Anda di halaman 1dari 8

Reseptor

Reseptor merupakan protein yang berfungsi untuk mengikat ligand dan


mengubah satu sinyal menjadi sinyal lain (Ganong, 1995). Terdapat dua jenis reseptor,
yaitu :

1. Reseptor intraseluler, terletak di dalam sel,


2. Reseptor membran, terletak di dalam membran

A. Reseptor Membran
Reseptor membran adalah reseptor yang terdapat pada membrane sel, yang
terbagi kedalam tiga tipe, diantaranya :

1. G-Protein Linked Receptor (GPLR)


Reseptor ini juga disebut G-Protein Coupled Receptor (GPCR). Reseptor ini
merupakan perantara respon terhadap berbagai macam molekul sinyal, meliputi
hormon, neurotransmiter, dan perantara lokal. Semua G-protein-linked receptors
termasuk famili besar homolog, 7-pass trans membran proteins (7 TM reseptor).
Pada tipe ini reseptor menggunakan G protein sebagai intermediet. Ligan
berikatan dengan reseptor membentuk Ligand/Receptor complex binds G protein.
Protein reseptor ini dapat mengaktivasi atau inaktivasi (efektor) enzim yang terikat pada
membran plasma atau ion channel melewati protein G secara tidak langsung. Ligan
yang mengikat dan mengaktifkan reseptor ini termasuk senyawa yang sensitive terhadap
cahaya, bau, feromon, hormon, dan neurotransmiter, dan bervariasi dalam ukuran dari
molekul kecil untuk peptide pada protein besar.

Gambar G-Protein Linked Receptor (GPLR)

Sumber : Ganong, 1995


Ligand – reseptor  aktifasi protein G  aktivasi/hambat suatu enzim yang
mengaktivasi ion channel atau second messenger.

G Proteins dan Siklus G protein


G protein berada pada membran sel dan memediasi fungsi G protein linked
receptors (GPCRs). G protein merupakan heterotrimeric karena terdiri dari tiga subunit
yang berbeda. Subunit-subunit tersebut adalah α, β, γ. Subunit α merupakan komponen
enzimatik. Subunit ini mengikat GTP dan menghidrolisisnya menjadi GDP. Subunit β
dan γ tetap berikatan satu sama lain dan berasosiasi dengan subunit α saat berikatan
dengan GDP.

Gambar Siklus G Protein


Sumber : Ganong, 1995
Tipe G protein linked receptors ini berupa protein membran yang bekerja sama
dengan protein G dan protein lainnya, biasanya sebuah enzim (atau disebut juga
efektor). Jika tidak ada molekul sinyal ekstraseluler spesifik untuk reseptor, protein
berada dalam keadaan tidak aktif. Protein G inaktif memiliki satu molekul GDP yang
terikat padanya. Jika molekul sinyal terikat pada reseptor, reseptor akan berubah bentuk
sehingga reseptor ini mengikat dan mengaktifkan G-protein. Satu molekul GTP
menggantikan GDP pada protein G. Protein G aktif mengikat dan mengaktifkan enzim
dan memicu langkah selanjutnya dalam jalur dan menghasilkan respon sel. Protein G
kemudian mengkatalis hidrolisis GTP dan melepaskannya dari enzim, sehingga siap
digunakan kembali. G-proteins memicu pembentukan cAMP, yang kemudian berlaku
sebagai second messenger dalam lintasan seluler
2. Tyrosine Kinase Receptor
Tyrosine Kinase Receptor atau Reseptor Tirosin Kinase (RTK) adalah reseptor
yang memiliki aktivitas kinase pada protein tirosin, yaitu mengkatalisis transfer fosfat
dari ATP ke gugus hidroksil (OH) tirosinpada protein target. Reseptor ini merupakan
tipe reseptor membrane dari P

Gambar: Protein Tirosin yang terfosforilasi

Sumber : Ganong, 1995

Reaksi berupa ATP + Tirosin  (Tirosin Kinase)  ADP + Tirosin fosfat, dan
berdampingan dengan enzim tirosina fosfatase yang memindahkan gugus fosfat dari
tirosin fosfat.
Reseptor ini merupakan reseptor membran yang terdapat dalam jumlah yang
cukup banyak. Reseptor Tirosin Kinase merupakan protein trans membran yang
memiliki tempat ikatan ligan pada sisi luar membran plasma dan hanya memiliki satu
segmen trans membran, atau dikatakan berbentuk monomer.

Sumber : Ganong, 1995


Reseptor Tirosin Kinase (RTK) merupakan keluarga reseptor yang memiliki
struktur yang mirip satu sama lain. Keluarga reseptor ini memiliki satu tyrosinekinase
domain, yaitu yang akan memfosforilasi protein pada residu tirosin, satu hormone
binding domain, yaitu tempat ikatan dengan ligan atau hormon, dan satu segmen
karboksil terminal dengan tirosin ganda untuk autofosfolisasi. Contoh reseptor yang
tergolong reseptor tirosin kinase adalah reseptor-reseptor pertumbuhan.
Sebelum molekul sinyal terikat, reseptor merupakan polipeptida tunggal.
Pengikatan molekul sinyal pada reseptor tidak mengakibatkan perubahan konformasi
untuk mengaktifkan sisi sitoplasmik secara langsung. Aktivasi terjadi karena pengikatan
ligan menyebabkan dua polipeptida mengumpul membentuk dimer. Pengumpulan ini
mengaktifkan tirosin kinase dari kedua polipeptida yang kemudian memfosforilasi
tirosin pada ekor polipeptida lainnya

Gambar Interaksi dengan protein tirosin kinase padasitosol.


Sumber : Ganong, 1995
Ligand – reseptor  stimulasi dimerisasi reseptor interaksi dengan protein tirosin
kinase pada sitosol.
3. Ion Channel Receptor
Ion-channel-linked receptors juga dikenal sebagai transmitter-gated ion channels
atau ion otropic receptors. Pada membran sel, ada channel (gerbang) dimana sel saling
berkomunikasi dengan sekitarnya. Channel ini terdiri dari satu molekul sederhana atau
gabungan molekul-molekul kompleks dan channel ini memiliki kemampuan untuk
membolehkan lewatnya atom-atom yang memiliki muatan atau disebut juga dengan ion.
Regulasi ion channel dipengaruhi oleh kehidupan dalam sel dan fungsinya
dalam keadaan normal dan patologik.
Ion channel terdiri dari molekul tunggal atau kompleks yang membentuk
dinding channel (berupa pori) yang membolehkan komunikasi antara interior dan
eksterior sel. Diameter pori sangat kecil sehingga sensitif terhadap satu ion (ukuran
sekitar 0.5-0.6 milyar/milimeter). Perubahan yang cepat dalam bentuk molekul
menyebabkan pembukaan atau penutupan ion channel sebagai jawaban atas pengikatan
suatu neurotransmiter. Ini terjadi selama aktivasi reseptor oleh sebuah sinyal spesifik
dari substrat molekul tunggal. Sehingga satu bagian spesifik dari molekul yang
membuat perubahan membrane potesial dapat membuka atau menutup ion channel.
Pada tipe ini reseptor adalah sebuah ion channel. Ligan berikatan pada reseptor
dan membuka channel. Akibatnya ion mengalir ke dalam sel, berikatan dengan berbagai
protein dan mengaktifkan berbagai protein.

Gambar Aliran Ion dalam Ion Channel


Sumber : Ganong, 1995
Ligand – reseptor  perubahan konformasi reseptoraliran ion tertentumengubah
potensial elektris padamembran sel.
2.2 Reseptor Interseluler
Reseptor intraseluler atau nuclear receptor (NR) adalah adalah kelas reseptor
yang diaktifkan ligan factor transkripsi yang akan menghasilkan up atau down regulasi
ekspresi gen. Ligan yang yang berikatan dengan reseptor intraseluler biasanya berbobot
molekul rendah < 1000 dalton, bersifat lipofilik sehingga dapat menembus membrane
dengan mudah. Contoh ligan yang beraksi pada reseptor intraseluler adalah hormon
endogen, vitamin A dan D, beberapa golongan obat (umumnya golongan steroid) serta
xenobiotik pengganggu endokrin. Hasil ikatan antara ligan dan reseptor intraseluler ini
akan menghasilkan sejumlah besar ekspresi gen yang akhirnya akan menghasilkan efek
pada organisme tersebut (Ikawati, 2006).
Reseptor intraseluler dapat digolongkan menjadi beberapa jenis berdasarkan
ligan yang berikatan dengannya. Pembagiaan reseptor tersebut dapat dilihat pada tabel
1.

Tabel 1. Macam-macam reseptor intraseluler bersama ligannya masing-masing

Jenis Kelompok Contoh Ligan Nama Reseptornya


Ligan

Hormon Hormone tiroid thyroid hormone receptor (TR)

Estrogen estrogen receptor (ER)

Androgen androgen receptor (AR)

Gluko glucocorticoid receptor (GR)


kortikoid

Vitamin vitamin D vitamin D receptor (VDR)

Trans-retinoic retinoic acid receptor


acid

9-cis-retinoic retinoic X receptor (RXR)


acid

Produk antara dan bile acids bile acids receptor (BAR)


produk metabolism

Asam lemak peroxisome proliferators activated


receptors (PPAR)

oxysterols liver X receptor (LXR)

Xenobiotics pregnan X receptor (PXR)

constitutive androstane receptor


(CAR)

Beberapa reseptor intarseluler, misalnya FXR, LXR dan PPAR akan berikatan dengan
zat antara metabolism misalnya asam lemak, asam empedu dan sterol. Dalam hal ini
reseptor berperan sebagai metabolik sensor yang akan mengatur metabolisme tubuh.
Sedangkan beberapa reseptor lain, yaitu CAR dan PXR berperan sebagai xenobiotik
sensor yang akan menghasilkan up regulasi dari sitokrom P450 yang akan
memetabolisme xenobiotik tersebut. Reseptor lain misalnya constitutive androstan
receptor akan menjadi aktif bila tidak berikatan dengan ligan. Dan ada pula reseptor
intra seluler yang ikatanya dengan ligan lemah atau dapat dikatakan tidak berikatan
yaitu golongan short heterodimer partner (SHD dan NR0B2).

Mesenjer kedua (Second Messenger)


Mesenjer kedua merupakan jalur persinyalan yangmelibatkan molekul atau ion kecil
nonprotein yang terlarut-air. Sedangkan molekul sinyal ekstraseluler yang mengikat
reseptor membrane merupakan mesenjer pertama jalur. Karena mesenjer kedua itu kecil
dan terlarut dalam air, mesenjer ini data segera menyebar ke seluruh sel dengan
berdifusi. Mesenjer kedua berperan serta dalam jalur yang diinisiasi reseptor terkait
protein-G maupun reseptor tirosin-kinase (Nurani, 2014). Dua mesenjer kedua yang
paling banyak digunakan ialah:
1. AMP siklik
Mesenjer kedua ini yang membawa sinyal yang diinisiasi epinefrin dari membrane
plasma sel hati atau otot ke bagian dalam sel, dimana sinyal itu menyebabkan
pemecahan glikogen. Pengikatan epinefrin pada membrane plasma sel hati akan
meningkatkan senyawa adenosine monofosfat siklik, yang disingkat AMP siklik atau
cAMP. cAMP ini diaktifkan oleh adenilat siklase yang mengkatalisa perombakan ATP.
cAMP atau aliran ion tadi dapat membuat perubahan pada perilaku sel, dan mereka
disebut messenger sekunder atau mediator intraseluler yang mana akan merangsang
metabolisme sel lewat aktivitas protein kinase.
2. Ion kalsium
Banyak molekul sinyal pada hewan, termasuk neurotransmitter, factor pertumbuhan,
dan sejumlah hormone, menginduksi respon pada sel targetnya melalui jalur transduksi
sinyal yang meningkatkan konsentrasi ion kalsium sitosolik. Peningkatan konsentrasi
ion kalsium sitosolik menyebabkan banyak respon pada sel hewan. Sel menggunakan
ion kalsium sebagai mesenjer kedua dalam jalur protein-G dan jalur reseptor tirosin
kinase. Dalam merespon sinyal yang direlai oleh jalur transduksi sinyal, kadar kalsium
sitosolik mungkin meningkat, biasanya oleh suatu mekanisme yan melepas ion kalsium
dari RE biasanya jauh lebih tinggi daripada konsentrasi dalam sitisol. Karena kadar
kalsium sitosolit rendah, perubahan kecil pada jumlah absolute ion akan
menggambarkan persentase perubahan yang relative tinggi pada konsentrasi kalsium.

Ganong, W.F,. 1995. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Edisi 14. Penerbit : EGC
Ikawati, Zullies, 2006, Pengantar Farmakologi Molekuler, Gadjah Mada University
Press, Yogyakarta
Nurani, Laela Hayu. 2014. Biologi Sel. Yogyakarta