Anda di halaman 1dari 12

RESUME FISIKA ZAT PADAT

Kapasitas Panas Molar dan Konduktivitas Termal

OLEH :
MUTHOHARATUNNISA
16033019
PENDIDIKAN FISIKA [A]

Dosen Pembimbing :
Drs. Hufri, M.Si

JURUSAN FISIKA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI PADANG
2018
KAPASITAS PANAS MOLAR DAN KONDUKTIVITAS TERMAL

A. KAPASITAS PANAS MOLAR


Dalam padatan, terdapat dua jenis energi thermal yang tersimpan di dalammya yaitu
energi vibrasi atom-atom di sekitar posisi keseimbangannya dan energi kinetik yang
dikandung elektron-bebas. Jika suatu padatan menyerap panas maka energi internalyang
tersimpan dalam padatan meningkat yang diindikasikan oleh kenaikan temperaturnya. Jadi
perubahan energi pada atom-atom dan elektron-bebas menentukan sifat-sifat thermal
padatan. Sifat-sifat thermal yang akan kita bahasadalah kapasitas panas.
Tiap-tiap atom pada benda padat ini dapat berosilasi ke tiga arah secara bebas dan
independen, sehingga padatan dapat dipandang sebagai sistem yang memiliki 3N osilator
harmonik sederhana, dengan N menunjukkan jumlah atom dalam kekisi kristal tersebut. Oleh
karena tiap osilator harmonik memiliki energi rata-rata kBT, energi total rata-rata padatan itu
adalah sebesar 3NkBT, dan kapasitas kalornya adalah 3NkB.
Dengan mengambil nilai N sebagai tetapan Avogadro NA, dan menggunakan
hubungan R = NAkB antara tetapan gas Rdengan tetapan Boltzmann kB, hal ini akan
menjelaskan hukum Dulong-Petit mengenai kapasitas kalor jenis benda padat, yang
menyatakan bahwa kapasitas kalor jenis (per satuan massa) suatu benda padat berbanding
terbalik terhadap bobot atomnya. Dalam versi modernya, kapasitas kalor molar suatu benda
padat adalah 3R ≈ 6 cal/(mol·K).
Namun, hukum ini menjadi tidak akurat pada temperatur yang rendah. Hal ini
disebabkan oleh efek-efek kuantum. Selain itu, hukum ini juga tidak konsisten dengan
hukum ketiga termodinamika, yang menurutnya kapasitas kalor molar zat apapun haruslah
menuju nilai nol seiring dengan temperatur sistem menuju nol mutlak. Teori yang lebih
akurat kemudian dikembangkan oleh Albert Einstein (1907) dan Peter Debye (1911) dengan
memasukkan pertimbangan efek-efek kuantum.
Kapasitas Panas adalah sejumlah panas (∆Q) yang diperlukan permol zat untuk
menaikkan suhunya1 K, disebut kapasitas kalor.Untuk membedakan dengan kapasitas panas
yang ditulis dengan huruf besar (Cv danCp), maka panas spesifik dituliskan dengan huruf
kecil (cv dan cp).Bila kenaikan suhu zat∆T, maka kapasitas panas adalah :
∆𝑄
𝐶= (1.1)
∆𝑇
Jika proses penyerapan panas berlangsung pada volume tetap,maka panas yang
diserap sama dengan peningkatan energi dalam zat ∆Q = ∆U. Kapasitas kalor pada
volume tetap (Cv) dapat dinyatakan:
∆𝑈 𝜕𝑈
𝐶𝑣 = ( ∆𝑇 ) = ( 𝜕𝑇 ) (1.2)
𝑣 𝑣

Dengan U adalah energi internal padatan yaitu total energi yang ada dalam padatan baik
dalam bentuk vibrasi atom maupun energi kinetik elektron bebas.
Kapasitas panas pada tekanan konstan, (Cp) dengan relasi
𝜕𝐻
𝐶𝑝 = ( ) (1.3)
∆𝑇 𝑝

dengan H adalah enthalpi. Pengertian enthalpi dimunculkan dalam thermodinamika karena


sesungguhnya adalah amat sulit menambahkan energi pada padatan (meningkatkan
kandungan energi internal) saja dengan mempertahankan tekanan konstan. Jika kita
masukkan energi panas ke sepotong logam, sesungguhnya energi yang kita masukkan tidak
hanya meningkatkan energi internal melainkan juga untuk melakukan kerja pada waktu
pemuaian terjadi. Pemuaian adalah perubahan volume, dan padawaktu volume berubah
dibutuhkan energi sebesar perubahan volume kali tekanan udara luar dan energi yang
diperlukan ini diambil dari energi yang kita masukkan. Oleh karena itu didefinisikan
enthalpi guna mempermudah analisis, yaitu

H = U + PV (1.4)

dengan P adalah tekanan dan V adalah volume.


Kapasitas panas zat pada suhu tinggi mendekati nilai 3R; R menyatakan tetapan
umum.Karena R ≅ 2 kalori/K-mol, maka pada suhu tinggi kapasitas panas zat padat :
6𝑘𝑎𝑙𝑜𝑟𝑖
𝐶𝑣 ≅ − 𝑚𝑜𝑙
𝐾

1. Teori Klasik
Menurut fisika klasik, getaran atom-atom zat padat dapat dipandang sebagai
osilator harmonik. Osilator harmonik merupakan suatu konsep/model yang secara
makroskopik dapat dibayangkan sebagai sebuah massa m yang terkait pada sebuah pegas
dengan tetapan pegas C.
Untuk osilator harmonik satu-dimensi, energinya dapat dirumuskan :
𝜀 = 𝑒𝑛𝑒𝑟𝑔𝑖 𝑘𝑖𝑛𝑒𝑡𝑖𝑘 + 𝑒𝑛𝑒𝑟𝑔𝑖 𝑝𝑜𝑡𝑒𝑛𝑠𝑖𝑎𝑙
1 1
𝜀= 𝑚𝑣 2 + 𝑐𝑥 2
2 2
𝑚 2
𝜀 = (𝑣 + 𝜔2 𝑥 2 )
2
Dengan :
v = laju getaran osilator
x = simpangan osilator
𝑐
ω = frekuensi sudut getaran osilator (= √𝑚).

Untuk atom yang bergetar :

E1  K  U
 12 mvx2  12 mvy2  12 mvz2  12 k x x 2  12 k y y 2  12 k z z 2

Keseimbangan termal dengan energy rata-rata 1/2kBT, sehingga diperoleh rumusan


energinya:
E1  6(12 k BT )  3k BT

Jika kita mempunyai N atom yang mengalami osilasi maka rumusannya:

E  NE1  3NkBT

Untuk menghitung energy dengan memperhitungkan molaritas, maka rumusannya


menjadi:
E 3NkBT
  3N Ak BT  3RT
n n

Dengan :
N = jumlah atom
n = jumlah mol
NA = N/n
R = NA.KB
KB = konstanta Boltzmann
Kapasitas panas pada constant volum per mole

d E
CV     3R  25 molJ K
dT  n V

Dari rumusan diatas terlihat bahwa menurut model fisika klasik, kapasitas
panas zat padat tidak bergantung suhu dan berharga 3R. Hal ini sesuai dengan
hukum Dulong-Petit yang hanya berlaku untuk suhu tinggi T ( > 300 K). Sedangkan
untuk suhu rendah jelas teori ini tidak berlaku.

2. Teori Einstein
Atom - atom kristal dianggap bergetar satu sama lain di sekitar titik setimbangnya
secara bebas. Getaran atomnya dianggap harmonik sederhana yang bebas sehingga

mempunyai frekuensi yang sama v  sehingga di dalam zat padat terdapat sejumlah
2
N atom maka ia akan mempunyai N osilator harmonik yang bergetar bebas dengan
frekuensi 𝜔.
U total   k b T  3Nk b T
kp

U
Cv  
d
3Nk bT   3Nk b  3R
T dT
Model Einstein untuk T>>
Cv  3Nkb  3R  sesuai dengan eksperimen dulong dan petit

Untuk T    1
k bT
3 N 
Bila  kp   maka U total  
k bT 1
e

U d  3N 
Cv    
T dT   kbT 1 
e 
1     kb
C v  3N   e
 kbT 1   k b T 2 

e 
 

3N 2 2 e kbT

k b T 2   kbT  2
e 
 

3 N 2  2 e k bT

k b T 2   kbT 

e  2e kbT  1
 
3 N  2 2
1

k bT 2
  kbT 
e  21
 
  1
Untuk T<< k bT

Maka,
3N 2 2   kbT
Cv  e
k bT 2

Jadi pada suhu rendah, Cv sebanding dengan hasil ini tidak cocok dengan hasil
eksperimen, dimana Cv sebanding dengan Tᶟ. Model inipun gagal menjelaskan Cv pada
suhu rendah.
3. Teori Debye
Dalam model Einstein, atom-atom dianggap bergetar secara terisolasi dari
atom di sekitarnya. Anggapan ini jelas tidak dapat diterapkan, karena gerakan
atom akan saling berinteraksi dengan atom-atom lainnya. Seperti dalam kasus
penjalaran gelombang mekanik dalam zat padat, oleh karena rambatan gelombang
tersebut atom-atom akan bergerak kolektif. Frekuensi getaran atom bervariasi dari ω=0
sampai dengan ω = ωD. Batas frekuensi ωD disebut frekuensi potong Debye.
Menurut model Debye ini, energi total getaran atom pada kisi diberikan oleh
ungkapan

є (ω) adalah energi rata-rata osilator seperti pada model Einstein


sedangkan g (ω) adalah rapat keadaan
Dalam selang frekuensi antara ω = 0 dan ω = ωD, g(ω) memenuhi :

Frekuensi potong ωD dapat ditentukan dengan cara memasukkan persamaan


(2.19.) ke dalam persamaan (2.52.), yang memberikan :

Apabila kita menggambarkan kontur yang berhubungan dengan ω = ωD dalam


ruang - q seperti pada gambar 2.4. akan diperoleh sebuah bola yang disebut bola Debye,
dengan jejari qD yang disebut jejari Debye dan memenuhi :

Pada suhu tinggi (T>>θD), batas atas integral (θD/T) sangat kecil, demikian juga

variabel x. Sebagai pendekatan dapat diambil : ex ≅ 1 + x sehingga integral yang


bersangkutan menghasilkan :

Masukkan hasil ini kepersamaan (2.56)


Sesuai dengan hukum Dulong-Petit, sehingga
D pada 3suhu tinggi model ini cocok
dengan hasil eksperimen. Pada suhu rendah (T<<θD), batas integral pada
persamaan (2.56) menuju tak berhingga; dan integral tersebut menghasilkan 4π4/15.
Dengan demikian :

B. KONDUKTIVITAS TERMAL

Koefisien K konductivitas termal padat didefinisikan dengan hubungan aliran keadaan l :


dT
J v  k
dX
Dimana jv adalah flux energy thermal. Implikasi dari persamaan ini adalah proses transfer
energy thermal secara acak. Dari teori kinetic gas kita mendapatkan sebuah pendekatan
bentuk dari konduktivitas thermal:
1
k  Cvl
3
Dimana C adalah kapasitas panas per satuan volume, v adalah rata-rata kecepatan partikel,
dan l adalah “mean free path” tabrakan diantara partikel
Jika c adalah kapasitas panas sebuah partikel, kemudian bergerak dari temperature T +
ΔT ke temperature T, sebuah partikel tersebut akan melepaskan energy c ΔT, dengan
dT dT
T  lx  vxt
dx dx
Dimana t adalah waktu rata – rata diantara tumbukan.
Energi net fluks :

 
J v  n v x ct
2 dT
dx
1
 
  n v 2 ct
3
dT
dx
untuk phonon dengan v konstan :
1 dT
J v   cv l
3 dx
dengan l = vt dan C = nc. Maka :
1
K  CVl
3
1. Resistivitas Termal

Phonon secara prinsip, ditentukan dengan 2 proses, yaitu penghamburan geometri


dan penghamburan oleh phonon lain. Jika gaya – gaya antar atom harmonic, maka tidak
ada tumbukan mekanik diantara phonon – phonon dan akan dibatasi oleh tumbukan
sebuah ponon dengan ikatan Kristal.
Dengan interaksi anharmonik Lattice, pasangan antara 2 phonon yang berbeda
yang memiliki harga mean free path yang terbatas. Keadaan exact system anharmonik
tidak terlalu lama seperti phonon.
Teori pasangan efek anharmonik thermal resistivity memprediksi bahwa l
proposional dengan 1/T pada temperature tinggi. Untuk mendefinisikan sebuah
konduktivitas thermal, harus ada mekanisme dalam Kristal dimana distribusi phonon
memungkinkan mencapai titik kesetimbangan thermal. Tanpa mekanika kita mungkin
tidak dapat berbicara ponon di “one end of crystal” di titik keseimbangan termal di
sebuah temperature T2 dan berakhir di temperature T1.
Tabrakan phonon dengan ikatan Kristal tidak akan membuat kesetimbangan
thermal, karena tumbukan tidak merubah energy phonon secara individual. Ini dapat
ditandai ulang dengan proses tabrakan 3 phonon.
K1  K 2  K 3
Tidak akan menuju kesetimbangan,tapi untuk reaksi halus total momentum gas
phonon tidak akan berubah oleh tumbukan. Sebuah kesetimbangan distribusi phonon
pada temperature T bias menggerakkan Kristal dengan kecepatan yang tidak terdistribusi
oleh persamaan di atas. Untuk setiap tabrakan phonon
J   nkK
K
Dikoservasikan. Karena tumbukan J berubah dengan K1 – K2 – K3 = 0. Nk adalah
banyaknya ponon yang memiliki gelombang vektor K.
2. Proses Umklapp
Tiga phonon penting diproses menyebabkan resitivitas panas tidak dalam bentuk
K1 + K2 = K3 dengan K yang konsevatif , tetapi dalam bentuk :
K1+K2 = K3 + G
Dimana G adalah vektor reciprocal lattice . proses ini ditemukan oleh pierls , yang
dikenal dengan umklapp proses. Kita bisa menyebutnya G untuk semua momentum
konservatif dalam kristal.
Contoh dari proses interaksi gelombang dalam kristal yang total vektor gelombangnya
berubah sampai mendekati nol.

(a) normal K1 + K2 = K3 dan (b) umklapp K1+K2=K3+G proses tumbukan


fonon pada kisi persegi dua dimesi . kisi persegi pada tiap gambar mengacu pada daerah
blillouin di ruang fonon K , daerah ini memuat semua kemungkinan nilai tidak tetap dari
vektor gelombang fonon. Vektor K dengan arah tepat di tengah daerah yang
direpresentasikan menyerap fonon pada proses tumbukan.
Seperti kita ketahui pada gambar (b) bahwa arah proses umklapp dari komponen –
x fluks fonon cadangan. Vektor kisi balik G dinyatakan dengan panjang 2π/a , dimana a
adalah konstanta kisi dari kisi kristal , dan sejajar dengan sumbu Kx. Untuk semua proses
, N atau U , energi harus kembali , jadi ɷ1 + ɷ2 = ɷ3.
Proses serupa selalu mungkin dalam kisi priodik. Pendapat paling kuat untuk
fonon : hanya berarti fonon palsu K pada daerah brillouin pertama , jadi tidak ada K yang
dihasilkan pada tumbukan harus kembali ke daerah pertama dengan tambahan G . A
tumbukkan dari dua fonon dengan hasil yang negatif dari Kx dapat dilakukan dengan
proses umklapp (G tidak sama dengan 0) membuat ponon positif Kv . proses umklapp
juga disebut U proses.
Proses tumbukkan dengan G = 0 disebut normal proses atau N proses . pada
temperatur tinggi T > θ semua fonon sedang tereksitasi karena T > ħ , semua tumbukan
lenting sempurna akan mengalami proses U dengan bantuan momentum tinggi yang
terjadi dalam tumbukan.
Dalam keadaan ini kita dapat memperkirakan resistivitas termal tanpa perbedaan
secara tinjauan partikel antara proses N dan U , dengan anggapan awal tentang efect non
linear kita dapat memperkirakannya untuk mendapatkan hambatan termal kisi sebanding
dengan T pada temperatur tinggi.
Energi dari fonon K1 , K2 cocok untuk terjadinya umklapp jika saat ½kbθ karena
baik fonon 1 ataupun 2 harus mempunyai gelombang vektor kisaran 1/2G sehingga
tumbukkan bisa mungkin terjadi.
Jika kedua fonon mempunyai K rendah , sehingga energinyapun rendah , tidak
mungkin tumbukan antara mereka gelombang vektornya keluar dari daerah pertama.
Proses umklapp yang energinya konservatif , hanya cukup untuk proses normal.
Pada temperature rendah bilangan fonon yang memenuhi dari energi tinggi ½kbθ
memerlukan harga expetasi extrem sebagai exp(-θ/2T, menurut faktor boltzman. Bentuk
eksponensial cocok dengan hasil eksperimen.
Kesimpulannya , fonon bebas pada saat memasuki K=1/3 Cvl itu adalah saat
bebas untuk tumbukkan umklapp diantara fonon dan tidak untuk semua fonon.
3. Imperfeksi

Efek geometri sangat penting, dianggap bahwa bagian kecil dari kristal dibatasi
oleh massa isotopic terdapat dalam elemen kimia alami, kimia pemurnian,
ketidaksempurnaan pola-pola geometris dari molekul-molekul, dan struktur benda tak
berbentuk.
Pada temperatur rendah, rata-rata dari free path l menjadi sebanding dengan lebar
spesimen uji, sehingga nilai dari l tersebut dibatasi oleh lebar spesimen uji, dan
konduktivitas termalnya menjadi fungsi dari dimensi spesimen. Efek ini ditemukan oleh
De Haaz dan Biermasz. Penurunan yang tajam pada konduktivitas termal dari kristal pada
temperatur rendah dikarenakan oleh efek ukuran.
Di temperatur rendah, proses umklapp menjadi tidak efektif dalam membatasi
konduktifitas termal, dan efek ukurannya menjadi dominan. Dapat kita perkirakan free
path ponon akan menjadi konstan, dengan diameter D spesimen, dapat kita lihat : C
merupakan konduktivitas panas dimana T nya harus temperatur rendah. Efek ukuran akan
mempengaruhi jika rata-rata free path dari ponon menjadi sebanding dengan diameter
dari spesimen.
Pada kasus yang lain, misalnya kristal sempurna, distribusi dari isotop pada
elemen kimia sering menjadi mekanisme dalam proses bagian-bagian terkecil pada
ponon. Distribusi acak dari massa isotopik akan mengganggu kerapatan seperti yang
terlihat pada gelombang elastis. Bagian-bagian kecil pada substansi-substansi ponon
saling terkait. Hasil Germanium dapat dilihat dari gambar berikut.

Gambar. Hasil Germaiun


Tingginya konduktivitas termal juga pernah didapatkan untuk Silikon dan Intan