Anda di halaman 1dari 6

Dosen PJ : drh. Min Rahminiwati MS, Ph.

D
Hari, tanggal : Rabu, 28 Februari 2018
Kelompok :4

LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOLOGI II


ANASTESI LOKAL

Kelompok 4
Lena Indraswari B04150044 …...
Elfha Pranata Wati B04150046 …...
Annisa Maqvira B04150102 …...
Luluk Lailatul Hasanah B04150100 …...
Yevi Pradina Lensi B04150112 …...

BAGIAN FARMAKOLOGI DAN TOKSIKOLOGI


DEPARTEMEN ANATOMI, FISIOLOGI DAN FARMAKOLOGI
FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2018
PENDAHULUAN

Obat bius lokal / anastesi lokal atau yang sering disebut pemati rasa adalah obat
yang menghambat hantaran saraf bila digunakan secara local pada jaringan saraf dengan
kadar yang cukup. Anastetika local atau zat-zat penghalang rasa setempat adlah obat yang
pada penggunaan local merintangi secara reversible penerusan impuls-impuls saraf ke SSP
dan dengan demikian menghilangkan atau mengurangi rasa nyeri, gatal-gatal, rasa panas
atau dingin. Obat bius local mencegah pembentukan dan konduksi impuls saraf. Tempat
kerjanya terutama di selaput lender. Di samping itu anastesi local mengganggu fungsi
semua organ dimana terjadi konduksi/transmisi dari beberapa impuls. Artinya anestesi
lokal mempunyai efek yang penting terhadap SSP, ganglion otonom, cabang-cabang
neuromuscular dan semua jaringan otot (Tjay et al. 2007). Salah Sejak tahun 1892
dikembangkan pembuatan anastetika lokal secara sintesis dan yang pertama adalah prokain
dan benzokain pada tahun 1905, yang disusul oleh banyak derivate lain seperti tetrakain,
butakain, dan cinchokain. Kemudian muncul anastetika modern seperti lidokain (1947),
mepivakain (1957), prilokain (1963), dan bupivakain (1967).
Lidokain adalah derivat asatanilida yang merupakan obat pilihan utama untuk
anestesi permukaan maupun infiltrasi. Lidokain adalah anestetik lokal kuat yang digunakan
secara luas dengan pemberian topikal dan suntikan. Anestesi terjadi lebih cepat, lebih kuat,
lebih lama dan lebih ekstensif daripada yang ditimbulkan oleh prokain. Lidokain adalah
obat anestesi lokal yang banyak digunakan dalam bidang kedokteran oleh karena
mempunyai awitan kerja yang lebih cepat dan bekerja lebih stabil dibandingkan dengan
obat-obat anestesi lokal lainnya. Oabt ini mempunyai kemampuan untuk menghambat
konduksi di sepanjang serabut saraf secara reveribel, baik serabut saraf sensorik, motorik,
maupun otonom. Lidokain mampu melewati sawar darah otak dan diserap secara cepat dari
tempat injeksi. Dalam hepar, lidokain diubah menjadi metabolit yang lebih larut dalam air
dan disekresikan ke dalam urin. Absorbsi dari lidokain dipengaruhi oleh beberapa faktor,
antara lain tempat injeksi, dosis obat, adanya vasokonstriktor, ikatan obat jaringan dan
karakter fisikokimianya (Stoelting 2006).
Prokain memiliki potensi yang sama dengan lignokain tetapi lama kerjanya lebih
pendek. Prokain menimbulkan analgesia yang kurang kuat karena cenderung tersebar ke
seluruh jaringan. Diserap secara kurang baik dari membran mukosa dan tidak berguna
sebagai anestetik permukaan. Efek samping yang serius adalah hipersensitasi,yang kadang-
kadang pada dosis rendah sudah dapat mengakibatkan kolaps dan kematian. Efek samping
yang harus dipertimbangkan pula adalah reaksi alergi terhadap kombinasi prokain
penisilin. Berlainan dengan kokain, zat ini tidak mengakibatkan adiksi (Stoelting 2006).
Adrenalin mempunyai efek meningkatkan tekanan darah melalui aktivasi
adrenoseptor - 1 jantung yang terjadi setelah pelepasan atau pemberian adrenalin
berhubungan dengan kerja kronotropik positif dan inotropik positif atas jantung. Dengan
demikian adrenalin juga mempunyai efek kronotropik positif (meningkatkan kecepatan
denyut jantung) dan inotropik positif (memperkuat kontraksi myokardium) sehingga
cardiac out put (curah jantung) meningkat. Adrenalin juga berefek pada timbulnya
vasokontriksi karena stimulasi adrenoseptor- pada otot polos dinding pembuluh darah
perifer. Kedua hal tersebut berakibat tekanan darah meningkat. Efek adrenalin terutama
pada arteriola kecil dan sfingter prekapiler sehingga tahanan perifer meningkat. Pada dosis
kecil adrenalin juga mengaktivasi adrenoseptor -  2 pada otot polos dinding pembuluh
darah dalam bundel otot lurik dan pembuluh koroner berakibat vasodilatasi pembuluh
darah tersebut, akibatnya tahanan perifer total sebenarnya bisa turun, hal ini menjelaskan
penurunan dalam tekanan diastolik yang kadang-kadang terlihat pada penyuntikan
adrenalin (Tjay et al. 2007).

TINJAUAN PUSTAKA
Serabut saraf memiliki membran lipoprotein yang memisahkan matriks intraseluler
dari ekstraseluler. Cairan intraseluler terutama mengandung kalium, sedangkan cairan
ekstraseluler mengandung natrium. Pada fase istirahat, membran relatif permeabel terhadap
kalium tetapi kurang permeabel terhadap natrium, sehingga mempunyai potensi membran
-70 mV di mana bagian luar relatif positif dibandingkan bagian dalam dan membran dalam
keadaan polarisasi. Bila saraf dirangsang maka terjadi peningkatan permeabilitas terhadap
natrium, sehingga terjadi depolarisasi dan peningkatan potensi membran +20 Mv di mana
bagian luar menjadi relatif negatif dibandingkan bagian dalam. Kejadian berurutan di mana
impuls menyebar sepanjang saraf. Pada fase selanjutnya terjadi repolarisasi membran yang
menyebabkan peningkatan permeabilitas terhadap kalium. Pada akhir potensi aksi, natrium
dikeluarkan melalui proses aktif, dan saraf kembali ke fase istirahat. Sebagian besar obat
anestesi lokal terikat pada reseptor ‘sodium channel’ dan bekerja mencegah terbukanya
‘sodium channel’ pada membran akson sehingga tidak terjadi depolarisasi dan potensi aksi
tidak meningkat. Dengan demikian, anestesi lokal menyebabkan peningkatan nilai ambang
rangsang saraf, menghambat penyebaran impuls, mengurangi kecepatan peningkatan
potensi aksi, dan akhirnya menghambat konduksi (Yogyartono 2000).
Anestesi lokal adalah hilangnya sensasi pada bagian tubuh tertentu tanpa disertai
kehilangan kesadaran atau kerusakan fungsi kontrol saraf pusat dan bersifat reversibel.
Obat anestesi lokal terutama berfungsi untuk mencegah atau menghilangkan sensasi nyeri
dengan memutuskan konduksi impuls saraf yang bersifat sementara. Obat anestesi lokal
pertama yang ditemukan adalah kokain. Kokain yang ditemukan secara tidak sengaja pada
akhir abad ke-19 ternyata memiliki kemampuan sebagai anestesi yang baik. Kokain
diperoleh dari ekstrak daun coca (Erythroxylon coca). Kokain pertama kali diisolasi pada
tahun 1860 oleh Albert Niemann. Sigmund Freud meneliti efek fisiologi kokain dan pada
tahun 1884 Carl Koller memperkenalkan pemakaian kokain dalam praktek klinis sebagai
anestesi topikal untuk operasi mata. Halstead mempopulerkan penggunaan cara infiltrasi
dan blok saraf (Catterall 2001).
Anestesi lokal adalah obat yang menghambat hantaran dan bekerja pada setiap
bagian susunan saraf jika terkena pada jaringan saraf dengan kadar yang sesuai. Pemberian
anestesi lokal pada batang saraf akan menimbulkan paralisis sensorik dan motorik pada
daerah yang dipersarafinya yang bersifat sementaratanpa merusak serabut atau sel saraf
tersebut.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Praktikum mengenai anestesi lokal ini menggunakan hewan coba tikus putih
sebanyak 2 ekor dengan perlakuan obat yang berbeda. Tikus pertama diberikan perlakuan
sediaan prokain dan prokain adrenalin. Sedangkan tikus kedua diberikan perlakuan sediaan
lidokain dan lidokain adrenalin. Masing-masing obat diberikan dengan dosis 1 ml. Hasil
dari reaksi obat-obat tersebut kemudian dibandingkan onset dan durasi.

Tabel 1. Anastesi lokal menggunakan sediaan prokain dan prokain adrenalin.

No. Jenis obat Onset 0’ 5’ 10’ 15’ 20’ 25’ 30’


1. Prokain 40 detik + - - - - + +
2. Prokain Adrenalin 50 detik + - - - - - -
Keterangan: (+) ada sensasi nyeri, (-) tidak ada sensasi nyeri

Obat anestesi lokal adalah obat yang menghambat hantaran saraf bila digunakan
secara lokal pada jaringan saraf dengan konsentrasi cukup. Bekerjanya obat ini pada tiap
bagian susunan saraf dan pada tiap jenis serat saraf. Pengaruh anestesi lokal menyebabkan
penurunan eksibilitas, kecepatan konduksi dan kekuatan kontrasi, juga dapat menyebabkan
vasodilatasi arteriol (Untary 2000). Prokain ketika diinjeksi secara subkutan memiliki onset
selama 40 detik sedangkan prokain adrenalin memiliki onset yang lebih lama yaitu 50
detik. Durasi pemberian prokain yaitu pada menit ke 25 sedangkan pemberian prokain
aderenalin sebagai anestesi lokal memiliki durasi yang lebih lama sehingga pada menit ke
30 belum terdapat sensasi nyeri.
Menurut Ikhsan et al. (2013) penambahan adrenalin membuat vasokonstriksi
pembuluh darah pada lokasi anestesi lokal sehingga memperlambat absorbsi kemudian
memperpanjang efek lokanya atau durasi. Onset pada pemberian sediaan prokain adrenalin
lebih lama apabila dibangdingkan dengan pemberian sediaan prokain. Hal tersebut
disebabkan pada penambahan adrenalin memperlambat absorbsi obat sehingga onsetnya
menjadi lebih lama.

Tabel 2. Anestesi lokal menggunakan sediaan lidokain dan lidokain adrenalin.


No. Jenis obat Onset 0’ 5’ 10’ 15’ 20’ 25’ 30’
1. Lidokain 40 detik + - - - - - -
2. Lidokain Adrenalin 50 detik + - - - - - -
Keterangan: (+) ada sensasi nyeri, (-) tidak ada sensasi nyeri

Tikus kedua diberi obat anastesi lidokain pada bagain tubuh pertama sebanyak 1
ml pada empat titik penyuntikan dengan onset 36 detik. Bagian kedua mencit diberi anastesi
lidokain yang dikombinasikan dengan adrenalin masing-masing sebanyak 0,5 ml pada
empat titik penyuntikan dengan onset 42 detik. Hasil dari percobaan menunjukkan efek
yang ditimbulkan dari Lidokain cepat karena setelah pemberian pada menit ke-5 sensasi
nyeri tidak timbul kembali sampai menit ke-30. Hal ini disebabkan oleh kerja Lidokain
yang cepat serta masa kerjanya yang lama sehingga dari awal penyuntikan selang beberapa
menit sensasi nyeri ketika ditusuk jarum tidak timbul dimulai dari menit ke-5 sampai menit
ke-30. Lama kerja Lidokain juga dipengaruhi oleh adrenalin yang berfungsi untuk
memperpanjang masa kerjanya.

Menurut Ansel & Howard (2005), dibandingkan Prokain khasiat Lidokain lebih
kuat dan lebih cepat kerjanya (setelah beberapa menit) dan bertahan lebih lama (plasma-
t1/2 1,5 – 2 jam, lama kerja 60-90 menit). Prokain merupakan anastesi lokal dari kelompok
ester, kelompok ini bekerja singkat. Dalam tubuh, zat ini dengan cepat dihidrolisa oleh
kolinesterase menjadi dietilaminoetanol dan PABA yang mengantagonis kerja
sulfonamida. Resorpsinya pada kulit buruk sehingga hanya digunakan sebagai injeksi dan
sering kali dikombinasikan dengan adrenalin untuk memperpanjang daya kerjanya.
Sebagai anestesi lokal, lidokain dapat diberikan dosis 3-4 mg/kgBB, bila
ditambahkan adrenalin dosis maksimal mencapai 6 mg/kgBB. Tanpa adrenalin dosis total
tidak boleh melebihi 200 mg dalam waktu 24 jam, dan dengan adrenalin tidak boleh
melebihi 500 mg untuk jangka waktu yang sama.
DAFTAR PUSTAKA

Ansel and Howard C. 2005. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi. Jakarta (ID): Universitas
Indonesia Press.
Catterall W and Mackie K. 2001. Lokal Anesthetics. New York (US): Mc Graw-Hill.
Ikhsan M, Mariati NW, Mintjelungan C. 2013. Gambaran penggunaan bahan anestesi lokal
untuk pencabutan gigi tetap oleh dokter gigi di kota Manado. Jurnal e-GIGI. 1(2):
105-114.
Stoelting RK. 2006. Pharmacology and Physiology in Anesthetic Practice 4th ed.
Philadelphia (USA): Lippincott Williams.
Tjay, Hoan T, Rahardja, Kirana. 2007. Obat-Obat Penting. Jakarta (ID): CV Permata.
Untary. 2000. Dosis aman adrenalin dalam larutan anestesi lokal untuk penderita
hipertensi. Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Indonesia. 2(5): 500-505.
Yogyartono P, Jayanata K, Prawito, Ernawati D. 2000. Dasar-dasar Bedah Kulit. Dalam:
Buku Panduan Penatalaksanaan Bedah Kulit 1 Edisi 2 Semarang (ID) :
Bagian/SMF Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin Fakultas Kedokteran Universitas
Diponegoro/RSUP Dr. Kariadi.

Anda mungkin juga menyukai