Anda di halaman 1dari 23

ANALISIS ISO 45001

Tugas Terstruktur dalam rangka untuk memenuhi kewajiban dalam pembelajaran


Mata Kuliah Sistem Manajemen Keselamatan Dan Kesehatan Kerja

Disusun Oleh:
Salsa Maidayosa I1A016038
Istiqomaturrofiah I1A016053
Dhea Atahlia Inayah I1A016064
Jihan Khairiyah I1A016045
Jihan Niswari Majid I1A016083
Fahri Dika Mustaqim I1A016088
Syifa Fauziah I1A016094
Gianaj Hermawan Fahira I1A016109

KEMENTERIAN RISET TEKNOLOGI DAN PERGURUAN TINGGI


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS ILMU-ILMU KESEHATAN
JURUSAN KESEHATAN MASYARAKAT
PURWOKERTO
2019
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Menurut ILO, setiap tahun ada lebih dari 250 juta kecelakaan di
tempat kerja dan lebih dari 160 juta pekerja menjadi sakit karena bahaya di
tempat kerja. Terlebih lagi, 1,2 juta pekerja meninggal akibat kecelakaan dan
sakit di tempat kerja (ILO, 2013).

Organisasi bertanggung jawab untuk memastikan dapat


meminimalkan risiko bahaya bagi orang-orang yang mungkin terpengaruh
oleh aktivitasnya (misalnya pekerja, manajer, kontraktor, atau
pengunjungnya), dan terutama jika mereka dilibatkan oleh organisasi untuk
melakukan kegiatan tersebut. ISO sedang mengembangkan standar sistem
manajemen kesehatan dan keselamatan kerja (ISO 45001) yang dimaksudkan
untuk memungkinkan organisasi mengelola risiko K3 dan memperbaiki
kinerjanya. Implementasi sistem manajemen K3 akan menjadi keputusan
strategis bagi sebuah organisasi yang dapat digunakan untuk mendukung
inisiatif keberlanjutannya, memastikan masyarakat lebih aman dan lebih sehat
serta meningkatkan keuntungan pada saat yang bersamaan. Pada tanggal 12
Maret 2018 di perkenalkan lah ISO 45001 sebagai revisi atas OHSAS 18001
versi 2007 (Anonim, 2018).

ISO 45001 adalah standar internasional yang menetapkan persyaratan


untuk sistem manajemen kesehatan dan keselamatan kerja yang dilengkapi
dengan panduan dan cara penggunaannya, sehingga memungkinkan suatu
organisasi untuk secara proaktif meningkatkan kinerja kesehatan dan
keselamatan kerja dalam upaya mencegah cedera dan sakit / masalah
kesehatan saat bekerja.

B. Rumusan Masalah
a. Bagaimana sejarah ISO 45001?
b. Apakah pengertian/gambaran umum dari ISO 45001?
c. Apakah manfaat ISO 45001?
d. Siapa sajakah yang menerapkan ISO 45001?
e. Bagaimana Occupational Health and Safety Management sistem model
(ISO 45001)?
f. Apakah inti SMK3 ISO 45001?
g. Apakah perbedaan ISO 45001 & OHSAS 18001?
C. Tujuan
a. Mengetahui sejarah ISO 45001
b. Mengetahui pengertian/gambaran umum dari ISO 45001
c. Mengetahui manfaat ISO 45001
d. Mengetahui siapa saja yang menerapkan ISO 45001
e. Mengetahui Occupational Health and Safety Management sistem model
(ISO 45001)
f. Mengetahui inti SMK3 ISO 45001
g. Mengetahui perbedaan ISO 45001 & OHSAS 18001
BAB II
ISI

A. Sejarah ISO 45001


Tahun 1999 Inggris melalui BSI (British Standards Institution)
mengajak 13 lembaga standar lainnya membuat sebuah project standar
bidang K3 digunakan oleh dunia industry dalam melakukan assessment
terhadap SMK3 yang telah mereka terapkan, yang melahirkan seri OHSAS
(Occupational Health and Safety Assessment Series) 18001:1999 dan
ditetapkan 15 April 1999. BSI bersama 43 lembaga standar dari berbagai
macam negara, melakukan revisi serie OHSAS 1999, sehingga pada Juli 2007
diberlakukan secara efektif standar OHSAS versi 2007 yang masa berlaku
sampai tahun 2021, kemudian pada tanggal 12 Maret 2018 di perkenalkan lah
ISO 45001 sebagai revisi atas OHSAS 18001 versi 2007. (Anonim, 2017)
Berikut adalah urutan sejarah dalam publikasi ISO 45001:
1. ISO / CD 45001 (komite draft pertama) diterbitkan pada bulan Juli tahun
2014.
2. ISO / DIS 45001 (pertama menyusun standar internasional) tidak dapat
dipublikasikan pada Februari 2015 seperti yang direncanakan, karena draft
komite pertama gagal mendapatkan dua pertiga suara mayoritas di komite
ISO pada tanggal 18 Oktober 2014
3. ISO / CD 45001 Draft Komite kedua diterbitkan Maret 2015.
4. Komite menyusun pertemuan Kanada pada bulan Juni 2016 dan
mengusulkan draft kedua yang akan diterbitkan akhir 2016.
5. Tanggal publikasi baru yang diusulkan sekarang semester kedua tahun
2017. Dengan asumsi bahwa timeline yang baru ini akurat, maka standar
ini akan disebut ISO 45001: 2017, sesuai dengan konvensi penamaan yang
biasa untuk standar yang diterbitkan oleh ISO. (Mahendra, 2015)
B. Pengertian ISO 45001
ISO 45001 adalah standar internasional yang menetapkan persyaratan
untuk sistem manajemen kesehatan dan keselamatan kerja yang dilengkapi
dengan panduan dan cara penggunaannya, sehingga memungkinkan suatu
organisasi untuk secara proaktif meningkatkan kinerja kesehatan dan
keselamatan kerja dalam upaya mencegah cedera dan sakit / masalah
kesehatan saat bekerja.
ISO 45001 ini dimaksudkan untuk dapat diterapkan oleh setiap
organisasi terlepas dari ukuran, jenis dan sifat. ISO 45001 memungkinkan
suatu organisasi, melalui sistem manajemen kesehatan dan keselamatan kerja
nya, untuk mengintegrasikan aspek-aspek lain dari kesehatan dan
keselamatan, seperti tunjangan kesehatan dan kesejahteraan pekerja. Namun,
perlu dicatat bahwa suatu organisasi dapat diminta oleh persyaratan hukum
yang berlaku untuk memenuhi permsalahan terkait dengan keselamatan dan
kesehatan pekerja sesuai dengan perundangan yang berlaku di Negara
tersebut. (The Quality Magazine, 2016)
C. Manfaat ISO 45001
Manfaat Penerapan ISO 45001, antara lain :
1. Mengembangkan dan menerapkan Sistem Manajemen untuk mengurangi
atau meminimalisir kecelakaan kerja atau sakit akibat kerja
2. Membangun proses sistematis terkait dengan K3 yang mempertimbangkan
“konteksnya” dan yang memperhitungkan risiko dan peluangnya, dan
persyaratan hukum dan lainnya
3. Menentukan bahaya dan risiko yang terkait dengan aktivitasnya dan
berusaha untuk menghilangkannya , atau melakukan kontrol untuk
meminimalkan dampak potensial resiko dan bahayanya.
4. Menetapkan pengendalian operasional untuk mengelola risiko K3 dan
persyaratan hukum dan lainnya
5. Meningkatkan kesadaran akan risiko K3
6. Mengevaluasi kinerja K3 dan berusaha untuk memperbaikinya, melalui
tindakan yang tepat
7. Memastikan pekerja berperan aktif dalam masalah K3
8. Memaksimalkan Efektifitas dan Efisiensi pekerja dan alat dengan
mengurangi downtime karena cedera atau sakit akibat kerja
9. Membuka Pasar baru terutama bagi customer yang mensyaratkan K3
10. Memenuhi persyaratan Tender , dll
11. Meningkatkan kepatuhan terhadap peraturan dan perundangan dan
mencegah permasalahan yang ditimbulkannya
12. Mengurangi keseluruhan biaya insiden
13. Mengurangi downtime dan biaya gangguan operasi
14. Mengurangi biaya premi asuransi
15. Mengurangi ketidakhadiran dan tingkat turnover karyawan. (GMCI,2018)
Manfaat penerapan ISO 45001 bagi perusahaan :
1. Perusahaan dapat membangun proses yang sistematis untuk mengurangi
angka kecelakaan kerja dan dapat memperhitungkan risiko dan bahaya,
serta persyaratan hukum dan lainnya terkait dengan sistem manajemen K3.
2. Perusahaan dapat menentukan bahaya dan risiko yang berhubungan
dengan kegiatannya dan berusaha untuk menghilangkan risiko dan bahaya
tersebut.
3. Perusahaan dapat membangun pengendalian operasional untuk mengelola
risiko dan bahaya, dan aspek hukum dan peraturan terkait dengan
smk3meningkatkan kesadaran mengenai risiko dan bahaya dalam
lingkungan perusahaan.
4. Perusahaan mengevaluasi kinerja Sistem Manajemen K3 dan berusaha
untuk memperbaikinya secara terus-menerus.
5. Pekerja memastikan mengambil peran aktif dalam hal SMK3 Dalam
kombinasi langkah-langkah yang akan memastikan bahwa reputasi
organisasi sebagai tempat yang aman untuk kerja akan dipromosikan.
(GMCI, 2016)
D. Siapa saja yang bisa menerapkan system ISO 45001
ISO 45001 dapat diaplikasikan untuk semua organisasi, dengan tetap
memperhatikan besar dan asal-usul bisnis. ISO 45001 di desain untuk bisa
terintegrasi ke semua proses manajemen organisasi dan mengikuti level
struktur yang sama dengan standar sistem manajemen ISO lain, seperti ISO
9001 (manajemen kualitas), dan ISO 14001 (manajemen lingkungan) (ISO,
2018).
Jika organisasi itu merupakan bisnis mikro, atau konglomerat global,
maka berhak untuk menerapkan dan di sertifikasi ISO 45001, termasuk juga
organisasi non-profit, amal, lembaga akademis, atau departemen pemerintah.
Selama organisasi tersebut memiliki pekerja atau orang yang bekerja atas
nama organisasi tersebut serta berpotensi terkena dampak kegiatan,
diharapkan menggunakan pendekatan sistematis untuk mengelola kesehatan
dan keselamatan pekerja. Standar ini dapat digunakan pada aktifitas
operasional berisiko rendah dengan skala kecil sampai yang berisiko tinggi
dengan skala besar (The Quality Magazine, 2016).
ISO 45001 dirancang untuk membantu organisasi dari semua ukuran,
industri, atau sifat bisnisnya. Setiap organisasi bertanggung jawab
menciptakan lingkungan kerja yang aman dan sehat. Tujuan ISO 45001
adalah membantu organisasi untuk melakukan hal ini (SafetySign, 2018).
E. OH&S Management System
OH&S Management System dalam ISO 45001:2018 menggunakan
pendekatan berdasarkan konsep PDCA (Plan – Do – Check – Act) yang
dimodifikasi menjadi framework baru.
Konsep PDCA adalah proses berulang yang digunakan oleh organisasi
untuk mencapai peningkatan yang berkelanjutan. Konsep ini dapat diterapkan
pada sistem manajemen dan terdiri dari elemen - elemen, sebagai berikut:
1. Planning
Menentukan dan menilai risiko K3, peluang K3 dan risiko lain dan
peluang lain, menetapkan tujuan dan proses K3 yang diperlukan untuk
memberikan hasil sesuai dengan kebijakan K3 organisasi.
2. Do
Menerapkan proses sesuai rencana.
3. Check
Memantau dan mengukur kegiatan dan proses yang berkaitan dengan
kebijakan K3 dan sasaran K3, dan laporkan hasilnya.
4. Act
Mengambil tindakan untuk terus meningkatkan kinerja K3 untuk
mencapai hasil yang diinginkan.
Konsep PDCA yang dimodifikasi menjadi framework baru

Note : Angka dalam tanda kurung menunjukan clause

Penjelasan framework :

1. Context of Organization [clause 4]


a. Organisasi harus menentukan masalah eksternal dan internal yang
relevan dengan tujuannya dan yang dapat memengaruhi
kemampuannya untuk mencapai hasil yang diinginkan dari sistem
manajemen K3 [clause 4.1]
b. Organisasi harus menentukan:
- pihak lain yang berkepentingan, selain pekerja, yang relevan
dengan sistem manajemen K3
- kebutuhan dan harapan pekerja maupun pihak lain yang
berkepentingan secara relevan
- kebutuhan dan harapan yang tepat dijadikan atau dapat menjadi
persyaratan hukum dan persyaratan lainnya [clause 4.2]
c. Scope dari OH&S management system:
- Organisasi harus menentukan batasan dan penerapan sistem
manajemen K3 untuk menetapkan ruang lingkupnya. Sistem harus
mencakup aktivitas, produk, dan pelayanan yang berada dalam
kendali atau pengaruh organisasi, yang dapat memengaruhi kinerja
organisasi [clause 4.3]
- Organisasi harus menetapkan, menerapkan, memelihara dan terus
meningkatkan sistem manajemen K3, termasuk proses yang
diperlukan dan interaksinya, sesuai dengan persyaratan [clause 4.4]
2. PDCA cycle
a. Leadership and worker participation [clause 5]
- Top manajemen harus menunjukkan kepemimpinan dan komitmen
terhadap sistem manajemen K3
- Top manajemen harus menetapkan, menerapkan, dan memelihara
kebijakan K3
- Top manajemen harus memastikan bahwa tanggung jawab dan
wewenang dalam sistem manajemen K3 ditugaskan dan
dikomunikasikan ke semua tingkatan dalam organisasi dan harus
didokumentasikan. Pekerja di setiap tingkat organisasi harus
memikul tanggung jawab atas aspek-aspek sistem manajemen K3.
- Organisasi harus menetapkan, menerapkan dan memelihara proses
untuk konsultasi dan partisipasi pekerja di semua tingkatan dalam
pengembangan, perencanaan, implementasi, evaluasi kinerja dan
tindakan untuk perbaikan sistem manajemen K3.
b. Planning [clause 6]
- Ketika merencanakan sistem manajemen K3, organisasi harus
mempertimbangkan masalah yang disebutkan dalam clause 4.1,
persyaratan yang disebutkan dalam clause 4.2 (pihak yang
berkepentingan) dan clause 4.3 (ruang lingkup Sistem manajemen
K3) dan menentukan risiko serta peluang yang perlu diatasi untuk
memberikan jaminan bahwa sistem manajemen K3 dapat mencapai
hasil yang diharapkan, untuk dapat mencegah atau mengurangi
efek yang tidak diinginkan, serta mencapai peningkatan
berkelanjutan.
- Hal yang harus diperhatikan saat merencanakan sistem manajemen
K3 adalah hazard, risiko K3 atau risiko lainnya, peluang K3 atau
peluang lainnya, serta hukum yang menjadi persyaratan ataupun
persyaratan lainnya yang berlaku.
c. Do
- Support [clause 7]
Organisasi harus menentukan dan menyediakan sumber daya yang
dibutuhkan untuk pembentukan, implementasi, pemeliharaan, dan
peningkatan berkelanjutan dari sistem manajemen K3. Adanya
pekerja yang kompeten dan memahami sistem manajemen K3,
terdapat sistem komunikasi internal dan eksternal yang tepat serta
relevan, dan adanya informasi yang terdokumentasi.
- Operation [clause 8]
 Organisasi harus merencanakan, mengimplementasikan,
mengendalikan dan memelihara proses yang diperlukan untuk
memenuhi persyaratan sistem manajemen K3
 Organisasi harus membuat, menerapkan dan memelihara
proses untuk menghilangkan bahaya dan mengurangi risiko K3
menggunakan hierarki kontrol
 Organisasi harus menetapkan, menerapkan dan memelihara
proses untuk mengendalikan pengadaan produk dan atau jasa
untuk memastikan kesesuaiannya dengan sistem manajemen
K3.
 Organisasi harus berkoordinasi dengan kontraktor, untuk
mengidentifikasi bahaya dan menilai serta mengendalikan
risiko K3.
 Organisasi harus membuat, menerapkan, dan memelihara
proses yang diperlukan untuk mempersiapkan dan menanggapi
situasi darurat

d. Check
- Performance evaluation [clause 9]
 Organisasi harus menetapkan dan memelihara prosedur untuk
memantau dan mengukur kinerja K3 secara berkala.
 Jika diperlukan peralatan pengukuran untuk mengukur dan
memantau kinerja, organisasi harus menetapkan dan
memelihara prosedur untuk mengkalibrasi dan memelihara
peralatan.
 Organisasi harus menetapkan dan memelihara prosedur dan
program audit untuk mengaudit sistem manajemen K3 secara
reguler untuk memastikan kesesuaian sistem manajemen K3
dengan perencanaan, adanya review dari audit sebelumnya,
penyajian informasi tentang hasil dari audit kepada
manajemen.
 Top Manajemen harus secara berkala mengkaji sistem
manajemen K3 untuk memastikan kesesuaiannya,
kecukupannya dan efektifitasnya.
e. Act
- Improvement [clause 10]
 Organisasi harus menentukan peluang untuk perbaikan dan
menerapkan tindakan yang diperlukan untuk mencapai hasil
yang diinginkan dari sistem manajemen K3.
 Organisasi harus menetapkan, menerapkan, dan memelihara
proses, termasuk melaporkan, menginvestigasi dan mengambil
tindakan, untuk menentukan dan mengelola insiden.
 Semua tindakan korektif dan preventif dikaji melalui proses
penilaian resiko sebelum diimplementasikan.
 Tindakan korektif atau preventif yang diambil untuk
mengeliminasi penyebab harus sesuai dengan besarnya
masalah dan sesuai dengan resiko K3 yang dihadapi.
 Organisasi harus mengimplementasikan dan mencatat
perubahan dalam prosedur terdokumentasi akibat tindakan
korektif dan preventif ini.
F. Dokumen ISO 45001
Standar ISO 45001 memperkenalkan pendekatan baru untuk
mendokumentasikan dan merekam kontrol yang menggantikan persyaratan
OHSAS 18001 untuk catatan dan prosedur dengan persyaratan baru untuk
informasi yang terdokumentasi. Setelah sertifikasi ISO 45001 dirilis, para
pelaku bisnis dan perusahaan merencanakan transisi atau implementasi
dengan mencari persyaratan atau informasi tentang dokumen atau rekaman
wajib yang perlu diterapkan (Sektiono, 2018). Pelaksanaan organisasi
OHSAS 18001 banyak terfokus pada pemeliharaan dan pengendalian
dokumen dan catatan. Sedangkan di dalam ISO 45001, dokumen dan catatan
di hilangkan dan diganti menjadi istilah baru, yakni “Document Information”.
ISO 45001 tidak mensyaratkan dokumen harus berupa prosedur, media
pendukung berupa kertas, magnetik, elektronik, foto atau kombinasi dari
semuanya. ISO 45001 memperbolehkan informasi terdokumentasi dalam
format dan media pendukung apa pun, serta dari sumber mana pun
(Safetysign, 2018).
Berikut ini adalah dokumen dan rekaman wajib serta dokumen tidak
wajib sesuai dengan persyaratan ISO 45001 :
1. Dokumen Wajib ISO 45001
a. Ruang Lingkup Sistem Manajemen K3 (klausul 4.3)
b. Kebijakan K3 (klausul 5.2)
c. Peran dan Tanggung Jawab (klausul 5.3)
d. Peluang dan Risiko K3 (klausul 6.1.1)
e. Proses yang diperlukan untuk menangani Peluang dan Risiko K3
(klausul 6.1.1)
f. Metodologi dan Kriteria Penilaian Risiko K3 (klausul 6.1.2)
g. Tujuan dan Rencana K3 (klausul 6.2.2)
h. Komunikasi (klausul 7.4)
i. Operasi Kontrol (klausul 8.1.1)
j. Proses kesiapsiagaan dan respon tanggung darurat (klausul 8.6)
2. Rekaman Wajib ISO 45001
a. Hukum yang berlaku dan persyaratan lain
b. Catatan pelatihan, keahliam, pengalaman, dan kualifikasi
c. Hasil pemantauan dan pengukuran
d. Kalibrasi dan verifikasi pemantauan dan mengukur peralatan
e. Evaluasi kewajiban
f. Program internal audit
g. Hasil audit internal
h. Hasil kajian manajemen
i. Insiden dan nonconformities
j. Hasil tindakan korektif
3. Dokumen Tidak Wajib
Tidak ada sistem yang benar-benar berjalan dengan hanya
menggunakan dokumen yang wajib/mandatory. Berdasar pengalaman
implementasi sistem manajemen, ada banyak jenis dokumen tidak wajib
yang dapat digunakan dalam implementasi ISO 45001. Berikut adalah
contoh-contoh dokumen non wajib yang paling sering digunakan dalam
implementasi Sistem Manajemen :

a. Prosedur untuk menentukan konteks organisasi dan pihak yang


berkepentingan (klausul 4.1 dan 4.2)
b. Prosedur untuk identifikasi-evaluasi terhadap Peluang dan Risiko
pada Sistem Manajemen K3 (klausul 6.1.1 dan 6.1.2)
c. Kompetensi, pelatihan dan kesadaran prosedur (klausul 7.2 dan 7.3)
d. Prosedur untuk komunikasi (klausul 7.4)
e. Prosedur untuk dokumen dan catatan kontrol (klausul 7.5)
f. Prosedur audit internal (klausul 9.2)
g. Prosedur untuk manajemen review (klausul 9.3)
h. Prosedur untuk manajemen nonconformities dan tindakan korektif
(klausul 10.2)
(Anonim, 2018).

G. Perbedaan antara ISO 45001 dengan OHSAS 18001


Perbedaan ISO 45001 dengan OHSAS 18001 dapat dilihat pada beberapa
aspek, yaitu:
1. Struktur
Struktur ISO 45001 didasarkan pada lampiran SL yang telah
menggantikan Panduan ISO 83 dan telah menerapkan struktur umum,
terminologi, dan definisi. Hal ini membuat ISO 45001 lebih mudah untuk
diintegrasikan dengan produk-produk ISO sebelumnya seperti ISO 9001
tentang Sistem Manajemen Mutu dan ISO 14001 tentang Sistem
Manajemen Lingkungan.
Perbandingan struktur antara ISO 45001 dengan OHSAS 18001
ISO 45001 OHSAS 18001
1. Scope 1. Scope
2. Normative Reference 2. Reference Publications
3. Term and Definition 3. Term and Definition
4. Context of the Organization 4. OH&S Management System
Requirement
5. Leadership
6. Planning
7. Support
8. Operation
9. Performance Evaluation
10. Improvement

a. Organization Context
Pada OHSAS 18001, organisasi hanya diminta untuk fokus pada isu
keselamatan dan kesehatan kerja di internal organisasinya, sedangkan
pada ISO 45001, organisasi diminta untuk melihat lebih luas dari isu
keselamatan dan kesehatan kerja internalnya, sehingga harus
menyadari apa yang masyarakat harapkan dari organisasi tersebut
dalam ranah keselamatan dan kesehatan kerja.
Hal ini tercantum dalam klausul 4.1 yang menyebutkan:
“The organization shall determine external and internal issues that
are relevan to its purpose and that affect its ability to achieve intended
outcome(s) of its OH&S Management System”
b. Planning
Pada OHSAS 18001 tidak dijelaskan mengenai hal yang harus
dipertimbangkan oleh perusahaan dalam proses perencanaan sistem
manajemen K3, sedangkan ISO 45001 menyebutkan 4 hal yang harus
dijadikan pertimbangan, yaitu:
1. Isu-isu yang telah dijelaskan pada organizational context
2. Persyaratan yang dijelaskan pada interested parties
3. Lingkup dari Sistem Manajemen K3
4. Penyusunan dari risiko dan peluang

Adapun yang harus dibuat dalam perencanaan penerapan Sistem


Manajemen K3 meliputi:
1. Apa yang harus diselesaikan
2. Sumber daya yang dibutuhkan
3. Siapa yang akan bertanggung jawab
4. Target waktu penyelesaian
5. Bentuk evaluasi pada hasil
6. Cara untuk mencapai penerapan Sistem Manajemen K3 yang
terintegrasi dengan proses bisnis organisasi.
c. Management Representative
Pada OHSAS 18001, tanggung jawab dari sistem manajemen
keselamatan dan kesehatan kerja didistribusikan kepada seorang safety
manager dibanding harus mengintegrasikannya dengan sistem
manajemen organisasi, sedangkan pada ISO 45001, mengharuskan
organisasi untuk mengintegrasikan sistem manajemen keselamatan dan
kesehatan kerja dengan semua sistem manajemen organisasi yang ada.
Sehingga mengharuskan top management untuk mengambil peran
kepemimpinan yang lebih kuat.

d. OH&S Procurement
ISO 45001 mengharuskan organisasi untuk dapat mengendalikan risiko
keselamatan dan kesehatan kerja dalam pengadaan barang dan jasa
yang dilakukan dengan proses outsourcing ataupun kontraktor. Klausul
spesifik kontraktor terdapat di klausul 8.1.4.2 sedangkan klausul
untuk outsourcing disebutkan di klausul 8.1.4.3. Adanya klausul
spesifik untuk outsourcing dan kontraktor inilah yang berbeda dengan
OHSAS 18001 di mana OHSAS 18001 memasukkan keduanya dalam
klausul 4.4.6 operational control.
Dalam pelaksanaanya, organisasi direkomendasikan untuk dapat
memastikan peralatan, instalasi, dan materal telah aman untuk
digunakan oleh pekerja dengan :
1. Proses pengantaran peralatan harus memiliki spesifikasi yang
sesuai dan telah diuji agar dapat diantarkan seperti yang telah
direncanakan
2. Instalasi alat atau barang telah sesuai dengan standar yang
berlaku
3. Material dikirim sesuai dengan spesifikasi
4. Persyaratan penggunaan, peringatan dan perlindungan lain
telah dikomunikasikan dan tersedia
e. Manamegent of Change
Management of change (manajemen perubahan) bertujuan untuk
meningkatkan keselamatan dan kesehatan kerja dengan cara
mengurangi bahaya dan risiko baru dalam lingkungan kerja sebagai
akibat dari terjadinya perubahan/pergantian. Contoh penggantian yang
bisa terjadi dalam organisasi adalah teknologi, peralatan, fasilitas,
praktek kerja, prosedur, spesifikasi desain, bahan baku, staf, serta
standard dan regulasi.
Pada ISO 45001, Klausul management of change dibahas dalam 1
klausul tersendiri yaitu di klausul 8.1.3. Hal ini berbeda dengan
OHSAS 18001 yang tidak memiliki klausul tersendiri
untuk management of change karena terintegrasi seperti dalam klausul
4.3.1 dan 4.4.6.
f. Improvement
ISO 45001 mengharuskan organisasi untuk menentukan peluang
improvement (peningkatan) dan melakukan tindakan yang dibutuhkan
untuk mencapai hasil yang diharapkan dalam sistem manajemen K3.
Klausul improvement merupakan klausul 10 yang menjadi klausul
terakhir dalam ISO 45001. Dalam OHSAS 18001, tidak ada khusus
klausul untuk membahas spesifik terkait dengan improvement namun
tetap terintegrasi dengan beberapa klausul lain.

Dalam melakukan improvement, organisasi bisa melakukan investigasi


kecelakaan, perbaikan ketidaksesuaian dan tindakan perbaikan serta
program improvement lain. Organisasi dapat meningkatkan (improve)
kesesuaian, kecukupan dan efektifitas dari manajemen K3 dengan:
a. Meningkatkan performa Keselamatan dan Kesehatan Kerja

b. Promosi budaya yang mendukung sistem manajemen Keselamatan


dan kesehatan kerja

c. Promosi partisipasi pekerja dalam menerapkan tindakan untuk


peningkatan berkelanjutan dari sistem manajemen K3

d. Mengkomunikasikan hasil yang relevan dari peningkatan


berkelanjutan kepada pekerja atau wakil dari pekerja

e. Memelihara documented information sebagai bukti peningkatan


berkelanjutan.
2. Definisi
ISO 45001 menyertakan beberapa konsep fundamental yang berubah
seperti “risiko” dan “pihak terkait (interested party)”.
Contoh perbedaan istilah terdapat pada contoh di bawah:
a. Risk
Istilah “risk” dalam ISO 45001 disebutkan sebagai: “effect of
uncertainty”. “risk” dalam OHSAS 18001 disebutkan sebagai:
“combination of the likelihood of an occurrence of a hazardous
event or exposure(s) and the severity of injury or ill health that can
be caused by the event or exposure(s).”
“Risk” dalam ISO 45001 mengandung unsur “effect” di mana adalah
sebuah penyimpangan dari yang diharapkan baik positif atau negatif.
Sedangkan “uncertainty” adalah sebuah keadaan, baik parsial, dari
defisiensi informasi yang berkaitan dengan pengetahuan
sebuah “event”, “consequence” dan “likelihood”
b. Interested party
Istilah “pihak terkait (interested party)” dalam OHSAS 18001
disebutkan sebagai:
“Person or group, inside or outside the workplace, concerned with or
affected by the OHS Performance of an organization”,
sedangkan dalam interested party dalam ISO 45001 disebutkan
sebagai:
“person or organization that can affect, be affected by, or perceive
itself to be affected by a decision or activity”
3. Istilah
a. OH&S opportunity
ISO 45001 mengenalkan sebuah konsep baru yang disebut OH&S
Opportunity yang memiliki arti:
“circumstance or set of circumstance that can lead to improvement
of OH&S performance”,
sedangkan dalam OHSAS 18001, hanya mengindentifikasi resiko
tanpa mengidentifikasi opportunity.
b. Shall, should, may, dan can
Pada ISO 45001, perbedaan keempat kata tersebut langsung
dijelaskan pada bagian 0.5 contents of this document. Keempat kata
tersebut berarti:
 Shall menunjukkan keharusan
 Should menunjukkan rekomendasi
 May menunjukkan izin (permission)
 Can menunjukkan kemungkinan atau kapabilitas

sedangkan pada OHSAS 18001 tidak dijelaskan secara jelas.

c. Hazard Identification
ISO 45001 dan OHSAS 18001 memiliki kesamaan dalam
identifikasi bahaya yaitu mengharuskan untuk “ongoing” dan
“proactive”. ISO 45001 memasukkan beberapa pertimbangan baru
dalam identifikasi bahaya yang tidak disebutkan dalam OHSAS
18001.
Pertimbangan baru dalam identifikasi bahaya ISO 45001:
 Faktor Sosial (beban kerja, jam kerja, dll)
 Kecelakaan kerja baik internal atau eksternal organisasi,
termasuk juga kejadian gawat darurat dan penyebabnya
 Potensi situasi darurat
 Perubahan dari pengetahuan terhadap bahaya
d. Opportunities
Opportunities adalah konsep baru pada ISO 45001 yang tidak
dimiliki oleh OHSAS 18001. Organisasi harus memelihara proses
untuk:
 Peluang K3 untuk meningkatkan performa K3 termasuk peluang
dalam adaptasi terhadap pekerjaan, organisasi kerja serta
lingkungan pekerja

 Peluang lain untuk meningkatkan sistem manajemen K3

4. Tujuan
OHSAS 18001 dan ISO 45001 memiliki tujuan tertulis yang berbeda.
OHSAS 18001 memiliki tujuan yang lebih berkonsetrasi pada
pengendalian risiko, sedangkan ISO 45001 memiliki tujuan yang lebih
berkonsentrasi pada meningkatkan kinerja K3 secara proaktif.
Secara tertulis, tujuan OHSAS 18001 adalah:
“to enable an organization to control its OH&S risks and improve its
OH&S performance”
Sedangkan tujuan ISO 45001 adalah:
“to enable an organization to proactively improve its OH&S
performance in preventing injury and ill-health”
5. Dokumentasi dan Informasi
Dalam ISO 45001, dokumen dan catatan dihilangkan dan dijadikan
istilah baru sebagai “documented information” yang diartikan sebagai:
“information required to be controlled and maintained by an
organization and the medium on which it is contained”
ISO 45001 tidak mensyaratkan dokumen harus berupa prosedur, cetakan
kertas atau bentuk paper based lain. ISO 45001 memperbolehkan
untuk documented information ini dalam format dan media apapun dari
sumber manapun. Berbeda dengan pendahulunya yaitu OHSAS 18001
yang fokus pada pemeliharaan dokumen serta catatan dalam bentuk
cetakan kertas.
2. Partisipasi dan konsultasi dari non-managerial workers
ISO 45001 menyusun 3 tingkat jenjang karir pekerja yaitu: top
management, managerial worker, dan non-managerial worker. Dalam
hal jumlah, biasanya jumlah pekerja dalam posisi non-managerial
worker lebih banyak daripada posisi yang lain. Selain jumlahnya banyak,
mereka pekerja dalam posisi non-managerial worker juga terpapar
langsung dengan risiko-risiko di tempat kerja. Namun, alasan-alasan
tersebut kadang tidak membuat posisi non-managerial worker kuat
dalam Sistem Manajemen Keselamatan Kerja.
Pada Klausul 5.4 ISO 45001 dibahas partisipasi dan konsultasi pekerja
khususnya pekerja dalam posisi non-managerial worker. Partisipasi dan
konsultasi non-managerial worker inilah yang tidak dibahas secara
spesifik dalam OHSAS 18001.
Hal yang diperluas untuk melibatkan partisipasi pekerja non-
managerial antara lain:
a. Identifikasi bahaya, risiko dan peluang (opportunities)
b. Penentuan tindakan eliminasi bahaya dan pengendalian risiko K3
c. Penentuan persyaratan kompetensi, kebutuhan pelatihan, pelatihan
dan evaluasi pelatihan
d. Investigasi kecelakaan dan tindakan pengendaliannya

Hal yang diperluas untuk melibatkan konsultasi pekerja non-


managerial antara lain:
a. Kebijakan K3
b. Target K3
c. Pemenuhan legal
d. Pelaksanaan program audit
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
1. Tahun 1999 Inggris melalui BSI (British Standards Institution) mengajak
13 lembaga standar lainnya membuat sebuah project standar bidang K3
digunakan oleh dunia industry dalam melakukan assessment terhadap
SMK3 yang telah mereka terapkan, yang melahirkan seri OHSAS
(Occupational Health and Safety Assessment Series) 18001:1999 dan
ditetapkan 15 April 1999. BSI bersama 43 lembaga standar dari berbagai
macam negara, melakukan revisi serie OHSAS 1999, sehingga pada Juli
2007 diberlakukan secara efektif standar OHSAS versi 2007 yang masa
berlaku sampai tahun 2021, kemudian pada tanggal 12 Maret 2018 di
perkenalkan lah ISO 45001 sebagai revisi atas OHSAS 18001 versi 2007.
(Anonim, 2017)
2. ISO 45001 adalah standar internasional yang menetapkan persyaratan
untuk sistem manajemen kesehatan dan keselamatan kerja yang
dilengkapi dengan panduan dan cara penggunaannya, sehingga
memungkinkan suatu organisasi untuk secara proaktif meningkatkan
kinerja kesehatan dan keselamatan kerja dalam upaya mencegah cedera
dan sakit / masalah kesehatan saat bekerja. (The Quality Magazine, 2016)
3. Manfaat Penerapan ISO 45001, antara lain :
a. Mengembangkan dan menerapkan Sistem Manajemen untuk
mengurangi atau meminimalisir kecelakaan kerja atau sakit akibat
kerja
b. Membangun proses sistematis terkait dengan K3 yang
mempertimbangkan “konteksnya” dan yang memperhitungkan risiko
dan peluangnya, dan persyaratan hukum dan lainnya
c. Menentukan bahaya dan risiko yang terkait dengan aktivitasnya dan
berusaha untuk menghilangkannya , atau melakukan kontrol untuk
meminimalkan dampak potensial resiko dan bahayanya.
d. Menetapkan pengendalian operasional untuk mengelola risiko K3 dan
persyaratan hukum dan lainnya
e. Meningkatkan kesadaran akan risiko K3
f. Mengurangi keseluruhan biaya insiden
g. Mengurangi downtime dan biaya gangguan operasi
h. Mengurangi biaya premi asuransi
i. Mengurangi ketidakhadiran dan tingkat turnover karyawan
4. ISO 45001 bisa diterapkan jika organisasi itu merupakan bisnis mikro,
atau konglomerat global, maka berhak untuk menerapkan dan di
sertifikasi ISO 45001, termasuk juga organisasi non-profit, amal, lembaga
akademis, atau departemen pemerintah. Selama organisasi tersebut
memiliki pekerja atau orang yang bekerja atas nama organisasi tersebut
serta berpotensi terkena dampak kegiatan, diharapkan menggunakan
pendekatan sistematis untuk mengelola kesehatan dan keselamatan
pekerja. Standar ini dapat digunakan pada aktifitas operasional berisiko
rendah dengan skala kecil sampai yang berisiko tinggi dengan skala besar
(The Quality Magazine, 2016).
5. OH&S Management System dalam ISO 45001:2018 menggunakan
pendekatan berdasarkan konsep PDCA (Plan – Do – Check – Act) yang
dimodifikasi menjadi framework baru (Context of Organization, Plan,
Do, Check, Act).
6. Dalam ISO 45001, dokumen dan catatan di hilangkan dan diganti menjadi
istilah baru, yakni “Document Information”. ISO 45001 tidak
mensyaratkan dokumen harus berupa prosedur, media pendukung berupa
kertas, magnetik, elektronik, foto atau kombinai dari semuanya. ISO
45001 memperbolehkan informasi terdokumentasi dalam format dan
media pendukung apa pun, serta dari sumber mana pun (Safetysign,
2018). sesuai dengan persyaratan ISO 45001 Dokumen dan rekaman
terbagi menjadi dokumen wajib serta dokumen tidak wajib .
7. Perbedaan ISO 45001 dengan OHSAS 18001 dapat dilihat pada beberapa
aspek, yaitu: Struktur, Definisi, Istilah, Tujuan, Dokumentasi dan
Informasi, dan Partisipasi dan konsultasi dari non-managerial workers.
DAFTAR PUSTAKA

Advisera. 2016. ISO/DIS 45001:2016 vs. OHSAS


18001:2007.. http://cdn2.hubspot.net/hubfs/1983423/18001Academy/Fre
e_downloads_landing_pages/WP/DIS_ISO_45001-
2016_vs_OHSAS_18001-2007_matrix_EN.pdf?t=1492453231499/
Diakses pada tanggal 23 Maret 2019.

Anonim. New Standard: ISO 45001 – Standard Keselamatan dan Kesehatan


Kerja. The Quality Magazine Vol. 54. Halaman 28-30.

_______. 2018. Pengertian ISO 45001 dan manfaat penerapannya. Artikel.


http://sertifikat-iso.com/category/iso-45001. Diakses tanggal 24 Maret
2019.

_______. 2018. Persyaratan Dokumen ISO 45001. https://wqa.co.id/persayaratan-


dokumen-iso-45001/ Diakses pada tanggal 24 Maret 2019.

_______. 2017. Sejarah OHSAS dan perkembangannya. Artikel.


https://wqa.co.id/sejarah-ohsas-18001-dan-perkembangannya/. Diakses
tanggal 24 Maret 2019.

GMCI. 2018. Pengertian ISO 45001 Dan Manfaat Penerapannya. http://sertifikat-


iso.com/ Diakses pada tanggal 24 Maret 2019 jam 10.56

_____. 2016. Manfaat Penerapan ISO 45001 Bagi Perusahaan. http://sertifikat-


iso.com/ Diakses pada tanggal 24 Maret 2019 jam 10.54

ILO. 2013. Keselamatan dan Kesehatan Kerja di Tempat Kerja Sarana untuk
Produktivitas.

International Organization of Standarization. 2018. “Occupational health and


safety ISO 45001”. Iso.org. Switzerland. ISBN 978-92-67-10788-2.
_____________________________________. 2018. ISO 45001 – Occupational
health and safety. https://www.iso.org/iso-45001-occupational-health-
and-safety.html/ . Diakses pada tanggal 23 Maret 2019.

ISO 45001. 2018. Occupational health and safety management systems 一


Requirements with guidance for use, First Edition. Switzerland: ISO.

Mahendra, Rendi. 2015. Perubahan Timeline Penerbitan ISO 45001. artikel


https://isoindonesiacenter.com/perubahan-timeline-penerbitan-iso-45001/
Diakses pada tanggal 24 maret 2019.

SafetySign. 2018. “ ISO 45001:2018 telah Rilis, Ini Hal-Hal Penting yang Harus
anda Ketahui!”. https://safetysign.co.id/news/347/ISO-45001-2018-
Telah-Rilis-Ini-Hal-Hal-Penting-yang-Harus-Anda-Ketahui. Diakses
pada 24 Maret 2019.

Sektiono, Eko Budi. 2018. “Daftar Dokumen Wajib ISO 45001”.


https://ekobudisektiono.id/daftar-dokumen-wajib-iso-45001/ Diakses
pada tanggal 24 Maret 2019.

Supriyadi, Agung. 2018. 15 Perbedaan ISO 45001 dan OHSAS 18001.


https://katigaku.top/2018/03/20/15-perbedaan-iso-45001-dan-ohsas-
18001/ Diakses pada tanggal 23 Maret 2019.