Anda di halaman 1dari 29

MODEL PEMBELAJARAN BAHASA DAN SASTRA

INDONESIA SD

“Telaah Kritis Atas Kasus Pembelajaran Bahasa Terkini”

Dosen Pengampu : Iyon Muhdiyati M.Pd.

Disusun oleh :

Chicy Sri Rachmawati ( H.1610208 )

Yosan Alfia Ningsih ( H.1611026)

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS DJUANDA BOGOR

2018
KATA PENGANTAR

Segala puji hanya milik Allah SWT. Shalawat dan salam selalu
tercurahkan kepada Rasulullah SAW. Berkat limpahan dan rahmat-Nya
kami mampu menyelesaikan tugas makalah ini dengan baik. Makalah ini
disusun sebagai tugas pendalaman materi Model Pembelajaran Bahasa dan Sastra
Indonesia SD.

Dalam penyusunan makalah ini, tidak sedikit hambatan yang kami hadapi,
namun penulis menyadari bahwa kelancaran dalam penyusunan makalah ini tidak
lain berkat bantuan, dorongan, dan bimbingan dosen, teman-taman serta orang
tua, sehingga kendala-kendala yang kami hadapi dapat teratasi. Semoga makalah
ini dapat memberikan wawasan yang lebih luas dan menjadi sumbangan
pemikiran kepada pembaca. Kami sadar bahwa makalah ini masih banyak
kekurangan dan jauh dari sempurna. Kritik dan saran yang membangun dari
pembaca sangat penulis harapkan.

Bogor, Oktober 2018

Penulis

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ......................................................................................................... i


DAFTAR ISI....................................................................................................................... ii
BAB I .................................................................................................................................. 1
PENDAHULUAN .............................................................................................................. 1
A. Latar Belakang ........................................................................................................ 1
B. Rumusan Masalah ................................................................................................... 2
C. Tujuan ..................................................................................................................... 2
BAB II................................................................................................................................. 3
PEMBAHASAN ................................................................................................................. 3
A. Perkembangan Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia Masa Kini .................. 3
B. Konsep Pembelajaran Bahasa Pada Masa Kini ....................................................... 6
C. Permasalahan yang Ditemukan dalam Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia
Masa Kini ...................................................................................................................... 10
1. Kebijakan Pemerintah ....................................................................................... 10
2. Minat Belajar Bahasa Indonesia........................................................................ 10
3. Minusnya Kreativitas Guru................................................................................ 12
4. Materi pembelajaran Bahasa Indonesia yang terlalu kompleks dan
konvensional ............................................................................................................. 15
D. Solusi yang Tepat untuk Mengatasi Masalah dalam Pembelajaran Bahasa dan
Sastra Indonesia Masa Kini .......................................................................................... 16
BAB III ............................................................................................................................. 25
PENUTUP ........................................................................................................................ 25
A. Kesimpulan ........................................................................................................... 25
B. Saran ..................................................................................................................... 25
DAFTAR PUSTAKA ....................................................................................................... 26

ii
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pembelajaran bahasa pada dasarnya adalah proses mempelajari bahasa.
Dalam pembelajaran bahasa tentu tidak luput dari permasalahan. Corder
(1990:62) menyatakan bahwa semua orang yang belajar bahasa pasti tidak
luput dari kesalahan. Ingatlah bahwa kesalahan itu sumber inspirasi untuk
menjadi benar. Studi mengenai masalah dan hubungannya dengan pengajaran
bahasa perlu dilakukan sebab melalui kegiatan kajian masalah itu dapat
diungkapkan berbagai hal berkaitan dengan kesalahan berbahasa yang
dilakukan oleh siswa. Apabila kesalahan-kesalahan itu telah diketahui, dapat
digunakan sebagai umpan balik dalam penyempurnaan pengajaran bahasa.

Hubungan antara pengajaran bahasa dengan kesalahan berbahasa itu


sangat erat. Bahkan Tarigan (1990:67) mengatakan bahwa hubungan
keduanya ibarat air dengan ikan. Sebagaimana ikan hanya dapat hidup dan
berada di dalam air, begitu juga kesalahan berbahasa sering terjadi dalam
pembelajaran bahasa. Para pakar linguistik dan para guru bahasa Indonesia
sependapat bahwa kesalahan berbahasa itu mengganggu pencapaian tujuan
pengajaran bahasa. Oleh sebab itu, kesalahan berbahasa yang seirng dibuat
siswa harus dikurangi dan dihapuskan.

Pembelajaran bahasa Indonesia sampai saat ini masih saja mengalami


kendala-kendala. Kendala-kendala ini disebabkan oleh beberapa faktor,
diantaranya faktor guru dan siswa itu sendiri. Satu hal yang sangat
memprihatinkan, pembelajaran bahasa Indonesia bagi siswa Indonesia tidak
dianggap berhasil (Widharyanto,1990:71). Salah satu indikatornya adalah nilai
mata kuliah bahasa Indonesia yang kadang masih rendah dan tidak jarang pula
masih tertinggal jauh dari mata kuliah eksak bahasa asing.

Banyaknya masalah dalam pembelajaran bahasa dan satra indonesi ini


dikarenakan sebagian besar siswa beranggapan bahwa mata pelajaran Bahasa

1
Indonesia membosankan, dan sulit juga rumit dipengerjaannya, tetapi di sisi
lain mereka mempunyai pandangan bahwa mata pelajaran bahasa Indonesia
harus dimengerti. Oleh karena itu diharapkan dalam makalah ini kami dapat
menemukan penyebab dan solusi atas kurangnya minat belajar siswa terhadap
Bahasa Indonesia. Diharapkan melalui solusi ini dapat membuat siswa lebih
tertarik dalam mempelajari dan menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan
benar. Hal ini juga diharapkan mampu mengembangkan dan mengarahkan
siswa dengan segala potensi yang dimilikinya secara optimal, khususnya
dalam proses belajar bahasa Indonesia.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka penulis merumuskan beberapa
masalah sebagai berikut :
1. Bagaimanakah perkembangan pembelajaran bahasa dan satra Indonesia
masa kini ?
2. Bagaimanakah Konsep Pembelajaran Bahasa Pada Masa Kini
3. Permasalahan apakah yang ditemukan dalam pembelajaran bahasa dan
satra Indonesia masa kini ?
4. Bagaimana solusi yang dapat menyelesaikan masalah yang terjadi dalam
pembelajaran bahasa dan satra Indonesia masa kini ?

C. Tujuan
1. Mengetahui perkembangan pembelajaran bahasa dan satra Indonesia masa
kini.
2. Mengetahui Konsep Pembelajaran Bahasa Pada Masa Kini
3. Mengemukakan masalah atau kasus yang ditemukan dalam pembelajaran
bahasa dan satra Indonesia masa kini.
4. Menemukan solusi yang dapat menyelesaikan masalah yang terjadi dalam
pembelajaran bahasa dan satra Indonesia masa kini.

2
BAB II

PEMBAHASAN

A. Perkembangan Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia Masa Kini

Secara alamiah dan konvensional, bahasa Indonesia terus-menerus


mengalami perkembangan, baik pada tataran fonologi, morfologi, sintaksis,
semantik, maupun wacana. Perkembangan itu merupakan reaksi
terhadap perkembangan ilmu, pengetahuan, teknologi, seni, dan budaya
bangsa Indonesia di era kesejagatan. Masalah yang dihadapi guru bahasa
Indonesia SLTP dan SLTA adalah bagaimana memutakhirkan kemahiran
berbahasa Indonesia dan membelajarkannya kepada siswa secara inovatif dan
kreatif agar siswa mampu bernalar dan berkreasi dalam bahasa Indonesia.

Hasil konvensi kebahasaan, seperti Pedoman Umum Ejaan Bahasa


Indonesia (PUEBI) yang disahkan pada November 2015, Undang-Undang
Bahasa No.24 tahun 2009, dan Pedoman Umum Pembentukan Kata dan
Istilah Bahasa Indonesia (PU PKIBI) belum sepenuhnya tersosialisasi di
kalangan para guru bahasa Indonesia. Perkembangan mutakhir penggunaan
bahasa Indonesia dalam tata surat dinas, bahasa Indonesia di ruang publik, dan
bahasa Indonesia dalam karya ilmiah, serta bahasa Indonesia sebagai subjek
dan sarana pembelajaran di sekolah belum sepenuhnya dipahami secara
menyeluruh. Sejalan dengan itu pula, pengembangan kurikulum pembelajaran
bahasa Indonesia pun secara berkala terus-menerus berubah. Pada kenyataan
di lapangan, banyak guru bahasa Indonesia yang terlena dengan kesibukan
tugas mengajar sehari-hari sehingga tidak mengikuti perubahan kebijakan
bahasa nasional, tidak mengikuti perkembangan bahasa Indonesia, dan tidak
meningkatan kemahiran berbahasa Indonesia, baik lisan maupun tulis. Hal
demikian ditunjukkan dengan adanya indikator masih rendahnya nilai hasil
UN mata pelajaran Bahasa Indonesia dan masih rendahnya rata-rata nilai
UKBI guru-guru bahasa Indonesia. Bukan hanya itu, perubahan kurikulum
pembelajaran bahasa indonesia yang mengubah paradigma, pendekatan,

3
metode, teknik, dan media pembelajaran pun terbaikan sehingga tetap
bergeming dengan bahasa dan model pembelajaran bahasa Indonesia klasik
yang kurang menarik dan tidak menyenangkan siswa.

Pandangan klasik yang masih tetap bergeming di kalangan para guru ,


di antaranya, pertama, bahasa Indonesia adalah pengetahuan, bukan
keterampilan sehingga dalam praktik pembelajaran berbahasa, gurulah yang
lebih banyak praktik berbahasa daripada siswanya. Kedua, membelajarkan
bahasa adalah proses mewariskan pengetahuan struktur bentuk bahasa kepada
siswa, bukan membentuk pola pikir dengan bahasa Indonesia. Pada
kenyatannya siswa lebih banyak mengahapal bentuk bahasa daripada praktik
berlatih membentuk pola pikir kritis dan kreatif menggunakan bahasa
Indonesia sebagai penghela informasi ilmu penegtahuan, teknologi, dan
budaya, serta wahana ekspresi diri dan akademis.

Bahasa Indonesia terus berkembang untuk memenuhi kebutuhan


komunikasi pada masyarakat global sehingga bahasa Indonesia berpotensi
menjadi jembatan penghubung antarbangsa, terutama di kawasan ASEAN.
Sebagai negara yang besar, Indonesia mempunyai kedudukan yang penting di
ASEAN. Oleh karena itu, bahasa Indonesia sebetulnya dapat diusulkan
menjadi bahasa utama di organisasi itu. Sebagaimana diketahui, selama ini
bahasa pengantar yang digunakan pada konferensikonferensi ASEAN adalah
bahasa Inggris. Itu terdengar miris karena kawasan ASEAN didominasi oleh
bahasa Melayu, yang struktur bahasanya mirip dengan bahasa Indonesia. Jadi,
mengapa tidak bahasa Melayu (atau bahasa Indonesia) saja yang dijadikan
bahasa utama? Salah satu jawabannya adalah bahasa Inggris telah menjadi
bahasa internasional yang mempunyai prestis yang lebih tinggi daripada
bahasa Melayu atau bahasa Indonesia. Oleh karena itu, kedudukan bahasa
Inggris di forum ASEAN belum mampu digeser bahasa Melayu atau bahasa
Indonesia. Bahasa Indonesia berpeluang menjadi bahasa utama ASEAN
karena mempunyai beberapa faktor berikut. Pertama, bahasa Indonesia
mempunyai struktur yang sederhana. Oleh karena itu, bahasa Indonesia sangat

4
mudah dipelajari. Di samping itu, bahasa Indonesia juga mempunyai daya
serap kosakata yang kuat. Kedua, bahasa Indonesia mempunyai jumlah
penutur yang paling banyak di ASEAN, yaitu 200 juta jiwa lebih, dan pada
masa depan diperkirakan semakin bertambah. Jumlah penuturnya tersebar di
dalam negeri dan di luar negeri. Penutur di luar negeri, seperti tenaga kerja
Indonesia, pelajar Indonesia, dan wisatawan Indonesia, dapat menjadi duta
dalam mengenalkan bahasa Indonesia kepada bangsa-bangsa lain. Ketiga,
bahasa Indonesia mempunyai penyebaran geografis yang luas. Sebagaimana
diketahui, bahasa Melayu, yang menjadi cikal bakal bahasa Indonesia, telah
dituturkan di hampir seluruh kawasan ASEAN. Bahkan bahasa Melayu
tercatat menjadi bahasa nasional di empat negara, yaitu Indonesia, Malaysia,
Brunei, dan Singapura. Sementara itu, di beberapa negara lain, seperti
Thailand, Myanmar, Laos, Kamboja, dan Filipina, bahasa Melayu menjadi
bahasa kedua dan ketiga. Karena struktur bahasa melayu mirip dengan bahasa
Indonesia, besar kemungkinan bahasa Indonesia dapat diterima di negara-
negara itu. Keempat, sektor ekonomi makro di Indonesia yang berkembang
pesat menjanjikan lahan investasi bagi investor asing. Itulah pintu gerbang
untuk mengenalkan bahasa Indonesia kepada dunia. Kelima, produk sosial dan
budaya Indonesia yang tersebar di negara-negara ASEAN dapat menjadi
media mengenalkan bahasa Indonesia. Sebagai contoh, di Malaysia film,
program televisi, dan musik dari Indonesia banyak digemari dan itu membuka
peluang bagi persebaran bahasa Indonesia.

Bahasa Indonesia adalah bahasa yang unik, yang memiliki ciri khas
tertentu bila dibandingkan dengan bahasa lain. Kita ketahui, pembentukan
bahasa Indonesia dari keesepakatan bersama yaitu kesepakatan para pemuda
Indonesia yang dikenal dengan sumpah pemuda yang dideklarasikan pada
tanggal 28 oktober 1928, salah satunya berbunyi “Menjunjung bahasa
persatuan, bahasa Indonesia”. Secara politik bahasa Indonesia memiliki
peluang strategis karena dalam konferensi Liga univesitas Islam sedunia yang
diselegarakan di ISID (Institut Studi Islam Darussalam) Gontor pada tanggal

5
9-11 Januari 2011 melahirkan beberapa rekomendasi salah satunya adalah
mengusulkan Bahasa Indonesia sebagai salah satu bahasa internasional di
negara-negara Islam selain bahasa Arab karena perkembangan bahasa
Indonesia di timur tengah cukup maju. Beberapa universitas di negara timur
tengah sudah membuka Jurusan Bahasa Indonesia, misalnya di Mesir dan
Syiria. Keunggulan Bahasa Indonesia yang lain yaitu banyaknya jumlah
penutur. Jumlah penutur bahasa Indonesia sekitar 200 juta penutur dan belum
ditambah dengan penggunaan bahasa melayu di Malaysia, Singapura dan
Brunei Darussalam. Dari jumlah penutur, bahasa Indonesia kalah dengan
penutur bahasa Mandarin, tetapi jumlah sekitar 200 juta jiwa ini mampu
mengalahkan penutur bahasa internasional yang lain yaitu bahasa Rusia dan
Perancis. Kecenderungan orang asing menggunakan bahasa Indonesia
memang semakin tinggi. Hal ini didukung juga dengan upaya pemerintah
memperkenalkan bahasa Indonesia pada dunia. Saat ini Indonesia memiliki
150 pusat bahasa dan kebudayaan Indonesia di 48 negara. Tokoh penting di
dunia juga ada yang bisa berbahasa Indonesia, salah satunya presiden Amerika
Serikat Barack Obama. Hal itu juga turut mengkampanyekan bahasa Indonesia
di seluruh dunia. Dari kosa kata bahasa Indonesia juga lebih mudah dihafal
karena di dalam bahasa Indonesia banyak menyerap kosa kata asing misalnya
dari bahasa Inggris dan latin. Bahasa Indonesia relatif mudah beradaptasi
dengan istilah-istilah asing dengan melakukan penyerapan, termasuk istilah
Inggris yang seiring waktu kemudian diserap menjadi bahasa Indonesia .
Sehingga bagi orang asing yang belajar bahasa Indonesia tidak perlu repot-
repot menghafal kosa kata tertentu.

B. Konsep Pembelajaran Bahasa Pada Masa Kini


Tantangan pengembangan SDM pada era MEA, dalam dunia
pendidikan diwujudkan dalam pembelajaran yang berbasis kompetensi.
Demikian juga dalam pembelajaran bahasa. Kompetensi berbahasa
(khususnya menulis dan berbicara) pada kurikulum berbasis kompetensi lebih
difokuskan pada tujuan dan fungsi komunikasi. Kelancaran komunikasi

6
ternyata tidak serta merta jika siswa dilatih banyak-banyak berkomunikasi
secara langsung, khususnya pada persoalan ketepatan secara retorik dan
linguistic (Subyantoro 2014:150). Komunikasi apapun ternyata berbentuk teks
secara utuh dan memiliki kekhasan tertentu. Pengajaran bahasa kini bergerak
ke arah pengajaran genre dalam berbagai konteks secara eksplisit, suatu upaya
penyadaran agar siswa mengenal ciri-ciri tekstual dan linguistik yang
membangun dan membentuk teks. Dalam kaitan ini Australia menjadi
pendahulu memperkenalkan pedagogi berbasis genre (genre-based pedagogy)
di sekolah dan lembaga pendidikan lainnya (Rothery 1996; Christie, 1999;
Macken-Horarik 2001;). Pedagogi berbasis-genre memandang bahasa sebagai
suatu sistem dinamis terbuka, pengetahuan tentang bahasa diajarkan secara
eksplisit; dan genre (tipe teks) digunakan sebagai titik awal untuk pemodelan,
pendekonstruksian, dan pemahaman bahasa (Martin, 1999). Pendekatan
berbasis-genre didasarkan pada teori bahasa sistemik fungsional yang
dikembangkan Halliday (1978, 1994), yang kemudian dikembangkan lebih
lanjut antara lain oleh Martin (1992), Christie (1999), dan Macken-Horarik
(2001). Pendekatan ini didasarkan pada siklus belajar-mengajar yang
menonjolkan strategi pemodelan teks dan membangun teks secara
bersamasama (joint construction) sebelum membuat teks secara mandiri.
Bimbingan dan interaksi menjadi penting dalam kegiatan belajar di kelas.
Siklus yang dikembangkan Rothery (1996) mencakup: (1) pemodelan teks
(modelling a text), (2) konstruksi bersama (joint construction of a text), dan
konstruksi mandiri (independent construction of a text). Firkins, Forey, dan
Sengupta (2007) mengembangkan siklus Rothery dengan modifikasi
penjenjangan yang mencakup: (1) pengembangan kesadaran kontekstual dan
metakognitif (schema building), misalnya menggali pengalaman siswa; (2)
pengunaan teks otentik sebagai model; (2) pengenalan dan pernyataan kembali
metawacana; (3) penghubungan teks (intertekstualitas) dengan secara
gamblang mendiskusikan persamaan yang ditemukan dalam suatu genre,
misalnya tipe leksiko-gramatikal yang biasanya ditemukan dalam teks
prosedural. Persoalan genre ini sudah dijelaskan dalam Buku Guru Bahasa

7
Indonesia Wahana Pengetahuan, Kurikulum 2013. Yang luput adalah
penjelasan tentang dari mana konsep gagasan tentang bahasa Indonesia
sebagai wahana pengetahuan (carrier of knowledge). Konsep teoretik dari hal
ini adalah Content Language Integrated Learning (CLIL). Bank Dunia (1995)
mencatat bahwa mayoritas masyarakat dunia saat ini adalah bilingual atau
multilingual. Multilingual sekarang menjadi kebutuhan berkomunikasi dalam
masyarakat global. Sayangnya, pengajaran bahasa yang membina selain
bahasa ibu, yaitu bahasa kedua dan bahasa asing, mengalami hasil yang
kurang menggembirakan menurut hasil survei Eurobarometer (komisi Eropa)
pada tahun 2005. Untuk mengatasi hal tersebut program pengajaran bahasa
kemudian beralih lebih serius kepada CLIL (Content Language Integrated
Learning).

CLIL sebenarnya bukan hal baru dalam pengajaran bahasa.


Pengintegrasian isi dan bahasa sudah digunakan selama beberapa dekade
dengan label yang berbeda. Nama lain CLIL yang cukup lama dikenal adalah
pengajaran bahasa berbasis tugas (task-based learning and teaching), program
“pencelupan” di Kanada dan Eropa, program pendidikan bilingual di AS. Para
ahli pengajaran bahasa menyepakati bahwa CLIL merupakan perkembangan
yang lebih realistis dari pengajaran bahasa komunikatif yang mengembangkan
kompetensi komunikatif. Jadi bisa diduga bahwa arah perkembangan
selanjutnya dari Kurikulum Berbasis Kompetensi (2006) adalah kurikulum
yang berdasar pada CLIL. Ini lah yang menjadi rujukan utama Kurikulum
2013. Keberhasilan CLIL (yang mengintegrasikan isi dan bahasa) di Eropa,
AS, dan Kanada didasarkan pada hasil penelitian pemerolehan bahasa kedua
(Krashen (1982), Lightbown and Spada (2006), Swain (2000), Yolanda Ruiz
de Zarobe, Rosa María Jiménez Catalán (2009), Jonathan Savage (2011).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa CLIL menciptakan kondisi alamiah
dalam belajar bahasa, memberikan tujuan yang jelas penggunaan bahasa di
kelas, berdampak positif karena lebih menekankan makna daripada bentuk,
dan secara drastis meningkatkan jumlah pemajanan bahasa sasaran. Yang

8
menonjol dari keempat hasil penelitian ini adalah bahwa pengajaran bahasa
dalam CLIL berfokus pada makna bahasa daripada bentuk bahasa. Bahasa
memiliki makna yang jelas dan mudah dipahami jika digunakan dalam
konteks yang nyata. Tema yang dirancang sesuai kebutuhan siswa dapat
menjadi konteks nyata penggunaan bahasa Istilah tematik-integratif dalam
Kurikulum 2013 merupakan perwujudan penerapan CLIL. Coyle (2006,
2007) mengajukan 4C sebagai penerapan CLIL, yaitu content,
communication, cognition, culture (community/citizenship). University of
Cambridge menerbitkan panduan kurikulum bahasa Inggris yang bertajuk
Teaching Science through English-- a CLIL Approach. Dalam panduan
tersebut dijelaskan bahwa content itu berkaitan dengan topik apa (dalam hal
ini adalah topik IPA seperti ekosistem). Communication berkaitan dengan
bahasa jenis apa yang digunakan (misalnya membandingkan, melaporkan).
Pada bagian ini konsep genre teraplikasi, bagaimana suatu jenis teks tersusun
(struktur teks) dan bentuk bahasa apa yang sering digunakan pada jenis teks
tersebut. Cognition berkaitan dengan keterampilan berpikir apa yang dituntut
berkenaan dengan topik (misalnya mengidentifikasi, mengklasifikasi). Culture
berkaitan dengan muatan lokal lingkungan sekitar yang berkaitan dengan
topik, misalnya kekhasan tumbuhan yang ada di wilayah tempat siswa belajar,
termasuk juga persoalan karakter dan sikap berbahasa. CLIL sekarang ini juga
dilihat sebagai cara untuk mencapai ‘mother tongue + 2’ multilingualism
(Zarobe, 2009). Pengintegrasian Bahasa Indonesia dengan IPA atau IPS di SD
bukanlah hasil pemikiran selintas. Tujuan pengintegrasian bukanlah untuk
pendangkalan mapel namun justru lebih membermaknakan mapel agar lebih
mudah dipahami dan bersifat kontekstual (lihat buku terbitan Cambridge
University, “Teaching Science through English”. Siswa SD lebih mudah
memahami sesuatu dalam konteks yang utuh dibanding sesuatu yang berdiri
sendiri (fakultatif). Dalam dunia nyata sebetulnya juga tidak ada mapel,
semua mapel telah lebur ke dalam suatu kegiatan

9
C. Permasalahan yang Ditemukan dalam Pembelajaran Bahasa dan Sastra
Indonesia Masa Kini
1. Kebijakan Pemerintah
Sejak lahirnya kurikulum, pembelajaran bahasa Indonesia tidak
lepas dari berbagai macam problema. Dalam kurikulum 1968 -kurikulum
yang mengacu pada materi-pembelajaran berdasarkan materi sebagai
bahan ajarnya. Sehingga, proses belajar mengajar tidak jelas arah dan
tujuannya. Meski dalam kurikulum tersebut terdapat pernyataan bahwa
“murid-murid harus dibiasakan memakai bahasa Indonesia yang baik dan
benar”, pembelajaran bahas tetap menitikberatkan pada pengetahuan
bahasa, karena yang menjadi dasar bukan tujuan tetapi materi.
Pembelajaran berbasis materi pada umumnya guru selalu ketinggalan
dengan materi yang relevan dan aktual bagi para siswa. Ia cenderung
mengandalkan materi-materi yang terdapat dalam buku paket. Pada
umumnyaa guru enggan berkreasi mencari materi pembelajaran di luar
buku paket sebagai buku pegangan. Oleh karena itu, pemerintah harus
menyiapkan kurikulum sehingga guru siap merealisasikan konsep-konsep
yang terdapat dalam kurikulum majadi kreativitas konkret di depan kelas.
Jika, hal ini dilakukan oleh pemerintah, tentunya para guru tidak
mengandalkan sumber belajar yang monoton (terdapat dalam buku paket)
tetapi mereka lebih kreatif untuk mencari dan memilih bahan
pembelajaran.

2. Minat Belajar Bahasa Indonesia


Pada era lobalisasi saat ini, siswa lebih tertarik untuk mempelajari
bahasa Inggris dibandingkan bahasa Indonesia. Hal ini bukan tanpa alasan.
Pasalnya, dalam lingkungan keluarga para orang tua lebih menekankan
kepada anaknya untuk mempelajari bahasa Inggris. Tidak hanya itu, di
sekolah pun lebih memprioritaskan pengajaran mata pelajaran bahasa
Inggris dibandingkan bahasa Indonesia. Oleh sebab itu, tidak sedikit anak
atau siswa yang tumbuh dengan pemahaman yang lebih baik terhadap
bahasa Inggris daripada bahasa Indonesia. Fenomena ini menandakan

10
bahwa perjuangan para ilmuan untuk menjadikan bahasa Indonesia
sebagai bahasa ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni (IPTEKS) secara
politik menjadi tidak sebangun dengan perjuangan bahasa Indonesia
sebagai bahasa nasional, bahasa resmi pergaulan dari kehidupan
keseharian masyarakat di negeri ini. Semangat sumpah pemuda terkesan
semakin memudar dan teksnya pun tidak lagi menjadi pengetahuan
kolektif dalam mencetak karakter bangsa. Akibatnya, muncul kesan bahwa
bahasa Indonesia lebih rendah dari bahasa asing. Di samping itu, kebijakan
bahasa Indonesia sebagai bahasa pergaulan dunia yang digagas oleh Badan
Bahasa Jakarta untuk meningkatkan martabat bangsa yang telah
dirumuskan secara komprehensif terancam kandas di tengah jalan. Ini
terlihat dari sikap dan perilaku negatif masyarakat terhadap bahasa
Indonesia dalam kehidupan kesehariannya.
Simon Sabon Ola, dosen Universitas Nusa Cendana, Kupang,
menegaskan bahwa menyikapi rendahnya minta siswa belajar bahasa
Indonesia ke depan perlu ditingkatkan kompetensi guru atau dosen
pengampu mata pelajaran atau mata kuliah bahasa Indonesia dengan
menerapkan tiga langkah strategis seperti pembelajaran, kompetensi, dan
ekologi bahasa. Dalam pembelajaran, guru atau dosen harus mampu
membangun komunikasi dua arah. Sedangkan, kompetensi
mengembangkan kecakapan pengetahuan dan keterampilan, nilai, dan
sikap berpikir dalam bertindak yang dapat menguatkan kepribadian secara
individu dan kolektif. Sementara itu, ekologi bahasa memberikan
perhatian yang lebih serius dalam hubungan lingkungan untuk
membangun interaksi antara bahasa dengan masyarakat. Hal ini, katanya,
sangat efektif untuk mengatasi kendala dalam mengangkat gengsi bahasa
Indonesia, penguat fungsi dan kaitannya dengan pembangunan karakter
bangsa. Mengingat sikap bahasa masyarakat sebagai reaksi terhadap
kesadaran norma dan kemauan untuk menggugah kesadaran publik
terhadap kecintaan dengan bahasa Indonesia. Sikap positif bahasa sebagai
wujud kompetensi sosial dalam penguat karakter bangsa.

11
I Nyoman Weda Kusuma, selaku Guru Besar Fakultas Sastra Unud
Denpasar menambahkan bahwa sastra Indonesia sebagai faktor esensial
penunjang pengembangan bahasa Indonesia untuk menjadi bahasa
Internasional. Karena itulah, perlu adanya peran serta aktif dan lebih serius
dari instansi terkait terutama dunia pendidikan dalam meningkatkan minat
siswa atau mahasiswa untuk mempelajari bahasa Indonesia secara
seimbang dengan bahasa asing. Menurutnya, untuk menjadikan bahasa
Indonesia menjadi bahasa Internasional perlu adanya kebijakan
pembentukkan badan atau lembaga khusus dalam penerjemahan,
laboratorium bahasa, dan kamus penunjang oleh Kemendikbud. “Dengan,
meningkatkan minat siswa terhadap bahasa Indonesia dan intensifnya
kegiatan penerjemahan khususnya terkait karya sastra Indonesia lambat
laun dan pasti bahasa Indonesia akan menjadi bahasa Internasional,”
tegasnya.

3. Minusnya Kreativitas Guru


Kebijakan pemerintah dan membangun kultur, salah stu komponen
penting untuk meningkatkan kualitas pendidikan adalah kehadiran sosok
guru. Mengapa guru? Menurut Komisi Internasioanal tentang pendidikan
di abad ke-21 UNESCO dikatakan bahwa aneka perubahan dasar dalam
ilmu dan teknologi dewasa ini berimplikasi pada penyiapan tenaga guru.
Setiap usaha pembaharuan pendidikan yang tidak mengikutsertakan guru
sejak awal atau tidak memberdayakan (empowerment) guru akan
mengalami kegagalan (Tilaar, 1995: 259).Dalam sebuah pembelajaran,
guru adalah sosok yang mempunyai peran penting dalam mengorkestra
ruang kelas. Oleh karena itu, guru dituntut aktif, kreatif, dan inovatif.

Seorang guru yang benar-benar guru (professional) jika mereka


memiliki empat kompetensi, yakni kompetensi pedagogis, kompetensi
kepribadian, kompetensi sosial dan kompetensi profesional. Istilah
kompetensi kepribadian, kompetensi sosial dan kompetensi profesional.
Istilah kompetensi mencakup pengertian:

12
a. Menurut Keputusan Menteri Pendidikan Nasional No. 045/U/2002,
kompetensi diartikan sebagai seperangkat tindakan cerdas dan penuh
tanggung jawab yang dimiliki seseorang sebagai syarat untuk dianggap
mampu oleh masyarakat dalam melaksanakan tugas-tugas sesuai
dengan pekerjaan tertentu.
b. Menurut PP RI No. 19 tahun 2005 pasal 28, pendidik adalah agen
pembelajar yang harus memiliki empat jenis kompetensi, yakini
kompetensi pedagogik, kepribadian, profesional, dan sosial.
c. Kompetensi guru dapat diartikan sebagai kebulatan pengetahuan,
keterampilan dan sikap yang diwujudkan dalam bentuk perangkat
tindakan cerdas dan penuh tanggung jawab yang dimiliki seorang guru
untuk memangku jabatan guru sebagai profesi.

Terkait dengan komponen keprofesionalan guru, dapat


ditunjukkan ciri-ciri guru profesional sebagai berikut:

a. memiliki bakat, minat, panggilan jiwa, dan idealisme.


b. memilki kualifikasi pendidikan dan latar belakang pendidikan yang
sesuai dengan bidang tugasnya.
c. memiliki kompetensi yang diperlukan sesuai dengan bidang tugasnya,.
d. mematuhi kode etik profesi.
e. memiliki hak dan kewajiban dalam melaksanakan tugas.
f. memperoleh penghasilan yang ditentukan sesuai dengan prestasi
kerjanya.
g. memiliki kesempatan untuk mengembangkan profesinya secara
berkelanjutan.
h. memperoleh perlindungan hukum dalam melaksanakan tugas
profesionalnya.
i. memiliki organisasi profesi yang berbadan hukum (sumber: UU
tentang Guru dan Dosen).

13
Dalam pembelajaran bahasa guru harus aktif, kreatif, dan inovatif
dalam menciptakan suasana pembelajaran. Menurut Mulyasa, guru yang
menciptakan pembelajran dengan kemampuan kreatifnya dikatakan
sebagai guru yang profesional (2005). Keprofesionalan guru ditandai
dengan pemilihan metode yang tepat, artinya metode yang sesuai dengan
karakteristik siswa ( Waradita, 2003:29).

Pada pembelajaran Bahasa Indonesia di tingkat sekolah


dasar/madrasah ibtidaiyah sangat megandalkan penggunaan metode-
metode yang aplikatif dan menarik. Pembelajaran yang menarik akan
memikat anak-anak untuk terus dan betah mempelajari Bahasa Indonesia
sebagai bahasa ke-2 setelah bahasa ibu. Apabila siswa sudah tertarik
dengan pembelajaran maka akan dengan mudah meningkatkan prestasi
siswa dalam bidang bahasa. Di sebagian siswa, pembelajaran Bahasa
Indonesia sangat membosankan karena mereka sudah merasa bisa dan
penyampaian materi yang kurang menarik, sehingga secara tidak langsung
siswa menjadi lemah dalam menangkap meteri tersebut. Penulis, sebagai
guru Bahasa Indonesia, sangat merasakan problema pembelajaran yang
terjadi selama ini. Untuk itu dituntut guru yang mampu mggiring siswa
dalam suasana yang menyenangkan. Pada Kurikulum Pendiddikan Dasar
1994, guru merupakan fokus aktivitas belajar-mengajar, sedangkan pada
Kurikulum Berbasis Kompetensi guru lebih berperan sebagai fasilitator.
Peserta didik sebagai subyek dalam proses belajar-mengajar diberi
keleluasaan yang sangat luas untuk menetukan capaian kompetensi yang
harus ia raih. Peserta didik harus lebih aktif menyampaikan ide, mencari
solusi atas masalah yang dihadapi, dan menentukan langkah-langkah
berikutnya. Dalam kaitan ini guru hanya berperan sebagai pembimbing,
sekaligus pemberi motivasi kepada anak dalam belajar.

14
4. Materi pembelajaran Bahasa Indonesia yang terlalu kompleks dan
konvensional
Selama ini pengajaran membaca sastra di sekolah cenderung
konvesional dan tak lagi dapat diandalkan untuk pembelajaran pada anak.
Pelajaran membaca sastra hanya diajarkan dalam bentuk skimming dan
scanning sehingga pemahaman membaca anak sangat buruk dan sering
lupa akan bacaan yang telah dibacanya. Padahal penerapan membaca cepat
dan sepintas tersebut disinyalir tidak efektif diajarkan pada anak. Jika
pengajaran membaca cepat dan sepintas tersebut terus diajarkan ke siswa,
akan berdampak lebih buruk lagi.
Pengajaran membaca anak seharusnya diajarkan dengan penuh
riang dan tidak ada unsur pemaksaan, karena sastra itu bersitat fleksibel /
santai sehingga membuat anak merasakan tertarik untuk lebih mendalami
sastra kelak dikemudian hari. Pola semacam itu jika diterapkan terus saat
proses belajar mengajar hanya membuat siswa merasa jenuh untuk belajar
bahasa Indonesia dan sastra. Pada umumnya para siswa menempatkan
mata pelajaran bahasa dan sastra Indonesia pada urutan buncit dalam
pilihan para siswa. Yaitu setelah pelajaran-pelajaran eksakta dan beberapa
ilmu sosial lain. Jarang siswa yang menempatkan pelajaran ini sebagai
favorit. Hal ini semakin terlihat dengan rendahnya minat siswa untuk
mempelajarinya dibandingkan dengan mata pelajaran lain. Dalam masalah
ini, saya menyoroti bahwa adanya metode pengajaran bahasa yang telah
gagal mengembangkan keterampilan dan kreativitas para siswa dalam
berbahasa dan membaca. Hal ini disebabkan karena pengajarannya yang
bersifat formal akademis, dan bukan untuk melatih kebiasaan berbahasa
dan membaca para siswa itu sendiri.
Pembelajaran membaca sastra; hanya sebatas kuncup bunga yang
akan mekar dan menampakkan keindahannya. Pelajaran Bahasa Indonesia
mulai dikenalkan di tingkat Sekolah Dasar sejak kelas 1. Bagaikan kuncup
bunga yang akan mekar dan menampakkan keindahannya. Mereka
memulai dari awal dan masih apa adanya. Pada fase tersebut materi

15
pelajaran Bahasa Indonesia dan sastra anak hanya mencakup membaca,
menulis sambung serta membuat karangan singkat. Baik berupa karangan
bebas hingga mengarang dengan ilustrasi gambar dan ilustrasi yang
nampak disekelilingnya. Sampai ke tingkat-tingkat selanjutnya pola yang
digunakan juga praktis tidak mengalami perubahan yang signifikan.Tidak
ada hasil yang nyata dan relevan dalam pembelajaran. Pengajaran Bahasa
Indonesia yang monoton telah membuat para siswanya mulai merasakan
gejala kejenuhan akan belajar dan mendalami dunia sastra Indonesia.
Hal terpokok dari sebuah pembelajaran bahasa dan sastra anak
disertai kepenyairannya akan terlihat dari aspek yang diajarkan oleh
gurunya. Sastra anak yang lebih digemari adalah dongeng dan puisi.
Mereka lebih memilih dongeng dan puisi dikarenakan lebih menarik untuk
dibaca dan membuat mereka bisa merasakan senang dan tidak membuat
mereka tertekan. Menurut Andre Hardjana (1981: 45) proses penciptaan
sebuah sajak dalam puisi pada hakikatnya adalah proses penyempurnaan
pengalaman puitik penyairnya. Keterkaitan antara membaca sastra dan
wawasan kepenyairan adalah dari sudut pandang nuansa yang fleksibel
dan tidak ada unsur pemaksaan serta bertujuan untuk menghibur dan
menciptakan suasana hidup di dalam pembelajaran. Jika kepenyairan itu
sendiri dijabarkan pada sastra anak, maka pengetahuan anak terhadap
penyair-penyair Indonesia semakin paham, pada masa apakah penyair
tersebut terkenal dan tahun berapakah puisinya dapat terkenal. Anak akan
lebih tahu akan pentingnya belajar membaca sastra sejak masih anak-anak.

D. Solusi yang Tepat untuk Mengatasi Masalah dalam Pembelajaran Bahasa


dan Sastra Indonesia Masa Kini

Di dalam kurikulum 2013 bahasa Indonesia dikatakan sebagai


penghela, wahana, dan pembawa pengetahuan, serta wahana ekspresi diri.
Bahasa Indonesia berfungsi sebagai penghela informasi, ilmu pengetahuan,
teknologi, seni dan budaya karena dengan bahasa Indonesialah hal-hal
tersebut diperoleh melalui proses belajar, baik secara sadar dan terencana di

16
ruang belajar, maupun secara tidak disadari melalui pergaulan sehari-hari dan
pengalaman hidup di luar sekolah. Bahasa Indonesia, juga menjadi wahana
pengetahuan karena bahasa Indonesia dibelajarkan dan dilatihkan sebagai
pembentuk kemampuan kognitif, sikap, dan keterampilan berbahasa. Ia
dipelajari oleh siswa dan mahasiswa, atau khalayak sebagai khazanah
pengetahuan yang dikuasai secara bertahap dan berkelanjutan.

Pemerolehan pengetahuan dan keterampilan berbahasa Indonesia


disadari atau tidak, pada setiap kesempatan tertentu diterapkan dalam
pemakaian bahasa Indonessia untuk berbagai keperluan komunikasi sehingga
semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang, atau semakin
intensif pemakaian bahasa Indonesianya semakin mahir berbahasa Indonesia.
Karena itu, bahasa Indonesia dikatakan pula sebagai pembawa pengetahuan
karena pada umumnya berbagai informasi, pengetahuan, teknologi, seni, dan
budaya di Indonesia ditulis dalam bentuk teks atau disampaikan oleh
narasumbernya dalam bahasa Indonesia.

Pembelajaran bahasa Indonesia bagi siswa berkedudukan sangat


penting dalam sistem pendidikan nasional di Indonesia disebabkan oleh peran
bahasa Indonesia yang sangat strategis sebagai bahasa pengantar pendidikan
dan bahasa nasional (Politik Bahasa Nasional, 1976:22). Dengan Kurikulum
2013 (K-13), paradigma pengajaran bahasa Indonesia yang berpusat pada guru
dan isi materi ajar yang mengutamakan capaian hasil belajar kemampuan
kognitif sudah berubah menjadi paradigma pembelajaran bahasa yang
mengutamakan proses dan kebermaknaan hasil belajar. Jargon pembelajaran
bahasa yang berlaku sekarang yaitu, “Jangan ajari siswa semata-mata
pengetahuan bahasa tetapi belajarkan mereka berbahasa sesuai kebutuhan
komunikasi dalam dunia mereka”. Dunia pendidikan siswa menuntut
kemampuan berbahasa Indonesia yang cermat menaati kaidah kebahasaan dan
elok berkesantunan tutur sesuai dengan konteks komunikasi. Pembelajaran
bahasa yang menyeluruh dipandang sebagai proses pembentukan karakter
kepribadian yang tercermin dari aspek pengetahuan, sikap, dan keterampilan.

17
Pembelajaran bahasa Indonesia yang dilaksanakan dengan inovasi dan kreasi
yang menyenangkan dapat memberi siswa kemampuan berbahasa Indonesia
yang benar sesuai kaidah bahasa dan baik menurut etika komunikasinya.

Selain itu, kemampuan siswa dalam berbahasa Indonesia dapat


memberi manfaat akademis bagi pembelajaran bidang studi lain.
Pembelajaran bahasa Indonesia yang efektif dan efisien dapat berdampak
positif bagi siswa, yaitu menjadikan siswa mahir berbahasa Indonesia, baik
dalam percakapan sehari-hari maupun dalam pemerolehan informasi ilmu
pengetahuan dan teknologi. Siswa yang mahir berbahasa Indonesia cenderung
akan lebih mudah dan lebih cepat dalam proses belajar dalam berbagai bidang
sehingga berpeluang untuk berprestasi dan berdaya saing tinggi dalam dunia
pendidikan dan dunia kerja.

Jika bahasa Indonesia sudah dikuasai, kemampuan bersastra dapat


dikembangkan dengan mengolah kata menjadi untaian bentuk dan makna yang
indah menyentuh perasaan dan menggugah pikiran. Dengan kalimat lain,
kemahiran berbahasa dapat tercermin dari olahan kata dan maknanya
sebagai rangkaian gagasan yang bernalar ilmiah atau sebagai rangkaian
ungkapan perasaan yang indah.Guru Bahasa Indonesia hendaknya mampu
membelajarkan keterampilan berbahasa bukan membelajarkan pengetahuan
tentang bahasa. Secara singkat dapat dikatakan bahwa guru Bahasa Indonesia
harus aktif, kreatif, dan inovatif dalam mengorkestrasikan ruang pembelajaran
bahasa, agar menghasilkan anak didik terampil berbahasa.

Berikut ini cara-cara meningkatkan minat belajar siswa dalam


pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia, sebagai berikut :

a. Memberikan Motivasi dan Budaya Membaca


Tidak adanya antusiasme yang tinggi, telah membuat pelajaran ini
menjadi pelajaran yang kalah penting dibanding dengan pelajaran lain.
Minat siswa baik yang menyangkut minat baca, maupun minat untuk
mengikuti pelajaran Bahasa Indonesia semakin tampak menurun. Padahal,

18
bila kebiasaan membaca sukses diterapkan sejak awal maka seharusnya
saat melangkah ke jenjang selanjutnya, siswa telah dapat mengungkapkan
gagasan dan dasar pemikiran dalam membaca. Pembelajaran Bahasa
Indonesia menjadi jelas tampak prakteknya dalam kehidupasn sehari-hari
dan guru dapat membimbing para siswa terampil memilih bacaan maka
harus pula dijelaskan bahwa pada dasarnya bacaan itu terdiri atasn bacaan
ilmiah dan bacaan sastra.
Khusus mengenai bacaan sastra, sang guru terlebih dahulu harus
mengetahui prinsip-prinsip dasar sastra, agar dia dapat memberi
bimbingan yang tepat guna; antara lain:

1) tujuan pengajaran sastra,


2) pengembangan apresiasi sastra,
3) kriteria kualitas sastra anak-anak.

Kriteria masalah ini akan dibicarakan secara singkat dan mengenai tujuan
pengajaran sastra pada tingkat Sekolah Dasar, pada prinsipnya harus
mencakup empat hal yaitu:

1) memperkaya pribadi,
2) mengembangkan pandangan dan pengertian,
3) menyebarluaskan kebudayaan,
4) memupuk serta meningkatkan apresiasi membaca.

b. Pemilihan sendiri bahan bacaan

Dari segi para siswa, pemilihan sendiri bahan bacaan ini sampai
batas tertentu secara apriori dibatasi oleh kenyataan bahwa sang guru atau
beberapa ahli sebelumnya telah memiliki beberapa buah buku dari antara
sejumlah buku yang tersedia. Banyak siswa yang menganggap bahwa
pemilihan sendiri bahan bacaan adalah solusi jitu untuk mengurangi
kejenuhan saat berada di dalam kelas melalui media bacaan.

19
c. Dunia siswa adalah dunia bermain, seharusnya materi pelajaran banyak
disajikan melalui permainan.

Paradigma ini akan memaduakan anatara kecerdasan intelektual


(IQ), kecerdasan emosional (EQ), dan Kecerdasan spiritual (SQ) dan
kecerdasan lainya. Dari perpaduan kecerdasan tersebut, siswa akan
menjadi lebih berkembang dalam berpikir.

d. Mengenal siswa.

Anak bukanlah bejana yang serba sama yang harus diisi dengan
minuman atau zat lain. Agar pelajaran berhasil dengan baik tiap anak
harus mendapat perhatian dan bantuan (Nasution 1997 : 122-123). Guru
harus mampu mengenal siswanya. Dengan mengenal siswa maka guru
akan lebih memahami latar belakang dan kesulitan yang dihadapi oleh
siswa sehubungan pemberian solusi sesuai dengan kebutuhannya.

e. Memberi makna terhadap pelajaran

Merencanakan dengan jelas apa yang akan dilakukan oleh guru


sangat diperlukan dalam proses belajar mengajar. Tetapi bukan berarti
guru menjadi kaku dalam pelaksanaanya (Underwood 2000:39). Adanya
perencanaan membantu guru untuk mempermudah dalam mengarahkan
kegiatan pembelajaran. Seorang guru harus dapat meyakitkan siswa apa
manfaat yang dapat mereka peroleh setelah mengikuti kegiatan
pembelajaran tersebut.

f. Memberi motivasi yang kuat pada siswa.

Pemberian motivasi sangat berpengaruh pada mental siswa. Kata-


kata “bagus”atau “benar”atau”kamu pintar” bahkan anggukan kepala akan
jauh memberi dorongan daripada sebuah nilai (Underwood 2000: 54).
Selain kata-kata di atas adanya sebuah komentar walaupun sedikit mampu
menunjukkan bahwa guru menaruh perhatian pada hasil kerja siswa.

20
g. Penumbuhan kecerdasan ganda (Multiple Intelligences) pada diri guru.

Salah satu usaha yang dapat dilakukan untuk meningkatkan


kualitas guru bahasa Indonesia adalah dengan cara mengembangkan
kecerdasan ganda yang telah dicetuskan Howard Gardner. Gardner
mendefinisikan intelegensi sebagai kemampuan memecahkan persoalan
dan menghasilkan produk baru dalam suatu latar yang bermacam-macam
dan dalam situasi yang nyata. Kualitas guru dapat ditinjau dari dua segi,
dari segi proses dan dari segi hasil. Dari segi proses guru dikatakan
berhasil apabila mampu melibatkan sebagian besar peserta didik secara
aktif, baik fisik, mental, maupun sosial daam proses pembelajaran. Di
samping itu, dapat dilihat dari gairah dan semangat mengajarnya, serta
adanya percaya diri.

Adapun dari segi hasil, guru dikatakan berhasil apabila


pembelajaran yang diberikannya mampu mengubah perilaku sebagian
besar peserta didik ke arah penguasaan kompetensi dasar yang lebih baik
(Usman, 2006). Hal itu sesuai dengan UU Guru dan Dosen Bab IV Pasal
8 yang menyatakan bahwa “Guru wajib memiliki kualifikasi akademik,
kompetensi, sertifikat pendidikan, sehat jasmani dan rohani, serta memiliki
kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional”.

Kecerdasan ganda berperan penting dalam keberhasilan


pembelajaran di sekolah. Guru sebagai orang yang paling bertanggung
jawab dalam dunia pembelajaran dituntut dapat memahami dan
mengembangkan kecerdasan ganda sebagai bekal untuk meningkatkan
kualitas dalam pembelajaran. Kualitas guru bahasa Indonesia dalam dunia
pendidikan dirasakan masih banyak yang belum memenuhi standar.
Parameter profesi bagi seorang guru yang sesuai dengan Undang-Undang
Guru dan Dosen Nomor 14 Tahun 2005 adalah guru wajib memiliki
loyalitas dan dedikasi, kualifikasi akademik, kompetensi, sertifikat

21
pendidik, tanggung jawab, sehat jasmani dan rohani, serta memiliki
kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional.

h. Mengajaran sastra pada anak

Tujuan mengajarkan sastra pada anak antara lain adalah untuk


meningkatkan apresiasi sastra dan dengan demikian memungkinkan para
siswa menikmatinya dengan lebih mantap dan lebih mesra. Apresiasi
sastra dapat dikembangkan melalui membaca nyaring dan membaca dalam
hati, menyimak serta mendiskusikan cerita-cerita dan buku-buku. Agar
tujuan pengajaran sastra tercapai maka sang guru harus membimbing para
siswa memilih serta membaca buku-buku yang bernilai serta sesuai dengan
tingkat kemampuan membaca mereka.

i. Meningkatkan apresiasi sastra pada anak

Agar kita dapat mengembangkan serta meningkatkan apresiasi


sastra para siswa, maka kita harus meningkatkan sejumlah keterampilan.
Daftar keterampilan berikut ini dapat dipergunakan sebagai dasar bagi
perencanaan kurikulum sastra di Sekolah Dasar dan Sekolah Lanjutan.

1) Memahami tipe-tipe sastra,

a) Membedakan prosa dari puisi.


b) Membedakan fiksi dari non-fiksi
c) Mengenalkan cerita rakyat, fabel, mite.
d) Mengenalkan fiksi realistis.
e) Mengenalkan fiksi historis.
f) Mengenalkan fantasi.

2) Memahami komponen-komponen fiksi:

a) Mengenalkan struktur plot (alur).


b) Mengenalkan klimaks cerita

22
c) Mengenalkan gambaran dan perkembangan tokoh.
d) Mengenalkan tema cerita.
e) Mengenalkan latar.
f) Melukiskan gaya bahasa pengarang.
g) Mengenalkan sudut pandang (point of view).

3) Memahami komponen-komponen puisi:

a) Menentukan maksud pengarang.


b) Mengevaluasi latar.
c) Mengevaluasi alur.
d) Mengevaluasi penokohan, karakterisasi.
e) Mengevaluasi gaya penulisan.
f) Mengevaluasi pandangan.
g) Mengevaluasi tema

j. Mengajarkan untuk mengarahkan diri sendiri

Guru harus bisa mengajarkan para siswanya untuk mengarahkan


dirinya sendiri, dikarenakan mengarahkan diri sendiri itu siswa akan
mengerti kerumitan sesuatu tugas serta menaksir atau memperkirakan
waktu dan upaya yang diperlukan untuk menyelesaikannya secara tuntas.
Secara umum dapat dikatakan bahwa tujuan akhir dari pendidikan dan
pengajaran, termasuk pengajaran keterampilan membaca ini, agar para
siswa dapat berdiri sendiri, dapat mengarahkan dirinya sendiri dengan
tepat guna.

Pada tingkatan kelas 1 dan 2 Sekolah Dasar upaya diarahkan pada


kegiatan belajar untuk menjelaskan, memusatkan perhatian pada, serta
menyelesaikan sesuatu tugas. Pada tingkat ini para siswa memperoleh
bimbingan dasar yang penting dari sang guru. Pada tingkatan kelas 5 dan
6, para siswa sudah bekerja secara berdikari, berdiri sendiri dalam menilai
kerumitan sesuatu tugas serta memperkirakan waktu kerja yang

23
dibutuhkan. Para siswa sudah dapat kita katakan berdiri sendiri bila
mereka sudah dapat mengarahkan dirinya sendiri dalam hal-hal berikut ini.

1) Memilih buku-buku yang sesuai dengan kemampuan membaca


berdikari dan memperhalus keotomatisan.
2) Mengatur serta menyesuaikan kecepatan membaca dengan tujuan yang
hendak dicapai.
3) Memberi responsi secara berdikari kepada petunjuk-petunjuk tertulis
dalam suatu tugas.
4) Memperagakan pengarahan diri sendiri dengan mendapatkan jawaban-
jawaban atas pertanyaan-pertanyaan secara berdikari dan menata serta
mengatur waktu secara berdikari untuk menyelesaikan sesuatu tugas
dalam masa yang telah tersedia.
5) Memanfaatkan fasilitas-fasilitas perpustakaan secara berdikari yang
sesuai dengan maksud dan tujuan pribadi.

24
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan
1.

B. Saran
Untuk menyempurnakan pendalaman materi, kami menyarankan kepada para
pembaca agar mencari sumber referensi lain agar wawasan pembaca semakin
luas.

25
DAFTAR PUSTAKA

Chaer Abdul. 2015. Linguistik Umum. Jakarta: Rineka Cipta

Hardjana, Andre. 1981. Kritik Sastra Sebuah Pengantar. Jakarta: Pustaka Jaya.

Hoerip, Satyagraha (ed). 1982. Sejumlah Masalah Sastra. Jakarta: Sinar Harapan.

https://www.academia.edu/6910356/PERMASALAHAN_DALAM_PROSES_PEMBELAJARA
N

Seminar Nasional Pendidikan Bahasa Indonesia 2015 ISSN: 2477‐636X

Subyantoro. 2014. Teori Pembelajaran Bahasa: Implementasi Psikolinguistik


Pendidikan. Semarang: Unnes Press

26