Anda di halaman 1dari 13

BAB I

PENDAHULUAN

A. Rasionalisasi Pentingnya CJR

Mengkritik Jurnal (Critical Journal Review) merupakan kegiatan mengulas suatu


jurnal agar dapat mengetahui dan memahami apa yang disajikan dalam suatu jurnal. Kritik
jurnal sangat penting karena dapat melatih kemampuan kita dalam menganalisis dan
mengevaluasi pembahasan yang disajikan peneliti. Sehingga menjadi masukan berharga
bagi proses kreatif kepenulisan lainnya. Critical Journal Review yang berbentuk makalah
ini berisi tentang kesimpulan dari jurnal yang sudah ditentukan dengan judul “Penilaian
Autentik Guru Bahasa Indonesia Dalam Pembelajaran Menulis Siswa Kelas VII di SMP
Negeri 1 Singaraja”. Semoga usaha ini dapat bermanfaat bagi pembaca umumnya dan bagi
penulis khususnya.
B. Tujuan Penulisan CJR
Megkritik Jurnal (critical journal) ini dibuat sebagai salah satu referensi ilmu yang
bermanfaat untuk menambah wawasan penulis maupun pembaca dalam mengetahui
kelebihan dan kekurangan suatu jurnal, menjadi bahan pertimbangan, dan juga
menyelesaikan salah satu tugas individu mata kuliah Bahasa Indonesia di Universitas
Negeri Medan.

C. Manfaat CJR

Manfaat yang didapat dari Critical Journal ini adalah sebagai berikut:

1. Membantu pembaca mengetahui gambaran dan penilaian umum dan sebuah jumal
atau hasil karya tulis ilmiah lainnya secara ringkas.
2. Mengetahui kelebihan dan kelemahan jurnal yang dikritik.
3. Mengetahui latar belakang dan alasan jurnal tersebut dibuat.
4. Memberi masukan kepada penulis jurnal berupa kritik dan saran terhadap cara
penulisan, isi, dan substansi jurnal.

1
D. Identitas Jurnal
1. Jurnal Utama:
1. Judul Artikel Penilaian Autentik Guru
Bahasa Indonesia dalam
Pembelajaran Menulis Siswa
Kelas VII di SMP Negeri 1
Singaraja
2. Nama Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra
Indonesia
3. Volume Volume 3 No. 1
4. Tahun Terbit 2015
5. Pengarang Artikel Gusti Ayu Komang Lili
Absari, Nyoman Sudiana,
Wayan Wendra
6. Penerbit Universitas Pendidikan
Ganesha
7. Kota Terbit Singaraja
8. ISSN 2614-4743

2. Jurnal Pembanding:
1. Judul Artikel Penilaian Autentik dalam
Pengenalan Literasi Pada
Pembelajaran Bahasa
Indonesia di Sekolah Dasar
2. Nama Jurnal Naturalistic
3. Volume Vol. 1 No. 1
4. Tahun Terbit 2016
5. Pengarang Artikel Anggia Suci Pratiwi
6. Penerbit Universitas Muhammadiyah
Tasikmalaya
7. Kota Terbit Tasikmalaya
8. ISSN 2528-2921

2
BAB II

RINGKASAN ISI JURNAL

A. Ringkasan Jurnal Utama


PENDAHULUAN
Setiap orang sering dihadapkan pada masalah pengambilan keputusan. Demikian pula
dalam kegiatan belajar mengajar, guru harus mengambil keputusan apakah seorang siswa
harus mengulang materi tertentu, apakah seorang siswa pantas naik kelas ataukah harus
tidak naik kelas. Tentu saja bukan pekerjaan mudah untuk membuat keputusan tersebut.
Diperlukan berbagai pertimbangan yang matang agar diperoleh keputusan yang benar dan
tepat sehingga tidak merugikan siswa.
Dalam pembelajaran bahasa Indonesia, yang dinilai adalah keterampilan berbahasa
siswa. Keterampilan tersebut meliputi menyimak, berbicara, membaca, dan menulis
(Tarigan, 1981:1). Menulis dirasa sebagai kegiatan yang kompleks karena untuk dapat
menulis, perlu penguasaan mengenai topik yang ditulis dan penguasaan bahasa. Sejalan
dengan itu, Kartono (2009:17) menyatakan bahwa menulis merupakan aktivitas yang
kompleks, bukan hanya sekadar mengguratkan kalimat-kalimat, melainkan lebih daripada
itu. Akan tetapi, di balik kerumitannya, menulis memiliki manfaat yang besar dalam
mengembangkan daya inisiatif dan kreativitas, kemampuan menemukan, mengumpulkan,
dan mengelola informasi. Dengan begitu, pembelajaran menulis sangat penting untuk
meningkatkan kemampuan menulis siswa.
kompetensi sikap, pengetahuan, dan keterampilan secara proporsional. Ketiga
komponen tersebut secara eksplisit dinyatakan dalam kompetensi inti yang harus dimiliki
siswa. Kurikulum 2013 juga mengatur kegiatan pembelajaran siswa yang mengutamakan
pendekatan scientific (ilmiah), yaitu mengamati, menanya, menalar, mencoba, dan
mengomunikasikan. Perubahan yang mendasar itu juga berdampak pada sistem penilaian
yang lebih mengarah ke penilaian autentik. Penilaian autentik memiliki relevansi kuat
terhadap pendekatan scientific (ilmiah) dalam pembelajaran sesuai tuntutan kurikulum
2013. Penilaian autentik mampu menggambarkan peningkatan hasil belajar siswa, baik
dalam rangka mengamati, menanya, menalar, mencoba, dan mengomunikasikan.
Kurikulum juga mengarahkan agar hasil belajar siswa dikumpulkan melalui hasil kerja
siswa (portofolio), hasil karya (produk), penugasan, kinerja (performance), dan tes tertulis

3
(paper and pen). Cara ini lebih autentik dan lebih representatif untuk mengukur dan
menilai keterampilan berbahasa siswa, khususnya keterampilan menulis.

METODE PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif kualitatif. Subjek dalam
penelitian ini adalah guru bahasa Indonesia yang mengajar di kelas VII SMP Negeri 1
Singaraja. Adapun guru bahasa Indonesia yang mengajar di kelas VII SMP Negeri 1
Singaraja, yaitu Luh Putu Ariyani, S.Pd. dan Luh Murtiningsih, S.Pd. Hal ini sesuai dengan
pandangan yang mengatakan bawa subjek penelitian adalah benda, hal, atau orang tempat
melekat dan yang dipermasalahkan dalam penelitian (Suandi, 2008:31). Objek penelitian
ini adalah teknik penilaian autentik guru bahasa Indonesia dalam pembelajaran menulis.
Teknik pengumpulan data menggunakan metode observasi, wawancara, dan
dokumentasi. Instrumen dalam penelitian ini adala lembar observasi, pedoman wawancara,
dan dokumen berupa RPP yang telah dibuat guru, hasil menulis siswa, dan foto. Metode
observasi digunakan oleh peneliti untuk mencari data mengenai pelaksanaan penilaian
autentik yang dilakukan guru bahasa Indonesia dan dari observasi juga akan terlihat
sekiranya kendala-kendala yang dialami guru ketika melaksanakan penilaian autentik.

HASIL DAN PEMBAHASAN


Hasil penelitian mencakup dua hal, yaitu (1) pelaksanaan penilaian autentik guru
bahasa Indonesia kelas VII di SMP Negeri 1 Singaraja dalam pembelajaran menulis, dan
(2) kendala-kendala yang dialami guru bahasa Indonesia kelas VII dalam melaksanakan
penilaian autentik.
Pentingnya penilaian dalam kegiatan pembelajaran merupakan hal yang tidak
terbantahkan. Penilaian merupakan suatu hal yang tidak bisa lepas dari kegiatan
pembelajaran. Dengan kata lain, penilaian merupakan salah satu kegiatan yang harus
dilakukan guru dan siswa dari serangkaian kegiatan belajar mengajar yang mereka
lakukan. Sebagai pihak yang bertanggungjawab atas keberhasilan kegiatan pembelajaran,
guru dituntut mampu mempersiapkan dan melakukan penilaian dengan baik sehingga
tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan dapat dicapai secara maksimal. Penilaian yang
baik harusnya dilakukan secara berkesinambungan. Hal ini didukung oleh Muslich
(2010:9) yang menyatakan bahwa penilaian yang dilaksanakan secara intensif dan teratur
akan menumbuhkan kebiasaan belajar yang baik bagi siswa.

4
Pelaksanaan penilaian autentik guru bahasa Indonesia pada pembelajaran menulis siswa
kelas VII di SMP Negeri 1 Singaraja menggunakan teknik tanya-jawab (tes) dalam
penilaian pengetahuan, teknik portofolio untuk menilai keterampilan siswa, dan teknik
performansi untuk menilai pengetahuan, sikap, sekaligus keterampilan siswa. Walaupun
tercantum penilaian sikap pada Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), namun, pada
kenyataannya penilaian yang dominan dilaksanakan adalah penilaian pengetahuan dan
keterampilan. Penilaian pengetahuan hanya dilakukan dengan teknik tanya-jawab untuk
mengefisiensikan waktu yang tersedia. Dengan menjawab secara langsung/lisan, guru
dapat mengetahui kemampuan siswa dalam memahami materi pelajaran. Untuk penilaian
keterampilan, guru menilai saat siswa presentasi. Guru mengamati keterampilan berbicara
siswa dan kemampuan mempertanggungjawabkan tulisan, di samping mengamati
penggunaan bahasa dan kaidah-kaidah bahasa pada tulisan yang dibuat. Sebelum
memberikan penilaian, tidak semua guru bahasa Indonesia kelas VII di SMP Negeri 1
Singaraja yang menyampaikan sistem penilaian. Terlihat bahwa guru bahasa Indonesia
yang menyampaikan sistem penilaian kepada siswa, pelaksanaan penilaian yang dilakukan
menjadi lebih mudah. Hal ini dibuktikan dari lebih mudahnya siswa mengetahui hal-hal
yang akan dinilai sehingga lebih mempersiapkan kemampuannya secara maksimal. Hal ini
juga akan mempermudah guru dalam melaksanakan penilaian karena yang ditonjolkan
siswa cenderung hal-hal yang memang seharusnya dinilai. Selain itu, untuk mempermudah
penilaian, guru menggunakan rubrik penilaian yang sudah dibuat. Penilaian yang dilakukan
pun berdasarkan pada tujuan pembelajaran yang ingin dicapai. Dalam penilaian tersebut,
lebih menekankan pada jenis tagihan individu karena dalam pembelajaran menulis, siswa
dianggap dapat menggali pengetahuan sendiri mengenai hal yang ditulisnya maupun
keterampilan siswa dalam menulis di samping mengembangkan sikap yang dimiliki. Pada
akhir pelajaran, guru memberikan komentar-komentar dari penampilan siswa. Hal ini
dimaksudkan agar siswa dapat memperbaiki kekeliruannya.
Kendala dalam pelaksanaan penilaian autentik pada pembelajaran menulis adalah
pengelolaan waktu, pengelolaan situasi kelas, fasilitas atau sarana prasarana yang kurang
mendukung, dan minimnya penguasaan tentang pelaksanaan penilaian autentik oleh guru.

PENUTUP
Ada beberapa hal yang menjadi simpulan dalam penelitian ini. Pertama, penilaian
pelaksanaan penilaian guru bahasa Indonesia pada pembelajaran menulis kelas VII di SMP

5
Negeri 1 Singaraja menggunakan teknik tes, nontes (portofolio dan performansi). Itu
berarti penilaian sudah dilaksanakan secara autentik. Walaupun penilaian sudah dilakukan
secara autentik, penilaian tersebut berlangsung kurang maksimal karena memiliki kendala-
kendala dalam pelaksanaannya. Hal ini disebabkan oleh ketidakmerataan penilaian dari
ketiga aspek, yaitu aspek pengetahuan, sikap, dan keterampilan. Dominannya, penilaian
yang dilakukan dilihat dari aspek pengetahuan dan keterampilan, sedangkan sikap hanya
dinilai pada waktu tertentu saja. Bahkan, penilaian sikap ini akan dilaksanakan saat
menjelang akhir semester untuk laporan hasil belajar. Kedua, hambatan guru bahasa
Indonesia kelas VII SMP Negeri 1 Singaraja dalam melaksanakan penilaian autentik,
antara lain: (1) kesulitan dalam mengelola waktu, (2) kesulitan mengelola situasi kelas
yang tidak kondusif, (3) fasilitas dan sarana prasarana yang kurang mendukung, dan (4)
kurangnya penguasaan terhadap sistem penilaian yang dilaksanakan.

B. Ringkasan Jurnal Pembanding


Pendahuluan
Kehidupan masyarakat di era global yang sangat akrab dengan perkembanganilmu
pengetahuan, teknologi, dan seni, telah menuntut semua orang memiliki kemampuan dasar
agar dapat survive di tengah masyarakat. Kemampuan ini seharusnya dapat diperoleh di
sekolah-sekolah formal sebelum seorang peserta didik memasuki tingkat pendidikan tinggi
dan mulai bersosialisasi dalam masyarakat. Kemampuan dasar ini tidak saja akan sangat
berpengaruh terhadap kesiapan peserta didik memasuki jenjang pendidikan lebih tinggi
yang penuh dengan persaingan, tetapi juga kesiapan menghadapi kehidupan di masyarakat.
Pendidikan dasar dituntut dapat memberikan bekal kemampuan dasar tersebut untuk
mengembangkan potensi.
Kajian Pustaka
1. Penilaian Autentik
Penilaian dapat memiliki dua pemahaman pelaksanaan, yaitu pengujian dan
pengukuran (assessment). Penilaian autentik (authentic assessment) menekankan
kemampuan siswa untuk mendemonstrasikan pengetahuan yang dimiliki secara nyata dan
bermakna. Sebagaimana yang dinyatakan Mueller dalam Nurgiyantoro
(2011a:23) bahwa penilaian autentik merupakan a form of assessment in which students
are asked to perform real-world task that demonstrate meaningful application of essential
knowladge and skills. Jadi, penilaian autentik merupakan suatu bentuk tugas yang

6
menghendaki peserta didik untuk menunjukkan kinerja di dunia nyata secara bermakna
yang merupakan penerapan esensi pengetahuan dan keterampilan.
Pengertian yang diungkapkan Mueller tersebut sejalan dengan pendapat Komalasari
(2014:148) bahwa penilaian autentik adalah suatu penilaian belajar yang merujuk pada
situasi atau konteks dunia nyata, yang memerlukan berbagai macam pendekatan untuk
memecahkan masalah yang memberikan kemungkinan bahwa satu masalah bisa
mempunyai lebih dari satu macam pemecahan. Istilah autentik bersinonim dengan
asli, valid, reliabel, dan realistik. Hal ini dapat diartikan bahwa penilaian autentik
merupakan penilaian yang dilakukan secara valid, asli, realiabel baik yang berupa
pengukuran maupun pengujian terhadap proses dan hasil pembelajaran. Oleh karena itu,
penilaian autentik hendaknya memperhatikan beberapa prinsip penting, yaitu validitas,
reliabilitas, menyeluruh, berkesinambungan, objektif, dan mendidik (Komalasari,
2014:152).
2. Pengenalan Literasi
Literasi secara sempit seperti yang dikemukakan oleh Kern (2000: 3-7) didefinisikan
sebagai kemampuan untuk membaca dan menulis. Lebih jauh lagi, kemampuan ini juga
berkaitan dengan pembiasaan dalam membaca dan mengapresiasi karya sastra (literature)
serta melakukan penilaian terhadapnya. Akan tetapi, secara lebih luas literasi berkaitan
dengan kemampuan berpikir dan belajar seumur hidup untuk bertahan dalam lingkungan
sosial dan budaya. Sejalan dengan yang dikemukakan oleh McKenna (1997) bahwa literasi
dalam membaca adalah medium bagi individu untuk dapat berinteraksi dengan lingkungan
sosialnya, sehingga berhubungan erat dengan kemampuan menulis dalam lingkungan
sosial, terutama di lingkungan tempat tinggal.
Oleh karena itu, Kirsch et.al (1993: 2-3) mengemukakan bawa literasi pada dasarnya
adalah kemampuan “…using printed and written inf ormation to f unction in society, to
achieve one’s goals, and to develop one’s knowledge and potential.” Definisi ini adalah
pengembangan dari definisi the National Literacy Act di Amerika Serikat tahun 1991 yang
mendefinisikan literasi sebagai “…an individual’s ability to read, write, and speak in
English and compute and solve problems at levels of prof iciency necessary to function on
the job and in society, to achieve one’s goals, and to develop one’s knowledge and
potential,” menarik simpulan dari sebuah puisi, atau membaca intsruksi dalam barang
elektronik. Kedua adalah kemampuan membaca dokumen (document literacy), misalnya
kemampuan untuk mengisi formulir pendaftaran, memahami tabel atau peta perjalanan,

7
membaca dokumendokumen penting dalam pekerjaan sehari-hari. Ketiga adalah literasi
kuantitatif (quantitative literacy), yakni kemampuan untuk melakukan penghitungan
dengan menggunakan simbol angka, misalnya menghitung uang kembalian.
Pembahasan
1. Pengenalan Literasi dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia
Literasi dapat dilihat dari tiga sudut pandang, yaitu dari sudut pandang linguistik,
kognitif, dan sosial-budaya. Dalam konteks pembelajaran bahasa, Kern (2000: 16-17) lebih
lanjut mengatakan bahwa: Literacy is the use of socially, historically, and culturally
situated practices of creating and interpreting meaning through texts. It entails at least a
tacit awareness of the relationship between textual conventions and their contexts of use
and, ideally, the ability to ref lect critically on those relationships. Penggunaan teks dalam
berbagai kesempatan yang bermakna itu terikat situasi, baik secara sosial, historis, maupun
kultural. Seseorang dikatakan memiliki tingkat literasi yang tinggi apabila ia mampu
menghubungkan antara teks dan konteks serta melakukan refleksi yang kritis terhadap
hubungan tersebut. Oleh karena itu,
literasi bersifat dinamis yang melibatkan kemampuan kognitif, kemampuan menggunakan
bahasa lisan dan tulis serta berbagai genre, dan kemampuan menghubungkan kemampuan
ini dengan latar belakang sosial-budayanya.
Kern mengidentifikasi tujuh prinsip pembelajaran bahasa berbasis literasi, yaitu
sebagai berikut.
a. Literasi berhubungan dengan kegiatan interpretasi.
b. Literasi berarti juga kolaborasi
c. Literasi juga berarti konvensi.
d. Literasi melibatkan pengetahuan budaya.
e. Literasi adalah kemampuan untuk memecahkan masalah
f. Literasi adalah kegiatan ref leksi.
g. Literasi adalah kemampuan menggunakan bahasa lisan dan tulis untuk menciptakan
wacana
2. Penilaian Autentik dalam Pengenalan Literasi pada Pembelajaran Bahasa
Indonesia di Sekolah Dasar
Berdasarkan pengertian literasi sebagaimana diungkapkan para ahli, dapat diyakini
bahwa literasi memiliki keterhubungan langsung dengan pembelajaran. Dalam dunia
pendidikan pengembangan peserta didik untuk menjadi seorang literat adalah mutlak

8
adanya, baik dalam penguasaan kognitif, afektif, maupun psikomotorik. Penguasaan ketiga
domain tujuan pendidikan merupakan pencapaian ideal seseorang yang mengikuti program
pendidikan untuk memiliki kemampuan dan menerapkannya di lingkungan masyarakat.
Konsep dasar literasi dalam perspektif pendidikan adalah penguasaan kemampuan berupa
melek wacana, edukasi, atau pribadi berpendidikan yang dapat menjalani kehidupan
bermasyarakat.
Dalam setiap pembelajaran yang dilakukan ditekankan pada frekuensi praktik menulis
paling dominan dan merupakan persyaratan khusus untuk setiap pembelajaran yang diikuti.
Oleh karena itu, diperlukan penilaian autentik dalam pembelajaran literasi. Penilaian
autentik seperti yang dikemukakan oleh Valencia (Paris & Ayres: 1995) meliputi empat
aspek utama, sebagai berikut:
a. Authentic assessment is consistent with classroom practices.
b. Authentic assesment collect diverse evidence of student learning f rom multiple activities
c.Authentic assessrnent promotes learning and teaching among the participants.
Assessment is functional, pragmatic and benef icial.
d. Authentic a ssessment ref lects local values, standards and control.
Simpulan
Simpulan dari penelitian studi pustaka ini, yaitu.
1. Pembelajaran berbasis literasi dalam pembelajaran bahasa memiliki keunggulan karena
model literasi bukan hanya dimaksudkan agar peserta didik memiliki kapasitas mengerti
makna konseptual dari wacana melainkan kemampuan berpartisipasi aktif secara penuh
dalam menerapkan pemahaman sosial dan
intelektual.
2. Konsep dalam penilaian autentik sesuai dan seiring dengan model pembelajaran yang
menekankan literasi. Keduanya selaras dalam hal kemandirian dan keaktifan peserta didik,
banyaknya variasi aktivitas pembelajaran, sumber dan produk belajar, serta kesadaran lokal
dan kultural dengan tetap berdasar pada standar kompetensi yang ditentukan.
3. Proses pengembangan kemampuan berbahasa dan bersastra dilaksanakan dengan cara
mengembangkan kemampuan kognitif, analisis, sintesis, evaluasi, dan kreasi melalui suatu
kajian langsung terhadap kondisi sosial dengan menggunakan kemampuan berpikir cermat
dan kritis. Proses pemahaman peserta didik
terhadap fenomena sosial dengan pengenalan secara langsung akan lebih memudahkan
dalam pengembangan kompetensi.

9
4. Penilaian autentik dalam pengenalan literasi pada pembelajaran Bahasa Indonesia di
Sekolah Dasar (SD) menekankan pada empat keterampilan berbahasa dan bersastra dengan
penugasan yang sesuai dengan keadaan yang sesuai dengan kehidupan nyata.

10
BAB III
KELEBIHAN DAN KEKURANGAN

A. Kelebihan Isi Jurnal:


1. Kelebihan Isi Jurnal Utama

Jurnal ini sudah cukup bagus. Jurnal ini merupakan jurnal Pendidikan Bahasa dan
Sastra Indonesia terhadap Penilaian Autentik Guru Bahasa Indonesia dalam Pembelajaran
Menulis Siswa Kelas VII di SMP Negeri 1 Singaraja. Jurnal ini memiliki nomor dan tahun
diterbitkannya jurnal ini yaitu tahun 2015. Pada jurnal ini pertama dimulai dari
pendahuluan, metode penelitian, hasil dan pembahasan, dan penutup, serta daftar pustaka.
Jurnal yang direview cukup lengkap yang disertai dengan pengertian-pengertian menurut
para ahli. Kemudian jurnal ini sangat terpercaya karena penulis mencantumkan beberapa
referensi yang cukup relevan yang dibutuhkan dalam bahasan jurnal.

2. Kelebihan Jurnal Pembanding

Pada jurnal ini keterkaitan antar bab cukup baik, pertama dimulai dari pendahuluan,
kajian pustaka, pembahasan, simpulan serta daftar pustaka. Jurnal ini merupakan jurnal
Naturalistic yang membahas Penilaian Autentik dalam Pengenalan Literasi Pada
Pembelajaran Bahasa Indonesia di Sekolah Dasar. Jurnal ini memiliki volume, ISSN, serta
tahun diterbitkannya jurnal ini pada tahun 2016. Materi yang cukup lengkap terlihat pada
sub-sub judul dalam jurnal tersebut yang lengkap dan mendetail, kemudian kelebihan dari
jurnal tersebut adalah penulis dapat mengembangkan beberapa poin-point yang cukup
penting untuk dikaji, dan penulis melakukannya dengan cukup baik.
B. Kekurangan Isi Jurnal:
1. Kelemahan Isi Jurnal Utama

Jurnal yang direview tidak memuat point bahasan seperti landasan teori. Isi dari jurnal
pun tidak terlalu lengkap yang membuat pembaca kurang memahami jurnal tersebut, serta
informasi yang disampaikan juga kurang jelas.

2. Kelemahan Isi Jurnal Pembanding


Jurnal yang direview sudah bagus, namun kekurangannya yaitu tidak ada metode
penelitian serta saran untuk penelitian selanjutnya, serta tidak adanya respon masyarakat
dari penelitian tersebut.

11
BAB IV

PENUTUP

A. Kesimpulan
Ada beberapa hal yang menjadi simpulan dalam jurnal review ini. Pertama, penilaian
pelaksanaan penilaian guru bahasa Indonesia menggunakan teknik tes, nontes (portofolio
dan performansi). Itu berarti penilaian sudah dilaksanakan secara autentik. Walaupun
penilaian sudah dilakukan secara autentik, penilaian tersebut berlangsung kurang maksimal
karena memiliki kendala-kendala dalam pelaksanaannya. Hal ini disebabkan oleh
ketidakmerataan penilaian dari ketiga aspek, yaitu aspek pengetahuan, sikap, dan
keterampilan. Dominannya, penilaian yang dilakukan dilihat dari aspek pengetahuan dan
keterampilan, sedangkan sikap hanya dinilai pada waktu tertentu saja. Bahkan, penilaian
sikap ini akan dilaksanakan saat menjelang akhir semester untuk laporan hasil belajar.
Kedua, hambatan guru bahasa Indonesia dalam melaksanakan penilaian autentik, antara
lain: (1) kesulitan dalam mengelola waktu, (2) kesulitan mengelola situasi kelas yang tidak
kondusif, (3) fasilitas dan sarana prasarana yang kurang mendukung, dan (4) kurangnya
penguasaan terhadap sistem penilaian yang dilaksanakan.
Konsep dalam penilaian autentik sesuai dan seiring dengan model pembelajaran yang
menekankan literasi. Keduanya selaras dalam hal kemandirian dan keaktifan peserta didik,
banyaknya variasi aktivitas pembelajaran, sumber dan produk belajar, serta kesadaran lokal
dan kultural dengan tetap berdasar pada standar kompetensi yang ditentukan.
B. Saran

Dalam jurnal yang saya review sebaiknya digunakan hasil penelitian yang akan
membuat pembaca akan mengetahui data-data penelitian yang relevan, serta mengatahui
hambatan-hambatan dalam melakuka penilaian autentik.

12
DAFTAR PUSTAKA

Absari, Gusti Ayu Komang Lili. Sudiana, Nyoman. dan Wendra, Wayan. 2015. Penilaian
Autentik Guru Bahasa Indonesia dalam Pembelajaran Menulis Siswa Kelas VII di SMP
Negeri 1 Singaraja. Singaraja: Universitas Pendidikan Ganesha.

Pratiwi, Anggia Suci. 2016. Penilaian Autentik dalam Pengenalan Literasi Pada
Pembelajaran Bahasa Indonesia di Sekolah Dasar. Tasikmalaya: Universitas
Muhammadiyah Tasikmalaya

13