Anda di halaman 1dari 16

LAPORAN PENDAHULUAN

MENINGOCELE

A. Definisi
Meningocele adalah penonjolan meninges seperti hernia. Meningocele
merupakan deformitas kongenital yang serius dan selalu terletak di atas sebuah
sutura atau fontanella dan menjadi tegang kalau bayinya menangis (Oxorn &
Forte, 2010). Herniasi atau benjolan ini dapat berisi meningen dan cairan
serebrospinal saja (disebut meningokel kranial) dapat juga berisi meningen,
cairan serebrospinal dan jaringan/parenkim otak disebut meningoensefalokel.
Secara umum herniasi melalui defek kranium disebut meningoensefalokel,
walaupun sebenarnya berbeda patologi, pengobatan dan prognosisnya. Kira-kira
75% meningoensefalokel didapatkan di regio oksipital, dapat terlihat sebagai
kantong kecil bertangkai atau struktur seperti kista besar, dapat lebih besar
daripada kranium; tertutup oleh kulit seluruhnya; kadang-kadang di tempat-
tempat tertentu hanya dilapisi oleh membran tipis seperti kertas perkamen.

B. Etiologi
Meningokel disebabkan oleh kegagalan penutupan tabung saraf selama
perkembangan janin. Kegagalan penutupan tabung saraf ini disebabkan oleh
gangguan pembentukan tulang kranium saat dalam uterus seperti kurangnya
asupan asam folat selama kehamilan, adanya infeksi pada saat kehamilan
terutama infeksi TORCH, mutasi gen (terpapar bahan radiologi), obat–obatan
yang mengandung bahan yang terotegenik. Meningokel juga disebabkan oleh
defek tulang kepala, biasanya terjadi dibagian occipitalis, kadang-kadang juga
dibagian nasal, frontal, atau parietal.

C. Klasifikasi
Berikut adalah klasifikasi meningoensefalokel menurut Suwanwel:
1. Ensefalomeningokel oksipital
2. Ensefalomeningokel lengkung tengkorak
a. Interfrontal
b. Fontanel anterior
c. Interparietal
d. Fontanel posterior
e. Temporal
3. Ensefalomeningokel fronto-ethmoidal
a. Nasofrontal
b. Naso-ethmoidal
c. Naso-orbital
4. Ensefalomeningokel basal
a. Transethmoidal
b. Sfeno-ethmoidal
c. Transsfenoidal
d. Frontosfenoidal atau sfeno-orbital
5. Kranioskhisis
a. Kranial, fasial atas bercelah
b. Basal, fasial bawah bercelah
c. Oksipitoservikal bercelah
d. Akrania dan anensefali.
Meningoensefalokel oksipital merupakan 70 persen sefalokel
(pada geografis). Dibagi kedalam subkelompok sesuai hubungannya
dengan protuberansia oksipital eksterna (EOP): sefalokel oksipitalis
superior, di mana terletak di atas EOP, dan sefalokel oksipitalis
inferior, yang terletak dibawah EOP. Penonjolan lobus oksipital
tampak di sefalokel superior, di mana serebelum menonjol dalam
sefalokel inferior. Bila defek tulang meluas turun ke foramen magnum,
keadaan ini disebut sefalokel oksipitalis magna. Hubungan sefalokel
ini dengan spina bifida servikalis disebut sefalokel oksipitoservikalis
(iniensefali).
Meningoensefalokel anterior jarang dibanding
meningoensefalokel posterior. Yang pertama biasanya dibagi ke
dalam dua kelompok: meningoensefalokel sinsipital (tampak) dan
meningoensefalokel basal (tak tampak). Mungkin juga di bagi kedalam
empat kelompok:
a. meningoensefalokel frontal,
b. meningoensefalokel frontonasal,
c. meningoensefalokel fronto-ethmoid, dan
d. meningoensefalokel nasofaringeal.
Sambungan tulang frontal dan kartilago nasal adalah tempat
yang umum dari sefalokel; hubungan ini menjadi titik lemah karena
pertumbuhan yang berbeda tulang frontal dan kartilago nasal.
Suwanwela menyebut sefalokel di regio ini sebagai
meningoensefalokel fronto-ethmoid dan dikelompokkan ke dalam tiga
subkelompok:
a. Jenis nasofrontal: menonjol pada sambungan tulang frontal dan
tulang nasal.
b. Jenis nasoethmoid: menonjol pada tulang nasal atau kartilago
nasal.
c. Jenis naso-orbital: menonjol dari bagian anterior tulang ethmoid
dari bagian anterior orbit.
Meningoensefalokel basal dapat dibagi kedalam lima
kelompok:
a. Meningoensefalokel transethmoidal (intranasal): herniasi
kedalam kavum nasal melalui lamina kribrosa.
b. Meningoensefalokel sfeno-ethmoid (intranasal posterior):
herniasi kebagian posterior kavum nasal melalui tulang sfenoid.
c. Meningoensefalokel transsfenoid (sfenofaringeal): herniasi
kenasofaring melalui tulang sfenoid.
d. Meningoensefalokel sfeno-orbital: herniasi keruang orbit
melalui fissura orbital superior.
e. Meningoensefalokel sfenomaksillari: herniasi kerongga orbit
melalui fissura pterigoid, kemudian kefossa pterigoid melalui
fissura intra orbital.

D. Patofisiologi
Meningoensefalokel adalah suatu kelainan tabung saraf yang ditandai
dengan adanya penonjolan meningens (selaput otak) dan otak yang berbentuk
seperti kantung melalui suatu lubang pada tulang tengkorak.
Meningoensefalokel disebabkan oleh kegagalan penutupan tabung saraf selama
perkembangan janin.
Ada dua bentuk disrafisme utama yang mempengaruhi tulang kranial, dan
menghasilkan protrusi jaringan melalui defek linea mediana tulang yang disebut
cranium bifidum. Mielomeningokel cranium terdiri dari kantong meninges yang
terisi hanya cairan serebrospinal dan meningoensefalokel mengandung kantung
dan korteks serebri, serebelum, atau bagian batang otak. Defek kranium paling
lazim pada daerah oksipital pada atau di bawah sambungan, dan sebagian
terjadi frontal atau nasofrontal. Kelainan ini adalah sepersepuluh dari defek
penutupan tuba neuralis yang melibatkan spina. Etiologi ini dianggap sama
dengan etiologi anensefali dan mielomeningokel.
Bayi dengan meningoensefalokel kranium beresiko untuk terjadinya
hirdosefalus karena stenosis akuaduktus, malformasi Chiari, atau sindrom
Dandy-Walker. Pemeriksaan dapat menunjukkan kantung kecil dengan batang
bertangkai atau struktur seperti kista besar yang dapat melebihi ukuran kranium.
Lesi ini dapat tertutup total dengan kulit, namun daerah yang tidak berkulit
(denuded skin) dapat terjadi dan memerlukan manajemen bedah segera.
Transiluminasi kantung dapat menampakkan adanya jaringan saraf.

E. Manifestasi Klinis
Gejala klinis sangat bervariasi tergantung malformasi serebral yang
terjadi, termasuk hidrosefalus dan banyaknya jaringan otak yang mengalami
displasia dan masuk ke dalam kantung meningoensefalokel. Jika hanya
mengandung meningen saja, prognosisnya lebih baik dan dapat berkembang
normal. Gejala-gejala sehubungan dengan malformasi otak adalah mental
retardasi, ataxia spastik, kejang, buta dan gangguan gerakan bola mata.
Sebenarnya diagnosis perinatal dapat ditegakkan dengan pemeriksaan USG,
alfa feto protein cairan amnion dan serum ibu.
Ukuran dari meningoensefalokel mempengaruhi ukuran dari tengkoran
dan otak tergantung dari besarnya protrusi pada tengkorak. Bila protrusi besar,
maka tengkorak akan tampak seperti mikrosefali, karena banyak jaringan otak
yang sudah keluar. Menigoensefalokel jarang berhubungan dengan malformasi
serebri saja dan biasanya berhubungan dengan abnormalitas dari hemisper
serebri, serebelli dan otak tengah.
Meningoensefalokel anterior sering bersamaan dengan anomali muka,
seperti bibir dan langit-langit bercelah. Empat anomali yaitu meningoensefalokel
oksipital, hidrosefalus, deformitas Klippel-Feil, dan langit-langit bercelah sering
terjadi sebagai tetrad. Kelainan jantung kongenital dan ekstremitas yang
displastik adalah anomali yang berhubungan yang terletak di bagian lain dari
badan.
Hidrosefalus mungkin terjadi sebelum diperbaikinya sefalokel, atau
mungkin terbentuk setelah operasi. Insiden hidrosefalus yang menyertai pada
meningoensefalokel oksipital adalah 25 persen pada meningokel dan 66 persen
pada meningoensefalokel. Hidrosefalus yang bersamaan pada
meningoensefalokel anterior jarang. Seperti pada spina bifida, insidens
hidrosefalus lebih tinggi pada sefalokel yang mengandung jaringan otak. Insiden
hidrosefalus yang menyertai pada meningoensefalokel oksipital adalah hampir
sama dengan pada mielomeningokel.
F. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan radiologis dilakukan untuk menilai struktur patologis
sefalokel: daerah defek tulang, ukuran serta isi sefalokel, ada atau tidaknya
anomali SSP, dan dinamika CSS.
Lubang defek tulang pada meningoensefalokel oksipital mudah dikenal
pada foto polos tengkorak. Sebagai tambahan terhadap daerah defek tulang,
perluasan defek dan ada atau tidaknya kraniolakunia dapat diketahui. Ada
atau tidaknya otak yang vital dikantung dapat ditentukan dengan ventrikulografi
dan angiografi serebral, namun CT scan memperlihatkan tidak hanya isi
kantung namun semua kelainan intrakranial yang bersamaan.
Meningoensefalokel oksipital harus didiferensiasi dari kasus garis
tengah lainnya, seperti sinus perikranii, dan holoprosensefali. Sinus perikranii
sangat lebih kompresibel dibanding meningoensefalokel. CT scan
memperlihatkan displasia serebral sebagai tambahan atas kantung dorsal
pada holoprosensefali. Angiografi serebral mungkin perlu untuk membedakan
meningoensefalokel oksipital dari kantung dorsal holoprosensefali;
holoprosensefali didi- agnosis oleh adanya arteria serebral anterior azigos.
Untuk memeriksa lubang dari defek tulang pada meningoensefalokel
anterior, tomografi fossa anterior dan CT scan diperlukan. Meningoensefalokel
anterior harus didiferensiasi dari polip nasal, teratoma orbitofronal, glioma
ektopik (nasal), dan keadaan serupa. Teratoma orbitofrontal mungkin
menampakkan kalsifikasi pada foto polos dan meluas kedalam ruang
intrakranial. Tumor ini menjadi maligna dengan pertambahan usia. Glioma nasal
adalah tumor neurogenik kongenital yang jarang yaitu massa heterotopik
nonneoplastik dari jaringan neuroglial. Tapi mungkin tumbuh seperti neoplasma
sejati, menginfiltrasi jaringan sekitarnya, serta metastasis ke nodus limfe
regional.
MRI kranial dapat memberi gambaran yang pasti dari kandungan dalam
meningiensefalokel. Meskipun terletak pada garis tengah, isi dari protrusi
biasanya dari salah satu hemisfer yang lebih kecil.

G. Komplikasi
Meningoensefalokel sering disertai dengan kelainan kranium fasial atau
kelainan otak lainnya, seperti hidrochephalus atau kelainan kongenital lainnya
(Syndrome Meckel, syndrome dandy-walker). Kelainan kepala lainnya yang
dapat dideteksi dengan USG adalah kista otak, miensefalus (fusi tulang occiput
vertebrata sehingga janin dalam sikap hiperekstensi), huloprokensefalus (hanya
berbentuk sebuah rongga ventrikel yang berdilatasi), hindranensefalus (destruksi
total jaringan otak sehingga kepala hanya berisi cairan), kelainan bentuk kepala
(dulikochephaluskh, branchi chpalusk) dan sebagainya.12
Berikut adalah beberapa komplikasi dari meningoensefalokel, yaitu:
a. Kelumpuhan keempat anggota gerak (kuadri plegia spastik)
b. Gangguan perkembangan
c. Mikrosefalus
d. Hidrosefalus
e. Gangguan penglihatan
f. Keterbelakangan mental dan pertumbuhan
g. Ataksia
h. Kejang.

H. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan meningoensefalokel tergantung dari isi dan luas dari
anomali. Pada meningokel oksipital, di mana kantung tidak mengandung
jaringan saraf, hasil dari pembedahan hampir selalu baik. Tetapi pada
meningoensefalokel yang berisi jaringan otak biasanya diakhiri dengan kematian
dari anak.
Hampir semua meningoensefalokel memerlukan intervensi bedah saraf,
kecuali massanya terlalu besar dan dijumpai mikrosefali yang jelas. Bila
mungkin, tindalan bedah sedini mungkin untuk menghindari infeksi, apalagi bila
ditemui kulit yang tidak utuh dan perlukaan di kepala.
Pada neonatus apabila dijumpai ulkus pada meningoensefalokel atau
tidak terjadi kebocoran cairan serebrospinal, operasi segera dilakukan. Pada
meningoensefalokel yang ditutupi kulit kepala yang baik, operasi dapat ditunda
sampai keadaan anak stabil. Tujuan operasi adalah menutup defek (watertight
dural closure), eksisi masa otak yang herniasi serta memelihara fungsi otak.
Defek tulang yang cukup besar dapat diperbaiki dengan wire mesh,
plastik atau tulang, tetapi jarang diperlukan. Hasil akhir operasi sukar dipastikan
oleh karena bervariasinya kasus. Pada tindakan bedah terhadap 40 penderita
didapati 15 orang (38%) meninggal dan dari 25 orang yang hidup 14 orang
(56%) intelegensianya normal meskipun sering dijumpai gangguan motorik dan
pada 11 orang (44%) dijumpai gangguan intelektual dan motorik.
1. Penanganan Pra Bedah
Segera setelah lahir daerah yang terpakai harus dikenakan kasa
steril yang direndam salin yang ditutupi plastik, atau lesi yang terpapar harus
ditutupi kasa steril yang tidak melekat untuk mencegah jaringan saraf yang
terpaparmenjadi kering.
Perawatan pra bedah neonatus rutin dengan penekanan khusus
pada saat mempertahan suhu tubuh yang dapat menurun dengan cepat.
Pada beberapa pusat tubuh bayi ditempatkan dalam kantong plastik untuk
mencegah kehilangan panas yang dapat terjadi akibat permukaan lesi yang
basah. Lingkaran occipito frontalis kepala diukur dan dibuat grafiknya.
Diperlukan pemeriksaan X-Ray kepala AP/LAT dan diambil photografi dari
lesi.
2. Perawatan Pasca Bedah
Pemberian makan per oral dapat diberikan 4 jam setelah
pembedahan. Jika ada drain penyedotan luka maka harus diperiksa setiap
jam untuk menjamin tidak adanya belitan atau tekukan pada saluran dan
terjaganya tekanan negatif dan wadah. Lingkar kepala diukur dan dibuat
grafik sekali atau dua kali seminggu. Sering kali terdapat peningkatan awal
dalam pengukuran setelah penutupan luka operasi dan jika peningkatan ini
berlanjut dan terjadi perkembangan hidrochephalus maka harus diberikan
terapi yang sesuai.
ASUHAN KEPERAWATAN
A. Pengkajian
Perawat mengumpulkan informasi tentang riwayat kejang pasien. Pasien
ditanyakan tentang faktor atau kejadian yang dapat menimbulkan kejang. Asupan
alkohol dicatat. Efek epilepsi pada gaya hidup dikaji: Apakah ada keterbatasan yang
ditimbulkan oleh gangguan kejang? Apakah pasien mempunyai program rekreasi?
Kontak sosial? Apakah pengalaman kerja? Mekanisme koping apa yang digunakan?
1. Identitas
Identitas klien meliputi : nama, umur, jenis kelamin, agama, suku bangsa,alamat,
tanggal masuk rumah sakit, nomor register, tanggal pengkajian dan diagnosa medis.
2. Keluhan utama
Merupakan kebutuhan yang mendorong penderita leukimia untuk masuk RS.
keluhan utama pada penderita leukemia yaitu perasaan lemah, nafsu makan turun,
demam, perasaan tidak enak badan, nyeri pada ektremitas.
3. Riwayat penyakit sekarang
Merupakan riwayat klien saat ini meliputi keluhan, sifat dan hebatnya keluhan, mulai
timbul. Biasanya ditandai dengan anak mulai rewel, kelihatan pucat, demam,
anemia, terjadi pendarahan ( ptekia, ekimosis, pitaksis, pendarah gusi dan memar
tanpa sebab), kelemahan tedapat pembesaran hati, limpa, dan kelenjar limpe,
kelemahan. nyeri tulang atau sendi dengan atau tanpa pembengkakan.
4. Riwayat penyakit dahulu
Adanya riwayat penyakit sebelumnya yang berhubungan dengan keadaan
penyakit sekarang perlu ditanyakan.
Riwayat kehamilan dan kelahiran.
Dalam hal ini yang dikaji meliputi riwayat prenatal, natal dan post natal. Dalam
riwayat prenatal perlu diketahui penyakit apa saja yang pernah diderita oleh ibu.
Riwayat natal perlu diketahui apakah bayi lahir dalam usia kehamilan aterm atau
tidak karena mempengaruhi sistem kekebalan terhadap penyakit pada anak. Trauma
persalinan juga mempengaruhi timbulnya penyakit contohnya aspirasi ketuban untuk
anak. Riwayat post natal diperlukan untuk mengetahui keadaan anak setela
6. Riwayat penyakit keluarga
Merupakan gambaran kesehatan keluarga, apakah ada kaitannya dengan
penyakit yang dideritanya. Pada keadaan ini status kesehatan keluarga perlu
diketahui, apakah ada yang menderita gangguan hematologi, adanya faktor
hereditas misalnya kembar monozigot.
Obsevasi dan pengkajian selama dan setelah kejang akan membantu dalam
mengindentifikasi tipe kejang dan penatalaksanaannya.
Selama serangan :
- Apakah ada kehilangan kesadaran atau pingsan.
- Apakah ada kehilangan kesadaran sesaat atau lena.
- Apakah pasien menangis, hilang kesadaran, jatuh ke lantai.
- Apakah disertai komponen motorik seperti kejang tonik, kejang klonik, kejang
tonik-klonik, kejang mioklonik, kejang atonik.
- Apakah pasien menggigit lidah.
- Apakah mulut berbuih.
- Apakah ada inkontinen urin.
- Apakah bibir atau muka berubah warna.
- Apakah mata atau kepala menyimpang pada satu posisi.
- Berapa lama gerakan tersebut, apakah lokasi atau sifatnya berubah pada satu
sisi atau keduanya.
Sesudah serangan:
- Apakah pasien : letargi , bingung, sakit kepala, otot-otot sakit, gangguan
bicara
- Apakah ada perubahan dalam gerakan.
- Sesudah serangan apakah pasien masih ingat apa yang terjadi sebelum,
selama dan sesudah serangan.
- Apakah terjadi perubahan tingkat kesadaran, pernapasan atau frekuensi
denyut jantung.
- Evaluasi kemungkinan terjadi cedera selama kejang.
Riwayat sebelum serangan:
- Apakah ada gangguan tingkah laku, emosi.
- Apakah disertai aktivitas otonomik yaitu berkeringat, jantung berdebar.
- Apakah ada aura yang mendahului serangan, baik sensori, auditorik, olfaktorik
maupun visual.
Riwayat Penyakit
- Sejak kapan serangan terjadi.
- Pada usia berapa serangan pertama.
- Frekuensi serangan.
- Apakah ada keadaan yang mempresipitasi serangan, seperti demam, kurang
tidur, keadaan emosional.
- Apakah penderita pernah menderita sakit berat, khususnya yang disertai
dengan gangguan kesadaran, kejang-kejang.
- Apakah pernah menderita cedera otak, operasi otak
- Apakah makan obat-obat tertentu
- Apakah ada riwayat penyakit yang sama dalam keluarga
7. Pemeriksaan fisik
a. Aktivitas
Gejala : kelelahan, malaise, kelemahan.
Tanda : kelemahan otot, somnolen.
b. Sirkulasi
Gejala : palpitasi.
Tanda : Takikardi, membrane mukosa pucat.
c. Eliminasi
Gejala : diare, nyeri, feses hitam, darah pada urin, penurunan haluaran urine.
d. Makanan / cairan
Gejala : anoreksia, muntah, penurunan BB, disfagia.
Tanda : distensi abdomen, penurunan bunyi usus, hipertropi gusi (infiltrasi
gusi mengindikasikan leukemia monositik akut).
e. Integritas ego
Gejala : perasaan tidak berdaya / tidak ada harapan.
Tanda : depresi, ansietas, marah.
f. Neurosensori
Gejala : penurunan koordinasi, kacau, disorientasi, kurang konsentrasi,
pusing, kesemutan.
Tanda : aktivitas kejang, otot mudah terangsang.
g. Nyeri / kenyamanan
Gejala : nyeri abdomen, sakit kepala, nyeri tulang / sendi, kram otot.
Tanda : gelisah, distraksi.
h. Pernafasan
Gejala : nafas pendek dengan kerja atau gerak minimal.
Tanda : dispnea, takipnea, batuk.
i. Keamanan
Gejala : riwayat infeksi saat ini / dahulu, jatuh, gangguan penglihatan,
perdarahan spontan, tak terkontrol dengan trauma minimal.
Tanda : demam, infeksi, purpura, pembesaran nodus limfe, limpa atau hati.
B. Diagnosa Keperawatan
1. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan adanya organisme infektif
2. Resiko cedera berhubungan dengan lesi spinal
3. Resiko cedera berhubungan dengan kerusakan sirkulasi cairan serebrospinal
4. Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan kekuatan dan ketahanan
sekunder akibat peningkatan tekanan intracranial
5. Perubahan proses keluarga berhubungan dengan perubahan emosi pada
semua anggota keluarga yang berkaitan dengan pengobatan atau sakitnya
anggota keluarga
6. Risiko hambatan kedekatan orang tua-bayi berhubungan dengan hambatan
untuk menggendong sekunder akibat pemantauan pada perawatan intensif
7. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan kerusakan imobilitas
sekunder akibat reposisi tidak efektif
8. Ketidakseimbangan Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan
dengan penurunan nafsu makan dan berat badan

Intervensi
1. Diagnosa : Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan adanya organisme
infektif.
Intervensi keperawatan/rasional
a. Posisikan bayi untuk mencegah kontaminasi urin dan feses
b. Bersihkan mielomeningokel dengan cermat menggunakan salin normal
steril bila bagian ini menjadi kotor atau terkontaminasi
c. Berikan balutan steril dan lembab dengan larutan steril sesuai instruksi
(salin normal, antibiotik) untuk mencegah pengeringan kantong
d. Berikan antibiotik sesuai resep
e. Pantau dengan cermat tanda-tanda infeksi (peningkatan suhu, peka
rangsang, latergi, kaku kuduk) untuk mencegah keterlambatan
pengobatan dalam pengobatan
f. Berikan perawatan serupa untuk sisi operatif pada paskaoperasi
2. Diagnosa: Risti trauma berhubungan dengan lesi spinal
Intervensi keperawatan/rasional
a. Rawat bayi dengan cermat untuk mencegah kerusakan pada kantong
meningeal atau sisi pembedahan
b. Gunakan alat pelindung di sekitar kantong missal; selimut plastic bedah,
potong sesuai ukuran dan tempelkan dibawah kantong di samping
sacrum dan selimuti dengan longgar untuk memberikan lapisan pelindung
c. Modifikasi aktifitas keperawatan rutin (misal; member makan, merapikan
tempat tidur, aktifitas kenyamanan) untuk mencegah trauma

3. Diagnosa Risiko tinggi trauma berhubungan dengan kerusakan sirkulasi


cairan serebrospinal
Intervensi keperawatan/rasional
a. Ukur lingkaran oksifitoprontal setiap hari untuk mendeteksi peningkatan
tekanan intracranial dan terjadinya hidrosefalus
b. Observasi adanya tanda-tanda peningkatan intracranial, yang
menunjukkan terjadinya hidrosefalus.
- Peka rangsang
- Latergi
- Menangis bila diangakat atau digendon: diam bila tetap berbaring
- Peningkatan lingkar oksipitofrontal
- Peregangan sutura
- Perubahan tingkat kesadaran anak
- Sakit kepala (khusus di pagi hari)
- Apatis
- Konfusi

4. Diagnosa: Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan kekuatan dan


ketahanan sekunder akibat peningkatan tekanan intracranial

Intervensi keperawatan/rasional

a. Lakukan latihan rentang gerak pasif untuk mencegah kontraktur; jangan


memaksakan suatu titik tahanan untuk mencegah trauma
b. Lakukan peregangan otot bila diindikasikan untuk mencegah kontraktur
c. Pertahankan panggul pada abduksi ringan sampai sedang untuk
mencegah dislokasi, jaga agar kaki tetap berada pada posisi netral untuk
mencegah kontraktur
d. Gunakan gulungan popok, bantalan, bantal pasir kecil, atau alat yang
dirancang khusus untuk mempertahankan posisi yang diinginkan
5. Diagnosa: Perubahan proses keluarga berhubungan dengan perubahan
emosi pada semua anggota keluarga yang berkaitan dengan pengobatan
atau sakitnya anggota keluarga
Intervensi keperawatan/rasional
a. Beri dukungan emosional kepada orang tua
b. Bantu keluarga dalam menghadapi kekhawatirannya terhadap situasi
c. Ciptakan lingkungan rumah sakit yang bersifat pribadi dan mendukung
untuk keluarga
d. Libatkan anggota keluarga dalam perawatan anggota keluarganya yang
sakit bila memungkinkan (member makan, memandikan, memakai baju,
ambulasi)
e. Bantu anggota keluarga mengubah harapan anggota keluarga yang sakit
dengan sikap realistis
6. Diagnosa : Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan kerusakan
imobilitas sekunder akibat reposisi tidak efektif
Intervensi keperawatan/rasional
a. Ubah posisi individu untuk berbalik atau mengangkat berat badannya
setiap 30 menit sampai 2 jam untuk penurunan takanan pada kulit
b. Instruksikan keluarga tentang teknik spesifik yang digunakan dirumah
untuk mencegah dekubitus
DAFTAR PUSTAKA

Betz Cecily L, Sowden Linda A. (2002). Buku Saku Keperawatan Pediatri. Jakarta
: EGC
Lynda Juall C, 1999, Rencana Asuhan dan Dokumentasi Keperawatan,
Penerjemah Monica Ester, EGC, Jakarta
Marilyn E. Doenges, 1999, Rencana Asuhan Keperawatan, Penerjemah Kariasa I
Made, EGC, Jakarta
NANDA, 2015. Panduan Diagnosa Keperawatan NANDA 2005 – 2006 Alih
bahasa Budi Santosa. Prima Medika.
Sacharin Rosa M. (1996). Prinsip Keperawatan Pediatrik. Alih bahasa : Maulanny
R.F. Jakarta : EGC.
Sylvia, A. pierce.1999. Patofisologi Konsep Klinis. Proses penyakit. Jakarta: EGC
Wong, Donna L., et al. 2008. Buku Ajar Keperawatan Pediatrik Wong. Volume 2.
Alih bahasa Agus Sunarta, dkk. EGC : Jakarta.
LAPORAN PENDAHULUAN DAN ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN AN.
E USIA 1 TAHUN DENGAN MENINGOCELE

Untuk Memenuhi Tugas Profesi Ners Departemen Pediatrik Di Ruang 15


RS. dr. Saiful Anwar Malang

Oleh:
Hanik Purnomowati
NIM. 180070300111037

PROGRAM PROFESI NERS


JURUSAN ILMU KEPERAWATAN
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
2019
PROGRAM PENDIDIKAN
PROFESI NERS FAKULTAS
KEDOKTERAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
Jl. Veteran Malang – 65145, Jawa Timur –

Indonesia Telp. (62) (0341) 551611 – Fax. (62)

(0341) 564755

http://fk.ub.ac.id/

LEMBAR PENGESAHAN

LP (Laporan Pendahuluan) dan ASKEP (Asuhan Keperawatan) Meningocele ini

dibuat dalam rangka PRAKTIK DEPARTEMEN PEDIATRIK mahasiswa Pendidikan

Profesi Ners Universitas Brawijaya Malang di di Ruang 15 RSUD dr. Saiful Anwar

Malang.

Malang, Maret 2019


Mahasiswa

Hanik Purnomowati
NIM. 180070300111037

Mengetahui,

Pembimbing Institusi, Pembimbing Lahan,

…………………………………… .…………………………………….
NIP. NIP.