Anda di halaman 1dari 7

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Gagal ginjal merupakan kegagalan fungsi ginjal yaitu untuk
mempertahankan metabolisme tubuh serta keseimbangan cairan dan
elektrolit akibat obstruksi struktur ginjal yang progresif dengan
manifestasi adanya penumpukan sisa metabolisme (toksin uremic) di
dalam darah (Arif & Kumala, 2011). Gagal ginjal kronik (chronic
renal failure, CRF) terjadi apabila kedua ginjal sudah tidak dapat
mempertahankan lingkungan dalam kelangsungan hidup (Bardero,
2008).
Gagal ginjal kronik (GGK) di akibatkan oleh glomerulonephritis
kronis, ARF, penyakit ginjal polikistik, obstruksi. Episode
pielonefritis berulang, dan nefrotoksin . GGK di akibatkan pula oleh
penyakit iskemik seperti diabetes melitius (DM), hipertensi, lupus
eritematosus, poliarteritis, penyakit sel sabit, dan amyloidosis, juga
dapat menyebabkan pula gagal ginjal kronik. Diabetes mellitus
merupakan penyebab utama yang tertinngi pada lebih dari 30% klien
yang mengalami dialysis, sedangkan hipertensi merupakan penyebab
utama gagal ginjal kronik kedua setelah diabetes melitius. Black J.M
& Jane H (2014).
Menurut WHO (2012), penduduk dunia lebih dari 500 juta
mengalami gagal ginjal kronis dan sekitar 1,5 juta penduduk
menjalani terapi hemodialisa sepanjang hidupnya. Data di Indonesia
menunjukan peningkatan insidensi atau angka kejadian pada
penderita gagal ginjal kronik yang mmenjalani terapi hemodialisa
dari tahun 2007 sampai 2012 yakni 6862 pada tahun 2007, pada
tahun 2008 sebanyak 7328 penderita, tahun 2009 terjadi peningkatan
sebanyak 12.900 penderita, pada tahun 2010 sebanyak 14.833
penderita, 2011 terjadi peningkatan yang cukup tinggi yaitu 22.304
penderita dan pada tahun 2012 yaitu sekitar 28.782 penerita, terjadi
peningkatan setiap tahunnya (Indonesia Renal Registry, 2013).
Hasil prevalensi pasien gagal ginjal kronik berdasarkan data
riskesdas 2018 yang menjalani atau pernah melakukan hemodialisa
dan terdiagnosis penyakit GGK menurut data riskesdas 2018
Indonesia 19,3%. Di Indonesia angka prevalensi tertinggi yaitu di
provinsi DKI Jakarta 38,7% disusul oleh Bali, DIY, dan Jawa barat
masuk ke urutan 12 Provinsi terbanyak pasien dengan diagnosa
gagal ginjal kronik.
Penatalaksanaan yang dilakukan pada pasien gagal ginjal kronik
yaitu dengan cara hemodialisis yang merupakan suatu tindakan
penyaringan dan mengeliminasi sisa – sisa metabolisme tubuh
dengan bantuan alat yaitu dialiser, alat ini berfungsi sebagai
pengganti fungsi ginjal dan merpakan tindakan atau terapi yang
sering di lakukan selain dengan melakukan translpalntasi ginjal dan
peritoneal dialysis. Pada klien dengan gagal ginjal kronik. Indikasi
dilakukan hemodialisis adalah dengan pasien yang GFR <15
mL/menit, GFR <10 mL/menit dengan gejala uremia, dan GFR <5
mL/menit tanpa gejala gagal ginjal (Rahman, 2013). Kehilangan
fungsi ginjal menyebabkan penderita harus melakukan terapi salah
satunya yaitu terapi hemodialisa selama hidupnya, terapi ini sebagai
pengganti fungsi ginjal tanpa dilakukan suatu tindakan pada pasien
gagal ginjal maka dapat mengakibatkan kematian ( Charuwanno &
Aminah, 2017).
Hemodialisa merupakan terapi yang dilakukan dengan
menggunakan mesin dialisis dengan cara mengalirkan darah dari
tubuh klien. Pirau yang menghubungkan klieen dengan mesin akan
tetap terpasang pada temoatnya selama proses hemodialisa
berlangsung (Rosdahl, Makiyah & Kowalaski, 2014). Terapi
hemodialisis biasanya dilakukan 2-3 x/minggu dengan setiap
tindakan berlangsung selama 2-5 jam pada umumnya (Ganik,
Makiyah & Khoiriyati, 2017). Pasien yang di lakukan hemodialisa
biasanya muncul manifestasi klinis seperti kumpulan gejala
sindroma uremia seperti neuropati otonom dan motorik, miopati
pada otot jantung atau skeletal, gangguan oksigenasi, disfungsi
metabolisme tulang, perubahan vaskuler perifer contohnya
peningkatan daya tahan perifer, bahaya imunologi, dan berbagai
keluhan fisiologis seperti mual, muntah, insomnia, depresi, ansietas,
penurunan tekanan darah, dan fatigue (Daniyati, 2013).
Proses hemodialisis yang memakan waktu cukup lama yaitu
sekitar 2-5 jam umumnya dalam satu sesi umumnya sering
menimbulkan stres fisik pada pasien setelah dilakukan hemodialisis.
Pasien yang sudah melakukan hemodialisis akan memiliki kadar
ureum dan kreatinin yang tingggi. Ureum yang tinggi akan
mengganggu produksi hormon eritopoetin, jumlah sel darah merah
menurun atau yang sering di sebut anemia (Thomas, 2003). Sehinga
klien mengalami lelah, letih, lesu yang merupakan gejala fatigue
(Sullivan, 2009).
Fatigue di definisikan sebagai rasa lelah yang di rasakan
seseorang menurutnya dalam kondisi fisiologis secara normal,
kelelahan dapat berupa perasaan merasa lemah atau lelah sebagai
dampak dari penggunaan tenaga berulang atau berupa penurunan
respon sel, jaringan atau organ setelah stimulasi yang berlebihan.
Kelelahan atau fatigue pada pasien gagal ginjal kronik yang sedang
dilakukan hemodialisis merupakan masalah dalam keperawatan yang
harus memerlukan asuhan keperawatan dan intervensi secara tepat,
apabila fatigue tidak segera di tangani maka akan berdampak pada
perubahan fisiologis dan psikologis (Hirshkowitz , 2013).
Penatalaksanaan fatigue baik secara farmakologi seperti agen
stimulating eritopoesis dan terapi non farmakologi seperti akupresur,
rileksasi dan program aktifitas fisik seperti peregangan (ketahanan),
aerobik (Change, 2010). Peregangan otot adalah latihan otot dalam
melawan tahanan (Kozier, 2010). Latihan aerobik adalah latihan
yang menggunakan sistem kerja oksigen dengan gerakan ROM
dilakukan secara berkelanjutan. Latihan aerobik (ROM) dapat
memperbaiki sistem kardiovaskuler dan kebugaran (Mohseni, 2013).
Manfaat latihan aerobik ini yaitu dapat hyperlipidemia, resistensi
insulin, kebugaran dan ketahanan kardiopulmoner, meningkatkan
kualitas hidup pasien dialisis, tekanan darah, mengurangi skor
depresi, mengurangi kecemasan, meningkatkan kekuatan otot
kelelahan dan fungsi fisik (Jung & Park, 2011).
Intradialytic exercise bisa digunakan untuk melakukan
penanganan fatigue (Ayu, G.I, 2010). Intervensi potensial yang dapat
dilakukan untuk menurunkan fatigue dengan cara olahraga ringan
(intradialytic exercise). Latihan fisik (Intradialytic Exercise) di
definisikan sebagai pergerakan terencana, tersetruktur yang di
lakukan untuk memperbaiki dan untuk memelihara kebugaran fisik
untuk mempertahankan dan dapat meningkatkan kesehatan tubuh
secara keseluruhan. Latihan fisik yang di lakukan selama proses
dialisis dapat meningkatkan aliran darah pada otot dan dapat
memperbesar jumlah kapiler sehingga dapat meningkatkan
terjadinya perpindahan urea dan toksin dari jaringan ke vaskuler,
kemudian darah di alirkan ke dializer atau mesin hemodialisa
(Person et al, dalam Agustina, 2016).
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan Dwi Nur Aini,
Arlina Dewi, Novita Kurniasari (2015) yaitu nilai rata – rata score
fatigue sebelum dilakukan latihan fisik adalah 5,68. Nilai rata – rata
setelah dilakukan latihan fisik adalah 3,92. Hasil wilxocon
didapatkan p=0,000 (p-a) sehingga dinyatakan ada perbedaan yang
signifikan tingkat patigue sebelum dan sesudah dilakukan latihan
fisik pada pasien hemodialisis.
Berdasarkan hasil studi pendahuluan yang di lakukan di ruang
hemodialisa Rumah Sakit Ginjal Habibie dengan jumlah pasien yang
dilakukan hemodialisa sekitar00000000 pasien yang telah terjadwal
secara rutin, saat di berikan lembar questioner tentang kelemahan
(FAS)
Saat dilakukan wawancara dengan perawat yang bertugas di
ruangan hemodialisa bahwa latihan fisik intradialisis exercise belum
pernah dilakukan di ruang hemodialisa Rumah sakit ginjal Habibie.
Hal ini yang membuat peneliti tertarik untuk melakukan penelitian
mengenai intradialytic exercise terhadap fatigue.

1.2 Rumusan Masalah


Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah “ Adakah
pengaruh intradialysis exercise terhadap tingkat keleahan pada
pasien yang sedang melakukan hemodialisis di Rumah Sakit Habibie
Bandung 2019”

1.3 Tujuan Umum


Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh intradialytic
exercise: ROM terhadap fatigue pada pasien yang sedang melakukan
hemodialisis di Rumah Sakit Habibie Bandung 2019.

1.4 Tujuan Khusus


1. Mengidentifikasi tingkat kelelahan sebelum dilakikan intradialytic
exercise pada pasien yang sedang melakukan hemodialisis di
Rumah Sakit Habibie Bandung 2019.
2. Mengidentifikasi tingkat kelelahan sesudah dilakikan intradialytic
exercise pada pasien yang sedang melakukan hemodialisis di
Rumah Sakit Habibie Bandung 2019.
1.5 Manfaat Penelitian
1.5.1 Manfaat Teoritis
a. Bagi Ilmu Keperawatan
Penelitian Ini Di Harapkan Agar Menjadi Sumbangan
ilmu berupa standar operasional mengenali intervensi
keperawatan yang dapat di gunakan dalam penanganan
Fatigue dan dapat menjadi bahan reperensi berupan
evidence based practice mengenai pengaruh Exercise
intradialytic Terhadap Fatigue Pada Pasien Yang Sedang
Melakukan Hemodialisa Di Rumah Sakit Al-Islam
Bandung.
b. Bagi peneliti selanjutnya
Penelitian ini di harapkan bisa menjadi data dasar
untuk melakukakan penelitan mengenai terapi non
farmakologi untuk mengatasi Fatigue.
c. Bagi Institusi Pendidikan
Peneliti ini diharapkan sebagai bahan informasi bagi
profesi keperawatan tentang peningnya intradialytic
exercise : ROM pada pasien gagal ginjal kronik yang
menjalani hemodialisis.

1.5.2 Praktis
Bagi Rumah sakit
Penelitian ini di harapkan agar menjadi rekomendasi
bagi Rumah Sakit dalam memberikan pedoman asuhan
keperawatan dan dapat menggunakan sebagai salah satu
teknik dalam penanganan pada klien yang mengalami
Fatigue.