansas Asbestos Company telah
menghiraukan kesehatan pekerjanya yang bisa saja terkena penyakit
asbestosis dan juga kangker paru.
Resiko lainnya yaitu Kansas Asbestos Company akan mengalami
kesulitan dalam produksi dan terjadinya penurunan keuntungan karena
meningkatnya biaya produksi.

c. Jelaskan dampak positif dan negatif keputusan pemindahan pabrik


tersebut bagi warga Amerika dan Afrika!
 Dampak Positif dan Negatif bagi warga negara Amerika Serikat:
Dampak Positif, yaitu warga negara Amerika yang berkerja di
Kansas Asbestos Company memiliki kemungkinan untuk terkena
penyakit asbestosis dan kangke paru. Jadi kesehatan untuk warga
negara Amerika Serikat tidak akan menurun akibat produksi Kansas
Asbestos Company yang dalam jumlah besar.
Dampat Negatif, yaitu beberapa warna negara Amerika Serikat
akan kehilangan pekerjaannya dan tidak dapat membiayai hidupnya.
 Dampak Positif dan Negatif bagi warga negara Afrika:
Dampak Positif, beberapa warga negara Afrika menjadi
memiliki pekerjaan dan dapat membiayai dirinya. Jadi tingkat
pengangguran di Afrika akan menurun.
Dampak Negatifnya, yaitu warna negara Afrika akan
mengalami penurunan tingkat kesehatannya karena beberapa
warganya memiliki peluang yang lumayan besar untuk terkena
penyakit asbestosis dan kangker paru akibat besarnya produksi yang
dilakukan Kansas Asbestos Company tanpa memperhatikan
kesehatan pekerjanya.

6
d. Apakah pemindahan pabrik tersebut merupakan keputusan yang
dapat dipertanggungjawabkan secara moral!? Jelaskan!

Keputusan tersebut tidak dapat dipertanggung jawabkan secara


moral. Karena dalam Tanggungjawab Moral Bisnis, perusahaan
bertanggungjawab secara sosial kepada masyarakat atau negara
dimana korporasi beroperasi, berkewajiban moral untuk
menyediakan kondisi dan lingkungan kerja yang sehat dan aman,
memberikan upah adil kepada pegawai.

e. Apakah Kansas Asbestos Company menggunnakan etika


utilitarianisme dalam mengambil keputusan?

Tidak sepenuhnya benar atau salah. Kansas Asbestos Company


hanya mengutamakan keuntungan dan maanfaat saja. Dapat dilihat
dalam kasus ini bahwa Kansas Asbestos Company mengambil
keputusan untuk pindah ke Afrika untuk mengurangi biaya produksi
dan menghindari peraturan-peraturan yang dapat menghambat
produksi yang akan dialami jika Kansas Asbestos Company tetap
berada di Amerika Serikat. Memang benar bahwa Utilitarianisme
digunakan untuuk semua teori yang mendukung pemilihan tindakan
atau kebijakan yang menmaksimalkan keuntungan atau menekan
biaya. Prinsip utilitarian menyatakan bahwa tindakan yang benar
dalam situasi adalah tindakan yang menghaslkan utilitas besar
dibandingkan kemungkina tindakan lainnya.
Namun, ini tidak berarti tindakan yang benar adalah tindakan
yang menghasilkan utilitas paling besar bagi oran yang melakukan
kindakan tersebut. Dalam analisis terakhir utilitarian meyakini
bahwa tindakan yang benar adalah tindakan yang memberikan
keuntungan paling besar dibandingkan keuntungan-keuntungan
yang dapat diperoleh dari semua tindakan alternatifnya. Jadi, suatu

7
tindakan dikatakan baik, apabila tidak hanya mendatangkan manfaat
terbesar, tetapi juga manfaat terbesar bagi sebanyak mungkin orang.

 Pembahasan Kasus 2 (Eksportir Kopi)


a. Sebutkan ciri-ciri professional pelaku bisnis!

Ciri-ciri professional pelaku bisnis :

1. Memiliki pengetahuan, keahlian, dan keterampilan khusus yang


diperoleh melalui pendidikan, pelatihan, dan pengalaman yang
membentuk profesinya, yang membedakannya dengan orang lain.
2. Memiliki kaidah dan standar moral.
3. Memiliki izin khusus atau lisensi untuk bisa menjalankan profesinya
serta untuk melindungi profesinya dari oarng yang tidak
professional.
4. Memberikan pelayanan kepada masyarakat

b. Apakah eksportir kopi tersebut merupakan salah satu contoh pebisnis


yang professional ?

Tidak, karena dilihat dari eksportir kopi tersebut yang terus


mengejar keuntungan yang semakin besar, sehingga tidak komitmen
untuk bekerja pada 1 perusahaan dan cepat tertarik karena perusahaan
lain menawarkan harga yang lebih tinggi dari perusahaan sebelumnya.
Pada prinsip integritas moral perusahaan diharapkan untuk bisa
menjaga nama baik perusahaan agar tetap dapat dipercaya dan menjadi
perusahaan terbaik. Namun, karena eksportir kopi ini yang lebih cepat
tertarik dengan penawaran harga yang lebih tinggi menyebabkan
eksportir kopi tersebut berpindah ke perusahaan lain tanpa memikirkan
bagaimana prospek kedepan perusahaannya padahal eksportir ini sudah
bertahun-tahun menjadi pemasok di pabrik Belanda tersebut.
Sedangkan pada saat eksportir ini mengirim kopinya ke London,
eksportir ini hanya bisa berkerja selama 1 tahun saja karena harga kopi

8
terpuruk sekali. Jika di lihat dari sudut pandang moral, eksportir
tersebut wajar untuk mengejar keuntungan sebanyak-banyaknya, tetapi
eksportir tersebut mengorbankan/ merugikan parbrik Belanda tersebut
yang padahal sudah lama berkerjasama dengan eksportir kopi ini. Dari
sudut pandang moral, bisnis yang baik bukan saja bisnis yang
menguntungkan, melainkan juga bisnis yang baik secara moral agar
nama baik perusahaan tetap terjaga.

c. Bagaimana cara pandang eksportir kopi tersebut terhadap pelanggan ?

Pada umumnya, perusahaan pasti ingin mencari keuntungan


sebanyak-banyaknya, jadi dengan tujuan mencari keuntungan
perusahaan pasti mencari tempat atau daerah yang memiliki daya tarik
yang lebih banyak dengan barang/ produk yang kita jual sehingga
mendapatkan keuntungan yang lebih banyak. Begitu juga dengan
eksportir ini, pada awalnya eksportir ini melihat ada prospek
keuntungan yang besar bila bekerjasama dan menjadi pemasok bagi
perusahaan Belanda ini, namun semakin lama eksportir ini mulai
melihat dan mencari tahu perusahaan atau daerah yang memiliki
prospek kerja yang memiliki keuntungan yang lebih tinggi dan dilihat
oleh eksportir tersebut adalah perusahaan di London. Semua
perusahaan ingin mencari keuntungan yang lebih besar, termasuk
eksportir ini namun eksportir seharusnya tetap menjaga citra
perusahaannya. Banyaknya persaingan yang terjadi sehingga semakin
dituntut sikap profesionalitas untuk membangun citra bisnis yang baik.

d. Mengapa perusahaan Belanda itu mengembalikan surat dalam keadaan


tidak terbuka ?

Perusahaan Belanda tersebut mengembalikan surat tersebut karena


perusahaan Belanda tidak ingin memasok kopi lagi kepada eksportir
tersebut. Pada saat eksportir tersebut meninggalkan perusahaan

9
Belanda dan bekerjasama dengan perusahaan London, bisa saja pada
saat itu perusahaan Belanda sudah mencari dan menemukan pemasok
kopi yang lebih baik sehingga perusahaan Belanda mengembalikan
surat tersebut kepada eksportir. Selain itu juga, dalam kelompok primer
terdiri atas pemilik modal atau saham, krediur, pegawai, pemasok,
konsumen, penyalur, dan pesaing. Salah satu dalam kelompok primer
tersebut adalah pemasok, artinya pemasok juga memiliki peranan yang
penting dalam kegiatan perusahaan. Dalam keberhasilan kelompok
primer tersebut juga ditentukan oleh relasi yang saling menguntungkan
yang dapat dijalin diantara kelompok primer tersebut. Sehingga jika
pada saat itu, pemasok atau eksportir kopi itu tidak menjalin relasi yang
baik dengan kelompok primer maka dapat merugikan perusahaan
tersebut.

e. Apakah kelakuan eksportir kopi itu dapat merusak reputasi eksportir


Indonesia secara keseluruhan ?

Belum tentu, dalam penjualan pasti ada harga yang turun/ atau harga
yang naik. Begitu juga dengan yang dialami oleh eksportir tersebut.
Pada awalnya, eksportir tersebut mengalami peningkatan harga dan
setelah panen harga kopi tersebut menjadi turun. Dan hal tersebut juga
pasti terjadi pada berbagai perusahaan. Namun, jika eksportir kopi
tersebut melakukan tindakan tersebut, bukan berarti akan memberikan
reputasi yang buruk bagi eksportir Indonesia secara keseluruhan,
karena wajar perusahaan mencari keuntungan yang lebih tinggi, tetapi
eksportir kopi tersebut seharusnya tidak meninggal perusahaan Belanda
tersebut atau tetap menjadi eksportir kopi pada perusahan Belanda
tersebut tetapi menjadi eksportir kopi di perusahaan lain seperti di
London dengan cara menambah jumlah stok atau persediaan kopi
tersebut sehingga dapat di ekspor ke Belanda dan London. Dengan
demikian, eksportir tersebut tidak akan merugikan atau mengecewakan
perusahaan Belanda dan tetap mendapatkan keuntungan yang lebih.

10
 Pembahasan Kasus 3 (Merc & Company)
a. Apakah Merc & Company sebuah organisasi yang profit atau nonprofit
oriented?

Profit oriented, karena dalam kasus perusahaan farmasi Merc &


Company yang mengangani masalah river blindbess, manajemen
perusahaan lebih memilih menghabiskan puluhan juta dollar untuk
mengembangkan suatu produk yang mereka yakini mempunyai
kewajiban etis untuk membiarkan keuntungan potensialnya dinikmati
oleh orang lain meskipun kesempatan untuk memperoleh keuntungan
dari produk tersebut kecil, dan juga Merc&Company bukanlah semata -
mata mencari laba. Perusahaan Merc &Company juga lebih berorientasi
pada kode etik , dimanya dinyataka dengan kesulitan yang biasa timbul
seperti konflik kepentingan , hubungan dengan pesaing dan pemasok .
dilihat dari kasus ini konsep ini dapat dikaitkan dengan tidak adanya
sistem distribusi efektif yang mengantar obat ini sampai ke daerah
terpencil. Jadi dalam hal ini Merc & Company mengacu pada
kesejahteraan masyarakat dari pada memeperoleh keuntungan.

b. Mengapa Merc mau mendistribusikan obat secara gratis? Adakah


Manfaatnya bagi Merc?

Karena dalam hal ini Merc ingin agar masyarakat Afrika akan
sembuh dari penyakit river blindness, jutaan orang akan terselamatkan.
Hal ini mengacu pada konsep Moralitas, karena moralitas merupakan
pedoman yang dimiliki individu mengenai apa itu benar dan salah, atau
baik dan jahat. Manfaat bagi Merc yaitu, masyarakat akan mengingat
Merc sebagai produsen obat yang memiliki reputasi baik dan memiliki
etika yang baik. Karena dalam etika sebagai moralitas manusia harus
hidup baik sebagai manusia

11
c. Dengan keputusan yang telah diambilnya untuk mendistribusikan obat
secara gratis, mungkinkah Merc & Company akan dapat bertahan dalam
jangka panjang?

Sebagaimana pandangan ideal suatu bisnis dimana tujuan bisnis


sebenarnya bukanlah mencari keuntungan melainkan untuk melayani
kebutuhan masyarakat, namun dalam hal keuntungan yang diperoleh ini
memang wajar, halal, dan fair. Jika Merc terus mendistribusikan obat
secara gratis, maka tidak akan dapat bertahan dalam jangka panjang.
Terlepas dari pernyataan itu keuntungan tetap menjadi hal pokok bagi
bisnis, namun dalam hal ini juga tidak boleh mengabaikan etika dan
moralitas hanya untuk mencapai keuntungan semata.

d. Apakah ini suatu bentuk tanggungjawab moral dan sosial perusahaan?


Jelaskan!

Dilihat dari yang dilakukan Perusahaan Merc & Company ini


merupakan suatu bentuk tanggungjawab moral dan sosial, karena
berdasarkan tanggung jawab moral perusahaan menghasilkan barang –
barang , kepuasan konsemen dan keamanan pemakainya dalam hal ini
Merc & Company sudah memberikan obat gratis terhadap masyarakan.
Berdasarkan tanggung jawab sosial , walaupun perusahaan tidak
memperoleh keuntungan yang banyak namun peusahaan lebih
mementingkan kesejahteraan masyarakat.

e. Adakah hubungan yang sinergis antara etika dan keuntungan?


Dalam kasus ini tingkat keuntungan yang diperoleh Merc &
Company secara langsung dari penjualan obat yang didapatkan
perusahaan sangatlah kecil, tetapi hal lain yang dipikirkan Marc &
Company bahwa keuntungan manusiawi atas obat untuk river blindess
terlalu signifikan untuk diabaikan. Di era kompetisi yang ketat ini
reputasi baik merupakan sebuah competitive advantage yang sulit ditiru.

12
, jika suatu perusahaan menerapkan standar etika dan moral yang tinggi
terbukti sukses dalam jangka panjang. Dalam hal ini perilaku etika
Merc & Company baik dimata konsumen karena dalam perusahaan etika
merupakan komponen kunci manjemen yang efektif dan efisiensi yang
akan berdampak positif bagi keuntungan perusahaan Marc & Company

13
BAB III

PENUTUP

1. Kesimpulan
1. Memang benar bahwa perusahaan harus meraih keuntungan dan
manfaat sebesar-besarnya dengan memperkecil biaya tambahan. Namun
harus diperhatikan juga hak pekerja dan masyarakat dimana korporasi
beroprasi. Sehingga perusahaan akan dituntut untuk lebih
memperhatikan tanggungjawab moral bisnisnya yaitu, berkewajiban
moral untuk menyediakan kondisi dan lingkungan kerja yang sehat dan
aman, memberikan upah adil kepada pegawai.

2. Dalam kehidupan berbisnis, seorang pebisnis pasti ingin mengejar


keuntungan yang sebanyak-banyaknya. Namun, kepentingan dan hak
orang lain juga harus diperhatikan demi kepentingan bisnis itu sendiri.
Sehingga seorang pebisnis dituntut untuk memiliki sikap professional
untuk membangun citra bisnis yang baik. Selain itu juga, yang perlu
diperhatikan dalam kegiatan bisnis yaitu membangun relasi yang saling
menguntungkan agar tercapainya keberhasilan dan kelangsungan bisnis.

3. Dari kasus ini dapat disimpulkan bahwa implementasi tindakan etis


merupakan strategi bisnis jangka panjang terbaik bagi perusahaan.
Dampkanya memang tidak serta merta terlihat, bahkan terkadang seperti
melakukan hal yang sia – sia dan sama sekali tidak menguntungkan .
Dalam hal ini Merc selama ini telah dikenal karena budaya etisnya yang
sudah lama berlangsung, namun juga menerapkan perusahaan yang
secara spektakuler mendapatkan keuntungan paling banyak sepanjang
masa. Hal ini seperti memberikan bukti bahwa etika dalam bisnis secara
sistematis berkorelasi dengan prifitabilitas

14
DAFTAR PUSTAKA

Dewi, Sutrisna. 2016. Etika Bisnis. Denpasar : Udayana University Press

15