Anda di halaman 1dari 19

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA

“DEGRADASI SENYAWA ORGANIK BERWARNA DENGAN


SEMIKONDUKTOR DENGAN BERBAGAI TIPE TITANIUM DIOKSIDA
(FOTOKATALIS)”

Dosen Pengampu: Prof. Dr. Hari Sutrisno, M.Si

Disusun Oleh:
Irma Suryani HS
18708251015

PRODI PENDIDIKAN SAINS


PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
2019
A. Tujuan
Untuk mengetahui Penguraian (fotokatalis) senyawa organik berwarna oleh
berbagai 𝑇𝑖𝑂2 dengan bantuan sinar matahari.

B. Dasar Teori
Senyawa kimia berdasarkan unsue penyusunnya dibedakan menjadi 2 jenis
yaitu senyawa organik dan senyawa anorganik. Senyawa anorganik adalah
senyawa yang tidak memiliki ikatan atom karbon dan sebagaian besar berbentuk
padat. Sifat senyawa anorganik diantaranya larut dalam air, tahan panas (tidak
mudah terbakar), dan memiliki titik leleh yang tinggi dan tidak larut dalam larutan
organik. Contohnya adalah kalsium klorida dan sodium klorida. Senyawa organik
merupakan gelongan besar senyawa kimia dimana atom molekulnya mengandung
karbon. Senyawa organik dapat berupa padatan, cairan dan gas. Senyawa organik
bersifat mudah terbakar dan tidak stabil. Salah satu contoh senyawa organik
adalah metilen biru (C16H18ClN3S).
Metilen biru merupakan dye katonik dengan daya adsopsi yang sangat kuat
dan merupakan senyawa hidrokarbon aromatik yang beracun. Metilen biru
biasanya digunakan sebagai pewarna. Metilen biru berupa kristal berwana hijau
gelap dan pada saat dilarutkan dengan alkohol atau air akan berwarna biru. Berat
molekul metilen biru yaitu 319.86 gr/mol dengan daya larut 4,36 x 10 4 mg/L dan
memiliki titik lebur pada suhu 105 oC.

Gambar 1. Struktur molekul kimia metilen biru

Sifat metilen biru salah satunya dapat terdegradasi yaitu suatu reaksi
peruraian suatu molekul menjadi senyawa yang lebih sederhana secara bertahap-
tahap. Degradasi suatu polimer disebabkan oleh beberapa hal diantaranya panas, ,
energi tinggi, mekanis, biodegradasi dan cahaya (fotodegradasi).Metilen biru yang
mengalami degradasi disebabkan oleh adanya cahaya yang disebut fotodegradasi.

1
Metilen biru yang mengalami degradasi dapat dipercepat dengan beberapa
senyawa semikonduktor diantaranya titanium dioksida (TiO2 ).
Semikonduktor TiO2 dapat mendegradasi senyawa organik dengan
bantuan sinar UV atau matahari. Pemicu proses tersebut adalah foton dari sinar uv
atau sinar matahari yang mengakibatkan terjadinya loncatan elektron pada 𝑇𝑖𝑂2
dari pita valensi ke pita konduksi dan terjadi kekosongan (ℎ+) pada pita konduksi.
Elektron dengan bantuan 𝑂2 akan memicu reaksi reduksi, sedangkan ℎ+ terlibat
reaksi oksidasi dengan bantuan 𝐻2 𝑂 atau 𝐻2 𝑂2 untuk menghasilkan radikal OH°
yang menentukan aktifitas reaksi oksidasi pada senyawa organik. Skema
mekanisme eksitasi elektron pada semikonduktor dapat dilihat pada gambar
berikut:

Gambar 2. Proses utama yang terjadi dalam suatu partikel


semikonduktor: (a). pembangkitan elektron-kekosongan, (b). oksidasi Donor
(D), (c). reduksi Aseptor (A), (d). rekombinasi permukaan dan (e).
rekombinasi volume

Mekanisme fotokatalisis heterogen senyawa organik pada permukaan 𝑇𝑖𝑂2


terjadi dalam beberapa tahap:

2
1). Pembangkitan pembawa muatan
𝑇𝑖𝑂2 + hv → ℎ𝑣𝑏 + + 𝑒𝑐𝑏 −
2). Penjebakan pembawa muatan
ℎ𝑣𝑏 + + >𝑇𝑖 𝐼𝑉 ̶ OH → {>𝑇𝑖 𝐼𝑉 ̶ OH • }+
𝑒𝑐𝑏 − + >𝑇𝑖 𝐼𝑉 ̶ OH ↔ {>𝑇𝑖 𝐼𝐼𝐼 ̶ OH}
𝑒𝑐𝑏 − + >𝑇𝑖 𝐼𝑉 → >𝑇𝑖 𝐼𝐼𝐼
3). Penyatuan kembali pembawa muatan
ℎ𝑣𝑏 + {>𝑇𝑖 𝐼𝐼𝐼 ̶ OH} → >𝑇𝑖 𝐼𝑉 ̶ OH
𝑒𝑐𝑏 − + {> TiIV − OH • }+ → >𝑇𝑖 𝐼𝑉 ̶ OH
4). Transfer muatan pada antar muka
{> TiIV − OH • }+ + Red → >𝑇𝑖 𝐼𝑉 - OH + Red•+
𝑒𝑡𝑟 − + Ox → >𝑇𝑖 𝐼𝑉 - OH + Ox •−

dengan > Ti − OH, menggambarkan permukaan 𝑇𝑖𝑂2 terhidrat; 𝑒𝑐𝑏 −merupakan


elektron pada pita konduksi, sedangkan etr- merupakan elektron terjebak pada pita
konduksi; ℎ𝑣𝑏 + adalah kekosongan dalam pita valesnsi; red merupakan donor
elektron (reduktor); ox merupakan penerima elektron (oksidan); {> TiIV − OH • }+
adalah kekosongan pada pita valensi terjebak pada permukaan (radikal hidroksida
hadir pada permukaan), sedangkan {> Ti𝐼𝐼𝐼 − OH} merupakan elektron pada pita
konduksi terjebak pada permukaan.

Rekayasa Kimia Permukaan Titanium Dioksida: Dispersi Zat Pensensitif


𝑇𝑖𝑂2 merupakan semikonduktor dengan celah pita yang luas dengan
absorpsi optik pada daerah sinar ultra violet (<400 nm). Untuk meningkatkan
aktifitas migrasi elektron dalam semikondutor tersebut diperlukan suatu material
yang dapat yang mengakibatkan migrasi elektron dengan energi lebih rendah dari
celah pita semikonduktor. Material tersebut dikenal sebagai zat pensensitif
(sensitizer), sedangkan prosesnya disebut sensititasi (sensitization). Banyak
material yang memiliki celah pita dekat atau absorpsi dalam cahaya tampak atau
sistem inframerah dapat digunakan sebagai zat pensensitif 𝑇𝑖𝑂2 . Material tersebut

3
terdiri dari semikonduktor inorganik (zat pensensitif yang memiliki energi celah
dekat semikonduktor dan logam) dan pewarna organik (organic dyes).

Zat pensensitif anorganik


Zat pensensitif yang memiliki energi celah lebih kecil TiO2
Berbagai macam semikonduktor yang memiliki energi celah yang kecil
telah digunakan sebagai zat pensensitif untuk meningkatkan sifat-sifat absorpsi
optik nanopartikel TiO2 dalam daerah cahaya tampak. Metode preparasi untuk
sistem TiO2 tersensitifkan material inorganik tersebut biasanya menggunakan
metode sol-gel. Preparasi nanokristal TiO2 tersensitifkan nanopartikel PbS (<2,5
nm), dan menunjukkan bahwa elektron yang terbentuk dari penyinaran foton
dapat bermigrasi secara langsung dari PbS ke TiO2 terbentuk fotokonduksi yang
kuat di daerah cahaya tampak. Eksitasi zat pensensitif AgI pada nanopartikel TiO2
dihasilkan dalam suatu stabilisasi pasangan kekosongan-elektron dengan waktu
hidup 100 µs dan terjadi migrasi elektron dari AgI ke TiO2 .

Gambar 3. Migrasi elektron dari pita konduksi CdS ke pita konduksi 𝐓𝐢𝐎𝟐

4
Proses pensensitifan nanopori TiO2 oleh Ag 2 S dan memperoleh informasi
bahwa posisi relatif tingkat energetik pada antarmuka ukuran partikel kuantum
dan TiO2 dioptimumkan untuk pemisahan muatan dengan menggunakan efek
kuantisasi ukuran dan fotostabilitas elektroda dapat ditingkatkan secara signifikan
melalui modifikasi permukaan nanopartikel TiO2 dengan nanopartikel CdS.
Gambar 9 menunjukkan migrasi elektron dari pita kondusi CdS ke pita konduksi
TiO2 dengan penyinaran cahaya tampak. Sant and Kamat (2002) menunjukkan
bahwa pengaruh ukuran kuantum berperan penting dalam tranfer elektron antar
partikel dalam sistem CdS-TiO2 dan juga bergantung ukuran nanopartikel TiO2 .
Transfer muatan hanya terjadi apabila nanopartikel TiO2 berukuran cukup besar
(>1,2 nm) ketika pita konduksi nanopartikel berada dibawah pita konduksi
nanopartikel CdS.

Zat pensensitif nanopartikel logam


Ketika film TiO2 -nanopartikel tersensitifkan Ag-nanopartikel, warna film
dapat berubah dari tidak berwarna menjadi abu-abu kecoklatan disinari ultraviolet.
Hal ini dikarenakan terjadi oksidasi Ag oleh O2 pada sinar tampak dan reduksi
Ag+ pada sinar ultraviolet. Naoi et al. (2004) berhasil memperoleh informasi
bahwa sifat fotokromik fim TiO2 tersensitifkan Ag dapat ditingkatkan melalui
iradiasi secara simultan selama proses deposisi Ag dengan sinar ultraviolet. Pada
TiO2 terdeposisi nanopartikel Ag, transfer elektron akibat fotoinduksi cahaya
tampak dari Ag ke molekul oksigen memiliki peran penting. Beberapa fotoeksitasi
elektron pada Ag ditransfer ke molekul oksigen melalui TiO2 dan non-eksitasi
Ag.

5
Gambar 4. Migrasi elekron dari perak (Ag) ke pita konduksi (PK) TiO2
(PV = pita valensi dan PK = pita konduksi)

Tatsuma & Suzuki (2007) menemukan bahwa film nanopri TiO2


terdispersikan nanopartikel Ag menunjukkan perubahan potensial negatif dan arus
anoda dalam merspon penyinaran cahaya tampak, sehingga atas dasar ini adapat
diaplikasikan untuk fotovoltaik, fotokatalis, dan sensor plasmon. TiO2 -nanorods
yang tersensitifkan nanopartikel Au dan Ag terdapat akumulasi elektron yang
tinggi pada pita konduksi daripada TiO2 murni akibat penyinaran dengan sinar
ultraviolet

Zat pensensitif organik


Zat pewarna organik telah secara luas digunakan sebagai zat pensensitif
nanomaterial TiO2 untuk meningkatkan sifat-sifat optiknya, misalnya: zat
pensensitif pada sel fotovoltaik berbasi zat pewarna (Dye Sensitized Solar Cells /
DSSC) atau sel Grätzel (Grätzel, 2003; Grätzel, 2004 & Grätzel, 2005; Tan & Wu,
2006). Zat pensesnsitif organik biasanya merupakan kompleks logam transisi

6
dengan ligand polypyridine, phthalocyanine, dan metalloporphyrins. Zat
pensensitif organik ini terhubung dengan permukaan nanopartikel TiO2 melalui
grup fungsional dengan berbagai interaksi : (a). ikatan kovalen dengan terhubung
langsung grup fungsonal atau melalui agen pengikat, (b) interaksi elektrostatik
electrostatic melalui pertukaran ion, pasangan ion, atau interaksi donor-aseptor,
(c). ikatan hidrogen, (d) gaya Van der Waals. Grup fungsional yang umum
digunakan secara sukses berasal dari asam karboksilat.

C. Alat dan Bahan


1. Alat
a) Batang Pengaduk 1 buah
b) Cawan Petri 1 buah
c) Labu ukur 100 ml 1 buah
d) Gelas beker 50 ml 4 buah
e) Gelas ukur 10 ml 2 buah
f) Pipet Tetes 1 buah
g) Pipet volum 20 ml 1 buah

2. Bahan
a) Senyawa Metilen Blue (200 pp)
b) TiO2 dan TiO2 tersensitifkan 𝐴𝑔𝐼
c) Aquades

D. Langkah Kerja
Langkah-langkah yang dilakukan pada percobaan ini yaitu:

7
Menyiapkan semua alat dan bahan yang dibutuhkan untuk praktikum
degradasi senyawa organik berwarna dengan semikonduktor dengan
berbagai tipe titanium dioksida (fotokatalis)

Menimbang TiO2 dan TiO2 tersensitifkan AgI masing-masing 0,03 g dan


Mengambil Senyawa Metilen Blue (200 pp) menggunakan pipet pipet volum
sebanyak 1 ml.

Memasukan senyawa metilen blue (200 pp) kedalam labu ukur kemudian
menambahkan akuades sampai garis batas, kemudian kocok sampai larut secara
sempurna

Menuangkan larutan metilen blue kedalam 3 buah gelas beker yang telah
diberi label nama masing-masing sebanyak 25 ml (Larutan pada gelas
beker 1 sebagai kontrol)

Memasukan 0,03 gram TiO2 kedalam gelas beker 2 dan 0,03 gram TiO2AgI
kedalam gelas beker 3 kemudian mengaduk sampai rata.

Mengamati dan mencatat warna pada ketiga larutan setelah diberi


perlakuan awal.

Meletakan ketiga larutan didekat jendela yang terkena sinar matahari secara
tidak langsung selama 4 hari.

Mengamati perubahan yang terjadi pada larutan setelah 4 hari kemudian


mencatat hasil percobaan kedalam tabel hasil pengamatan.

8
E. Hasil Pengamatan
Tabel 1. Hasil Pengamatan

Keadaana Perubahan Perlakuan


Senyawa Perlakuan 1 Perubahan 2
awal 1 2

- - Biru Terang
Biru muda
Diletakan dan terdapat
+ 0,03 gr
Biru di dekat endapan
TiO2
Metilen keputihan jendela putih pada
blue 1 yang dasar gelas
Berwarna
ml + 99 terkena beker
biru terang
ml sinar Bening dan
akuades Biru muda matahari terdapat
+ 0,03 gr selama 4
dan terdapat endapan
TiO2 AgI hari
butiran ungu pada
TiO2 AgI dasar gelas
beker

F. Pembahasan
Praktikum degradasi senyawa organik berwarna dengan semikonduktor
dengan berbagai tipe titanium dioksida (fotokatalis) ini dilakukan pada hari jumat,
22 Maret 2019, dengan tujuan untuk mengetahui penguraian (fotokatalis) senyawa
organik berwarna oleh berbagai TiO2 dengan bantuan sinar matahari. Sebelum
melakukan praktikum fotokatalis disiapkan terlebih dahulu alat dan bahan yang
akan digunakan. Senyawa organik berwarna yang digunakan dalam praktikum ini
adalah larutan metilen blue dan ada 2 jenis senyawa semikonduktor TiO2 yang
digunakan yaitu TiO2 murni tanpa penambahan senyawa apapun dan TiO2
tersensitifkan AgI.
Titanium dioksida yang digunakan berstruktur kristal anatas. Penggunaan
TiO2 berstruktur ini didasarkan pada kemampuan fotoaktivitasnya, dimana
kemampuan fotoaktivitas semikonduktor TiO2 dipengaruhi oleh morfologi, luas
permukaan, kristanilitas dan ukuran partikel. Hal ini disebabkan harga Eg TiO2
jenis anatas yang lebih tinggi yaitu sebesar 3,2 eV sedangkan rutil sebesar 3,0 eV.
Harga Eg yang lebih tinggi akan menghasilkan luas permukaan aktif yang lebih

9
besar sehingga menghasilkan fotoaktivitas yang lebih efektif. Semakin kecil
bentuk dan ukuran kristal menunjukkan sifat fotokatalitik yang lebih baik,
dikarenakan memiliki luas permukaan area yang cukup tinggi sehingga
menyebabkan peningkatan aktivitas permukaan yang signifikan.
Langkah pertama yang dilakukan dalam praktikum ini yaitu menyiapkan
senyawa metilen biru sebanyak 1 ml, dilarutakan dengan akuades sebanyak 99 ml
didalam labu ukur dan dikocok smpai larut sempurna, setalah itu larutan
dimasukan kedalam 3 buah gelas beker masing masing sebanyak 25 ml. Gelas
beker 1 sebagai kontrol (tidak ditambahkan senyawa apapun), gelas beker 2
ditambahkan TiO2 sebanyak 0,03 gr kemudian diaduk rata, dan gelas beker 3
ditambahkan TiO2 AgI sebanyak 0,03 gr diaduk rata kemudian mengamati kondidi
awal pada ketiga larutan.
TiO2 merupakan semikonduktor yang memiliki fotoaktivitas dan stabilitas
kimia tinggi serta tahan terhadap fotokorosi dalam semua kondisi larutan kecuali
pada larutan yang sangat asam atau mengandung fluoride sehingga partikel TiO2
dapat digunakan sebagai fotokalatis yang berperan untuk mendegradasi senyawa
organik bewarna yaitu metilen blue.
Langkah terakhir dalam praktikum ini yaitu meletakan ketiga larutan
didekat jendela, yang terkena sinar matahari secara tidak langsung selama 4 hari
agar terjadi reaksi fotokatalis. Fotokatalis adalah reaksi yang melibatkan cahaya
(fotoreaksi) dan mengalami peningkatan kecepatan reaksi akibat adanya katalis
yang mengabsorbsi energi cahaya ultraviolet (UV) sehingga menghasilkan
senyawa pereduksi dan pengoksidasi pada permukaan katalis. Proses di atas
didasarkan pada kemampuan ganda suatu senyawa semikonduktor (TiO 2)
untuk menyerap foton dan melakukan reaksi transformasi antar muka
material secara simultan.
Berdasarkan hasil percobaan, pada gelas beker 1 yang berisi metilen blue,
dan diletakan didekat jendela yang terkena sinar matahari secara tidak langsung
tidak mengalami perubahan warna setelah dilakukan pengamatan dengan selang
waktu 4 hari, hal ini diskarenakan tidak ada senyawa semikonduktor yang
mendukung terjadinya reaksi fotokatalis terhadapa senyawa metilen biru.

10
Pada gelas beker 2 yang berisi metilen blue yang ditambahkan TiO2,
kemudian diletakan didekat jendela yang terkena sinar matahari secara tidak
langsung mengalami perubahan warna dari biru keputihan menjadi biru muda dan
didasar gelas beker terdapat sedikit endapan putih, setelah dilakukan pengamatan
dengan selang waktu 4 hari. Perubahan warna yang terjadi pada larutan metilen
blue disebabkan oleh terjadinya degradasi warna pada saat bereaksi dengan
senyawa semikonduktor TiO2. Hal ini sesuai dengan teori yang menyatakan
bahwa TiO2 dapat digunakan untuk mempercepat proses penguraian senyawa
organik berwarna salah satunya metilen biru. Menurut penulis endapan yang
terdapat pada dasar gelas beker merupakan kristal TiO2 yang tidak dapat larut
dalam larutan metilen biru, bukan karena endapan hasil reaksi.
Pada gelas beker 3 yang ditambahkan ditambahkan TiO2 AgI, kemudian
diletakan didekat jendela yang terkena sinar matahari secara tidak langsung
mengalami perubahan warna dari biru muda menjadi biru transfaran (bening) dan
didasar gelas beker terdapat sedikit endapan berwarna putih, setelah dilakukan
pengamatan dengan selang waktu 4 hari. Perubahan warna yang terjadi pada
larutan metilen blue dikarenakan terjadi degradasi warna karena bereaksi dengan
TiO2 nanotube (TiO2 AgI). Hal ini sesuai dengan teori bawasannya TiO2 dapat
digunakan untuk mempercepat proses penguraian senyawa organik berwarna.
Endapan yang terdapat pada dasar gelas beker adalah kristal TiO2 AgI yang tidak
dapat larut dalam larutan metilen biru, bukan karena adanya endapan dari hasil
reaksi.
Pemecahan senyawa atau degradasi yang terjadi pada senyawa metilen
blue disebabkan oleh adanya cahaya (sinar matahari) sehingga mengalami reaksi
fotokatalis pada saat ditambahkan senyawa TiO2 maupun TiO2 AgI. Proses
degradasi ini disebut sebagai fotodegradasi karena memerlukan cahaya atau sinar
matahari.
Prinsip kerja fotodegradasi didasarkan karena adanya loncatan elektron
dari pita valensi ke pita konduksi pada logam semikonduktor jika dikenai
suatu energi foton. Timbulnya hole (lubang elektron) yang dapat berinteraksi
dengan pelarut (air) membentuk radikal OH• disebabkan oleh adanya loncatan

11
elektron sehingga radikal ini yang akan menguraikan senyawa organic pada
larutan metilen blue.
Reaksi pada fotodegradasi diawali dengan adanya oksidasi ion OH- dari
H2O yang membentuk radikal, dan setelah TiO2 menyerap cahaya atau sinar
matahari maka akan membentuk hole. Mekanisme reaksi yang terbentuk yaitu :
TiO2 + hυ → hole+ + e-
hole+ + OH- → OH•
OH•+ substrat → produk
Sedangkan reaksi yang terjadi pada proses fotodegradasi senyawa metilen blue
adalah :
C16H18N3SCl + 51/2 O2 → HCl + H2SO4 + 3HNO3 + 16CO2 + 6H2O

G. Kesimpulan
Berdasarkan hasil percobaan yang telah dilakukan maka dapat
disimpulkan bahwa larutan metilen blue yang mengalami fotodegradasi oleh
senyawa semikonduktor TiO2. Proses degradasi/pemecahan senyawa pada metilen
blue terjadi karena adanya cahaya sehingga terjadi reaksi fotokatalis pada TiO2.
Hasil degradasi pada reaksi fotokatalis menyebabkan terjadinya perubahan warna
pada metilen blue yang semakin memudar atau mengalami penguraian pada warna
larutan.

H. Pertanyaan
1. Jelaskan hubungan luas permukaan dengan aktifitas penghilangan warna metilen
biru dalam larutan ?
Jawaban:
Apabila luas permukaan yang besar atau ukuran partikel kecil maka akan
meningkatkan aktivitas fotokatalis. Dimana aktivitas fotokatalis akan
membentuk radikal hidroksil, jika semakin tinggi pembentukan radikal
hidroksil maka akan semakin efektif kemampuan fotokatalis untuk menyerap
berbagai jenis polutan atau penghilangan warna salah satunya zat warna
metilen blue.

12
2. Bagaimanakah peran zat pensensitif AgI terhadap aktifitas penghilangan
warna metilen biru dalam larutan
Jawaban :
Pemilihan logam sebagai penjebak elektron didasarkan pada sifatnya yang
tidak mudah teroksidasi atau yang mempunyai potensial reduksi tinggi,
sehingga logam-logam tersebut bertindak sebagai akseptor elektron.
Contohnya logam Ag yang memiliki potensial reduksi 0,799 volt.
Nanopartikel TiO2 yang tersensitifkan Ag menunjukkan perubahan potensial
negatif dan arus anoda dalam merespon penyinaran cahaya tampak. Hal ini
mengakibatkan degradasi warna pada larutan metilen blue.

I. Daftar Pustaka

Achmad, Hiskia. 2001. Kimia Larutan. Bandung: Citra Aditya Bakti

Hari Sutrisno. (2019). Praktikum Pend Sains. Yogyakarta: Program Pascasarjana


UNY

John dan Rachmawati. 2011. Chemistry 3A. Jakarta: Penerbit Erlangga

Keenan, C.W. 1989. Kimia Universitas Edisi ke-6. Jakarta: Erlangga.

Khopkar, S.M. 1990. Konsep Dasar Kimia Analitik. Jakarta: Universitas


Indonesia

Syukri, S. 1999. Kimia Dasar 2. Bandung: ITB

J. Lampiran
1. Dokumentasi Praktikum
2. Laporan Sementara

13
LAMPIRAN

1. Dokumentasi Praktikum

Metilen Blue (200


pp)

Gelas beker 1
sebagai kontrol
(tidak ditambahkan
senyawa apapun)

Gelas beker 2
ditambahkan 0,03
gram TiO2

Gelas beker 3
ditambahkan 0,03
gram TiO2 AgI

14
Gelas beker 1 yang
tidak ditambahkan
senyawa apapun
tidak mengalami
perubahan warna
setelah diletakan
didekat jendela
yang terkena sinar
matahari tidak
langsung selama 4
hari

Gelas beker 2 yang


ditambahkan
TiO2 mengalami
perubahan warna
dari biru keputihan
menjadi biru muda
dan terdapat
endapan warna
putih, setelah
diletakan didekat
jendela yang
terkena sinar
matahari tidak
langsung selama 4
hari

15
Gelas beker 3 yang
ditambahkan
TiO2 AgI mengalami
perubahan warna
dari biru muda
menjadi biru
transfaran (bening)
dan didasar gelas
beker terdapat
sedikit endapan
berwarna putih,
setelah diletakan
didekat jendela
yang terkena sinar
matahari tidak
langsung selama 4
hari.

16
2. Laporan Sementara

17
18