Anda di halaman 1dari 9

PEMIKIRAN MAZHAB FRANKFURT:

AWAL MULA TEORI KRITIS HINGGA HABERMAS1


Fernando Rahadian Srivanto/0806402686

Makalah ini bertujuan untuk memberi penjelasan deskriptif


tentang awal mula Teori Kritis dalam Mazhab Frankfurt, fase
pemikiran Teori Kritis oleh Jürgen Habermas serta pandangan
kritis terhadap Teori Kritis itu sendiri.

A. Pengertian Tentang Teori Kritis dan Sejarah Pemikiran Mazhab Frankfurt

Istilah Teori Kritis sudah lama diterapkan dalam rentang yang sangat luas
terhadap beberapa teori dan disiplin ilmu yang berbeda. Dalam arti sempit, Teori Kritis
merujuk kepada pandangan yang diusung oleh Mazhab Frankfurt terutama tulisan-tulisan
awal yang dibuat oleh Max Horkheimer, Theodor W Adorno dan Herbert Marcuse. Teori
Kritis sendiri didefinisikan sebagai jenis teori sosial yang berasal dari para pemikir
Marxis Barat di Institut Riset Sosial, Universitas Frankfurt. Itulah sebabnya gagasan
Teori Kritis juga disebut sebagai gagasan Mazhab Frankfurt. Generasi pertama dari
Mazhab Frankfurt selain Horkheimer, Marcuse dan Adorno juga adalah Walter
Benjamin, Erich Fromm, Leo Lowental, Franz Neumann, Otto Kirchheimer dan
Frederick Pollock. Dengan demikian, sebagai program multidisiplin dari filsafat hingga
sejarah dan ilmu sosial pemikiran Teori Kritis mendapat banyak pengaruh dari Immanuel
Kant dan Neo-kantianisme, Georg Wilhelm Friedrich Hegel dan idealisme Jerman, Marx
Weber serta Sigmund Freud. Hanya saja Teori Kritis lebih dipahami sebagai pembaruan
gagasan Marxisme yang terinspirasi dari tulisan-tulisan Georg Lukács dan Karl Korsch.
Marxisme yang diperbaharui ini berangkat dari perubahan realitas sejarah dalam
kapitalisme modern dan integrasi wilayah keilmuan yang sudah sepenuhnya ditinggalkan
oleh Marxisme tradisional seperti filsafat dan teori politik, studi budaya dan psikologi
sosial. Menjelang Perang Dunia II berlangsung seraya dengan kebangkitan Sosialisme
Nasional di Jerman, tahun 1933 Institut pindah ke Jenewa dan kemudian tahun 1934
pindah Amerika Serikat hingga akhirnya kembali ke Jerman pada tahun 1950.2

1
Mahasiswa Program Doktoral Ilmu Politik – Pascasarjana Universitas Indonesia, 2009.
2
Lih. Nicholas Bunnin dan Jiyuan Yu, The Blackwell Dictionary of Western Philosophy, Blackwell
Publishing, USA, 2004, hlm. 152. Bdk. Donald M Borchert (ed.), Encyclopedia of Philosophy, Vol: 2,
MacMillan Thomson Gale, USA, 2006, hlm. 598-599.

1
Gagasan awal Teori Kritis dililhami oleh tulisan Karl Marx yakni Theses on
Feuerbach. Dalam tulisan tersebut Marx menyatakan bahwa para “filsuf memberi banyak
interpretasi yang berbeda terhadap dunia, namun yang terpenting adalah bagaimana
mengubah dunia”. Dalam hal ini Teori Kritis menolak upaya positivisme logis untuk
menemukan atau menerapkan hukum universal ke dalam ilmu sosial. Positivisme logis
menyatakan bahwa ilmu pengetahuan atau sains modern telah direduksi secara total
menjadi sistem administrasi yang semata-mata bersifat rasional dan teknologi murni.3
Berbeda dengan Marx, untuk menghadapi hal tersebut Teori Kritis lebih berfokus
kepada suprastruktur dibandingkan basis ekonomi dari masyarakat. Selain itu Teori Kritis
juga menekankan pandangan terhadap nilai-nilai moral, politik dan agama. Disini
dipahami bahwa Teori Kritis memiliki klaim bahwa pengetahuan bersifat relatif terhadap
kepentingan manusia dan oleh sebab itu diperkenalkan suatu rentang yang luas dari
kritisisme budaya ke dalam teori sosial Marxis. Teori Kritis bermaksud menelanjangi
pemahaman yang keliru dan melekat tentang persepsi akal budi ideal pada kondisi sosial
politik masyarakat kapitalis. Dengan demikian Teori Kritis berupaya untuk
mengidentifikasi kemungkinan perubahan sosial, sekaligus mempromosikan bentuk
refleksi diri dan masyarakat yang bebas dari dominasi. Dengan demikian, Gagasan dasar
Teori Kritis adalah untuk menjembatani jurang antara riset substantif dan filsafat. Teori
Kritis ingin menggabungkan kedua cabang pengetahuan tersebut ke dalam satu bentuk
refleksi yang mengambil model filsafat sejarah Hegel. Untuk bisa mencapai hal tersebut,
maka sangat diperlukan teori sejarah yang mampu menjelaskan kekuasaan efektif dari
akal budi yang bersandar kepada prosesnya sendiri. Asumsi dasar dari konsep filsafat
sejarah semacam itu berasal dari gagasan Max Horkheimer dan Herbert Marcuse yang
memiliki akar tradisi pemikiran Marxis.4
Menjadi catatan bahwa yang membedakan Teori Kritis dengan gagasan Marxis
pada awalnya adalah bukan prinsip-prinsip teoritis, melainkan obyektif atau tujuan secara
metodologis yakni semacam pengakuan terhadap ilmu empiris. Itulah sebabnya adalah
3
Pembahasan dalam Teori Kritis menyangkut strukturalisme dan semiotika, bentuk naratif dan naratologi,
Marxisme, postrukturalisme, historisisme, kritisisme psikoanalitis, teori gender dan feminisme, kajian
poskolonial dan lainnya. Dengan demikian Teori Kritis memiliki makna penting di dalam studi bahasa,
seni, ilmu sosial dan kemanusiaan. Lih. Simon Malpas dan Paul Wake, The Routledge Companion to
Critical Theory, Routledge, New York, 2006, hlm. 9.
4
Nicholas Bunnin dan Jiyuan Yu, ibidem. Bdk. William Outhwaite (ed.), The Blackwell Dictionary of
Modern Social Thought, 2nd edition, Blackwell Publishing, USA, 2006, hlm. 241

2
satu tujuan Teori Kritis juga berupa penggabungan kerja secara sistematis dari seluruh
riset disiplin ilmu-ilmu sosial ke dalam teori masyarakat yang bersifat materialistis. Hal
ini dianggap akan mampu memfasilitasi percampuran antara ilmu sosial yang bersifat
akademis dengan teori Marxis.5

B. Masa Awal Pemikiran Teori Kritis: Horkheimer, Marcuse dan Adorno

Hingga tahun 1930-an Horkheimer6 dan Marcuse7 masih mempertahankan versi


klasik teori sejarah Marxis, yang mempercayai bahwa pembangunan kekuatan produktif
adalah menjadi mekanisme sentral dari kemajuan sosial. Dengan sendirinya Teori Kritis
harus bergabung ke dalam suksesi historis semacam itu sebagai sarana pengetahuan
masyarakat. Baik Horkheimer maupun Marcuse, masih menempatkan Teori Kritis
sebagai sarana untuk kemungkinan dimana situasi sejarah akan matang dengan
sendirinya.8
Ternyata pada saat yang sama, Horkheimer dan Marcuse ternyata sudah tidak
percaya bahwa rasionalitas yang melekat pada kekuatan produksi masyarakat
kontemporer juga terekspresikan di dalam kesadaran revolusioner para proletariat. Kerja
mereka berdua dipengaruhi oleh fakta bahwa naiknya integrasi kelas pekerja ke dalam
sistem kapitalis modern seperti yang dibayangkan Marx telah membuat kehilangan target
sosialnya. Bagi Horkheimer, tujuan dari semua aktivitas riset institutnya adalah
pertanyaan bagaimana mekanisme fisik menjadi mungkin di antara ketegangan antar
kelas sosial dan bagaimana mekanisme fisik semacam itu menjadi konflik karena situasi

5
Itulah sebabnya pada fase awal Teori Kritis di tahun 1920-an, gagasan perluasan interdisiplin tersebut
berkembang melalui pemikiran Max Horkheimer yang mengakui arti penting ilmu-ilmu empiris. Tahun
1930, Horkheimer diganti oleh Carl Grünberg sebagai Direktur Institur Riset Sosial. Pada pidato
pengangkatannya, Grünberg secara terbuka di hadapan publik memperkenalkan program-program dari
Teori Kritis untuk masyarakat. Kemudian di tahun-tahun berikutnya bersama Herbert Marcuse, ia
mengembangkan pendekatan tersebut di dalam jurnal the Zeitschrift fur Sozialforschung yang menjadi
fokus kerja intelektual Institut hingga tahun 1941. Lih.William Outhwaite (ed.), ibidem.
6
Latar belakang Max Horkheimer adalah filsafat dengan disertasi mengenai filsafat Immanuel Kant.
Berbeda dengan Marcuse, hal Itulah yang membuat Horkheimer tertarik dan berfokus selanjutnya kepada
psikologi sosial dan politik praktis dengan kecenderungan sikap pesimistis terhadap kemungkinan
perubahan praktek politik praktis. Lih. Stephen R C Hicks, Explaining Postmodernism, Skepticism and
Socialism from Rousseau to Foucault, Scholargy Publishing, Arizona, 2004, hlm. 159-160.
7
Herbert Marcuse belajar filsafat di Feriburg dan sempat menjadi asisten Edmund Husserl dan martin
Heidegger. Itulah sebabnya karya awal Marcuse berupaya untuk membuat sintesa gagasan fenomenologi
heidegger dengan Marxisme. Lih. Stephen R C Hicks, ibidem.
8
William Outhwaite (ed.), op. cit., hlm. 242-243.

3
ekonomi yang berlarut-larut. Pencapaian yang dibuat oleh Horkheimer adalah membuat
program riset Institut atas dasar pertanyaan terhadap bentuk kapitalisme baru yang
terintegrasi di dalam terminologinya secara spesifik dan berhubungan dengan disiplin
ilmu empiris. Program itu menjadi panduan kerja Institut yang berakar kepada tiga
disiplin ilmu yakni (1) analisis ekonomi dari fase posliberal kapitalisme yang digagas olef
Friedrich Pollock, (2) investigasi psikologi sosial darti integrasi individu melalui
sosialisasi oleh Erich Fromm dan (3) analisis budaya dari dampak kebudayaan massa
berkonsentrasi kepada industri kebudayaan yang baru tumbuh oleh Theodor W Adorno
dan Leo Lowenthal.
Kemudian Hoirkheimer masih berupaya meyakinkan kerja riset Institut sebagai
refleksi bentuk intelektual yang berkaitan dengan gerakan buruh. Ini dilakukannya karena
Horkheimer yakin terhadap konsepsi positif tentang kondisi emansipasi yang membuat
kekuatan produksi bebas dari bentuk kapitalistik di dalam organisasi mereka. Pada akhir
tahun 1930-an, gagasan ini sepenuhnya runtuh karena dalam politik praktis yang terjadi
adalah kebudayaan massa kapitalis bergabung dengan fasisme atau Stalinisme untuk
membentuk kekuatan yang sepenuhnya totaliter. Dalam perspektif teori, hal ini berarti
perubahan konsepsi positif yang diyakini Horkheimer menjadi model negatif dari tenaga
kerja sosial. Oleh karena itu menjadi pertanyaan selanjutnya tentang bagaimana
kemungkinan mengubah relasi sosial yang ada dengan sarana berupa revolusi politik.
Barulah Theodor W Adorno9 yang kemudian melahirkan konsep baru dari Teori
Kritis. Gagasan Adorno diawali dengan pengalaman historis yakni fasisme sebagai
produk gagal dari kebudayaan yang membuatnya begitu skeptis atas gagasan
materialisme historis. Hal ini dipertajam pula oleh keraguannya terhadap rasionalisme
sempit dari tradisi teori Marxis, sehingga Adorno berupaya untuk menghasilkan metode
interpretasi yang bersifat estetis dari filsafat sejarah materialisme. Pada tahun 1947,
Adorno bersama Horkheimer menulis The Dialectic of Enlightenment sebagai ekspresi
motif intelektual baru dalam filsafat negatif dari sejarah. Mereka menyatakan bahwa
totalitarianisme tidak dapat dijelaskan sebagai hasil dari konflik antara kekuatan dan
hubungan produksi. Totalitarianisme merupakan hasil dari dinamika internal bentuk
9
Kemudian Theodor W Adorno menulis Negative Dialectics (1966) dengan argumen bahwa kapitalisme
memperkuat diri sekaligus menyerang basis obyektif dari kesadaran revolusioner manusia dan cairnya
individualisme yang bejadi dasar kesadaran kritis. Itulah sebabnya, filsafat masih dibutuhkan karena waktu
yang sudah terbuang untuk menyadari hal tersebut. [pen.]

4
kesadaran manusia. Pendapat Adorno dan Horkheimer berangkat dari kerangka bahwa
teori kapitalisme dan proses peradaban seluruhnya adalah merupakan sebuah sistem
referensi yang menyatu. Dalam konteks ini fasisme muncul sebagai tahapan sejarah akhir
dari logika pembusukan (logic of decay) yang bersifat inheren pada bentuk awal mula
eksistensi spesies itu sendiri. Proses peradaban mengambil bentuk spiral yang bergerak
sebagai tindakan asli manusia yang berupaya menaklukan alam dan mencapai
konsekuensi logis didalam fasisme. Salah satu kesimpulan yang ditulis di dalam The
Dialectic of Enlightenment adalah penyangkalan dari setiap dimensi kemajuan peradaban
termanifestasi dalam bentuk intensifikasi kekuatan produksi. Selain itu, dinyatakan pula
bahwa setiap bentuk praktek politik praksis adalah tindakan yang berorientasi kepada
kontrol sehingga praktek politik harus dikeluarkan dari ranah alternatif yang bersifat
positif. Dengan demikian terlihat bahwa aktivitas lingkaran terdalam dari para periset
Institut mengabaikan sebagai kemungkinan situasi aktivitas mereka di dalam politik yang
bersifat nyata.10
Dapat dilihat bahwa Horkheimer dan Adorno sebagai generasi awal Teori Kritis
memiliki pandangan yang pesimis terhadap sejarah akal budi. Meski dipengaruhi oleh
kecenderungan Weberian yang menekankan rasionalitas sebagai bentuk instrumental,
mereka masih mengakui evaluasi positif ala Marx terhadap perkembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi. Perkembangan tersebut dilihat sebagai inti dominiasi yang
menyebar ke segala penjuru kehidupan dan pada prosesnya, perkembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi telah melumpuhkan agen potensial dari perubahan sosial.
Istilah yang digunakan Horkheimer dan Adorno adalah masyarakat yang diatur secara
total (totally administered society) yang kemudian oleh Marcuse disebut sebagai manusia
satu dimensi (one-dimensional man). Perluasan analisis Marx berupa pemujaan tubuh
atau fetisisme disini bertujuan untuk menggugah kesadaran kritis manusia yang dianggap
sudah redup oleh komersialisme pasca perang. Pada tahap ini Teori Kritis menjadi sarana
yang tepat untuk memperlihatkan hal-hal yang menutupi penalaran manusia seperti
reifikasi, hegemoni dan dominasi tanpa menawarkan alternatif positif darinya.11

10
Lih. John Cummning (transl.), Max Horkheimer and Theodor w Adorno: Dialectics of Enlightenment
(1947), Continuum, London, 1997.
11
Manusia dan pekerjaannya tidak lebih dari sebuah produk yang sudah ditentukan dari sistem yang
kompetitif tanpa pernah mengetahuinya sebagai buah dari kapitalisme yang menghasilkan kenyamanan dan
keamanan semu. Lih. Stephen R C Hicks, op. cit., hlm. 163-164. bdk. Donald M Borchert, ibidem. Bdk.

5
C. Pemikiran Teori Kritis Generasi Selanjutnya: Jürgen Habermas

Selain Karl-Otto Apel dan Albrecht Wellmer, adalah Jürgen Habermas 12 yang
menjadi generasi kedua Mazhab Frankfurt. Ambisi Habermas adalah menggantikan
rasionalitas teknologi yang menguasai masyarakat modern dengan rasionalitas
komunikatif yang mencapai konklusinya melalui diskusi dan dialog. Tujuan seperti ini
berusaha diraih Habermas dengan cara mengubah penekanan filosofis dari hubungan
subyek-obyek menjadi proses komunikasi intersubyektivitas. Habermas yakin bahwa
dengan tindakan komunikasi semacam itu akan mencapai cita-cita teori kritis dan juga
sekaligus membangun etika diskursus universal sebagai dasar evaluatif dari kritik sosial.
Berbeda dengan gagasan ‘masyarakat atau dunia yang diatur secara total’ oleh
para pendahulunya, Habermas memiliki perbedaan teoritis dan orientasi secara mendasar.
Karya-karya Habermas secara perlahan membentuk formasi teori yang merujuk kepada
aksi sosial intersubyektivitas linguistik dengan gagasan antropologi filsafat dan
hermeneutika yang dulunya dianggap asing oleh generasi pertama mazhab Frankfurt.
Habermas kemudian sampai kepada premis yang dipengaruhi oleh filsafat hermeneutika
dan analisis bahasa Wittgenstein, bahwa subyek manusia selalu terikat satu sama lain
dengan sarana pengertian melalui bahasa. Dengan demikian bahasa menjadi sebuah
kebutuhan fundamental yang mereproduksi kehidupan sosial. Melalui cara itulah
Habermas mengkritik Marxisme yakni hasil konsepsi sejarah yang diperluas kedalam
aksi teori. Jika bentuk kehidupan manusia dibedakan dengan sarana pengertian seperti
bahasa, maka reproduksi sosial tidak dapat direduksi hanya menjadi dimensi tunggal
ketenaga kerjaan seperti yang ditulis Marx. Sebaliknya, dalam upaya mendominasi alam
maka praktek bahasa yang menjembatani interaksi harus dilihat sebagai dimensi dasar
yang setara dari perkembangan sejarah. Meski demikian, langkah Habermas dalam
membangun teorinya tentang masyarakat baru terbentuk utuh ketika dua konsep aksi

John S Dryzek, The Oxford Handbook of Political Theory, Chapter 3: Ideology Critique, Oxford
University Press, New York, 2006, hlm. 219-220. Bdk. Ben Agger, Teori Sosial Kritis: Kritik Penerapan
dan Implikasinya, Kreasi Wacana, Yogyakarta, 2008, hlm. 169-179.
12
Jürgen Habermas membangun sistem teori yang bertujuan untuk membuka kemungkinan akal budi,
emansipasi dan komunikasi kritis rasional di dalam institusi modern dan kapasitas manusia untuk mengejar
kepentingan rasionalnya. Lih. James Gordon Finlayson, Habermas: A Very Short Introduction, Oxford
University Press, NY, 2006, hlm. 12.

6
yakni ‘buruh’ dan ‘interaksi’ diasosiasikan dengan kategori yang berbeda dari
rasionalitas. Dalam subsistem tindakan rasional dimana tugas tenaga kerja sosial dan
administrasi politik diorganisasi, manusia beranjak melalui akumulasi pengetahuan teknis
dan strategis. Dalam kerangka institusi itulah norma-norma terintegrasi secara sosial dan
direproduksi. Manusia berkembang melalui pembebasan dari segala hal yang
menghambat komunikasi.
Teori tersebut dikembangkan Habermas tahun 1970-an dan baru tahun 1981
dalam tulisannya Theory of Communicative Action, Habermas kembali mengembangkan
gagasannya dalam bentuk yang sistematis untuk pertamakalinya. Gagasan Habermas itu
merupakan hasil dari berbagai studi yang berwujud kedalam teori tunggal yang
menyebutkan bahwa rasionalitas komunikatif direkonstruksi dalam kerangka berupa
tindakan yang dibangun atas dasar teori masyarakat. Hal ini dilakukan dengan mengkaji
ulang teori masyarakat yang dikembangkan sejak Max Weber hingga Talcott Parsons dan
akhirnya terangkum menjadi diagnosa kritis dari masyarakat kontemporer.13
Dengan demikian apa yang dikerjakan Habermas merupakan usaha untuk
mengubah paradigma secara mendasar dari filsafat subyek menuju teori komunikasi dan
dari rasionalitas sarana-tujuan menuju rasionalitas yang komunikatif. Habermas secara
jeli melihat penyakit modernitas tidak bersumber kepada rasionalisasi semata tetapi pada
satu sisi yang dikendalikan oleh kekuatan ekonomi dan administratif. Itulah sebabnya
alternatif obat yang ditawarkan adalah demokratisasi opini publik yang akan membentuk
ruang publik (public sphere) dimana isu-isu umum akan diperdebatkan secara kritis dan
rasional.14

D. Kritik terhadap Teori Kritis

Teori kritis Habermas disatu sisi secara ideal menawarkan demokratisasi opini
publik dalam menuju rasionalitas komunikatif. Dalam masyarakat modern hal tersebut

13
Lih. Axel Honneth dan Hans Joas, Communicative Action, Polity Press, Cambridge, 1991. Bdk. Simon
Tormey dan Jules Townshend, Key Thinkers from Critical Theory to Post Marxism, Sage Publications Ltd,
London, 2006, hlm. 165-189. Bdk. Pip Jones, Pip Pengantar Teori-teori Sosial: Dari Fungsionalisme
Hingga Post-modernisme, Yayasan Obor Indonesia, Jakarta, 2009, hlm. 282.
14
Lih. Robert E Goodin dan Philip Pettit, Contemporary Political Philosophy: An Anthology, Blackwell
Publishers, UK, 1997, hlm. 105. Bdk. Lois Tyson, Critical Theory Today, Routledge, New York, 2006,
hlm. 80.

7
secara sederhana bisa diterima sebagai upaya dalam memperoleh kesetaraan melalui
proses dialog dan diskursus sehingga pada satu titik menghasilkan juga konsep baru
seperti demokrasi deliberatif. Akan tetapi dalam realitasnya ternyata tidak semudah itu.
Ada beberapa argumen keberatan yang menjadi kritik terhadap teori kritis yang diusung
oleh Habermas. Pertama, dalam masyarakat modern seperti sekarang ini, proses
komunikasi sudah berjalan dalam ranah hiperealitas sehingga bentuk rasionalitas
komunikatif yang dibayangkan Habermas menjadi sulit diwujudkan. Masyarakat mampu
bertindak irasional karena anonimitas yang terjadi dan identitas ditengah ruang publik
menjadi sesuatu yang bersifat semu. Dalam model seperti ini yang terjadi adalah
pemiskinan imajinasi sehingga sangat sulit untuk bisa menjadi rasional dan obyektif.
Keberatan yang kedua adalah, ruang publik dalam pemahaman masyarakat
modern adalah ajang diskursus yang setara dan dialogis. Pada kenyataannya dialog yang
terjadi didalam ruang publik yang nyata adalah sesuatu yang tidak setara dan tidak juga
bersifat dialogis. Ini terjadi tidak saja di negara-negara berkembang melainkan juga di
negara maju. Dominasi yang dibayangkan oleh generasi pertama Teori Kritis rupanya
masih tetap terjadi. Alhasil, proses dialog yang macet menyebabkan publik tidak lagi
memanfaatkan ruangnya secara nyata. Kemajuan teknologi seperti internet dan
komunikasi virtual menjadi katarsis publik dalam menggelombangkan wacananya
sebagai pembentukan opini yang tidak lagi bersifat dialogis tetapi menjadi tandingan
terhadap kekuasaan.
Keberatan yang ketiga adalah, dengan demikian faktor teknologi yang
menyebabkan pesimisme akan ketergantungan manusia terhadap sarana-sarana ekonomi
seperti yang dibayangkan oleh generasi pertama Teori Kritis juga masih tetap terjadi.
Disini dapat dilihat bahwa apa yang dikemukakan oleh Habermas masih belum dapat
memberikan alternatif jawaban yang memuaskan mengingat perkembangan Teori Kritis
masih harus berkompetisi dengan realitas masyarakat, terutama dari aspek kemajuan
teknologi, perubahan dimensi ruang publik dan juga harapan terhadap rasionalitas
komunikatif yang ideal bagi manusia itu sendiri. Kemajuan teknologi jelas memberi
kontribusi berupa akselerasi penerimaan dan juga cara manusia mengekspresikan
kehendaknya. Ruang publik tidak lagi semata berkutat kepada masalah penggunaannya
yang ideal tetapi juga bagaimana pergeseran dimensi dari sesuatu yang bersifat fisik

8
menuju dunia maya juga menjadikan rasionalitas sebagai faktor yang tidak lagi dengan
mudah dapat diperhitungkan. Sementara rasionalitas komunikatif yang dibayangkan
Habermas dengan demikian menjadi jauh untuk bisa direalisasikan dengan mudah.

*****

Daftar Pustaka

Agger, Ben (2008). Teori Sosial Kritis: Kritik Penerapan dan Implikasinya, Kreasi
Wacana, Yogyakarta.
Borchert, Donald M (ed.) (2006). Encyclopedia of Philosophy, MacMillan Thomson
Gale, USA.
Bunnin, Nicholas and Jiyuan Yu (2004). The Blackwell Dictionary of Western
Philosophy, Blackwell Publishing, USA.
Cumming , John (transl.), (1997). Max Horkheimer and Theodor w Adorno: Dialectics
of Enlightenment (1947), Continuum, London.
Dryzek, John S (2006). The Oxford Handbook of Political Theory, Chapter 3: Ideology
Critique, Oxford University Press, New York.
Finlayson, James Gordon (2006). Habermas: A Very Short Introduction, Oxford
University Press, NY.
Goodin, Robert E and Philip Pettit (1997). Contemporary Political Philosophy: An
Anthology, Blackwell Publishers, UK.
Hicks, Stephen R C (2004). Explaining Postmodernism, Skepticism and Socialism from
Rousseau to Foucault, Scholargy Publishing, Arizona.
Honneth, Axel and Hans Joas, (1991). Communicative Action, Polity Press, Cambridge.
Jones, Pip (2009). Pengantar Teori-teori Sosial: Dari Fungsionalisme Hingga Post-
modernisme, Yayasan Obor Indonesia, Jakarta.
Malpas, Simon and Paul Wake (2006). The Routledge Companion to Critical Theory,
Routledge New York.
Outhwaite, William (ed.) (2006). The Blackwell Dictionary of Modern Social Thought,
2nd edition, Blackwell Publishing, USA.
Tormey, Simon and Jules Townshend (2006). Key Thinkers from Critical Theory to Post
Marxism, Sage Publications Ltd, London.
Tyson, Lois (2006). Critical Theory Today, Routledge, New York.