Anda di halaman 1dari 14

Critical Book Report

GEOGRAFI BUDAYA DAN POLITIK


“Komunikasi Antarbudaya (Di Era Budaya Siber) dan
Komunikasi Antarbudaya (Satu Perspektif
Multidimensi)”

Disusun Oleh:

TAMIMA AZRI ADILA


NIM: 3161131050
Kelas: C Reguler 2016
Dosen Pengampu: Drs. Mbina Pinem, M.Si.

JURUSAN PENDIDIKAN GEOGRAFI


FAKULTAS ILMU SOSIAL
UNIVERSITAS NEGERI MEDAN
2018
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur saya panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena berkat Karunia
dan rahmat-Nya sehingga saya dapat menyelesaikan tugas mata kuliah Geografi Budaya dan
Politik ini dengan baik dan tepat waktu. Adapun judul buku yang akan saya kritik yaitu
“Komunikasi Antarbudaya (Di Era Budaya Siber) dan Komunikasi Antarbudaya (Satu
Perspektif Multidimensi)”.
Pembuatan Critical Book Report ini bertujuan sebagai tugas individu mata kuliah
Geografi Budaya dan Politik.
Saya mengucapkan banyak terimakasih kepada bapak Mbina Pinem selaku dosen
pengampu yang telah membimbing saya dalam pembuatan Critical Book Report ini.
Critical Book Report ini saya yakini jauh dari kesempurnaan dan masih banyak
kekurangannya seperti pepatah yang mengatakan “tak ada gading yang tak retak”, baik isi
maupun penyusunannya. Atas semua itu dengan rendah hati saya harapkan kritik dan saran
yang membangun guna menyempurnakan tugas Critical Book Report ini. Semoga tugas
Critical Book Report ini dapat bermanfaat.

Medan, 18 September 2018

Tamima Azri Adila

i
DAFTAR ISI

halaman
KATA PENGANTAR ........................................................................................ i
DAFTAR ISI...................................................................................................... ii
IDENTITAS BUKU ......................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN .................................................................................. 1
1.1 Latar Belakang .................................................................................. 1
1.2 Tujuan ............................................................................................... 1
1.3 Manfaat ............................................................................................. 1
BAB II PEMBAHASAN ................................................................................... 2
2.1 Ringkasan Buku Utama .................................................................... 2
2.2 Ringkasan Buku Pembanding ........................................................... 6
BAB III KELEBIHAN BUKU ......................................................................... 8
BAB IV KELEMAHAN BUKU ....................................................................... 9
BAB V PENUTUP........................................................................................... 10
5.1 Kesimpulan ..................................................................................... 10
5.2 Saran ............................................................................................... 10

ii
IDENTITAS BUKU

IDENTITAS BUKU UTAMA


Judul Buku : Komunikasi Antarbudaya (Di Era Budaya Siber)
Penulis : Rulli Nasrullah
ISBN :-
Penerbit : “Kencana” Prenada Media Group
Tahun Terbit : 2012
Kota Terbit : Jakarta
Cetakan : Pertama
Tebal buku : VIII + 198 halaman

IDENTITAS BUKU PEMBANDING


Judul Buku : Komunikasi Antarbudaya (Satu Perspektif Multidimensi)
Penulis : Dr. Ahmad Sihabudin, M.Si.
ISBN : 978-602-000-000-0
Penerbit : PT BUMI AKSARA
Tahun Terbit : 2011
Kota Terbit : Jakarta
Cetakan : Pertama
Tebal Buku : 162 Halaman

iii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Budaya merupakan suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh
sebuah kelompok orang dan diwariskan dari generasi ke generasi. Ketika seseorang
berusaha berkomunikasi dengan orang-orang yang berbeda budaya dan menyesuaikan
perbedaan-perbedaannya, disitulah dibuktikan bahwa sebenarnya budaya itu juga
dipelajari.
komunikasi antar budaya merupakan hal yang penting bagi semua penduduk
dunia. Kemunculan komunikasi antar budaya di desak oleh adanya interdependensi antar
bangsa yang semakin nyata, baik itu di bidang ekonomi, iptek, politik, dan lain-lain.
Mobilitas penduduk dunia yang semakin tinggi dan kemajuan teknologi komunikasi yang
berkembang pesat juga semakin memungkinkan terjadinya komunikasi antar budaya.
Perbedaan kultur dari orang- orang yang berkomunikasi yang menyangkut kepercayaan,
nilai, serta cara berperilaku serta latar belakang budaya yang berbeda inilah yang
menjadi ciri terpenting yang menandai komunikasi antar budaya. Tak dapat dipungkiri
semakin pentingnya arti komunikasi antar budaya yang menempati posisi sentral dalam
dinamika sosial dewasa ini.

1.2 Tujuan
1. Mengulas isi sebuah buku
2. Mencari dan mengetahui informasi yang ada dalam buku
3. Melatih diri untuk berpikir kritis dalam mencari informasi yang diberikan oleh setiap
bab dari sebuah buku

1.3 Manfaat
1. Untuk memenuhi tugas mata kuliah Geografi Budaya dan Politik
2. Untuk mengembangkan bakat dan mengkritik buku
3. Untuk meningkatkan kita dalam berfikir rasional
4. Untuk meningkatkan pola pikir kita dalam menganalisa buku

1
BAB II
PEMBAHASAN

2.1. Ringkasan Buku Utama


KOMUNIKASI ANTARBUDAYA (DI ERA BUDAYA SIBER)
Buku ini terdiri atas sebelas bab. Bab pertama dimulai dengan mengantarkan
pembaca me-ngenal lebih dekat tentang model komunikasi, budaya, internet, dan budaya
siber. Se-lanjutnya, dijelaskan pendekatan dan kom-ponen dalam komunikasi
antarbudaya dan diteruskan dengan karakter-istik media baru dan interaksi simbolik
dalam budaya siber. Pembahasan dilanjutkan dengan pemaknaan identitas, masyarakat
jejaring, dan ruang publik. Pada bagian akhir, penulis meng-ulas komodifikasi informasi
di era digital.
Komunikasi merupakan hal yang ter-penting bagi manusia. Tanpa komunikasi
ma-nusia bisa dipastikan akan “tersesat” dalam belantara kehidupan ini karena tidak bisa
me-naruh dirinya dalam lingkungan sosial. Per-kembangan komunikasi menurut Rogers
(1986) terdiri atas empat fase. Sebelum fase-fase tersebut, manusia melakukan kontak
de-ngan sesuatu yang sangat sederhana, seperti dengan gambar dan lukisan di gua-gua.
Fase pertama disebut the writing era, ketika komu-nikasi dimulai dengan tulisan yang
bisa dibaca. Selanjutnya, dinamakan the printing era. Pada fase ini komunikasi manusia
lebih maju de-ngan memanfaatkan teknologi cetak. Fase ke-tiga disebut
telecommunication era. Fase ini berimplikasi pada pengertian komunikasi jarak jauh
ketika memasuki era teknologi elektro-nika. Fase terakhir disebut interactive com-
munication era. Fase ini merupakan era yang paling kontemporer karena telekomunikasi
terjadi antara dua media yang berbeda dan difasilitasi dengan keberadaan komputer.
Budaya adalah sesuatu yang sudah menjadi kebiasaan yang sudah sukar diubah
(KBBI: 2003). Budaya merupakan sebuah nilai atau praktik sosial yang berlaku dan
dipertukarkan dalam hubungan antarmanusia baik sebagai individu maupun anggota
masyarakat. Budaya merupakan nilai-nilai yang muncul akibat interaksi manusia di suatu
wilayah atau negara tertentu. Budaya inilah yang menjadi acuan dasar bahkan bisa
menjadi rel bagi proses komunikasi antarmanusia yang ada di dalamnya. Sementara itu,
cyberspace adalah sekumpulan data, representasi grafik demi grafik, dan hanya bisa
diakses melalui komputer. Cyberspace bisa pula bermakna sebagai medium yang
digunakan untuk me-ningkatkan hubungan atau relasi ke arah yang lebih baru.

2
Teknologi cyber juga digunakan untuk menghasilkan efek-efek visual film
melalui computer-generated imagenary yang bisa menghasilkan efek dramatis, tokoh-
tokoh animasi, ataupun bencana dan fenomena alam.
Pada buku ini dibahas mengenai per-kembangan teknologi media yang terus
meng-alami pembaharuan dan memberikan pengaruh serta landasan perlunya
mempelajari komuni-kasi antarbudaya. Proses interaksi antar-manusia yang dimediasi
oleh teknologi dan mampu menjangkau lapisan masyarakat dari belahan dunia manapun
menjadi semakin ter-buka. Pesan yang sebelumnya tercetak kini bisa dinikmati secara
audio, visual, bahkan kombinasi antara audio-visual. Lebih dari itu, media juga sudah
menjelma sebagai sumber hiburan, pendidikan, sosial, gaya hidup, hingga bisnis yang
menguntungkan. Internet sebagai salah satu dampak pembaharuan perkembang-an
teknologi pada dasarnya tidak hanya bisa menjadi semacam pintu untuk mengetahui
budaya yang ada pada masyarakat di daerah itu, melainkan menjadi perangkat dalam ek-
spresi budaya itu sendiri.
Menurut Martin dan Nakayama (1997), ada tiga pendekatan dalam mempelajari
ko-munikasi antarbudaya. Pertama, pendekatan fungsional yang menyatakan pada
dasarnya kebiasaan manusia itu dapat dike-tahui melalui penampilan luar dan dapat di-
gambarkan. Kedua, pendekatan interpretatif yang menegaskan pada dasarnya manusia itu
mengonstruksi dirinya dan realitas yang berada di luar dirinya. Pendekatan ini meyakini
bahwa budaya dan komunikasi bersifat subjektif. Ketiga, pendekatan kritis. Pendekatan
ini tidak sekadar mempelajari kebiasaan manusia, tetapi dengan mempelajari bagaimana
ke-kuasaan sosial atau politik berfungsi dalam situasi budaya tertentu akan memberikan
solusi pada manusia dalam menyikapi kekuasaan. Inilah tiga pendekatan yang dibahas
dalam buku ini untuk melihat budaya dan komuni-kasi, khususnya untuk mendekati
manusia se-bagai objek sekaligus subjek dalam ko-munikasi antarbudaya. Budaya dan
komunikasi bisa saling memengaruhi, dalam arti budaya tidak hanya memengaruhi
komunikasi tetapi budaya juga bisa dipengaruhi oleh komunikasi itu sendiri. Buku ini
juga menjelaskan tiga komponen dalam komunikasi antarbudaya, yaitu komuni-kator,
pesan, medium (media sebagai alat yang digunakan untuk memindahkan pesan dari
sumber kepada penerima), dan komunikan (audiens). Tujuan akhir dari proses komuni-
kasi, termasuk ketika membincangkan komuni-kasi antarbudaya, adalah munculnya efek.
Efek proses komunikasi ini diharapkan mampu mengubah pengetahuan atau
kepercayaan, ke-biasaan, serta komunikasi antarpribadi audiens. Dari sisi komunikator,

3
pesan yang dirancang dapat diterima seutuhnya tanpa adanya distorsi atau gangguan
kepada audiens.
Internet menurut Hine (2007), bisa didekati dari dua aspek, yaitu internet sebagai
sebuah budaya (culture) dan sebagai artefak kebudayaan (curtural artefac). Sebagai
budaya, pada awalnya internet merupakan model komunikasi yang sederhana bila di-
bandingkan dengan model komunikasi secara langsung atau face-to-face. Interaksi
langsung, ekpresi wajah, tekanan suara, cara me-mandang, posisi tubuh, usia, ras, dan
sebagainya merupakan tanda-tanda yang juga berperan dalam interaksi antarindividu.
Ada-pun dalam komunikasi yang termediasi komputer, interaksi terjadi berdasar-kan teks
semata, bahkan emosi pun ditunjuk-kan dengan teks (simbol-simbol dalam emosi).
Sebagai artefak kebudayaan, internet bisa didenotasikan sebagai seperangkat program
komputer yang memungkinkan pengguna untuk melakukan interaksi, memunculkan ber-
bagai bentuk komunikasi, serta untuk bertukar informasi. Internet juga bisa dilihat
sebagai sebuah fenomena sosial, baik itu melalui pembacaan terhadap sejarah
perkembangannya maupun kebermaknaan dan kebergunaan internet tersebut. Di satu sisi
beberapa fenomena yang terjadi di internet memberikan keuntungan dan sebaliknya
beberapa fenomena yang terjadi di internet terkadang malah tidak memberikan apa-apa.
Menurut Hine, hal ter-sebut bergantung pada user yang memakai internet tersebut,
apakah hanya sebagai se-perangkat mesin komputer atau medium interaksi sosial.
Menurut Holmes (2005), internet merupakan tonggak perkembangan teknologi interaksi
global di akhir dekade abad ke-20 yang mengubah cakupan serta sifat dasar medium
komunikasi. Transformasi ini disebut sebagai second media age. Pada transformasi ini,
media tradisional seperti radio, koran, bahkan televisi telah banyak ditinggalkan oleh
khalayak dan beralih ke media internet yang lebih kontemporer. Era teknologi digital dan
teknologi komunikasi (internet) telah meng-ubah arah komunikasi yang selama ini meng-
anut pola broadcast (satu arah) sehingga ke-hadiran teknologi komunikasi menjadi dua
arah bahkan lebih atraktif. Komunikasi yang terjadi lebih instan, dinamis, tidak
tersentral, dan melibatkan khalayak.
Interaksi simbolik (teks) dalam budaya siber merupakan medium yang mewakili
proses komunikasi melalui internet. Meskipun saat ini kemajuan telah memungkinkan
antar-entitas berinteraksi melalui suara maupun visual, misalnya melalui layanan Skype,
simbol (teks) menjadi dasar komunikasi termediasi komputer. Berkaitan dengan itu,
Smith (1995) menekankan ada dua aspek penting dalam komunikasi di internet.
Pertama, interaksi yang terjadi melalui jaringan komputer pada dasarnya diwakili oleh

4
teks. Kedua, interaksi yang terjadi cenderung mengabaikan stigma terhadap individu
tertentu sebab komunikasi berdasarkan teks ini sangat sedikit menampil-kan gambaran
visual seseorang, misalnya tombol “like” dalam Facebook yang mengikuti status yang
sedang dipublikasikan oleh si pemilik. “Like” tidak lagi bisa dimaknai se-bagai hanya
menyukai seperti yang selama ini kita ketahui, namun bisa bermakna apa saja dan
sepenuhnya diperlukan penafsiran dari pemilik status tersebut dan bukan dari si pem-beri
“like”. Jelas kondisi yang terjadi di dunia virtual ini sangat berbeda dibandingkan dengan
kejadian dalam komunikasi tatap muka. Dalam perspektif cultural studies, internet
merupakan ruang tempat kultur yang terjadi itu diproduksi, didistribusikan, dan
dikonsumsi. Cultural studies mampu me-ngaburkan kelas-kelas sosial yang telah mapan
sebagai sebuah strata yang ada di masyarakat. Pendekatan ini, dalam melihat budaya
siber yang ada di internet, memberikan arah untuk melihat proses komodifikasi yang
terjadi di ruang virtual (tentu saja dengan mengabaikan kajian berdasarkan perbedaan
kelas), ketika kekuasaan berada pada subjek atau individu itu sendiri.
Mosco (1996) memformulasikan tiga bentuk komodifikasi yang terjadi di media
massa. Pertama, komodifikasi isi yang men-jelaskan konten media yang diproduksi
merupakan komoditas yang ditawarkan. Kedua komodifikasi khalayak yang menjelaskan
kha-layak pada dasarnya merupakan entitas ko-moditas itu sendiri yang bisa dijual.
Dalam program di industri pertelevisian, contohnya, ada tiga entitas yang saling
memengaruhi yakni perusahaan media, pengiklan, dan kha-layak itu sendiri. Ketiga,
komodifikasi pekerja tempat perusahaan media massa pada ke-nyataannya tak berbeda
dengan pabrik. Para pekerja tidak hanya memproduksi konten, me-lainkan juga
menciptakan khalayak sebagai pekerja yang terlibat dalam mendistribusikan konten
sebagai sebuah komoditas. Teori cyberculture menegaskan per-kembangan teknologi
internet pada dasarnya melahirkan apa yang disebut informational capitalism (Castells:
2000). Teknologi dan entitas yang berada di dalamnya seperti pro-dusen, distributor,
pengiklan, maupun peng-guna merupakan model ekonomi baru me-landaskan produk
dan komoditasnya pada informasi. Namun patut dicatat, teknologi informasi tidaklah
serta merta mengubah kultur yang ada di tengah masyarakat dan jika ada perubahan
kultur pun disebabkan oleh interaksi yang terjadi di antara keduanya. Dalam internet
individu menjadi entitas yang selain mengonsumsi juga menghasilkan produk. Sifat
internet yang menghubungkan antarentitas melalui perantaraan perangkat komputer pada
akhirnya menciptakan pe-rangkat tersebut sebagai pabrik dalam mem-produksi
informasi. Informasi yang ada pada dunia virtual pada dasarnya merupakan produk

5
kreatif dari entitas itu sendiri. Intinya, perkembangan dan pertumbuhan internet dewasa
ini telah mengubah wajah dunia. Ada banyak hal yang berubah. Berbagai hal yang
sebelumnya terbatas oleh kondisi dan geografis kini perlahan mengabur, menjadikan
pertukaran informasi berlangsung sepanjang waktu. Namun di sisi lain, kondisi ini juga
semakin mengaburkan batasan antarbudaya, mengubah cara berkomunikasi antarbudaya,
dan secara langsung maupun tidak langsung menghadirkan percampuran budaya. Dari
pers-pektif komunikasi antarbudaya, penulisnya mencoba menghadirkan bahasan
komprehensif bagaimana budaya termediasi di internet. Di dalamnya, dapat kita temukan
pemaparan tentang fenomena siber dan pengaruhnya ter-hadap kebudayaan dan konsep
komunikasi antarbudaya.

2.2. Ringkasan Buku Pembanding


KOMUNIKASI ANTARBUDAYA (SATU PERSPEKTIF MULTIDIMENSI)
Budaya berkenaan dengan cara manusia hidup. Manusia belajar berpikir, merasa
mempercayai, dan mengusahakan apa yang patut menurut budayanya. Budaya adalah
suatu konsep yang membangkitkan minat. Secara formal budaya didefinisikan sebagai
tatanan pengetahuan, pengalaman, kepercayaan, nilai, sikap, makna, dan diwariskan dari
generasi melalui usaha individu dan kelompok. Budaya berkesinambungan dan hadir di
mana-mana, budaya juga berkenaan dengan bentuk fisik serta lingkungan sosial yang
mempengaruhi hidup kita. Budaya itu dipelajari dan tidak diwariskan secara genetis,
budaya juga berubah ketika orang-orang berhubungan antara yang satu dengan lainnya.
Artinya budaya dan komunikasi tidak dapat dipisahkan. Budaya tidak hanya
mnentukan siapa bicara siapa, tentang apa, dan bagaimana komunikasi berlangsung,
tetapi budaya juga turut menentukan orang menyampaikan pesan, makna yang ia miliki,
dan kondisi untuk mengirim, menerima, dan menafsirkan pesan tersebut. Sehingga,
budaya yang kita anut dari anak-anak hingga dewasa itulah yang menentukan bagaimana
perilaku kita dalam berkomunikasi.
Komunikasi antarbudaya penting dilakukan. Beberapa faktor yang menyebabkan
komunikasi antarbudaya penting untuk dilakukan diantaranya mobilitas (perpindahan),
pola imigrasi, saling ketergantungan ekonomi, teknologi komunikasi, dan stabilitas
politik.
Komunikasi antar budaya terjadi apabila pengirim pesan adalah anggota dari
suatu budaya dan penerima pesanya adalah anggota dari suatu budaya lain. Seperti yang
sudah kita ketahui di atas bahwa budaya seseorang dapat mempengaruhi cara

6
berkmunikasi seseorang. Oleh karena itu, setiap perbedaan yang timbul dari komunikasi
tersbeut dapat mengakibatkan kesulitan dalam memaknai makna. Sehingga, di perlukan
komunikasi dengan model transaksional dalam komunikasi antarbudaya tersebut.
Bahasa merupakan salah satu alat yang mendominasi bagaimana komunikasi
antarbudaya berjalan. Bahasa dapat mempengaruhi persepsi, menyalurkan, dan turut
membentuk pikiran. Dalam berkomunikasi manusia tidak hanya menggunakan kata-kata
saja. Nada suara, ekspresi wajah, gerak-gerik, semua itu mengandung makna yang perlu
diperhitungkan.
Dalam komunikasi antarbudaya pula perlu diperhatikan bahwa tidak ada hal yang
benar atau yang salah, sejauh hal tersebut berkitan dengan kepercayaan. Namun, adanya
etnosentrisme (menganggap budayanya paling baik) dan stereotip (pandangan negatif
terhadap kelompok lain baik ras, suku, agama maupun lainnya) mengakibatkan
komunikasi antarbudaya sukar di lakukan. Oleh karena itu, perlu adanya akulturasi
dalam melakukan komunikasi tersebut.
Secara keseluruhan, buku ini menjelaskan tentang bagaimana cara manusia
berkomunikasi, khususnya yang berbeda budaya (komunikasi antarbudaya). Dalam buku
ini penulis menjelaskan bagian-bagian rinci beberapa faktor yang menunjang manusia
dalam berkomunikasi, seperti bahasa, simbol atau lambang, gerak-gerik tubuh, gaya
dalam berpakaian, dan lainnya.

7
BAB III
KELEBIHAN BUKU

3.1 Kelebihan Buku Utama (Komunikasi Antarbudaya (Di Era Budaya Siber))
Kelebihan buku utama yang berjudul Komunikasi Antarbudaya (Di Era Budaya
Siber) yaitu bahasa yang digunakan mudah dipahami, selain itu buku ini sangat bagus
untuk dibaca karena masih sangat jarang buku yang mengangkat komunikasi antar
budaya di era budaya siber yang serba menggunakan internet. Secara keseluruhan buku
ini sangat bagus dan membantu, apalagi dipergunakan untuk mahasiswa Bimbingan dan
Konseling dimana harus bisa memahami budaya antara satu dengan lainnya

3.2. Kelebihan Buku Pembanding (Komunikasi Antarbudaya (Satu Perspektif


Multidimensi))
Kelebihan buku pembanding yang berjudul Komunikasi Antarbudaya (Satu
Perspektif Multidimensi) yaitu buku ini menggunakan contoh-contoh dalam setiap
subbabnya sehingga pembaca lebih memahami hal apa yang di bahas. Selain itu, adanya
gambar juga menambah menarik buku ini. penulis juga menuliskan setiap subbab dengan
singkat tanpa bertele-tele. Buku ini juga mencantumkan identitas yang lengkap sehingga
tidak menyulitkan pembaca untuk mengetahui informasi bibliografi dan cover buku
menarik sehingga menarik peminat pembaca untuk membaca buku ini.

8
BAB IV
KELEMAHAN BUKU

4.1 Kelemahan Buku Utama (Komunikasi Antarbudaya (Di Era Budaya Siber))
Kelemahan dari buku utama yang berjudul Komunikasi Antarbudaya (Di Era
Budaya Siber) yaitu buku ini tidak mencantumkan identitas yang lengkap sehingga
menyulitkan pembaca untuk mengetahui informasi bibliografi dan buku ini tidak
mencantumkan dampak komunikasi di era budaya siber, membosankan karena tidak ada
gambar yang mendukung pada setiap pembahasan, tidak ada rangkuman secara
keseluruhan pada buku ini.

4.2 Kelemahan Buku Pembanding (Komunikasi Antarbudaya (Satu Perspektif


Multidimensi))
Kelemahan dari buku pembanding yang berjudul (Komunikasi Antarbudaya (Satu
Perspektif Multidimensi) yaitu Penulis kurang menggunakan pengulangan kata yang
digunakan untuk melanjutkan ke paragraf selanjutnya. Sehingga, ada ruang kosong antar
paragraf di beberapa subbab penjelasan.

9
BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Komunikasi merupakan suatu proses budaya. Komunikasi antarbudaya dapat
terjadi bila produsen pesan adalah anggota suatu budaya dan penerima pesannya adalah
anggota suatu budaya lainnya. Ada dua konsep utama yang mewarnai komunikasi
antarbudaya (interculture communication), yaitu konsep kebudayaan dan konsep
komunikasi. Komunikasi memiliki 2 fungsi yaitu fungsi pribadi seperti menyatakan
identitas sosial, menyatakan integrasi sosial, menambah pengetahuan, melepaskan diri
atau jalan keluar dan fungsi sosial seperti pengawasan, menjembatani, sosialisasi nilai,
menghibur. Komunikasi juga memiliki hambatan yang berdefinisi segala sesuatu yang
menjadi penghalang untuk terjadinya komunikasi yang efektif. Keefektifan dalam
berkomunikasi akan terjadi apabila terdapat persamaan makna pesan antara komunikator
dan komunikan.
Komunikasi Antar Budaya terjadi karena alasan yang bermacam-macam.
Komunikasi mencakup pihak-pihak yang berperan sebagai pengirim dan penerima secara
berganti-ganti, maka masalah atau kesulitan dapat terjadi dari semua pihak. Oleh sebab
itu diperlukannya suatu cara atau strategi untuk menyamakan perbedaan dan persepsi
dalam Komunikasi Antar budaya tersebut, untuk itu perlu adanya rasa saling
menghormati dalam berkomunikasi antar budaya.

5.2 Saran
Sebaiknya kita lebih dalam lagi mempelajari tentang Geografi Budaya dan
Politik. Dan semoga dengan adanya tugas critical book report ini dapat menambah
wawasan dan pengetahuan kita mengenai Geografi Budaya dan Politik terkhusus bagi
jurusan pendidikan geografi dan bagi siapa saja yang membacanya.

10