Anda di halaman 1dari 14

TEORI AKUNTANSI

KEWAJIBAN

Kelompok 2 :
Bety Agustin (1601200231)
Jhong Shang (1601200241)
Philipus (1601200248)
Sanvieta (1601200250)

Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Mulia Singkawang


Tahun Ajaran 2018/2019
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Seperti aset, kewajiban merupakan elemen neraca yang akan membentuk
informasi sematik berupa posisi keuangan bila dihubungkan dengan elemen yang
lain yaitu aset dan ekuitas atau pos-pos rinciannya.
Kewajiban merespresentasikan sebagian sumber dana dari aset badan usaha
berupa potensi jasa (manfaat) fisik dan non-fisik yang memampukannya untuk
menyediakan barang dan jasa.
Kewajiban dapat dipaksakan menurut hukum sebagai konsekuensi dari
kontrak mengingat atau peraturan perundangan. Tugas atau tanggung jawab untuk
bertindak atau melakukan sesuatu pengorbanan ekonomis yang harus dilakukan
perusahaan karena tindakan atau transaksi sebelumnya.
Pengorbanan ekonomis dapat berbentuk penyerahan utang, aktiva lain jasa-
jasa, atau melakukan pekerjaan tertentu. Tindakan atau transaksi sebelumnya itu
dapat berupa uang, barang atau jasa, diakuinya suatu beban atau kerugian

B. Rumusan Masalah
Beberapa masalah yang akan dibahas pada makalah ini, yaitu:
1) Apa saja karakteristik dari kewajiban?
2) Bagaimana mengukur dan menentukan jumlah rupiah pada saat
penanggungan, peneusuran, dan pelunasan?
3) Apa saja atribut dalam penilaian kewajiban?
4) Apa saja kriteria pengakuan kewajiban?
5) Apa saja masalah teoretis dalam pelunasan sebelum jatuh tempo?
6) Apa saja prinsip penilaian kewajiban menurut FASB?
7) Apa saja teori yang berkaitan dengan pembebasan substantif?
8) Bagaimana penyajian pos-pos kewajiban dalam neraca?

1
2

C. Tujuan
Tujuan dari pembuatan makalah ini, yaitu:
1) Menyelesikan tugas kelompok dari mata kuliah “Teori Akuntansi”.
2) Untuk mengetahui karakteristik kewajiban.
3) Untuk mengetahui cara mengukur dan menentukan jumlah rupiah pada
saat penanggungan, peneusuran, dan pelunasan.
4) Untuk mengetahui atribut dalam penilaian kewajiban.
5) Untuk mengetahui kriteria dari pengakuan kewajiban.
6) Untuk mengetahui masalah teoretis dalam pelunasan sebelum jatuh tempo.
7) Untuk mengetahui prinsip penilaian kewajiban menurut FASB.
8) Untuk mengetahui teori yang berkaitan dengan pembebasan substantive.
9) Untuk mengetahui cara penyajian pos-pos kewajiban dalam neraca.
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian
Dalam rumus dasar akuntansi, Aset = Kewajiban + Ekuitas Pemilik hal ini
memiliki arti bahwa aset bersumber dari kewajiban dan modal pemilik. Dalam
presentasi kali ini, kami kelompok 2 akan membahas salah satu sumber tersebut,
yaitu kewajiban atau biasa disebut dengan hutang. Jika dapat dirumuskan
pengertian kewajiban dalam akuntansi adalah hutang suatu perusahaan yang
muncul karena transaksi pada waktu yang lalu dan harus di bayar dengan kas,
barang atau jasa dimasa depan.
Secara simpelnya kewajiban ini merupakan akun yang muncul pada waktu
transaksi selesai namun belum mendapat timbal balik dari transaksi itu sendiri.
Seumpama jika kita menjual jasa, kita berhak mendapatkan uang tersebut. Setelah
pembeli membayar jasa kita namun kita belum membayarkan jasa kita yang
notabene merupakan hak dari pembeli. Maka kita berhutang jasa atas transaksi
yang kita lakukan kepada pembeli.
Sebetulnya akun ini hanya akun sementara untuk mengantisipasi tidak
tercatatnya kewajiban yang harus dibayarkan. Untuk menambah referensi dalam
mengartikan kewajiban atau liabilities, kami sertakan beberapa pengertian
kewajiban menurut para ahli:
Menurut FASB (SFAC No. 6, Prg. 35) : Kewajiban adalah pengorbanan
manfaat ekonomik masa datang yang cukup pasti yang timbul dari keharusan
sekarang suatu kesatuan usaha untuk mentransfer aset atau menyediakan/
menyerahkan jasa kepada kesatuan lain dimasa datang sebagai akibat transaksi
atau kejadian masa lalu.
Menurut IASC : Liabilitas adalah kewajiban kini dari perusahaan yang
timbul dari peristiwa masa lalu, penyelesaian yang diharapkan dapat
menghasilkan arus keluar dari sumber daya perusahaan dalam mewujudkan
manfaat ekonomi.

3
4

Menurut IFRS (PSAK 57) : Liabilitas adalah kewajiban kini dari perusahaan
yang timbul dari peristiwa masa lalu, penyelesaian yang diharapkan dapat
menghasilkan arus keluar dari sumber daya peusahaan dalam mewujudkan
manfaat ekonomi.

B. Karakteristik Kewajiban
1. Pengorbanan Manfaat Ekonomik
Untuk dapat disebut sebagai kewajiban, suatu objek harus memuat suatu
tanggungjawab kepada pihak lain. Dimana perusahaan dituntut untuk melunasinya
dengan cara mengorbankan manfaat ekonomi yang cukup pasti di masa
mendatang. Yang dimaksud dengan cukup pasti ialah jumlah atau wujudnya dapat
ditentukan secara layak/pasti. Selain itu kewajiban itu harus bersifat memaksa dan
bukan atas dasar kebijakan perusahaan untuk memutuskan baik dalam hal jumlah
rupiah maupun dalam saat transfer. Serta kewajiban hanya dapat terjadi bila
berkaitan dengan pihak lain atau kesatuan usaha lain.
2. Keharusan Sekarang
Untuk dapat disebut sebagai kewajiban, suatu pengorbanan ekonomik masa
datang harus timbul akhibat keharusan sekarang. Kata "sekarang" ini mengacu
pada tanggal pelaporan (neraca). Artinya, pada tanggal neraca kalau perlu atau
kalau dipaksakan, pengorbanan sumber ekonomik harus dipenuhi karena
keharusan itu telah ada. Tentu saja jumlah rupiah pengorbanan yang dipaksakan
pada tanggal neraca tidak akan sebesar jumlah rupiah yang akan dibayar di masa
datang (setelah tanggal neraca). Hal ini akibat dari adanya nilai waktu uang (time
value of money) dimana jumlah uang dimasa kini, nilainya akan berbeda dengan
uang di masa yang akan datang.
Contohnya bila kita megajukan pinjaman kepada bank, jumlah hutang yang
akan dicatat akan sesuai dengan jumlah nominal yang dipinjam. Akan tetapi pada
saat pelunasaan, jumlah yang dibayarkan akan berbeda dengan jumlah yang
dipinjam. Selisih ini yang biasa kita sebut dengan bunga.
Dalam pengertian kewajiban mencakup 4 jenis keharusan, antara lain :
a. Kontraktual
5

Keharusan yang timbul akibat perjanjian atau peraturan hukum yang di


dalam nya kewajiban bagi suatu kesatuan usaha di nyatakan secara eksplit
atau implicit dan mengikat. Contoh : utang pajak, utang bunga, utang
usaha, utang wesel, dan utang obligasi.
b. Konstruktif
Keharusan yang timbul akibat kebijakan kesatuan usaha dalam rangka
menjalankan dan memajukan usahanya untuk memenuhi apa yang disebut
praktik usaha yang baik atau etika bisnis dan bukan untuk memenuhi
kewajiban yuridis. Contoh : servis gratis sepeda motor yang dijanjikan
oleh dealer sepeda motor, pengembalian uang untuk barang yang ternyata
cacat atau rusak, dan tunjangan hari raya.
c. Demi keadilan
Keharusan demi keadilan adalah keharusan yang ada sekarang yang
menimbulkan kewajiban bagi perusahaan semata-mata karena panggilan
etis atau moral. Keharusan yang ada sekarang yang menimbulkan
kewajiban bagi perusahaan semata-mata karena panggilan etis atau moral
karena peraturan hukum atau praktik bisnis yang sehat. Contoh :
kewajiban memberikan donasi untuk badan amal tiap akhir tahun dan
kewajiban memberi hadiah kepada penduduk yang tinggal di sekitar pabrik
karena ketidaknyamanan yang ditimbulkannya.
d. Bergantung
Keharusan yang pemenuhannya tidak pasti (jumlah rupiahnya atau jadi
tidaknya dipenuhi) tidak pasti karena bergantung pada kejadian masa
datang. Contoh : utang garansi, utang perkara pengadilan, utang pemulihan
pencemaran lingkungan.
3. Timbul akibat dari transaksi masa lalu
Transaksi masa lalu yang dimaksud di sini adalah transaksi yang
menimbulkan keharusan sekarang telah terjadi. Sebagai contoh, karena
perusahaan mendapat pinjaman bank (dengan kontrak), keharusan sekarang
berupa keharusan kontraktual timbul pada akhir perioda akuntansi (berupa pokok
6

pinjaman dan bunga) yang menuntut pengorbanan sumber ekonomik masa datang
(suatu saat setelah akhir perioda tersebut).
Dalam hal ini, penandatanganan kontrak merupakan peristiwa yang telah
terjadi yang menimbulkan keharusan. Akan tetapi, tidak semua penandatanganan
kontrak dengan sendirinya menimbulkan keharusan. Sebelum salah satu pihak
melaksanakan apa yang diperjanjikan, kontrak akan bersifat eksekutori.
 Konsep hak-kewajiban tak bersyarat
Konsep ini menyatakan ”tidak ada hak tanpa kewajiban dan sebaliknya
tidak ada kewajiban tanpa hak”. Secara teknis, konsep ini diartikan bahwa
hak atau kewajiban timbul bila salah satu pihak telah berbuat sesuatu.
Kontrak-kontrak semacam ini dikenal dengan nama kontrak saling-
mengimbangi tak bersyarat atau kontrak eksekutori.
4. Karakteristik Pendukung
a. Keharusan membayar kas
Adanya pengeluaran kas merupakan hal penting untuk mengaplikasi
definisi kewajiban karena dua hal yaitu:
(1) sebagai bukti adanya suatu kewajiban dan
(2) sebagai pengukur atribut atau besarnya kewajiban yang cukup
objektif.
b. Identitas terbayar jelas
Yang terpenting adalah bahwa keharusan sekarang pengorbanan sumber
ekonomik di masa datang telah ada dan bukan siapa yang harus dilunasi
atau dibayar. Akan tetapi, pada saat pelunasan kewajiban, terbayar dengan
sendirinya harus teridentifikasi.
c. Berkekuatan hukum
Memang pada umumnya, keharusan suatu entitas untuk mengorbankan
manfaat ekonomik timbul akibat klaim yuridis yang mempunyai kekuatan
memaksa. Adanya daya paksa yuridis hanya menunjukkan bahwa
kewajiban tersebut memang ada dan dapat dibuktikan secara yuridis
material. Meskipun demikian, daya paksa yang melekat pada klaim-klaim
hukum bukan merupakan syarat mutlak untuk mengakui adanya
7

kewajiban. Keharusan melakukan pengorbanan manfaat ekonomik masa


datang tidak harus timbul dari desakan pihak eksternal tetapi dari minat
atau kebijakan internal manajemen. Itulah sebabnya kewajiban mencakupi
pengorbanan sumber ekonomik masa depan yang timbul akibat keharusan
konstraktif dan demi keadilan.

C. Penanggungan, penelusuran, dan pelunasan


Sebagai bayangan cermin aset, kewajiban juga harus diukur dan diakui pada
saat terjadinya. Kalau aset diukur dengan dasar penghargaan kesepakatan (kos),
demikian juga kewajiban. Jadi kos sebagai pengukur tidak hanya diterapkan untuk
aset pemerolehan tetapi juga untuk kewajiban pada saat terjadinya.
Kewajiban memiliki tiga tahap perlakuan yaitu penanggunan (pengakuan
terjadinya), penelusuran, dan pelunasan (penyelesaian). Penelusuran berarti
penentuan status dan jumlah (kos) kewajiban setiap saat. Penentuan kos setiap
saat (termasuk pada saat tanggal neraca) dapat disebut dengan penilaian
kewajiban.
a. Penanggungan
Pada prinsipnya, kewajiban diakui pada saat keharusan telah mengikat
akibat transaksi yang sebelumnya telah terjadi. Mengikatnya suatu keharusan
harus di evaluasi atas dasar kaidah pengakuan.
b. Penelusuran
Pengukur yang paling objektif untuk menentukan kos kewajiban pada saat
terjadinya adalah penghargaan sepakatan dalam transaksi–transaksi tersebut dan
bukan jumlah rupiah pengorbanan ekonomik masa datang. Jadi, konsep dasar
penghargaan berlaku baik untuk aset mupun untuk kewajiban. Hal ini berlaku
khususnya untuk kewajiban jangka panjang.
Untuk kewajiban jangka pendek, kos penundaan dianggap tidak cukup
material sehingga jumlah rupiah kewajban yang tidak akan sama dengan jumlah
pengorbanan sumber ekonomik (kas) masa datang. Dengan kata lain, hal itu
biasanya melibatkan pembayaran sejumlah uang kas. Dalam kasus kewajiban
jangka panjang, jumlah diskonto biasanya signifikan dan karenanya penilaian
8

masa berjalan harus berupa nilai yang didiskontokan dari semua pembayaran
masa depan yang akan dilakukan sesuai dengan kontrak itu.
c. Pelunasan
Pelunasan adalah tindakan atau upaya yang sengaja dilakukan oleh kesatuan
usaha sehingga bebas dari kewajiban tersebut. Pelunasan biasanya pemenuhan
secara langsung kepada pihak yang berpiutang. Pelunasan menjadikan kewajiban
tersebut hapus, tiada atau lenyap secara langsung.
Beberapa kewajiban menjadi batal atau kesatuan usaha menjadi bebas dari
kewajiban lantaran penghapusan seluruhnya/sebagian, kompromi, pengakuan
kewajiban baru/pengganti, pengambilalihan kewajiban oleh pihak lain atau
restrukturisasi utang.

D. Dasar atau Atribut Penilaian Kewajiban


Jika pengukuran mengacu pada penentuan nilai keharusan sekarang pada
saat terjadinya, penilaian mengacu pada penentuan nilai keharusan sekarang pada
setiap saat terjadinya kewajiban sampai dilunasinya kewajiban. Makin mendekati
saat jatuh tempo, nilai kewajiban akan makin mendekati nilai nominal.
Jadi, penilaian kewajiban pada saat tertentu adalah penentuan jumlah rupiah yang
harus dikorbankan seandainya pada saat tersebut kewajiban harus dilunasi.

Basis (atribut) Penilaian Keterangan Contoh Pos Yang Berpaut

Kewajiban penerbit opsi


Berbagai kewajiban yang
sebelum jangka opsi habis
Harga pasar sekarang melibatkan komoditas dan
dan beberapa kewajiban
surat – surat berharga.
pedagang efek.

Berbagai kewajiban yang


melibatkan jumlah rupiah Utang usaha, utang garansi,
Nilai pelunasan neto yang cukup pasti tetap dan utang wesel jangka
waktu pelunasannya tidak pendek.
cukup pasti.
Kewajiban moneter jangka
Nilai diskonan aliran kas panjang jumlah rupiah Utang obligasi, dan utang
masa datang maupun saat pembayaran wesel jangka panjang.
cukup pasti.
9

E. Kriteria Pengakuan Kewajiban


Terdapat empat kaidah pengakuan untuk menandai pengakuan kewajiban, yaitu :
 ketersediaan dasar hukum
Kaidah ini terkait dengan kualitas keterandalan dan keberpautan informasi.
Ketersediaan dasar hukum yang menimbulkan daya paksa hanya merupakan
karakteristik pendukung definisi kewajiban tadi. Jadi, kaidah ini tidak mutlak
sehingga kewajiban juga dapat diakui bila terdapat bukti substantif hanya
keharusan konstruktif atau demi kedilan.
 keterterapan konsep dasar konservatisma
Kaidah ini merupakan penjabaran teknis kriteria keterandalan. Implikasi
dianutnya konsep konservatisma adalah rugi dapat segera diakui tetapi tidak
demikian dengan untung. Ini berarti kewajiban dapat diakui segera sedangkan
aset tidak.
 ketertentuan substansi ekonomik transaksi
Substansi suatu transaksi dapat memicu pencatatan seluruh kewajiban yang
timbul ketika transaksi terjadi meskipun secara yuridis/kontraktual kewajiban
baru akan mengikat secara berkala pada saat keharusan sekarang timbul.
Dalam hal ini, kewajiban dapat atau bahkan harus diakui jika secara substantif
sewaguna tersebut sebenarnya adalah pembelian angsuran.
 keterukuran nilai kewajiban
Keterukuran merupakan salah satu syarat untuk mencapai kualitas keterandalan
informasi. Oleh karena itu, adanya kepastian mengenai jumlah rupiah dapat
memicu diakuinya suatu kewajiban. Jika pengukuran suatu pos kewajiban
bersifat sangat subjektif dan arbitrer, pada umumnya pos tersebut tidak diakui.

F. Masalah Teoritis Dalam Pelunasan Sebelum Jatuh Tempo


Bila kewajiban dilunasi pada saat jatuh tempo, nilai jatuh tempo (nominal)
dengan sendirinya merefleksi nilai sekarang (saat pelunasan) kewajiban sehingga
tidak ada selisih antara jumlah rupiah yang dibayar dan nilai nominal. Nilai jatuh
tempo juga akan sama dengan nilai buku atau nilai bawaan (carrying value)
10

kewajiban karena proses amortisasi selisih antara nominal dan nilai pasar pada
saat penerbitan utang (misalnya obligasi).
Dalam pelunasan sebelum jatuh tempo, utang tersebut harus dilunasi dengan
harga pasarnya sehingga terdapat selisih antara nilai bawaan dan nilai
penebusan/penarikan. Selisih tersebut mempengaruhi ekuitas pemegang saham
sesuai dengan APBO No. 4 (prg. 20):

“Selisih harga antara harga penarikan (pemerolehan) kembali dan nilai

bawaan neto utang yang dilunasi harus diakui pada periode penarikan dan di

laporan dalam statement laba-rugi sebagai untung atau rugi dan dipisahkan

dengan pos untung atau rugi lainnya ... untung dan rugi tidak selayaknya

diamortisasi untuk periode-periode yang akan datang.”

Dengan demikian, terdapat pandangan bahwa untung atau rugi yang berasal
dari transaksi tersebut harus dilaporkan sebagai suatu penyesuaian modal.
Bergantung pada sifatnya untung atau rugi dapat dilaporkan sebagai pos ordiner
atau pos ekstraordiner. Kriteria untuk menentukan hal ini adalah apakah pos
tersebut merupakan akibat dari transaksi atau kejadian yang mempunyai sifat
sebagai berikut:
a. Sangat berbeda dengan kegiatan operasi rutin kesatuan usaha
b. Tidak diharapkan akan sering terjadi
c. Berpengaruh material terhadap operasi perusahaan secara keseluruhan
APB dan FASB menentukan bahwa untuk pelunasan dengan atau tanpa
pendanaan sebenarnya sama. Terdapat tiga alternatif dalam menentukan selisih,
yaitu:
1. Selisih diamortisasi selama sisa umur semula utang yang ditarik kembali
2. Selisih diamortisasi selama umur utang baru diterbitkan
3. Selisih diakui pada saat penarikan dan dilaporkan dalam statement laba-rugi
tahun bersangkutan.
11

G. Teori Yang Berkaitan Dengan Pembebasan Susbstantif


Kewajiban dapat dianggap lenyap bila debitr menaruh kas atau aset lainnya
yang tidak dapat ditarik kembali dalam suatu perwalian dan aliran kas dari asset
tersebut akan cukup untuk pelunasan pembayaran bunga serta pokok pinjaman.
Jadi, pada saat tidak ada lagi keharusan membayar, telah terjadi pembebasan
substantif.
Masalah teoritis dalam hal pembebasan substantif adalah apakah pada saat
terjadi pembebasan substantif perusahaan dapat mengakui kewajiban. Pada
awalnya standar yang terdapat dalam FASB memperbolehkan pengakuan
kewajiban pada saat tercapainya pembebasan substantif melalui SFAS No. 76.
tetapi kemudian membatalkannya dengan dikeluarkan SFAS No. 125. Dalam
standar tersebut FASB menegaskan bahwa pada saat terjadi pembebasan
substantif, kewajiban tidak dapat dihapus karena kejadian tersebut tidak
memenuhi karakteristik atau kriteria kritis sebagaimana yang tercantum dalam
standar.
Alasan yang lain yang sering dikemukakan adalah pengakuan kewajiban
pada saat tercapainya pembebasan substantif sama saja dengan mengkompensasi
kewajiban dengan aset. Hal ini merupakan praktik tidak layak.

H. Penyajian Pos-pos Kewajiban Dalam Neraca


Dalam neraca, kewajiban disajikan disisi pasiva, bersama dengan ekuitas.
Kewajiban disusun berdasarkan tingkat likuiditasnya, yaitu dari yang paling
lancar sampai pada yang tidak lancar. Dan biasanya dikelompokkan menjadi 2,
yaitu kewajiban lancar/kewajiban jangka pendek dan kewajiban tidak
lancar/kewajiban jangka panjang.
1. Kewajiban Jangka Pendek
Suatu kewajiban diklasifikasikan sebagai kewajiban jangka pendek, jika :
a) diperkirakan akan diselesaikan dalam jangka waktu siklus normal operasi
perusahaan; atau
b) jatuh tempo dalam jangka waktu 12 bulan dari tanggal neraca.
12

2. Semua kewajiban lainnya harus diklasifikasikan sebagai kewajiban jangka


panjang
Kewajiban berbunga jangka panjang tetap diklasifikasikan sebagai
kewajiban jangka panjang, walaupun kewajiban tersebut akan jatuh tempo dalam
jangka waktu 12 bulan sejak tanggal neraca, apabila:
a) kesepakatan awal perjanjian pinjaman untuk jangka waktu lebih dari 12
bulan;
b) perusahaan bermaksud membiayai kembali kewajibannya dengan
pendanaan jangka panjang; dan
c) maksud tersebut pada huruf (b) didukung dengan perjanjian pembiayaan
kembali atau penjadwalan kembali pembayaran yang resmi disepakati
sebelum laporan keuangan disetujui.
BAB III
PENUTUP

a. Kesimpulan
Kewajiban mempunyai tiga karakteristik utama yaitu pengorbanan manfaat
ekonomi masa datang, menjadi keharusan sekarang dan timbul akibat transaksi
ataukejadian masa lampau
Pengertian kewajiban merupakan bayangan cermin pengertian aset.
Transaksi atau kejadian masa lalu menimbulkan penguasaan sekarang perolehan
manfaat ekonomik masa datang untuk aset sedangkan untuk kewajiban hal
tersebut menimbulkan keharusan sekarang pengorbanan manfaat ekonomik masa
datang.
Kewajiban harus diukur dan diakui pada saat terjadinya. Kewajiban
memiliki tiga tahap perlakuan yaitu penanggunan (pengakuan terjadinya),
penelusuran, dan pelunasan (penyelesaian). Kewajiban juga mempunyai masalah
teoritis apabila terjadi pelunasan sebelum jatuh tempo dan pembebasan substantif.
Kewajiban disajikan di laporan keuangan neraca di sisi pasiva berurutan
berdasarkan likuiditasnya.

13