Anda di halaman 1dari 37

BANTUAN HIDUP DASAR (BHD) PADA IBU HAMIL

BANTUAN HIDUP DASAR (BHD) PADA IBU HAMIL


Resusitasi pada ibu hamil ada faktor-faktor yang meperkecil keberhasilan usaha resusitasi pada
ibu hamil antara lain adanya perubahan anatomi yang mempersulit dalam menjaga potensi jalan
nafas dan melakukan intubasi, perubahan patologis ini antara lian edema laring, faktor fisiologis
berupa peningkatan konsumsi oksigen, dan kecenderungan untuk pneumonia aspirasi.

Para trimester ketiga, faktor terpenting adalahpenekanan vena kava inferiordan gangguan aliran
balik vena oleh uterus yang membesar ketika bumil berbaring terlentang. Kondisi yang
menyulitkanini diperberat lagi oleh kondisi obesitas.
Respon yang cepat/sigap adalah esensial. Begitu diagnosisi henti nafas dan atau henti jantung
telah tegak, maka pasien harus diposisikan secara benar dan BLS segera dilakukan. BLS tetap
diteruskan hingga terpasang infuse intravena, dan faktor-faktor penyebab terkoreksi (cth :
hipovolemia), dan perlengkapan, obat-obatan, dan personel telah siap.

Bantuan Hidup Dasar (BHD)


Airway
Jalan nafas harus dipastikan paten dengan melakukan maneuver head tilt-jaw thrust atau head
tilt-chin lift dan mempertahankanya. Suction digunakan untuk menghisap muntahan. Benda-
benda dimulut seperti gigi palsu, harus disingkirkan dan alat bantu nafas seperti gedel dapat
dipasang.
Prosedur ini dapatdilakukan pada pasien dengan badan dalam posisi lateral, atau terlentang
dengan uterus digeser ke kiri.

Breathing
Jika pasien tidak nafas adekuat, bantuan nafas segera dilakukan begitu jalan nafas telah paten ;
mouth to mouth, mouth to nose, atau mouth to airway dilakukan hinga bagging dan sungkup
tersedia. Ventilasi dilanjutkan dengan O2 100%. Karena resiko regurgitasi dan aspirasi
pneumonia pada bumil trimester ketiga, maka penekanan krikoid dilakukan hingga pasien
diintubasi.

Ventrikel yang dilakukan lebih sulit karena peningkatan kebutuhan oksigen dan penurunan
komplikasi dada pada bumil. Penurunan komplians terjadi akibat terdesaknya diafragma oleh isi
abdomen. Mengamati naik turunnya dada pada bumil juga lebih sulit.

Circulation
Sirkulasi yang terhenti dapat diketahui jika arteri besar (karotis dan femoral) tidak teraba
fulsasinya. Kompresi dada dilakukan dengan rasio 15:2. Kompresi dada pada bumil lebih sulit
karena faktor diafragma yang tertekan, obesitas, dan hipertrofi mammae. Karena diafragma
tertekan kearah sefalad, maka posisi tangan untuk kompresi dada juga digeser kearah safalad,
walaupun belum ada panduannya. Pada posisi terlentang, terjadi penekanan vena kava inferior
oleh uterus yang mengganggualiran balik vena dan menurunkan curah jantung, semua usaha
resusitasi tidak akan berguna keuali kompresi tercapai efektif. Kompresi akan efektif jika
memposisikan pasien sedikit lateral dengan memakai papan miring (wedge) atau menggeser
uterus secara manual. Mengangkat tungkai juga akan memperbaiki aliran balik vena.
Memposisikan uterus ke lateral
Kompresi dada yang efektif tercapai jika bumil diposisikan lateral dengan sudut 30⁰. Untuk
mencegah terguling maka dibuatlah papan Cardiff Resuscitation Wedge. Teknik lain yaitu
“human wedge”, dimana pasien diposisikan miring dilutut penolong sedemiian rupa sehingga
stabil. Bisa juga dengan memanfaatkan kursi yang dibalik. Asisten dapat membantu dengan
kedua tangannya menggeser dan mengangkat uterus ke lateral kiri-sefalad.

Intubasi
Intubasi trachea segera dilakukan begitu fasilitas dan petugas terlatih ada. Pada bumil, tindakan
intubasi tergolong sulit, kadang kala diperlukan perlengkapan khusus. Pasien dengan obesitas,
berleher pendek, atau mengabungkan handlesetelah blade dimasukkan ke mulut pasien dapat
membantu.

Nafas buatan dilakukan dengan posisi kepala dan leher ekstensi maksimal, tanpa bantal di
kepala. Posisi pada saat akan intubasi membutuhkan satu bantal yang diletakkan di leher bawah
sehingga leher fleksi dan kepal ekstensi.

Jika intubasi gagal atau ventilasi juga gagal, maka Laringeal Mask digunakan. Penekanan krikoid
dihentikan pada saat insersi LMA, begitu LMA terpasang dengan baik, penekanan krikoid
dilanjutkan.

Seksio sesarea
Tindakan SC memberikan kontribusi yang penting pada proses resusitasi bumil. Banyak yang
resusitasi yang berhasil terjadi setelah intervensi bedah. Mekanisme yang penting adalah
terbebasnya oklusi vena kava secara komplit dengan kosonganya uterus lebih tahan terhadap
kondisi hipoksia lebih cepat. Walau bukti-bukti menunjukkan bahwa fetus lebih tahan terhadap
kondisi hipoksia, kondisi neonates akan lebih optimal jika dilakukan SC.

Jika henti jantung bumil terjadi di ruang rawat, OK, ruang IGD, dan BCLS atau ALStidak
berhasil dalam lima menit, uterus harus segera dikosongkan secara bedah. Demi waktu, maka
langkah terbaik adalah langsung dilakukan dengan scalpel saat itu juga. Waktu terus berjalan
begitu cepat pada ondisi yang tegang, dan scenario ini disarankan terutama pada
kecelakan/kondisi gawat darurat. CPRterus dilanjutkan selama pembedahan dan setelahnya,
karena hal ini memperbaiki prognosis ibu dan bayinya. Jika perlu, pijatjantung manual
transabdominal dilakukan. Begitu kelahiran sukses, baik ibu dan bayi dirawat di ICU.

Faktor kunci sukses CPR pada bumil tua adalah terlatihnya bidan, perawat, dan staf medis
pelayanan obstetric. Karena paparan kasus adalah jarang, maka pelatihan praktis secara regular
berkelanjutan pada manikin adalah penting.
3.1. RESUSITASI JANTUNG PARU PADA
KEHAMILAN

Berikut adalah langkah-langkah resusitasi jantung paru pada kehamilan:

 Periksa kesadaran ibu dengan memanggil atau menggoyang-goyangkan tubuh ibu. Bila
ibu tidak sadar, lakukan langkah-langkah selanjutnya.
 Panggil bantuan tenaga kesehatan lain dan bekerjalah dalam tim.
 Khusus untuk ibu dengan usia kehamilan >20 minggu (uterus di atas umbilikus),
miringkan ibu dalam posisi berbaring ke sisi kiri dengan sudut 15-30° atau bila tidak
memungkinkan, dorong uterus ke sisi kiri (lihat gambar berikut).


Mendorong uterus ke kiri

 Bebaskan jalan napas. Tengadahkan kepala ibu ke belakang (head tilt) dan angkat dagu
(chin lift). Bersihkan benda asing di jalan napas.
 Bila ada sumbatan benda padat di jalan napas, sapu keluar dengan jari atau lakukan
dorongan pada dada di bagian tengah sternum (chest thrust). Hindari menekan
prosesus xifoideus!

chest thrust

 Sambil menjaga terbukanya jalan napas, “lihat – dengar – rasakan” napas ibu (lakukan
cepat, kurang dari 10 detik) dengan cara mendekatkan kepala penolong ke wajah
ibu. Lihat pergerakan dada, dengar suara napas, dan rasakan aliran udara dari
hidung/mulut ibu.
o Jika ibu bernapas normal, pertahankan posisi, berikan oksigen sebagai tindakan
suportif. Lanjutkan pemantauan untuk memastikan ibu tetap bernapas normal.

Menilai pernapasan

 Jika ibu tidak bernapas atau bernapas tidak normal, periksa pulsasi arteri karotis dengan
cepat (tidak lebih dari 10 detik).

memeriksa pulsasi arteri karotis

 Bila nadi teraba namun ibu tidak bernapas atau megap-megap (gasping), berikan bantuan
napas (ventilasi) menggunakan balon-sungkup atau melalui mulut ke mulut dengan
menggunakan alas (seperti kain, kasa) sebanyak satu kali setiap 5-6 detik. Pastikan
volume napas buatan cukup sehingga pengembangan dada terlihat. Cek nadi arteri karotis
tiap 2 menit.

Bantuan Napas Mulut ke Mulut


Bantuan Napas dengan Balon dan Masker

 Bila nadi tidak teraba, segera lakukan resusitasi kardiopulmoner.


o Resusitasi kardiopulmoner pada ibu dengan usia kehamilan >20 minggu dilakukan
dalam posisi ibu miring ke kiri sebesar 15-300.
o Penekanan dada dilakukan di pertengahan sternum. Kompresi dilakukan dengan
cepat dan mantap, menekan sternum sedalam 5 cm dengan kecepatan 100-
120x/menit.
o Setelah 30 kompresi, buka kembali jalan napas lalu berikan 2 kali ventilasi
menggunakan balonsungkup atau melalui mulut ke mulut dengan alas. Tiap ventilasi
diberikan dalam waktu 1 detik. Berikan ventilasi yang cukup sehingga
pengembangan dada terlihat.
o Kemudian lanjutkan kompresi dada dan ventilasi dengan perbandingan 30:2.
o

Kompresi Dada

o Pasang kanul intravena (2 jalur bila mungkin) menggunakan jarum ukuran besar (no.
16 atau 18 atau ukuran terbesar yang tersedia) dan berikan cairan sesuai kondisi ibu.
 Tindakan resusitasi kardiopulmoner diteruskan hingga:
o Tim yang lebih terlatih untuk menangani henti nafas dan henti jantung telah datang
dan mengambil alih tindakan, ATAU
o Tidak didapatkannya respon setelah 30 menit, ATAU
o Penolong kelelahan, ATAU
 Ibu menunjukkan tanda-tanda kembalinya kesadaran, misalnya batuk,
membuka mata, berbicara atau bergerak secara sadar DAN mulai bernapas
normal. Pada keadaan tersebut, lanjutkan tatalaksana dengan:
 Berikan oksigen
 Pasang kanul intravena (bila sebelumnya tidak berhasil dilakukan) dan
berikan cairan sesuai kondisi ibu
 Lanjutkan pemantauan untuk memastikan ibu tetap bernapas
normal.
 Setelah masalah jalan napas, pernapasan, dan sirkulasi teratasi, pikirkan dan evaluasi
kemungkinan penyebab hilangnya kesadaran ibu, di antaranya:
o perdarahan hebat (paling sering)
o penyakit tromboemboli
o penyakit jantung
o sepsis
o keracunan obat (contoh: magnesium sulfat, anestesi lokal)
o eklampsia
o perdarahan intrakranial
o anafilaktik
o gangguan metabolik/elektrolit (contoh: hipoglikemia)
o hipoksia karena gangguan jalan napas dan/atau penyakit paru
 Lakukan pemeriksaan lanjutan, misalnya USG abdomen untuk melihat perdarahan
intraabdomen tersembunyi.
 Atasi penyebab penurunan kesadaran atau rujuk bila fasilitas tidak memungkinkan.

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Kegawatdaruratan merupakan suatu kejadian yang terjadi secara tiba-tiba yang dapat
disebabkan oleh kejadian alam, bencana teknologi, perselisihan atau kejadian yang disebabkan
oleh manusia, dan menuntut suatu penanganan segera. Kejadian gawat darurat dapat menimpa
siapa saja dan terjadi dimana saja1.
Kejadian gawat darurat dapat berupa kecelakaan yang misalnya seperti kecelakaan
kendaraan bermotor, keracunan obat atau makanan, tenggelam, tersengat listrik, kehilangan
darah, dan bahkan serangan jantung. Serangan jantung merupakan suatu kejadian gawat darurat
yang dapat menyebabkan terjadinyahenti nafas dan henti jantung. Berdasarkan penelitian dari
negara-negara di Eropa, mengatakan bahwa kasus henti jantung merupakan salah satu penyebab
kematian dengan angka kejadian sekitar 700.000 kasus setiap tahunnya2.
Penyakit jantung merupakan penyebab kematian terbesar nomor satu di dunia3. Pada
orang dewasa, penyakit jantung yang paling sering ditemui ialah penyakit jantung koroner dan
gagal jantung4. Dimana, pada tahun 2012 tercatat angka kematian dunia yang diakibatkan oleh
penyakit jantung koroner ialah berkisar 7,4 juta5. Penyakit jantung koroner dapat mengakibatkan
terjadinya gangguan listrik yang akhirnya menyebabkanSudden Cardiac Arrest (SCA)6.
Cardiac arrest merupakan hilangnya fungsi jantung secara tiba-tiba guna
mempertahankan sirkulasi normal darah yang berfungsi untuk menyuplai oksigen ke otak dan
organ vital lainnya, yang ditandai dengan tidak ditemukan adanya denyut nadi akibat
ketidakmapuan jantung untuk dapat berkontraksi dengan baik6. Kematian pada cardiac
arrest terjadi ketika jantung secara tiba-tiba berhenti bekerja dengan benar7.
Di Amerika Serikat, layanan gawat darurat medis mengkaji setiap tahunya terdapat lebih
dari 420.000 kasus cardiac arrest yang terjadi di luar rumah sakit7. Pada tiga terkahir, tercatat
sebanyak 60.000 kejadian Out of Hospital Cardiac Arrest (OHCA) pada beberapa negara yang
bergabung dalam Asia-Pasifik salah satunya Indonesia8. Di Indonesia, data prevalensi yang
didapatkan untuk penderita cardiac arrest tiap tahunnya belum jelas, tetapi diperkirakan terdapat
sekitar 10.000 warga Indonesia yang mengalami cardiac arrest4.
Kelangsungan hidup korban OCHA, akan jauh lebih baik jika
mendapatkanCardiopulmonary Resusciation (CPR) secepat mungkin baik itu dari
pihak Emergency Medical Service (EMS) ataupun masyarakat umum (bystander)9. Bahkan,
berdasarkan data dari American Heart Association (2015) sebesar 40,1% korban OHCA
terselamatkan setelah mendapatkan Resusitasi Jantung Paru (RJP) oleh bystander10. Hal ini
dikarenakan, sekitar 80% dari OHCA terjadi di rumah dan 20% di tempat umum, sehingga
sangatlah penting peran dari bystander dalam memberikan RJP sesegera mungkin terhadap
korban OHCA11.
Bantuan Hidup Dasar (BHD) harus diberikan pada setiap korban yang mengalami
perdarahan, henti nafas dan henti jantung. Sehingga, perlu diajarkan mengenai keterampilan
BHD pada siapa saja, khususnya orang dewasa12. Seharusnya, semua orang di dunia mengetahui
tentang tekhnik dasar pertolongan pertama dan dapat mengambil pelatihan yang teratur guna
memastikan bahwa pengetahuannya tetap berjalan13.
Oleh karena itu, untuk dapat memahami bantuan hidup dasar dengan baik maka penulis
memaparkan secara lebih lengkap mengenai pengetahuan tersebut berdasarkan paduan terbaru
tahun 2015 dalam tulisan ini.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Bantuan Hidup Dasar


2.1.1 Definisi bantuan hidup dasar
Bantuan hidup dasar merupakan dasar guna menyelamatkan nyawa ketika terjadi henti
jantung. Aspek dasar dari bantuan hidup dasar adalah mengenali secara langsungsudden cardiac
arrest (SCD), kemudian mengaktivasi sistem tanggap daruratcardiopulmonary
resuscitation (CPR) atau resusitasi jantung paru (RJP) sedini mungkin, dan defibrilasi cepat
menggunakan automated external defibrillator (AED). Pengenalan dini dan memberikan respon
terhadap serangan jantung dan stroke juga dianggap sebagai bagian dari bantuan hidup dasar14.
Resusitasi jantung paru (RJP) merupakan tindakan darurat yang berupaya untuk
mengembalikan keadaan henti nafas dan atau henti jantung ke fungsi optimal, guna mencegah
terjadinya kematian biologis. Dengan cara memberikan bantuan sirkulasi sistemik, beserta
ventilasi dan oksigenasi pada tubuh secara efektif dan optimal hingga didapatkan kembali
sirkulasi sistemik secara spontan15.
2.1.2 Pelaksana tindakan bantuan hidup dasar
Setiap orang dapat menjadi penyelamat untuk korban cardiac arrest. Keterampilan
RJP serta penerapannya sangat tergantung pada pelatihan dan pengalaman yang dimiliki
penyelamat. Dasar dari RJP ialah kompresi dada. Sehingga kompresi dada menjadi tindakan RJP
awal untuk semua korban tanpa memandang usia16.
Selama bertahun-tahun, tindakan RJP hanya dilakukan secara ekslusif oleh dokter dan
profesional kesehatan, namun saat ini tehnik menyelamatkan nyawa tersebut cukup mudah untuk
dilakukan bagi siapa saja yang ingin belajar17.
2.1.3 Pedoman bantuan hidup dasar menurut American Heart Association 2015
2.1.3.1 Edukasi Resusitasi
a. Progran AED untuk penolong tidak terlatih dalam komunitas
2015: Program PAD (Public Access Defibrillator) untuk pasien dengan Out Hospital Cardiac
Arrest (OHCA) diterapkan di lokasi umum, tempat adanya kemungkinan pasien serangan
jantung relatif tinggi, misalnya bandara dan tempat berolahraga10.
2010: CPR dan program penggunaan Automated External Defibrillator (AED) di lokasi umum
tempat adanya kemungkinan pasien serangan jantung terlihat relatif tinggi10.
Alasan: Terdapat bukti dari penelitian bahwa perbaikan tingkat kelangsungan hidup pasien
setelah serangan jantung bila pendamping melakukan CPR dengan cepat menggunakan AED.
Sehingga akses cepat ke defibrilator merupakan komponen utama. Program PAD memerlukan 4
komponen penting, yaitu: 1) identifikasi lokasi penempatan AED; 2) pelatihan penolong yang
diantisipasi dalam CPR penggunaan AED; 3) hubungan terpadu dengan Emergency
Medical Service (EMS) lokalprogram peningkatan kualitas dan berkelanjutan10.
b. Pengenalan dan pengaktifan cepat sistem tanggapan darurat
2015:Health Care Provider (HCP) harus meminta bantuan bila mengetahui korban tidak
menunjukkan reaksi, namun akan lebih praktis bagi HCP untuk melanjutkan dengan menilai
pernapasan dan denyut secara bersamaan sebelum benar-benar mengaktifkan sistem tanggapan
darurat10.
2010: HCP harus memastikan reaksi pasiien sewaktu memeriksanya menentukan apakah napas
terhenti atau tidak normal10.
Alasan: Perubahan rekomendasi bertujuan untuk meminimalkan penundaan dan mendukung
penilaian serta tanggapan yang cepat dan efisien secara bersamaan, karena dengan
meminimalkan penundaan akan meningkatkan efektifitas dari CPR10.

2.1.3.2 Basic Life Support


a. Rantai kelangsungan hidup
2015: Rantai kelangsungan hidup terpisah yang akan mengidentifikasikan jalur yang berbeda
antara pasien yang mengalami serangan jantung di rumah sakit dan yang di luar rumah sakit10.
Alasan: Pasien yang mengalami OHCA mengandalkan masyarakat untuk memberikan
dukungan. Penolong tidak terlatih harus mengenali serangan, meminta bantuan dan memulai
CPR serta memberikan defibrilasi hingga tim penyedia layanan medis darurat yang terlatih
mengambil alh lalu memindahkan pasien ke unit gawat darurat dan/atau laboratorium kateterisasi
jantung. Terakhir pasien dipindahkan ke unti perawatan kritis untuk perawatan lebih lanjut.
Sebaliknya pasien yang mengalami HCA (Hospital Cardiac Arrest) mengandalkan sistem
pengawasan yang sesuai untuk mencegah serangan jantung. Pasien mengandalkan interaksi
sempurna dari berbagai unit dan layanan institusi serta bergantung pada tim multidisipliner
termasuk dokter, perawat, ahli terapi pernapasan dan banyak lagi10.
Gambar 1. Rantai kelangsungan hidup HCA dan OHCA
(American Heart Association,2015)
b. Nalokson pendamping dalam kondisi darurat yang mengancam jiwa terkait Opioid
2015: Untuk pasien dengan dugaan ketergantungan opioid atau yang telah diketahui dan tidak
menunjukkan reaksi nafas tidak normal namun terdapat denyut, penolong terlatih yang tepat
perlu memberikan nalokson IM (intramuskular) atau IN (intranasal)10.
Alasan: Nalokson merupakan opioid antagonis yang memiliki afinitas lebih tinggi pada reseptor
opioid dibandingkan dengan opioid. Reaksi ini akan melawan keadaan overdosis dan
membiarkan orang tersebut bernapas18. Pemberian nalokson juga mudah sehingga penolong non-
medis mampu melakukannya dan juga pada tahun 2014, autoinjector nalokson disetujui oleh US
Food and Drug Administration untuk digunakan oleh penolong tidak terlatih dan HCP10,18.
Gambar 2. Algoritma gawat darurat (dewasa) yang mengancam jiwa terkait opioid
(American Heart Association, 2015)
c. Batasan gerak tulang belakang
2015: Aplikasi kolar servikal secara rutin oleh penyedia layanan pertolongan pertama tidak
disarankan. Penyedia pertolongan pertama yang menduga adanya cedera tulang belakang harus
memastikan orang yang cedera tetap berada dalam posisi yang sama sambil menunggu
kedatangan penyedia layanan EMS10.
Alasan: Penelitian menunjukkan adanya efek negatif seperti bertambahnya tekanan intrakranium
dan penurunan jalan napas dengan penggunaan kolar servikal. Teknik yang tepat untuk
menggunakan kolar servikal pada pasien beresiko tinggi memerlukan pelatihan yang signifikan
agar dilakukan dengan benar10.
2.1.3.3 Cardiac Pulmonary Resucitation
a. Kecepatan kompresi dada
2015: Penolong perlu melakukan kompresi dada dengan kecepatan 100 hingga 120/xmenit pada
orang dewasa yang menjadi korban serangan jantung10.
2010: Pada orang dewasa dilakukan kompresi dada dengan kecepatan minimal 100/menit10
Alasan: Jika kecepatan kompresi yang diberikan tidak sesuai atau sering munculnya gangguan
(atau keduanya) akan mengurangi jumlah total kompresi permenit. Jumlah kompresi dada yang
diberikan permenit saat CPR berlangsung adalah faktor penentu utama kondisi RSOC (Return of
Spontaneous Circulation) dan kelangsungan hidup dengan fungsi neurologis baik. Jumlah
kompresi dada yang diberikan permenit ditentukan oleh kecepatan kompresi dada serta jumlah
dan durasi gangguan dalam kompresi (misalnya untuk membuka saluran udara, memberikan
nafas buatan, memungkinkan analisis AED)10.

Gambar 3. Pengaruh kecepatan kompresi terhadap jumlah kompresi yang diberikan


(American Heart Association,2015).
b. Kedalaman kompresi dada
2015: Sewaktu melakukan CPR secara manual, penolong harus melakukan kompresi dada
hingga kedalaman minimum 2 inci (5cm) untuk dewasa rata-rata, dengan tetap menghindari
kedalaman kompresi dada yang berlebihan (lebih dari 2,4 inci [6cm])10.
2010: Tulang dada orang dewasa harus ditekan minimal 5cm10.
Alasan: Kompresi akan menciptakan aliran darah terutama dengan menambah tekanan
intrathoraks yang secara langsung mengkompresi jantung, sehingga menghasilkan aliran darah
dan penyaluran oksigen yang penting ke jantung dan otak. Jika kedalaman kompresi yang
diberikan lebih dari 2,4 inci (6cm) maka dapat mengakibatkan timbulnya komplikasi10.
c. Rekoil dada
2015: Sangat penting bagi penolong untuk tidak bertumpu di atas dada diantara kompresi guna
mendukung rekoil penuh dinding dada pada pasien dewasa saat mengalami serangan jantung10.
2010: penolong harus membolehkan rekoil penuh dinding dada setelah kompresi agar jantung
terisi sepenuhnya sebelum kompresi berikutnya dilakukan10.
Alasan: Rekoil penuh dinding dada terjadi bila tulang dada kmbali ke posisi alami atau netralnya
saa fase dekompresi CPR berlangsung. Rekoil dinding dada memberikan tekanan intrathoraks
yang relatif negatif guna mendorong pengembalian vena dan aliran darah kardiopulmonari. Jika
penolong bertumpu diatas dada diantara kompresi, akan menghalangi rekoil penuh dinding dada.
Rekoil tidak penuh akan meningkatkan tekanan intrathoraks dan mengurangi pengembalian
vena, tekanan perfusi koroner, dan aliran darah miokardium, serta dapat mempengaruhi hasil
resusitasi10.
.Gambar 4.Rekoil Dada Penuh

Sehingga dapat dilihat apa yang harus penolong berikan selama melakukan tindakan BLS 10 :
Gambar 5. Anjuran dan larangan BLS untuk CPR berkualitas tinggi dewasa
(American Heart Association,2015)
d. Meminimalkan gangguan dalam kompresi dada
2015: Penolong harus berupaya meminimalkan frekuensi dan durasi gangguan dalam kompresi
untuk mengoptimalkan jumlah kompresi yang dilakukan permenit10.
2010: Untuk orang dewasa yang mengalami serangan jantung dan menerima CPR tanpa bantuan
udara lanjutan, perlu untuk melakukan CPR dengan sasaran fraksi kompresi dada dengan target
minimum 60%10.
Alasan: Fraksi kompresi dada adalah pengukuran kompresi waktu resusitasi total yang
dilakukan kompresi. Peningkatan fraksi kompresi dada dapat diperoleh dengan meminimalkan
jeda dalam kompresi dada. Sasaran optimal untuk fraksi kompresi dada belum didefinisikan10.
e. Tanggapan kompresi dada
2015: Menggunakan perangkat umpan balik audiovisual saat CPR berlangsung untuk
pengoptimalan performa CPR secara real-time mungkin perlu dilakukan10.
2010: Perangkat perintah dan umpan balik CPR baru mungkin bermanfaat untuk melatih
penolong dan sebagai bagian dari strategi keseluruhan untuk meningkatkan kualitas CPR10.
Alasan:Tekhnologi akan memungkinkan pemantauan, perekaman, dan tanggapan tentang
kualitas CPR secara real-time, termasuk parameter fisiologi pasien dan metrik kinerja penolong.
Data penting tersebut dapat digunakan secara real-time selama resusitasi, untuk wawancara
setelah resusitasi, dan untuk program peningkatan kualitas diseluruh sistem. Mempertahankan
fokus terhadap karakteristik kecepatan dan kedalaman kompresi, serta rekoil dada dengan tetap
meminimalkan gangguan selama CPR berlangsung adalah tantangan yang sangat sulit, bahkan
bagi tenaga profesional yang sangat terlatih10.
Sehingga dapat digambarkan suatu algoritma BLS terhadap serangan jantung pada orang dewasa
berdasarkan pembaruan tahun 201510:
Gambar 6. Algoritma BLS terhadap serangan jantung pada orang dewasa
(American Heart Association,2015)
Adapun tabel perbandingan elemen utama Basic Life Saving dewasa, anak-anak, dan
bayi berdasarkan pembaruan tahun 2015 10 :
Gambar 7. Ringkasan komponen CPR berkualitas tinggi untuk penyedia BLS
(American Heart Association,2015)

2.2Acute Coronary Syndrome


a. Troponin untuk mengidentifikasi pasien yang dapat dipindahkan denganaman dari Unit
Gawat Darurat
2015: Troponin sensitivitas tinggi T dan I yang diukur pada 0 dan 2 jam tidak boleh digunakan
untuk menyingkirkan ACS. Tapi pengukuran dengan troponin sensitivitas tinggi I kurang dari 99
persentil yang diukur pada 0 dan 2 jam dapat digunakan bersama stratifikasi beresiko rendah
untuk memastikan peluang dibawah 1% dari kejadian major adversecardiac event (MACE)10
2010: Jikapemeriksaan marker biologis negatif selama 6 jam sejak mulai gejala, sebaiknya
marker biologis tersebut diukur ulang antara 6-1210.
Alasan: Mengandalkan hasil uji coba troponin yang bernilai negatif, baik hanya troponin
maupun dikombinasikan dengan penilaian risiko tidak terstruktur, akan menghasilkan angka
MACE yang terlalu tinggi selama 30 hari. Namun perkiraan yang didasarkan pada hasil uji coba
troponin bernilai negatif, dikombinasikan dengan penilaian risiko terstruktur, akan menghasilkan
risiko di bawah 1% dari MACE selama 30 hari10.
2.3 Advance Cardiac Life Support
a. Teknik Ekstra-Korporeal dan Perangkat Perfusi Invasif
2015: Extracorporeal CPR (ECPR) dapat dipertimbangkan sebagai alternatif untuk CPR
konvensional pada pasien tertentu yang mengalami serangan jantung dan pada pasien dengan
dugaan etiologi serangan jantung yang berpotensi reversible10.
2010: Tidak terdapat cukup bukti untuk merekomendasikan penggunaan ECPR secara rutin pada
pasien yang mengalami serangan jantung. Namun dalam kondisi bila ECPR siap tersedia,
penggunaanya dapat dipertimbangkan terutama serangan yang bersifat reversible, transplantasi
jantung maupun revaskularisasi10.
Alasan: ECPR digunakan untuk menjelaskan inisiasi sirkulasi ekstra korporeal dan oksigenasi
saat resusitasi pasien yang mengalami serangan jantung berlangsung. Hal ini melibatkan kanulasi
pada vena dan arteri besar.ECPR bertujuan mendukung pasien yang mengalami serangan jantung
sekaligus menangani kondisi yang berpotensi reversible. ECPR adalah proses kompleks yang
memerlukan tim yang sangat terlatih, peralatan khusus, dan dukunagn multidisipliner. Dengan
kriteria inklusi berumur 18-75 tahun dan telah menerima CPR konvensional minimal 10 menit
tanpa ROSC10.
b. Vasopresor untuk resusitasi: vasopresin
2015: Perpaduan penggunaan vasopresin dan epinefrin tidak akan memberikan manfaat apa pun
sebagai pengganti epinefrin dosis standar dalam serangan jantung10.
2010: Satu dosis vasopresin 40 unit IV secara intraoseus dapat menggantikan baik dosis pertama
maupun keduadari epinefrin dalam penanganan pasien serangan jantung10.
Alasan: Pemberian epinefrin dan vasopresin selama serangan jantung terbukti
meningkatkan Return of Spontaneus Circulation (ROSC). Namun tidak ada bukti yang
menyebutkan bahwa pemberian epinefrin dan vasopresin lebih bermanfaat dibandingkan
pemberian epinefrin saja.Untuk memberikan kemudahan, vasopresin telah dihapus dari
algoritma10.
c. Vasopresor untuk resusitasi: epinefrin
2015:Memberikan epinefrin segera jika tersedia mungkin perlu dilakukan setelah serangan
jantung akibat ritme awal yang tidak dapat dikejut10
Alasan: Penelitian observasi terkait serangan jantung dengan ritme yang tidak dapat dikejut
membandingkan epinefrin yang diberikan pada 1-3 menit dengan epinefrin yang diberikan pada
3 interval selanjutnya (4-6, 7-9, dan lebih dar 9 menit). Penelitian ini menemukan keterkaitan
antara pemberian epinefrin di awal dan peningkatan ROSC, kelangsungan hidup setelah Masuk
Rumah Sakit (MRS) dan kelangsungan hidup menyeluruh dari segi neurologi10.
d. Reperfusi
2015: Jika pasien STEMI ada dirumah sakit yang tidak mendukung Percutaneus Coronary
Intervention (PCI), disarankan pasien dipindahkan tanpa melakukan fibrinolisis. Bila tidak dapat
di pindahkan tepat waktu maka fibrinolitik dan angiografi dapat menjadi pilihan dalam 3-6 jam
maksimum 24 jam10.
2010: Pemindahan pasien beresiko tinggi yang telah menerima reperfusi primer dengan terapi
fibrinolitik dapat dilakukan10.
Alasan: Dalam 15 tahun terakhir, Primary Percutaneus Coronary Intervention(PPCI) semakin
siap tersedia di lapangan dan terbukti dapat meningkatkan hasil secara wajar dibanding dengan
epinefrin. Pemindahan langsung ke rumah sakit yang mendukung PCI deibanding fibrinolis
mendapat hasil yang sama. Namun pemindahan untuk PPCI menurunkan insiden pendarahan
intrakranium10.
e. Cairan dan inotropik pasca-serangan jantung
2015: Setelah ROSC cairan dan inotropik/ vasopresor harus digunakan untuk menjaga tekanan
darah sistolik diatas seperlima persen dari usia10.
Alasan: Anak-anak yang mengalami tekanan darah rendah pasca-ROSC memiliki ketahanan
hidup yang buruk setelah dipulangkan dari rumah sakit dan hasil neurologis yang lebih buruk10.

f. Pengobatan Antiaritmia untuk VF Refraktori Kejut atau Pulseless VT


2015: Amiodaron atau lidokain juga disetujui untuk perawatan VF refraktori kejut atau pVT
pada anak10.
2010: Amiodaron direkomendasikan untuk VF refraktori kejut atau pVT, lidokain diberikan jika
amiodaron tidak ada10.
Alasan: Dibandingkan dengan amiodaron, lidokain berhubungan dengan tingkat ROSC yang
lebih tinggi dan ketahanan hidup selama 24 jam10.
g. Pengobatan antiaritmia untuk VF refraktori kejut atau pulseless VT
2015: Amiodaron atau lidokain juga disetujui untuk perawatan VF refraktori kejut atau pVT
pada anak10.
2010: Amiodaron direkomendasikan untuk VF refraktori kejut atau pVT, lidokain diberikan jika
amiodaron tidak ada10.
Alasan: Dibandingkan dengan amiodaron, lidokain berhubungan dengan tingkat ROSC yang
lebih tinggi dan ketahanan hidup selama 24 jam10.
2.4 Perawatan Pasca-Serangan JantungDewasa menurut American Heart Association 2015
a. Angiografi Koroner
Angiografi koroner harus harus dilakukan secepatnya (bukan nanti saat dirawat di rumah sakit
atau tidak sama sekali) pada pasien OHCA dengan dugaan serangan etiologi jantung dan elevasi
ST pada ECG. Angiografi koroner darurat perlu dilakukan pada pasien dewasa tertentu
(misalnya, tidak stabil secara fisik maupun hemodinamik) yang tidak sadarkan dirii setelah
OHCA dan diduga sebagai sumber serangan jantung, namun tanpa elevasi ST pada ECG.
Angiografi koroner perlu dilakukan pada pasien pasca-serangan jantung yang diindikasikan
menjalani angiografi koroner, terlepas dari apakah pasien tersebut berada dalam kondisi tidak
sadarkan diri10.
b. Manajemen suhu yang ditargetkan
Semua pasien dewasa yang tidak sadarkan diri (misalnya, kurangnya reaksi terhadap perintah
verbal) dengan RSOC setelah serangan jantung harus menjalani TTM, dengan suhu target antara
32oC hingga 36oC yang dipilih dan diperoleh, lalu dipertahankan agar tetap sama selama
minimum 24 jam10.
c. Melanjutkan manajemen suhu melebihi 24 jam
Mencegah demam secara aktif pada pasien yang tidak sadarkan diri setelah TTM perlu
dilakukan. Dalam beberapa observasi, demam setelah peningkatan kembali suhu dari TTM
dikaitkan dengan cedera neurologis yang memburuk. Karena mencegah demam setelah TTM
relatif tidak membahayakan, sedangkan demam mungkin terkait dengan bahaya, maka
pencegahan demam disarankan10.
d. Pendinginan di luar rumah sakit
Pendinginan suhu pasien pra-rumah sakit secara rutin dengan infusi cairan IV dinging setelah
RSOC tidak direkomendasikan. Sebelum tahuun 2010, pendinginan suhu pasien dalam kondisi
pra-rumah sakit belum dievaluasi secara ekstensif. Telah diasumsikan sebelumnya bahwa inisiasi
pendinginan lebih awal dapat memberikan manfaat tambahan dan inisiasi pra-rumah sakit juga
dapat memfasilitasi dan mendorong pendinginan lanjutan di rumah sakit. Penelitian berkualitas
tinggi yang dipublikasikan baru-baru ini menunjukkan tidak adanya manfaat terhadap
pendinginan pra-rumah sakit dan juga mengidentifikasikan potensi komplikasi bila
menggunakan cairan IV dingin untuk pendinginan pra-rumah sakit10.

e. Tujuan hemodinamik setelah resusitasi


Menghindari dan secepatnya memperbaiki hipotensi (tekanan darah sistolik kurang dari 90
mmHg, tekanan rata-rata arteri kurang dari 65 mmHg) mungkin perlu dilakukan saat perawatan
pasca-serangan jantung berlangsung. Penelitian pasien setelah serangan jantung membuktikan
bahwa tekanan darah sistolik kurang dari 90 mmHg atau tekanan arteri rata-rata kurang dari 65
mmHg terkait dengan angka kematian lebih tinggi dan pemulihan fungsional yang berkurang,
sedangkan tekanan arteri sitolik lebih besar darii 100 mmHg terkait dengan pemulihan yang
lebih baik10.
f. Prognostikasi setelah serangan jantung
Waktu paling awal untuk memperkirakan hasil neurologis yang buruk menggunakan
pemeriksaan klinis pada pasien yang tidak ditangani dengan TTM adalah 72 jam setelah
serangan jantung, namun kali ini dapat lebih lama setelah serangan jantung jika sisa dampak
sedasi atau paralisis diduga mengacaukan pemeriksaan klinis. Namun, pada pasien yang
ditangani dengan TTM dalam kondisi paralisis atau sedasi dapat mengacaukan pemeriksaan
klinis, sehingga diperlukan waktu tunggu hingga 72 jam setelah kembali ke kondisi normotermia
agar dapat memperkirakan hasil10.
Adapun temuan klinis yang berkaitan dengan hasil neurologis yang buruk10 :
Gambar 8. Temuan klinis yang berkaitan dengan hasil neurologis yang buruk
(American Heart Association,2015)
g. Pendonoran organ
Semua pasien yang menjalani resusitasi dari serangan jantung, namun secara bertahap menarah
ke kematian atau kematian otak akan dievaluasi sebagai calon donor organ. Pasien yang tdiak
mencapai kondisi RSOC dan yang resusitasinya akan dihentikan dapat dipertimbangkan sebagai
calon donor ginjal atau hati dengan ketentuan tersedianya program pemulihan organ cepat10.
2.5 Special Circumtance
2.5.1 Serangan jantung pada masa kehamilan
2015: Prioritas untuk ibu hamil dalam kondisi serangan jantung adalah pemberian CPR
berkualitas tinggi dan pembebasan kompresi aortokaval. Jika tinggi fundus berada pada atau
diatas tinggi pusar, pergeseran uterin ke kiri secara manual dapat bermanfaat dalam
membebaskan kompresi aortokaval saat kompresi dada berlangsung10.
2010: Untuk membebaskan kompresi aortokaval saat kompresi dada berlangsung dan
mengoptimalkan kualitas CPR, sebaiknya pergeseran uterin ke kiri secara manual dilakukan
dalam posisi terlentang terlebih dahulu. Jika tidak berhasil, dan pengganjal yang sesuai tersedia
untuk panggul dan rongga dada, maka penyedia layanan medis dapat dapat mempertimbangkan
pasien pada posisi miring ke kiri sejauh 270-300C10.
Alasan: Pemahaman atas pentingnya CPR berkualitas tinggi dan inkompatibilitas kemiringan
dengan CPR berkualitas tinggi telah menuntut penghapusan rekomendasi untuk penggunaan
kemiringan dan penguatan rekomendasi pergeseran uterin secara menyamping10.
2.5.2 Serangan jantung pada masa kehamilan: kelahiran sesar darurat
2015: Perimortem Cesarean Delivery (PMCD) harus dipertimbangkan 4 menit setelah
dimulainya serangan jantung atau upaya resusitasi pada ibu jika tidak ada ROSC ibu10.
2010: Kelahiran sesar darurat dapat dipertimbangkan 4 menit setelah dimulainya serangan
jantung ibu jika tidak ada ROSC10.
Alasan: PMCD memberikan peluang untuk melakukan resusitasi terpisah pada janin yang
berpotensi hidup dan pembebasan akhir kompresi aortokaval yang dapat meningkatkan hasil
resusitasi Ibu10.
2.5.3 Emulsi lipid intravena
2015: Pemberian Intravena Lipid Emulsin (ILE) bersama resusitasi standar perlu dilakukan bagi
pasien neurotoksikosis, serangan jantung akibat anestesi lokal, atau keracunan obat lain yang
gagal menjalani resusitasi10.
2010: Pemberian ILE diperlukan dalam kondisi keracunan anestesi lokal10.
Alasan: Terjadi peningkatan secara klinis dengan pemberian ILE. Jika prognosis pasien yang
gagal menjalani tindakan resusitasi standar sangat buruk, pemberian ILE secara empiris mungkin
diperlukan. ILE akan menyediakan ‘lipid sink’ yang akan mempercepat pengeluaran toksik
seperti buvipacaine pada jaringan di jantung10.
2.6 Pediatric Advance Life Support
a. Terapi obat pasca-serangan jantung: Lidokain
2015: Tidak terdapat cukup bukti untuk mendukung penggunaan lidokain secara rutin setelah
serangan jantung. Namun, inisiasi atau kelanjutan lidokain dapat dipertimbangkan segera setelah
ROSC dari serangan jantung akibat VF/pVT10.
Alasan: Penelitian terbaru menunjukan tidak ada manfaat ataupun kerugian jangka panjang
dalam penggunaan lidokain dalam insiden VF/pVT secara rutin10.
b. Manajemen suhu yang ditargetkan
2015: Semua pasien yang tidak sadarkan diri dengan ROSC setelah serangan jantung harus
menjalani TTM, dengan suhu target 320C-360C. lalu dipertahankan selama 24 jam.
2010: Pasien yang tidak sadar dengan ROSC setelah serangan jantung VF di luar rumah sakit
harus menjalani proses penurunan suhu 320C-340C selama 12-24 jam. Hipotermia yang diinduksi
juga dapat dipertimbangkan untuk pasien dewasa yang tidak sadarkan diri dengan ROSC setelah
HCA dengan ritme awal atau setelah OHCA dengan ritme awal pada aktivitas fisik tanpa denyut
atau asistol10.
Alasan: TTM dengan rentang suhu dibanding dengan tanpaTTM yang ditetapkan dengan baik
menunjukan adanya peningkatan dalam hasil neurologis bagi pasien dengan hipotermia yang
diinduksi. Dokter dapat memilih rentangan suhu yang lebih luas10.

c. Melanjutkan manajemen suhu melebihi 24 jam


2015: Mencegah demam secara aktif pada pasien yang tidak sadarkan diri setelah TTM perlu
dilakukan10
Alasan: Demam setelah peningkatan kembali suhu dari TTM dikaitkan dengan cedera
neurologis yang memburuk10.
d. Tujuanhemodinamik setelah resusitasi
2015: Menghindari dan secepatnya memperbaiki hipotensi (sistolik <90 mmHg atau MAP <60
mmHg) perlu dilakukan saat perawatan pasca jantung10.
Alasan: Tekanan darah dan MAP merupakan tanda hemodinamik. Perbaikan hemodinamik akan
meningkatkan pemulihan. Karena perfusi yang baik ke jaringan10
e. Rekomendasi untuk resusitasi cairan
2015: Sebelumnya pemberian cairan isotonis IV yang dilakukan capat disetujui sebagai terapi
awal dalam syok sepsis. Untuk anak-anak yang terganggu, bolus cairan awal 20ml/kgBB dapat
diberikan.Namun untuk anak-anak yang mengalami demam pada lingkungan akses terbatas ke
sumber daya perawatan kritis, pemberian cairan bolus IV harus dilakukan dengan sangat hati-
hati10.
Alasan: Di lingkungan tertentu dengan sumber daya terbatas, bolus cairan berlebih yang
diberikan pada anak-anak yang mengalami demam dapat mengakibatkan komplikasi bila tidak
tersedia peralatan yang sesuai dan pakar terlatih untuk secara efektif menangani mereka.
Perawatan individu dan penilaian kembali klinis secara berkala akan sering dilakukan10.

f. Atropin untuk intubasi endotrakeal


2015: Tidak ada bukti yang mendukung penggunaan dosis minimum atropin rutin sebagai
pengobatan awal mencegah bradikardi pada intubasi pediatri. Namun jika terjadi bradikardi
penggunaannya dianjurkan10.
2010: Dosis minimum atropin adalah 0,1 mg IV karena ada laporan terjadinya bradikardi
paradoksal yang terjadi pada bayi penerima dosis rendah atropin10.
Alasan: Atropin mencegah bradikardi dan aritmia lainnya selama intubasi darurat pada anak-
anak. Penelitian terbaru menunjukan penggunaan atropin dengan dosis kurang dari 0,1 mg tanpa
meningkatkan kemungkinan aritmia10.
BAB III
KESIMPULAN
Bantuan hidup dasar merupakan dasar guna menyelamatkan nyawa ketika terjadi henti
jantung. Aspek dasar dari bantuan hidup dasar adalah mengenali secara langsungsudden cardiac
arrest (SCD), kemudian mengaktivasi sistem tanggap daruratcardiopulmonary
resuscitation (CPR) atau resusitasi jantung paru (RJP) sedini mungkin, dan defibrilasi cepat
menggunakan automated external defibrillator (AED). CPR merupakan tindakan darurat yang
berupaya untuk mengembalikan keadaan henti nafas dan atau henti jantung ke fungsi optimal,
guna mencegah terjadinya kematian biologis.
Sebelum melakukan tindakan CPR penolong haruslah melakukan pengenalan dini tanda
henti jantung mendadak terlebih dahulu dan segera meminta pertolongan (termasuk melakukan
aktivasi sistem penanggulangan gawat darurat). Dimana tanda-tanda henti jantung yang harus
diketahui oleh penolong adalah hilang kesadaran, tidak ada respon dan tidak bernafas atau
adanya nafas yang tidak normal (gasping)
Dan ketika tindakan CPR dilakukan, penolong perlu melakukan kompresi dada hingga
kedalaman minimum 2 inci (5cm) untuk dewasa rata-rata, dengan tetap menghindari kedalaman
kompresi dada yang berlebihan (lebih dari 2,4 inci [6cm]) dengan kecepatan 100 hingga
120x/menit pada orang dewasa yang menjadi korban serangan jantung. Jika kecepatan kompresi
yang diberikan tidak sesuai atau sering munculnya gangguuan (atau keduanya) akan mengurangi
jumlah total kompresi permenit. Sangat penting bagi penolong untuk tidak bertumpu di atas dada
diantara kompresi guna mendukung rekoil penuh dinding dada pada pasien dewasa saat
mengalami serangan jantung.

DAFTAR PUSTAKA

1. Sudiharto & Sartono. 2011. Basic Trauma Cardiac Life Support. Jakarta: CV. Sagung Seto
2. Bala, Rakhmad & Junadi. 2014. Gambaran Pengetahuan Dan Pelaksanaan Bantuan Hidup Dasar
Perawat Gawat Darurat Di Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUD Labuang Baji Makasar. Jurnal
Ilmiah Kesehatan Diagnosis volume 4. ISSN : 2302-1721
3. WHO. (2012). 10 Caused Death. Dikutip
darihttp://www.who.int/mediacentre/factsheets/fs317/en/ pada tanggal 16 Juni 2016
4. Riskesdas. (2013). Jakarta: Badan Penelitian Dan Pengembangan Kesehatan, Departemen
Kesehatan, Republik Indonesia
5. WHO. (2015). Dikutip
darihttp://www.who.int/mediacentre/factsheets/fs310/en/index4.html pada tanggal 16 Juni 2016
6. National Heart Lung And Blood Institute. (2011). What Causes Sudden Cardiac Arrest. National
Institute of Health. Dikutip dari http://www.nhlbi.nih.gov/health/health-
topics/topics/scda/causes pada tanggal 16 juni 2016
7. American Heart Association (2014). About Cardiac Arrest. Dikutip
darihttp://www.heart.org/HEARTORG/Conditions/More/CardiacArrest/About-Cardiac-
Arrest_UCM_307905_Article.jsp pada tanggal 16 juni 2016
8. Hock, Marcus Ong Eng et al. (2014). PAN-Asian Network Promotes Regional Cardiac Arrest
Research. Emergency Physicians International. Dikutip
darihttp://www.epijournal.com/articles/129/pan-asian-network-promotes-regional-cardiac-arrest-
research
9. Sudden Cardiac Arrest Foundation (2015). Dikutp dari http://www.sca-aware.org/sca-news/aha-
releases-2015-heart-and-stroke-statistics pada tanggal 16 juni 2016
10. American Heart Association (2015). American Heart Association Guidelines 2015 CPR and
ECG. Dikutip dari http://eccguidlines.heart.org. pada tanggal 10 juni 2016
11. NHS (2014). Diunduh dari http://www.nhs.uk/Conditions/Accidents-and-first-aid/Pages/The-
recovery-position.aspx
12. Frame, Scot B. (2010). PHTLS : Basic And Advanced Prehospital Trauma Life Support.
13. International Federation of Red Cross and Red Crescent Societies.(2011). International First Aid
and Resuscitation Guiidelines 2011.
14. Berg RA, Hemphill R, Abella BS, Auufderheide TP, Cave DM, Hazinski MF, Lerner EB, Rea
TD, Sayre MR, Swor RA. (2010). Part 5: Adult basic life support: American Heart Association
Guidelines for Cardiopulmonary Resuscitation and Emergency Cardioovascular
Care. Circulation.;122(suppl3):S685-S705
15. Pro Emergency.(2011). Basic Trauma Life Support. Cibinong: Pro Emergency
16. Travers AH, Rea TD, Bobrow BJ, Edelson DP, Berg RA, Sayre MR, Berg MD, Chaneides L,
O’connor RE, Swor RA. Part 4: CPR overview: (2010) American Heart Association Guidelines
for Cardiopulmonary Resuscitation and Emergency Cardioovascular
Care.Circulation.;2010;122(suppl3):S676-S784
17. American Heart Association (2011). CPR & Sudden Cardiac Arrest (SCA) Fact Sheet, CPR
Statistic. Dikutip
darihttp://www.heart.org/HEARTORG/CPRAndECC/WhatisCPR/CPRFactsandStats/CPR-
Statistic_UCM_307905_Article.jsp pada tanggal 16 juni 2016
18. San Francisco Department of Public Health. Naloxone for Opioid Safety: A Provider Guide to
Prescribing Naloxone to Patient Who Use Opioids. January. 2015.

Bantuan hidup dasar harus segera dilaksanakan oleh penolong apabila


dalam penilaian dinipenderita ditemukan salah satu dari masalah antara lain :
tersumbatnya jalan nafas, tidak menemukan adanya nafas serta tidak ditemukan
adanya tanda-tanda nadi. Seperti diketahui bahwa tujuan dari P3K (Pertolongan
Pertama Pada Kecelakaan) salah satunya ialah menyelamatkan jiwa penderita
sehingga dapat selamat dari kematian.

Pengertian mati sendiri terbagi menjadi 2 (dua) yaitu mati klinis dan mati biologis.
Mati klinis berarti tidak ditemukan adanya pernafasan dan nadi. Mati klinis dapat
bersifat reversibel (dapat dipulihkan). Penderita mati klinis mempunyai waktu 4-6
menit untuk dilakukan resusitasi tanpa kerusakan otak. Sedangkan mati biologis
berarti kematian sel dimulai terutama sel otak & bersifat ireversibel (tidak bisa
dipulihkan) yang biasa terjadi 8-10 menit dari henti jantung.

Dalam memberikan bantuan hidup dasar dikenal 3 (tiga) tahap utama yaitu :
penguasaan jalan nafas, bantuan pernafasan dan bantuan sirkulasi darah yang
lebih dikenal juga dengan istilah pijatan jantung luar dan penghentian perdarahan
besar.

A. Penguasaan Jalan Nafas.

1. Membebaskan Jalan Nafas.

Pada penderita dimana tidak ditemukan adanya pernafasan, maka harus


dipastikan penolong memeriksa jalan nafas apakah terdapat benda asing
ataupun terdapat lidah penderita yang menghalangi jalan nafas.

o Teknik angkat dagu tekan dahi.

Teknik ini dilakukan pada penderita yang tidak mengalami cedera


kepala, leher maupun tulang belakang.
o Teknik jaw thrus maneuver (mendorong rahang bawah).

Teknik ini digunakan pada penderita yang mengalami cedera kepala,


leher maupun tulang belakang.
2. Membersihkan Jalan Nafas.
o Teknik sapuan jari.

Teknik ini hanya digunakan pada penderita yang tidak respon / tidak
sadar untuk membersihkan benda asing yang masuk ke jalan nafas
penderita. Jari telunjuk ditekuk seperti kait untuk mengambil benda
asing yang menghalangi jalan nafas.
o Posisi pemulihan.

Bila penderita dapat bernafas dengan baik dan tidak ditemukan


adanya cedera leher maupun tulang belakang. Posisi penderita
dimiringkan menyerupai posisi tidur miring. Dengan posisi ini
diharapkan mencegah terjadinya penyumbatan jalan nafas dan
apabila terdapat cairan pada jalur nafas maka cairan tersebut dapat
mengalir keluar melalui mulut sehingga tidak masuk ke jalan nafas.

3. Sumbatan Jalan Nafas.

Sumbatan jalan nafas umumnya terjadi pada saluran nafas bagian bawah
yaitu bagian bawah laring (tenggorokan) sampai lanjutannya. Umumnya
sumbatan jalan nafas pada penderita respon/sadar ialah karena makanan
dan benda asing lainnya, sedangkan pada penderita tidak respon / tidak
sadar ialah lidah yang menekuk ke belakang. Untuk mengatasinya
umumnya menggunakan teknik heimlich maneuver (hentakan perut-dada).

o Heimlich maneuver pada penderita respon / sadar.

Penolong berdiri di belakang penderita. Tangan penolong


dirangkulkan tepat di antara pusar dan iga penderita. Hentakkan
rangkulan tangan ke arah belakang dan atas dan minta penderita
untuk memuntahkannya. Lakukan berulang-ulang sampai berhasil
atau penderita menjadi tidak respon / tidak sadar.

o Heimlich maneuver penderita tidak respon / tidak sadar.


Baringkan penderita dengan posisi telentang. Penolong berjongkok di
atas paha penderita. Posisikan kedua tumit tangan di antara pusat
dan iga kemudian lakukan hentakan perut ke arah atas sebanyak 5
(lima) kali. Periksa mulut penderita bilamana terdapat benda asing
yang keluar dari mulut penderita. Lakukan 2-5 kali sampai jalan nafas
terbuka.

o Heimlich maneuver pada penderita kegemukan atau wanita hamil


yang respon / sadar.

Penolong berdiri di belakang penderita. Posisikan kedua tangan


merangkul dada penderita melalui bawah ketiak. Posisikan rangkulan
tangan tepat di pertengahan tulang dada dan lakukan hentakan dada
sambil meminta penderita memuntahkan benda asing yang
menyumbat. Lakukan berulangkali sampai berhasil atau penderita
menjadi tidak respon / tidak sadar.
o Heimlich maneuver pada penderita kegemukan atau wanita hamil
yang tidak respon / tidak sadar.

Langkahnya sama dengan heimlich maneuver pada penderita tidak


respon / tidak sadar di atas namum posisi penolong berada di
samping penderita dan posisi tumit tangan pada pertengahan tulang
dada.
B. Bantuan Pernafasan

Terdapat beberapa teknik yang dikenal untuk memberikan bantuan pernafasan


pada penderita yang ditemukan tidak terdeteksi adanya nafas namun nadi masih
berdetak dan jalan nafas tidak mengalami gangguan antara lain :

1. Menggunakan mulut penolong :


o Mulut ke masker RJP (Resusitasi Jantung Paru).

o Mulut ke APD (Alat Pelindung Diri).


o Mulut ke mulut ataupun hidung.
2. Menggunakan alat bantu nafas : menggunakan kantung masker berkatub.
Di udara bebas kandungan oksigen ialah sebesar kurang lebih 21%. Dari
kandungan oksigen sebanyak 21% tersebut, sebanyak 5% digunakan manusia
dalam proses pernafasan. Sehingga terdapat sekitar 16% kandungan oksigen dari
udara pernafasan yang manusia keluarkan. Sisa oksigen sebanyak 16% inilah
yang digunakan untuk memberi bantuan nafas kepada penderita yang terdeteksi
tidak terdapat nafas. Pada manusia dewasa frekuensi pemberian nafas buatan
ialah sebanyak 10-12 kali bantuan nafas per menit dengan durasi tiap bantuan
nafas ialah 1,5-2 detik tiap hembusan bantuan nafas.

Memberikan bantuan nafas kepada penderita bagi penolong bukan tanpa resiko.
Terdapat resiko yang mungkin dialami penolong antara lain : penyebaran penyakit,
kontaminasi bahan kimia dan muntahan penderita. Langkah-langkah dalam
memberikan bantuan nafas kepada penderita terdeteksi tidak terdapat nafas
antara lain :

1. Pastikan jalan nafas terbuka pada penderita.


2. Jika penolong menggunakan APD ataupun alat bantu pastikan alat tersebut
tidak bocor (tertutup rapat).
3. Pastikan juga bantuan nafas yang dihembuskan tidak bocor melalui hidung
penderita dengan cara mencapit lubang hidung penderita.
4. Berikan 2 (dua) kali bantuan nafas awal (1,5-2 detik pada manusia dewasa).
Tiupan/hembusan merata dan cukup (dada penderita bergerak naik).
5. Periksa nadi penderita selama 5-10 detik dan pastikan nadi penderita masih
terdeteksi.
6. Lanjutkan pemberian nafas buatan sesuai dengan frekuensi pemberian
bantuan nafas (dewasa : 10-12 kali bantuan nafas per menit).
7. Apabila bantuan nafas berhasil dengan baik akan ditandai dengan bergerak
naik turunnya dada penderita.

C. Bantuan Sirkulasi

Tindakan paling penting dalam bantuan sirkulasi ialah pijatan jantung luar. Hal
tersebut dimaksudkan untuk memberikan efek pompa jantung yang dinilai cukup
untuk membantu sirkulasi darah penderita pada saat kondisi penderita mati klinis.
Kedalaman penekanan pijatan jantung luar pada manusia dewasa ialah 4-5 cm ke
dalam rongga dada.

Resusitasi Jantung Paru (RJP) merupakan gabungan dari tindakan A, B dan C di


atas. Resusitasi Jantung Paru dilaksanakan dengan memastikan bahwa penderita
tidak ada respon / tidak sadar, tidak terdapat pernafasan dan tidak terdapat denyut
nadi. Pada manusia dewasa resusitasi jantung paru dikenal 2 (dua) rasio, yaitu
rasio 15 kali kompresi dada berbanding 2 kali tiupan bantuan nafas (15:2) apabila
dilaksanakan oleh satu penolong, serta rasio 5:1 per siklus apabila dilaksanakan
oleh 2 (dua) orang penolong.

Teknik kompresi dada pada manusia dewasa :

1. Posisikan penderita berbaring telentang pada bidang yang keras (misal :


lantai).
2. Posisikan penolong berada di samping penderita.
3. Temukan pertemuan lengkung tulang iga kanan dan kiri (ulu hati).
4. Tentukan titik pijatan (kira-kira 2 ruas jari ke arah dada atas dari titik
pertemuan lengkung tulang iga kanan dan kiri).
5. Posisikan salah satu tumit tangan di titik pijat, tumit tangan lainnya
diletakkan di atasnya untuk menopang.
6. Posisikan bahu penolong tegak lurus dengan tumit tangan.
7. Lakukan pijatan jantung luar.

Resusitasi jantung paru dengan satu orang penolong :

1. Tiupkan bantuan nafas awal 2 (dua) kali.


2. Jika penderita bernafas dan nadi berdenyut maka posisikan penderita pada
posisi pemulihan.
3. Apabila masih belum terdapat nafas dan nadi, maka lakukan pijatan jantung
sebanyak 15 kali dengan kecepatan pijatan 80-100 kali per menit.
4. Berikan bantuan nafas lagi sebanyak 2 (dua) kali.
5. Lakukan terus 15 kali pijatan jantung dan 2 kali bantuan nafas sampai 4
siklus.
6. Periksa kembali nadi dan nafas penderita, apabila terdapat nadi namun
belum terdapat nafas maka teruskan bantuan nafas 10-12 kali per menit.

Resusitasi jantung paru 2 (dua) orang penolong :

1. Posisi penolong saling berseberangan.


2. Lakukan bantuan nafas awal sebanyak 2 (dua) kali.
3. Lakukan pijatan jantung luar sebanyak 5 (lima) kali dengan kecepatan
pijatan 80-100 kali per menit.
4. Berikan nafas bantuan sebanyak 1 (satu) kali.
5. Lakukan 5 pijatan jantung dan 1 nafas bantuan sampai 12 siklus
6. Periksa kembali nadi dan nafas penderita, apabila terdapat nadi namun
belum terdapat nafas maka teruskan bantuan nafas 10-12 kali per menit.

Dalam melaksanakan resusitasi jantung paru pun bukan tanpa resiko bagi
penderita, resiko-resiko yang mungkin dialami penderita antara lain : patah tulang
dada/iga, kebocoran paru-paru, perdarahan dalam pada dada/paru-paru, memar
paru dan robekan pada hati/limpa. Maka bagi penolong perlu berhati-hati.