Anda di halaman 1dari 22

LAPORAN KASUS

KISTA OVARIUM

Oleh :

I Made Maha Prasetya (1871121024)


Kadek Nova Adi Putra (1871121006)

Pembimbing:
dr. Kadek Agus Wijaya Sp.OG

DALAM RANGKA MENGIKUTI KEPANITERAAN KLINIK


BAGIAN ILMU OBSTETRI DAN GINEKOLOGI
BRSUD TABANAN
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS WARMADEWA

2018
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadapan Tuhan Yang Maha Esa karena atas
rahmat-Nya laporan kasus ini yang berjudul “Kehamilan Ektopik Terganggu” dapat
terselesaikan tepat pada waktunya.
Penyusunan laporan kasus ini dapat diselesaikan dengan tepat waktu atas
dukungan dari berbagai pihak. Penulis mengucapkan terima kasih kepada :
1. dr. Darma Putra, Sp.OG, selaku Kepala Bagian Obstetri dan Ginekologi
RSUD Sanjiwani
2. dr. Kadek Agus Wijaya Sp. OG selaku pembimbing yang telah banyak
memberikan masukan sehingga tulisan ini bias diselesaikan dengan baik.
3. Seluruh staf pegawai BRSU Tabanan dan seluruh pihak yang membantu
dalam penyelesaian penelitian ini.
Akhir kata, semoga penelitian ini dapat memberikan manfaat bagi seluruh pihak
yang memerlukan

Tabanan, 14 Agustus 2018

Penulis

i
DAFTAR ISI

Halaman
DAFTAR ISI ............................................................................................................................... ii
DAFTAR TABEL...................................................................................................iv
DAFTAR GAMBAR..............................................................................................v
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang .......................................................................................................... 1
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Definisi ........................................................................................................................ 3
2.2 Epidemiologi ............................................................................................................. 3
2.3 Faktor Risiko ............................................................................................................ 4
2.4 Klasifikasi ............................................................................................... 6
2.5 Patofisiologi ............................................................................................................... 6
2.6 Manifestasi Klinis .................................................................................................. ..9
2.7 Diagnosis .................................................................................................................. 10
2.8 Diagnosis Diferensial .................................................................................................... 12
2.9 Penatalaksanaan ........................................................................................................... 12
BAB III LAPORAN KASUS
3.1 Identitas Pasien ....................................................................................................... 17
3.2 Anamnesis ................................................................................................................ 17
3.3 Pemeriksaan Fisik .................................................................................................. 18
3.4 Pemeriksaan Penunjang ......................................................................... 19
3.5 Diagnosis .................................................................................................................. 23
3.6 Penatalaksanaan ...................................................................................................... 23
3.7 Perkembangan Pasien di Ruang IGD .............................................................. 23
3.8 Laporan Operasi ..................................................................................................... 25
3.9 Perkembangan Pasien di Ruang Nifas ................................................... 26
BAB IV PEMBAHASAN
4.1 Pembahasan Hasil Anamnesis ...................................................................................... 29
4.2 Pembahasan Hasil Pemeriksaan Fisik .................................................... 31
4.3 Pembahasan Hasil Pemeriksaan Penunjang........................................... 31
4.4 Pembahasan Penatalaksanaan ................................................................ 32
BAB V SIMPULAN............................................................................................................... 32

2
DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................................ 34

3
BAB I
LATAR BELAKANG

Ovarium memegang peranan yang sangat krusial pada reproduksi dan menstruasi.
Gangguan pada ovarium dapat menyebabkan terhambatnya pertumbuhan,
perkembangan dan kematangan ovum. Gangguan yang paling sering terjadi adalah
kista ovarium, sindrom ovarium polikistik, dan kanker ovarium (Wiknjosastro et
al., 2009).
Kista adalah pertumbuhan berupa kantung (pocket, pouch) yang tumbuh
dibagian tubuh tertentu. Kista ovarium adalah suatu kantung yang berisi cairan atau
materi semisolid yang tumbuh dalam ovarium. Penemuan kista ovarium pada
seorang wanita akan sangat ditakuti oleh karena adanya kecenderungan menjadi
ganas, tetapi kebanyakan kista ovarium memiliki sifat yang jinak (80-84%)
(Wiknjosastro et al., 2009).
Terdapat variasi dengan luas insidensi keganasan ovarium, rata-rata
tertinggi terdapat di Negara Skandinavia (14,5-15,3 per 100.000 populasi). Di
Amerika insidensi keganasan ovarium semua ras adalah 12,5 kasus per 100.000
populasi pada tahun 1988 sampai 1991. Sebagian besar kista adalah kista fungsional
dan jinak (Medscape, 2013).
Angka kejadian kista ovarium di dunia yaitu 7% dari populasi wanita, dan
85% bersifat jinak. Angka kejadian di Indonesia tidak diketaui secara pasti
dikarenakan pencatatan kasus yang kurang baik. Namun, diperkirakan prevalensi
kista ovarium sebesar 60% dari seluruh kasus gangguan ovarium. Kistadenoma
ovarii musinosum sebesar 40% dari seluruh kasus neoplasma ovarium. Frekuensi
kistadenoma ovarii musinosum ditemukan Hariadi (1970) sebesar 27%, Gunawan
(1977) menemukan 29,9%, Sapardan (1970) menemukan 37,2%, dan Djaswadi
menemukan 15,1%. Frekuensi kistadenoma ovarii serosum ditemukan Hariadi dan
Gunawan di Surabaya sebesar masing-masing 39,8% dan 28,5%. Di Jakarta
Sapardan menemukan 20%, dan di Yogyakarta ditemukan Djaswadi sebesar 36,1%.
Frekuensi kista dermoid ditemukan Sapardan sebesar 16,9%. Djaswadi menemukan
15,1%, Hariadi dan Gunawan masing-masing menemukan 11,1% dan 13,5%
(Wiknjosastro et.al, 2009)

4
Kista ovarium umum ditemukan pada wanita usia reproduktif. Kista
menimbulkan angka kematian yang cukup tinggi. Sekitar 20-30% kista ovarium
dapat berpotensi menjadi keganasan terutama pada wanita diatas 40 tahun.
Perjalanan penyakit berlangsung secara diam-diam (silent killer), sehingga
penderita umumnya tidak menyadari pertumbuhan kista ovarium. Penderita
umumnya sadar setelah kista berukuran besar sehingga mudah teraba dari abdomen
(Mansjoer et al., 2011).
Komplikasi yang paling sering dan paling serius pada kista ovarium yang
terjadi dalam kehamilan adalah peristiwa torsio atau terpuntir. Penatalaksanaan
kista ovarium didasarkan pada jenis kista tersebut. Tidak semua kista ovarium
ditangani melalui pembedahan. Pada kista ovarium fisiologis, resolusi spontan
dapat terjadi dengan pengobatan. Namun, sebagian besar memerlukan pembedahan
untuk mengangkat kista tersebut. Penanganannya melibatkan keputusan yang sukar
dan dapat mempengaruhi status hormonal dan fertilitas seorang wanita
(Wiknjosastro et.al, 2009).

5
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi
Kista ovarium merupakan perbesaran sederhana ovarium normal, folikel de graff
atau korpus luteum atau kista ovarium dapat timbul akibat pertumbuhan dari
epithelium ovarium (Dorland, 2010).
Kista ovarium merupakan suatu tumor, baik kecil maupun yang besar, kistik
atau padat, jinak atau ganas yang berada di ovarium. Dalam kehamilan, tumor
ovarium yang dijumpai paling sering ialah kista dermoid, kista coklat atau kista
lutein (Wiknjosastro et al, 2009).
Kista ovarium adalah kista yang permukaannya rata dan halus, biasanya
bertangkai, bilateral dan dapat menjadi besar. Dinding kista tipis berisi cairan serosa
dan berwarna kuning. Pengumpulan cairan tersebut terjadi pada ovarium (Mansjoer
et al., 2011)

2.2 Epidemiologi

2.3 Klasifikasi
2.3.1 Kista Fisiologis
Sesuai siklus menstruasi, di ovarium timbul folikel dan folikelnya berkembang, dan
gambaranya seperti kista. Biasanya kista tersebut berukuran dibawah 4 cm, dapat
dideteksi dengan menggunakan pemeriksaan USG, dan dalam 3 bulan akan hilang.
Jadi ,kista yang bersifat fisiologis tidak perlu operasi, karena tidak berbahaya dan
tidak menyebabkan keganasan, tetapi perlu diamati apakah kista tersebut
mengalami pembesaran atau tidak. Kista yang bersifat fisiologis ini dialami oleh
orang di usia reproduksi karena masih mengalami menstruasi. Biasanya kista
fisiologis tidak menimbuklkan nyeri pada saat haid. Beberapa jenis kista fisiologis
diantaranya adalah kista korpus luteal, kista folikular, kista teka-lutein (Medscape,
2014)

6
2.3.2 Kista Patologis
Kista ovarium yang bersifat ganas disebut juga kanker ovarium. Kanker ovarium
merupakan penyebab kematian terbanyak dari semua kanker ginekologi. Angka
kematian yang tinggi pada kanker ovarium disebabkan karena kondisi ini
asimptomatis dan biasanya pasien datang saat metastasis sudah terjadi. Angka
kematian penyakit ini di Indonesia belum diketahui dengan pasti (Wiknjosastro,
2009)
Pada kista patologis, pembesaran bisa terjadi relatif cepat, yang kadang tidak
disadari penderita. Gejala seperti perut yang agak mebesar disertai rasa tidak
nyaman pada perut bagian bawah timbul saat kista sudah besar. Kista ganas yang
mengarah ke kanker biasanya bersekat sekat dan dinding sel tebal dan tidak teratur.
Tidak seperti kista fisiologis yang hanya berisi cairan, kista abnormal
memperlihatkan campuran cairan dan jaringan solid dan dapat bersifat ganas
(Sjamsuhidayat, 2009; Mansjoer et al., 2011).

2.3.3 Kista Ovarium Non-Neoplastik


a. Kista akibat Radang
Tumor ini biasanya disebabkan oleh proses infeksi yang terjadi pada adneksa.
Tumor ini cukup jarang. Proses pembentukan tumor ini didahului oleh
masuknya bakteri kedalam uterus yang berlanjut ke bagian salfing dan menuju
ke adneksa. Kemudian terjadilah infeksi dan terjadi proses imunologis
sehingga terbentuk abses (Wiknjosastro, 2009).
b. Kista folikel
Kista ini berasal dari folikel de graff yang tidak sampai berovulasi, namun
tumbuh terus menjadi kista folikel, atau dari beberapa folikel primer yang
setelah bertumbuh dibawah pengaruh estrogen tidak mengalami proses atresia,
melainkan membesar menjadi kista. Kista jenis ini dapat soliter atau multiple
dan besarnya mencapai 1-1 ½cm. Dalam menangani tumor ovarium timbul
persoalan apakah tumor yang dihadapi itu neoplasma atau kista folikel.
Umumnya jika diameter tumor tidak lebih dari 5 cm, dapat di tunggu dahulu
karena kista folikel dalam 2 bulan akan hilang sendiri (Wiknjosastro, 2009).
c. Kista Korpus Lutein

7
Dalam keadaan normal korpus luteum lama-kelamaan akan mengecil dan
menjadi korpus albikans. Kadang-kadang korpus luteum akan
mempertahankan diri (korpus luteum persisten); perdarahan yang terjadi di
dalamnya akan menyebabkan kista, berisi cairan berwarna merah coklat karena
darah tua. Pada pembelahan ovarium kista korpus luteum memberi gambaran
yang khas. Dinding kista terdiri atas lapisan berwarna kuning, terdiri atas sel-
sel luteum yang berasal dari sel-sel teka (Sjamsuhidayat, 2009; Mansjoer et al.,
2011).
d. Kista Endometrium
Kista ini tersusun atas jaringan endometrium yang tumbuh di ovarium.
Umumnya kista ini berisi darah saat siklus menstruasi (Wiknjosastro, 2009).
e. Kista Inklusi Germinal
Terjadi karena invaginasi dan isolasi bagian-bagian terkecil dari epitel
germinativum pada permukaan ovarium. Biasanya terjadi pada wanita usia
lanjut dan besarnya jarang melebihi 1 cm. Kista terletak di bawah permukaan
ovarium, dindingnya terdiri atas satu lapisan epitel kubik atau torak rendah,
dan isinya cairan jernih dan serous (Wiknjosastro, 2009; Mansjoer et al., 2011).

f. Kista Stein-Laventhal


Kista ini dikenal sebagai sindrom Stein-Laventhal dan kiranya disebabkan oleh
ketidakseimbangan hormonal. Biasanya kedua ovarium membesar dan bersifat
polikistik, permukaan rata, berwarna keabu-abuan dan berdinding tebal. Pada
pemeriksaan mikroskopis akan tampak tunika yang tebal dan fibrotik.
Dibawahnya tampak folikel dalam bermacam-macam stadium, tetapi tidak
ditemukan corpus luteum. Secara klinis memberikan gejala yang disebut Stein-
Leventhal Syndrom, yaitu yang terdiri dari hirsutisme, sterilitas, obesitas dan
oligomenorrhoe. Kecenderungan virilisasi mungkin disebabkan hyperplasi dari
tunica interna yang menghasilkan zat androgenik. Kelainan ini merupakan
penyakit herediter yang autosomal dominan (Wiknjosastro, 2009; Mansjoer et
al., 2011).

2.3.4 Kista Ovarium Neoplastik Jinak


a. Kista Ovarii Simpleks

8
Kista ini mempunyai permukaan yang rata dan halus, biasanya bertangkai,
seringkali bilateral dan dapat menjadi besar. Dinding kista tipis dan cairan di
dalam kista jernih, serous dan berwarna kuning. Pada dinding kista tampak
lapisan epitel kubik. Kista ovarii simpleks diduga merupakan suatu jenis
kistadenoma serosum yang kehilangan epitel kelenjarnya karena tekanan
cairan dalam kista. Dapat terjadi torsi (putaran tangkai) dan menimbulkan
gejala-gejala yang mendadak (Wiknjosastro, 2009; Mansjoer et al., 2011).
b. Kistadenoma Ovarii Serosum
Tumor serosa dapat membesar sehingga memenuhi ruang abnomen, tetapi
lebih kecil dibanding dengan ukuran kistadenoma musinosum. Permukaan
tumor biasanya licin, tetapi dapat juga lobulated karena kista serosum pun
dapat berbentuk multikolur, meskipun lazimnya berongga satu.
Warna kista putih keabuan. Ciri khas dari kista ini adalah potensi
pertumbuhan papiler ke dalam rongga kista sebesar 50% dan keluar pada
permukaan kista sebesar 5%. Isi kista cair, kuning dan kadang-kadang coklat
karena bercampur darah. Tidak jarang, kistanya sendiri kecil, tetapi
permukaannya penuh dengan pertumbuhan papiler (solid papiloma).
Pada umumnya dapat dikatakan bahwa sulit membedakan gambaran
makroskopis kistadenoma serosum papileferum yang ganas dari yang jinak,
bahkan pemeriksaan rnikroskopis pun tidak selalu mernberikan kepastian.
Pada pemeriksaan mikroskopis terdapat dinding kista yang dilapisi epitel kubik
atau torak yang rendah, dengan sitoplasma eosinofil dan inti sel yang besar dan
gelap warnanya. Karena tumor ini berasal dari epitel permukaan ovarium
(germinal epithelum), maka bentuk epitel pada papil dapat beraneka ragam,
tetapi sebagian besar terdiri atas epitel bersilia seperti epitel tuba.
Tidak ada gejala klasik yang menyertai tumor serosa proliferatif.
Kebanyakan ditemukan pada pemeriksaan rutin dari pelvis. Kadang-kadang
pasien mengeluh rasa ketidaknyamanan daerah pelvis dan pada pemeriksaan
ditemukan massa abdomen atau pun ascites. Kelainan ekstra abdomen jarang
ditemukan pada keganasan ovarium kecuali pada stadium terminal
Apabila ditemukan pertumbuhan papiler, proliterasi dan stratifikasi epitel,
serta anaplasia dan mitosis pada sel-sel, kistadenoma serosum secara

9
makroskopik digolongkan ke dalam kelompok tumor ganas. 30-35% dari
kistadenoma serosum mengalami perubahan keganasan. Bila terdapat
implantasi pada peritoneum disertai dengan ascites, prognosis penyakit adalah
kurang baik. Meskipun diagnosis histopatologis pertumbuhan tumor tersebut
mungkin jinak (histopathologically benign), tetapi secara klinis harus dianggap
sebagai neoplasma ovarium ganas (clinicaly malignant)
Terapi pada umumnya adalah pengangkatan tumor. Tetapi oleh karena
berhubung dengan besarnya kemungkinan keganasan perlu dilakukan
pemeriksaan yang teliti terhadap tumor yang dikeluarkan. Bahkan kadang-
kadang perlu diperiksa sediaan yang dibekukan (frozen section) pada saat
operasi, untuk menentukan tindakan selanjutnya pada waktu operasi
(Wiknjosastro, 2009; Mansjoer et al., 2011).
c. Kistadenoma Ovarii Musinosum
Kista ini biasanya ditemukan pada wanita usia 20-50 tahun dan jarang
ditemukan pra-pubertas. Kista ini biasanya mempunyai dinding yang licin,
permukaan berbagala (lobulated) dan umumnya multitokular dan odematosa;
lokular yang mengandung niukosa ini kelihatan biru dari peregangan
kapsulnya. Kira-kira 10% dapat mencapai ukuran yang amat besar dan pada
tumor ini tidak dapat ditemukan jaringan yang normal lagi. Kista biasanya
unilateral, akan tetapi dapat juga dijumpai yang bilateral (8-10%). Dinding
kista agak tebal dan berwarna putih keabuan terutama apabila terjadi
perdarahan atau perubahan degeneratif di dalam kista. Pada permukaan
terdapat cairan lendir yang khas, kental seperti gelatin, melekat dan berwarna
kuning sampai coklat tergantung dari percampurannya dengan darah
(Wiknjosastro, 2009; Mansjoer et al., 2011).
d. Kista Endometroid
Terjadi karena lapisan didalam rahim (yang biasanya terlepas sewaktu haid dan
terlihat keluar dari kemaluan seperti darah); tidak terletak dalam rahim tetapi
melekat pada dinding luar ovarium. Akibat peristiwa ini setiap kali haid,
lapisan tersebut menghasilkan darah haid yang akan terus menerus tertimbun
dan menjadi kista. Kista ini bisa 1 pada dua indung telur. Timbul gejala utama

10
yaitu rasa sakit terutama sewaktu haid/ sexual intercourse (Wiknjosastro, 2009;
Mansjoer et al., 2011).
e. Kista Dermoid
Kista ini tumbuh akibat proses yang kurang sempurna saat pembentukan
lapisan embrional. Lapisan ektoderm yang saat dewasa akan menjadi sel sel
folikel rambut, tulang, serta gigi secara tidak sempurna tumbuh di sekitar
ovarium. Kista ini tidak mempunyai ciri yang khas. Dinding kista kelihatan
putih keabuan dan agak tipis. Konsistensi tumor sebagian kistik kenyal, di
bagian lain padat. Dapat ditemukan kulit, rambut kelenjer sebasea, gigi
(ektodermal), tulang rawan, serat otot jaringan ikat (mesodemal) dan mukosa
traktus gasttrointotinelis, epitel saluran kista terdapat produk kelenjer sebasea
berupa massa lembek seperti lemak, bercampur dengan rambut. Pada kista
dermoid dapat terjadi torsio tangkai dengan gejala nyeri mendadak di perut
bagian bawah. Ada kemungkinan terjadinya sobekan dinding kista dengan
akibat pengeluaran isi kista dalam rongga peritoneum.Perubahan keganasan
dari kista sangat jarang, hanya 1,5% dari semua kista dermoid dan biasanya
pada wanita lewat menopause (Wiknjosastro, 2009; Mansjoer et al., 2011).
f. Fibroma ovarii
Potensi menjadi ganas sangat rendah pada fibroma ovarium, kurang dari 1%.
Fibroma ovarii berasal dari elemen fibroblastik stroma ovarium atau sel
mesenkim yang multipoten. Tumor ini merupakan 5% dari semua neoplasma
ovarium dan paling sering ditemukan pada penderita menopause Tumor ini
mencapai diameter 2 sampai 30 cm; dan beratnya 20 kg, dengan 90% uniteral.
Permukaan tidak rata, konsistensi keras, warnanya merah jambu keabuan.
Apabila konsistensi sangat padat disebut fibroma durum, dan apabila lunak
disebut fibroma molle. Neoplasma ini terdiri atas jaringan ikat dengan sel-sel
di tengah jaringan kolagen. Apabila terdiri atas kelenjar-kelenjar kistik, maka
disebut kistadenofroma ovarii. Fibroma ovarii yang besar biasanya mempunyai
tangkai dan dapat terjadi torsi. Pada tumor ini sering ditemukan sindroma
Meigs (tumor ovarii, ascites, hidrotoraks) (Wiknjosastro, 2009; Sjamsuhidayat
2006; Schorge et al 2008)
g. Tumor Brenner

11
Merurupakan suatu neoplasma ovarium yang sangat jarang ditemukan,
biasanya pada wanita dekat atau sesudah menopause. Frekuensinya 0,5% dari
semua tumor ovarium. Besar tumor ini beraneka ragam, dari sangat kecil ke
yang beratnya beberapa kilogram. Lazimnya tumor ini unilateral. Pada
pembelahan berwarna kuning muda seperti fibroma, dengan kista-kista kecil.
Kadang-kadang pada tumor ini temukan sindroma Meigs. Gambar mikroskopis
tumor ini sangat khas, terdiri dari 2 elemen, yakni sarang-sarang yang terdiri
atas epitel epitel, yang dikelilingi jaringan ikat yang luas dan padat. Tumor
Brenner tidak menimbulkan gejala-gejala klinik yang khas, dan jika masih
kecil, biasanya ditemukan secara kebetulan pada pemeriksaan histopatologik
ovarium. Meskipun biasanya jinak, dalam beberapa kasus tumor ini
menunjukkan keganasan pada histopatologi dan klinisnya (Wiknjosastro,
2009; Sjamsuhidayat 2006; Schorge et al 2008).

2.4 Faktor Risiko


Ada beberapa faktor risiko yang diduga berperan dalam pembentukan kista
ovarium.(Anurogo, 2009):
a. Pengobatan infertilitas
Pasien yang sedang diobati untuk infertilitas dengan induksi ovulasi dengan
gonadotropin atau bahan lainnya, seperti clomiphene citrate atau letrozole,
dapat membentuk kista ovary sebagai bagian dari ovarian hyperstimulation
syndrome
b. Kehamilan
Pada wanita hamil, kista ovarium dapat terbentuk pada trimester kedua saat
kadar hCG tertinggi
c. Hypothyroidism
Karena kemiripan antara subunit alpha thyroid-stimulating hormone (TSH)
dan hCG, hipotirodisme dapat menstimulasi pertumbuhan kista ovarii
d. Gonadotropin maternal
Efek transplasental dari gonadotropin maternal dapat menyebabkan
pembentukan dari kista ovarii neonatal dan fetal

12
2.5 Patofisiologi
Setiap hari, ovarium normal akan membentuk beberapa kista kecil yang
disebut Folikel de Graff. Pada pertengahan siklus, folikel dominan dengan diameter
lebih dari 2.8 cm akan melepaskan oosit mature. Folikel yang ruptur akan menjadi
korpus luteum, yang pada saat matang memiliki struktur 1,5 – 2 cm dengan kista
ditengah-tengah. Bila tidak terjadi fertilisasi pada oosit, korpus luteum akan
mengalami fibrosis dan pengerutan secara progresif. Namun bila terjadi fertilisasi,
korpus luteum mula-mula akan membesar kemudian secara gradual akan mengecil
selama kehamilan (Wiknjosastro, 2009; Schorge et al, 2008).
Kista ovari yang berasal dari proses ovulasi normal disebut kista fungsional
dan selalu jinak. Kista dapat berupa folikular dan luteal yang kadang-kadang
disebut kista theca-lutein. Kista tersebut dapat distimulasi oleh gonadotropin,
termasuk FSH dan HCG (Wiknjosastro, 2009; Sjamsuhidayat 2006)
Kista fungsional multiple dapat terbentuk karena stimulasi gonadotropin
atau sensitivitas terhadap gonadotropin yang berlebih. Pada neoplasia tropoblastik
gestasional (hydatidiform mole dan choriocarcinoma) dan kadang-kadang pada
kehamilan multiple dengan diabetes, hcg menyebabkan kondisi yang disebut
hiperreaktif lutein. Pasien dalam terapi infertilitas, induksi ovulasi dengan
menggunakan gonadotropin (FSH dan LH) atau terkadang clomiphene citrate,
dapat menyebabkan sindrom hiperstimulasi ovari, terutama bila disertai dengan
pemberian HCG (Wiknjosastro, 2009; Sjamsuhidayat 2006)
Kista neoplasia dapat tumbuh dari proliferasi sel yang berlebih dan tidak
terkontrol dalam ovarium serta dapat bersifat ganas atau jinak. Neoplasia yang
ganas dapat berasal dari semua jenis sel dan jaringan ovarium. Sejauh ini,
keganasan paling sering berasal dari epitel permukaan (mesotelium) dan sebagian
besar lesi kistik parsial. Jenis kista jinak yang serupa dengan keganasan ini adalah
kistadenoma serosa dan mucinous. Tumor ovari ganas yang lain dapat terdiri dari
area kistik, termasuk jenis ini adalah tumor sel granulosa dari sex cord sel dan germ
cel tumor dari germ sel primordial. Teratoma berasal dari tumor germ sel yang
berisi elemen dari 3 lapisan germinal embrional; ektodermal, endodermal, dan
mesodermal. Endometrioma adalah kista berisi darah dari endometrium ektopik.
Pada sindroma ovari pilokistik, ovarium biasanya terdiri folikel-folikel dengan

13
multipel kistik berdiameter 2-5 mm, seperti terlihat dalam sonogram (Wiknjosastro,
2009; Sjamsuhidayat 2006).

2.6 Manifestasi Klinis


Manifestasi klinis dari kista ovarium biasanya tidak spesifik dan bervariasi.
Sebagian besar gejala dan tanda yang ditemukan adalah akibat pertumbuhan,
aktivitas hormonal atau komplikasi tumor tersebut. Gejala dan tanda tersebut
berupa benjolan di perut, mungkin ada keluhan rasa berat, gangguan atau kesulitan
defekasi karena desakan, udem tungkai karena tekanan pada pembuluh balik atau
limfa dan rasa sesak karena desakan diafragma ke kranial. Letak tumor yang
tersembunyi dalam rongga perut dan sangat berbahaya dapat menjadi besar tanpa
disadari oleh penderita. Pertumbuhan primer diikuti oleh infiltrasi kejaringan
sekitar yang menyebabkan berbagai keluhan samar-samar (Sastrawinata et
al,2004). Beberapa tanda dan gejala yang dapat timbul akibat kista ovarium yakni:
a. Rasa nyeri pada perut bagian bawah dan panggul
b. Makan sedikit terasa cepat kenyang
c. Perasaan begah
d. Nyeri senggama
e. Nafsu makan menurun
f. Rasa penuh pada perut bagian bawah
g. Gangguan menstruasi
Pada umumnya tumor ovarium tidak mengubah pola haid kecuali tumor itu
sendiri mengeluarakan hormon seperti pada tumor sel granulosa yang dapat
menyebabkan hipermenorrea.
j. Akibat Pertumbuhan
Dengan adanya tumor didalam perut bisa menyebabkan pembengkakan
perut.. Tekanan pada organ sekitar disebabkan oleh besarnya tumor atau
posisinya dalam perut. Misalnya sebuah kista yang tidak seberapa besar
tetapi posisinya terletak didepan uterus sehingga dapat menekan kandung
kencing dan menyebabkan gangguan miksi dan sedang kista besar yang
terletak didalam rongga perut kadang-kadang hanya menimbulkan rasa
berat pada perut. Selain gangguan miksi obstipasi dan oedema pada tungkai

14
dapat terjadi. Dapat timbul komplikasi berupa asites, atau gejala sindrom
perut akut, akibatnya putaran tungkai tumor atau gangguan peredaran darah
karena penyebab lain ( Sjamjuhidajat, 2006 ).

2.8 Diagnosis
- Anamnesis
Diagnosis dimulai dari anamnesis berdasarkan keluhan pasien. Sebagian
besar kista ovarium tidak menunjukkan gejala dan tanda, terutama kista
ovarium yang kecil. Kista yang besar menyebabkan pembenjolan perut.
Rasa sakit atau tidak nyaman pada perut bagian bawah. Rasa sakit tersebut
akan bertambah jika kista tersebut terpuntir atau terjadi ruptur. Terdapat
juga rasa penuh di perut. Tekanan terhadap alat-alat di sekitarnya dapat
menyebabkan rasa tidak nyaman, gangguan miksi dan defekasi. Dapat
terjadi penekanan terhadapat kandung kemih sehingga menyebabkan
frekuensi berkemih menjadi sering. (DeChemey et al,1994)
Kista ovarium dapat menyebabkan konstipasi karena pergerakan
usus terganggu atau dapat juga terjadi penekanan dan menyebabkan
defekasi yang sering. Pasien juga mengeluhkan ketidaknyamanan dalam
coitus, yaitu pada penetrasi yang dalam. Pada tumor yang besar dapat terjadi
tidak adanya nafsu makan dan rasa enak dan rasa sesak.
Pada umumnya tumor ovarium tidak mengubah pola haid, kecuali
jika tumor tersebut mengeluarkan hormon. Ireguleritas siklus menstruasi
dan pendarahan vagina yang abnormal dapat terjadi. Pada anak muda, dapat
menimbulkan menarche lebih awal.

15
- Pemeriksaan Fisik
Kista yang besar dapat teraba dalam palpasi abdomen. Walau pada wanita
premonopause yang kurus dapat teraba ovarium normal tetapi hal ini adalah
abnormal jika terdapat pada wanita postmenopause. Perabaan menjadi sulit
pada pasien yang gemuk. Teraba massa yang kistik, mobile, permukaan
massa umummnya rata. Serviks dan uterus dapat terdorong pada satu sisi.
Dapat juga teraba, massa lain, termasuk fibroid dan nodul pada ligamentum
uterosakral, ini merupakan keganasan atau endometriosis. Pada perkusi
mungkin didapatkan ascites.
- Pemeriksaan Penunjang
1. Ultrasonografi
Menentukan letak dan batas tumor kistik atau solid, cairan dalam rongga
perut yang bebas dan tidak. USG adalah alat diagnostik imaging yang
utama untuk kista ovarium. Kista simpleks bentuknya unilokular,
dindingnya tipis, satu cavitas yang didalamnya tidak terdapat internal
echo. Biasanya jenis kista seperti ini tidak ganas, dan merupakan kista
fungsioal, kista luteal atau mungkln juga kistadenoma serosa atau kista
inklusi.
Kista kompleks multilokular, dindingnya menebal terdapat papul
ke dalam lumen. Kista seperti ini biasanya maligna atau mungkin juga
kista neoplasma benigna. USG sulit membedakan kista ovarium dengan
hidrosalfing, paraovarian dan kista tuba. USG transvaginal dapat
memberikan pemeriksaan morfologi yang jelas dari struktur pelvis.
Pemeriksaana ini tidak memerlukan kandung kemih yang penuh. USG
transabdominal lebih baik dari endovaginal untuk mengevaluasi massa
yang besar dan organ intrabdomen lain, seperti ginjal, hati dan ascites.
Ini memerlukan kandung kemih yang penuh.
Alat peraba (transducer) digunakan untuk memastikan
keberadaan kista, membantu mengenali lokasinya dan menentukan
apakah isi kista cairan atau padat. Kista berisi cairan cenderung lebih
jinak, kista berisi material padat memerlukan pemeriksaan lebih lanjut.
Dari gambaran USG dapat terlihat :

16
- Akan terlihat sebagai struktur kistik yang bulat (kadang-kadang
oval) dan terlihat sangat echolucent dengan dinding yang
tipis/tegas/licin, dan di tepi belakang kista nampak bayangan echo
yang lebih putih dari dinding depannya
- Kista ini dapat bersifat unillokuler (tidak bersepta) atau
multilokuler (bersepta-septa)
- Kadang-kadang terlihat bintik-bintik echo yang halus-halus
(internal echoes) di dalam kista yang berasal dari elemen-elemen
darah di dalam kista (Schorge et al., 2008)
2. Pemeriksaan Beta-HCG
Pemeriksaan ini digunakan untuk screening awal apakah wanita tersebut
hamil atau tidak. Pemeriksaan ini dapat menyingkirkan kemungkinan
kehamilan ektopik
3. Pemeriksaan Darah Lengkap
Untuk sebuah penyakit keganasan, dapat diperkirakan melalui LED.
Parameter lain seperti leukosit, HB, HT juga dapat membantu pemeriksa
menilai keadaan pasien
4. Pemeriksaan Tumor Marker
Tidak ada tes laboratorium diagnostik untuk kista ovarium. Cancer
antigen 125 (CA 125) adalah protein yang dihasilkan oleh membran sel
ovarium normal dan karsinoma ovarium. Level serum kurang dari 35
U/ml adalah kadar CA 125 ditemukan meningkat pada 85% pasien
dengan karsinoma epitel ovarium. Terkadang CA 125 ditemukan
meningkat pada kasus jinak pada 6% pasien sehat.
5. Pemeriksaan Patologi Anatomi

17
2.9 Penatalaksanaan
Dapat dipakai prinsip bahwa tumor ovarium neoplastik memerlukan operasi
dan tumor non neoplastik tidak. Tumor non neoplastik biasanya besarnya tidak
melebihi 5 cm. Tidak jarang tumor-tumor tersebut mengalami pengecilan secara
spontan dan menghilang.
Tindakan operasi pada tumor ovarium neoplastik yang tidak ganas adalah
pengangkatan tumor dengan mengadakan reseksi pada bagian ovarium yang
mengandung tumor. Tetapi jika tumornya besar atau ada komplikasi perlu
dilakukan pengangkatan ovarium, disertai dengan pengangkatan tuba. Seluruh
jaringan hasil pembedahan perlu dikirim ke bagian patologi anatomi untuk
diperikasa.
Pasien dengan kista ovarium simpleks biasanya tidak membutuhkan terapi.
Penelitian menunjukkan bahwa pada wanita postmenopause, kista yang berukuran
kurang dari 5 cm dan kadar CA 125 dalam batas normal, aman untuk tidak
dilakukan terapi, namun harus dimonitor dengan pemeriksaan USG serial.
Sedangkan untuk wanita premenopause, kista berukuran kurang dari 8 cm dianggap
aman untuk tidak dilakukan terapi.
Terapi bedah diperlukan pada kista ovarium simpleks persisten yang lebih
besar 10 cm dan kista ovarium kompleks. Laparoskopi digunaknan pada pasien
dengan kista benigna, kista fungsional atau simpleks yang memberikan keluhan.
Laparotomi harus dikerjakan pada pasien dengan resiko keganasan dan panda
pasien dengan kista benigna yang tidak dapat diangkat dengan laparaskopi. Eksisi
kista dengan konservasi ovarium dikerjakan pada pasien yang menginginkan
ovarium tidak diangkat untuk fertilitas di masa mendatang.
Pengangkatan ovarium sebelahnya harus dipertimbangkan pada wanita
postmenopause, perimenopause, dan wanita premenopasue yang lebih tua dari 35
tahun yang tidak menginginkan anak lagi serta yang beresiko menyebabkan
karsinoma ovarium. Diperlukan konsultasi dengan ahli endokrin reproduksi dan
infertilitas untuk endometrioma dan sindrom ovarium polikistik. Konsultasi dengan
onkologi ginekologi diperlukan untuk kista ovarium kompleks dengan serum CA
125 lebih dari 35 U/ml dan pada pasien dengan riwayat karsinoma ovarium pada
keluarga.

18
Jika keadaan meragukan, perlu pada waktu operasi dilakukan pemeriksaan
sediaan yang dibekukan (frozen section) oleh seorang ahli patologi anatomik untuk
mendapat kepastian tumor ganas atau tidak. Untuk tumor ganas ovarium,
pembedahan merupakan pilihan utama. Prosedurnya adalah total abdominal
histerektomi, bilateral salfingo-ooforektomi, dan appendiktomi (optional).
Tindakan hanya mengangkat tumornya saja (ooforektomi atau ooforokistektomi)
masih dapat dibenarkan jika stadiumnya ia masih muda, belum menpunyai anak,
derajat keganasan tumor rendah seperti pada fow potential malignancy (borderline).
Radioterapi hanya efektif untuk jenis tumor yang peka terhadap radisi,
disgerminoma dan tumor sel granulosa. Kemoterapi menggunakan obat sitostatika
seperti agents alkylating (cyclophosphamide, chlorambucyl) dan antimetabolit
(adriamycin). FoIlow up tumor ganas sampai 1 tahun setelah penanganan setiap 2
bulan, kemudian 4 bulan selama 3 tahun setiap 6 bulan sampai 5 tahun dan
seterusnya setiap tahun sekali. (Moeloek et al, 2006).

19
BAB III
PEMBAHASAN

Kista ovarium adalah kantung yang berisi material cair atau semi-cair
pada ovarium yang bersifat jinak ataupun ganas (ACOG, 2017). Beberapa
literatur menggolongkan kista sebagai tumor namun beberapa literatur lain
memisahkan antara tumor dengan kista. Perlu diketahui bahwa definisi kista
adalah suatu jenis tumor berupa kantong abnormal yang berisi cairan. Karena
secara definisi tumor adalah jaringan, oleh karena itu beberapa literatur
membedakan antara kista dengan tumor ovarium (Medscape, 2013).
Gejala dan tanda yang timbul akibat kista ovarium biasanya tidak spesifik
dan bervariasi. Sebagian besar gejala dan tanda yang ditemukan adalah akibat
pertumbuhan, aktivitas hormonal atau komplikasi kista tersebut. Gejala dan
tanda tersebut berupa, nyeri perut bagian bawah, gangguan atau kesulitan
defekasi dan miksi, edema tungkai karena tekanan pada pembuluh balik atau
limfa dan rasa sesak karena desakan diafragma ke kranial. Gejala lain yang dapat
timbul yakni gangguan siklus menstruasi.
Pada kasus ditemukan keluhan berupa nyeri abdomen kuadran kanan
bawah (1/08/2018), demam (4/08/2018) dan mual (sejak 2/08/2018). Pasien
menyatakan mengalami keputihan dan demam sejak kemarin, riwayat keputihan
sejak 6 bulan lalu, riwayat berwarna keruh dan berbau amis. Pasien tidak
mengeluhkan adanya gangguan pada siklus menstruasinya. Keluhan gangguan
miksi dan defekasi disangkal pasien.
Hasil pemeriksaan fisik menunjukan tidak terdapat distensi pada
abdomen, fundus uteri tidak teraba, teraba massa ukuran 5x5cm konsistensi
padat kenyal, berbatas tegas dengan permukaan yang rata serta mobile.
Didapatkan nyeri tekan pada regio abdomen kanan bawah dan kesan massa dari
adnexa kanan. Pemeriksaan inspekulo menunjukan tidak terdapat perdarahan
pervaginam yang aktif. Didapatkan fluor yang berwarna putih susu dan berbau
amis. Pada pemeriksaan palpasi bimanual didapatkan massa dan nyeri goyang
portio.

20
Kista yang besar dapat teraba dalam palpasi abdomen. Teraba massa yang
kistik, mobile, permukaan massa umummnya rata. Serviks dan uterus dapat
terdorong pada satu sisi karena tarikan kista yang bear ke satu arah. Dapat juga
teraba, massa lain, termasuk fibroid dan nodul pada ligamentum uterosakral yang
dapat dicurigai sebagai keganasan atau endometriosis. Adanya distensi pada
abdomen karena asites disebabkan oleh penekanan pada aliran limfe dan darah
balik oleh massa yang besar. Slinger pain dapat ditemukan pada kasus kista
adnexa yang terinfeksi.
Dari anamnesis dan pemeriksaan fisik yang dilakukan dapat dibuat
beberapa diferensial diagnosis yaitu tumor-tumor abdomen yang termasuk
system digestivus maupun system urinarius. Tumor yang biasanya terletak di
bagian bawah rongga perut seperti mioma subserosum dan mioma
intraligamenter, serta tumor-tumor bukan dari ovarium yang tertelak di daerah
pelvis antara lain ginjal ektopik, limpa bertangkai dan tumor dari kolon
sigmoideum. Namun pemeriksaan ini belum dapat menegakkan diagnosis pasti
tumor ovarium, karena harus menyingirkan diferensial diagnosis dari kista
ovarium sehingga perlu dilakukan pemeriksaan penunjang. Pemeriksaan
penunjang yang dilakukan dalam kasus ini adalah pemeriksaan ultrasonografi
(USG) yang menunjukkan kesan kista ovarium

21