Anda di halaman 1dari 36

III.

HASIL DAN PEMBAHASAN

1. Parangtritis Geomaritime Science Park


A. Museum Gumuk Pasir Parangkusumo
Kawasan ekosistem gumuk pasir ini terletak di Desa Parangtritis, sekitar 28
kilometer dari kraton Yogyakarta ke arah selatan. Secara admistratif masuk
wilayah Kecamatan Kretek, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Sebelah selatan berbatasan dengan Samudera Hindia, sebelah barat berbatasan
dengan Kali Opak. Sebelah utara berbatasan dengan Desa Donotirto Kecamatan
Pundong, sedang sebelah timur Kecamatan Panggang, Kabupaten Gunungkidul.

Parangtritis Geomaritime Science Park (PGSP), menerima edukator museum dari


Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Yogyakarta. Di dalam komplek perkantoran
PGSP terdapat salah satu museum, yakni Museum Gumuk Pasir.

Museum Gumuk Pasir hadir sebagai laboratorium geospasial pesisir Parangtritis


dan menyimpan berbagai benda yang berkaitan dengan ekosistem pesisir pantai,
seperti berbagai jenis batuan, pasir, herbarium, serta tersedia ruang audio visual
yang nyaman untuk mengenal dan memahami gumuk pasir.

Gumuk pasir adalah gundukan bukit dari pasir yang terhembus angin. Tidak
semua daerah tropis memiliki gumuk pasir seperti yang ada di pantai
Parangkusumo, Parangtritis Yogyakarta ini. Hanya ada dua negara dengan iklim
tropis yang memilikinya yakni Indonesia dan Meksiko. Di museum ini, Anda
akan mendapat informasi mengenai proses terbentuknya gumuk pasir pantai
selatan. Selain itu terdapat alat-alat pemetaan, sampel pasir dan batu dari beberapa
daerah di Indonesia.

Museum ini diresmikan oleh Menristekdikti, Prof. H. Mohamad Nasir, Ph.D., Ak


bersama dengan Gubernur DIY, Kepala BIG, Bupati Bantul, dan Rektor UGM
pada tanggal 11 September 2015. Museum ini difasilitasi oleh Kemenristek Dikti,
Pemerintah DIY, dan dikelola bersama antara Badan Informasi Geospasial (BIG),
UGM, dan Pemerintah Kabupaten Bantul.

 Adapun fasilitas yang disediakan seperti :

1. Kantor
2. Ruang studio audio visual
3. Auditorium
4. Rumah Singgah
5. Ruang diklat
6. Kamar mandi
7. Photobooth
8. Parkir luas
9. Pemandu museum

Kami juga mendapatkan penjelasan mengenai berbagai fenomena geologi,


melalui berbagai benda seperti foto, maket, bebatuan mineral, laqueer feel,
dan CD tipologi pantai-pantai di Indonesia.

Museum Gumuk Pasir Yogyakarta terdiri atas tiga gedung utama untuk
menampilkan aneka koleksi dan sarana edukasinya. Gedung utama berbentuk
kerucut dengan warna dominan biru. Gedung tersebut menggambarkan
Gunung Merapi sebagai asal batuan vulkanik dan pasir. Gedung ini
merupakan bangunan empat lantai yang memiliki koleksi khusus di setiap
lantainya.

Di lantai 1, Anda bisa melihat detail bentang alam pesisir Kabupaten Bantul,
serta pesisir pantai lain di seluruh Indonesia beserta tumbuhan yang hidup di
sana.

Sementara lantai 2 menjadi tempat menyimpan peralatan dan perlengkapan


pemetaan.
Lantai 3 berisi koleksi batuan dan lantai 4 berfungsi sebagai menara pandang
untuk melihat pemandangan air laut dari kejauhan.

Bagian ke dua yaitu lorong pengetahuan. Lorong ini melambangkan sungai


yang membawa pasir hasil letusan Gunung Merapi ke pesisir pantai. Di tempat
ini, Anda bisa mendapatkan informasi tentang terjadinya Gumuk Pasir yang
memanjang dari Depok hingga Parangtritis.

Dari lorong ini, Anda akan memahami proses terbentuknya Gumuk Pasir dari
material vulkanik seperti debu, lahar panas, lahar dingin, dan batuan yang
terbawa aliran sungai. Sungai-sungai yang bermata air di Gunung Merapi
seperti Sungai Bedok, Boyong, Opak, dan Gendol membawa material tersebut
hingga membentuk daerah aliran sungai yang berkumpul di muara Sungai
Opak.

Sampai di muara, material tersebut dihancurkan oleh ombak Pantai Selatan


hingga menjadi pasir halus. Pasir tersebut masih mengalami proses pemanasan
sinar mataharai secara terus menerus sehingga kering dan tertiup angin
menuju daratan. Pasir yang dibawa angin terus berkumpul dan mengendap
sampai menjadi gundukan pasir seperti yang dapat disaksikan saat ini.

Gedung ketiga dari Museum Gumuk Pasir Parangtritis mengandung filosofi


muara sungai tempat terbentuknya gumuk pasir.
B. Sejarah

Gumuk pasir adalah gundukan bukit atau igir dari pasir yang terhembus angin.
Gumuk pasir dapat dijumpai pada daerah yang memiliki pasir sebagai material
utama, kecepatan angin tinggi untuk mengikis dan mengangkut butir-butir
berukuran pasir, dan permukaan tanah untuk tempat pengendapan pasir,
biasanya terbentuk di daerah arid (kering).

Gumuk pasir cenderung terbentuk dengan penampang tidak simetri. Jika tidak
ada stabilisasi oleh vegetasi gumuk pasir cenderung bergeser ke arah angina
berhembus, hal ini karena butir-butir pasir terhembus dari depan ke belakang
gumuk. Gerakan gumuk pasir pada umumnya kurang dari 30 meter pertahun.

Bentuk gumuk pasir bermacam-macam tergantung pada faktor-faktor jumlah


dan ukuran butir pasir, kekuatan dan arah angin, dan keadaan vegetasi. Bentuk
gumuk pasir pokok yang perlu dikenal adalah bentuk melintang (transverse),
sabit (barchan), parabola (parabolic), dan memanjang (longitudinal dune).

Secara global gumuk pasir merupakan bentuklahan bentukan asal proses angin
(aeolian). Bentuklahan bentukan asal proses ini dapat berkembang dengan baik
apabila terpenuhi persyaratan sebagai berikut :
1. Tersedia material berukuran pasir halus hingga kasar dalam jumlah yang
banyak.
2. Adanya periode kering yang panjang dan tegas.
3. Adanya angin yang mampu mengangkut dan mengendapkan bahan pasir
tersebut.
4. Gerakan angin tidak banyak terhalang oleh vegetasi maupun obyek lain.

1. Aspek spatial (keruangan) Gumuk Pasir Parangtritis

Gumuk pasir atau sand dune adalah bentukan yang terbentuk oleh akitivitas angin
(eolin). Angin yang membawa pasir dan kemudian mengendapkannya akan
membentuk berbagai macam tipe bentuk gumuk pasir. Pada umumnya, gumuk
pasir terbentuk pada daerah gurun, namun uniknya di Indonesia yang beriklim
tropis dengan curah hujan yang tinggi memiliki bentukan gumuk pasir tersebut.
Oleh karena itu, gumuk pasir yang terdapat di pantai selatan Jawa tersebut
merupakan satu-satunya di Indonesia.

Gumuk pasir di Parangtritis, Bantul, Yogyakarta. Memiliki satuan bentuk lahan


Clif (bukit terjal), terdapat gumuk pasir yang tebalnya 1-10 m berasal dari
sedimentasi debu-debu halus. Terjadinya gumuk pasir dikarenakan tersedianya
material pasir halus dalam jumlah yang banyak, pada periode yang panjang yang
disertai angin yang mampu memindahkan dan mengendapkan bahan-bahan
tersebut, dan karena gerakan angin tidak banyak terhalang oleh vegetasi pantai
maka terbentuklah gumuk pasir.

Terjadinya lahan ini berasal dari proses erosi. Erosi yang terjadi adalah erosi
angin yang terbawa dari gunung merapi melalui sungai opak, kali oyo, yang
kemudian di muarakan di laut/ pantai di pesisir yogyakarta. Materi batuannya
berupa abu vulkanik. Sehingga tanah yang terbentuk tidak subur, yang berasal
dari endapan gumuk pasir. Siklus hidrologi yang terjadi yaitu dengan drainase
yang baik maka air hujan dapat meresap dengan cepat, sehingga air tidak
tergenang. Penggunaan lahan yang sesuai dengan lahan ini adalah pariwisata dan
pertanian yang dikhususkan pada sawah irigasi. Dan vegetasi yang sesuai antara
lain : rumput pantai, dan pandan laut, dll.

Beberapa Pengaruh terbentuknya Gumuk Pasir di Pantai Parangtritis


antara lain :

1. Pengaruh dari Gunung Merapi


Material yang ada pada gumuk pasir di pantai selatan Jawa berasal dari
Gunung Api Merapi dan gunung gunung api aktif lain yang ada di sekitarnya.
Material berupa pasir dan material piroklastik lain yang dikeluarkan oleh
Gunung Merapi. Akibat proses erosi dan gerak massa bautan, material
kemudian terbawa oleh aliran sungai, misalnya pada Kali Krasak, Kali
Gendol, dan Kali Suci. Aliran sungai kemudian mengalirkan material tersebut
hingga ke pantai selatan.

2. Pengaruh angin
Kekuatan angin sangat berpengaruh terhadap pembentukan gumuk pasir,
karena kekuatan angin menentukan kemampuannya untuk membawa material
yang berupa pasir baik melalui menggelinding (rolling), merayap, melompat,
maupun terbang. Karena adanya material pasir dalam jumlah banyak serta
kekuatan angin yang besar, maka pasir akan membentuk berbagai tipe gumuk
pasir, baik free dunes maupun impended dunes. .Pada pantai selatan jawa,
angin bertiup dari arah tenggara, hal ini menyebabkan sungai-sungai pada
pantai selatan membelok ke arah kiri jika dilihat dari Samudra Hindia. Selain
itu, karena arah tiupan angin tersebut, maka gumuk pasir yang terbentuk
menghadap ke arah datangnya angin.

Citra daerah gumuk pasir parangtritis yang menunjukkan adanya pengaruh


angin muson tenggara. ( Sumber : wikimapia.org, 2008)
3. Pengaruh Sungai.
Pembentukan gumuk pasir pada pantai selatan dipengaruhi oleh adanya
beberapa aliran sungai, yaitu Sungai Opak-Oyo pada bagian timur dan sungai
Progo pada bagian barat. Seperti yang telah diuraikan sebelumnya bahwa
material dari Merapi terbawa oleh aliran sungai di sekitarnya, sungai-sungai
tersebut kemudian menyatu membentuk orde sungai yang lebih besar hingga
menyatu membentuk sungai Opak, Oyo, dan Progo. Setelah material pasir
sampai ke laut, terdapat interverensi dari ombak laut sehingga material
mengendap pada pantai selatan dan selanjutnya diterbangkan oleh angin. Pada
pantai selatan Jawa, material tersebut tidak diendapkan pada bagian depan dari
sungai yang pada akhirnya membentuk delta, hal ini disebabkan karena
kuatnya arus dan gelombang laut pantai selatan serta arahnya yang berasal dari
tenggara menyebabkan material terendapkan pada bagian barat sungai.

4. Pengaruh Graben Bantul

Zona selatan Jawa merupakan plato yang mirining ke arah selatan menuju
Samudra Hindia dan di sebelah utara banyak tebing patahan. Sebagian plato
ini telah banyak terkikis sehingga kehilangan bentuk platonya. Pada daerah
Jawa Tengah dan DIY, sebagian daerah tersebut telah berubah menjadi
dataran alluvial, Salah satunya adalah yang terjadi pada daerah bantul yang
berupa graben. Graben adalah blok patahan yang mengalami penurunan
diantara dua blok patahan yang naik yang disebut dengan horst. Pada bagian
timur graben, terdapat Perbukitan Batur Agung, sedangkan pada bagian barat
terdapat Perbukitan Manoreh. Akibat adanya patahan tersebut, maka batuan
pada zona pertemuan kedua blok tersebut menjadi lemah sehingga mudah
tererosi dan pada akhirnya membentuk sungai yang disebut dengan sungai
patahan yang ditemui misalnya pada Sungai Opak-Oyo.Salah satu ciri sungai
patahan yang diamati adalah adanya kelurusan sungai pada sepanjang garis
patahan.

2. Aspek Sosio-Culture Pantai Parangtritis dan Sekitarnya


Wilayah Pantai Parangtritis meliputi pantai Parangtritis dengan panorama
alam yang ditonjolkan sebagai objek utama, Pantai parangkusumo dengan
penonjolan objek budaya dan religius, serta Pantai depok dengan pariwisata
kuliner yang dominan. Hal ini kemudian membentuk spatial
synergism dan spatial association yang sangat baik.

Spatial synergism adalah bentuk hubungan spatial (keruangan) antara


beberapa ruang atau tempat sehingga menimbulkan statu manfaat yang lebih
jira dibandingkan apabila setiap ruang itu berdiri sendiri. Dalam hal ini
beberapa objek wisata yang berbeda dan menjadi satu paket wisata dalam satu
wilayah yang dekat menyebabkan pantai parangtritis menjadi objek wisata
yang lengkap sehingga lebih menarik untuk dikunjungi.

Spatial association adalah bentuk hubungan spatial (keruangan) antara


beberapa ruang atau tempat yang saling mendukung satu sama lain. Dalam hal
ini keberadaan pantai depok menjadi pendukung pariwisata parangtritis dan
sebaliknya.

Pantai parangkusumo ini dikenal sebagai wisata budaya yang terkait dengan
adanya tempat yang diyakinmi sebagai tempat bertemunya raja mataramn
dengan Nyai Roro Kidul pada masa lampau. Selain itu ada pula tempat berupa
makam dari Syeh Maulana Maghribi dan Syeh Belabelu yang juga menjadi
tempat peziarahan. Penduduk utamanya bermatapencaharian di bidang jasa
pariwisata baik perdagangan ataupun menyewakan penginapan. Permasalahan
yang kemudian timbul di sini adalah maraknya praktek prostitusi.

Hidrologi kawasan ini tidak cukup baik. Meskipun relatif dangkal, tetapi
karena materi pasir memiliki kemampuan meloloskan air tinggi sehingga tidak
ada aliran permukaan yang dapat di manfaatkan sebagai sumber air kecuali
sungai Opak. Perkembangan pariwisata yang pesat dapat saja menyebabkan
banyaknya air tanah yang diambil di daerah pesisir ini sehingga dapat
menyebabkan intrusi air laut. Selain itu aktivitas ini juga menyebabkan
semakin banyaknya limbah baik yang berupa sampah ataupun sisa hasil
konsumsi manusia lainnya.

Gumuk pasir Parangkusumo Bantul

C. Persebaran Gumuk Pasir di Dunia dan di Asia Tenggara


Martinez et.al. (2008) menyebutkan bahwa gumuk pasir pesisir terdapat di
seluruh garis lintang di dunia mulai dari kutub hingga khatulistiwa, seperti
yang ada di Gambar 1.

Gambar 1
Terdapat dua jenis gumuk pasir pesisir di seluruh dunia, yaitu gumuk pasir
yang telah terbangun dengan baik (well developed dune systems) dan gumuk
pasir kecil (small sand dunes) yang umumnya diselingi dengan pantai
berpasir, mangrove, rawa air asin, ataupun tanjung berbatu (rocky headlands)
(Martinez et.al., 2008). Secara lebih spesifik, penelitian tentang gumuk pasir
pesisir di lintang tinggi (wilayah kutub) dibahas oleh Ruz dan Hesp (2014)
dan distribusinya dapat dilihat pada Gambar 2.

Gambar 2
persebaran gumuk pasir pesisir di Asia Tenggara setidaknya ditemukan di tiga
negara, yaitu Filipina, Vietnam, dan Indonesia (Gambar 3). Ketiga negara ini
memiliki gumuk pasir pesisir yang cukup luas dan signifikan dalam proses
pembentukannya ketimbang negara lainnya. Gumuk pasir pesisir di Filipina
bernama La Paz Sand Dunes dan terletak di Kota Laoag, Provinsi Ilocos Norte
(Formantez, 2009) sementara di Vietnam bernama Mui Ne Sand Dune dan
terletak di Kota Mui Ne, Provinsi Binh Thuan (Quy et.al., 2001). Indonesia
juga memiliki gumuk pasir pesisir yang memanjang di selatan Jawa mulai dari
pesisir Provinsi Jawa Barat hingga DIY namun pembentukan yang paling
signifikan terdapat di DIY. Hal yang menarik adalah tipe gumuk pasir yang
ada di Filipina, Vietnam, dan Indonesia ternyata sama-sama memiliki tipe
barkhan.
Gambar 3
Gumuk pasir barkhan di Parangtritis termasuk langka atau jarang ditemukan.
Gumuk pasir di dunia terbagi menjadi dua, yaitu desert dunes dan coastal
dunes (atau gumuk pasir pesisir saat ini tengah dibahas) (Pye dan Tsoar, 2009).
Gumuk pasir pun dapat diklasifikasikan berdasarkan perbedaan iklimnya.

Pada iklim basah, umumnya dijumpai gumuk membusut (hummock dunes) dan
gumuk parabolik (parabolic dunes) dan pada iklim kering dan setengah kering
(arid dan semi-arid) lebih banyak ditemukan gumuk barkhan dan igir barkhanoid
melintang (transverse barchanoid ridges) (Sunarto, 2014; Pye dan Tsoar, 2009).

Berdasarkan pembagian gumuk pasir menurut iklim, terdapat satu fakta yang
menarik : gumuk pasir di Parangtritis memiliki gumuk pasir tipe barkhan dan
Parangtritis memiliki iklim tropika basah. Hal inilah yang menyebabkan gumuk
pasir tipe barkhan menjadi langka. Gumuk pasir barkhan tidak seharusnya
terbentuk di Parangtritis karena iklimnya tidak sesuai. Seandainya gumuk pasir
tipe barkhan terbentuk di Filipina atau Vietnam yang memiliki iklim arid, hal
tersebut tidak istimewa karena memang wajar.

D. Tumbuhan yang ada di Gumuk Pasir


Tumbuhan asli gumuk pasir umumnya tumbuhan yang memiliki daun kecil
seperti duri dan berakar panjang (xerophytic). Jenis tumbuhan tersebut
diantaranya adalah Widara laut (Ziziphus mauritiana), Siwalan (Borassus
flabellifer), Rumput gulung (Spinifex littoreus), Tapak kambing (Ipomoea pes-
caprae), dan Pandan (Pandanus tectorius). Zona belakang ekosistem Gumuk
Pasir ditandai oleh Dadap laut (Inga sp.) dan Nyamplung (Callophylum
inophylum).

E. Manfaat

Gumuk pasir memberikan berbagai manfaat (jasa ekosistem) bagi masyarakat


di sekitarnya. Secara tampak, Gumuk Pasir Parangtritis menjadi studi alam yang
eksotis sehingga menjadi tujuan wisata yang sulit untuk dilewatkan. Telah banyak
pengambilan gambar untuk kepentingan film, video clip, ataupun iklan yang
dilakukan di Gumuk Pasir Parangtritis. Masyarakat pun mendapatkan
manfaat ekonomi dengan aktivitas pariwisata di Gumuk Pasir Parangtritis.

Menurut pakar gumuk pasir dari Fakultas Geografi UGM, Professor Soenarto,
Gumuk Pasir Parangtritis mempunyai beberapa fungsi, diantaranya:

1. Fungsi Intrinsik (tidak dapat dilihat), yaitu Gumuk Pasir Parangtritis


merupakan satu kesatuantetenger berdirinya Kraton Ngayogyakarta
Hadiningrat. Keberadaan Gumuk Pasir menyatu dengan kawasan budaya
Cepuri yang berada dekat dengan zona inti. Di Cepuri tersebut, terdapat Watu
Gilang yang konon menjadi tempat duduk Danang Sutawijaya pendiri
Kesultanan Mataram dimana saat mendirikan Kesultanan menghadapi gejolak
masyarakat, yang digambarkan dengan gejolak laut. Disamping gelombang
laut juga ada gejolak lain tapi kecil, yaitu digambarkan dengan Gumuk Pasir;
2. Fungsi Resible; Gumuk Pasir merupakan resapan bagi akuifer terbatas karena
Gumuk Pasir tidak mengikuti sistem DAS yang lain tetapi tersendiri;
3. Gumuk Pasir memiliki bentukan barchan yang dapat berfungsi sebagai
penangkal tsunami. Menurut pengukuran, tinggi barchan Gumuk Pasir
Parangtritis dapat mencapai 17 m dpl, sedangkan tsunami tertinggi mencapai
15 m dpl sehingga dikatakan bahwa Gumuk Pasir dapat berfungsi sebagai
penangkal tsunami.
4. Kawasan Gumuk Pasir merupakan kawasan penelitian yang penting,
mengingat Gumuk Pasir Parangtritis merupakan satu-satunya Gumuk Pasir di
Asia Tenggara. Peneliti Gumuk Pasir tidak hanya berasal dari DIY saja,
namun juga dari negara-negara lain di Asia Tenggara;

F. Hambatan Terbentuknya Gumuk Pasir


 Adanya anggapan bahwa kawasan Gumuk Pasir memiliki tingkat
keanekaragaman hayati yang rendah ini telah menyebabkan dijalankannya
kebijakan untuk melakukan penghijauan kawasan Gumuk Pasir selama
bertahun-tahun. Berdasarkan hasil Kajian Baku Kerusakan Pantai dan Pesisir
yang dilaksanakan oleh BLH DIY, disimpulkan bahwa:
 Pengamatan kondisi tutupan vegetasi di zona inti Gumuk Pasir tahun 2008 dan
2016 terjadi perbedaan yang sangat besar;
5. Hasil citra satelit pada tahun 2008 di zona inti Gumuk Pasir keberadaan
tutupan vegetasi hanya mencapai kurang lebih 5%, sehingga proses
terbentuknya barchan masih aktif;
6. Untuk saat ini tahun 2016 hasil citra satelit kondisi tutupan vegetasi di zona
inti gumuk pasir sudah cukup besar di atas 80% sehingga proses
terbentuknya barchan sulit terjadi;
Sulitnya pembentukan barchan karena terhalang oleh tutupan vegetasi di wilayah
pantai menyebabkan luasan Gumuk Pasir terus berkurang. Jika hal tersebut
dibiarkan secara terus-menerus, maka bukan tidak mungkin bahwa suatu saat
nanti Gumuk Pasir Parangtritis akan punah. Jika pada awal tahun 1980-an luasan
Gumuk Pasir mencapai 500 ha, maka saat ini luasannya tinggal 141 ha.

G. Konservasi Gumuk Pasir

1. Preservasi, yaitu menjaga agar ekosistem gumuk pasir tetap pada kondisinya
sekarang;
2. Reklamsi, yaitu menstabilkan ekosistem gumum pasir agar tidak rusak akibat
alam dan antropogenik;
3. Rehabilitasi, yaitu mengembalikan ekosistem gumuk pasir yang sudah rusak
menjadi tidak rusak meskipun dengan kondisi yang berbeda dari semula, dan;
4. Restorasi, yaitu mengembalikan ekosistem gumuk pasir yang telah rusak
menjadi kondisi seperti semula.
Dari beberapa metode konservasi gumuk pasir tersebut, menurut Soenarto (2016),
yang paling tepat adalah metode konservasi gumuk pasir dengan restorasi yaitu
dengan mengembalikan ekosistem gumuk pasir ke kondisi semula. Barchan-
barchan di gumuk pasir dapat "hidup kembali", apabila memenuhi syarat hidup
sebagai berikut:
1) Pantainya berpasir;
2) Tipe gisik disipatif atau energi gelombangnya terhambur;
3) Pasir kering dengan kadar lengas kurang dari 2%;
4) Pasokan pasir 15-60%;
5) Aktif di musim kemarau dan inaktif di musim hujan;
6) Pengaruh angin 70-90%;
7) Luasan vegetasi 0-10%;
8) Lingkungan yang tenggar atau leluasa tanpa penghalang.

Mengingat pada kondisi sekarang luasan tutupan vegetasi di kawasan gumuk pasir
sangat besar, yaitu mencapai lebih dari 80% luas kawasan sehingga angin yang
membentuk barchan terhalang, maka diperlukan upaya penataan vegetasi sebagai
langkah awal restorasi gumuk pasir. Penataan vegetasi perlu dilakukan terhadap:

1. Vegetasi yang menghalangi angin dari arah laut selatan, yaitu vegetasi yang
terletak dibagian depan pantai perlu dihilangkan. Tutupan vegetasi dibagian yang
menghadap pantai ini selama ini telah membantu kegiatan pertanian, tambak
udang dan pemukiman. Apabila vegetasi di bagian ini dihilangkan, maka lahan-
lahan tersebut akan tertutup pasir dan tidak dapat berproduksi lagi, namun akan
dapat mengembalikan bioma Gumuk Pasir seperti asalnya;
2. Vegetasi introduksi atau bukan asli kawasan Gumuk Pasir, perlu dikurangi. Pohon
Cemara Udang dan Akasia merupakan tanaman introduksi yang banyak ditanam
untuk penghijauan kawasan Gumuk Pasir. Tanaman-tanaman tersebut terindikasi
merupakan jenis invasif yang menghambat tumbuhnya spesies asli kawasan
sehingga perlu dikurangi atau bahkan dihilangkan, sedangkan vegetasi asli
kawasan perlu dipertahankan;
3. Vegetasi asli ekosistem gumuk pasir perlu dipertahankan. Secara alami, jumlah
vegetasi asli ekosistem gumuk pasir tidak akan berkembang melebihi 10% luasan
kawasan sehingga tidak akan menghambat proses terbentuknya barchan oleh
angin. Beberapa jenis vegetasi asli ekosistem gumuk pasir telah disebutkan diatas;
4. Vegetasi pada zona kurang lebih 50 meter disebelah selatan JJLS perlu
dipertahankan. JJLS merupakan jalur ekonomi masyarakat dan letaknya cukup
jauh dari kawasan pantai. Vegetasi pada zona tersebut perlu dipertahankan untuk
melindungi jalan raya dari pasir yang dapat menyebabkan jalan menjadi licin dan
rawan kecelakaan dan juga untuk mempertahankan jalur ekonomi masyarakat;

Hasil Observasi

Parangtritis Geomaritime Science Park


No. Titik Pengamatan :
Lokasi Desa : Parangtritis
Kecamatan : Kretek
Kabupaten : Bantul
Provinsi : Daerah Istimewa Yogyakarta
Koordinat X :
Y :
Jenis Obyek : Cagar alam geomaritim

A. Aspek Meteorologi Klimatologi


Iklim : arid / Kering
Kondisi cuaca : cerah
Ketinggian tempat : 18 mdpl
Suhu : 350 C
Kelembaban udara : 52%
Tekanan udara :-
Arah angin : Membelok ke arah Laut
Kecepatan angin : 5,82 Km/Jam
Jenis awan : Cirrus

B. Aspek Geomorfologi
1. Bentuklahan : Asal Aeolian ( Landform )
2. Proses Pembentukan :
a. Vulkanik
b. Fluvial
c. Marin
d. Aeolin
e. Glasial
f. Solusional
g. Struktural
h. Denudasional
i. Organik
j. Antropogenik
3. Topografi :
a. Bergunung
b. Berbukit
c. Bergelombang
d. Berombak
e. Landai/Datar
4. Kemiringan Lereng :
a. Curam (>40%)
b. Terjal (25-40%)
c. Sedang (15-25%)
d. Landai (8-15%)
e. Datar(<8%)
5. Kenampakan bentuklahan (struktur geologi) yang tampak :
a. Lipatan
b. Patahan
c. Graben
d. Dome
e. Meander sungai
f. Lainnya :
g. Tidak ada

C. Aspek Geologi
1. Tenaga geologi yang dominan :
a. Endogen
b. Eksogen
c. Campuran
2. Jenis batuan yang dominan :
a. Batuan beku 
b. Batuan sedimen  Pasir
c. Batuan metamorf 
3. Warna batuan : Abu - abu
4. Tekstur batuan : Halus
5. Singkapan batuan : Ada / Tidak ada

D. Aspek Tanah
1. Jenis tanah :Pasir
2. Tekstur tanah :
a. Pasir
b. Debu
c. Lempung
d. Geluh
3. Struktur tanah :
a. Granuler
b. Remah
c. Lempeng
d. Gumpal bersudut
e. Gumpal membulat
f. Prismatik
g. Columnar
4. Warna tanah : Abu - abu
5. pH tanah : 0,5
6. Permeabilitas tanah :
a. Cepat
b. Sedang
c. Lambat
7. Kenampakan erosi :
a. Ada
b. Tidakada
Jenis erosi :
a. Erosi percik
b. Erosi kulit
c. Erosi alur
d. Erosi parit
e. Erosi tebing
8. Kenampakan longsor :
a. Ada
b. Tidak ada
Ukuran mahkota longsor :
Tinggi : 5 m
Lebar : 10 m
9. Upaya konservasi tanah :
a. Ada
b. Tidak ada
10. Jenis konservasi tanah :
a. Vegetatif, jenisnya :
b. Mekanis (sipil teknis), jenisnya :

E. Aspek Hidrologi
1. Curah hujan : Tinggi
2. Nama DAS/Sub-DAS : Sungai Opak
3. Bagian DAS :
a. Hulu
b. Tengah
c. Hilir
4. Kenampakan hidrologi yang dijumpai :
a. Limpasan permukaan
b. Sungai
c. Danau
d. Rawa
a) Sungai
1) Jenis sungai :
a. Alami
b. Buatan
2) Sumber/asal air sungai :
a. Mata air
b. Hujan
c. Gletser
d. campuran
3) Bagian sungai :
a. Hulu
b. Tengah
c. Hilir
4) Jenis sungai berdasarkan kestabilan debit :
a. Permanen (perenial)
b. Periodik/musiman (ephemeral)
c. Campuran (intermitten)
5) Jenis sungai berdasarkan genesanya :
a. Konsekuen
b. Obsekuen
c. Subsekuen
d. Resekuen
e. Insekuen
6) Kecepatan aliran sungai : Tenang Hilir
7) Kedalaman sungai : Dangkal
8) Warna air : Biru Kehijauan
9) pH air sungai :-
10) Meander sungai : ada / tidak ada
11) Gosong sungai : ada / tidak ada
12) Erosi tebing sungai : ada / tidak ada
13) Sedimentasi sungai : ada / tidak ada
14) Pencemaran sungai : ada / tidak ada
15) Pemanfaatan sungai : sumber air penduduk menjadi distribusi
gumuk pasir

b) Danau
1) Nama danau :-
2) Luas danau :-
3) Kedalaman danau :-
4) Sumber air danau :
a. curah hujan
b. sungai
c. Air tanah
5) Warna air :-
6) Suhu air :-
7) pH air :-
8) Sifat air danau :
a. tawar
b. payau
c. Asin
9) Salinitas air danau :-
10) Jenis danau :
a. Alami
b. Buatan/bendungan
11) Proses pembentukan danau :
a. Danau tektonik
b. Danau vulkanik
c. Danau tektonik-vulkanik
d. Danau bendungan
e. Danau gletser
f. Danau karts
g. Danau erosi

c) Rawa
1) Jenis rawa :
a. Permanen
b. Pasang-surut
2) Luas rawa :-
3) Kedalaman rawa :-
4) Sumber air rawa :
a. Curah hujan
b. Sungai
c. Air tanah
5) Warna air : -
6) Suhu air : -
7) pH air :-
8) Sifat air rawa :
a. tawar
b. payau
c. Asin
9) Salinitas air rawa :-

F. Aspek Oseanografi
1. Jenis/tipe pantai : Landai
2. Material pantai : Pasir
3. Topografi pantai : Landai sedikit berbukit
4. Ekosistem yang dijumpai : Cemara Udang
5. Biota yang dijumpai :-
6. Kecepatan angin : 5,82 Km/Jam
7. Jenis/tipe gelombang :-
8. Tinggi gelombang :-
9. Periode gelombang :-
10. Kecepatan gelombang :-
11. pH air laut :-
12. Salinitas air laut :-
13. Suhu air laut :-
14. Tingkat kekeruhan air laut :-
15. Fenomena abrasi : ada / tidak ada
16. Fenomena delta (sedimentasi) : ada / tidak ada
17. Sumber daya alam yang ada :-
18. Pencemaran air laut :-
19. Upaya konservasi :-
G. Aspek Biotik (Biogeografi)
Jenis flora :
Jenis fauna :
Flora dan fauna paling dominan :
Upaya Pelestarian :
Aspek Pertanian dan Budaya
Jenis penggunaan lahan :
Luas lahan :-
Jenis pertanian/perkebunan :
Sistem pertanian/perkebunan :
Komoditas utama :
Sistem pembibitan :-
Sistem pengairan/irigasi :
Jenis hama :-
Cara penanggulangan hama :-
Manajemen/pengolahan lahan :-
Tanaman budidaya lain :
Sistem panen :
Sistem pemasaran hasil :
Pemanfaatan hasil pertanian :
PENGELOLA LOKASI/OBJEK WISATA

A. Identitas Responden
Nama : Ike
Umur : 23 tahun
Pendidikan Terakhir : S1 Kehutanan UGM
Pekerjaan/Jabatan : Pendamping Kunjungan

B. Ketenaga Kerjaan
1. Berapa banyak tenaga kerja yang ada, yang sesuai dengan fungsinya masing-
masing
Jawab: 13 dan masih adalagi

2. Bagaimana tingkat pendidikan tenaga kerja, apa sesuai dengan tugasnya


masing-masing
Jawab: sesuai

3. Berapa rata-rata pendapatannya


Jawab:

C. Wisatawan/Pengunjung
1. Berapa rata-rata jumlah pengunjung per bulannya
Jawab: 1500 orang

2. Dari daerah mana saja asal pengunjung yang datang


Jawab: 31% SMA, 15% Perguruan Tinggi, dan dari luar Jogja

D. Keadaan dan Potensi Objek Wisata


1. Sejak kapan lokasi/objek wisata ini dibuka untuk umum/pengunjung?
Jawab : 2015
2. Lokasi ini untuk aktivitas apa saja
Jawab: penelitian, survei

3. Apa yang menarik dari lokasi ini, sehingga banyak orang kerkunjung?
Jawab:Gedung yang mencerminkan bentuk gumuk pasir.

4. Jenis-jenis potensi wisata apa saja yang terdapat di objek wisata ini dan
menarik bagi wisatawan?
Jawab :
a. dilantai 3 terdapat koleksi terkait gumuk pasir, miniatur, dll
b.Alasan: terdapat edukasi tentang gumuk pasir
5. Apa saja potensi wisata yang kurang menarik bagi pengunjung/wisatawan?
Jawab : a. Wahana alat pemetaan dan simulasi drogne
b. Alasan: karena kebanyakan alat tidak diperlihatkan cara
penggunaannya

6. Apakah objek wisata ini melibatkan adat istiadat (budaya) masyarakat


setempat sebagai variasi daya tarik ?
Jawab : a. Tidak Pernah
b. Pernah, sebutkan. Kerajinan dari masyarakat setempat
1. Upacara adat..................kali/tahun
2. Musik/lagu daerah.........kali/tahun
3. Tari-tarian daerah........kali/tahun

7. Apakah pihak pengelola sering mengadakan atraksi/pertunjukan untuk


menambah semaraknya aktivitas di lokasi ini?
Jawab : a. Tidak Pernah
b. Pernah,
sebutkan……………………......................................................
1. Festival Gumuk Pasir, Talkshow, Pewayangan berapa kali.........tahun
2. Pagelaran Musik................................................. berapa kali.........tahun
3. Motor cross........................................................ berapa kali.........tahun

E. Program dan Rencana Pengembangan


1. Sebutkan jenis potensi wisata yang belum dikembangkan oleh pengelola :
Jawab : a.belom ada
b.

2. Apakah jenis-jenis potensi wisata tersebut telah direncanakan


pengembangannya?
Jawab : a. Sudah,
b. Belum, untuk...........................................

3. Apakah dana yang diperoleh dari objek wisata ini dapat mengembangkan
objek
wisata tersebut?
Jawab : a. Dapat,
b. Tidak, alasan................................................................................

4. Jenis potensi wisata apa saja yang telah diprioritaskan dan direncanakan
untuk
segera dibangun?
Jawab : a. Lantai
b.

F. Dukungan dan Kendala yang Dihadapi


1. Apakah dalam pengembangan prioritas pembangunan objek wisata ini, ada
bantuan dari pihak lain?
Jawab : a. Ada,
b.Tidak ada, alasan..............................................................................

2. Apakah pemerintah setempat, selama objek wisata ini ada pernah memberi
dana bantuan guna pengembangannya?
Jawab : a. Ya ada
b. Tidak ada, alasan..........................................................................

3. Apakah kendala yang dihadapi pihak pengelola dalam rangka


pengembangan objek wisata ini?
Jawab : a. Sulit menentukan objek wisata yang harus dibangun.
b. Sulit mendapatkan dana guna pembangunannya.
c. Karena luasnya, sulit merencanakan jenis-jenis objek wisata sesuai
alokasi tempat.
d.

4. Konsultan manakah yang pernah diajak kerja sama untuk menghadapi


kendala yang ada oleh pihak pengelola?
Jawab : a. Pemerintah ( Dinas Pariwisata )
b. Konsultan Swasta, yaitu............................................................
c. Perguruan Tinggi/SwastaUniversitas Gadjah Mada, Institut
Teknologi Bandung
d. Konsultan Asing, yaitu.............................................................

5. Apa saja upaya yang telah dilakukan oleh pihak pengelola dalam usaha
meningkatkan jumlah pengunjung?
Jawab : a. Promosi lewat radio/tv/surat kabar/majalah/internet
b. Memperbaiki fasilitas dan infrastruktur
c. Meningkatkan jumlah atraksi wisata
d. Melakukan kerja sama dengan berbagai perguruan tinggi di
Indonesia

6. Bagaimana menurut anda (pengelola), jumlah pengunjung objek wisata ini


pada 5
tahun terakhir ?
Jawab : a. Meningkat dari tahun ke tahun
b. Jumlah pengunjung relatif menurun
c. Biasa dan tidak ada peningkatan pengunjung
d. .....................................................

G. Fasilitas dan Infrastruktur


1. Fasilitas wisata/rekreasi yang
ada...................................................................

2. Fasilitas pelayanan yang ada: pemandu wisata

3. Fasilitas atraksi wisata yang


ada.....................................................................

4. Fasilitas keamanan yang


ada............................................................................

5. Fasilitas pengelolaan yang ada:

6. Infrastruktur informasi yang ada....................................................................

7. Infrastruktur kesehatan yang ada:

8. Infrastruktur bank/money changer yang ada:


H. Promosi dan Informasi
1. Jenis promosi yang pernah dilaksanakan: video profil di media sosial

2. Frekuensi promosi:

3. Bahasa promosi: multibahasa

4. Tujuan promosi: mengenalkan obyek pada dunia luar


KELOMPOK MASYARAKAT YANG BEKERJA DI LOKASI / OBJEK
WISATA

A. Identitas Responden :
1. Nama : Wahid Fauzi
2. Umur : 20 tahun
3. Jenis Kelamin : Laki-laki
4. Status Perkawinan: Kawin/janda/duda/belum kawin
5. Daerah Asal : Parangtritis
B. Tanggapan/Pandangan Responden :
1. Pernahkah saudara mendapatkan penyuluhan tentang pariwisata?
a. Belum pernah
b. Sudah pernah
c. Sebutkan waktunya
2. Menurut pendapat saudara, bagaimana bila kawasan ini dikembangkan
menjadi objek wisata?
a. Sangat setuju, alasannya
b. Setuju, alasannya......................................
c. Ragu – ragu, alasannya.............................
d. Kurang setuju, alasannya..........................
e. Tidak setuju, alasannya.............................
C. Dampak Sosial :
1. Berapa banyak tenaga kerja yang berasal dari daerah Anda?
Sebutkan tergantung, beda – beda pengelola yang disini (64 orang) tiap
harinya kurang lebih 5 orang
2. Bagaimana interaksi sosial Anda dengan sesama teman bekerja dan
atasan saudara?
Sebutkan struktur organisasi
3. Selama Anda bekerja di sini, apakah relasi anda bertambah atau terjadi
persaingan sesama pekerja?
Sebutkan interaksi sosial bagus (dimusyawarahkan)
4. Sebutkan tingkat pendidikan terakhir saudara :
a. Tidak tamat SD
b. SD
c. SLTP
d. SLTA
e. D3
f. Sarjana/S1
g. Lainnya, Masih Kuliah
5. Selain Anda, bagaimana keadaan pendidikan keluarga Anda (Suami,
Isteri, dan anak – anak)?
Sebutkan punya adik kelas 6 SD
D. Dampak Ekonomi :
1. Anda bekerja disini, merupakan mata pencaharian utama/pokok
saudara :
a. Ya, pekerjaan utama
b. Tidak, pekerjaan sampingan
2. Anda bekerja disini sebagai apa?
Sebutkan, tukang parkir dan guide sand boarding
3. Sudah berapa lama anda bekerja di lokasi/objek wisata ini?
Sebutkan 2 tahun (sejak berdirinya Museum Gumuk Pasir)
4. Menurut pendapat Anda, dengan adanya obyek wisata ini apakah
membuka peluang kerja?
a. Tidak ada
b. Ada, sebutkan pekerjaannya tukang parkir, guide sand boarding
5. Menurut pendapat Anda, dengan adanya obyek wisata ini apakah
pendapatan Anda bertambah?
a. Tidak bertambah
b. Tetap
c. Bertambah
6. Berapa penghasilan/pendapatan rata-rata Anda setiap bulan dari
bekerja di lokasi /objek wisata ini?
a. <Rp. 500.000,-
b. Rp. 500.000,- - Rp.1.000.000,-
c. Rp. 1.000.000,- - Rp. 2.000.000,-
d. >Rp. 2.000.000,-
7. Dengan pendapatan tersebut diatas, apakah kebutuhan pokok saudara
terpenuhi?
a. Ya, terpenuhi
b. Cukup
c. Tidak terpenuhi
E. Dampak Budaya :
1. Menurut pendapat Anda, bagaiman pengaruh prilaku dan moral
masyarakat dengan adanya kunjungan wisatawan ke daerah ini ?
a. Sangat baik
b. Baik/tidak berpengaruh
c. Cukup baik
d. Urang baik/merusak
e. Tidak baik
2. Apakah adanya kunjungan wisatawan ke objek wisata ini cukup
mempengaruhi budaya asli daerah ini ?
a. Ya
b. Tidak
F. Dampak Lingkungan :
1. Menurut pendapat Anda, bagaimana pengaruh objek / dampak objek
wisata ini terhadap keamanan di desa saudara?
a. Sangat aman
b. Aman
c. Cukup aman
d. Kurang aman
e. Tidak aman
2. Dengan adanya objek wisata ini, apakah berpengaruh terhadap lingkungan
di sekitar tempat tinggal saudara terutama kebersihan dan kenyamanan?
a. Baik/tidak ada masalah
b. Rusak/ mengganggu
c. Tetap/biasa aja
3. Menurut pendapat Anda, bagaimana hubungan atau kerjasama antara
masyrakat sekitar dengan pengelola objek wisata ini, terutama pelestarian
lingkungannya?
a. Saling kerjasama
b. Kurang kerjasama
c. Tidak ada kerjasama
4. Bagaiman pendapat saudara, apabila masyarakat sekitar ikut dalam
pemeliharaan dan melestarikan lingkungan objek wisata ini?
a. Dengan menjaga lingkungan objek wisata
b. Melarang apa saja keinginan orang – orang yang ingin mengganggu/
merusak objek wisata
c. Mematuhi semua aturan yang dikeluarkan oleh pihak pengelola
d. Menghindari setiap acara penerangan yang diadakan oleh pengelola
supaya mengerti fungsi dan makna dengan adanya objek wisata ini
G. Harapan dan Saran Responden
1. Jenis pekerjaan apa yang saudara harapkan dengan adanya usaha
pengembangan objek wisata ini ?
a. Berjualan makanan dan minuman
b. Berjualan hasil kerajinan
c. Berjualan hasil bumi
d. Pemandu wisata
e. Menjadi karyawan objek wisata
f. Lainnya, inovasi baru pesawat
2. Bagaimana saran saudara bagi pengembangan objek wisata ini untuk
masa datang agar lebih menarik ?
a. Kerjasama pihak pengelola dengan masyarakat lebih ditingkatkan
b. Pemberian pinjaman modal usaha dari pengelola
c. Pemberian izin untuk berjualan disekitar objek wisata
d. Pelatihan keterampilan/kerajinan tangan
e. Lain – lain, sebutkan kebersihan dan kenyamanan
3. Bagaimana pendapat Anda, jika ketenagakerjaan di objek wisata ini
serba menggunakan teknologi informasi dan mengurangi peran
manusia?
Sebutkan alasannya lebih terbantu
WAWANCARA WISATAWAN/PENGUNJUNG
A. Identitas Responden
1. Nama : Galih
2. Jenis Kelamin : Laki-laki
3. Umur : 32 Tahun
4. Daerah Asal Anda : Magelang
B. Aspek Demografi dan Sosial Ekonomi Wisatawan
1. Pendidikan terakhir yang Anda tamatkan :
a. SD
b. SLTP
c. SLTA
d. Diploma 3
e. Sarjana
f. ...........
2. Pekerjaan tetap Anda saat ini :
a. Pegawai Negeri Sipil
b. TNI/POLRI
c. Petani
d. Pedagang
e. Buruh
f. Wiraswasta
g. Pelajar/Mahasiswa
h. .....................
3. Besarnya penghasilan setiap bulan (untuk pelajar, uang saku setiap
bulannya)
a. >Rp. 500.000,-
b. Rp.500.000,-Rp.1.000.000,-
c. Rp. 1.000.000,-Rp. 2.000.000,-
d. <Rp.2.000.000,-
C. Karakteristik Kunjungan
1. Kapan waktu kunjungan anda ke objek wisata ini ?
a. Hari – hari biasa
b. Hari miggu/libur
c. Tidak tentu
2. Berapa kali anda mengunjungi objek wisata ini ?
a. Baru sekali
b. 2 kali
c. 3 kali
d. Sering kali
3. Darimana anda mendapatkan sumber informasi objek wisata ini ?
a. Tetangga
b. Saudara/keluarga
c. Media elektronik/internet
d. Teman
e. Brosur /surat kabar
f. Agen wisata/travel
4. Dengan siapa anda berkunjung ke objek wisata ini ?
a. Sendirian
b. Berdua/pacar
c. Keluarga
d. Teman kerja
e. Rombongan
5. Bagaimana status/sifat kunjungan anda ke objek wisata ini ?
a. Pribadi/rekreasi
b. Dinas
c. Penelitian
d. .............................
6. Menuju objek wisata ini, anda menggunakan kendaraan apa?
a. Roda dua/ milik pribadi
b. Roda empat/ milik pribadi
c. Bus carteran
d. Jalan kaki, dll................
D. Motivasi Kunjungan
1. Apa motivasi anda datang ke objek wisata ini?
a. Bisnis/usaha menambah penghasilan
b. Menikmati keindahan alam dan kesegaran udara
c. Santai bersama keluarga/pacar/teman
d. Melakukan studi/penelitian
e. Lainnya, sebutkan project
2. Minat anda berkunjung ke objek wisata ini karena:
a. Keinginan sendiri
b. Diajak teman
c. Diajak keluarga
d. Anjuran seseorang
e. ..........................................
3. Apa yang membuat anda tertarik mengunjungi objek wisata ini?
a. Objek wisata masih alami
b. Lokasi nyaman untuk wisata
c. Keindahan dan kesegaran udara
d. ....................................................
E. Pendapat dan Kesan Wisatawan
a. Faktor Aksebilitas (Tingkat Keterjangkauan) :
1. Bagaimanakah menurut anda tingkat kemudahan untuk menjangkau
objek wisata ini ?
a. Ya, mudah menjangkaunya
b. Sulit menjangkaunya
Alasan.......................................................................................................
.....................
2. Bagaimana pendapat anda tentang kondisi jalan yang anda lalui selama
dalam perjalanan menuju objek wisata ini ?
a. Halus
b. Halus bergelombang
c. Bergelombang dan berlubang
d. Berlubang dan becek
3. Bagaimana keadaan jaringan transportasi/sarana angkutan umum
menuju objek wisata ini ?
a. Sangat lancar
b. Kurang lancar
c. Cukup lancar
d. Tidak lancar
4. Bagaimanakah pendapat anda tentang jarak tempuh yang anda lalui
menuju objek wisata ini ?
a. Sangat jauh
b. Dekat
c. Jauh
d. Cukup dekat
5. Berapa lama waktu perjalanan dari rumah ke objek wisata ?
a. < 1 jam
b. 2-3 jam
c. 1-2 jam
d. > 3 jam
6. Menurut anda apakah lokasi wisata ini berada jauh di pedalaman
pedesaan (lokasi terpencil) ?
a. Ya, jauh di pedalaman
b. Tidak, dekat dengan keramaian
c. Lainnya,
sebutkan..............................................................................................
...
7. Berapa biaya perjalanan yang dikeluarkan dari rumah ke objek wisata
ini ?
a. <Rp.30.000,-
b. Rp. 50.000,- s/d Rp.100.000,-
c. Rp. 30.000,- s/d Rp. 50.000,-
d. > Rp. 100.000,-
e. ..............................................
F. Faktor Daya Tarik Wisata :
1. Bagaimana kesan anda tentang daya tarik wisata yang ada di objek wisata
ini ?
a. Sangat menarik
b. Menarik
c. Kurang menarik
d. Tidak menarik
e. Alasannya,
Sebutkan................................................................................................
2. Apakah anda merasa cukup puas dengan daya tarik wisata tersebut ?
a. Sangat puas
b. Cukup puas
c. Kurang puas
d. Tidak puas
e. Alasannya,................................................................................................
...................
3. Apakah perlu atraksi seni budaya yang khas ditampilkan di objek wisata
ini sebagai upaya menarik pengunjung/wisatawan ?
a. Sangat perlu
b. Perlu
c. Kurang tahu
d. Tidak perlu
4. Apakah menurut anda perlu adanya keanekaragaman daya tarik di objek
wisata ini sebagai upaya meningkatkan daya tarik wisatawan ?
a. Sangat perlu
b. Perlu
c. Ragu – ragu
d. Kurang perlu
e. Tidak perlu
5. Bagaimanakah menurut anda tentang keindahan lingkungan alam dan tata
bangunan di objek wisata ?
a. Sangat menarik
b. Menarik
c. Kurang menarik
d. Tidak menarik
G. Faktor Fasilitas :
1. Bagaimana keadaan akomodasi/ hotel tempat anda menginap ?
a. Baik
b. Cukup baik
c. Kurang baik
d. Tidak baik
2. Bagaimana pendapat anda, jarak antara hotel tempat anda menginap
dengan objekwisata ini ?
a. Sangat jauh
b. Jauh
c. Dekat
d. Cukup dekat
3. Bagaimana ketersediaan fasilitas atau sarana pelayanan di objek wisata ini
?
a. Banyak
b. Cukup
c. Sedikit
d. Tidak ada
4. Bagaimana pendapat anda tentang pemeliharaab sarana pelayanan tersebut
?
a. Sangat terpelihara
b. Cukup terpelihara
c. Kurang terpelihara
d. Tidak terpelihara
5. Bagaimana ketersediaan sarana dan pengelolaan di objek wisata ini ?
a. Banyak
b. Cukup
c. Sedikit
d. Tidak ada
6. Bagaimana pendapat anda tentang pemeliharaab sarana pengelolaan
tersebut ?
a. Sangat terpelihara
b. Cukup terpelihara
c. Kurang terpelihara
d. Tidak terpelihara
7. Bagaimana ketersediaan sarana rekreasi di objek wisata ini ?
a. Banyak
b. Cukup
c. Sedikit
d. Tidak ada
8. Bagaimana pendapat anda tentang pemeliharaan sarana rekreasi tersebut ?
a. Sangat terpelihara
b. Cukup terpelihara
c. Kurang terpelihara
d. Tidak terpelihara
9. Bagaimana pendapat anda tentang pemeliharaan sarana kebersihan di
objek wisata ini ?
a. Sangat terpelihara
b. Cukup terpelihara
c. Kurang terpelihara
d. Tidak terpelihara
H. Faktor Infrastruktur
1. Bagaimana ketersediaan terminal – terminal pengangkutan ke objek wisata
ini ?
a. Banyak
b. Cukup
c. Sedikit
d. Tidak ada
2. Bagaimana pendapat anda tentang sistem pengamanan yang ada di
terminal ?
a. Aman
b. Cukup aman
c. Kurang aman
d. Tidak aman
3. Bagaimana pendapat anda tentang area parkir di objek wisata ini ?
a. Luas
b. Cukup luas
c. Sempit
d. Tidak ada
4. Bagaimana ketersediaan sarana kesehatan/ puskesmas di objek wisata ini ?
a. Banyak
b. Cukup
c. Sedikit
d. Tidak ada
5. Apasaja infrastruktur lain yang anda inginkan ada di objek wisata ini ?
a. Instalasi air bersih
b. Jaringan komunikasi/wartel
c. Puskesmas/apotik
d. Bank/money changer
e. Semua tersebut di atas
f. Lainnya, tempat Ibadah
I. Faktor Keramatamahan dan Keamanan
1. Bagaimana tentang pelayanan petugas wisata di objek ini ?
a. Ramah
b. Cukup ramah
c. Kurang ramah
d. Tidak ramah
2. Bagaimanakah cara berbicara petugas wisata di objek wisata ini ?
a. Kasar
b. Sedang
c. Lembut
d. Sopan
3. Bagaimana keadaan keamanan dalam perjalanan anda menuju objek
wisata ini ?
a. Aman
b. Cukup aman
c. Kurang aman
d. Tidak aman
4. Bagaimana keadaan keamanan di lokasi objek wisata ini ?
a. Aman
b. Cukup aman
c. Kurang aman
d. Tidak aman
5. Apasaja yang anda inginkan untuk kepentingan keamanan saudara?
a. Pos jaga
b. Petugas keamanan
c. Pagar pengaman
d. Papan petunjuk arah
e. Semua tersebut di atas
J. Harapan Wisatawan :
1. Apasajakah jenis aktivitas wisata yang ada inginkan untuk dikembangkan
?
a. Tempat menikmati pemandangan alam
b. Memotret / photo hunting
c. Arena bermain
d. Memancing
e. Berkemah
f. Lainnya, berkuda
2. Apakah anda ingin berkunjung ke objek wisata ini lain waktu ?
a. Ya
b. Tidak
c. Ragu – ragu
3. Apakah harapan wisatawan terhadap objek wisata ini ?
a. Agar menjadi objek wisata primadona
b. Dapat menciptakan lapangan pekerjaan baru bagi masyarakat sekitar
c. Dapat menjadi wahana untuk menambah rasa cinta terhadap
lingkungan
d. Sebagai pusat kajian ilmu pengetahuan, khususnya daam penelitian
e. Lainnya, kebersihan dan penataan lingkungan
KESIMPULAN
Dengan adanya penataan vegetasi, maka diharapkan kawasan Gumuk Pasir dapat
kembali kepada bentuk dan fungsinya semula. Kawasan Gumuk Pasir merupakan
suatu kawasan yang unik yang penting secara ekologi, selain sebagai salah satu
ciri keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta.

SARAN
Diharapkan masyarakat dan pemerintah serta pengelola dapat saling bekerjasama
dalam menjaga lingkungan khususnya gumuk pasir dan tidak merusaknya.

DAFTAR REFERENSI

Pgsp. 2016. restorasi gumuk pasir. https://pgsp.big.go.id/refleksi-restorasi-gumuk-


pasir-parangtritis/ (diakses pada 13 Februari 2019)

Pgsp. 2016. Edukator Museum Gumuk Pasir. https://pgsp.big.go.id/pgsp-terima-


edukator-museum-gumuk-pasir/ (diakses pada 13 Februari 2019)

Khoirunnas anfa'uhum linnas. Jum’at 4 November 2011. Sand dunes.


http://geoenviron.blogspot.com/2011/11/gumuk-pasir-sand-dunes.html (diakses
pada 15 Februari 2019)

Guru Geografi ID. 12 July 2017. Sejarah Terbentuknya Gumuk Pasir.


https://www.gurugeografi.id/2017/07/sejarah-terbentuknya-gumuk-pasir.html
(diakses pada 15 Februari 2019)

Pgsp. 2016. Gumuk Pasir Langka. https://pgsp.big.go.id/ternyata-gumuk-pasir-


langka/ (diakses pada 15 Februari 2019)

Ranti. 16 November 2016. Restorasi Ekosistem Gumuk Pasir.


http://kehati.jogjaprov.go.id/detailpost/restorasi-ekosistem-gumuk-pasir-dengan-
penataan-vegetasi (diakses pada 15 Februari 2019)